Blending [2 of 2]

blending

 It’s about the wedding. It’s about the conflict right before the event itself. It’s about one and another. Eventually it’s just about the choice.

Should it be fixed? Or should it be a reason to give up?

In the end, the question will be;

How’d we fix it? Or how’d we feel when we lose each other?

Beberapa buku dan sebagian film sering mengajarkan, biasanya manusia memiliki indera keenam untuk mengetahui masa depan. Manusia sering merasakannya; mengetahui sesuatu yang berhubungan dengannya sesaat sebelum hal itu terjadi. Seperti seharusnya mereka berhenti bicara saat mereka tahu akan menyesalinya, atau mengatakan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Manusia memiliki kemampuan semacam itu, tapi nyaris tak berguna.

Karena Hyukjae merasakan kesepian yang janggal sebelum ia menyodorkan pilihan pada Jiyoo. Pada dasarnya, ia tahu ia sedang menyudutkan gadis itu. Bodohnya, ia juga tahu ucapannya pada gadis itu hanya akan mengantarkannya pada keputusan tak terelakkan.

Tak ada ucapan Jiyoo yang salah. Gadis itu tak pernah memintanya memilih, jadi bagaimana ia, dengan tololnya, beranggapan bahwa ia bisa meminta Jiyoo memilih?

Jiyoo juga, bagi Hyukjae, bukan sebuah pilihan. Dirinya dan Jiyoo juga bukan pilihan. Pilihan ada ketika dua atau lebih hal berada pada kedudukan yang sebanding. Tapi tak pernah ada hal lain atau apa pun yang sebanding dengan Jiyoo dan hubungan mereka. Tak ada dan mungkin tak akan pernah ada.

Keputusan Jiyoo sudah jelas hanya berdasarkan emosi sesaat. Hyukjae meyakini hal itu. Ia pun tahu ada cara untuk mengubah keputusan itu. Bahkan, jika tak ada pun, Hyukjae yakin ia bisa menemukannya. Tapi, usahanya semalam benar-benar gagal. Kegagalan yang menyebalkan, ia menyimpulkan.

Ia berinisiatif menunggu Jiyoo di depan pintu apartemen. Ponsel gadis itu masih ada padanya dan tentu saja benda itu akan menjadi kambing hitam dari rencananya. Satu-satunya rencana yang ada dalam kepalanya adalah ia harus menemui Jiyoo. Setelah ia bertemu gadis itu, apa pun yang akan diucapkan atau dilakukannya adalah improvisasi dan bukan bagian dari rencananya.

Ia mencoba menekan bel apartemen. Tak ada niat untuk memanfaatkan kunci cadangan yang diberikan Jiyoo padanya. Hyukjae berusaha berpikir positif; Jiyoo akan menemuinya walaupun Hyukjae memiliki kunci cadangan. Ia meyakini pikiran itu.

Sepuluh menit kemudian, pikiran itu mulai terkikis dan digantikan dengan pikiran lain yang menyebalkan. Jiyoo tak ingin menemuinya. Padahal Hyukjae yakin gadis itu ada di dalam, padahal ia yakin bertatap muka dengannya akan mengubah keadaan. Keyakinan itu seolah menghilang ditiup angin musim gugur.

Hyukjae duduk di lantai koridor apartemen yang dingin. Punggungnya bersandar di muka pintu. Ia mengotak-atik ponsel Jiyoo dan tertegun. Hatinya mencelos saat menemukan banyak notes yang tersimpan dalam ponsel itu. Semua agenda persiapan pernikahan, rincian yang pernah mereka diskusikan, hingga tempat liburan rekomendasi dari internet terketik rapi. Mendadak, tuduhan Hyukjae mengenai Jiyoo yang tak peduli pada persiapan pernikahan mereka perlahan berbalik padanya.

Jiyoo-kah atau dirinya-kah yang lebih tak peduli?

Ingatan lain menggelitik kepalanya. Jiyoo tak pernah keberatan dengan ketidakhadiran Hyukjae di tiap agenda. Gadis itu memahaminya, bahkan saat ia tak memahami dirinya sendiri. Hyukjae ingat bahwa Jiyoo benar-benar kecewa saat ia justru mengirim orang lain untuk mewakilinya beberapa hari yang lalu di butik. Padahal itu agenda fitting busana pengantin mereka, bukannya sekedar memilih souvenir atau dekorasi gedung. Bagi Jiyoo, tentu saja itu agenda yang penting.

Dan ketika orang yang paling diharapkannya untuk mengerti justru bersikap sebaliknya, Hyukjae paham bagaimana rasanya.

Hyukjae mengambil ponselnya, menekan layar dengan nomor-nomor yang diingatnya di luar kepala. Samar-samar ia mendengar suara telepon yang berdering dari dalam kamar apartemen gadis itu. Nada sambung sempat terdengar singkat sebelum suara Jiyoo menyambutnya. “Choi Jiyoo di sini.”

“Aku tahu ini Choi Jiyoo,” ujar Hyukjae. “Ponselmu akan kuletakkan dalam tas kecil yang kugantung di pegangan pintu. Selamat malam.”

Gadis itu tak mengatakan apa pun bahkan hingga Hyukjae mengakhiri teleponnya. Ternyata tak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan diabaikan oleh orang yang berarti untukmu, Hyukjae mengakui hal itu. Ia menghela napas berat sebelum memasukkan ponsel Jiyoo ke dalam tas kecil. Untuk terakhir kalinya, ia memandang pintu yang tertutup rapat di hadapannya.

“Selamat malam, Yoo,” bisik Hyukjae. Ia membalikkan badan setelah menggantungkan tas di pegangan pintu, berharap benda mahal itu tak hilang begitu ia meninggalkan gedung apartemen Jiyoo. Sesaat, ia berharap gadis itu akan mengambil ponselnya cepat. Namun, pikiran tentang Jiyoo yang akan langsung membuka pintu saat Hyukjae sudah pergi justru membuatnya lebih muram lagi.

Karena itu tandanya ia sudah ditolak, tak diinginkan lagi.

Hyukjae memandangi cincin yang tersemat di jari kelingkingnya. Seharusnya benda bulat itu masih berada di jari manis Jiyoo. Seharusnya ia tak mengucapkan pertanyaan bodoh itu. Tak ada orang lain selain dirinya yang mengetahui hal buruk yang selanjutnya dapat terjadi jika ia nekat mengucapkan pertanyaan itu. Ia tahu Jiyoo akan sampai pada keputusan yang menyakitkan untuknya dan untuk Jiyoo sendiri.

