Marry Yoo! [10th Step]

[10] The War!

MY***

“Apa Eonni pernah memiliki perasaan lain pada Donghae oppa?”

Jiyoo mengerjap, bingung. Pertanyaan semacam ini baru pertama kali ditanyakan padanya. Ia sendiri tak pernah memikirkan hal semacam itu, setidaknya secara serius. Perasaan untuk Donghae? Perasaan macam apa?

Dengan kedua mata yang membulat Jeyeon menunggu tak sabar. Bukan keinginannya untuk mengorek isi hati orang lain, terlebih masalah perasaan yang tak berkaitan dengannya. Namun saat ia melihat wajah Donghae, Jeyeon merasakan campuran perasaan yang sama sekali tak dikenalnya.

Iba, sakit hati, dan cemburu menyerang ulu hatinya hingga ia tak tahu perasaan macam ini.

Jeyeon mengenal Donghae sejak lelaki itu menempati rumah mungil yang berseberangan dengan rumahnya. Ia selalu menunjukkan perasaannya pada Donghae. Jika orang lain mencemooh perasaan yang dimilikinya untuk lelaki itu, Jeyeon tak pernah keberatan, tapi ketika Donghae yang tak mengenali perasaannya, ia selalu ingin menanyakan satu hal pada lelaki itu.

Apa Donghae memang tak pernah jatuh cinta?

Dan kecelakaan Donghae kemarin membawanya pada satu kesimpulan sederhana. Bukan tidak pernah jatuh cinta, tapi justru lelaki itu sedang jatuh cinta tanpa disadarinya. Kesimpulan sederhana yang tidak mengejutkan namun tetap menyakitkan bagi Jeyeon.

Puluhan pigura dengan potret gadis kecil yang dipajang di seluruh bagian dinding rumah Lee Donghae bukan hanya sekedar hiasan. Saat melihat jejeran foto Jiyoo, Jeyeon tahu Donghae menyukai gadis itu, setidaknya kemungkinannya 50% karena Jeyeon pun tahu soal foto pernikahan Jiyoo dan Eunhyuk.

Foto itu seperti pengingat bagi Donghae. Jiyoo dan Eunhyuk sudah menikah. Selamanya Donghae akan tetap menjadi orang di luar ikatan itu.

Jeyeon menelan ludah. Ia tak yakin sejauh apa Donghae memaksa dirinya sendiri untuk bertahan dengan kenyataan itu saat ia sendiri tak menyadari perasaannya. Lelaki itu memaksa otaknya untuk membuat perasaannya terpendam.

Seluruh gagasan itu tersusun dalam pikiran Jeyeon. Kemungkinan Donghae memang menyukai gadis kecil dalam pigura itu meningkat menjadi 60%.

Dan kecelakaan di tangga membuat persentasenya menjadi 80%.

Jeyeon menemukannya, selembar foto usang, di salah satu laci meja Donghae. Tadinya ia tak menduga tubuhnya akan bereaksi begitu kuat, tapi nyatanya ia memang gemetaran. Foto kecil Jiyoo diapit oleh Eunhyuk dan Donghae. Seharusnya itu bukan masalah besar.

Jika saja foto itu tidak terlipat hingga hanya menunjukkan wajah Jiyoo dan Donghae.

Kenyataan menyedihkan bagi Jeyeon dan sekaligus mungkin untuk Donghae. Potret ketiga sahabat itu tak lagi utuh seperti yang seharusnya. Donghae melipatnya, membuat hanya wajahnya dan Jiyoo yang terlihat sementara bagian wajah Eunhyuk terlipat ke belakang.

Donghae memergoki Jeyeon yang menemukan foto itu dan berusaha memintanya kembali. Mungkin bagi lelaki itu lebih baik foto itu tersimpan rapi tanpa ada yang menemukannya.

Di situlah terjadi kecelakaan kecil yang membuat Jeyeon dan Donghae terjatuh dari tangga. Jeyeon agak terhibur, karena meskipun Donghae kesal padanya, lelaki itu tetap melindunginya dari kecelakaan kemarin. Donghae, bagaimana pun, tak pernah memberinya kesan yang buruk.

“Jeyeon-ssi,” panggil Jiyoo. “Kau menyukai Donghae, kan?”

“Suka. Aku suka sekali sampai dadaku sesak,” sahut Jeyeon tenang. Raut wajahnya tak bisa ditebak. “Tapi… yang sedang kutanyakan saat ini adalah perasaan Eonni pada Donghae oppa. Siapa yang peduli pada perasaanku.”

Jiyoo menghela napas. “Perasaanku? Aku tidak tahu. Apa seharusnya aku memiliki perasaan lain pada Donghae?”

“Itu… aku tidak tahu.”

Sejujurnya, Jiyoo tak pernah memikirkan kemungkinan itu. Sejak kepulangannya ke Seoul, entah bagaimana ia sudah dan hanya berkutat dengan Lee Hyukjae. Tentu saja itu bukan hal yang buruk, mungkin buruk pada awalnya, tapi kehadiran lelaki itu membuat Jiyoo senang.

Bahwa bukan hanya Lee Donghae yang menunggunya. Kenyataan itu membuatnya bersemangat.

Tapi mungkin justru itulah yang membuat Jiyoo perlahan melupakan kehadiran Donghae. Gadis itu perlahan-lahan tak memiliki waktu untuk memikirkan arti kehadiran seorang Lee Donghae dalam kehidupannya di kota ini. Mungkin begitu.

Apa itu artinya ia juga, tanpa sengaja, menghilangkan perasaan yang tak mungkin pada Donghae?

“Hubungan persahabatan… apa itu tidak termasuk perasaan yang kumiliki untuk Donghae?” ucap Jiyoo.

Jeyeon menggeleng. “Entahlah. Eonni bisa memikirkannya nanti.”

Suara pintu yang terbuka membuat Donghae otomatis menoleh. Ia sudah duduk di kursi ruang makan sejak setengah jam yang lalu. Tak ada yang dilakukannya selain memandangi bungkusan yang dibawakan Han Jeyeon. Tanpa berpikir keras, Donghae tahu apa yang dilakukan Jeyeon. Gadis itu menemui Jiyoo.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Donghae langsung.

Jiyoo menarik napas panjang. “Kau.”

“Tentu saja. Memangnya topik apa lagi yang bisa kalian bicarakan selain aku?” Donghae memainkan bungkusan di depannya dan mendongak. “Pulanglah. Aku akan baik-baik saja.”

“Memangnya kau pikir aku percaya pada ucapanmu?” sergah Jiyoo. “Aku memutuskan untuk menginap!”

Donghae mengernyitkan kening. Gadis di hadapannya ini benar-benar tak bisa dimengerti. “Kau sudah gila?”

“Tidak boleh? Baiklah, aku akan di sini sampai kau tidur saja. Bagaimana?” bujuk Jiyoo. Ia memberi tatapan menilai pada Donghae. “Lagipula kau butuh bantuan orang lain dengan keadaan seperti ini. Berhentilah menolak bantuan orang lain, Lee Donghae.”

“Orang lain yang mana pun tak masalah, asal bukan kau, Choi Jiyoo.” Donghae yakin ia pasti sedang bertingkah kekanakan saat ini. “Pikirkan statusmu sebagai istri orang.”

Jiyoo tertegun. Donghae tak pernah mempermasalahkan hal itu sebelumnya. Jika mereka ingin bersama, mereka akan melakukannya. Bahkan keduanya sering menggoda Eunhyuk karena hal itu.

“Eunhyuk sudah memberiku ijin. Dia juga tidak mau kau sendirian–“

“Jika dia memintamu menemani laki-laki lain lagi, apa kau juga akan tetap menurutinya?” sela Donghae. Setelah kata-kata itu terlontar dari bibirnya, ia merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia.

“Lee Donghae!” Jiyoo merasakan dadanya sesak. Ia kesulitan bernapas. Ucapan Donghae seperti tamparan maya yang tajam, mengiris nadinya. Ia memejamkan mata sejenak untuk meredam emosinya. “Apa kau pikir aku dan Eunhyuk orang yang seperti itu?”

Donghae menelan ludah. Rasanya terlambat untuk menyesali sesuatu yang sudah diucapkannya dengan kejam. Ia mengenal gadis ini dan, entah bagaimana, ia juga bisa mengenali rasa perih yang dirasakan gadis ini akibat ucapannya.

Ucapannya kejam, jelas. Melukai Jiyoo, sudah pasti. Donghae menolak memandang wajah gadis itu.

“Aku bahkan tidak tahu kenapa kau memulai pertengkaran seperti ini. Ah, tidak, aku juga tidak tahu apa alasanmu berubah seperti ini padaku,” ujar Jiyoo dengan suara tertahan. Ia ingin memberi pengertian pada dirinya sendiri bahwa Donghae sedang sakit dan perasaannya ikut memburuk. Tapi ini bukan pertama kalinya dalam seminggu kemarin. Donghae berubah sikap padanya, dan Jiyoo sama sekali tak mengerti alasannya. “Kau pintar sekali merusak hariku.”

“Kau tahu bukan itu maksudku, Yoo.”

Jiyoo menggelengkan kepala. “Iya, aku tahu kau sama sekali tidak bermaksud begitu. Jadi jangan bersikap seperti ini lagi, tolong. Jangan menyangkal, kau selalu menghindariku belakangan ini, kan? Kenapa?”

“Kalau kau berniat menginterogasiku dengan cara seperti ini, anggap saja ucapanku tadi memang serius,” ucap Donghae. Sekali lagi ia tahu persis rasa sakit macam apa yang saat ini dirasakan Jiyoo.

Wajah Jiyoo memerah karena emosi yang tertahan. Ia mengepalkan tangan dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Lelaki yang berada di hadapannya ini sama sekali bukan Lee Donghae yang dikenalnya. Lelaki ini pasti hanya orang asing.

Donghae mengatupkan bibir. Kelakuan bodohnya ini disadarinya dengan baik. Tindakannya ini sudah mendorong Jiyoo ke dalam jurang berisi lautan jarum. Ia berharap bisa menarik seluruh ucapan tajamnya. Tapi pikirannya bersuara, meneriakkan tak ada yang perlu disesali.

“Pergilah.” Pada akhirnya Donghae justru mengucapkan kata itu. “Kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanku.”

“Lee Donghae, kau…!” Emosi Jiyoo meledak, meluap melalui air mata yang jatuh tanpa diminta.

Seakan belum cukup dipaksa melukai Jiyoo, kali ini Donghae bahkan harus melihat gadis itu menangis. Donghae memalingkan wajah. Ia menekan kuat-kuat keinginan untuk meminta maaf dan mengusap air mata gadis itu seperti yang selalu dilakukannya sejak kecil.

Jiyoo mengangkat dagu, mencegah air matanya jatuh. Ia tak pernah bertengkar dengan Donghae sejak kepulangannya ke Seoul, tapi bukan berarti ia ingin memulainya. Jika ia dan Donghae harus bertengkar, ia ingin pertengkaran yang konyol seperti dulu.

Tapi apa boleh buat. Tak ada lagi sesuatu-yang-seperti-dulu.

The next day

“Memangnya itu masuk akal? Maksudku, pertengkaran anak sekolah memang wajar, tapi orang tuanya minta ganti rugi pada anak yang sudah yatim-piatu! Choi Jiyoo, bukankah itu keterlaluan?”

Daehyun mengomel tanpa henti. Kemarin ia sibuk mengurusi masalah Song Jungwoo. Adik Song Chaerin itu berkelahi dengan salah satu teman sekelasnya. Hal itu tak mengejutkan bagi Daehyun karena lawan Jungwoo itu memang selalu merendahkan Jungwoo. Bagian terburuknya adalah saat orang tuanya berniat menuntut Jungwoo tanpa tahu penyebab awal kejadian itu adalah anaknya sendiri.

Lelaki itu melonggarkan dasi yang melilit di lehernya. Ia masih terbawa emosi saat kemarin menemui pihak orang tua itu. Daehyun harus mengakui masalah Song Jungwoo ini berhasil memancing emosinya hingga ke tingkat tertinggi. Daehyun yang tenang terbawa emosi menangani masalah anak sekolah. Luar biasa.

Ia menunggu jawaban Jiyoo dan kembali mengoceh saat gadis itu mengabaikannya. “Choi Jiyoo!”

