[L #1] Licensee

***

Licensee: kb. pemegang lisensi atau izin.

Dalam bayangan seorang Choi Jiyoo, pemegang lisensi selalu berkaitan dengan orang yang diperbolehkan mengendarai motor atau mobil secara legal dari segi hukum. Atau, dalam bayangan terliarnya, pemegang lisensi dapat pula dikaitkan dengan para pemilik senjata api legal. Gadis itu tak pernah tahu kata licensee memiliki makna lain. Jiyoo tak pernah tahu kata licensee bisa digunakan dalam arti pemilik izin atas seseorang. Terutama jika seseorang itu adalah dirinya.

Tidak ada yang namanya pemegang izin atas dirinya. Jiyoo merengut, tak suka. Ia bukan barang, bukan pula sebuah obyek –dalam aturan tulis-menulis, dirinya memang sebuah obyek, tapi ini sama sekali tak serupa dengan itu. Tak ada seorang manusia pun yang memiliki izin atas dirinya.

Jika saja tak ada perjalanan itu, ia mungkin tak akan mengira bahwa kata licensee bisa menjadi kosa kata baru dalam hidupnya.

Spring 2015 – 9:11AM

Pulang! Jiyoo akan pulang dan bertemu dengan orangtuanya.

Jiyoo selalu menyukai perjalanan menuju rumah. Ia mendongak ke langit, menatap langsung hamparan atap maya yang berupa kumpulan awan. Cuaca awal musim semi yang cerah sangat sesuai dengan suasana hatinya. Tapi sesempurna apa pun langit musim semi hari ini, Jiyoo tak bisa menolak adanya ketidaksempurnaan dalam perjalanannya yang sempurna. Ia menghela napas lalu membiarkan pandangannya digantikan oleh punggung lebar yang telah ia kenal akrab. Ada dua masa suram dari lima kali perjalanan Jiyoo pulang ke rumah orangtuanya. Keduanya berkaitan dengan si pemilik punggung di hadapan Jiyoo.

“Yoo! Cepat, cepat!” seru sang lelaki berpunggung lebar.

Jiyoo kembali menghela napas, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Ia tak bisa berkomentar apa-apa saat melihat wajah Hyukjae yang berbinar. Sepasang mata Hyukjae tampak lebih bulat dari biasanya. Jiyoo selalu melihat raut wajah itu di dua kali perjalanan mereka menuju rumah orangtuanya.

“Aku di belakangmu,” sahut Jiyoo singkat.

Lee Hyukjae membalikkan badan, sepenuhnya menghadap Jiyoo. Kepalanya dimiringkan. “Kau selalu berwajah seperti itu tiap aku ikut pulang bersamamu,” katanya. Ia kemudian tersenyum. “Aku, kan, hanya bisa bertemu dua kali setahun dengan orangtuamu. Jangan pelit berbagi.”

Desisan tak suka lolos dari bibir Jiyoo. Tentu saja Hyukjae akan berkata seperti itu, pikir Jiyoo kecut, selalu itu yang akan dikatakannya. Ia memperbaiki gendongan tas ransel di punggungnya, tak berminat menimpali ucapan Hyukjae dengan apa pun. Tak ada gunanya melakukan sesuatu yang sia-sia, batinnya.

Hyukjae memamerkan senyuman yang lebih lebar sebelum memunggungi Jiyoo lagi. Lelaki itu kembali menarik koper besar berwarna ungu milik Jiyoo dengan tangan kanannya sementara tangannya yang lain membawa tas jinjing berbahan kulit yang juga milik Jiyoo. Di belakangnya, Jiyoo digoda dengan gagasan konyol; bagaimana mungkin Hyukjae lebih tampak seperti seorang anak yang pulang ke rumah dibandingkan dirinya?

Bibir Jiyoo mengerucut, suasananya hatinya makin mendung dan nyaris berpetir. Ia pulang tapi tak seperti pulang. Di tiap perjalanannya, bawaan Jiyoo tetap sama, tapi di dua perjalanan bersama Hyukjae, gagasan mengenai pulang-tapi-tak-seperti-pulang ini sangat setia bercokol di pikirannya.

Hyukjae membuka pintu belakang mobil SUV yang dipinjamnya dari Donghae. Satu per satu, ia memasukkan bawaan Jiyoo kemudian mengulurkan tangan ke arah gadis itu. “Sini, ranselmu.”

Tanpa suara, Jiyoo melepaskan ransel dari punggungnya. Pundaknya kini terasa ringan. Ia kemudian berjalan santai menuju kursi penumpang di samping pengemudi. Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan ponsel dan sepasang earphone. Jiyoo baru akan menyumpal kedua telinganya dengan alunan musik koleksi pribadi saat Hyukjae merebut earphone ungunya.

“Ah! Hei~” pekik Jiyoo.

Hyukjae menyunggingkan senyum jahil. “Aku bukan supir. Jadilah teman seperjalanan yang baik, oke?”

“Makanya kubilang aku lebih suka naik kereta,” Jiyoo menggerutu pelan. Detik berikutnya ia mengaduh, terkejut dengan serangan sentilan mematikan dari Hyukjae yang mendarat di keningnya. “Sakiiit!”

Lelaki itu berdecak dan berkata, “Itu bahkan sama sekali tidak keras. Kau tidak boleh naik kereta kalau aku ikut pulang bersamamu. Ibumu bisa memarahiku. Kau, kan, punya kekasih yang tampan dan bisa menyetir.”

“Ya Tuhan, kau cerewet sekali!” sergah Jiyoo. “Dasar tukang cari muka!”

Hyukjae tersenyum puas, sama sekali tak tersinggung dengan olok-olok Jiyoo. Baginya, tak masalah menjadi tukang cari muka yang sukses. Ia mendorong tubuhnya mendekat hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung Jiyoo. Ia nyaris tertawa saat Jiyoo sibuk mengalihkan pandangan ke segala arah, tak tahu harus memandang ke mana. Hyukjae ingin tertawa bukan karena Jiyoo yang salah tingkah, tapi justru karena respon gadis itu selalu mudah diterka.

“Sabuk pengaman,” katanya santai sambil menarik sabuk pengaman hingga membelit tubuh Jiyoo.

Bunyi klik sabuk pengaman membuat Jiyoo berdeham. Ia memegang erat sabut pengaman di depan tubuhnya, seolah berusaha menciptakan jarak antara dirinya dan Hyukjae. Usaha itu dihargai Hyukjae dengan kecupan singkat di pipi kiri Jiyoo.

“Kita berangkat!”

Matahari tepat berada di atas kepala saat SUV putih masuk ke tikungan dengan deretan rumah-rumah kecil. Berbeda dengan pusat kota yang dipenuhi gedung-gedung apartemen berlantai jamak, daerah pinggiran kota Seoul ini hanya memiliki bangunan berlantai tiga sebagai bangunan tertinggi. Langit yang biru dan lukisan awan tampak lebih memuaskan mata. Jalanan juga lengang, hanya satu-dua kendaraan roda empat yang melintas sepanjang hari. Suasana yang tenang ini menjadi sesuatu yang paling dirindukan Jiyoo, setelah rumahnya.

Dengan kedua mata berbinar, Jiyoo melayangkan pandangannya menyusuri rumah-rumah para tetangga. Semuanya masih melekat jelas dalam lembaran ingatannya. Beberapa hal remeh yang tampak berbeda, jika ada, akan ia simpan dahulu sebelum nantinya akan ditanyakan pada orangtuanya.

Sebenarnya, kebiasaan Jiyoo ini juga terasa remeh. Ia melakukannya tiap berada dalam perjalanan pulang. Tapi toh ia tak bosan.

“Kalau organ tubuhmu itu bongkar-pasang, matamu pasti sudah melompat keluar,” komentar Hyukjae sambil tertawa. Lelaki itu pun sudah hapal kebiasaan Jiyoo. Ia baru menetapkan bahwa hal yang dilakukan Jiyoo merupakan sebuah kebiasaan saat kunjungan ketiganya ke rumah orangtua gadis itu.

Jiyoo mencibir, tak mengacuhkan lelaki di sampingnya. Saat SUV melambat hingga akhirnya berhenti di depan pagar besi besar berwarna kuning emas, barulah Jiyoo kembali tersenyum lebar. Ia merogoh saku jeansnya, mengeluarkan kumpulan kunci dengan gantungan kepala kelinci merah muda. Tanpa menunggu Hyukjae, ia membuka pintu mobil lalu berlari kecil menuju pagar rumahnya.

