[JiHyukism] Extraffinity

Extraffinity

817515157

============================

“Say it, and I’ll run to you.”

Untuk kesekian –bahkan sepertinya ribuan- kali dalam hidupnya, Choi Jiyoo mempertanyakan kewarasan Lee Hyukjae. Jiyoo tahu dan paham benar bagaimana seorang Lee Hyukjae bisa menjadi sangat luar biasa ultra menggemaskan. Dan, menjengkelkan secara bersamaan pada porsi yang lebih kecil. Jiyoo melirik lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya –untuk yang kedua kali. Pandangan Hyukjae lurus ke depan, ke jalanan kota Seoul yang padat.

“Apa kau harus begini?” tanya Jiyoo pelan. Sebelum Hyukjae menjawab, Jiyoo menambahkan, “Benar-benar harus begini?”

“Memangnya kenapa?” Hyukjae tak mengalihkan pandangannya. Ia menjawab pertanyaan Jiyoo seolah-olah gadis itu adalah anak kecil yang tak membutuhkan perhatian penuh darinya. Dan itu adalah awal yang cukup menyebalkan. Pertanda bahwa Jiyoo tak akan memenangkan diskusi dengan Hyukjae.

Jiyoo memutar bola mata kemudian terbatuk-batuk. Hyukjae mencuri pandang ke arah gadis itu. Lelaki itu baru bersikap tak acuh saat Jiyoo kembali menatapnya. “Aku tidak punya waktu untuk ke dokter, Poo. Aku punya deadline untuk tugas kuliah. Antarkan aku ke kampus saja, oke?”

“Tidak.” adalah jawaban yang didapat Jiyoo. Lagi.

Gadis itu sudah mendapatkan kata ‘tidak’ sebanyak… entahlah, mungkin puluhan kali pagi ini. Hal seperti inilah yang membuat Jiyoo meragukan kewarasan Hyukjae. Lelaki itu menghubunginya pagi-pagi sekali, memberitahu bahwa ia akan menghadiri acara pernikahan temannya di Ilsan. Tak ada yang aneh, hingga akhirnya Jiyoo bersin dan suaranya terdengar parau.

Jiyoo agak demam, memang. Jiyoo berani bersumpah bahwa ia baik-baik saja; hanya butuh istirahat dan obat penurun demam –atau obat flu juga, mungkin.

Namun, Lee Hyukjae yang-terhormat-dan-kadang-kehilangan-akal-sehat itu memberikan komando singkat, padat dan jelas. Jiyoo, yang berniat berangkat ke kampus siang ini, diperintah untuk diam di dorm, menunggu Hyukjae yang akan menjemputnya.

Jiyoo bisa saja menolak –dan tentu saja ia sangat ingin menolak. Namun, nada suara Hyukjae di telepon tadi bukanlah jenis suara yang ingin ditolak atau dibantah. Hyukjae bukan sedang memberikan pilihan ingin dijemput atau tidak, tapi ia akan tetap menjemput Jiyoo –suka atau tidak. Jadi, Jiyoo tak benar-benar memiliki hak untuk menolak.

Secara singkat, karena Jiyoo tak mungkin memenangkan perdebatan yang nyaris terjadi, ia terpaksa menuruti perintah Hyukjae.

Tentu saja, Hyukjae puas karena tak mendapat sanggahan atau penolakan. Sejujurnya, mungkin hanya itu yang dipedulikannya. Jiyoo merengut. Lelaki itu tak akan peduli terhadap rasa bersalah Jiyoo pada teman Hyukjae –dan pasangannya.

“Mereka akan tetap menikah tanpa aku,” katanya. “Aku bukan pengiring pengantin atau pembawa cincin.”

Terkadang, Jiyoo yakin kewarasan Hyukjae sudah menguap menjadi kumpulan awan di langit.

“Hm… paracetamol, pereda nyeri dan antibiotik,” Hyukjae bergumam sambil mengintip isi kantung plastik yang diperolehnya dari apotek. Ia mendongak, “Antibiotiknya harus habis, Yoo. Lalu, jangan lupa makan sebelum minum obat. Kemudian, untuk–“

Jiyoo memotong, “Aku bisa membaca, Poo.”

