[JiHyukism] Annyeong

Annyeong

annyeong

Oct 6th, 2013

Annyeong?”

Dengan gugup, Jiyoo mengangkat kepalanya. Ia mengenali suara itu. Bahkan, sebenarnya tanpa perlu mendongak pun, ia tahu siapa yang bicara dengannya. Jiyoo menggigit bibir. Justru karena ia mengetahui sang pemilik suara itulah ia mendongak. Karena ia tahu, cepat atau lambat, ia akan berhadapan dengan lelaki ini.

Annyeong…”

“Kukira hubungan kita sudah membaik sejak kejadian di rumah sakit dulu,” ucap Hyukjae. Kedua matanya sesekali menatap Jiyoo dan kali lainnya mendarat di obyek lain –obyek apapun yang bisa ditangkap indera penglihatannya. Ia juga sama canggung, sama gugupnya dengan gadis di depannya ini.

“Memang sudah,” sahut Jiyoo ragu-ragu.

Hyukjae mendengus kecil. Siapa yang bisa memercayai ucapan tak masuk akal dari Choi Jiyoo saat ini? Hubungan mereka memang sempat membaik. Dengan segala hal menyenangkan di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, tentu saja keduanya bisa menjadi dua orang yang memiliki hubungan lebih erat daripada sebelumnya. Namun, baik Hyukjae atau Jiyoo tahu, saat ini segalanya terlalu jauh dari hal itu.

Hyukjae sudah kembali dari perjalanan konsernya sejak lama. Jiyoo sudah kembali pada kehidupannya tanpa pernah mengunjungi rumah sakit lagi. Keduanya hidup normal. Bahkan, keduanya hidup dengan terlalu normal.

Segala hal yang normal itu justru membuat keduanya semakin jauh dari mana-mana.

Jiyoo tak menemui Hyukjae. Hyukjae tak berusaha menghubungi Jiyoo. Tak ada satu pun dari kedua orang itu yang mengingat kenyataan paling manis di atap rumah sakit.

Tak juga ada yang berusaha mencari jawaban dari pertanyaan yang belum terjawab.

“Kukira kau tidak akan datang,” ucap Hyukjae pelan.

Kedua mata Jiyoo berkedip, mencerna ucapan Hyukjae. Ia sudah bilang akan datang ke pesta kecil-kecilan yang diadakan di restoran taco milik Donghae. Hyukjae sudah mengajaknya saat keduanya tak sengaja bertemu di permainan basket antar membernya. Sejujurnya, Jiyoo tak ingin menyebutnya sebagai pertemuan yang tak disengaja.

Tak akan bisa disebut demikian jika nyatanya ada tim sukses –member Geenies dan Super Junior sendiri- yang akan melakukan apapun agar pertemuan itu terjadi.

“Tapi aku datang,” ralat Jiyoo. Ia meraih gelasnya, meneguk jus yang diberikan Donghae begitu ia tiba. “Dan… kenapa rasanya canggung sekali. Kita baik-baik saja, kan?”

Hyukjae menelan ludah, gugup. Ia tak begitu suka ketika Jiyoo begitu putus asa menganggap segalanya baik-baik saja padahal ada masalah yang begitu jelas tergambar dan menjadi pembatas antar keduanya. “Jika kau merasa begitu.”

“Aku merasa begitu, dan kau juga harus merasa begitu.”

“Aku tidak suka didikte.”

Jiyoo menghela napas panjang. Baiklah, jika ini diteruskan, ia yakin semuanya hanya akan berakhir dengan perdebatan tak masuk akal. Walaupun status keduanya masih sangat tidak jelas, Jiyoo tahu bahwa hal itu tak akan menjadi penghalang sebuah perdebatan antara dirinya dan Hyukjae.

“Kudengar kau sempat berlibur kemarin…” Jiyoo mengalihkan pembicaraan. Ia melirik Hyukjae, berusaha membaca air muka lelaki itu.

“Hanya liburan singkat,” jawab Hyukjae. Usaha Jiyoo tak berhasil. Lelaki itu masih terlihat gusar dan sedikit kesal. “Lalu, kau?”

“Aku… kenapa?”

Hyukjae mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin kau sempat berlibur ke planet lain hingga melupakan bumi dan orang-orang yang ada di dalamnya.”

Nada suara Hyukjae tak menyenangkan, Jiyoo membiarkan otaknya merespon. Sejujurnya, Jiyoo tahu penyebabnya. Hyukjae pasti kesal karena Jiyoo tak menemuinya. Jangankan menemui Hyukjae, Jiyoo bahkan tak mencoba menghubungi mantan kekasihnya itu. Jiyoo masih mengingat jelas pertemuan terakhir mereka adalah yang termanis sejak keduanya memutuskan untuk berpisah.

Dan tentu saja, Jiyoo tahu ada hal yang diharapkan Hyukjae. Sebuah jawaban. Atau lebih spesifik lagi, sebuah kata ‘ya’ untuk sekali lagi memulai hubungan yang baru.

