[JiHyukism] Truth or Dare

Truth or Dare!

hbd

Dorm – April 3, 2013. 8:23 AM

“TIDAK MAU!”

Suara Jiyoo menggema hingga ke ujung koridor di depan kamar tidurnya. Ia merengut, menunjukkan wajah merajuk pada gadis yang lebih tua empat tahun darinya. Dalam hati ia berharap Jung Haneul –nama gadis itu- akan meluluskan permintaannya seperti biasa.

Namun Haneul justru menghela napas, menyipitkan mata ke arah bungsu di dorm itu. “Choi Jiyoo, bersikap dewasa tidak akan membunuhmu.”

“Tidak dianggap dewasa pun tidak masalah, Eonni,” sahut Jiyoo santai.

Jung Haneul nyaris menyentil kening Jiyoo, terlalu tak sabar dengan sikap keras kepala gadis itu. “Hyukjae oppa sedang berulang tahun, apa Choi Jiyoo ini harus mengecewakannya lagi?” Haneul menekankan kata ‘lagi’ pada kalimatnya, membuat Jiyoo terpojok.

Sudah sebulan lebih hubungannya dan Hyukjae berakhir. Selama sebulan ini, Jiyoo berusaha keras –setidaknya ia mencoba- menjauhi lelaki itu. Bahkan ketika ulang tahunnya sendiri tiba, Jiyoo menolak untuk ditemui siapa pun yang berasal dari dorm Hyukjae, tentu saja terutama lelaki itu sendiri.

Ketika Jiyoo hanya diam, Haneul kembali menghela napas. “Semua orang akan ada di sana, Yoo. Memang bukan Hyukjae oppa yang memintamu untuk datang, tapi semua orang juga tahu kalau dia berharap kau bisa datang.”

Eonni,” panggil Jiyoo. “Harapan memang tidak selalu harus terwujud, kan?”

PLETAK~

“AAAWW!” Jiyoo langsung berteriak saat Yeosin, salah satu ‘kakak’ perempuannya, muncul dari kamar dan menjitak kepala belakangnya. Jiyoo menoleh dengan cepat, mengerucutkan bibir. “Kenapa memukulku~?”

Yeosin bersiul dengan riang. “Untuk menyadarkan si bungsu kalau mewujudkan harapan seseorang sama sekali tidak dianggap sebagai tindakan kriminal. Semua orang akan datang, jadi sudah dipastikan tidak ada pengecualian bagi Baby-J untuk tidak datang, oke?”

“Tidak oke!”

“Oh, tentu saja oke.” Hyori melenggang santai, membawa mangkok berisi buah stroberi di tangannya. “Memangnya kau pikir kami tidak tahu kau sudah menyiapkan hadiah istimewa?” Melihat raut wajah Jiyoo yang berubah, Hyori melanjutkan, “Kotak kecil dibungkus kertas kado ungu muda polos, diberi pita ungu terang. Ah, apa kartu ucapannya sudah kau masukkan?”

Jiyoo ingin sekali menginjak kaki Shin Hyori. Namun sepertinya dengan pengawasan dari kedua ‘kakak’ mereka, Jiyoo harus memendam keinginannya dalam-dalam. Jiyoo menenangkan diri, mengingatkan bahwa masih ada lain kali untuk membinasakan Hyori.

“Nah, sudah ada hadiah. Masalah selesai!” seru Haneul. “Kita semua akan datang ke pesta ulang tahun Hyukjae oppa malam ini!”

Jiyoo memandang pantulan wajahnya di cermin. Riasan ringan dengan sedikit perona pipi dan lipstik merah muda membuatnya tampak berbeda. Ia memaki dirinya dalam hati. Ini hanya pesta biasa, bukannya pesta dansa atau semacamnya, jadi kenapa ia harus merasa gugup dan wajib mempersiapkan diri seperti ini!?

Gadis itu menelan ludah. Ia meraih tisu di meja riasnya, buru-buru menghapus riasan dari wajahnya sendiri. Malam ini tak ada yang istimewa. Jiyoo mengingatkan.

Bahkan ia memilih pakaian kasual yang biasa dikenakannya. Jiyoo mengenakan baju rajut dengan bahan wol berwarna hijau pupus, sebuah rompi putih dengan pita di bagian belakangnya dan celana jins.

Terkutuklah selera berbusana yang dimiliki Choi Jiyoo!

“Ck, kau benar-benar tidak punya aura fashionista,” ucap Yeosin sambil berdecak. Ia menatap prihatin paduan busana yang dilihatnya.

Jiyoo mengendikkan bahu. “Aku tidak butuh aura semacam itu.”

“Yah… itulah Choi Jiyoo.” Yeosin mendesah berat. Ia kemudian melirik Jiyoo dengan hati-hati. “Yoo sudah berjanji akan datang, kan? Tidak akan ingkar janji, kan?”

Alis Jiyoo terangkat, heran. “Apa, kenapa?”

“Janji, kan?” ujar Yeosin. Setelah Jiyoo mengangguk ragu, ia tersenyum menyesal. “Yang akan datang ke pesta hanya kau dan Haneul eonni.”

Jiyoo melongo untuk beberapa detik. Butuh kekuatan lebih untuk bisa mengembalikan kesadarannya ke bumi. “APA!? Tidak! Tidak mau! Kalau begitu aku juga tidak akan pergi!”

“Ah, wae~? Anggap saja kau dan Haneul eonni sebagai wakil dari 6-nies, oke?”

Jadi inilah arti dari perasaan buruknya. Jiyoo menatap Yeosin tanpa bisa berkata-kata lagi. Konspirasi. Sudah pasti ini konspirasi untuk menjebaknya. Jiyoo mengerjap, lagi-lagi merutuk dirinya karena terlalu mudah tertipu.

Yeosin mengacak rambut Jiyoo pelan. “Selamat bersenang-senang ya!”

7:12 PM

Eunhyuk bersandar di jok mobil sambil memandang ke luar jendela. Tatapannya tak fokus, tak tertuju kemana pun. Jalanan Hongdae yang tak pernah sepi pun tak berhasil menarik perhatiannya.  Eunhyuk mendesah pelan. Malam ini ia, yang tak memiliki rencana apapun, terpaksa melakukan perjalanan kecil bersama Sungmin.

Ia menjadi anak yang penurut dengan membiarkan Sungmin membawanya entah kemana.

“Merayakan ulang tahunmu!” kata Sungmin beberapa jam yang lalu.

Eunhyuk mendengus. Sungmin berjanji akan ada banyak orang yang datang ke pesta itu. Sebenarnya Eunhyuk tak terkejut. Sungmin dan Donghae sudah merencanakan pesta ini sejak seminggu yang lalu. Kedua membernya itu berceloteh bahwa semua orang akan datang dan merayakan ulang tahunnya dengan meriah.

Jika boleh ia berpendapat, sejujurnya ia tak mengharapkan apa-apa. Atau siapa pun.

Kecuali gadis itu.

Tapi tentu saja keinginan itu tak bisa dengan mudah terkabul. Eunhyuk mendesah berat. Rasanya walaupun keinginan itu terdengar sederhana, untuk saat ini justru terasa begitu muluk. Dan tidak mungkin.

“Sampai!” seru Sungmin. Ia menoleh, menunggu reaksi Eunhyuk. “Ya! Kubilang, kita sudah sampai!”

Eunhyuk terpaksa menurunkan kaca jendela, melihat tempat tujuan Sungmin dengan lebih jelas. Kedua matanya melebar. “Karaoke?”

“Aku sudah menyewa ruangan paling besar. Untuk 20 orang lebih,” sahut Sungmin bangga.

“Yang benar saja,” Eunhyuk tertawa geli. “Tidak ada yang memesan hall sebuah hotel untukku?”

Sungmin mendengus kemudian membuka sabuk pengaman yang melilit tubuhnya. “Teruslah bermimpi.” Lelaki itu mematikan mesin mobil dan turun dengan terburu-buru. “Ayo cepat!”

Eunhyuk mengernyitkan kening. Ia tertawa pelan sebelum mengikuti Sungmin. “Bermimpi, kan, tidak dihitung sebagai dosa.”

“Yang benar saja…”

Tatapan Eunhyuk menyusuri tiap sudut ruangan super luas di hadapannya. Bukan luasnya yang membuatnya tercengang, tapi justru karena sepinya ruangan yang terlalu luas itu. Tak ada orang. Kenyataannya berbeda dengan iming-iming yang dilontarkan Sungmin dan Donghae.

Sungmin tersenyum tanpa merasa berdosa. “Pestanya dimulai jam 9.”

“Kalau begitu kenapa aku harus datang dua jam sebelumnya? Memangnya apa yang bisa kulakukan disini bersamamu?” sergah Eunhyuk kesal.

“Aku juga tidak bisa menemanimu, aku harus mengambil pesanan kue untuk malam ini.” Lagi-lagi Sungmin mengatakannya tanpa rasa bersalah.