Jiyoo mengerjapkan mata. Saat menoleh ke arah Daehyun, ia tersenyum kecil. “Ya? Apa katamu tadi?”

“Apa ada masalah?” tanya Daehyun. Suaranya melembut. Melihat wajah Jiyoo yang seperti ini seperti sedang membaca tulisan peringatan Aku-Tidak-Mau-Bicara-dengan-Siapapun. “Ah, benar juga! Bagaimana kemarin? Donghae baik-baik saja, kan? Kemarin aku tidak sempat meneleponmu, maaf.”

“Donghae?” Jiyoo membeo seperti orang bodoh.

“Kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanku.”

Suara lelaki itu menggema dalam pikirannya. Otaknya memutar ulang saat ia dan Donghae bertengkar hebat. Donghae minta supaya ia tak mengkhawatirkannya, tapi Jiyoo tak mendengarkan ucapan lelaki itu. Bagaimanapun, Donghae adalah orang yang penting untuknya dan Jiyoo tetap berakhir dengan mengkhawatirkan lelaki itu.

“Kenapa?” tanya Daehyun lagi. “Apa keadaan Donghae parah?”

Jiyoo mengangkat bahu. Kali ini ia akan memutuskan untuk tak peduli pada Donghae. Lelaki itu sudah keterlaluan kemarin. Entah kenapa Donghae memilih ucapan tajam untuk memulai pertengkaran ini, sama sekali tidak seperti Donghae.

Gadis itu ingin memilih mengabaikan Lee Donghae. Jiyoo tak ingin peduli dengan apa yang sedang terjadi pada lelaki itu atau bagaimana jadinya jika Donghae hidup sendiri dengan kaki yang seperti itu. Setidaknya Jiyoo berhasil berniat demikian.

Tak ada yang dapat dilakukannya. Niat hanya sebatas niat.

Jiyoo berdiri mematung di depan pintu masuk rumah Donghae. Ia ragu untuk menekan bel atau pun menghubungi Donghae bahwa ia sekarang ada di luar rumahnya. Kemarin mungkin Donghae memang keterlaluan, tapi Jiyoo berpikir mungkin saja perasaan Donghae sedang tidak baik.

Gadis itu menggaruk tengkuk belakangnya. Berulang kali ia mengangkat dan menurunkan tangannya sendiri.

“Apa yang kau lakukan di depan rumah orang?”

Jiyoo terkesiap dan buru-buru membalikkan badan. Donghae berdiri memegang kantung plastik dan tongkat. “Kau… dari mana?”

“Belanja,” jawabnya singkat.

Donghae memalingkan wajah. Jiyoo mendadak merasa sedih. Lelaki itu berjalan melewatinya tanpa berniat menyapanya. Saat Donghae kesulitan memasukkan kunci dengan tangan yang penuh dengan kantung plastik, Jiyoo mendekat.

“Biar… kubantu.”

Donghae menelan ludah dan menyerahkan kantung belanjanya. Diam-diam ia merasa sedih mendengar nada suara Jiyoo yang ragu-ragu. Biasanya gadis itu akan berteriak dan langsung mengambil kantung dari tangannya tanpa minta ijin seperti ini.

Biasanya.

“Akan kuletakkan di dapur,” ujar Jiyoo sebelum sempat mendengar Donghae melarangnya. Lelaki itu jelas semakin merasa terbebani dengan kehadiran Jiyoo di rumah ini.

Donghae berdiri di seberang meja makan, mengawasi Jiyoo yang membongkar isi kantung belanjaannya. Bukan ini yang diinginkannya. Pertengkaran yang dimulainya kemarin harus menjauhkan gadis itu darinya atau Donghae akan terus merasa goyah.

Jiyoo berbalik dan tertegun saat melihat Donghae memandangnya dengan tatapan yang ganjil. “Aku… aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku tidak bisa pergi begitu saja saat kau minta aku untuk pergi. Kau pikir aku anjing peliharaan yang patuh? Aku temanmu, Lee Donghae. Aku akan berada di sini sampai kakimu sembuh.”

“Tapi aku tidak mau kau ada di sini.”

“Hei,” panggil Jiyoo. Suaranya bergetar, ia akan menangis lagi. “Itu menyakitkan, Lee Donghae.”

Donghae memalingkan pandangannya ke lantai. Sepertinya ia bisa memandang apa saja kecuali wajah Jiyoo saat ini. Seandainya gadis itu tahu ia sudah menyiksa batinnya. Seandainya saja.

“Eunhyuk tidak akan suka kau ada di sini, Yoo.”

“Sebenarnya apa masalahmu? Eunhyuk tidak akan–“

“Masalahku adalah kau memaksa berada di sampingku tapi kau sudah terlanjur menjanjikan hal yang sama untuk Eunhyuk!”

Donghae memejamkan mata, meredam seluruh emosi yang menyerangnya. Ini juga bukan hal yang diinginkan olehnya. Ia tak ingin perasaan konyol ini terbaca oleh Jiyoo. Tidak seperti ini.

Tadinya Donghae berharap perasaannya akan menguap hingga nanti saat mereka bertiga menua, ia bisa bercerita sambil mengolok perasaan ini.

“Donghae…”

Donghae tak ingin Jiyoo memanggilnya. Suara gadis itu seperti sebilah pedang yang menggores permukaan hatinya. Hingga sampai saat ini tak terhitung lagi berapa banyak goresan yang dibuat oleh pedang itu.

“Maaf. Aku… bukan itu maksudku. Aku hanya tidak suka kau terlalu dekat dengan laki-laki lain. Apa yang akan dipikirkan oleh orang lain? Oleh keluarga Eunhyuk?” ucapnya lemah.

Jiyoo menggigit bibir. Ia memaksakan seulas senyuman untuk Donghae. “Berjanjilah kau akan menghubungiku jika terjadi sesuatu, ya?”

Jawaban ‘tidak’ siap meluncur dari bibir Donghae tapi ia justru mengangguk. Tanpa suara. Jiyoo tak akan tahu jika Donghae tak pernah menyanggupi hal yang dimintanya.

Rasanya sudah luar biasa menyakitkan untuk melihat gadis itu di depannya. Jika ia terus bertahan dan terlalu terbiasa dengan kehadiran Jiyoo, Donghae tak tahu akan jadi apa dirinya nanti. Mungkin hancur akan menjadi kata yang tepat untuknya.

Jiyoo mendekat ke arah Donghae. Ia tampak ragu walaupun detik berikutnya ia melingkarkan lengannya ke leher Donghae. “Kau… punya aku, Lee Donghae.”

The next day – 6:51 AM

Eunhyuk tersenyum lebar saat taksi yang ditumpanginya melaju melewati jalanan Seoul dan semakin dekat dengan rumahnya. Perjalanan bisnis sialan itu berakhir dengan baik. Ia bahkan tak bisa menahan diri untuk terus memuji dirinya sendiri karena meminimalkan pembicaraan dengan Song Chaerin.

“Terima kasih,” ujarnya pada supir taksi.

Langkah Eunhyuk terasa ringan. Rumah memang tempat terbaik untuk pulang. Rasanya ia tak hanya pergi seminggu tapi berabad-abad. Ia merindukan suasana rumahnya.

Ia merindukan seseorang yang menunggunya di rumah.

Eunhyuk mengeluarkan kunci dan melepaskan kacamata hitamnya. Dengan sentakan pelan ia masuk bersama dengan koper besar berwarna merah hati yang dibawanya ke Jepang. Ia tak melihat Jiyoo dimana-mana. Gadis itu pasti masih ada di kamar.

Saat membuka pintu kamarnya, Eunhyuk juga tak menemukan Jiyoo. Ranjangnya kosong dan rapi. Sepertinya Jiyoo tidak tidur di sini.

Lelaki itu baru tersenyum tenang saat melihat Jiyoo yang masih tertidur di kamar gadis itu sendiri. Eunhyuk melepaskan mantel cokelatnya dan mendekati Jiyoo dari belakang secara diam-diam. Lengan panjangnya melingkar di sekeliling pinggang Jiyoo. Eunhyuk merasakan tubuh Jiyoo yang menggeliat dalam pelukannya.

Sepertinya gadis itu tahu siapa yang sedang memeluknya. Jadi Eunhyuk hanya memberikan kecupan ringan di bahu Jiyoo yang terbuka. Ia menghirup aroma tubuh Jiyoo dalam-dalam. Inilah yang dimiliki Eunhyuk selama 3 bulan; Jiyoo dan segala hal tentangnya.

“Kukira kau pulang siang ini,” erang Jiyoo.

Eunhyuk mengecup leher belakang gadis itu. “Perkiraanmu tidak pernah tepat. Aku tidak terkejut.” Dengan ciuman ringan di sepanjang bahu Jiyoo Eunhyuk mengeratkan pelukannya. “Aku merindukanmu.”

“Aku tidak.”

“Gadis manis tidak berbohong, Yoo.”

Jiyoo tergelak. Kali ini membalikkan tubuh dan menatap Eunhyuk secara langsung. Ia menyentuhkan jemarinya ke sepanjang tulang rahang lelaki itu, merasakan betapa menyenangkannya menyentuh tubuh ini. Seketika itu pula Jiyoo mengakui ia tak pernah sehari pun tak merindukan Lee Hyukjae.

“Selamat pagi,” bisiknya. Jiyoo mengecup ujung hidung Eunhyuk.

Eunhyuk mengerjap dengan seduktif. “Itu bukan salam yang benar, Yoo.” Lelaki itu menarikan seluruh jemarinya ke wajah hingga leher Jiyoo. “This is… what you call greeting.” Dan Eunhyuk mencium bibir Jiyoo dengan intens, lembut, dan manis.

Jiyoo bisa merasakan segarnya bibir Eunhyuk di atas bibirnya sendiri. Entah sejak kapan lelaki itu sudah berada di atas tubuhnya. Jiyoo bereaksi dengan meraih leher Eunhyuk, membalas segala sentuhan yang diberikan lelaki itu.

Rasanya berbahaya saat Eunhyuk memberikan ciuman kupu-kupu ke sepanjang leher dan bahunya. Jiyoo menelan ludah. Berbahaya namun tak pernah terelakkan.

“Time!” Jiyoo berseru. Eunhyuk tak bergerak dan hanya memandangnya dengan bingung. “Aku ada… kuliah pagi, jadi jangan membuatku terlambat.”

Eunhyuk menyunggingkan senyuman yang lagi-lagi seduktif. “Ini akan cepat.”

Mustahil menolak Lee Hyukjae yang memang tak bisa ditolak. Jiyoo menyerah. Ia dengan sengaja membiarkan dirinya terhanyut oleh perasaan yang luar biasa memabukkan ini.

Jiyoo melengkungkan punggung, membalas responsif setiap sentuhan lelaki itu di tubuhnya. Selama seminggu tanpa Eunhyuk, Jiyoo harus mengakui inilah salah satu hal paling dirindukannya. Inilah penyebab dirinya tak lagi tidur di kamar Eunhyuk.

Sentuhan dan euphoria ini tak akan pernah cukup bagi Jiyoo.

“Kau bilang ada kuliah pagi…” Eunhyuk bergumam di atas kulit Jiyoo.

Gadis itu merasa geli saat bibir Eunhyuk bergerak di atas kulit bahunya. Jiyoo meraih tangan Eunhyuk, melingkarkannya di sekeliling bahunya. “Aku tidak bisa melepaskanmu sekarang.”

“Tentu saja.”

Jiyoo tersenyum saat Eunhyuk kembali menghujaninya dengan kecupan ringan di sepanjang bahu bagian belakangnya yang telanjang. Eunhyuk memberinya perasaan bahwa ia dibutuhkan. Eunhyuk menginginkannya.

Dalam waktu yang tak terbatas. Menembus segala yang terbatas.

Lelaki itu mengingingkannya selamanya.

Jiyoo mengeratkan pegangannya pada lengan Eunhyuk yang masih melingkari bahunya. Rasanya ajaib saat ia bisa memiliki lelaki ini. Eunhyuk berada dalam jangkauannya dan akan selalu begitu.

Eunhyuk berhenti menciumi bahu Jiyoo. Gadis itu mendengar dengkuran halus di balik tengkuknya. Napas Eunhyuk yang teratur beradu dengan kulit Jiyoo.

