Shortie Tale

375563_535994626413114_1557507077_n

I’m a ghost of a girl that I want to be most

I’m the shell of a girl that I used to know well…

“Hei, Pendek!”

Go Ae-mi tak berniat membalikkan badannya. Mudah sekali rasanya menghiraukan panggilan menyebalkan seperti itu. Cuaca hari ini terlalu cerah dan menyenangkan untuk sekedar dihiasi dengan teriakan atau makian atau kekesalan, atau mungkin–

“Ae-mi pendek!”

Dengan setengah mengatupkan rahang, Ae-mi berbalik. Mungkin sesungguhnya cuaca sebaik apapun tak akan pernah menghalangi laki-laki ini merusak harinya. Laki-laki yang tinggi menjulang. Laki-laki berkulit putih dan berambut cokelat gelap. Laki-laki dengan kedua mata hazel yang selalu tampak mengintimidasi. Laki-laki yang –ugh- tampan.

Laki-laki bernama Kris Wu.

“Apa?” sahut Ae-mi galak.

Kris pura-pura mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Kau belum merapikan rambutku,” ujarnya sambil menunjuk rambutnya sendiri. “Dan kau juga harus membeli makan siang untukku. Pizza. Dan soda. Oh, dan mungkin kentang goreng. Kau juga boleh beli kalau kau mau.”

“Aku tidak mau.” Go Ae-mi menghela napas kesal. “Cepat duduk. Kurapikan rambutmu,” katanya. “Sekalian saja kurapikan semua kelakukan burukmu itu.” Ia bergumam pelan, namun tak cukup pelan karena Kris mengangkat alisnya.

Untunglah laki-laki itu memilih untuk tak memedulikannya.

Go Ae-mi mulai menggerakkan tangannya, memberikan sentuhan disana-sini hingga rambut laki-laki itu terlihat sempurna, layak di depan kamera. Mungkin ia bukan penata rambut profesional yang terkenal dengan karya-karya master piece, tapi Ae-mi selalu menyukai pekerjaannya. Tambahan, ia juga selalu dipuji. Jadi tentu saja ia menyukai pekerjaan ini.

Ketika selesai, Kris berdiri dari kursinya dan membuat Ae-mi mengkerut. Tubuh Ae-mi seolah berubah menjadi lebih kecil, lebih rapuh dari sebelumnya. Laki-laki itu –Kris- tinggi.

Seratus delapan puluh tujuh sentimeter. Ae-mi bergumam dalam hati. Dan ia bersedia mengulanginya, 187 cm.

Laki-laki itu tinggi. Sangat tinggi. Dan sejujurnya, ketika Ae-mi dan Kris berdiri seperti ini, percayalah, saat-saat seperti itu adalah masa tersuram baginya. Keduanya tampak seperti sebatang tiang yang menjulang dan sebatang lidi yang mungil. Dan tipis. Dan rapuh. Dan pendek. Dengan tinggi tak sampai 160 cm, Ae-mi akan melakukan apa saja agar tak perlu berdiri di dekat laki-laki itu.

Ralat, di dekat dan di samping laki-laki itu.

“Kau yakin tidak mau membeli sepatu hak super tinggi?” Kris menatap pantulan tubuhnya dan Ae-mi kemudian melirik Convers navy yang dikenakan gadis itu. “Ah, apa kau juga yakin kau mahasiswi dan bukannya anak sekolah dasar?”

Ae-mi menarik napas kemudian tersenyum kecil. Gadis itu menendang tulang kering Kris hingga laki-laki itu mengaduh nyaring. “Nah.”

“Apanya yang ‘nah’!?” seru Kris. Laki-laki itu tak percaya gadis pendek seperti Ae-mi memiliki temperamen yang tinggi, jauh melebihi tinggi badannya sendiri. Dan ia bukannya tak pernah merasakan luapan temperamen yang tinggi itu. Kris sering merasakan tendangan gadis itu, dan kadang injakan jika ia sedang beruntung.

“Pergi sana. Semua orang menunggumu,” sahut Ae-mi dengan senyuman lebar –setengah puas dengan pembalasannya, setengah bangga pada laki-laki itu. “Super model, Kris Wu.”

Kilatan blitz berkali-kali terarah pada Kris. Laki-laki itu sudah mengenakan pakaian dari sponsor, sudah berganti sekitar tiga kali siang ini. Sebuah pemotretan dengan majalah no.1 di Korea Selatan; bukan sesuatu yang baru, nyaris terasa seperti sebuah kebiasaan bagi Kris. Tak ada rasa canggung, tak ada rasa gugup. Kris melakukan pose terbaik yang diarahkan kameramen atau kadang sekedar melakukan improvisasi yang ia bisa.

Ae-mi tak memerhatikan Kris. Ia menunggu laki-laki itu dengan membolak-balik sebuah majalah terbitan minggu lalu yang, tentu saja, menggunakan wajah Kris Wu sebagai hiasan pada sampulnya.

“Tampan ya?” suara itu ditujukan pada Ae-mi, jadi gadis itu menoleh. Ia menemukan Sherry, salah satu staf pemotretan yang sering dilihat Ae-mi. “Itu, maksudku Kris. Sudah berapa lama kau bekerja dengannya?”