Eunhyuk menatap Sungmin dengan takjub. Bisa-bisanya ia menurut dengan segala ucapan Sungmin dan Donghae. Seharusnya ia menolak saja ketika dua orang itu bersikeras ingin mengadakan pesta untuknya.

“Aku pulang saja,” ucap Eunhyuk.

“Jangan!” Sungmin mengomel, “Nanti Haneul juga akan datang lebih awal. Setidaknya kau temani dia sampai aku kembali, bodoh! Dan Lee Donghae juga akan datang sebelum jam 9. Member lain akan datang jam 9 tepat. Apa salahnya menunggu dua jam saja!?”

Eunhyuk mengorek-orek kedua indera telinganya yang seolah diserang oleh meriam omelan nuklir. Akhirnya ia hanya mengangguk-angguk, menolak mendengarkan omelan lain yang mungkin akan dilontarkan Sungmin.

Saat ia baru saja akan melenggang menuju sofa terdekat, muncul suara orang berdebat di depan pintu mereka. Eunhyuk mengerjap, memasang telinga untuk bisa mendengar lebih jelas.

“Sudah kubilang aku tidak mau, Eonni!”

“Tidak bisa! Kita sudah disini!”

Kedua suara itu terdengar tak asing di telinga Eunhyuk. Namun seakrab apapun salah satu suara itu baginya, malam ini masih terlalu awal untuk bermimpi. Masih pukul 7 malam. Eunhyuk tak biasa bermimpi di waktu seperti ini.

Atau mungkin memang saat ini adalah waktu yang tepat untuk berhenti bermimpi dan mengubahnya menjadi kenyataan?

Seorang gadis dengan kemeja berwarna jingga membuka pintu, berdiri di tepi pintu sambil tersenyum. Tapi perhatian Eunhyuk justru terpusat pada gadis lain yang menyembunyikan diri di belakang tubuh si gadis jingga. Ia mengenali sosok itu dengan baik. Sebaik ia mengenal dirinya sendiri.

Oppa!” seru Haneul seraya menghampiri Sungmin dan Eunhyuk. Ia sempat menoleh ke belakang, menggerutu pelan. “Yoo, ayo masuk! Kenapa hanya berdiri di sana?”

Eunhyuk merasakan dadanya menjadi lebih hangat saat mendengar panggilan itu. Secara otomatis kedua matanya mengikuti tiap gerakan kecil dari sang pemilik panggilan. Gadis itu berjalan pelan, terkesan ragu-ragu.

Tak masalah. Eunhyuk berkata pada dirinya sendiri. Walaupun pelan, yang terpenting adalah gadis itu terus berjalan mendekat padanya.

Annyeong haseyo,” suara gadis itu sama sekali tak terasa asing. Eunhyuk terus menatap Jiyoo yang selalu tertunduk.

Haneul menyikut lengan Jiyoo pelan. Ia berbisik, “Mana ucapan ulang tahun untuk Hyukjae oppa?”

Jiyoo menoleh, menyipitkan matanya ke arah Haneul. “Ini belum tanggal 4.”

“Tapi orangnya ada di depanmu, ucapkan sesuatu,” ujar Haneul.

Eunhyuk menunggu sementara Jiyoo mulai mengangkat wajahnya. Gadis itu menatap Eunhyuk, mereka-reka seperti apa wajah lelaki itu dalam ingatannya dan menggambarnya ulang dengan cetakan baru di depan matanya ini.

Nyaris tak ada yang berubah. Wajah Eunhyuk yang ini adalah wajah yang sama yang diingat Jiyoo dalam pikirannya.

Jiyoo menggigit lidahnya sendiri untuk menghentikan imaji konyol itu. Sambil tetap menatap Eunhyuk, gadis itu bersuara, “Selamat D-1 ulang tahun, H-hyukjae ssi.”

“Selamat D-1 ulang tahun.”

Selamat D-1 ulang tahun!? Jiyoo memaki dirinya sendiri sambil memandang cermin di toilet. “Bodoh bodoh bodoh!”

Entah dari mana Jiyoo mendapat ilham untuk mengucapkan kalimat aneh seperti itu di depan Eunhyuk, tapi jelas ia sudah berhasil memberikan penghiburan pada semua orang. Bahkan Haneul juga menahan senyum gara-gara kebodohannya.

Rasanya Jiyoo tak sanggup kembali ke ruangan itu. Rasanya ia ingin mengubur dirinya di lubang semut. Rasanya… Jiyoo tak akan melupakan ketololannya ini.

Eunhyuk juga pasti sedang tertawa dengan puas. Jiyoo menggigit bibir. Ia sudah berusaha untuk tidak bersikap canggung di depan lelaki itu. Mungkin bisa dikatakan berhasil. Jiyoo tidak terlihat canggung di depan Eunhyuk.

Jiyoo hanya terlihat bodoh.

Jiyoo membasuh wajahnya dengan air yang mengalir. Dengan terburu-buru ia mengusap seluruh bagian wajahnya dengan tisu. Kalau perlu, rasanya Jiyoo bisa menenggelamkan dirinya di wastafel ini karena malu.

Perlu kekuatan ekstra untuk benar-benar memantapkan langkah kembali ke ruangan itu. Tanpa diduga dan diharapkan, Jiyoo masih memiliki kekuatan ekstra itu. Jadi ia kembali ke sana dan menemukan Eunhyuk sedang duduk sendirian.

“Haneul eonni ada di mana?” tanyanya. Jiyoo menoleh ke sekeliling, mencari sosok gadis lain yang identik dengan warna jingga itu.

Eunhyuk memandang ke arah pintu. “Pergi bersama Sungmin untuk mengambil kue.”

Jiyoo langsung merasa mendapat serangan jantung. Ia lupa bahwa kakaknya yang satu itu juga pasti menjadi bagian dalam konspirasi besar-besaran ini. Dan sepertinya Jiyoo mulai bisa membaca ke mana arah tujuan rencana mereka; membuatnya dan Eunhyuk hanya berdua di malam ulang tahun lelaki itu.

“Duduklah,” ucap Eunhyuk. Lelaki itu bergeser sedikit, menyediakan tempat di sampingnya untuk Jiyoo.

Kedua mata Jiyoo mengerjap. Bukankah tempat ini cukup luas dan ia bisa memilih untuk duduk di mana saja selain di samping lelaki itu?

Mungkin memang kebodohan pertama adalah awal dari kebodohan-kebodohan lainnya. Bukannya duduk di tempat lainnya, Jiyoo justru memilih tempat yang sudah disediakan Eunhyuk.

Keduanya duduk berdampingan, namun tak ada satu pun dari Eunhyuk atau Jiyoo terlihat nyaman. Atmosfer canggung yang tebal menaungi mereka. Jiyoo memandang sekeliling tanpa benar-benar fokus pada satu obyek sementara Eunhyuk sesekali mengintip wajah gadis itu dari balik bulu matanya.

Eunhyuk berdeham, “Apa… Bagaimana kabarmu?”

Jiyoo tersentak, terlanjur tak menduga akan diajak bicara oleh lelaki itu. Tadinya ia siap menutup mulut hingga orang lain datang ke ruangan ini. Jiyoo menyahut, “Baik. Aku baik-baik saja. Kau?”

“Sepertinya sama.”

Percakapan singkat, bertukar kabar, lalu kemudian tak ada lagi yang bisa dibicarakan keduanya. Eunhyuk menyandarkan punggung ke sandaran sofa, melipat kedua tangannya dan menggerak-gerakkan kakinya dengan sembarangan. Lelaki itu tak bisa diam. Ia akan melakukan apa saja untuk sekedar mengenyahkan aura canggung yang menyebalkan ini.

Jiyoo menyadari gerakan-gerakan kecil Eunhyuk di sampingnya. Ia tahu, tapi mencoba mengabaikannya. Salah satu kelebihan yang selalu dibanggakannya adalah untuk bisa tetap duduk diam di situasi seaneh apapun.

Termasuk untuk situasi seperti ini.

“Bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Eunhyuk lagi.

Jiyoo berhasil menyamarkan raut keterkejutannya. “Seperti biasa. Kegiatan laboratorium, belajar di kelas, berkencan dengan kertas-kertas.”

Tak ada kemajuan. Justru penurunan kuantitas percakapan. Hanya pertanyaan dan jawaban, lalu selesai. Eunhyuk memaki dalam hati. Bukan ini yang diharapkannya.

“Aku tidak tahu kau akan datang,” gumam lelaki itu.

Jiyoo menyahut tak kalah pelan, “Aku sendiri juga tidak tahu.”

Eunhyuk tertawa, membuat Jiyoo merasa bertanya-tanya apakah ia pernah mendengar suara tawa yang semerdu itu. “Pasti semua orang berhasil menjebakmu.”