Hyukjae tahu semua itu, tapi ia tetap mengucapkannya. Suara-suara dalam pikirannya saling berbisik, bertanya apakah ia sudah gila. Sesekali, Hyukjae sendiri sering bertanya pada dirinya sendiri; apakah ia sadar saat memutuskan untuk mengucapkan kalimat terlarang di depan Jiyoo? Atau, apakah ia memang sudah gila karena mengucapkannya?

Tangannya terangkat kemudian Hyukjae mulai memijat pelipisnya sendiri. Semua hal ini membuatnya pusing, menyesakkan dada. Ia berkali-kali meyakinkan diri bahwa pasti akan ada solusi untuknya; untuk mereka. Tapi, semakin lama, ia justru semakin sadar bahwa ia bahkan tak sanggup memikirkan solusi apa pun.

“Kukira kalian sudah menyelesaikan masalah butik, maksudku,” tegur Kyuhyun saat melintasi meja kerja Hyukjae. Ia menunjuk cincin di kelingking temannya dengan dagu. “Kenapa lagi?”

“Salahku,” jawabnya singkat. “Sepertinya.”

Kyuhyun mengangguk-angguk, sama sekali tak berniat menenangkan Hyukjae. “Memang.” Lelaki muda berambut ikal pendek itu kemudian menambahi, “Tapi biasanya kau bisa menyelesaikannya dengan baik.”

“Kali ini sulit. Kalau cincin ini sudah tidak berada di jarinya lagi, semuanya sudah terlambat.”

Alis Kyuhyun terangkat sebelah. Ia berdecak, tak habis pikir dengan cara berpikir temannya sendiri. “Kalau cincinnya sudah tidak ada di jari Jiyoo, berarti kau harus memasangkannya ke jarinya lagi. Hal sesederhana itu saja tidak kau pahami.”

“Dilarang berlari di koridor apartemen!”

Teriakan wanita paruh baya membuat Hyukjae terpaksa mengurangi kecepatan larinya. Ia kemudian berjalan cepat sebelum berhenti di depan pintu apartemen Jiyoo. Napasnya putus-putus akibat berlari. Ia menekan tombol bel sambil mengatur napas dan menyusun kalimat yang ingin diucapkannya pada Jiyoo.

Pertama, ia harus meminta maaf dan menguraikan alasan di balik kebodohannya semalam. Selanjutnya, ia akan menjelaskan banyak hal, misalnya mengapa cincin ini harus ada di jari Jiyoo. Terakhir, tentu saja, Hyukjae akan menjabarkan satu dan lain hal yang bisa jadi pertimbangan gadis itu bahwa mereka tidak boleh putus.

Untuk yang terakhir itu, Hyukjae hanya menyiapkan satu alasan; karena ia tak ingin putus. Tidak lagi.

Selama tiga menit, ia masih menekan tombol bel. Tak ada jawaban. Hyukjae merasakan denyut kunci cadangan di saku celananya. Benda itu seolah berdenyut protes ‘Kau punya aku. Gunakan aku!’, tapi Hyukjae mengabaikannya.

Ia mengeluarkan ponsel, menekan angka 7 pada layarnya sebelum menempelkan ponsel ke telinga kanannya. Nada sambung monoton terdengar pendek-pendek. Hyukjae terkesiap senang saat panggilannya dijawab. “Yoo?”

Ada keheningan tak menyenangkan yang menemani Hyukjae. Ia memunggungi pintu kemudian bersandar sambil menunggu suara Jiyoo. “Wae?” tanya gadis itu ragu-ragu.

“Aku ada di depan apartemen,” jawab Hyukjae singkat. Ia tahu Jiyoo mengerti maksudnya; bahwa ia ingin bertemu, ia harus menemui gadis itu.

Jiyoo kembali tak bersuara. Agak lama hingga akhirnya gadis itu berkata, “Pulang saja. Aku… tidak akan pulang malam ini.” Jiyoo terdiam sesaat kemudian melanjutkan, “Aku minta maaf, tapi kurasa aku akan mematikan ponselku sampai aku pulang. Mengenai masalah semalam–“

“Kau di mana? Aku akan menjemputmu,” ujar Hyukjae. Tangannya yang bebas merogoh saku, menggenggam cincin yang dinginnya serasa menyengat. “Kita harus bicara.”

“Maaf,” suara Jiyoo mulai terdengar putus-putus, “kadang ada beberapa hal yang lebih baik tidak dibicarakan. Ada juga hal yang terlihat sepele tapi sebenarnya sudah tidak bisa diperbaiki. Kita… kali ini kita sama sekali tidak bisa memperbaikinya.”

Tubuh Hyukjae merosot ke bawah, terduduk sambil bersandar di pintu apartemen Jiyoo. Tadinya ia berpikir bahwa ia bisa mengubah keputusan gadis itu, membuat gadis itu mempercayakan ikatan padanya lagi. Bukan ini yang dibayangkan Hyukjae. Ia membayangkan pernikahan dengan segala hal yang dipersiapkan olehnya dan Jiyoo. Ia masih membayangkan cincin yang akan mengikat Jiyoo, menjaga gadis itu agar selalu menjadi miliknya.

Hyukjae bahkan tak pernah berpikir bahwa ia harus terikat, karena ia akan mengikat dirinya sendiri secara sukarela pada Jiyoo.

“Lee Hyukjae…” bisik Jiyoo lirih. Hyukjae menahan napasnya seraya menunggu. “Apa kau baik-baik saja?”

“Cih,” Hyukjae berdecak walaupun kedua matanya terasa panas. Ia tak bisa memikirkan apa pun saat ini; kecuali satu hal. “Apa kau akan baik-baik saja?”

Ia mendengar Jiyoo tertawa, tapi yang terbayang dalam benaknya adalah gadis yang tertawa dengan mata yang terlanjur basah. Hatinya nyeri, seperti diremas oleh tangan kekar yang tak kasat mata. Menjadi semakin parah saat Jiyoo berkata, “Mungkin tidak. Persis seperti dirimu.”

Busan

Langkah Jiyoo terasa berat. Tangannya berada dalam saku jaket, menggenggam erat ponsel yang sudah dalam posisi mati. Ia sendiri yang berkata tidak akan mengaktifkan benda itu, tapi hingga sekarang ia belum bisa melepaskannya. Jiyoo seolah menunggu ponselnya berdering lagi walaupun ia tahu tindakan itu hanyalah tindakan yang sia-sia.

