Another You [Chapter 2]

1533389_644530505593538_1457742494_n

Chapter 2

Another life, another feeling…

Ketika ia tak merasakan hal yang sama…

Choi Jiyoo duduk diam di depan monitor PC yang menyala. Kursor di hadapannya berkedip-kedip, menanti untuk digerakkan. Seharusnya Jiyoo mengerjakan lanjutan naskah webcartoon yang dijanjikannya akan selesai malam ini. Ia harus mengetik. Apa pun, segera. Namun, gadis itu bahkan menolak untuk sekedar berpikir.

Pandangannya kosong, masih tertuju ke layar yang juga tampak kosong. Peristiwa di apartemen Daehyun terlalu menyita perhatiannya, seakan-akan hal itu adalah penentu masa depannya padahal sudah jelas bahwa pekerjaannya sebagai penulis naskah webcartoon adalah satu-satunya masa depan yang dimilikinya saat ini. Secara jelas, lelaki itu bahkan tak berarti apa-apa baginya. Jiyoo menyadari hal itu, tapi nuraninya berkhianat.

Jika lelaki yang ditemuinya di apartemen Daehyun tak berarti apa-apa, lalu mengapa dadanya terasa sesak?

Jiyoo menggigit bibirnya kuat mengingat kejadian di apartemen Daehyun. Malam itu, ia menangis sesenggukan, tersedu-sedu seperti anak kecil hingga Kyuhyun kebingungan. Temannya itu panik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Jiyoo benar-benar kacau. Malam itu, jantungnya terasa diremas-remas oleh sesuatu yang kuat. Dan sejujurnya, Jiyoo tak bisa memikirkan hal lain selain lelaki itu sebagai penyebabnya.

Tapi, ia tak mengingatnya.

Jiyoo sadar, sangat sadar bahwa lelaki itu adalah orang asing. Sepenuhnya sekedar orang asing. Hanya saja, nurani dan tubuhnya menyangkal akal sehatnya. Lelaki itu sendiri tak menunjukkan tanda-tanda yang sama dengannya, seolah-olah hanya Jiyoo yang menderita oleh perasaan aneh ini. Mau tak mau, Jiyoo mengira dirinya yang salah dan terlalu banyak berimajinasi, padahal lelaki itu hanya melihatnya sebagai orang asing. Jiyoo ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding atau batu marmer sekalian. Ia harus menyalahkan setiap organ tubuhnya yang bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang tak penting.

“Tak penting?” Jiyoo bertanya pada dirinya sendiri. “Benarkah?”

===

“Jangan menatapku seperti itu!”

Angela berseru, mengingatkan lelaki di hadapannya untuk bersikap lebih wajar. Namun, Angela tahu ucapannya hanya akan dianggap sebagai angin lalu. Ia bisa melihat Spencer justru tersenyum jahil dengan kedua mata onyx yang bersinar jenaka. “Aku suka melakukannya.”

“Tapi aku tidak suka.”

“Kau akan menyukainya,” sahut Spencer sekenanya. Ia mengamati senyum samar yang ditunjukkan oleh Angela. “Kau pernah melihatku tersipu?”

Angela mengerutkan kening, mencoba berpikir kemudian mengangguk. “Hm. Seperti sekarang. Kedua pipimu merah.”

Jawaban Angela membuat Spencer buru-buru menyentuh kedua pipinya sendiri. Lelaki itu berdeham salah tingkah. Biasanya, ia yang selalu membuat para gadis merona merah dan bukannya sebaliknya seperti ini. “Aku akan membuatmu begitu.”

“Apa?”

“Aku harus melihat rona merah muda di wajahmu. Kira-kira apa yang harus kulakukan?”

Angela tersenyum tipis, nyaris muram. “Tidak ada. Kau tidak akan bisa melakukannya.”

“Aku belum mencoba.”

“Tidak perlu,” ujar Angela meyakinkan. Ia melihat kebingungan di wajah Spencer yang kesekian kalinya. Tentu saja, ia kembali mengabaikannya untuk yang kesekian kalinya pula. Angela melirik Spencer dan diam-diam mencoba memendam kekecewaannya.

Tiap Spencer menunjukkan respon manusia, tiap saat pula Angela memberikan petunjuk bahwa semua hal yang manusiawi sama sekali tak akan terjadi padanya. Tak ada hal manusia yang cocok dengan keberadaannya. Angela tak memiliki jantung yang berdetak tak teratur ketika Spencer di dekatnya. Tak ada pula pembuluh darah yang akan membawa darah menuju wajahnya untuk menunjukkan rona merah ketika Spencer tersenyum padanya.

Angela bukan manusia. Ia juga bukan malaikat. Ia bukan siapa-siapa.

Pandangannya tertuju ke langit. Awan-awan putih yang tampak lembut menghalangi matahari. Di salah satu awan itu, Angela memiliki dunianya sendiri. Makhluk langit hidup di sana dan sudah seharusnya Angela juga berada di sana, bukannya di bumi. Seharusnya Angela bersama kaumnya sendiri, dan bukannya bersama manusia ini; manusia pertama yang benar-benar memberanikan diri untuk mengetuk, menghancurkan dinding pertahanannya hingga tak ada lagi yang tersisa.

Spencer belum sadar bahwa ia tak sedang bergaul bersama manusia. Angela mengatupkan rahang. Jika lelaki itu tahu bahwa Angela bukan manusia, melainkan hanya sekedar makhluk penghuni langit, mungkinkah lelaki itu masih tetap berada di sini?

Angela sudah bisa menebak jawabannya. Tidak. Sudah pasti tidak. Kedudukannya sebagai penghuni langit lebih rendah dari malaikat, apalagi dari manusia. Bahkan, Angela yakin, Skylivian lebih rendah daripada anak-anak Nephilim (setengah manusia-malaikat). Ia nyaris mendesah berat. Ia tak pernah benar-benar menyesali kedudukan Skylivian, tak sedetik pun hingga saat ini. Dan ia tak ingin melakukannya.

Karena Skylivian adalah kaum yang beruntung, terselamatkan dari Kegelapan dan bertugas sebagai pelindung.

“Wajahmu begitu lagi,” tegur Spencer. Angela menatapnya dan ia menirukan ekspresi gadis itu.

“Wajahku tidak seperti itu.”

“Oh, iya. Wajahmu memang seperti itu.”

Angela mengerucutkan bibir hingga Spencer tertawa karenanya. Keduanya duduk di tepi kolam tempat kediaman Spencer. Seluruh sisi kolam itu dihiasi bebatuan abu-abu yang mampu memantulkan sinar matahari hingga bebatuan itu tampak berkilau. Entah bagaimana dan kapan, tempat itu menjadi sudut kesukaan keduanya. Pun dengan kebersamaan keduanya. Tak ada yang sadar dan memahami bagaimana hubungan itu dapat terbentuk.

Spencer terus mengikuti Angela sejak pertama kali bangsawan itu melihatnya. Ia mencoba merebut perhatian gadis istimewa itu. Spencer mencatat bahwa gadis itu menyukai buku karena ia selalu berada di salah satu toko buku pusat kota dalam waktu yang lama. Angela juga menyukai tanaman; bunga, rumput liar, pepohonan. Spencer mengetahuinya ketika Angela selalu menunjukkan senyuman hangat di taman dan toko bunga.

Segala kebiasaan gadis itu menjadi sesuatu yang dihapal oleh Spencer. Bahkan, segala kebiasaan Angela membawa Spencer pada kebiasaan dan hobi yang baru. Spencer yang menyukai buku menjadi lebih menyukai buku. Spencer yang agak mengabaikan pepohonan menjadi seseorang yang lebih memperhatikan kebun di kediamannya. Angela mengubahnya. Spencer sendiri tak sanggup menyimpulkan apakah perubahan itu disebabkan oleh Angela atau dirinya-lah yang ingin menjadi bagian dari kebiasaan dan hobi gadis itu.

Hingga pada suatu hari, Angela menghampirinya. Gadis itu menggigit bibir dan bertanya, “Kenapa… kau mengikutiku?”

“Aku ingin mengenalmu,” ucapnya.

“Kau sudah mengenalku. Namaku Angela. Dan kau… hm… Spencer, bukan?”

“Aku ingin berbincang-bincang denganmu,” ujar Spencer.

Angela, ketika itu, memiringkan kepala. Raut wajahnya tak bisa ditebak. Gadis itu seolah mempertimbangkan untung-rugi atas keinginan Spencer. Namun kemudian ia mengangguk. “Perbincangan macam apa?”

Spencer berseru dalam hati, ‘Apa saja! Apapun yang berkaitan denganmu, hal-hal remeh yang bisa kutertawakan bersamamu. Sungguh. Apa saja.’

“Hal-hal yang kau suka, yang tidak kau suka…” jawabnya.

Angela menggelengkan kepala. “Aku ingin membicarakan hal lain. Kau, kehidupanmu, apa pun tentangmu.”

Spencer tersenyum puas dan mengangguk setuju. Ia mengabaikan tatapan penuh selidik milik Angela. Ia tak tahu jika gadis itu ingin mempelajari manusia yang ada di bumi. Ia tak tahu bahwa dirinya sudah membuat Angela sedemikian penasaran karena tingkah lakunya pada gadis itu sebelumnya. Ia tak tahu dan tak memahami apa yang diinginkan oleh gadis itu. Spencer hanya tahu bahwa ia memiliki kesempatan dan waktu lebih banyak bersama Angela.

Hanya itu. Sederhana dan naif. Namun, terasa begitu berharga dan tak tergantikan.

The next day – Daehyun’s dorm

Jung Daehyun beringsut dari ranjangnya, menyingkap selimut kemudian memeriksa ponsel. Tiga pesan dari atasannya. Ia menggerutu tanpa suara. Seingatnya, hari ini adalah hari yang lengang karena kegiatan editing Zone –majalah yang diterbitkan kantornya- untuk edisi minggu ini baru saja rampung. Hanya saja, atasannya, yang merupakan editor utama dan senior itu, memang tak mungkin membiarkannya memiliki waktu senggang.