“Begitulah.” Jiyoo mengingat tingkah menyebalkan semua orang di dormnya. Bahkan Haneul tega meninggalkannya disini, dengan suasana yang luar biasa canggung bersama Eunhyuk.

“Mana hadiahku?”

“Ck, kan tadi sudah kubilang, ini belum tanggal 4.”

“Jadi kau memang punya hadiah untukku?”

Jiyoo mengerutkan kening. “Jadi kau pikir aku tidak menyiapkan apa-apa?”

Eunhyuk menggeleng. “Aku tahu kau menyiapkan sesuatu. Tapi seharusnya aku memberikan sesuatu lebih dulu. Aku tidak bisa memberikan hadiahmu sekarang. Aku tidak tahu kau akan datang.”

“Hadiah?”

“Untuk ulang tahunmu kemarin,” jawab Eunhyuk. Jiyoo hanya mengangguk-angguk paham, membuat lelaki itu penasaran. “Kau tidak mau menerima hadiahmu?”

“Mana?”

“Kan sudah kubilang, aku tidak–“

Jiyoo memotong dengan cepat, “Aku tahu kau membawanya.”

“Darimana kau tahu?” Eunhyuk berdecak kesal. Ia merogoh saku bagian dalam jaketnya, mengeluarkan kantung kain yang diikat dengan pita perak. “Ini.”

Jiyoo tersenyum puas. Tentu saja ia tahu. Perasaannya selalu menjadi tajam ketika berkaitan dengan lelaki itu. Rasanya sedikit ironis, mengingat tak seharusnya perasaannya setajam ini.

Eunhyuk sendiri juga memberi nilai tinggi untuk dirinya sendiri kali ini. Percakapan panjang, mendekati perdebatan. Dan tentu saja menyenangkan.

“Apa ini?” Pertanyaan Jiyoo membuat Eunhyuk memalingkan wajah pada gadis itu. Jiyoo sudah membuka hadiahnya. Gadis itu mengeluarkannya dari kantung, menunjukkan benda berkilau yang dipegangnya.

“Kau tidak tahu? Itu namanya gelang kaki,” sahut Eunhyuk santai.

Jiyoo mengerjap. “Untuk apa?”

“Untuk dikenakan di kakimu,” jawab Eunhyuk lagi. Ia kemudian menggerutu dan buru-buru merebut gelang kaki perak dari tangan Jiyoo. “Sebenarnya kenapa kau jadi hilang ingatan begini? Seperti baru pertama kali melihat gelang kaki.”

“Bukan begitu! Aku bertanya, apa maksud dan tujuan dari pemberian gelang kaki ini,” kata Jiyoo. Ia mengernyitkan kening ketika Eunhyuk berlutut di lantai, meraih kaki kanan Jiyoo dan memasangkan gelang kaki itu di sana. “Apa yang kau lakukan?”

“Memasang gelang kaki di kakimu.”

Jiyoo menelan ludah. Samar-samar ia melihat rantai berwarna perak melingkari pergelangan kakinya. Rantai itu membentuk untaian yang terjalin rapi dengan tiga bandul berupa huruf alphabet. Y, O dan O. Yoo.

Eunhyuk melirik gadis itu dan pura-pura tak menyadari ke mana arah tatapan Jiyoo. “Bukankah seharusnya kau mengatakan sesuatu?”

“Oh…” Seakan baru tersadar, Jiyoo mengulum senyum. “Terima kasih.”

8:28 PM

“Mereka mengambil kue di Eropa ya!?”

Eunhyuk menggerutu. Sudah lebih dari 30 menit Sungmin dan Haneul berangkat dari tempat ini dan tak satu pun dari kedua orang itu memberi kabar. Eunhyuk tahu maksud mereka melakukan ini; membuatnya dan Jiyoo berada dalam satu ruangan selama mungkin.

Dan mereka sudah berhasil. Eunhyuk nyaris mengenyahkan seluruh kecanggungan yang tadinya menyelimutinya dan Jiyoo. Saat ini bahkan bukan kecanggungan lagi yang menyapa mereka, tapi rasa lain yang mendesak.

“Aku lapar…” gumam Jiyoo, entah untuk yang keberapa kalinya.

Eunhyuk memandang gadis itu. “Ayo keluar, kita makan saja di restoran dekat sini.”

“Tidak boleh. Haneul eonni sudah pesan kue dan banyak makanan untuk hari ini,” sahut Jiyoo lirih.

“Kalau begitu, kita main saja!” seru Eunhyuk tiba-tiba. Ia tampak berpikir, alisnya mengernyit. “Truth or Dare!”

Jiyoo mengerjap bingung. Kenapa dari seluruh permainan di dunia, Lee Hyukjae memilih Truth or Dare?

“Karena ada beberapa hal yang harus dijawab tanpa berbohong,” jawab Eunhyuk tanpa benar-benar sempat ditanya. Lelaki itu tersenyum lebar. “Siapa yang mulai pertama?”

“Batu kertas gunting!” Jiyoo berseru, memasang kuda-kuda untuk suit. Eunhyuk melakukan hal yang sama. Gadis itu kembali berseru karena menang. “Yeay! Jah… Lee Hyukjae, truth or dare?”

Eunhyuk mendesah. “Dare.”

“Ohoo~ Di koridor depan pintu ini, lakukan push-up 28 kali sambil berteriak ‘Lee Hyukjae, saeng-il chukhahae’!” ujar Jiyoo cepat. Ia mengabaikan tatapan tak percaya dari Eunhyuk. “Ayo cepat~”

“Ck… kukira tadi ada yang benar-benar kelaparan dan bosan,” sindir lelaki itu. Jiyoo tersenyum bak malaikat. Mau tak mau, Eunhyuk bangkit dari sofa, meninggalkan Jiyoo yang akhirnya justru mengekor di belakangnya.

Koridor itu tak tampak ramai, tapi juga tak bisa dikatakan sepi apalagi lengang. Eunhyuk menarik napas panjang. Ia sempat menoleh ke belakang, memberi tatapan tajam pada Jiyoo yang mengintip dari balik pintu.

Jiyoo nyaris histeris saat Eunhyuk mengambil posisi push-up. Ia mulai berhitung. Satu… dua… tiga… hingga 28. Ketika Eunhyuk menyelesaikan push-upnya, lelaki itu berteriak, “Lee Hyukjae, saeng-il chukhahae!”

Tawa Jiyoo meledak. Ia buru-buru menjauh dari pintu ketika Eunhyuk masuk dengan wajah merah menahan malu. Jiyoo bertepuk tangan. “Hebat!”

“Hebat apanya!?”

“Truth or dare?” Eunhyuk mendapat gilirannya sekarang. Ia tersenyum geli melihat kening Jiyoo yang mengernyit, berpikir keras.

Jiyoo mengendikkan bahu. “Truth! Aku menolak segala tindakan yang tidak sesuai dengan hukum kemanusiaan.”

“Bilang saja kau terlalu takut dengan tantanganku,” ejek Eunhyuk. Namun Jiyoo tak terprovokasi. Gadis itu tampak santai dan mengabaikan ejekan Eunhyuk sepenuhnya. Eunhyuk mendesah. “Baiklah…”

“Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan, aku bisa menjawab semua pertanyaan dengan jujur, tanpa berdusta,” sahut Jiyoo bangga.

Eunhyuk sama sekali tak bermaksud untuk memikirkan pertanyaan lain. Ada satu hal yang selalu membuatnya tak tenang setelah berpisah dari gadis itu. Ia menyusun kata-kata dalam pikirannya, berusaha membuatnya agar tak terdengar seperti seorang mantan kekasih yang putus asa.

Lelaki itu berdeham pelan dan menarik napas. “Apa ada lelaki yang sedang dekat denganmu? Apa ada lelaki yang berusaha mendekatimu di kampus? Di dorm? Apa ada lelaki yang sudah berhasil menarik perhatianmu saat ini?”

Jiyoo mengerjap berkali-kali. “Apa?”

“Kau dengar pertanyaanku. Jawab!”

Gadis itu tak percaya Lee Hyukjae akan menanyakan hal ini. Jadi tantangan Dare yang tadi dilakukannya hanya ditukar dengan pertanyaan-pertanyaan muluk seperti itu? Jiyoo tak mengerti apa yang sedang dipikirkan Eunhyuk.

“Kalau kau tidak menjawabnya, kau harus melakukan Dare dariku. Aku berani menjamin–“

“Tidak ada.” Jiyoo menjawab dengan santai. “Jawaban dari semua pertanyaanmu itu hanya satu. Tidak ada. Aku tidak sedang tertarik dengan lelaki mana pun dan tidak ada lelaki lain yang sedang mendekatiku. Sudah, kan?”

Eunhyuk buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia harus melihat apa pun kecuali gadis di sampingnya ini. Dan berkat pertanyaan bodoh yang dilengkapi dengan tingkah konyolnya, aura canggung itu kini kembali menyelimutinya dan Jiyoo.