Hyukjae nyengir lebar dan menyerahkan kantung plastik berisi obat pada Jiyoo. “Aku tahu.”

“Sekarang aku boleh ke kampus?” tanya Jiyoo. Ia melihat jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku ada janji.”

“Dengan siapa? Laki-laki lain?”

“Iya, dengan profesor yang membimbing proyek penelitianku.”

Hyukjae tertawa sambil menawarkan telapak tangannya yang terbuka untuk Jiyoo. Ia melihat gadis itu mendengus pelan sebelum menyambut uluran tangannya. Dengan tangan Jiyoo yang terbungkus dalam genggamannya, Hyukjae membawa gadis itu mendekat. Keduanya berjalan bersisian menuju mobil Hyukjae.

“Kau masih demam, Yoo.”

“Aku tidak mau pulang.”

Hyukjae mendesah berat. Ia bahkan belum memberikan penawaran untuk mengantar gadisnya pulang, tapi pikirannya terlanjur terbaca. Punggung tangan Hyukjae terangkat, menempel di kening Jiyoo. “Masih panas.”

“Ada obat,” sahut Jiyoo, memamerkan kantung plastik apotek.

“Aku libur hari ini,” Hyukjae kembali mencoba. Ia sudah bertekad, apa pun untuk Jiyoo kecuali membiarkan gadisnya kepayahan.

Jiyoo tersenyum kecil. “Pergi saja ke Ilsan, ke pesta pernikahan temanmu, Poo.”

“Kau tidak ingin bersamaku.”

Hyukjae mencibir. Ia mengeluarkan senjata utamanya; sebuah pernyataan merajuk yang akan membuat Jiyoo merasa bersalah. Dan seperti biasa, Jiyoo akan termakan senjatanya yang satu ini.

“Jangan konyol. Aku tetap harus ke kampus, setelah itu kau boleh menculikku.”

“Kalau menculik, itu artinya kau terpaksa bersamaku.”

Jiyoo nyaris mengangkat tangan tanda menyerah jika Lee Hyukjae mulai merajuk. “Lee Hyukjae yang bodoh dan menyebalkan, aku sangat, sangat ingin bersamamu hari ini, tapi aku lebih ingin menjadi kekasih Lee Hyukjae yang sudah memiliki gelar sarjana. Jadi… bisakah kau mengantarku ke kampus sebelum kita menghabiskan waktu bersama hari ini?”

“Baiklah. Asal waktumu yang tersisa hari ini adalah milikku.” Hyukjae tersenyum puas.

“Terima kasih, Tuhan!”

Choi Jiyoo menundukkan kepalanya. Kedua matanya mulai berputar, susunan kata di atas buku catatannya ikut berputar tak karuan. Jiyoo tak sanggup mengangkat kepala dan menatap layar LCD di depannya. Untunglah dosennya sudah tak berada di kelas dan hanya meninggalkan tugas untuk dikerjakan. Karena jika dosennya sedang menjelaskan dan kondisi Jiyoo seperti ini, ia tak akan bisa konsentrasi sama sekali.

Dan, hal itu adalah hal yang buruk –sangat buruk. Jiyoo butuh 200% fokus pada setiap kelasnya. Tapi sekarang, ia hanya memiliki 0,09% fokus.

Tugas yang diberikan dosennya juga belum tersentuh. Jiyoo berniat mengerjakannya di dorm, setelah demamnya membaik. Saat ini, ia hanya ingin berbaring.

Hyukjae benar. Ia masih demam. Jiyoo menyentuh keningnya sendiri. Panas. Lebih panas dibandingkan tadi pagi. Hyukjae benar lagi. Mendadak, Jiyoo merindukan lelaki itu. Ia bertanya-tanya, apakah Hyukjae benar-benar tidak pergi ke Ilsan atau ia justru menyempatkan diri ke sana. Jiyoo penasaran, apakah Hyukjae benar-benar tidak memiliki jadwal hari ini atau ia hanya berbohong berkata begitu di depannya.