Pertanyaan itu seperti membawa Ae-mi terbang melintasi masa kini dan menyelinap memasuki masa lalu.

Sekitar 6 bulan yang lalu, Go Yongjun, pamannya sekaligus salah satu road manager di agensi Kris Wu, menawari Ae-mi sebuah pekerjaan. Ae-mi baru saja menyelesaikan kuliahnya dan karena ia memang bercita-cita ingin bekerja dengan artis, tentu saja tawaran pamannya itu tampak menggiurkan.

Dan jika semua orang mengharapkan kisah seorang hair-stylist yang sering bertengkar dengan artisnya lalu kemudian terjadi percik-percik cinta, Ae-mi bisa meyakinkan mereka bahwa tak ada yang terjadi seperti kisah dalam film. Kris Wu adalah laki-laki yang baik, mudah bergaul dan tentu saja ramah. Tak ada satu pun kepribadian laki-laki itu yang palsu.

Jika Kris Wu tersenyum, maka itulah sosoknya yang sedang tersenyum. Tak ada yang dibuat-buat. Ae-mi harus mengakui bahwa ia menyukai sifat Kris yang seperti itu. Lagipula laki-laki itu juga bersikap baik padanya. Kris cukup ramah.

Terlalu ramah.

Kris memberikan panggilan ‘Pendek’ untuk Ae-mi karena jika ia tak tahu Ae-mi adalah salah satu stafnya, Kris pasti sudah menyangka gadis itu adalah salah satu –yang benar saja!- anak coordi noona atau siapalah. Dan jika Kris Wu berpikir bahwa memberikan panggilan seperti itu bisa membuat Ae-mi tersanjung, maka laki-laki itu salah besar.

Ae-mi tidak, tidak pernah suka dipanggil Pendek.

Gadis itu mengerucutkan bibir. Baiklah, ia memang pendek, mungkin lebih pendek jika dibandingkan dengan gadis-gadis seusianya. Tapi ia tidak membutuhkan penegasan kalau ia kurang tinggi –Ae-mi lebih suka menggunakan kata ‘kurang tinggi’ dan bukan ‘pendek’. Menurut Ae-mi, kedua kata itu memberikan kesan yang sangat berbeda. Setidaknya tidak begitu menyakitkan untuk didengar.

“Pendek!” seruan Kris membuyarkan segala pikiran Ae-mi. Gadis itu mendongak, bertemu pandang dengan kedua manik Kris. “Ambilkan aku air.”

Ae-mi hanya mengangguk dan meraih salah satu botol air mineral yang berada dalam kardus. Tanpa berkata apa-apa, ia menyerahkan botol itu pada Kris. Dan sebelum ia berbalik, ia menggerutu, “Setidaknya gunakan kata ‘Tolong’ atau ‘Please’, please.”

“Hei!” panggil laki-laki itu lagi. Ae-mi membalikkan tubuhnya dengan enggan. Kris tersenyum miring, menyodorkan botol yang sudah separuh kosong. “Titip,” katanya.

Ae-mi kembali mengangguk dan berniat meraih botol dari tangan laki-laki itu. Hanya niat. Kris mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersama dengan botolnya. Ae-mi mengerutkan kening sambil melompat-lompat, berusaha merebut botol dari tangan Kris.

“Yah, yah, yah!” seru Ae-mi. Ia tak berhenti melompat-lompat. Tapi percuma saja. Laki-laki ini terlalu tinggi untuknya. “Cepat berikan botolnya!”

“Setidaknya gunakan kata ‘Tolong’ atau ‘Please’, please.” Kris tersenyum semakin lebar. Rasanya Ae-mi ingin sekali memukul wajahnya yang konyol itu. Kris pasti sedang bosan, karena itu ia mempermainkan Ae-mi. Ya, pasti begitu. Dan biasanya, Ae-mi harus membesarkan hatinya dan mengalah.

Sial.

Ae-mi hanya menghela napas berat. “Tolong, please, berikan botolnya, please please please.”

“Gadis pintar,” ujar Kris bangga. Ia menyodorkan botol yang langsung disambar oleh Ae-mi. Laki-laki itu memandang sekeliling, tak menemukan para stafnya yang lain. “Ke mana yang lainnya?”

“Makan siang,” jawab Ae-mi singkat.

“Lalu kau?”

“Aku harus menunggu Super model Kris Wu selesai pemotretan.”

Kris tertawa. Ae-mi sudah sering melihat laki-laki ini tertawa. Begitu spontan, tanpa beban dan tanpa kewajiban untuk selalu terlihat baik. Dan jika boleh Ae-mi menambahkan, sosok Kris Wu yang tertawa adalah sosok kesukaannya –setelah orang tuanya dan Cho Kyuhyun.

Ae-mi mengerutkan kening. Cho Kyuhyun. Laki-laki itu belum juga menghubunginya padahal ia sudah kembali dari Singapura. Kyuhyun adalah laki-laki yang disukai Ae-mi sejak masih di perguruan tinggi. Dan Ae-mi tahu laki-laki itu juga menyukainya –setidaknya begitulah menurut instingnya. Ae-mi tersenyum. Satu-satunya gadis yang ada di dekat Kyuhyun adalah dirinya dan sebaliknya.

