Marry Yoo! [11th Step]

[11] The Angel

MY-cast***

Malam itu pertama kalinya Jiyoo benar-benar merasa sendirian di rumah.

Eunhyuk berusaha memaksa dirinya untuk tetap bernapas. Dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sudah terlalu lama ia berusaha menghancurkan dinding beton yang dibangun Jiyoo. Ia tetap tak mengerti kenapa gadis itu selalu menutup dirinya.

Untuk alasan tertentu, ia paham peran Donghae dalam hidup gadis itu.

Ada beberapa hal yang hanya akan dikatakan Jiyoo pada Donghae. Hanya pada lelaki itu. Tadinya Eunhyuk mengira ia akan baik-baik saja dengan hal itu. Eunhyuk tahu Donghae lebih dari sekedar teman bagi Jiyoo.

Lee Donghae, seperti dirinya, adalah orang yang penting bagi Choi Jiyoo.

Tapi rasa pengertiannya terkikis. Eunhyuk terlalu dibayang-bayangi oleh kehadiran Donghae. Sebagai lelaki, ia tahu rasanya akan mustahil jika tak ada perasaan mendalam antara kedua orang itu. Baik itu berasal dari Jiyoo atau Donghae.

Eunhyuk beranjak dari ranjangnya. Langkah kakinya membawanya ke depan pintu kamar Jiyoo. Ia menelan ludah. Tangannya terangkat walaupun ia tak mampu mengetuk pintu itu.

Setelah menarik napas dalam-dalam, ia memutuskan untuk mengetuk. Eunhyuk menunggu dengan gusar.

Jiyoo membuka pintunya, tertegun sejenak saat melihat lelaki yang berdiri di hadapannya. Tak seperti dirinya yang sudah mengganti pakaiannya sejak tadi, Eunhyuk masih mengenakan pakaian yang sama, yang masih sedikit basah.

“Kenapa kau ada di sini?”

“Aku tidak peduli pada apa pun yang sedang mengganggu pikiranmu. Aku akan menganggapnya sebagai masalah yang bisa kau atasi sendiri,” ucap Eunhyuk. Tatapan matanya nanar. “Tapi soal Donghae…”

“Donghae sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini,” Jiyoo menggigit bibirnya. “Aku tahu kau sedang lelah, kesal dan kecewa, jadi…”

“Jadi biarkan aku menyelesaikan ucapanku ini,” potong Eunhyuk. Lelaki itu mengusap pipi Jiyoo, mengambil rasa hangat yang diam-diam dirindukannya. “Aku tidak akan mengungkit apapun yang terjadi malam ini. Mulai besok, aku akan menjadi Eunhyuk yang sudah melupakan masalah ini sepenuhnya.”

Jiyoo meraih tangan Eunhyuk di wajahnya. Terlalu banyak hal yang sudah diusahakan oleh lelaki itu. Jiyoo tak tahu apakah ia sanggup menerima lebih dari ini. Eunhyuk terlalu sering melakukan hal semacam ini untuknya.

Bibir Eunhyuk melengkung sedikit, menampakkan senyuman samar. Jiyoo menggenggam tangan Eunhyuk erat-erat saat lelaki itu memohon, “Aku tidak mau tidur sendiri.”

Permintaan itu begitu sederhana sekaligus menyesakkan bagi Jiyoo. Setelah apa yang terjadi hari ini, setelah puncak emosi yang dirasakannya, Eunhyuk tetap meminta Jiyoo berada di sampingnya. Sepasang paru-parunya terasa terjepit oleh kenyataan itu.

Jiyoo hanya mengangguk pelan. Ia membawa Eunhyuk masuk ke kamarnya. Tangan lelaki itu masih berada dalam genggamannya, menyadarkan Jiyoo bahwa Eunhyuk tetap di tempat yang sama jika ia membutuhkan lelaki itu.

Sebuah garansi yang menjanjikan namun pasti menyedihkan.

Sepasang lengan Eunhyuk memeluk Jiyoo, lagi-lagi memberikan kehangatan menyenangkan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Napas lelaki itu membelai kulit pipinya, membuat darah Jiyoo berdesir. Eunhyuk memejamkan mata sementara Jiyoo mendongak untuk menatap wajah lelaki itu.

“Kau tahu apa yang kuinginkan saat ini?” tanya Eunhyuk tanpa membuka mata. Jiyoo menelan ludah, tak sanggup menerka. “Kau dan seorang malaikat kecil.”

Jantung Jiyoo berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Ia membenamkan diri di dada Eunhyuk, mencoba bersembunyi dari kalimat yang mungkin diucapkan lelaki itu berikutnya.

“Bukankah akan menyenangkan? Keluarga kecil; kau, aku dan seorang bayi,” gumaman Eunhyuk terdengar jelas melalui indera pendengaran Jiyoo.

Jiyoo merasakan jemari Eunhyuk menari, membelai punggungnya. Sensasinya tetap menyenangkan, euphorianya pun tak berkurang. Tapi kali ini Jiyoo merasakan suatu beban.

“Aku ingin anak perempuan. Jadi jika nanti dia punya adik laki-laki, dia bisa menjadi seperti Sora Noona yang selalu melindungiku dulu.” Eunhyuk menghela napas dan mengecup puncak kepala Jiyoo. “Hanya khayalanku, jangan terlalu dipikirkan.”

“Aku mengunjungi nisan adikku,” sahut Jiyoo tiba-tiba.

Gadis itu merasakan lengan Eunhyuk menegang di tubuhnya. Sepertinya Eunhyuk tak menyangka Jiyoo akan mengatakan hal itu. Sama seperti lelaki itu, Jiyoo sendiri juga tak mengira akan mengucapkannya.

“Karena itu kau bersama Donghae?” gumam Eunhyuk lirih.

Jiyoo menggeleng. “Dia yang mengajakku. Belakangan ini mimpi burukku karena hal itu, jadi dia pikir akan sedikit menenangkan jika aku mengunjungi adikku.”

Eunhyuk mengatupkan rahang. Tak ada yang dilakukan lelaki itu selain mengeratkan pelukannya pada Jiyoo. Sepertinya akan menyenangkan jika gadis itu membagi keluh-kesah dengannya, tapi Eunhyuk tak pernah ingin memojokkan Jiyoo agar bersikap begitu.

Entah karena dirinya yang terlalu baik atau justru karena ia merasa tak akan sanggup menggantikan posisi Donghae.

Tanpa sepengetahuan Jiyoo, Eunhyuk selalu merasa ia terjebak dalam bayangan Donghae. Mungkin sifat kompetitif itu sama sekali tak baik karena pada akhirnya ia merasa Donghae dapat menggantikannya setiap saat sementara ia tak pernah bisa menggeser posisi Donghae.

Dan Eunhyuk tak menyukai gagasan itu.

“Aku minta maaf,” bisik Jiyoo.

Eunhyuk menelan ludah, sedikit menunduk untuk memandang wajah Jiyoo. Permintaan maaf itu tulus dan justru membuat Eunhyuk merasa tak nyaman. “Tidak apa-apa. Setidaknya aku tahu kemana kau pergi.”

“Kau… tidak mau tahu alasannya?” tanya Jiyoo. Jika Eunhyuk ingin tahu, Jiyoo akan memberitahunya sekarang, tanpa keraguan. Ia sudah bertekad begitu.

“Tidak.” Eunhyuk mengecup kening Jiyoo. “Kau bisa menjelaskan alasannya lain kali.”

The next day – 8:20 AM

Song Chaerin melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan Daehyun. Ia pernah beberapa kali masuk ke ruangan ini, tapi tak pernah benar-benar memerhatikan setiap detil kecil yang berada di sini. Dari pengamatannya, ia menerka bahwa Jung Daehyun menyukai benda-benda seni yang terbuat dari kayu; pahatan dari kayu jati, pigura kayu dari batang oak dan beberapa pajangan mini.

Sambil menunggu Daehyun, Chaerin menemukan ijazah kelulusan yang digantung di atas kursi lelaki itu. Ternyata Jung Daehyun dan dirinya berasal dari kampus yang sama, bahkan satu angkatan.

“Selamat pagi,” sapa Daehyun seraya menutup pintu ruangannya. Tangan kanannya membawa sebuah folder bercorak abstrak dengan dominasi warna biru.

Chaerin membungkuk sopan sebelum kembali duduk di kursinya. “Saya dengar Anda membutuhkan saya sejak beberapa hari yang lalu.”

Daehyun mengangguk tanpa suara. Ia memang memanggil gadis itu sejak kepulangannya dari Jepang. Tapi sepertinya akibat masalah Song Jungwoo, Chaerin memutuskan untuk cuti beberapa hari. Gadis itu pasti frustasi karena ulah adiknya.

“Apa masalah adikmu sudah selesai?” tanyanya.

Chaerin tertegun sesaat, bingung. Kemudian ia mengangguk. “Pihak sekolah sudah membebaskan hukumannya.”

Chaerin sudah tahu bahwa Daehyun membantu adiknya saat ia sedang di Jepang. Jungwoo yang menceritakannya. Lelaki itu bahkan mengurusi masalah yang sebenarnya tak perlu diurus. Chaerin juga sudah dengar dari Jungwoo bahwa kakak laki-laki Daehyun memiliki andil dalam kecelakaan mendiang ayahnya.

Meskipun sudah mengetahui hal itu, baik Chaerin maupun Jungwoo sama sekali tak marah. Keduanya hanya tak mengerti untuk apa Daehyun melakukan semua hal yang tak perlu untuk keluarga mereka. Seharusnya bukan Daehyun yang merasa bertanggung jawab seperti itu.

Jeogiyo,” Chaerin meminta perhatian Daehyun. “Aku melihat ijazah itu dan aku baru sadar kita lulus dari universitas dan angkatan yang sama.”

Daehyun mengangguk-angguk. “Bahkan kita berada di sekolah menengah yang sama.”

Chaerin membulatkan kedua matanya. Fakta yang satu ini di luar bayangannya. “Apa karena itu kau terus-menerus merasa bersalah? Karena aku temanmu?”

“Mungkin,” sahut Daehyun. Ia menatap Chaerin dengan kedua mata yang sendu. “Karena kurasa hidup keluargamu menjadi sulit setelah kecelakaan itu.”

“Sekarang kau tidak perlu lagi mencemaskannya.” Chaerin tersenyum tulus. Mungkin memang hidupnya berubah menjadi tak mudah, tapi ia tak benar-benar pernah beranggapan bahwa itu berasal dari kecelakaan ayahnya. “Aku dan Jungwoo hidup dengan baik. Walaupun aku juga tahu sebagian besar merupakan bantuanmu, tapi kami benar-benar bukan tipe orang yang hobi bersedih. Jadi… kau bisa berhenti mencemaskan kami.”

Tanpa sadar, Daehyun juga ikut tersenyum. Gadis ini sudah berubah. Song Chaerin bukan lagi gadis yang akan memaki dunia karena nasibnya yang tidak beruntung. Daehyun tak lagi melihat Song Chaerin yang dikenalnya di sekolah menengah.

Mungkin, diam-diam, gadis itu sudah menjelma menjadi seseorang yang lebih tangguh.

Tanpa sepengetahuannya, gadis yang selalu dicemaskannya ini sudah bisa berdiri tegap dengan kedua kakinya sendiri. Daehyun berdeham. “Sepertinya begitu.”

“Dan terima kasih untuk semuanya. Jungwoo memang kelihatannya kesal padamu, tapi diam-diam dia juga berhutang budi,” ujar Chaerin riang. “Kau sudah memberikannya beasiswa ke sekolah yang paling diidamkannya, sekaligus memberinya kemudahan jika dia nanti masuk ke universitas.”

Daehyun tertawa pelan. Semua hal yang dilakukannya ternyata tak benar-benar percuma. “Baguslah. Dan tolong sampaikan padanya, aku akan tetap melakukan itu hingga dia menjadi laki-laki yang dapat melindungi kakak perempuannya.”

Chaerin menunjukkan jempolnya pada Daehyun. “Akan kulakukan!”

Daehyun tak pernah membayangkan bahwa ternyata membangun komunikasi dengan Chaerin akan semudah ini. Jika ia tahu, ia pasti sudah melakukannya sejak dulu. Jauh sebelum kakak lelakinya mengikatkan tali takdir yang menghubungkannya dengan keluarga Song. Jauh sebelum itu.

Sadar sedang diamati, Chaerin mengerjap. “Kenapa?”

“Tidak, aku hanya… seandainya, seandainya aku punya alasan lain selain tanggung jawab,” sambung Daehyun ragu, “apa kau punya waktu untuk mendengarkan?”

