[JiHyukism] Forbidden Date

Forbidden Date

images (10)

The old book got chosen, the withered pages must be re-read. Your old book, old story.

I’ll never understand the story on it.  Nor I can be the part of its memories in each story of yours.

But I’ll make our own book, the new one with neat pages and thousand words –mostly our names.

The book we’ll never get tired of, as we make another book, with another story… another us.

Senandung dengan suara pelan menggema di telinga Hyukjae. Tak jelas lagu yang sedang disenandungkannya. Ia bahkan tak ingat dimana pernah mendengarnya. Tak masalah, pikirnya. Suasana hatinya terlalu bagus untuk tak melakukan apa-apa.

Lampu lalu lintas yang berwarna merah membuatnya menginjak rem. Kedua matanya melirik spion dalam mobil. Ia membiarkan ujung bibirnya terangkat, membentuk senyuman kecil seraya melirik seikat bunga di samping kursi pengemudi.

Hyukjae kembali bersenandung santai. Pikirannya melayang pada kunjungan menyenangkan yang dilakukannya saat ini. Buket bunga di sampingnya akan menjadi milik seseorang. Sang Ibu baru yang memberinya sepasang keponakan lucu, Shin Hyori. Tapi, hal itu hanya sepersekian kecil dari alasannya menggumamkan lagu tak jelas. Tentu ia senang, tapi ada hal lain –orang lain- yang membuatnya memiliki alasan utama untuk merasa senang.

Sepuluh menit selanjutnya, Audi perak Hyukjae sudah berada di garasi rumah Kyuhyun. Ia meraih buket bunganya sebelum turun dari mobil. Langkahnya terasa ringan. Sebentar lagi ia akan disambut oleh wajah cemberut Jiyoo. Dengan membayangkannya saja, Hyukjae mulai tersenyum penuh kemenangan.

Denting bel berbunyi dua kali hingga pintu utama terbuka. Hyukjae sudah bersiap-siap meluncurkan cemoohan pada orang yang akan menyambutnya. Namun, sosok yang dibayangkannya agak… berbeda.

Choi Jiyoo tak cemberut. Itu aneh, pikir Hyukjae. Gadis itu memiliki puluhan alasan untuk cemberut. Alih-alih melihatnya cemberut, Hyukjae justru disapa oleh senyuman lebar Jiyoo. Itu semakin aneh.

“Kau datang!” seru gadis berponi miring itu. Ia melirik buket bunga dalam genggaman Hyukjae. “Hyori sedang berada di rumah ibunya. Masuklah.”

Hyukjae masih terheran-heran, namun berhasil memaksa kakinya memasuki rumah. Ia melepaskan converse hijaunya, menggantinya dengan sandal rumah empuk berwarna biru. Dengan cepat, buket bunganya sudah berpindah tangan.

“Akan kuletakkan di vas,” kata Jiyoo seraya menghilang ke ruang makan. Hyukjae mengerjapkan mata berkali-kali, makin kebingungan.

“Kudengar kau kalah taruhan,” Kyuhyun menegurnya. Yonghoon, putra sulung Kyuhyun dan Hyori, berada di lengan kanannya. Wajah bocah itu kuyu, mengantuk. “Siap-siap saja. Aku sudah tahu bahan taruhan kalian.” Kyuhyun berdecak pelan, “Kukira kau tidak akan mengijinkan Jiyoo melakukan ini.”

Hyukjae melongo. Alisnya terangkat sejenak. “Ah…” Hyukjae mulai mengerti. “Aku tidak kalah taruhan. Aku yang menang.”

“Apa maksudmu?” tanya Jiyoo yang muncul dengan vas kristal bening berisi bunga di kedua tangannya. Gadis itu meletakkan vas di atas meja ruang tengah. “Bayi Hyori, kan, laki-laki.”

“Dan perempuan,” sambung Hyukjae. Ia memiringkan kepala. “Aku menang.”

“Aku juga!” seru Jiyoo tak mau kalah. Pandangannya beralih pada Kyuhyun, “Aku menang, kan? Lagipula, bukankah sekarang keluarga kalian punya sepasang anak laki-laki?” Ia menunjuk Yonghoon.

Hyukjae mengerutkan kening, tak terima. “Kita bertaruh untuk adik-adik Yonghoon,” katanya, menekankan kata adik-adik dengan jelas. Ia menghela napas panjang dan melipat kedua tangan di dada. “Lalu, bagaimana?”

Hyukjae melihat Jiyoo menggigit bibir bawahnya, suatu kebiasaan yang tanpa sadar selalu dilakukan gadis itu saat berpikir keras. Susah payah Hyukjae menahan diri untuk tak tersenyum. Bibirnya hanya berkedut sedikit dan tak sampai sedetik. Ia bahkan tak benar-benar memikirkan solusi yang bisa diambil untuk masalah ‘perjudian’ mereka. Ia hanya suka melihat Jiyoo, memperhatikannya, mengamati gadis itu dan apapun yang dilakukannya.

Jika saja ia tak berstatus sebagai kekasih gadis itu, ia pasti sudah dianggap sebagai psikopat.

“Lalu bagaimana?” Jiyoo mengulang pertanyaan Hyukjae. Sepasang mata bulatnya memandang lelaki itu, berharap Hyukjae akan mengalah dan membiarkannya menang.

“Kenapa bingung?” ujar Kyuhyun tiba-tiba. Ia memandang Jiyoo dan Hyukjae bergantian. Ia tak percaya kedua manusia di hadapannya menjadikan anak-anaknya sebagai media taruhan. Jadi, mungkin ada manfaatnya bila ia bisa memberikan solusi yang lumayan bijak untuk keduanya. Hadiah bijak yang bisa memberikan sedikit pelajaran moral. “Hadiah taruhan berlaku untuk kalian berdua. Semuanya senang,” katanya. “Dan kalian bisa segera pergi dari rumahku.”

“Kurasa Kyuhyun benar,” Hyukjae berkata setelah lima menit meninggalkan rumah Kyuhyun. Ia melirik Jiyoo melalui sudut matanya. Tak ada yang bisa dibaca dari gadis itu. Hyukjae tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jiyoo. “Bagaimana menurutmu?”

Jiyoo masih menggigit bibir bagian bawahnya. Di kepalanya, sekarang sedang ada kegiatan penimbangan untung-rugi yang akan diperolehnya bila menerima atau menolak usulan Kyuhyun. Ia tak tahu, jadi ia hanya menggelengkan kepala.

“Tidak mau?”

“Tidak tahu,” jelas Jiyoo. Ia kemudian berubah kesal. “Aku melihat raut wajahmu tadi. Kau keliatan senang.”

Hyukjae tertawa pelan. “Memangnya kau tidak?”

“A-aku tidak!”

Mulut Hyukjae menggumamkan omelan tanpa suara. Ia kembali mengingat hadiah untuk taruhan mereka. Forbidden Date for one day. Perselingkuhan dalam sehari. Ide gila yang berani diambil keduanya untuk bersenang-senang. Tentu saja, tak boleh ada batasan norma dan hukum yang dilanggar. Tidak menginap, tidak kontak fisik. Hanya menghabiskan sehari dengan orang lain tanpa dicemburui dan mencemburui.

Hyori menganggapnya ide yang lahir dari kreativitas berlebihan. Kreativitas yang menjurus pada hal negatif, ujar Hyori kala itu. Kyuhyun sendiri hampir menunjukkan minat pada usulan Jiyoo dan Hyukjae jika saja Hyori tak sedang memegang pisau buah di tangannya. Berbeda dengan One Day Exchange yang pernah dilakukan oleh dua pasangan itu, kali ini segalanya lebih bebas. Karena tak ada larangan, siapa pun yang diinginkan oleh si pemenang, harus diberi ijin.

Bahan taruhannya adalah si kembar. Jiyoo bertaruh bayi kembar Hyori berjenis kelamin laki-laki, sementara Hyukjae bertaruh sebaliknya. Siapa yang menduga bahwa yang hadir ke dunia adalah sepasang bayi laki-laki dan perempuan?

Jadi, di sinilah mereka, Hyukjae dan Jiyoo dalam mobil dan kembali dipusingkan dengan pertaruhan gila mereka.

“Kalau kau, siapa yang kauinginkan?” tanya Jiyoo. Ia tak benar-benar ingin mendengar jawaban Hyukjae, tapi ia harus. Ia bisa melihat Hyukjae mengerutkan kening, berpikir. “Siapa?”

Hyukjae mengangkat bahu. “Sama sekali belum terpikirkan.”

“Bohong.” Jiyoo meluruskan pandangannya ke jalan. Trotoar sudah tak berselimut salju. Musim dingin hampir berakhir dan menjelang musim semi, namun rasa dingin masih menggigit kulit. Jiyoo penasaran bagaimana rasanya menghabiskan salah satu hari dalam menyambut musim semi dengan seseorang yang lain, seseorang yang bukan… kebiasanmu.

“Aku punya beberapa opsi sebenarnya,” ungkap Hyukjae hati-hati. “Si pemenang, kau atau aku, akan memilih kertas yang bertuliskan suatu kategori, jika aku boleh menganggapnya demikian. First love, first kiss, first crush… apa pun. Lalu… yah, kau tahu, menghubungi orang itu dan mengajaknya berkencan.”

Jiyoo berdesis pelan. “Sudah tentu kau memikirkan banyak hal soal ini.”

“Akan kuanggap itu sebagai pujian.”

“Tidak, bukan.”

Hyukjae tertawa. “Lalu, bagaimana? Tidak ada yang menang di antara kita, Yoo.”

