Marry Yoo! [13th/Last Step]

[13] The Ending

13861-wedding-flowers (2)

It’d be nice if you re-read ch12 before SO I wouldn’t get “I forget the story”-comment(s).

===============================

“Aku…menyukaimu.”

Jiyoo membuka kedua matanya. Masih sangat pagi dan ia sudah merasa luar biasa kelelahan; jika tidak secara fisik, setidaknya secara mental. Semua yang terjadi terlalu cepat, terlalu membingungkan. Terlalu banyak informasi yang menjejali kepalanya, berdesakan dan memaksanya untuk terus berpikir. Hasilnya, ia tak bisa tidur hingga pukul 4 pagi.

Donghae menyukainya. Jiyoo menyusun fakta baru itu. Donghae, sahabat baiknya, menyukainya. Semakin Jiyoo menyusun tiap informasi yang diterimanya, kepalanya seakan nyaris meledak. Sepertinya ia tahu ada banyak kasus tentang hubungan antara seorang lelaki dan perempuan menjalin persahabatan yang selalu tak murni. Tak pernah ada satu jenis hubungan persahabatan pria dan wanita yang berakhir bahagia.

Dan ia baru saja disadarkan bahwa miliknya juga seperti itu.

Jiyoo merasa dadanya sesak oleh kenyataan itu. Ia tak pernah memikirkan kemungkinan ia menyukai Donghae. Donghae adalah orang yang penting baginya. Sangat penting. Tapi untuk perasaan yang seperti itu… entahlah.

Atau mungkin ia hanya tak menyadarinya? Sama seperti yang Donghae katakan, mungkin saja ia tak menyadari bahwa ia juga menyimpan perasaan yang sama; sama dalam, sama kuat.

Pertanyaannya, benarkah?

Jiyoo melirik ke samping, tempat Eunhyuk berbaring dengan kedua mata terpejam rapat. Ia selalu tahu bahwa ia memiliki lelaki itu, hingga segalanya terasa lengkap dan ia tak lagi membutuhkan apapun, siapapun lagi di dunia. Donghae, tentu saja, berbeda dengan Eunhyuk. Jiyoo sadar itu.

Tapi ketika situasi memaksanya memilih, sejujurnya, Jiyoo tak tahu siapa yang harus dipilih.

Eunhyuk tak mengatakan apapun semalam. Jiyoo juga tak ingin bertanya. Ia terlalu sibuk dengan perasaan Donghae yang membuatnya bingung. Dan ia sendiri tahu Eunhyuk tak ingin membicarakannya. Ia tahu Eunhyuk membiarkannya bersama Donghae semalam agar ia mengerti hal yang sedang terjadi.

Lelaki itu tahu sejak awal –setidaknya ia tahu lebih awal daripada Jiyoo- bahwa Donghae sedang terluka. Jiyoo tak menyukai fakta itu. Ia lebih tak menyukai fakta lain bahwa Eunhyuk, suaminya, juga sedang terluka. Oleh ketidakpekaannya. Namun, Jiyoo berpikir, walaupun ia mengetahui dan menyadari perasaan Donghae lebih awal, memangnya apa yang bisa ia lakukan?

Jiyoo nyaris yakin ia tak akan sanggup mengambil tindakan apapun. Menjauhi Donghae sama sekali tak pernah ada dalam daftarnya. Tapi ia juga benci menyakiti lelaki ini, lelaki yang berbaring di sampingnya. Lelaki istimewanya seumur hidup.

Jiyoo menarik napas dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Eunhyuk. Lengan Jiyoo memeluk tubuh lelaki itu. Jiyoo mengecup pipi Eunhyuk dengan lembut, dengan hangat.

“Selamat pagi,” suara parau Eunhyuk membuat Jiyoo terkejut. Lelaki itu terbangun.

“Pagi.”

Eunhyuk mengangguk sebelum bergerak ke samping dan menarik tubuh Jiyoo ke dadanya. Tarikan napasnya yang panjang dan aroma manis Jiyoo mengirimkan sensor menenangkan dalam kepala Eunhyuk. “Menyenangkan. Kau tidak menjauhiku.”

Alis Jiyoo terpaut heran. “Dan kenapa aku harus menjauhimu?”

“Entahlah,” sahut Eunhyuk malas. “Mungkin karena kau sedang hamil?”

Jiyoo memutar bola matanya. Alasan yang diungkapkan suaminya memang masuk akal. Di beberapa acara televisi, sering disebutkan bahwa ibu hamil bisa saja mendadak tak suka berdekatan dengan suaminya. Jiyoo mengakui ia sering mual di pagi hari, tapi jelas ia masih cukup sadar untuk mengatakan bahwa bukan suaminya yang menyebabkan hal itu.

Sebaliknya. Jiyoo beringsut lebih dekat pada Eunhyuk. Ia menghirup dalam-dalam aroma maskulin suaminya dan mendesah berat. “Aku suka berada di dekatmu.”

“Syukurlah. Tadinya aku ingin membawa penggaris, seandainya kau memintaku menjaga jarak.”

“Penggaris…” Jiyoo membeo datar. “Memangnya 30cm bisa disebut menjaga jarak? Kalau memang aku tidak ingin melihatmu, setidaknya kau harus menjaga jarak hingga sepuluh meter dari tempatku berdiri, Lee Hyukjae.”

Eunhyuk tertawa pelan di atas puncak kepala istrinya. “Tidak bisa. Terima saja, jarak yang ingin kuambil bahkan tidak akan lebih dari 25cm.”

“Terserah kau saja, Tuan Lee,” balas Jiyoo santai. Ia menikmati tangan besar Eunhyuk yang membelai lengannya. Berada dalam jangkauan Eunhyuk membuatnya merasa ia sedang meringkuk dalam selimut yang hangat. Rasanya menyenangkan. Dan rasanya menakjubkan ketika ia mengingat tak hanya ada dua orang di atas ranjang ini.

Jiyoo merasa pening seraya menempatkan telapak tangan di atas perutnya yang masih rata. Kini ia tak hanya sendirian. Ia punya Eunhyuk dan calon malaikat kecilnya. Dan kenyataan bahwa malaikat itu akan menjadi perwujudan dari dirinya dan Eunhyuk membuat Jiyoo merasakan euphoria yang meletup-letup.

Rasanya Jiyoo ingin memeluk Eunhyuk selamanya.

“Apa seharusnya kita sarapan? Karena kau tidak mual-mual, kurasa aku bisa menyiapkan roti isi… daging?”

Ralat.

Kali ini rasanya Jiyoo ingin memukul wajah Eunhyuk. “Dan karena sudah kau ingatkan, sekarang aku mulai mual,” ucapnya. “Permisi sebentar.” Jiyoo menjauh dari Eunhyuk, bergegas ke kamar mandi dengan sebelah tangan menutupi mulut. “Aku membencimu, Lee Hyukjae!” seru Jiyoo sebelum membanting pintu.

Eunhyuk tersenyum bersalah walaupun Jiyoo tak bisa melihatnya. “Aku juga mencintaimu, Yoo.”

Matahari musim dingin California menembus masuk melalui jendela raksasa di kamar Donghae. Lelaki itu terduduk di ranjang, mengamati langit yang terlihat jelas dari kamarnya. Langit hari ini tampak cerah dan seharusnya membawa pengaruh baik untuk perasaan orang yang melihatnya. Namun Donghae tak merasa demikian.

Perasaannya tak secerah langit ini. Bahkan, perasaannya sama sekali tak jelas. Donghae tak lagi bisa merasakan apa yang harus dirasakan, apa yang ingin dirasakan dan bagaimana membedakan macam-macam perasaan ini. Segalanya tampak abu-abu untuknya.

Sejujurnya, ia lega sudah mengatakannya pada Jiyoo; pengakuan bahwa ia menyukai gadis itu. Donghae menghela napas panjang. Tapi ia menjadi tamak.

Donghae ingin mengetahui bagaimana perasaan gadis itu.

Mungkin Jiyoo memang menikah dengan Eunhyuk. Mungkin Eunhyuk memang menjadi orang yang tepat untuk gadis itu. Mungkin. Semua kemungkinan itu membuat kepala Donghae sakit. Bagaimana jika ada kemungkinan bahwa Jiyoo juga memiliki perasaan yang sama sepertinya? Baiklah, akan terdengar terlalu mustahil memang.

Donghae mengganti pertanyaan dalam benaknya. Hanya satu hal yang ingin diperjelasnya. Bahwa mungkin saja Jiyoo sempat memiliki perasaan ini. Hanya… sempat. Apakah itu juga tak mungkin?

Aku menyukainya. Donghae bergumam dalam hati. Aku menyukainya. Tapi Eunhyuk mencintainya. Dan Jiyoo juga mencintai Eunhyuk.

“Donghae?” Donghae mengenal suara itu. Eunhyuk sedang berada di depan pintu kamarnya, menunggunya untuk membuka pintu. Dan Donghae sedang tak ingin menemui temannya. Karena jika ia melakukannya, ia akan terlihat seperti teman yang menyedihkan. “Aku akan masuk.”

Donghae tak mengatakan apapun hingga pintu itu benar-benar terbuka. Eunhyuk berdiri canggung di tepi pintu. Tiba-tiba Donghae merasa luar biasa konyol. Sejak kapan hubungan keduanya menjadi seaneh ini?

“Hai,” sapa Donghae lebih dulu.

Eunhyuk mengangguk, menganggap sapaan itu sebagai undangan memasuki kamar temannya. “Semalam… kau sudah mengatakannya.”

Bukan pertanyaan. Donghae mengatupkan rahang, menolak menjelaskan. Lagipula temannya itu sudah pasti lebih tahu apa yang terjadi semalam. “Jiyoo memberitahumu.”

“Belum,” jawab Eunhyuk. Ia berdiri di samping ranjang sementara Donghae masih terduduk tanpa berniat mengubah posisinya. “Kau benar, kau yang pertama. Semuanya berawal darimu. Dan kali ini, kau juga yang pertama terluka. Tapi–“

“Tapi kau tidak akan melakukan apapun untuk lukaku.” Donghae berkata, “Aku mengerti, Hyuk. Dan aku tidak menyalahkanmu.”

Eunhyuk berusaha –percayalah, ia berusaha keras– untuk menatap Donghae. Namun ia berakhir dengan hanya memandang langit melalui kaca jendela. “Aku berharap kau yang akan melakukan sesuatu terhadap lukamu sendiri.”

“Kau ingin aku menjauh darinya.”

“Tidak. Aku tidak ingin memintamu melakukan apapun.” Eunhyuk tertawa muram. “Dan jangan salah paham, aku tidak sedermawan itu. Seandainya memang bisa, aku pasti akan melakukannya, tapi kau penting untuknya. Untuk pertanyaan yang selalu ada di kepalamu, kurasa aku hanya takut mendengar jawaban itu dari Jiyoo.”

Donghae termenung. Pertanyaan itu bukan hanya menghantuinya, tapi Eunhyuk juga. Tentang bagaimana perasaan Jiyoo padanya. Dan apakah ada yang akan berubah jika jawaban itu terucapkan.

Tentu saja Donghae bisa mengerti ketakutan yang dirasakan oleh Eunhyuk.

Eunhyuk sudah mendapatkan apa yang diinginkannya selama –Oh Tuhan!- 12 tahun. Donghae membantunya dalam hal itu. Dan ketika Eunhyuk berbahagia dan tak akan bisa lebih berbahagia lagi, Donghae tak akan bisa berbuat kejam pada temannya itu.

“Kau satu-satunya sahabatnya. Satu-satunya orang yang selalu dibutuhkannya. Dan jika bisa membuatmu senang, kau adalah orang darurat kesukaannya,” ucap Eunhyuk. Walaupun tak suka mengatakannya, memang begitulah Lee Donghae untuk Jiyoo. Jiyoo-nya.

“Tapi kau satu-satunya orang bodoh yang diinginkannya,” Donghae mengangkat bahu.

Eunhyuk tertawa pelan. “Terima kasih.” Lelaki itu, akhirnya, mengalihkan pandangan pada temannya. “Aku akan menjadi seorang ayah.”

“Aku tahu,” jawab Donghae. Ia mengamati wajah Eunhyuk. “Maaf, aku tidak sengaja mendengar Jiyoo dan Serena soal itu. Awalnya, dia hanya ragu. Kurasa sekarang tidak lagi.”

“Kau yang pertama lagi.”

Donghae tergelak. “Secara teknis, tidak. Serena yang pertama tahu. Aku hanya bertugas menjelaskan bahwa ada orang bodoh yang menunggu kabar itu.”

Eunhyuk menelan ludah. Ia tak suka berada dalam atmosfer seperti ini bersama Donghae. Demi Tuhan, lelaki itu temannya, sahabatnya, orang penting, tak hanya bagi Jiyoo tapi juga untuknya sendiri. Ia benci menyakiti Donghae. Ia tak suka melihat dan membiarkan Donghae terluka.

“Kenapa kita tidak memperbaiki ini saja?”

“Bagaimana caranya? Gunting-batu-kertas?” ucap Donghae dengan getir. Ia dan Eunhyuk tahu persis tak ada yang sederhana dalam masalah ini. Semuanya rumit. Semuanya terasa mencekik leher. “Aku tidak akan memintanya memilih.”

“Tapi itulah yang akan kita lakukan,” gumam Eunhyuk.

Donghae merasakan rahangnya yang mengeras. Ide ini bodoh. Ide Eunhyuk ini sangat bodoh. Seharusnya Eunhyuk tahu, jauh melebihi dirinya, bahwa Jiyoo tak akan bisa memilih. Meminta gadis itu memilih sama dengan memaksanya untuk merelakan sebelah paru-parunya. Dan Donghae tak percaya Eunhyuk bisa berpikir sebodoh itu.

“Kau suaminya. Kau akan memiliki anak darinya.”

Eunhyuk mengangkat bahu. “Bukan jaminan ia tidak memiliki perasaan padamu.”

“Kau gila.”

“Justru aku-lah satu-satunya yang bisa berpikir dengan sehat saat ini!” seru Eunhyuk. “Kau ingin tahu bagaimana perasaannya, aku juga. Lebih baik aku mendengar jawaban yang menyakitkan dibandingkan tidak mengetahui apapun.”

Poin yang masuk akal. Donghae mengakui. Tapi memikirkan Jiyoo yang akan tersudut oleh semua ini –olehnya dan Eunhyuk- membuat jantungnya seperti ditonjok berkali-kali. Dan tentu saja rasanya tak menyenangkan.

Donghae bisa melihat kilatan suram itu di mata Eunhyuk. Temannya tak berbeda darinya. Donghae harus sedikit berbesar hati bahwa Eunhyuk pasti merasa jutaan kali lebih buruk daripada jantungnya yang ditonjok. Temannya, secara harfiah, sedang sekarat.

Sekarat oleh keputusannya. Sekarat oleh keingintahuannya. Sekarat oleh keadaan.

Eunhyuk memerhatikan Jiyoo berdiri di samping kolam ikan. Halaman belakang itu seakan menjadi tempat terlarang bagi Eunhyuk, sebenarnya. Dua kali ia membiarkan Donghae dan Jiyoo berada di sana. Dua kali ia melihat tangan keduanya bertaut erat. Dua kali pengalaman yang cukup untuk membuat Eunhyuk ragu.

Ragu akan dirinya dan bukan ragu akan Jiyoo.

Sejujurnya, Eunhyuk tak ingin meragukan apapun dari istrinya. Semuanya sudah sangat cukup untuknya. Sejak awal, ia menyimpan banyak keyakinan dalam hubungan ini. Ia yakin Jiyoo akan menikah dengannya, yakin bahwa Jiyoo mengingat janji masa kecil mereka yang konyol, dan yakin bahwa Jiyoo akan selalu menjadi miliknya.

Apakah ia sudah menjadi terlalu egois?

Ia ingin memiliki gadis itu hanya untuknya. Tak ada kata berbagi. Tak ada orang lain. Eunhyuk selalu menginginkan Jiyoo sepenuhnya. Dan ia yakin Jiyoo juga menginginkan hal yang sama. Bahkan, tanpa diucapkan dan tanpa diminta, Eunhyuk sudah menyerahkan dirinya pada gadis itu. Tanpa syarat, tanpa ketentuan apapun.

Lalu apa yang membuatnya ragu saat ini? Eunhyuk berpikir keras. Oh, benar. Ia ragu jika keyakinan-keyakinan dalam dirinya hanya akan menyakitinya. Eunhyuk memang pengecut. Ia takut terluka.

“Kau sedang memikirkanku?”

Begitu Eunhyuk tersadar dari lamunannya, senyuman Jiyoo menyambutnya. Kedua matanya mengerjap, berusaha memastikan bahwa senyuman gadis itu tertuju padanya. Eunhyuk balas tersenyum dan menggeleng. “Tidak juga.”

“Begitu…” Jiyoo mencibirkan bibir, kesal.

Eunhyuk tertawa, sekedar ingin menghilangkan ketakutannya. Ia meraih tangan Jiyoo, membawanya ke depan bibirnya sebelum mengecupnya. “Sudah lebih baik?”

Tatapan Jiyoo menjadi lebih lembut, seakan berusaha membantu meyakinkan Eunhyuk bahwa tak ada yang perlu ditakutkan. Ia mengangguk pasti, tahu suaminya bertanya soal mual-mual pagi tadi. “Selalu hanya di pagi hari.” Jiyoo menarik tangan Eunhyuk, “Ah! Ada yang harus kubicarakan. Ayo!”

