Marry Yoo! [4th Step]

[4] The Wedding

“Sebelum kita menikah, tolong temukan ayahku.”

Angin yang dingin berhembus membelai wajah Jiyoo. Ia merutuki angin yang membuatnya semakin gugup. Gadis itu masih merasakan genggaman tangan Eunhyuk. Sama sekali tak mengendur. Apakah seharusnya itu menjadi pertanda baik?

Jiyoo menggigit bibir. “Dengar, kau tidak perlu–“

“Ada apa?” tanya Eunhyuk. Ia mengangkat jemarinya, menyusuri wajah Jiyoo. “Kenapa tiba-tiba… kau mengungkit soal ayahmu?”

Waktu yang singkat terkadang memberikan banyak pelajaran. Sejak dulu, Eunhyuk tahu ayah Jiyoo tak pernah muncul. Lelaki itu bahkan tak ingat apa ia pernah bertemu dengan ayah Jiyoo atau tidak. Menurut Donghae, Jiyoo memang tak pernah terlihat bersama orang tuanya.

Mungkin ibunya atau adik lelakinya. Tapi semua itu tak lama hingga adiknya meninggal dan ibunya tak pernah muncul di mana pun lagi. Sejak itu tak ada orang lain di dekat Jiyoo.

“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Jiyoo tersenyum getir. Rasanya ia ingin kembali membenamkan diri di tubuh Eunhyuk. “Hanya… aku hanya ingin ayah mengantarkanku ke depan altar. Memangnya itu permintaan yang aneh?”

Eunhyuk mendesah. Ia melingkarkan lengan di pundak Jiyoo, menarik gadis itu mendekat. “Tidak. Sama sekali tidak aneh.”

Satu hal yang diketahui Eunhyuk, Jiyoo berbohong. Pasti bukan itu alasan utama Jiyoo ingin menemukan ayahnya. Eunhyuk tak keberatan jika Jiyoo tak ingin mengatakan apapun. Mungkin gadis itu memerlukan ruang untuk pikirannya sendiri.

Eunhyuk hanya ingin ada di tempat yang sama. Tanpa paksaan, tanpa tuntutan. Untuk gadis itu.

Tenggorokan Jiyoo tercekat, seperti tersangkut sesuatu. Ia merasakan bibir hangat Eunhyuk di pelipisnya. Lelaki itu memberikan rasa manis yang aneh untuknya. Jiyoo tak mungkin membenci itu. Ia justru mengharapkannya.

“Aku akan melakukannya untukmu.” Eunhyuk berbisik hingga napasnya membelai kulit gadis itu. “Aku akan menemukan ayahmu.”

Jiyoo menelan ludah. Kalimat itu terasa menjanjikan, melegakan sekaligus membuatnya merasa bersalah. Tanpa sengaja, ia memandang cincin berkilau di jemarinya. Benda itu berpendar, meneriakkan dukungan aneh.

Bahwa Jiyoo baru saja melakukan tindakan yang benar.

Gadis itu menggigit bibir dan bergumam, “Terima kasih.”

—–

Jiyoo memandangi kamar tamu yang sempat ditempatinya. Ia mendesah. Sama sekali tak terpikirkan jika ia harus berada di ruangan itu sekali lagi. Dan kali ini untuk jangka waktu yang agak lama.

“Aku sudah memanggil pelayan untuk melayanimu,” suara Eunhyuk membuat Jiyoo berbalik. “Dia diminta eomma untuk berada di sini. Jadi, kurasa kau tidak perlu takut meminta apapun padanya.”

Alis Jiyoo terangkat sebelah. “Pelayan?”

Eunhyuk meletakkan koper Jiyoo di sudut ruangan. Lelaki itu duduk di ranjang sambil menghela napas. “Tentu saja. Hanya untuk melayanimu selama kau di sini. Eomma dan kakakku sudah pindah ke rumah utama.”

“Pindah? Rumah utama?”

Raut wajah Jiyoo yang bingung itu membuat Eunhyuk tersenyum. Ia meraih tangan Jiyoo, menarik gadis itu duduk di sampingnya. “Mm. Rumah ini hanya rumah yang ditempati olehku dan kakakku, rumah utama hanya berjarak dua blok dari sini. Jauh lebih besar dan ada banyak pelayan. Intinya, mereka pindah ke rumah utama dan memberikan satu pelayan untukmu di sini.”

“Kenapa… mereka pindah?”

“Jangan tertawa jika aku mengatakan alasannya.” Eunhyuk mengingatkan. Ia meloloskan napas berat. “Mereka pikir aku membutuhkan banyak waktu pribadi bersamamu. Dan jangan salah paham, aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Mereka… konyol kadang-kadang.”

Jadi ibu dan kakak perempuan Eunhyuk pindah gara-gara Jiyoo. Ia merasa luar biasa buruk dengan kenyataan itu. Rasa bersalah mulai menenggelamkannya. Mungkin sepatutnya Jiyoo merasa begitu. Ia membuat ibu dan kakak Eunhyuk merasakan kegembiraan yang keliru.

