Another You [Chapter 1]

anotheryou

Chapter 1

Another life, yet the same eyes…

Ketika sepasang onyx bertemu dengan sepasang hazel gelap…

===

Teng… teng… teng…

Lonceng menara berdenting nyaring, membahana ke seluruh negeri. Menara itu menjulang sebagai yang tertinggi di antara deretan gedung dengan jendela-jendela setengah lingkaran di sekelilingnya. Suara bening itu menjadi penanda telah berakhirnya pelajaran di sekolah tinggi para bangsawan muda Inggris. Saat-saat seperti itu, bagi Spencer, adalah momen yang menyenangkan. Tak ada lagi aturan sekolah, tak ada lagi pengajar wanita yang merongrong mengemis perhatiannya.

Sesungguhnya, berakhirnya sekolah di tiap harinya adalah satu-satunya waktu baginya untuk turun ke jalan.

Spencer Chastain adalah salah satu putra bangsawan Inggris yang akhirnya menetap di London. Bagi golongannya, ia termasuk bangsawan London yang disegani. Bukan karena ayahnya, Sir Sweden Wood Chastain, namun karena dirinya sendiri-lah yang tampak menonjol. Ia tampan, berbakat, cerdas, memesona dan di atas semua itu, ia ramah. Satu nilai tambah untuk Spencer. Tak banyak bangsawan muda yang ramah.

Terasa sangat janggal ketika seorang bangsawan muda sepertinya justru terkenal akan senyuman lembutnya dan bukannya sikap arogan. Spencer menyadari perbedaan dirinya dibandingkan dengan bangsawan lain. Namun, ia tak ingin mengubah apapun.

Karena ia tahu akan lebih menyenangkan ketika ia menjadi dirinya sendiri.

Kebiasaan yang dimilikinya pun berbeda dengan bangsawan muda lain. Ketika yang lain menyukai kegiatan menunggang kuda atau menikmati latihan militer, Spencer lebih suka menyelinap ke jalanan dan melihat-lihat buku yang mungkin dapat dijadikan koleksi barunya.

Dan di jalanan London ini, ia menyuruh kakinya melangkah tanpa arah.

Spencer sedang mencari sebatang pena tinta baru saat ia menyadari kehadiran seorang gadis yang berjarak tujuh kaki darinya. Helaian rambut yang jatuh menutupi wajah, gaun klasik berwarna putih gading, dan sarung tangan lembut yang membungkus sepasang tangan itu. Spencer tak pernah benar-benar memperhatikan orang lain, terlebih jika itu adalah lawan jenisnya. Namun, sudah jelas Spencer tak bisa melakukannya saat ini.

Seorang gadis baru saja menarik perhatian Spencer. Dengan cepat, secara dinamis dan pasti.

Gadis itu menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Spencer tak menunggu untuk menemukan sepasang mata itu; mata berwarna hazel yang tampak berkilau. Kedua mata itu menyipit saat sang gadis tersenyum. Spencer tercekat, ia melupakan pena tinta yang ingin dibelinya. Ia melupakan bumi yang dipijaknya. Ia lupa bahwa seharusnya ia tak menatap seorang gadis berlama-lama. Spencer melupakan etika dan dunianya.

Segala hal sederhana itu terlupakan begitu saja.

Ia tak peduli jika ia dianggap tak sopan pada seorang Lady. Spencer hanya ingin mengetahui siapa Lady itu. Spencer harus tahu siapa gadis berwajah malaikat itu.

===

Angela tersenyum saat seorang anak kecil mendongak untuk menatapnya. Kedua bola mata anak itu bulat, berbinar oleh kekaguman. Angela mengulurkan tangan tapi si anak kecil tak menyambutnya. Anak itu membuka mulut, hendak berkata sesuatu hingga Angela menyejajarkan tingginya dengan bocah lelaki di depannya.

“Apa Anda malaikat dari langit?” tanya anak itu.

Angela nyaris tertawa walaupun akhirnya ia hanya menahan senyum dan menggeleng pelan. Tatapan tak percaya dari anak kecil di depannya membuat Angela mengerjap. Anak itu mengerutkan kening. Kali ini Angela menghela napas.

“Malaikat tidak mungkin turun ke bumi,” ucapnya.

“Lalu, Anda apa?”

Pertanyaan itu, sejujurnya, mengecewakan Angela. Sekalipun ia sudah mengenakan gaun yang sama seperti para Lady di bumi, seorang anak kecil masih saja meragukannya. Angela memiringkan kepala. “Apa aku tidak mirip manusia?”

“Anda malaikat!” seru anak kecil itu nyaring.

Angela membelalakkan mata sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya. “Jangan keras-keras!” Angela mengernyitkan alis dan menggeleng pelan. “Aku bukan malaikat.”

Si anak kecil tampak kecewa. Kali ini ia menyerah. Dengan menatap wajah Angela, ia tahu bahwa Angela tak berbohong. Ia meninggalkan Angela setelah memberikan senyuman kecil. Angela mengedikkan bahu, berharap si anak kecil benar-benar melupakan kehadirannya hari ini.

Malaikat atau manusia. Angela tahu dirinya bukan salah satu dari kedua hal itu. Ia tak sempurna seperti manusia, ia tak memiliki sayap dan halo yang bersinar seperti malaikat. Angela hanya seorang penghuni langit, Skylivian.

“Kalau Anda bukan malaikat,” Angela terkesiap dan membalikkan badan. Seorang lelaki, jelas sekali adalah seorang bangsawan muda, berdiri di belakangnya. Sorot matanya jenaka, dengan bibir membentuk senyuman ramah. “Anda pasti seorang penghuni langit.”

Angela kembali terkejut. Lelaki di depannya ini tahu bahwa ia adalah penghuni langit. Bagaimana bisa–

“Maaf, kurasa aku bersikap kurang sopan,” ujar si bangsawan. “Spencer Chastain.”

Kedua mata Angela mengerjap. Sepersekian detik berikutnya barulah ia sadar bahwa si bangsawan sedang memperkenalkan diri. Angela menelan ludah, memikirkan nama Skylivian yang dimilikinya. “Angela.”

“Angela… Tidak ada nama belakang?”

Angela kembali mengerjap. Nama belakang? Bukankah satu nama saja sudah cukup? Angela menggeleng pelan. “Hanya Angela.”

Spencer menatap kedua mata hazel yang seolah menembus langsung ke jiwanya. Ia tersenyum oleh fakta bahwa nama gadis itu sungguh mewakili dugaannya. Malaikat. “Angela.”

“Kau melamun.”

Choi Jiyoo mengerjap, mengibaskan fantasi aneh dalam pikirannya yang tergantikan oleh pepohonan hijau yang berderet di sepanjang taman. Detik selanjutnya ia menoleh, mendapati seorang lelaki –Jung Daehyun- memiringkan kepala ke arahnya. Jiyoo menarik napas dan menggeleng. “Tidak.”

