[301013] Reverse: Sebuah Konsep Bertukar Peran

221953_10151400702564670_408595374_n

Ketika semuanya mulai terbalik dan memori terulang,

Layaknya sebuah de javu dengan peran yang tertukar…

Pernahkah terselip di sela-sela kenanganmu, ketika kecil kamu tertidur di depan televisi dan Ibu membangunkanmu, memintamu untuk pindah ke kamar tidurmu sendiri?

Sekarang, ketika kamu dewasa, pernahkah terselip masa saat Ibumu yang tertidur di sofa di depan televisi dan justru kamu-lah yang berkewajiban membangunkan Beliau untuk memintanya tidur di ranjang?

Tidakkah semua itu seperti kenangan yang terulang? Hanya saja, kenangan itu disetting terbalik.

Seketika disadarkan, bahwa waktu tak pernah memiliki belas kasih. Ia tak menunggu. Ia tak peduli berapa juta detik yang sudah berlalu. Ia tak mengacuhkan uban putih yang terus bertambah di kepala orang tua kita. Dan untuk kesekian kalinya saya mengatakan, waktu adalah hal yang paling kejam di dunia ini.

Saya pernah menonton acara televisi yang menayangkan masa ketika kedua orang tua kita menua, akan ada waktunya sendiri bagi kita, anak-anaknya, mengambil peran seperti kedua orang tua semasa kita kecil. Kita akan merawat Beliau berdua seperti merawat anak kecil. Namun, peran itu tak akan sempurna. Karena tak ada kesabaran yang sama, ketulusan yang sama, mungkin.

Sejujurnya, saya takut. Takut jikalau tak memiliki kedua rasa itu dalam ukuran yang cukup besar untuk kedua orang tua saya. Walaupun sekarang mudah sekali rasanya menyangkal dan berseru, “Saya bisa merawat orang tua saya sebaik keduanya merawat saya sewaktu kecil!”

Tapi, memangnya apa yang bisa manusia perkirakan dengan tepat?

Kemarin, saat Ibu saya menelepon dan memberitahu paket hadiah ulang tahunnya sudah sampai di rumah, Beliau berkata, “Buat apa, Mbak? Kan jatah bulanannya jadi berkurang. Mama cuma butuh doa kok.”

Kemudian, entah bagaimana, saya menjawab, “Gak papa, kan, Ma. Setahun sekali. Lagian Mama sendiri sudah ngasih kado ulang tahun buat aku dari kecil, sementara aku ngasih kado ulang tahun buat Mama aja belom ada separuh umurku.”

Dan dari situ, muncul konsep bertukar peran di kepala saya. Haha…

Berhubung saya gak bisa meminta buat gak bertambah tua, saya hanya membisikkan doa ini: semoga seiring dengan banyaknya detik yang terbuang, dapat bertambah banyak pula rasa cinta kasih saya terhadap kedua orang tua saya, hingga nanti jikalau saya merawat keduanya, saya akan melakukannya seperti keduanya merawat saya semasa kecil; tanpa pamrih, tak kenal lelah dan senantiasa tulus tanpa keluh.

Jauh dari doa itu, satu doa yang gak kalah penting sebenarnya: semoga kedua orang tua saya diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama anak-anaknya dan merasakan bagaimana anak yang dulu dibesarkan kini bisa merawat kedua orang tuanya dengan ketulusan yang, insya Allah, hampir sama.

Amin.

Buktikan bahwa peribahasa cinta ibu sepanjang jalan, cinta anak sepanjang galah itu sedikit keliru. Mungkin cinta anak memang sepanjang galah, tapi coba kita ambil galah yang banyak. Buatlah galah yang bersambung-sambung, sepanjang jalan, sepanjang cinta sang Ibu. Jadikan itu sebagai cinta untuk kedua orang tua kita.

Sayangi keduanya, wahai Teman…

Ingatlah senyuman hangat keduanya yang selalu ditujukan padamu, yang mengandung arti bahwa engkau-lah kebanggaan mereka… selalu, tak peduli peringkat kelasmu, tak peduli apakah kamu seorang jago olahraga atau jago musik atau justru bukan keduanya (saya bukan keduanya, tapi Ibu saya tetap berkata, “Mama selalu bangga kok sama Mbak” Hehe…).

Ayah dan Ibumu selalu membanggakanmu, jadi jangan rusak kebahagiaan kecil milik mereka. Jangan hapus senyuman mereka.

ps: ketika kamu berpikir dan berprasangka bahwa saya menulis ini untuk menggurui kamu, jangan khawatir, saya menulis ini sekedar untuk pengingat saja. Saya menulis apa yang ingin saya sampaikan untuk diri saya sendiri nantinya, ketika motivasi itu mulai tampak kabur dan nyaris menghilang. ^-^9

14 thoughts on “[301013] Reverse: Sebuah Konsep Bertukar Peran

  1. asli ini bikin mewek semewek-meweknya kak😥 makasih udah diingetin, kaya dapet tamparan keras melalui postingan ini😦
    I love my mom and dad :*

    • Aduh maaf yaa, gak maksud kok, sumpaaah. >< (padahal sendirinya pas ngetik juga mewek. Haha. xD)
      Sayangi, cintai orang tua kita! Selamat menjadi buah hati kebanggaan ya. \o/

  2. Hai kaka… lagi iseng searching2 di wp dan ke blog kaka, malah ketemu ini.
    Aku nangis ka, apalagi inget posisi lagi jauh dari mama ;'( Ya Allah ini dalem banget kaa.. Ga tau mau ngomong apa lagi. Makasih buat tulisannya ya kaa. Ini motivasi.