“Padahal aku harus mencarikan tempat untuk Jiyoo,” gumamnya. Daehyun melemparkan ponselnya ke ranjang dan berjalan gontai menuju kamar mandi.

Daehyun membutuhkan waktu 20 menit –kurang lebih- sebelum bersiap-siap melangkah keluar dari apartemennya untuk, berdasarkan istilah yang diciptakannya sendiri, menghadapi dunia. Dengan mengenakan ransel di salah satu bahunya, ia menutup pintu berhiaskan plakat kayu 303 dan bersenandung ringan menuju elevator.

“Tunggu!” Teriakan asing itu menahan Daehyun. Kakinya terjulur di tepi pintu elevator, menahan pintunya agar tak tertutup. Daehyun memperhatikan si pemilik suara yang tadi berseru padanya. Seorang lelaki, mungkin dua-tiga tahun lebih tua daripada dirinya. Rambutnya lurus dan pendek, warna rambutnya seperti kulit kayu; cokelat-gelap. Ia mengingat lelaki ini sebagai lelaki yang ditemuinya semalam, tetangganya. “Terima kasih,” ujarnya selagi Daehyun mengamati.

“Sama-sama.”

Daehyun membiarkan si orang asing menekan tombol 1. Tujuannya sama. Kedua matanya menemukan tanda pengenal Zone terselip di saku celana lelaki itu. Daehyun mencoba mengingat-ingat, namun ia memang tak pernah melihat lelaki itu di kantornya.

“Aku tinggal di 304,” ujar lelaki itu. Sepertinya Daehyun tak perlu repot-repot membuka percakapan. “Namaku Lee Hyukjae.”

“Jung Daehyun. 303,” jawab Daehyun. Ia berdeham. “Itu… apa kau bekerja di Zone? Aku melihat tanda pengenalmu.”

Hyukjae mengerjap kemudian mengangguk. “Benar. Aku baru bekerja di sana. Aku juga baru 2 hari berada di Seoul.”

“Begitu,” gumamnya pelan. “Aku adalah asisten editor di sana. Kau?”

“Oh, aku fotografer.” Hyukjae memamerkan kamera yang tergantung di lehernya. Kamera itu adalah kamera pertama yang berhasil dibelinya dengan menabung selama kuliah. Walaupun bukan kamera mahal model terbaru, Hyukjae menyukai hasil jepretan Nikon hitamnya. Begitu pula atasannya, yang menerimanya berdasarkan beberapa potret yang dikirimkan oleh Hyukjae.

Daehyun langsung teringat temannya, Jiyoo. Jika gadis itu diterima di tempatnya bekerja, ia akan berada di sekitar tetangga barunya ini. Koneksi, Daehyun berpikir lega. “Senang berkenalan denganmu!”

“Ini meja kerjamu,” ujar seorang lelaki muda yang mengantar Hyukjae berkeliling gedung. Ia tersenyum jahil. “Walaupun kau akan jarang berada di meja ini, kurasa kau tetap ingin tahu dimana mejamu, kan?”

Hyukjae mengangguk dan balas tersenyum ringan. Mejanya mungil, dengan seperangkat komputer memenuhi sebagian ruang di atas meja. Hyukjae nyaris yakin ia tak akan bisa menambahkan lebih banyak barang lagi di atas mejanya. Toh, seperti kata teman barunya itu, ia akan jarang berada di meja ini. Ia fotografer yang akan lebih sering berada di luar kantor.

Lelaki yang tadi mengantarnya –Hyukjae sendiri sudah lupa siapa namanya- meninggalkan Hyukjae dan berpindah ke meja lain milik seorang wanita muda. Akhirnya, waktu pribadi untuknya. Hyukjae meletakkan kameranya dengan hati-hati di atas laci di samping meja kerjanya. Ia sendiri duduk santai di kursinya yang bisa berputar. Jika segalanya berjalan dengan baik, sesuai ucapan redakturnya, Hyukjae akan menjadi fotografer di edisi minggu depan. Sebelum itu terjadi, ia benar-benar menganggur. Setidaknya itu menurut Daehyun.

Hyukjae berpisah dengannya di depan ruangan editor utama. Daehyun harus lebih dulu menghadap bosnya hingga ia membiarkan Hyukjae menemukan ruang kerjanya sendiri. Hyukjae tak keberatan. Ia tak bisa merepotkan semua orang yang baru dikenalnya, jadi ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri.

Ruangan kerjanya berisi meja-meja kerja lain, tempat orang-orang lain yang akan bekerja sama dengannya. Hyukjae memperhatikan sekeliling. Meja kerjanya berada di sudut ruangan. Di depannya, ada meja kerja lain yang masih kosong sementara di sampingnya, ada jendela besar yang berderet sepanjang ruangan, menunjukkan pemandangan lantai lima gedung Zone. Hyukjae menghitung setidaknya ada 5 orang termasuk dirinya di ruangan ini.

Dan, jika meja di depannya ini terisi, sepertinya akan ada total 6 orang yang akan berada di ruangan tim kreatif.

Denting singkat dari ponselnya membuat Hyukjae merogoh saku celananya. Sebuah pesan singkat membuat Hyukjae terdiam. Sensasinya masih sama; seperti ada yang membebani dadanya tiap ia menerima pesan dari Saera. Mantan kekasihnya itu tak pernah benar-benar menganggap hubungan keduanya telah berakhir. Tadinya, Hyukjae tak keberatan. Toh, ia sendiri menganggap Saera sebagai teman baik, sebelum atau sesudah keduanya berpisah. Namun belakangan ini, ia tak ingin gadis itu terus-menerus berharap padanya. Hyukjae paling takut menyakiti Saera.

[Minggu depan aku akan ke Seoul!]

Hyukjae merasakan tarikan napasnya yang berat. Tanpa minat, ia menggerakkan jemarinya di atas layar sentuh ponsel. Hingga pesan itu terkirim, Hyukjae memandangi potret dirinya dan Saera yang masih terpasang di layar kemudian ia mendesah berat dan mematikan ponselnya dengan cepat.

[Minggu depan aku mulai sibuk. Bermainlah dengan Donghae.]

Gedung Zone Publisher itu tampak seperti raksasa yang tinggi di hadapan Jiyoo. Gadis itu menghalau cahaya matahari dengan salah satu tangannya demi melihat puncak gedung Zone. Kedua matanya mengerjap, menunjukkan bahwa ia cukup gugup dengan hanya berdiri di depan pintu masuk gedung ini. Pintu masuknya dihiasi oleh kaca hitam besar yang dibingkai kayu jati serta knop berwarna emas. Jiyoo masih enggan untuk melewati pintu itu.

“Datang ke kantorku sekarang.” Daehyun berkata –mengetik– demikian padanya.

Jiyoo sama sekali tak siap. Setidaknya, ia tak siap dengan penolakan yang, nyaris dua ratus persen, akan menyambutnya. Tapi kemudian ia berpikir, tak mungkin Jung Daehyun memintanya datang ke kantornya bila ia hanya akan ditolak, bukan?

Lain halnya jika Jung Daehyun hanya sekedar mempermainkannya. Jiyoo menyipitkan mata memikirkan kemungkinan yang satu itu. Teman kesayangannya benar-benar akan tamat jika berani membuat lelucon seperti ini. Jiyoo bahkan sudah meninggalkan pekerjaannya di depan monitor. Ia tak lagi memikirkan naskah webcartoon yang diminta salah satu teman dan rekan kerjanya.

“Masa bodoh,” gumamnya sebelum mendorong pintu masuk Zone.

Jiyoo melangkah ragu menuju meja resepsionis dan membiarkan seorang wanita muda mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jiyoo menebak-nebak mungkin wanita itu sedang mencari tahu model kemeja dan merk sepatu kets sederhana yang dikenakannya. Wanita itu sendiri berambut lurus sebahu dengan warna cokelat terang yang ditata rapi membingkai wajah lonjongnya. Dari tempat Jiyoo berdiri pun, ia bisa menghirup aroma manis dari wanita resepsionis ini.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya wanita itu.

“Ya, aku diminta untuk datang ke sini oleh Jung Daehyun,” jawab Jiyoo.

Raut wajah wanita di depannya agak berubah ketika mendengar nama Daehyun. Wanita muda itu merona, mengulum senyuman tipis. Mau tak mau, Jiyoo menebak-nebak sudah menjadi sepopuler apa temannya itu di tempat ini. Terakhir kali Jiyoo mendapat reaksi seperti ini adalah saat ia di kampus dan berurusan dengan para teman wanita Jung Daehyun. Senyum yang tertahan, kedua pipi merona, dan sorot mata yang berubah ramah. Jung Daehyun benar-benar…

“Yoo!” seruan yang dikenal Jiyoo membuatnya berbalik. Jung Daehyun melangkah ke arahnya dengan cepat. “Ayo ke atas.”

“Apa– kenapa?”

Daehyun mengerling –pada wanita resepsionis- kemudian merangkul tubuh Jiyoo santai. “Temui bosmu.”

“Memangnya aku–“

“Diterima?” ulang Daehyun seraya menjaga agar Jiyoo tetap berada di sampingnya. “Ya. Aku baru saja menanyakan nasib lamaranmu pada bagian HRD. Hanya saja–“

“AYO CEPAT KITA KE ATAS!”

Daehyun mengamati temannya dan menunggu. Ia ingin bersuara, tapi tak menemukan kata-kata yang tepat untuk berbicara pada Jiyoo. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, menimbulkan suara ketukan teratur yang membuat Jiyoo melirik tajam ke arahnya hingga seketika ia berhenti bergerak. Gadis itu tak berkomentar apa pun, memang, tapi Daehyun merasa seperti sedang berhadapan dengan singa yang marah.

“Dengar, ini–”

“Copywriter, Jung Daehyun, aku tahu.”

“Bukan, itu–“

“Sudah, diam.” Jiyoo memerintah dan temannya menuruti, seperti biasa.