“Dan, aku tidak melayangkan sebuah pertanyaan,” sahutnya. “Itu adalah pernyataan. Aku menyatakan bahwa kau sedang melamun. Aku tidak menanyakan apakah kau sedang melamun, Jiyoo.”

“Kau cerewet sekali,” sergah Jiyoo geli. Daehyun memutar bola mata, mengabaikan ejekan harian yang biasa dilontarkan temannya itu.

Kedua mata Jiyoo mengerjap perlahan. Jantungnya masih berdebar-debar hingga perasaan aneh menyebar di pembuluh darahnya. Ia sering merasakan sesuatu yang seperti ini, jika ia boleh membuat pengakuan. Segala lamunannya terasa nyata dan hal itu membuatnya kebingungan. Ia tak lagi yakin apakah segalanya hanya sebatas imajinasinya yang menggila. Jiyoo mulai mendapatkan fantasi penglihatan itu setelah ulang tahunnya yang ke-20.

Dan beberapa bulan setelah ulang tahunnya berlalu, ia lebih sering lagi mendapatkan penglihatan itu.

Jiyoo kembali menghela napas. Tak sebatas penglihatan, kali ini ia juga mendapatkan serangan perasaan yang bertubi-tubi menghujam dadanya. Seperti saat ini, Jiyoo merasakan kehangatan dan kelembutan yang maya mengelilinginya. Rasanya seperti dipeluk. Namun, Jiyoo tak yakin oleh apa. Belum lagi tampaknya ada yang dirindukannya, entah apa–atau siapa- itu.

Daehyun memandangnya dengan kedua mata menyipit. “Kau baik-baik saja?”

Dengan satu kali lagi helaan napas panjang, Jiyoo tersenyum lebar. “Ya. Tapi kenapa Cho Kyuhyun itu lama sekali? Aku lapar.”

“Temanmu berumur panjang,” gumam Daehyun. Sepasang matanya terpaku di kejauhan, menunggu sosok Kyuhyun menjadi lebih dekat dan lebih terlihat di antara kerumunan orang. “Kau menggoda salah satu muridmu lagi?”

Kyuhyun, dengan napas terengah, melotot ke arah Daehyun. “Aku asisten profesor yang beretika.” Ia meraih tas Jiyoo, mengacak isinya hingga menemukan botol air mineral di dalamnya. Ia meneguk air mineral dan mendesah lega. “Ada pekerjaan di perpustakaan.”

Jiyoo dan Daehyun hanya saling berpandangan, masing-masing menolak bertanya lebih jauh. Keduanya paham benar bahwa Cho Kyuhyun akan kembali memamerkan pekerjaan barunya di almamater mereka. Cho Kyuhyun adalah yang terpandai di antara ketiganya. Sekaligus yang paling menyebalkan. Terutama di masa-masa seperti ini; ketika Kyuhyun menjadi asisten profesor muda yang sering diajak bergabung untuk menjalankan banyak proyek dengan profesornya. Bagi Jiyoo dan Daehyun, masa-masa seperti itu bisa dengan mudah mengubah Cho Kyuhyun, dari manusia-yang-lumayan-menyebalkan menjadi Cho Kyuhyun si manusia-yang-amat-menyebalkan-dan-pasti-menyenangkan-bila-dipukul-tepat-di-muka.

Menyebalkan, karena Kyuhyun akan membiarkan kedua temannya itu melongo dengan segala proyek rahasianya bersama sang profesor.

“Kalian tidak mau tahu ada apa?” tanyanya.

Jiyoo mengenakan tas slempangnya dan mengangkat bahu. “Paling-paling ada profesor yang memintamu mencarikan teori tentang ilmu eksak Yunani Kuno.”

“Atau tentang arkeologi.” Daehyun menyahut, mengikuti Jiyoo yang berjalan lebih dulu.

“Atau kepahlawanan Napoleon,” timpal Jiyoo sekenanya.

Kyuhyun menahan tawa dengan sahutan demi sahutan dari kedua temannya. Ia menyusul Jiyoo dan Daehyun yang berjalan di depan, merangkul keduanya dari belakang. “Salah. Sejarah kerajaan Inggris.”

Incheon

Lee Hyukjae memasukkan lipatan celana jinsnya yang terakhir ke dalam tas. Ia menutup risleting tasnya kemudian menatap pintu lemari yang masih terbuka. Lemarinya sudah kosong, hanya tersisa beberapa gantungan baju dan sarung bantal yang tak terpakai. Ia mereka-reka segala barang yang harus dikemasnya lagi seraya menjatuhkan diri di ranjang.

Satu koper. Satu tas jinjing. Satu tas ransel berisi notebook dan berkas-berkas yang dibutuhkannya.

Hyukjae memandangi langit-langit kamarnya. Setelah hari ini, ia mungkin tak akan kembali ke apartemennya lagi. Setelah hari ini, ia mungkin akan menjadi penghuni kamar apartemen lain di Seoul.

Yang paling luar biasa, ia akan bekerja menjadi seorang fotografer di Seoul –Hyukjae nyaris berseru girang menyerupai para gadis yang berhasil bertemu dengan idolanya. Nyaris, Hyukjae tersenyum kecil, untung saja ia tak melakukan hal itu. Walaupun sebenarnya ia tak keberatan melakukannya. Ia memikirkan kemenangan yang baru saja diraihnya setelah berhasil membujuk kedua orang tuanya untuk membiarkannya menjadi fotografer dan bukannya pegawai marketing.

“Donghae sudah tiba,” suara lembut milik Im Saera menyadarkan Hyukjae. Gadis itu bersandar di tepi pintu, mengamati Hyukjae yang masih tampak senang. Mendadak, Saera menelan ludah dengan susah payah. Lelaki di depannya ini memutuskan akan pergi dan mungkin tak akan kembali. “Aku pulang ya.”

Hyukjae bergerak cepat, mengambil langkah panjang demi menahan pergelangan tangan gadis itu. “Ada apa dengan raut wajahmu ini?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya… kau tahu, kan, aku tidak suka kau pergi ke Seoul. Maksudku, aku ingin kau jadi fotografer atau apa pun itu di sini. Bukan di Seoul.” Saera mengembuskan napas berat. “Tapi, sudahlah. Kau juga tidak akan mendengarkanku. Waktu kita berkencan saja kau tidak pernah mendengarkan ucapanku, lalu apa yang bisa menjamin kau akan mendengarkan aku saat kita hanya teman?”

Hyukjae tersenyum. “Kau itu mantan kekasih yang sangat sensitif.”

“Terima kasih atas pujianmu,” sahut Saera asal. “Sekarang pergilah, Donghae menunggumu di bawah.”

“Kau akan sering menghubungiku, kan?” tanya Hyukjae.