“Siapa bilang?” balas Jiyoo. “Aku benar, kau juga benar. Anggap saja tiket Forbidden Date itu untuk kita berdua. Kita akan memilih orangnya, mengatur waktunya… seperti itulah.”

Hyukjae memandang Jiyoo dengan tatapan tak percaya. Mudah sekali gadis itu menyetujui saran Kyuhyun. Mungkin Jiyoo benar-benar menunggu kesempatan seperti ini. “Kau benar-benar luar biasa.”

“Nah, itu pujian, kan?”

Hyukjae menggeleng-gelengkan kepala. “Kau berpikiran terlalu positif.”

Jiyoo duduk bersila di atas karpet lembut di ruang televisi apartemennya. Di atas meja, tergeletak beberapa helai kertas berwarna putih yang digunting dengan ukuran sama. Bibirnya mengerucut, agaknya masih tak rela dengan hasil keputusan yang diambil oleh dirinya dan Hyukjae. Keduanya menang. Itu artinya mereka sama-sama memiliki tiket menggunakan Forbidden Date. Apakah Jiyoo harus senang?

Rencana Jiyoo adalah menggunakan tiket Forbidden Date-nya pada teman sekelasnya, dan bukan karena alasan ia benar-benar ingin berselingkuh. Temannya, Kang Seungho yang bodoh itu, sudah melakukan hal yang tak kalah bodoh dengan menyatakan cinta pada Jiyoo di chat room satu angkatan. Semua teman yang dikenalnya mengasihani lelaki itu dan meminta Jiyoo untuk menghabiskan waktu sehari saja dengan dengannya. Tentu saja ia tak bisa menolak.

Dan, Jiyoo sama sekali belum, apalagi ingin, memberitahu Hyukjae. Setidaknya sebelum ia dideklarasikan sebagai pemenang taruhan mereka.

Nah, itu jika Jiyoo menang.

Ketika justru ia dan Hyukjae sama-sama menang, ia tak tahu lagi. Dengan siapa Hyukjae akan menggunakan tiket Forbidden Date itu, apa alasannya, bagaimana jika Hyukjae atau pasangannya memiliki hubungan lain. Kepala Jiyoo pusing memikirkan segala macam kemungkinan dan resiko. Apa Hyukjae memang ingin selingkuh?

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, menolak segala pikiran buruk yang menggodanya. Ia menoleh ke arah dapur dan menemukan punggung Hyukjae. “Mau dimulai?”

“Sebentar, airnya belum mendidih,” ujarnya seraya berbalik badan. Tangannya terangkat dengan sebungkus minuman cokelat instan bubuk. Hyukjae tersenyum padanya dan mendadak Jiyoo tak membutuhkan cokelat hangat lagi.

“Kategori apa saja?” Jiyoo mengambil spidol hitam di dekat sikunya. Tak ada gunanya memenuhi kepala dengan imajinasi liar yang hanya akan membuatnya kesal, jadi ia akan mengambil hadiahnya –yang juga menjadi hadiah untuk Hyukjae.

Hyukjae menyarankan beberapa kategori yang bisa digunakan mereka untuk menentukan pasangan taruhan. Gila. Jiyoo mendesah tanpa suara. Ia dan Hyukjae memang sudah gila. Apa gunanya, sebenarnya, melakukan semua ini?

Ya,” tegur Jiyoo, tak menunggu jawaban Hyukjae. Perhatian lelaki itu kini tertuju padanya. “Coba ingatkan aku alasan kita setuju dengan taruhan ini. Maksudku, yah, kau tahu… hadiah taruhannya adalah selingkuh. Memangnya masuk akal?”

Tatapan Hyukjae tertancap tepat ke matanya, membuat wajah Jiyoo menjadi hangat. Tapi kemudian lelaki itu memiringkan kepala dan berkata, “Aku sudah menanyakan hal itu saat kita membuat taruhan ini. Sungguh.”

“Aku ingat.”

“Kita bisa mengganti hadiah taruhannya… dengan kencan biasa antara kita saja. Tak ada orang lain, tanpa embel-embel selingkuh,” ujar Hyukjae tenang. “Tapi, aku tahu kau pasti tidak akan mau.” Hyukjae menertawai dirinya sendiri karena bisa membaca gadis yang merengut padanya.

Jiyoo meraih selembar kertas dan bersiap menulis. “Kau ingin berkencan satu hari dengan siapa?”

“Aktris Choi Jiwoo! Aku pernah bilang kalau dia tipe idealku,” seru Hyukjae cepat. Ia melihat tatapan sinis Jiyoo. Tatapan itu penuh dengan penilaian –dan sedikit rasa tak percaya. “Aku bisa menghubunginya. Aku memang seperti ini, tapi aku tetap seorang selebritis,” tukasnya galak.

“Aku, kan, tidak berkomentar apa-apa.”

“Tatapanmu itu menjelaskan segala komentar yang kaupunya.”

Jiyoo mengangkat bahu sambil menahan tawa. Ia menuliskan nama Choi Jiwoo di atas kertas dan menuliskan nama lain di bawah nama Choi Jiwoo. Bang Yongguk. Hyukjae mengerutkan kening dan Jiyoo seakan menjawab pertanyaan yang dimiliki lelaki itu. “Aku masih suka Jung Daehyun. Aku hanya baru sadar Bang Yongguk itu benar-benar lelaki dengan boyfriend material yang kuinginkan.”

“Seingatku, aku tidak berkomentar apa-apa,” balas Hyukjae puas. “Lagipula bagaimana caranya kau menghubunginya?”

Kedua mata Jiyoo menatap Hyukjae dengan pandangan geli. “Untuk apa aku memiliki seorang idola senior sebagai kekasih kalau aku tidak bisa mendapatkan jalur istimewa menuju idola yang aku suka?”

Hyukjae mendengus. Ia kemudian teringat konsep yang paling ingin dituliskannya. “First love. Tuliskan kategori itu di salah satu kertas ini.”

Alis Jiyoo terangkat, heran. “Siapa cinta pertamamu?”

“Hm… seseorang yang kukenal sebelum debut.”

“Kenapa?”

“Apanya?” tanya Hyukjae dengan raut wajah bingung.

Jiyoo menggeleng singkat dan menuliskan kategori yang diinginkan oleh Hyukjae. First Love. Ia sendiri mulai memutar otak. Di kepalanya, ia membongkar segala peti kenangan dan mencari sesuatu yang sesuai dengan kategori ini. Ada seseorang, tapi sama sekali tak bisa dibilang sebagai cinta pertamanya. Seseorang yang istimewa, mungkin. Tapi, cinta pertama? Itu lain cerita.

Keduanya mendapat empat kategori yang diinginkan. ‘Tipe ideal –Choi Jiwoo dan Bang Yongguk’, ‘cinta pertama’, ‘teman’ hingga ‘seseorang yang ingin ditemui’. Jiyoo diam-diam berharap ia bisa mendapat kategori Teman, jadi ia bisa menuntaskan masalahnya.

“Harusnya ada kategori First Kiss,” gumam Hyukjae.

“Siapa gadis yang tidak beruntung itu?” Jiyoo bertanya dengan enggan.

Hyukjae menggelengkan kepala. “Bukan gadis, tapi Kim Junsu,” katanya. “Tapi, kurasa kategori itu tidak akan menyenangkan. Kalau dengannya, kau tidak akan cemburu, kan?” Jiyoo hanya tersenyum simpul. “Kau sendiri, siapa laki-laki yang sangat, sangat tidak beruntung itu?”

Jiyoo berhenti melipat kertas dan mendongak, menatap Hyukjae. “Menurutmu, siapa icon dari kesialan?”

Hyukjae tersenyum penuh kebanggaan dan menyahut, “Aku.”

Jiyoo hampir tak percaya akan adanya kebetulan. Apa pun yang terjadi, ia tahu tak akan pernah ada yang namanya kebetulan. Segala kejadian yang terjadi selalu memiliki alasan. Dan kali ini, kejadian ini benar-benar, sangat, terlalu tak masuk akal untuk sekedar disambungkan dengan kata takdir.

Dua hari setelah dilakukan pemilihan kategori yang ia dan Hyukjae tentukan, Jiyoo mendapat undangan reuni akbar sekolah menengahnya. Jantungnya seakan berhenti saat ia menyadari sesuatu. Kategori yang jadi pilihan Forbidden Date-nya dan Hyukjae adalah First Love. Sekarang ada undangan reuni sekolah yang harus dihadirinya, dan itu sangat, amat berhubungan dengan kategori tiket selingkuhnya.

Jiyoo percaya pada kalimat ‘semua terjadi dengan alasan sendiri’, tapi ia sama sekali tak paham alasan apa yang mendasari takdir semacam ini.

Jiyoo terpaku memandangi kartu undangan di tangannya. Perasaan yang janggal merengkuhnya hingga semakin jauh dari masa kini. Masa sekolah menengah, dari sanalah semuanya berawal.

Ada seseorang yang sempat mampir menyapa di kepalanya. Seorang lelaki yang dua tahun lebih tua dari Jiyoo. Seseorang yang, mungkin, menjadi alasan di balik kata cinta pertama bagi Jiyoo.

Ia melirik Hyukjae yang duduk bersandar di sofa. Kedua matanya bergantian menatap Hyukjae dan undangan yang baru dikeluarkan dari plastik pembungkusnya. Jiyoo menelan ludah. Mau tak mau, ia harus bercerita mengenai kakak kelasnya semasa sekolah… dan bahwa dengan lelaki itulah ia akan melakukan Forbidden Date hasil pertaruhan mereka.

Tapi, kenyataan bahwa Hyukjae bahkan tak membahas mengenai pasangan kencannya membuat Jiyoo mengurungkan niat.