Seharusnya ia senang, ia tahu. Bersyukur, pastinya. Tapi Jiyoo hanya mengerjap berkali-kali, menatap kosong ke permukaan meja kayu tanpa benar-benar memperhatikan apa pun yang ada di sana. Daehyun menunggu gadis itu sambil menggigit bibir, khawatir. Ia kira temannya itu akan senang –sejujurnya, ia lebih menyukai pekerjaan semacam ini dibandingkan dengan pekerjaan yang sama sekali bertolakbelakang dengan Jiyoo.

“Baik, oke.. jadi, apa pekerjaannya?”

Daehyun menatap Jiyoo dengan hati-hati dan menjawab, “Jadi, sebagian besar urusanmu adalah dengan para klien, dalam hal ini, para pemilik studio atau butik atau siapa pun yang mengurus masalah teknis dengan kantor kita. Ah, dan kurasa, kau akan ikut dalam setiap pemotretan, menjadi semacam penggagas konsep?”

“O…ke. Baiklah.”

“Kau masih belum mengerti atau…”

“Aku bingung, oke!? Yah… tentu saja aku senang kau memberitahuku soal ini, sebelum aku menghadap pimpinan dan melongo seperti orang bodoh,” ujar Jiyoo cepat. “Copywriter… kedengarannya seperti pekerjaan penting.”

Daehyun mengangkat bahu. “Memang.” Lelaki itu menarik napas dengan gaya berlebihan. “Dan ada beberapa hal yang harus diralat.”

Jiyoo memiringkan kepala. “Apa?”

“Pertama, kau harus menghadap pimpinan tim kreatif, bukan pimpinan kantor ini secara harfiah,” jawabnya. “Kedua, bukan copywriter, tapi asisten copywriter senior.”

Hyukjae bersandar di kursinya, menebar anggukan-anggukan kecil pada semua orang yang bertatapan langsung dengannya. Orang-orang ini akan sering bersama dengannya dalam banyak rapat, sesi pemotretan di luar kantor, semuanya. Hyukjae merasakan antusiasme yang aneh memenuhi perutnya, membuatnya bersemangat. Ia bertemu team leadernya –Hyukjae yakin ia mengingat nama orang itu sebagai Kim Heechul. Usianya mungkin tiga tahun atau lebih di atas Hyukjae, tapi ia bisa melihat bagaimana Kim Heechul itu berpenampilan lebih muda, bahkan daripada dirinya.

Kim Heechul memiliki tubuh tinggi, tegap namun di saat yang bersamaan, anggun. Lelaki itu berambut merah, dipotong pendek dengan gaya menyerupai idola televisi. Hyukjae bisa melihat bahwa pimpinannya ini cukup tegas dan santai yang, entah bagaimana, tampak secara bersamaan pula. Ia heran bagaimana dua hal yang sangat berbeda bisa begitu saja terlihat wajar melalui sosok Kim Heechul itu.

Hyukjae mendongak ketika kepala merah Heechul muncul di ujung koridor tak berpintu. Ia belum terbiasa dengan kepala merah menyala yang tampak mencolok di ruangan ini. Rasanya ia sendiri tak yakin bisa membiasakan diri cepat-cepat. Ia menemukan kesulitan untuk mengalihkan perhatian dari si eksentrik Kim Heechul.

Alisnya terangkat. Hyukjae buru-buru meralat pikirannya. Ketika kedua matanya menangkap sosok gadis mungil di samping Heechul, ia bisa langsung berpaling, memindahkan seluruh fokusnya yang tadinya terpusat pada Kim Heechul ke si gadis. Hyukjae mengenali gadis itu sebagai gadis elevator, gadis yang mengembalikan kunci apartemennya yang entah terjatuh dimana. Jika ia tak salah mengingat, gadis itu juga sempat memberikan tatapan aneh padanya semalam, yang membuat Hyukjae berpikir sepanjang malam tanpa pernah berhasil mendapat  alasannya.

Hyukjae tak bercanda ketika ia memindahkan seluruh fokusnya pada gadis itu saat ini. Ia benar-benar mengamati segalanya. Hari ini, rambut panjang gadis itu diikat satu, menyerupai ekor kuda yang ujung-ujungnya berkali-kali menyentuh tengkuk si gadis ketika ia bergerak. Helai-helai pendek yang luput dari kunciran membingkai wajahnya yang bulat. Warna hazel gelap masih di sana, menghiasi kornea mata gadis itu. Hyukjae mengamati ketika si gadis membuka mulut, menanggapi beberapa ucapan Heechul sambil tersenyum santai. Gadis itu… cantik.

Ketika gadis itu berdiri berdampingan dengan Heechul, ia kelihatan… mungil. Hyukjae mengerutkan kening. Padahal, sepanjang ingatannya, gadis itu tak terlalu pendek. Hyukjae jadi ingin segera membandingkan, mencari tahu seperti apa perbandingan antara dirinya dan gadis itu jika mereka berdiri bersisian.

“Perhatian!” Heechul berseru sambil menepuk tangan satu kali. Ia berdiri di tengah ruangan sambil meletakkan telapak tangan kanannya, Hyukjae mencatat, di punggung gadis itu. “Ini Choi Jiyoo, asisten copywriter yang baru.” Ia melanjutkan, “Copywriter kita, Bang Yongguk, sedang berlibur hingga minggu depan, jadi kau bisa menyapanya nanti setelah dia kembali,” ujar Heechul, jelas-jelas hanya sedang bicara pada gadis itu.

Choi Jiyoo, gadis itu, mengangguk dan membungkuk untuk menyapa semua orang di ruangan. “Selamat pagi, semuanya! Namaku Choi Jiyoo.”

“Hai!” Semua orang, kecuali Hyukjae, balas menyapa si pegawai baru.

Hyukjae masih memperhatikan Jiyoo, berharap gadis itu akan menyadari tatapannya. Ia bukannya ingin sok kenal dengan Jiyoo. Bukankah akan lebih menyenangkan jika memiliki orang yang tak asing denganmu di tempat asing? Hyukjae pikir gadis itu juga pasti berpikir demikian.

“Hai,” sapa Hyukjae ketika Jiyoo tak juga melihat padanya. Gadis itu sedang melangkah ke meja kosong di depan meja Hyukjae, tempat yang sejak tadi diperhatikan Hyukjae.

Jiyoo mendongak, menatap Hyukjae sambil mengerjap. Raut wajahnya menegang sesaat, kemudian berubah menjadi senyuman kecil. “Kita pernah bertemu sebelumnya.”

“Semalam,” ralat Hyukjae. “Aku Lee Hyukjae, fotografer di tim ini.”

“Hai,” Hyukjae bisa melihat Jiyoo yang menggigit bibir dan mengintip Nikon hitam miliknya. Jiyoo sendiri sedang meratapi diri karena ia tak memiliki kamera seperti itu. Rasanya cukup tepat bila bukan dirinya yang menjadi fotografer di sini, pikir Jiyoo. “Aku… yah, kau sudah tahu namaku dan pekerjaanku di tim.”

Asisten copywriter bukan sebuah pekerjaan yang pernah dibayangkan oleh Jiyoo. Pekerjaan itu sama sekali tak terlihat atau terdengar mudah. Jiyoo berusaha mencari tahu banyak hal tentang pekerjaannya. Dan, ia menemukan bahwa Daehyun sudah menjelaskan apa-apa saja yang harus dilakukannya dalam tim secara garis besar.

Tapi tetap saja, segala sesuatu yang asing sama sekali tak menyenangkan.

Jiyoo berusaha menahan desahan napasnya yang berat. Ia melirik ke samping, tempat Hyukjae duduk di depan komputernya sendiri. Bicara tentang hal asing, Jiyoo juga terkejut dengan keberadaan orang ‘asing’ itu –Lee Hyukjae. Rasanya hari ini Jiyoo diserang secara bertubi-tubi oleh segala hal yang asing; pekerjaan asing dan orang asing.

Setidaknya, menurut akal sehatnya, Lee Hyukjae adalah orang asing. Namun, bagi nuraninya, Lee Hyukjae terlihat akrab, terasa hangat. Jiyoo mencoba membuang pikiran itu. Ia tak mengenal lelaki itu, omong-omong. Tak ada yang akrab dan seharusnya, tak ada yang hangat.

“Kurasa hari pertama ini benar-benar hari yang santai,” suara Hyukjae mengejutkannya. Jiyoo menoleh ke arah lelaki itu. Tatapannya lurus ke monitor, sama sekali tak terarah pada Jiyoo, namun bibirnya terangkat, membentuk senyuman kecil. “Iya, kan?”

Jiyoo menelan ludah, berusaha memperlihatkan senyuman yang sama walaupun ia sendiri yakin ia baru saja menyeringai dengan menyeramkan. Syukurlah Hyukjae tak sedang menatapnya atau lelaki itu akan sangat ketakutan. “Ya, sepertinya begitu.”

“Apa… Daehyun itu pacarmu?”

“Pa– apa? Tidak! Bukan!” sergah Jiyoo cepat. Ia tak sempat merasa keheranan kenapa pula ia harus menyangkal dengan penuh semangat. “Maksudku, dia temanku.”

Jiyoo merasakan tatapan Hyukjae untuknya kali ini. Lelaki itu tampak tak peduli –toh memang seharusnya lelaki itu tak peduli, kan? Jiyoo berusaha mengendalikan diri. Ia tak pernah segugup ini jika ditanya tentang hubungannya dengan Daehyun. Biasanya ia akan menyahut asal, cenderung malas atau kadang ia hanya akan mengiyakan karena malas menjelaskan. Tapi, ini Hyukjae. Jiyoo mengerutkan kening dan bertanya pada dirinya sendiri, ‘memangnya kenapa kalau ini Hyukjae?’

“Aku tetangga barunya,” ucap Hyukjae ringan.

“Ya, aku bisa melihat itu… semalam,” jawabnya tak kalah santai. “Tapi dia memang belum bercerita tentang dirimu tadi.”

Alis Hyukjae terangkat. “Kalian sempat bertemu?”

“Di bawah. Dia mengantarku bertemu dengan Kim Heechul.” Jiyoo mengingat sosok Kim Heechul yang nyentrik dengan wajah yang tampan. Perpaduan yang aneh, sebenarnya. Hyukjae hanya mengangguk-angguk. Jiyoo bisa merasakan pembicaraan antar keduanya hanya akan berpusat pada Daehyun dan ketika tak ada lagi yang bisa dibicarakan tentang temannya itu, obrolan secara otomatis berakhir. Syukurlah.