Hyukjae sendiri hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum memaklumi. Jiyoo memang sering pulang ke rumah, dalam setahun mungkin bisa lima kali, tapi gadis itu terlalu mudah rindu rumah, jadi ekspresi kegembiraan semacam ini justru terlihat normal. Hyukjae mengatupkan bibir sambil mengamati bangunan dua lantai di sisi kanannya. Tanpa sepengetahuan Jiyoo, Hyukjae bukannya tak gugup dengan adanya perjalanan ini. Ada satu hal –orang, tepatnya- yang selalu membuatnya khawatir tiap ikut pulang ke rumah Jiyoo.

Seperti membaca pikiran Hyukjae, Jiyoo menghampiri lelaki itu. Ia melipat kedua tangan di tepi jendela pengemudi dan berkata, “Ayahku sedang cuti sampai minggu depan.”

“Apa?” Hyukjae lalu tertegun, kehilangan kata-kata. Tapi dengan cepat, ia menguasai diri dan menyahut, “Kenapa kau tidak bilang?”

Jiyoo hanya mengangkat bahu santai. “Kukira kau mau bertemu dengan Ayah.”

“Aku ingin,” kata Hyukjae bersikeras. Pertemuannya dengan kepala keluarga Choi hanya dua kali selama partisipasinya dalam ikut pulang ke rumah Jiyoo. Tentu saja pria baruh baya itu adalah orang yang baik. Dan berwibawa. Dan membawa aura kebapakan yang kental hingga membuat Hyukjae dapat ciut di tempat. “Tapi, aku butuh waktu untuk mempersiapkan diri!” ia berseru panik.

“Begitu,” gumam gadis berponi miring itu. Kedua alisnya terangkat, mengikuti sudut-sudut bibirnya yang juga terangkat. Jiyoo melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya dan berujar ringan, “Kau punya waktu 15 menit untuk mempersiapkan diri.”

Dengan helaan napas lega, Hyukjae membawa bawaan terakhir Jiyoo yang berupa tas jinjing, kemudian meletakkannya di ruang tengah. Tak banyak yang berubah dari ruangan ini sejak kunjungan terakhirnya tahun lalu. Sofa panjang berwarna khaki diletakkan di sudut ruangan, ditemani dengan meja marmer yang sama panjang. Di dinding sebelah kanan, terpasang lukisan pemandangan berukuran cukup besar. Hyukjae ingat Jiyoo pernah berkata bahwa lukisan itu hasil tangan kakeknya, setengah bangga dan iri karena ia sendiri tak mewarisi keterampilan tangan seperti kakeknya.

Potret keluarga dipajang di bagian dinding yang lain, diikuti dengan foto-foto Jiyoo kecil beserta kedua orangtuanya. Hyukjae memerhatikan piagam-piagam penghargaan yang dibingkai pigura seragam. Sebagian milik ayah Jiyoo, sementara sisanya bertuliskan nama Jiyoo, sesuatu yang sebenarnya agak membuat Hyukjae bangga.

Ruang tengah itu selalu memiliki aroma bunga yang lembut, ibu Jiyoo memilih sendiri pengharum ruangan sebelum Hyukjae memberikan varian aroma yang saat ini dihirupnya. Hyukjae mengedarkan pandangan ke koridor yang mengarah ke ruang makan. Ia belum melihat sang pemilik rumah, pun Jiyoo karena gadis itu sudah menghilang setelah berkata harus masuk ke kamar. Tiba-tiba ia bosan dengan kegiatan mengamati ruang tengah rumah Jiyoo. Ia sudah melakukannya tiap saat di awal kunjungannya dan nyaris hapal dengan semua koleksi miniatur kapal laut milik ayah Jiyoo atau kerajinan keramik ibunya.

Hyukjae merebahkan diri di sofa khaki, mengistirahatkan punggungnya yang tegang. Dadanya naik-turun dan untuk alasan tak jelas, ia gugup. Pertemuannya dengan ayah Jiyoo hari ini sama sekali tak menjadi bayangannya. Ia hanya tahu akan bertemu ibu Jiyoo, menjadi tamu kesayangan wanita paruh baya itu dan untuk kesekian kalinya, pasti akan membuat Jiyoo iri.

Dalam ingatan Hyukjae, ayah Jiyoo memang tidak menakutkan, tapi pria itu terasa sangat mengintimidasi –setidaknya baginya. Jiyoo sendiri selalu berkata sang ayah sama sekali tidak seperti yang dikenal Hyukjae. Ayahnya, menurut Jiyoo, termasuk pria yang konservatif dan kikuk dalam mengungkapkan perasaan, terutama terhadap istri dan anak-anaknya. Masih menurut Jiyoo, seharusnya Hyukjae tak perlu takut pada sang ayah, karena diam-diam ayahnya selalu menantikan saat-saat bertemu dengan Hyukjae.

Kata-kata Jiyoo tak terlalu membuat Hyukjae tenang, karena bebannya justru menjadi semakin berat. Bagaimana jika semakin ayah Jiyoo berharap, Hyukjae akan membalas harapan itu dengan kesan yang keliru, atau lebih parah, mengecewakan pria yang mewariskan warna matanya pada Jiyoo itu?

Ia menarik napas panjang, berusaha mengurangi ketegangan yang ganjil ini. Ketegangannya sedikit berkurang saat melihat Jiyoo muncul dalam balutan pakaian yang lebih santai dengan rambut diikat kuda. Rona kemerahan tampak di kedua pipi Jiyoo, Hyukjae langsung tahu bahwa gadis itu luar biasa senang bisa berada di rumah. Ia jadi penasaran dengan reaksi Jiyoo bila ia menjelaskan maksud kunjungannya hari ini.

Tanpa sadar, Hyukjae tersenyum begitu lebar hingga Jiyoo menegur, “Kenapa senyum-senyum?”

“Ada harga yang mahal untuk mendapat informasi dariku, Nona,” goda Hyukjae. Sepertinya ketegangannya mulai mencair walaupun Hyukjae yakin tak dapat hilang sepenuhnya.

“Cih,” Jiyoo mendesis tak suka. Ia lalu menarik tangan Hyukjae, membawa lelaki itu menuju  kamar tamu di lantai dua. Sebelum berhasil mencapai tangga, ibunya, Im Raena, menghalangi mereka. Salah satu tangannya memegang sendok sup. Jiyoo langsung protes, tak terima dengan serangan mendadak ibunya dalam mengintervensi waktu berduaannya dengan Hyukjae. “Eomma~”

Uri Lee-seobang pasti lapar, ya? Ada sup kimchi dan ikan bakar,” kata ibunya sambil menunjuk ke arah dapur. Aroma sedap memang menyeruak sejak Hyukjae melewati ruang makan. Tahu ajakannya tidak akan ditolak, ibu Jiyoo melambaikan tangan, meminta Hyukjae mengikutinya. “Ayo, ayo!”

Hyukjae pelan-pelan melepaskan tangan Jiyoo, tak mengacuhkan tatapan protes dari gadis itu sementara senyum kemenangan terkembang di wajahnya. “Kita makan dulu, oke?”

Unbelievable,” gumam Jiyoo sambil berdecak. Ia bersedekap, kesal namun tetap mengikuti Hyukjae dari belakang. Hatinya makin menciut saat melihat ibunya melayani Hyukjae, mulai dari mengambilkan nasi, menyendok sendiri sup dan membawakan potongan ikan bakar ke piring lelaki yang bahkan belum menjadi menantunya. Semua perhatian ibunya akan terpusat pada Hyukjae selagi lelaki itu berada di sini, Jiyoo yakin benar dengan hal itu.

Tanpa suara, Jiyoo mengambil sendiri makan siangnya. Walaupun kesal dan terasingkan dari kedua orang yang disayanginya, ia tetap menikmati makanan yang selalu dirindukannya. Jiyoo memutuskan, yang penting perutnya harus terisi, setelah itu barulah ia akan memainkan perannya lagi sebagai anak tiri di rumahnya sendiri.

Jiyoo baru akan memasukkan suapan kedua saat kepalanya dibelai oleh tangan yang besar. Ia mendongak, menemukan ayahnya tersenyum padanya. “Appa!” serunya, lalu barulah ia menyuapkan nasi ke dalam mulut.