Sinar matahari menyusup melalui kaca jendela kamar Jiyoo. Gadis itu menggeliat, meraba-raba selimut untuk menutupi wajahnya. Walaupun menemukan selimut, tapi ia tak merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Hal itu membuat Jiyoo panik.

Eunhyuk tak lagi berada di sampingnya. Jiyoo terbangun sendirian di sini, di kamarnya. Padahal lelaki itu telah membuatnya tak bermimpi buruk semalam.

Gadis itu terduduk di ranjang, membiasakan kedua matanya dengan ruangan yang sudah terang. Ia tak melihat Eunhyuk di mana pun di tiap sudut kamarnya. Mendadak rasa paniknya meluap, membanjiri Jiyoo dengan ketakutan yang aneh.

Bagaimana jika lelaki itu memilih untuk meninggalkannya?

Jiyoo menggigit bibir, tak sanggup memikirkan pertanyaan tak terjawab yang menggelayuti benaknya. Ia baru saja akan turun dari ranjang ketika pintu kamarnya terbuka dan Eunhyuk berjalan ke arahnya. Saat itu Jiyoo dihujani perasaan lega yang luar biasa.

“Selamat pagi,” ujar lelaki itu. Jiyoo bahkan bisa melihat senyuman jenaka milik Eunhyuk. “Tidurmu nyenyak?”

“Mm.”

Eunhyuk meletakkan mug, yang terlambat disadari Jiyoo bahwa sejak tadi dipegang oleh lelaki itu, di atas meja kayu kecil. “Cokelat hangat.”

Jiyoo mengangguk-angguk penuh semangat. Ia mengingat ucapan Eunhyuk semalam. Bahwa lelaki itu akan menjadi Eunhyuk yang sudah melupakan masalah kemarin sepenuhnya. Jiyoo bahkan tak bisa memilih ia harus senang atau justru merasa semakin tertekan akibat pilihan lelaki ini.

Nyaris tak ada yang berubah dari Eunhyuk. Jiyoo diam-diam mengamati. Lelaki itu tetap Lee Hyukjae yang kemarin, sebelum kejadian di Incheon.

“Masih mimpi buruk?” tanya Eunhyuk.

“Tidak,” sahut Jiyoo sambil meniup cokelat hangat yang mengepulkan uap. “Karena kau memelukku sepanjang malam.”

Eunhyuk tersenyum puas, seakan itulah jawaban yang ingin didengarnya. Tapi meskipun begitu, ia tergelitik oleh fakta bahwa tindakan Donghae yang membawa Jiyoo mengunjungi nisan adiknya-lah yang membuat Jiyoo merasa lebih baik. Eunhyuk mengatupkan rahang.

“Kenapa?” Jiyoo memiringkan kepala, berusaha membaca raut wajah tegang yang ditunjukkan Eunhyuk.

“Tidak apa-apa.”

“Pembohong.” Jiyoo menyesap cokelat hangatnya perlahan-lahan.

Eunhyuk merebut mug dari tangan Jiyoo, ikut meneguk cokelat hangat buatannya. Ia tak peduli jika Jiyoo sedang melayangkan tatapan membunuh padanya. “Aku berhak minum ini. Siapa yang membuatnya? Aku.”

Jiyoo mencibir kesal. “Kalau begitu jangan tawarkan padaku tadi.”

“Oh, kau marah?” goda Eunhyuk. Ia menyodorkan kembali mugnya pada Jiyoo yang langsung menyesap lagi cokelat hangatnya. “Hari ini apa yang akan kau lakukan?”

Pertanyaan itu membuat Jiyoo nyaris tersedak. Sebenarnya ia sudah memikirkan agenda yang harus dilakukannya hari ini. Sudah sempurna. Hanya jika Eunhyuk berhenti peduli dan tidak bertanya.

“Menemui Donghae?” tanyanya.

Jiyoo pura-pura meneguk cokelat hangatnya dan mengangguk tanpa suara. Melalui ujung matanya, ia mencoba mengartikan respon Eunhyuk. Tapi Jiyoo tak mendapat apa pun. Lelaki itu hanya mengangguk-angguk paham.

Jiyoo menghela napas. “Kalau kau tidak mengijinkan, aku…”

“Pergi saja.” Eunhyuk mengangkat bahu. Rasanya ia tak sanggup memberikan seulas senyum pada Jiyoo, jadi ia tak menatap gadis itu. “Aku tidak akan melarangmu.”

“Pembohong.”

“Tidak.”

“Oh, iya. Kau pembohong. Pembohong yang payah.”

Eunhyuk menyipitkan kedua matanya. “Tidak. Aku hanya bersikap dewasa dan memahami peran Lee Donghae dalam kehidupanmu yang membosankan itu,” sahutnya. “Dengar, Lee Jiyoo, aku sama sekali tidak salah paham gara-gara kejadian kemarin. Mungkin Donghae adalah orang yang penting untukmu, tapi aku lebih dari itu; aku orang yang akan memaksamu hidup bersamaku selamanya. Bedanya cukup jelas, kan?”

Jiyoo mendengus geli. “Dengan menjelaskan panjang-lebar begitu kau terlihat semakin menyedihkan, Lee Hyukjae.”

“Eh? Benarkah?” ulang Eunhyuk. Ia berdeham pelan melihat Jiyoo yang tersenyum penuh kemenangan. “Pokoknya, aku mengerti. Sangat mengerti. Kalian hanya sahabat. Titik.”

Jemari Jiyoo menyelinap, terselip di antara jemari Eunhyuk. Tangan mereka bertaut erat dan tanpa kalimat yang terucap, Jiyoo mengirimkan rasa terima kasihnya pada lelaki itu. Segala hal yang diberikan oleh Eunhyuk selalu sanggup membuat Jiyoo merasa memiliki dunia dan isinya. Gadis itu menggigit bibir, menyadari bahwa segala hal yang diterimanya dari Eunhyuk jauh lebih banyak daripada yang pantas didapatkannya.

I love you,” ucap Eunhyuk.

“Apa kau bilang? Aku tidak dengar.”

“Aku bilang, aku mencintaimu.”

Jiyoo mengerutkan kening. “Tidak dengar.”

Dwaesseo. Lepaskan tanganku,” sergah Eunhyuk, kesal.

Jiyoo tertawa dan alih-alih melepaskan tangannya, ia justru menarik tangan Eunhyuk hingga lelaki itu berada semakin dekat dengannya. Tepat di telinga Eunhyuk, Jiyoo berbisik, “I love you.”

Eunhyuk tersenyum puas. Dengan begini seharusnya ia tak perlu mempermasalahkan keberadaan Donghae. Sekalipun Donghae yang pertama kali, bagi Eunhyuk, yang terbaik adalah yang terakhir.

Dan yang terakhir adalah dirinya.

“Aku yang pertama!”

Gadis di sampingnya ini akan memiliki dirinya sebagai orang yang terakhir. Bukankah yang pertama akan selalu digantikan? Itulah sebabnya disebut ‘yang pertama’, karena selalu ada yang akan menggantikannya dengan yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Eunhyuk mengecup pipi Jiyoo. “Bangunlah. Ada surat untukmu di ruang makan.”

“Surat?” Jiyoo membeo. Seharusnya tak ada surat yang datang untuknya. Tak pernah. “Dari siapa?”

Sambil menyesap cokelatnya, Eunhyuk mengingat-ingat. “Entahlah. Dari California.”

Chaerin mengerjap, mengedipkan mata berkali-kali hanya untuk memastikan bahwa ia tak sedang memandang orang yang keliru. Kedua matanya tetap memantulkan wajah Daehyun, dengan  sorot mata yang penuh keyakinan.

“Seandainya, seandainya aku punya alasan lain selain tanggung jawab, apa kau punya waktu untuk mendengarkan?”

Untuk pertama kalinya sejak bertemu dengan Daehyun, Chaerin mengetahui kebiasaan menjilat bibir atas yang sering dilakukan oleh lelaki itu. Chaerin merutuk dalam hati. Kenapa pula hal sepele itu menarik perhatiannya?

Chaerin berdeham. “Apa maksudmu?”

“Aku punya alasan yang jauh lebih penting daripada tanggung jawab terhadap keluargamu,” ujar lelaki itu terbata-bata, seolah ia bisa saja tersedak ucapannya sendiri jika terburu-buru.

Daehyun ingat pernah membahas topik konyol ini bersama Jiyoo, saat gadis itu tahu bahwa Daehyun-lah orang yang diam-diam membantu Chaerin. Saat itu, Daehyun tahu ia tak harus memberitahu Jiyoo tentang perasaan apapun yang mungkin dirasakannya. Tapi saat ini, Daehyun tahu ia harus memberitahu gadis di hadapannya.

Kesempatannya hanya hari ini atau tidak sama sekali.

“Perasaan yang kaumiliki pada Eunhyuk,” Daehyun menelan ludah, mengumpulkan segala keberanian dari sudut-sudut hatinya. “Bisakah kau berikan padaku?”

Chaerin tertegun, bingung sejenak dan berusaha menerjemahkan kalimat yang diucapkan Daehyun. Perasaannya pada Eunhyuk sepertinya tak lagi menjadi kebahagiaan pribadinya, semua orang seakan mampu melihatnya dalam sekali lirik.

Tanpa merasa sungkan, Daehyun menatap wajah Chaerin lekat-lekat. Wajah inilah yang selalu diperhatikannya dari jauh, dari zona terluar yang mampu disadari gadis itu. Daehyun merasakan keringat dingin menuruni pelipisnya. Mungkin jika ia sendiri sedang tak melipat kedua tangannya, ia bisa kelihatan gemetar hebat karena gugup.

“Sama sepertimu,” lanjut Daehyun saat Chaerin tak juga menjawab. “Aku juga menyimpan perasaan yang sama seperti milikmu pada Eunhyuk. Bedanya, perasaanku itu untukmu.”

Chaerin tak tampak terkejut. “Kau benar-benar sedang mengasihaniku ya?”

“Menurutmu begitu? Atau kelihatannya begitu?”

“Dua-duanya.”

Daehyun melakukannya lagi; menjilat bibir bagian atasnya. “Bagaimana kalau tebakanmu salah total?”

“Masalahnya, tebakanku tidak akan salah.”

“Tapi tebakanmu memang salah, keliru, dan tidak benar,” sahut Daehyun tenang. Ia menelan ludah dengan gugup. “Tujuh tahun, kan? Perasaanmu pada Eunhyuk? Milikku juga sama. Bahkan beberapa bulan lebih awal daripada perasaanmu. Dan jauh lebih awal sebelum kecelakaan ayahmu.”

Kedua mata Chaerin menyapu wajah Daehyun, mencari-cari tanda ketidakjujuran dari lelaki itu. Entah karena kemampuan menilainya yang sudah buruk atau memang Daehyun sedang bersungguh-sungguh dengan ucapannya, Chaerin tak dapat menemukan apapun. Ia merasa gusar tiba-tiba.

“Jadi, sebenarnya yang mau kukatakan adalah… aku, eh, maksudku…”

“Aku mengerti.”

Daehyun mengerjap, terkejut. “Apa?”

“Kubilang, aku mengerti apa yang ingin kau katakan, aku juga mengerti maksudmu.” Chaerin menyelipkan sejumput rambutnya ke balik telinga. Ia gugup. Tapi bukan hanya dirinya yang sedang merasa demikian. Ini pertama kalinya ia melihat seorang lelaki yang bahkan jauh lebih gugup daripada dirinya dalam situasi seperti ini.

“B-benarkah?”

Chaerin mengangguk sambil memalingkan pandangannya dari Daehyun. Sikap gugup lelaki itu menular padanya hingga ia merasa tak sanggup memandang Daehyun. “Lalu… kau mau aku untuk memberikan perasaanku padamu, dan bukan untuk Eunhyuk?”

Mendadak Daehyun kehilangan kemampuan untuk bicara. Ia bahkan tak bergerak dan berusaha keras untuk memasukkan udara ke dalam paru-parunya yang berkerut. Memang itu maksudnya sejak tadi, tapi saat diucapkan langsung oleh Chaerin, rasanya Daehyun ingin mundur saja.

Jangan bodoh, Jung Daehyun. Kau menanti saat-saat seperti ini lebih dari tujuh tahun. Bahkan pikirannya sendiri mulai memakinya.

“Y-ya, ya, seperti itulah,” ucap Daehyun ragu.

Chaerin membulatkan kedua matanya, memandang Daehyun dengan penuh rasa ingin tahu. “Sejak kapan?”