Saera berjalan melewatinya. Ia membawakan tas ransel milik Hyukjae. “Tergantung.” Saat ia melihat Hyukjae yang mengerutkan kening, ia mengangkat bahu santai. “Siapa tahu di Seoul ada malaikat cantik yang menarik perhatianmu.”

Hyukjae tertawa pelan. “Aku tidak butuh malaikat. Dan omong-omong, malaikat jarang turun ke bumi.”

Seoul

“Mengagumkan sekali!” seru Park Jinhee, ibu tiri Jiyoo, seraya membalik daging di pemanggang. “Kyuhyun sudah hampir 3 bulan menjadi asisten profesor di kampus kalian, lalu Daehyun bekerja sebagai asisten editor di kantor publishing.”

Kyuhyun dan Daehyun hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya bersamaan menundukkan kepala untuk menyembunyikan tawa. Jiyoo memutar kedua bola matanya. Segala respon kedua temannya sudah bisa ia perkirakan. Kedua lelaki itu benar-benar tak berperasaan. Sepertinya Jiyoo harus memberi penjelasan singkat tentang arti dari pertemanan. Ia ingin memberi pelajaran khusus tentang itu pada kedua temannya. Hanya saja, ia tak akan bisa berkutik selama ibunya masih berada di sekitar mereka. Jiyoo melirik ibu tirinya. Park Jinhee masih tampak bersemangat.

“Lalu, apa kau ikut mengisi kelas profesor itu, Kyuhyun?”

Kyuhyun berdeham, mengatur napas agar ia tak tertangkap basah sedang tertawa. “Kadang-kadang, Imo. Tapi, aku lebih sering bekerja bersama Profesor Shin dalam sebuah proyek penelitian. Kami sedang meneliti sejarah kerajaan Inggris.”

“Hebat!” seru Jinhee lagi. Selanjutnya, ia menatap Daehyun yang memusatkan perhatian pada daging panggang. “Jung Daehyun, kapan kau bisa menjadi editor utama dan memasang namamu di halaman majalah?”

“Hm… setelah aku bisa memiliki tim editing sendiri dan mendapatkan promosi, Imo,” jawab Daehyun.

Jiyoo mengaduk-aduk sup di panci besar sebelum menyendokkannya ke mangkuk. Tiba-tiba, ibunya menegur, “Lalu, putri kesayangan Eomma ini, kapan akan mulai bekerja?”

Demi Tuhan, Jiyoo nyaris bergembira karena ibunya melupakan keberadaannya. Namun, kegembiraan itu terasa semu sekarang. Jiyoo menelan ludah dan melirik kedua temannya. Kyuhyun dan Daehyun kembali menunduk untuk menghindari kontak mata dengan Jiyoo, sekaligus diam-diam tertawa.

“Aku… aku sedang menunggu jawaban dari kantor publishing tempat Daehyun bekerja,” sahutnya lemah.

Daehyun mendongak untuk menatap Jiyoo. “Kau mengajukan lamaran ke sana?”

“Benarkah?” Kyuhyun ikut-ikutan mendongak.

Jiyoo mengangguk ragu. Ia mengabaikan tatapan yang menuntut dari Daehyun dan Kyuhyun. Kali ini, sepasang matanya hanya terpusat pada ibunya. Jiyoo tak pernah tahu reaksi apa yang akan diberikan oleh ibu tirinya itu. Wanita paruh baya yang mengasuh Jiyoo sejak masih kecil itu selalu ingin Jiyoo dapat segera bekerja.

Sebenarnya, Jiyoo yakin ia akan bekerja. Semua itu hanya masalah waktu, cepat atau lambat.

Hanya saja, fakta bahwa kau memiliki dua teman akrab dengan kecerdasan dan keterampilan di atas rata-rata, dengan keberuntungan langsung mendapat pekerjaan setelah berhasil lulus kuliah dan kemampuan untuk memprovokasi ibumu dengan segala kelebihan mereka, akan membuatmu tampak seperti orang yang tak sanggup mendapat pekerjaan apa pun di dunia.

Untuk keseribu-sekian kalinya dalam hari ini, Jiyoo merutuk, ‘Aku benci Kyuhyun-Daehyun.’

“Choi Jiyoo jjang!” seru Jinhee. Ia langsung menjepit sepotong daging dan menempatkannya di atas nasi Jiyoo. “Eomma akan memberitahu tetangga kalau kau berhasil mendapatkan pekerjaan di kantor publishing!”

Eomma, eomma, eomma,” panggil Jiyoo cepat. “Masih… menunggu jawaban.”

Jinhee mengerutkan kening dan kembali tertawa. “Tidak masalah, tidak masalah. Eomma tahu kau akan mendapatkan pekerjaan itu. Kau melamar sebagai apa?”

“Aku yakin aku memilih fotografer,” ucapnya.

“Kenapa?” Seketika, satu kata itu menjadi kata yang sama yang ditanyakan oleh ketiga orang di sekeliling Jiyoo.

Gadis itu mengerjap, memikirkan jawaban yang tak akan dianggap sebagai lelucon bagi dua teman dan satu-satunya ibunya. “Karena… hanya… yah… aku, kan…”

“Jago memakai kamera?” terka Daehyun.

“Bukan jago, kau bisa memakai kamera?” Kyuhyun ikut-ikutan.

“Memangnya tidak ada pekerjaan yang lain?” Pun ibunya menimpali.

Jiyoo menghela napas. Rasanya melelahkan untuk selalu memuaskan orang lain, dan luar biasa menjengkelkan ketika orang lain mulai meremehkanmu. Jiyoo menatap ketiganya dengan tegas. “Karena aku suka melihat foto-foto. Dan, karena aku sendiri memang tidak bisa mengandalkan bakat menulisku. Tidak ada penulis yang bisa kaya –ya, aku tahu itu dan jangan mengingatkanku lagi. Lalu, soal menjadi fotografer, aku bisa belajar. Dan Eomma, pekerjaan lain itu banyak, tapi tidak ada yang akan cocok denganku.”

Ketiga orang di sekeliling Jiyoo mengerjapkan mata berkali-kali, setengah terkesima dan setengah bingung dengan jawaban dari Jiyoo. Tak ada yang menyangka bahwa jawaban Jiyoo akan meluncur seperti kilat. Terdengar meyakinkan. Namun, bagi ketiga orang itu, jawaban Jiyoo tak lebih dari suatu pernyataan putus asa. Gadis itu pasti sudah benar-benar putus asa hingga harus memilih pekerjaan yang sama sekali asing baginya.

“Yah… lagipula, jawabannya belum keluar, Jiyoo,” ujar Jinhee, diikuti anggukan bersemangat dari Daehyun dan Kyuhyun.

Jiyoo menatap ketiga orang itu bergantian, mulai dari ibunya, ke Daehyun, lalu ke Kyuhyun kemudian kembali ke ibunya lagi. Ia tahu jenis tatapan mereka. Simpati dan mengerti. Jiyoo mendesah. “Aku tidak yakin bisa diterima.”