“HYUK!”

Yang dipanggil secara otomatis melayangkan pandangannya ke arah pintu. Pun dengan Jiyoo yang mengikuti arah suara. Keduanya dibuat semakin canggung dengan kedatangan orang lain. Tambahan, orang lain itu berwujud Lee Donghae.

Lee Donghae yang sedang tersenyum lebar dan terlihat bodoh.

“Kukira kau sendirian di sini,” ujarnya senang. Donghae melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “Sebentar lagi jam 9. Sebagian besar sedang berada di jalan, jadi pasti mereka akan tiba di sini dengan cepat.”

Jiyoo beringsut, menggeser tubuhnya agak menjauh dari Eunhyuk. “Kalau begitu, aku akan menunggu Haneul eonni di luar saja.”

“Kenapa~?” Donghae mengeluarkan suara merajuk. “Di sini saja. Hyukjae juga tidak akan kemana-mana. Omong-omong, kenapa kalian tidak pesan apa pun? Aku lapar!”

Tanpa menunggu respon, Donghae menekan interphone, memanggil pelayan dan memesan makanan kecil yang ada di tempat karaoke itu. Sementara satu orang sibuk memilih menu makanan kecil, dua orang lainnya duduk dalam diam. Jika Jiyoo dan Eunhyuk terus seperti ini, tak akan ada orang yang percaya bahwa keduanya baru saja bermain Truth or Dare dengan akrab.

Donghae menoleh bergantian ke arah Jiyoo dan Eunhyuk. “Kalian hanya berdua saja?”

“Bagaimana kelihatannya, Lee Donghae yang pintar?” sahut Eunhyuk.

“Ah… jadi–“

“KAMI DATANG!” Pintu terbuka, disusul dengan orang-orang yang menyerbu masuk. Sungmin dan Haneul berada di depan, seolah sedang memimpin kelompok besar orang yang akan berperang. Member Super Junior, minus Leeteuk, Heechul, Hangeng dan Kibum, terlihat lengkap. Ditambah dengan orang-orang lain, wajah yang lama dan yang baru, membentuk kerumunan di balik punggung member SJ.

Jiyoo mendadak kesulitan menggunakan paru-parunya untuk bernapas. Hampir 20 orang berada di ruangan yang sekarang tak lagi terlihat luas. Perutnya seakan diremas-remas. Ia ingin kabur saja dari sini.

“Kau akan tetap di sini, kan?” Eunhyuk seperti dapat membaca pikiran Jiyoo. Ia tak menatap gadis itu, hanya tersenyum ke arah tamu-tamu yang baru saja datang. Tapi Jiyoo tahu Eunhyuk sedang berbicara dengannya.

Dengan terpaksa Jiyoo mengangguk lemah.

11:23 PM

Suasana di ruangan VVIP tempat karaoke itu kacau. Jiyoo menyimpulkan. Bukannya sejak tadi tidak terlihat kacau, tapi sepertinya keadaan malam yang semakin larut berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kekacauan di tempat ini.

Beberapa orang masih bernyanyi, entah lagu apa. Beberapa orang lainnya tak berhenti mengunyah kue, makanan kecil dan ayam goreng yang dibawa Sungmin. Sisanya hanya membentuk kelompok sendiri dan mengobrol setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada Eunhyuk.

Jiyoo mendengus. Padahal tanggal 4 juga belum tiba, tapi orang-orang ini berlomba-lomba melontarkan ucapan pada Eunhyuk. Lelaki itu pun tampak tak begitu peduli. Tanggal 4 hanya tinggal hitungan jam, katanya.

“Ternyata kau berhasil dijebak ya?” Jiyoo menoleh, mendapati Kyuhyun menjatuhkan diri di sofa. Ia menyodorkan botol wine. “Mau?”

Sambil menghela napas, Jiyoo mengangguk. Tentu saja Kyuhyun menuangkan wine dengan penuh semangat. Selama Jiyoo menjadi kekasih Eunhyuk, gadis itu tak pernah diijinkan meneguk wine, apalagi soju atau bir.

Jiyoo menghirup aroma wine dari gelas kaca berleher panjang di tangannya. Aromanya manis. Ia tergoda untuk menenggaknya sedikit. Dan ia melakukannya. Bukan hanya sedikit, tapi segelas penuh.

Jiyoo bahkan menyodorkan kembali gelasnya yang sudah kosong. “Lagi.”

Kyuhyun menurut dan menuangkan cairan wine ke dalam gelas Jiyoo dan mengisi gelasnya sendiri. Keduanya bersulang dengan menyentuhkan dinding gelas masing-masing hingga menimbulkan denting pelan.

Ya! Siapa yang mengijinkanmu untuk minum itu!?” seruan Eunhyuk membuat kepala Kyuhyun dan Jiyoo berpaling dengan cepat. Keduanya tersenyum lebar. Eunhyuk makin kesal. “Cho Kyuhyun, cepat pergi dari sini!”

“Iya, iya~” cibir Kyuhyun. Lelaki itu meninggalkan sofa sambil membawa botol wine sambil diawasi oleh kedua mata Jiyoo. Sepertinya Jiyoo akan lebih senang jika Kyuhyun meninggalkan botol itu di meja.

Eunhyuk merebut gelas Jiyoo. “Haneul bisa memarahimu kalau tahu kau minum ini.”

“Aku haus…” ujarnya. Jiyoo kemudian teringat sesuatu. Ia buru-buru menghampiri Haneul, merogoh sesuatu dari tas gadis itu dan kembali pada Eunhyuk. “Ini hadiahmu!”

Kedua mata Eunhyuk mengerjap heran. Ia sedang melihat kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna ungu, lengkap dengan pita yang berada di atasnya. Tanpa menunggu lagi, Eunhyuk meraih kotak itu, membuka ikatan pitanya dan melihat sesuatu yang ada di dalamnya.

Eunhyuk terperangah. Sebuah jam saku berwarna perak. Jarum detiknya bergerak, menghasilkan suara detak yang teratur. Jam saku itu memiliki rantai panjang dengan warna yang sama. Terukir Roskopf di salah satu tepi lingkarannya. Setahu Eunhyuk, merek yang berasal dari Swiss itu cukup dikenal di kalangan penggemar barang antik.

“Jam saku?” tanyanya.

Saat ia hendak menanyakan maksud hadiah itu pada Jiyoo, ia melihat Jiyoo bersandar dengan kedua mata tertutup. Eunhyuk benci berspekulasi tentang hal ini, tapi kelihatannya gadis itu mabuk gara-gara segelas wine.

Aish… Cho Kyuhyun!”

Mianhaeyo, oppa. Aku sama sekali tidak mengawasi anak ini dan tidak tahu dia sempat minum alkohol,” Haneul berjalan lambar, menyesuaikan dengan langkah Eunhyuk yang pelan karena menggendong Jiyoo di punggungnya. “Aku akan memarahinya nanti.”

Eunhyuk menggelengkan kepala. “Marahi saja Cho Kyuhyun. Jiyoo memang yang minta wine, tapi Kyuhyun juga sama sekali tidak melarangnya.”

Haneul tetap menunjukkan raut wajah bersalah sementara dari kejauhan ia berhasil menemukan mobil Sungmin. Gadis itu menunjukkan jalan pada Eunhyuk dan membukakan pintu belakang mobil. Eunhyuk menurunkan Jiyoo dari punggungnya perlahan-lahan sebelum merebahkan diri di samping gadis yang sudah sepenuhnya tak sadarkan diri itu.

Sungmin mengemudikan mobil, melesat memotong jalanan sepi daerah Hongdae menuju dorm para gadis.

Dorm – 00:34 AM

“Seumur hidup, kau tidak boleh lagi minum alkohol!” gerutu Eunhyuk saat melewati ruang tamu, menyusuri koridor yang berujung pada kamar Jiyoo. “Kalau bisa, seumur hidup, kau juga dilarang bergaul dengan Cho Kyuhyun lagi!”

Eunhyuk membuka pintu kamar Jiyoo dengan susah payah. Jika punya waktu untuk merenung, ia akan menikmati aroma Lavender dari pewangi ruangan. Bahkan mungkin, jika bisa, ia akan menggeledah kamar ini hanya untuk sekedar menemukan jejak-jejak kebersamaannya dan gadis itu.

Hingga saat Jiyoo bergumam tak jelas di telinganya, imaji Eunhyuk terhenti. “Lee… Hyukjae… Ya!”

“Ah, wae? Diamlah,” ujar Eunhyuk. Ia melangkah menuju ranjang dengan mengabaikan rasa penasarannya yang lain. Dengan hati-hati ia menurunkan Jiyoo, membuat gadis itu berbaring dan langsung meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Eunhyuk mendesah seraya menarik selimut dari bawah kaki Jiyoo. Lelaki itu menyelimuti tubuh Jiyoo sambil menggerutu, “Kalau tidak ada aku, siapa yang akan menyelimutimu seperti ini?”