“Sejak… aku melihatmu masuk melalui gerbang sekolah, sejak pertama kali kau berjalan melewatiku, sejak… aku tahu namamu Song Chaerin. Entahlah…”

Lelaki ini romantis. Chaerin tersenyum simpul. Bahkan rasanya lelaki ini tak akan pernah tahu jika dirinya romantis.

Atau mungkinkah ketidaktahuan Daehyun-lah yang membuat lelaki ini terlihat lebih romantis di matanya?

“Chas… apa?”

Eunhyuk mendongakkan kepalanya ke arah Jiyoo. Gadis itu sedang duduk di sofa ruang tengah, membuka surat tebal yang dikirimkan dari California sementara Eunhyuk menuangkan air hangat ke mug berisi bubuk minuman cokelat di dapur.

Jiyoo menjawab tanpa mengalihkan mata dari surat yang dipegangnya. “Chastain. Keluarga Serena mengirimkan undangan untuk menghadiri pesta pribadi yang diadakan keluarga suaminya.”

Eunhyuk hanya mengedikkan bahu, acuh. Ia sendiri tak tahu apa-apa mengenai kehidupan Jiyoo selama di California, bahkan tak tahu-menahu tentang nama yang berkali-kali disebutkan Jiyoo itu. Tangannya sibuk mengaduk-aduk cokelat hangat, yang dipesan Jiyoo karena Eunhyuk terlanjur menghabiskan secangkir cokelat yang dibawanya ke kamar.

Sebenarnya cokelat hangat pagi tadi memang untuk Jiyoo, namun Eunhyuk harus mengakui cokelat hangat buatannya sangat pantas untuk dibanggakan.

“Jadi kau belum pernah membuat cokelat hangat seumur hidupmu?” tanya Jiyoo saat tahu-tahu Eunhyuk memuji cokelat hangat buatannya sendiri.

Eunhyuk mengangkat bahu sambil tersenyum tanpa dosa. “Tidak pernah. Aku selalu dibuatkan Noona.” Lelaki itu melirik Jiyoo dan berdeham, “Kau yang pertama.”

Jiyoo mengembuskan napas frustasi. “Baguslah. Berarti kau telah menemukan bakat baru. Selamat!”

“Pestanya di California?” tanya Eunhyuk. Ia menyodorkan mug keramik bergambar strawberry merah pada Jiyoo. Gadis itu hanya mengangguk dan meraih jatah cokelat hangatnya dari Eunhyuk. “Kapan?”

Jiyoo menyesap cairan cokelat manis itu secara perlahan dan menuruni tenggorokannya. “Minggu depan.”

“Tiketnya mahal.”

“Tiketnya mahal?” ulang Jiyoo, menirukan nada suara Eunhyuk. “Permisi, bukankah kau adalah Direktur dari perusahaan ekspor pangan terbesar di Korea Selatan?”

Eunhyuk tersenyum lugu. “Maaf, sepertinya kau salah orang.”

“Lee Hyukjae.” Jiyoo menggeleng-gelengkan kepala. “Apa dosaku di masa lalu hingga aku bisa menikahimu?”

“Entahlah. Mungkin ini hukuman untukmu. Tebus saja dengan menemaniku seumur hidup,” sahut Eunhyuk acuh. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Jiyoo, ikut membaca isi surat yang melintasi dua benua itu. “Oh, dia sudah membelikan tiket!”

Jiyoo mengangguk dan mengeluh. “Kalau ada tiketnya, kau mau pergi?”

“Tentu saja.”

“Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan padamu.”

Eunhyuk menegakkan punggung, menatap Jiyoo. “Cukup menjadi pasanganku seumur hidup. Itu sudah lebih dari cukup.”

“Aku sudah dan sedang melakukannya, Lee Hyukjae,” sergah Jiyoo. Ia menyesap lagi cokelat hangat dalam mugnya. “Dan omong-omong, kau memang berbakat dalam membuat minuman ini.”

“Aku Lee Hyukjae, tidak ada yang tidak bisa kulakukan,” sahut lelaki itu angkuh. Eunhyuk merebut surat dari tangan Jiyoo. Ia membaca dari awal hingga akhir dan menyimpulkan bahwa teman Jiyoo ini kesal karena Jiyoo tak menghadiri upacara pernikahannya di California 3 bulan yang lalu. Sepertinya Eunhyuk memahami sesuatu. “Dia tidak tahu kalau kita sudah menikah?”

Jiyoo mengangguk pelan. “Aku tidak sempat memberi kabar.”

Pantas saja. Eunhyuk mengangguk-angguk. Undangan dan tiket pesawat yang dikirimkan bahkan lebih dari satu. Bukan hanya dua, tapi empat. Bukan untuk pasangan suami-istri tapi untuk seorang teman dan teman-temannya lagi.

“Lalu apa yang harus kita lakukan dengan empat tiket dan empat undangan ini?”

Untuk sejenak Jiyoo diam, berpikir. Ia tak berpikir jauh untuk mengundang orang lain dalam penerbangan ini. “Gunakan dua saja.”

“Lee Jiyoo,” ujar Eunhyuk, memulai kuliah singkat tentang ekonomi. “Bisa kau bayangkan berapa banyak kerugian yang akan kau timbulkan jika mengabaikan dua lembar tiket pesawat dan dua buah undangan yang datang langsung dari California ini? Kalau kau–“

“Oh, diamlah.” Jiyoo meletakkan telapak tangannya di atas bibir Eunhyuk. “Berikan saja pada Eomma dan Sora Eonni, bagaimana?”

Eunhyuk menurunkan tangan Jiyoo, nyaris menggigitnya jika gadis itu tak buru-buru menarik tangannya. “Mereka sedang berlibur masing-masing. Sora Noona menolak dijodohkan dan melarikan diri ke Sidney, sementara Eomma sedang menghadiri acara reuni sekolahnya di Jepang. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menerima sumbangan tiket dan undangan ini.”

Bencana besar. Jiyoo menarik napas frustasi. Eunhyuk tak mau menyia-nyiakan tiket gratis dan tak ada orang yang bersedia menerima tiket-tiket malang itu. Kenapa pula Lee Hyukjae tidak menerima sarannya saja?

California. Jiyoo memikirkan seseorang yang bisa menerima tiket itu, sebenarnya. Nama itu tercetak timbul dalam benaknya namun tak bisa disuarakan.

Jiyoo meraih mugnya, mengeratkan pegangannya di sepanjang sisi mug yang hangat. Jika ia mengusulkan nama itu, ia tak bisa menebak bagaimana respon yang akan diberikan oleh Eunhyuk, jadi ia memilih untuk diam saja.

Eunhyuk melirik Jiyoo yang meneguk cokelat hangatnya. Dengan acuh ia memasukkan kembali tiket-tiket itu ke dalam amplop dan menggeletakkannya di meja begitu saja. Lelaki itu melipat kedua tangan di dada dan bersandar di sandaran sofa.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan.”

Tanpa suara, Jiyoo tetap memeluk mug dalam genggamannya. Ia tak lagi meminum cokelat hangatnya, hanya sekedar menempelkan bibir di permukaan mug dan menunggu kalimat Eunhyuk selanjutnya. Alisnya pura-pura terangkat walaupun jantungnya nyaris membuat kegaduhan karena berdebar tak karuan.

“Donghae, kan?”

Jiyoo menggeleng, tetap tak mengubah posisi mug di bibirnya. Sepertinya Eunhyuk terlalu peka –Jiyoo mencatat bahwa lelaki itu hanya peka pada hal-hal yang berkaitan dengannya.

“Lepaskan mug itu atau aku akan menciummu.”

Dengan terburu-buru Jiyoo meletakkan mug kembali ke meja. Gadis itu berdeham pelan. Darahnya yang panas naik ke wajahnya. “Kita bisa memberikan tiketnya pada orang lain.”

“Kita juga bisa memberikannya pada Donghae,” ujar Eunhyuk. Ia menghela napas panjang dan melirik Jiyoo melalui sudut matanya. “Aku serius.”

Jiyoo menoleh, memandang Eunhyuk tanpa berkedip. Ia bisa mendengar ketidakyakinan dari suara lelaki itu, jadi kenapa Eunhyuk repot-repot memalsukannya?

“Hari ini kau akan menemuinya, kan?” tanya Eunhyuk. Kedua matanya terpaku pada mug yang sudah kosong di atas meja. Walaupun rasanya tak menyenangkan memaksakan diri seperti ini, Eunhyuk tetap mencoba memahami Choi Jiyoo. Sadar sedang diperhatikan, Eunhyuk memalingkan wajah. “Apa?”

Jiyoo menggelengkan kepala, menunduk untuk menyembunyikan senyuman gelinya. “Kau terlalu memaksakan diri.”

“Benarkah? Kau tidak suka?”

“Bagaimana ya…” Jiyoo menyandarkan dagunya di pundak Eunhyuk. “Aku suka semua tentangmu. Tak ada pantangan, tak ada perkecualian.”

Eunhyuk menelan ludah. “Kalau begitu aku juga sama.”

Donghae adalah bagian dari Jiyoo sementara Jiyoo adalah nyawa Eunhyuk. Jika ia membedakan Donghae dan Jiyoo, itu artinya Eunhyuk sedang membedakan dirinya sendiri dengan Jiyoo. Ia keberatan. Ia tak suka dan tak akan mau.

Dan ia memutuskan tak akan pernah meminta Jiyoo memilih antara dirinya atau Lee Donghae.

Hari itu dingin. Angin berhembus membelai wajah Jiyoo hingga ia merasakan sensasi sejuk yang membekukan. Kedua kakinya bergetar jika tak digunakan untuk berjalan. Namun gadis itu sudah sampai di tempat yang ditujunya. Ia tak bisa bergerak lagi.

Jiyoo melongok, mengintip jalan setapak yang dihiasi batu-batuan yang mengarah ke pintu utama. Tampaknya rumah itu kosong. Ia menghela napas panjang sebelum hendak membalikkan badan.

“Eonni mencari Donghae Oppa?”

Suara itu menahan Jiyoo untuk berbalik. Han Jeyeon muncul dari pekarangan rumah Donghae sambil menenteng kantung plastik berisi jeruk. Jiyoo berdiri mematung sebelum akhirnya ia bisa memerintahkan kepalanya untuk mengangguk.

“Oppa tidak ada di rumah sejak kemarin,” kata Jeyeon. Gadis itu melangkah perlahan ke arah Jiyoo. “Bukankah Eonni ada di sini kemarin?”

Jiyoo kembali mengangguk kaku, mendadak teringat kemunculannya yang tiba-tiba di rumah ini, persis seperti sekarang. Ia merasa jutaan kali lebih buruk karena dirinya-lah yang membuat Eunhyuk menyalahkan Donghae seperti kemarin. Kedua orang itu tak seharusnya bertengkar karena kesalahpahaman atas dirinya seperti ini.

“Eonni,” panggil Jeyeon. Jiyoo mendongak, menatap gadis itu dengan tatapan ingin tahu. “Apa terjadi sesuatu?”

“Kenapa bertanya begitu?”

Jeyeon mengangkat bahu, santai. “Hanya meramalkan. Kalau… kalau Eonni tidak berniat meraih tangan Donghae Oppa selamanya, tidak bisakah Eonni membiarkan Donghae Oppa melepaskan tangannya lebih dulu?”

“Hah?”

“Tidak apa-apa.” Jeyeon tersenyum seraya menggelengkan kepala. Ia menyodorkan kantung plastik yang dipegangnya pada Jiyoo. “Yah… aku yakin Eonni tahu Donghae Oppa berada di mana, jadi aku titip ini untuknya. Terima kasih!”

Bahkan Jiyoo tak sempat menyahut saat Jeyeon berjalan cepat ke rumahnya sendiri. Ia mematung, memandangi jeruk-jeruk berwarna jingga cerah dalam kantung plastik yang berada di tangannya. Ucapan Jeyeon memang mengganggunya, tapi saat ini Jiyoo hanya ingin bertemu dengan Donghae.

Satu-satunya hal yang harus dilakukannya saat ini adalah memastikan bahwa lelaki itu baik-baik saja.

Incheon – 2:23 PM

Lee Donghae duduk dengan menempelkan punggungnya pada sandaran ranjang. Ia mengabaikan semua panggilan dan pesan yang masuk ke ponselnya. Ia menolak untuk kembali ke Seoul. Ia bahkan tak bisa memejamkan matanya tanpa memutar ulang sesuatu yang terjadi kemarin.

Semua kejadian kemarin seperti kaset video rusak yang hanya memutar adegan yang sama.