Daehyun berdeham. Ia menjepit sepotong daging sebelum memasukkannya ke mulut. “Jangan khawatir. Kalau tidak diterima, aku akan mencarikanmu tempat di bagian editing sepertiku. Fotografer itu membosankan. Pekerjaannya hanya berkeliling kota dan studio untuk memotret.”

“Cerdas sekali,” gumam Kyuhyun. Ia melirik Daehyun. “’Berkeliling kota dan studio untuk memotret’? Jung Daehyun, aku cukup yakin itulah sebabnya pekerjaan itu disebut fotografer. Karena berhubungan dengan kegiatan memotret.”

“Ha-ha.” Daehyun tertawa hambar.

“Choi Jiyoo, kalau kau tidak diterima di kantor publishing Daehyun, bekerja saja di kampus bersamaku,” ajak Kyuhyun.

“Menjadi?”

Untuk sesaat, gerakan mulut Kyuhyun yang sedang mengunyah mulai melambat. Ia berpikir, berusaha menemukan pekerjaan yang cocok untuk Jiyoo di kampus. “Mungkin–“

Dwaesseo.” Jiyoo memotong ucapan Kyuhyun. “Aku tidak pernah cocok di lembaga pendidikan mana pun di negeri ini. Jadi, tidak perlu menghiburku, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun mengedikkan bahu dan kembali mengunyah nasi di mulutnya. “Aku, kan, hanya mencoba.”

“Kau baik sekali,” sergah Jiyoo dengan suara tawa kering. “Terima kasih sudah mencoba, tapi tolong jangan lakukan lagi.”

Gedung apartemen itu terdiri dari empat tingkat, dengan empat kamar di tiap lantainya. Dindingnya dicat putih gading. Tepat di tengah, terdapat pintu kaca otomatis yang akan langsung mengantarkannya ke lobi. Sebuah ruangan mungil, tempat pegawai informasi, berada di sebelah elevator. Ruangan itu ditempati oleh seorang pengurus gedung dan petugas keamanan. Dengan mengintip sekilas saja, semua orang tahu bahwa gedung ini megah. Dan mewah.

Harga sewanya sama sekali tak bisa dibilang murah. Hyukjae menelan ludah, gugup. Ia tak dapat menebak-nebak sampai kapan ia akan menempati apartemen ini. Im Saera yang memilihkannya, karena lokasinya dekat dengan tempat kerjanya dan sebenarnya, yang terpenting adalah gedung ini berada di pusat kota.

Dan, gadis itulah yang membayar uang sewa untuk tiga bulan ke depan.

Hyukjae memutuskan ia harus bisa mendapatkan penghasilan sampingan agar dapat membayar sewa apartemennya sendiri. Namun, jika tidak, seperti yang sudah dipikirkannya tadi, ia tak akan bisa membayangkan berapa lama ia dapat menempati apartemen ini. Mungkin pada akhirnya ia harus mencari tempat lain. Suatu tempat dengan uang sewa yang lebih murah dan bisa dibayarnya sendiri.

“Kenapa kau harus berpisah dari Saera,” adalah gumaman Donghae untuk yang kesekian kalinya sejak keduanya tiba di Seoul. Ia menekan tombol elevator dan menunggu. “Kalau kalian masih bersama, dia bisa saja membayar uang sewamu seumur hidup, Hyuk.”

Hyukjae tergelak pelan. “Kalau begitu, kau saja yang menjadi kekasihnya.”

“Tidak, Han Jeyeon-ku adalah segalanya.”

Denting ringan menandakan pintu elevator terbuka. Hyukjae mendengus dan mendahului Donghae masuk ke dalam elevator. Setelah Donghae berhasil memasukkan bawaan mereka, Hyukjae menekan tombol 3 dengan telunjuknya.

“Serius, kenapa kalian berpisah?” tanya Donghae lagi.

Hyukjae mengabaikan Donghae dengan memandang jam tangan digital di pergelangan tangannya. Pukul 8:36. Pantas saja ia kelaparan.

“Lee Hyukjae!”

Hyukjae melirik Donghae dengan enggan. “Karena memang sudah waktunya berpisah.”

“Apa?” Kemudian pintu elevator terbuka dan mereka tiba di lantai 3. Hyukjae menarik kopernya keluar dari elevator sementara Donghae mengekor di belakangnya. “Apa kaubilang? Memangnya hubungan kalian punya tanggal kadaluwarsa?”

Lee Hyukjae berhenti di depan sebuah pintu dengan papan plakat kecil bertuliskan 302. Ini kamarnya. Ia memasukkan kuncinya ke lubang kunci, memutarnya dua kali sebelum menarik knop pintunya. Gaya konvensional, tanpa kombinasi angka atau kunci berwujud kartu, dan Hyukjae menyukainya. Donghae masih menggerutu tak jelas di belakangnya. Dan, tentu saja, Hyukjae mengabaikannya.

Kamar apartemennya cukup luas. Terlalu luas, bahkan. Sangat amat terlalu luas jika ditinggali seorang diri. Hyukjae menatap Donghae. “Apa kau yakin tidak mau tinggal bersamaku?”

“Ti-dak!” jawab Donghae. “Apartemen ini jauh dari rumah Jeyeon. Dan, jangan coba-coba untuk membagi rasa tak enakmu bersamaku karena Saera sudah membayar uang sewa untuk 3 bulan.”

“Pembaca pikiran menyeramkan.”

“Tapi, kalau aku sedang ada di sekitar sini, aku pasti mampir.” Donghae meletakkan tas jinjing Hyukjae di lantai. “Aku juga akan menunjukkan padamu tempat tinggalku.”

Hyukjae tersenyum kecil. “Terima kasih.”

“Jangan terlalu formal denganku. Kau belum tahu kerepotan apa yang bisa kutimbulkan,” sahut Donghae. “Selamat datang di Seoul! Hubungi aku kalau kau butuh apa-apa.”

Mwoya, kau mau pergi?”

Donghae mengangkat bahu santai. “Pekerjaanku sudah selesai, kan? Menjemputmu dari Incheon, mengantarkanmu ke sini, apa lagi?”

“Traktir aku. Aku lapar.”

“Kutarik kata-kataku,” sergah Donghae. Ia memelototi Hyukjae. “Kau harus sesekali formal denganku.”

===

Spencer menurunkan buku yang terbuka di depannya untuk melihat gadis itu –sang Angela- lebih jelas. Angela tak melakukan apa pun, nyaris hanya duduk diam di salah satu bangku panjang. Spencer bahkan yakin gadis itu tak berkedip sama sekali selama lima menit terakhir.