Jiyoo menggenggam tangan Eunhyuk erat, menggiringnya kembali ke kamar mereka. Mereka melewati ruang tengah, melenggang di bawah tangga. Mungkin gadis itu tak sadar, tapi Eunhyuk menemukannya; sepasang mata yang mengawasi Jiyoo, mengawasinya. Eunhyuk tak akan lupa menyebutkan sorot mata kehilangan dari tatapan itu.

Sorot mata penuh kesedihan milik Lee Donghae.

Donghae berdiri di ujung tangga. Ia melihat cara Jiyoo menatap Eunhyuk, caranya tersenyum, caranya meraih tangan Eunhyuk. Pada dasarnya, ia melihat segala gerakan Jiyoo yang ditujukan pada Eunhyuk. Hanya pada Eunhyuk. Dan tentu saja semua itu berbeda dengan yang diperlihatkan Jiyoo untuknya. Untuk itu, Donghae sudah merasa kalah telak.

Ia berbalik, memutuskan untuk kembali ke kamarnya sendiri.

Eunhyuk mendengar suara pintu tertutup. Situasi ini menyakiti Donghae dan perasaan ini menyesakkannya. Ia yakin Jiyoo juga merasakan hal yang sama. Lebih parah, ia juga menyadari bahwa sesungguhnya, istrinya yang paling tertekan. Lebih dari siapapun. Dan Eunhyuk tahu pasti gadis itu tak akan mengatakan apapun.

Sejujurnya, justru hal itulah yang paling tak disukai Eunhyuk. Ia tak suka melihat Jiyoo sendirian menanggung semua ini. Tapi karena Jiyoo menolak menunjukkannya, Eunhyuk tahu ia hanya harus diam.

Diam-diam menggenggam tangannya lebih erat. Diam-diam memeluknya lebih hangat. Diam-diam menjaganya.

“Siwon Oppa akan mengirimkan mobil untuk kita!” seru Jiyoo sambil memamerkan layar ponsel di depan wajah Eunhyuk. Isi percakapan antara istrinya dan Choi Siwon terlihat jelas di depan Eunhyuk. Sejujurnya, ia bahkan nyaris melupakan keberadaan Choi Siwon di dekat mereka.

Eunhyuk mengerutkan kening. “Untuk?”

“Jalan-jalan. Kata Siwon Oppa, kita pasti bosan di sini tanpa melakukan apapun karena pesta keluarga Jo sudah berakhir. Karena waktu liburan kita hanya tinggal 3 hari, Oppa bilang kita harus berkeliling California!” jelas Jiyoo antusias. “Dan aku sudah punya rencana untuk kita.”

“Dan… apa itu?”

Jiyoo menggigit bibir, tampak ragu. Eunhyuk memiringkan kepala untuk melihat wajah istrinya lebih jelas. Sungguh menyenangkan bisa menatap wajah orang yang tak akan membuatmu bosan sesering apapun kau menatapnya. Keragu-raguan Jiyoo justru membuat Eunhyuk terhibur. Gadis itu menggemaskan.

“Kau ingin mengajakku ke tempat paling romantis di sini ya?”

“Bukan!” sergah Jiyoo. Ia berdecak kesal. “Bukankah gagasan semacam itu seharusnya dimiliki oleh lelaki?”

Eunhyuk mengedikkan bahu. “Apa yang terjadi dengan emansipasi wanita?”

“Sudahlah. Lagipula bukan hal penting. Akan kukatakan pada Siwon Oppa kalau kita tidak ingin menerima tawarannya.”

Tangan Eunhyuk terangkat ke udara sebelum mendarat di pipi Jiyoo. Lelaki itu mencubit pipi istrinya hingga Jiyoo melayangkan tatapan protes. “Kau mudah sekali tersinggung belakangan ini. Gara-gara anakku ya?” goda Eunhyuk. “Baiklah, baiklah. Akan kudengarkan dengan baik. Apa yang ingin kau lakukan kalau kita jalan-jalan?”

Lagi-lagi Jiyoo menggigit bibir bawahnya.

“Jangan lakukan itu atau aku akan menciummu.”

Jiyoo buru-buru menghentikan tingkahnya. Ia memandangi wajah Eunhyuk, seakan menunggu saat yang tepat untuk mengatakan hal yang diinginkannya. Kemudian ia menarik napas dan memutuskan untuk tak peduli. “Aku… ingin memperlihatkan tempat-tempat yang selalu kudatangi di sini. Kampusku, kantorku, toko kue Perancis kesukaanku… Ah! Dan condominium tempatku tinggal, lalu…” Jiyoo berhenti karena Eunhyuk tercengang. “Kenapa?”

“Tidak, hanya… apa kau tahu aku sangat mencintaimu sekarang?”

“Sekarang? Kemarin tidak? Besok juga tidak?” tanya Jiyoo dengan bingung.

Eunhyuk menatap Jiyoo lekat-lekat, menembus kedua mata bulat yang tampak bersinar oleh keantusiasan. Jemarinya membelai kulit wajah Jiyoo, menyalurkan rasa hangat yang menyenangkan untuk gadis itu. “Kau ingin aku mengenal kehidupanmu di sini.”

“Nah, Lee Hyukjae, itu bukan pertanyaan. Tapi ya, memang itu yang kuinginkan. Kenapa?”

Eunhyuk tak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Berbagai macam perasaan bercampur menjadi satu, membuatnya kehilangan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengenali perasaannya sendiri. Untungnya, ia tahu satu perasaan paling dominan yang dirasakannya. Ia bahagia. Bahagia karena Jiyoo ingin mengajaknya masuk mengenali hidupnya di tempat ini.

Dan sesungguhnya, semuanya terasa luar biasa memuaskan.

“Kau terharu,” Jiyoo menyimpulkan. Sudut bibirnya terangkat ke atas, menampakkan senyuman jenaka yang lebar. Sepersekian detik berikutnya, sorot matanya menjadi lebih lembut. “Aku ingin kau tahu bagaimana hidupku di sini. Kupikir… aku harus menjadikanmu sebagai bagian dari segala hidupku, termasuk hidupku di sini.”

Eunhyuk menelan ludah untuk menyingkirkan apapun yang menghalangi suaranya. Tangannya masih berada di wajah Jiyoo, meminta gadis itu mendekat. Eunhyuk menempelkan keningnya dengan kening Jiyoo. “Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Entahlah,” gumam Eunhyuk sebelum tertawa pelan. “Mungkin terima kasih telah menjadi istriku, terima kasih karena sudah terlahir ke dunia, terima kasih… untuk segalanya.”

Jiyoo memberikan kecupan singkat di pipi Eunhyuk. Jempolnya menari, membelai kulit bagian tulang pipi Eunhyuk sebelum ia mengecup kening lelaki itu. “Terima kasih karena kau adalah Lee Hyukjae. Karena kalau bukan kau, aku tidak akan mau.”

“Bagus,” gumam Eunhyuk. “Kuharap tidak ada lagi orang yang bernama Lee Hyukjae di dunia ini.”

Jiyoo tertawa dan Eunhyuk menikmati suara tawa itu. Kali ini, ia menjadi yang pertama. Jiyoo memintanya masuk ke dalam kehidupan pelariannya di California. Eunhyuk tak punya alasan untuk merasa tak senang. Semua ini jelas melebihi ekspektasinya. Bahwa selamanya ia akan berada setelah Donghae, bahwa lelaki itu akan selalu menjadi yang pertama mulai saat ini.

Kali ini dan seterusnya, ia akan menjadi yang pertama bagi Jiyoo. Sekaligus yang terakhir.

Eunhyuk tersenyum samar sebelum menyentuh bibir Jiyoo dengan bibirnya. Tak ada tuntutan, tak ada syarat. Ciuman ini adalah perwujudan perasaan Eunhyuk yang dihiasi oleh ketakutannya dan kepingan hati orang lain –kepingan hati Lee Donghae.

Segala hal tentang Jiyoo menyenangkan. Eunhyuk menyimpulkan hal itu ketika mengecup pelipis Jiyoo. Rambut istrinya beraroma harum, seperti campuran buah-buahan dan mawar. Ia menurunkan ciumannya ke leher Jiyoo, menghirup dalam-dalam aroma sabun yang menguar melalui pori-pori kulitnya. Eunhyuk membiarkan tangan Jiyoo terselip di antara rambut pendeknya sementara ia kembali mengecup bibir gadis itu.

Inilah favoritnya. Bibir merah seperti cherry yang lembut dan memiliki rasa seperti madu.

Jiyoo tersenyum, setidaknya ia tahu ia sedang tersenyum dalam hati jika bibirnya tak bisa merespon saat ini. Ia merasakan Eunhyuk dimana-mana. Segala hal tentang lelaki itu adalah kesukaannya.

“Donghae,” Eunhyuk bergumam di atas bibirnya, membuat Jiyoo seketika terlempar kembali ke tanah. Gadis itu memandang Eunhyuk. Jaraknya sangat dekat, terlalu dekat hingga Jiyoo menemukan kilatan kesedihan melalui tatapan Eunhyuk. “Apa kau tidak pernah menyukainya?”

“Kenapa– Lee Hyukjae! Kenapa kau harus menanyakannya?”

Eunhyuk mengangkat bahu. “Karena Donghae ingin tahu. Karena aku ingin tahu.”

Aku juga ingin tahu. Jiyoo menyuarakan keinginannya diam-diam. Jika ia mengatakan hal itu, apa yang akan dipikirkan oleh Eunhyuk, bahwa istrinya juga ragu dan ternyata ada perasaan lain untuk lelaki lain?

Jiyoo menelan ludah dan menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak mau membicarakannya,” ucapnya. Ia sudah menyentuh gagang pintu sebelum tubuhnya berbalik dan memberikan kecupan cepat di bibir Eunhyuk. “Jangan… membicarakan itu,” bisik Jiyoo yang kemudian meninggalkan suaminya sendirian.

Eunhyuk memandangi pintu yang tertutup dan menelan punggung istrinya. “Aku juga tidak mau, Yoo.”

Sejak pembicaraan tentang Donghae siang ini, Jiyoo tak bisa berlama-lama di dekat Eunhyuk. Ia merasa akan terus menyakiti lelaki itu. Pertama, karena ia tahu Eunhyuk akan kembali bertanya. Kedua, karena ia tak akan bisa menjawab pertanyaan itu tanpa merasa terpancing untuk kesal. Dan begitu seterusnya.

Demi Tuhan, ia tak ingin menjawabnya. Karena walaupun ia ingin tahu, ia sama sekali tak tahu bagaimana menemukan jawaban untuk pertanyaan itu.

Perasaan untuk Donghae? Jiyoo menghela napas berat. Pundaknya terasa berat oleh semua hal rumit ini. Dan fakta bahwa Donghae juga sedang menjaga jarak darinya saat ini sama sekali tak membantu Jiyoo. Sepertinya ia harus benar-benar menjawab pertanyaan ini sendiri. Tanpa nasihat, tanpa petunjuk.

Tanpa Donghae.

“Kau sendirian.”

Jiyoo terkesiap dan menoleh. Di sana ia berdiri, Lee Donghae. Lelaki itu berdiri kaku, seakan canggung dan merasa tak pantas berada di sana. Kedua tangan Donghae dimasukkan ke saku celana dan Jiyoo bisa melihat senyuman kecil yang dipaksakan oleh temannya itu.

“Kau tidak muncul selama sarapan dan makan siang,” ucap Jiyoo.

Donghae mengedikkan bahu dan tersenyum lebih kecil dibandingkan dengan lima detik sebelumnya. “Sedang tidak ingin merusak suasana,” jawabnya.

Dan inilah yang disukai Jiyoo dari Donghae. Lelaki itu tak bersusah payah mencari-cari alasan, ‘Oh aku bangun terlambat untuk sarapan’ atau ‘Aku sedang ingin makan ramyun di kamar’ dan sebagainya. Jiyoo tersenyum mendengar jawaban Donghae. Donghae yang selalu jujur dan kadang terlalu apa adanya.

“Kau tidak merusak apapun,” sahutnya.

Donghae melirik sahabatnya kemudian menghela napas. “Tidak perlu menghiburku.”

Keduanya terdiam dengan atmosfer canggung menggantung di udara. Jiyoo tak pernah merasa secanggung ini bersama Donghae. Ketika keduanya hanya diam, Jiyoo tetap merasa nyaman. Ia tak perlu membuka mulut dan Donghae tak berusaha memancing percakapan apapun. Segalanya terasa wajar dan benar. Namun saat ini, Jiyoo kehilangan perasaan semacam itu.

Dan sesuatu yang terburuk adalah ia tak menemukan cara untuk mendapatkan perasaan nyaman itu kembali.

“Donghae,” panggil Jiyoo pada akhirnya. Sahabat yang dipanggilnya hanya menoleh dengan alis terangkat. “Apa kau… baik-baik saja?”

Donghae mengerjap. Hanya mengerjapkan mata tanpa berusaha menjawab. Pertanyaan yang mudah, sebenarnya. Donghae tahu hal itu. Yang tak ia ketahui adalah bagaimana menjawabnya tanpa meninggalkan kesan menyedihkan darinya dan rasa kasihan dari Jiyoo?

I’m afraid that I might never see you again, that we might get separated

So I can’t say anything and can only pound on my heart

“Kau tahu,” sambung Jiyoo, “Semua ini membingungkan. Kau, Eunhyuk, bahkan kita semua… maksudku, aku…” Ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha tersenyum. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa jika kau tidak baik-baik saja. Aku hanya ingin tahu keadaanmu.” Jiyoo menekankan, “Yang sebenarnya.”

“Kacau.”

Jawaban Donghae cukup, bukan, jawaban itu bahkan terlalu singkat. Biasanya Jiyoo akan berkomentar, mencibir dan mengolok-olok jawaban singkat seperti itu. Biasanya Jiyoo tak akan menerima jawaban singkat dari Donghae. Biasanya. Namun kali ini, rasanya Jiyoo bisa mengerti.

Karena jawaban Donghae mewakili perasaannya. Jadi, mereka berdua sama-sama kacau. Entah bagaimana, mengapa dan bagian mana yang kacau. Jiyoo bahkan tak bisa memikirkan semua itu. Yang ia tahu, segalanya menjadi terlalu jauh dari keteraturan. Semuanya terlalu… kacau.

“Apa benar aku adalah instalasi gawat darurat kesukaanmu?” tanya Donghae.

Jiyoo mendengus. Istilah instalasi gawat darurat itu terdengar konyol. Konyol tapi benar. Donghae sudah lama menyandang gelar itu. Sejak Jiyoo tak mengenal siapapun kecuali Donghae. Sejak Jiyoo tak memiliki siapapun selain Donghae. Sejak pertama kali Jiyoo bertemu Donghae, lelaki itu selalu menjadi instalasi gawat darurat kesukaannya. Hingga sekarang.

“Jiyoo?” Donghae memanggilnya. Suaranya pelan dan lembut, seperti Donghae yang biasanya. Hanya saja, Donghae yang seperti itu sedang terluka kali ini. Jiyoo bisa melihatnya melalui sorot mata lelaki itu. “Apa sekarang masih seperti itu?”

“Dulu seperti itu. Sekarang juga sama,” jawab Jiyoo. Ia tak ingin berbohong, setidaknya di saat seperti ini ia tak ingin melakukannya. Karena lelaki di hadapannya ini adalah Lee Donghae. Karena ia tak ingin membohongi Lee Donghae.

“Jangan.”

Jiyoo menatap matanya –mata Donghae- sekali lagi. Jika ia pernah menemukan kilatan kesedihan, kali ini ia melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dari kesedihan dan terpancar terlalu jelas. Jiyoo tak ingat ia pernah merasa dadanya sesesak ini. Segala yang menyakiti Donghae, kini juga menyakitinya. Sama dalam, sama sakit.

Now I don’t even have tears, I just have a blank heart

It actually hurt less when I was crying

 

Donghae beranjak dari tempatnya dan memaksakan seulas senyuman tipis. “Jangan,” ucapnya lagi. Ia menatap Jiyoo. “Jangan.”

The next day

“Apa kau ingin kita tinggal di sini?”

Pertanyaan Eunhyuk membuat Jiyoo terkejut. Ia mengerjap sambil mengeratkan pelukannya pada tumpukan baju bersih yang baru saja disetrika. “Dan… kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

Eunhyuk mengangkat bahu. Bibirnya terangkat, melukiskan senyuman miring kesukaan Jiyoo. “Hanya bertanya,” jawabnya. Namun kemudian ia menghela napas berat. “Choi Siwon itu… dia membantuku mencarikan rumah untuk kita di sini.” Eunhyuk tersenyum kecil. “Rumah yang mungil, jauh lebih mungil dibandingkan rumah kita di Seoul, tapi kurasa kau akan senang.”

“Aku senang, tentu saja. Maksudku, aku sudah pasti senang, tapi bagaimana denganmu?”

Jiyoo memandang suaminya. Ia membaca guratan keragu-raguan seperti garis putus-putus di wajah Eunhyuk. Lelaki itu tak suka menetap di tempat asing. Apalagi di Amerika. Dan walaupun Jiyoo akan sangat senang bisa memiliki kehidupannya kembali di California, ia tahu suaminya tak akan sesenang dirinya.