Jiyoo, dirinya dan Eunhyuk. Berada dalam satu ruangan dengan atmosfer yang tak menyenangkan. Bahkan ia, Lee Donghae yang bodoh, kehilangan akal ketika Eunhyuk menarik paksa Jiyoo menjauh darinya. Ia baru saja mengaku pada Eunhyuk bahwa ia juga berhak atas Jiyoo; bahwa saat Eunhyuk tak ada, dan seharusnya tak pernah ada, dirinya-lah yang ada di samping Jiyoo.

“Jiyoo mencarimu,” ucap ibunya di tepi pintu. Wanita itu, entah bagaimana, memahami situasi ini, mengerti setiap rinci cerita yang tak pernah terucapkan dari bibir anaknya. “Apa kau mau menemuinya?”

Donghae mengangguk, berusaha memaksakan seulas senyum tipis pada ibunya. Ia tahu ibunya khawatir, tapi ia sendiri tak bisa berhenti mengkhawatirkan dirinya sendiri, jadi Donghae tak benar-benar tahu apa yang harus dilakukannya.

Kedua kakinya terasa berat saat digunakan untuk berjalan, menuruni satu demi satu anak tangga hingga Donghae sadar apa penyebabnya. Ia berjalan ke arah Jiyoo, semakin dekat dengan gadis itu.

Ia sudah melakukannya berkali-kali seumur hidup, namun ia tetap berakhir dengan selangkah di belakang Jiyoo; tak pernah berada sejajar dengannya.

“Hai,” sapa Jiyoo.

Donghae tersenyum muram. Diam-diam ia mengamati hidung Jiyoo yang memerah karena udara dingin dan tatanan rambut gadis itu yang diterpa angin. Donghae penasaran kenapa gadis itu harus repot-repot menemuinya di sini secepat ini.

Dan Donghae menegur dirinya; kenapa pula ia harus repot-repot memerhatikan segala detil kecil dari gadis itu.

“Ini dari Jeyeon,” katanya. Donghae mengangguk dan membayangkan Han Jeyeon menunggunya di depan rumah seperti biasa. “Apa kau baik-baik saja?”

“Kurasa begitu.” Donghae mengedikkan bahu. “Apa Eunhyuk masih kesal?”

Jiyoo menggeleng dan melemparkan senyuman hangat untuk Donghae. Senyuman yang, dengan seenaknya, memberikan satu lagi goresan tak terlihat. “Aku sudah mengacaukan hubungan kalian ya?”

“Mau bagaimana lagi, dia memang seperti itu. Dia tidak suka ‘miliknya’ diganggu,” ucap Donghae santai. Ia memilih untuk menjatuhkan diri di sofa empuk berwarna putih gading. Sebenarnya ia hanya takut jika ia tak segera duduk, ia tak bisa menahan kakinya yang gemetaran lebih lama lagi.

Jiyoo mengikuti lelaki itu untuk duduk di sampingnya. “Semua orang mengatakan hal yang aneh padaku hari ini.”

“Seperti apa?”

“Melepaskan atau meraih tangan seseorang. Atau seseorang yang mati-matian menekan perasaannya sendiri. Kalau kau, ada yang mau kaukatakan padaku?”

Donghae mengatupkan rahang. Ada. Tentu saja ada yang sangat ingin dikatakannya. Mudah rasanya untuk melakukan itu, Donghae yakin.

Hal yang tak diyakininya hanya sesuatu yang mungkin bisa terjadi pada hubungan rumit ini selanjutnya.

Donghae tahu Eunhyuk bisa membaca maksud ucapannya kemarin. Pernyataan tentang siapa yang pertama, siapa yang lebih dulu dan semacamnya. Sebagai lelaki, Donghae yakin Eunhyuk bisa membaca pikirannya juga.

“Lee Donghae,” panggil Jiyoo. “Kau… sahabatku, kan?”

Pertanyaan mudah. Donghae bisa langsung menjawabnya. Namun lidahnya menjadi kelu, mendadak berhenti berfungsi, jadi ia hanya mengangguk.

“Kalau begitu,” sambung Jiyoo. Gadis itu mengeluarkan dua amplop dengan warna yang berbeda. Donghae bisa mengenali gambar yang ada di salah satu amplop itu. Pesawat. “Ikutlah denganku ke California!”

Seoul – 3:22 PM

“Kenapa aku!?”

Suara Daehyun bergema di seluruh bagian dinding ruangannya. Ia menyipitkan mata, tak senang dengan hal yang mendadak diputuskan oleh Eunhyuk. Eunhyuk memintanya ikut pergi ke California, bersama dengannya, Jiyoo dan tentu saja Donghae.

“Karena ada satu tiket yang lebih,” sahut Eunhyuk santai.

Daehyun mengerutkan kening. Memang alasan khas Lee Hyukjae, namun Daehyun tak percaya hanya itu yang jadi alasan utamanya. “Pembohong payah.”

Eunhyuk berdecak tak sabar. Tentu saja ia memang berbohong, tapi sepertinya ia jauh lebih suka jika Daehyun tak memperjelasnya seperti ini. Ia frustasi. Dan sangat bisa dipastikan bahwa ini akibatnya terlalu memuja gadis seperti Choi Jiyoo.

“Lagipula untuk apa men gajakku jika sudah ada Jiyoo dan Donghae bersamamu?” tanya Daehyun.

“Ceritanya panjang.”

“Kalau begitu, buatlah lebih singkat. Potong beberapa bagian yang tidak penting lalu rangkumlah menjadi cerita yang lebih padat.”

Eunhyuk menghela napas. Rasanya percuma melibatkan orang luar dalam masalah ini. Semua ini murni masalah antara tiga orang; dua lelaki, satu wanita. Dua lelaki yang mencintai satu wanita dan sang wanita yang sama sekali tak sadar akan hal itu. Kenyataan itu, Eunhyuk yakin, membuatnya dan lelaki yang lain frustasi.

Namun ia sendiri penasaran; tentang perasaan Donghae, tentang perasaan Jiyoo.

Jika saja Jiyoo menyadari perasaan macam apa yang disimpan oleh Donghae untuknya, apa yang akan gadis itu lakukan? Eunhyuk berulang kali menolak memikirkan pertanyaan itu, tapi ia tak bisa.

Seperti sebuah kebiasaan, pertanyaan itu mampir seenaknya dan mengusiknya sepanjang waktu.

“Berikan saja pada ibu Donghae,” ujar Daehyun sambil merapikan beberapa arsip bersampul warna-warni di mejanya. Eunhyuk menatapnya lama, cukup lama hingga Daehyun sadar sedang diamati. Ia menaikkan sebelah alisnya. “Apa?”

Eunhyuk menggeleng acuh. “Kau pintar membuat semuanya lebih buruk.”

“Mungkin sudah bakatku.” Daehyun tertawa sebelum kembali serius. “Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan?”

“Masalah.”

Daehyun memutar bola matanya. Ia menjatuhkan diri di kursinya, bersandar dengan santai. “Aku tahu, bodoh. Masalah seperti apa?”

Dengan helaan napas panjang Eunhyuk memilih memasukkan kembali tiket yang sejak tadi dipegangnya. “Masalah yang sangat besar.”

Los Angeles – California, USA

4:28 PM

Angin bertiup meraih tanda-tanda datangnya musim dingin di kota Los Angeles. Meskipun demikian, Jiyoo tak mau repot-repot mengancingkan mantel tebal yang membungkus tubuhnya. Ia menikmati angin di kota ini lebih dari siapa pun. Ajaib. Ia bisa merindukan kota yang dijadikan tempatnya bersembunyi.

Bandara Internasional LAX tetap megah, tetap mewah seperti yang seharusnya. Dari luar, keseluruhan bandara ini akan terlihat berbentuk setengah lingkaran dengan desain yang unik. Bandara internasional yang menjadi pusat utama pelayanan penerbangan di Los Angeles ini merupakan tempat kedua di Amerika Serikat sebagai tempat yang paling ramai.

Dan tentu saja Jiyoo tak pernah memikirkan kemegahan tempat ini. Ia hanya akan menyinggahinya sesaat, jadi segala hal tentang bandara tak pernah terlalu menarik untuknya.

Sementara Jiyoo sedang berjalan cepat menuju pintu keluar bandara, ia tak sadar dua lelaki di belakangnya berjalan dalam diam. Sejak di Incheon, pesawat hingga mendarat di LAX, tak satu pun dari Eunhyuk atau Donghae berkenan untuk saling berbicara. Keduanya tampak seperti orang asing.

“Setidaknya beraktinglah,” bisik Siwon.

Eunhyuk meliriknya tajam. Inilah salah satu akar lain kekesalannya. Daehyun, Jung Daehyun yang itu, menolak ikut berangkat ke California. Eunhyuk bisa saja melepaskan tiket itu. Ia sendiri tak terlalu keberatan jika ia akan berada bersama Donghae. Setidaknya ia berpikir demikian.

Namun sepertinya Choi Siwon tercipta hanya untuk mengacaukan hidupnya. Eunhyuk terlanjur meyakini hal itu. Entah bagaimana, Siwon tiba-tiba bertamu ke rumahnya, menemukan tiket-tiket yang tergeletak di atas meja, kemudian dengan santai menawarkan diri untuk ikut pergi.

Perjalanan bisnis di Los Angeles. Eunhyuk nyaris merutuk mendengar gagasan itu. Mungkin Choi Siwon memang tak berbakat dalam hal mengarang cerita.

Ia mendengus. “Sepertinya aku harus menyusul Jiyoo.”

Eunhyuk berjalan lebih cepat, buru-buru menyejajarkan langkah kakinya dengan gadis yang sudah berada cukup jauh di depannya. Saat berhasil menjangkau Jiyoo, Eunhyuk meraih tangan gadis itu.

“Kau berjalan terlalu cepat.”

Jiyoo tersenyum lebar. “Mian.

Dari belakang, tentu saja pemandangan itu mengganggu Donghae. Jika tak pernah ada Lee Hyukjae, ia akan bisa menggenggam tangan itu dengan bebas. Mungkin.

“Aku tahu apa yang kaupikirkan,” potong Siwon. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. “Jangan pernah berpikir untuk menjadikannya nyata.”

Donghae tak menyahut. Yang bisa dilakukannya hanya menggertakkan gigi kuat-kuat. Ia tak pernah benar-benar menyadari bahwa Choi Siwon berada di pihak Eunhyuk.

“Tapi… aku juga tahu kau terluka lebih dari siapa pun.”

“Apa yang kaubicarakan? Kau pasti mabuk karena perjalanan ini,” ujar Donghae asal. Ia mengeluarkan kacamata hitam dari saku dalam mantelnya. Dengan cepat ia menyelipkan kacamata itu di antara lipatan telinganya. “Mungkin seharusnya kau langsung beristirahat saja.”

Siwon terkekeh pelan. “Jangan bodoh. Selesaikan masalah kalian bertiga di sini, atau aku tidak akan membiarkan kalian pulang ke Seoul.”

“Bicaralah sesukamu.”

Choi Jiyoo terperangah. Taksi ini berbelok ke area West Hollywood. Untuk lebih tepatnya lagi, taksi yang ditumpanginya ini membawanya ke perumahan Orange Grove. Jiyoo tahu tempat ini; salah satu hunian yang selalu diidamkannya.

Tiap unitnya memiliki desain yang unik, tampak disusun oleh dua berlawanan yang identik dengan dihubungkan oleh area hitam di tengah strukturnya. Jiyoo mengingat beberapa gambar yang dilihatnya dari iklan properti di internet. Bangunan itu sangat sempurna.

“Mulutmu terbuka, Nyonya Lee,” sindir Eunhyuk. Ia mencubit pipi Jiyoo. “Kau pernah ke sini?”

Jiyoo menggeleng lugu. “Hanya bisa melihatnya dari iklan. Indah sekali, kan?”

“Entahlah,” sahutnya. “Jika menurutmu begitu.”

“Aku berbicara dengan orang yang tidak mengerti artinya seni estetika dari sebuah hunian.”

“Kau berbicara dengan orang yang hanya mengerti dirimu, dan bukan yang lain-lain,” sergah Eunhyuk cerdas. “Dimana pun, kalau ada kau, aku bisa hidup bahagia dengan indah dan sempurna. Lebih baik dibandingkan hidup di bangunan apa pun.”

Jiyoo mencibir tanpa suara walaupun bibirnya tersenyum. Saat taksi berhenti di depan sebuah rumah bernomor 33, ia tersenyum makin lebar. Ia buru-buru membuka pintu dan turun dari taksi sementara Eunhyuk memutar bola mata di punggung gadis itu.