“Kau…”

Eunhyuk tercengang, tak percaya pada sebuah kata sederhana yang baru saja meluncur dari bibir gadis itu. Tentu saja ia akan menganggap Jiyoo sedang meracau. Namun tetap saja rasanya Eunhyuk ingin memercayai gumaman tak jelas itu sebagai suatu pernyataan yang menyenangkan.

Dengan tatapan lembut Eunhyuk memandangi wajah Jiyoo. “Kau tahu kenapa aku memberimu gelang kaki?”

Jiyoo tak bergeming. Hanya tarikan napasnya yang tetap teratur sementara kesadarannya telah hilang sejak tadi.

“Supaya kau, yang terbiasa menjadi bayanganku, selalu bisa kutemukan. Kau lebih suka menjadi bayangan Lee Hyukjae, kan? Tapi terkadang aku juga perlu tahu dimana dirimu saat kau tak lagi ada di belakangku. Gelang kaki itu mengeluarkan suara gemerincing pelan kalau kau bergerak. Gemerincing pelan itu akan menuntunku untuk tetap bisa menemukanmu.

“Tapi kau kejam.” Eunhyuk mengeluarkan jam saku perak yang menjadi hadiahnya. “Jam saku ini… apa kau ingin memberitahuku kalau waktu yang sudah berlalu sama sekali tidak bisa diputar lagi? Apa kau ingin aku tahu kalau waktu kita sudah berlalu tanpa bisa diulang?”

Babo oppa,” suara decakan yang dikenal Eunhyuk membuat lelaki itu menoleh. Hyori melipat tangan di depan dada dan mendongak mengintip Jiyoo yang tertidur. “Aigooo… pertama kali bersama setelah putus, oppa langsung membuat Jiyoo mabuk?” Hyori menggeleng-gelengkan kepala. “Ah, tebakan oppa tadi salah besar.”

“Soal ini?” Eunhyuk mengangkat jam saku dalam pegangannya.

“Itu jam ajaib. Jiyoo pesan langsung dari temannya di Swiss,” ujar Hyori. Ia menyambar jam saku dari tangan Eunhyuk. “Kalau sekrup kecil di atasnya ini diputar berlawanan dengan arah jarum jam, jam itu akan berjalan mundur. Ajaib, kan? Jadi anggapan kalau waktu tidak bisa diputar kembali terpatahkan dengan keberadaan jam seperti ini.”

Eunhyuk terhenyak, memandangi jarum jam yang bergerak mundur. Jam saku ini ajaib. Jam saku ini istimewa. Apa yang ingin disampaikan Jiyoo melalui hadiah ini?

“Mungkin saja Jiyoo ingin kembali ke waktu ketika dia belum mengenal oppa dan hidup dengan lebih tenang,” ejek Hyori. Sebelum Eunhyuk sempat melirik tajam, gadis itu sudah tersenyum jahil sambil menunjukkan aegyo gagalnya dan kabur.

Tatapan Eunhyuk beralih pada si gadis tidur. Bibir gadis itu bergerak-gerak. Jiyoo kembali menggumamkan kata-kata aneh dalam racauannya.

“Hei, Choi Jiyoo,” panggil Eunhyuk. Jiyoo menyahut dengan suara pelan. Lelaki itu tersenyum. “Tirukan aku, truth or dare?”

Jiyoo bergumam, mengulang kata-kata Eunhyuk, “Teeeerut or der…”

“Dare,” jawab Eunhyuk mantap. “Karena kau tidak bisa menyuruhku macam-macam, aku akan melakukannya sendiri. Aku akan menunjukkan apa yang ingin kulakukan saat ulang tahunmu kemarin.”

Eunhyuk mendekat, mencondongkan tubuh ke arah Jiyoo. Dengan debaran jantung yang tak teratur, ia mengecup kening gadis itu. Lembut, hangat dan lama. Manis.

“Selamat ulang tahun…”

4 April – 10:24 AM

“Kau tahu kenapa aku memberimu gelang kaki?”

“Supaya kau, yang terbiasa menjadi bayanganku, selalu bisa kutemukan. Kau lebih suka menjadi bayangan Lee Hyukjae, kan? Tapi terkadang aku juga perlu tahu dimana dirimu saat kau tak lagi ada di belakangku. Gelang kaki itu mengeluarkan suara gemerincing pelan kalau kau bergerak. Gemerincing pelan itu akan menuntunku untuk tetap bisa menemukanmu.”

“Selamat ulang tahun…”

Jiyoo berbaring di ranjangnya dengan kedua mata terbuka. Ia mengingat semua ucapan Eunhyuk semalam. Setiap kata yang keluar dari bibir Eunhyuk, bahkan detil gerakan kecil yang membuat Jiyoo merasakan udara panas menyeruak dari tubuhnya. Lelaki itu mengecup keningnya.

“Coba saja kau minum wine atau minuman beralkohol lainnya lagi, eonni akan langsung menelepon Choi ajumma!” Haneul mengomel sambil membawakan nampan dengan cangkir berisi teh hijau hangat.

Jiyoo meringis, “Eomma bisa membunuhku, eonni.”

“Biar saja. Akan kubilang kalau kami tidak sanggup mengawasimu,” ancam Haneul. “Bukankah kau yang paling paham tentang minuman seperti itu, berapa kadar alkoholnya, dan apa saja sisi negatifnya!?”

“Wine, yang semalam itu semacam sweet dessert wine, jadi sekitar 9 – 14% alkohol?” jawab Jiyoo lugu.

Haneul melotot. “Aku tidak sedang memberi ujian pangan padamu, Baby J…” Ia tak bisa meneruskan omelannya karena Jiyoo membentuk huruf V dengan kedua tangannya. “Sudah bilang terima kasih pada Hyukjae oppa?”

Jiyoo mengambil cangkir tehnya, menyesap isinya sesaat kemudian menggeleng.

“Anak ini…” tegur Haneul ringan. “Sudah mengucapkan selamat ulang tahun?”

Lagi-lagi Jiyoo menggeleng. “Akan kulakukan nanti. Lagipula malam ini aku harus mengambil sesuatu di dorm oppadeul.”

“Apa?”

“Entahlah,” Jiyoo mengangkat bahu santai. Ia kembali menenggak tehnya. “Mungkin hadiah ulang tahunku.”

SJ dorm – 10:12 PM

Pintu depan berwarna putih itu tertutup rapat. Jiyoo yakin sekali tak ada seorang pun dalam dorm ini. Sudah hampir dua jam ia menunggu di depan pintu. Nyaris 30 kali ia menekan bel tanpa ada yang menyahut melalui intercom.

Jadi apa maksudnya para lelaki ajaib itu memanggilnya kemari!?

Saat Jiyoo berusaha menghubungi salah satu dari mereka, jawabannya sama; Tunggulah sebentar lagi. Kami akan segera pulang.

Jiyoo tak punya pilihan lain selain menunggu. Ia sendiri heran kenapa ia begitu penurut pada lelaki-lelaki jahil itu. Bisa saja mereka sedang mengerjainya. Bisa saja mereka lupa telah membuat seorang gadis muda menunggu seperti ini.

“Jiyoo?”

Suara berat itu membuat Jiyoo mendongak. Ia melihat Eunhyuk menghampirinya. Raut wajahnya penuh rasa heran dan terkejut.

“Aku menunggu oppadeul,” ujar Jiyoo. Ia melirik pintu yang sama sekali tak terbuka. “Kurasa sedang tidak ada orang di dalam.”

“Lalu kenapa kau tidak pulang saja?”

Jiyoo menggelengkan kepala lemah. “Tidak bisa. Mereka menyuruhku untuk menunggu.”

“Kalau begitu, tunggu saja di dalam.” Eunhyuk menekan nomor kombinasi yang menjadi password dormnya. Setelah terdengar bunyi klik, pintu terbuka. Eunhyuk bergeser ke samping, memberikan ruang agar Jiyoo bisa masuk lebih dulu. “Kepalamu tidak sakit?”

“Eh?”

Eunhyuk mencibir, “Bukankah kemarin kau mabuk?”

“Sedikit. Haneul eonni memberikan teh hijau hangat untuk menyembuhkan sakit kepalaku, tapi ditambah dengan omelan panjang yang memperparah keadaan mentalku,” sahut Jiyoo asal. “Yang semalam… maaf merepotkanmu.”

“Tidak bisakah kau mengucapkan terima kasih saja? Atau setidaknya selamat ulang tahun,” tegur Eunhyuk. “Hanya kau yang belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku hari ini.”

Jiyoo tersenyum puas. “Kau menungguku ya?”

Ya, dwasseo. Aku yang salah karena sudah berharap lebih padamu,” omelnya.

