[191013] Journey

journey***

Selamat pagi selamat siang selamat malam~

Hanya sekedar tarian jemari iseng, mungkin sebatas ingin menemukan kepuasan nurani, jadi silakan diabaikan. Hehe…

Seseorang berkata, “Perjalanan itu bukan dilihat dari tujuan yang ingin dicapai, tapi harus dilihat dari proses perjalanan itu sendiri dalam menghasilkan sesuatu yang bisa dibagikan.”

“Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an activity but in doing it.” Itu kata Greg Anderson.

Saya percaya, segala proses dalam kehidupan, baik dengan melihat ke luar diri kita atau justru mengintip kembali apa yang ada dalam diri sendiri, akan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Dan, tentu saja itu termasuk segala lika-liku-luka yang turut menyertai.

Semunafik-munafiknya saya, saya tetap percaya bahwa proses dalam menyelesaikan sebuah perjalanan hidup akan sangat mendewasakan. Tapi, sejujur-jujurnya saya, saya tahu saya masih belum bisa berkata bahwa saya akan menikmati proses itu sendiri.

Perjalanan sudah terlanjur dimulai. Rasanya akan terlalu sia-sia jika sekarang ingin berhenti dan berputar haluan. Dan walaupun begitu, rasanya terlalu menakutkan untuk meneruskan perjalanan ini, kemana pun tujuan akhirnya akan bermuara. Iya, saya pengecut seperti itu. Terlalu takut untuk berhenti, namun tak sanggup untuk memutar arah.

Dan kemudian, saya bertanya-tanya, akan berakhir dimana manusia setengah-setengah seperti saya ini?

Sepertinya akan jauh dari kata ‘terbaik’, karena saya sepenuhnya sadar, saya sama sekali tidak mengusahakan yang terbaik. Segala hal selalu dibayar impas, Bung. Sesuatu yang nantinya kita dapatkan adalah sesuatu yang sudah kita usahakan sebelumnya. Oh well life…

Saya kembali merenungkan segala macam alasan, motivasi, sekaligus mencoba mengais-ngais serpihan semangat yang entah berceceran dimana. Namun, tak ada sesuatu yang mudah dilakukan semudah mengucapkannya di bibir. Terkadang, usaha menemukan kembali hal-hal yang hilang itu justru sia-sia. Seperti mati rasa, saya gagal menemukan hal yang saya cari.

Huhuhu…

Rasa jenuh menumpuk, menggelayut hingga membuat kaki ini susah berjalan. Padahal, saya tidak boleh hanya sekedar berjalan. Saya harus berlari. Tapi, begitulah. Rasanya berat oleh gumpalan rasa jenuh.

Dan betapa rindunya saya akan masa silam.

Ketika senyuman begitu mudah terkembang. Ketika bahagia terasa begitu mudah datang. Ketika hidup ini begitu ringan.

Ketika segalanya tak memiliki sisi gelap.

Bisakah, sejenak saja, pinjamkan saya lentera terang demi perjalanan dalam gelap ini?

Hingga kegelapan meradang dan berbalik menjauh.

Hingga tak ada lagi kegelapan dan zona abu-abu.

Hingga diri ini mampu memiliki sinarnya sendiri.

2 thoughts on “[191013] Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s