Dan, sepertinya Jiyoo disadarkan pada sesuatu. Ia selalu ingin tahu segalanya tentang Hyukjae. Dari hal paling remeh dan sederhana hingga hal yang paling rahasia dari lelaki itu.

Jiyoo selalu seperti ini, sebenarnya. Namun, rasa ingin tahu itu seakan membengkak, membanjiri pikirannya. Kali ini, Jiyoo tak bisa lagi mempertanyakan kewarasan Lee Hyukjae dan justru meragukan kewarasannya sendiri.

Senyuman simpul terbentuk di wajahnya. Jiyoo mengeluarkan ponsel, mengabaikan putaran yang masih berlangsung dalam kepalanya, dan menghubungi Hyukjae. Pada nada sambung kedua, suara lelaki itu menyambutnya dan senyuman Jiyoo melebar.

“Yoo?”

“Di Ilsan?”

“Tidak. Aku di depan gedung fakultasmu.”

Jiyoo nyaris berteriak. “Apa– kenapa? Apa yang kaulakukan?”

“Menunggumu. Kenapa meneleponku?”

“Tidak apa-apa.”

“Pembohong. Cepat katakan sebelum aku menerobos masuk ke kelasmu.”

Kali ini Jiyoo mendengus geli. “Kau bahkan tidak tahu dimana kelasku.”

“Aku bisa mencari tahu.”

“Tentu saja.” Jiyoo memutar bola mata. Ia percaya sepenuhnya bahwa Hyukjae sanggup melakukan hal itu. “Aku… merindukanmu.”

Hyukjae terdiam. Jiyoo bisa membayangkan senyuman lebar di wajah lelaki itu. Jantungnya berdebar-debar dengan konyol. Bagaimana bisa suatu bayangan, yang berada diam dalam pikiranmu, mampu membuat organ vitalmu berdebar-debar? Jiyoo tak menemukan satu pun fakta keilmuan yang mendukung teorinya.

“Apa aku perlu menjemputmu sekarang?”

Giliran Jiyoo yang tak mampu berkata-kata. Bolehkah ia berkata ‘iya’ berkali-kali ketika sesungguhnya satu kali ‘iya’ sudah cukup?

“Katakan iya, dan aku akan berlari ke sana.”

Jiyoo tertunduk, menyembunyikan senyuman bodoh yang merambati wajahnya. “Semua orang mengenalimu, Poo”

“Itu bukan jawaban, Yoo.”

“Bagaimana dengan ‘iya, aku ingin kau menjemputku sekarang’?”

Voalla!

Jiyoo sudah mengucapkan mantra ajaibnya. Sepertinya kewarasannya terlanjur menguap oleh panas tubuhnya sendiri. Ia gagal mengais-ngais kewarasannya yang mungkin tersisa.

Sambungan terputus. Jiyoo memandang layar ponselnya dan memiringkan kepala, bingung. Namun, kemudian ia tersenyum. Ia akan menunggu hingga Lee Hyukjae muncul di pintu ruang kelasnya nanti.

Dan, siapa yang butuh akal sehat jika kau memiliki alasan untuk tergila-gila?

Lee Hyukjae mengenakan masker dan sebuah topi berwarna navy. Lelaki itu melewati koridor panjang yang memiliki pintu di kedua sisinya. Ia tak menyimpan bekal apapun; ia tak tahu kelas apa yang sedang dihadiri Jiyoo, dimana ruang kelasnya, bahkan ia tak tahu satu pun nama teman Jiyoo.

Jika bisa diibaratkan, Hyukjae hanya seperti kertas polos tanpa tulisan saat ini.

Ia menghadapi jalan buntu. Tak ada satu pun informasi yang mampu membantunya sekarang. Dan ia sesumbar akan menemukan ruang kelas Jiyoo. Cerdas sekali, Lee Hyukjae. Benar-benar cerdas.