Namun Jiyoo seolah tak sanggup mengucapkan kata itu. Sebuah kata baru saja dihapus dari kamus dalam kepalanya. Koreksi, ia juga kehilangan segala macam bentuk penolakan yang mungkin bisa diucapkan. Jiyoo merasa menjadi seorang pecundang terpayah di dunia.

Ia tak bisa menerima, namun tak juga sanggup menolak. Nah, ini masalah.

Hyukjae masih menatap Jiyoo, menunggu dengan tak sabar. Ia tahu pergolakan batin yang dialami gadis ini. Ia juga tahu, seandainya ia tetap memaksa, tak ada yang bisa menjamin nantinya Jiyoo tak akan menolaknya. Jiyoo bisa saja melarikan diri darinya sekali lagi.

Tapi, menunggu? Hyukjae juga tak menyukai gagasan itu.

“Kau sudah berjanji akan menjawabku,” ucapnya.

Jiyoo balas memandangnya, lurus, seakan menembus jiwa Hyukjae. Hyukjae tak yakin apa yang sedang dilihat Jiyoo ketika itu. Mungkin kegetiran, mungkin amarah. Tapi sesungguhnya, yang paling mungkin adalah keputusasaan tanpa akhir. Hyukjae tak ingin menutupi perasaannya yang satu itu. Toh, Jiyoo juga harus tahu apa yang telah dan sedang dilakukannya.

“Aku… ada kelas sekarang,” ujar Jiyoo pelan. Ia berusaha untuk menatap Hyukjae secepat yang ia bisa sebelum mengalihkan pandangannya. “Annyeong.”

Hyukjae memastikan sepasang manik bulatnya mengikuti punggung Jiyoo. Ia baru memalingkan wajah ketika punggung itu semakin mengecil dan menghilang di balik pintu yang tertutup. Rasanya luar biasa aneh mengawali pembicaraan lagi dengan Jiyoo. Ia yakin, ketika ia meminta gadis itu kembali, ia akan mendapat jawaban yang menyenangkan.

“Seharusnya aku tidak membiarkannya mengulur-ulur waktu,” gumam Hyukjae. Dengan helaan napas panjang dan rasa frustasi, ia mengacak rambutnya. Ia berdecak, “Annyeong, Yoo.”

Jiyoo melihat sekeliling, memastikan tak ada sudut terkecil yang terlewati oleh sepasang matanya. Ia tersenyum puas. Hari ini, dorm barunya selesai direnovasi. Sudah ada beranda yang menghadap ke timur sesuai permintaannya. Jiyoo memeriksa dapur dan kembali dipuaskan. Dapur mini itu dicat putih dengan sedikit penambahan lemari-lemari kecil di dekat lemari es. Dormnya selesai!

“Sebagai seorang gadis, kau terlalu perfeksionis, Yoo,” Hyori berdiri di tepi pintu dengan tas belanjaan di salah satu tangannya. Ia mengintip dapur dan berkomentar, “Kurasa tidak ada perubahan dari dapur ini.”

Jiyoo melirik Hyori dengan tajam. “Catnya baru, lemari tempat menyimpan piringnya juga baru.”

“Kalau hanya ingin melakukan itu, tidak perlu sampai mengungsi ke tempat Haneul eonni, kan?” gumam Hyori. “Kecuali kau sedang tidak ingin ditemukan oleh seseorang di tempat ini.”

Jiyoo mengabaikan Hyori dan meraih tas plastik yang dibawanya. Sambil bersenandung asal, ia mengeluarkan isi belanjaan Hyori. Sebagian besar buah-buahan; dari jeruk hingga strawberry. Jiyoo mengangguk-angguk, ia akan memiliki simpanan buah di lemari esnya sekarang. Sisanya, ia menemukan beberapa kotak susu strawberry yang membuat kedua matanya menyipit.

“Kenapa kau membeli ini?”

Hyori melepas sepatunya, menggantinya dengan sandal empuk berwarna ungu. Alisnya terangkat, bingung. “Kenapa?”

“Itu pertanyaanku, Shin Hyo-nim.”

“Bukankah kau suka itu?” sahut Hyori sebelum merebahkan tubuh di sofa ruang tengah. “Satu-satunya hal yang kusuka dari dorm barumu ini hanya beranda itu.” Hyori menunjuk pintu beranda yang terbuat dari kaca dan membiaskan cahaya hingga ruangan itu menjadi terang.

“Hyo,” sergah Jiyoo malas. “Kau tahu aku sudah lama tidak minum ini.”

Hyori mengernyitkan kening. “Benarkah? Aku tidak tahu. Maaf.”

Jiyoo menarik napas panjang. Mungkin Hyori memang tidak tahu. Temannya itu mengira ia dan Hyukjae sudah baik-baik saja. Bahkan, mungkin saja Hyori sudah menebak bahwa keduanya sudah kembali bersama. Mungkin.

“Kau bersikap aneh lagi pada Hyukjae oppa ya?”