Melalui jarak yang tak begitu jauh, Spencer mengamati Angela. Wajah rupawan, dengan rambut hitam legam membingkai pipi pucatnya. Kulitnya putih, terlihat lembut –dan bukan berarti Spencer cukup gila untuk mencoba menyentuh kulit gadis itu. Spencer mulai kehilangan kata-kata. Segala hal tentang Angela, meskipun dari jarak yang sama sekali tak dekat, membuatnya tak bisa berhenti menatap gadis asing itu.

Etikanya sebagai bangsawan benar-benar sudah menguap tanpa jejak. Spencer tak pernah memperhatikan lawan jenisnya, benar-benar memperhatikan, lebih dari lima detik. Namun, saat obyeknya adalah Angela-yang-tak-memiliki-nama-belakang ini, toleransinya pada satuan detik mulai berubah menjadi menit.

Angela akhirnya mengerjapkan mata. Ia mengamati sekeliling, dan benar-benar hanya sekedar melihat orang-orang yang berjalan dengan ritme teratur. Spencer ikut mengamati. Orang-orang di sekitar taman ini adalah bangsawan, cara berjalannya persis seperti boneka tali yang anggun. Spencer mengalihkan pandangannya pada Angela lagi dan ia melihat sang gadis menghela napas berat. Tanpa sadar, alis Spencer terangkat. Ia menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan gadis itu.

Detik berikutnya, ia melihat dua lelaki bertubuh tinggi dengan rambut cokelat; Spencer tak yakin ia pernah melihat bangsawan muda dengan warna rambut seperti itu. Kedua lelaki itu menghampiri Angela dan berdiri di belakangnya, seolah-olah mengawal Angela.

Tapi tidak. Kedua lelaki itu bukanlah pengawalnya. Spencer bisa melihat Angela tersenyum ketika matanya menemukan kedua lelaki sempurna itu. Senyuman selembut itu tentu saja hanya akan ditujukan pada orang-orang yang dianggapnya istimewa. Spencer yakin itu. Dan, ada segelintir perasaan getir yang menggelayuti batinnya. Spencer tak pernah merasa iri pada orang lain di sekitarnya. Sama sekali tidak, hingga saat ini.

Kedua lelaki itu, sama seperti Angela, tampak menonjol dan mudah menarik perhatian dibandingkan orang-orang di sekitarnya. Keduanya tampan, luar biasa tampan dengan aura yang seakan bersinar –Spencer bahkan tak tahu bagaimana menyanjung kedua orang itu tanpa terdengar iri.

Spencer memperhatikan ketiganya. Ia pura-pura membaca walaupun kedua matanya tak berpindah dari Angela dan kedua temannya itu –tentu saja sebagian besar Angela. Ia penasaran pada ketiganya. Sejujurnya, Spencer sendiri tak tahu mengapa ia harus penasaran. Tiba-tiba, ketika salah satu dari lelaki itu menoleh tepat ke arahnya, Spencer nyaris jatuh terjungkal. Tatapan itu menghunjam langsung ke matanya, seolah-olah ia yakin bahwa memang Spencer-lah yang sudah menarik perhatiannya.

Spencer mengerjap, kembali berkutat dengan bukunya yang terbuka. Sesekali, ia memutuskan untuk menatap lelaki itu balik. Mata lelaki itu berbentuk almond, dengan sudut lancip di ujungnya. Rambutnya agak ikal dengan warna yang tak pernah dilihat Spencer. Lelaki itu adalah yang paling tinggi diantara ketiganya.

Seketika tiga pasang mata menatap Spencer. Seharusnya ia memalingkan wajah, mengubah obyek pandangannya, namun Spencer justru berdeham, memberanikan diri menatap balik ketiga orang yang indah tapi tampak berbahaya itu. Tentu saja, di luar akal sehatnya dan tanpa sadar, pada akhirnya Spencer hanya memandang sepasang mata milik Angela.

Warnanya hazel –mata Angela. Kedua mata itu mengingatkan Spencer pada madu yang pekat, tampak gelap namun berkilau. Spencer menelan ludah dan mengakui pada dirinya sendiri bahwa sepasang mata itu sangat indah. Ia tak menyesal karena tak memalingkan pandangannya.

===

Angela memiringkan kepalanya, keheranan karena bangsawan bernama Spencer itu sama sekali tak berusaha menghindari tatapannya. Biasanya, tak ada manusia yang akan melakukan itu. Ia melirik kedua lelaki di kanan-kirinya dan kembali diliputi rasa penasaran. Bangsawan itu juga tak merasa risih melakukan kontak mata dengan kedua Skylivian lain. Angela sedikit menyanjung keberanian –atau kenekatan dan kebodohan- Spencer dalam hati.

“Siapa dia?” tanya Skylivian pertama yang memergoki Spencer. Ia masih menatap Spencer walaupun pertanyaan itu ditujukan pada dua Skylivian lainnya.

Angela menggeleng pelan. “Entahlah.”

“Dia menatapmu,” ujar Skylivian yang lain. Skylivian ini berambut cokelat terang, lebih terang dibandingkan Skylivian pertama yang memiliki rambut cokelat gelap pekat, nyaris hitam. “Ini kunjunganmu yang kedua dan sudah ada penggemar rahasia,” tambahnya usil.

“Bukan, Adrian.” Angela mengalihkan pandangannya dari Spencer, tak menyadari guratan kekecewaan di air muka lelaki itu karena Angela memutus kontak mata mereka. Angela sedikit mendongak untuk menatap Adrian secara langsung. “Tidak ada penggemar rahasia. Konyol.”

“Lalu, bagaimana kau akan menjelaskan tatapan penuh rasa kagum itu?” Skylivian yang lain menimpali dengan sarkastik.

Angela memutar bola matanya, jengah. Ia terdengar mengerang pada Skylivian lelaki lain. “Tidak. Jangan kau juga, Gabriel.”

Kedua Skylivian lelaki itu tertawa pelan dan perlahan-lahan melepaskan Spencer dari tatapannya. Namun, Angela diam-diam menatap sang bangsawan lagi. Ia bertanya-tanya apa yang dimiliki sang bangsawan dalam tatapannya, karena Angela diserang perasaan aneh –dan menyenangkan. Kemudian, ia tersadar dan mendadak muram sambil memaki dalam hati.

Ia bukan manusia, ia tak memiliki perasaan.

“Kau melakukannya lagi…”

Jiyoo mengerjap dan menoleh. Daehyun sedang menatapnya dengan kernyitan kening. “Apa?”

“Melamun. Ada apa denganmu?” tanya Daehyun. Ia meneguk soju dalam gelas kaca kecil, memasukkan cairan bening itu sekaligus untuk membakar tenggorokannya. “Kau sakit? Atau… memikirkan pekerjaanmu?”

“Aku belum mendapatkan pekerjaan,” Jiyoo mendengus.