Jo Marcus. Orange Grove ft 33 West Hollywood.

Jiyoo pasti sudah menekan bel dengan penuh semangat jika tak mengingat ia harus menunggu taksi Donghae dan Siwon tiba. Tangannya yang gatal buru-buru diraih oleh tangan Eunhyuk. Lelaki itu gemas melihat Jiyoo yang terlalu bersemangat seperti ini.

“Temanmu tidak akan pindah rumah dalam waktu satu menit, jangan khawatir.”

Jiyoo mengabaikan ejekan Eunhyuk. Ia tetap bersemangat dan tak bisa diam. Dalam waktu tiga puluh detik, ia harus mendaratkan jari telunjuknya di atas bel. Harus.

Saat taksi kedua tiba, Jiyoo melepaskan tangannya dari tangan Eunhyuk. Ia menekan bel yang terpasang di dinding beton dan menunggu –tetap dengan tidak tenang.

Seorang gadis berambut cokelat terang membukakan pintu. Gadis itu, menurut Eunhyuk, hanya beberapa tahun lebih tua dari Jiyoo. Dengan wajah lonjong dan kedua mata biru yang agak sipit, Eunhyuk bisa tahu bahwa gadis itu berdarah campuran, entah dari mana.

“Serena!” seru Jiyoo. Ia menghambur memeluk gadis yang lebih tinggi darinya itu.

“Angela, you came!?” Serena Chastain, atau mungkin Serena Jo, melingkarkan lengannya yang panjang di sekeliling pundak Jiyoo.

Jiyoo mendengus geli. “Who’ve sent the tickets in the first place?

I just think you wouldn’t make it. Bet your college life in Korea is worse than here.

Not really,” sahutnya. Ia melepaskan pelukannya dan melirik Eunhyuk. “Eum… this is–“

Your Lee Donghae?”

Untuk beberapa detik sepertinya langit jatuh tepat mengenai Eunhyuk. Ia menelan ludah, mendadak merasa terancam. Meskipun seharusnya ia sudah mengerti jika Lee Hyukjae sama sekali tak memiliki nama di kehidupan Jiyoo di California, namun ternyata rasanya tetap menyakitkan.

Donghae sendiri bahkan mendadak terdiam, berhenti menurunkan barang-barangnya dari bagasi taksi. Mungkin ia tahu jika perasaan ini keliru. Mungkin seharusnya ia tak boleh merasa sesenang ini. Tapi sepertinya ia akan memilih untuk tak peduli.

No, no. This is Lee Hyukjae, my… husband.”

Serena membulatkan kedua matanya lalu menyentil kening Jiyoo. “You got married!? Without me!?

Sorry, Ma’am.” Jiyoo terkekeh. Ia menggamit lengan Eunhyuk. “Shouldn’t we come in then?”

“Kau memikirkannya ya?”

Jiyoo menggantung pakaian-pakaiannya dan Eunhyuk di lemari berdesain minimalis di kamar yang disediakan Serena. Gadis itu terus memandangi Eunhyuk yang mengosongkan koper. Seharusnya ia tak perlu khawatir, tapi tatapan Eunhyuk menyuruhnya demikian.

“Apa?”

“Saat Serena justru mengenalimu sebagai Lee Donghae,” ujar Jiyoo.

Eunhyuk mengangkat bahu. “Seseorang sudah pernah melakukannya padaku, bukan hal yang baru.” Ia tersenyum miring, sepenuhnya menyindir Jiyoo dengan kejadian di bandara Incheon saat gadis itu baru tiba di tanah kelahirannya.

“Teruslah bicara.”

Eunhyuk tertawa pelan. Ia meninggalkan koper menyebalkan di kakinya dan mendekat ke arah Jiyoo. Dengan lembut ia melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu, memberinya pelukan dari belakang yang menyenangkan.

Eunhyuk mengecup bahu Jiyoo, membuat gadis itu merasa panas di tengah cuaca yang dingin. Ia menyesap kuat-kuat aroma manis yang menyeruak dari kulit Jiyoo. Jika bisa, Eunhyuk akan menghirupnya tanpa sisa hingga akhirnya hanya dirinya-lah yang memiliki gadis itu.

“Ada yang ingin kukatakan…”

“Nanti saja,” sergah Eunhyuk enggan. Ia sama sekali tak ingin menghentikan kenyamanan yang sedang dirasakannya.

Jiyoo harus berusaha keras untuk membalikkan tubuh dan menghentikan sentuhan menyenangkan Eunhyuk. Gadis itu membelai pipi Eunhyuk yang lembut. “Aku harus membantu Serena menyiapkan makan malam.”

“Jadi?”

Eunhyuk mengecup pipi Jiyoo. Eunhyuk bicara pada Jiyoo. Ia melakukannya secara bersamaan. Eunhyuk bicara di atas pipi gadis itu.

“Jadi… kau harus merapikan semua ini sementara aku akan menghancurkan dapur.”

Eunhyuk mencibir dan menghela napas panjang. “Kau suka sekali menyuruhku.”

Jiyoo tertawa dan memberikan kecupan ringan di pipi Eunhyuk. Ia meninggalkan kamar dan menutup pintunya, meninggalkan Eunhyuk yang berkutat dengan koper dan lemari. Setidaknya ia bisa melarikan diri dari sekian banyak resiko gagal jantung akibat lelaki itu.

Saat akan menuruni tangga, Jiyoo tak pernah berhenti mengagumi arsitektur bangunan ini. Dinding dan langit-langitnya besar, dicat putih untuk menciptakan ilusi ruang yang besar dan terang. Lantainya dibuat dari beton bernoda. Serta ada pintu kaca geser dan jendela besar sebagai sumber cahaya matahari.

Jika seandainya Eunhyuk memintanya untuk pindah dari Seoul, West Hollywood akan jadi pilihannya. Jiyoo tersenyum geli. Masalahnya, lelaki itu tak akan pernah melakukannya. Bahkan dalam tidur pun Jiyoo tak berani memimpikannya.

“Apa yang lucu?” Donghae tiba-tiba berada di belakang Jiyoo, menuruni satu demi satu anak tangga tepat satu langkah di belakang Jiyoo.

Jiyoo tersenyum makin lebar. “Jika aku punya rumah seperti ini, aku pasti bahagia.”

“Kau bisa membangun yang seperti ini. Jika tidak bisa di Seoul, bisa di Incheon,” sahutnya santai.

“Eunhyuk tidak akan suka.” Jiyoo mengangkat bahu. “Ah, apa kalian masih bertengkar?”

Donghae mengatupkan rahang sebelum akhirnya menggelengkan kepala. “Tidak.”

“Aku tidak merasa begitu.”

“Perasaanmu selalu salah. Ada yang tidak beres dengan sistem perasaanmu.”

Jiyoo mendengus. “Maaf ya, kau harus satu kamar dengan Siwon Oppa.”

“Tidak masalah. Hanya malam ini, kan? Dia sudah bilang kalau besok dia akan kembali ke Los Angeles untuk urusan-entah-apa-namanya-tadi.” Donghae mengangkat bahu santai.

Jiyoo mengangguk cepat. Sepertinya Choi Siwon tak benar-benar punya urusan di California. Jika perasaannya tak salah, lelaki itu hanya ingin tahu tentang kehidupannya di negara bagian Amerika Serikat ini. Jiyoo bahkan tak tahu kenapa ia merasa demikian.

“Kau sedang bosan, kan?” tanya Jiyoo. Sepersekian berikutnya, ia tersenyum penuh kemenangan. “Ayo ke dapur!”

Donghae terjebak. Choi Jiyoo memang selalu bisa mengacaukan segalanya. Rencananya sore ini ia akan berkeliling kompleks ini bersama dengan Marcus, suami Serena. Namun memang rencana hanya akan menjadi sebatas rencana.

Choi Jiyoo sudah menculiknya ke dapur, berkutat dengan macam-macam menu masakan rumit ala western.

Home-made pizza!” seru Serena dan Jiyoo bersamaan. Donghae mulai tahu kenapa Jiyoo sangat akrab dengan gadis bernama Serena itu; keduanya sama-sama cerewet.

Sementara Donghae memotong macam-macam topping yang dibutuhkan untuk home-made pizza ala Serena, Jiyoo sibuk membuat adonan kue keahliannya; lemon cake. Jika ia belum kehilangan taringnya, ia akan mengukuhkan diri sebagai lemon cake super chef.

So how long have you been? You and Eunhyuk,” tanya Serena. Gadis itu membentuk-bentuk adonan pizza menjadi pipih. Kedua tangannya dipenuhi tepung.

Jiyoo berhenti mengayak gula pasir, berpikir sejenak. “Eum… about three or four month? Or more? I don’t even remember.

Serena tertawa dan nyaris mengetuk kening Jiyoo lagi. Temannya itu cukup mengagumkan; menikah seenaknya dan melupakan lama pernikahannya juga dengan seenaknya. Angela Choi selalu ajaib.

And… your pregnancy?

Kali ini Jiyoo bahkan tak bisa tersenyum. Ia menyadari tatapan Donghae di punggungnya. “H-how did you know?

Ah, I just knew. Your surrounding is like what I’d seen in mirror; full of happiness yet unawareness. I was pregnant once but lost it back then,” ujar Serena sambil melemparkan senyum simpul. Jiyoo menelan ludah. Ia bahkan tak tahu jika temannya kehilangan janin. “Don’t give me that such a look.”

I’m just so sorry, Serena.” Jiyoo ingin memeluk Serena jika ia bisa memerintahkan anggota tubuhnya. Saat ini Jiyoo terlalu dipenuhi keterkejutan; tentang kehamilannya yang langsung diketahui Serena, tentang kesedihan temannya karena kehilangan calon bayi. “Please… Don’t tell Eunhyuk, yet.

Why? He must be extremely happy.

Jiyoo menggigit bibir bawahnya. “I know.

“Apa kau tidak mau memberitahunya?”

Donghae menyesap teh lemon buatan Serena yang sudah dingin. Halaman belakang rumah ini luas; cukup luas untuk dijadikan tempat bicara. Donghae duduk di kursi kayu dengan Jiyoo di sampingnya.

“Kau tahu dia selalu memimpikan hal ini, Yoo.” Donghae merasakan kegetiran aneh di lidahnya. “Dia… selalu menginginkan anak. Anaknya darimu. Anak kalian.”

Jiyoo menggenggam cangkirnya erat-erat. Saat tehnya masih hangat, rasa hangat itu akan menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi saat ini Jiyoo hanya merasa semakin kedinginan.

“Tadinya aku tidak tahu. Perubahan pola makan, perasaan dan mimpi-mimpi buruk itu… semuanya terasa masuk akal saat dokter bilang aku sedang mengandung,” katanya pelan. Jiyoo menyentuh perutnya dengan hati-hati. “Delapan minggu.”

Donghae kembali meneguk tehnya, kali ini hingga habis dan tak ada yang tersisa di cangkirnya. Ia tak tahu bagaimana cara menjabarkan perasaan ini. Ia bahagia tapi juga sedih secara bersamaan.

“Dia bilang pasti akan menyenangkan jika ada malaikat kecil di antara kami,” sambung Jiyoo. Ia memutar ulang ucapan Eunhyuk pagi itu. Seharusnya ia memberitahu lelaki itu. Seharusnya.

“Malaikat kecil…”

“Tapi apa kau tahu kenapa aku begitu takut?” tanyanya. Jiyoo tak memandang Donghae. Tatapannya hanya terfokus pada cangkir dalam genggamannya. “Mimpi… itu.”

Donghae mengerutkan kening, berusaha memahami ucapan singkat dari Jiyoo. Mimpi itu tentang Junhong. Donghae membelalakkan mata. Tidak. Sejak awal bukan Junhong yang mengganggu pikiran Jiyoo. Kecelakaan itu.

“Yoo, tidak seperti itu. Bukan seperti itu.”

Jiyoo menggigit bibir. “Aku tahu, tapi tetap saja itu mungkin. Eomma berusaha membunuh kami dan dia berhasil melakukannya pada Junhong, lalu aku… bagaimana jika aku juga jadi seperti dia? Aku… bagaimana jika nanti aku menjadi ibu yang seperti dia?”

Jiyoo harus terus menggenggam cangkirnya jika ia tak mau memperlihatkan tangannya yang gemetaran. Saat ini ia memang sangat mencintai janin 8 minggunya, tapi bagaimana jika tiba-tiba ia menjadi orang yang depresi seperti ibunya? Ia bisa saja membahayakan anaknya.

Anak Eunhyuk.