Jiyoo bukannya tak ingin beramahtamah pada teman barunya. Ia tak bisa. Selalu ada perasaan yang mengganjal, menghalangi dirinya untuk berdekatan atau sekedar menatap lelaki asing itu. Jiyoo tak suka perasaan anehnya terhadap Hyukjae. Ia bukan tipe orang yang akan berburuk sangka pada orang baru. Hanya saja, orang baru kali ini tak terasa benar-benar baru dan Jiyoo tak mampu mengingat sekeping kenangan apa pun tentang orang baru ini, jadi ia merasa sangat… kebingungan.

“Daehyun datang,” gumaman yang cukup nyaring itu membuat Jiyoo mendongak dan menemukan temannya berjalan melewati meja-meja lain menuju mejanya. Hyukjae sendiri terlihat tersenyum ramah pada Daehyun, membuat Jiyoo bertanya-tanya sejak kapan kedua orang itu akrab, “Menjemput pegawai baru?”

Daehyun mengerutkan kening namun memamerkan senyuman jahil. “Maksudmu kau? Bukan, pegawai yang lain.”

Hyukjae tertawa –Jiyoo harus terkejut karena jarang ada yang tertawa menanggapi lelucon aneh milik Daehyun. “Aku mengerti.”

“Makan siang?” tanya Daehyun, sepenuhnya terarah pada Jiyoo. Lelaki itu mendapati temannya sama sekali tak fokus. “Halooo… Daehyun memanggil Jiyoo kembali ke bumi!”

Jiyoo terkesiap dan langsung melotot ke arah Daehyun. “Ke mana?”

“Tempat Kyuhyun. Dia makan siang di kantin. Lagi.”

“Aku bosan di sana,” gumam Jiyoo.

“Demi asas pertemanan kita?”

Kali ini Jiyoo memutar bola matanya, jengah. “Baiklah.” Ia membereskan mejanya, menjejalkan ponsel ke dalam tas slempang usangnya yang terbuat dari kain. “Gampang sekali membujukku dengan asas-apalah-itu-namanya.”

“Asas pertemanan,” ucap Daehyun membenarkan. Ia berpaling pada Hyukjae. “Mau bergabung?”

Jiyoo tersentak, nyaris menunjukkan raut tak setujunya sebelum berhasil mengatur ekspresi wajahnya. Dengan sengaja ia berpura-pura sibuk dengan laci meja sambil menunggu jawaban Hyukjae. Seharusnya lelaki itu berkata tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tapi jika lelaki itu berkata sebaliknya, mungkin Jiyoo…

“Tidak, terima kasih.” Hyukjae tak menyadari gelombang kekecewaan yang tiba-tiba menghantam Jiyoo. “Temanku akan menjemputku untuk makan siang.”

“Pacar?” Terkutuklah Jiyoo! Ia bangkit dari kursinya dan berdeham salah tingkah. Kedua lelaki itu menatapnya. Daehyun keheranan dan Hyukjae hanya, yah mungkin, sekedar menatapnya. “Maaf, itu reaksi spontan.”

Hyukjae tersenyum ramah dengan sorot mata jenaka. Untuk sesaat tadi Jiyoo merasa ingin ikut tersenyum bersama lelaki itu. “Bukan. Aku tidak suka laki-laki.”

“Syukurlah,” ujar Daehyun cepat.

Jiyoo nyaris menyikut rusuk Daehyun. Dasar pelawak tak laku! Jiyoo memaki dalam hati.

“Kau suka pekerjaanmu?”

Kyuhyun menusuk lubang di kotak jusnya dengan sedotan sebelum menyesap isinya yang berwarna merah –jus strawberry, pilihan Jiyoo untuk kedua temannya. Ia memperhatikan Jiyoo mengangguk kemudian menggeleng. Lelaki itu mengerutkan kening dan melirik Daehyun, meminta jawaban yang lebih jelas.

“Artinya,” Daehyun mengunyah kimchi pertamanya. “dia suka menjadi copywriter, tapi sekaligus tidak suka menjadi asisten orang lain.”

“Bukan!” sela Jiyoo. Gadis itu menarik napas panjang dan mengacak-acak nasinya. “Yah, maksudku, sebagian kecil memang begitu. Hanya saja, pekerjaan ini benar-benar asing, setidaknya bagiku.”

“Dan menurutmu fotografer sama sekali tidak asing bagimu?”

Skak mat! Jiyoo merutuk. Siapa sih yang memilihkan Cho Kyuhyun yang pintar sebagai temannya? Ia meletakkan mangkuk nasinya. “Itu juga asing, tapi–“

“Ya sudah. Kasus ditutup. Kau bisa belajar pekerjaan yang asing ini dengan antusiasme yang sama dengan mempelajari fotografer,” sahut Kyuhyun santai. Ia seolah tak melihat awan hitam gelap yang menaungi satu-satunya perempuan di meja itu.

“Maksud Kyuhyun, kau–“

“Maksudku,” Kyuhyun memotong ucapan Daehyun. “semua hal asing itu bisa kaupelajari dengan sama baiknya.”

Jiyoo menggigit bibir dan mengangguk-angguk, mencoba memasukkan ucapan Kyuhyun menjadi sugesti yang menenangkan. Kyuhyun tak menatapnya. Lelaki itu sibuk menjepit kimchi dan mengunyahnya cepat. Pekerjaan sebagai asisten profesor memang menyita perhatian temannya itu hingga Jiyoo dan Daehyun harus rela mengikuti Kyuhyun hanya demi menghabiskan waktu makan siang bertiga seperti ini. Rambut ikal cokelat Kyuhyun tampak berantakan. Wajahnya cekung dan Jiyoo melihat lingkaran hitam samar yang menghiasi bagian bawah mata temannya itu. Kyuhyun tampak menyedihkan.

“Ini,” Jiyoo menjepit daging dengan sumpitnya, meletakkannya di mangkuk Kyuhyun. “Kau menyeramkan.”

“Dan hal itu diucapkan oleh satu-satunya orang yang memiliki rekor begadang paling tinggi di sini,” ujar Kyuhyun, setengah mengerling pada Jiyoo.

Jiyoo menyipitkan mata. “Terima kasih banyak.”

“Omong-omong, aku memang sudah lama tidak menikmati waktu tidur yang bahagia,” Kyuhyun menyesap jus strawberry dan mendesah lega ketika cairan itu membasahi tenggorokannya. “Profesor Shin benar-benar terobsesi dengan sejarah kerajaan Inggris, dan perang besar sebelumnya. Dan… aku benci sekali ketika dia mulai mengaitkan semua ini dengan dongeng.”

“Dongeng?” ulang Daehyun dengan mulut penuh nasi.

“Dongeng, mitos, cerita langit,” sahut Kyuhyun asal. “Tentang perang makhluk Dunia Bawah dan makhluk Penghuni Langit, dengan korban para manusia. Dan entah bagaimana, semua itu justru menjadi awal berdirinya kerajaan Inggris. Memangnya masuk akal?”

Jiyoo mengacuhkan pertanyaan Kyuhyun. Benaknya sendiri mulai berkelana, memikirkan kata-kata lain dari temannya. Penghuni Langit. Kata itu terasa aneh; akrab sekaligus asing. Jiyoo mencoba meraba-raba kata itu, mencari tepi yang mungkin dikenalnya. Tapi nihil. Ia tak menemukan apa pun.

Memikirkan kata itu sama seperti memikirkan Lee Hyukjae; tak bisa dilakukan tanpa merasa sesak.

“Kau tahu apa yang baru kubaca dari sebuah novel?” tanya Daehyun tiba-tiba. Ia tak menunggu jawaban teman-temannya. “Bahwa semua dongeng itu nyata.”

Hyukjae melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil. Kota Seoul yang begitu padat disusun oleh deretan gedung tinggi dan wilayah pemukiman kelas atas, seperti Cheondamdong. Sekilas ia bertanya pada dirinya sendiri tentang ketepatan keputusannya meninggalkan rumah dan datang ke Seoul. Hyukjae bisa saja tak akan mendapatkan apa pun dari pertanyaannya. Tak ada jawaban yang pasti. Karena semuanya masih terlihat abu-abu dan tak bisa diraba untuk saat ini.

Satu-satunya hal yang nyata baginya sekarang adalah pekerjaannya.

Publishing adalah hal yang baru bagi Hyukjae, namun fotografi bukan. Hyukjae tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Sekali pun ia tak mengerti apa-apa mengenai publishing dan segala hal-hal remehnya, bukankah sebagai fotografer ia hanya harus memiliki keahlian dengan kamera?

Hyukjae berpikir keras tentang bagaimana menghasilkan uang dan mengasah keahliannya dalam bidang fotografi di bawah naungan sesuatu yang bernama publishing. Aliran darahnya menjadi lebih cepat oleh adrenalin. Ia tak sabar melakukan semua pekerjaannya di tempat yang baru. Walaupun demikian, Hyukjae juga berpikir untuk segera menjauh dari pekerjaan  ini.

Merepotkan. Ia berpikir dua hal yang saling bertentangan sekaligus.

“Sampai!” seru Donghae dari samping. Lelaki itu tampak mengamati gedung Zone dan berdecak kagum. “Lumayan.”

Hyukjae tergelak pelan. “Tentu saja lumayan. Terima kasih sudah mengantarku!”

“Tak masalah. Hubungi aku kalau memerlukan sesuatu,” ucap Donghae. “Kau tahu, kan, aku punya mobil.”

“Iya, iya,” jawab Hyukjae sekenanya. Temannya itu, Lee Donghae, memang baru saja berhasil membeli mobil dengan hasil tabungannya selama 5 tahun. Mengagumkan, pikir Hyukjae, karena Donghae sama sekali bukan orang yang hobi menabung. Tampaknya, rengekan kekasih Donghae menjadi salah satu motivasi yang baik bagi lelaki itu.