Jiyoo menggigit bibir. Keluarga Eunhyuk sangat mengerti tentang perasaan aneh lelaki itu padanya, bahkan memberi dukungan yang sejujurnya tak diperlukan. Jiyoo tak tahu ada ikatan sekuat itu di dunia ini. “Apa kau yakin mereka tidak membenciku?”

“Kenapa mereka harus membencimu?”

“Mungkin mereka tidak menyukaiku.” Jiyoo hanya menatap karpet di kakinya. Ia terkesiap saat Eunhyuk memeluknya dari belakang. “E-eunhyuk…”

Eunhyuk mengecup pundak Jiyoo dengan kecupan paling lembut, paling manis, dan paling menyenangkan. “Mereka juga menunggumu selama 12 tahun. Mereka menungguku untuk bisa tetap waras seperti sekarang. Mereka menyayangimu, sama sepertiku.”

Sayang? Jiyoo menelan ludah. Lelaki seperti apa yang baru saja ditemukan Jiyoo? Rasanya Jiyoo tak bisa memberikan perasaan sebesar itu untuk Eunhyuk. Belum.

Gadis itu berbalik dan membenamkan diri di dada Eunhyuk. Jantung lelaki itu bertalu-talu. Sangat menenangkan. Jiyoo menolak memikirkan apapun. Ia tak perlu mempertimbangkan apapun.

Keputusannya benar. Ia sudah membuat keputusan paling benar dalam hidupnya.

—–

 “Menikah!?” Donghae memekik hingga tehnya berceceran di sekitar bibir. Lelaki itu buru-buru menarik beberapa helai tisu. “Kalian serius?”

Eunhyuk mengangkat bahu. Senyuman di bibirnya jelas menggambarkan kemenangan. “Memangnya kami harus bercanda denganmu?”

“Tapi… ini tidak…” gumam Donghae. Ia tak menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan rentetan kekacauan yang menjejali kepalanya. Matanya menatap Jiyoo. “Jelaskan padaku!”

Dengan tenang, Jiyoo mengangkat cangkirnya. Gadis itu menyesap teh hangat yang disajikan pelayan. Oh, pelayan itu baru saja tiba pagi ini. Wanita tua dengan tubuh pendek dan gempal namun berwajah ramah. Jiyoo suka pelayan itu selalu tersenyum padanya.

“Kami akan menikah, Lee Donghae,” ujarnya. “Dan itu penjelasan dariku.”

Eunhyuk melirik jam tangannya. “Baiklah, kurasa kita harus berangkat.”

“Aku yang akan mengantarnya ke kampus.” Donghae mendongak tanpa bangkit dari kursinya. Walaupun Eunhyuk menatapnya dengan aneh, Donghae tak bisa melewatkan kesempatan untuk mendapat penjelasan yang lebih memuaskan dari Jiyoo. “Tenanglah. Lagipula hari ini Jiyoo ada jadwal kuliah, bukan?”

Jiyoo tahu ekspresi wajah itu. Donghae akan menuntut banyak hal padanya. Ia menghela napas panjang dan menatap Eunhyuk. “Aku akan baik-baik saja. Pergilah.”

Geurae?” Eunhyuk bimbang beberapa saat. Seharusnya ia menghabiskan pagi ini bersama Jiyoo karena setelah itu waktunya akan sangat sedikit. Tugas mencari ayah gadis itu sama sekali bukan tugas yang mudah. Eunhyuk membungkuk untuk mengecup kening Jiyoo. “Aku akan menemuimu saat makan malam.”

Jiyoo mengangguk, dan bagaimanapun, tersenyum lembut. Tatapannya mengikuti Eunhyuk yang semakin menjauh. Lelaki itu meninggalkannya sendiri untuk pertama kalinya. Jiyoo mulai merasa tak rela.

“Dia bukan akan pergi berperang, jangan berlebihan,” ujar Donghae asal.

“Baiklah, ada apa?” sergah Jiyoo. Ia paling tak suka berurusan dengan Donghae yang sangat ingin tahu seperti ini.

Donghae meneguk tehnya lagi. “Kau yang ada apa, kenapa tiba-tiba membuat keputusan seperti ini?”

Kening Jiyoo berkerut heran. “Kukira kau akan senang kalau aku setuju menikah dengan Eunhyuk.”

“Memang, memang. Aku senang sampai ingin menangis sekarang,” goda Donghae. Tatapannya melembut hingga membuat Jiyoo semakin merasa bersalah. “Ada apa denganmu? Dan jangan coba-coba berbohong padaku.”

Jiyoo menggigit bibir. Pikirannya berdebat. Haruskah ia memberitahu Donghae? Atau tidak? Jiyoo tak tahu bagaimana menemukan jawaban yang benar.

“Ada apa?” tuntut Donghae. Kedua matanya menyipit. “Ada hubungannya dengan ibuku kemarin?”