“Siapa… pasanganmu?” Jiyoo memancing.

Hyukjae bergeming sejenak sebelum memalingkan wajah dari layar televisi. Ia kemudian meraih remote control dan mengecilkan volume suara si alat elektronik layar datar itu. “Seorang teman sekolah. Um… kurasa kau bisa menebaknya.”

Jiyoo mengerutkan kening. “Yang pernah kaubuat untuk menciummu di sekolah hanya karena kau ingin dia membuktikan perasaannya terhadapmu?”

“Tidak perlu diperjelas. Aku sudah cukup malu karena telah bercerita di televisi,” omel Hyukjae. Ia melirik Jiyoo hati-hati. “Aku… sudah menghubungi orang itu. Sebenarnya, dia bekerja di lingkungan selebriti juga. Stylist.”

Tiba-tiba saja Jiyoo merasa kesal. Ia membayangkan frekuensi pertemuan Hyukjae dengan gadis lain bahkan sebelum ada taruhan konyol ini. Bagaimana jika seandainya keduanya memang sering bertemu, saling bercerita soal masa lalu, terjebak dalam waktu dan kenangan yang sama? Lalu, mengapa pula Hyukjae memilih menceritakan kisahnya dan gadis ini di televisi?

Karena gadis itu cinta pertamanya, suara Jiyoo bergema dalam kepalanya sendiri.

“Cemburu?” tanya Hyukjae santai.

Jiyoo membalas, “Kau pasti akan kecewa kalau kubilang tidak, jadi ya, aku cemburu.”

“Wah, terimakasih banyak,” ujar lelaki itu sambil tertawa renyah. “Lalu, siapa cinta pertamamu?”

Nah, pertanyaan ini yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh Jiyoo. Gadis itu berdeham, “Seniorku di sekolah. Berhubung kau bertanya, sekalian saja kuberi tahu, akhir minggu ini ada reuni akbar sekolahku… dan sepertinya orang itu juga akan datang… dan kukira aku akan langsung mengajaknya berkencan.”

“Berapa lama kalian tidak bertemu?”

“Sejak dia lulus dan melanjutkan sekolah di luar negeri… berarti sekitar 10 tahun?” jawab Jiyoo. Ia lalu kembali was-was, mengantisipasi respon Hyukjae dan berkata, “Lee Hyukjae, kau tahu, soal taruhan ini… aku boleh memilih kategori lain? Teman, misalnya?”

Alis Hyukjae terangkat. Jiyoo, entah bagaimana, bisa membaca jawaban lelaki itu. “Tentu saja tidak. Ini kategori yang sudah diacak dan dipilih secara adil. Dan, sekedar mengingatkan, kaulah yang mengambil undiannya.”

Jiyoo mengerucutkan bibir. Ia kesal dengan cara Hyukjae memaparkan kebenaran tepat di depan hidungnya hingga ia tak bisa membantah. Napasnya terasa lebih berat, seolah ia harus menghirup karbondioksida dan bukan oksigen. Di kepalanya mulai terbayang situasi canggung antara dirinya dan sang senior. “Benar-benar harus berkencan?”

“Hanya satu hari,” tegas Hyukjae. “Tidak ada pertemuan lain yang rahasia setelah itu.”

Dengan muram, Jiyoo hanya mengangguk. Ia memandang kartu undangan reuni sekolahnya. Belum apa-apa, ia sudah mengkhawatirkan banyak hal. Dari persiapan bertemu kembali dengan seniornya hingga permainan tebak-menebak alasan Hyukjae tidak membahas banyak hal mengenai kencannya sendiri. Apa lelaki itu sudah terlanjur bahagia membayangkan kencan kembali dengan cinta pertamanya?

Jiyoo kembali dilanda rasa kesal. Dan ia semakin kesal mengetahui bahwa hanya dirinya yang merasa cemburu seperti ini. Pikiran nakal menggelitiknya; apakah Hyukjae bertekad akan menikmati kesempatan selingkuh yang datang secara legal ini?

“Ah!” seru Jiyoo dengan sengaja. Ia mendapatkan perhatian Hyukjae lagi. “Aku tidak bisa bercerita banyak tentang orang ini, tapi aku masih menyimpan buku harian semasa sekolah. Sebagian besarnya tentang dia.”

Hyukjae memandang Jiyoo hingga gadis itu bergegas menuju kamarnya. Pandangannya tak teralihkan hingga Jiyoo kembali dengan sebuah buku di tangan. Jiyoo memegang buku itu dengan kedua tangan namun Hyukjae masih bisa mengintip. Buku harian itu berwarna putih dengan gambar kucing berpita di sampulnya. Jiyoo menyerahkan benda itu pada Hyukjae.

“Aku boleh membacanya?”

Jiyoo mengangkat bahu. “Kalau kau ingin.”

Park Gyuri, nama gadis yang sekarang duduk di ruang baca toko buku merangkap kafe tempat Hyukjae berada. Keduanya memutuskan untuk bertemu sebelum menggunakan tiket selingkuh yang dimiliki Hyukjae. Ia berkata tak boleh ada pertemuan setelah kencan terlarang itu, ia tak pernah berkata tak boleh bertemu pasangan selingkuhmu sebelum kencan.

Dengan asas itu, Hyukjae membenarkan tindakan bertemu Gyuri diam-diam.

“Aku sama sekali tidak mengerti alasan kalian melakukan ini. Kenapa harus aku?” gerutu gadis yang seumuran dengan Hyukjae itu. Ia kemudian tersenyum nakal. “Kenapa hanya kencan selama sehari?”

Hyukjae balas tersenyum. “Karena kau sudah bertunangan, Nona.” Ia mendapati dirinya dan Gyuri tertawa bersama. Sebenarnya, apapun kategori yang terpilih, Hyukjae sudah yakin akan memilih Park Gyuri. Cinta pertamanya adalah gadis itu, temannya juga adalah gadis itu, bahkan jika yang terpilih adalah kategori orang yang ingin ditemui, Hyukjae sudah akan menyebutkan nama Gyuri.

Alasannya tentu saja sederhana. Hyukjae baru-baru ini mendengar bahwa calon suami Gyuri bekerja di sebuah agen perjalanan. Melalui tiket selingkuh legal yang diperolehnya, Hyukjae bisa menyiapkan sesuatu yang harusnya dilakukannya sejak dua bulan lalu.

Tepat dua bulan lalu, Jiyoo berkata mengenai masa liburan yang akan tiba. Ketika itu, ia tak memiliki waktu banyak untuk dihabiskan bersama Jiyoo. Gadis itu sendiri juga sibuk pulang-pergi dari apartemennya ke kediaman Cho Kyuhyun untuk menemani Yonghoon. Jadi, pembicaraan mengenai liburan bersama perlahan menguap walaupun tak benar-benar terlupakan.

“Okinawa?” tanya Gyuri, memastikan. “Kutebak,” Gyuri mengedipkan mata dengan jahil, “kau hanya butuh dua tiket?”

Hyukjae berdeham salah tingkah kemudian meneguk es teh pesanannya. “Aku butuh empat. Dan, tidak, aku tidak akan memintanya berlibur hanya berdua denganku kecuali dia sudah menunjukkan minat untuk menikahiku.”

“Aku jadi iri pada Jiyoo,” decak Gyuri. “Akan kuatur. Selanjutnya kita bahas di kencan kita berikutnya, oke?”

“Aku bisa dimarahi calon suamimu jika kau terus-menerus menyebut kata itu,” ujar Hyukjae. Ia menyesap habis isi dalam gelasnya dan mengedipkan mata. Dengan bergurau, ia berkata, “Akan kuberi tahu waktu dan tempat kencan kita selanjutnya.”

Jiyoo tak menyukai pesta. Sebenarnya, ia cenderung tak menyukai tempat yang ramai. Apalagi jika tak ada yang menemaninya seperti sekarang. Kedua matanya bergerilya, mencari sosok-sosok yang mungkin dikenalnya. Ia mengenal sebagian besar teman sekolahnya, tapi bukan berarti ia akan bisa menemukan orang yang menyenangkan untuk diajak berlama-lama di suatu pesta.

Pesta kebun dijadikan tema reuni akbar sekolahnya kali ini. Terdapat pilar-pilar bercat putih yang dihias tanaman menjalar yang berbunga. Meja-meja panjang ditata dengan wadah-wadah besar berisi hidangan pesta. Suasana sore musim semi menimbulkan keteduhan hingga jejak-jejak musim dingin tak lagi terasa. Meskipun begitu, Jiyoo masih sesekali menggosok kedua lengannya dan berharap dingin berhenti menggigit.

Beberapa orang teman menyapanya, berbasa-basi dengan bercerita tentang masa kuliah hingga kekasih-kekasih mereka yang dielukan berlebihan. Jiyoo menimpali seperlunya, tak merasa perlu ikut berkompetisi dengan topik itu. Bukan karena kuliahnya tak menarik, apalagi kekasih yang tak pantas dibanggakan. Hanya saja, topik soal kekasih bukan sesuatu yang tepat saat di kepalamu hanya ada susunan rencana mendapatkan pasangan selingkuh yang tepat.

Kedua matanya menemukan sosok yang akrab, berjalan melewati pilar demi pilar. Jiyoo seperti menonton sebuah adegan film dalam gerakan lambat. Mungkin ia akan menduga ia memang sedang menonton film jika sosok itu tak berhenti di hadapannya. Lebih dari itu, Jiyoo disapa oleh sebuah senyuman hangat yang membuat otaknya membeku.

“Choi Jiyoo, kan?”