Seharusnya ia bertanya saja pada Jiyoo tadi. Hyukjae memaki dirinya dalam hati. Ia duduk di kursi di bawah tangga, berusaha memikirkan cara lain untuk menemukan Jiyoo.

“Jiyoo?”

Hyukjae mendongak, kemudian menolehkan kepala dan menemukan dua orang lelaki berdiri bersisian menuruni anak tangga. “Dia masih di kelas. Aku mengajaknya turun, tapi dia menolak.”

Tentu saja Jiyoo-ku menolak, memangnya kau siapa. Hyukjae menyipitkan mata.

Lee Hyukjae bodoh! Bukan waktunya untuk memikirkan laki-laki payah teman Jiyoo ini. Hyukjae menyadarkan diri dan menghampiri kedua lelaki itu. Keduanya terkejut dan menatap Hyukjae dengan curiga.

“Maaf, ruangan kalian tadi… di mana?”

Kedua lelaki itu saling berpandangan, melontarkan pikiran masing-masing melalui sorot mata. Kesimpulan keduanya sama; laki-laki yang menghampiri mereka ini adalah orang yang mencurigakan. Masker dan topi di dalam gedung, kedua hal itu sudah cukup menjadi alasan bagi keduanya untuk mengabaikan Hyukjae.

Kedua lelaki itu hanya membungkukkan badan sesaat dan meninggalkan Hyukjae. Hyukjae sendiri nyaris meneriaki kedua teman Jiyoo itu.

“Sial!” makinya.

Jiyoo masih menunggu. Kelasnya sudah nyaris kosong. Hanya tersisa beberapa orang yang masih sibuk berkutat dengan tugas. Sebagian besar mahasiswa lainnya memutuskan untuk meninggalkan kelas. Yoo Youngjae, salah satu temannya, sempat mengajaknya turun, mungkin untuk ke kafetaria. Tapi, Jiyoo menolak.

Ia harus menunggu Hyukjae.

Walaupun ia ingin menunggu Hyukjae, tapi tubuhnya tak bisa menunggu. Jiyoo memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Ia merasa kedinginan meskipun faktanya tubuhnya justru bersuhu tinggi.

Dalam kegelapan yang menghalangi pandangannya, ia merasakan sentuhan di salah satu pipinya. Jiyoo membuka kelopak matanya dan mendapati Hyukjae berlutut di samping kursinya. Hyukjae mengenakan masker, tapi Jiyoo tahu lelaki di hadapannya itu adalah Hyukjae. Dalam keadaan berkunang-kunang seperti ini pun, ia tak takut salah mengenali Hyukjae.

Karena ia memang tak akan salah. Sosok Hyukjae sudah terlalu lama terekam dalam imajinya, membuat Jiyoo mampu mengenali lelaki itu dengan sekali lihat. Ia sudah terbiasa dengan Hyukjae.

“Kau datang…” gumam Jiyoo pelan.

Ia melihat Hyukjae yang tampak khawatir. Dengan masker yang menutupi separuh wajahnya, entah mengapa Jiyoo tahu lelaki itu sedang khawatir. Tanpa perlu melihat seluruh wajah lelaki itu, Jiyoo bisa membaca sorot mata Hyukjae. Kedua alis Hyukjae bertaut, menggemaskan. Jiyoo tersenyum samar.

“Ayo pulang,” ucap lelaki itu.

Jiyoo tak mengangguk, hanya mengerjapkan mata, tanda setuju. Ia bahkan tak memiliki niat untuk membantah Hyukjae. Ia menegakkan tubuhnya dan membiarkan Hyukjae membereskan catatan di atas meja. Hyukjae menjejalkan catatan dan alat tulis ke dalam tasnya sementara Jiyoo menunggu. Jiyoo tahu tugasnya kali ini hanya satu.

“Nah.” Hyukjae menawarkan genggaman tangannya yang terbuka.

Tugas Jiyoo: menyambut tangan itu, membiarkannya membungkus erat tangannya yang tampak rapuh.