“Dia memberitahumu,” ucap Jiyoo. Kedua tangannya sibuk menata belanjaan yang dibawa Hyori ke dalam lemari es. Kedua matanya memastikan lemari esnya cukup untuk menampung semua barang yang dibawa Hyori. Namun, kedua telinganya berkhianat. Indera pendengarannya itu menunggu jawaban Hyori, seolah telinganya ingin mendengar lebih banyak soal lelaki itu.

Hyori memiringkan kepala. “Tidak juga. Hanya sedikit,” jawabnya. Tangannya membentuk jarak kecil dengan telunjuk dan jempolnya. “Hanya yang perlu kuketahui.”

“Berarti semuanya.”

“Bingo!” Hyori tertawa puas. “Dia sudah bersabar, Yoo. Jangan membuatnya menunggu lebih lama dari ini. Apa susahnya memulai lagi semuanya dari awal? Kau masih menyukainya. Sangat.”

Jiyoo menutup pintu lemari es. Ia bersandar di meja dapur dan menatap Hyori. “Sok tahu.”

“Tertulis di keningmu,” sahut Hyori. Ia menunjuk keningnya sendiri dan berkata dengan riang, “Sa-rang-hae-Lee-Hyuk-Jae.”

Jiyoo tertawa datar. “Ha ha.”

Oct 7th, 2013

“Yoo, annyeong!” Hyori tersenyum lebar saat Jiyoo membukakan pintu untuknya. Ia bisa melihat kedua mata Jiyoo terbelalak. “Ayo kita masuk!”

Jiyoo tak bergerak dari tempatnya. Ia membiarkan Hyori berjalan melewatinya hingga sekarang ia berhadapan langsung dengan seseorang yang dibawa serta oleh Hyori. Lelaki itu berdiri dengan canggung, tampak kikuk karena mendapat reaksi yang tak begitu diharapkan. Hyukjae tersenyum kecil.

Lelaki lain yang bersama dengan Hyukjae –Cho Kyuhyun, menyikutnya pelan. “Hyung, tidak mau masuk?” ujarnya seraya mengganti sepatunya dengan sandal. Ia tersenyum bak malaikat dan mengangkat sebelah tangannya untuk menyapa Jiyoo. “Annyeong! Selamat kembali ke dorm!”

Jiyoo mengerjap. Dalam hati ia memaki, setan-setan neraka jahat!

Hyukjae mengangkat bahu. “Maaf, bukan aku yang memaksa ikut. Mereka yang–“

“Aku mengerti,” sahut Jiyoo pasrah. Ia memiringkan kepala. “Ayo masuk.”

Melalui sudut matanya, Jiyoo bisa melihat Hyukjae tersenyum lebih santai. Ternyata memang dirinya lah yang membuat Hyukjae tampak serba salah. Jiyoo menghela napas dalam-dalam. Ia harus sering-sering mengingatkan dirinya bahwa Hyukjae sama sekali tak ingin terlibat dengan pasangan dari neraka itu.

“Minum?” tanya Jiyoo pada Hyukjae.

“Ya, tolong! Jus jeruk, kalau ada,” seru Kyuhyun.

Hyori menendang tulang kering Kyuhyun hingga lelaki itu mengaduh. “Yoo bertanya pada Hyuk oppa. Kau bukan Hyuk oppa, jadi diam saja. Oke?” Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Hyori tersenyum lebar. “Oppa, ada susu strawberry di lemari es. Yoo, tolong ambilkan itu saja. Aku bisa ambil minum sendiri. Terima kasih.”

“Kenapa menendangku?” omel Kyuhyun sambil menjatuhkan diri di sofa.

“Karena kau sama sekali tidak punya rasa sensitivitas. Biarkan mereka saling berinteraksi,” Hyori memandang Kyuhyun dengan kedua mata yang menyipit. “Dan omong-omong, di sini tidak ada jus jeruk. Air putih saja ya?”

Hyukjae memerhatikan Jiyoo diam-diam. Sambil menyeruput susu strawberry-nya, ia mengamati Jiyoo tanpa berkedip. Ketika gadis itu menoleh padanya, Hyukjae akan mengalihkan pandangan dan berpura-pura sibuk dengan susu kotaknya atau sesekali, ia hanya akan melihat ke luar beranda, berpura-pura memerhatikan sesuatu walaupun sama sekali tak ada yang bisa dilihat.

Ia hanya akan tersenyum kecil saat Jiyoo tak berhasil menegurnya.

“Ah, jam saku milikmu ada padaku,” ujar gadis itu.

Hyukjae mengerutkan kening kemudian mengerjap. Jam saku pemberian Jiyoo memang tertinggal di kamar rumah sakitnya saat itu. “Kupikir aku menghilangkannya.”

“Maaf, aku lupa mengingatkanmu,” Jiyoo menggigit bibir. “Ada di kamarku. Sebentar.”

“Yoo…”

Jiyoo menoleh, menemukan Hyukjae yang ragu-ragu. “Ya?”