Sambil mendesah berat, Jiyoo menganggukkan kepala. Ia tak mendapat respon apapun dari Donghae. Lelaki itu pasti menunggu penjelasannya. “Ayahku menitipkan sebuah gaun padaku.”

“Lalu?”

“Dia… tidak akan muncul lagi di hadapanku, Donghae. Ayahku tidak akan mengganggu hidupku lagi. Dia hanya berharap aku bisa menemukan pria yang baik. Dia memberikan gaun milik ibu agar aku tidak melupakan ibuku.” Jiyoo menelan ludah. Rasanya berat sekali mengulang dan menyampaikan informasi yang didapatkannya kemarin.

“Dia menyesal tidak pernah ada di sini saat adikku meninggal. Dia sangat menyesal hingga tidak punya keberanian untuk menemuiku lagi. Dia… meninggalkan rumah dan tabungan untukku. Dia tidak akan muncul di hadapanku lagi. Setidaknya itu yang bisa dikatakan ibumu.”

Donghae mengepalkan kedua tangannya. Ibunya menyimpan informasi tentang ayah Jiyoo sementara ia tak tahu apa-apa. Donghae selalu ingin memberikan kabar tentang ayah Jiyoo, tapi semua itu justru ada di dekatnya selama ini.

“Dia tahu ibu meninggalkan rumah. Dia tahu aku pergi ke luar negeri. Dia tahu aku sendirian di sana.” Jiyoo menggigit bibir. “Tapi aku tidak tahu apapun tentangnya!”

“Apa… hubungan semua ini dengan Eunhyuk?”

Donghae melihat kilatan rasa bersalah di mata Jiyoo. Lelaki itu bisa menebak kemana arah jawaban Jiyoo ini. Ia hanya berharap bukan itu jawabannya.

“Aku ingin menemukan ayahku untuk mendapat penjelasan. Aku… minta Eunhyuk melakukannya.”

Kedua mata Donghae terpejam. Napasnya terasa berat. “Kau memanfaatkannya.”

“Ya.” Jiyoo tak berusaha membela diri. Jelas sekali ia tak punya alasan untuk melakukannya. Jiyoo sendiri tahu pasti tentang sesuatu yang baru saja dilakukannya. Ia memang memanfaatkan Eunhyuk.

“Dan Eunhyuk tahu.” Donghae bukan mengajukan pertanyaan.

“Ya.”

Donghae menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan. “Kau akan menyakitinya, Jiyoo.”

“Aku… tahu.”

“Bagus. Kau tahu, lalu tetap melakukannya? Apa kau juga tahu kalau dia pasti tidak akan menolak permintaan apapun darimu?” Donghae mulai frustasi. Ia sama sekali tak tahu akan kemana tujuan kedua temannya itu. “Apa kau bisa mencintainya?”

Jiyoo menelan ludah. Pertanyaan itu juga mengganggunya. Ia bukannya tak pernah memikirkan hal itu. Ia memikirkannya sepanjang waktu.

“Mungkin.”

“Mungkin…” ulang Donghae sarkastis. “Sudahlah. Lagipula dia sama sekali tidak keberatan. Aku tak perlu merasa simpati padanya seperti ini, bukan?”

Tangan Jiyoo meraih tangan Donghae. “Maafkan aku.”

“Kenapa harus minta maaf? Kurasa kau baru saja membuat Lee Hyukjae bahagia setengah mati.” Donghae tersenyum lembut. Tangannya membelai rambut Jiyoo. “Dan kau harus hati-hati, dia bisa saja membuatmu jatuh cinta setengah mati.”

—–

Eunhyuk memeriksa beberapa arsip yang diberikan Daehyun. Kedua matanya menyusuri satu demi satu nama yang terketik rapi di sana. Choi Kwangho, Choi Kwangho, Choi Kwangho. Nihil.

Dengan desahan napas berat, Eunhyuk meletakkan lagi arsip yang dipegangnya. Firasatnya benar. Mencari seseorang sama sekali bukan hal yang mudah. Tak peduli sebanyak apapun kekuasaan yang kaumiliki, mencari orang yang memutuskan tak ingin ditemukan bukan hal yang sederhana.

“Tidak ada?” tanya Daehyun. Lelaki itu mendapat perintah mencari nama-nama yang berhubungan dengan perusahaan keluarga Jiyoo dulu.

Eunhyuk menggeleng frustasi. “Cari lagi.”

“Aku mengerti.” Daehyun mengangguk pelan. Ia kemudian menarik kursi di depan Eunhyuk. “Siapa sebenarnya yang ingin kautemukan?”

“Hanya… seorang paman yang penting,” ucap Eunhyuk.

Daehyun menyipitkan mata. Mana mungkin ia percaya begitu saja pada jawaban Eunhyuk. Jawaban itu jelas terdengar konyol. “Jangan membohongiku. Sudah lima tahun aku mengenalmu, Lee Hyukjae.”

“Tentu, tentu.”

“Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu?” tanya Daehyun. Ia tersenyum miring menyadari raut wajah Eunhyuk yang berubah. “Aku benar, kan? Kau sudah menemukannya, kan?”

Eunhyuk hanya mengangkat bahu. Senyumnya terlihat mengejek. “Aku tidak akan mengatakan apapun padamu.”

“Kau memang teman yang murah hati,” sahut Daehyun tajam. “Aku tidak akan mau membantumu lagi.”

“Kau memang teman yang sangat sensitif,” balas Eunhyuk. Ia tertawa pelan. “Baiklah, akan kuberitahu kalau kau sudah menemukan paman Choi ini. Oke?”

Daehyun mendengus tak puas. Selama ia mengenal Eunhyuk, ia tahu tak ada satu orang gadis pun yang bisa membuat Eunhyuk seperti ini. Eunhyuk cenderung lebih arogan pada gadis-gadis di dekatnya. Mungkin gadis yang sering dibicarakan Eunhyuk akan jadi satu-satunya pengecualian.

“Hei,” panggil Daehyun. Eunhyuk mendongak. “Apa ada hubungannya dengan Choi Jiyoo?”

Eunhyuk tertawa canggung. “Ada apa dengan Choi Jiyoo?”

“Entahlah. Aku hanya punya perasaan yang aneh tentang gadis itu dan dirimu,” Daehyun mengangkat bahu. Ia pernah melihat gadis itu keluar dari mobil Eunhyuk dan hal itu cukup aneh mengingat Eunhyuk tak pernah membiarkan orang lain naik mobilnya. “Dia… gadis itu, kan?”

Dengan tatapan yang jenaka, Eunhyuk hanya tersenyum. “Mungkin saja.”

“Ternyata benar,” sahut Daehyun. “Ah, kau harus membiarkanku bicara dengannya lebih sering. Aku juga ingin tahu tipe gadis seperti apa dia.”

Eunhyuk memandang sahabatnya dengan sengit. “Tidak boleh. Kau bisa jatuh cinta padanya.”

“Benarkah?” Daehyun tergelak. “Bisa saja dia yang akan jatuh cinta padaku.”

Sambil menatap Daehyun penuh penilaian, Eunhyuk menggeleng. “Pesonaku masih cukup banyak untuk menutupi pesonamu.”

—–

Jiyoo tak siap. Ia tak akan pernah siap dengan apapun yang menyangkut tentang pernikahan. Segala sesuatunya bisa saja menjadi lebih buruk jika ia menikah. Jiyoo tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada pernikahannya dengan Eunhyuk nanti.

Benarkah ini keputusan yang benar? Jiyoo mulai meragukan caranya memandang masalah ini.

Gadis itu menerima lamaran Eunhyuk hanya untuk mencari ayahnya. Jiyoo bahkan tak punya alasan lain yang mendukung keputusannya itu.

Seperti apa rasanya menikah? Jiyoo tak pernah membayangkan semua itu.

Eunhyuk bukan orang yang baru untuknya. Jiyoo bisa mengerti dan memahami hal itu perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Lelaki itu jelas istimewa, melebihi Donghae dalam beberapa hal.

Namun jika pertanyaan apakah Jiyoo siap menikah dengan Eunhyuk, hal itu lain lagi. Jiyoo tak akan pernah merasa siap jika alasan dibalik tindakannya adalah hanya untuk memanfaatkan lelaki itu. Benar, Eunhyuk tak keberatan, tapi bagaimana dengan orang lain?

Ibunya, kakaknya. Semua orang akan menyalahkan Jiyoo. Bahwa Jiyoo memang bukan gadis yang tepat dan pantas untuk ditunggu Eunhyuk selama 12 tahun. Semua orang akan berkata begitu.

“Kau melamun,” Jiyoo mendongak, agak terkejut melihat Sora di hadapannya. “Apa tidurmu nyenyak?”

Jiyoo mengangguk sambil tersenyum. “Aku minta maaf. Seharusnya tidak perlu ada yang pindah.”

“Oh, jangan dipikirkan. Kami melakukan itu karena kami ingin. Hyukjae pasti sangat berterima kasih karena kami memberikan banyak waktu luang untuknya… eh, kalian.” Sora tersenyum penuh arti. “Jadi, kau tinggal di kamarnya?”

“Apa? Tidak, tidak. Aku tidur di kamar tamu.” Jiyoo berdeham. Rona merah jambu menjalari pipinya.

Sora tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Jiyoo tak akan mau tahu kenapa Sora menunjukkan raut wajah seperti itu. “Jadi, kapan kalian akan menikah?”

“Aku… kurasa aku dan Eunhyuk akan segera membicarakannya,” jawab Jiyoo. Benarkah ia dan Eunhyuk akan membicarakannya?

“Kurasa aku dan eomma harus berterima kasih padamu,” Sora tersenyum tulus. Terlalu tulus hingga perut Jiyoo bergolak tak nyaman. “Kau… kembali padanya. Kami sangat berterima kasih. Tadinya aku ragu penantiannya akan membuahkan hasil, tapi ternyata… kau kembali, dan siap menikah dengannya.”