Pria baruh baya itu, di pandangan Jiyoo, selalu tampak sama. Kumis dan jenggot tipis menghiasi wajahnya, tanda sang ayah belum sempat bercukur pagi ini. Rambutnya dipotong pendek dan dihiasi dengan uban putih tipis di atas telinga. Kacamata plus yang biasa bertengger di pangkal hidung sang Ayah tak ada, mungkin ditinggalkan di kamar.

Ayahnya mengambil tempat di samping Jiyoo. Ia mengamati puterinya makan dengan lahap, sesekali mencuri pandang ke arah Hyukjae yang ada di seberangnya. Jiyoo menyadari gestur ayahnya, lalu melirik Hyukjae dengan khawatir. Lelaki itu pasti mendadak susah menelan setelah kemunculan ayahnya yang mendadak ini. Jiyoo menatap Hyukjae sekilas, melihat lelaki itu menunduk dalam setelah memberi salam singkat pada sang ayah. Dengan sedikit merasa bersalah, Jiyoo menahan senyumannya sekuat tenaga. Ia bisa merasakan kecanggungan sang ayah pada Hyukjae dan rasa sungkan Hyukjae pada ayahnya. Kedua lelaki penting dalam hidupnya itu membuat Jiyoo gemas.

Sang Ibu sendiri tampak tak ambil pusing dengan awan canggung yang menyelimuti langit-langit ruang makan. Sejujurnya, Jiyoo menduga ibunya hanya membiarkan kedua pria di rumah ini diam-diam mengatasi rasa canggung itu pelan-pelan dengan cara mereka sendiri. Tapi Jiyoo tak bisa seperti itu. Di dalam kepalanya sekarang ada banyak kemungkinan yang berputar; berbagai kemungkinan yang bisa digunakannya sebagai solusi pemecah kecanggungan ini.

Jiyoo menyudahi makan siang dengan suapan nasi terakhir dan seteguk air mineral. Setelah membawa peralatan makannya ke dapur, ia berkata, “Kuantar ke kamar kalau kau selesai.”

Seperti yang sudah diduga, Hyukjae buru-buru menyelesaikan kegiatannya dan membungkuk hormat pada kedua orangtua Jiyoo, meminta diri sebelum mengikuti si gadis penyelamatnya.

Kamar tidur tamu yang ditempati Hyukjae berukuran 4×4 dengan seluruh dinding yang dicat kuning gading. Ranjang untuk dua orang berada di samping jendela sementara lemari kayu berada di sudut ruangan. Ruangan ini baru selesai ditambahkan setahun yang lalu dengan pertimbangan banyaknya teman Jiyoo yang mungkin menginap. Hyukjae sendiri menganggap keberadaan dirinya juga menjadi alasan dibuatnya kamar tamu ini.

Karena kedua orangtua Jiyoo tahu bahwa kunjungannya akan menjadi hal yang rutin.

“Kau benar-benar tidak membawa apa-apa?” tanya Jiyoo heran. Saat Hyukjae mengangkat sebuah tas ransel yang tampak ringan, gadis itu mengerutkan kening. “Selain itu.”

Hyukjae lalu mendekati lemari, membuka isinya dan memamerkan pakaian-pakaian yang tertinggal di kunjungannya yang terakhir. Ada t-shirt putih polos, celana jeans dan kemeja lengan panjang berwarna merah. Ia tersenyum miring saat menemukan tumpukan celana pendek di rak lemari paling bawah. “Di tasku ada baju tidur, sikat gigi dan handuk.”

Unbelievable,” Jiyoo berkomentar, sekedar basa-basi. Bahkan segala keperluan Hyukjae sudah lengkap di rumahnya sendiri. Sekarang ia mengerti alasan Hyukjae tak repot-repot menyuruhnya membawakan pakaian yang tertinggal di rumahnya. “Sekarang mandi dan segera turun. Lakukan pendekatan yang benar pada ayahku.”

Kalimat dari gadis itu membuat Hyukjae tertegun. Hatinya menciut saat mendengar kata ayah. Ia mulai merasakan kegugupan yang tadi sempat terlupakan. Ia sepenuhnya menyalahkan Choi Jiyoo untuk itu. Tapi ia lalu teringat, ada tujuan lain pada kedatangannya kali ini ke rumah keluarga Choi. Mungkin hal itu bisa menjadi senjatanya untuk memulai hubungan baik dengan ayah Jiyoo.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Jiyoo, sedikit terkejut dengan respon Hyukjae. Sepertinya lelaki itu sedang terguncang, sesaat tampak gugup dan detik berikutnya kembali tersenyum mencurigakan tanpa alasan, seolah ia tak tahu perasaan macam apa yang harus ditampakkan. Jiyoo mulai khawatir lelaki itu jadi gila –walaupun selama ini tingkah Hyukjae memang jauh di atas normal. “Akhirnya kau jadi gila sekarang?”

Hyukjae menyipitkan mata ke arah Jiyoo, tak suka dengan vonis kejam Jiyoo. “Kenapa kau tidak turun saja dan siapkan makan malam sementara aku membersihkan diri dan istirahat sebentar? Kecuali jika kau ingin menemaniku–“

“TUTUP MULUT!” Jiyoo berseru dan membalikkan badan, meninggalkan Hyukjae yang tertawa jahil.

Makan malam kali ini benar-benar seperti sebuah jamuan makan besar. Jiyoo berhasil menyimpulkan hal itu setelah mengamati piring-piring besar dengan macam-macam masakan. Helaan napas panjang meluncur dari mulutnya. Ibunya memang suka memasak, Jiyoo tak pernah meragukan hal itu. Hanya saja, kali ini agak… berlebihan.

Keningnya kemudian berkerut, meraba-raba alasan yang mungkin jadi penyebab adanya jamuan makan istimewa ini. Saat melihat lelaki yang mengenakan t-shirt putih polos dan celana kain selutut menuruni tangga, Jiyoo mendadak mendapat jawaban pasti. Jawaban mutlak yang otentik.

Minggu depan adalah hari ulang tahun Hyukjae.

Jiyoo merutuk dalam hati, menyesali waktu kepulangannya yang sama sekali tidak tepat. Seharusnya ia tahu ibunya akan menyiapkan sesuatu menjelang ulang tahun bocah lelaki kesayangan selain putera-puteranya. Gadis itu melirik Hyukjae, seolah mencoba mengkonfirmasi raut wajah yang entah bagaimana sudah bisa dibayangkannya.

“Eh?” Jiyoo menyuarakan keheranannya tanpa sadar. Hyukjae tak terlihat senang. Lelaki itu memang tersenyum lebar, tapi ada sesuatu di wajahnya yang membuat Jiyoo yakin ada sesuatu yang mengganggu Hyukjae. Ia menghampiri Hyukjae, berdiri tepat di samping lelaki itu dan menyikut lengannya pelan. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Jawaban Hyukjae sama sekali tak membuat Jiyoo puas. Ia justru semakin mengerutkan kening, karena menurutnya, jawaban seperti itu hanya akan diberikan oleh Hyukjae bila memang ada yang sedang mengganggu pikirannya. “Jangan membuatku mengulang pertanyaan.”

Hyukjae menoleh, menatap wajah gadis di sampingnya secara langsung. Sepasang mata Jiyoo tampak penuh tekad. Itu berarti ia tak akan punya kesempatan untuk mengelak, apalagi berbohong di depan gadis itu. “Setelah makan malam, ada yang mau kubicarakan.”

“Kau bisa bicara sekarang, orangtuaku masih–“

“Dengan orangtuamu juga,” potongnya. Hyukjae terlihat menelan ludah dan kembali berkata, “Aku harus bicara denganmu dan kedua orangtuamu malam ini.”

Kali ini Jiyoo mendadak resah. Hal seperti apa yang harus Hyukjae bicarakan dengan orangtuanya malam ini, seakan lelaki itu bahkan tak berminat untuk menunggu. Mengingat hubungan keduanya, ada segelintir gagasan ‘menakutkan’ yang muncul di benak Jiyoo. Namun, gadis itu berhasil meredamnya dan menahan diri untuk tak bertanya.

“Tidak penasaran?” goda Hyukjae. Sorot matanya memancarkan kejahilan walaupun senyumannya terlihat kaku.

“Nanti aku juga tahu, kan? Sekarang atau nanti, aku juga pasti akan tahu.”