Jiyoo diam-diam berbalik hingga bisa memandangi wajah Eunhyuk. Kelopak matanya terpejam. Alis Eunhyuk tebal dan panjang, mungkin inilah yang membuat Jiyoo merasa terintimidasi oleh lelaki itu. Bibirnya tipis dan selalu tampak indah saat melengkungkan sebuah senyuman.

Segala hal tentang Lee Hyukjae sempurna.

Bagaimana mungkin lelaki ini menunggunya selama 12 tahun? Tanpa merasa letih dan bosan, apa Eunhyuk memang selalu menunggunya?

Jiyoo menelan ludah. Euphoria oleh sentuhan Eunhyuk perlahan menguap perlahan digantikan oleh perasaan tak aman. Jika tak ada Eunhyuk, apa yang akan terjadi padanya? Jiyoo bahkan tak pernah membayangkan akan kembali ke Seoul. Mungkin jika tak ada Eunhyuk, ia akan tetap berada di California.

Kota ini sudah memberikan kenangan yang buruk padanya. Seharusnya tak ada alasan bagi Jiyoo untuk kembali. Ia tak ingin kembali, sejujurnya.

Jika untuk diingatkan bahwa tak ada satu pun keluarganya di sini, Jiyoo lebih memilih untuk tak kembali. Ibunya pergi entah ke mana; beberapa yakin ibunya mengidap depresi parah akibat kematian adik Jiyoo satu-satunya. Ayahnya juga sama; Choi Siwon bilang tak ada yang tahu ke mana perginya ayahnya itu.

Jiyoo tak tahu apa lagi yang masih dimilikinya saat ini selain rasa malu.

Jiyoo membandingkan semua fakta buruk tentang keluarganya itu dengan keluarga Eunhyuk. Lelaki itu memiliki ibu yang luar biasa, kakak perempuan yang tak kalah sempurna. Keberadaan Jiyoo dan latar belakang keluarganya… membuat Jiyoo khawatir.

Orang-orang akan membicarakan keluarganya di depan keluarga Eunhyuk.

Choi Jiyoo sedang berdiri di sebuah lorong panjang yang didominasi warna putih. Warna putihnya menyilaukan hingga kedua mata Jiyoo menyipit. Ia berjalan terseok tanpa tahu ke mana sepasang kakinya membawanya.

Sebuah pintu yang juga putih berada tepat di depan Jiyoo. Ia ragu sejenak. Jiyoo tak tahu apa yang akan menyambutnya di sana.

Dan tiba-tiba kakinya terasa basah. Jiyoo menunduk. Kedua matanya melebar oleh keterkejutan. Tubuhnya tersentak ke belakang. Cairan merah merembes melalui celah pintu putih, membiaskan dua warna dengan gradien yang jelas berbeda.

Merah di atas putih.

Jiyoo mundur beberapa langkah hingga menyadari bahwa cairan itu adalah darah. Pintu yang putih terbuka dan menunjukkan kilasan ingatan yang terasa akrab bagi Jiyoo. Darah dimana-mana. Mobil dengan kap terbuka dan asap mengepul. Jiyoo tak lagi berada di ruangan serba putih.

Ini jalanan tempat terjadinya kecelakaan adik dan ibunya. Jiyoo juga ada di mobil yang sama, di kursi penumpang belakang sementara adiknya di samping ibunya.

Kecelakaan itu disengaja. Ibunya sengaja ingin bunuh diri dan membunuh kedua anaknya. Jiyoo tahu itu. Semua orang tahu. Ibunya menderita karena ayah Jiyoo tak pernah bisa memahaminya. Jiyoo juga paham perasaan itu.

Jiyoo melihat darah adiknya membanjiri mobil dan aspal. Rasanya luar biasa menyakitkan. Mulut Jiyoo terbuka tanpa ada suara yang keluar.

2:23 AM

Napas Jiyoo tak teratur. Ia terengah-engah saat terbangun dari tidurnya. Dengan cepat ia menoleh dan menemukan Eunhyuk di sampingnya. Ia sedikit merasa lega saat tak sendirian. Lengan lelaki itu masih merengkuh tubuhnya, tapi Jiyoo tak merasa aman kali ini.

Jiyoo mengangkat tangan untuk menutup mulutnya, mencegah sesenggukan yang mendadak menyerang. Air matanya jatuh tanpa bisa dikendalikan. Mimpi itu begitu nyata hingga dadanya terasa sesak.

“Yoo?”

Jiyoo buru-buru menghapus air matanya, yang justru dengan seenaknya meluncur semakin deras. Eunhyuk tak boleh melihatnya seperti ini. Bukan ini Choi Jiyoo yang ingin ditunjukkan Jiyoo pada Eunhyuk. Ia ingin menunjukkan Jiyoo yang ceria, periang dan tangguh. Bukan Jiyoo yang menangis dengan menyedihkan seperti ini.

“Kau baik-baik saja?” Eunhyuk menopang kepalanya dengan salah satu siku. Ia menyalakan lampu dan tak luput melihat jejak yang berusaha ditutupi Jiyoo. “Kau… menangis?”

“Mimpi buruk,” ucap Jiyoo dengan terbata. “Maaf, kurasa aku harus cuci muka.”

Eunhyuk dibiarkan sendiri di ranjang dengan hanya melihat gadis itu menghilang ditelan pintu kamar mandi. Bahkan Eunhyuk tak sempat bertanya lebih jauh. Ini pertama kalinya ia melihat Jiyoo yang menangis seputus asa itu hingga ia sendiri tertegun karena terkejut.

Suara air yang meluncur deras dari kran menyamarkan suara tangis Jiyoo. Ia melanjutkan tangisannya tanpa bisa ditahan. Dengan cepat ia membasuh wajahnya, mengusap sisa air mata yang masih menuruni pipinya.

Jiyoo harus melakukan segala hal yang perlu untuk membuat Eunhyuk berpikir bahwa istrinya baik-baik saja.

“Yoo? Buka pintunya, biarkan aku masuk.” Eunhyuk mengetuk pintu kamar mandi dan membuat Jiyoo terkesiap. “Apa kau baik-baik saja?”

Jiyoo membasuh wajahnya sekali lagi. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu. “Ya, ya… aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?” Tatapan Eunhyuk membuat Jiyoo mengangguk berkali-kali. Ia tak ingin membuat lelaki ini cemas. Eunhyuk menarik tubuh Jiyoo mendekat, mengamati wajah gadis itu dari jarak dekat. “Mengangguknya cukup satu kali.”

“Ya, ya.” Jiyoo mengangguk satu kali, sesuai keinginan Eunhyuk.

Eunhyuk tahu ada sesuatu yang tak baik-baik saja dari Jiyoo. Dan ia juga tahu pasti gadis itu tak akan suka dipaksa dan dipojokkan. Eunhyuk memilih untuk tak bertanya lagi.

Dengan satu gerakan lembut dan wajar Eunhyuk membenamkan tubuh Jiyoo dalam tubuhnya. Eunhyuk mengusap-usap punggung gadis itu, berharap tindakan kecilnya bisa membuat Jiyoo lebih nyaman. Ia tak suka mengakuinya, tapi tubuh Jiyoo bergetar dalam pelukannya.

Jiyoo memang tidak baik-baik saja.

Three days later – 12:12

Restoran bergaya minimalis itu memiliki jendela besar menghadap ke jalanan Cheongdam-dong. Beberapa meja disinari langsung oleh cahaya matahari dengan angin awal musim semi yang sejuk. Sebuah meja konter terdapat di sudut ruangan dan dijaga oleh seorang pramusaji berseragam hitam-putih.

Orang-orang keluar-masuk dengan denting bel yang digantung di pintu masuk. Restoran ini agak lengang hingga setiap kali bel berdenting akan menarik perhatian pengunjung yang lain.

Eunhyuk menjadi penerima perhatian yang kesekian. Ia berjalan melewati beberapa meja kosong dan berhenti di samping meja yang ditempati Daehyun. Tak butuh basa-basi dan Eunhyuk langsung menjatuhkan diri ke kursi kayu di depan Daehyun.

“Ada apa?” tanya temannya itu. Meja di depan Daehyun tak kosong. Ia sudah memesan secangkir teh hijau dan sandwich tuna.

“Jiyoo… jadi aneh.” Eunhyuk menghela napas berat.

Rasanya sudah beberapa hari belakangan ini Jiyoo seperti menghindar darinya. Gadis itu selalu tampak murung dan Eunhyuk tahu beberapa kali Jiyoo mendapat mimpi buruk. Jiyoo bahkan lebih suka bepergian sendiri daripada mengajak Eunhyuk.

Eunhyuk tak lagi mengenal gadis itu. Entah apa yang sedang terjadi pada Jiyoo.

“Kau sudah bilang begitu kemarin,” ucap Daehyun sambil meneguk tehnya. “Kau sudah bertanya padanya?”

“Dia hanya bilang dia baik-baik saja, tidak perlu terlalu mencemaskanku seperti itu, aku tidak apa-apa. Kecuali ada jawaban lain yang disebutkan olehnya, aku sudah siap mengulangnya untukmu,” sahut Eunhyuk jengah.

Daehyun mengangguk-angguk. Ia sendiri tak punya banyak pengalaman dengan gadis, jadi kemungkinan ia mengerti apa yang sedang terjadi pada Jiyoo nyaris 0,1%. Ditambah lagi ia tak pernah benar-benar mengenal gadis itu. Persentase kemungkinannya mungkin hanya 0,09% sekarang.

“Sudah tanya Donghae?”

Eunhyuk mengangkat bahu. “Sudah. Dia tidak tahu apa-apa. Dan mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi Donghae dan Jiyoo agak tidak akur belakangan ini. Kurasa mereka sedang bertengkar atau semacamnya.”

“Atau jangan-jangan pertengkaran itu yang membuat Jiyoo jadi gusar?” terka Daehyun. “Terakhir kali aku mendengar kabar mereka sejak Donghae pulang dari rumah sakit. Jiyoo membantunya di sana.”

Gagasan itu membuat Eunhyuk mengerutkan kening. Otaknya mencoba menyusun masalah yang mungkin bisa timbul antara keduanya. Tapi nihil. Donghae mungkin orang yang penting bagi Jiyoo, tapi perubahan sikap Jiyoo lebih dari pada itu.

“Aku tidak yakin itu gara-gara Donghae. Ada sesuatu… yang coba ditutupi Jiyoo.”

Daehyun menghela napas panjang. Sandwich yang sudah berada di tangannya bahkan diletakkan kembali. “Mungkin Jiyoo punya masalah sendiri. Meskipun kalian ini suami-istri, cobalah memberikannya ruang. Jika nanti dia siap, dia akan kembali padamu.”

“Aku sudah memberikan segala ruang yang dibutuhkannya selama 3 hari ini!” sergah Eunhyuk. Detik berikutnya ia menarik napas dan memaksa udara masuk ke dalam paru-parunya. Ia tak pernah merasa begitu frustasi terhadap Jiyoo seperti saat ini. “Tapi dia tetap tidak mau bicara padaku.”

Tak ada yang dapat dilakukan Daehyun selain memberikan tatapan simpati pada temannya. Ia yakin Jiyoo juga bukan tipe yang suka bertingkah aneh, terutama pada orang yang berarti baginya seperti Eunhyuk. Sepertinya bertanya pada Donghae pun akan sama saja karena Daehyun sendiri juga merasa kedua orang itu sedang tidak akur.

Eunhyuk memijat pelipisnya perlahan. “Pesankan aku sesuatu.”

Daehyun mengangguk dan membuka-buka menu. Mungkin di restoran ini ada sesuatu yang bisa membantu mengurangi perasaan tertekan seorang suami pada istrinya. Daehyun sudah membayar agak mahal untuk bisa makan di sini, jadi sebaiknya menu seperti itu juga tersedia. Demi kesehatan jiwa temannya ini.

Saat ponselnya berdering, Eunhyuk hanya memandangi orang-orang yang lalu-lalang di depan restoran. Alisnya terangkat begitu melihat nama Sora Noona di layar ponselnya. “Ya, Noona?”

“Apa kau dan Jiyoo ada janji di luar atau ada rencana mengunjungi Eomma?”

“Tidak. Aku sedang bersama Daehyun.” Eunhyuk punya firasat buruk akan hal ini. “Memangnya kenapa?”

“Aku melihat dia berjalan di taman dekat rumah kita. Waktu kupanggil, dia bahkan tidak menoleh. Apa mungkin aku salah orang?”