“Aku senang.” Eunhyuk meyakinkan Jiyoo. “Kita akan menetap di kota ini. Dan Choi Siwon akan membantu kita mengurus masalah imigrasi dan lain-lain. Kita hanya harus… tinggal di sini.”

“Perusahaanmu?”

Eunhyuk kembali mengangkat bahu. “Ada Jung Daehyun.”

Eomma dan Sora Eonni?”

“Mereka akan baik-baik saja tanpa kita.”

Jiyoo menghela napas dan memutuskan untuk tidak berkomentar lagi. “Baik, kita akan menetap di sini. Dan jangan berubah pikiran, karena aku sudah sangat senang mendengarnya.” Melihat Eunhyuk mengangguk patuh, Jiyoo tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum. “Kenapa tiba-tiba?”

“Aku melihatmu bersama Donghae malam itu.”

Jiyoo mendongak, menghentikan kegiatannya melipat pakaian milik Eunhyuk. Sepasang matanya menangkap sorot mata Eunhyuk untuknya. Ia tak ingin membiarkan kalimat Eunhyuk tergantung, tapi ia juga tak ingin menanggapi. Karena firasatnya berkata bahwa Eunhyuk akan mengatakan banyak hal untuknya.

“Di halaman belakang, tempat dia bersamamu dua hari yang lalu. Tangan kalian saling bertaut. Dia menggenggam tanganmu, kau balas menggenggam tangannya,” bisik Eunhyuk. (MY #12)

Dan mendadak Jiyoo teringat tentang perasaan aneh yang dirasakannya pada Eunhyuk siang itu, ketika Eunhyuk memberikan ciuman putus asa di kamar mereka. Lelaki itu sedang gusar; ketika itu dan begitu pula dengan saat ini. Jiyoo melingkarkan lengannya ke tubuh Eunhyuk, berharap bisa memberi penghiburan ringan.

“Waktu itu… Donghae tahu soal kehamilanku. Aku minta maaf.”

“Aku tidak marah,” ucapnya. “Aku hanya… entahlah, mungkin takut. Rasanya aku tidak akan bisa menggantikan Donghae. Dia dan dirimu seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi.

“Dia mengerti dirimu sebaik kau mengerti dirimu sendiri. Kemudian aku datang, menempatkan diri di tengah-tengah kalian. Pasangan puzzle tadi menjadi tak lagi cocok, seperti terhalang sesuatu. Terhalang oleh keberadaanku. Kau memang memilihku, tapi rasanya kau juga tidak pernah melepaskan Donghae.

“Dan dia juga tidak ingin dilepaskan. Donghae, maksudku,” ujar Eunhyuk. “Sejak awal, ketika aku bertemu denganmu, salah satu tanganmu sudah menggenggam tangan lain. Tangan Donghae. Kemudian, akhirnya tanganmu yang bebas meraih uluran tanganku, tapi tanganmu yang lain masih menggenggam tangan Donghae.”

Jiyoo merasakan lelehan air mata melewati hidungnya sebelum ia buru-buru menyekanya. Benarkah ia terus menggenggam tangan Donghae padahal ia sudah menerima uluran tangan Eunhyuk? Atau apakah seharusnya ia tak pernah sama sekali meraih tangan Eunhyuk dan terus menggenggam tangan Donghae? Jiyoo menggeleng, tak bisa berpikir.

“Mungkin, tanpa sadar, kau selalu menyukai Donghae.”

“Tidak… tidak seperti itu,” ujar Jiyoo.

“Kau tidak pernah tahu, Yoo.” Eunhyuk mengecup puncak kepala Jiyoo. Manis, namun menyakitkan. “Donghae tidak ingin memintamu untuk memilih, tapi kurasa kau tetap harus memilih. Kau tidak bisa selamanya menggenggam dua tangan lain secara bersamaan. Pada akhirnya, semuanya akan terluka.”

“Memilih juga akan melukai semuanya.”

Eunhyuk kembali mengecup puncak kepala gadis itu. “Itu resiko yang harus diambil. Dengan begitu, semuanya bisa selesai. Tidak ada luka yang lebih dalam, tidak ada hati yang terikat paksa lagi.”

Dan Jiyoo selalu benci ketika Eunhyuk mendapat poin penting dari setiap percakapan mereka. Jiyoo merasa hal yang harus dilakukannya setelah ini berhubungan dengan rencana menetapnya mereka di California. Ia belum tahu apa itu dan ia tak ingin mencari tahu. Karena bukan hal itu yang penting saat ini. Jiyoo menarik napas panjang.

“Aku mencintaimu.”

“Aku lebih mencintaimu,” balas Eunhyuk.

Jiyoo tahu seharusnya ia senang dengan kalimat manis dari Eunhyuk. Seharusnya kalimat seperti itu bisa membuatnya luar biasa bahagia. Namun ia hanya dapat merasakan beban yang berat, yang tiba-tiba menggantung di pundaknya dan melilit seluruh tubuhnya hingga ia tak bisa bernapas.

“Kau bebas memilih, sebenarnya,” ucap Eunhyuk lagi. Lelaki itu tak lagi menutupi suaranya yang serak dan parau. Sejak tadi, ia menahan diri agar tak terlihat lemah. Tapi ia tak keberatan jika Jiyoo melihatnya seperti ini. Karena Eunhyuk hanya akan menunjukkan sisi lemahnya pada gadis itu.

Dan karena sesungguhnya, kelemahan terbesarnya adalah Choi Jiyoo.

“Lee Hyukjae…”

Eunhyuk menundukkan wajahnya, hanya agar bibirnya bisa bertemu dengan bibir Jiyoo. “Malam ini… selesaikan semuanya, Yoo.”

Donghae melirik sahabatnya tanpa suara. Gadis itu duduk di sampingnya, di kursi kayu panjang tempat keduanya bersama beberapa hari yang lalu. Donghae tak perlu menjadi seorang peramal untuk mengetahui bahwa inilah saatnya. Jiyoo akan menjawab pertanyaannya. Walaupun sesungguhnya ia tak tahu apa yang harus dilakukannya jika pertanyaan itu terjawab.

Karena apapun jawaban Jiyoo, Donghae sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Tidak masuk akal,” gumam Jiyoo, memecahkan keheningan tak menyenangkan diantara keduanya. Donghae menoleh dan menatapnya. Ia menunggu gadis itu bersuara, mengeluarkan pikiran-pikiran yang mengganggunya kemudian keduanya akan saling melontarkan komentar. Biasanya seperti itu.

“Apa yang tidak masuk akal?”

Dan Donghae menunggu lagi. Rasanya seperti sebuah kebiasaan. Menunggu dan selalu melakukannya tanpa bosan. Lalu ia berpikir, apakah dirinya bodoh karena selalu menunggu? Dan ia melakukannya lagi. Mungkin bukan karena ia bodoh, tapi karena hanya itulah satu-satunya yang bisa dilakukan Donghae.

“Semua masalah ini. Aku, kau, Eunhyuk…” ujar Jiyoo pelan.

“Apa kau tahu apa yang ingin kutanyakan sekarang?” Donghae memberanikan diri bertanya. Ia melihat Jiyoo menelan ludah. Gadis itu tahu. “Dan apa kau akan menjawabnya sekarang?”

Jiyoo menunduk, menatap cangkir berisi teh yang tak lagi hangat. Larutan berwarna cokelat bening itu memantulkan wajahnya. Tampak kusut, tampak bingung. Ia tak perlu melihat Donghae untuk memastikan bahwa temannya juga memiliki raut wajah yang sama. Tentu saja ia akan menjawab pertanyaan itu, karena Eunhyuk ingin ia menyelesaikannya malam ini.

Hanya saja, Jiyoo tak tahu apa yang harus ia katakan.

“Apa kau pernah menyukaiku?” tanya Donghae lagi. “Maksudku, pernahkah kau berpikir bahwa aku tidak hanya sebatas sahabat dan panggilan darurat kesukaanmu? Hanya semenit… tidak, kurasa sedetik dalam hidup yang kita lewati bersama?”

I know even if you don’t say it,

That someone like me will never live in you for a single second…

Tak ada suara yang sanggup dikeluarkan oleh Jiyoo. Ia merenungkan pertanyaan itu. Ia melihat kembali bayang-bayang Donghae kecil; Donghae yang berlari di sampingnya, tertawa bersamanya, menyayanginya. Ia mendengar kembali suara Donghae yang menemani malam-malamnya di kota ini; ketika tak seorang pun bicara padanya, ketika ia sendirian di condominiumnya, ketika ia merindukan rumahnya.

Ia melihat Donghae dimana-mana.

Jiyoo melayang ke satu masa. Ketika itu, Donghae menemaninya datang ke sekolah pertama kali setelah adiknya meninggal. Tangan mungil Donghae menggenggam tangannya. Sangat erat seolah Donghae tak akan membiarkannya terlepas dari perhatiannya. Ketika itu, Jiyoo menyadari satu hal. Bahwa ia akan selalu menginginkan Donghae di dekatnya. Ketika itu, Jiyoo hanya menginginkan Donghae.

Dan ketika ia mengingatnya saat ini, ada banyak hal yang dirasakannya.

Mungkin, ia terlalu terbiasa dengan kehadiran Donghae. Sudah terlalu terbiasa hingga ia tak sempat merasa bahwa ia sempat menyukai sahabatnya. Lebih parah, ia sempat menginginkan Donghae dan hanya Donghae.

Dan saat ini, Jiyoo tahu ada sudut gelap dan tersembunyi dalam hatinya yang retak.

Retakannya kecil, tapi Jiyoo cukup peka bahwa ada luka di sana. Retakan itu membiarkan darah merembes keluar. Rasanya sedikit perih. Hatinya tetap utuh walaupun ada bagian yang retak.

Lalu kenapa ia menangis? Jiyoo merasakan pipinya yang basah. Jelas, ia tak tahu apa yang ditangisinya saat ini. Jiyoo memang baru menyadari satu fakta penting, bahwa ia, sepertinya, sempat memiliki perasaan egois itu untuk Donghae. Tapi itu tak akan mengubah apapun. Bukankah begitu?

Karena ada Eunhyuk. Sudah ada dan selalu akan ada Eunhyuk.

“Maaf, maaf… maaf.”

This is enough…

 The heartache, the painful tears,

 I was always in pain, ever since you first came to me…

“Kau sempat merasakannya ternyata,” gumam Donghae dengan suara pelan. Suaranya terlalu pelan, terlalu lirih dan terdengar menyedihkan. “Terima kasih, kurasa. Jawabanmu cukup penting bagiku,” ucapnya. Donghae mengeluarkan sesuatu dari sakunya; sebuah amplop dalam keadaan terlipat. “Kau pernah menyukaiku, jadi aku akan kembali ke Seoul secepatnya. Choi Siwon memberikan tiket ini padaku. Kurasa dia melihat solusi untuk menyelesaikan semua masalah konyol ini.”

Jiyoo tertegun, masih dengan mata yang basah dan otak yang tak sanggup berpikir. “Kau… akan pulang sendiri.”

Donghae mengangguk untuk menjawab walaupun Jiyoo tak sedang melontarkan pertanyaan. “Kurasa setelah pengakuanmu malam ini, kita bertiga tidak akan bisa saling bertatapan tanpa merasa canggung. Jadi Choi Siwon memutuskan untuk ikut campur. Jika kau berkata ya, aku akan kembali sendirian sementara kau dan Eunhyuk akan tetap di sini.”

Dan inilah jawaban lain dari rasa ingin tahunya. Jiyoo mengerti alasan Eunhyuk meminta mereka untuk menetap di California. Agar Donghae dan dirinya tak bertemu sementara waktu. Entah hingga kapan. Sementara ia dan suaminya tinggal di sini, sahabatnya akan menjauh hingga ketiganya berhasil melupakan masalah ini.

“Kapan?” tanya Jiyoo. Suaranya parau oleh air mata. “Kau bilang secepatnya. Secepatnya itu kapan?”

Kepala Donghae tertunduk. Kemudian ia mendongak dan memaksakan seulas senyuman. “Besok siang.”

Hatinya, yang tadi hanya retak, kini sedikit patah. Terdapat potongan kecil yang terpisah dari sudut-sudut hatinya. Potongan kecil yang mampu membuat hati Jiyoo tak sama lagi. Bentuknya tak sama, ada secuil bagian yang hilang. Nalarnya berkata bahwa tak akan ada yang sanggup mengembalikan hatinya yang tak lagi lengkap.

Besok siang terlalu cepat. Membayangkan Donghae akan pergi darinya, tak lagi berada di dekatnya membuat Jiyoo susah bernapas. Dan ini bukan perpisahan biasa. Ada kemungkinan bahwa perpisahan ini akan terasa lebih lama daripada yang sudah terjadi pada keduanya.

Jiyoo merasakan desakan menyebalkan dari hatinya. Organ itu mengirimkan sensor agar air matanya jatuh dan sebelum akal sehatnya sempat melarang, hati Jiyoo kembali mengkhianatinya. Ia ingin menangis, ia harus menangis.

I’m afraid that I might never see you again, that we might get separated,

So I can’t say anything and can only pound on my heart…

I love you, I loved you, these are words I never once said…

“Tatap aku,” ucap Donghae.

Jiyoo menggeleng dengan kuat, menolak permintaan sahabatnya. Air matanya tak berhenti walaupun ia sudah menyekanya berkali-kali. “Aku tidak akan mengantarmu. Aku tidak akan mengucapkan Sampai Jumpa padamu. Aku tidak mau.”

“Bagus,” sahut Donghae lirih. “Karena seharusnya kau mengucapkan Selamat Tinggal.”

I know this and I know that if I love you, only I will get hurt,

But what do I do with these painful tears that won’t stop?

The next day – 5:21AM

Jiyoo berbaring memunggungi Eunhyuk. Suaminya masih tertidur dengan suara dengkuran halus yang membuat Jiyoo tahu bahwa lelaki itu tidur dengan lelap. Eunhyuk menunggunya semalam, menunggu kabar darinya. Menunggu keputusannya. Jiyoo tak berkata apapun, hanya bergegas memeluk Eunhyuk dan menangis di hadapan lelaki itu.

Sekali lagi, Jiyoo tak tahu apa yang ditangisinya.

Apakah itu kepergian Donghae atau masalah mereka yang selesai, atau justru fakta bahwa ia pernah memiliki perasaan lain pada sahabatnya dan ia hanya terlambat menyadarinya?

Opsi terakhir sungguh egois. Jiyoo membuang jauh-jauh pikiran itu. Jika ia menyesali keterlambatannya untuk Donghae, bukankah itu artinya ia juga menyesal sudah memiliki Eunhyuk selama ini? Ia tak boleh dan tak ingin menyesal karena ia memiliki orang yang tepat. Eunhyuk berbeda untuknya. Eunhyuk adalah satu-satunya jenis orang yang tak akan pernah Jiyoo sesali keberadaannya.

Namun ketika Jiyoo mengingat separah apa ia sudah menyakiti sahabatnya, air matanya mendesak lagi secara otomatis. Ia terluka karena telah melukai Donghae dan luar biasa buruknya, ia tak bisa melakukan apapun untuk menyembuhkan Donghae. Jiyoo menggigit bibir. Kecuali dengan membiarkan Donghae menjauh dari hidupnya.

Donghae akan segera pergi sementara Jiyoo akan tetap tinggal. Dan meskipun keduanya sudah sering terpisah jarak antar benua, kali ini perpisahan mereka terasa lebih menyesakkan dada.

Jiyoo merasakan lengan Eunhyuk memeluknya. Lelaki itu mengecup pundak belakang Jiyoo dan berbisik, “Aku minta maaf.”

Tubuh Jiyoo berbalik hingga ia bisa melihat wajah Eunhyuk lebih jelas. Lelaki itu juga merasakan lukanya. Dan mungkin Eunhyuk menyimpan lukanya sendiri. Jiyoo melingkarkan lengannya di pinggang Eunhyuk. Ia beringsut, membiarkan Eunhyuk membungkus tubuhnya lebih erat. “Aku minta maaf.”

“Tahun pertama pernikahan selalu penuh drama,” gumam Eunhyuk.

Jiyoo nyaris bisa membayangkan Eunhyuk tersenyum atas komentar konyolnya. Bayangan itu membantunya lebih tenang dan, entah bagaimana, membuatnya ikut tersenyum getir. “Aku ingin acara jalan-jalan kita dilakukan hari ini. Aku akan mengajakmu ke kampus dan kantor redaksi majalah tempatku bekerja, lalu ada toko kue yang–“

“Yoo,” sela Eunhyuk. Ia menunduk sedikit untuk menatap mata Jiyoo. “Donghae akan pulang hari ini.”

“Aku tahu.”

Eunhyuk melihatnya; sorot mata yang rapuh dari sepasang permata milik Jiyoo. Gadis itu ingin menghindari perpisahan dengan Donghae melalui caranya sendiri dan Eunhyuk berusaha memahami hal itu. Ia mengecup kening Jiyoo. “Ayo berkeliling kota hari ini!”

Donghae menatap kopernya yang tergeletak di sudut kamar. Penerbangannya masih 5 jam lagi tapi ia sudah selesai berkemas. Jika orang lain melihatnya, Donghae akan terlihat sangat tak sabar untuk segera meninggalkan California saat ini. Banyak hal yang mengganggunya sejak semalam, membuatnya tak bisa tidur hingga ia memilih untuk mengemasi pakaiannya lebih awal.