    • Hai adik! ^-^
      Maap ya suda bikin nangis. Disini juga lagi jauh dari mama, makanya sengaja bikin ini buat motivasi, supaya selalu inget ada orang tua yang nunggu kita. Tetep semangat ya! Selalu inget, kamu itu buah hati kebanggaan mereka. Hehehe. ^-^9

  3. setelah sampai di sini malah bingung mau komen apa shel…
    pernah kepikiran hal yang kamu tulis, waktu itu idul adha, berkunjung ku rumah nenek yang sudak uzur dan melakukan semuanya harus dibantu. dari situ kepikiran, kalau suatu hari nanti, si mamah mengalami hal yang sama. mungkin, sekarang rena bakal bisa ngomong “tentu saja saya bisa merawat mamah saya dengan baik.” tapi kan kita belum tau. sama seperti yang kamu tulis shel~ masalah ketulusan, kesabaran… haha jadi inget mamah T~T

    semoga kedepannya bisa menjadi yang lebih baik, dan menjadi anak yang diharapkan.
    haha masalah dibanggakan, kkkk sama!

    ah satu lagi, yang ketiduran di depan tivi… yang banguninnya si abah hahaha
    aduh jadi malah curhat ckckck.

    hati-hati shel pulangnya! haha

    • iya ya.. kalo ngeliat orang tua yang sudah berumur, rasanya kepikiran, nyaris ketakutan sebenernya, kebayang gimana misalnya kalo orang tua kita yang seperti itu. Hehehe. Sekedar pengingat saja, kalo kita gak bisa berbangga-bangga akan segala ucapan kita sekarang, bisa saja Allah membuat kita lupa akan hal yang pernah kita ucapkan dan pada akhirnya justru kita bertindak sebaliknya.

      Amin amin amin ya Rabb~ semangat menjadi buah hati kebanggaan! \o/

      Haha.. ternyata kejadian juga ya sama kamu. xD
      Aku sudah kembali ke kamar kos yang dingin dan suram (?)

  4. Okeh She,aku merinding baca ini.. dan berkaca-kaca..serius.
    Kepikiran orang tua yg jaoh,secara aku jg merantau sekarang. Kepikiran bapak yang sekarang rapuh,krn bapakku stroke dan semuanya harus dibantu. Pengen bantuin mandi sekalii saja.. selama ini Ibu yang bantuin Bapak mandi.
    Kamu bener Shela, saya jadi ngerasa terenyuh baca ini.
    Makasih yaaa She.. postingan ini sesuatu banget..
    Keepin’ loving our parent cingu… *LOVE*|and wanna hug you dear ^^

    • Aw aw aw~ yang ngetik juga berkaca-kaca kok. ><
      Semoga bapak tetap selalu diberi kesehatan ya, walaupun masih harus dibantu, tapi umur panjang itu tetep berkah. Semoga kamu juga bisa jadi putri kebanggaan Beliau dan bisa bantu ibu buat ngurus bapak. Amin.
      Sama-sama, kan berbagi. ^-^ *peluk deh*

  5. nyangkut di sini dan tiba-tiba jadi sedih, jadi pernah keingat kata ibu saya waktu ngerawat nenek saya yang sakit-sakitan dan tidak lama kemudian meninggal. Ibu bilang sama saya, ‘ka, kalo ibu sudah tua kayak nenek, rawat ibu seperti ibu rawat nenek ya’. Saat itu ibu juga sedih karena sodara-sodaranya nggak ada yang mau bantu rawat nenek.

    Jadi kangen ibu, ketika baca ini. Apalgi udah setahun tidak melihat ibu😦

    • mungkin itulah yang sering jadi beban pikiran orang tua kita ya. ketika mereka tua, renta dan gak berdaya gitu, mereka membayangkan apakah putra-putrinya yang dulu mereka rawat tanpa kenal lelah akan berada di sisi mereka. apakah anak2 mereka akan merawat tanpa mengeluh, seperti yang dilakukan mereka dulu? jujur, sepertinya orang tua kita juga pasti mengkhawatirkan hal2 seperti itu walopun bukan menjadi sesuatu yang mereka tuntut. kalaupun anak2nya gak merawat, mereka pasti maklum…padahal hal spt itu bukan sesuatu yang pantas untuk dimaklumi.

  6. “Buktikan bahwa peribahasa cinta ibu sepanjang jalan, cinta anak sepanjang galah itu sedikit keliru. Mungkin cinta anak memang sepanjang galah, tapi coba kita ambil galah yang banyak. Buatlah galah yang bersambung-sambung, sepanjang jalan, sepanjang cinta sang Ibu. Jadikan itu sebagai cinta untuk kedua orang tua kita”
    Singkat tapi sangat menyentuh, kak. Aku jadi kangen sama mama. hiks….
    Peribahasa di atas, aku sangat suka. dan dari beberapa orangtua yang aku lihat, sampai mereka tua pun, mereka tidak pernah berhenti memikirkan anak-anaknya. bahkan ketika mereka sudah tua renta, mereka masih tetap bekerja. ketika aku bertanya mengapa mereka bekerja ketika anak-anak mereka semuanya sudah sukses dan berkeluarga, mereka menjawab agar mereka tidak menyusahkan anak-anak mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s