Eunhyuk menelan ludah. Sepertinya Jiyoo sedang mengalami sesuatu yang buruk. Mungkin gadis itu sedang tertekan, entah oleh apa. Jantung Eunhyuk berdetak lebih cepat karena cemas.

“Halo? Lee Hyukjae?”

“Ya, ya. Aku masih disini,” sahut Eunhyuk. “Lalu, apa Noona mencegatnya?”

“Tidak. Aku sedang bersama teman-temanku. Lagipula tadi sepertinya dia sudah naik taksi. Apa terjadi sesuatu? Apa dia sakit? Jiyoo kelihatan pucat.”

Eunhyuk mendadak mual memikirkan Jiyoo yang pucat dan berkeliaran di jalanan. Gadis itu jelas tidak baik-baik saja. “Tidak. Dia… baik-baik saja.”

“Jaga dia ya.” Sambungan terputus sebelum Eunhyuk sempat menjawab.

“Andai saja dia tahu aku sangat ingin melakukannya, Noona,” gumamnya. Eunhyuk mengalihkan pandangannya pada Daehyun. “Kurasa aku harus pergi.”

Daehyun mengerjap, bingung. “Wae? Apa yang terjadi?”

“Kurasa memang ada yang terjadi pada Jiyoo.” Eunhyuk berdiri dan menyesap sedikit teh milik Daehyun. “Coba hubungi dia kalau kau senggang.”

Walaupun tak mengerti, Daehyun tetap mengangguk patuh. Sepertinya masalah Jiyoo ini bukan masalah sepele. Daehyun tak pernah melihat Eunhyuk sepanik ini. Temannya itu jelas berusaha menyembunyikannya, tapi Daehyun bisa melihatnya dengan jelas.

Eunhyuk sekarat karena frustasi.

Lee Donghae berjalan menyusuri jalan kecil di sekitar rumahnya. Kedua tangannya menenteng kantung plastik hasil belanjanya siang ini. Ia tak peduli jika saat ini ia terlihat seperti lelaki lajang menyedihkan yang keluar berbelanja seorang diri. Selama ia tak harus mati kelaparan, segala cemoohan itu mudah untuk diabaikan.

Ponselnya berdering hingga mengejutkan dirinya sendiri. Donghae menggerutu. Entah siapa orang bodoh yang merusak kedamaian berbelanjanya.

Dengan susah payah ia berhasil meraih ponsel dan merasa agak menyesal karena sudah mengeluarkan ponselnya. Eunhyuk menghubunginya. Sejak beberapa hari yang lalu, Eunhyuk selalu menanyakan hal yang sama tentang Jiyoo. Donghae sendiri yakin penyebab perubahan sikap Jiyoo bukan dirinya.

Walaupun tak tahu perubahan macam apa yang terjadi pada gadis itu, Donghae mengenal Jiyoo sebaik mengenal dirinya sendiri.

“Ya?”

Suara Eunhyuk terdengar aneh, seolah lelaki itu sedang mengikuti olimpiade bidang lari. “Apa Jiyoo bersamamu?”

“Jiyoo?” ulang Donghae. “Tidak. Kenapa?”

“Dia menghilang dari kampusnya. Dia bahkan sudah tidak masuk lagi sejak beberapa hari yang lalu. Dan Sora Noona memberitahuku dia melihat Jiyoo dengan keadaan yang aneh. Jiyoo tidak merespon saat dipanggil dan dia kelihatan pucat. Aku sedang mencarinya dan…”

Donghae menghela napas. “Tenanglah, Lee Hyukjae.”

“Kalau kau jadi aku, apa kau bisa tenang!?” Donghae mendengar suara Eunhyuk meninggi. “Dia tidak baik-baik saja, Donghae. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.”

“Aku akan membantumu mencarinya. Akan kuhubungi nanti,” ucap Donghae. Eunhyuk terdengar frustasi, cukup frustasi hingga membuat Donghae tertular rasa yang sama.

Langkahnya menjadi semakin cepat, tak lagi terhalang oleh tongkat karena kakinya pulih dengan cepat. Beberapa buah jeruk yang terjatuh keluar dari kantungnya tak berhasil menarik perhatian Donghae. Ia dilanda kepanikan luar biasa akan gadis itu. Dan ia tak pernah mengerti apa penyebabnya.

Kenapa gadis itu… membuatnya tersesat seperti ini?

Donghae menggigit lidahnya. Sekedar memikirkan nama gadis itu pun membuat lidahnya kelu. Sekarang gadis itu berhasil mengacak-acak perasaannya. Lagi.

Satu belokan lagi dan Donghae tiba di rumahnya. Lelaki itu harus meletakkan belanjaannya lalu mencari Jiyoo, entah kemana. Otaknya buntu dan tak bisa diajak kompromi untuk memikirkan ke mana gadis itu akan pergi.

Ke mana gadis itu bisa pergi.

Jantung Donghae mencelos, seolah terjatuh ke tanah saat ia melihat Jiyoo berada di depan pintu rumahnya. Gadis itu duduk di teras, menundukkan kepala dan sama sekali tak menyadari kedatangan Donghae. Donghae memejamkan mata, meluapkan perasaan lega.

Donghae meletakkan kantung-kantung belanjanya di tanah. Ia berjongkok di depan Jiyoo. “Dari semua tempat di dunia ini, kau memilih tempat ini.”

Jiyoo mendongak, tersenyum dengan kedua mata yang berbinar saat melihat Donghae. “Donghae…”

“Apa… apa yang sedang kau pikirkan, Choi Jiyoo?” tanya Donghae. Ia menahan diri untuk tak menarik Jiyoo ke dalam pelukannya. “Kau membuat Eunhyuk cemas. Kurasa dia akan gila sebentar lagi.”

“Jangan beri tahu dia,” sahut gadis itu. Senyumnya memudar, menghilang seolah tak pernah ada di wajahnya. “Kumohon.”

Donghae berdeham. Ia tak bisa menyanggupi hal itu. Tapi sejujurnya, ia juga lebih suka seperti itu. Mungkin perasaan egoisnya terlalu mendominasi. Tak akan ada orang yang bisa melukiskan perasaannya saat ia justru menemukan Jiyoo di rumahnya. Gadis itu memilihnya.

“Tidak akan, jadi masuklah dulu.”

Jiyoo menggenggam erat cangkir berisi cokelat hangat buatan Donghae. Rasa hangatnya menjalar melalui kulitnya, menyenangkan. Jiyoo memandang Donghae yang sejak tadi mengamatinya.

“Apa?”

Donghae mengangkat bahu. “Itu pertanyaan yang akan dilontarkan semua orang padamu. Apa yang terjadi?”

“Tidak ada.”

“Pembohong.”

Jiyoo menghela napasnya. “Hanya… tiba-tiba teringat Eomma dan Junhong.”

Junhong. Donghae berdeham. Rasanya sudah lama sekali sejak Jiyoo mengucapkan nama itu. Choi Junhong, adik lelakinya, 3 tahun lebih muda dari Jiyoo. Tewas dalam kecelakaan tunggal yang disebabkan ibu mereka saat Jiyoo berusia 10 tahun.

“Kau belum melupakannya.”

“Aku tidak bisa melupakannya,” ralat Jiyoo. “Mimpi itu terasa nyata dan lebih sering lagi datang belakangan ini. Aku… takut.”

Donghae menarik kursi, lebih dekat dengan Jiyoo. Hanya agar ia bisa merangkul gadis itu setiap saat. “Kau tidak menceritakannya pada Eunhyuk.”

Itu bukan pertanyaan. Jiyoo tahu, entah bagaimana, Eunhyuk akan memberitahu Donghae tentang semuanya. Dan ternyata memang begitu, Eunhyuk merasa cukup frustasi untuk menceritakan tentangnya pada Donghae. Jiyoo merasa agak bersalah pada Eunhyuk.

“Ini aib keluargaku, Lee Donghae. Eunhyuk tidak perlu tahu jika dia punya istri dengan keluarga yang seperti ini.”

“Tapi dia akan mengerti, Yoo.” Donghae merasakan sedikit empedu saat mengatakannya. “Dia akan mengerti, sama seperti sebelumnya. Dia akan selalu mengerti.”

Jiyoo tersenyum samar. Sepertinya memang Lee Hyukjae akan mengerti, tapi ia tak bisa terus-menerus menuntut pengertian itu dari Eunhyuk. Terkadang, Jiyoo ingin menjadi pihak yang memberikan pengertian bukannya pihak yang selalu menuntut pengertian. Kedua hal itu menjadi dua hal yang terlalu berbeda baginya.

“Lupakan mimpi burukmu. Semuanya akan baik-baik saja, jadi berhentilah memikirkan kenangan yang tidak indah itu,” ujar Donghae. Saat Jiyoo hanya menunduk tanpa jawaban, Donghae merasakan beban berat yang tak terlihat dari gadis itu.

Mungkin Donghae sudah menghindari Jiyoo selama beberapa hari ini. Demi sebuah alasan konyolnya yang egois; tak ingin Jiyoo mengetahui perasaannya. Tapi jika ia dihadapkan dengan Jiyoo yang seperti ini, ia sudah pasti tak akan menghindar.

Donghae tak tahan mengabaikan Jiyoo yang seperti ini. Tak akan pernah tahan. Dan lagipula, bukan keahliannya untuk tak peduli pada gadis itu.

“Choi Jiyoo, mau pergi bersamaku?”

Eunhyuk memandangi jalanan kota Seoul dengan frustasi. Tak ada kabar dari Jiyoo sama sekali. Ponsel gadis itu aktif tapi ia memilih mengabaikannya. Eunhyuk nyaris membanting benda bernama ponsel itu melalui jendela mobil.

Semua orang yang dimintai bantuan tak menghasilkan apapun. Daehyun sudah mencoba tapi Jiyoo tidak juga menggubrisnya. Pun Donghae yang menawarkan bantuan, ia belum memberi kabar sama sekali. Eunhyuk tak tahu lagi siapa yang bisa membantunya mencari Jiyoo. Rasanya seperti terjebak di lubang semut, tak bisa bergerak.

Lelaki itu hampir gila gara-gara Jiyoo.

Masalahnya, gadis itu seakan mengambil jarak darinya. Jiyoo tak mengijinkannya masuk ke ruang maya yang dibuat oleh gadis itu. Eunhyuk tak tahu apa yang salah.

Firasat Eunhyuk tepat. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Jiyoo. Sikap yang murung, serangan mimpi buruk yang terlampau sering ditambah dengan perubahan napsu makan.

Eunhyuk tak akan keberatan jika Jiyoo memang membutuhkan ruang untuk sendiri, tapi setidaknya gadis itu juga bisa belajar untuk membiarkan Eunhyuk menyelinap ke dalam ruang itu perlahan.

Apa pun yang sedang mengganggu Jiyoo, Eunhyuk sama sekali tak memahaminya.

Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menghubungi Choi Siwon, namun sepertinya itu akan menjadi keputusan paling menyedihkan yang pernah dibuatnya. Eunhyuk akan diceramahi habis-habisan. Siwon akan menilai kegagalannya dalam menjaga Jiyoo.

Eunhyuk berdecak kesal. Apa pun yang akan dinilai dan dikatakan Choi Siwon, ia tak peduli.

Lelaki itu menempelkan ponsel ke telinga saat menekan tombol hijau untuk menghubungi Siwon. Dengan cemas ia menunggu hingga telepon tersambung. “Choi Siwon, aku butuh bantuanmu.”

Incheon – 4:34 PM

Perkuburan umum itu sepi. Jiyoo tak melihat siapa pun kecuali nisan-nisan putih di hadapannya. Darahnya berdesir karena takut. Sudah terlalu lama sejak ia tak pernah mengunjungi nisan adiknya. Bahkan tidak pernah sekali pun sejak ia kembali dari California.

Donghae mengulurkan tangannya, tahu bahwa Jiyoo sedang merasa gusar berada di sini. Ia tak punya cara lain untuk meyakinkan gadis itu bahwa kenangan pahit itu tak seharusnya disimpan. Nisan Choi Junhong akan menjadi penyembuh Jiyoo, mungkin.

“Kau akan baik-baik saja,” kata Donghae setelah Jiyoo menyambut uluran tangannya. Tangan gadis itu terasa dingin dalam genggamannya.

Tapi sepertinya satu hal lain yang disukai Donghae adalah ukuran tangan gadis itu yang sempurna dalam genggamannya. Begitu kecil, begitu cocok, seolah tangan itu memang sudah seharusnya berada di sana.