Ia menarik napas panjang saat sepasang indera penglihatannya menemukan rumah sakit jantung yang jadi tujuannya di Busan. Dengan hati yang masih berat, ia memaksa diri masuk ke dalam rumah sakit. Seorang perawat yang berjaga di meja informasi menyambutnya. Jiyoo melihat dua perawat lain sibuk dengan monitor komputer yang masing-masing ada di hadapan mereka. Perawat yang bertemu pandang dengan Jiyoo langsung membuka halaman buku pasien setelah Jiyoo menyebutkan sebuah nama.

Kamar 305, tepat di ujung koridor lantai tiga. Jiyoo mengingat informasi itu dan melenggang menuju pintu tangga darurat, bukannya menunggu di depan lift bersama dua orang lain. Sesuatu yang sangat dibutuhkannya saat ini adalah waktu. Berjalan menaiki beberapa anak tangga mungkin bisa meringankan beban di pundaknya.

Pada tiga anak tangga terakhir sebelum pintu menuju lantai tiga, Jiyoo menghentikan langkahnya. Bebannya sama sekali tak berkurang. Sepertinya justru ada batu puluhan ton yang sekarang menambah bebannya. Batu itu tak hanya bertengger di pundaknya, tapi juga memenuhi dada hingga membuatnya tak bisa bernapas.

Jiyoo terduduk di salah satu anak tangga. Desakan air matanya terlalu kuat. Ia menyerah.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku kemudian menyalakannya kembali. Tadinya ia pikir ia bisa mengatasi perpisahan dengan lelaki itu. Tapi, pernah menghadapi sesuatu tak membuat Jiyoo terbiasa menghadapinya. Jiyoo pikir ia akan mengenali rasa sakitnya, tapi sekarang sesuatu yang menerkamnya adalah rasa sakit yang baru. Sesuatu yang lebih menyakitkan dan menyengat hingga menjadikan Jiyoo seorang gadis yang cengeng.

Layar ponselnya menampilkan pesan baru. Ada tiga pesan suara. Jiyoo bisa menebak semua pengirimnya. Ia merasa konyol saat ternyata ia justru senang mendengar suara Hyukjae.

“Karena kau bilang kau akan seperti aku, jadi kupikir kau akan berkeliaran tanpa arah sambil memikirkan banyak hal.” Ada jeda. Jiyoo membayangkan Hyukjae mengerjakan sesuatu dengan pikiran yang tak fokus. “Semalam aku berpikir, kau mengenyampingkan semua hal mengenai persiapan pernikahan kita. Kukira kau begitu. Aku lupa, akulah yang sering mengenyampingkannya. Aku yang selalu mengenyampingkan dirimu, kita. Aku kesal saat kau melakukan itu, padahal–“

Pesan pertama terputus. Jiyoo membiarkan air matanya meleleh sebelum melanjutkan pesan Hyukjae selanjutnya.

“Kenapa pesan suaranya cuma sebentar!” Senyuman Jiyoo tersungging lemah saat Hyukjae mengomel. “Pokoknya! Pertama kalinya kau marah besar gara-gara sikapku saat aku sudah benar-benar keterlaluan. Aku sudah minta maaf soal itu, tapi kurasa aku tetap harus mengucapkannya, jadi… maaf. Aku juga minta maaf untuk… banyak hal.” Suara Hyukjae tertahan. Jiyoo melukis sosok Hyukjae yang menahan air mata. Jantung Jiyoo berdenyut, menyalurkan rasa sakit ke seluruh tubuhnya. “Aku minta maaf untuk hubungan yang tidak berhasil… lagi.”

Pesan kedua berakhir. Jiyoo menggigit bibir bagian bawahnya kuat-kuat. Ada perasaan ganjil yang memayunginya kali ini. Ia tahu pesan berikutnya sama sekali tak akan menyenangkan.

“Meskipun ada banyak hal yang tidak kuketahui, tapi aku tahu satu hal. Ini salahku. Aku tahu itu, jadi jangan minta maaf atau merasa bersalah.” Pesan itu kembali berjeda. Jiyoo bisa mendengar suara helaan napas Hyukjae. “Aku yang akan menjelaskan semuanya pada orangtua kita. Memang akan sulit, tapi lebih baik mereka cepat mengetahuinya. Iya, kan? Beri tahu aku kalau kau sudah pulang, aku… cincin ini milikmu. Aku tidak mungkin membuangnya, apalagi menyimpannya.” Hyukjae kembali menarik napas. “Yoo, kita akan baik-baik saja, kan?”

Pertanyaan Hyukjae mengakhiri pesan suara ketiganya. Jiyoo bisa memberikan jawaban. Suara-suara nyaring dalam pikirannya meneriakkan jawabannya. “Tidak, tidak, tidak!”

Jiyoo menghapus jejak air mata di kedua pipinya. Tangannya bergerak cepat, membuat pesan baru. Rangkaian kata-kata berulang kali diketikkan untuk kemudian dihapus hingga Jiyoo hanya dihadapkan pada layar badan pesan yang masih kosong. Ia tak bisa berpikir saat ini. Kepalanya tertunduk, menempel pada lutut.

To: <H-J3

Tolong jangan beri tahu orangtua kita. Jangan sekarang.

“Jung Daehyun,” panggilan Jiyoo membuat Daehyun yang baru saja keluar dari kamar pasien menoleh. Raut wajah Daehyun datar sejenak sebelum kedua matanya menyipit dan berhasil mengenali gadis yang memanggilnya. “Ck, dasar keterlaluan!”

Ya, bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanya Daehyun. Ia memiringkan kepala kemudian melongok melalui pundak Jiyoo, berusaha mencari seseorang. “Hyukjae?”

Jiyoo meringis sesaat kemudian menyahut, “Tidak ikut.” Gadis itu berjalan mendekat dan mengintip ke balik pintu. “Nenekmu baik-baik saja?”

Daehyun menolak menjawab dan mengawal temannya itu menuju kafetaria rumah sakit. Lelaki itu membawakan cokelat hangat dan semangkuk sup krim untuk Jiyoo. Kebetulan sekali, Daehyun berpikir, Jiyoo datang di hari ketika kafetaria menyajikan cokelat kesukaannya. Ia sendiri hanya membawa segelas cokelat hangat untuk dirinya.

Kafetaria rumah sakit terlihat lengang, memberikan Daehyun kenyamanan. Ia memang merasa nyaman, tapi tak yakin dengan teman yang duduk di hadapannya. “Kenapa kau ke sini?”

“Kau tidak bilang nenekmu dioperasi,” tegur Jiyoo. Ia menempelkan kedua tangannya ke sekeliling gelas berisi cokelat hangat. Biasanya ia bisa langsung meneguk habis isi gelas itu, tapi kerakusannya akan cokelat seolah lenyap entah kemana. “Bagaimana keadaan nenekmu?”

