The Pair of Eyes

Super-Junior-Eunhyuk_1428075008_af_org

The Pair of Eyes

Ia merasa tak istimewa. Tak ada hal yang menonjol darinya. Tak ada sesuatu yang membuatnya mencolok. Mungkin ia justru adalah orang yang paling biasa di muka bumi ini.

Cara bicara, raut wajah, gaya berjalan… semua yang dimilikinya tampak biasa saja.

Bila pun ada yang berbeda, tak banyak orang yang bisa melihatnya.

Sorot matanya adalah satu-satunya hal yang membedakannya dengan yang lain. Sepasang matanya seolah hidup, mengeluarkan pantulan sejernih kilau air di permukaan danau yang bening. Tak ada kabut di kedua manik matanya, seperti sepasang mata milik anak kecil.

Anak kecil…

Jiyoo bertopang dagu, mengamati lelaki bernama Lee Hyukjae yang tampak tertidur di sofa panjangnya. Bibir Jiyoo mengerucut, tanda ia benar-benar berkonsentrasi, enggan mengalihkan pandangan dari obyek di hadapannya. Ia berpikir, ada terlalu banyak hal yang mencerminkan Lee Hyukjae. Semua itu membuatnya bingung, bertanya-tanya apa yang menjadi daya tarik lelaki itu.

Ia kemudian memiringkan kepala, mencoba kembali menyusun segala hal yang mungkin menjadi penyebab ia merasakan banyak hal untuk Hyukjae. Apakah itu wajahnya, kebaikannya, rasa humornya… Jiyoo menerka-nerka.

Nihil. Belum ada satu hal yang bisa menggambarkan Lee Hyukjae untuknya. Ada terlalu banyak hal yang disukai Jiyoo dari Hyukjae –mungkin semua hal dari lelaki itu adalah kesukaan Jiyoo, tanpa terkecuali.

Tapi apa yang dicarinya saat ini? Jiyoo mengerutkan kening, mencoba memahami pertanyaan yang tiba-tiba mengapung di permukaan otaknya. Ia terlalu berkonsentrasi, melupakan pertanyaan yang seharusnya paling penting saat ini, seperti kenapa ia harus memikirkan hal semacam itu sekarang?

Jiyoo mengerutkan kening, kemudian mengangkat bahu. Toh, ia memang suka membiarkan otaknya memikirkan banyak hal saat ia sendirian, jadi ia tak ingin ambil pusing dan kembali mencari jawaban dari pertanyaan dadakannya.

Hyukjae menarik napas panjang dalam tidurnya. Jiyoo tersenyum samar, membiarkan kedua ujung bibirnya terangkat sekilas. Ia konstan memasang raut wajah itu seraya memerhatikan Hyukjae. Namun, ia masih belum menemukan apa yang dicarinya. Ia menyukai lelaki itu, menyukai semua yang ada dalam diri Hyukjae.

Jiyoo tahu ada satu hal yang selalu membuat Hyukjae istimewa untuknya. Hanya saja, ia butuh waktu untuk mengingat-ingat hal itu lagi.

“Hati-hati,” bibir Hyukjae bergerak, kedua matanya masih tertutup. “Nanti matamu bisa mengeluarkan sinar laser.”

Jiyoo setengah mendengus, mengabaikan rasa ingin tahu sejak kapan lelaki itu terbangun dan memergokinya. Ia menahan senyum saat Hyukjae membuka mata kanannya, mengintip sambil tersenyum jahil. “Aku bisa saja mengeluarkan sinar UV dan mengarahkannya padamu,” sahut Jiyoo santai.

Hyukjae berdecak dan berkomentar, “Ternyata kau bisa juga terkena efek pemanasan global. Aku prihatin.”

“Wow. Ada pemanasan global di kosa katamu. Aku terkesan,” balas Jiyoo tak acuh.

“Kyuhyun mengajarimu dengan baik,” ucap Hyukjae sambil menggeliat sebelum memutuskan untuk duduk bersandar. “Kau dilarang bergaul dengannya lagi.”

Jiyoo tertawa, tak bisa mengelak fakta bahwa Cho Kyuhyun adalah rujukan yang tepat atas lidah pedasnya sekarang. Sepasang maniknya kemudian kembali terfokus pada Hyukjae. Lelaki itu membuka mulutnya lebar, menguap sementara salah satu tangannya mengusap mata.