“Boleh aku ikut ke kamarmu?”

Jiyoo nyaris tertawa walaupun akhirnya ia tak melakukannya. “Kau sudah pernah masuk ke sana, Poo.”

“Hanya ingin tahu apa yang berubah,” sahut Hyukjae santai. “Lagipula, aku juga ingin tahu apa ada foto lelaki lain di kamarmu. Atau mungkin di samping ranjangmu. Atau di bawah bantalmu.”

Tawa Jiyoo meledak di udara. Rasanya menyenangkan bisa tertawa selepas ini di dekat Hyukjae. Sungguh. Rasanya seperti mendapatkan kembali selimut kesayanganmu.

Sorot mata Jiyoo melembut. “Menurutku, kau harus memeriksa ke dalam lemari es.”

Hyukjae mendengus geli. Tadinya ia cukup kesal dengan kecanggungan yang menaungi dirinya dan Jiyoo sekali lagi. Namun, sepertinya selalu mudah untuk jatuh kembali dalam jurang kenyamanan yang ditawarkan gadis itu. Hyukjae merasa ia tak pernah meninggalkan rasa nyaman itu, hanya tersesat sesaat.

Kamar Jiyoo bernuansa lembut dengan pernak-pernik ungu di seluruh sudutnya. Hyukjae mengamati satu demi satu benda di kamar itu. Sebuah meja belajar dicat warna pastel diletakkan di sudut kamar. Di sampingnya, ada rak buku mini yang terisi penuh. Hyukjae bisa menebak buku-buku tentang ilmu bioteknologi yang didalami gadis itu, serta beberapa novel dengan kisah cinta romantis kesukaan Jiyoo.

Hyukjae merasakan lagi kedamaian yang menyenangkan. Jiyoo menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar tidur dan berada di tempat ini seakan membawa Hyukjae berkelana, membayangkan banyaknya hal yang dilakukan gadis itu di kamarnya.

Aroma Jiyoo terasa pekat, namun tak membuat Hyukjae bosan. Tak pernah demikian.

Sebaliknya, semakin ia berada di tempat ini, semakin Hyukjae memaksa hidungnya menghirup lebih banyak aroma Jiyoo. Sesuatu mendadak mendidih dari dalam dirinya. Hyukjae tak tahu bagaimana dan dari mana awalnya, ia kesal.

Karena ia begitu merindukan Jiyoo; aroma parfumnya, wangi sampo yang biasa menguar dari rambutnya, kehadirannya, segala hal tentangnya.

Namun, ia tak pernah merasa gadis itu sama sepertinya. Jiyoo hidup bahagia, mengabaikannya yang menunggu. Jiyoo tak hidup merana. Gadis itu tak sepertinya, yang selalu hidup dalam kenangan dan terus mendamba. Ia menderita sendirian.

“Sudah selesai inspeksinya?”

Jika biasanya suara itu memberikan efek yang membahagiakan, kali ini berbeda. Hyukjae merasa luar biasa terluka dengan kenyataan bahwa tak ada keputusasaan di dalam suara itu. Mendadak, ia membenci segala kebiasaan yang selalu terjadi.

Gadis itu menatapnya karena ia tak juga menjawab. Kedua mata itu memancarkan sorot kekhawatiran. “Ada apa?”

“Apa kau pernah merindukanku?”

Jiyoo mengerjap, terkejut dengan pertanyaan ganjil yang dilontarkan oleh Hyukjae. “Apa?”

“Sudah 6 bulan lebih sejak kita berpisah. Apa kau pernah, satu kali saja, merindukanku?” tanya Hyukjae lagi.

“Jawaban apa yang kauinginkan?” Jiyoo balik bertanya.

Hyukjae menelan ludah, mencoba menelan pula emosi yang hampir mencapai pangkal lidahnya. “Oh, apa sekarang kau akan mendengarkan permintaanku? Kenapa tidak dari awal kau melakukan itu, saat aku memintamu untuk tetap tinggal dan jangan pergi? Saat aku melayangkan tatapan memohon agar kau memikirkan kembali keputusanmu…”

Rasanya Jiyoo tahu kemana pembicaraan ini akan bermuara. Ia melihat perdebatan tanpa ujung yang, sekali lagi, akan melukai Hyukjae dan dirinya sendiri.

“Aku tidak mau membahas ini.”

“Kau belum menjawabku,” sergah Hyukjae. “Aku tahu kau masih menyukaiku… dengan cukup dalam, cukup besar untuk mengatakan ‘iya’ pada permintaanku sebelumnya. Kukira kau tidak akan berubah pikiran. Bukan begitu?”

Ingatan Jiyoo melayang pada pertemuan terakhir mereka di rumah sakit. Ketika itu, bahkan hingga saat ini pun, ia masih merasakan kebahagiaan yang hangat. Bukan ia tak yakin, ia justru sangat yakin untuk memulai lagi. Hanya saja, ia ingin memberikan waktu. Untuk Hyukjae, untuk dirinya sendiri. Waktu untuk menyadari hal terpenting yang mungkin diinginkan keduanya.