Daehyun menyesap cokelat hangatnya lebih dulu. Ia membiarkan rasa hangat menuruni tenggorokannya. “Operasinya lancar. Kalau seminggu berikutnya kondisinya stabil, nenek bisa pulang,” ujarnya sambil tersenyum. “Aku bukannya tidak mau bilang apa-apa padamu, tapi keadaan di sini sangat kacau waktu itu.”

Jiyoo menghela napas dan menatap temannya. “Kau, kan, tetap bisa menghubungiku, Bodoh!”

“Iya, iya, maaf,” Daehyun berkata cepat, menolak mendengar omelan Jiyoo lebih lanjut.

Dwaesseo,” sahut Jiyoo. “Tapi syukurlah, semuanya baik-baik saja.”

“Lalu, kau?”

“Aku kenapa?” Jiyoo buru-buru meneguk cokelatnya sambil memikirkan cara untuk mengubah arah topik pembicaraan Daehyun. Entah bagaimana, ia tahu ke mana temannya akan mengarahkan obrolan mereka ini.

Daehyun mengamati wajah temannya. “Apa kau baik-baik saja?” Ia melanjutkan, “Kenapa Hyukjae tidak ikut bersamamu? Sama sekali di luar kebiasaan.”

“Kami sudah putus, untuk apa dia ikut?” Jiyoo berharap nada suaranya terdengar wajar dan normal saat mengatakan hal itu. Tapi ada setitik rasa getir yang tak mau hilang dari bibirnya. Ia memandang ke luar jendela kafetaria, menghindari tatapan Daehyun dan berharap temannya tak repot-repot bertanya lagi.

“Kau sudah gila?” Jiyoo lupa bahwa Daehyun sama sekali tak bisa membaca keinginannya. Tatapan Daehyun beralih pada sepuluh jari Jiyoo yang kosong tanpa hiasan. Ia sudah terbiasa melihat sesuatu di jari temannya hingga rasanya aneh saat tak menemukan apapun di sana. “Siapa yang–“

“Aku. Semalam.”

Daehyun memejamkan mata kemudian menarik napas panjang. Ia tak pernah membayangkan bagaimana Jiyoo bisa datang ke sini langsung setelah hubungannya dengan Hyukjae berakhir –lagi. “Kali ini kenapa? Kenapa justru di saat-saat seperti ini? Pernikahan kalian sudah di depan mata.”

Kisah semalam meluncur lancar dari mulut Jiyoo. Seperti sebuah dongeng yang tak pernah nyata, seperti mitos. Ia seperti sedang menceritakan kisah yang bukan miliknya. Karena semuanya terdengar bodoh, konyol dan terjadi akibat sesuatu yang tak kalah konyolnya. Mungkin ia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik daripada membiarkan kisah konyol ini terjadi.

Jiyoo berkali-kali tersengat oleh rasa sakit saat mengucapkan nama Hyukjae. Ketika pelan-pelan ia menyadari bahwa sebenarnya ada yang bisa ia lakukan untuk menghindari hal itu, Jiyoo merasa dadanya sesak. Dan ketika Daehyun menyuarakannya, Jiyoo tertegun.

“Tidak harus seperti itu. Sebenarnya kau juga masih bisa memperbaikinya. Kau menyesal, kan? Sama sepertinya.” Daehyun mengamati raut wajah Jiyoo, berusaha membaca isi hati temannya itu. “Kau tahu kalau Hyukjae tidak seperti itu, maksudku Hyukjae tidak pernah tidak ingin menyiapkan pernikahan kalian.”

Jiyoo menggigit bibir. “Aku tahu. Dia selalu datang tiap malam, menebus waktu yang berjalan tanpanya, mendengarkan segala detail pernikahan yang sudah diputuskan saat dia tidak datang. Dia melakukan semuanya.”

“Dia memikirkan hubungan kalian lebih daripada yang kau tahu.” Daehyun mendengarkan sebelum menyadari sesuatu, “Tapi kau bilang kalian bertengkar setelah topik tentang diriku keluar? Jadi bisa dibilang, semuanya gara-gara aku menghilang, ya?”

“Jangan konyol. Kaupikir kau siapa?” sergah Jiyoo. “Walaupun kelihatannya memang namamu yang memicu masalah kami, tapi tidak seperti itu.” Gadis itu terdiam agak lama. “Ini salahku.”

“Kelihatannya memang begitu,” sahut Daehyun tenang. Ia tak nyaman dengan tatapan tajam Jiyoo. “Kau sendiri yang bilang begitu. Aku hanya mengungkapkan fakta. Kalau memang semuanya gara-gara aku, aku yakin kalian sudah lama sekali putus, bukannya sekarang, saat rencana kalian sudah bukan lagi berkencan, tapi menikah. Lagipula, kau merasakannya sekarang, kan?”

“Apa?”

Daehyun mengangkat sebelah alisnya. “Sudah kubilang, penyesalan. Kau tidak bermaksud mengakhirinya, tapi terlanjur kau akhiri. Hyukjae juga sedang menyesal, buktinya dia datang ke tempatmu.” Lelaki itu menambahkan dengan gestur V, “Dua kali.”

Bahkan Daehyun, temannya, mengatakan bahwa ia yang salah. Jiyoo menundukkan kepala. Ia memikirkan kemungkinan lain yang bisa terjadi jika ia tak melepaskan cincinnya. Mungkin, seperti kata Daehyun, ia akan berada di Busan bersama Hyukjae. Sepertinya ia sedang dipenuhi penyesalan saat ini. Dan ia tak penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Hyukjae. Kurang lebih, Jiyoo tahu lelaki itu juga merasakan hal yang sama; penyesalan –walaupun ia tak tahu apa yang seharusnya lelaki itu sesali saat semuanya adalah kesalahan Jiyoo.

Jika demikian, bukankah sudah jelas bahwa Jiyoo sudah mengambil keputusan yang salah?

“Di pesan suaranya, dia tidak bilang ingin memintaku mempertimbangkan keputusanku,” kata Jiyoo, mencoba berdebat. Mungkin pendapat bisa berubah, mungkin Jiyoo bisa mengurangi perasaan bersalahnya. Ia mencoba mencari cara untuk merelakan sesuatu–seseorang- yang sudah terlanjur dilepaskannya.