“Sebentar lagi aku selesai, tunggulah sebentar lagi,” ucap Kris. Tangan laki-laki itu mampir seenaknya ke puncak kepala Ae-mi, menepuk kepala gadis itu pelan.

Ae-mi harus meralat pikirannya. Ada laki-laki lain, selain Kyuhyun, yang dekat dengannya. Kris Wu.

The next day

Lima belas menit lagi. Kris melirik jam dinding yang terpantul melalui cermin di hadapannya. Bukan, ia tak sedang memedulikan waktu pemotretan yang akan segera dimulai. Melihat jam hanya pekerjaan sampingan. Tujuan utama dari sepasang indera penglihatannya adalah melihat gadis yang sedang berkutat dengan rambutnya.

Kris tersenyum samar. Wajah gadis itu tampak serius dengan bibir mengerucut penuh konsentrasi. Ia mengabaikan helai-helai rambutnya sendiri yang jatuh terurai. Pikiran gadis itu hanya difokuskan pada rambut Kris.

Dan entah bagaimana, hal itu menjadi hiburan yang menarik.

Kris suka saat Ae-mi menata rambutnya. Bukan karena hasil pekerjaan gadis itu sangat bagus. Bukan pula karena gadis itu memiliki bakat tersendiri dalam dunia hair-styling. Sederhana saja. Karena saat Ae-mi dihadapkan pada pekerjaannya –yang menyangkut rambut Kris, gadis itu akan memusatkan perhatian padanya. Dan Kris senang mendapat perhatian penuh dari gadis itu.

Oh, apakah mungkin sesederhana itu?

Mungkin saja, bisik Kris dalam hati. Ia suka menjadi pusat perhatian. Memang bukan dari semua orang. Mungkin, ia hanya suka menjadi satu-satunya pusat perhatian Go Ae-mi.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Ae-mi. Kris menemukan gadis itu sedang menatap lurus ke matanya melalui pantulan cermin. Gadis itu sudah selesai dengan pekerjaannya.

Kris hanya mengangkat bahu. “Lumayan.”

Dan ketika itulah Ae-mi akan memelototi Kris. “Satu jam dua puluh tiga menit dan…” ia melirik jam tangannya, “tujuh belas detik!” Ae-mi memandang lelaki itu dengan tatapan tak percaya. “Aku sudah bekerja keras untuk ini, dan komentarmu hanya–“

“Ssstt…” gumam Kris. “Kau berisik sekali. Tubuhmu memang kecil, tapi kekuatan mulutmu luar biasa mengagumkan!”

“Oh Tuhan…”

Go Ae-mi membalikkan badan, tak menyadari senyuman miring yang tersungging di bibir Kris. Rasanya luar biasa menyenangkan saat bisa menggoda gadis itu. Seperti sekarang. Dan seperti masa-masa sebelumnya. Kris selalu menikmatinya.

Sangat menikmatinya.

“Hei,” panggil Ae-mi. Kris menatap gadis itu –lagi-lagi melalui pantulan cermin. Pertanda buruk. Kris tahu itu. Ae-mi sedang memegang ponsel dan tersenyum lebar seperti baru saja mendapat hadiah rumah cokelat untuk natal. Sepertinya Kris tahu sebabnya. “Kyuhyun menghubungiku!”

Kris mengernyitkan kening, berpura-pura terkejut. “Benarkah?”

“Eum!” sahut gadis itu riang. “Malam ini dia mengundangku makan malam di kafe milik temannya.”

“Oh ya?” Kris merespon sebisanya. Setidaknya ia masih berusaha menunjukkan ketertarikan dalam percakapan semacam itu. “Di mana?”

Ae-mi masih tersenyum sambil membaca ulang pesan singkat yang dikirimkan oleh Kyuhyun. “Tempat yang sama dengan tempat pemotretanmu. Lovabook Store,” ujarnya. “Lantai 2 untuk pemotretan dan lantai 1 untuk kafe.”

Kali ini Kris mulai tertarik. Alisnya terangkat. “Kalau begitu, kau akan mengenalkanku padanya?”

“Untuk apa?”

“Karena aku bosmu. Orang yang mempekerjakanmu.” Kris berkata seolah Ae-mi seharusnya sudah tahu alasannya. “Dan sekedar untuk pencitraan. Bahwa aku adalah bos dan teman yang baik untukmu.”

Ae-mi mengerutkan kening. Kedua matanya menyipit tak senang. “Tidak ada bos dan teman baikku yang suka sekali memanggilku ‘pendek’.”

“Mau bagaimana lagi,” sahut Kris dengan nada sedih. “Aku adalah bos dan temanmu yang jujur juga.”

Sial.

Lovabook Store – 9:45 PM

Ruangan itu masih terlihat lengang walaupun masih ada beberapa orang yang menempati meja. Go Ae-mi duduk di salah satu kursi, jauh dari kerumunan orang yang sibuk membereskan lokasi pemotretan. Kris menelan ludah. Rasanya tak mudah untuk tak melirik Ae-mi dua kali setiap 30 detik.