Jiyoo menatap lelaki di depannya. Ia bisa melihat sorot kekecewaan yang dalam, yang membuatnya susah bernapas, yang membuatnya… tergores duri mawar kenaifan.

“Kita akan membicarakannya saat kita hanya berdua,” ucapnya.

Untuk sesaat, melangkahkan kaki dan membalikkan tubuh dari Hyukjae terasa sangat berat. Namun, Jiyoo melakukannya juga. Ia mencoba menghilangkan tatapan tajam Hyukjae padanya. Tangannya meraih knop pintu dan berniat membukanya sebelum…

Terkunci.

Jiyoo membelalakkan mata. Ia tak ingat ia mengunci pintu itu. Otaknya berpikir dan menunjukkan orang yang mungkin melakukan ini padanya.

Shin Hyori. Jiyoo merutuk dalam hati. Cho Kyuhyun bisa saja lolos dari daftar tersangka, tapi ia tak akan melupakan konspirasi yang melibatkannya. “Mereka benar-benar…”

“Bagaimana kalau mereka bertengkar?”

Hyori memasukkan potongan kue tiramisu –persediaan Jiyoo di lemari es- ke dalam mulutnya. Keningnya berkerut sesaat. Kemudian senyumnya mengembang kecil.

“Tak masalah. Setidaknya mereka punya waktu untuk berdua,” ia menjawab pertanyaannya sendiri.

Kyuhyun, yang berada di sampingnya, menguap pelan. “Ingatkan Jiyoo kalau aku sama sekali tidak terlibat.”

“Ck, pengecut. Tidak perlu terlalu menjaga citramu, Tuan Cho. Jiyoo tetap tidak akan memaafkanmu setelah ini. Terima saja nasibmu dan hadapi hukuman bersamaku nanti,” sahut Hyori santai. “Dan lagipula, apa kau tidak mau dianggap sebagai pemersatu dua orang itu?”

“Tidak juga,” jawab Kyuhyun. Ia melingkarkan salah satu kakinya. “Aku lebih suka dianggap sebagai ‘Oppa’ yang pengertian oleh Jiyoo.”

Hyori mendengus dan meralat ucapan Kyuhyun, “Oppa dari neraka yang tidak begitu pengertian.”

Hyukjae duduk di lantai dengan bersandar di tepi ranjang. Ekor matanya melirik Jiyoo, memerhatikan gadis itu mengacak-acak laci meja belajarnya. Jiyoo mencari ponsel untuk menghubungi Hyori atau Kyuhyun, tapi Hyukjae yakin gadis itu tak akan menemukan benda berlayar sentuh itu.

Karena ia ingat, Jiyoo meletakkan ponselnya di atas meja ruang tengah sebelum ia mengajaknya ke kamar.

“Tidak ada!” seru Jiyoo frustasi. Hyukjae menerka-nerka apakah ia perlu memberitahu Jiyoo bahwa ponselnya tak ada di ruangan ini.

Namun, ia mengurungkan hal itu. Ia ingat bahwa ia sedang kesal pada Jiyoo. Kesal pada fakta bahwa sepertinya gadis itu baik-baik saja padahal dirinya selalu menunggu dalam ketidakpastian. Kesal, karena ia menjadi orang bodoh, satu-satunya orang bodoh, dalam hubungan mereka.

Hampir delapan bulan sejak keduanya berpisah.

Delapan bulan, Hyukjae tanpa Jiyoo dan Jiyoo tanpa Hyukjae. Delapan bulan penuh dengan kekosongan, kesepian yang lembab. Delapan bulan yang menyebalkan bagi Hyukjae namun tampak cukup normal Jiyoo.

Dan itu tak adil.

“Bicaralah,” ucap Hyukjae. Jiyoo masih berdiri di samping meja belajar, mengerjap dan sekali lagi mengerjapkan mata. “Kita sudah berdua. Kita bisa bicara sekarang. Dan kau bisa menjawabku. Apa kau pernah merindukanku?”

Jiyoo membawa tubuhnya ke samping Eunhyuk, bersandar di tepi ranjang. “Setiap hari.”

“Tapi kau tidak pernah menghubungiku.”

“Karena aku memberikanmu waktu,” ucap Jiyoo. “Waktu untuk berpikir apa kau benar-benar ingin memulai semuanya lagi denganku.”

Hyukjae menoleh, menatap Jiyoo dengan tak percaya. “Kenapa kau masih meragukan hal itu, aku–“

“Apa… yang kauinginkan?”

“Kau. Aku ingin kau menjadi Choi Jiyoo-ku sekali lagi.”

Jiyoo tersenyum getir. Pengakuan itu begitu indah, begitu menyenangkan sekaligus menyakitkan. “Apa yang kau rindukan?”

“Kau. Segalanya tentang dirimu.”

“Aku atau kenangan bersamaku?” Pertanyaan Jiyoo terdengar normal, wajar namun akan menjadi penentu dari hubungan ini.