O-oh. Jiyoo yakin Sora harus meralat lagi ucapannya. Terutama di bagian siap menikah itu.

—–

The next day

Sinar matahari menembus melalui sela-sela jendela kamarnya. Eunhyuk menggeliat di ranjang, menguap dan memeluk bantal. Baru tengah malam tadi ia pulang, rasanya seluruh tubuhnya remuk. Eunhyuk mengusahakan pencarian ayah Jiyoo dengan mengerahkan setiap orang yang bisa dimintai bantuan.

Mungkin usahanya terlalu keras. Eunhyuk tersenyum kecil.

Lelaki itu menghela napas berat. Pagi ini pun ia harus segera kembali ke kantor, mengerjakan tugasnya menjadi direktur dan kembali meneruskan misi besarnya untuk menemukan ayah Jiyoo.

Jiyoo sudah berada di ruang makan saat Eunhyuk menyusuri tangga. Tugas lain buru-buru ditambahkan Eunhyuk dalam agendanya hari ini. Ia juga harus mengantar Jiyoo ke kantor. Yang terakhir adalah yang paling menyenangkan untuknya.

“Hei,” sapa Jiyoo. Gadis itu membiarkan rambutnya tergerai. Eunhyuk tak melihat polesan riasan apapun di wajah Jiyoo. Cantik.

Sepertinya Eunhyuk harus menahan diri untuk tidak mengecup kening gadis itu. “Apa tidurmu nyenyak?”

Jiyoo mengangguk. “Yang jelas lebih nyenyak dibandingkan denganmu.”

“Menjadi direktur memang bukan pekerjaan yang mudah,” Eunhyuk tergelak sambil meraih kimchi jiggae di piringnya. “Dan soal ayahmu, aku akan menemukannya.”

“Tentu,” sahut Jiyoo. Pandangan gadis itu menyusuri lekukan wajah Eunhyuk. Jika ada sesuatu yang tak normal, itu adalah wajah Eunhyuk yang terlihat semakin lelah. Jiyoo berdeham. “Kau… tidak perlu terburu-buru.”

Eunhyuk mengangkat wajah untuk beradu pandang dengan Jiyoo. “Tidak. Aku perlu terburu-buru.”

Sepertinya tak akan ada gunanya jika Jiyoo mendebat lelaki itu. Ia hanya akan menuruti Eunhyuk. Jiyoo sudah bersikap egois sejak awal, dan meneruskan sikap itu bukan sesuatu yang salah. Mungkin.

“Jiyoo,” panggil Eunhyuk. Wajahnya melembut. Jiyoo merasa gelombang rasa bersalah menamparnya. “Aku perlu menemukannya untukmu. Secepatnya. Dan bukan karena aku ingin mempercepat pernikahan kita.”

Jiyoo tergelak pelan. “Tentu saja.”

Itulah yang ingin dilihat Eunhyuk; senyuman Jiyoo. Dan mendengar suara tawa gadis itu adalah salah satu bonusnya. Eunhyuk memandang wajah itu lekat-lekat. Merekam baik-baik ekspresi indah dari gadis itu.

“Dan, Jiyoo?” Eunhyuk membelai wajah Jiyoo dengan sebelah tangannya. “Perlu kau tahu, aku sangat ingin menciummu sekarang.”

Sentuhan itu mengalirkan listrik ke setiap sendi Jiyoo, menyalurkan desiran yang aneh melalui pembuluh darahnya. Gadis itu membeku di tempat. Otaknya berhenti berpikir, ia tak bisa bergerak.

Ciuman itu tak terelakkan. Jiyoo terlambat memberi jawaban, terlambat menutup mata. Ia terlambat dalam segala hal.

Mungkin bukan salahnya. Sejak Eunhyuk menyentuh kulitnya, Jiyoo tahu ia tak akan bisa merespon banyak. Jadi sebaiknya ia menikmati ciuman itu.

Eunhyuk mencondongkan tubuhnya ke depan. Salah satu tangannya meraih wajah Jiyoo sementara tangan yang lain menahan tubuh Jiyoo agar gadis itu tak terhuyung ke belakang. Bibirnya menyapu bibir Jiyoo. Pelan, perlahan, dan lembut.

Sedetik, dua detik, tiga detik… kenapa waktu berjalan sangat lambat saat Jiyoo sedang bersama Eunhyuk?! Ah, sudahlah. Gadis itu menolak berpikir. Sentuhan intim itu terlalu manis untuk dirusak dengan pikirannya sendiri.

Lumatan pelan di bibirnya membuat perut Jiyoo kram. Jantungnya menggelepar sementara ia membalas ciuman Eunhyuk.

Sejak ciuman pertama mereka beberapa hari yang lalu, kali ini Jiyoo bisa merasakannya. Ia menyukai ini. Jika waktu itu bibir Eunhyuk dingin oleh hujan, sekarang bibir itu terasa hangat, lembut, manis… Jiyoo bahkan tak dapat memilih kata yang tepat.