Hyukjae memandangi pintu kaca lebar yang menjadi pintu masuk Zone. Ia menghela napas panjang. Kali ini ia harus kembali ke dunia nyata. Ada pekerjaan baru yang harus dijalaninya. Tak ada lagi waktu untuk bermain-main. Hyukjae memikirkan cara untuk pindah dari tempat ini segera setelah ia mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membangun usaha sendiri. Apa pun boleh, yang penting tetap di bidang yang disukainya.

Padahal awalnya ia tak ingin melakukan itu. Pindah kerja dan segala hal mengenai membuka usaha sama sekali di luar nalurinya. Hyukjae ingin tetap bekerja di Zone, sekali pun hanya sebagai fotografer. Namun, ada sesuatu yang membebani pikirannya. Sangat mendadak, seperti ledakan hebat yang akhirnya menyisakan kekosongan yang aneh.

Penyebabnya sedang melintas beberapa meter dari Hyukjae sekarang. Choi Jiyoo bersama Jung Daehyun berjalan bersisian menuju Zone. Hyukjae kembali merasakan dadanya yang berat. Ia tak begitu menyukai sensasi perasaan seperti ini, terutama jika penyebabnya sama sekali tak jelas. Hyukjae merenung. Mungkin sebenarnya penyebabnya sudah jelas; Choi Jiyoo, hanya saja ia tak tahu ada apa dengan gadis itu.

“Lumayan ya?” gumam Donghae tiba-tiba. Ia sudah mengubah topik pembicaraannya. Donghae tak lagi bicara mengenai gedung tempat temannya itu bekerja. Hyukjae mengerutkan kening ke arahnya sementara Donghae bersiul. “Memang lumayan. Siapa dia?”

Hyukjae mengerjap heran. “Apa?”

“Itu, gadis yang sedang kau pandangi dengan tatapan rindu,” Donghae menunjuk Jiyoo dengan dagunya. “Siapa?”

“Bukan siapa-siapa.” Hyukjae merasakan jantungnya berdenyut nyeri, seakan tak setuju dengan pernyataanya sendiri. Nah, ini yang membuat Hyukjae tak mengerti. Organ tubuhnya bergerak berlawanan dengan akal sehatnya. Hyukjae menelan ludah, mengabaikan kejanggalan yang dirasakannya. “Teman kerja. Asisten copywriter di tim-ku.”

Donghae menatap Jiyoo di kejauhan melewati bahu Hyukjae. Gadis itu bersama dengan seorang lelaki. Keduanya tertawa dan berbicara dengan raut wajah yang sering ditunjukkan oleh Donghae pada kekasihnya. Donghae kemudian kembali pada Hyukjae. “Siapa namanya?”

Sekali lagi, jantung Hyukjae berdenyut nyeri. “Choi Jiyoo.”

Denting elevator yang tegas mengantarkan JIyoo dan Daehyun ke lantai 5 –lantai tempat tim Jiyoo berada. Jiyoo baru akan melangkah keluar dari elevator saat lengan Daehyun terulur. Lelaki itu menghalangi Jiyoo untuk keluar.

“Aku akan kembali ke ruanganku,” katanya.

“Hm,” sahut Jiyoo sekenanya. Daehyun kemudian menahan pintu elevator dan menatap Jiyoo lama hingga gadis itu mengerutkan kening. “Apa?”

Daehyun mengangkat bahu. “Tidak mau kutemani kembali ke ruanganmu?”

“Kau pikir aku anak kecil?”

Tak ada jawaban. Daehyun masih menahan pintu elevator sambil mengamati Jiyoo. Gadis itu memang bukan anak kecil, tapi Daehyun tak akan mengakuinya. Choi Jiyoo adalah gadis kecil yang selalu membutuhkan perlindungan. Terutama ketika si gadis kecil merasa terlalu asing di tempat baru seperti ini. Daehyun mengangguk yakin.

Jiyoo menyipitkan mata kesal. “Aku akan baik-baik saja. Pergi sana!”

“Kau yakin?”

“Ya ampun, Jung Daehyun…” dengus Jiyoo. “Aku hanya akan kembali ke ruanganku dan bukan masuk ke hutan berhantu atau apa pun yang mengerikan. Kita bertemu jam 5?”

Daehyun tampak berpikir sejenak. Tangannya masih menahan pintu elevator. Tak perlu menjadi seorang yang jenius untuk melihat jelas keengganan lelaki itu meninggalkan temannya. Lingkungan kerja di Zone, menurut Daehyun, sama sekali tak buruk. Bahkan, cenderung sempurna. Namun, ia tak mengerti alasan di balik sikap penolakan yang ditunjukkannya saat ini.

Ada segumpal perasaan aneh yang menghalangi Daehyun untuk merelakan Jiyoo kembali ke ruangannya sendiri. Aneh. Padahal dirinya yang bersemangat demi pekerjaan baru temannya. Daehyun bahkan bersedia menyemangati temannya demi pekerjaan ini pula.

“Aku akan menghubungimu kalau aku bosan, oke?”

Tatapan Jiyoo yang menenangkan membuat Daehyun mengangguk. Tubuhnya bergeser, menciptakan jalan keluar untuk Jiyoo. Gadis itu menyelip di antara tubuh Daehyun dan berdiri tepat di depan pintu elevator yang masih terbuka. Senyumnya terkembang. Jiyoo tak ingin membiarkan temannya cemas. Ia khawatir dan sejujurnya, ia pun enggan untuk kembali ke ruangannya tanpa Daehyun. Namun, ia mengerti tak seharusnya ia terus-menerus memanfaatkan temannya itu hanya karena –demi Tuhan!- kepanikan hari-pertama-bekerja yang, omong-omong, tidak masuk akal.

“Aku akan menunggumu di lobi nanti,” ujar Daehyun sebelum pintu elevator tertutup.

Setelah elevator membawa Daehyun pergi, Jiyoo kembali dilanda perasaan tak nyaman. Ia memang tipe orang yang mudah panik, tapi ia belum pernah merasakan sesuatu yang berlipat-lipat kali lebih parah daripada ini. Jiyoo mengembuskan napas berat dan panjang. Mau tak mau, ia harus menghadapinya. Jika ia berhasil mengatasi ini, ia punya harapan untuk mengatasi semuanya yang ada di tempat ini.

Semuanya. Apa pun atau siapa pun.

Siapa pun… satu nama terlintas di benaknya. Jiyoo merasakan perutnya seperti ditonjok oleh kekuatan penuh. Sekedar memikirkan nama Lee Hyukjae saja sudah memberikan efek seperti ini. Jiyoo bertanya-tanya apakah penyebab keengganan dan kepanikannya saat ini justru disebabkan oleh lelaki itu dan bukannya kegugupan biasa menghadapi hari pertama bekerja.

Hal itu memang tidak mustahil, Jiyoo berpikir sambil memasuki ruangan timnya, tapi ia belum tahu mengapa hal itu bahkan bisa terjadi.

Gadis itu sudah berada di mejanya, Hyukjae mencatat dalam hati. Ia sendiri menelan ludah dan berusaha mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Apa pun selain Choi Jiyoo. Ia mengerutkan kening. Hyukjae tak merasa seperti ini semalam. Belum. Tekanan di dadanya menjadi semakin berat saat pagi ini ia melihat gadis itu lagi. Ia juga mengingat tatapan Jiyoo untuknya semalam. Gadis itu memandangnya dengan sorot mata yang sama sekali tak bisa ditebak oleh Hyukjae.

Hyukjae memang bukan seseorang yang bisa membaca pikiran. Namun, ia juga bukannya orang bodoh yang tak bisa mengartikan tatapan orang lain untuknya. Ia tahu saat-saat dimana seseorang senang melihatnya, dan ia juga sadar jika ada masanya seseorang enggan menatapnya langsung karena tak menyukai dirinya. Hyukjae tak yakin, namun Choi Jiyoo mungkin termasuk dalam kategori yang kedua.

Ada sesuatu yang membuat lehernya tercekik saat gadis itu menatapnya.

Kali ini jantungnya berhenti ketika sepasang mata itu menatapnya saat ini. Ada jeda yang cukup lama hingga gadis itu tersenyum ke arahnya. Hyukjae kembali membuat catatan kecil; gadis itu terlihat bersusah payah untuk tersenyum. Mau tak mau, Hyukjae beranggapan bahwa gadis itu mungkin membencinya. Walaupun ia tak tahu untuk alasan apa ia dibenci.

“Sudah kembali?” sapa Jiyoo. Hyukjae hanya mengangguk dan terus mengamati raut wajah gadis itu. Ia terus-menerus membuat catatan kecil tentang bagaimana kegugupan yang aneh terpantul melalui sorot mata Jiyoo. Hyukjae memerhatikan segala gerakan kecil yang dilakukan oleh Jiyoo. Gadis itu tak pernah benar-benar menatap langsung ke matanya.

Dan, menurut Hyukjae, hal itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Jiyoo memang membencinya.

Hyukjae menarik kursinya dan memutuskan untuk tak memikirkan hal itu. Jika Choi Jiyoo membencinya tanpa sesuatu yang jelas, Hyukjae tak akan memberikan alasan bagi gadis itu untuk menyukainya. Mungkin inilah penyebab perasaan tak nyaman milik Hyukjae. Ia terlalu perasa untuk menyadari ada seseorang yang tak menyukainya, jadi hal itu menjadi beban tersendiri untuknya. Mungkin saja.

Jika gadis itu benar-benar membencinya, Hyukjae berpikir, ia juga tak perlu repot-repot menyukai gadis itu.

5:13PM

Choi Jiyoo melirik meja Hyukjae. Lelaki yang masih menjadi salah satu penyebab kegugupannya masih di sana. Hyukjae sedang memeriksa hasil jepretan Nikonnya –entah hasil foto apa karena hari ini belum ada pekerjaan yang mampir di meja keduanya. Mendadak Jiyoo penasaran, obyek foto seperti apa yang disukai oleh lelaki itu, akan menjadi seistimewa apa hasil foto Hyukjae, dan Jiyoo sendiri heran mengapa daya ingin tahunya meningkat hanya dengan memikirkan satu hal sederhana mengenai Lee Hyukjae.