Otaknya mengajaknya berpikir, bahkan berdebat. Tentang hal yang akan dilakukannya, tentang efek yang mungkin akan dirasakannya. Persahabatannya dengan Jiyoo bisa dikatakan berakhir jika ia benar-benar meninggalkan kota ini. Tapi otaknya berteriak, hatinya-lah yang akan tetap terluka jika ia berada di dekat Jiyoo setelah ia tahu gadis itu sempat memiliki perasaan yang sama dengannya.

Do you love someone else?
Can’t someone like me live in you for a single second?

Donghae tak bisa mengambil resiko lebih banyak. Resiko itu terlalu berat. Hatinya yang akan tetap terluka dan ketamakan ingin mengembalikan perasaan itu untuk Jiyoo, membuat Eunhyuk menemukan alasan untuk menghajarnya lagi.

You, who I can’t have, you won’t know
All day, I secretly hide my love
I want to smile and comfortably look at you
But because I love you, because you’re so precious
I don’t dare to approach you
because of my foolish heart

Ia mendapat jawabannya dan ia harus pergi. Itu kesepakatannya. Bukan dengan Choi Siwon, tapi justru dengan dirinya sendiri. Ia akan pergi, Jiyoo akan tinggal. Dengan perbedaan besar itu, keduanya akan memiliki ruang untuk berpikir, untuk lebih banyak merasakan.

Dan bagi Donghae sendiri, ruang untuk menyembuhkan diri.

“Itu toko kue Perancis yang paling terkenal di sini!”

Jiyoo menunjuk sebuah gedung dua lantai dengan dinding bercat ungu pucat. Dari kejauhan, ia bisa melihat etalase yang dihiasi dengan croissant dan deretan cokelat-cokelat beraneka jenis. Ia tak suka croissant tapi ia penggila cokelat. Dan karena toko itu menyediakan puluhan cokelat Perancis yang enak, Jiyoo menjadikannya sebagai toko kue paling terkenal… versi dirinya sendiri.

Eunhyuk tersenyum samar. Ia membiarkan Jiyoo meminta supir kiriman Choi Siwon menepi dan memarkir mobil di depan toko ungu itu. Ia tak berkomentar ketika Jiyoo menggenggam tangannya dan masuk ke dalam toko. Ia hanya memerhatikan Jiyoo saat gadis itu memilih-milih cokelat yang dipajang di etalase.

Dan diam-diam, ia memikirkan perasaan tak nyamannya sejak tadi.

Jiyoo lebih banyak tersenyum dan tertawa. Gadis itu bahkan bercerita panjang lebar pada si supir. Dan Eunhyuk paham benar bahwa hal itu merupakan pertanda tak baik, karena Jiyoo tak pernah bersikap terlalu akrab pada orang asing. Tak sekali pun, kecuali gadis itu sedang gusar akan sesuatu.

Eunhyuk benci ia mengetahui sesuatu yang membuat istrinya gusar. Mengetahui dengan amat sangat baik. Pikiran itu menghantuinya hingga ia bisa melihat deretan nama yang terbaca dalam kepalanya. Lee Donghae.

“Masih ada waktu 30 menit, Yoo,” ucap Eunhyuk ketika mesin mobil kembali dinyalakan.

“Untuk?” Jiyoo sibuk mengutak-atik kotak berisi cokelat miliknya. Eunhyuk hampir bisa memastikan bahwa gadis itu sedang menyibukkan diri. Faktanya, Jiyoo pasti tahu apa maksud ucapan Eunhyuk. Tiga puluh menit hingga Donghae benar-benar meninggalkan California.

Eunhyuk menghela napas berat dan menepuk pundak si supir. “Tolong antarkan kami ke bandara.”

“Apa– kenapa!?”

“Aku ingin berpamitan pada Donghae, temanku. Dan kalau kau tidak ingat, aku tidak akan bertemu dengannya lagi hingga jangka waktu yang belum ditentukan. Dia temanku,” sergah Eunhyuk. Ia menunggu reaksi Jiyoo tapi tak mendapatkan apapun. Gadis itu hanya duduk diam, bersandar dengan wajah lelah. “Dia sahabatmu, Yoo.”

Jiyoo berusaha keras untuk bernapas, ia mencari bukti bahwa sepasang paru-parunya masih berfungsi dengan baik karena ia benar-benar membutuhkan oksigen. Ia menarik napas dalam-dalam. “Kalian yang memutuskan segalanya. Selalu seperti itu. Sejak awal, hanya kalian yang akan memutuskan apa yang bisa dan tidak bisa terjadi dalam hidupku. Bagaimana kalian mengatur caraku kembali ke Seoul, membuatku mengingat janji masa kecil yang kubuat denganmu, dan segalanya!

“Dan ketika dia memutuskan untuk pergi lalu kau memutuskan kita akan menetap, apa ada yang mempertimbangkan status hubunganku dengan kalian? Aku sahabatnya dan aku istrimu. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu. Tapi kalian tetap memaksaku memilih salah satu dari kalian, dan tak peduli siapapun yang kupilih, salah satunya akan tetap pergi, baik itu Donghae atau dirimu!”

Campuran amarah, patah hati dan kesuraman itu membuat Eunhyuk memeluk istrinya. Jiyoo tak menolak tapi juga tak membalas pelukan itu. Ia hanya diam sambil berusaha menghilangkan air mata konyol yang selalu berkhianat pada otaknya.

Eunhyuk mengusap punggungnya dengan lembut dan terkutuklah lelaki itu karena Jiyoo justru semakin tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Ia menangis dan membiarkan serpihan hatinya, tempat Donghae bernaung, tersapu kesedihan dan keluar bersama air matanya. Bisikan Eunhyuk membuat Jiyoo memeluk erat lelaki itu.

“Aku membutuhkanmu.”

Bandara LAX masih ramai oleh banyak orang. Beberapa berjalan dengan menarik koper, beberapa hanya membawa tas tangan dan lainnya tak membawa apapun. Sebagian orang menunggu penerbangan, sebagian lainnya hanya mengantar. Dua jenis orang-orang seperti itu sering digolongkan sebagai jenis-jenis yang sering berada di bandara.

Namun Jiyoo dan Eunhyuk tak termasuk keduanya.

Donghae sudah tak terlihat dimana pun dan pesawat dengan penerbangan menuju Korea Selatan sudah lepas landas. Mereka terlambat. Tak ada kata-kata perpisahan, tak ada pelukan hangat. Dan Jiyoo dikhawatirkan dengan bayangan Donghae yang berada di tempat ini sendirian. Tanpa siapapun yang mengantar dan mengucapkan sampai jumpa –atau selamat tinggal, seperti yang diinginkan Donghae.

“Choi Siwon pulang bersama Donghae,” ucap Eunhyuk setelah menutup pembicaraan melalui ponselnya.

“Apa?”

Eunhyuk merangkul pundak Jiyoo. “Siwon juga kembali ke Seoul, tapi urusan imigrasi kita di sini tetap akan diselesaikan olehnya.”

“Kau, Donghae dan Siwon Oppa sudah mempersiapkan semuanya ya?”

“Semacam tindakan mengantisipasi. Choi Siwon berjanji Donghae akan baik-baik saja,” jelas Eunhyuk. “Dan bukankah itu yang paling penting?”

Jiyoo hanya mengangguk lemah. Perpisahannya dengan Donghae sama sekali tak bisa disebut perpisahan yang baik. Keduanya berada dalam keadaan canggung, bahkan ia mengatakan bahwa ia tak ingin mengantar lelaki itu. Dan ketika ucapannya menjadi kenyataan, Jiyoo ingin mengubur dirinya hidup-hidup.

Ia tak ingin berpisah seperti ini. Donghae adalah orang yang penting baginya, dan seandainya mereka memang tak seharusnya bertemu, ia ingin semuanya berakhir dengan baik. Hingga jika ia dan Donghae bertemu kembali, akan ada saatnya keduanya membicarakan masalah konyol ini sambil menertawakannya.

Atau… jika benar-benar tak akan bertemu lagi, Jiyoo ingin memiliki kenangan menyenangkan tentang Donghae, dan ia ingin Donghae mengingatnya sebagai kepingan masa lalu yang layak dikenang. Hanya itu.

Jiyoo terkesiap ketika Eunhyuk menggenggam tangannya. Lelaki itu bertanya, “Kita pulang?”

Pulang ke rumah baru. Jiyoo memberikan senyuman terbaik untuk Eunhyuk. “Pulang.”

California – Two months later

Jiyoo mematut diri di depan cermin. Ia berulang kali mengubah posisi berdirinya dengan berbalik ke kanan, ke kiri sambil mengerutkan kening. Ketika Eunhyuk keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah, Jiyoo menatap suaminya.

“Apa menurutmu aku gemuk?”

Eunhyuk terlalu terkejut, dan keheranan karena tiba-tiba ditodong dengan pertanyaan itu. Pertanyaan Jiyoo tidak aneh, justru wajar. Namun akan menjadi tak wajar jika gadis itu menanyakan pertanyaan yang sama selama tiga minggu terakhir dalam waktu yang selalu sama. Setelah jam makan siang hari Sabtu dan Minggu.

Menurut ibunya, Jiyoo hanya sedang merasakan krisis kepercayaan diri karena segala tentang dirinya, baik secara fisik maupun mental berubah. Dan terkadang hal itu bisa menjadi sangat menakutkan. Namun, sebagian besar dari masa-masa itu terasa sangat menggemaskan. Eunhyuk cukup menyukainya.

Karena Jiyoo selalu ingin mendengar pendapat Eunhyuk. Eunhyuk cukup bangga akan hal itu. Karena istrinya akan mendengarkannya, menandakan bahwa pendapatnya-lah yang terpenting.

“Yoo, kau sedang hamil, ingat?”

Jiyoo kembali mengerutkan kening. Kedua matanya menunduk, menatap perutnya yang mulai tampak membuncit. Jawaban itu sama sekali tak memuaskan. Jiyoo tahu, dengan sangat pasti, bahwa ia sedang mengandung. Empat bulan. Jiyoo tahu semua itu. “Jadi aku memang semakin gemuk.”

“Aku tidak berkata begitu, Yoo, aku–“

“Lalu, menurutmu tidak ada yang berubah dengan tubuhku?”

Eunhyuk menarik napas sambil tersenyum miring. “Aku juga tidak berkata begitu, aku–“

“Lalu apa!?”

“Aku hanya berpikir,” Eunhyuk mendekati Jiyoo dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. “Kurasa akan menyenangkan kalau kita makan malam di luar hari ini. Bagaimana menurutmu?”

Jiyoo menoleh ke samping, membiarkan Eunhyuk menciumi kulitnya yang terbungkus kain katun. Lelaki ini sungguh menyebalkan. Menyebalkan karena selalu mampu mengembalikan suasana hatinya yang ceria. Menyebalkan karena ia sendiri selalu bergantung pada lelaki ini. Menyebalkan karena selama kehamilannya, Jiyoo selalu ingin berada di dekat Eunhyuk.

Menjadi sangat menyebalkan karena Eunhyuk menyadari hal itu dengan sangat baik, sebaik Jiyoo sendiri.

“Apa kau pikir ada yang salah denganku selama kehamilanku ini?” Pertanyaan Jiyoo disambut oleh kening Eunhyuk yang mengernyit. Jiyoo mengembuskan napas berat. “Maksudku, aku selalu ingin berada di dekatmu, aku menjadi… manja. Padahal seingatku aku tidak terlalu ingin terus-menerus melihatmu.”

Eunhyuk berdeham. “Dan apakah hal itu buruk? Melihatku, kan, seharusnya menjadi kebutuhan utamamu.”

“Apa menurutmu anak ini perempuan?” Jiyoo mengalihkan pembicaraan. Karena jika ia berdebat tentang itu dengan Eunhyuk, suaminya akan terus menjawab. Dan terkadang, lelaki itu mendapatkan poinnya.

Mudah sekali mengubah arah pembicaraan dengan Eunhyuk. Tentu saja topik yang diambil harus mengenai calon anak mereka atau apapun yang berhubungan dengan itu. Eunhyuk tersenyum puas. “Aku suka anak perempuan!”

“Tapi aku mau laki-laki…”

Eunhyuk mencibir. “Aku yakin perempuan.”

Seoul – 2 months later

“Mana, mana dia? Aku mau bicara dengannya!”

“Aku yang menghubunginya duluan, kau nanti saja, Yoo.”

“Tidak, tidak! BERIKAN BENDA INI PADAKU!”

Donghae menatap monitor di hadapannya dengan kening berkerut. Sesaat tadi layar itu menampilkan wajah Eunhyuk sebelum akhirnya berganti dengan wajah Jiyoo. Donghae bisa melihat gadis itu tersenyum puas. Jadi lagi-lagi, Jiyoo-lah pemenangnya.

“LEE DONGHAE!”

Donghae tertawa. “Jangan berteriak.”

“Bagaimana kabarmu?” sapa Jiyoo sambil membetulkan posisi duduknya sementara Eunhyuk memeluk gadis itu dari belakang. “Bagaimana pekerjaanmu? Bagaimana kabar ibumu? Bagaimana kabar Incheon dan Seoul?”

“Kau berisik sekali. Kita baru mengobrol bulan lalu, Choi Jiyoo,” Donghae menggerutu.

Jiyoo hanya mengangkat bahu santai. “Karena kau hanya akan menghubungi kami sebulan sekali. Setidaknya aku masih sangat antusias untuk mengobrol denganmu melalui benda konyol ini.”

“Permisi, benda yang kausebut konyol ini merupakan hasil pemikiran para jenius yang sangat penting demi kemajuan teknologi umat manusia di dunia, Nona,” sela Donghae. “Dan bersyukurlah kita masih bisa bertatap muka walaupun kau ada di benua berbeda.”

“Aku merindukanmu.”

Donghae tergelak nyaring dan mengangguk-angguk. “Aku juga, aku juga. Tapi kurasa suamimu itu tidak akan senang.”

“Lanjutkan saja, aku tidak mendengar kalian,” sahut Eunhyuk. Ia kembali menggelitik leher belakang Jiyoo dengan kecupan-kecupan ringan. “Anggap saja aku hanya patung.”

“Patung yang bergerak-gerak di leherku,” Jiyoo berkomentar singkat. “Jadi, ada kabar baru apa darimu?”

Donghae mengernyitkan alis dan tampak berpikir. Otaknya berusaha mengumpulkan ingatan tentang kejadian yang terjadi padanya selama sebulan terakhir. “Kurasa Daehyun dan Chaerin ingin segera bertunangan.”

“Tidak! Jung Daehyun bodoh itu tidak akan melakukannya selama aku belum kembali ke sana. Dan lagipula, butuh waktu setidaknya setahun untuk memutuskan hal sepenting itu,” celetuk Eunhyuk. Dan ia memang tak akan pernah mengijinkan hal itu terjadi. Ia harus pulang ke Seoul dahulu sebelum memberi ijin Daehyun untuk melangsungkan pertunangan. Karena Daehyun adalah sahabatnya. Sahabatnya yang bodoh.

“Tuan Lee, kau bahkan menikahiku hanya beberapa minggu setelah aku tiba di Seoul,” sela Jiyoo.

Eunhyuk tersenyum lebar, penuh kemenangan. “Oh perhitungan hubungan kita dimulai selama 12 tahun sebelum kita menikah, Nona. Jangan terlalu merendah.”

“Benar juga,” aku Donghae. Kemudian ia mengerjapkan mata, sadar akan sesuatu. “Dan kurasa aku sudah baik-baik saja, jadi aku ingin segera bertemu dengan kalian. Karena itu aku menghubungi kalian sekarang, bahkan aku melakukan video call! Bukankah aku sangat baik hati?”

Eunhyuk mencibir dan menyipitkan mata. “Kita selalu saling mengirim email tanpa sepengetahuan Jiyoo, jadi kurasa aku tidak begitu merindukanmu. Dan karena aku sudah melihat wajahmu melalui monitor hebat ini, aku tidak ingin bertemu denganmu.”

“AKU INGIN BERTEMU DENGANNYA!” seru Jiyoo nyaring.

Donghae tertawa melihat kedua mata Jiyoo yang berbinar. Ini pertama kalinya ia melihat wajah sahabatnya lagi –setidaknya secara langsung karena Eunhyuk sering mengirim foto Jiyoo dan dirinya melalui email. “Memangnya kapan kalian akan pulang? Sudah ada rencana untuk pulang?”

Kali ini giliran Jiyoo yang tersenyum nyaris polos tanpa dosa. “Belum ada rencana apapun.”

“Kalian benar-benar ingin anak kalian memiliki catatan kelahiran di California ya?”

Eunhyuk mengangguk dengan antusias. “Ini pertama kalinya anggota keluarga Lee akan lahir di luar negeri.”

“Konyol.” Jiyoo memutar bola matanya dan mencibir.

“Suamimu.” Donghae mengangkat bahu.

Jiyoo mengeluh. “Aku tahu.”

California – 3 month later

“KUNCIKU! Dimana kunci mobil sialan itu!? Astaga!”