Choi Junhong

1996 – 2000

Beloved son and brother.

“D-donghae,” Jiyoo tak sanggup mendekat. Ia menarik tangan Donghae.

“Setidaknya bicaralah pada Junhong. Dia pasti merindukanmu,” ucapnya lembut. “Bukankah kau juga merindukannya?”

Jiyoo menelan gumpalan kesedihan dan terduduk di samping nisan adiknya. Donghae sengaja melepaskan tangan Jiyoo dan hanya melihat gadis itu sambil berdiri. Walaupun rasanya menyakitkan saat mendengar kata demi kata yang berganti dengan isakan dari Jiyoo, Donghae mencoba bertahan di sana.

Hingga satu jam berikutnya, saat Jiyoo tak lagi membisikkan kata-kata lembut di nisan adiknya, Donghae kembali menawarkan tangannya pada gadis itu. “Ayo pulang.”

Jiyoo mengusap permukaan nisan dengan telapak tangannya. Rasanya menyenangkan bisa mengunjungi adiknya disini. Meskipun perasaan ganjil dalam hatinya tak sepenuhnya hilang, ia tak terlalu mempermasalahkannya. Jiyoo memang tak berharap perasaan itu menghilang dalam sekejap.

“Donghae, bisa kita menginap di Incheon?”

“Di rumahku?” tanya Donghae. “Tapi Eomma sedang ke Busan.”

Jiyoo tersenyum simpul. “Tidak apa-apa. Aku ingin di sini lebih lama.”

Dan seperti Lee Donghae yang biasanya, ia mengabulkannya. Lee Donghae tak pernah bisa menolak permintaan gadis itu.

7:23 PM

“Kamarmu tidak berubah,” komentar Jiyoo saat pertama kali duduk di atas ranjang Donghae. Sementara lelaki itu mengatur pemanas ruangan di kamarnya, Jiyoo bersandar di tepi ranjang. “Aku tidak tahu kenapa aku justru datang padamu.”

Donghae tertegun. Seluruh tubuhnya terasa kaku, menolak untuk digerakkan.

Sejujurnya, ia ingin tahu. Melebihi semua orang yang ada di dekat Jiyoo, ia paling ingin tahu kenapa gadis itu selalu berakhir dengan bergantung padanya. Seperti kata Donghae tadi, dari seluruh tempat di dunia, gadis itu justru melarikan diri ke rumahnya. Donghae membutuhkan jawaban paling rasional yang bisa menghentikan perasaan konyol dalam dirinya.

“Mungkin… karena kau adalah Lee Donghae-ku.”

Donghae tak pernah terluka dengan klaim kepemilikan dari gadis itu. Ia tahu seperti itulah anggapan Jiyoo padanya. Ia juga tahu ia tak pernah bisa menggunakan klaim seperti itu pada Jiyoo. Tak akan pernah semudah itu.

“Aku tahu terakhir kali kita bertemu…”

“Tidak perlu dibahas. Aku tidak memikirkannya.” Donghae memotong dan berbalik menatap Jiyoo. “Suasana hatiku saat itu sedang buruk. Aku juga tidak mau merepotkanmu, tapi kau memaksa, jadi…”

“Aku tahu. Jangan panik begitu,” ucap Jiyoo. “Sekarang hal yang penting hanya satu, bagiku. Kau ada di sini.”

Donghae tersenyum walaupun rasanya kantung empedu pahit menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. “Ya, aku di sini. Akan selalu di sini.”

“Benar.” Jiyoo tersenyum, memandang Donghae dengan tatapan hangat kesukaan lelaki itu.

Jangan menatapku seperti itu, pikirnya. Jangan menatap Lee Donghae ini dengan kedua mata yang bersinar itu. jangan selalu menganggapku sebagai hadiah yang paling kau sukai. Jangan.

“Benar, kalian ada di sini.”

Suara itu membuat Jiyoo dan Donghae menoleh bersamaan. Eunhyuk berdiri di tepi pintu dengan wajah memerah, menahan amarah. Tatapannya terarah lurus pada Donghae. Eunhyuk maju selangkah demi selangkah. Kedua tangannya terkepal kuat, siap dilayangkan pada orang yang berada di hadapannya.

“Choi Jiyoo,” panggil Eunhyuk tanpa repot-repot memandang gadis itu. Jiyoo terdiam menatapnya. “Masuk dan tunggu di mobil sekarang.”

“E-eunhyuk, ini…”

“Sekarang!” seru Eunhyuk. Kali ini ia menatap Jiyoo hingga Jiyoo bisa melihat kilatan emosi di kedua mata lelaki itu.

Jiyoo menelan ludah. Ia menerima kontak mata dari Donghae. Lelaki itu mengangguk, meminta Jiyoo untuk menuruti Eunhyuk. Tapi gadis itu bergeming. “Tidak.”

“Kalau begitu biar aku yang menunjukkan jalan padamu!” Eunhyuk menarik tangan Jiyoo dengan cepat. Genggaman tangannya terlalu kuat hingga Jiyoo tak sempat merasakan sakit di pergelangan tangannya. Eunhyuk menatap Donghae lekat-lekat. “Kau membohongiku, menyembunyikan istriku dan berada di kamar tidur yang sama dengannya. Apa… yang sedang kau lakukan, Lee Donghae!?”

“Tidak seperti itu,” sela Jiyoo. “Lee Hyukjae, aku…”

Eunhyuk mengabaikan Jiyoo dan membalikkan tubuhnya dari Donghae. “Ayo kita pulang!”

“Setidaknya perlakukan dia dengan baik.” Donghae mengeluarkan suaranya hingga Eunhyuk kembali menatapnya. “Lepaskan tangannya, Eunhyuk.”

Saat Eunhyuk hendak melepaskan tangan, Jiyoo menahannya. “Ayo… pulang.”

Eunhyuk menggertakkan giginya. Salah satu tangannya masih dalam posisi terkepal kuat. Jika Jiyoo tak menahannya, ia pasti sudah memberikan pukulan manis untuk Donghae. Selain itu, ada masalah lain yang harus diselesaikannya dengan Jiyoo.

Harus diselesaikan tanpa keberadaan orang luar, terutama Lee Donghae.

Dengan susah payah Eunhyuk berhasil menemukan Jiyoo dengan pertolongan Siwon. Choi Siwon meminta bantuan polisi untuk melacak ponsel Jiyoo yang masih aktif. Jiyoo berada di daerah Incheon. Eunhyuk sempat ingin meminta bantuan Donghae untuk ikut mencari Jiyoo, tapi instingnya memerintahkannya untuk melakukan hal lain.

Eunhyuk juga melacak posisi Donghae. Secara kebetulan, Donghae juga berada di Incheon. Kebetulan yang pahit menunjukkan keduanya bahkan sedang bersama.

Tanpa menggubris Donghae, Eunhyuk berbalik, masih dengan menggenggam tangan Jiyoo dan meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan cepat, memaksa Jiyoo untuk menyamakan kecepatannya. Semenit lagi ia berada di sini, Eunhyuk tak akan sanggup menahan segala emosi yang tengah menyerangnya.

Malam ini sedang turun hujan di Incheon. Eunhyuk mendengar rintik-rintik deras melalui atap dan jendela rumah Donghae saat ia menarik Jiyoo di sampingnya. Tanpa menoleh pun ia tahu Donghae sedang mengikutinya.

“Aku yang lebih dulu, Hyuk.” Donghae berteriak. “Aku yang pertama!”

Eunhyuk berharap bisa menutup kedua telinganya. Ia membawa Jiyoo menembus hujan sebelum masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan gadis itu berada di kursi penumpang, Eunhyuk berlari kecil ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin dengan cepat.

Melalui spion dalam, Eunhyuk bisa melihat Donghae berdiri di tengah hujan. Lelaki itu hanya memandangi mobil yang sudah melaju ini.

“Hentikan mobilnya, Lee Hyukjae!” seru Jiyoo. “Kau tidak bisa meninggalkan Donghae seperti itu! Dia temanmu!”

Eunhyuk mengatupkan rahang. Ia semakin mempercepat laju mobilnya.

“Lee Hyukjae!”

“Diamlah!”

Jiyoo mengerang frustasi. “Apa yang sebenarnya kau lakukan!?”

“Lalu kau, apa yang sebenarnya kau lakukan!?” bentak Eunhyuk. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan, mengabaikan kendaraan lain yang lalu-lalang. “Kau menghilang! Kau menghindari semua orang dan berakhir di kamar tidur bersama seorang laki-laki! Laki-laki yang kau sebut sebagai temanku tadi.”

“Aku punya alasan.”

Eunhyuk menghela napas kesal. “Bagus. Tentu saja kau punya.”

“Aku… minta maaf.”

“Itu bukan alasan, Yoo.” Jutaan jarum panas menghunjam dadanya. Eunhyuk merasa nyaris mati. “Rasanya sakit saat kau menghindariku. Luar biasa sakit saat kau terus berkata kau baik-baik saja padahal kau tidak! Aku buta! Aku tidak tahu apa yang terjadi, apa yang harus kulakukan dan apa yang salah denganku. Aku tidak tahu apa-apa.

“Dan sekarang rasanya sama sekali tidak bisa dijelaskan saat kau memilih mencari Donghae, bersembunyi di belakangnya, mencari rasa aman darinya. Itu… menyakitkan.”

Jiyoo menundukkan kepala, membiarkan air matanya menetes menyaingi rinai hujan di luar mobil. Ia tak pernah ingin menyakiti Eunhyuk. Saat lelaki itu membandingkan dirinya dengan Donghae, Jiyoo tahu dirinya-lah yang salah. Ia yang salah karena menjadikan Donghae sebagai mantel pelindungnya.

“Kalau sekarang kau mau kembali ke tempat Donghae,” ujar Eunhyuk, “lakukan saja.”

Jiyoo mengkhawatirkan Donghae, tapi ia tak bisa mengabaikan Eunhyuk. Keduanya seimbang, sejajar dan memiliki bagian yang sama besar baginya. Akhirnya Jiyoo menggeleng pelan.

Eunhyuk tak terlalu puas walaupun memang inilah yang diharapkannya. “Kalau begitu kita pulang.”

Donghae merasakan rintik-rintik hujan yang menusuk-nusuk tubuhnya. Matanya tak bisa melihat mobil Eunhyuk lagi tapi ia tak berniat bergerak dari tempatnya sekarang. Mungkin seharusnya Eunhyuk memukulnya tadi.

Hanya agar ia bisa melepaskan perasaannya.

Jika ia dan Eunhyuk saling pukul, Donghae penasaran pada respon Jiyoo. Pada siapa gadis itu akan berpihak. Lelaki mana yang akan lebih ditangisinya.

 “Aku yang pertama!”

Donghae terlanjur meneriakannya. Bahwa dirinya-lah yang pertama kali hadir dalam hidup Jiyoo. Dirinya pula yang selalu menjadi yang pertama bagi gadis itu. Eunhyuk harus menerima kenyataan yang tak akan terbantahkan itu.

“Aku yang lebih dulu, Hyuk.”

Sekali pun Eunhyuk tak bisa menerima fakta itu, Donghae akan memaksanya.

Seoul – 9:29 PM

“Keringkan tubuhmu,” ucap Eunhyuk pelan.

Jiyoo bergeming, tak berniat menggerakkan tubuhnya. Wajah Eunhyuk, nada suaranya, sekaligus sorot mata yang ditunjukkannya sarat akan kekecewaaan. Jiyoo ingin memperbaikinya, tapi ia bahkan tak tahu bagaimana memulainya.

Eunhyuk mengembuskan napas berat. Tanpa suara, ia mengenggam tangan Jiyoo, membawanya ke kamar tidur. Eunhyuk mengeluarkan sehelai handuk dari lemari dengan terburu-buru, seolah benda itu akan menghilang dari tempatnya jika ia tak buru-buru mengambilnya.

“Aku baik-baik saja,” gumam Jiyoo. Eunhyuk sudah mematikan indera pendengarannya. Saat ini ia tak ingin mendengar apapun dari Jiyoo. Setidaknya hingga malam ini terlewati. Lelaki itu mengusap rambut dan wajah Jiyoo yang basah oleh hujan. “Eunhyuk!”