Dorm – 3:22 PM

“Aku tidak akan pulang,” kata Hyukjae setelah Jiyoo menghabiskan semangkuk sup dan meminum obatnya. Keduanya duduk bersisian di sofa berwarna putih gading. Jiyoo menyandarkan tubuhnya ke lengan Hyukjae, membiarkan panas tubuh Hyukjae memberikan kejut listrik menyenangkan ke seluruh jaringan sel tubuh Jiyoo.

Jiyoo tersenyum. “Kalau begitu jangan.”

“Biasanya kau akan memaksaku pulang,” gumam Hyukjae.

“Kau mau aku memaksamu pulang?”

Hyukjae mengangkat bahu. “Jangan bodoh. Kau tahu akulah yang harus selalu mengemis untuk diijinkan tetap di sini kalau kau sakit.”

“Tapi nanti kau tertular,” ucap Jiyoo tanpa berniat menjauhkan diri dari Hyukjae. Ia berkata demikian, namun tak benar-benar ingin menjaga Hyukjae agar tak tertular penyakitnya. Jiyoo justru sepenuhnya ditopang lelaki itu untuk tetap tegak.

“Tidak masalah.”

“Baiklah, kalau begitu.”

Keduanya terdiam, menikmati detik-detik menenangkan dengan debaran jantung yang tak terkendali dan senyuman konyol di bibir. Jiyoo tak yakin apakah ada pengaruh dari demam dan sakitnya atau bersandar pada Hyukjae memang senyaman ini. Ia merindukan semua hal remeh yang berhubungan dengan Hyukjae. Sungguh.

Ternyata rasanya luar biasa menyenangkan memiliki sepasang pundak yang bisa menopangmu.

Jiyoo memiliki pundak itu lagi. Ia mendapatkan pundak Hyukjae lagi, dan ia juga siap memberikan pundaknya untuk lelaki itu. Ia tak ingin kehilangan rasa nyaman ini lagi. Jiyoo tamak dan rakus. Ia selalu membutuhkan sepasang pundak itu tanpa rasa ingin berbagi. Ia egois.

“Aku tidak suka perpisahan kita,” ujar Hyukjae tiba-tiba. “Aku tidak bisa merasakan kehadiranmu di dekatku. Aku tidak suka itu. Apa aku sudah menjadi sangat egois?”

Jiyoo terdiam dan menggelengkan kepala.

“Dan sekarang, rasanya aku menjadi lebih egois lagi,” Hyukjae tertawa –entah pada apa. “Aku menjadi semakin tergantung padamu lebih dari sebelumnya. Sepertinya lebih daripada saat kita pertama kali bersama.”

“Afinitas.”

Hyukjae menoleh, bertemu dengan puncak kepala Jiyoo. “Apa?”

“Kemampuan enzim dalam mengikat substratnya. Semakin tinggi afinitasnya, semakin murni enzim itu dan semakin tinggi kualitasnya,” jelas Jiyoo datar. Ia tertawa saat melihat wajah Hyukjae yang melongo. “Hanya mata kuliah tentang protein. Lupakan saja.”

“Apa kau… baru saja mencoba mengatakan bahwa afinitas kita semakin tinggi setelah perpisahan kemarin? Atau kau hanya sekedar mengulang materi untuk ujianmu minggu depan?”

Jiyoo kembali tertawa hingga tenggorokannya sakit. “Dua-duanya.”

“O…ke. Baiklah.”

“Dan omong-omong, kau belum bercerita bagaimana kau bisa menemukan kelasku.”

Hyukjae beringsut membetulkan posisi duduknya. Perubahan gestur itu bisa dilihat Jiyoo sebagai keengganan Hyukjae untuk bercerita. Mau bagaimana lagi, Jiyoo terlanjur penasaran. Jadi, Jiyoo akan berpura-pura tidak tahu dengan sinyal keengganan yang ditunjukkan oleh Hyukjae.

“Kau benar-benar ingin tahu?”

Jiyoo mengangguk. Hyukjae menarik napas berat. Ia tak punya pilihan.