Suara Eunhyuk bergema di koridor dapur. Lelaki itu berjalan kembali ke kamar sambil menggerutu dan terkadang berteriak frustasi. Eunhyuk mengacak-acak seluruh lemari di ruang tengah, membuka lemari es –demi Tuhan! Siapa yang mungkin cukup gila untuk menyimpan kunci mobil dalam lemari es?- dan ia membuka seluruh laci yang ada di rumah mereka.

“Ponselku! Kunci mobil! Dan surat reservasi kamar rumah sakit!” teriaknya. Eunhyuk melongokkan kepala untuk melihat istrinya yang menunggu sambil berdiri. “Sebentar, Yoo! Sebentar, tetaplah menarik napas dan tenang! Semuanya terkendali!”

Jiyoo menghela napas berat dan mulai kesal oleh keadaan. Satu-satunya yang terkedali di rumah ini adalah dirinya yang, omong-omong, mengalami kontraksi setiap 20 menit sekali. “Lee Hyukjae…”

“Sebentar! Jangan panik, Yoo!”

Jiyoo kembali menarik napas dalam-dalam. Demi Tuhan, keadaan ini benar-benar membuatnya kesal. Sangat kesal. Eunhyuk memintanya agar tidak panik, bagus. Tapi satu-satunya yang panik disini adalah, sialan, suaminya!

“Lee Hyukjae!”

Eunhyuk muncul dari kamar dengan wajah yang, terlihat masih, sangat panik. “Ya? Apa yang kaubutuhkan, Yoo? Aku akan menemukan surat-surat sialan itu–”

Jiyoo memejamkan mata sejenak dan berusaha untuk tak berteriak pada suaminya. Ia mengangkat tangannya yang memegang lembaran-lembaran kertas dan ponsel layar sentuh warna putih milik suaminya. “Semuanya ada disini, sayang. Tetap tenang,” ucap Jiyoo. “Dan kunci mobilnya… kemungkinan ada di saku jasmu, suamiku tercinta.”

Eunhyuk meraba jasnya, merogohnya dan menemukan kunci mobil dengan gantungan strawberry besar. “Ini dia!”

“Ya, itu dia,” ulang Jiyoo. Ia menahan napas merasakan kontraksi yang tetap datang secara teratur. Dengan tersengal, ia bergumam, “Jadi bisa kita pergi sekarang?”

“Tentu saja! Tentu saja!”

Eunhyuk menyetir dengan kecepatan tinggi. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi dan jalanan masih sepi –syukurlah. Keningnya berkerut dan pelipisnya mulai basah oleh keringat. Ia harus membawa Jiyoo ke rumah sakit tepat waktu. Ia menelan ludah dengan susah payah setiap Jiyoo menahan sakit karena kontraksi yang menjadi semakin sering.

“Jangan panik, Lee Hyukjae.”

“Aku tidak panik, Yoo. Tidak.”

Jiyoo tersenyum walaupun ia masih kesakitan. “Sudah memberi tahu Donghae?” Suaminya menggeleng tanpa menjawab. Jadi Jiyoo mengambil ponsel Eunhyuk dan mulai menelepon. “Oh, hai, Lee Donghae!”

“Bilang padanya untuk segera datang ke sini!” seru Eunhyuk.

“Tidak ada apa-apa, kami hanya ingin memberitahu kalau kami sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit,” jelas Jiyoo. Ia menggigit bibir, menahan sakit. “Aku akan segera melahirkan, sepertinya.”

Dan terdengar samar-samar Donghae berteriak, “KALIAN BODOH! KENAPA MALAH MENGHUBUNGIKU!?”

“Untuk memberitahumu, Bodoh!” sahut Eunhyuk, balas berteriak pada Donghae.

Jiyoo bernapas dengan berat dan berusaha untuk tak tertawa. “Baiklah, sampai jumpa! Oh, dan kalau anak kami laki-laki, kurasa kami bisa memberinya nama Lee Donghae!”

“TIDAK! Kita belum sepakat mengenai hal itu, Yoo,” sanggah Eunhyuk. “Dan bisa saja anak kita perempuan!”

“Aku suka nama Lee Donghae,” Jiyoo mengendikkan bahu santai. “Lee Donghae itu nama yang bagus.”

Seoul – 6 months ago

Donghae terduduk di ranjang sambil menghalangi sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya dan menyilaukan pandangannya. Tak ada yang berbeda darinya, namun ia juga merasa tak menjadi sama lagi. Menjauh dari kehidupan dua orang yang penting untuknya adalah pengalaman paling menyebalkan seumur hidupnya. Ia harus berpikir ulang tentang segalanya; perasaan yang dimilikinya dan kemungkinan perasaan itu bisa dihilangkan.

Satu bulan. Empat minggu. Tiga puluh hari. Dan tetap tak ada yang terjadi.

Ia dan Choi Siwon berkesimpulan bahwa menjauh dari Jiyoo dan Eunhyuk akan membantu. Keduanya sepakat akan hal itu, secara teori. Kenyataannya, Donghae hanya semakin kehilangan jati diri. Seandainya saja ia bisa mengubah kata ‘menyukai’ Jiyoo menjadi penggunaan kata lampau ‘pernah menyukai’, tentu ia tak akan kebingungan dan merana seperti ini.

“Selamat pagi, Oppa!”

Han Jeyeon mengintip dari tepi pintu yang terbuka. Dengan kaki kanan, ia mendorong pintu sementara tubuhnya menyelip melewati bingkai pintu dan masuk ke kamar Donghae. Kedua tangannya membawa baki dengan semangkuk sereal dan segelas susu.

Donghae hanya mengangguk dan tersenyum datar. Empat minggu Donghae berada di rumah, dua minggu setelahnya Jeyeon selalu mencoba mengunjunginya. Donghae mulai menyerah melarang gadis muda itu berkunjung setelah Jeyeon berhasil mengambil hati ibunya. Ibu Donghae, yang mengetahui kepulangan putranya seorang diri, memberikan kunci cadangan untuk Jeyeon.

Donghae harus selalu berdebat bahwa jika disandingkan, satu-satunya orang yang harus ‘dititipi’ dan dirawat adalah Han Jeyeon, bukan dirinya. Namun ibunya menutup telinga. Ia bersikeras harus ada seseorang yang merawat putranya, dan di matanya, Jeyeon terlihat sangat meyakinkan. Donghae tak bisa mencegah diri untuk tak mendengus. Meyakinkan; gadis 18 tahun berseragam SMA terlihat sangat amat meyakinkan bagi ibunya, luar biasa, pikir Donghae.

Alhasil, di sinilah sang gadis 18 tahun, membawakan sarapan dan menemaninya hampir setiap hari. Donghae sendiri tak menolak. Karena mungkin ia memang membutuhkan teman, orang lain, siapa pun.

“Apa Oppa masih sering memikirkan perasaan itu?” Jeyeon menarik kursi ke dekat ranjang Donghae. “Maksudku, mungkin saja perasaan itu sudah bukan lagi berupa perasaan yang nyata.”

“Kau pikir aku sedang bermimpi?” tanya Donghae sebelum menyendokkan sereal ke mulutnya. “Aku juga berharap begitu. Jadi aku bisa bangun dan melupakan segalanya.”

Jeyeon mengerjap, memandang Donghae dengan kedua matanya yang bulat. Donghae tahu gadis ini belum genap 20 tahun, tapi ia yakin Han Jeyeon jauh lebih dewasa dibandingkan gadis-gadis seusianya.

Dan terkadang, hal itu menjadi sangat menakutkan. Karena Donghae bisa terbaca olehnya. Dengan sangat baik.

“Apa Oppa bahagia?” Sebelum Donghae sempat menjawab, Jeyeon menambahkan, “Bahagia untuk diri Oppa sendiri dan untuk mereka karena kebahagiaan mereka?”

Donghae meneguk susu vanilla di gelasnya. Ia membiarkan cairan putih menuruni tenggorokan. Donghae merasakan manis di rongga mulutnya walaupun ia lebih banyak merasakan kegetiran setelah mendengar pertanyaan Jeyeon. Lebih buruk lagi, Donghae tak bisa menjawab. Ia tak tahu jawabannya.

Apakah ia bahagia? Apakah ia bisa ikut berbahagia untuk kebahagiaan kedua sahabatnya?

Karena rasanya kedua hal itu terlalu bertentangan. Donghae merasa jika Jiyoo dan Eunhyuk berbahagia, dirinya yang tak bisa bahagia. Dan jika ia mengejar kebahagiaannya sendiri, justru Jiyoo dan Eunhyuk yang mungkin tak akan bisa bahagia. Lalu, apa yang harus dikatakannya sekarang?

“Hidup Oppa selalu berpusat di antara mereka padahal ada hal lain yang bisa menopang Oppa,” ujar Jeyeon perlahan. Sungguh, Donghae yakin gadis muda itu pasti setidaknya berusia sama seperti dirinya dan bukannya berusia 18 tahun. Jeyeon selalu berpikir dewasa, walaupun terkadang tingkahnya akan kembali menjadi gadis remaja seperti seharusnya. “Membiarkan pusat gravitasi lain masuk dan mengambilalih dunia kita bukan tindakan yang buruk.”

“Kau memintaku untuk membuka diri…”

Jeyeon tersenyum simpul. “Oppa cepat tanggap.”

“Terbiasa berbicara denganmu membuatku begitu,” sahut Donghae santai.

“Bukankah Oppa ingin bertemu lagi dengan mereka?” tanya Jeyeon. Ia memiringkan kepala untuk memerhatikan raut wajah Donghae. “Mereka juga begitu.” Jeyeon kemudian tersenyum semakin lebar. “Maukah Oppa mengijinkanku masuk sementara aku akan mencoba menjadi pusat gravitasi Oppa yang baru?”

“Tergantung.”

Jeyeon mengedipkan kedua matanya. “Dari?”

“Tergantung dari caramu membuatkan menu sarapan lain selain sereal dan susu untukku.”

“Itu sulit… tapi aku bisa melakukannya!”

Donghae tergelak pelan. “Kurasa begitu.”

California – March 20, 2013

“LEE HYUKJAE! Yoon tidak suka mainan itu!”

Jiyoo berseru dari dapur sementara Eunhyuk memainkan bebek karet berwarna kuning di tangannya. Lelaki itu menunduk sambil mencebikkan bibir ke arah bayi mungil yang terbaring di ranjang mininya yang bergoyang. Bayi itu menggerak-gerakkan tangan, berusaha meraih mainan bebek di tangan Eunhyuk.

“Kau menyukainya… Yoomma tidak tahu kalau menyukainya. Benar, kan, Yoon?” gumam Eunhyuk. Ia memandang bayi yang belum genap berusia setahun itu dengan sorot mata penuh pemujaan.

Lee Saeyoon, nama bayi itu, adalah bayi yang mengagumkan. Ia menggemaskan dan memiliki segala hal yang merupakan penggabungan dari dirinya dan Jiyoo. Yoon, panggilan kesayangan untuk bayi mungil itu, mewarisi mata Eunhyuk yang bulat, mulut kecil bewarna cherry seperti Jiyoo dan rambut ikal gelap yang sepertinya gabungan dari Jiyoo dan Eunhyuk.

Lee Saeyoon adalah bayi mungil yang cantik dan sempurna.

Eunhyuk harus bersyukur karena bayinya perempuan atau ia harus memberi nama Lee Donghae untuk bayi laki-laki. Jiyoo kalah taruhan dengannya. Istrinya ingin seorang anak sulung laki-laki sementara Eunhyuk bercita-cita memiliki putri kecil.

“Apa yang kukatakan soal mainan karet untuk bayi di bawah umur satu tahun?” Jiyoo menepuk lengan Eunhyuk pelan. Tangannya terulur, mengangkat Saeyoon dari ranjang merah muda milik bayi mungil itu. Saeyoon meringkuk di pelukan ibunya, sesekali meraih rambut panjang Jiyoo dan memainkannya.

Eunhyuk mengangkat bahu. “Ini lucu.”

“Bebek karet tidak lucu,” sergah Jiyoo. Lengannya berayun lembut, membuat Saeyoon terkikik dan tertawa. Jiyoo menunduk untuk bertatapan dengan bayi sembilan bulannya. “Yoon tertawa, Yoon bahagia.”

Kali ini Eunhyuk mengerutkan kening. “Tentu saja dia bahagia. Dia adalah putri kesayangan Lee Hyukjae yang tampan.”

“Diam dan ambilkan botol susu Yoon,” ucap Jiyoo sambil tersenyum. Ia semakin menyeringai lebar saat Eunhyuk mengecutkan bibir.

Jiyoo kembali menimang bayi mungilnya dan mengecupnya berkali-kali. Aroma lembut khas bayi menyeruak, memanjakan indera penciumannya. Saeyoon sangat mengagumkan. Ia cantik, ia menggemaskan. Bayinya sempurna.

Ada banyak kejadian di balik kelahiran Saeyoon. Saat Jiyoo menatap kedua mata bulat kecil milik bayinya, ia diajak berkelana kembali ke masa-masa itu; pertemuannya dengan Eunhyuk, pernikahan mereka, masalah pertama dengan Song Chaerin, malam terbaik ketika ia memiliki Eunhyuk sepenuhnya, keraguan, dan kenangan usang tentang Donghae.

Ada banyak hal yang terjadi hingga ia berada di sini sekarang; bersama Saeyoon, bersama Eunhyuk.

Mungkin hidupnya bukan hidup sempurna tanpa cacat. Mungkin juga hidupnya terlalu rumit untuk sekedar diintip. Tapi Jiyoo memang tak menginginkan hidup yang sempurna dan sederhana. Sejak awal, ia tahu tak ada yang mudah.

Justru karena hidup yang tak pernah mudah, ia memiliki alasan untuk berjuang dan membuat keputusan.

“Kau melamun,” tegur Eunhyuk yang sudah berada di hadapannya. Kedua mata suaminya mengerjap, tampak khawatir. “Kau sakit?”

Jiyoo menggeleng dan tersenyum. “Nyaris tertidur karena menunggumu, Yoon Appa.”

“Cih… aku hanya pergi selama dua menit kurang,” celetuknya. “Ah, Donghae menghubungiku.” Eunhyuk menyerahkan botol susu milik Yoon pada Jiyoo. Istrinya mengerutkan kening. “Bulan depan, Daehyun dan Chaerin akan menikah. Dan kupikir kau juga ingin menagih hutang cerita pada Donghae tentang gadis misterius yang selalu dibicarakannya, jadi…”

“Jadi…?”

Eunhyuk menunjukkan senyuman miring penuh kepuasan. “Jadi kurasa… kita bisa pulang ke Seoul!”

“Pulang? Bukan berkunjung, tapi pulang? Dan bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Choi Siwon akan mengurusnya,” sahutnya santai. “Kau tahu, kurasa sepupumu yang tak lagi menyebalkan itu selalu bisa diandalkan. Dan kurasa, aku bisa berteman baik dengannya. Tapi! Jangan sampai dia memonopoli Yoon seperti terakhir kali dia berkunjung ke sini dua minggu yang lalu.”

Jiyoo memutar bola matanya dan mengalihkan perhatiannya pada Yoon lagi. “Kalian selalu berkompetisi. Sangat tidak sehat, kau tahu?”

“Dia selalu berkompetisi soal dirimu dan sekarang soal Yoon. Dia sangat menyebalkan, kadang.”

“Baiklah,” gumam Jiyoo. Ia memandang wajah suaminya. “Jadi kita benar-benar bisa pulang?”

“Kita benar-benar akan pulang!”

=========================

“Cantik sekali…”

“Syukurlah! Tidak ada nama Lee Donghae!”

“Aku membencimu, Lee Hyukjae!”

“Terima kasih, aku juga sangat mencintaimu, Yoo.”

“Yoon.”

“Apa?”

“Aku ingin memanggil bayi kita Yoon. Dan jangan menghalangiku! Aku sudah gagal memiliki Lee Donghae sebagai anakku.”

“Aku suka Yoon. Lee Saeyoon?”

“Lee Saeyoon.”

=========================FIN=========================

And… this is it! Sorry for the minors, i just think this is the best i can do for Marry Yoo. Comment(s) are really highly appreciated.

Marry Yoo last chapter. I started it a long time ago and pending and pending til… now. A lot of things happen, mixed feeling everytime. Sorry for making you all waiting. I hope its worth enough for your longing (?)

 Its so… emotional (at least for me) Thank you for everything, the reviews, the comments and all the love, THANK YOU SO MUCH! ^-^

And yes, Marry Yoo is ended here. Thank you and sorry for everything! *BOW*

Now you guys have reason for leaving and not galow (?) when i’m not updating. And thank you again!

