Segenggam Rasa untuk Dia

256142297526232808_nlQGAMyY_c

I feel it again! When his name was mentioned, my mind was being on flashback-mode.

Otak kita bener-bener mirip seperti gudang penyimpanan dengan tanpa batas ya. Tiap memori kecil masih tersimpan rapi di kotak-kotak yang tertata. Gak pernah bener-bener terlupakan, apalagi terbuang. Dan, ternyata ada banyak hal yang masih aja bisa bikin kita tenggelam di dalamnya.

Menemani sobat yang selalu dalem flashback-mode gak pernah bikin saya ikutan pake mode yang sama, tapi malam itu ternyata beda dari malam-malam sebelumnya. Ya gimana gak beda, saya gak pernah tau saya bakal menyebutkan lagi sebuah nama usang yang masih terasa akrab itu. Satu hal lain yang gak pernah saya sangka adalah masa es-de saya beneran nista!

Sobat saya masih belum bisa move on dari seorang cewe, temen saya juga, setelah 6 taun (kira-kira segitu deh). Menurut pengakuan dia, saya adalah satu-satunya ‘tempat sampah’ punya dia yang bener-bener tau segala tetek-bengek cerita beserta rentetan perasaannya secara rinci. Mendengarkan cerita yang sama selama hampir 6 taun, jelas solusi yang saya tawarkan bakal sama; cobalah move on.

Hari itu, kami dapet konsep baru mengenai dunia lope-lope-an. Bahwa sejatinya *EALAH*, asmara itu memang gak pernah dijadikan mata kuliah sendiri, tapi kami meyakini asmara punya SKS yang berlaku seumur hidup. Kalo gak lulus pas ujian asmara, otomatis kita ngulang, yang notabenenya masalah gak selesai alias kita gak bisa move on. Kita gak bisa pake sistem kebut semalam, yang kalo belajar malem menjelang ujian doang, karena jadwal ujiannya sama sekali gak ketebak, makanya kita kudu siap dengan solusi –jawaban ujian.

Kalo kita gak siap, ya pasti dapet E pas ujian… dan kita ngulang.

Sobat saya selalu dapet E, dan masih ngulang di semester kehidupan kali ini. Saya? No, saya suda melupakan kisah asmara labil yang, omong-omong, merupakan satu dari sekian kecil memori yang menyenangkan.

I’ve never thought I’ll talk about him di depan teman-teman saya. Karena saya memang gak pernah ingin dan berniat mengungkit-ungkit soal dia dan segala kisahnya. Kemudian, terlontarlah begitu saja; bagaimana saya tau dia dan berakhir dengan surat-menyurat di sela waktu istirahat sekolah. Pertanyaan lain muncul: seperti apa sih orangnya, yang mana… and there you go, flashback mode: ON.

Pelan-pelan, saya mulai membangkitkan dia dari kotak ingatan, membiarkan wujudnya makin terlihat jelas, makin membuat saya merasa sengatan-sengatan listrik statis, sampai akhirnya saya mengingat kembali sosoknya.

It felt so… weird. Aneh aja gitu rasanya…

Dia asing sekaligus akrab, usang namun segar, hm… rusak tapi indah? Mungkin seperti itu rentetan pasangan kata yang sangat berlawanan untuk bisa menggambarkan dia (atau sebenarnya perasaan saya pada dia?)

Asing, karena baru kali ini setelah sekian lama saya mengingat dia. Akrab, karena saya pernah terbiasa dengan kehadirannya (AHELAH). Usang, karena… kenangan itu sudah terlalu jauh saya tinggalkan dan bukan sesuatu yang mau saya pungut kembali. Segar, karena kenangan itu justru terasa baru seperti kemarin, bukannya bertahun-tahun lalu ketika masih berseragam.

Pasangan kata yang terakhir; rusak tapi indah, karena kenangan itu tidak utuh, gak ada hal baik yang bisa saya ambil dari sana, bahwa cinta pertama (jika saya boleh menamakannya demikian), adalah kenangan yang cacat. Tapi tetap indah, karena ketika itu saya bisa menunjukkan tekad, passion, emosi yang meletup-letup layaknya kembang api warna-warni. Kenangan itu… mengingatkan saya pada berbagai macam perasaan pertama kali; pertama kali menuangkan perasaan lewat tulisan, pertama kali menemukan seseorang yang ingin selalu saya lihat tiap harinya, pertama kali… menjadikan dia sebagai obyek tulisan.

Saya merenungkan banyak hal, sebenarnya. Bahwa sepertinya, setelah ini, saya gak akan bisa menyukai orang seperti saya menyukai dia. Hahaha. Perasaan setelah ini mungkin tidak akan sama, atau justru akan berbeda sama sekali. Jadi, untuk dia yang entah berada dimana, terima kasih telah membantu saya merasakan banyak jenis emosi dan kali-kali pertama dalam hidup.

Malam itu, saya menggumamkan doa, semoga dia bahagia dan selalu… bahagia. Hahaha…

2 thoughts on “Segenggam Rasa untuk Dia

  1. eonni suka bgt sama kata2nyaa ” cinta pertama itu kenangan indah namun cacat ” ini yg ku tangkep dri beberapa kta2 eonni😀
    aiih eonni pinter bgt bikin kta2 yg manyiss krenyess wkt bacanya. mskipun bkn ff tp tetep senyum sambil angguk2 wkt bacanya ini terasa memang real terjadi dikehidupan nyata eonn🙂

    p.s : dan sampe skrg aku masih blm bsa move on dri kta2 hyukjae yg ini eonn ” aku ingin menikah terutama denganmu, dan lagi pula kau bukan pilihan kau adalah keharusan” , ini kata2 q bt DP sampe semingguan eonn saking cintannyaaa. aaah eonni ditunggu karyamu yg lainnya.# mian agak
    menyimpang comen yg ini eonn🙂

  2. AIH,, cinta pertama,,,, hehehe manisnya selalu ada pas dikenang unn, nyeseknya ketika sadar keadaan gg kyk dulu lagi mana ada ukiran kayu bersama dibuat dari aawal kembali utuh.😦

    tpi semoga aq harap si dia yg eonni maksud selalu doain juga yg terbaik buat eonni, kebahagiaan dll, mana tau kita perasaannya skarang seperti apa. aq selalu berpikir,aq akan utuh saat dimna menemukan pendamping nan abadi(red:merried) baru kisah itu sedikit demi sedikit hambar. bersyukur bnget ya, untuk mereka yg memaksa Tuhan memperbaiki keadaan hingga setelah menyelam waktu akan kembali pada orang pertama lagi, , ,hahahahha tentunya ada banyak faktor. sperti yg sudah eonni jelaskan di atas.

    curhat teruss kapan move on nya, ,,,, hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s