“Memeriksa tiap ruangan di setiap lantai. Dimulai dari lantai dua.”

Kedua mata Jiyoo terbelalak, penuh dengan rasa tak percaya. “Kau pasti bercanda. Aku ada di lantai empat!”

“Aku serius. Dimulai dari ruang 2.1 hingga 2.4, kemudian ruang 3.1 hingga 3.6 dan akhirnya aku menemukanmu yang memejamkan mata di ruang 4.4,” jelas Hyukjae. “Karena aku tidak tahu pasti dimana ruang kelasmu. Aku bertanya pada temanmu –sepertinya dia temanmu, tapi dia malah melarikan diri. Satu-satunya petunjuk yang kumiliki hanya ‘Jiyoo menolak untuk turun’, yah… begitulah.”

Jiyoo mengerjapkan mata berkali-kali, takjub dan kehilangan kata-kata. “Daebak! Kalau aku tidak ada di lantai empat, kau pasti akan terus mencari hingga ke lantai sembilan. Aku pasti akan sangat tersentuh, Poo.”

“Sebenarnya,” gumam Hyukjae. “Jika aku tidak menemukanmu di lantai empat, aku akan menghubungimu saja dan langsung bertanya kau ada di mana, Yoo.”

==================FIN==================

Hi, beautiful people! ^-^)/

Well… this story just happened. Not even planned. So i hope you enjoy this one! Hehehe~

And yes, affinity is the ability of enzyme for binding wif its specific substrate (saya mabok teknologi enzim. HAHAHA..) Extraffinity… i just think the title is uniqe tho. Hihi..

Thanks and see you around! Bye~ ^-^

Cr: _candy860404_

77 thoughts on “[JiHyukism] Extraffinity

  1. sumpah kangen banget sama couple ini
    sweeeet banget dan bikin iri

    seneng deh mereka barengan lagi … jadi kaaaaannnn …. bisa sering di post ceritanya .. haha

  2. Sweet banget…
    Mabok JiHyuk Moment, bawaan’y iriiii….😀
    Beruntung’y, ☺ ‎​みϱ”̮みϱ”̮みϱ”̮みϱ (⌒˛⌒) ☺

    Makasih info’y, berasa kuliah lg… Hihihi
    Next ff d’tunggu..🙂

  3. mwoya ~~ kenapa lee hyukjae manis sekali hemm ? ahahah aduhh jihyuk makin lengket aja deh pasca putus kemaren ahahaha

    yang ini, yang ini aku suka –> “Sebenarnya,” gumam Hyukjae. “Jika aku tidak menemukanmu di lantai empat, aku akan menghubungimu saja dan langsung bertanya kau ada di mana, Yoo.”
    ahahaha lee hyukjae, kamu bisa aja deh ahaha jjang ini jjang~

  4. Yoo klo lagi sakit begini jadi lebih ‘jinak’ yaaah😄

    Ternyata rasanya luar biasa menyenangkan memiliki sepasang pundak yang bisa menopangmu ~~> aiiiihh.. sedaaaap😉

    Baca cerita kali ini jadi bikin gigit jari, manis semanis-manisnya manis :)))

    dan endingnya itu.. nyahahaha :p

    • Yoo jadi semacam spesies yang galak pas sehat dan jinak pas sakit ya kak ya. Hurr~ *tabur stlobeli*
      Aduh kaka jingga diquote getoooh. ><
      Endingnya teteup ala leehyukjae, si Poo-nya Yoo yang sedang dirindukan (?) </3

  5. jihyukkkkkkk
    really miss them….
    nah lho, jadi ketergantungan kan hehehe
    ehm tapi eonnie, entah aq yg lg sotoy ato apa tapi ada rasa(?) yang beda disini…
    mmm belum yakin siy, tapi tetep kereenn🙂

  6. Suka! Suka! Suka!

    Du du du~ jadi ngarep yang kayak Hyuk Jae – kalo boleh yang aseli – Ji Yoo nya bahagia beut~ *iri sama pasangan ini*

    Betewe, salam kenal oen, lizzy imnida. Udah pernah tengak-tengok sih, mau izin resmi menjelajah *baru minta izin sekarang, mian*

    Gamshaaaaa~~

    • Halooo~ salam kenal juga! ^-^
      Sepertinya saya sudah sering bales komen kamu ya? *bener gak ya… xD* Selamat menjelajah, sampai bertemu lagi!