“Tanggal 4, kan, belum berakhir,” ujar Jiyoo. Ia melirik jam dinding di dekat dapur. “Aku akan mengucapkannya sebelum jam 12 malam ini.”

Eunhyuk mencibir, bergumam kesal dengan suara pelan. Tapi dalam hati ia bersorak. Jika Jiyoo akan mengucapkannya sebelum jam 12 malam ini, apa itu tandanya gadis ini akan terus berada di sini hingga nanti?

Tiba-tiba saja Eunhyuk berharap semua membernya tidak pulang malam ini.

11:23 PM

Ya, aku lapar~”

Jiyoo menoleh, menatap Eunhyuk yang menunjukkan raut wajah menyedihkan. Gadis itu mendesah. “Ayo makan ramyeon di luar.”

“Kau serius?”

“Aku juga lapar. Tapi aku tidak mau makan disini,” sahutnya santai.

Jiyoo berjalan di depan, melewati pintu depan dan langsung memasuki lift yang membawanya dan Eunhyuk turun ke lantai bawah. Langkah kakinya terasa ringan. Pun dengan suasana hatinya yang baik karena angin malam membelai wajahnya.

Keduanya memutuskan untuk masuk ke sebuah toko 24 jam. Jiyoo mengambil dua bungkus ramyeon instan dan mendidihkan air. Eunhyuk sendiri hanya berkeliling, mencari minuman dan susu stroberi untuknya dan Jiyoo.

“Sudah kubayar!” seru Jiyoo saat Eunhyuk mendekat ke penjaga mesin kasir.

Eunhyuk tersenyum simpul dan buru-buru membawakan dua ramyeon dalam cup yang sudah berisi air panas. Lelaki itu mengikuti langkah Jiyoo. Melihat punggung gadis itu dari belakang rasanya tak menyenangkan. Eunhyuk merasa kesepian.

Apa ini yang dirasakan gadis itu tiap kali melihat punggungnya dari belakang?

Jiyoo memilih bangku kayu panjang di taman dekat dorm Eunhyuk. Tak banyak orang di sekitar sini. Hanya beberapa pejalan kaki yang ketinggalan bis atau orang-orang yang hanya sekedar berkeliaran di jalan, persis seperti dirinya dan Eunhyuk saat ini.

“Selamat makan!” seru Jiyoo pelan. Ia mengaduk mienya sebelum memasukkannya dalam mulut.

Eunhyuk melakukan hal yang sama walaupun tak sesemangat Jiyoo. Padahal tadi dirinya-lah yang mengeluh kelaparan. Rasanya melihat Jiyoo yang makan dengan lahap bisa membuatnya sedikit kenyang. Mungkin.

Atau mungkin justru rasa penasaran yang membuat Eunhyuk tak bisa menelan makanannya?

Menjadi bayangan seseorang pasti tak menyenangkan. Mengikuti seseorang dari belakang, melindungi orang itu tanpa memikirkan apa orang itu mengetahuinya. Bagaimana rasanya?

“Kau tidak makan?” tanya Jiyoo dengan mulut yang masih mengunyah. “Kau bilang kau lapar?”

Eunhyuk mengangguk, tersenyum singkat dan buru-buru melahap makanannya. Keduanya makan tanpa suara. Jiyoo juga kehilangan topik pembicaraan dan Eunhyuk sendiri tak bisa fokus pada apapun saat ini.

“Hei,” panggil Eunhyuk tiba-tiba. Jiyoo menoleh, meletakkan cup yang hanya berisi kuah ramyeon. Eunhyuk menggeletakkan sumpitnya, memutuskan untuk berhenti makan. “Permainan kita belum selesai.”

“Hm?” Jiyoo mengerjap bingung sebelum mengerti maksud Eunhyuk. “Ah… truth or dare? Giliran siapa sekarang?”

“Kau. Truth or dare?”

“Dare.”

Eunhyuk tersenyum kecil. “Bagaimana ini? Kau harus melakukan sesuatu yang memalukan sekarang.” Ketika raut wajah Jiyoo berubah panik, Eunhyuk tertawa. “Tidak bisa berubah!” Kemudian ia berdeham dan melirik jam tangannya. “Hampir jam 12. Hari ulang tahunku sudah hampir berakhir. Sekarang… lakukan sesuatu yang bisa mewakili ucapan selamat ulang tahunmu untukku!”

Jiyoo tampak berpikir sambil menggaruk tengkuknya. Matanya melirik kanan-kiri, memastikan bahwa orang-orang di sekitar mereka memang tak akan peduli dengannya. Karena sesuatu yang akan dilakukannya bermodalkan kenekatan tingkat tinggi.

Tapi sejujurnya, ia juga menunggu kesempatan ini.

“Berdirilah,” perintahnya.

Eunhyuk menurut. Ia berdiri tepat menghadap Jiyoo dan menunggu apa yang akan dilakukan gadis itu di taman saat tengah malam seperti ini. Mungkin gadis itu akan berteriak atau mungkin juga melakukan tarian ulang tahun atau mungkin…

Jiyoo berjinjit, mendekatkan tubuhnya ke arah Eunhyuk dan mengecup pipi lelaki itu sambil berbisik, “Selamat ulang tahun.”

Rasanya seperti sedang berada dalam pesawat, telingamu berdengung tanpa bisa mendengarkan suara apapun. Eunhyuk merasakan hangatnya kulit Jiyoo di atas kulitnya sendiri. Ia bahkan bisa mencium aroma menyenangkan dari pelembab wajah yang digunakan gadis itu.

Tapi semua itu tak berhasil menyaingi bisikan Jiyoo. Sebuah bisikan selamat ulang tahun yang menggelitik kulitnya.

“Giliranmu,” ujar Jiyoo, mengembalikan Eunhyuk dari euphoria pertama di umur barunya. “Truth or dare?”

Eunhyuk masih bergeming sebelum berbisik, “Truth. Apapun yang ingin kau tanyakan, tanyakan padaku sekarang.”

“Sekarang… saat ini… apa kau bahagia?”

“Kenapa harus saat ini saja? Kemarin? Besok? Kau tidak ingin menanyakannya?”

Jiyoo menggeleng sambil tersenyum samar. “Saat inilah yang penting. Kalau kemarin, kau tidak bersamaku. Kalau besok, kau juga belum tentu bisa bersamamu. Hanya saat ini saja yang bisa kuandalkan.”

Rasanya hangat… tapi sekaligus juga dingin dan membekukan.

Eunhyuk balas tersenyum. “Aku bahagia.”

“Terima kasih,” balas Jiyoo, “karena telah berbahagia. Tetaplah begitu. Selamat ulang tahun.”

The next day

“Mengecewakan…”

Jiyoo melirik tajam Donghae yang memberi komentar singkat. “Apanya!?”

“Kalian,” sahut Donghae. Ia menatap Jiyoo dan Eunhyuk yang sedang berada di dapur. “Kami sengaja meninggalkan kalian berdua supaya ada hal baik yang terjadi. Bukannya hanya makan ramyeon di taman dan bermain truth or dare. Dan setelah kejadian itu pun kalian tidak kembali menjadi sepasang kekasih? Itu yang mengecewakan.”

Jiyoo benar-benar menahan diri untuk tidak melayangkan sentilan manis untuk Lee Donghae. Tentu saja ia tahu jika member yang lain berusaha mencarikan waktu agar ia dan Eunhyuk bisa bicara hanya berdua. Ia tahu malam itu, tapi tetap dengan sukarela menjadi korban tipuan mereka.

Karena ia sendiri tak bisa dan tak ingin menolak untuk bersama dengan Eunhyuk walau hanya sejenak.

Eunhyuk sendiri hanya tersenyum. Jiyoo bersedia kembali mengunjungi dormnya, bertemu semua orang seperti sebelumnya. Rasanya semua itu sudah jauh lebih dari cukup.

Ya! Kenapa kau menunda ucapan ulang tahun sampai sebelum jam 12 malam tanggal 4? Aneh sekali. Semua orang berlomba-lomba mengucapkannya pada Hyukjae lebih awal,” gumam Sungmin.

Jiyoo tersenyum simpul sambil berdecak, “Karena itulah sisi istimewa dari Choi Jiyoo. Selalu ingin jadi yang berbeda.”

“Apanya yang berbeda?” sela Kyuhyun. “Kau hanya ingin menjadi orang terakhir yang mengucapkannya pada Lee Hyukjae ini, kan?”

Aish… Cho Kyuhyun oppa!”

Ya, ya, ya!” seru Donghae, menarik perhatian Jiyoo. “Truth or dare?”

“Ha?” Jiyoo melongo, terkejut dengan serangan mendadak dari Donghae. “Truth.”

Donghae tersenyum puas. “Apa kau pikir ada kemungkinan kalian bisa kembali bersama?”