Dengan otak yang membeku, tentu saja kecerdasan motorik Jiyoo terhambat. Ia resmi berdiri diam. Otaknya baru kembali mengambil alih kendali tubuhnya saat seorang teman, yang namanya juga mendadak terlupakan, menyikut lengannya.

“O-oh, iya. Ya, Choi Jiyoo,” ucapnya akhirnya. Otaknya sudah menyiapkan sebuah nama. Jiyoo nyaris heran bagaimana nama itu tetap berada di dalam kepalanya, seolah menunggu untuk diucapkan kembali. “Kang Minhyuk Sunbae.”

Lelaki bernama Kang Minhyuk itu terlihat lebih tinggi daripada yang sanggup diingat Jiyoo. Tentu saja Jiyoo sudah menduga akan adanya perbedaan mencolok dari sosok Minhyuk. Ia berharap lelaki itu akan banyak berubah hingga ia tak mengenalinya lagi. Namun, Jiyoo justru sangat mengingatnya.

Wajah bocah lelaki itu tak lagi bulat. Tak ada lagi kacamata yang menghiasi kedua matanya. Kulitnya terlihat berkilau diterpa matahari senja, tapi tak ada lagi jejak matahari yang menggelapkan sebagian kulitnya seperti dulu. Ketika Jiyoo menatap matanya, ia tahu apa yang membuatnya mengingat seorang Kang Minhyuk.

“Untung saja aku datang ke acara ini,” ucap lelaki itu seraya tersenyum. Bibirnya tertarik ke atas, menyisakan sepasang mata yang sipit. “Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Sepuluh tahun?”

Jiyoo tersenyum simpul dan mengangguk. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, tapi secara ajaib, segala kenangan selama waktu itu membutakan penglihatannya. Perlahan-lahan, perasaan akrab membanjiri dirinya hingga percakapan dengan Minhyuk terasa lebih mudah daripada yang pernah dikhawatirkan Jiyoo.

Saat itu, Jiyoo merengkuh segala perasaan yang penuh kenangan seolah tak ingin kehilangan bagian terkecilnya sekalipun.

D-Day

“Jam 9 tepat. Jangan terlambat.”

Hyukjae mengenakan setelan santai dengan t-shirt polos di balik jas hitamnya. Ia meraih mantel sebelum mengintip Jiyoo yang masih berkutat di depan cermin. Gadis itu mengenakan gaun mini berwarna kuning gading yang belum pernah Hyukjae lihat. Hatinya seolah menciut saat membayangkan Jiyoo sengaja membeli sesuatu yang baru demi kencan terlarang ini.

“Choi Jiyoo,” panggilnya. Jiyoo menoleh, menunjukkan sepasang mata yang selesai dirias. Hyukjae menelan ludah. “Apa kau mendengarku tadi?”

“Pulang sebelum jam 9, kan? Aku dengar,” jawab Jiyoo tenang. Sekali lagi, ia mematut diri di cermin. Ia kemudian tersadar, ia tak boleh terlihat terlalu bersemangat untuk acara ini. “Aku tidak pernah melihat jas itu.”

Hyukjae menundukkan kepala, mengamati setelan jasnya sendiri. Ia menghampiri Jiyoo dan ikut memandangi diri di depan cermin. T-shirt polos, jas hitam dan celana jins. “Jasnya hasil pinjaman dari Donghae,” katanya. Kedua matanya kini melirik Jiyoo. “Lalu, gaunmu?”

“Ini gaun yang kuinginkan sejak bulan lalu,” sahut Jiyoo.

“Kau seperti menyembunyikan sesuatu,” Hyukjae menyipitkan mata dan mencondongkan wajahnya hingga ia dapat mencium aroma parfum yang disemprotkan Jiyoo di sekitar leher. “Apa aku perlu menemui selingkuhanmu ini?”

Jiyoo menoleh dan memandang Hyukjae dengan tatapan datar. “Kau sendiri? Sepertinya sejak kemarin kau sibuk menyiapkan kencan sempurna untuk selingkuhanmu,” balas Jiyoo. Gadis itu tersenyum dan memberi kecupan cepat di pipi kiri Hyukjae. “Date jarhae!”

Jiyoo berdiri meninggalkan Hyukjae yang masih tak bergeming dari posisi awalnya. Entah terlalu terkejut karena ciuman singkat Jiyoo, entah terlalu lambat untuk merespon. Hyukjae melongo hingga pintu apartemen tertutup. Jiyoo bahkan tak menunggunya menjawab.

“Ini, kan, bukan kencan sungguhan.”

Choi Jiyoo||Kang Minhyuk

Restoran Italia yang terletak hanya sekitar tiga blok dari taman tempat reuni kemarin menjadi pilihan Kang Minhyuk untuk malam ini. Sejujurnya, Jiyoo agak terkesan. Ia mungkin tak akan keberatan walaupun kencan terlarang ini hanya berakhir di tempat yang… mana saja, kecuali tempat mewah. Ia mengamati raut wajah Minhyuk di bawah lampu terang. Berikutnya, ia menyesali tindakannya.

Kang Minhyuk menyambutnya dengan senyum lebar. Hati Jiyoo mencelos. Ia semakin merasa bersalah karena melibatkan orang ini dalam pertaruhannya dengan Hyukjae.

“Terimakasih sudah datang, Sunbae,” ujar Jiyoo. Ia membiarkan Minhyuk menarikkan kursi untuknya.

“Aku yang sudah mengajakmu, aku yang berterimakasih,” Minhyuk menuangkan anggur merah ke dalam gelas Jiyoo dan gelasnya sendiri.

Jiyoo tersenyum canggung. Bukan dirinya yang mengusulkan kencan ini, tapi Minhyuk yang lebih dulu yang mengajaknya. Ia bahkan tak sempat mengutarakan alasannya menyanggupi ajakan Minhyuk. Ia juga tak bisa bercerita pada Hyukjae bahwa pasangannya malam ini sama sekali tak tahu hanya ada satu kali kesempatan dan tak akan pernah ada kali lainnya lagi.

Ia sudah bersikap tak adil, jahat dan kejam pada kedua lelaki itu. Ah, tapi Hyukjae sendiri memang selalu tak bisa ditemui. Saat seharusnya keduanya menghabiskan waktu bersama, Hyukjae justru sibuk dengan ponselnya dan sempat membatalkan acara mereka. Jiyoo selalu tahu ada yang tak beres, dan entah bagaimana, ia juga tahu penyebabnya ada pada Forbidden Date ini.

Jadi, mungkin Jiyoo hanya harus merasa bersalah pada Kang Minhyuk.

Lee Hyukjae||Park Gyuri

Hyukjae belum menyentuh sashimi segar yang berada di hadapannya. Lelaki itu bahkan tak menyentuh sumpitnya sementara Gyuri makan tanpa Hyukjae. Ia tak keberatan, toh yang menyukai makanan Jepang adalah dirinya, bukan Hyukjae.

“Ada yang kurang?” tanya Gyuri setelah meneguk teh hijau dalam gelas keramiknya.

Kedua mata Hyukjae mengamati dengan cermat keempat amplop bergambar kapal pesiar. Ia menggeleng sambil tersenyum puas. “Perjalanan dengan kapal pesiar 3 hari 2 malam? Ini lebih bagus daripada Okinawa.”

“Baguslah,” Gyuri kembali menyumpit sepotong ikan segar dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia kemudian teringat sesuatu. “Kau bilang Jiyoo juga menjalani kencan seperti ini, siapa pasangannya?”

“Entahlah. Seseorang yang jadi seniornya semasa sekolah. Aku bahkan tidak tahu namanya,” jawab Hyukjae santai. Ia mengeluarkan buku harian yang diberikan Jiyoo untuknya. “Dia bilang, aku bisa membaca ini kalau aku penasaran. Tapi, aku tidak penasaran. Aku lebih penasaran pada responnya soal liburan ini.”

Gyuri meraih buku harian Jiyoo dari tangan Hyukjae. Ia membuka-buka tiap halaman asal-asalan. Tulisan tangan Jiyoo terlihat rapi, sama sekali berbeda dengan Hyukjae. Di beberapa halaman awal, Jiyoo menceritakan pengalaman pertamanya masuk rumah sakit hingga diopname selama seminggu. Selanjutnya, kisah-kisah persahabatannya di sekolah. Gyuri menahan senyum. Ia membayangkan Jiyoo yang masih kecil, lugu dan belum mengenal Hyukjae.

Bahkan mungkin si Choi Jiyoo kecil sama sekali tak menyangka akan bertemu Lee Hyukjae.

Pada bagian tengah buku hariannya, Jiyoo lebih banyak menuliskan soal perasaan. Lambat laun, ada nama yang ditulis lebih sering daripada nama lainnya. Kang Minhyuk.

“Kang Minhyuk, ya?”

Hyukjae mengangkat kepala, memandang heran ke arah Gyuri. “Eh?”

“Nama pasangan kencan Jiyoo malam ini. Kang Minhyuk,” ulangnya. Gyuri kembali membaca catatan harian Jiyoo kecil. “Mungkin lebih baik kau baca sendiri. Jiyoo menuliskan kisahnya dan Kang Minhyuk dari halaman tengah hingga akhir.”

Hyukjae tak jadi mencicipi sashiminya. Alih-alih, ia justru meminta kembali buku harian Jiyoo dari Gyuri. Kata-kata gadis itu mendadak membuat Hyukjae terganggu. Ia memang tak ingin tahu mengenai pasangan Jiyoo malam ini. Dan seharusnya memang terus begitu.

Ia mulai membaca kisah awalnya. Jiyoo pintar menulis, ia perlu mengakui itu. Karena sekarang ia seolah berada di masa lalu gadisnya, menyaksikan segala kisahnya dengan orang lain.