“Kau tidak mungkin bekerja menjadi fotografer, kau tahu? Kau bahkan tidak menyukai dunia jurnalistik. Bagaimana kalau kucarikan tempat saja di bagian editing? Atau mungkin kau akan lebih cocok menjadi copywriter atau apa pun yang menjauhkan tanganmu dari kamera mahal.” Daehyun menuangkan soju ke gelas milik Jiyoo. Ia mengamati Jiyoo menghabiskan soju dalam gelasnya. “Dan terus terang saja, aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya.”

“Melakukan apa?” erang Jiyoo pelan.

Daehyun mengangkat bahu dan tersenyum miring. “Merusak kamera mahal. Tanganmu itu bencana untuk para gadget di luar sana.”

Jiyoo menatap Daehyun sambil mencibir. “Setidaknya aku mencoba.”

“Mencoba hal yang tidak kau sukai sama sekali?” timpal Kyuhyun yang sejak tadi hanya mendengarkan. “Choi Jiyoo, jangan konyol. Kupikir upahmu menulis naskah webcartoon cukup memuaskan.”

“Plus, kau suka menulis naskah,” tambah Daehyun.

Tawa pelan meluncur dari bibir Jiyoo. “Dan memangnya kalian pikir aku bisa terus melakukan itu tanpa benar-benar memiliki pekerjaan yang sebenarnya?”

“Pekerjaan yang sebenarnya itu seperti apa?” Kyuhyun bertanya balik.

“Yah… kau tahu, mendapat gaji bulanan, kadang mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan bisnis di luar kota… semacam itulah,” jawab Jiyoo ragu. Ia sendiri tak pernah tahu seperti apa pekerjaan yang sebenarnya yang mungkin ia inginkan. Kehidupan sosial masyarakat sama sekali bukan keahliannya.

Daehyun mengerutkan kening. “Kau sudah melakukannya. Menulis naskah, mendapat bayaran. Itulah pekerjaanmu.”

“Ibuku tidak menyukainya. Dan kupikir kalian berdua sudah sangat mengerti hal itu.”

Ketiganya duduk di salah satu sudut warung makan sederhana yang mungil. Tempat itu seperti tenda untuk camping dengan ukuran yang agak lebih besar. Benar-benar tipikal warung jalanan yang sering terlihat berjejer di sepanjang jalanan Hongdae. Meja mereka dipenuhi piring-piring berisi aneka makanan yang digoreng dan terdapat empat botol soju. Makan malam di kediaman Jiyoo memang menyenangkan, tapi sesudahnya selalu diperlukan acara rapat bertiga. Untuk melepas beban pikiran, begitu istilah yang diucapkan Daehyun.

Karena berbicara dengan ibu Jiyoo merupakan hal yang melelahkan, walaupun terkadang menghibur.

Kyuhyun bertukar pandangan dengan Daehyun kemudian keduanya mengangguk-angguk. Jiyoo menghela napas berat. Ia kembali memikirkan ucapannya. Bahwa setidaknya ia mencoba. Ia memilih fotografer karena ia tak cukup cekatan seperti Daehyun di bagian editing, dan ia tak benar-benar pintar bersosialisasi seperti Daehyun –lagi. Jadi, Jiyoo mengulang ucapannya dalam hati, setidaknya ia mencoba.

“Kalau kau tidak betah?”

“Jung Daehyun,” panggil Jiyoo dengan nada rendah. “Berhentilah membuat temanmu memiliki rasa paranoid berlebihan, dasar jahat.”

Daehyun tertawa nyaring hingga membuat beberapa pengunjung lain di tempat makan menoleh ke arahnya. Ia meneguk sojunya lagi. “Maaf. Hanya… pikiran selingan.”

“Sudah, sudah. Hei, Choi Jiyoo, malam ini mau diantar olehku atau Daehyun?” tanya Kyuhyun sambil menjauhkan botol soju dari jangkauan kedua temannya. “Aku belum mabuk dan Jung Daehyun ini mulai mabuk, tapi tidak masalah karena dia biasanya akan naik bis.”

Jiyoo memandangi wajah Daehyun yang memerah. Lelaki itu tak akan bertahan lama, Jiyoo menyimpulkan. “Aku ikut denganmu, Cho Kyuhyun. Kita antarkan saja manusia ini ke apartemennya sebelum dia ambruk di sini.”

Lee Hyukjae berjalan santai mengikuti Donghae. Temannya itu sudah mabuk oleh –ya Tuhan!- dua gelas wine. Hanya dua gelas dan Donghae mabuk. Donghae membawanya ke restoran Itali yang, tanpa diduga Hyukjae, cukup mewah. Hyukjae tak keberatan, karena Donghae yang mengeluarkan uang. Hanya saja, masalah tiba ketika temannya itu mulai tertarik pada wine dan bukannya menikmati pasta di depannya lalu–

BAM!

Lee Donghae mabuk –tidak mabuk berat, tapi Hyukjae tahu ia harus membiarkan temannya itu menginap. Hyukjae tak keberatan. Ia memang membutuhkan orang lain di malam pertamanya di Seoul. Dan Donghae bukan pilihan yang buruk. Mungkin seharusnya ia tak perlu mengeluh jika Donghae sedikit mabuk seperti ini.

Donghae yang sedikit mabuk bisa membawa hiburan. Hyukjae memperhatikan langkah temannya yang tak teratur. Donghae berjalan miring ke kanan dan ke kiri dengan terus menyeret kakinya. Hyukjae tersenyum kecil. Ia memastikan temannya itu tak tersandung atau menabrak apa pun. Hyukjae merasa seperti sedang mengawasi anak kecil berusia lima tahun –atau kurang, mungkin tiga tahun.

Lobi apartemennya sudah sepi. Hanya ada petugas keamanan yang mengangguk, menyapanya sekilas. Hyukjae sedang mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membiarkan Donghae berjalan cepat ke arah pintu elevator yang masih terbuka. Temannya itu berseru, “Tunggu! Tunggu!”

Hyukjae berlari kecil ke arah Donghae dan buru-buru masuk ke dalam elevator, menyusul temannya yang sudah berada di dalam. Seorang gadis ternyata mendengar seruan Donghae dan menahan pintu untuk mereka. “Terima kasih,” ucap Hyukjae.

“Sama-sama.” Gadis itu berujar.

Donghae langsung bersandar di pojok ruang persegi yang kecil itu. Hyukjae hendak menekan tombol 3 sebelum menyadari tujuan sang gadis juga sama. Ia sempat melirik sang gadis, dan teman lelaki yang bersamanya. Mungkin gadis itu mengantarkan kekasihnya yang, seperti Donghae, sedang mabuk.

Ting…

Denting mengejutkan menandakan keempatnya telah tiba di lantai 3. Donghae keluar dari elevator lebih dulu, diikuti oleh Hyukjae. Ia menunggu sejenak sang gadis yang berusaha memapah lelaki yang bersamanya. Hyukjae berpikir, menimbang-nimbang apakah ia harus menawarkan bantuan pada gadis itu, atau apakah ia harus diam saja dan masuk ke kamarnya sendiri tanpa perlu repot-repot mencampuri urusan orang lain.