Hyukjae mengerutkan kening. Tentu saja ia melihat perbedaan dari kedua hal itu. Ia mendengar pertanyaan itu dengan sangat jelas melalui sepasang indera pendengarannya. Masalahnya, ia tak tahu jawabannya.

“Biarkan aku yang bertanya,” ucapnya. “Apa kau merindukanku?”

Jiyoo mengangguk pelan.

“Aku… atau kenangan tentang diriku?”

“Itu pertanyaanku,” sergah Jiyoo. Ia tersenyum pahit, berusaha mencairkan suasana yang terasa semakin pekat oleh ketidaknyamanan. “Baiklah,” ia menarik napas. “Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu hingga aku harus mencari dirimu ke dalam kenangan kita. Aku menemukanmu, tapi tak bisa meraihmu. Aku ingin meraihmu, tapi tanganku terlalu pendek. Dan perlahan-lahan, aku kehilangan dirimu.

“Rasanya seperti tersesat dalam kenangan. Aku kehilangan dirimu padahal kau masih ada di sana; di depanku, di dekatku. Tapi sepertinya kau tetap terlalu jauh, tak terkejar… padahal aku merindukanmu. Lee Hyukjae, aku… benar-benar ingin melupakan kenangan itu dan mulai mencari dirimu yang asli.”

Pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibir Jiyoo. Rasanya melegakan. Seperti menemukan duri  yang tertancap terlepas dari kulit, kelegaan itu membanjiri hati Jiyoo. Pun dengan air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan.

“Jadi, bagaimana denganmu?” Jiyoo mengusap pipinya yang basah. Ia baru menyadari Hyukjae meraih tangannya, menggenggamnya erat.

“Aku… tidak tahu.”

“Mau kuberi tahu sebuah rahasia?” tanya Jiyoo. Hyukjae mengatupkan rahang, tak menyahut. “Kalau… kau hanya merindukan kenangan kita, aku tidak bisa kembali padamu. Karena pada akhirnya, kurasa aku hanya akan merusak kenangan yang sangat kaurindukan itu. Karena aku sudah pasti bukan aku yang berada dalam kenanganmu.”

Hyukjae mencerna ucapan Jiyoo dan menelan ludah. “Kalau aku merindukanmu?”

“Kalau kau memang merindukanku,” Jiyoo menghela napas. Ia menyandarkan puncak kepalanya di pundak Hyukjae. “Aku akan kembali. Karena kau membutuhkanku. Entah sampai kapan, tapi kau jelas membutuhkanku dan aku tidak akan menolak untuk dibutuhkan olehmu.”

“Aku membencimu, Choi Jiyoo,” ucap Hyukjae. Dengan suara yang bergetar, ia membisikkan pengakuannya. “Aku benci kau yang baik-baik saja tanpaku. Aku benci kau yang tersenyum tanpaku. Aku benci kau yang membuatku menjadi egois.”

Jiyoo ingin berkata, berteriak di hadapan Hyukjae bahwa ia tak baik-baik saja. Ia tak baik-baik saja tanpa Hyukjae, tak bisa tersenyum tanpanya.

“Maaf,” adalah kata yang keluar dari mulut Jiyoo.

Hyukjae menempelkan pipinya di puncak kepala Jiyoo. Ia menikmati sekali lagi aroma sampo yang menyeruak dari rambut gadis itu. Tanpa gumpalan emosi, tanpa perasaan kesal. Hyukjae menikmati keberadaan Jiyoo di sampingnya.

Ia kehilangan motif untuk kesal. Pengakuan Jiyoo sudah cukup menjadi bukti. Bahwa tak satu pun dari mereka yang baik-baik saja. Tak satu pun, tidak Hyukjae atau Jiyoo, yang bisa hidup normal setelah perpisahan itu.

Hyukjae selalu menutupinya, tapi hari inilah puncaknya, karena itu ia merasa kesal. Jiyoo bukan baik-baik saja tanpanya. Gadis itu hanya lebih pandai dan lebih lama menyembunyikan rasa tidak baik-baik saja yang dimilikinya. Keduanya sama-sama berbohong.

“Coba ulangi pertanyaanmu,” ucap Hyukjae.

Jiyoo menggeleng pelan. “Kau belum tahu apa yang kaurindukan.”

“Aku ingin merindukanmu,” jawabnya. “Tidakkah itu cukup? Aku sudah dan ingin terus merindukanmu. Kau?”

“Tadinya aku merindukan kenangan.” Jiyoo memejamkan matanya yang berat. “Tapi, sekarang aku juga ingin merindukanmu.”

Hyukjae melihat sekeliling, mencari kalender yang tergantung di dinding kamar Jiyoo. “Tanggal 7 Oktober.”

“Eh?”

“Hari jadi kita yang baru.” Hyukjae tersenyum bangga. “Dulu, 10 Juli/107, kan? Sekarang 7 Oktober/710.”

“YOO! CHOI JIYOO! HAJIMA~” seru Hyori dari luar kamarnya. “Aku minta maaf, maaf maaf maaf!”