Kepala Hyukjae dimiringkan, tatapan curiga melayang untuk gadis yang menyilangkan kedua tangan di dada. “Aneh… kukira kau sudah bisa menebaknya. Maksudku,” lelaki itu menyunggingkan senyuman licik, “kekasihmu akan bicara dengan kedua orangtuamu tentang sesuatu. Kalau kau tidak–“

“Kalau sampai yang kubayangkan itu benar, aku–“

Lee-seobang! Sini, sini,” Ibu Jiyoo memanggil dari dapur. Kedua tangannya membawa nampan berisi potongan-potongan daging sapi mentah. “Tolong bawa ini ke halaman belakang. Kita akan berpesta BBQ!”

Lee-seobang segera datang~” seru Hyukjae. Ia sempat menyikut lengan Jiyoo dan berbisik, “Tenang saja, bukan soal pernikahan. Aku belum siap ditolak oleh kedua orangtuamu gara-gara mengambil puteri tunggal mereka.”

Hati Jiyoo sesaat berdesir hingga perasaan hangat menyelimuti seluruh tubuhnya. Lelaki itu berkata dengan yakin –terlalu yakin- dan membuat Jiyoo kehilangan kata-kata. Saat Hyukjae meninggalkannya, Jiyoo akhirnya bisa bergumam cuek, “Memangnya kaupikir aku tidak akan menolakmu?”

Hyukjae menatap tiga pasang mata yang terpusat ke arahnya. Dadanya berdegup, semakin lama semakin cepat dan selalu saja terdengar bisikan agar ia menghentikan apapun yang akan dilakukannya setelah ini. Ia berhasil meminta Jiyoo dan kedua orangtuanya duduk di ruang makan. Sejak awal, hal itu sama sekali tak membuatnya khawatir, karena ia pasti bisa mengumpulkan keluarga kecil itu untuk mendengarkan sesuatu yang akan dikatakannya.

Lelaki itu hanya menelan ludah saat Jiyoo melayangkan tatapan penuh tanya. Raut wajah Jiyoo mungkin menjadi penegas bagi kedua orangtuanya bahwa apapun yang ada di dalam kepala Hyukjae sama sekali tak diketahui oleh Jiyoo. Mungkin hal itu adalah hal yang baik. Atau tidak. Entahlah, Hyukjae tak dapat memutuskan.

Ia mengeluarkan sebuah amplop putih panjang yang terlipat dari saku celananya. Dengan hati-hati, ia meletakkannya di atas meja sekaligus mengantisipasi reaksi dari Jiyoo atau kedua orangtuanya. Namun, ketiganya tak berkata apa-apa. Belum, sepertinya.

“Hm…” Hyukjae berdeham, mencari-cari suaranya sendiri yang sesaat hilang. “Ini hadiah untuk Paman dan Bibi.”

Hyukjae tak menyadari Jiyoo yang agak tersentak. Biasanya lelaki itu dengan bercanda akan memanggil ayah dan ibunya dengan panggilan yang sama seperti Jiyoo: hanya Ayah dan Ibu. Sebutan Paman dan Bibi kali ini, sejujurnya, sama sekali tak diduga olehnya. Lelaki yang memiliki bentuk almond di sepasang matanya ini sedang serius, pikir Jiyoo.

Dan entah bagaimana, pikiran sederhana itu sekilas menghangatkannya.

“Boleh kami buka?” tanya ibu Jiyoo. Hyukjae mengangguk dan tersenyum sopan. Tapi tetap saja, di mata Jiyoo, lelaki itu sedang gugup.

Wanita paruh baya yang mewariskan bentuk hidung dan bibirnya untuk Jiyoo itu tampak mengerutkan kening. Ia memegang beberapa lembar kertas licin berwarna –ada empat lembar, jika dihitung. Jiyoo, yang mengamati dari pinggir, langsung menatap Hyukjae dan sekali lagi bertanya melalui sorot mata. Kali ini Hyukjae membalas tatapannya dengan setengah tersenyum.

“Itu tiket kapal pesiar,” kata Hyukjae, menjawab pertanyaan Jiyoo –dan mungkin pertanyaan dari kedua orangtua gadis itu pula. “Menuju Osaka,” tambahnya. “Untuk empat orang. Sebenarnya bisa digunakan sebagai hadiah ulang tahun Jiyoo, tapi kukira lebih baik… lebih baik digunakan pada musim semi.”

Jiyoo masih tertegun dengan sepasang mata yang tertancap pada wajah Hyukjae. Lelaki itu tersenyum sambil mengangkat bahu, seolah meminta maaf. Reaksi Jiyoo selanjutnya adalah menarik napas panjang dan berdiri, “Lee Hyukjae, bisa kita bicara sebentar?”

Gadis itu tak menunggu Hyukjae bangkit dari kursinya. Ia berjalan cepat menuju halaman belakang, kemudian buru-buru menutup pintu geser kaca agar kedua orangtuanya tak dapat mencuri dengar isi pembicaraannya. Jiyoo memeluk lengannya yang kedinginan. Tatapannya terkunci pada Hyukjae.

Ia mengamati lelaki itu dengan segala gerak remehnya. Hyukjae mengusap bagian belakang lehernya, tanda bahwa ia cemas menghadapi reaksi Jiyoo berikutnya. Kedua matanya tak terarah pada Jiyoo. Sepasang bola matanya melihat sekeliling, sama sekali tak fokus. Jiyoo menduga alasannya masih sama: lelaki itu gugup, tak dapat menerka reaksi yang akan diberikan olehnya.

“Baiklah, kita mulai dengan pertanyaan paling mudah,” ujar Jiyoo seraya menghela napas. “Kenapa?”

“Tidak ada alasan khusus –yah, kecuali alasan yang sudah kusebutkan tadi. Dan kukira kau sering mengeluh soal minimnya waktu liburan bersama ayah dan ibumu?” Hyukjae mengangkat bahu, berusaha terlihat tak peduli walaupun kedua matanya masih tak berani menatap Jiyoo.

“Kaupikir aku tidak bisa mengatur liburan dengan kedua orangtua sendiri?”

Hyukjae mengerutkan kening. “Aku tidak berpikir begitu. Dan kenapa kau mengatakannya seolah-olah aku merendahkanmu? Kukira kau akan senang–”

“Wah, kalau begitu kau tidak perlu mengira-ngira sesuatu yang belum kau ketahui secara pasti,” sergah Jiyoo. Ia kemudian memalingkan wajah. “Aku sedang tidak ingin bertengkar, jadi–“

“Bagus. Aku juga sedang tidak ingin melakukannya,” kali ini Hyukjae yang memotong ucapan Jiyoo. “Dengar ya, aku hanya memberikan hadiah ini sebagai ucapan terimakasih pada kedua orangtuamu yang selalu menyambutku di sini. Kalau kaupikir aku melakukannya untuk mengambil hati kedua orangtuamu, apalagi hanya untuk merendahkanmu, kusarankan sebaiknya berhentilah memandang rendah dirimu sendiri.”

Lidah Jiyoo berubah menjadi kelu. Ia tak yakin apakah penyebabnya adalah udara malam yang terlalu dingin, atau hanya karena kata-kata Hyukjae terlalu mempengaruhinya. Ia menoleh, sedikit mendongak untuk mendapatkan gambaran wajah Hyukjae yang lebih jelas. Jiyoo harus tahu apakah lelaki itu sedang melayangkan kata-kata kosong atau justru sedang mengolok-oloknya.

Keduanya salah. Jiyoo mengamati wajah Hyukjae dan hanya menemukan senyuman tipis. Senyuman tipis kesukaan Jiyoo; bukan jenis senyuman yang melambangkan empati, hanya… senyuman yang membuat Jiyoo ingin mempercayai segala ucapan Hyukjae.

“Yang benar saja,” Hyukjae menggerutu. “Kalau dengan mengambil hati orangtuamu saja aku bisa berhasil mendapatkan kepercayaanmu, seharusnya kau sudah bersikap manis padaku, kan? Bukannya memarahiku terus-menerus,” tambahnya. “Dan,” ia tertawa pelan dan berkata, “Aku tidak pernah sekali pun percaya kalau kau membutuhkan bantuanku untuk mengatur liburan keluargamu sendiri. Kau bisa melakukannya sendiri. Karena kau sudah mengatakannya. Dan sudah pasti akan kauwujudkan.”