“Gadis konyol,” Daehyun mulai frustasi menghadapi temannya itu. “Tentu saja! Kau sudah menghentikan langkahnya untuk melakukan itu, tentu saja pilihan satu-satunya adalah menerima keputusanmu.”

“Kau mau tahu sesuatu yang lucu?” tanya Jiyoo. Daehyun bergeming, tak mengharapkan ada hal lucu dari kisahnya dan Hyukjae. “Dia bilang ini salahnya,” ujarnya pelan. Ia mengusap-usap kedua telapak tangannya bergantian, mencari sesuatu yang pernah ada di sana untuk menenangkannya. Tapi benda itu tak ada lagi, tak bisa ditemukan lagi. “Padahal bukan. Aku yang sudah seenaknya memutuskan bahwa dia yang salah.”

Daehyun tak bersuara hingga keheningan yang dingin menyelimuti mereka. Bukan ini yang Jiyoo inginkan, Daehyun tahu itu. Jika boleh diibaratkan, keputusan sesaat itu hanyalah sebuah kesalahan. Tak satu pun dari Hyukjae dan Jiyoo yang menginginkan kesalahan ini ada.

“Dia bilang jangan cemas, dia yang akan menyampaikan hal ini pada orangtua kami. Padahal itu bukan tanggungjawabnya. Semua orang akan menyalahkannya.” Jiyoo menatap gelas cokelat hangat yang masih setengah terisi. “Dia egois, kan?”

“Entahlah,” kata Daehyun sambil menyunggingkan senyum kecil, “kenapa kau tidak menanyakannya sendiri? Tanyakan apakah dia memang suka bersikap egois seperti itu.”

Seoul – 10:33 PM

Hyukjae berdecak kesal saat melihat layar ponselnya. Dua belas pesan berasal dari Donghae, tiga dari Kyuhyun dan tujuh panggilan tak terjawab dari keduanya. Ia hanya melarikan diri dari kantor selama 6 jam untuk pertama kalinya tapi kedua temannya selalu berkata bahwa mereka mencemaskannya dan menawarkan diri untuk menemani.

Segala hal itu justru membuat Hyukjae kesal. Hal terakhir yang ingin didapatkannya adalah teman, jadi sudah pasti Donghae atau Kyuhyun sama sekali tak masuk daftar keinginannya saat ini.

Ia membuka kembali pesan dari Jiyoo. Helaan napasnya menjadi berat walaupun ia merasa lega. Setidaknya gadis itu menjawab pesannya. Berarti ia juga sudah mendengar pesan suaranya. Dan ketika gadis itu sama sekali tak menyinggung apa pun mengenai hubungan mereka, Hyukjae tahu itu berarti semuanya memang sudah berakhir.

Ada pikiran-pikiran yang menggelitik otaknya. Di mana letak kesalahan mereka? Bagaimana bisa mereka sampai pada keputusan ini lagi padahal ia dan Jiyoo tahu benar rasa pahitnya?

Sejak kapan keduanya seolah hanya bisa saling menyakiti?

Langkahnya terasa semakin berat saat menyusuri koridor lantai apartemen. Hyukjae hanya ingin sendirian di apartemennya sampai besok pagi. Kalau perlu, sebenarnya ia juga berniat tak masuk kantor. Tangan kanannya menggenggam kantung plastik berisi kaleng-kaleng bir dan beberapa bungkus chocopie. Ia sudah bisa membayangkan dirinya sendiri berbaring di ranjang dengan remote televisi di tangannya, memindah-mindah channel tanpa benar-benar menonton. Gambaran menyedihkan yang konyol.

Tapi hanya itu yang bisa dilakukan Hyukjae saat ini. Mungkin, hanya itu yang sedang ingin dilakukannya. Tanpa berpikir, tanpa perlu melibatkan banyak emosi.

Ketika itulah ia melihatnya; Jiyoo berdiri di depan pintu apartemennya, tampak ragu-ragu untuk menekan bel. Hyukjae menunduk sambil tersenyum kecil. Ia seperti melihat sosok dirinya tadi siang saat berada di depan kamar apartemen Jiyoo.

Mwohae?” Suaranya mengejutkan gadis itu. Hyukjae merasakan jantungnya berdebar lagi, seolah terlupa bahwa organ vitalnya memang selalu melakukan gerakan memompa seperti itu. Diam-diam, ia mengharapkan sesuatu dari Jiyoo. “Apa kau ke sini untuk–“

“Orangtuaku!” Jiyoo buru-buru menjawab. “Ini soal orangtuaku.”

Hyukjae menelan kekecewaannya tanpa suara. “Baiklah.”

Keduanya berdiri berhadapan. Tak ada satu pun yang berinisiatif untuk membuka mulut hingga Jiyoo melirik kantung belanja milik Hyukjae. “Kau… mau minum semuanya?”

“Sepertinya begitu,” jawabnya sambil mengangkat bahu. Ia berdeham, “Kau mau masuk?”

Jiyoo mengangguk ragu. Hyukjae merasakan atmosfir yang sama seperti ketika keduanya berpisah dulu. Hanya saja, ia benci ketika sepertinya ia sudah akrab dengan atmosfir itu.

“Kau ingin mengatakan hal lain?” tanya Hyukjae sambil melenggang ke dapur untuk meletakkan kantung belanjaannya. Jiyoo masih berdiri kikuk di ruang tamu, seolah baru pertama kali menginjakkan kaki ke apartemen ini. Hyukjae mengerutkan kening. “Aku yakin kau ingin mengatakan sesuatu.”

“Aku… minta maaf–“

“Kukira aku sudah bilang kau tidak boleh mengucapkan kata itu,” potong Hyukjae. Ia bersandar di konter dapur dan tersenyum malas ke arah Jiyoo. “Kita sudah sepakat bahwa ini salahku.”

“Tidak! Tidak ada kesepakatan semacam itu. Kau hanya memutuskannya sendiri,” Jiyoo berseru. Ia menelan ludah dan melanjutkan, “Seperti aku.” Kali ini Hyukjae berdiri tegak, berusaha mencerna ucapan Jiyoo. Gadis itu melangkah perlahan mendekati Hyukjae. “Aku… yang seenaknya memutuskan bahwa itu salahmu. Bahwa apapun yang terjadi, semuanya salahmu. Aku lupa bahwa aku juga menyumbang kesalahan.

“Kau juga egois,” tambah Jiyoo. “Kau pasti ingin terlihat seperti pahlawan karena sok berani mengambil resiko dimarahi oleh semua orang. Iya, kan?! Padahal itu sama sekali tidak keren.”

Hyukjae tersenyum miring, mulai membaca maksud gadis di depannya itu. “Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa pada orangtuaku, kan?”