Jiyoo balas berteriak dari dalam kamar Hyori. Tangannya memegang benda mirip album foto dengan sampul depan wajah Song Joongki. “Kau tahu hukumannya kalau mengerjaiku, kan?”

“MAAF~ Jangan, apapun kecuali photobook itu! Yoo, Joongki oppa sedang wamil, aku tidak bisa melihatnya lagi dan tidak akan melihatnya sampai wamilnya selesai… kau tega pada–“

Pintu terbuka. Jiyoo berdiri di tepi pintu sambil memasang wajah kesal. “Memangnya apa urusanku kalau kau tidak bisa bertemu dengan Joongki oppa?”

Kedua mata Hyori memerhatikan photobook yang dipegang erat oleh Jiyoo. Ia menatap Jiyoo dengan pandangan mengiba sekaligus memastikan photobook itu tak menderita cacat fisik. “Cho Kyuhyun! Dia juga bersalah!”

“Aku akan mengurus setan neraka itu nanti,” sahut Jiyoo santai.

Hyori menyipitkan mata. “Pilih kasih!” Ia melipat kedua lengannya di depan dada. “Letakkan photobook berharga itu atau akan kubocorkan pada Hyuk oppa kalau kau diam-diam menyimpan foto lelaki lain!”

“Apa, siapa?”

“Oh, kau lupa? Di fanmeeting B.A.P kemarin, siapa yang berhasil selca dengan Jung Daehyun?” ujar Hyori angkuh. “Coba bayangkan, bagaimana reaksi Hyuk oppa terhadap kelakuan kekasih barunya ini?”

“SHIN HYORI, AKU MEMBENCIMU SEUMUR HIDUP!”

Hyori tersenyum. “Terima kasih, aku juga menyayangimu, Yoo.”

====================FIN====================

This is how the story ends. Officially, mudah-mudahan, Jihyuk balikan sekarang. Dan, bukannya saya sengaja cari tanggal cantik, tapi kebetulan aja gini jadinya. Ha-ha-ha…

If you ever want me to come back, is it me that you miss or is it just our memories you longing?

And yes, saya beneran perlu menemukan Lee Hyukjae sekali lagi. Mungkin memang mustahil nyari dia yang dulu, karna ya itu… dia bukan dia yang dulu, pun saya. Jadi, beginilah.

So, sepertinya goodbye galau (untuk sementara)! :”>

59 thoughts on “[JiHyukism] Annyeong

    • Kaka jingga kok tabur2 confetti, kan hyukjae susah yg mau nyapuin.. ;3;
      Hehehe~ no more galow kok kaka. Laksanakan! xD
      Oh boleh2, kita makan2 di tempat leedongek aja ya kak, mayan hemat. xDD

  1. Horreeeeee,,,akhir nya JiHyuksm balikan jga !!!
    Wahh jd gak sabar nunggu ff yg slnjt nya,,,
    ach, aq jg seneng sendiri baca ff ini !!! Eonni makasih ya buat ff nya, pokok nya T.O.P bgt deh,,,

  2. setelah bergalau galau ria,akhirnya jihyuk balikan lg… 🙂

    chukkae yoo n poo ,,,jangan putus lg ya,,kalo bs langsung ampe marit ya…hahahaha

  3. Akhirnya JiHyuk balikan, yeyy… *TiupSangkakala* *KiamatDong xD* – Gak ada galau-galauan lagi deh. Mungkin.

  4. aaaaaaaahhhhhhhh akhirnya ~ ini mereka balikan kan yah. ahahaha syuukaaa ~ apapun yang penting hyukjae balikan ama jiyoo. eh itu betewe jiyoo selca sama daehyun ? eh yaampun~ bisa yah, lagi putus ama hyukjae, si jiyoo menggoda berondong kece macem daehyun. cari cari kesempatan deh ahahaha

  5. cieeeh balikan.. cieeh seneng-seneng lagi, cieeeh cantik sekali…. tanggal jadiannya :p
    suka kata-katanya, aku-atau-kenangan-bersamaku :3 dalem syekaliiii tapi begitu dijawab bikin terbang #plak

    • CIYEEEEEEEEEHHH~~~~ xD xD Etapi beneran itu tanggalnya bukan semata-mata terdapat unsur kesengajaan, semua itu real tanpa rekayasa. xD
      Terbangnya jangan lama-lama. Cepatlah kembali~ ><

  6. ketahuilah bahwa kalimat merindukanmu dan kenangan bersamaku membuat ff terlihat indah maksimal jahanam badai dimata saya. Terlalu manis sampe bikin diabetes. Keren campur galau tingkat alam semesta.
    uri hyukjae oppa jjang. uri jiyoo jjang *setengah terpaksa* \o\ /o/
    JIHYUKISM kini bisa tenang, kami menunggu undangan syukuran JiHyuk beserta aqiqahnya Yoon.
    selamat atas kembalinya peradaban romantisme dan keharmonisan rumah stroberi.