Kekhawatiran itu selalu berhasil mencegah Jiyoo untuk memberitahu Eunhyuk. Ketakutannya selalu menghalangi Jiyoo memberikan kebahagiaan terbesar untuk Eunhyuk.

“Kau… ibu dari seorang malaikat.” Donghae meraih tangan Jiyoo, menggenggam tangannya erat. “Itu artinya kau bahkan lebih dari malaikat.”

===============TBC================

Aaah~ DO YOU MISS ME!? *slapped*

Anw, hello! I’m back wif this chapter. Eunhae-Yoo isn’t even finish yet but I did put another thing to go. *bow*

Err… last chapter you didn’t understand why Jiyoo couldn’t tell Hyuk but she did talk to Donghae instead, rite? This is the answer. She had her own reason. Why she couldn’t tell Hyuk about how much she scared of her nightmare(s), is bcs she’s pregnant and hesitate to tell Hyuk.

She wants to give this super best news but still she’s haunted by her mother memories.

Singkatnya, dia takut kalo depresinya ibunya itu bisa nurun ke dia terus akhirnya kalo dia nyakitin anak Hyuk, gimana hayo? Makanya dia milih buat ngerahasiain ini duyu, walopun akhirnya dia malah bikin masalah lebih besar dg melibatkan Donghae. *pukpuk Hae*

Tapi di atas sih Jiyoo suda pingin cerita ke Hyuk (dua kali malah), tapi Hyuk sendiri yang gamau denger. Jadi kan Jiyoo gak sepenuhnya salah. *ngeles lancar neng? xD*

Nah, hope you guys satisfied wif this explanation. Just a pshychology thingy of our main cast actually. :’3

127 thoughts on “Marry Yoo! [11th Step]

  1. Choi siwon makhluk super nyebelin pas buat di aniyaya inimah
    Jiyoo masa lalu hanyalah masa lalu bener kata donghae ga usah takuuut ayolahh kasih tau eunhyuk .. Tapi eunhyuk nya malah nyuruh jiyoo diem mulu hahaha
    Tapiii selamat dulu buat jiyoo bakal punya dede bayi😀 chukae

    • Eii~ jangan atuh. Kesian masiwonnya. xD
      Sebenernya jiyoo takutnya kalo penyakit depresi ibunya bisa nurun ke dia. Parnoan memang. :’)
      Aih… terima kasyiiihh~ ^-^

  2. akhirnya kembali juga. aku seneng pas ngecheck udah ada postingan baru ^^
    makin rumit, makin nyesek buat dongenya. aku ga sabar nunggu selanjutnya. keep writing unni ^^/

  3. Akhirnya publis lagi…
    Tuh kan bener, daehyun naksir chaerin udah lama… Chaerin sama daehyun aja ya, aku suka pasangan ini sejak awal.
    Wah kasian banget hyuk dua kali dianggap donghae..
    Eiii, yoo selamat ya atas kehamilannya. Tapi kan kasihan juga hyuk kalau dia ga dikasih tahu. Ntar salah paham lagi karena donghae yang lebih tahu kalau yoo hamil.
    Ehh, siwon tahu ya kalau donghae suka sama yoo, aish siwon kayak cenayangan aja….

    • Ah, mudah2an pasangan Daerin (?) bisa awet deh ya. xD
      Suda nasib si hyukjae dianggep donghae. Dia wajib terima dengan lapang dada. HA HA~
      Donghae juga gak sengaja tau kok. Salah Jiyoo juga ngapain seret2 donghae ke dapur. xD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  4. finally !! aku ngebut bacanya dr part 1.
    well, ini baguuussss !!
    d part ini ada suamiku *lirik jo marcus* tp dia uda nkah. hiks..hiks..
    donghae nyesek bgt ya, ma aqu ja mau gk? single neh hbs dtggl nkah ama kyu. haha

    untng jiyoo gk kguguran pdhl kandungannya msh rentan tuh klo naek psawat.

    hehe mian commentnya pnjng bgt😄
    DAEBAK CHINGU !! KEEP WRITING N FIGHTING !!

    • Kesian ya.. si marcus suda melarikan diri ke amerika, nikah ama bule. xD
      Jiyoo nekat naek pesawat gara2 tiketnya gratisan. xDD
      Makasihh syuda baca yaa~ FIGHTING! ^-^

  5. Ah! Aku sukaaa sama chapter ini! Suka dengan karakter mreka semua! Dan termasuk babak baru di hubungan daehyun sm chaerin.🙂
    Can’t wait for the moment when Yoo tell Hyuk about her pregnancy…

  6. kangen…bgt…bgt…bgt…!!!^^
    trnyata yoo lg hmil?ah…my anchovi mw jdi daddy dong…^^
    mkin cinta deh sma hyuk.seandainya pnya suami kyak hyuk yg super pengertian dan super sayang.bahagia bgt jdi yoo.hyuk tuh sosok suami sempurna klo mnrut aq.tpi ko scene romantisnya sdkit?kangen jihyuk mesra2an…^^
    dtnggu next capt ea…

    • Aaahh… terima kasyihh~ aku juga kangen bacain komen disini. T^T
      Ini scene romantisnya suda banyak loooh~ banyak beuds malah. :’)
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  7. hey eonnie, jinja aku kangen sama ini FF. kangen ngeliat kemesraan jihyuk =,=
    itu eunhyuk bisa kali romantisnya bagi, envy pisan euy,,
    pokoknya eunhyuk musti tau cepet tentang kehamilannya jiyoo. jiyoo mah parnoan -_-
    ditunggu lanjutannya, eon kkk
    fighting!!

    • HARUSNYA KANGEN SAMA AUTHORNYA ATUUUHH~ *dibuang ke korea*
      Iyah, jiyoo parnoannya tingkat dewi kwan-in. xD
      FIGHTING! Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  8. Haaaaah sibuk nahan napas tiap baca marry yoo :”)

    Nggak tau harus lebih mengasihani siapa, mereka semua kasiaaan >-<

    Fuuuh tapi bener" udah kebayang nih gmna reaksi wajah kecewany hyuk klo denger yoo hamil, tapi malah donge duluan yg tau… Poor hyukjae *pukpukpuk*

    Lanjutannya ditunggu~

    • Heii~ napas, napas! xD
      Iya, itu juga yang bakal jadi hi-lite chapter depan. Hyuk tau yoo hamil tapi tau juga kalo hae lagi2 jadi yg pertama. :’)
      Terima kasyih syuda baca yaa~ ^-^

  9. huwaaaa finally dilanjutkan… Hehehe
    Seriusan bhagia bgt malem2 ada notif email pas diliat tw nya update-an MY… Oh my
    Padahal mata udah 5 watt bgt itu… Tp akhirnya kelar jg bc ni pagi…

    Dan salut deh sama pengertiannya hyukjae untuk jiyoo…
    Dan aku gk tw kenapa demen ama daehyun disini, siaul dah daehyun romantis, aduh duh… Ternyata jauh lebih lama daehyun sukanya ke chaerin, aduh parah bgt dah klo chaerin gk terenyuh #plakkk

    And what?! Yoo udah hamil? 8 minggu? Dan ternyata yg mw diomongin yoo ke hyuk itu kehamilannya tp malahan ditolak mulu, kalo tw mah udah loncat2an dipuun kali #plakk

    Ayo yoo semangat jgn takut hyuk bkal jd appa yg baik kok… Gk bkal ninggalin kok…
    Okeh berarti 7 blan lg baby yoon bkal lahiiiir
    Uhuyyy

    Semangat bwt next chapter… Aku jg semangat nunggunyaaaaa

    • Aaah~ benarkah? Terima kasyih loh.. :’)
      Hyukjae itu tipe2 cowok yang selalu buta akan cewek (?)
      Siap2lah, si Jung Daehyun bakal saya sulap jadi cowok idaman sepanjang masa. HA HA HA~

      8 minggu dan langsung diajak terbang ke benua laen. Rada sarap memang jiyoo ini. xD
      Semangaaaat menunggu! Terima kasyih syuda baca yaa~ ^-^

  10. asli asli deh… malah makin penasaran nungguin kelanjutannya….
    i am curious yeaahh *shinee mode on * 😉

  11. ini ceritanya eunhyuk pengen pengertian tapi salah ngerti ..
    walaupun kemarin km bilang udah nggak ‘itu’ sama eunhyuk tetep aja km lanjutin .hebat !🙂

  12. serba salah n semakin rumit……
    jiyoo emg bener2 gak sadar ama perasaan donghae ato hanya gak ingin mengakui klo dy tau?
    perasaan eunhyuk jiyoo bs nebak dgn mudah, tp perasaan donghae jiyoo gak bs merasakan..

    agak miris sih ma donghae, gak bs keluar dr lingkaran JiHyuk…😥

    ternyata Daehyun jatuh cinta Chaerin, smg mereka bahagia…
    n smg eunhyuk tau dy pny ana…🙂
    n d’tunggu next part..😀

    • Jiyoo memang gak sadar sama sekali soal perasaannya hae, onn. Disitulah nyebelinnya jihyuk. Gak ada yang peka sama perasaan orang laen. Hyuk juga gak sadar kan ada Chaerin yg suka sama dia. xD
      Donghae… iyah, gak tega lah sama dia. Tapi justru itu perannya Lee Donghae. *tabur kembang*
      Makasihh syuda baca eonni~ ^-^

  13. woo~~~ JiHyuk couple is back!! \(^o^)/
    this chapter so meaningful🙂 Yoo pregnance..will be there little angel in their small family🙂 chukkae😀
    I really like siwon character in this FF🙂

    keep loving, support and writing JiHyuk couple😀 waiting for the next chapter~~~

  14. jeongmal bogoshipo yoo..
    hehehe

    iya, eunhyuk emg lbh suka tenang dlu, g mw dgr yoo..
    pdahal kbar dr yoo pasti bwt dy sng bgd..

    siwon yakin bkal minggat bsknya?
    g bkal slese.in urusannya eunhae-yoo..
    wkwkwk
    siwon itu pengganggu sekaligus penengah..
    bermanfaat sekaligus pgn nglempar..
    hah!
    yg pasti hyuk just for yoo..
    ^^

    • Hehehe~ miss chu too.. ^-^

      Nah, sepertinya cowok emang lebih suka kaya gitu. Pingin nenangin diri dari masalah kemaren. xD
      HA HA HA~ kasian sekali siwon dapet gelar kaya gitu. xD Tapi dia bakal berjasa juga lah. :3
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  15. eonni-ya, keren banget sumpah!!
    berasa lagi nonton drama, bukan fanfic. tiap percakapannya aku suka. dan mengingat fakta eonni ud break up sama hyukjae hyung, itu bikin nyesek sendiri😀
    kalian berdua pasangan yg fenomenal tau ga? menye ah.

    aku tunggu part selanjutnya ^^
    -loveleecho-

    • Aah.. bisa aja. *goyang2in tangan-kipas2*
      Terima kasyih~ xD Ini juga ngetiknya miris sendiri kok. :’)
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  16. wooah. komentarnya : warm.
    ceritanya anget banget, dan kenapa ya aku juga ga bisa milih salah satu antara dong atau hyuk ya. Both of them is just too hard to resist.
    konflikasi banget ya. tapi ramenya memang itu…
    and anyway, hyuk kalo di ff Yoo imej yadongnya musnah ya. Yang ada malah sweet, cute, romantic, yang bagus-bagus, magically banget.
    yaudah deh, endingnya SE-MA-NGAT!

    • Iyah, jangan dipilih antara eunhae. Gak bakal bisa. xD
      HAHAHA~ itu salah satu misi dari ff ini, menghilangkan imej tsb. :3
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^ SEMANGAT!

  17. annyeong eonni,.
    Lama nggak mampir,hehehe..kangen deh sama ni couple..
    Ceritanya seru bngt!!
    Jadi, daehyun suka sama chaerin ya??
    Btw, mau sampe kapan jiyoo mau nutupin fakta kalo dia hamil dan nggak mau ngasih tau enhyuk?? #ala sinetron.
    But over all it’s still good (y)
    keep writing and fighting!!