“Itu…”

==================FIN==================

Check another present for Hyuk’s birthday by Yuli Pritania-ssi: HERE. :’)

Ini suda FIN, tamat yak. Saya gak bakal bikin kejelasan dari endingnya. Titik. xD

Eniweii, inilah pertama kalinya saya berusaha membangun kembali chemistry JiHyuk tanpa hawa-hawa galow. *claps claps*

Selamat menempuh tahun yang baru, Lee Hyukjae! Semoga langgeng sama umur yang baru sampai mencapai umur baru di tahun berikutnya. Amin. ^-^

Soal pingin jadi orang terakhir itu diambil dari kisah nyata. Based on real story from me. Hehehehe~ terima kasih suda jadi sumber inspirasi yang baik loh. Terima kasih suda jadi orang terakhir yang ngucapin selamat ulang tahun kemaren. xD

Enjoy! See ya around! ^-^

64 thoughts on “[JiHyukism] Truth or Dare

  1. JENG JENG!!!! AM I THE FIRST??????

    Yeah, all JiHyukism have to say thanks to me then for making JiHyuk comes back *pede jaya*

    Hmmm hmmm, apa yg salah Yoo sayaaaaaaaaang~~~~~~~ g ada yg salah sama sekali dgn tulisan Anda *mendadak formal*
    Aigoo, aku suka jamnya!!!! Bisa memutar balik waktu. Kukuku….

    Btw, pas baca hadiah buat Ji Yoo, aku mikirnya alasan LHJ itu “Karena itu akan menjadi rantai yg menahanmu agar tetap bersamaku. kakimu harus melangkah kemanapun aku pergi. Kau bayanganku, kan? Bagaimana bisa seorang manusia hidup tanap bayangannya?” *gw ngaco sumpah*

    Okeh, onniemu ini puas! Endingnya oke! Aku ttp nganggep jawabannya iya, secara sad ending itu haram dalam dunia tulis menulis *PLAK!*

    Aduh ya, Yoo, adik iparmu ini pergi dulu~~~ *baru nyadar kl gw adek ipar secara si Kyuhyun lbh muda drpd LHJ*

    • Eciyeeee~~~ pecinta Jihyuk ciyeee…. xD
      HA HA HA… salah tau eonn. Yang tadi baca tulisan eonni, jadi berasa yang ini banyak kurangnya. Feelnya kurang dijabarkan gara2 terbatas page. x’D *aku gasuka oneshot panjang2*

      EEEEHH! Kok kerenan alesan eonni!? Gak kepikiran tauuu.. Keyeeens. ;___; Tau gitu kemaren tanya eonni aja yak? xD
      Eii… tidak bisa. Ending harus tetap diabu-abukan. Biar seru (?)

      Adik ipar? =___= Iya juga ya. Bingung diliat status kita dari suami masing2 (?) *apaini* Kalo diliat dari kita, jelas chokyu itu kakak ipar. Tapi kalo diliat dari si hyukjae, dia jadi adek ipar yak. *blame LHJ for everything*

      MUUCIIIIH EONNI~ Buat hadiahnya, buat komennya. *cipok jauh*

  2. Oh astaga,, rsa’y aku pngn narik tngn Hyuk nd Yoo,, trz bwa k’gereja, manggil bpk pendeta, trz NIKAHIN. jajan, punya anak, bwakakakak🙂
    sumpahhh geregetan bc’y.
    ih aku pngn NIKAHIN mrka br2, ah frustasi.
    rsanya cmpur aduk, bhgia, sdih, kcwa, semua’y lah. Cho kyuhyun terimakash, krna dah ngbuat yoo mabuk, jd Hyuk ngntrn Yoo smpe k’kmrnya, ahahaha.
    Kado’y sma” sederhana, gelang kaki ma jam. tp mkna’y sngtlh bsr. pas bagian hyuk ngliat punggung yoo, nd yoo nyium pipi hyuk, itu bikin aku nangis😥 ah smga kdpn’y hubungn Hyuk ma Yoo tmbh mmbaik, dan tdk trsiksa stU sma lain. smga sllu BAHAGIA. JiHyuk SarangHae🙂 Jiyoo-ssi Gomawo ^^

    • HA HA HA~ silakan, monggo. Tapi besoknya kami langsung cerai *slapped* xD
      Kenapa sedih? Kenapa kecewa? :’)
      Amiiinn~ makasihh yaa.. ^-^

  3. apapun yg terjadi mau balikan atau ga itu keputusan eonni yg penting jgn menyiksa diri dan teruslah berbahagia🙂
    aku juga udah baca jihyuk karya yuli eonni yg bikin inget lg pas jihyuk di 2060🙂

  4. sebelumnya,,happy birthday lee hyukjae :*
    ini cerita termanis setelah jihyuk break..nyesekknya udah pergi entah kemana🙂 but still waiting for the ‘real’ ending~ yoo and poo harus bersama2 lagi *maksa* and they’ll be the sweetest couple🙂

    waiting the other JiHyukism story~~

  5. TAU BANGET DEH SAYA SIAPA YANG NGUCAPIN MET ULTAHNYA… HAHAHA.
    DIBOCORIN BOLEH GAK NIH /EH

    gini doooooong
    unyuuuuuuuuuuuuuuu
    meskipun digantung dengan kejam karena jawabannya gak dilanjutin /ngambek
    cie. kyuhyun udah berubah profesi jadi cupid ya ? unyu bets deh. haha

    sumpfah. author intelektual no.2 ini…. bener bener daebak. choi jiyoo jjang~~!!! \O// /aegyo
    gak jadi nebar skinship yang wuah banget nih ? hahaha.
    tumben haneul eonni jadi cerewet perhatian disini~ XDD
    doyan ah bacanya….😄

    • EH SHINHYO-NIM DUDUK MANIS AJA YAA~

      Kejam!? KEJAM!? Siapa yang kejaaaam!?
      Kan dia pingin bermanfaat buat dongsaeng-yoo sama hyuk. :3
      Saya males liat aeghyo. Muucih. Uda kenyang….🙂

      HEHEHEHE~ peran baru buat haneul eonni. Biar keyen, jadi ibu yang super protektip sama anak2nya. xD

  6. hahahaha JiHyuk is back! hiburan banget ini di tengah-tengah mid term test yang menggila -_-
    thank you shela-shi, and happy birthday lee hyuk jae :))

  7. oh yeaaah, saengil chukkae lee hyukjae kkk~ duh kayanya hyukjae bahagia banget ya disitu kkk
    eonnie, kenapa engga ada lanjutan lagi?? mereka belom balikan masa, padahal itu harapan aku loh di ultah hyukjae kali ini x.x
    ayoo eonnie adain lagi, ntar kalau aku kangen jihyuk siapa yg mau tanggung jawab (?)
    ahh ceritanya simpel, apik, enak. pokonya semua karyanya jiyoo eonnie daebak (y)
    SEKALI LAGI!! HAPPY BIRTHDAY URI MYEOLCHI <33

  8. ya ampun jihyuk ngapa jd pda kikuk bgtu… aigoooo bisanya kan unyu2 #plakkk hahaha
    tp yah seneng sm makna dr hadiah2nya… tp gk tau sih hadiah yg dr yoo maknanya apaan kan yoo gk ngoming langsung…

    kirain bkal pacalan lg tau nya masih gantung… okesipp aku nunggu aja kelanjutan kisah cibta jihyuk…

    dan yah… cho kyuhyun emang harus dijauhkan!!!!
    haha

    • Ah, suda waktunya untuk tak lagi unyu. x’D
      Iyah, hadiah jam itu belom diomongin langsung ama jiyoo. Nanti deh. HA HA HA~
      Pacalan? xD Cuteee~~~

  9. “slamat D-1 ulang tahun” wakakakakakakkk… kakak ga nyadar ngakak kenceng di kantor baca ini wakakakakakk…tulung -___-

    ntah lah…mau ngutuk kyuhyun ato mau muji niat tulus dia bikin jiyoo mabuk wakakakakkk..
    yang pasti usahanya sangat saiyah acungin jempol hahahah..

    jihyuk-nim, permainan truth or dare-nya kurang lama hahaha

    • Kakak kenapa ngakak?? xD xD xD
      Niat tulus? Niat tulus apa cobaaaa!? -___-
      Maennya uda gitu doang, kan uda pada dicium. Saling mengecup getooooh. xD

  10. Sebelumnya uda liat status yuli duluan yang katanya mau ngasih kado.
    Jadinya kemaren baca punya yuli duluan. Berbanding terbalik sih. Kalo di yuli kado nya testpack.

    Kalo disini… Hufftt. Sedih jg sebenernya. Pengen nya sih mereka balikan. Gue setuju ama yuli. Di FF sad ending haram. Makanya gue jg suka banget FF nya dy.

    Emm. MY nya ditunggu ya.
    BTW. Ini beneran gak ada lanjutannya ya?? Oke deh…

    Fighting ya!