Jiyoo merengut, tak senang. “Aku memarahimu dengan alasan! Seharusnya kau senang karena aku melakukannya dengan tulus, dan bukannya sekedar melampiaskan emosi sesaatku.”

“Boleh kuingatkan masa-masa PMS-mu?”

“TIDAK! Itu tidak masuk hitungan.”

Hyukjae tersenyum lebar, penuh kelegaan. “Jadi, kau akan menerima hadiah itu, kan?”

“Apa yang kaurencanakan?” Kedua mata Jiyoo menyipit penuh kecurigaan.

Tak ada jawaban. Hyukjae hanya mengangkat bahu dan masuk kembali ke dalam rumah. Jiyoo makin memberengut, tak suka ditinggalkan tanpa jawaban. Itu membuatnya cemas akibat ketidakpastian. Ia sama sekali tak menyukainya.

D-Day

“Wah, kita akan menginap dalam kapal pesiar?” seruan sang Ibu membuat Jiyoo meringis.

Ia mengabaikan ibunya dan Hyukjae yang berjalan lebih dulu menyusuri koridor pesiar mewah. Bahunya terasa tegang. Ia sama sekali tak menyangka bahwa ia bisa berlibur bersama kedua orangtuanya dan Hyukjae. Menurutnya, ini adalah perjalanan liburan paling canggung sepanjang masa.

Namun, ketika ia melihat ibunya yang menikmati kebersamaannya dengan Hyukjae, Jiyoo buru-buru mengubah pola pikirnya. Bagi kedua orang kesukaannya itu mungkin tak ada yang canggung. Diam-diam Jiyoo sedikit cemas, takut ibunya akan terlalu bergantung pada Hyukjae sementara ia sendiri belum bisa melakukan sesuatu pada hubungannya dengan lelaki itu.

Ia baru merasa sedikit tenang saat pundaknya dirangkul oleh sang Ayah. “Ibumu kelihatan senang.”

Jiyoo berusaha tersenyum walaupun akhirnya justru hanya terlihat seperti cengiran tak tulus. “Tentu saja senang. Lee-seobang yang mengatur liburan ini,” cemoohnya.

“Dia lumayan,” ujar ayahnya. Ayahnya menunjuk punggung Hyukjae. “Lee-seobang itu, maksud Ayah.”

Mau tak mau, Jiyoo menundukkan kepala. Ia tak tahu harus memberikan respon seperti apa agar ayahnya tak keliru membaca sikapnya. Tentu saja Jiyoo senang dengan pengakuan ayahnya, ini sebuah pencapaian yang bagus. Tapi, sekali lagi, ia takut kedua orangtuanya akan terlalu merasa terikat dengan Hyukjae.

Rupanya kebimbangan Jiyoo sampai pada ayahnya. “Kau masih belum yakin dengannya?”

“Entahlah,” ia tak mau repot-repot berbohong. Toh sang Ayah selalu bisa mengetahui kebohongannya. “Dia… laki-laki kesukaanku. Setelah Ayah. Hanya saja… aku tidak yakin kalau aku juga kesukaannya.” Jiyoo tersenyum samar. Tentu saja ada banyak hal yang sudah dilakukan Hyukjae untuknya, dan semua itu sudah cukup sebagai bukti bahwa ia memang gadis kesukaan Lee Hyukjae. “Dan lagi, dia belum menunjukkan usaha untuk mendekati Ayah, kan?”

“Jiyoo! Sini, sini,” sang Ibu berseru dari ujung koridor, menyuruh anak dan suaminya buru-buru menghampirinya. Ibu Jiyoo dan Hyukjae berdiri di depan pintu kayu bergagang perak. “Kamarnya sepertinya bagus ya?”

Jiyoo mengangguk dan mengamati Hyukjae membukakan pintu untuk kedua orangtuanya. Kali ini Jiyoo harus mengakui bahwa ibunya benar. Kamar itu luas dan mewah hingga Jiyoo harus memelototi Hyukjae. Sebaiknya ada alasan yang tepat dari lelaki yang mudah mengeluarkan uang seperti ini. Lee Hyukjae yang dikenal Jiyoo dari teman-temannya adalah lelaki yang agak, sedikit, lumayan pelit untuk urusan uang.

Jadi siapa sebenarnya lelaki yang sedang berdiri di samping Jiyoo saat ini?

“Apa kalian akan tidur dalam satu kamar?”

EOMMA!” seru Jiyoo dengan kedua bola mata melebar. Bahkan sang Ayah pun juga kehilangan kata-kata setelah mendengar pertanyaan istrinya. “Kenapa aku harus tidur sekamar dengannya? Jangan bercanda!”

Ibunya tersenyum cerah. “Baguslah. Awas saja kalau kalian melakukan sesuatu yang tidak baik di belakang kami.” Wanita itu kemudian beralih pada Hyukjae. “Lee-seobang akan mencegah Jiyoo melakukan hal-hal yang buruk, kan?”

“Kenapa kesannya akulah yang–“

Hyukjae buru-buru memotong ucapan Jiyoo, “Iya, iya. Pasti kucegah, Bi. Tidak akan kubiarkan Jiyoo melakukan hal yang tidak benar.”

“Hei, hei, tunggu dulu! Memangnya apa yang bisa kulakukan padamu?”

“Banyak, Nona,” bisik Hyukjae sebelum menarik tangan gadis yang tengah mengerucutkan bibir, tanda tak setuju. “Selamat beristirahat!” Hyukjae memberi salam dan menutup pintu kamar kedua orangtua Jiyoo.

“Oh… ‘Tidak akan kubiarkan Jiyoo melakukan hal yang tidak benar’? Kau bercanda ya?! Memangnya aku perempuan seperti apa?!”

Hyukjae tersenyum miring. “Ibumu sendiri yang memperingatkanku kalau kau bisa melakukan hal-hal yang… tidak baik padaku, Nona.”

Unbelievable!” Jiyoo menggeram tertahan. Ia menengadahkan tangan kanannya dan berujar, “Sekarang, dimana kunci kamarku? Aku akan mengunci diri di kamar supaya kau tidak khawatir aku melakukan sesuatu padamu!”

Tangan besar Hyukjae mendarat di puncak kepala Jiyoo, memberikan tepukan-tepukan pelan hingga gadis itu harus menjauhkan tangan Hyukjae dari kepalanya. Hyukjae kembali tertawa, kemudian mengeluarkan kunci berbentuk kartu pada Jiyoo. Ia mengetuk pintu yang tepat berhadapan dengan pintu kamar orangtua gadis itu. “Kamarmu.”

“Lalu, kau?”

“Wah, wah… belum sepuluh menit ibumu memberikan peringatan, kau sudah bertanya dimana kamarku?”

Jiyoo meniup poninya frustasi dan menyambar kunci dari tangan Hyukjae. “LUPAKAN SAJA!” serunya sebelum menutup pintu di depan Hyukjae, membuat tawa lelaki itu meledak.

Empat hari tiga malam, perjalanan pesiar yang direncanakan oleh Hyukjae. Tiap harinya, Jiyoo dikejutkan dengan banyaknya kegiatan yang, lagi-lagi, direncanakan oleh Hyukjae. Sepertinya lelaki itu benar-benar berusaha keras agar liburan ini sama sekali tidak membosankan –walaupun tanpa melakukan itu pun, Jiyoo yakin kedua orangtuanya sudah sangat senang dan tak akan sempat merasakan bosan.

Pada hari keempat, keluarga kecil itu sampai di Osaka dan menginap satu malam sebelum kembali ke Seoul. Sekali lagi, Jiyoo tak tahu harus bereaksi seperti apa saat ayahnya memutuskan akan tidur bersama Hyukjae di hotel. Ia kembali khawatir. Ayahnya bisa membaca keraguannya atas Hyukjae, jadi ia yakin ayahnya akan mengatakan sesuatu pada Lee Hyukjae. Atau, lebih parah, ayahnya bisa saja melakukan sesuatu.

“Jangan terlalu cemas. Kaupikir ayahmu itu pria seperti apa? Dia tidak akan membunuh Hyukjae hanya gara-gara dia berhubungan denganmu,” Ibunya memandang Jiyoo melalui pantulan cermin kamar hotel. Wanita itu sudah lama mengamati puterinya, seolah keraguan Jiyoo menular padanya. “Siapa yang sebenarnya kaukhawatirkan?”