Jiyoo menggigit bibir dan memandang ke sembarang arah kecuali lelaki di hadapannya. “Tidak juga, eh tidak. Tidak perlu.”

“Kau akan datang memilih bunga?” tanya Hyukjae lagi.

“Datang, aku akan datang,” jawab Jiyoo. Ia bergumam, “Kalau sudah tahu, jangan bertanya lagi.”

Hyukjae tertawa. Tubuhnya terasa ringan, seluruh bebannya sudah terangkat. Rasanya terlalu ringan hingga sepertinya ia bisa menghilang ke langit. “Lalu, apa yang mau kaukatakan soal orangtuamu?”

“Hanya soal… rencana setelah upacara pernikahan. Aku ingin mengumpulkan dua keluarga sambil berlibur. Mungkin villa di Busan bisa digunakan,” kata Jiyoo seraya melirik Hyukjae, berusaha melihat reaksi lelaki itu. “Tapi aku tetap harus mengatakannya padamu dulu, jadi–“

“Silakan saja,” jawab Hyukjae cepat. “Kau hanya terlalu takut keluarga kita tidak bisa berbaur dengan baik dan percaya dengan kemungkinan kedua keluarga kita akan saling membunuh.”

Jiyoo tersenyum puas, sepenuhnya mengabaikan ejekan Hyukjae. “Aku harus pulang.”

“Kuantar,” sahut Hyukjae sebelum Jiyoo melingkarkan lengan ke lehernya. Ia tertegun kemudian merengkuh tubuh gadis itu ke dadanya. “Kau pasti sangat merindukanku.”

Tak ada jawaban. Jiyoo memejamkan matanya dan memisahkan diri dari Hyukjae. Kedua tangannya membingkai wajah Hyukjae sebelum menyentuhkan bibirnya ke atas bibir lelaki itu. Perlahan dan singkat. Jiyoo bergumam di atas bibir Hyukjae, “Terima kasih, tapi tidak perlu.”

“Baiklah,” jawab Hyukjae. Ia kembali menarik tubuh Jiyoo kemudian memiringkan kepala untuk mencium bibir gadis itu sekali lagi. Sensasi manis menggelenyar ke seluruh tubuhnya, terpusat di bibir. Ia membiarkan bibirnya mengikuti irama dalam kepalanya. Degupan jantungnya tersamarkan oleh debaran jantung Jiyoo. “Akan tetap kuantar,” ujarnya, menggelitik bibir Jiyoo.

Jiyoo melepaskan diri dari Hyukjae setelah memberikan kecupan singkat lagi. “Kalau begitu, cepat.”

“Kau melupakan sesuatu,” tegur Hyukjae. Ia mengeluarkan benda bulat berkilau dari sakunya. “Kemari, ulurkan tanganmu.”

“Tidak mau,” Jiyoo menolak. “Bukankah kau akan memberikan cincin lain saat pernikahan?”

Hyukjae berdecak, tak percaya dengan kata-kata Jiyoo. “Itu kalau kau tetap ingin kunikahi.”

“Benar juga,” Jiyoo mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar sementara Hyukjae mengomel tanpa suara sambil menyematkan cincin itu kembali ke tempatnya. “Tapi kurasa aku tetap ingin melakukannya; pernikahan, maksudku. Denganmu.”

=========================================

Epilog

Two month ago

“Lumayan.”

Jiyoo berkomentar setelah memasukkan sesuap spageti saus jamur ke dalam mulutnya. Sepertinya ia harus lebih sering meminta Hyukjae memasak. Malam ini hanya malam-malam biasa, sama seperti malam lainnya. Tapi tentu saja Jiyoo tahu bahwa Hyukjae sama sekali tidak menunggu malam istimewa untuk mengejutkannya seperti sekarang. Lelaki itu baru saja menyelesaikan kursus memasak kilat yang diberikan oleh kakak perempuannya. Dan ketika Jiyoo dipilih olehnya menjadi orang pertama –atau sukarelawan-yang mencicipi hasil masakannya, mana mungkin ia menolaknya.

Keduanya duduk berhadapan di meja makan mungil di apartemen Jiyoo. Dua piring spageti yang sudah diaduk rata dengan saus terhidang di depan keduanya. Hyukjae tersenyum lebar, bangga dengan pujian singkat kekasihnya. Ia memerhatikan Jiyoo yang kembali menyuapkan spageti masuk ke dalam mulut.

“Ralat, enak. Dengan ini, kau pasti bisa jadi suami yang baik,” tambah Jiyoo.

Hyukjae tertawa hingga terbatuk-batuk. Ia buru-buru meneguk air mineral dari gelasnya dan kembali tertawa saat melihat ekspresi wajah Jiyoo. Gadis itu tampak kebingungan, tak mengerti alasan Hyukjae tertawa nyaring.

Setelah berhasil meredakan tawanya, ia bertanya, “Kau sedang melamarku, ya?”

“Ng?”

“Kau baru saja berkata aku pasti bisa menjadi suami yang baik. Kalau bukan untukmu, untuk siapa lagi?” tanya Hyukjae.

Jiyoo segera menyesap air mineral di depannya. Benar, ia memang mengatakan hal itu. Tapi… lamaran? Tidak, bukan seperti itu. Ia menggulung spageti di garpunya sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Pandangannya terpaku pada spageti di piring, bukan pada Hyukjae. “Aku hanya mengomentari masakan buatanmu. Titik.”

“Jadi kau tidak mau menikah denganku?”

“Bukan begitu, aku–“

“Kau ingin menikah denganku.”

“Tidak juga, Lee Hyukjae.”

Hyukjae tertawa kecil saat Jiyoo tampak salah tingkah. Ia membiarkan gadis itu kembali menikmati spagetinya. Tiba-tiba ia berkata, “Ayo kita menikah!”

Kali ini Jiyoo yang tersedak hingga harus menepuk-nepuk dadanya. Ia meneguk habis air minumnya dan membelalakkan mata ke arah Hyukjae. “Apa kaubilang?”

“Kubilang, menikahlah denganku. Bukankah hubungan kita juga sudah serius, eh bukan, hubungan kita selalu serius, lalu kenapa kita tidak menikah saja?”

Jiyoo membeku di tempat duduknya. Kedua matanya berkedip-kedip, berusaha memahami situasi yang sedang dihadapinya saat ini. Ia berdeham, “Bukankah kau suka pada gadis yang pintar memasak? Aku tidak bisa memasak.”

“Memasak bisa dipelajari.”

“Kau bilang kau suka gadis dengan leher jenjang?”