Pemotretan baru saja selesai lima menit yang lalu tapi Kris tak bisa merasa lega. Pun ketika Kyuhyun meninggalkan tempat itu, Kris juga tak merasa senang.

Lelaki itu –lelaki yang bernama Kyuhyun- memang datang. Ae-mi menyambutnya dengan senyum paling lebar, paling cerah dan paling sumringah dibandingkan dengan senyum-senyum lain yang pernah ditunjukkan oleh gadis itu. Kris memang iri, sedikit mungkin. Namun rasanya ia lebih memilih untuk melihat sosok Ae-mi yang seperti itu, dan bukan yang seperti ini.

Ae-mi tampak lesu. Ia belum berbicara lagi dengan siapapun dan belum mencoba membuka percakapan dengan siapapun. Tentu saja, hal itu menjadi hal yang sangat aneh. Dan mengkhawatirkan. Dan aneh.

Kris menghela napas panjang. Kata aneh perlu disebutkan dua kali karena memang hal itulah yang dirasakan olehnya.

Sudah tentu penyebab murungnya gadis itu adalah lelaki bernama Kyuhyun. Kris sudah tahu itu. Oh, sial. Kris sudah pasti tahu tentang itu. Bahkan, ia selalu tahu segala perubahan suasana hati gadis itu selalu, selalu berhubungan dengan Kyuhyun.

Dan untuk kali ini, Kris sudah tahu hal itu pasti akan terjadi. Bukan karena ia bisa meramalkan sesuatu, tapi hal itu sudah terlihat jelas. Bahkan saat Kyuhyun baru saja memasuki tempat ini melalui pintu kaca berukuran besar itu. Kris memandang pintu masuk tempat ini.

“Ini Kim Hyunra, teman perjalananku di Singapura.”

“Aku selalu menganggap Ae-mi sebagai adik.”

“Kami akan bertunangan bulan depan.”

Kris dapat mendengar ulang beberapa hal penting yang sempat diucapkan Kyuhyun. Sebenarnya bukan sifatnya untuk mencuri dengar pembicaraan orang lain, tapi nalurinya menolak segala hal yang coba ditawarkan sang akal sehat. Jadi tentu saja Kris tak dapat –dan tak mau- menggunakan akal sehatnya.

Dan tak perlu menjadi seorang Einstein untuk menebak penyebab aura mendung yang menggelayuti gadis itu.

Kris memang seseorang yang mudah bergaul, tapi ketika ia dihadapkan pada situasi dimana seorang gadis baru saja dihempaskan ke dasar bumi oleh laki-laki yang sejak lama dipujanya, sejujurnya, Kris tak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Sedang apa kau?”

Suara itu membuat Kris terkesiap. Bukan karena ia yang terlalu hanyut dalam lamunannya, tapi justru karena suara itu adalah suara yang berada dalam urutan terakhir yang diduga Kris akan menyapa. Laki-laki itu mengerjap. Ae-mi berada di sampingnya, entah sejak kapan gadis itu meninggalkan kursinya dan berbalik mengamati dirinya.

“Ae-mi, kau–“

Ae-mi menyela, “’Ae-mi’? Tumben, biasanya kau akan memanggilku ‘Pendek’ atau setidaknya dengan nama lengkap ‘Ae-mi pendek’.”

Kris tertawa datar. “Lucu sekali.” Ia menelan ludah. Kedua maniknya memindai wajah gadis itu, mencoba membaca emosi tersembunyi yang mungkin tersamarkan. “Eh, kau, maksudku… aku, eh, kau…”

“Kau ini mau bicara apa, sih?” Alis Ae-mi terangkat. Rasanya jarang ia bisa melihat sosok Kris Wu yang gugup dan tak sanggup menyusun kata-kata seperti ini. Dan Ae-mi menikmatinya. “Apa yang mau kau tanyakan?”

“Itu… aku…”

Ae-mi menghela napas, tak sabar. “Apa?”

Kris tampak menelan ludah. Ia membiarkan setiap kata melayang dan tersusun dengan sendirinya. “Apa kau baik-baik saja?”

Apa?”

“Aku mendengar percakapanmu dengan Cho Kyuhyun itu, lalu kukira kau akan merasa luar biasa kecewa, lalu aku melihat wajahmu yang murung, lalu ya… begitulah.”

“Oh…” sahut Ae-mi. “Oh… kau sedang mencemaskanku.”

Bukan pertanyaan. Bagus. Kris tak harus menjawabnya. Ia bahkan tak tahu mana yang lebih baik; diberi pertanyaan seperti itu atau ditodong dengan kesimpulan seperti itu. Yang mana pun, tak ada yang menyenangkan.

Jadi jika gadis itu sudah tahu maksud pertanyaannya, Kris merasa puas. Sedikit.

“Bukankah aku berbohong kalau aku bilang aku tidak sedih?”

“Ya. Itu kebohongan besar.”

Ae-mi menarik kursi, menempatkannya di samping kursi Kris. Gadis itu merasa perlu untuk menata ulang, mencari tahu perasaan kosong apa yang sedang hinggap dan menyerap segala kebahagiaannya malam ini. “Aku sedih.”

“Lalu?”

“Hanya itu.”

Hanya itu?” ulang Kris, tak percaya.

“Eum. Hanya itu.”