Jiyoo merasakan bahunya yang lemas. “Dua-duanya.”

“Sudah berapa lama kau dan Hyukjae berhubungan?” tanya ibunya santai seraya membersihkan wajahnya di depan cermin.

“Empat tahun? Nyaris lima,” jawab Jiyoo tanpa berpikir.

“Berapa kali dia melamarmu?”

“Eh?” kali ini ia tak bisa menjawab tanpa berpikir. Bisa-bisa ia dimarahi jika salah menjawab. “Tiga kali, mungkin.”

Ibunya mengerutkan kening, “Hyukjae bilang empat.”

“Kalau sudah tahu jawabannya dari Hyukjae, kenapa masih bertanya?” Jiyoo protes, merasa tertipu dengan pertanyaan ibunya. “Dan kalau maksudnya lamaran yang dilakukan saat aku belajar menyetir itu juga dihitung, itu sama sekali tidak adil. Itu hanya mengganggu konsentrasiku.”

“Dan kenapa kau menolak semuanya?”

“Itu…”

“Apa kau masih belum percaya padanya?” tebak ibunya. Jiyoo memberikan jawabannya dengan terdiam. “Sampai sekarang pun aku belum percaya pada ayahmu. Dan mungkin ayahmu juga begitu.”

Jiyoo mengernyitkan alis. “Apa maksudnya?”

“Begitulah cara kami hidup. Dengan terus-menerus membangun kepercayaan. Karena saat kau berhenti percaya, itulah akhirnya. Dan jangan pula terlalu percaya, karena mencintai seseorang bukan berarti membiarkan dirimu buta. Tentu saja, cara seperti ini terlalu ekstrem,” ibunya tertawa, menertawakan cara hidupnya sendiri.

Sekali pun ibunya benar, Jiyoo tetap menyimpan banyak ketakutan.

Hyukjae duduk dengan punggung ditegakkan. Dalam hati, ia berpikir bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang. Ia bahkan tak berani membuka ponsel, khawatir ayah Jiyoo akan merasa tidak dihormati olehnya. Jadi, ia hanya menunggu. Ia yakin ayah Jiyoo ingin mengatakan sesuatu; sesuatu yang penting, yang berhubungan dengan puteri tunggalnya.

Dua puluh menit pertama, kecanggungan padat mencekik leher Hyukjae. Ia tak tahu bagaimana cara mengurangi rasa canggung ini. Biasanya ia tak begini. Ia bisa berbincang dengan orang lain yang lebih tua tanpa dianggap kurang ajar atau tak sopan. Namun, orang lebih tua yang satu ini berbeda, sangat berbeda.

Karena orang yang lebih tua ini adalah orang yang membesarkan Jiyoo, gadis kesukaannya.

Dan entah bagaimana, fakta itu sangat berkorelasi erat dengan kegugupannya saat ini. Mungkin semua lelaki yang sedang menghadapi calon mertua laki-lakinya memang seperti ini, Hyukjae mencoba mencari penghiburan diri. Tapi fakta itu sama sekali tak memberikan ketenangan baginya.

“Apa kau tahu apa yang akan kubicarakan?”

“Anda belum memberikan petunjuk apa pun soal itu,” jawab Hyukjae pelan. “Soal… Jiyoo?”

“Jiyoo dan kau,” tambah pria paruh baya itu. Berada dekat dengan pria ini membuat Hyukjae bisa melihat dengan jelas kerutan-kerutan di sekitar kedua matanya. Bibirnya membentuk senyuman samar saat menyebut nama puterinya. “Dia masih kekanak-kanakan dan sama sekali belum siap menghadapi apa pun.”

“T-tunggu sebentar,” potong Hyukjae. “Anda tidak memaksaku untuk… memutuskan hubungan dengan Jiyoo, kan?”

Ayah Jiyoo menyipitkan mata, “Menurutmu begitu?”

“Tidak, tentu saja tidak.” Hyukjae menundukkan kepala, agak tersipu karena salah duga dan setengah lega karena dugaannya salah.

Kedua mata yang berusia setengah abad itu mengamati Hyukjae, seolah menimbang-nimbang apakah ia perlu melanjutkan ceritanya. Setelah agak lama, sebuah cerita yang mengisahkan seorang gadis bernama Choi Jiyoo itu meluncur begitu saja dari bibir ayah Jiyoo. Hyukjae merasa takjub, bangga karena setidaknya ia berhasil mendapatkan kepercayaan pria yang selalu diseganinya itu.

Kisah Jiyoo yang diceritakan padanya seperti sebuah film di mata Hyukjae.

“Apa… Anda pernah membenciku?” tanya Hyukjae begitu cerita itu selesai. Ayah Jiyoo melayangkan tatapan tak mengerti. “Karena aku menyukai Jiyoo. Amat sangat menyukainya. Cukup banyak hingga rasanya–“

“Kau bisa mengambil Jiyoo dariku?” lanjut ayah Jiyoo. Hyukjae mengangguk dengan ragu-ragu. “Daripada membencimu, mungkin aku hanya takut. Dia bisa merepotkan dan terlalu bergantung padamu, jadi aku takut kau akan susah karena dia.”

Hyukjae tersenyum simpul. Seharusnya pria baruh baya itu tahu bahwa puterinya sangat sulit ditangani. Bahkan, hingga sekarang, Jiyoo yang manja hanya akan muncul di edisi-edisi terbatas. Akhirnya hal itu menjadi topik Hyukjae untuk mengadu pada calon mertuanya. Bahwa ia ingin gadis kesayangan semua orang itu sedikit berbagi dengannya.

Kemudian topik-topik lain menyusul, meluncur seringan daun yang ditiup angin.

Kali ini Hyukjae yakin bisa menemukan kecocokan dengan ayah Jiyoo. Ia bahkan heran kenapa sebelumnya ia tak bisa melakukan hal-hal semacam ini; mengobrol tanpa bosan dan saling menimpali. Mungkin, Hyukjae berpikir, sejak dulu ia lupa. Bahwa pada akhirnya, kedua orang itu menyayangi orang yang sama.

Two weeks later

Licensee: kb. pemegang lisensi atau izin.

Dalam bayangan seorang Choi Jiyoo, pemegang lisensi selalu berkaitan dengan orang yang diperbolehkan mengendarai motor atau mobil secara legal dari segi hukum. Atau, dalam bayangan terliarnya, pemegang lisensi dapat pula dikaitkan dengan para pemilik senjata api legal. Gadis itu tak pernah tahu kata licensee memiliki makna lain. Jiyoo tak pernah tahu kata licensee bisa digunakan dalam arti pemilik izin atas seseorang. Terutama jika seseorang itu adalah dirinya.

Tidak ada yang namanya pemegang izin atas dirinya. Jiyoo merengut, tak suka. Ia bukan barang, bukan pula sebuah obyek –dalam aturan tulis-menulis, dirinya memang sebuah obyek, tapi ini sama sekali tak serupa dengan itu. Tak ada seorang manusia pun yang memiliki izin atas dirinya.

Jika saja tak ada perjalanan itu, ia mungkin tak akan mengira bahwa kata licensee bisa menjadi kosa kata baru dalam hidupnya.

“Jangan membuat Hyukjae susah. Jangan lupa minggu ini giliranmu memasak di rumah. Latihan jadi pendamping yang baik untuk Hyukjae. Oh, dan ayahmu ingin bicara.” Akhirnya rengekan ibunya berakhir. Tanpa sadar ia menghela napas lega. Jiyoo harus berterimakasih pada ayahnya nanti.

“Kau akan pulang bersama Hyukjae, kan?” suara berat khas ayahnya menggantikan suara ibunya. “Ayah membawa oleh-oleh dari perjalanan bisnis kemarin.”

Jiyoo berubah girang, “Untukku?”

“Hyukjae ikut, kan?”

“Ya Tuhan! Iya, iya, dia sedang menyetir,” jawab Jiyoo kesal. Ia melirik Hyukjae yang tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya ia harus menahan diri lagi kali ini. “Oleh-olehku?”

Ayahnya diam agak lama sebelum berkata, “Ayah lupa. Lain kali akan Ayah belikan khusus untukmu.”

“Lalu sebenarnya oleh-oleh milik siapa yang Ayah bicarakan?”

Sebenarnya Jiyoo sudah tahu jawabannya, tapi entah mengapa, ia merasa wajib mengkonfirmasi jawaban ayahnya. “Milik Hyukjae. Ada tas ransel dan sepatu.”