Gerakan Eunhyuk terhenti. Ia membuang handuk ke lantai. “Aku tidak mengerti, Yoo. Aku sama sekali tidak mengerti dan kau tidak membuatku mengerti.”

Keheningan yang panjang berdesir di antara keduanya. Jiyoo tak mampu bersuara dan Eunhyuk pun tak sanggup mengeluarkan perasaannya. Jika itu dilakukannya, Eunhyuk yakin ia hanya akan berakhir dengan berteriak pada gadis itu. Dan itu adalah hal terakhir yang diinginkannya.

Jiyoo memandang wajah Eunhyuk walaupun lelaki itu memiliki objek lain untuk dilihat. Lelaki itu menghindari tatapannya. Dan itu agak menyakitkan bagi Jiyoo.

“Aku… minta maaf.”

“Kau sudah mengatakannya,” sahut Eunhyuk.

Jiyoo membingkai wajah Eunhyuk dengan kedua tangannya, memaksa lelaki itu menatapnya secara langsung. “Maafkan aku.”

“Saat ini, aku tidak bisa berkata ‘Oh, tidak apa-apa, Yoo’ atau ‘Bukan masalah’ dengan santai, Yoo.” Eunhyuk menundukkan kepala, menyandarkan keningnya pada kening gadis itu. Kulit Jiyoo terasa dingin, sedingin kulitnya sendiri. “Kau pasti kedinginan.”

“Kau juga sama.”

Jiyoo mengusap pipi Eunhyuk, merasakan kuilt yang dingin itu di bawah jemarinya. Lelaki itu sudah sampai sejauh ini untuknya. Eunhyuk merasakan rasa sakit ini karena dirinya. Segala fakta itu tak membuat Jiyoo bangga meskipun terbersit ketersanjungan di benaknya.

Kedua tangannya menelusup ke helai-helai pendek rambut Eunhyuk. Rambut itu sama basahnya dengan rambut Jiyoo sendiri.

“Aku… butuh waktu untuk sendirian,” ucap Eunhyuk.

Jiyoo mengerti. Ia mengerti, tapi sebagian jiwanya tetap tak rela. Rasanya seperti ditolak dan tak diinginkan.

“Aku akan tidur di kamarku.” Jiyoo memungut handuk yang tergeletak di lantai.

Gadis itu mengambil pakaian tidur di lemari Eunhyuk sementara Eunhyuk melangkah gontai sebelum terduduk di atas ranjang. Pandangan Eunhyuk kosong. Otaknya pun menolak diajak berpikir. Jiyoo menggigit bibir bawahnya keras-keras, terluka karena telah melukai lelaki itu.

Eunhyuk bergumam pelan, “Aku tidak mengerti.”

“Aku…” Jiyoo mengerjap, menolak meneteskan air mata. Kakinya melangkah sendiri ke arah Eunhyuk. Kedua lengannya bergerak sendiri untuk memeluk lelaki itu, memberikan pelukan hangat yang ia bisa. Jiyoo mengecup pelipis Eunhyuk. “Selamat malam, Eunhyuk.”

Jiyoo menutup pintu kamar Eunhyuk dan bersandar di dinding. Tubuhnya merosot dalam ketidakberdayaan. Rasanya sulit sekali membiarkan lelaki itu mengetahui duka seumur hidup yang menghantui Jiyoo setiap waktu. Bukan karena ia tak memercayai Eunhyuk, tapi karena ia tahu lelaki itu tak akan mengerti ketakutannya.

Malam itu pertama kalinya Jiyoo benar-benar merasa sendirian di rumah.

===============TBC================

I know the progress of this story is lame; I can’t help but apologize though. :’)

These were the scenes that I most wanted to write ever! Eunhae… and Yoo. xD I hope you guys could feel how intense their atmosphere right there.

I simply have a never-ending love for Donghae’s character and the lovey-dovey JiHyuk. Kekeke~

Don’t get tired of this story yet. ><

Thank you! And have a nice day! ^-^

p.s.: I’m so sorry for using Choi Junhong as Jiyoo’s dead little brother. ;~; I wanna use his name but realized his age is… too young. xD

83 thoughts on “Marry Yoo! [10th Step]

    • Argghhh… it’s really really complicated!!
      Gimana bisa Donghae yang notabene dulunya di kenal sebagai pnyatu JiHyuk malah trnyata punya prasaan ma Yoo..
      Eiiss,sbenrnya pernah ngira bakal gtu sih.. tapi entah kenapa ketka bneran trjadi ko’ malah ga’ rela yahh.. huhuhuu
      Kasian Hae.. kasian Yoo.. dan yang paling penting, kasian Hyukiddo… huaaa.. Aku merasa Hyuk beban bgt di chapt ini…
      Aku bner2 nahan nafas waktu Hyuk mergokin Hae ma Yoo di kmar.. bner2 firasat bruk.. ternyata beneran marah besar.. huaaa..
      “Aku yang pertama!”
      “Aku yang lebih dulu, Hyuk!”
      Oh God! Kata2 ituu.. entah gimana perasaannya hae tuh.. T.T tapi Hae juga ga’ bisa di salahin.. rasa suka kan ga’ bisa di tolak.. hahaha
      Yahh… wish best for those three people dehh.. semoga galaunya kaga’ panjang-panjang amat.. kekeke
      Keep fight to write ^0^/

      ps. Ade’ Zelo udh mati yah di cerita ini.. huhuhu T^T#nangis di pundak Daehyun :p

  1. haaaa yaampun, donghaee ~~~~ kan kan mkin susah nahan rasa cinta ke yoo. yaampun yoo nya sih, bukan nya jujur ke hyuk malah menghindar. eh udah gtu malah nyari nya donghae. tapi tapi sweet bngt tau moment hae yoo nya. tapi ya itu batin donghae tersiksa huhuhu aaaa uri eunhyuk cemburu, kesel ya ? jangan berantem sama hae ah, dia teman mu hyuk! ah syuka pas eunhae yoo, aku sangat menanti bagian merka ber3. ashh next part ditunggu yoo, hwaiting !

    • is it a climax????
      sumpah .. hrs nahan napas bc part ini …

      kalo bwgibi saya juga gak paham siapa yg salah ..
      ngenes bgt wkt baca yoo ke makam adeknya

      kirain gak akan ada love rivalry thing donghae dan hyuk .. tp muncul juga ternyata, kalo gini yg baca pun juga ikut galau

      • Yeps. But maybe climax still in next chap. x’D
        Harus muncul. Saya lelah sama eunhae. :’
        Makasihh syuda baca dan menggalau yaa~ ^-^

  2. Suka kebiasaan donghae kalau gigit lidah. Cute. *kalau aku yang gigit keren kali ya* #plak

    hyukjae, aku suka karakter dia yang selalu bisa meredam emosi. Hmmmmm, kalau diperhatikan di part ini sih ketahuanlah ya, cintanya hyuk itu sangat besar. Dan kalau jiyoo tuh lebih merasa nyaman sama donghae karena donghae tahu masa kecilnya yoo.

    Ehhh, boleh tuh kalau daehyun sama chaerin aja. Dan donghae buat aku. Soalnya hyuk dag punya yoo. Jadi ga ada kesempatan lagi.

    Ditunggu deg moment daehyun en chaerin.

  3. ini galau banget hhhuuuueeeehhhh
    entah mau bela sapa tapi keduanya pantas mendapatkan cinta nya yoo
    nice skinship :p
    #nangis lagi T________________________________________________T

  4. part ini daebaak!
    bener bener keren menurut aku, konfliknya bikin emosinya dapet banget.
    endingnya juga bikin penasaran gimna nantinya..
    jujur aja aku gak terlalu suka donghae deket sama jiyoo, gak dapet feelnya pas bcanya. tp kalo sama eunhyuk dpet banget .
    tp yang pasti suka bgt part ini, ditunggu next chapternya🙂

  5. akhirnya publish😀
    hua, part ini bener-bener bikin galau un ..
    apalagi pas donghae bilang “aku yang pertama”😦
    ah, hyukjae suamiku .. agak sebel sama jiyoo di sini gara-gara dia gk bisa cerita ke hyukjae apa yang dipikirin dan akhirnya malah jadi gini kan😥
    oiya, tapi un, tentang adiknya jiyoo, kan katanya perbedaan umurnya 3 tahun trus adiknya meninggal pas jiyoo umur 10, berarti kan pas meninggal junhong umurnya 7 tahun ya, tapi kok di nisannya tulisannya 1996-2000 ya? itu berarti kan pas meninggal junhong masih umur 5 tahun .. yah 6 tahun untuk umur korea lah, hehe ..
    ah, sedih banget pokoknya part ini ..
    ditunggu part selanjutnya ya, un🙂

  6. kyaaah akhirnya muncul juga!!!😄
    yaampun masih perjalanan panjang nih menuju jihyuk junior kkkk
    yaampun part ini yang paling bikin nyesek, waeyooo harus pisah kamar segala akirnya…
    donghae juga, yaampun complicated banget la ya ini.
    wish the best deh buat donghae kkk cepet dapet jodohnya, biarlah si jihyuk berdua ohoho
    waitin for the next part eon,fighting!! jihyuk jjang!!!

    • *ngais tanah* astajiiiiiim ituuuu monolog nya jeyeon kena banget di ulu hati ;A;
      apalagi pas bagian donghae bukannya ngga pernah jatuh cinta , tapi ngga sadar kalo dia lg jatuh cinta ;A;
      ‘-‘)/ *pukpukin donge*

      aah poto itu yg jd alesannya toh ..
      ya ampuun kebayang bgt yaa sakitnya mendem dalem hati😦
      sampe foto enyuk dilipet😦
      dan kebayang donge baru sadar itu pas yoo udh sma hyuk😦
      huwaaaa~ donge ㅜ.ㅜ

      huwaaa gatau mau komen apa . yg jelas ini sesuai , malah lebih , dari yg diharepin :3
      konflik klimaksnya dapet banget !
      lebihlebih dari pas ada chaerin :3
      kan kan , mslh terdekat bener yg plg wuih~ bikin syok iya , gregetan juga !
      ya ampun mak yoo , hyuk nya jan disakitin maaaaak~
      hyuknyaaaaa ㅜ.ㅜ
      miris baca hyuk pas ahir :((

      dan satu lagi cerita yang ngegambarin luasnya kekuasaan choi siwon bhahaha xD
      aseli deh bang choi , keren mampus itu pake acara lacak melacak hp , berasa di pilm2 penculikan xD

      aaaaaak~ pokonya suka suka sukaa !! apalagi pas bagian donge keceplosan blg “aku yg pertama” kena banget ituuh ! demi !!!
      trus pas hae nemuin yoo di depan rumahnyaa . aaaaak~ itu benerbener secret besfriend’s romance yg super supeeeer soswiit ;A;

      aaaah~ seneng liat konfliknyaa . msh penasaran apa yg bakal dilakuin hae seudah ngomong keceplosan gt . terang2an atw pasrah~
      aaaaa~ pokonya nunggu apdetan shela syelalu haha xD
      jan bosen2 yaa dikomen sepanjang sungai musi (?) xD
      love you laa~ fighting !!😀 :*

  7. wuahhhh,
    i’m sorry, but i hate jiyoo in this part
    perlakuan jiyoo yg ga tegas yg bkin aq gregetan, okelah dia punya masa lalu yg ga enak, tp kalo ga diomongin kan jd salah paham
    jadi ikut”an frustasi
    hyuk, poor you, sini ama gue aja *eh
    donghaeeee, kau dbutakan oleh cinta, jd persahabatan jd kabur di mata kamu,
    tp jg bkn salah hae jg sih, hae loves jihyo. thats it, tp kok nyadarnya bru sekarang, u’re too late dude
    hah, kbnykn komen ini jadinya
    anyway, thanx for update shela :*

  8. Yg d tunggu2 publish jg,.

    Tpi kok ending galau sih ,, > < critany tmbh rumit nie ,.

    Next part selalu d nanti !!!!

    Smangt ^ ^ !!!!

  9. Akhirnya setelah buka page setiap hari, dipost juga.
    Eonni, kenapa konfliknya makin rumit. Mana ending galau lagiT_T
    Benerkan dugaanku kalo Donghae ada rasa.. Dan kenapa Jeeyeon-nya kayak pasrah gitu ya?
    Jiyoo juga labil nih, masak dia gak tegas.
    Kalo aku jadi Eunhyuk, udah aku paksa itu Jiyoo buat cerita.