Kris bukan tipe orang yang selalu percaya pada instingnya, namun sesekali ia harus mengakui bahwa instingnya bisa menjadi lebih tajam dan lebih terpercaya dibandingkan dengan sumber mana pun. Dan kali ini, instingnya berkata bahwa gadis di dekatnya ini sedang berbohong. Entah untuk apa dan pada siapa.

Dengan tarikan napas panjang Kris mengangkat tangannya, menyentuh helaian rambut panjang Ae-mi. Ia tak tahu apa tindakannya ini berpengaruh besar pada gadis itu, ia hanya ingin mengatakan padanya bahwa tak apa jika gadis itu merasakan jutaan emosi lain yang lebih dari sekedar sedih.

Bahwa tak apa jika mengakui ada perasaan tak nyaman yang membuat hatinya berlubang. Bahwa tak apa jika gadis itu mengakui ia sedang patah hati. Tak apa.

Tapi gadis itu berkata, “Aku baik-baik saja,” sambil tersenyum ke arah Kris. Laki-laki itu tertegun hingga gerakan tangannya terhenti.

Cokelat pekat –warna mata gadis itu. Kris selalu menebak Ae-mi memiliki warna mata biru gelap, nyaris hitam. Kesempatan untuk memerhatikan lekat-lekat warna mata gadis itu tak pernah datang dengan mudah. Dan Kris menyadarinya.

Warnanya cokelat pekat. Seperti karamel. Manis.

Kris menangkap sesuatu melalui pantulan mata gadis itu. “Kau sangat sedih,” ujarnya.

Ae-mi membiarkan kepalanya mengangguk. Sejak awal ia tak pernah benar-benar memiliki Kyuhyun. Bahkan, sejujurnya, ia sudah tahu bahwa laki-laki itu hanya mengenal dirinya sebagai adik. Mungkin sahabat, mungkin teman baik. Tapi tak pernah lebih dari itu.

“Hei, Pendek!”

Gadis itu mengerjap. Akhirnya panggilan itu kembali lagi. Ae-mi tak tahu harus senang atau kesal, atau marah, atau… entahlah. Terlalu banyak emosi tak bernama yang bergumul dalam dadanya.

“Ayo, kutraktir es krim!”

“Tiga scoop es krim cokelat,” gumam Kris.

Ia melirik gadis yang sedang duduk di sampingnya melalui ujung maniknya. Laki-laki itu kemudian menghela napas, pura-pura kesal. Lalu tanpa disadari Ae-mi, Kris tersenyum. Setidaknya ia sudah tahu bagaimana cara menyatukan serpihan-serpihan kegembiraan milik gadis itu.

“Aku, kan, sedang patah hati.”

Kris memutar bola matanya walaupun bibirnya tersenyum. “Mana ada orang patah hati yang rakus sepertimu?”

“Ada.”

“Maksudmu dirimu sendiri.”

Ae-mi tersenyum lebar. “Benar.”

Kris mendengus. Namun ia tak berkomentar. Tatapannya tertuju ke langit yang gelap. Tak ada taburan bintang, hanya sepotong bulan sabit yang menjadi penghias langit malam ini. Dan meskipun begitu, Kris bisa merasakan kedamaian yang menyenangkan.

Hembusan angin membelai wajahnya. Kris menahan diri untuk tak menoleh dan menatap gadis di sampingnya. Namun ia kalah lagi. Ia menatap wajah gadis itu dari samping dan membiarkan senyum kecil merambat melalui bibirnya.

“Mungkin seharusnya kau melupakan laki-laki itu, Pendek.”

Ae-mi mengangguk setuju. “Mungkin.”

“Mungkin seharusnya kau juga mulai melihat laki-laki lain.”

Lagi-lagi Ae-mi mengangguk. “Mungkin juga.”

Kris menahan senyumannya. Ada sesuatu yang ingin dicobanya kali ini. “Dan,” katanya memulai, “mungkin kau bisa melihat laki-laki yang ada di sampingmu ini.”

“Mung–“ Ae-mi buru-buru menoleh, tak sempat keheranan kenapa lehernya tetap baik-baik saja oleh gerakan itu. Matanya membulat. “Apa?”

“Maksudku, kau bisa mulai melihatku. Jangan dengan cara yang sama seperti sebelumnya.”

Keheningan yang lama membuat Ae-mi memiliki waktu untuk memandangi wajah itu. Ia hanya bisa melihat wajah laki-laki itu melalui pantulan cermin. Ia terbiasa melakukannya. Diam-diam menatap wajah Kris saat laki-laki itu tak memerhatikan. Dan jika Ae-mi berpikir bahwa wajah itu tak bisa lebih sempurna lagi, ia keliru.

Wajah Kris jauh lebih sempurna saat ini; saat Ae-mi sedang berhadapan dengannya secara langsung dan bukannya hanya pantulan cermin.

Tentu saja, semua itu terasa terlalu berbahaya.

“Pendek,” panggil Kris. Butuh usaha ekstra bagi Ae-mi untuk memusatkan pikiran pada suara laki-laki itu dan berhenti mengagumi wajahnya. “Aku… kurasa, aku menyukaimu.”

Oh Tuhan.