“Aku akan menghubungi Ayah lagi nanti,” ujar Jiyoo sambil memutuskan sambungan telepon ayahnya. Ia menjejalkan ponselnya ke dalam ransel dan menggerutu, “Aku tidak akan pulang ke rumah lagi denganmu.”

Hyukjae tertawa renyah. “Bukannya kau sendiri yang selalu ingin aku akrab dengan ayahmu?”

Kedua mata Jiyoo terpejam sesaat, seolah merutuk keinginan yang selalu dibisikkannya. Ia menghela napas berat dan melotot ke arah Hyukjae. “Tapi tidak seakrab ini!”

“Apa boleh buat, tidak ada seorang pun yang tidak ingin akrab denganku seperti ini,” sahut Hyukjae bangga.

“Terserahlah.”

“Oh iya, aku ingin makan daging ayam. Dan jangan lupa, kau juga harus menemaniku membeli oleh-oleh untuk ayah, ibu dan kakakku sebelum kita kembali ke Seoul.”

“Hei,” tegur Jiyoo. “Akrab dengan orangtuaku bukan berarti kau punya izin untuk memerintahku!”

Hyukjae mengerutkan kening, kemudian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Bibirnya tersenyum saat sambungannya dijawab. “Oh, Paman. Iya, aku sedang menyetir. Begini, sebenarnya aku sangat ingin makan masakan Jiyoo dan mengajaknya membeli beberapa oleh-oleh untuk keluargaku, tapi kurasa dia keberatan, Paman. … Baiklah, sebentar,” Hyukjae menyodorkan ponselnya. “Ayahmu ingin bicara.”

Jiyoo memaki Hyukjae tanpa suara, dengan terpaksa mengambilalih ponsel lelaki itu. Belum sempat mengucapkan kata ‘Ayah’, telinga kanan Jiyoo langsung diserang oleh rentetan omelan khas ayahnya.

“Ayah sudah mempercayakanmu pada Hyukjae, dan dia juga sudah bersedia menjagamu, jadi apa salahnya memasakkan sesuatu untuknya? Dan menemaninya membeli oleh-oleh. Memangnya harus selalu orangtuanya yang memberikanmu banyak barang? Pokoknya ikuti kata-kata Hyukjae.”

Hyukjae tersenyum lebar, mengabaikan sorot mata laser yang ditujukan padanya. “Sudah kubilang, kan, aku adalah pemegang izin atas dirimu, Choi Jiyoo.”

==================FIN==================

Halooo! Ini bakal jadi edisi pertama L.O.V.E Project JiHyuk! Hihihihi.. edisi awal ini langsung bercerita soal hubungan JiHyuk dan korelasinya sama kedua orangtua Jiyoo. Kalo sempet nyimak, JiHyuk sudah jalan 4-taunan dan Hyukjae sendiri sudah ngelamar 4 kali tapi ditolak mulu (saya bakal bikin beberapa cuplikan cara proposenya si Hyukjae, kalo sempet HAHAHAHA), terus sedikit-banyak disini diceritain soal gimana sreg-nya orangtua Jiyoo sama Hyukjae sampe ayahnya pun akhirnya gak bisa bilang gak sama Hyukjae.

Seharusnya sih Blending itu dimasukkin ke proyek ini, tapi apa daya, waktu itu gak kepikiran sama sekali kalo bakal tercipta proyek macem ini. Jadi, alhasil saya bikin semuanya baru. Dan karena ini sama sekali gak menyinggung SJ, jadi sepertinya saya sekedar pinjem nama ajah, gak pake profesi asli Hyukjae. Plus, saya juga bakal bikin edisi khusus ketemunya Jiyoo-Hyukjae sebelum menjalin kasih #hadeeeh

Insya Allah sih cuma bakal ada 4 edisi berformat Oneshot (tapi bisa juga berubah jadi Twoshot, Threeshot, dst dsb dkk), jadi semoga… apa ya? Enjoy? xD

See you around! ^^

37 thoughts on “[L #1] Licensee

      • eonnii maaa gg tau ajah orang lagi kekikian, sejarah nih aq masuk the 1st comment*iringan musik sorry2 answer*, hehehe tpi benaran blom baca biasa malam detik2 tidur bru baca ffan biar jadi skenario di alam mimpi *ngikikkikkk* sepertinya nih part satu y unn ?

      • Hahaha.. lain kali dikasih keterangan yah kalo lagi kekikian, gegulingan, gelendotan
        Ini kayanya lebih bagus dibilang bagian 1, jadi ada bagian2 lain *mudah2an*

    • Waduh saya super seneng kalo bisa bikin yang baca senyum2 di jalan. Itu artinya saya berhasil ngajak orang jadi kaya saya yang doyan senyum-senyum HAHAHAHA.. terima kasyih syuda baca~😀

  1. astaaaga eonni setelah sekian lamaa akhirnyaaa😀
    aku rindu jihyuk yg sweet dan unyu kyk gini eonn senyum2 sendiri wkt bacanya..
    aah hyukjae km bener2 mantu idaman bgt…
    selalu kehabisan kata2 eonn kalo baca karyamu, cepetcepet keluarin novel dong eonnn…yayaya

    banyakk bgt kata2 yg ak suka disini eonn, interaksi hyukjae sma kluarga jiyoo jg ak sukaaaaaa bisa ni dijadiin tutorial pdkt sma camer…hihi
    oya eonnn ad beberapa kata2 disini yg ak bt pm sma dp di bbm eonn tolong izinin yaa eonn saking gemesnyaa ini jd pngen pamer ketemen2..hehe

    fightingg eonnn makasiiih ud publish and nuliss ff iniii

    • Haloooohh~ kamu begitu merindukan si eonni yang unyu ini yah? #mintadigampar
      Sambung doa ajah ya, semoga ada rejeki dan kesempatan buat bikin novel sendiri. T^T Terima kasyih dukungannyah. ><

      Oyaah? kata2 yang mana? Boleh tau gak? *mendadak kepo*
      Terima kasyih ya suda baca~😀

      • hihi kalo diizinkan daku juga merindukanmu eonn,!!! :*
        amin eonn pastii deh didoain biar cepet bisa keluarin novel, apalagi setelah tau klo ternyata eonni domisil dimalang yaa nnti bisa deh sekalian ttd novelnya..hihi aku domisil jombang eonn😀
        yg inii nih eonn “dia lelaki kesukaanku setelah Ayah, hanya saja aku ragu kalau aku juga kesukaannya” hbs pasang pm ini berasa ngasi kode ke doi eonn dia lngsung chat “kamu kesukaanku setelah ibu, kamu bagian terfavorit” #apainimalahCurhat tapii makasihh eonn berkat karya kamu aku jadi melting berkali2..kkeke
        yg jadi dp percakapan hyukjae sma ayah jiyoo itu eonn sma percakapan hyukjae wkt dimobil sma jiyo discene terakhir. tapi sebenernya semua kata2 yg eonni ciptain itu bikin meltingg,!!!!! gimana mungkin hyukjae jadi seperfect ini klo ditanganmu eonn.haha

        aah yaa eonn ada 1 lagi kata lgi yg sering ak bt dp tp lupa ini judul ffnya apa, dan ff ini berhasil bikin temen aku ngira klo ini potongan novel dan ikut2an jadiin pm “aku ingin menikah terutama denganmu, dan lagi pula kau bukanlah pilihan kau adalah keharusan” astaagaa eonn aku meleleh tiap baca kata2 ini berharap ada yg bilang gini didunia nyata..kkeke

        ok kyknya ud deh eonn aku slalu histeriss kalo baca ff km efeknya g ilang2…!!!!!! terimaksyiih eonn komentku slalu dbls raasanya kyk dbls sma idola
        bikin histeriss.
        ah sudah eonnn ngomong terus dari tadi :*

      • Tjiyeeeh~ hai anak Jombang!😀
        YAAMPUN CUTE BANGET!! TT^TT *ceritanya ngiri gara2 gak ada yang bisa dikodein*

        Hahaha. Aku juga lupa deh itu yang soal ‘keharusan’ itu dari ff yang mana. Nulis sendiri, lupa sendiri. xD

        Waduh.. ini authornya yang makasih soalnya kamu bisa menyempatkan buat komen. Hihihihi