“Lehermu cukup jenjang.”

“High-heels! Aku tidak suka pakai high-heels.”

“Tidak masalah.” Hyukjae menyipitkan kedua matanya. “Kau sedang berusaha menolak lamaranku ya?”

Jiyoo menggeleng seraya mengunyah spagetinya lambat-lambat. “Memangnya kau yakin dengan pilihanmu ini? Menikah? Apalagi denganku?”

“Aku ingin menikah, terutama denganmu,” jawab Hyukjae. Lelaki itu tersenyum kecil; senyuman kesukaan Jiyoo. Ia memberikan penjelasan lain. Satu hal yang kemudian membuat Jiyoo tak bisa menolak. “Dan lagipula, kau sama sekali bukan pilihan. Kau adalah keharusan.”

===================THE END======================

HELLO~ omg its been a long long long time yes? Huhuhuhu.. Anw, I’m back loh! Seneng rasanya bisa nyelesain satu cerita lagi. Ubek-ubek laptop dan nemu beberapa cerita yang gak selesai… sakitnya itu disiniiii *tunjuk hati*

Di antara cerita itu, saya baru sadar ada naskah lain yang ceritanya mirip sama ini; lagi-lagi putus. HAHAHAHAHA..

Sedikit kisah, cerita ini terbentuk dari something yang bikin saya terganggu (about Daehyun, actually). Sambil denger I’ll be on Your Side, akhirnya terjadilah! A story whom Hyukjae can be the important part of. Hihihi..

Why wedding… semacam mabok sama berita wedding sana-sini, mulai dari pernikahan artis inisial RH-NS (alias Raffi A. sama Nagita S. HAHAHAHA) sampe kabar wedding Lee Sungmin. So basically, ini gabungan berbagai macam latar belakang. \o/

So, I guess I’ll see ya guys around? Thanks for reading anw! ^^

65 thoughts on “Blending [2 of 2]

  1. Yuhuuuuu, happy ending. Wabah berita tentang pernikahan memang mengganggu. Hihihihi, tapi, ini tetap seru dan berakhir bahagia. Semoga fic selanjutnya bisa kamu selesaikan, ya.

  2. kisah mereka berdua tu aneh tpi menyenangkan😀
    dikit dikit maen putus aja tpi ujung ujung nya bersama lagi😀
    ah pokok nya suka suka suka😀

  3. aahh so sweet ^^
    aku suka percakapan mereka waktu di apartement hyukjae.🙂 dan bersyukur nggak jadi putus lagi. terima kasih eonnie sudah bikin aku senyum2 sendiri bacanya di bag akhirnya.
    eh…kirain bakal sampai hari pernikahannya, ternyata nggak. tapi aku suka..suka banget malah.
    trus awalnya scene terakhir yg Hyukjae masak buat Yoo itu aku kirain 2 bulan kemudian, soalnya nggk baca two month ago nya…makanya rada2 bingung. eh ternyata itu dua bulan sebelumnya, saat hyukjae ngelamar si Jiyoo..😀
    ..
    terakhir, aku akan sangat senang kalau eonnie bisa post cerita2 jihyuk lagi kayak dulu. Old stories yg belum selesai boleh juga kok … hehehe😀
    tetap semangat menulis, eonnie ^^

  4. Hem…
    Entah kenapa galaunya kurang lama. Hahahahaha *saya gila*
    Lagi doyan banget galau. *curcol*

    Tapi bahagia krn mereka akhirnya tidak jadi putus dan tetap menikah. Oohh… Kisseu kisseunya jd obat.
    kkkkkk
    Kembali bersatu.

    Bikin lagi dong shella. hahahahaha
    ^^

  5. kakak mah pinter buat cerita putus2 gitu
    hahahahahaha walaupun happy ending
    suka banget lihat hyuk menderita
    hwahwahwahwa
    tunggu next projectnya

  6. huduuuhhhhh ademmmm *berasa di kutub/so cool hehheheehehe, entahlah mau muji gimana lagi kalaau ada kata yg lebih dari bagus aq pake kata itu deh,

    “Di antara cerita itu, saya baru sadar ada naskah lain yang ceritanya mirip sama ini; lagi-lagi putus. HAHAHAHAHA..” sepertinya ini projek yg terbit bulanan itu ya unn, hehehehehe demi apaaaaaa masih gantungan tuh unn beneraannnn,,, oh ya kalupun ada kesibuknn lain yg diprioritskn sebaikx gantungn aja dulu projekx heheheehe unn wisudhan tahun ini kan,,,, makanya buru buru nikah(?),kkkk

    • Aduuuuuhh tilimikiciiiiih… kalo ada kata yang lebih imut dari itu pasti aku pake deh.❤
      Oh bukan, itu bukan Another You. Hihihi.. sebenernya naskah itu naskah spesial ulang taun, aku lupa deh ulang taun si jiyoo apa hyukjae, pokoknya intinya putus gituh. Hahaha..

      • huuaaaaawwww melon lagi melon lagi, tapi semangka segeerr juga unn boleh dicoba tuh buat pasangan melon ini ..kkkkkkkkk

  7. Kangen bingittt sama couple ini,,,😀
    pas lagi seru” nya baca ff eh tiba” jiyoo minta putus ah berasa kesamber petir klo kata hyukjae “sakitnya tuh disini #smbilnunjukdada”
    Tapi akhirnya couple ini tetep bersatu syukur lah…
    Tapi eonn berasa ada yg krg dsini ? kaya nya tingkah jiyoo dan feel nya ke hyukjae jadi kurang greget nih eon..

    Buat karya” selanjutnya selalu dtunggu… :’)

    • HAHAHAHA coba si hyukjae ada scene nyanyi lagu itu ya. xD
      Ah kamu bisa aja ngebaca feeling authornya hahaha.. diakui sekali, kehilangan cara buat nulis kaya dulu. Feelnya suda banyak berubah, masih tahap penyembuhan (?)

  8. Akhrnya…dtngguin lnjutanya bru publish…^^
    pnsaran gmn endingnya dan trnyta tdk prnah mngecwakan…happy end^_^
    Klo bca ff jihyuk tuh bneran cmburu stengah mati sma jiyoo.coba klo ada cwo kyak hyukjae yg cinta stengah mati k jiyoo.knytaanya..aq blm nemuin cwo kyak gtu…hiks…hiks…
    Mskpun dikit tpi sykur suami aq nongol juga…kyu oppa…^^
    gpp kbgian dikit yg pnting ada hehe…
    Dtnggu karya2 slanjutnya ya…suka kangen sma couple ni klo lma g publish…
    keep writing and fighting…^^

  9. suka banget pas mrk balikan lagi, apalagi pas jiyoo ngelamar hyukjae (?) hahahaXD
    keep writing yaaa.. selalu aku tunggu2 cerita2nya😀

  10. alhamdulillah ~ jadi kawin~ jadi kawin~~ jadi kawin~~~ ahahahaha aku udah ketar ketir mereka gak jadi nikah waktu baca ini. ehhh syukurlah, di akhir akhir jiyoo sadar aahahaha yeay!!