“Kita akan terlambat,” Eunhyuk bergumam di atas bibir Jiyoo. Sensasinya luar biasa menyenangkan. Lelaki itu tertawa. “Ayo berangkat.”

Jiyoo merasa linglung. Setengah hatinya tak rela menyudahi ciuman itu. “Y-ya…”

—–

“Baiklah, aku mulai frustasi melihatmu seperti itu,” sela Donghae.

Selama setengah jam penuh, Donghae hanya melihat Eunhyuk memandang ke luar jendela dengan senyum aneh. Tanpa perlu usaha keras, Donghae tahu temannya itu baru saja melakukan sesuatu dengan Jiyoo. Gadis itu tampak salah tingkah saat ia dan Eunhyuk menatapnya dari jendela kaca.

Eunhyuk tergelak. Ia menyesap teh lemonnya. “Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya.”

“Tentu saja.” Donghae berkomentar sarkastis.

Keduanya berada di ruangan Eunhyuk. Donghae memutuskan untuk mampir untuk menanyakan sesuatu. Mungkin lelaki itu harus meralat pikirannya sendiri. Bukan hanya sesuatu, tapi banyak hal.

“Kau benar-benar akan mencari paman Choi?” tanya Donghae.

Eunhyuk mengerutkan kening. Pandangannya pada Donghae terlihat aneh. Mungkin seharusnya Donghae tak perlu menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. “Apa kau tidak setuju aku melakukannya?”

“Oh, jangan salah paham. Aku setuju. Sangat setuju.” Donghae berdeham. Ia teringat pembicaraannya dengan Jiyoo. “Hanya… Hyuk, dengar, aku mencemaskanmu. Kau tidak perlu menjadi orang yang… bodoh seperti ini.”

“Kau ingin Jiyoo menjadi gadis yang lebih ceria, kan?”

Pertanyaan bodoh. Donghae mengangguk. Jika ada hal yang akan dilakukannya selama 12 tahun terakhir, itu adalah mengubah hidup Jiyoo.

“Kalau begitu, dukung aku. Aku sedang berusaha melakukannya.” Eunhyuk tersenyum lembut. “Ah, dan lagipula aku berhasil menemukan orang dari keluarga Choi. Seharusnya orang itu salah satu sepupu jauh Jiyoo.”

Donghae mengangkat alis. Sepupu Jiyoo? Ia tak ingat gadis itu pernah membicarakan soal sepupu jauh atau apapun. Ibu Jiyoo adalah yatim-piatu.

Dalam satu kedipan mata, Donghae mengerti. “Anak dari keluarga ayahnya?”

“Mm.” sahut Eunhyuk. Ia mengeluarkan arsip bersampul hijau lumut. “Namanya Choi Siwon. Dia menjalankan perusahaan otomotif berbasis luar negeri di Seoul. Aku sudah membuat janji untuk bertemu dengannya siang ini.”

Donghae melongo. “Kau?”

Wae? Memangnya siapa lagi yang harus menemui orang itu?”

“Kau bisa menyuruh orang lain.” Donghae menyesap minumannya. “Harus kuakui, kau bergerak sangat cepat dalam hal ini. Apa kau yakin bisa menemukan paman Choi?”

Eunhyuk menghela napas sambil tersenyum. “Tidak.” lanjutnya. “Aku sama sekali tidak yakin paman itu bahkan masih ada di negara ini. Hanya saja, aku harus memastikannya. Sebelum aku bisa memberikan jawaban yang pasti pada Jiyoo, aku belum bisa berhenti.”

Dengan senyum menggoda, Donghae melirik Jiyoo yang terlihat dari dinding kaca. Rasanya temannya itu tak akan bisa mendapat orang lain sebaik Eunhyuk. Tak akan ada lelaki yang bisa mendapatkan kepercayaannya untuk memiliki Jiyoo selain temannya ini.

“Lee Donghae!” seruan Daehyun membuat Donghae berbalik. Lelaki itu tersenyum.

“Jung Daehyun,” Donghae memeluk Daehyun sesaat. “Kau masih betah berada di sini bersama Eunhyuk? Sulit dipercaya!”

Daehyun tergelak pelan. “Yah, kasihan sekali diriku ini, bukan?”

“Teruslah merendahkanku,” gumam Eunhyuk. Ia mendongak menatap Daehyun. “Ada apa?”

Dengan gerakan cepat, Daehyun meletakkan arsip merah di atas meja Eunhyuk. “Choi Siwon, data pribadi dan semuanya ada di kertas-kertas ini. Kau bodoh sekali, meminta amunisi bantuan hanya satu jam sebelum perang. Kau kurang persiapan.”