“Lee Hyukjae,” panggil Jiyoo.

“Mm?”

“Lihat aku,” perintahnya saat Hyukjae masih berusaha mengumpulkan kesadaran. Ia tertegun. Tatapan Hyukjae kini terfokus padanya, dan Jiyoo mendadak mendapatkan jawabannya. “Apa aku sudah pernah bilang kalau kedua matamu itu indah?”

“Sudah,” jawab Hyukjae ringan. “Bukankah kau baru saja mengatakannya?”

Jiyoo tak tertawa, ia bahkan tak merasa kesal dengan jawaban asal ala Lee Hyukjae. Dadanya terasa lebih ringan, seolah Hyukjae baru saja mengangkat sebagian beban hidupnya. Jiyoo mendengus pelan, menganggap ungkapan itu semacam hiperbola kuadrat.

“Apa, kenapa?” tanya Hyukjae, setengah khawatir karena Jiyoo hanya menatapnya tanpa suara. Itu agak menakutkan, setidaknya bagi Hyukjae. “Kau tidak akan menangis gara-gara aku, kan?”

Kedua alis Jiyoo mengkerut, membentuk pola aneh di keningnya. “Jangan ingatkan aku.”

Hyukjae mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. “Tapi aku penasaran, apa–“

“Tidak,” potong Jiyoo. Ia mengatakannya dengan sangat sungguh-sungguh, berharap kesungguhannya dapat mengaburkan kebohongan yang menohok tenggorokan. Perutnya seolah diremas oleh sesuatu yang kuat, membuatnya tak nyaman.

“Bagaimana kau akan menungguku selama 2 tahun?” tanya Hyukjae. Jika ada penghargaan bagi lelaki super insensitif, Hyukjae bisa jadi nominasi yang kuat. Jiyoo nyaris menonjok muka lelaki itu saat Hyukjae hanya mengangkat bahu. “Hanya bertanya.”

“Apa kau bahkan mau kutunggu?”

Hyukjae berkedip beberapa kali, tak menyangka mendapat pertanyaan yang terlalu… khas Jiyoo.

Jiyoo akhirnya memalingkan tatapannya dari Hyukjae. Ia menarik napas panjang sebelum kembali menatap Hyukjae. “Jadi, bagaimana?”

“Tidak ada yang tahu, kan,” kata Hyukjae. Ada sesuatu yang menarik perhatian Jiyoo saat lelaki itu berbicara. Sepasang matanya hanya tertuju pada Jiyoo. Ia bahkan tak begitu fokus pada apa yang dikatakan oleh Hyukjae. Sepasang mata lelaki itu sudah menjelaskan banyak hal padanya. “Aku tidak tahu apa aku akan menjadi orang yang sama selama aku ditunggu olehmu, kau juga… belum tentu tidak berubah selama kau menungguku, jadi… maksudku…”

Bibir Jiyoo menyunggingkan senyum yang tak bisa lagi tertahan. Jawaban Hyukjae terbata-bata, tapi Jiyoo mengerti maksud lelaki itu. “Aku paham.”

Hyukjae kembali mengedipkan mata berulang kali, berusaha mencerna situasi ini. “Jadi…?”

“Yah… kita lihat saja nanti.”

Raut wajah Hyukjae terlihat bingung, namun Jiyoo tersenyum lega. Melihat Hyukjae yang sekarang, Jiyoo yakin tak akan ada yang banyak berubah dari sosok lelaki itu. Dan ia tahu sebabnya.

Sepasang mata Hyukjae menjelaskan banyak hal. Lelaki itu ingin ia menunggunya. Hyukjae ingin tetap ditunggu tapi bibirnya tak sanggup memaksa. Tak peduli sebanyak apa pun ia dan Hyukjae berubah nantinya, lelaki itu tetap pantas ditunggu.

Sepasang mata itu, Jiyoo mengingat, mirip dengan sepasang mata milik anak kecil. Anak kecil dengan tekad yang kokoh, jujur dan tak mudah berubah. Dan jika ada sesuatu dari Hyukjae yang tak akan berubah, kemungkinan itu adalah sepasang matanya.

Sebenarnya bukan perihal menunggu dan ditunggu yang dipersoalkan oleh Jiyoo. Hal itu bukan hal yang penting. Ia hanya ingin mencari sesuatu yang istimewa dari Hyukjae dan mengingatnya. Semua hal dari Hyukjae, bagi Jiyoo, istimewa. Namun, ia paham benar ada satu hal yang lebih istimewa dari hal lainnya.