The next day

Ae-mi terduduk di ranjang. Kedua matanya mengerjap, tak terganggu dengan cahaya matahari yang melimpah, menembus jendela kamar yang berlapis kaca bening. Ia menempelkan telapak tangannya di atas dada kirinya. Untuk beberapa alasan, Ae-mi merasa perlu untuk memastikan bahwa jantungnya masih di sana –berdetak normal dan bukannya berdebar-debar.

Kris Wu sialan.

Gara-gara laki-laki itu, Ae-mi lupa bagaimana rasanya kehilangan orang yang sudah lama disukainya. Seharusnya ia sedang meratapi Kyuhyun sekarang. Meratapi kenangan yang dimilikinya bersama dengan laki-laki itu. Ia tahu ia tak bisa mendapatkan Kyuhyun, tapi setidaknya ia masih ingin membiarkan dirinya menghormati laki-laki yang disukainya beserta kenangannya.

Dalam sekejap, Kris Wu membuat Ae-mi kehilangan perasaan itu. Sedikit ralat, kehilangan perasaan itu dan menggantinya dengan euphoria aneh yang, dengan sangat terkutuk, membuat Ae-mi gugup.

Dan senang.

Dan bahagia.

Dan, sial, berdebar-debar.

Ae-mi memejamkan mata, mencoba menemukan sedikit akal sehat yang mungkin saja tersisa. Merasakan perasaan semacam ini pada laki-laki itu –Kris Wu, yang sekarang namanya saja sulit bahkan untuk sekedar dipikirkan- semuanya terasa terlalu tidak mungkin dan ajaibnya, terasa benar di beberapa sisi.

“Aku pasti sudah gila,” gumamnya. Gadis macam apa yang bisa melupakan perasaannya dalam semalam dan menggantikannya dengan perasaan aneh pada laki-laki lain? Oh, ia tahu. Gadis sepertinya.

‘Terasa benar di beberapa sisi.’

Ae-mi terpaksa mengulang bagian itu. Yang tentu saja, bisa dipastikan, ia sedang mencari pembenaran dari segala perasaan ini. Ae-mi mengerutkan kening. Apa, perasaan macam apa? Perasaan pada Kris? Atau perasaannya pada Kyuhyun yang mendadak lenyap, seolah tak pernah ada di sana?

“Bodoh sekali, sih,” maki gadis itu pada dirinya sendiri.

Mungkin Ae-mi tak mengenal perasaan yang tertuju pada Kris. Mungkin juga ia hanya tak ingin mengenal sebutan perasaan itu lebih jauh. Ae-mi baru saja kehilangan cinta seumur hidupnya –ralat dalam hati: cinta sepihaknya seumur hidup- dan sekarang ia merasakan perasaan aneh pada laki-laki lain. Bukankah itu berarti ada yang salah dengannya?

Cause all I know is we said hello…

Go Ae-mi baru saja akan membalikkan badan ketika Kris menyadari kehadirannya. Dan gadis itu tak berhasil melarikan diri, tentu saja. Kris sudah berjalan ke arahnya, dengan cepat dan tak bisa dihalangi. Jika boleh Ae-mi menambahkan, laki-laki itu melihatnya seperti sebuah hadiah ulang tahun pertama yang diinginkannya.

“Hei, Pendek!” panggil Kris.

Ae-mi hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. “Hei!”

“Jadi?”

“Jadi…?” ulang Ae-mi. “Jadi apa?”

Kris tersenyum hingga kedua matanya menyipit dan tulang pipinya naik. Ae-mi bertanya-tanya mengapa laki-laki itu sanggup memberikan senyuman seperti itu padanya. Karena saat ini ia berjuang untuk tidak terlihat bodoh gara-gara senyuman itu. Kris berdeham, “ Tawaranku kemarin.”

“Oh, oh… oh!” seru Ae-mi. “Ya, ya… aku…”

Dan laki-laki itu kembali tersenyum. Ae-mi bersumpah ia akan menendang, menginjak atau melakukan apapun agar laki-laki itu tak menunjukkan senyuman yang –ugh- membahayakan. Membahayakan kewarasan, mental dan jiwanya.

“Ya, jadi kau…?”

Ae-mi menelan ludah dengan susah payah. Ia juga berusaha mengumpulkan serpihan keberaniannya yang tercecer berantakan. Dan menyusun sebuah jawaban untuk laki-laki itu juga bukan pekerjaan yang sederhana. Bukan pekerjaan sederhana bagi otaknya dalam waktu dan situasi yang seperti ini.

“Kau tahu,” ujar Ae-mi memulai. “Rasanya ada yang aneh saat aku bangun pagi ini. Aku memikirkan banyak hal tapi hanya memikirkan satu orang. Kau, kalau kau memang ingin tahu. Aku berpikir, hubungan kita dekat tapi juga tidak bisa dibilang tidak akrab. Ketika itu, aku menginginkan satu hal.”

“Dan, apa itu?”

Ae-mi menggigit bibir bawahnya. Ia membiarkan momen demi momen keberadaan dirinya dan laki-laki itu terbayang, memenuhi pikirannya sendiri. “Aku ingin mengenalmu lebih dari kemarin dan ingin memahamimu lebih dari hari ini.”