  7. eonnie lama saya tidak baca ff mu..
    extraffinity .. daebag~!! bagaimana eonnie bisa mengibaratkan mereka dengan enzim2 itu? keren..
    sweet story ^^ cerita romantis yang diselingi ilmu pengetahuan😀

    • Aw.. selamat datang kembali! ^-^
      Itu sebenernya yang enzim2 itu gara2 lagi suntuk sama mata kuliah yang gak boleh disebut (teknologi fermentasi sama teknologi enzim) LAH KESEBUT! xD xD xD
      Terima kasih ya! \o/

  8. sweeeeeeeeettttt.. gandengan mulu kaya truk gandeng °~=))••°wk.wk.wk°••=))~°
    tp memang bener sih yaaa, perpisahan sementara tu malah bikin kita semakinnnnn lengket.. karna baru bisa menyadari sesuatu saat telah berpisah (`▽´)-σ
    goodluck sheellllllll.. ditunggu selanjutnya..

  9. Wah…
    ada jihyuk lg…
    Ciieee..
    yg baru jadian jd makin romantis…
    gx kebayang kalo emang poo nyariin yoo-nya smpek ke lantai 9….

  10. uuuuuuuhhhh… kagen kangen ceritx ( Jihyukism) nih ceople stlah balikan🙂 *bow to eonni yg sudah publis kmbli ….

    Mau UTS ya unn… Ganbatte🙂

  11. Eonni, mitha disini!!! *tunjuk2 post-an istri uryuu yg waktu itu
    Akhirnya, JiHyuk so sweet2an lagi… Saya terharu!!! *sroottt (sedot ingus)
    Segala ke-sosweet-an ini bermula dari Yoo sakit, jadi… Terima kasih pada penyakit!!! *plaakk
    Poo memang harus se-keras kepala itu buat ngehadepin Yoo eonni. Pertahankan Poo oppa!!! 9( ^_^)9
    Seandainya ahjusshi-yg-mukanya-aneh itu cocok dibikin “manis” kayak gini.. -..-
    Intinya… JiHyukism JJANG!!! Eonni jjang!! Hehe..

    • HALOOO, MITHA-CHAAAAAN! \o/
      Aduh jangan terharu gitu ah. Lebih penting lagi, jangan buang ingus sembarangan *sodorin tisu*
      Kok…terima kasih pada penyakit? *gelindingan*
      MITHA JUGA JJANG! Terima kasih ya! ^-^

  12. annyeong eonn ^^
    endingnya bikin ngakak eonn hahaha
    lg romantis”nya tp tetep dah si unyuk kocak abis.. ><
    seneng ngeliat yoo mulai pengen sama" hyuk teruss, hehe kayanya makin bnyk edisi romantisnya nih eonn, ditunggu eon part selanjutnya🙂
    Fighting ~

  13. reader baru
    annyeonghaseyo.. Salam kenal

    so sweet. Ini ff yg ga ngandelin keintiman#eh, tapi tetap keren bgt gitu.. Bahasa yg ga terlalu rumit, hyukkie oppa karakternya aku suka bgt. Jiyoo nya jga, yg so so ga butuh pdhal butuh bgt..

    Scene terakhirnya buat aku ketawa, harapan jiyoo yg tersntuh kalo dia ga ada dilantai 4 terus hyukkie oppa mencarinya hngga kelantai 9 pupus.. Pkoknya daebak.. Boleh jadi penggemarmu?
    Tpi sya ga janji bisa komen disetiap ff mu. Pokoknya aku usaha baca n komen stiap ff chingu..
    Keep writing,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s