    Lanjut aja deh eon, aku penasaran apa yang dilakuin Jiyoo biar Eunhyuk maafin dia ^^

  10. Astaga, part ini mataku yg cantik ini kau buat berkaca-kaca yoo. T.T
    tak ada yg bisa disalahkan, pngen bgd yoo cpet sadar sm perasaan hae k dy n gmana posisi hae dihatiny?
    Dan hyukjae, pas mulai part dy aq terbawa arus. Aq jd ikt ngerasain gmana sakit hatinya hyuk pas jiyoo lbh milih hae sbg tmpat berlarinya.
    Knpa bukan hyukjae, knp cm brbagi kesenangan aja? Tp duka malah dibagi dg org lain, mskipun it tmanmu dr kecil.
    Itu sangat2 menyakitkan rasanya.
    Daebakk bgd certamu yoo, nextny cepet ya~^

  11. gubraak….
    *ambil napas*

    akhirnya ada scene seru eun-yoo-hae,
    klo ditambah perang saudara pasti lbh seru lg

    tp emg rada curiga ama yoo,udah jd suami istri kok mslh kayak gitu ditutupin.
    klo emg kuatir khan harusnya dari awal jg dah bisa memprediksi khan !!!

    semua cast merasa menderita*menurut versi masing2* tp kok galau’nya donghae ttg perasaannya ke yoo berasa kurang nendang dibanding chaerin ke eunhyuk.
    *ini menurut pengamatan saya,maaf klo g sesuai konteks*

    akhir kata terima kasih telah menerbitkan karya terbaru stlh sekian lama bermasalah dgn mr.wordpress
    😀

  12. Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu😥
    It’s getting worse, I really……. Huhuhuhu
    Idk why but I just… Hae😥 *speechless*
    It was really really nerve wrecking!! Jinjja, pas hyuk mergokin haeyoo di kmar itu bneran bkin deg”an sumpah._. c’mon hae, jgn biarin perasaanmu tmbuh smkin besar & dlm pd yoo, I just dont want all of u getting hurt.. Huhuhuhuhu
    Eonni, u made me feel how intense their atmosphere right there successfully, jinjjaro.__.
    Aaaaaah, but I really like this chap… Bneran bsa ngerasain ke-galau-an msng” karakter mreka d sni, dan itu bkin nyesek senyesek-nyeseknya *?*😦
    Ahhh really cannot wait for the next step.. Gidarilkkeyo eonni😀

  13. Jiyoo sama adiknya beda 3 tahun kan ya? Dcritain kecelakaan itu pas Jiyoo umur sepuluh berarti adeknya umur tujuh dong? Tapi di nisannya kok ditulis 1996-2000 ya?

    Tentang ceritanya, ini penuh perasaan banget dan aku suka lo adegan yang Eunhyuk mergokin Yoo sama Hae. Hahaha…

    Cuma berharap Hae cepet move on. Capek jg baca cerita2 galau. :p

    Yoo~ Berbagilah, Hyuk itu suamimu looo… ^^

  14. eonnie demi donghae yang aku cintai, sumpah ini chapter yang paling menguras airmata, emosi, jiwa, dan raga. aku nangis baca bagian eunhyuk yang dia ngerasa tersakiti itu. jinja, feelnya dapeeet banget. aduh ngga bisa dijabarin lagi, ini chapter sukses bikin aku nyesek ;;;;
    buat donghae, yang sabar ya nak ‘-‘)/ yang suka kamu banyak kok, tinggal tunjuk aja bisa kan.
    pokoknya ditunggu lanjutannya eon, hahhh?? ngga sabar deh ya sama chapter depan u,u
    eonnie jjang!! jihyuk musti bersatu ya, eon. jangan dibuat galau mulu. ngga baik buat kesehatan.

  15. iiihhh iiiihhh eonni aku nangis apalagi pas eunhyuk nya marah ..😥
    donghae oppa sama aku aja yuu *diinjek*

    daebak eonni, hyuk beneran marah besar ini ..

    donghae oppaa~
    biarkan jihyuk bahagia ,,
    kau datanglah padaku🙂
    *dilrmparpanci*

    me : chap 11 udahan ya eunhyuk marah sama donghae oppa nya eon, mereka baikan aja jadi kayak dulu lagi..

    eon : udahan dong ff nya *dipelototin*

  16. God ! ni FF tambah keren aja…
    q deg-degan bgt pas Jiyoo sma Donghae ke Gap Eunhyuk.
    aaaa….. sebgaiknya Jiyoo lekas hamil (?)
    onnie mampir ke WPku ya…. minta pendapatnya juga….q lagi belajar bikin FF soalnya🙂

  17. uh oh….the conflict is more complicated now~~~~ yoo please….im begging you…just opened up to hyukjae juseyooonnggg~~ jiyoo nya jadi kayak php in donghae kan kalo gini terus(?) poor donghae :”’ dont worry kak~ i wont ever get tired of this story since the story becomes more and more interesting u.u and….JUNHONG! god, i was shock when i read “junhong” as little bro of yoo.-. no wonder why jiyoo keeps thinking of his bro kkkk his brother is just sooo awesome~~~ please update soon kakak~~~ {}

  18. Akhirnya bisa baca sampai selesai…
    eonnie, ini makin complicated. Donghae yang mulai menyadari perasaannya pada Yoo dan mungkin keegoisannya sejenak menguasai.. huft.. dan mimpi buruk, ketakutan yoo.. omo, this girl must be tired.
    Next part please ^^ hehe

  19. annyeong eon,.
    amazing,.:o
    ahh..i want to cry after read this part..:'(
    but, over all this is good (y)
    ditunggu y eon, part selanjutnya..
    keep writing and never lost, fighting!!..:)

  20. YOO…. SUMPAH… AKU GAK MAU ADA DI POSISI KAMYU…. *ngilang*
    masalah pelik adalah antara sahabat dan cinta.. banyak yang “mudah” memilih sahabat.. tp jika hal tsb benar2 terjadi., mereka mungkin akan “sulit” juga menentukan.. *sigh*

    Yoo.. how I can get tired with this story..? *latihanengriss*😀
    I❤ Marry You so much Yoo.. keep writing…🙂

    sampai chapter berapa niatnya??

  21. complicated part ini,..
    q suka konflik2 kyk gini,..
    skali2 eunhae berebutan cew,..
    hihi,..
    yoo sdrlah ad hae jg,.. ‘d’tendangeunhyuk’
    ttp suka moment jiyo am eunhyuk,..
    it’s a so sweet,..
    jgn2 nanti ad eunhyuk junior lgi,. ‘sotoy’
    kasian jg hae bru nyadari perasaany,.. ‘puk2hae’
    tp gmn ya kl jiyoo jika tw perasaan hae,..
    wualllah, puyeng 2h,..
    tp yakin deh jiyoo ttp milih eunhyuk,..
    pas baca part eunhyuk yg mrh am hae, knpa rada janggal ya sel?
    mngkn qm sengaja ngecepetin konflik mereka ya,.. ‘sotoy’
    q mikirny hae kan udah jd shbat mereka lama, gk secepatny i2 deh bwt eunhyuk ampe marah sgituny, kl posisi cow i2 bkn hae, gk pa sih ampe mrh sgitu besarny,.. ‘tp ini hanya pendapat q lho’
    ya udah, d’part ini eunhyuk udah tw kl hae suka jiyoo,..
    skrng tggl jiyo aj gmn kl ampe tw?
    jgn ampe nanti pelarian eunhyuk atas semua ini ke chaerin,..
    ok, d’tgg part lanjutany,..
    fighting,..🙂

  22. Donghae~ lupakan perasaan mu ke jiyoo lupakaaaan !! Batin sendiri loh yang nyesek hiks😦
    Aaaah …. Klimaks abis pas eunhyuk nemuin jiyoo sama donghae. Gimana rasanya jadi donghae ya mendem perasaan segituuuu lamaaanya, sakit ! tapi hyuk juga pasti lebih sakit huaaaa serba salah …

  23. Ya ampun!!!
    Akhirnya badai itu bnr2 dtg!
    Aaaaarrgghhh…. *numpang tereak*
    Hatiku brhasil diaduk2 sm part ini!
    Astaga! Choi jiyoo, apa yg ad di kepalamu?? “Keduanya seimbang, sejajar dan memiliki bagian yg sama besar di hatinya”? What the hell are u thinking of??!! >,<
    Itu di atas *nunjuk part eunhyuk yg bru plg dr jepang" kau jls2 menggambarkan klo eunhyuk bnr2 yg ad d hatimu, dan kemudian seimbang dan sejajar??! Ya ampunnn… Choi jiyoo! Le donghae cinta sm kamu dan kapan aja siap merebutmu dr eunhyuk!
    Aahhh, hyukjae-ya, kasian banget dirimu seandainya jiyoo ga bs memberi t4 yg lbh utk dirimu di hatinya.😦
    Choi siwon cmn namanya aja yg lewat!😀
    Complicated banget part ini dan dibuat bingung sm perasaan jiyoo.
    Tn. Lee Donghae yg trhormat, sama aku aja yah, jiyoo nya udah merried sm hyukjae *pllak!
    Its complicated for jiyoo, hyukjae, donghae and ME!!!
    Next plisssss…. ^^

  24. aaaah, sedih… T.T
    kasian donghae, yoo blm sadar ma perasaan donghae yah…
    spt’y eunhyuk mulai sadar ma perasaan donghae, smw’y jd serba salah…
    ntah gmn perasaan mereka k depan’y, smg gak tmbh nyesak..😥
    d’tunggu next part…🙂

  25. nyesek lagi, pagi ini entah kenapa 3 ff yang aku ikutin bikin nyesek semua.. huaaaaaa eunhyuk kasian sekaliiii T.T
    donghae-ya~~ perasaanmu emang nggak salah, tapi tapi tapi huaaa eottokae igeo?
    dan yaa donghae semakin nekat diakhirnya ._.

    lanjutannya deh ditunggu hhihihi :p
    saya menikmati proses nyeseknya (?_?)

  26. astaga donghaee batinmu tersiksa jadi ikutan galau bareng donghae.
    yaah jangan pada tengkar dong. galau berjamaah critanya

    next partnya ditunggu. hwaiting!!!

  27. I L O V E Y O U SHELLA-SSI!
    TT gila! Perasaan jiyoo aku bisa ngerasaiinya ya Allah! Ada pasangan kaya mereka di dunia TT

    aaaa donghae-ssi! Sini-sini-sinii sama sayaa aja hehe

    aku yang pertama.

    Aku pernah jadi hae, aku tau perasaan hae TT

  28. onesidedlove…
    donghae sama jeyeon… bedatipis asdfghjkl
    eonni complicated banget dan part ini penuh sama jihyukhae ugh;~;
    bingung sekarang harus mihak hyulkjae apa downghae pft

  29. parah bgt kamu beb aku bacanya berasa disayat sayat hatinya. gakkuat bgt liat eunhae berantem :”( mau sampe kapan beb? T_T
    kasian bgt donghae, kyknya dia paling menderita disini, serba salah sih jd dia huhuhu.

  30. oh god… Demi apapun aku nangis baca nya T^T
    Di Marry you ini, Aku suka bgt ama penggambaran cinta nya Eunhyuk sama Jiyoo,

    Sesuatu dipart ini bener2 daebakkk
    Perang dipart ini conflict perfect🙂
    Kecewa ama anggapan Jiyoo sama Eunhyuk, saat dia sendiri percaya sama Eunhyuk tapi dia nya gak pengen Eunhyuk tahu ketakutan dia u_u

    Gak sabar nunggu next chapter. Semangat ya kak ^^

  31. Shel kau membubuhkan kata ‘TBC’ pas kejadian lagi klimaksnyaaa .. aarrggg!! Bikin penasaran. T.T
    Stelah kemaren aku bilang pnasaran sama reaksi hyuk kalo tau tentang perasaan hae ke jiyoo, skrg begitu baca part ini jdi ga pngen liat reaksinya hyuk, soalnya bakal bkin hae semakin ancur T.T
    sini hae sama gw aja T.T
    Ini gak adil buat hae, berasa drama sumpah!!!
    eh brrti hae itu suka jiyoo dri kecil juga ya? Tpi knpa dy diem aja, apa karena pengen ngalah dri unyuk –” dasar kunyuk
    *jitak*

    Dan itu nama choi junhong muncul sbg adek jiyoo… Errrr –”
    Zelo unyu begitu >_< harus mati mengenaskan gr2 kecelakaan.
    Dibunuh mak kandungnya sndiri pulak , –''

  32. jadi kebayang lagu mblaq yg war…
    jdi ini klimaksnya y eon,eunhae rebutan yoo…
    aq ykin yoo cintanya sma hyuk cma yoo g bsa jauh dri donghae.aq jga klo jdi yoo bngung mlihh yg mna hehe…tpi berhubung aq fans jihyuk jdi yoo hrz tetep sma eunhyuk hehe…*maksa*
    mnrut aq yoo tu cwek bruntung bgt,punya suami yg cinta stengah mati ke dy dan punya shbat yg sngat mengerti dy.cma klau shbat jdi cnta mskpun sblh pihak,inilah mslh trbesarnya.tgl tnggu slah satu mengalah demi kbhagiaan yg lain.krna klo org sngat mncntai seseorg mka dy rela nglakuin apapun bwt kbhagiaan org itu.