Bbai-bbai! \o/

173 thoughts on “Marry Yoo! [13th/Last Step]

    • cuit cuit^^ Yoon annyeong haha😀 welcome in new world^^
      Donghae kalo gamau sama Jeyeon sama aku aja ya ka hehe😀 Siwon begimana nasibnya ka? hehe jodohin ama aku juga ga apa ko ka hehe jodohin sama kakanya Hyukjae seru kali ya ka? hahahaha

      happy endingeurs~ *sing hahahaha
      beneran deg-degan baca part ini karena ending uhuuk ada kepikiran bikin sequel ga ka? hehe^^ keep writing ka^^ hwaiting^^

      • Annyeong haseyo, imo~ xD
        Siwon belom ketauan gitu nasibnya gimana. HAHAHAHA males mikirnya. xD
        Hwaiting! Makasih syuda baca yaa~ ^-^

  1. Finallyyyyyy happy ending, satisfactory!!!! Overall Mariage yoo impressive ^^ eonny you jjang!! \(^▽^)/
    gak ada sequel? I hope there c:

  2. YOO !!! ALLAHU AKBAR !! KAMU TEGA YOO !! KAMU TEGA !!! PART INI BENAR BENAR ~ YAAMPUN !!! *pelukdonghae huwaaaa demi apapun, part ini jleb, emosional bngt. pas di tengah aku nangis. nangis beneran yoo. demi apapun deh. rasanya sakit hati gue bacanya #eeaak apalagi pas hae ngobrol ama yoo. pas hae tanya apa yoo pernah ada rasa ama hae. pas yoo tiba2 kebayang tentang hidupnya yg dari kecil emang udah terbiasa sama donghae. waktu tiba2 dia sadar bahwa emang dia pernah punya rasa itu. berakhir dgn yoo yg nangis dan malah bilang maaf…maaf….maaf😦 ah itu yoo~ sakit bngt. nyesek~ aku kayak ngrasain sakitnya hati yoo ama hae. yaampun aku harus gmana skrang ? tanggung jawab kamu yoo ~~~ hahaha ah well, aku bahagia, akhirnya bisa senyum lega pas baca bagian terakhir. hubungan hae-yoo-hyuk membaik. yoo melahirkan juga~ hyuk gak galau lagi. hae nya move on jugak kekeke sempet ngakak baca pas hyuk panik waktu yoo mau lahiran. duh dasar hyuk pabo

    • ALLAHUAKBAR ALLAH MAHA BESAAAAR~
      Aku seneng… banget kamu berhasil nangis. Ya Allah alhamudillah *SUJUD SUKUR*
      Aduh kenapa kamyu tanya aku? Sepertinya kamu mesti baca ulang terus nangis lagi deh biar puas. :’) *cari mati*
      Eh dirimu ada komen 2x yah? Bentar, ai balesin yang satunya dulu. Bbai!

  3. huaaaaaa finally!!!!! keluar jg yaallah *-*
    di awal dramatis bgt tp di akhir jd aga komedi dikit ya haha baguslah jd terhibur… huuuf aku fikir yoon bkl ketemu donghae dan bakal dimonopoli siwon lg ternyata engga huhu ydhlah its ok..

    • Kalo dramatis tragis gitu kan kesian authornya *Hm?*
      Hahaha! Tadinya mau nambahin scene hae ketemu yoon, tapi kepanjangan nanti gak tamat2 nanti diomelin gara2 kepanjangan gak jelas. xD
      Terima kasih suda baca!❤

  4. tuh komen gue kan belom kelar. aduh gegara lewat hp. yuk lanjut, tadi sampe hyuk pabo. iya. emang pabo bngt. nyari kunci mobil di lemari es. ya tuhan, kalo yoo gak sbar, udah keburu brojol deh ah bayinya. eciee anak cewek, uuh uri yoon~~~ selamat datang ke dunia nak kekeke betewe mereka mau ke seoul ! asoy, ketemu hae dong hehehe gpp, hae udah move onn. aah akhirnya aku tetep bahagia bacanya. lega~~~ nah btw siapa bilang eike gak galaw MY udah kelar. msh ada yg ditunggu~ aquaserious blm kelar :p hahaha uri kyutoria yoo hehehe atau yoo mau bkin ff baru boleh. mau bkin ff hae-jiyoo juga boleh hahaha yasudah deh~ terimakasih untuk MY yg mengharukan dan membahagiakan ini. ditunggu karyamu yg lain. ah udah ah, mau nyamperin hae dulu. mencoba mengobati kesedihan hati donghae. Byeee~~~ *seretdonghae* *ciumeunhyuk* *menghilang* kkkkkk~~~

    • ADUH TEGA BENER ITU KOMEN TERAKHIR PAS HYUK PABO? Etapi bener deh gak papah. :”>
      Oh… iya ya… kyutoria ya… aduh *telen kamus* Baiklah saudari Dian, secepatnya! *tau, kan, secepatnya itu kapan? Yah.. 2-3 bulan ato lebih lah. xD*
      FF Yoo-Hae? Bisa terjadi gejolak di dunia persilatan. Sudah cukup ai merambah dunia Eunhae. Cukup. ;3;
      Terima kasih juga suda baca, suda ngikutin MY juga, Terima kasih!❤
      Maen bye-bye aja tapi itu laki aye dicipok.. WOOOOOOYY!

      • muahaha 2-3 bulan ya ? oh iya , tidak apa apa deh. kebetulan eike juga syudah mulai masuk kuliah. dan syibuk sekali ~ mahasiswa tingkat akhir lah ya biasa. syibuk luar biasa kekekeke

        ahahaaa maaf ya yoo, saya khilap suruh siapa lee hyukjae makin kece aja ahahaha

      • Hahaha.. iyah, disini juga sama. Suda mulai menata kehidupan (?) mahasiswa tua. ;3;
        LEE HYUKJAE GAK MAKIN KECE MAKIN NYEBELIN YA GITU DEH AKU GATAU LAGI. ^^

      • ahaha sama dongs ih yaampun kkkk~
        heoool~ IYA ! LEE HYUKJAE EMANG NYEBELIN, NYEBELIN BANGET. BISA GAK DIA BIASA AJA, BISA GAK GAK USAH SOK KECE KAYAK GITU. GANTENGNYA BISA DIKURANGIN GAK YOO !! AKU FRUSTASI TAUUU !!! YAAMPUN~ BUNUH SAJA AKU~ AKU TAK BISA MENINGGALKAN KYUHYUN, TAPI AKU TAK KUASA DENGAN PESONA LEE HYIKJAE ~ OHHH *ini apa*

      • HMM… MAAP YA ITU DI LUAR KUASAKU. DIA GANTENG SEENAKNYA JIDAT SIH, JELEK JUGA SEMAUNYA AKU PUSING…
        KUATKAN HATI, TEGUHKAN NIAT DAN KATAKAN ‘TIDAK’ PADA LEE HYUKJAE. HAHAHAHA

      • Hahahaha… emang sih leehyukjae itu suka ngelawak, wajar kalo kamu ngakak (?)
        Konspirasi terselubung dimana leehyukjae menjadi semakin tak tertahankan *masih pagi padahal*

      • nah iya benar, benar sekali. ya tuhan ~~ mesti diapain tuh orang biar berenti tebar pesona gaje tiap hari. pelis kasihanilah jiwa-jiwa fangirl macam saya ini ahahaha

  5. “Aku membencimu, Lee Hyukjae !”
    “Terimakasih, aku juga mencintaimu, Yoo !” ♡ sweet ^^ kkkkkkk

    part terakhir ya ? butuh banyak tissue buat baca part ini, nangis, ketawa, trus nangis lagi, eh tau2 nemu part lucu trus ketawa lg !
    smua karakter yg ada punya bagian gak peka, iya gk sh ? Jiyoo ke donghae, euhyuk ke chaerin, chaerin ke daehyun dll ^^ ..hee
    Suka bahasanya, simple ..
    Alur ceritanya rumit, tapi menarik, bikin penasaran, nguras emosi tpi bikin pengen terus baca !
    jadi, overall, ini ff Keren .. Seurius🙂 !!!
    Ditunggu karya selanjutnya, Author fighting !!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • *tebar tissue* SILAKAN SILAKAN, TISSUE ON SALE! xD
      Hahaha.. sepertinya ketidakpekaan para karakter itu yang bikin gregetan.
      Terima kasih suda baca, terima kasih pujiannya!❤ Fighting!

  6. Ya ampun, ini part yg sangat sangat (gmana ngmngnya ya?) nyesek bngt, apalagi nunggu jawaban yoo soal perasaannya sama hae ..
    Dan akhirnya berakhir dngan happy ending ..
    Ff nya Daebak, di tunggu karya nya yang lain, mudah2an bisa bikin novel .. Amiiinn ^/\^
    Hwaiting…!!

  7. sweeeeeeeeeeeet :*

    nyeri nyeri nyeriiiiii. awalnya bener2 nyesek. galau seeeegalau galaunya.
    kebayang banget ekspresi mereka bertiga. Donghae, eunhyuk dan jiyoo yg terluka. pun aku merasa terluka juga.
    tpi akhir yang sangat manis.

    anyway yg tulisan bercetak miring itu, judul lagu bukan ya?

    • *sodorin obat anti nyeri*
      Jangan terluka, semuanya suda selesai. Hihi. Terima kasih suda baca!❤
      Oh iya, itu lirik lagu, tadi lupa gak ditulis. Maap maap. Lagunya Junsu – The foolish heart. ^-^

  8. wahh…
    akhir nya happy ending jg u.u
    Hyukjae ngidam bgt anak cwek^^
    pas baca part ini nangis d tgh tp pas d akhir ngebayangin sendiri hyuk pnya anak cwek yg d idam2kan ma dia kkkk

  9. yeah, akhirnya gak ada galau”an, bingung”an lagi, yoo dan hyuk udah hidup bahagia karna udah memiliki yoon dan donghae udah bisa nglupain perasaannya..happy end!!

  10. Buka email langsung kaget ada notice-nya Marry Yoo. Senang.

    Dibagian-bagian awal sampai pertengahan benar-benar menguras emosi. Nyesek banget jadi Lee DongHae😦

    Tapi akhirnya ending-nya malah bikin ngakak.

    Satu kalimat “Jiyoo memang dilahirkan hanya untuk Lee HyukJae” *eaaaaaaaaaa

  11. akhrnya….kelar jga penantian pnjang aq nunggu MY publish hehe…^^
    smpet galau ditengah2 ff,yoo bkl mlih hyuk atw donghae?tpi trnyta bneran hppy ending and i love it…
    trmksh bgt bwt siwon oppa yg sngat bsa diandalkan dlm situasi yg kacau,i love u oppa..^©^
    dan ngmong2 cwe misterius,aq jga jdi pngen tw jeyeon tuh orgnya yg mna?haha
    yg jelas aq ska bgt MY…^©^
    tetep smngat bwt nulis ya..FIGHTING!!!

  12. GILAAAA…DAEBAK…*prok prok bareng Yoon:D

    Demi baca in crita,g tau kl sudah jam sgni *huft ucek2 mata

    D’tunggu FF s’lanjutx yg menguras airmata&mengalirx ingus #piiss😀

  13. Yah kok udahan??? Hhahaha scene mengena yang bagian yoo-hae dan secara keseluruhan selalu jihyuk moment nya yg menyenangkan hati kak shel… btw ini keut disini aja kak? Daehyun sm chaerin gakbdinikahkan dulu? Jeyeon sama hae gak diresmiin dulu? Hehehe becanda ding, very stisfied kak shel, makasih bgt… ditunggu karya berikutnyaa~^^

    • Hahaha.. emang mesti udahan. xD
      Buat menutupi keretakan hati, scene jihyuk mesti dobel ngena. xD
      Yeap, ini kkeut disini aja. Sepertinya. Tergantung mood lagi itu dua pasangan mau diapain. Hehehe~
      Terima kasyih syuda baca yaa~ ^-^❤

  14. aduh seriusan yah tidak menyangka Marry You akhirnya kelar/tamat/end. padahal kayaknya baru kemqren deh mulainya #plakk
    hahaha

    tp si episode terakhir justru super duper galau yak buat 3orang itu… biar sempet ngalamin pergalauan yg bikin cena-cenut (?) & retak-retak (?) hati akhirnya yoon lahir jugaaaaa yeyyyy
    dan untungnya hubungan mereka udah lebih baik setelah adanya jarak….
    tp serius loh aku ngakak kelakuan lee hyukjae dah yah yg mau lahiran si ji yoo yg panik malah dia muhahaha seruuu itu scene pas yoon mau lahiran….

    dan terima kasih buat cerita Marry Yoo nyaaaaa
    seneng dan puaaaaas
    ditunggu new story or maybe sequel of MY???? haha

    • HAHAHAHADUH.. Akhirnya MY selesai ya. xD
      Justru episode (?) terakhir harus abis-abisan, galownya, kocaknya, begonya, de el elnya. HAHAHA…
      Terima kasyiiih juga buat semua komennya sampe ending ini. <

  15. selesai ya? aduh setiap awal selalu punya akhir TT
    yoo kenapa ngga suka bebek? aku suka loh -_-
    kasian banget kak pas itu 3 manusia galau wkwk
    tapi untung deh ada jeyeon aciaw kkkkkk
    makasih kak buat 13 chapter marry yoo yang mengagumkan .

    • Setiap yang berawal memang akan selalu berakhir. Tinggal gimana cara mengenangnya aja. ^^ *abaikan, sungguh*
      Yoo alergi bebek, apalagi bebekyu. xD
      Makasih juga ya suda baca sampe ending ini..❤

  16. akhirnya happy ending. yeayy!!
    sempet ikutan galau pas mereka bertiga bergalau-galau ria, syukurlah akhirnya semua kembali baik2 saja.
    kocak banget pas bagian yoo mau ngelahirin. hyukjae paniknya kebangetan. hahaha
    antara seneng dan gak rela ff ini tamat. seneng karena gak penaran lagi, tp gak rela kalau ceritanya sampai sini aja…. yaah aku jadi galau lagi kan.

  17. hahhhh *tarik nafas panjang*

    akhirnya hubungan mereka bisa seperti dulu Lagi͵meskipun donghae oppa msh rada2 gimana gitu…??
    Ttp Nyesek sama ceritanya Donghae yg harus rela dan ikhLas ngelupain Jiyoo͵ aku kira mereka bakalan ketemu di detik2 terakhir di Bandara͵ seenggaknya Jiyoo bilang ke Donghae “berusahaLah untuk bahagia“
    Lucu yg pas yoo mau lahiran͵ Lee HyukJae panik Luar biasa ampe lupa sama kunci mobiL͵ponseL dan surat2 RS siaLan~katanya
    dan yoo sempet2nya nelpon donghae dlm keadaan darurat gitu.
    *masa ampe buka Lemari Es nyari kunci*hoakakakakakakakakakak

    ahh.. bingung mau comment apa Lagiʹ intinya aku suka bgt ma cerita ini. terharu sama persahabatan mereka yg Luar Biasa.
    seQueL dong !!!!!! mereka bertiga blm bener2 ketemu kan.. ??? ttg hidup Donghae githu… pengen dia bahagia juga. Lucu kali yahh kalo donghae beneran jadian sama gadis SMA͵hihihi
    *pLak*banyak ngomong

    cuma bisa biLang… DAEBAK^^
    aku muLai suka baca FF yg Cast‘y Eunhyuk yahhh bemuLa dari Blog Kamu.. Gomawo

    pai~pai
    SequeL yahhh *ttp Maksa*

    • Huhuhu~ niatnya juga mau dibuat ketemu di bandara, tapi nanti kurang greget, ato nanti malah kebablasan bikin donghae makin patah hati, aku gak tega.. T^T
      Ah, makasih buat komennya, manis banget kaya tropicana slim, bebas kalori (?)
      Nanti mudah2an bisa bikin oneshot yang mempertemukan semua tokoh lagi. Hehehe.. soalnya secara pribadi sih, saya suka sama karakter2 di sini. Kayanya lengkap aja gitu, dan saling melengkapi. ;;___;;
      Aww~ Kamyu juga DAEBAK! Terima kasyih syuda baca yaa~ ^-^

  18. Akhirnya~ Akhirnya~ Akhirnya~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    part ini wow banget TT dibawa ketawa, dibawa terharu, perasaan campur aduk haha. Hyukjae TT pengen deh punya suami kaya hyukjae, hahaha tapi sayang sekali Jung Daehyun sama chaerinnya ngga ada scenenya TT
    Lee DongHae.. hahah sini-sini baby hae sama aku aja, sedih banget jadi donghae.
    TT
    Choi Jiyoo~~~ luar biasa sekali pergulatan hati (?) mu nak~ hahaha tapi kenapa? kenapa? kenapa ceritamu kece gini shel? setiap katanya wajib dibaca hahaha hampir ngga ada yang terlewat pas baca🙂
    Manis banget yak, hah.. Jihyuk.. kenapa jihyuk harus putus… *melenceng dari cerita*

    jjang Shela JJang!!
    makasih loh udah sempetin waktunya buat cerita ini hahaha
    Love Ya!!~

    • AKHIRNYAAAAAAAA~~~~
      Aku juga pingin punya suami macem hyukjae, saaaaatu aja yang kaya dia. Huhuhu..
      Daehyun-Chaerin suda selesai, suda bahagia. Ntar kalo dimasukin malah jadi geje cerita ending ini. Maunya fokus sama eunjihae-nya. xD
      Hmm… kenapa kenapa kenapa… aku juga gak tau kenapa tapi ini aseli banyak mengarang indahnya kok. >//<

      Itu yang bagian jihyuk putus, aku…mau nulis mereka lagi kok di seri JiHyukism-nya. Hehehe~ semoga jadi. x'D
      Makasih juga suda baca dan komen cantiks begini. <33

  19. aaa.. at least they got the win2 solution.. T.T

    thanks for ur hardword in marry yoo.. your ff give me inspiration about life.. yeah.. there’s no happily ever after..