Ketika ponselnya berdering singkat, tanda pesan masuk, Jiyoo melupakan berbagai pertanyaan tentang Hyukjae dalam benaknya. Ia harus menyimpannya sendiri hingga nanti ada kesempatan –dan keajaiban- baginya untuk bertanya pada lelaki itu.

Senyuman kecil terbentuk di bibirnya. Ia masih menatap layar ponsel yang menyala. Dari Daehyun.

[Aku menunggu di lobi. Ce~pat!]

“Mau turun?” Jiyoo buru-buru mendongak. Hyukjae sedang menatapnya. Mungkin sekedar perasaan mayanya, namun Jiyoo merasakan perbedaan dari tatapan mata lelaki itu. Jiyoo hanya sempat mengangguk tanpa bersuara karena terlalu gugup. Ia mengamati Hyukjae membereskan meja dan menenteng kameranya. “Ayo?”

Jiyoo kembali mengangguk sambil meraih tas slempang kain miliknya. Sebagai seseorang yang mulai bekerja di lingkungan seperti ini, tas slempang kumuhnya adalah hal pertama yang harus Jiyoo singkirkan. Sekalipun ia merasa nyaman menggunakan tas kain itu, tapi karirnya saat ini tak akan mudah memberikan toleransi. Setidaknya, ia harus memiliki tas tangan. Yang tidak terlalu mahal namun masih terlihat layak.

Hyukjae membimbing jalannya. Jiyoo mengekor di belakang. Ia terlalu sungkan untuk berjalan bersisian dengan lelaki itu. Imajinya kembali berkelana. Ada sesuatu dalam diri Lee Hyukjae yang dikenalnya; sesuatu yang akrab dan tenang. Tetapi, sekeras apa pun Jiyoo memutar ingatannya, ia tetap tak menemukan kepingan kenangan mengenai lelaki itu. Mungkin belum.

Untuk sekarang, Jiyoo membiarkan Lee Hyukjae menjadi orang asing yang baru dikenalnya. Tak boleh ada lagi pikiran lain mengenai lelaki itu. Selain fakta bahwa Lee Hyukjae adalah rekan kerjanya yang baru.

“Kau ikut?” Hyukjae berbalik dan tanpa kesadaran dari Jiyoo, lelaki itu sudah berada di dalam elevator. Tangannya menahan pintu elevator.

Jiyoo mengangguk. “Maaf, eh maksudku, iya.”

Tak ada orang lain. Terkutuklah keadaan seperti ini, umpat Jiyoo dalam hati. Siapa pun boleh, asalkan jangan lelaki ini. Jiyoo menundukkan kepala dalam-dalam. Ia bisa merasakan hangat tubuh Hyukjae di sampingnya, dan hal itu luar biasa menyiksanya saat ini. Jika saja Jiyoo mampu mematikan indera tubuhnya, ia akan melakukannya. Hanya agar ia tak merasakan panas tubuh Hyukjae dan menghirup aroma cologne maskulin yang menguar dari tubuh lelaki itu pula.

Biasanya Jiyoo pandai mengabaikan semua hal sepele itu. Khusus kali ini, ia bahkan kehilangan kemampuan untuk berpura-pura tak peduli.

Karena setiap hal mengenai Lee Hyukjae selalu menuntut perhatiannya.

“Sudah berapa lama kau mengenal Daehyun?” tanya Hyukjae.

Jiyoo mematung, berpikir agak lama karena pertanyaan Hyukjae yang absurd. “Entahlah… seumur hidup?”

“Hanya bersahabat?”

“Tidak juga,” Jiyoo mengangkat bahu santai. “Kadang-kadang dia akan menjadi musuh utamaku kalau sedang menjengkelkan.” Ia kemudian tersenyum pada Hyukjae yang, omong-omong, mulai terasa mudah dilakukan saat melibatkan Daehyun di dalamnya. Setidaknya Jiyoo berhasil menghalangi seringaian menyeramkan yang konyol. “Hanya bercanda. Iya, dia sahabatku.”

Jiyoo memiringkan kepala, menyadari sorot takjub tak wajar yang dilemparkan oleh Hyukjae untuknya. Ia bertanya-tanya apa yang sudah dilakukannya karena lelaki itu menatapnya aneh. Hyukjae tertawa pelan, merasa malu dengan tingkahnya sendiri.

“Maaf, ada sesuatu yang kurahasiakan darimu,” katanya.

“Um… hal itu adalah…?”

Hyukjae hendak membuka mulutnya kembali ketika guncangan singkat mengejutkannya. Reflek ia menarik Jiyoo mendekat dan berpindah ke pojok ruangan segi empat yang sempit itu. Jantungnya berdebar-debar, napasnya memburu akibat kejadian singkat yang membuat elevator mereka terhenti. Hyukjae memegangi lengan Jiyoo di tangannya. Ia dapat merasakan kepanikan gadis itu hingga ia tak berani melepaskan kontak mereka.

“Setidaknya lampunya masih menyala,” gumam Hyukjae dengan nada rendah.

Jiyoo membelalakkan mata, memandangi sekelilingnya untuk mendapat informasi lain mengenai kejadian yang baru saja dan sedang menimpa mereka. Nihil. Ia tak mendapatkan apa pun, kecuali fakta bahwa elevatornya mendadak berhenti dan mereka terjebak di dalamnya. Tak ada penjelasan atau pertanda bahwa elevatornya akan terbuka. Mereka terjebak.

Ia melirik Hyukjae yang berada terlalu dekat dengannya. Seperti kata lelaki itu, setidaknya lampu elevator tidak padam.

Karena jika hal tersebut terjadi, ada dua kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Pertama, elevator itu berarti mengalami kerusakan parah dan bisa jatuh ke dasar gedung kapan saja. Dan kedua, Jiyoo benci ruangan sempit atau ruangan gelap, atau dalam hal ini, kombinasi keduanya. Ia bisa saja berteriak panik, gemetar dan sesak napas.

Dan ia jelas tak ingin hal kedua tadi terjadi di depan Lee Hyukjae.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hyukjae. Di tangannya, Jiyoo menggigil namun gadis itu menganggukkan kepala. Hyukjae belum melepaskan pegangannya. “Aku akan menghubungi operator dan meminta bantuan, kau ingin tetap duduk di sini?”

Jiyoo masih menggigil. Ia gemetar dan menahan diri untuk tak bersuara. Jika ia bersuara, giginya akan bergemeletuk tak karuan. Jadi ia hanya mengangguk pelan.

Pelan-pelan Hyukjae menarik tangannya. Lelaki itu baru akan berdiri dan meraih tombol panggilan darurat ketika pergelangan tangannya justru kembali ditahan oleh Jiyoo. Jiyoo masih menempel di dinding. Kepalanya mendongak, menunjukkan wajahnya yang pucat. Raut wajah seperti itu membuat jantung Hyukjae seolah dipukul oleh batu marmer, membuat organ vitalnya itu nyeri.

“Kemarilah,” Hyukjae mengulurkan tangannya yang terbuka. Ia menunggu Jiyoo untuk menyambut uluran tangannya. Walaupun hanya berjarak 30 cm, ia tak ingin meninggalkan gadis itu dalam keadaan yang membuat hatinya sakit.

Ketika tangan Jiyoo berada dalam genggamannya, Hyukjae menarik gadis itu berdiri. Secara otomatis ia menahan tubuh Jiyoo dengan tubuhnya sendiri. Berada di dekat Jiyoo, Hyukjae menyadari sesuatu. Gadis itu lebih dari sekedar syok. Ia ketakutan. Sangat.

“Apa kau punya fobia tertentu?”

“Ha…nya terkejut,” ucap Jiyoo terbata-bata. Hyukjae meliriknya tak yakin, membuat gadis itu menciut. “Maksudku… aku juga sedikit takut pada ruang sempit.”

“Tapi kau bisa naik elevator,” sahut Hyukjae geli.

Jiyoo menyikut tulang rusuk lelaki itu pelan. “Karena aku tidak akan berada di elevator lama-lama. Dan, semua elevator yang pernah kunaiki tidak pernah berhenti mendadak seperti ini.”

“Penakut,” Hyukjae berkata sambil tersenyum lebar. Jiyoo sendiri mendengus, tak benar-benar menganggap serius ejekan Hyukjae.

Ia masih menyandarkan tubuhnya ke sisi Hyukjae saat lelaki tersebut menekan tombol darurat. Ucapan demi ucapan yang meluncur dari bibir Hyukjae mulai tak terdengar jelas di telinga Jiyoo. Kesadarannya menipis dan pelan-pelan mulai menjauh dari dirinya. Samar-samar Jiyoo merasakan rangkulan Hyukjae mengencang.

“Kau harus duduk.”

Keduanya kembali duduk di sudut elevator setelah memastikan bantuan akan segera tiba. Sepanjang penjelasan operator yang didengar Hyukjae tadi, ada gempa singkat yang membuat elevator mendadak berhenti. Para tim penyelamat masih dikerahkan untuk evakuasi para korban yang juga terjebak dalam elevator sehingga mereka harus menunggu. Jiyoo membiarkan suara Hyukjae menggema dalam benaknya. Jika lelaki itu mengatakan hal-hal yang lain lagi, Jiyoo pasti sudah berhenti fokus pada kata-kata Hyukjae.

Tangan Jiyoo mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia kesulitan bernapas. Jiyoo yakin hal itu disebabkan oleh ketakutannya pada ruangan sempit, namun ia tak pernah menyangka efeknya akan separah ini.

“Kau mendengarku?”

Suara Hyukjae terdengar jauh sekali, seolah lelaki itu memanggilnya dari ujung dunia. Jiyoo berusaha bernapas, memompa seluruh oksigen menuju otaknya agar ia dapat kembali fokus. Gadis itu kemudian mengangguk. “Maaf, sebenarnya tidak juga.”

Hyukjae tertawa dan kali ini suaranya lebih jelas. Suara tawa lelaki itu seperti denting bel yang jernih. “Tanganmu pasti sakit,” gumamnya seraya memergoki telapak tangan Jiyoo yang terkepal. Hyukjae kemudian meraih tangan Jiyoo, menggenggamnya erat. “Remas saja tanganku sampai kau merasa lebih baik.”