  2. Karna pada dasarnya Hyukjae emang bisa nyentuh hati banyak orang “” aku gk tau yah setiap kalimat yg keluar dari mulut jiyoo untuk Hyukjae itu keren hahaha gk tau kenapa dialog mereka itu simple tapi.langsung nyentuh inti dari setiap pembicaraan “”

  3. setelah skian lama….ktmu couple ni lgi^^
    G sbar nunggu crita yg lainya…jgn lama2 ya updatenya please…please…please..
    gpp jdi 4 chapter jga…klo bisa 5,6…mkin bnyak mkin bgus.biar bisa sering update…hehe…
    Jihyuk couple fighting…!!!!^^

    • Iya nih, setelah sekian lama, akhirnya kangen JiHyuk lagi. ;;__;;
      Iyah, didoakan saja. Soalnya tiap bagian uda ada bayangannya sih, dari yg angst sampe open ending HAHAHAHA
      Kamuh juga fighting!! ^^

  4. Selalu senang tiap lihat ada postingan ff baru darimu eonnie.. apalagi ff soal jihyuk. kangen jihyuk… dan meski nggk dr awal ngikutin perjalanan jihyuk, tapi aku suka mereka berdua.
    baca ini mau nggk mau bayangin si hyukjae yg canggung di hadapan calon ayah mertua ..😀
    ..
    semangat nulis ya eonnie, ditunggu cerita jihyuk lainnya ^^

    • Wah semoga gak bingung ya sama cerita2 Jihyuk, soalnya ini yang nulis emang suka seenak jidat bikin cerita yang sama sekali gak nyambung dr cerita2 yang kemaren2. x’D
      Terima kasyih syuda baca yaa~😀

  5. aiiiii,,,, sweet sweet creamyiiii renyah fresh kyk stobeliii hahahah berapa part pun ini project tetep kepo dasyat deh, denger2 mw terjun k dunia pernovelan ya Unnie, omg itu kereen bnget emang bakat kyk ginian tuh yg hrus benar2 dipubliskan, eonni kn punya style(s) harry 1D *okeh salah fokus* —_—- ya nntix semoga keingnn q untuk bisa jdi salh 1 org yg beruntung memiliki krya2mu nnti bahkn yg lain sepertinya sama halnya denganq ,eaaaa gg ada hubx kli ini ama SJ cerita bru nih tpi emng fresh bngett

  6. yooooooo!! i like it kak
    spenuhnya mendukung love projek jihyuk.. Like always ceritamu itu detail, jadi aku bacanya yg bener2 bisa ngebayangin visualnya. Nah kalo boleh request, itu dibuat banyak chapter aja aku dukung banget kok kak, haha but tetep terserah kamu, whatever deh, yg penting keep writing ya kak.

    haha awalnya aku kira hyukjae jd member suju, dan jiyoo spt biasa anak kuliahan yg selalu pulang kampung😀
    Hyukjae disini tajir banget ya kak? Sampe liburan pake kapal pesiar. gilaaaak.
    mau tau dong kak disini jarak umur mereka berapa??

    • Hahaha. Kayanya dari 4 bagian L.O.V.E nanti ada yang agak banyak chapternya, mudah-mudahan ya.
      Tadinya jg awalnya mau dibikin SJ kaya biasanya, tapi berhubung tar ada rencana bikin yang angst, kayanya kesian gitu kalo pake Eunhyuk SJ. ><
      Ada beberapa part cerita Hyukjae tentang kapal pesiar yang kelewat nih huhuhuhu
      Jarak umur mereka sih mau dibuat fiktif, 5 taun…? Hahahaha. Jadi Yoo-nya uda 24/25, biar dewasa getoh. xD
      Terima kasyih syuda baca yaa~😀

  7. Bahkan ayah+ibu Jiyoo lbh perhatian sma Hyuk drpd sma anaknya, wkwkwk…
    Aku suka bgt sma blog ini ,kenapa ??? karena disinilah bias qu berada, hahaha😀
    gaya bahasa+penulisannya bagus🙂
    next story selalu ditunggu segera,Fightinggg !!!

  8. This fan fiction is healing me from the sick of missing JiHyuk couple. Manis banget, eonni! Simple tapi membekas banget. Sukaaaa❤
    Lagi nginget2 ke-4 lamaran Eunhyuk yg ditolak itu di mana aja. Hahaha, semangat ya, mas teri!
    Ditunggu bagian2 lainnya ya, eonni! Lebih manis lebih baik. Dan.. terima kasyiihh karena sudah mem-posting-kan ff ini❤ Hehe.. #FightingJiHyuk

    • Waduh ada yang sakit malarindu (?) hihihihihi
      Nanti sih rencananya mau dikasih tau dia gagal ngelamar itu dimana aja. Haha..
      Terima kasih juga ya syuda bacaaa~😀

  9. Oh my Lord….udah lama banget ga main kesini….alhamdulillah udah free /belom sih masih ada sbmptn/ jadi bisa kesana kemari. kaaakkk lucu banget ceritanya…suka banget. kosa kata pilihan kakak itu loh yang bikin ceritanya makin gemesin(?). Alurnya juga ga bisa ditebak, kirain bakal propose di kapal pesiar. ohiya…itu gantungan kelinci kepala pink maksudnya apa ya /lirik kak shela/ /sembunyiin daehyun/

    • Ciyeeeh! Selamat dan sukses yah~ semoga nanti sbmptn-nya dilancarkan. Amiinn. Semangats!!

      Hahahaha… wah tau aja kalo daehyun diselipin dikiiiit disini. xD Terima kasyih syuda baca yaa~😀

  10. *cakar2 Hyukjae*
    RINDU JIHYUK BANGET !!!!!!
    ini edisi kapal pesiarnya uda keluar, mom belum selesein interpiunya hiks.
    Kapan hari sempet bayangin adegan what if jihyuk-kyuhyo ketemu ama calon mertua haha. Ah, gak nyangka bets lah Hyukjae Ah, hyukjae maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah…….. bikin ngiri nih. pendekatannya kece badaiiii,
    Lucky Yoo !😄
    Both of you r lucky !!!

    flawless, jagonya deh emang buat cerita yang ginian ah. still my fave author. *uyel2*
    semoga bisa segera menerbitkan novel yaaa, mom pre-order duluan deh….😄
    miss you so much ya, gadis skripsi😄

    • Aaaahh!! Yoo malah lupa ada edisi interpiu! Ayuuuk cepat bertemu dan brainwashing lagiii~
      Ahahahaha.. ini mah bukan edisi Hyukjae ketemu mertua, ini lebih ke edisi Jiyoo dianak-tirikan orangtua sendiri gara2 Hyukjae. T^T
      ADUUUUHHH PUJIANNYA MANIS BANGET IH BIKIN DIABETEEEESS. >//<
      Miss chu too, gadis Januari kesayangan!😀

  11. dibikin angst?? Oh noooo ga tega ><
    Jgn lama2 ya ka si hyukjae dibikin menderita. Kasihaaaan.
    Aku setuju biar dia jd lee hyukjae aja disini.. Karna menurut aku, hyukjae lebih pantes sih dibuat karakter yg kaya begini dan aku suka kaka pake hyukjae terus di sini. nama eunhyuk tuh kurang gimanaaaa gitu kalo jd sosok dewasa yg tajir dan mengesankan……
    yoo nya jugaaa untung dibuat umur 25. Cukup dewasa kan kalo diajakin hyukjae mesra2an hahaha jadi hyukjae bukan berarti sifat keyadongannya eunhyuk berkurang kan dlm diri hyukjae xD
    Btw maksudnya cerita kapal pesiar kelewat itu gimana ka?? lupa ya? Ingatnya pas udah di post? Hihi lucu ih apa mau dibuat flash back di postingan mendatang??? Huwehehehe aku sih yg ngarep
    Ditunggu ya ka next postinganmu~

    • Wah project lanjutannya belom keketik. T^T Belom dapet pencerahan, ilhamnya suda keburu ilang.
      Ahahahaha… nama Eunhyuk kurang bisa dapet sih feelnyah.
      Yang kapal pesiar itu aslinya mau dipanjangin, ada banyak interaksi orangtua Jiyoo sama Hyukjae juga. ^^ Sama ada banget rencana bikin flashback yg nyeritain gimana cara Hyukjae ngelamar Jiyoo, yang sampe 4 kali itu. ^^
      Terima kasyih syuda bacaa yaaa. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s