Ya, Jung Daehyun! Kalau kau tidak berdiri tegak dan berjalan sendiri ke kamarmu, aku akan menyirammu dengan air atau memukul kepalamu atau melakukan apa saja untuk menyadarkanmu sekarang!”

Hyukjae mendengar ancaman sang gadis dan tersenyum simpul. Sepertinya lelaki tadi bukan kekasihnya. Atau, tentu saja kecuali jika semua gadis Seoul memang bersikap seperti itu pada kekasihnya; sangat perhatian dan… baik hati. Hyukjae mulai tersenyum geli. Ia tak perlu lagi menawarkan bantuannya. Gadis itu mengatasi masalahnya dengan sangat baik.

“Kau jahat sekali,” gumam si lelaki. “Baiklah, aku pulang sendiri. Terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati di jalan!”

Hyukjae sengaja hanya berdiri di depan pintunya, menunggu si lelaki berjalan ke kamarnya sendiri. Ia khawatir lelaki itu akan ambruk di lantai. Hyukjae, sebenarnya, penasaran dimana kediaman lelaki itu, jadi ia menunggu.

Apartemen 303. Bersebelahan tepat dengannya, ternyata. Si lelaki sempat menundukkan kepala untuk menyapa Hyukjae dan ia membalasnya singkat. Lelaki itu memiliki senyum yang ramah dan rambut ikal berwarna cokelat terang. Sejujurnya, lelaki itu cukup tampan, sepertinya cocok dengan gadis tadi. Matanya bulat dengan bulu mata yang panjang. Hyukjae baru berhenti mencari deskripsi fenotipe lelaki itu setelah si lelaki menghilang di balik pintunya.

“Cepat buka pintunya~” seru Donghae yang sudah terduduk di koridor.

Hyukjae menggerutu. “Cerewet sekali. Sebentar.” Ia mengangkat tangan kanannya, tapi tak menemukan apapun. Ia yakin sudah mengeluarkan kuncinya dan memegangnya sejak tadi. Hyukjae mengerjap dan merogoh saku celananya. Nihil. Kuncinya tak ada. “Ya, ya! Tidak ada!”

“Apa?”

“Kuncinya!”

Donghae menarik napas malas. “Di elevator… mungkin.”

“Elevator!” Hyukjae berlari ke depan elevator. Elevator berdenting dan pintunya terbuka. Langkah Hyukjae untuk masuk ke dalam elevator terhenti ketika ia menemukan gadis tadi, gadis yang sama yang sudah menahan pintu elevator untuknya, masih berada di dalamnya. Seperti sebuah film dengan tombol pause, Hyukjae memandang sang gadis lama, dalam diam. Tangan Hyukjae menahan pintu elevator sementara kedua matanya bertatapan langsung menembus indera penglihatan gadis itu.

Hazel gelap. Hyukjae menemukan sepasang kata untuk menggambarkan sepasang mata milik sang gadis. Ia tak yakin apa yang sedang dilihat gadis itu dalam matanya, tapi Hyukjae menemukan kehangatan dari mata sang gadis.

Dan kerinduan, jika ia boleh menambahkan.

Aku pernah bertemu dengan orang ini. Jiyoo berkata dalam hati.

Sepasang onyx itu langsung menghunjam menembus jiwanya. Jiyoo mengenali sepasang mata itu. Namun, ia tak yakin. Ia tak pernah yakin dengan apa pun belakangan ini. Jiyoo merasakan semuanya tampak abu-abu dan kabur. Samar-samar. Sementara ia masih menikmati tajamnya pasangan onyx di matanya, sang pemilik onyx tampak sedang mempelajarinya.

Jiyoo menelan ludah. Mempelajari? Pilihan kata yang buruk… dan aneh. Untuk apa lelaki itu mempelajarinya?

“Ini… kunci…” ucapannya terbata-bata, seperti orang bodoh.

Lelaki itu mengerjapkan mata, seolah baru saja kembali ke dunia nyata setelah perjalanan imajinya disela. “Ya… maksudku, terima kasih.”

Jiyoo, entah mengapa, ingin menangis. Rasanya ada sesuatu dalam lelaki itu yang dirindukannya. Jiyoo seakan sudah menemukan sesuatu yang dicarinya dan sekarang ia ingin menangis karena bahagia. Namun, ia hanya kembali berujar, “Sama-sama.”

Kemudian, sang lelaki melepaskan tangannya dari sisi pintu elevator, membiarkannya tertutup perlahan. Pintu elevator tertutup secara dramatis, perlahan-lahan bersatu di bagian tengah dan memutus kontak mata mereka. Keduanya tak lagi bertatapan, hanya memandang kosong ke depan. Ke pintu elevator yang berkilau dan terlihat dingin.

Jiyoo terduduk di dalam elevator, memegangi dada kirinya yang terasa sesak. Ia memang tak pernah yakin oleh keadaan, namun kali ini, ia yakin akan satu hal:

Ia mengenali sepasang onyx itu.

=====================TBC=====================

New story! Akhirnya memberanikan diri buat publish. So, basically this is all about reincarnation, Skylivians, fantasy, etc. Semoga saya gak lama-lama lanjutinnya. I have the chapter 2 for next month so wish me luck! See you around, thanks! ^-^

Oh, and I’ve prepared the fantasy scene (full of it on… idk… maybe on chapter 3 or 4 or more), jadi semoga kalian bisa enjoy sama plot cerita yang masih lompat-lompat di chapter awal. /.\

49 thoughts on “Another You [Chapter 1]

  1. Jadi ceritanya Spencer dan Angela bereinkarnasi menjadi Hyuk Jae dan Jiyoo. Penasaran banget dengan kehidupan mereka waktu masih menjadi bangsawan dan makhluk skylivian.