Jiyoo ingin menolak. Ia ingin menarik tangannya namun Hyukjae lebih cepat. Lelaki itu sudah terlanjur membungkus tangannya dan tak terlihat akan melepaskannya dengan sukarela dalam waktu singkat. “Terima kasih.”

Keduanya kembali terdiam. Aura canggung yang menggantung di antara keduanya secara ajaib justru terasa akrab sama sekali tak membebani Hyukjae dan Jiyoo. Hyukjae sempat meragukan pikirannya sendiri tentang bagaimana Choi Jiyoo yang kelihatan membencinya. Mungkin gadis itu tidak membencinya.

Dan seandainya pun Jiyoo membencinya, gadis itu terlalu membuka diri pada orang yang dibencinya saat ini.

“Sebenarnya,” Hyukjae memulai kalimatnya yang tadi terputus karena guncangan. “Kukira kau membenciku.”

Jiyoo membuka kelopak matanya, berusaha memandang Hyukjae walaupun kegelapan sudah memanggil-manggil dirinya. Ia mencerna ucapan lelaki itu. Seandainya bisa, Jiyoo pasti sudah membantah, menyangkal, melakukan apa pun untuk mencegah Hyukjae berpikir demikian.

“Sikapmu padaku… dan, mungkin tatapanmu juga membuatku berpikir aku melakukan kesalahan yang membuatmu membenciku. Atau, karena kita benar-benar baru bertemu semalam, kau hanya membenciku tanpa alasan dan aku sendiri tidak bisa menyalahkanmu untuk hal itu.”

Dengan susah payah Jiyoo menelan ludah. Ia berhasil membuka mulut dan berbisik. “Tidak. Aku… tidak membencimu.”

“Syukurlah,” gumam Hyukjae. Ia bahkan tak repot-repot menyembunyikan kelegaannya.

Jika Jiyoo tak membencinya, ia merasa dinding beton yang sempat membatasinya mulai runtuh. Mungkin terjebak di elevator bersama gadis itu bukanlah hal yang buruk –bukan berarti Hyukjae ingin terjebak di dalam elevator setiap hari. Jika ia bisa dengan mudah melakukan percakapan dengan Jiyoo, Hyukjae tak keberatan berada dalam situasi seperti ini. Setidaknya ia tahu bahwa Jiyoo tak membencinya.

“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya gadis itu.

Hyukjae mengangkat bahu. Gerakan itu membuat bahu keduanya bersentuhan. Hyukjae tak yakin dengan Jiyoo, tapi dirinya sendiri merasakan sensasi yang menjalar seperti aliran listrik kecil. “Entahlah. Mungkin karena kau bisa langsung akrab dengan Daehyun –yang omong-omong ternyata kalian bersahabat sejak lama, tapi kau bisa nyaman bahkan dengan leader tim kita sekalipun, tapi tidak denganku.”

“Memang aneh…” gumam Jiyoo. “Tapi aku tidak membencimu. Aku jamin itu.”

Gadis itu menunduk, tertawa pelan. Hyukjae terkesima, sekali lagi. Ia mengagumi fakta bahwa Jiyoo bisa dengan mudah melupakan ketakutannya, mengalihkannya pada hal lain. Kemampuan seperti itu, menurut Hyukjae, adalah sesuatu yang mengagumkan.

Jiyoo sendiri merasa bersalah karena membiarkan Hyukjae sempat berpikir bahwa ia dibenci. Jiyoo memang gugup berada di dekat lelaki itu dan ia punya alasan untuk itu. Ada gumpalan yang memenuhi kepalanya, menyumbat memorinya untuk menemukan kepingan kecil ingatan tentang Lee Hyukjae. Hal itu adalah alasan yang cukup kuat untuk memiliki perasaan gugup di dekat Hyukjae. Namun, membenci? Jiyoo memang tak yakin akan ketepatan daya ingatnya tentang lelaki itu, tapi ia jelas tak memiliki alasan untuk membencinya.

“Tidak perlu dipikirkan,” ucap Hyukjae. Ia seolah menyadari perasaan tak enak Jiyoo padanya.

Jiyoo menelan ludah dan menganggukkan kepala. “Ya.”

Segelintir perasaan lain menyelinap ke sela-sela batinnya. Jiyoo merasakan banyak hal mengenai Hyukjae. Namun lelaki itu hanya menakutkan satu hal; bahwa Jiyoo membencinya. Sungguh tak adil.

Jiyoo memendam dalam-dalam campuran perasaan yang menyesaki dadanya sementara Hyukjae hanya mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Ia kembali bertanya pada dirinya sendiri. Apakah hanya dirinya yang merasa bahwa keduanya pernah bertemu? Kalau begitu pada akhirnya bukankah hanya dirinya yang terlihat bodoh dan menyedihkan?

Keduanya jelas belum pernah bertemu, jika sikap Hyukjae justru biasa saja. Tapi Jiyoo tak pernah meragukan perasaannya. Jika ada sesuatu dalam dirinya berkata bahwa ia mengenal lelaki ini, maka ia memang mengenalnya. Namun, apabila Hyukjae bahkan tak merasakan apa pun, lantas apa yang seharusnya dirasakan oleh Jiyoo sekarang?

Tanpa alasan yang jelas, Jiyoo ingin menangis…

===============TBC===============

So this is the chapter 2 on February! \o/

Masih membingungkan? Saya masih nyusun cerita fantasinya, jadi… selamat bersabar kembali. Hihihi.. Terima kasih buat komen dan feedbacknya kemarin, silakan ‘buang’ komentar lagi di chapter ini. ^-^

Thank you Mvhy Devi buat posternya! \o/

47 thoughts on “Another You [Chapter 2]

  1. am i first? ^^
    eonnie jjang!! saya semakin penasaran dengan ceritanya. Jiyoo makin merasa seperti pernah bertemu dengan Hyukjae. dan saya curiga kehidupan mereka sekarang dihubungan dengan yg dulu, jangan2 melalui study yang dilakukan Kyuhyun dan Profesornya.
    pokoknya ditunggu chapter 3 nya
    FIghting ~!

  2. shelaaaaaaaa.. enak bgt yaa jiyoo, bersahabat ma daehyun ma kyuhyun, leader team heechul, atasannya bang yongguk, calon pacarnya hyukjae #eh😀 dan ituuuu semuaaaa cowok2 ganteng dan super duper keceeee shelllllll.. huaaaa boleh dong aq yg jd jiyoo nya ωkωkωk *ngaca dulu*
    teka-teki jihyuk masih blum bisa d tebak.. okeee di tunggu edisi maretnya shellll * kya majalah*😀
    goodluck and »♥« †ëñgkyµ yäää»♥« *bighug*

    • Double-hyun~ xD
      Heechul itu nanti kurang penting kok /minta digampar/ cuma muncul pas di kantor2 doang. Yongguk… will be a special surprise in this story (mudah2an kalo gak berubah). Um… edisi maret masih diketik, semoga gak molor. Dan tolong diingatkan kalo semisal molor, saya gak mau ingkar janji di ff ini. ;-;
      Terima kasih syuda baca ya! \o/

  3. Finally!^~^
    Sebenernya masih agak kurang ngerti sama hubungan fantasi sama yang nyata hoho.
    Tapi tadi Daehyun kan ngomong kalo Dongeng itu nyata, jadi terbuka sedikit nih otak hahahaha.

    As usual aku suka cara penulisanbya, dialog , dll. Enak dibacaa😀

    Ditunggu next part nya yah:)

    • Hehehe.. semoga selanjutnya bisa dibikin sambungan yg lebih baik antara nyata-fantasinya ya. ><
      Daehyun is kinda hv important role in this story /as well as kyuhyun, too/
      Terima kasih suda baca ya! \o/

  4. whoa.. aku bikin sekamar kaget gara-gara teriak gak jelas pas baca ff ini!!!
    As always, aku suka sama gaya bahasanya eonni, cara eonni menjelaskan semuanya itu.. ngena banget, sampe gak eungeuh kalo udah tbc lagi. T.T
    Part ini eunhyuk-nya banyak ama jiyoo, yey!! berharap part selanjutnya juga.. daaan itu, aku suka kyuhyun-nya!!!
    Hmm.. apalagi?? sudah mulai menebak-nebak, tapi pengen ngikutin aja ceritanya dulu. Dinantikan chapter berikutnya (seperti aku menantikan chapter naruto)!! Another You, daebak!! *gaya ueno juri di wgm

    • Heeeeh… kamu kok tereak2? xD
      Aw aw aw~ terima kasyih. Masih tetep dan selalu belajar terus kok, jadi kalo ada yg kurang2 mohon dimaklumi. /bow
      Part selanjutnya… yeps, masih berputar2 sama jihyuk. Masih nyari2 timing juga buat masukin full fantasy story-nya. ><
      Terima kasih suda baca yaa! \o/
      ps: betewe naruto chap.664 gantung selalu. -_-

  5. yeyy dipost jugaa^^
    eonni demi apa /to the point aja/ rasa ‘aneh’ waktu baca tulisan eonni ini gak bisa berkurang loh>< sukaa aja. cara penulisannya rapih banget, seneng bacanya, terus nyaman /ini gak ngerti karna apa/. yang jelas aku nunggu banget deh kelanjutannya. cara berfikir eonni susah banget ditebak. dan,, yawr part ini seneng ada jihyuk momentnya.
    aku bisa ngerasain poo walaupun ini bukan cerita poo-yoo as a real life. dan cuma disini aku berasa punya rumah dan pulang dalam kenyamanan. karna ya, cuma disini aku bisa nemu eonni /ecie gombal/. aku jadi mikir kalau kalau daehyun ntar jadi saingannya hyuk jae, penelitian kyu hyun dan profesornya yang berhubungan sama dongeng masa lalu mereka atau, ya, apa pun lah yang bisa jadi kejutan di cerita ini. pokoknya ini bikin penasaran + gak tau lagi mau ngomong apa-__-'
    at last, as always, eonni jjang!!^^