Nama Kang Minhyuk ada di tiap halaman. Tidak hanya sekali-dua kali, Jiyoo menuliskan nama itu berkali-kali. Hyukjae seakan sudah mengenal Kang Minhyuk, tapi tidak dengan kesan yang menyenangkan. Orang itu berbagi banyak kenangan dengan Jiyoo. Walaupun hanya berada di atas kertas, bukan berarti kenangan itu bisa memudar, kan?

“Dan, kau tahu,” ucap Gyuri, “mereka tidak pernah menyatakan perasaannya.”

Pernyataan itu terdengar jelas dan tegas. Pernyataan itu menjadi kekhawatiran baru Hyukjae. Jiyoo dan orang itu tidak pernah mengakui rasa sukanya satu sama lain. Hyukjae mendadak merasakan adanya bahaya.

Seharusnya ia menjadi pilot, pikir Hyukjae saat mampu melihat sosok Jiyoo yang berada di kejauhan. Hyukjae bahkan belum memasuki restoran. Ia hanya melihat gadis yang duduk di dekat jendela, berwajah cerah karena senyuman. Nah, ia benar-benar bisa menjadi pilot karena matanya jauh di atas normal.

Di hadapan Jiyoo ada seorang lelaki. Hyukjae sudah tahu itu. Yang tak diketahuinya hanya kemampuan macam apa yang dimiliki oleh lelaki itu hingga dapat membuat Jiyoo tersenyum dan tersipu.

“Kau mau masuk ke dalam?” tanya Gyuri yang tiba-tiba keberadaannya menjadi samar-samar bagi Hyukjae. Ia tak akan sadar gadis itu masih bersamanya jika tak ada suara yang menegurnya.

Hyukjae menimbang-nimbang jawaban untuk pertanyaan Gyuri. Apa ia ingin masuk? Tapi untuk apa? Alasan macam apa yang dapat diberikannya untuk gangguan yang diberikannya malam ini?

“Kau mau aku masuk ke dalam?” Gyuri mengganti pertanyaannya. “Aku bisa masuk dan mencari tahu bahan obrolan mereka. Nah, nah,” tegurnya. Ia menunjuk wajah Jiyoo di kejauhan. “Wajah itu! Kau pasti ingin tahu setengah mati apa yang menyebabkan Jiyoo menunjukkan wajah itu, kan?”

Hyukjae menarik napas dalam-dalam. “Apapun yang terjadi malam ini, itu urusan Jiyoo,” katanya sebelum beranjak pergi.

Choi Jiyoo||Kang Minhyuk

“Aku masih menyimpan semua surat darimu,” ujar Minhyuk. Ia menyesap wine sambil mengamati respon Jiyoo. “Masa kecil yang buruk, ya.”

Jiyoo tersenyum kecil, diam-diam melintasi masa lampau yang menghangatkan tubuhnya. Usianya hanya 13 tahun saat ia memberanikan diri menulis surat untuk lelaki di hadapannya ini. Ia tak pernah ingat apa yang ia tuliskan. Ia hanya tahu apa yang dituliskan itu membawanya pada sebuah surat balasan. Surat balasan dari Kang Minhyuk.

“Aku hampir lupa masa kecilku begitu… dewasa,” sahut Jiyoo sambil tertawa.

“Ada satu suratmu yang belum terbalaskan, kau ingat?”

Jiyoo mengerjap kemudian menggeleng. Segala masa itu terlalu jauh untuk ditelusuri kembali jejaknya. Surat terakhirnya pasti sebelum Minhyuk pindah sekolah. Jiyoo tak pernah tahu lelaki itu akan pergi, jadi pasti isi suratnya tak istimewa.

“Aku tidak bisa memberikan balasan suratmu karena kukira aku tidak akan sanggup memberikan surat terakhir itu,” katanya menjelaskan. Minhyuk kemudian mengeluarkan selembar kertas yang terlipat berbentuk segitiga dan menyerahkannya pada Jiyoo. “Ini surat 10 tahun yang lalu.”

Jiyoo membuka kertasnya, tapi tak menemukan apapun di sana. Tak ada tulisan, tak ada apapun. Ia menatap Minhyuk, meminta penjelasan lain.

“Waktu itu seharusnya aku tidak menulis surat, tapi mengatakan isi surat yang ingin kutulis,” ujarnya. “’Aku menyukaimu. Maukah kau menunggu?’, itu yang ingin kukatakan. Tapi kurasa aku terlalu angkuh untuk melakukannya, karena teman-temanku selalu berkata bahwa kau menyukaiku. Jadi aku menunggu, dan melewatkan kesempatan untuk bertanya.”

“Kurasa waktu itu aku terlalu pemalu,” kata Jiyoo. Ia masih ingat jelas bagaimana rasanya menulis untuk lelaki ini. Mungkin rasa sukanya terlihat terlalu jelas. Tidak, ia sadar bahwa perasaan itu memang terlihat jelas. “Karena kukira Sunbae tidak menyukaiku dan surat-suratku. Sunbae pernah berbohong soal tanggal ulang tahun, benar kan?”

Minhyuk tersenyum sambil menundukkan kepala. “Kau tahu itu?”

“Aku melihat album kelulusan Sunbae sebelumnya,” jawab Jiyoo bangga. Ia kemudian tersenyum samar. “Sunbae berbohong untuk melihat apa yang bisa kuberikan hari itu. Benar-benar bukan tindakan yang menyenangkan, setidaknya bagiku. Jadi, kukira–“

“Aku menyukaimu… dan seluruh suratmu. Aku menyukaimu kala itu. Aku menyukaimu saat ini.”

Jiyoo mendongak, menatap lurus ke arah Minhyuk. Perasaannya berbalas. Ia seperti bermimpi karena semuanya mendadak terasa tak nyata. Cinta pertama yang terabaikan itu kini berbalas.

Shin Hyori melirik lelaki yang sejak dua puluh menit lalu hanya duduk di depannya tanpa membuka mulut. Lee Hyukjae yang diam tak pernah ada dalam imaji Hyori, bahkan dalam imajinya yang paling tak nyata. Ia sudah bisa menebak pertaruhan Hyukjae dan Jiyoo telah dilakukan, hanya saja ia tak tahu apa yang terjadi pada kedua manusia kesayangannya itu. Topik mengenai perselingkuhan –bahkan yang legal sekalipun, menurut Hyori, menuntut kepekaan sosial.

Ia tak bisa seenaknya saja bertanya mengenai kencan terlarang Jiyoo dan Hyukjae begitu saja.

Namun, Hyukjae kali ini datang padanya. Ditambah lagi, Hyori tak mendapatkan salam pembuka, apalagi umpan pembicaraan. Ia frustasi dengan Hyukjae yang terlalu diam.

“Jadi?” tanya Hyori setelah menyerah untuk menahan diri di depan Hyukjae. “Apa yang terjadi?”

“Kencan,” sahut Hyukjae. Ia menangkap tatapan tak puas Hyori dan mendesah. “Apa kau kenal Kang Minhyuk?”

Hyori menautkan alis. Nama itu terdengar asing. “Siapa?”

“Semacam cinta pertama Choi Jiyoo.” Hyukjae kembali mendesah berat saat Hyori tak menunjukkan respon. “Kau tidak kenal,” tambahnya. “Cinta pertama yang tertunda, sepertinya. Dan semalam, saat kencan itu, Kang Minhyuk menyatakan perasaannya.”

“Bagaimana kau tahu?”

Hyukjae menatap Hyori dengan kesal, seolah melayangkan pertanyaan tanpa suara, ‘Apa kau serius bertanya begitu padaku, pada Lee Hyukjae?’

“Kau membuntutinya? Kalau Yoo tahu, dia pasti marah.”

“Bukan aku, pasangan kencanku yang melakukannya. Aku mau saja untuk pergi, tapi dia memutuskan akan sedikit menguping pembicaraan Jiyoo dan orang itu,” katanya. Hyukjae seperti mulai alergi dengan nama Kang Minhyuk karena ia enggan menyebut nama itu.

Komentar Hyori singkat dan ia mengatakannya dengan raut wajah datar. “Kau beruntung Yoo tidak mengenal pasangan kencanmu.”

“Benarkah? Setelah aku jauh-jauh datang ke rumah orangtuamu ini, hanya itu yang bisa kaukatakan, Shin Hyori?” Hyukjae melemparkan punggungnya ke belakang, menempel sepenuhnya pada sandaran sofa. Satu jam perjalanan menuju rumah orangtua Hyori ditempuhnya untuk mencari pencerahan atau sekedar pembenaran atas sikap dan perasaannya saat ini. Walaupun ia tak heran bila wanita di hadapannya akan lebih membela Jiyoo.

Hyori memiringkan kepala, mencoba menatap lelaki yang lebih tua darinya itu dengan lebih jelas. Hal paling dasar yang tak dimengertinya adalah alasan Hyukjae mengikuti permainan Jiyoo. Taruhan dengan hadiah forbidden date. Melegalkan perselingkuhan. Jika bukan gila, Hyori tak tahu apa lagi sebutan yang cocok untuk kedua orang itu.

Saat One Day Exchange yang dilakukannya dan Kyuhyun bersama pasangan Hyukjae-Jiyoo, ia dan ketiga orang lainnya yakin tak akan ada hal buruk yang terjadi. Karena keempatnya terlalu bodoh untuk melakukan hal buruk. Tapi kali ini bukan ia dan Kyuhyun yang ada di lingkaran itu. Dua orang asing, masing-masing datang dari masa lalu Hyukjae dan Jiyoo.

Jika ada cara untuk mencegah hal buruk setelah taruhan itu, Hyori pasti sudah mengatakannya.