  11. Jd gara” neneknya sakitt, whahahha. kirain dia Dae suka Yoo terus kabur gra” g mau liat JiHyuk nikah, bwahahahaha😀
    Astaga, baikan’y itu lohhh, ngalir gtu aja, mereka itu … selalu brbda dngn yg lain :* aw

  12. Jd gara” neneknya sakitt, whahahha. kirain Dae suka Yoo terus kabur gra” g mau liat JiHyuk nikah, bwahahahaha😀
    Astaga, baikan’y itu lohhh, ngalir gtu aja, mereka itu … selalu brbda dngn yg lain :* aw

  13. Putus nyambung, putus nyambung putus nyambung. Sekarang putus, besok nyambung laki. Wkwkwkwk… Kangen gw ma ni couple. Untung aja ni twoshoot, jadi gw nggak lama-lama galau. Kekeke…

  14. You know, She…aku nunggu banget moment kissing sepasang kekasih ini entah mengapa, dan kamu mengabulkannya! Kyaaaaaaa!!!!!!! *jejingkrakkan*❤ :-*

    Judul yang kamu ambil dengan isi dari tulisan bener-bener cucok. Mereka tuuhh yaaaaa macam ga bisa dan ga mampu untuk memisahkan diri satu dengan yang lain. Udah jadi perpaduan yang pas, tepat. Cintah banget dah amah inih kopel❤❤❤

    Keep writing and fighting, She! ^^9
    Ditunggu karya-karyamu berikutnya🙂

    • Hihihi.. im still trying how to write the good (?) kissing scene. >< kayanya semacam kehilangan kemampuan buat itu, ato emang belom ada? Hahaha..
      Blending bener2 jadi kata yang pas menjelang nikahan. \o/
      Terima kasyih banyak syuda baca!❤

  15. tuhkan tuhkaaan akhirnya balikan dan semoga ngga ada kata2 ‘putus’ lagi deh :”) jiyoo-hyukjae itu kopel yg paling ga bisa pisah lama wkwkw syukaaakkk :3
    karya yg lain ditunggu yah kaak ^^

  16. Kau bukan sebuah pilihan tapi kau sebuah keharusan…. Ayaaaaaaay keren banget itu kata2nya °\(^▿^)/°

    Salut bgt deh sm yoo yg kuat ngadepin hyuk jae yg suka nyampingin janjinya apalg ini ttg prnikahannya.. Huft

    Klo buat aku mah tetep hyuk jae yg punya kesalahan bukan yoo *maksa*

  17. Annyeong…

    Aq bukan reader baru juga sieh… cuma ga pernah komen aja sebelumnya..mian
    Suka banget ama penggambaran karakter mereka pas gitu… ga berlebihan… kan nobody’s perfect gitu…hehe
    Trz jarang nemuin cerita ff yg tentang persiapan wedding kayak gini… ribet2 nya and dll….

    Hyuk nya sweet bgt ya nyepet2 Jiyoo nya,hhaha*apa ini deh…
    Truz quotes nya itu loh keren… yang bukan pilihan tapi suatu keharusan… (>_<) kereeeennn… bgt

    Ditunggu next ff ya… semangath thor,hehehe…

  18. Authorrr anyeong aku readers baru di blog muuu hehehe ceritanya bikin degdeggan nihhh cemas takutnya mereka putus gitu aja tapi ternyataa enggaa :’D

  19. Duh jd ngeri ya sama sindrom pra nikah. Emang sih belum pernah ngerasain sindrom itu, mgkn 1 atau 2 thn lg wkwk. Tp jgn sampe deh ngalamin itu apalagi smpe break kaya pooyoo gitu. Ceyeeeem😄

  20. Omooo uda lamaaaa banget g maen kblog km eonn..
    Ini maniss bangett bikin melting, dan emang bener kta org tua2 klo pernikahan uda deket pasti ada aja cobaannya,!!!
    Sukaaa bgt sma scene2 dmn jiyo sma hyukjae nyiapin pernikhan mereka, suka sama cara mereka saling memahami berasa real bg mereka.
    Dan lagi disini hyukjae bener2 jadi calon suami idaman bgt wlupun nyerahin smua kputuzan persiapan sma jiyoo tp dia tetep berusaha terlibat ditengah kesibukan dia. Hyukjae maniss dan romantisss bgt disini.
    Eonni yaa daebakk..

    Dan epilognya menambah ke meltinganku sama hyukjae dan jiyoo, ini kalimat yg aku suka wkt hyukjae ngelamar jiyo “aku ingin menikah, terutama denganmu. Dan lagipula kau sama sekali bukan pilihan, kau adalah keharusan” siapaa cobaa yg bisa nolak lamaran kyk gt eonnn..
    Omooo pengen suamii seromantisss hyukjae *eh
    Makasih eonni ud post ff lagii🙂
    Fighting

    • Oh haloooooo~~ \o/
      Semoga kita dapet suami macem hyukjae yaah, yang gak macem2, cukup satu macem ajah: Hyukjae.. Hahahaha
      FIGHTIIIING!! Terima kasyih juga buat kamu, suda menyempatkan kembali berkunjung.❤

  21. ‘Kau adalah keharusan’ /desinggg/ tendang in hyukjae aja nih. Gombalnya kena banget pantes si yoo mau mau aja di ajakin nikah. Ceritanya narik ulur banget perasaan banget. Mau nangis sampe kesel juga. Ah si kunyuk ganteng kamu nikah nya ngenes bget cuma di fiksi. Cari yg beneran kek

  22. baper terus bawaannya kalau baca ff mereka:’)
    dan seperti biasa, its a great fanfiction. always.
    feelnya dapet bgt (sampe kadang aku gemes sama mereka><), konfliknya well kadang bwt aku frustasi juga & terlebih bahasa & kata"nya itu bagussss.
    daebak bgt:D
    tapi jangan sering" galau kak. pingin deh ff mereka dari awal sampe akhir manis" terus, gak ada putus nyambungnya *plak
    pokoknya keep writing terus kak:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s