    • Annyeoooong~ ^-^
      Tenang aja, si jiyoo bakal ngomong kok. Hyuk bakal tau dari jiyoo, bukan dari orang lain. :”>
      Makasihh syuda baca yaa~ Fighting! ^-^

  18. Aaaaaaa hyuk jiyoo……..
    Aaaa makin rumit makin keren aja ini ceritanya ><
    Itu di ending jangan sampe hyuk ngeliat deh T.T berabe nanti huhu
    Ditunggu lanjutannya…
    Selalu keren ceritanya deh (y)

  19. yeeeeaaah i miss you sooooo much yoo ahahha
    btw ini makin seru aje, jiyoo hamil ? astagaa yoo bisa hamil juga #eh ahahahaanyway hyuk pasti seneng bet kalo tau. tapi yoo msih trauma gitu ya.
    okesip ! itu siwon kok kayaknya kepo gitu sama urusan eunhae dan yoo. eunhae masih diem dieman kayaknya jga. eeyyy berbaikanlah kalian ya, i love this part !!! next part tak tunggu yooooo #cium hihihihi

    • HA HA HA~ I miss chu too… xD
      Eii~ kan jihyuk suda ngapa2in (?) xD Traumanya sih lebih karna ketakutan jiyoo sendiri, ngira kalo penyakit depresi gitu bisa nurun. Hiksu~ x’D
      Eunhae belom dapet scene yg bener2 bedua, masih dipikirin. :”>
      Makasiihh syuda baca yaa~ ^-^

  20. and i love how you make this complicated physicologic story <33333
    JUNG DAEHYUN YOU'RE ROOOOOCK !!! saya mencium bau-bau menghilangnya chaerin dari cinta segi banyaknya JiHyuk xD lol
    ayolah chaerin, itu daehyun dengan bibir tebal menawan yang udah nunggu 7taun plusplus masih tega dianggurin ? *digetok*
    kadang2 gemes sama enyuk yang terlalu ngerti jiyoo ..
    mbok ya sabar sekaliiiiiii ;A; tapi baekan mereka karna enyuk yang ngerti yoo itu sumpah romantis bangeeeeeettt !!!! T.T
    aaak pokonya ngerasa evrything get better here :3 walo cinta segitiga eunhae-yoo belom kelar, dan choi siwon yang masih ngintil pun masih kerasa semuanya super baek !! xD
    DEDEEEK BAYIIIIIIIIII~~~~~~~~~~~~~~~ !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! *excited*
    enyuk belom jadi bapa aja udah romantis abis ;A;
    gimana kalo tau yoo hamil anak dia ? ngarep yoo ngerjain hyuk di dapur nanti mhehehe *epil*
    ngomongngomong soal epil , si kyu baru muncul namanya doang yah ? haha *gapen /abaikan/*
    next chaaap ditunggu sangaaaaat😀
    hwaitiing !! :)))))
    anw i wanna read ur protected story ;A; can i ?
    i've sent messej to ur fb btw🙂

    • AAAAAHHH~~~~ THANK YOUUUU!! You know its my speciality. xD
      Tenang sajo, Song Chaerin sedang dicarikan pangeran baru dari Busan. HA HA HA~
      Sebenernya karakter hyuk yang akhirnya ignorant dan neken perasaannya sendiri ini syuda jadi impian dari lama. Walopun rasanya agak mustahil juga ada cowok yg senaif itu. :”>
      Choi Siwon still get more way to go. I had more for him. Kekeke~
      BWAHAHAHAHA~ boleh sekali itu ide membully hyuk pas tau bininya hamil. Sepertinya syeruu. xD
      Si Kyu…. entahlah. Saya agak sangsi memberi dia peran lelaki yg jago ngomong english. xD xD
      Hwaitiiiing! Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

      ps: I didnt receive ur PM yet. Please re-send it~ T^T

      • hahaha know it alrdy , u’re expert shel xD
        wakkss ini resmi kisah tunggu-menunggu brati yah , tinggal saya jg menunggu chapter chaerin lepasin enyuk trus sma si busan live happily ever after <333
        aah i guess more siwon will be more cutie sulky hyukjae xD
        i need him too then xDD

        alrdy resend PM :)))

  21. Aigooo.. Lee hyuk jae baik banget, suami yg sangat sangat sangat pengertian.. Tapi kasian juga sih liat eunhyuk, tp akhirnya dy tau juga alasannya, meskipun ga sepenuhnya..
    Ayo dong jiyoo kasih tau eunhyuk kalo kamu hamil, eunhyuk pasti seneng bangett.
    Pliss dong itu Hae suruh cepet2 cari pacar, kasian bnget merana gitu.. Ckckckckk
    Eiiyyy.. Ternyata yah daehyun diem2 mendem cinta juga ternyata.. Chukae bwt chaerin yg ga jadi patah hati °(^▿^)/°

    • Si hae masih dikontrak buat merana di beberapa chapter terakhir. :’)
      Daehyun sama Chaerin belom resmi jadian loh. Masih diusahakan authornya rela ato gak ngasih Daehyun buat Chaerin. xD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  22. Finally i have a free time to read this.. ~~
    Aku suka banget persahabtan Hyuk-Hae-Hyun di sini. Dan yah.. beruntung Daehyun suka nya ma Chaerin bukannya ikut2an suka ma Yoo ..#eh😀
    Bagian Chaerin-Daehyun sweet ~~^^ Ini berati Chaerin dah bisa melupakan perasaannya pada Hyuk sedikit demi sdkt.
    and Hae, Kau melakukan semuanya dengan baik. Meskipun kau merasa sakit, tapi aku yakin kau akan berada di posisi yang baik untuk Yoo and Hyuk .

    • Congrats for having time to read this! ^-^
      Samaaa~ aku juga syuka persahabatan 3 cowok kece itu. xD Untung authornya gak maruk pingin ngembat Jung Daehyun juja ya.. *slapped*
      Si hae dapet banyak bala bantuan nih ya. Banyak yg ngedukung. Syukurlah.. :’)
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  23. Ya ampun yoo, lagi2 hae jd yg pertama. Meskipun ga sengaja tetep ja itu masalah.
    Aihhhh, kasian jg uri hyuk.

    Seneng bgd sama sikap hyuk yg bs lgsg brsikap normal, kepercayaan. Y itulh yg mang dbutuhkn bgd dlm suatu hubungan.
    Tp, knp kalo yoo mw cerita eh dtunda2 mulu ma oppa?
    Hadeuh, gara2 oppa jg ni ci yoo jd ga cerita2.
    Trkadang maksa dikit gapapa x hyuk.

    Seneng jg sama adegan eunsihae dsni.
    Seru kalo mreka udah brdebat.. Kkekeke.

    Next!!
    Fighting eonni^^

    • Nah mungkin memang takdir hae buat selalu jadi yang pertama sementara hyuk jadi yg terakhir. #aseeek
      Fighting! Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  24. whoaaa .. she’s pregnant?? tell him now!!!!!! jeballll ….

    gemes banget sama endingnya …

    lee hyukjae itu pengertiannnnn bgt!!! ckckck so tell him and he’ll got jackpot!!!

    asik asik udah hamil .. udah mau punya anak … ceoat lambat pun kalo gak kasih tau hyukjae juga tetep ketauan … hyukjae jadi ayaahh

  25. yaampun nyesel bgt udah lama gabuka wp kakak…tadi temen sms dan bilang marry yoo sempet ga percaya tapi pas liat jingkrak-jingkrakkan😀 waaaahhh Daehyun gatau kenapa frustasi sendiri baca daehyun confessed his feeling…padahal udah sering baca ff daehyun tapi ini malah fruatasi(?) this fangirl feeling…..wakakaka. makin seru kak(y) konflik nya makin seru~~~ gasabar ngeliat konfliknya selesai satu per satu dan akhirnya mereka diakhiri dengan setiap orang punya pasangan~~ unyu sekaliiii~~~ pas baca jo marcus ngakak sendiri langsung inget kyuhyun waakakak. donghae tabah yah, peka dong sama perasaannya jeyeon wakakakak. and i’m really satisfied with this kak shelaaa~~~~

    • Hehehe~ percayalah sama temenmu nak. xD
      Eh, kakak gak pernah baca ff bap sama sekali loh. Gatau kenapa suka gak dapet aja. Makanya karakter daehyun ini agak terombang-ambing. *muup ea dae-chingu. x’D
      Jangan khawatir, ini juga pas ngetik nama marcus jo juga ngakak. Rada gak rela juga masukin dia *ditendang*
      Whoooaa~ thank you, dear.. :*

  26. akhirnya marry yoo publish ><
    kok disini aku pengen si yoo sm hae ya eon?? :p
    rasanya nyaman banget baca kalo ada haeyoo moment🙂
    tapi tapi tetep aja poo dan yoo tak terpisahkan apalagi mau ada baby kkk~

  27. wuahhhh kangen marry yoo!!baru nongol d blog eonn lg dan ternyata marry yoo dh sampe part 11..
    oh my donghae!knp eonni tega bikin abang jadi galau kyk gitu..klo emang suka ama yoo kenapa waktu tu malah ngasih yoo ke hyuk*emosi*gigit yesung*

    yoo hamil?jeongmal?
    tapi orang pertama yg tau malah bang hae,klo hyuk ampe tau pasti kecewa lg deh dia*pukpuk hyuk*

    d tunggu next partnya eonniiii*kecup basah eonni*

  28. mkin nyesek aja crtany…..

    kykny tk perhtkan dr part 1,jiyoo seneng bgt maen rahasia2an ma kunyuk…
    trus ahrny jd slh pham…

    yoo…he is your husband..
    percylah pdany…!!

    author keep writing…!!!!!!!!

  29. … o mg aku kangen sama JiHyuk couple… Dan aku juga kangen dengan dirimu kak shela :’)
    ya allah. sebelum nya aku mau ngucapin Happy Bithday dulu buat kak shela.
    maaf telat /hikseu/ ㅠㅠㅠㅠ semoga makin +++ ya kak :’)

    duh. jadi bingung mau coment apa.
    suer kak, punya suami macam hyukjae diisini tuh waw banget :3
    dan apa itu, dia bisa melupakan masalah dan balik ke hyukjae yg semula pas di besoknya.
    aww… sweet hyukjae (ื▿ืʃƪ)♥ beruntunglah dirimu choi jiyoo…

    dan lagi, udah lagi awkward2 nya hub. hyukjae sama donghae, itu si choi siwon bisa aja ngebanyol nya xD suka lah. jadi gak terlalu tegang leedonghae nya kkk~

    next chapt ditunggu kak shela cantiks ({})
    oh iya, gaada traktiran apa2 buat para reader? kkk~

    • Ooohh~ terima kasyihh.. :’)
      Amin amin amiiiinn~ ^-^

      HA HA HA~ lee hyukjae suda menjelma jadi suami idaman. :”>
      Traktiran? Lagi kepikiran nraktir pake jihyukism story sih. xD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  30. Eonni eonniiiiii you’re back finally huffft😀 I really miss MY sooo much and eonni of course hihi {}
    I’m soooo happy, that u finally back with this chapter.. Ooooh, jd itu toh alasanx yoo gk ngasih tau hyuk ’bout her pregnancy *nodnod*
    Hae, yg sbar *pukpuk* anw, chukkaeeee daehyun~ssi!! Akhirnya terungkap sdh perasaanmu slma ini pd miss song hihihi
    Eeh, si bangkuda mncul lgii haha mntg” gratisan main nawarin diri aja kkeke
    this story it’s getting complicated, mkin nyesek *pukpuk* semuanya tersakiti huhu… gmn yah klo hyuk tahu klo trnyta hae lbh dluan tahu soal kehmilan yoo?? Huuaaa I can’t even imagine his expression
    Anw, eonni chukkaeyo, bntar lg baby yoon bkalan debut dong hihi kyaaa cannot wait for that🙂 baby yoon :*
    I’ll wait patiently for the nxt chap, gidarilkke😀

  31. Huaaa sumpah kak gegara Chapter ini aku lompat kegirangan, haha
    Ok siip aku suka bgt sm chapter ini, manisnya banyak😀
    Masyaallah itu Daehyun romantisnya kebangetan, aku mau dong jd Chaerin xD
    Tepuk tangan bt kehamilan Jiyoo, ayo ayo syukurannya mana Yoo -__-

  32. Oh my Won! She’s pregnant! *potong tumpeng*😀
    Yahh, yoo..kabar sebahagia itu knapa gak blg2??
    Dan cius, shell brhasil bwt aku terkejut dgn kehamilannya jiyoo. (´⌣`ʃƪ)♡
    Ahhh, rumit, tp mdh2an dgn kehamilannya jiyoo mslh bs trselesaikan satu per satu.
    Whoooaa, CSW, u’re the best oppa! Pengertian banget sih sm permasalah jiyoo.. ㅋㅋㅋ
    Tp, closingnya itu bikin deg2an, jiyoo n hae pegangan tangan, jgn smp eunhyuk liat. Omw! Ga mw ad konflik lg.. Kasiani aku shell.. *eh ^^v
    GomaWON thanKYU bwt ff nya..
    Fighting buat next part n other ff ^^9