Tapi ia tak tahu caranya. Kyuhyun pun tak tahu. Lalu, berharap Hyukjae dan Jiyoo tahu? Tentu saja akan sia-sia saja.

Semuanya di luar kendali. Tak ada yang bisa memastikan bahwa masa lalu yang kembali datang tak akan mendatangkan perasaan hangat penuh nostalgia. Lantas, jika ada yang terjebak dalam masa lalu yang kembali itu, siapa atau apa yang dapat disalahkan?

“Kalau Yoo memilih orang itu, apa yang akan kaulakukan?” tanya Hyori, murni karena rasa penasaran.

Hyukjae menarik napas panjang. “Bukan apa yang akan kulakukan, kan?” Jawaban Hyukjae berikutnya membuat Hyori menyesal telah menanyakan pertanyaan itu. “Tapi apa yang bisa kulakukan. Walaupun aku tidak akan bisa melakukan apa-apa.”

“Kalau Yoo memang bisa melakukan itu, kurasa akulah orang pertama yang akan memberinya ucapan selamat,” Hyori mencibir kemudian menghela napas dan berkata, “Kau tidak akan pernah tahu seberapa besar pengaruh keberadaanmu terhadapnya.”

Kepala Hyukjae tertunduk. Ia memandang kedua kakinya yang dibungkus kaus kaki. Kaus kakinya tanpa corak, hanya sepasang kaus kaki berwarna abu-abu yang sama persis seperti milik Jiyoo. “Iya, kukira aku juga tidak akan pernah tahu.”

“Kau membuatku frustasi!”

“Dan kau mulai membuatku marah,” tukas Hyukjae. Ia mendorong pelan kening Hyori dengan jari telunjuknya. “Jangan gunakan ‘kau-kau’ padaku! Aku lebih tua darimu!”

Hyori tertawa, menyadari suasana hati Hyukjae akan membaik dengan waktu bersama Jiyoo selanjutnya. Mungkin sebenarnya lelaki itu memiliki solusinya sendiri. Kedua orang itu bisa menyelesaikan masalah sepele ini. “Aku ini ibu dari tiga anak! Kau, berdasarkan pengalamanmu sebagai manusia, berada di bawahku!”

Alis Hyukjae terangkat sebelah. “Ah, maaf, Ajumma,” katanya, membuat Hyori kesal.

“Tanya saja padanya, aku tidak tahu apa-apa,” sahut Kyuhyun dari dapur.

Ia memegang pisau di tangan kanannya dan sebutir buah apel di tangannya yang lain. Hyori telah memasrahkan tugas snack sore Yonghoon padanya sebelum Jiyoo muncul di depan pintunya. Kyuhyun bersumpah, menjadi penasehat cinta adalah hal terakhir yang dibutuhkannya saat ini. Terutama saat Yonghoon justru sedang bersemangat berlari kesana-kemari, sama sekali tak membuatnya bisa santai di dapur.

“Tapi setidaknya Oppa tahu siapa cinta pertama Hyukjae,” ujar Jiyoo di ruang tengah. Ia otomatis tersenyum saat Yonghoon berlari ke arahnya sebelum memeluk kedua kakinya. Dengan sigap, ia mengangkat Yonghoon dalam gendongannya, berpura-pura menggigit telinga Yonghoon. Bocah lelaki itu terkekeh di leher Jiyoo.

Kyuhyun mengintip dari pantulan kaca lemari dapur. Sepertinya tugas menenangkan Yonghoon sudah diambil alih gadis muda di rumah ini. Ia berpikir mungkin tak apa memberi satu-dua kalimat penenang. “Aku juga butuh kejelasan, yang mana cinta pertama Hyukjae Hyung.”

Tunggu, mungkin itu bukan kalimat yang tepat. Kyuhyun justru membuat Hyukjae terlihat seperti kekasih yang terlalu berpengalaman. Salah langkah.

“Dia tidak berkata apa-apa soal kencan kemarin,” ujar Jiyoo muram. Ia menarik kursi di ruang makan, menempatkan Yonghoon dalam pangkuannya. “Tidak ada satupun pesanku yang dibalas! Pasti dia terlalu bersenang-senang hingga tidak membalasku, bahkan tidak ada telepon masuk darinya. Berarti, kan, dia melupakanku saat bersama dengan wanita itu.”

Kyuhyun mulai menyusun potongan-potongan apel tanpa kulit di atas piring. “Namanya?”

“Tidak tahu,” sahut Jiyoo. Kepalanya tertunduk, menyesal karena tak sempat bertanya pada Hyukjae. Tapi, memangnya kenapa? Kalau Jiyoo tahu namanya, memangnya apa yang bisa dilakukannya?

Suasana hatinya kian memburuk dalam waktu singkat. Sesempurna apa kencan Hyukjae dan wanita itu hingga ia dilupakan? Jiyoo marah. Ia bahkan sudah benar-benar menahan diri untuk tak berbuat bodoh saat bersama pasangan kencannya. Dalam benaknya, ia telah menarik garis lurus, batas maya yang tak boleh dilanggarnya karena ia mengingat Hyukjae.

“Seharusnya aku mengatakan sesuatu pada Minhyuk Sunbae kalau begini,” gumamnya.

Kyuhyun meletakkan sepiring apel di atas meja. Ia mengambil sepotong apel dengan garpu dan menyuapi Yonghoon. Lelaki beristri itu kemudian mengambil apel dengan tangan kosong dan memasukkannya dalam mulut. “Memangnya apa yang akan kaukatakan pada pasanganmu?” Kyuhyun menyerahkan garpu lain dengan sepotong apel di ujungnya pada Jiyoo.

Jiyoo menggigit potongan apelnya dengan kesal. “Aku akan bilang pada laki-laki bodoh itu kalau aku bisa saja meninggalkannya demi Minhyuk Sunbae!”

“Maksudku, apa yang akan kaukatakan pada si Minhyuk Sunbae ini,” jelas Kyuhyun. “Dan, apa pula yang sudah dikatakan oleh si Minhyuk Sunbae ini?”

“Dia bilang dia menyukaiku.”

“Lalu, kalau Hyukjae Hyung tidak bertingkah menyebalkan seperti sekarang, apa yang akan kaukatakan?”

Jiyoo tertunduk lesu. Ia yakin Kyuhyun sudah tahu jawabannya. “Tidak ada. Memangnya aku bisa mengatakan sesuatu yang semacam itu? Aku tidak pernah membayangkan akan mencari laki-laki lain.”

“Tidak, kau akan tetap akan menolak si Minhyuk Sunbae ini apapun yang terjadi. Dan ya, aku juga tidak bisa membayangkanmu mencari laki-laki lain,” sahut Kyuhyun tenang. “Sepertinya kau harus segera menikahinya.”

“Aku? Kenapa aku?” Jiyoo mengomel. “Emansipasi wanita tidak –atau belum dan tidak akan pernah- mencapai tahap itu, Kyu Oppanim.”

Kyuhyun mengangkat bahu santai. “Karena kau sudah melabelinya dengan kata pasangan.” Ketika Kyuhyun bertanya soal pasangan, yang ia maksud tadi adalah pasangan kencannya saat Forbidde Date, tapi Jiyoo justru menangkap maksudnya sebagai Lee Hyukjae. Jiyoo terlihat hendak berargumen, jadi Kyuhyun kemudian menambahkan, “Apalagi bila label itu berada di alam bawah sadarmu.”

Jiyoo bergidik hanya dengan pikiran menikah dengan Hyukjae. “Tidak ada solusi lain? Masalahku hanya tentang kencan terlarangnya semalam.”

“Atau kau ingin orang lain yang menikahinya lebih dulu, hanya karena kau tidak bisa melakukan tindakan yang mencerminkan emansipasi wanita tingkat tertinggi?”

Kening Jiyoo berkerut. Ia berpikir dengan serius, namun tawa Kyuhyun justru menggema di ruang makan. Ia masih tak mengerti. Kedua matanya berkedip pelan, menunjukkan kebingungan. Memangnya ia sangat harus melamar Hyukjae, hanya agar lelaki itu tak diambil yang lain? Kerutan kening Jiyoo makin dalam saat tangan Kyuhyun mengacak rambutnya.

Kyuhyun mengambil paksa Yonghoon dari pangkuan Jiyoo dan berkata, “Aku hanya bercanda, adik kecil. Lagipula, Hyukjae Hyung juga tidak cukup pintar mencari gadis lain untuk dinikahi selain dirimu.”

Two days later – Jiyoo’s apartment

Jiyoo kehilangan kata-kata. Dua hari Lee Hyukjae mengabaikannya dan saat ini lelaki itu justru berdiri di ruang tamunya. Selama dua hari, Jiyoo mencari tahu, mengingat-ingat kesalahan yang mungkin dilakukannya pada Hyukjae. Namun, ia tak menemukan apapun hingga ia berbalik marah pada lelaki itu. Hyukjae memutuskan untuk tak menghubunginya? Tak masalah, kata Jiyoo kala itu, lihat siapa yang bisa lebih lama bertahan.

Dan, disinilah ia, menatap datar lelaki yang juga berwajah masam.

Jiyoo mengenyahkan pikiran untuk menegur lelaki itu lebih dulu. Bukan dirinya yang salah. Ia bahkan benar-benar tak tahu apa kesalahannya. Hyukjae menunjuk dapur dan berkata, “Aku lapar. Buatkan ramyeon.”

“Dan kenapa aku harus melakukan itu?”

“Karena kau tidak menceritakan hal penting soal perselingkuhan kemarin!”