All I knew this morning when I woke
Is I know something now, know something now I didn’t before
And all I’ve seen since 18 hours ago is green eyes and freckles and your smile in the back of my mind making me feel like
I just want to know you better now…

Kris tercengang dan hanya bisa mengerjap untuk merespon gadis itu. Biasanya, Kris cepat dalam menanggapi ucapan orang lain, tapi sepertinya hari ini bukan hari yang biasa untuknya. Ia bahkan tidak sedang berhadapan dengan orang-orang yang biasa ditemuinya. Ia berhadapan dengan gadis yang selalu membuatnya bertingkah kekanakan dengan melontarkan panggilan aneh pada gadis itu.

Dan rasanya hal itu adalah sesuatu yang cukup untuk dijadikan alasan.

Alasan untuk merasa gugup. Alasan untuk mendadak tak mampu berkata-kata. Alasan untuk berdebar-debar di depannya.

Ae-mi menatap laki-laki itu dengan sisa keberanian yang ada. Ucapannya mungkin terdengar luar biasa konyol, tapi memang itulah yang ingin disampaikannya pada Kris. Ia ingin mengenal laki-laki itu dari sisi yang tak pernah dibayangkan oleh keduanya.

Tak hanya sekedar panggilan bodoh. Tak hanya sekedar hubungan konyol. Tak hanya sekedar candaan kosong.

“Aku…”

Cause all I know is we said hello
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name, everything has changed
All I know is you held the door
You’ll be mine and i’ll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

=============FIN==============

Sorry for the delay, dear Sonia~ I know your birthday has passed and yet I’m late like…a week or more? Sorry~ college and stuff, honey. ><

And yesseu, this is it! Your fanfic request, your birthday present. Finally I wrote Kris. OMG… xD I dunno what his height exactly, so forgive me. I also apologize wif the character I gave to you, Go Ae-mi. *bow*

And for the ending, this is wut I called ‘Open Ending’. Hahaha~ just have fun to guess how the ending was. ^-^

Song lyric:

The Lonely by Christina Perri

Everything Has Changed by Taylor Swift.

[via Directlyrics]

55 thoughts on “Shortie Tale

  1. Krren…….. pendeskripsian ny sdrhna tp keren bgd……..
    Sjjur ny àq g tau tampang ny kris…
    Tp bsa kebayang kok adegan” ny
    Shella daebak… #sokkenal
    Req ff ryeowook dunk shel….
    Blh kan??? Gomawo #kecupbecekshella

    • Sebelumnya, saya minta maap dulu. Dari dulu saya paaaaling gak bisa bikin ff tentang Kim’s brother; Kim Heechul, Kim Jongwoon, Kim Youngwoon, Kim Ryeowook, Kim Kibum… Jadi ya………. ^-^;

  2. Aku kira cast-nya Lee HyukJae, ternyata Kris Wu.
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

  3. gyahahaha…..
    cerita yg manis, semanis yg bikin *kayapernahliataja
    hehehe
    open ending itu….bikin gregettaannn
    ngebayangin sendiri endingnya.
    wuaaaahhh kyu juga masup sini *girang

  4. Krisseuuuuu.. my future husband*amin* hihhih
    not as exo’s member but as a super model gyaaaaa *imagine*😄
    ceritanya simple tapi penggambarannya dan diksinya benar” keren eonni😀
    ahh~ open ending yg sprti itu toh?? *nodnod*
    aahhh jhoaaaa *.*

  5. Actually the media said it is 187 haha
    That’s ok, it is worth because the story is sooo adorable >_<
    The nickname is cute too, reminds me to a boy at middle school who kept calling me that way ㅋㅋㅋ
    Anyway, how could you make kris's character like exactly I wanted to? Oh boy~

  6. Jiah cast bru, hihihi.
    Dri awal bc udh senyam senyum gaje, eh tiba” Kyu muncul, udh ad firasat buruk. klu kyu jd rang k’3 eh trnyta cuma ngnaln tunangn’y doank, bwakakakak tdnya mw sdih eh g jd. ahahahaha. alhamdllh🙂
    Cast’y siapapun slLu KEREN. pendeskripsian’y mantep. Bikin geregetan🙂
    Jiah kriss ahahaha. lucu” :p
    Next ditunggu !

  7. nice fics ‘-‘)b pdhl km gak terlalu tau karakter kris, tp mnurut aku bs pas di ff ini😀
    daaaaaaannn, bayar loyalti, ada namaku disana hahahahaha xD
    pantes aja km nyuruh aku baca ff ini.. ternyata dijadiin cameo ya aku?? lol

    • Aaaahh~ masa cih kak re? :’3
      HEH ITU SUDA BAGUS SAYA SELIPIN NAMA ANDAAAAA… -..-
      Iyah, minta baca supaya tau kalo aku pake nama rejumma. :3 Aku baik kan?