  33. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~
    jadi ini jadi ini? ya ampyuuuuuuuuuun….
    harus bilang apa akuuuuuuu? fufuffufuu

    kasian yah hyukjae selalu dikenali sebagai donghae hahaha
    apa ini penyelesaian feel nya donghae buat yoo she?
    hyukjae juga mau di kasih tau ehh malah gamau yaaah..
    melepaskan? boleh aku berharap jangan ada yang saling pelepasan disini ? *eh* hehe

    daaaaan aku gatau gimana perasaan hyuk disaat hae lebih duluan tau kehamilan yoo?
    satu hal yang aku tangkep, temen deket kita sesama jenis emang lebih peka ama perubahan yah? si hyuk mah tau nyentuh aja merhatiin perkembangan malah ngga ada -___-

    suka scene nya coklat hangat itu she, terlalu manis semanis coklatnya… hahaha

    akhir kata…… SEMANGAAAAAAT~~~ hohoho

    • ahhhhh aku lupa tentang song jung jugaaaa, akhirnya daehyun~a … ini yang aku nantikan dari awal kemunculan nama kalian>>>>>>> aku berdoa semoga chaerin mau nerima kamu yaaaaaaaaah

      shee, maaf tapi aku kerap kali ngebayangin diri sendiri jadi chaerin jung *ditendang* hahahahahahaahah

      • Ah, silakan bilang apa aja. Saya terima kok. xD
        Kalo masalah jihyuk-hae, ini belum final. Masih ada sedikit konflik buat mereka bertiga di California. HA HA HA~

        Oh, jangan khawatir. Kayanya sih si daehyun sama chaerin bakal punya episode spesial sendiri. :”>
        Silakan dibayangkan jadi chaerin yang ditaksir jung daehyun, pasti bahagia.. xD
        SEMANGAT JUJAA~ Terima kasyih syuda baca yaa.. ^-^

  34. Wah saya ketinggalan buanyakkkk… (⌣́_⌣̀)
    Udah part 11 aja, jauhh sekali ketinggalannya..
    Salah paham lagi, ihhh untung yg ini suka..
    Daehyun ga suka jiyoo, selamet deh, kirain dy suka jiyoo, sama chaerin aja ya mas daehyun..😀
    Yooooooo hamil… ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ
    Ahahaah, nungguin kpn salah paham mereka ini selesai. Siwon loh (ˇ▽ˇ)—c<ˇ_ˇ).

    • Ah? Kepikiran si daehyun suka jiyoo? Waw… pasti indah sekali… *slapped*
      Siwon kenapa? Dia loh gak salah apa-apa. Kasian dia disalahin mulu.. xD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  35. selalu Hae yg lbh dulu dri Hyuk,,, kbyang kcewanya Hyuk kalo tau slalu jdi yg kdua bwt istrinya sndiri,,,

  36. Eonni, babomanyeo hadir kembali.. Sebenernya aku udah baca ff ini dari seminggu yang lalu, tapi berhubung sedang US, makanya aku baru bisa komen sekarang. Jeongmal mianhaeyo, eonni.
    Eonni, part ini galauuuuuuu menurutku. KAsian Donghae, Eunhyuk, Jiyoo juga. Yang lagi berbunga-bunga malah Daehyun sama Chaerin, ciye-ciye!! Aku baru eungeuh kalo Jiyoo itu belum eungeuh kalo Donghae suka sama dia di part ini lho, eonni.. *ddongddong
    Terus itu… kenapa donghae oppa duluan yang tau.. Kan kasian hyukkie sebagai suami Jiyoo entar ngeraa jadi no 2. Wah, can’t wait for the next part…
    Pokoknya, inti dari part ini, the best seperti biasa. Kutunggu part-part selanjutnya, eonni. Fighting!!!

    • Selamat datang kembalii~ xD

      Nah disitulah seninya (?) Jiyoo masih polos gak tau apa2 soal perasaan Hae. Itulah yang bakal bikin makin runyam. xD
      Fighting too buat kamyu! Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  37. aku dataaaannggg.. Jeng jeng jeng!!
    Dan telat banget kayaknya. Hahahaha

    So, jadi mereka seakan2 kena amnesia semuaaa, ga eunhyuk, gak hae, gak jiyoo. Pura2 nganggep masalah itu gak ada! Tapi sekalinya ketemu di satu tempat udh kyak macan, pengen nyakar satu sama lain.. Hahahaha.
    Well, di part ini entah kenapa aku sukaaa sama gentlemennya daehyun😄. Secaraaa, dy coba ungkapin perasaan ke chaerin. Waaaaahhh di next part bakal kayak apa niihh mereka😄.
    Dan aku juga akan sangat menunggu liburan mereka ber Empat. Entah apa fungsi siwon ntr buat mereka bertiga, sebagai pendamai kali yak?😀

    Good luck for next part ya shel😀

  38. aku dataaaannggg.. Jeng jeng jeng!!
    Dan telat banget kayaknya. Hahahaha

    So, mereka seakan2 kena amnesia semuaaa, ga eunhyuk, gak hae, gak jiyoo. Pura2 nganggep masalah itu gak ada! Tapi sekalinya ketemu di satu tempat udh kyak macan, pengen nyakar satu sama lain.. Hahahaha.
    Well, di part ini entah kenapa aku sukaaa sama gentlemennya daehyun😄. Secaraaa, dy coba ungkapin perasaan ke chaerin. Waaaaahhh di next part bakal kayak apa niihh mereka😄.
    Dan aku juga akan sangat menunggu liburan mereka ber Empat. Entah apa fungsi siwon ntr buat mereka bertiga, sebagai pendamai kali yak?😀

    Good luck for next part ya shel😀

    • Selamat dataaang~ xD
      Nah disitulah letak nyeseknya. Gimana coba ngadepin masalah yang sebenernya belom selesai, malah belom coba diselesain. xD
      Pfftt.. ada rencana bikin Daehyun kencan sama Chaerin. Hehehehe~
      Fungsi Siwon…..masih dipikir. xD
      Makasiihh syuda baca yaa~ ^-^

  39. pregnant?
    chukkae~ :*
    jgn takut ada abang kece yg selalu brg. kau yoo :*
    abang kece bklan seneng mlh klu dengar yoo hamil,klu takut bklan depresi?jgn takut abang kece ga bkl prnh ninggalin kok :*
    btw,next chapter will be last chapter?
    yahh u,u

  40. ooohhhh… dah hamil tohh. wahhh.. chukkae
    Hyuk.. jadi ayah yg baik yahh!!

    Hae.. udah jadi calon ahjussi tuhh. ga malu kalo tar ponakan nanyain ahjumma‘y.. hehehehe.. *cari cewek napa!!!

    nihh ff bener2 ga ketebak jalan ceritanya… Daebakk^^

      • gy iseng ngubek2 bookmars ehh mampir disini.. reread marry yoo.. jadi makin penasaran ma next part‘y..
        kpn nih mau diLanjut….??? bener2 ga sabar nih.. hehehehe
        *readerspemaksa*

  41. Baca dari part9 tp komen di part11, gak papa thor ya hehe…

    Cukup bingung sama mereka ber3??? Tp pasti kok poo dan yoo selalu bersama.
    Ahaha hyuk mau malaikat kecil?? Tunggu lanjutan nya deh

  42. Donghae cepet” cari yeoja plisss.. Kasian nahan perasaannya mulu dan selalu saha paham sama eunhyuk… Jiyoo ku harap kau bisa jujur sama hyukkie biar tidak terjadi insiden” yg tidak diinginkan ^^
    Please, don’t post the next chapter too long. Quickly update😀 hehehe

  43. halo..
    aku reader baru,,,,
    wahh udah banyak banget daftar FF yang kayaknya udah maksa di baca..
    hhehehe..

    pertama-tama ku komen yg chapter ini yah..
    langsung nglunjak gak papa kan?
    aku terbiasa baca cerita meloncat-loncat kaya tomket soalnya..
    *gak nanya,,,,

    hehehe..

    sebenernya kau dah baca beberapa,
    kenapa ya konfliknya berattt banget.
    bacanya sampek nahan napas..
    *lebe

    tapi soal gaya bahasa, ide cerita, judul, apalagi main cast
    aku sukaaaaaa….
    bagus semuanya. daebak.

    menarik, dan bikin penasaran.. ^^
    keef writing author-nim!! fighting!!

  44. Hallo reader baru dan aku CINTA dengan tulisan kamu sejak pandangan pertama❤
    ehehehe
    salam kenal, you can call me JaeYhaa ^^

  45. aaaaa, penasaran bangeeeet sama reaksinya Hyuk nanti pas tau jiyoo hamil. bakal dilanjutin kan author~?
    oiya, aku suka bgt cara hyuk pas ngelupain masalahnya sama meredam emosinya~ duh….

  46. Kkkk~ aku suka ff ini.
    Kapan ff ini di lanjut? >.<
    astaga… Aku bahkan begadang buat baca ff ini.
    Baca dari jam 11 malam langsung ngabisin belasan Part :3
    sukaaaaaaaaaaaaa! Karakter bebebh(?) aku si Lee Hyuk Jae❤
    tulisan kamu begitu ringan tapi sangat menyentuh. Dan menggunakan sudut pandang ke3. Ini gaya ff favorite aku :')
    kapan di lanjut? Jangan lama2 neeee
    aku sangat menantikannya. Sungguh❤
    nama kamu siapa thor?😄 aku kan baru disini🙂
    kenalan lagi yaaa…
    Jaeyhaa imnida 18y.o
    ELF especially Jewels from Jakarta😉

    • Terima kasyiiih suda mampir~ ^-^
      Lanjutannya lagi diketik, tapi masih ngadat.. x’D

      Haaaaii~ panggil aja shela. ^-^
      Aku dari pamekasan, tapi kuliah di malang. :’)

  47. setelah blogwalking akhirnya mampir(?) kesini. ah maaf ya, baru sempet komen disini habisnya keasyikan baca MY nya. akuuu syukaaaa sama eunhae-yoo. astaga, aku tunggu kelanjutannya yah eon. speechless deh pokoknyah ..

  48. hakhakhak… akhirnya baca juga lol xD
    choi siwon (atau gabriel?? lol)pinter juga ngebaca perasaan org ternyata, wlpn yaaah, gak suka sm dia tbh *peace* :p
    entah knp juga, aku gak suka kamu bkin donghae rebutan jiyoo sama hyukjae -__- pokoknya lee donghae gak boleh jd org ke 3. TITIK!!! /mehrong/

  49. He…
    Sisi lain dari siwonn hahah hyuk jae selesaikan sayang..😀
    cokelat hangat..? Itu bahkan kurang hangat di bandingin sikap hyuk jae.. Mungkin sikap.a lebih hangat dari coklat itu, salut dia selalu berpegang prinsip.a walau pun secara detail prinsip dia nggak di jelasin sama sekali tapi dari semua note dan alur cerita sikap hyuk jae itu cukup membuat kita tau..? Satu dan satu.. Satu untuk di jaga dan di cintai.. Satu untuk di lindungi dan satu untuk menahan dia jauh lebih terpuruk dari pada itu..
    Belum sempat memberi tahu??? Donghae jadi orang yg pertama. Hanya sahabat no problem kan heheh..

    Love ya shela harjono eonni.. Dirimu membuat ku merasa menemukan karakter baru kehangatan sikap hyuk jae he..

    The last..
    Hyuk jae peliiiiiiiiiiiiiitt

  50. jiyoo terlalu parno ye sampe-sampe pasangan ikan amis dan monyet yadong diem-dieman. wih seneng akhirnya jiyoo dan hyuk mau punya dede bayi selamat ye🙂

  51. Kyaaaaa moment eunsihae muncul,,, kya kyaaaaa kyaaaa aku senenggg,, kekek

    Kata2 daehyun itu bermakna bgt,, ngejleb aja gtu ngedengernya,,
    Yaaakkk eonni knapa siwon di ff ini jdi kocakkk bgt,, klo yg lain ditawrkan buat ikut ke california ehhh si siwon malah menawarkan diri,, kekekek
    Eonni akuuuu sukkkaaaa part ini,,, ciyussss deh (◦’ںˉ◦)
    Eonni aku ♍ãů lanjut baca dulu Ɣå媪 paapapapapaiiiiii ˆ⌣ˆ

  52. Siwoooon oppa bener-bener pengganggu yaaa hahahahaaa acara anak muda ikut-ikutan *ups harusnya jiyeon yg ikut biar sekalian pdkt sama donghae😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s