“Aku punya Jung Daehyun yang hebat, apa yang perlu kutakutkan?” Eunhyuk membuka lembar-lembar kertas di tangannya. Sepertinya semua itu memang informasi tentang Choi Siwon. Sialnya, lelaki itu ternyata memang masih memiliki hubungan dengan keluarga Jiyoo. “Jadi, siapa yang bisa mengantar Jiyoo ke kampusnya setelah makan siang?”

“Eh?” Donghae melihat jam tangan di pergelangan tangannya. “Benar juga! Dia masih ada kuliah. Kau tidak mau mengantarnya, Hyuk?”

Eunhyuk mendesah berat. Ia ingin sekali melakukan itu. Menambah jadwal kegiatan yang berhubungan dengan Jiyoo akan sangat menyenangkan. Tapi Choi Siwon ini tak bisa ditunda. Eunhyuk tak mau menunda apapun.

“Kau tidak bisa, Hae?” tanya Eunhyuk. Walaupun hanya setengah hati, Eunhyuk berharap Donghae menerima permintaannya. Ia tak akan membiarkan Jiyoo berangkat sendirian.

Donghae menggeleng. “Maaf, aku masih ada pekerjaan setelah makan siang.”

—–

Entah untuk yang keberapa kalinya, Jiyoo gagal memahami isi kepala Eunhyuk. Lelaki itu buru-buru meninggalkan kantor tepat saat jam makan siang. Jiyoo tahu hal itu akan terjadi. Eunhyuk menjadi lebih sibuk karena tugas yang dibebankan padanya. Dan Jiyoo juga berharap bisa membantu dengan tidak merepotkan lelaki itu dalam hal apapun.

Tadinya, Jiyoo berniat berangkat ke kampus dengan bis. Donghae sudah bilang ia tak bisa mengantar, dan Jiyoo berharap bisa pergi sendiri. Sendiri, tanpa merepotkan siapapun.

“Jangan cemberut begitu,” ujar Daehyun. Ia sudah memasang sabuk pengamannya di belakang kemudi.

Eunhyuk menunjuk Jung Daehyun sebagai orang yang harus mengantar Jiyoo ke kampus. Sungguh keputusan konyol yang khas Lee Hyukjae. Jiyoo menghela napas.

“Eunhyuk mencemaskanmu. Donghae sudah bilang masih ada pekerjaan, kebetulan hanya ada aku di ruangannya, jadi… aku akan menjadi supirmu sekarang.” Daehyun mulai menyalakan mesin.

Jiyoo meringis di kursinya. Supir sama sekali bukan kata yang tepat. “Tapi kau, maksudku Anda, adalah atasanku. Direktur itu benar-benar suka memanfaatkan jabatannya ya?”

“Tidak seburuk itu. Eunhyuk juga temanku.” Daehyun tergelak. “Dia pasti tidak akan membiarkanmu pergi sendirian.”

Bagus. Jung Daehyun adalah teman Eunhyuk dan Donghae. Jiyoo bisa menebak Daehyun sudah tahu semua hal yang berkaitan dengan dirinya. Selamat tinggal, imej baik.

“Tentu saja dia tidak akan membiarkannya.” gumam Jiyoo tak acuh. Gadis itu sudah berusia 20 tahun, bukannya gadis kecil yang harus dikelilingi Donghae dan Eunhyuk lagi.

Daehyun tertawa pelan. Ia masih menebak-nebak bagaimana temannya bisa bersikap sangat protektif pada Choi Jiyoo. Tapi mengingat semua itu dilakukan oleh Lee Hyukjae, teman malangnya yang menghabiskan waktu 12 tahun untuk gadis ini, Daehyun tak heran.

“Jadi,” Daehyun tak mengalihkan pandangannya dari jalan. “Choi Kwangho itu ayahmu?”

Benar-benar untuk sepersekian detik, jantung Jiyoo berhenti berdetak. Ia melirik Daehyun dengan hati-hati. “Y-ya.”

“Kau pasti tidak akan menyangka sekeras apa Eunhyuk berusaha menemukannya untukmu,” ujar Daehyun. Jiyoo merutuki bosnya dalam hati. Oh, bagus. Semakin banyak orang yang berkomplot untuk menebarkan rasa bersalah untuknya. “Siang ini dia akan menemui orang yang bisa membantunya menemukan ayahmu. Karena itu dia tidak bisa mengantarmu.”

Jiyoo memilin-milin ujung tas dalam pangkuannya. Seharusnya ia tak heran Eunhyuk akan melakukan itu. Beberapa hari belakangan ini, lelaki itu pulang tengah malam, bangun sangat pagi untuk berangkat bersama ke kantor, dan membiarkan Donghae mengantar Jiyoo pulang ke rumah karena Eunhyuk tak akan pulang sebelum tengah malam.

Semua itu terus berulang selama beberapa hari terakhir. Jiyoo tak suka mengakuinya, tapi ia ingin melihat Eunhyuk yang senang berkeliaran di sekitarnya. Pengakuan penting dan rahasia yang hanya akan disimpan oleh Jiyoo sendiri.

“Sepertinya dia menjadi ekstra sibuk belakangan ini,” gumam Daehyun.