    • Yeps. Inilah scene yg jadi ide mentah Marry Yoo. Hohoho~
      Kayanya beneran bisa siapapun diantara hyuk sama hae yang bisa nyerah buat memberi kebahagiaan buat jiyoo. :’)
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  33. yoo, menganggap hyuk n hae sama brharganya..
    tp, tp yoo g bsa trbuka bgd k hyuk sterbuka ma hae..

    ah..
    pas hbs manis2 eh ngegalaunya pnjang gegara yoo hndari hyuk n lari k hae..
    hae yg emg kyknya menginginkn yoo bgd..

    ah!
    jihyuk-hae konfliknya rumit..
    aq pnsaran sapa jdoh hae d sni ntinya biar dy bsa lupa ma perasaannya k yoo..
    next part dtnggu..

  34. seriusan ini konflik bgt dah…antara haejihyuk…
    Sebenernya gk tega sm nasib hae, kudu mendem perasaannya… Tp yg jd penasaran tuh hae udh suka yoo dr kpn ya? *aduh ms sy gk tw* #plakk

    Tp yg jd msalah disini yoo cintanya sm siapa? Abisnya eunhae berada di tempat yg sm…

    Aaaaaa eunhaeeee jd berantem… Hikshikshiks

    Dan demen kt2 hae yg blg “Aku yang lebih dulu, Hyuk.”“Aku yang pertama!”
    itu jleb!

    • Sebenernya hae itu awalnya cuma peduli banget sama yoo, mungkin msh inget kalo semua kebutuhan yoo pas kuliah di california juga dibantuin sama hae. Hae sendiri sudah ngerasain itu, tp dia memilih mendem, sampe akhirnya perasaan itu tumbuh lebih cepat, lebih besar dan lebih kuat daripada yg pnh dia bayangin. *kenapa saya ngetik fanfic disini? xD

      Muucih syuda baca yaa~ ^-^

  35. yaampon. aku lupa buat comment smvh kak –” maaf! :’c

    ok… aku pertama comment ttg di tbc nya, itu bikin penasaran dan nyesek bgt kak shela. doh. kebayang keadaan donghae, jiyoo, hyukjae ditempat berbeda. dgn suasana hati yg lagi sama-sama amburadul. dan gatau kenapa suka ngeliat titik lemahnya hyukjae karna jiyoo :3

    terus aku juga suka pas bagian donghae,
    “Aku yang lebih dulu, Hyuk.” Donghae berteriak. “Aku yang pertama!”
    god. dapet banget feelnya. dapet juga jawaban buat pertanyaan aku selama ini kak >.< ok. fakta yg bikin nyesek hyukjae, bahwa donghae selalu jadi yang pertama bagi jiyoo. bukan cuma hyukjae yg ngerasain sakitnya masa kak, aku juga. doh. choi jiyoo –"

    sukses bikin galau part ini kak shela :'c juga pengen baca berulang-ulang tapinya :3

    next chap aku tunggu kak '-')b

    • Syukurlah kesampean suasana hati ketiganya yang pada menggalau indah (?)
      Sebenernya inilah yang pingin banget aku tulis, cinta segitiga sih tetep, tapi pingin bikin yg bener2 bingung harus ngedukung yg mana. Haha~
      Indah banget liat eunhae galau gara2 satu cewek. *dibuang ke jurang*
      Berhubung wp lagi jinak, mudah2an bisa dikebut dan cepat tamat. Amin. ;w;
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  36. Annyeong jiyoo~ssi ^^
    Hehe.. Aku bingung mulainya darimana, aku udah baca Marry Yoo dari part awal tapi baru komen sekarang, mianhae..
    Ini gara2 udah lama banget wp aku gabisa dibuka, gatau knpa, baru kemaren akhirnya bisa kebuka lagi itu pun harus lewat operamini *curcol
    Sekali lagi jeongmal mianhae udah jadi Sider selama ini.. T.T
    Hoaaaahhh.. Konfliknya makin pelik deh ini kayanyaa, jadi sebenernya hae juga suka sama jiyoo? Dan jiyoo pun kayanya udah terlanjur gabisa jauh dari hae..
    Pasti deh tuhh Tn. Monkey cemburu beratt, secara Hae kan yg lebih dulu kenal sama yoo..
    Oh iya aku bingung mau manggil apa, gatau aku ini lebih muda, tua, atau bahkan seumuran sama jiyoo~ssi..
    Zia imnida, 93 line_ intro back cuseyeo?

      • Ehh? Seumuran? ㅋㅋㅋ
        Jadi aku manggilnya apa nih? Chingu? Yoo? Jiyoo? Shela? Hehe
        Aku izin ngubek2 blognya yaa, pengen baca2 ffnya, oh iyaa aku lagi pengen baca ff angst romance, disini ada ga? Ada rekomend mungkin?
        Gomawo chingu~ya *PLAKK

      • Boleh apa aja. Seterah, eh teserah. xD
        Angst ya? Aku gak tau, tapi coba cari di oneshot ato gak drabble, ada yang main castnya Kyu judulnya “ps: Help me” Tapi gatau itu cukup angst ato gak/ xD

  37. eonnieeeeeeeeeeeeeee!!!! minta password jihyukism dong >< /puppy eyes/
    bolehkan eonnie?? kamsahamnida jiyoo eonnie :p *CHU*

  38. EOOOONNNNNIIIIIIII….
    Aku lupa udah komen apa belum, jadi sekarang mau komen lagi ya!!! *plakk
    Eoonni, part ini galaunya super, hehehe.. dan nc-nya juga gak kelewatan. *uups!! untungnya aku udah cukup umur.. *elap keringet
    Aku suka ama part ini. Akhirnya pertarungan yang sebenarnya dimulai.. Ayo kita liat EUNHAE berantem!!! *plaakkk
    Aku penasaran SANGAAAAT sama kelanjutannya!!!
    Akankah Eunhyuk mampu menetapkan hati Jiyoo atau malah Donghae berbalik dan memiliki Jiyoo?? Well, let’s see in Marry Yoo 11th Step..

  39. lalalalalalalalalalalalalala~~~~~
    aku udah pernah bilang belum kalau tulisan kamu itu sangat bagus?
    aku udah pernah bilang belum kalau setiap rangkaian kata yang jarimu buat itu bisa bikin yang baca jadi resah sendiri*?*
    aku udah pernah bilang belum kalau marry you ini bikin aku ngerasa seneng, sedih, senyum2 sendiri dan kadang pengen bawa donghae pulang ke rumah aku *oh yang ini abaikan she* hahaha
    AKHIRNYA DONGHAE JUJUR WAAAAAW
    jadi ini adalah donghae yang sedang dilema karena perasaan dia buat yoo, dan merasa senang karena dia satu2 nya tempat pemerhentian yoo///
    yoo yang dilema karena masa lalu nya, dan dia belum siap buat cerita sama hyuk
    hyuk yang ngerasa gagal sebagai suami, yang nggak mengerti apapun tentang yoo dan juga dia mulai merasa hae berperasaan sama yoo
    dan daehyun yang cuma jadi kameo dan ga ngerti , ini ada apa sih? lol
    kkkkkkk
    aku penasaran sama ‘ada apa dengan yoo sampai dia kaya gini’
    dan aku juga penasaran sama penyelesaian kamu untuk feel nya donghae untuk yooo..
    aku udah pernah bilang belum kalau kamu salah satu author terbaik yang pernah aku baca karyanya.. ^^
    akhirnya, semangat she…

    • Awwww~~~ so sweet sekaliiii… Saya terharuuu.. T^T
      Terima kasyih sebelumnya. *bow* eh dan silakan bawa donghae, tapi setelah kontraknya di marry yoo berakhir ya. :’)

      HA HA HA~ ngakak banget baca bagian daehyun yang gak ngerti apa-apa. xD Kesian lelaki itu… :”
      Ah, sekali lagi terima kasyiiihh~ kamyu baik sekali.. >//<

  40. ngenes bgt sama kisah mereka ber3.. semoga ga berkepanjangan.

    “aku yg pertama.. aku yg lbh dulu hyuk“
    ckckck.. hae oppa pasti ga nyadar ngomong githu. mgkn dia cm ga tega ajah kali liat hyuk narik tangan yoo dg paksa.
    *hatimu selembut kapas hae oppa*Jiiiiaaahhhh

  41. Astaga, aku udah tebak bakal kayak gini. Bukannya kasihan ma Dong Hae, aku malah kesal. Bukan salah dia sih pux perasaan kyak gitu, tapi aku sungguh kesaaaaaaaaaal ma Dong Hae n jiyoo!!!

  42. Tissuuuue…..
    Mana tisssue.. Eonni sebelum.a minta maaf hheeh tapi memang haega dan jihyuk seperti kesinambungan..? Saling sangkut paut klo di haega dia seneng bgt bikin hyuk nangis dan di sini hae yg merana hahah *lapingus
    ini waaaw bgt aku baca.a merinding pengen nangis emosi dan campur aduk.. Aku suka saat eunhyuk marah emang muka kaya dia pantas buat marah hahah..
    Sya berfikir kenapa Yoo larinya ke donghae tapi menurut jalan cerita baca.a detail semua aku mengerti,.. Memang sulit.? Bahkan sangat kita punya sahabat dan punya suami di sisi lain suami kita belum terlalu paham hidup kita tapi donghae lebih dari itu..? Menurut opinion.. Ji-yoo merasa donghae seperti kakak tooh saat bersama eunhyuk dia merasa ada cinta… Cinta.. Cinta tulus bahkan yoo selalu menimbang” 12 tahun pengorbanan penantian eunhyuk.. Hatinya luluh…

    So sweett

    sayang eunhyuk LoL

  43. ini menyakitkan sangat menyakitkan asli. waktu awal-awal baca sempet ngira sih kalau hae suka sama jiyoo tapi setelah kejadian kaya gini kok aku jadi engga rela ya.

  44. wah, eunhae perang batin,, kalo disuruh milih antara eunhyuk atau donghae mau milih yg mana??
    beuhh..part ini galau

  45. sekeren apapun ksh cinta jihyuk, aku kok lbh pduli sma perasaan Hae ya ? Thor, gak bisa ya partnya d pter blik. Jihyuk gak jadi nikah dan yoo ama Hae aja ? # oke, gak bisa ya ? (maaf untk prmintaan sy yg aneh ini. Hrap mklum soalnya part ini brhasil buat hati ak brantakan ).

  46. Yaaaa eunhae perang deh,,, andwaeeeeeeeeee
    Yoo itu salh besar krna harus nyembunyiin msalah itu dri hyukjae,, dan secara tdak lngsung yoo itu php in haepa,,,
    Eonnii ff mu bner2 tak terduga,,
    Aku ♍ãů lanjut baca dulu Ɣå媪 eonni,, papi (っ˘з(˘⌣˘c)

  47. Donghae oppa cemburu sama hyuk sama jiyoo yaaaaa di tinggal nikah ngerasa kesepiaaan ???? Ayo makanya oppa cepet cari pasangan biar bisa sama sama bikin cemburu😀

  48. Huuufffttt ya, sudah mulai merasa lelah dengan alur cerita ini. But, wait bukan karna bosan apalagi karna cerita ga bagus, tapi karna kepiawaianmu, She mengaduk-aduk emosi pembaca seperti aku…eottoke??? Uri EunHae…don’t be hard to them, please *puppy eyes*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s