    • Yep. Win2 solution, dan semoga ini yang terbaik. ;3;
      Thank you for reading too~❤
      And yes, there's no happily ever after, but we still can be happy. ^^

  20. waahhhh… i love you, yoo…i love you… i love you🙂. The best ff ever…
    baca part ini, di buat nangis, ketawa sendiri, senyum sendiri, nangis, dann akhirnya HAPPY ENDING.
    Setiap kata dari Donghae, Hyuk, Yoo… bikin nyelangap (?) kira2 3 detik..hehe… kereeen banget Shella eonni. Makasih udah buat ff sekeren ini.
    Ditunngu karya – karya yg lainnya… ^.^

  21. Duuuh udah dibilangkan ini cerita bikin perasaan jadi campur aduk kayak orang gila.. Ditengah-tengah nangis bombay lalu bisa cekikikan sendiri… Itu pas mau lahiran lucu banget LOL

    Daaaan akhirnya mereka baikan lagi. Donghae-Jiyoo-Eunhyuk. Bisa becandaan lagi, nggak jaim-jaim lagi :p

    Jadi kemungkinan donghae berpasangan dengan gadis 18 tahun? Oeimjiiii >~<

    Ditunggu cerita dedek sayoon yang imut kayak marmut (?) itu lebih buanyaaaaaak😀

    • Aduh saya gak maksud bikin kamyu gila (?) *tendang aja saya. xD*
      Kemungkinan sih malah itu cewe 18 taunnya yang bakal lebih dewasa dari dongek. ^^
      Aigoooo~ okeh, nanti yoon sering2 dapet job (?) buat memuaskan para fangirlnya. xD
      Terima kasyih syuda baca yaa~❤

  22. eonnie, muah muah akhirnya satu kali take(?) jg ini epep. baguuss …
    happy ending sih, tp apa ga pgn bikin sequel *kedipkedip.
    pgn liat hubungan daehyun-chaerin sama donghae-jeyeon . . .hihihi

    • Satu kali take? xD xD
      Boleh sih, kepikiran buat bikin cerita terpisah buat dua pasangan itu, tapi belom tau. Doakan sajo. ^-^
      Terima kasyih syuda baca yaa~❤

  23. Whoooaaa,…. Stlh ditunggu2 akhirnya muncul juga ㅠㅠ dan trnyata yoo ttp sama eunhyuk :’)
    Biar panjang ttp sukaaa, krna ga akan ad lg rasa penasaran *lap keringat*😀
    Huaaaa, happy ending untuk mereka, tp ciusss, saiia msh kesel sm ji yoo, seharusnya dy bs lbh tegas dlm memilih, biarpun prnh ad ‘cinta’ utk hae tp dy seharusnya bs tegas membuat keputusan, tp yg mengambil keputusan kykx siwon deh *kecup siwon* #mian klo salah, itu menurut saiia loh :D#,
    Tp happy ending for all, ttp trhibur sm eunhyuk yg ttp setia mendampingi ji yoo :’), donghae yg sportif n menerima kenyataan :’), n semua punya pasangan😀
    And welcome uri yoon, *cipok yoon*
    ThanKYU shell, buat ff nya…😀
    Good luck utk semuanya yah.. ThanKYU so much n fighting!!

    • Huhuhu~ maap ya suda nunggu lamaaaa.. ><
      Sebenernya jiyoo ambil keputusan kok, dengan dia bilang 'maaf' itu memperjelas keputusannya. Dan yang pingin ditanyain eunhae kan apa jiyoo pernah punya rasa lain buat hae, nyatanya ada tapi mungkin suda ketutup sama perasaan buat hyuk. Hohoho..
      Siwon di sini semacam ngasih solusi buat ketiganya aja. Dia menyediakan (?) sarana transportasi buat siapapun yang sebenernya dipilih jiyoo. xD
      ThanKYU juga buat komennyah.. Fighting!❤

  24. Ending’y bgs..
    Sesuai harapan eonni..🙂
    Sedikit gak adil buat donghae tp menurut eonni ini yg terbaek karena emg hrs spt ini..
    Cinta gak hrs memiliki, huhuhu
    Suka ma hub mereka yg gak berubah walaupun da masalah seberat itu..

    Sequel donk, pengen tau kelanjutan hub percintaan donghae..😀

  25. untunglahh donghae berbesar hati mau melepaskan jiyoo,,,
    disini yg gag dpt pasangan cuma choin siwon dia malah jadi malaikat bersayap dlm mengatasi hubungan rumit antara hyukie,jiyoo ama donghae,,,
    aku puas dg endingnyaa akhirnya semua bahagia dg cara mereka sendiri,,,
    tapi satu yg disesalin air mata aq terkurass, bener* mewekk pas scene mereka harus menentukan bagaimana kelanjutan hubungan merekaaa,,
    ya sudah mungkin ini terlalu bnyak ngomong,,,
    ditunggu aja cerita lainnyaa,,,,,

  26. ALHAMDULILLAH YA ALLAH, akhirnya setelah ospek yg melelahkan, aku disuguhan dengan ff terkeren sejagad raya ini!!! Hontouni arigatou, nee-chan!!
    Marry Yoo 13 step rasanya kayak gado-gado.. Sukses banget bikin hatiku campur aduk gak karuan. Tegangnya udah kayak pas nonton the conjuring -____-
    Donghae oppa-ku kaciann.. Sini, biarkan aku jadi pengisi kekosongan hatimu.. *dijitak ahjusshi
    Yoonie appa adalah appa ter-riweuh sedunia! Kalo yoonie eomma sih eomma terkeren sedunia!! Uri yoonie, selamat datang di dunia!! ^^ *senyum malaikat
    Buat daehyun sunbae, selamat atas pertunangannya!!! *pake sunbae soalnya baru kenal
    ff ini bikin aku uodate korea lagi lho, eon, setelah riweuh ngurusin kuliah..
    OH YA, EONNI, aku sekarang udah kuliah lho!! Aku kuliah di IPB jurusan Proteksi Tanaman.. Hahaha *padahal gak ada yg nanya
    Intinya, Marry Yoo JJANG!!! SHELA EONNI JJANG!!

    • ALHAMDULILLAH, SELAMAT YA OSPEKNYA SUDA BERES! ^-^9
      Gado2? Wah kebetulan saya sukanya sushi sih…. *ganyambung, abaikan aja yang penting hepi xD*
      APA ITU THE CONJURING? Jangan sebut2 judul keramat (?) itu disini. Huhuhuhu..
      Aww~ uri yoon disambut sama eonni baru, tilimikici eonni~ ^3^

      SELAMAT CONGRATS SUDA JADI BAGIAN DARI IPB! *sok jadi anak ipb aja nih xD* Selamat selamat! Semoga sukses ya kuliahnya. Perjalananmu di rimba perkuliahan masih panjang nak.. *elap keringet* Semangaaats!
      Kamyu juga jjang! Makasih syuda baca yaa~ ^-^9

  27. Haee.,.,
    saLam KenaL .,.,
    aq bEnar-Benar mEnyukai FF mu yG saTu iiNi,,,.,
    terima Kasih Sudah Menyajikan Cerita yang bgT Indah!

  28. yoooo ~ berat banget jadi dirimu yooo !!
    Syedih sekali pertemuan terakhir sama lee donghae kukira mereka bener bener ga akan ketemu untuk waktu yang lamaa hahhh ternyata masih sering videocall … Ahaaii donghae semangat yaaa🙂
    Selamat lee saeyeon lahir dengan lancar walau bapanya panik nya ga ketolongan haha😀

  29. Ini ending yang bener2 melegakan…🙂
    Dan sejujurnya aku berharap ada extra cerita buat Donghae dan gadisnya itu.
    Terakhir, Marry Yoo is a good story. Like this!
    Kutunggu karya selanjutnya~ ^^

  30. leedonghae oppa fighting !!! ada jeyeon baik hati~
    hahahaha kocak , lg panik malah sempet”nya tlpn donghae ><
    suami istri yg aneh wkwk untung anaknya perempuan , klo laki-laki trus namanya donghae, tar si eunhyuk bisa" tersaingi tiap hari kkkk
    eonn ceritanya bagus bgt, hwaiting buat ff selanjutnya🙂

  31. Finallyyyy..
    Happy end🙂

    Ini bner2 daebak say..dan terima kasih bnyak krna km udah sukses bikin aku nangis bombay gara2 si abang donghae..😥
    Overall..aku suka dan akan selalu suka sama cerita yg km bikin say..makasih bnyak🙂
    Dan ngomong2..kya’y aku bakal lebih suka lg klo km bikin side story’y buat si abang donghae jg ^^
    I hope you did,’n I’ll wait!!😉
    Lastword..always fighting She ^^

  32. THANK YOUUUUUU FOR THE GREATEST STORY EVERRRRRRRR !!❤
    okay saya tau saya nclep-(?)-muncul-nclep-muncul ;A;
    mahasiswa tingkat akhir yang finally lulus juga (?) soalnyaa :3
    and finally i have a time to visit your blog :3
    missing this story and even re-read from the first chap ahaha😀
    i just … so in love with donghaeeeeeee ! *ditabok hyuk*
    the way donghae give his love up just too sexy (?) xD
    uhm , not sexy as stripping in rockstar ofc -__-
    but in manly way ;A; huhuhuhuh

    and hyuk as the most protective guy yet so silly , dummy and monkey *plak* will never be forgotten TAT
    i'll miss this story ..
    i'll miss the silly yet romantic lee hyukjae ..
    i'll miss the as dumb as lee hyukjae , lee donghae ..
    i'll miss the luckiest girl and the most bikin galow (?) yoo ..
    i'll miss the irritating choi siwon😛 xD
    (well he's at least so thoughtful abt EunYooHae :D)
    i'll miss the Serena family (though Kyu didn't even appear much *just name lol*)
    i'll miss the as same as obsessive as lee hyukjae, song chaerin ! (though she didn't make it but glad she's finally wif daehyun) :))))))
    i'll miss the left one dummy guy, jung daehyun !!
    and i'll miss youuuuuu :* :*😀

    keep writing shel , i'll wait for your upcoming project😀

    • OMG CONGRATS SUDA LULUS DARI JABATAN MAHASISWA TINGKAT AKHIR!
      Gantian deh aku menikmati jabatan itu. Huhuhuhu~ T^T

      Aww~ sumpah re-read? Aduh… aku tersandung, eh tersanjung. Terima kasyiiih! ;;___;;
      Me chu me chuu.. I love donghae……in here. Agak khayal memang, tapi yasuda deh namanya juga ngayal ada lelaki rapuh (?) macam donghae. xD

      Monkey…..okay sip.
      I just..omg i dunno wut i suld say, but thank you…
      thank you for remembering this story in your memories, its really touching, really
      And ofc i will miss all the moments everytime i published this, read all the comments, being happy wif this kind of comment… Really, thank you. ;3;
      I’ll really really miss you too tho… and I’ll make my comeback (?) asap. Thank you thank you.. :***
      Thank you for your wonderful heart to write such a wonderful comment… T^T

      • wahaha baru bacaaaaa .. selamat menikmati😄 fighting shel !!😉
        hahaha marry yoo dari awal mula aku simpen offline di hp jd bs re-read sepuasnya kekeke~😄 *nostalgia*
        yayayayayayy~ promise alrdy to make your comeback !! *jumpalitan (?)*
        do galau story please (?) *tumben* *lagi pengen mellow* /?
        your most welcome dear :**** <3333

      • Aww~ entah kenapa ai bahagia banget tau itu MY disave. ;3; Tilimikiciii~ *bow*
        OH BAIKLAH! AKAN SAYA WUJUDKAN YANG MELOW2.. Mumpung ada supporter. xD

  33. aaaaaaaaaaa baru bacaaaaa ><
    yaampun finally happy ending!
    aku udah was was ajanih pas baca awal2nyaa, jiyoo-nya juga ga jelas gituuuu. tp finally happy ending
    donghaeku kasian banget sih, ngenes bangetttt hahaha
    aaah aku seneng banget deh, ff yg aku tunggu2 bangettttttt aaaaaaaa
    daebak deh!
    keep writing ya! ditunggu deh karyanya yg lain, bolwh juga kalo ada sequel kkkekeke
    thanks udah bikin marry yoo happy ending🙂

  34. huaaaaa, finally, happy ending for all :*
    bener2 menguras emosi, semua bercampur jd satu, baca ini dan g sengaja keputer love that i need-nya eunhan, oh berasa bgt feel-nya :*
    terima kasih yoo, aka shelaaaaa, thanks so much shel🙂

  35. finally finally happy ending. daebaklah pokoknya, solusi permasalahan yg bagus. walaupun dibuat campur aduk dulu tapi terbalas dengan akhir ceritanya. good job😀

  36. woo hoo ada yoon><
    oh itu si donge suka sama jeyeon brarti kkk
    diawal awal nyesek. diakhir akhir bkin ngefly duh
    g rugi lah baca sebanya ini kkkk
    Poo, Yoo and Yoon. Happy family~~~ kkk

  37. sihal. part ini terlalu perpekt ! Galau ada, romantisnya apa lagi.
    jatuh cinta sangat sama Lee Hyukjae.
    URI OPPA, SARANGHEEEEEEE~~~~ \o\
    Dan donghae, entah kenapa perannya pas banget. lelaki yang rapuh ;’) padahal saya siap menghibur tapi ternyata lee donghae sdh mendapatkan pendamping *hiks*
    semacam suka kehidupan ibu hamilnyaaa~~ ;___;
    YOON ! officially debut for real ya.
    ternyata yoon suka mainan bebek karet :’) entah karna itu karet, atau karna bebek ? pfft.
    I love JiHyukyoon ! <333
    saya tunggu cerita unyu lainnya~

    • No, no, no, Shinhyo-nim, tidak ada itu yang namanya terlalu perpekt. Ibu gak tau aja ini banyak typo tak menyenangkan bu. Dan saya belom sempet ngedit. T^T
      APASI BERISIK SARANG-SARANGAN!
      Donghae…lelaki… yang rapuh? Saya sering dengernya donghae si bocah lima tahun yang ajaib, bu. xD
      Suda cukup anda membahagiakan chokyu itu nda usah menawar2kan diri buat lee donghae, dia suda bahagia. -..-
      Bisa kan bu jadi inspirasi kehidupan anda selama hamil? xD
      Iya, shinhyo-mo, yoon syuda officially debut. Muucih dukungannya melalui sms(?)nya *semacam ajang pencarian bakat, tapi yang ini ajang pencarian baby*
      Yoon syuka mainan bebek karet karena itu..mainan, imo. ^^
      Tilimikici syuda baca, imo! I LOVE YHOONG TOO!❤ :*

  38. sorry sebelumnya bikin cerita itu emang paling susah bagian awal dan ending dan ini endingnya agak abu2 ya. emang rada ribet sih bikin ending cerita cinta segitiga gitu. bagus sih ceritanya tp endingnya kurang berkesan padahal aku berharap bisa nangis baca endingnya. enggak deh hahaha
    semangat terus ya ditunggu lanjutan jihyukism nya🙂

    • Waw.. Gitu kah? Terus bisa dong kamu kasih tau saya ending yang kamu mau kaya apa? Ini nanti saya kasih pw blog ini, terus kamu edit deh ending ini. How how? ^^

  39. akhirnya-akhirnya..
    keluar juga part yg ditunggu tunggu.
    walaupun aku bete sedikit kalau yoo harus memilih,
    padahal susah banget pastinya jadi yoo,
    tetapi senang diakhir dengan manis cerita iniiii..
    hahahaha..