Jiyoo tersentak dengan ucapan Hyukjae. “Memangnya apa yang harus kuceritakan? Kau sendiri tidak berkata apa-apa soal kencanmu dan mengabaikan semua teleponku.”

“Pokoknya buatkan aku ramyeon!”

Ada satu hal yang paling tak disukai sekaligus disukai Jiyoo dari Hyukjae, yaitu merajuk. Mungkin di satu waktu, Jiyoo akan menyukainya dan di kali lain ia akan membencinya. Untuk kali ini, Jiyoo tak tahu bagian mana yang lebih mendominasi. Ia tak suka, tapi agak tenang karena Hyukjae tak benar-benar marah padanya. Setidaknya tak marah lagi –jika lelaki itu memang sempat marah.

Jiyoo menghela napas berat dan melangkah menuju dapur. Ia meraih panci aluminium dan mengisinya dengan air sebelum menyalakan kompor. Melalui beberapa lirikan mata, ia bisa melihat Hyukjae berdiri dengan bersandar pada konter dapur. Jiyoo tak sabar menunggu Hyukjae membuka mulut lagi. Ia butuh mendengar omelan Hyukjae. Ia harus tahu alasan dirinya diabaikan.

“Apa… yang dikatakan oleh Kang Minhyuk?” tanya Hyukjae, seolah mendengar keinginan Jiyoo.

Tangan Jiyoo berhenti bergerak padahal kemasan ramyeon belum terbuka sepenuhnya. Ia berbalik menghadap Hyukjae. “Kau membuntutiku?”

“Bukan aku, pasangan kencanku,” katanya santai.

“Baiklah, jadi kau dan pasangan kencanmu bekerja sama untuk membuntutiku? Kalian ini sebenarnya apa, pasangan mata-mata seperti Mr. & Mrs. Smith?” omel Jiyoo. Sebuah pikiran bahwa Hyukjae makan malam dengan gadis lain saja sudah membuatnya gerah. Sekarang ditambah dengan pikiran bahwa mereka melakukan sesuatu bersama-sama karena digerakkan oleh tujuan yang sama semakin membuat Jiyoo kesal.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

Jiyoo mendesah dan dengan marah memasukkan ramyeon ke dalam air yang mendidih. “Dia menyukaiku. Dan surat-suratku. Katanya dia menyukaiku waktu itu dan sekarang.” Gadis itu kemudian bergumam kesal. “Kau pasti sudah tahu soal itu, apa gunanya bertanya?”

“Lalu, jawabanmu?”

“Oh, pasangan kencanmu tidak memberitahumu?”

Hyukjae berdeham, “Dia hanya temanku. Dan, katanya kau menuliskan jawabanmu di kertas yang Kang Minhyuk berikan. Jadi, ya, dia tidak punya jawaban untuk diberitahukan padaku.”

“Aku bisa gila!” seru Jiyoo tertahan. Ia dibuntuti oleh pasangan kencan kekasihnya, dan jika fakta itu tak cukup untuk membuatnya kesal hingga nyaris gila, ia tak tahu apa yang bisa membuatnya begitu. “Pokoknya! Aku tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatmu marah, atau kecewa, atau kesal, apalagi sedih. Dwaettji?”

“Apa jawabanmu?” Hyukjae bersikeras ingin tahu.

“’Aku juga menyukaimu. Mungkin itu yang akan kukatakan jika Sunbae datang padaku kala itu. Tapi, kali ini, aku punya jawaban lain. Sunbae adalah obyekku dalam menulis, tapi sekarang aku sudah punya obyek lain untuk tulisanku. Maafkan aku.’, sudah?”

Hyukjae terdiam dan mengerjapkan mata berkali-kali. Ia lega sekaligus sedikit kesal. “Setelah kupikir-pikir, kapan kau menulis surat untukku? Tidak pernah!”

“Kita punya ponsel masing-masing, Lee Hyukjae. Untuk apa aku mengirimimu surat?” Pertanyaan konyol Hyukjae mulai membuat Jiyoo kesal. Kesal, karena ia juga menjadi gadis konyol yang menjawab pertanyaan konyol seorang lelaki konyol. Hidupnya menjadi penuh kekonyolan.

“Aku suka membaca tulisan tanganmu,” jawabnya santai. “Oh! Kau juga tidak pernah menuliskan namaku di buku harian!”

“Akan kujawab semua masalahmu ini. Pertama, kenapa aku tidak pernah mengirimimu surat, begitu?” ujar Jiyoo mengawali penjelasannya yang diyakininya akan sangat panjang. “Ini bukan waktu yang tepat untuk menghabiskan lembaran-lembaran kertas demi kepuasanmu semata. Apa kau tidak tahu pemanasan global adalah masalah yang serius?” katanya. “Dan kedua, soal buku harian, kau benar-benar hanya terpaku pada bentuk fisik benda ya?”

Jiyoo sekali lagi menarik napas panjang. Ia tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya pada lelaki di depannya ini. Dengan santai, ia membawa panci ramyeon, meletakkannya di atas meja makan. Tanpa melirik Hyukjae, ia mengambil dua pasang sumpit, menggeletakkannya di dekat panci. Ia kemudian meninggalkan Hyukjae dan masuk ke kamarnya sendiri.

Ya! Choi Jiyoo!” seru Hyukjae begitu dibiarkan sendirian.

Gadis itu kemudian muncul kembali membawa Hyukie –laptop hitam kesayangannya- dan sebuah buku harian. Jiyoo duduk di atas kursi makan dan mendongak menatap Hyukjae. “Duduk,” perintahnya.

Hyukjae menurut. Ia mengambil tempat di samping Jiyoo. “Apa yang kaubawa?”

“Sekedar pengingat, seluruh kisahku tentangmu, seluruh tulisanku dengan dirimu sebagai obyeknya ada di blogku,” katanya. Ia membiarkan browsernya mengakses halaman blognya.

“Aku ingat, tapi–“

“Dan, ini!” Jiyoo menyodorkan sebuah buku harian bersampul merah bata. Ia terus mengamati Hyukjae yang langsung membuka halaman awal. Saat lelaki itu tersenyum, Jiyoo mulai mengambil sumpitnya dan menyantap ramyeon buatannya sendiri. Ia tak akan melayani Hyukjae yang sedang tersenyum lebar penuh kemenangan. Inilah alasan Jiyoo tak pernah menunjukkan buku itu pada siapapun, terutama Hyukjae.

Lelaki itu akan kegirangan, besar kepala dan menjadi angkuh seketika. Jiyoo juga membayangkan apa yang terjadi bila ia menunjukkan isi buku itu, secara sengaja atau tak sengaja, pada orang lain. Orang-orang akan menganggapnya aneh, penuh obsesi dan sok puitis. Jiyoo tak ingin orang lain, khususnya lelaki bernama Lee Hyukjae, mengetahui keberadaan buku itu.

Tapi kali ini, Hyukjae-lah yang menjadi pembaca pertamanya.

Tiap halamannya, seingat Jiyoo, ditulis dengan tulisan tangannya. Ia menuliskan sajak hingga kisah singkat mengenai Hyukjae. Catatan istimewa itu menjadi rahasianya sendiri hingga hari ini. Hari ini, bila ia tak menunjukkan rahasianya itu, Hyukjae akan terus menganggap dirinya lebih rendah dibandingkan obyek tulisan pertamanya, Minhyuk. Dan faktanya, Jiyoo sudah tak peduli ketika rahasia itu tak lagi menjadi sebuah rahasia.

Rahasia itu tumpah, membanjiri dirinya dan Hyukjae. Ia seperti sedang telanjang, tak terlindungi dan rapuh, persis seperti sebuah buku yang terbuka lebar ketika rahasia itu berbagi pemilik.

Hyukjae sendiri berhenti memperhatikan Jiyoo. Ia terlanjur tenggelam dalam tiap potongan sajak yang dituliskan Jiyoo untuknya. Di beberapa halaman, tulisan tangannya miring dan naik-turun tak teratur. Hyukjae membayangkan sosok Jiyoo yang mengantuk dan sudah berada di atas ranjang terpaksa membuka mata demi menulis satu-dua baris kalimat yang mendadak muncul sebagai inspirasi.

“Sudah, jangan dibaca lagi!” rajuk Jiyoo. Semakin ia perhatikan, senyuman Hyukjae semakin lebar. Ia tak begitu suka ketika ia menjadi gadis yang terlalu mudah dibaca oleh lelaki itu.

“Aku mau buku ini,” katanya. Alis Jiyoo terangkat sebelah sebagai respon. Hyukjae menambahkan, “Aku harus membaca semuanya.”

Jiyoo mengangkat bahu. “Terserah saja.”

Hyukjae tersenyum penuh kemenangan. Mungkin ia memang tak punya surat dari Jiyoo. Ia juga tak pernah berbagi kenangan masa kecil dengan gadis itu. Namun, sekarang ia memiliki buku baru dengan namanya di tiap halaman. Lebih baik lagi, ia punya sajak-sajaknya sendiri, sesuatu yang tak dimiliki oleh obyek Jiyoo di buku yang lain –Kang Minhyuk.

Dan, yang lebih dari segalanya adalah Hyukjae punya penulis sajak pribadi.

“Kau tidak mau makan?” Jiyoo sudah menyeruput kuah dari panci ramyeon.

Ramyeonku!”

Mungkin ia harus mengganti rangkaian kalimat dalam kepalanya. Hyukjae punya penulis sajak pribadi dan seorang gadis penggemar ramyeon yang suka menghabiskan ramyeon bagiannya. Tapi, yang paling ingin disimpulkannya adalah ia punya Choi Jiyoo. Mungkin itulah yang paling berarti.