    Sekian komentar dari saya.Mohon maaf jika banyak kalimat ‘jahara’ di dalamnya.
    yang menyayangi jiyoo seumur hidup,

    hyo-nim.

    • memang itu tujuan dibuatnya ff ini; demi untuk membuat orang yang membaca terkena diabetes serta guncangan jantung yang hebat. Terima kasyih atas pujiannya tapi kenapa sapaan uri jiyoo jjang mesti setengah terpaksa gitu? Jiyoo salah apa sampe disetengahin gitu?
      Aqiqah…benar sekali, yoon belom diaqiqah ya. Yasuda kapan-kapan saja. ^=^

      Kalimat penuh penjaharaan (?) dari Anda akan selalu saya ingat. Terima kasih.
      Yang membenci Shinhyo seumur hidup,
      Yoo.

  7. oooh, akhirnya ^^ .. sweet, skaligus bikin deg2’n ⊙_⊙ !
    ● Yoo : merindukan ku atau kenangan bersamaku ?
    Poo : aku ingin merindukanmu ^^ ● sweet !!
    smoga gk putus2 lg ya, balik ke romantis dan gk bikin galau2 lg .. buat author, keep writing & fighting ^^ !!!!!!!!!

  8. hahahahahaha….. akhirnya baikan juga kmrn..ciyeeeeeee yg ceelbeka. kapan undang kita syukuran baliknya pasangan ini2..
    tenang aja, kakak akan bawa kado kok buat klian *smirk

  9. Jinjja , dibuat nyesek dulu bru dibwt bhgia, jdnya nyesek bhgia,😦🙂
    Demi YOOONNNN, akhrnya Appa Eomma mu blikan jg nak, hueee knp bru skrng sih, dan dan dan sweet bngt 107 710 DAEBAK❤
    ini mrka bnrn kan udh blikan, blikan bnrn, jadian lg ? knp aku yg jd brdebar" gini, hadeuh udh g sanggup ngliat JiHyuk trsiksa. Smga kali ini langgeng dan tdk ad yg trsakiti lg, sllu Bahagia🙂
    #Terimaksh bwt Hyo ma Kyu jg, hihi.

  10. AKHIRNYAAAAAAAAA perlu syukuran apa enggak nih? gue udah frustasi sama kayak hyukjae frustasi nungguin jawaban jiyoo. selalu suka sm penggunaan katanya bagus bgt dan ga cheesy. kalo ga keberatan bikinin one shot simple2 aja. kalo ini lanjut berasa cinta fitri bgt cerita ga kelar2 tp kl udahan rasanya kehilangan banget. sukses terus buat penulisnya. you’re one of my favorite ever. semoga semakin kretif🙂

    • PERLU BANGETS DONG SYUKURAN.. *potong tumpeng*
      Rencananya juga gitu kok. Jadi tiap seri Jihyukism cuma seri2 mini, kaya oneshot gitu. Cuma baru yg edisi putus (?) ini yang gantung terus. x’D
      Terima kasih! ^-^

  11. F-I-N-A-L-L-Y jihyuk balikaaan \o// luar biasa bahagia ya :’-)
    gakpapa sekali cobaan, putus, biar makin erat kedepannya hehe
    ah! dapet quote favorite lagi dari kak shela:-):-):-) “If you ever want me to come back, is it me that you miss or is it just our memories you longing?” aw aw aw 8D

  12. yeay…. akhir ny jihyuk kembali….
    #goyangcaesar

    abis ni bkalan ad ksah”romantis jihyuk lg nh….
    aq udh kangn bgd ama jihyuk…
    smngat ya yoo….
    #panggilpompomgirl
    #abaikankegilaansaia

  13. Cieee, balikan..
    Tgl cantik lg, ☺ ‎​みϱ”̮みϱ”̮みϱ”̮みϱ (⌒˛⌒) ☺
    Smg bahagia selalu n jgn galau lg..😀

  14. ya eon, aku jg ga bisa nemuin hyukjae yg dulu. karna setiap org pasti berubah :’)

    sabar banget hyuk nya sama jiyoo selama 8 bln, untung ga bunuh diri hahaha ^^v dan akhirnya mereka bisa balikan, how nice~

  15. Finally.. Eon terima kasih telah menjadikan mereka pasangan yang baru lagi..
    Sempat lupa ama momen manis di atap rumah sakit jd agak bingung. #pikunakut
    eon senang banget tau jihyuk balikan🙂. Selamat berjuang eon menemuka hyuk jae yg sebenarnya.. #ngaco

    • Aduh jangan bilang terima kasih gitu. Justru eonni yang makasih, kamu suda bersedia nunggu lama banget sampe couple ini dibalikin. ;3;
      AMIN buat doa yang terakhir! xD

  16. setelah bergalau-ria akhirnya mereka balikan :”>
    mereka galau,aku ikutan galau😥
    kata-katanya itu bikin kontroversi hati :’)
    btw,hyuk cemburu gimana yah?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s