  40. uwaaa akhirnya dipost tuh lega banget~ /lebay –”
    aku suka banget Donghae sama Hyuk samasama gentle :3 seneng banget juga pas akhirnya happy ending dan bisa biasa lagi sama Donghae hehehe
    tapi scene nya Yoon disini dikit hehe tapi tetep bagus kok pokoknya 짱!!! ^^b

    • Iyah saya juga lega. xD
      Hihihi.. soalnya mending abis2an jujur dan saling merelakan (?)
      Yoon kan baru debut, jadi masih rookie (?), jatahnya masih dikit. xD
      Terima kasih syuda baca yaa~ ^-^

  41. daaaan… Akhirnya…
    Setelah penantian yang begitu panjang, sama lamanya seperti jiyoo dan eunhyuk menantikan kehadiran bayi kecil mereka,
    #lebay
    last chapt. Of marry yoo dipublish juga
    dan, makasih buat kakak author yang membuat ff ini tidak sad ending.
    Part ini bagus banget. Kasihan jiyoo, disini dia dituntut untuk berfikir keras soal perasaannya. Aku sempat takut kalo jiyoo keguguran karena terlalu banyak berfikir. Aku suka bgt sama cara kakak menciptakan ending ff ini. Kalo aku, mungkin langsung ambil gampangnya, salahsatu dari mereka meninggal mungkin. Hehehe
    at least, aku menunggu karya terbaru author. Kalo bisa cast nya eunhyuk dan jiyoo lagi. I am falling in love with both of them.
    Oke thor… Always keep writing
    fighting

    • Benar sekali! Akhirnyaaaa… penantian berakhir.. T^T
      Kalo sad ending nanti saya diamukin orang2, saya masih sayang nyawa. ^-^;
      Gak kepikiran juga bikin salah satu dr mereka meninggal, soalnya ujung2nya yang ditinggal bakal berduka banget. Gak sanggup bikin yang kaya gitu. TT^TT
      Fighting! Dan terima kasih suda baca~ ^-^

  42. huaaa…. Donghaeeeeeee TT.TT
    nyesek bgt part awalnyaa… Donghae… dy org yg ga bisa disalahkan… aku malah ksian ma dy.. tp ga bisa melakukan apapun.. Yoo kudu and wajib ma Hyukjae.. hehe
    but well.. aku seneng akhirnya hubungan mereka kembali baik.
    iri bgt ma persahabatan yg begini-terlepas dr cinta sgitiganya loh yahh- hahaha

    dan Daedae-ya~~~ dia menemukan kebahagiaannya juga.. syalala laaaa~~ aku tururt berbahagia..
    tlong sy di undang yah di nikahannya si Jung Daehyun ituu😄

    also siwonie… dy kembali jd org yg berperan lagi-walaupun jrang muncul- wkwkwk
    dy ga’ ada cerita nih? hanya drinya yg belum jlas asal muasal psangan.. hahaha *poor siwon

    and the last, JiHyukkk!!!!!
    arrghh.. aku selalu mendukung kaliannn ^0^g
    lagi2 Hyuk kalah ma Yoo, tp mreka tetap aj sweet xD
    beruntung tuh yg lahir Yoon, klo nak cwo, bisa kembali terulang tuh cinta segitiga antara hyuk-Yoo-Hae..
    ayah dan anak memperebutkan 1 wanita.. hahaha😄

    well, well-done chingu ^o^d
    keep fight to write such a nice story yah😀

    • Hihihi… sebenernya jarang juga ada persahabatan-cinta begini yang akhirnya damai2 aja. Cuma ya… anggep aja demikian. xD
      Baiklah! Nanti pas nikahan Jung Daehyun semua orang bakal diundang. Nanti jihyuk bakal jadi seksi konsumsi. ^^
      Sama sekali gak niat dari awal nyariin siwon pasangan. HAHAHA! Jahat memang, tapi cowo seperfect masi emang susah nyariin jodohnya, dia suka pilih2 (?)
      ADUH AKU GAK KEPIKIRAN LOH ITU AYAH-ANAK (misal anak cowo) BAKAL REBUTIN 1 WANITA! xD Untung aja pake Yoon. Hahaha…

      Terima kasih banyak suda baca! ^-^

  43. Astaga, lee donghae pedopil.. itu anak SMA bang, belum akil balik >__< hahaha
    so, intinya jiyoo ga bisa lepas hidupnya dari segala sesuatu makhluk berjenis ikan ya, ikan amis en ikan teri #okeseep
    jiyoo bisa galau juga ya soal donge, kirain galaunya gegara poo doang hohohoho..
    tapi syukurlah, yoon lahir disaat emaknya ga galau lagi. kasian dia kalu dirawat ama ikan amis yg tangannya berpotensi merusak segala sesuatu *jgn bilang2 hae*

    yoon!!!!!!!!!! sini main ama tante, kita cari bebek yang oke yuk.. yg tidak alot en bisa dikunyah

    • HAHAHAHA ASTAGA KAK VANNY KOMENNYA TO THE POINT SEKALI! xD
      Jiyoo suka seafood soalnya, suka yang amis2 gitu. :3 Kalo galow gegara donghae itu sebenernya cuma tuntutan peran aja kak, cuma tuntutan kerja. Aselinya mah boro2. ^^
      KAK VANNY HAYOLOH AKU BILANGIN HAE LOH! xD xD xD

      Yoon belom boleh maen sama tante vanny, tante vanny masih berbahaya. ^=^
      Tilimikici komennya yang terlambat, kaka vanny cantiks~ :*

  44. Pertama2 mau bilang makasih buat author karena udah mau bercapek2 ria bikin cerita ini dr awal sampai akhir. Menulis itu bukan hal yg gampang. jd aku salut sama konsistensi author buat selesaiin cerita ini sampe abis. Marry Yoo ini adalah salah 1 cerita favoritku yg selalu aku tunggu2. Jalan ceritanya disusun dengan alur yang simpel. Masalahnya mungkin agak sedikit bisa ditebak, tapi dijabarin dengan sangat bagus dan menarik. Kata2 yg dipakai jg pas, jelas, dan yang paling penting, setiap kali baca cerita ini, aku ngerasa nyaman banget dan bisa menikmati ceritanya Kata demi kata. Ga gampang untuk cari ff yg nyaman dibaca. Lewat ff ini juga aku jatuh cinta sama karakter Lee Hyukjae. Tapi sedih setengah mati liat karakter Donghae yg menderita TAT Untung akhirnya dia move on.. hehe. Waktu baca cerita ini emosiku jg diaduk2 dalem bgt, sampe nangis tiap kali Yoo nangis. Sedih sih cerita ini selesai.. Tp lega juga karena pada akhirnya semua orang hidup dengan kebahagiaannya masing2 dan berakhir bahagia. Dr lubuk hati paling dalam aku mau bilang selamat untuk berakhirnya cerita ini. Ditunggu karya dan cerita selanjutnya. ^^ thank yoo!

    • Pertama-tama juga…. saya mau bilang saya terharu loh sama komen kamu ini. Terima kasih, beneran deh. ;3;
      Bukan pujiannya sih, tapi mungkin buat saya sekedar ucapan terima kasih itu sudah bener-bener bikin…adem. Makasih.. Sama itu yang bilang kalo kamu nangis tiap jiyoo nangis, itu saya seneng banget #kicked
      Selamat! Dan terima kasih suda baca, ngikutin, komenin ff ini sampe akhir. Tilimikici sekali~ ^-^

  45. Aigooooo selesai
    Lee Saeyoon
    huwaaaaaaaa
    Baby Lee kkkk
    kasian sih ama Hae oppa
    tapi kalau Hyuk oppa juga tersiksa kan gak rela juga kkkk

    wah wah
    keren
    Choi Siwon selalu memonopoli apapun sesukanya ckckck
    Woooow
    Akhirnya Hae oppa dapat yg baru lalala
    semoga baik2 saja kkk

    fighting chingu ^^

  46. Akhr yg cukup manis utk yoo, hyuk dan yoon..
    Utk hae masih gantung..
    Tp stdknya hae sdh mw membuka hatinya utk org lain..

    Tersenyum bgd krn kekonyolan hyuk pas yoo mw ngelahirin..
    Panik gaje tp blg k yoo jg panik..
    Dan makin senyum lebar waktu d perjalanan k rumah sakit mreka tlf hae, si hae malah treak2..
    Aish!!

    Lagi2..
    Wktu jihyuk video call k hae..
    Mreka konyol..
    Berasa masalah yg trjd hilang scepat masalahnya dtang..

    Sbnrnya penasaran dg kelanjutan kisah hae..
    Tp berhubung ini marry yoo, kisah ttg yoo..
    Kisah hae hayalin sndri aja dech..
    ^^

  47. ohhh …. akhirnya ending juga …
    galau babget awal2nya .. tp untungnya endingnya sweet .

    ji – hyuk udah punya momongan .. hyuk udah jadi appa ..

  48. AAA!!! Happy Ending!!! Akhir yang perfect perfect perfect sangat kak shela :’-):’-):’-)
    Demi yoon yang udah lahir, ini part bener2 mengundang perasaan yang campur aduk banget :’-) Ada patah hatinya, ada romantisnya, ada secuil komedinya. oh my god, itu ngakak banget hyukjae nya.. waktu choi jiyoo pengen ngelahirin >///<

    selalu kayak gini, aku terkagum-kagum sama penuturan kalimatnya kak shela :'-) apalagi waktu ngungkapin perasaan campur aduk antara donghae, jiyoo, dan hyukjae. itu bener-bener… ((ugh blank)) rasanya pengen nangis waktu jiyoo bilang maaf..maaf..maaf.. AAA~ lee donghae, kemari nak kembali ke jeyeon han-mu. haha

    pokoknya goodjob banget buat kak shela :'-) aku tunggu ide-ide fanfic selanjutnyaaa😉;-);-) fighting!!! mwah! ♡♡

    • Aduh terima kasih banyak ya.. Tapi kenapa kamunya gak nangis? Kenapa cuma pingin nangis ajah? ;;___;; #kicked
      Kontrak Lee Donghae suda selesai, dia bisa kembali ke han jeyeonnya. xD
      Fighting juga buat kamyu! Terima kasih~ ^-^ :*

  49. Wooaahhhh… Senang juga akhirx penyelesaian yg rumit … Mianhae aq sudah mnjadi Silent reader di FF u .. tapi aq suka banget .. hahaha penggambaran sukanya agak rumit malah nnti trrlihat bertele2.. Tapi emang aq pengunjung setia mu kok🙂 … …
    salam kenal chinguya *kaykx kita seumuran .. hahaha SEBIAS JUGA

  50. Sebelumnya… salam kenal buat eonni *gpp ya sksd panggil eonni, soalnya masih SMA dan imut2 u,u*. Aku reader baru disini~ pertama berkunjung kemaren dan langsung ubek2 marry yoo soalnya udah ada tulisan endingnya *kebiasaan ngincer yg udah selesai :p*. Dan 13 part aku selesaikan dalam waktu dua malam, hebat gk tuh~
    Gk komen dari part awal gpp ya eonni, sekalian aja disini…
    Yang pertama.. aku suka sama karakter donghae di ff ini dari awal !! Kayaknya menyenangkan punya seseorang seperti Lee Donghae di MY dalam kehidupan nyata..
    Tapi kasian juga saat dia menyadari perasaannya ._.
    Bagian tengah sana sebenerya sempet bikin nangis lho,.tapi dibuat senyum2 dengan kelakuan ajaibnya jiyoo yg rebutan komunikasi uat ngobrol sama donghae, ditambah keajaiban paniknya Lee Hyukjae yg stress gara2 kunci mobil xD.
    Ff sepanjang ini jadi gk berasa panjang ko dengan keajiban2 didalamnya xD
    Berharap adanya sequel setelah ini. Penasaran sama keajaiban pasangan gila dan sinting dalam mengurus anak xD. Juga sama Donghae ^^

    • Salam kenal juga adek-SMA-yang-imut-dan-unyu.. xD
      Terima kasyih syuda menyempatkan ngecek cerita yang baru saja ending ini. Hehehe.. Memang sih ini tadinya malah mau dibuat lebih ajaib lagi, dengan kehadiran pegasus (?) mungkin? xD
      Sequel… belom ada rencana, tapi pingin juga bikin oneshot buat donghae, kaya after story gitu, tapi belom tau. Haha-hahaha..
      Terima kasyih syuda baca yaa~ ^=^

      • Pegasus? Berasa dongeng barbie xD
        Iya~ itu kan donghae nya kesian eonni, cariin jodoh biar gk terlihat miris begitu u,u
        Ijin ubek2 ff lain ya eonni -gk sekarang sih, ijin aja dulu-.
        Berharap donghae bahagia dengan saya(?), anggap aja gitu~ jeyeon juga masih SMA😀

      • Kan biar makin ajaib gitu pake pegasus. xD
        Donge… biarkan dia sendiri dulu *ngeles, padahal aselinya lagi males ngetik apa2 aja*
        Silakan, selamat mengubek-ubek. ^-^

  51. aku msh gak rela sma perasaan trsakiti lee donhe. Hae, ada ya, org yg brhati malaikat seperti oppa. Hae pntes dpet cwe yg lbh baik dari ji yoo (aku, misal nya 😀 ). Over all aku suka critanya wlaupun rada2 nyessek di dada (ingat Hae, lagi😦 ). Keep writing, thor ^^ fighting

  52. cool girls😀
    pas bagian donghae-jiyoo penuh emotional banget🙂
    sampe-sampe adikku ikut baca,meski dia ga terlalu ngerti😐
    I LIKE LEE SAEYOON❤
    MA YOON❤ ah,i really love you.Yoon.
    cepat besar yah,dan bikin moment-moment berhargamu dengan pasangan aneh bin nyata LEE HYUKJAE-CHOI JIYOO😀

    • HAHAHAHADUH.. itu adeknya pasti bingung deh, kesian. ;3;
      Aww~ satu lagi orang yang terjatuh dalam pesona Lee Saeyoon.❤
      Terima kasyih syuda baca yaa~ ^=^

  53. Wahhh… Fictionnya bagus banget. Aku suka deh sama Eunhyuk disini. Eonn, bikin seuelnya dong tentang Donghae dan gadis misterius yang dia ceritain ke Eunhyuk. Yah.. Yah.. Yah.. Keep Writing eon!! FGHTING!!😀

  54. Kereeeeeen ^0^//

    Suka banget sama tulisan onnie !!!!

    Aku nggak suka hyukjae, tapi gara gara onnie aku jadi aku:/

    Di sini sikapnya bener bener Gentleman -.-
    Nggak kayak di kehidupan nyata *plak😄

    FF lain ditunggu sekali😀

    Terima kasih author berhasil membuat ff semenarik ini :’)

    Fighting !

  55. ff.a bner2 daebak chingu kereeeeenn bgd pkk.a…
    baca awal.a ampe nangis tp pas d bgian akhir.a lucu bgd ampe ktwa2 sndri.
    trima ksih chingu udh d ijinin bca ff mu,trslah brkrya chingu..!!!!
    smga bisa bkin ff yg lbih cetar mmbhana bdai😀
    fighting chingu🙂

  56. Eciye ciye punya baby,,, huehheheheheehhehe
    Apa kabr daehyun ,, cuma nongol nama doang di part ini,,

    Tpi tapi kereeennn eonnnii daebakk,, haepa msih rada2 ska lah sama yoo,,

    Eonni ini ada sequlnya gk sih,, ada dong ada ada ada ada ada ada ,,
    Jeballlll
    Daebakk eonni happy ending,,, yaaaaaeeeeyyyyy keren eon,,
    Papai eonni aku ♍ãů nyari crita yg lain lgi,, yg psti cast utamanya harus hyukjae,, kkekeke

    Paapaaaiii gomawooo udah di ijinin? Baca ni ff,, (◦’ںˉ◦) ˆ⌣ˆ

  57. Oh wow…Suka ama jalan ceritanya…Bikin greget ama perasaan Hae…Terus suka ama kebijaksanaan Eunhyuk…Jarang banget soalnya Eunhyuk do bikin peran bijaksana…Pokoknya pas banget peran masing-masing di sini…

  58. Keren maaf yh author bru bsa comment nh,tp cerita nya keren moga tmbh meningkat yh ide2 ceritanya biar bnyk minat yg bca

    Salam kenal

  59. Jinja dhaebaaak iniiiii it’s awesome🙂 so sweet ending yang oke adil buat semua oraaaaang🙂 kereeen pokonyaaaa ketagihan baca tulisannya berasa nonton drama korea ini🙂

  60. Happy LEE ending!!! *Lee Donghae-Lee Hyuk Jae-Lee Jiyoo-Lee Saeyoon* Yeeeeey! \^o^/

    Choi Siwon, ttara-wa come closer *v*

    Makasih buat usahanya menciptakan cerita yang sanggup memporak-porandakan emosiku hahaha

  61. Happy Ending woooo daebakkkkkkkkkkk~~~❤
    Anyeongggggggg thor aku readers di blog mu dan ini Ff pertama mu yg aku baca, butuh waktu beberapa hari buat baca ff ini di sela2 aktifitas dan akhirnya tamat juga bacanya😀
    Maaf karna baru ninggalin jejak di part terakhir abisnya keasikan baca dan makin penasaran sama part2nya ^^ aku suka banget sama ceritanya tidak habis pikir dan tidak bisa membayangkan bahwa my hubby ku (Lee Hyukjae) bisa menjadi pria setia dan seromantis itu berasa jadi jiyoo aku hahaha*plak
    tapi kalo baca cerita ini jadi bener2 mengingatkan tentang Eunhae di Wgm Teukso gimana pas kencan buta deh dimana hyuk suka sama wanita yg hae suka (eunseo) semoga pada kenyataannya mereka ber2 tidak seperti itu dalam persahabatan dan percintaan semoga mereka punya selera yg jauh beda ya dan bisa menemukan pasanya masing2 , sempet meneteskan air mata juga sih pas eunhyuk rela menerima apapun yg di pilih yoo dan ternyata hyuk juga masih punya rasa kasian melihat sahabatnya seperti itu pokokny daebaklah ini ff
    aku izin untuk menjelajahi blog mu ya thour : D
    apapun cerita yg berbaur EUNHAE aku selalu suka hihih ~

  62. huaaaaa. sumpah ini kereeeen bgt!!
    DAEBAK!!!
    Bener” ikutan frustasi ngebaca ini. konfliknya itu loh…..duh.
    tapi syukurnya ini happy end. JiHyuk harud tetep bersama pokoknya!! *maksa.
    kasihan bgt sama donghae:’)
    Astaga eoni, entahlah aku bingung mau bilang apalagi. semua ff disini bagus” semua.
    tapi seperti biasanya eoni, maafin aku. aku baru bisa komen diendingnya:’)
    pokoknya semangat terus nulisnya. FIGHTING!!!

    • Maaf banget baru bisa bales sekarang.. huhuhu..
      terima kasyih banyak suda ngikutin MY sampe tamat disini. Hehe.. ^^
      FIGHTING juga buat kamu! \o/

  63. Yeeee finish bacanya. DAEBAK👍👍. Suka banget sama ceritanya bikin seneng, sedih, greget, bahagia deh pokoknya. Thx juga selualu buat begadang hehehe. Keep writting^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s