=EPILOG=

Beberapa hari kemudian, Jiyoo berada di depan apartemen Hyukjae. Bibirnya mengerucut kesal. Ia masih mempertahankan raut wajah yang sama bahkan ketika pintu terbuka. Sosok Lee Donghae menyambutnya dengan senyum miring. Sama sekali berbeda dengan raut wajahnya.

“Lee Hyukjae! Jiyoo datang,” seru Donghae di tepi pintu. Ia menyuruh Jiyoo masuk, namun gadis itu menggeleng. “Wae?” tanyanya.

“Ini,” Jiyoo menyerahkan sepucuk kertas berwarna putih yang dilipat segitiga.

“Kalian bertaruh sesuatu lagi?” Donghae menautkan alis, heran. Ia menerima surat yang diberikan oleh Jiyoo. “Ini sudah surat kelima dalam minggu ini.”

Donghae mengamati kertas di tangannya. Keningnya berkerut. Lagi-lagi ia mendapati gadis itu menggunakan kertas bekas sebagai surat untuk Hyukjae. Kertas itu tak sepenuhnya baru, karena salah satu lembarnya telah tercetak dengan tinta berwujud paragraf dan gambar. Jiyoo menggunakan kertas yang sudah pernah dihias tinta, lebih tepatnya, ia menggunakan kertas sisa laporan penelitian kampus yang tak lolos dari pemindaian guru besarnya.

“Kertas bekas lagi?”

“Pemanasan global,” sahut Jiyoo santai. “Tidak masalah bila Lee Hyukjae ingin aku menulis surat. Aku masih punya banyak kertas bekas.”

Suara decakan Donghae terdengar jelas. “Kenapa pula dia terobsesi dengan surat?”

Jiyoo mendengus kesal. “Aku juga ingin bertanya! Pokoknya serahkan saja padanya, Lee Donghae.”

“Panggil aku ‘Oppa’, Bodoh! Aku lebih tua darimu!”

“Baiklah, maaf, Oppa bodoh. Aku pamit dulu.”

YAAAAH!”

—————————————————————

Epilog singkat yang sama sekali… absurd. Kenapa pula Lee Donghae disitu?

Eniweeeeii, ini lanjutan cerita soal taruhan Ji-Hyuk di kelahiran si kembar Cho. \o/ Mungkin karena memang namanya cerita fiksi ya, makanya taruhannya juga fiksi alias abal-abal alias khayalan abis. Ajaib memang kalo ada pasangan yang bikin Forbidden Date jadi upah taruhan. Ck, ck, ck.

Kenapa Gyuri? Soalnya Gyuri-Hyukjae itu semacam cocok. Mau pake IU, beda umurnya kejauhan. Mau pake G.Na, saya yang rada gak sreg. HAHAHA.

Kenapa Minhyuk? Soalnya keren ajah #tabokberjamaah. Soalnya dia punya imej-imej First Love Sunbae getoooh. HIHIHI.

Uda, gitu aja salam penutupnya. BBABBAAAAAII! \o/

p.s.: saya berencana bikin kisah kelanjutan tiket kapal pesiar yang diurus si Hyukjae nih. Doakan yaa. Hahaha.

33 thoughts on “[JiHyukism] Forbidden Date

  1. kaka baru tau klo Hyori udah punya dede kembar sekarang *kudet syekalii aku, hwhwhwhwhw*

    calon suaminya Gyuri bekerja di agen perjalanan *tetiba inget movienya Gyuri sama JCW* heuehehe

    Endingnya epic :3 ahahahaha…

    heyho yoo ^-^

    meninggalkan jejak cintaaah <3<3

  2. lama tak baca tulisan eonnie… dan girang karena lihat ada ff baru😀
    wah, forbidden date..ada-ada saja taruahannya -____-
    dan Hyukjae, kau terobsesi sekali dapat surat dari jiyoo k k k .. btw itu epilog nya lucu, haha akhirnya hyukjae dapat surat juga meski dari kertas bekas.. ^_^

  3. yaampun pasangan aneh yang selalu bertaruh😀
    tapi mending ya mereka bisa kembali lagi coba kalau engga,bisa bahaya😀
    hyukjae kamu jdi terobsesi sama surat gara gara cemburu sama minhyuk ya ?
    lucu banget dia…..

  4. Nggak taruhan selingkuh saja pacar/suami bisa selingkuh, gimana kalau taruhan kayak dilakukan coba. Ujung-ujungnya selingkuhan begitulan. Kkk…. Aigoo, pasangan ini memang ada-ada saja. Untung saja Jiyoo tidak tergoda. Mungkin.

  5. Pasangan ajaib. Penulis ajib. Ide cerita yang dapat menimbulkan aib. xD
    Bisa instropeksi hubungan berminggu-minggu nih urusannya kalo punya pacar yang menghadiahi taruhan dengan kencan perselingkuhan walau hanya sehari hahaha

    Senangnya hatiku menemukan lelaki unyu seantero grup band Korea dan peterpan (lanang yang ndak pernah tuwir) bertaburan disini hihihi❤❤❤

    Makasih, She udah 'beranak' di bulan Februari 2015 ini…aku selalu merindukan 'anak-anakmu' hehehe

    Aniwei, aku cemburu dengan Bbek dan e-Mom yang semacam dapat jakpot (sepasang bayi kembar)…sementara Poo & Yoo masih asik bagai musafir dalam hubungan lovey dovey mereka😦
    Kapan kawin, mas..mbak..?? Hahaha

    Sehat selalu! Semangat terus! Selamat berkarya dan menginspirasi di tahun 2015! ^^9❤

    • WAAAAWWW READER AJAIB JUGAAAA.. hahahaha xD
      Tapi seru kan ada taruhan pake hadiah tiket selingkuh? Kayanya bisa dicoba deh. HAHAHA
      Hihihi… lelaki super unyu yah? <
      Sejatinya pingin juga sih bikin JiHyuk edisi punya anak banyak, cuma masih…kurang pengalaman nih (?)

      Terimakasyiiiihhh banyaaaaakss. ;~; Semoga kamuh juja selalu sehat, sukses di taun 2015 yaaa~ \o/ *semacam salam taun baru banget yah*

  6. akhirnya ada cerita baru juga untuk sekian lama. hehe…
    oenni kangen bgt sama couple ini, ending nya lucu abis hyukjae trobsesi dpt surat dari jiyoo dan dgn baiknya jiyo memberikan nya meski pake kertas bekas (pemanasan global) ????
    feelling nya sudah mulai dapet lagi ni eon, jiyoo nya udah mulai ngena ke hyukjae nya…
    ohya ps nya untuk di kapal pesiar di tunggu lho eon…pengen nya sih jiyoo bisa lebih sweet lagi…hehe..😀 :’)
    ohya hyori sudah punya anak? dan itu 3? hyukjae kalah duluan dri kyuhyun…

    • Waaah.. terima kasyih ya syuda ditungguin. ;;__;;
      Itu namanya usaha buat mengurangi pemanasan global. Kita harus sayang bumi. HAHAHAHA
      Iyess, semoga nanti pas edisi kaoal pesiar bisa lebih okeh lagi ya ceritanya.
      Tilimikicih syuda bacaaa~

  7. Aaaaaahhhhh!!! JiHyuk gila ya? Bertaruh dg hadiah Forbiden Date?
    Kyu uda punya tiga anak ajah. Cpt amat.

    Mereka mengesankan. Dan Hyuk jd obsesi buku harian sama surat. Wkwkwkwkwkwk

    Sbnrnya penasaran sama tiket kapal pesiar itu. Kok blm dibahas Hyuk sama sekali eh malah bahas Minhyuk mulu. Tp ternyata bakal ada lanjutan. Kalo ekspresi senang Hyuk uda krn buku harian Yoo uda dijelaskan nanti giliran Yoo yg senang. Yeay yeay yeay!!!

    • Cerita si kyu ama 3 anaknya bisa diliat di blog sebelah ya. Hahaha.
      Sepertinya si tiket kapal itu bakal dijadiin satu cerita sendiri kok, insya Allah. Hihi
      Terima kasyih syuda baca yaa..

  8. salam knal eon. reader baru. oh iya, aku biasnya si Tuan Hyukjae yg imut” ky marmut ini.

    Sedikit Cerita…

    aku ketemu couple jihyuk di blog Eonni Yuli *aku fans beratnya* dan ngubek” ktmu juga ini strawberry room..😀 senangnyaaaaaaa…. +peluk hyukjae!!

    tapi aku belum sempet baca semuaaa…

    dan pas buka lg.. ada Forbidden Date! Astaga, pasangan gila!! tapi unik. bner kt hyori, mreka klewat kreatif!!

    tetep semangat eon, meski bikin jealous tapi aku tetep cinta mereka.. terutama Hyukjae >.<

    sampai ketemu lagi….. cuuuppppppp :*

  9. Aaaaakkk sweet, maaf author aku reader baru salam kenal…dilanjut thor ff nya hehe. Aku suka jalan ceritanya yg ini, bahasanya juga ga ribet. Semangat thor lanjutinnya🙂

  10. aaaaaaa lee hyuk jaeee!!
    awalnya agak heran juga kenapa couple ini bisa dapet ide segila itu dan setelah dibaca ini emang keren bgt ffnya:D
    sweet & ide ceritanya juga beda dari yang lain.
    seperti biasa, semuanya bagus. penulisannya, konfliknya dan bahasa:D
    lanjutin terus ya nulisnya. fighting!!:)

    • Aku baca ulang ini and thinking, wow this is a good storyline *narsis* HAHAHAHA.. tapi, entahlah, kayanya gak ada lanjutannya. Thanks for reading btw!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s