Jiyoo menarik napas panjang.

Jawaban dari pertanyaan sudah ditemukan. Sesuatu dari Hyukjae yang paling istimewa adalah sepasang matanya. Jiyoo menemukan jawabannya, tapi ia kemudian merasa lebih kosong dari sebelumnya. Ia sudah menemukan jawabannya, lalu sekarang apa?

Sekarang ia sedikit paham kenapa pertanyaan aneh itu muncul di kepalanya.

Jiyoo ingin mengingat Hyukjae dengan cara yang istimewa. Ia ingin menemukan bagian dari Hyukjae untuk selalu diingat. Ia ingin sesuatu yang tak akan berubah hingga nanti ia melihatnya lagi.

Sepasang manik tanpa lipatan kelopak mata. Bentuk almond yang lancip di kedua ujungnya. Bola mata bulat dengan iris gelap. Sepasang mata yang tampak berbinar bila si pemiliknya bahagia, namun mudah basah bila terlalu bahagia. Sepasang mata milik Lee Hyukjae, si anak kecil.

Sekarang Jiyoo tahu bagaimana caranya mengingat lelaki itu.

Yeps, your eyes become the way i’m gonna remember you til we meet again!

28 thoughts on “The Pair of Eyes

  1. Manis manis gulali…. Semoga manis nya bertahan lama Yoo Dan Poo ini kan team yang memang setia semoga aduh demi Hyukjae yang Bener benar bertugas dalam kenyataan nya di sana untuk dua tahun tanpa senyum gusi besarnya..

  2. Lebih sering nulis kak~ tiap baca ff kakak rasanya Hyukjae ada di depanku sekarang. Apalagi di masa-masa kyk gini :” aku butuh ff kakak buat ngilangin kangenku ke Hyukjae TT

  3. Ah manis sekali… singkat tapi memuaskan. Rambut. Kalau Jiyoo akan mengingat Hyukjae dengan matanya. Saya… rambut.
    Entahlah… konyol emang. Lebih tepatnya gak akan nyambung. Rambut adalah bagian tubuh yang sifatnya temporer beda dengan mata, hidung atau bibir. Tapi beneran, saya jatuh cinta pertama kali lewat rambutnya. Dia beda….

  4. do u know how much i miss jihyuk???? hua simple tapi berkesan …dan kenapa seneng banget banget cerita kakak…its like real jiyoo and hyukjae

    hope real hyukjae can find the real jiyoo in the future

    ngomong apa.an coba….#lupakan
    efek di tinggal wamil
    kak sering2 buat kek gini dong …pendek2 juga gak pa2 kok asalkan bisa ngobatin rasa rindu pada si monyet so ganteng itu
    pld pls pls pls #puppyeyes

    • *HUG HUG* i miss jihyuk too :’)
      Iyah, sebenernya pingin banget bikin kaya ginian rutin, indak cuma pas ada occasion macem wamil gini doang. Mungkin tar kalo lagi kangen2nya sama Hyukjae bisa bikin lagi. HAHAHAHAHA
      Tilimikici syuda baca yaa~

  5. aww lucunya kak :3 udah lama banget ga main ke sini. Aku mau bilang 2 tahun itu sebentar kok, pas nunggu heenim juga tb2 dia udh balik lagi so yep 2 tahun itu sebentar :”) kangen baca ff kakak tiba2 dan setiap buka wp ini langsung flashback ke jaman2 smp dan inget kalo sekarang udah jadi anak kuliahan. kangen kakak gila kaaaaak {}

    • HEI KAMU MANUSIA KAMPUS!! Kangen juga deh sama kamuh hihihihihi
      2 taun kalo yang ditunggu yang paling berarti *ciyeeeh* kayanya bakal lama banget. Belom lagi gak bakal tau apa yang bakal kejadian selama 2 taun nanti. :’)

  6. Selalu cemburu sama cara kakak nuangin cinta pooyoo :’) mereka manis, sekaligus cantik. Suka pertanyaan khas jiyoo😀 atau ketika yoo bertanya-tanya, seolah dia bingung atas banyak hal, aku ngerasa ‘aku juga gini’. Feelnya jadi makin kerasa :’)
    Yoo pasti selalu nunggu poo!
    (Btw kangen om hyukjaee TT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s