  11. CIYEEEEEEEE JIHYUK!!!! Tentang gelang kaki sama jam waktu itu ngena banget eon. Serius! Berharap mereka bisa kembali unyu lagi. Poo Yoo. Baca FF Yuli onnie juga udah. Sama kerennyah~

    Itu endingnya meskipun gantung tapi keren meskipun ngarep Yoo bilang… Itu…Mungkin iya. Wkwkwk tapi semuanya terserah onnie :”’)

  12. bau-baunya ada yang balikan aa~ penonton senang /.\
    gimana rasanya pisah sama hyukjae, jiyoo? /tanya sama jiyoo/
    kayaknya lama banget ya ngga ada scene nyium-nyium kaya gitu kak, berapa bulan??
    itu dongek tumben pinter /eh/

    kak, aku nungguin jihyuk’s baby ><
    cepetan dilahirin kek /eh

    • Aaa~ *ngendus* Gak ada bau apa-apa kok. :’3
      Rasanya… nanti dijawab jiyoo kapan2 yak. xD
      Scene cium2? Baaaaaru sebulan kok. Gak lama2 banget lah. :’)

  13. yg plg berkesan emg yg ngucapin selamat ultah plg akhir… #pengalaman
    apalagi klo dah dpt kado istimewa, gak terlupakan dch… #curcol

    ayo donk JiHyuk balik, kangen nih..
    filosofi ttg kado’y unnie suka…
    rada2 gmn gitu, hehehehe

    nice ff, smg selalu bahagia…😀

  14. Kyahahah truth or dare bikin mereka ga canggung lagi jengjengjeng lee donghae masuk rusak suasana -_-
    Sekali lagi berterimakasihlah sama kyu haha pasti lgsg didamprat sama hyo :p
    Jihyuk semangat ~

  15. Jihyuk nih yaa.. walo lagi dalam keadaan sama-sama kikuk, sama-sama ga tau mau ngomong apah, sama-sama canggung.. tetep ajah unyunya maksimal :3 chemistry & feelnya itu looh..❤❤❤

    Tiap kali baca Jihyuk story aku berasa kaya nonton drama😀 bahasa yang disajikan, cara shela bertutur itu disetiap scene yg ada, semua aku bayangin.. berasa nyatanya! xD bukan itu aja, aku juga suka cara shela membuat setiap karakter yang ada di setiap ceritamu menjadi benar-benar hidup, keren! keep writing yaa sayang.. :3 aku udah pernah bilang belum klo I'm officially Jihyukism & Shela Harjono's fans? ㅋ ㅋ ㅋ

    Daaaaaan… aku ga pernah bosen baca cerita-cerita yang Shela tulis😉

    makasih juga sudah munculin Sungmin & Haneul *kecups Yoo ahh*

    • Ah… kok kak Jingga bisa aja sih? >//<
      Makasihh banyak loh kakak Jingga~❤ :*
      Itu yang official JiHyukism aja…yang SH's fans itu agak……………..*guling2*

      Hehehe~ maap yah karakter haneul jadi yang cerewet gini. Abis mau ngasih ke teh deson agak…kurang cucok *kemudian diinjek* xD

  16. shela-ssi~ sampe skrg aqu gk ngrti knp jihyuk pisah..
    hyuk kasian bgt T____T

    nyesek bgt baca ini.
    smoga jihyuk bs brsatu lg.
    tp kalo jiyoo gk mau blik ma hyuk, biar kan hyuk brsamaku ya~ hehe

    btw endingnya….
    Ngegantung bgt ya T^T

  17. Sedih bca nya…
    Klo jihyuk msh sling suka knp ga balikan???
    Jgn mnyksa dri… Hikz..hikz…
    Tp apapun kptusan kalian aq dukung…
    I miss jihyuk skinship… :*:*:*

  18. AH !! I’M SO LACKING AT UPDATING !! ;A;
    *efek ga pasang paket* << /mahasiswa kere/ T.T *sobs
    okey abaikan😀
    ayayayayyy~ OMG !! THIS IS THE CUTEST SALTING SCENE EVEEEERR~~
    "selamat D-1 ulang tahun" bhahaha xD *rolls in happiness*
    OMFG~ <33333
    baca scene romantic nya jihyuk tuh kaya yg baru jadian mulu haha .
    cho kyuhyun sama lee donghae itu semacam figuran dgn karakter asli yah haha .
    kyu yang gangguin kesadaran jiyoo (?) dgn ke-evilannya ..
    donge yang gangguin JiHyuk jd awkward dgn ke-bocahannya xD
    orz lee donghaeee -___-
    DAAAAN AAAHHH~ AKJSDHKSDFLJFLJFLDKSJFLKJLSDJFL
    HYUK CIUM KENING YOO , YOO CIUM PIPI HYUK GA BALIKAN LAGI APAA SHEEEEEEL ?!!! *gregetan*
    ikut nanyain ToD prtanyaan donge niih :"33
    tp at least yoo udah ga ngindarin hyuk lagiii~😀 yayayayy~
    arrhhh udah abis dah doa buat JiHyuk biar balikan laginya , what i can do is just waiting and waiting your mood light up :*

    • OMG I THOUGHT YOU’D COME AT FIRST SO I BRIEFLY HAPPILY PUBLISHED THIS. -_____-
      But its okay lah.. penderitaan mahasiswa kok. *pukpuk*

      Geeeeezz… People love to see how stupid Jiyoo when she’s being salting. *garuk tanah*
      Pffftt~ excuse meeeh, tapi jihyuk baru putus loh, bukan baru jadian. Cuma ya tingkahnya aja masih kaya orang baru kenalan getooh. Kaya anak2 SMP 4l4y yang dapet kenalan baru (?)
      Cho Kyuhyun sama Lee Dongek itu semacam figuran-yang-tak-boleh-diabaikan. xD

      Eii~ pertanyaan si dongek itu jangan ditanyain lagi. Biarlah angin yang menjawab (?)
      Sure sure. Lets see when my mood is being up. x’D Thankchuuuu~ :*

  19. Eonni, new reader ini..
    Uda baca smua postingan onnie ttg JiHyuk, tp bru comment di skrnggg.. hihihii..
    Speechless, cma bisa bilang DAEBAK !!!!
    Huahahahahhaa..
    Eonni itu Marry Yoo bruan dilanjutin dong, penasaran tingkat dewa iniiii, pngen cpet” ngeliat JiHyuk hidup bahagia tanpa ada rintangan yg menyakitkan.. #Plak
    Pkoknya ff eonnie daebak, tp jgn buat yg sad ending dong Jiyoo hrus teutep sama Hyuk. huahahahaha..

    • Haluuuu~
      Terima kasyih syuda mampir yaa. Salam kenal! ^-^
      Marry Yoo……..masih tergeletak tak tersentuh. Haha. Tragis banget. T^T

  20. Nice FF😀
    lama gak baca FF Jihyukism benar2 terbayarkn dgn FF special ultah Hyuk
    Sedih senengnya brasa bgt kak #NunjukScenDikamarYoo :’3
    Ok Fighting kak buat FF selanjutnyaaa *JogetBarengKyu😀

  21. akhirrnyaaaa … baca juga ff ini

    eh .. emang hyuk sama jiyoo udah putus ya? hadoooh ketinggalan berita
    gara2 marry you selalu mikirnya malah mereka udah nikah .. hihihi

    truth or dare nya yg terakhir … gak dijawabb

    member sama temen2nya perhatian bgt … ngebet bgt biar mereka baikan ..

  22. Itu msh ad tnd2 cinta kan?? Knapa harus bgtu?? Aissshhh…😦
    Tp setidaknya yoo msh mw ketemu sm hyukjae, mulai membangun chemistry lg.
    Brhrp happy ending bwt couple ini ^^

  23. Waaaahh endingnya gantung..
    Shella, knapa g balikan aja sii jihyuk itu.. Itu hadiah ultah yg d ksh satu sama lain sweet aja deh, ada artinya..

  24. meski telat (banget) baca_ harus tetep komen dong yaa.. ?😉
    jam nya emang ajaib yaa.. bisa muter arah euy.. ._.
    dan gelang itu… dipasangin GPS kaliii yaa ama Hyuk biar selalu tau YoO dimana..😄
    Dongek_si ikan jelek_ pengganggu JiHyuk couple~selalu datang di sikon yg gak tepat😄 antara polos,lugu, apa babo gak ada bedanya _ iiihhh gemess ama nih orang.. _ ^^
    Yoo kena santet apa bisa nurut ama om-deul gila kayak mereka ..? haha
    Ramyun date (?) nya = manis~simple~tapi dalem~🙂
    mau balikan apa move on *korbaniklan* aku sih oke aja.. penting JiHyuk masih berhubungan baik aja udah cukup.. :’)
    Keep writing She..😀

  25. truth or dare asli aku jadi keinget rp dulu suka main TOD di rp kkkkk.
    ahh suka sama jamnya bisa mutar waktu aku jadi pengen mau dong dipesenin juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s