  2. penasaran. reinkarnasi spencer dan angela, tapi kalau di jama dulu angela itu skylivian, lalu mungkinkah jiyoo juga skylivian? pokoknya eonni i will wait the next chapter. Fighting ^^

  3. Waaah,alur cerita yg berbeda dari sebelumnya…
    Tapi keren.Aku tak pernah bosan membaca setiap kata-katamu yg pas menggambarkan alurnya.Dan aku juga suka banget am couple ini,apalagi ada HyukJae #plak/abaikan ^^
    D’tunggu ne lanjutannya ^_^

  4. Ciyee cerita baru T^T
    heu, feeling aku selalu bener haha pas buka wp ini, bum! banyak update-an hihi
    alurnya maju-mundur gitu shel? heuheu idenya bagus~~~
    ayo lanjutin, semangat!!
    oia, sukses juga buat uasnyaa!!🙂

    • Eii~ gak banyak kok. Postingannya cuma yang gak penting2. Hahaha.. Gegara bosen mau ngapain akhirnya ngubek2 blog. xD
      Semangat! Terima kasih yaa~ \o/
      Kalo kamu juga lagi uas, semangat jugaaa! ^^

  5. kangen bgt sma jihyuk couple….:)
    stelah marry yoo…akhrnya bsa bca ff jihyuk couple lgi.
    jdi yg ni fantasy ya….tpi ckup bkin pnsaran bwt capt 1.skrng mlah double pnsaranya..gmn klnjutan spencer-angela dan gmna sma eunhyuk-jiyoo.
    updatenya jdi sebulan sekli ya?hmmm…bkal penasaran nich slama sebulan.tpi gpp…:)
    tetep rajin nulis ya…semngat..fighting…^©^

    • Hehehe… sedang diperjelas di chapter2 berikutnya, semoga gak molor dari rencana yang sudah ada. Huhuhu. ;3;
      Mudah2an bisa apdetnya tiap bulan, jadi kan readernya dapet kepastian (?). Didoakan saja semoga bisa begitu. x’D
      Semangat! Terima kasih yaa~ \o/

  6. hmmm, mengagumkan ,, bisa dibilang jiyoo_hyuk itu kehidupn baru mereka atau terlahir kembali gitu?? ,, oyah unn kayaknya nih another you bisa jadi project tahun ini yang dinanti nanti nih , terbitnya tiap bulan gitu,,, fighting yaa,, dunia fantasinya kereen ,,,, si kyuhyun tetap ajah sama sifatnya biar didunia skylivian, hahahaha suka suka ,,

    • Yep yep. Benar sekali! xD
      Niatnya sih gitu, sebenernya. Jadiin AY ini proyek tiap bulan, jadi gak terlalu molor waktu penyelesaiannya… cuma… yah, didoakan saja. Hehehe..
      Terima kasih suda baca ya~ \o/
      ps: peran kyuhyun menyesuaikan (?) kok. xD

  7. Daeeebaaak…. Kangen sma hyukjae..jiyoo juga..critany ringan dan gak berbelit2 mnurut aku. Jadi d masa lalu mreka udh prnah ketemu. Trus d masa skarang terulang lagi ya. Mudah2an d antara kyuhyun sma daehyun gak ada yang suka sma jiyoo ya. Dan sma krakter donghae suka bnget disini, bakal jadi shabat baik ny hyukkie..
    Pkokny gak sabar buat klanjutannya…fighting eonni…

    • Sekedar info yang menyenangkan (?), authornya gak bakal bikin jiyoo deket2 daehyun kok. Kecuali sebagai tokoh dg karakter (?) yang wajar dan dibutuhkan. Hahaha..
      Fighting! Terima kasih suda baca ya~ \o/

  8. Another You finally published!! *yippie!!!!
    Dari awal aku udah nunggu-nunggu ff ini pake banget, dan ternyata…. ceritanya subhanallah sekali. Idenya fresh banget, eonni, aku jarang baca dan diksinya kereeennn.. *acungjempol
    Fantasi, reinkarnasi, aku suka genre kayak gini, apalagi kalo maincast-nya jihyuk. Sangat mengobati kekangenanku sama couple ini..
    Can’t wait for the next chapter!! Eonni jjang, JiHyuk jjang!!!❤

    • Yippie! \o/
      Wah padahal ragu sih awalnya mau publish di blog ato gak. Sekarang lagi jalan ngerjain fantasy partnya, mendadak minder. x’D
      Terima kasih suda baca! Kamu juga jjang! ^-^9

  9. huaaah menarik banget authornim^^
    Jalan ceritanya ga bisa ditebak, dan aku penasaran sama hidupnya jihyuk dulu, sempet jadian kah? Apa belum sampe jadian eh udah dilarang oleh ‘larangan’? Haha who knows?? Cuma bisa berharap semoga jihyuk senantiasa bahagia dalam setiap cerita amin😀
    Ga sabar nungguin next part authornim^^ Semangat ya!!

  10. akhirnya muncul juga yang di tunggu tunggu .. hehehe
    sangat tidak sabar menanti part 2 nya🙂
    paling suka genre fantasy .. hehehe

    oh ya kak yoo aku ngirim sesuatu ke fb kakak, semoga suka yaah .. hihi

  11. Hola….aku readers bru disini..aku penggemar berat jihyukism sama P&Y dan tdak lupa jga aku istrinya-eunhyuk-yang-baru-habis-dilamar-bulan-lalu..😄
    Kyaknya ff yg kali ini beda dri ff author yg sblum2nya..aku plg excited bget sama crita fantasy..smoga update part slanjutnya ga lama dehh /amin..^^

  12. syuka ama critanya hihihihihi..
    ciyeee…tumben kyukyun berteman dekat dengan jiyoo.
    mau komen apa lagi ya…
    ohi..yg adegan buka pintu lift itu, versi slow motion kekna seru tuh hihihi..
    udah ahh…kakak ga tau mau komen apa lagi yang pentinga aku cinta lee hyuk jae..dadah bubai ^__^

  13. kekeke~ aq bacany mundur😀
    td mlm bca yg chapter 2 dulu..
    jd ini fantasy ya eon, jarang bgt nie bc fantasy.. tp yg ini aq kok suka ya ??

  14. hay hay saya reder baru … pertama aku baca ff ini agak ga ngerti -ralat- masih blum ngerti mungkin mereka berdua pernah bersama d masa lalu atau bagaimana .. hah saya tidak mengerti😀 tapi bagus kok ttp semangat nulis ny

  15. ff baru uyeaaaaah akhirnya ada updatean terbaru. stlah skian lama bolak2 sini baca ulang ff2 sblomnya.

    ceritanya blom ktebak. agak fantasi yah. kirain jiyoo nya jd penulis ato apa gt, soalnya imajinasinya tinggi gt. dipikirnya ntr imajinasinya itu bakalan real.
    tapi kita liat aja ntar deh yaaaak

  16. AAAAAA ……… !!!!!! udh lama g mampir, eonni miss you🙂 #hehe
    Genre ceritanya bda dri biasanya, biasa’y manis” ky susu strawberry, tp kali ini fantasy yg biasanya bikin orang trcengang dg critanya, wkwk #lebay dikit gpp yawww🙂
    Tp cerita JiHyuk itu slalu manis apapun genre’y ^^
    Hyuk jd bangsawan, hihi. aku mlh ngbyngn’y pas Hyuk oppa d’foresight, wkwk. Ok lah lnjt k’part 2 dlu, hehe

  17. Poo dan yoo lagi :3 kangen sama ini bedua tapi sayang ga bisa tau ceritanya sampe selesai😦 aku suka banget kalo ada fantasi🙂 si hyukjae kalem bget dah suka suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s