    • Hiiing~ uda takut aja itu anehnya kenapa loh. >< Terima kasyih banyaaaak. Aku juga masih belajar kok. Kadang suka aneh aja baca tulisan sendiri banyak gak puasnya, jadi selama masih bisa memuaskan yg baca, aku bakal tetep nulis yg /mudah2an/ bagus2. Hehehehe…
      Daaaaan, kebetulan juga baru menemukan kembali poo yang dulu. Hihihi.. xD
      Samaan kok, tetep nulis jihyuk juga karena cuma disini akhirnya ketemu kalian, ketemu kamu, ngobrol via ketikan jari. Itu nyenengin banget aseli, makanya suka sedih kalo misal jarang apdet kan jadi jarang ngumpul (?) disini. :'<
      Bocoran sedikit, daehyun gak bakal jadi saingan ato orang ketiga ato apapun kok disini. ^-^
      Terima kasyiih syuda baca yaa! Kamu juga jjang! \o/

  6. cieeekkk .. yang ketakutan .. hahaha masih tetap sifat Yoo disisipin di ff kli ini ( bulanan) ,,,,tpi ada yg bedah nih unn , mnurutQ Cara Penulisan Ff ini beda dari ff terdhulu eonni . lebih simple dan lebih banyak pengungkpn aktifits yg seolh2 kita nont drama aihaihhaaa misalx nih : penggambaran Saat tiga kerabat itu di kantin, Hyuk dan Donghae baru tiba di zone truz liat Jiyoo masuk, penggambaran Heenim oppa, kyaaak lebih sukaaaaaaa….. hohoho itu komenan di atas unn masih ajh gg puas ma tulissn sndrii(?), tenang ajah pokokne dicari drumh mnapun Rumh ini tetap beda dripda yg lainn >< *hampir modus kkkkkkkkkkkkk …

    Btw : Si jenios ituh munculx kyk figuran dpart ini unn ( weleh lah ini emng punya JiHyuk) , Hahaha abaikan itu ….

    Setelh part ini moga moga part selnjutnya di TBC nnti makin grrrrrrrrrrr lagi (apanya?) ,,,,, Edisi 3 : Hwaiting🙂 …. go go go ……

    #Bacax Kaaapaan , Komenn masuk kapan (thedayafteryesterday)

    • Nyahahaha… mesti banget disisipin dong biar ada greget(?)nya. xD
      Um… iyeps, kamu bener banget. Haha.. Sekarang lebih pingin ngegambarin aktivitas tokohnya lewat tulisan aja, walopun kadang susah banget mesti ditulis gimana. Jadi ya… masih apa adanya dulu ya. >
      Betewe, bocoran lagi, Kyuhyun itu punya peran penting kok disini. Yang sebenernya figuran itu si dongek. HAHAHAHAHAHA…
      Hwaiting! Makasih syuda baca yaaa~ \o/

  7. Ciee yg dapet berkah(?) kejebak diElevator *mupeng*
    Perasaan Jiyoo pasti gaEnak banget,kenal tapi asing.jadi kaya dibaik gitu yah Shell..dulu kan Spencer duluan yg naksir.
    Trus suka sama kalimat “siapa sih yg MEMILIHKAN ChoKyuhyun yg pintar sebagai temanya” hahap xD
    mas Yongguk jd atasan Jiyoo,,ini nanti gaDa acara cinta segi empat kaaan (jihyukdaeguk)*abaikan..
    Semoga diepisodeh(?) selanjutnya jihyuk udah gaCanggung lagi yah,,gregetaan hehe
    Yaudah segitu aja ocehan saya hehe..maap nyampah ^^
    *sukaaa posternyaa >,,<

    Semangat Shellaa,,syuka banget sm tulisan kamu.

    • Hahahaha… berkah yang menyenangkan. xD
      Cinta segi empat? Nope. Mari kita fokus dahulu sama jihyuk. Hehehe.. Yongguk-daehyun gak bakal jadi saingan hyukjae kok. #spoiler Kamu bisa pegang kata2 (?) ini. :>
      Semangat juja buat kamu! Terima kasyih syuda baca yaa~ \o/

  8. iya iyaaiyaa deh kalau masalah tulisan emang eonni jagox .. hahahaa saya mah jagox Nilai/menikmati #Lol …

    Jangan bilang Si jenios yg punya peran penting untuk mengungkapkaan […] …… Iyap baguuzz Unn si Dongek jadiin piguran ajah *piguran cakeeep (dimusnahin fishy) ..kkkkkkk ….

    balasan komenan gini jadi gg sabar unn part berikutx. whelelele *siap siap dikatain Eonni >< ….. hwaiting @@

  9. Hyaaa,,,,udah lama nunggu ff ni, akhirny publish juga.
    Aku masih bingung sama ceritany. Tapi sumpah demi apa, aku penasaran pake banget sama ceritany,
    Oh ia, d sini critany mereka gak punya sesuatu dri masa lalu yg bsa bkin mereka ktemu gak eon?
    Truus s kyuhyun yg keceh itu ada jga gak eon kisahny,?
    Aku suka sma karakter eunhyuk disini daan, tentu aj, jiyoo.
    Pkony suka sma karakter mereka.
    Daaan, dtunggu next chap ny eon,

  10. ^^ akhirny brojol jg part 2 nya~
    uuuh.. lee donghaek, dikau peka skali bang~

    ada bgusnya juga trjebak dlm lift,,, jd ada moment yaaa bs dblg lumayan sweet la, trutama yg pgangan tangan >_<

    jd gk sbar part 3 ny brojol,
    ditunggu~

  11. kok cuma segitu doang kejebak di lift? kan bisa lebih lama lagi adegan saling pandang2an itu *puter lagu india* buahahahahhahaha..terus abis pandang2an mereka bisa peluk2an buahahahahhahaah
    kakak penasaran ama kisah masa lampau jihyuk dimasa lalu? poo tetep manusia ato berubah jadi manusia setengah dewa? *bayangin hyukjae jadi dewa* wahahahahahahaha..
    udah ahhh.. ntar diamuk dadah babai ama shella hihihihihi *melengos bareng jonglaf*

    • Eii~ kalo sampe pandang2an terus ada lagu india nanti jihyuk nyanyi sambil nyari tiang terus main kejar2an dong kak…… -_-)/
      Gak mungkin hyukjae jadi dewa, bisa jadi dewa macam apa dia coba? HAHAHAHAHA…
      kok jonglaf ikut berkunjung? Huhuhuhuhuhuhu

  12. yoo~ halo yoo ~ yaamapun saudari choi jiyoo aku kangen… kangen hyukjae maksudnya ahahaha ih yaampun gegara sibuk PKL aku jadi baru sempet baca kan. nah! tetep ya, kamu suka banget deh bikin aku penasaran gini. nah itu betewe dua sejoli jiyoo-hyukjae merasakan rasa deg0deg-ser gitu kali ya tiao ketemu. aku pesanaran aja ini sama masa lalu mereka. nah betewe lagi itu nanti kira kira bakal ada benih benih cinta antara daehyun dan jiyoo opo ora ? i’m waiting gor the next chap ya yoo ~ see yaaaaaa !!!

    • Oh jadi kamu kangen hyukjae iyaaa? gituuuu? hmmm??
      Hahaha.. aku juja kangen kamyu deh. Samaan ih, aku juga kemaren abis pkl. Hihihi..
      Um.. buat daehyun-jiyoo itu imposibel berat buat ada benih2 cinta. Yang ada sih benih padi ato jenis kacang2an jadi nanti mereka bercocoktanam bersama. HAHAHAHA…
      Im writing, still on it bb~ See yaaa! \o/

  13. Baru baca dan kyaaaaa~ >…<
    eonniiii~ saya lgi kepincut sma Jung Daehyun akhir2 ini dan baca inii.. Omonaaaa~ JiHyuk…tuan Cho Evil, Lee Donghae…. Dan Jung Daehyun..*melting* #plak (bukannya ngomentarin cerita mlah cast-nya di curcolin =.=* hehe.. xP

    Daehyun jgn suka Jiyoo yah eon..jangan..syedih nanti..suka'nya sya aja *lah :p

  14. Onyx : Emerald -> SasuSaku
    Onyx : Hazel -> JiHyuk, hehehe
    Duhh sumpah d.buat geregetan, kenapa g langsung d.bentrokn aja mrka br2, supaya tau mrka emang slng kenal, jd g ada prasangka” buruk yg hinggap? d.pikiran mrka. Yaaahh nama’y jg cerita, salah 1 point penting’y, supaya lbh menarik, lbh keren dan yg pasti bikin PENASARAN semua readers :’) g tw knp klu bc tntng 2 orang yg slng cnta tp g trsampikn itu bikin hti sktt sndiri, bener dh, apalg klu udh muncul mslh”, cuma bs brsbr #curhat, hehe
    Smga aja Daehyun g punya rsa mcm” ma Yoo, karna klu punya, Duh gmn nasib’y JiHyuk :’) nd Saera jg jngn ganggu” Hyuk lg.
    Jebal satuin JiHyuk eonn :’)

    • Iyeps iyeps bener! Sasusaku~ ><
      Doa kamu terkabul kok, saya gak ada niat bikin loveline buat daehyun sama jiyoo. Nanti diamukin banyak orang. xD
      Cerita di balik jihyuk bakal dipost, segera… entah kapan. T^T

  15. Annyeong, aku readers baru salam kenal!🙂 Sebelumnya aku baca marry yoo dan langsung suka bgt sama blog ini hehe eh ternyata ada postingan baru, langsung aku baca. Ceritanya keren bgt thor sumpah aku baca part 2 ini dugeun dugeun sendiri masa wkwk berasa jadi jiyoo di lift sih #plak
    Keren pokoknya, beneran penghilang penat di padatnya laporan praktikum dan uts. Keep writing ya ditunggu next chapternya!😉

    • Annyeooong! \o/
      Terima kasih ya suda mampir ke sini~
      Maaf edisi bulan maret sama april belom bisa dipublish, kayanya bakal telat lagi. ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s