      • ciyus deh, cungguh lol xD
        gak bisa, pkknya bayar loyalti!! part kyupid ditambahin.. hahaha xD
        jd enak.. emang sih klo km inget kyuhyun pst inget aku, kita berdua kan gak terpisahkan lol

  8. Ceritanya kayak matanya Ae-mi, manis … Hahaha aku suka banget kata kata ini “Aku ingin mengenalmu lebih dari kemarin dan ingin memahamimu lebih dari hari ini ” heran deh, dapat dari mana sih shela bisa nemuin kata kata bagus kayak gini ?
    Suka suka suka banget karakter Kris disini :*

  9. ff ini gorgeouuuuuus bangeeet. lucu bgt ih. next time buat ff main cast nya lee donghae dooong unnies. hehehehe fighting!

  10. baca ini ff bikin senyum* sendiri dahh eonn…
    sukaa sama kata* ae-mi yg ini “Aku ingin mengenalmu lebih dari kemarin dan ingin memahamimu lebih dari hari ini.”
    ituu sweettt bgt eonn sumpahhh dahh,!!!

  11. YOO!!!! Aku berapa abad sih ga mampir ke sini? Aquwh tanen tamu anet… uwuwuwuwuw…

    Surprise loh kamu nulis kris ini lol… Oke karakter jutek amit amit ngeselin dan bikin hamil nya kris kamu hancurkan di sini yoo… Kenapa manis begitu kenapaaa??? Aku kan jadi teranu-anu… :”(((

    Tingginya dia? Gatau sih emang ga jelas… ada yg bilang 187,188,189,190.. Gatau. Pokoknya dia raksasa. Yang cakep. u.u

    • ……………………..Tau-tau nyasar kesini deh kak Tri. SELAMAT DATAAAANGS~~~
      Surprise…aku juga sih. xD Yah, ada req dari yang ulang taun, jadi ya…dicoba aja. xD
      APA-APAAN SIH ITU ‘TERANU-ANU’!??
      Aku cari di google sih katanya 187, jadi aku pake itu aja. HAHAHAHA… dan aku mesti agak terombang-ambing pas nyari foto dia. T^T

  12. sweet! :”) karakter kris-nya kalem kalem manis gimanaaa gitu hahah. btw, salam kenal, author. ini pertama kalinya aku komen di sini (setelah dulu aku pernah baca beberapa ff di sini) hehe

  13. aigooo kriseeeeuuuuuuu!!!! Tau ga sih kak….aku jadi minder baca ginian maksud aku, tinggi aku sm aemi ga jauh beda lah 164….padahal selama ini pd pd aja segitu, tinggi yang cukup pas buat bersanding sm daehyun/gyahahahaha>:D/ tapi pas baca ini langsung ngerasa pendek banget…..dan kaget aja disini kris nya manis banget jadi anak baik, pdhl kalo di ff gitu biasanya dia kalo ga jadi gangster, pervert guy, bad guy gitu. Om kriseu mengalami kemajuan /nodding/ ga kebayang kalo misalnya kris baca ff ini berhubung dia waktu itu jg baca ff di aff, yah tapi ini bukan bahasa inggris ya-_- ya sudahlah gatau mau ngomong apalagi, keren pokoknya. Kak shela semangat mangat mangaaattttt

  14. Annyeong…!!! aku readers baru….
    Wahhh Kris >,<!
    ceritanya manis banget… pas baca jadi senyum2 gajelas…
    ditunggu karya yg lainnya… semangat… ^^!!!!!

  15. Lama. Lama banget nggak buka wordpress…
    Dan tiba-tiba malem ini lgi pingin baca FF, dan tiba-tiba langsung masuk ke blognya Kak Shel. Hahaha….
    Trnyata udh lama banget ga baca FF2 Kak Shel nih, terakhir Lovabook ya, Marry Yoo aja aku blm smpet baca. Hehehe…

    Like usually, tata bahasanya suka banget. Dan dialog-dialog simple yang manis itu selalu bikin greget. Haha, kayaknya semua karakter cewek yang dibuat Kak Shel -meski itu bukan Yoo- aku selalu suka deh. cool. unik. sederhana. nggak muluk-muluk.. ^^

    And than, buat malem ini makasih banget untuk –> “Aku ingin mengenalmu lebih dari kemarin dan ingin memahamimu lebih dari hari ini.” :’) That’s so… ahh.. ngena banget buat aku. Keep writing, Kak!

    Love,
    -Orin-

  16. omigodd ! suka banget karakter ala manga bgini ..
    cowonya sok cuek suka ngejek tp pratiaan aaaaak~❤
    untung aja kaga pake gengsi ketinggian😀
    ngga dapet kyuhyun tp dapet kris itu lucky draw banget yah wkwkwk .
    ah anw happy birthday for you Go Ae-Mi kkk *so kenal*

  17. Suka bnget baca yang genre romance tp ada lucu2annya gini , manis bnget endingnya, pengungkapannya juga ngena bnget ! Ku jrang baca ff maincast kris, tp ini bisa langsung mencuri perhatian gegara diawal nemu kata “pendek”, ternyata ceritanya mengesankan… Mau dong sequelnya… Ff yang “Miss Evilia” iku karya kamu juga kan ??? Salam kenal😀

  18. Open ending. Exactly.
    Lucunya Go Ae-Mi q^.^p
    Istilah ‘cinta sebelah pihak yang seumur hidup’ itu polos banget loh hahaha
    Makasih, She boleh baca (lagi) karyamu (yang lain)😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s