Sedikit rasa tak rela menyergap nurani Jiyoo. Ia tak suka pulang ke rumah tanpa ada Eunhyuk di sana. Rasanya aneh jika lelaki itu tak ada di dekatnya.

“Apa… sulit menemukan ayahku?”

“Jangan khawatir. Eunhyuk tidak akan mengecewakanmu.” Daehyun tersenyum lembut.

Bukan itu yang dicemaskan Jiyoo. Sama sekali bukan itu. Ia hanya takut Eunhyuk terlalu keras berusaha mengabulkan keinginannya. Jiyoo mungkin adalah orang yang paling tahu jika ayahnya sama sekali tak berniat kembali.

Meskipun begitu, secercah harapan itu dibiarkannya tumbuh tanpa memedulikan orang-orang di sekelilingnya. Terutama Eunhyuk. Gadis itu mengabaikan perasaan Eunhyuk untuk harapan kecil.

“Kita sampai!” senyuman Daehyun semakin lebar saat menghentikan mobil di depan kampus Jiyoo. “Donghae akan menjemputmu nanti, jadi tugasku selesai sampai di sini.”

Jiyoo mengangguk tak enak. Atasannya akan mengecap dirinya sebagai gadis yang selalu merepotkan. “Terima kasih.”

—–

Ruangan Choi Siwon lebih besar dari ruangan Eunhyuk. Nuansa putih gading memberikan rasa nyaman yang aneh padanya. Lemari buku diletakkan di sudut ruangan. Eunhyuk tak ingat lemari di ruangannya lebih besar atau lebih kecil.

Perhatiannya tertuju penuh pada lelaki yang duduk di depannya. Menurut data yang diberikan Daehyun, lelaki ini pasti Choi Siwon. Sial, lelaki itu tampan. Dan sangat mengintimidasi.

“Kau datang untuk bertanya tentang pamanku?” tanya Choi Siwon. Setelan kemeja putih bersih dengan dasi hitam sudah tentu sangat cocok untuknya. Eunhyuk ragu ada setelan yang bisa membuat Choi Siwon itu tampak jelek.

Eunhyuk mengangguk. “Aku datang atas nama Choi Jiyoo, anak paman Choi.”

“Jiyoo sudah kembali?” kedua mata Siwon berkilat senang. Eunhyuk merasa itu bukan pertanda bagus. “Di mana dia?”

Sambil berdeham tak suka, Eunhyuk menautkan kedua tangannya. “Aku hanya ingin tahu soal ayah Jiyoo.”

“Dan memangnya siapa dirimu?” Siwon tak repot-repot menyembunyikan rasa tak sukanya juga.

Eunhyuk menghela napas. Sebentar lagi calon keluarganya ini akan berhenti bersikap menyebalkan. “Aku adalah orang yang akan menikah dengan Jiyoo. Kau bisa menyebutku sebagai tunangan Jiyoo.”

“Baiklah, tunangan Jiyoo,” ujar Siwon sarkastis. “Apa tujuanmu sebenarnya?”

“Menemukan paman Choi, memintanya menjadi pendamping anaknya saat pernikahan kami,” sahut Eunhyuk santai. “Aku harus tahu di mana paman Choi berada sekarang, jadi kalau kau tidak keberatan, berikan saja alamatnya padaku.”

Siwon melipat kaki kanannya. Senyuman angkuh itu membuat Eunhyuk muak. “Aku ingin bertemu dengan Jiyoo.”

“Sepertinya bukan itu yang kubicarakan tadi,” sela Eunhyuk. “Aku minta alamat paman Choi Kwangho.”

“Karena itu kubilang aku perlu bertemu dengan Jiyoo,” Siwon menurunkan kakinya, mencondongkan tubuh ke depan. “Paman Choi sudah meninggalkan Korea sejak 10 tahun yang lalu.”

—–

Lelaki itu belum pulang. Mobilnya tak terlihat di mana pun. Apa yang sedang dilakukan dan berada di mana lelaki itu, Jiyoo tak tahu. Rasanya menyebalkan saat lelaki itu tak berada dalam jarak pandangnya.

“Apa Anda ingin makan malam sekarang, Nona?”

Teguran pelayan tua menyadarkan Jiyoo. Gadis itu tersadar dari kenyataan bahwa Eunhyuk belum sampai di rumah. Lagi-lagi ia berada di rumah ini sendirian. Jiyoo menghela napas berat tanpa sadar.

“Tidak perlu. Aku akan menunggu Eunhyuk.” Jiyoo tersenyum sesopan mungkin. “Ah, Bibi bisa kembali ke kamar sekarang. Bibi pasti lelah.”

Pelayan tua itu balas tersenyum hingga kerutan halus terbentuk di sekitar matanya. “Tuan Lee akan marah kalau aku tidak melayani Nona.”

“Dia tidak akan marah. Jangan khawatir.” Dengan satu tangan, Jiyoo menggenggam tangan sang pelayan. “Aku akan makan kalau dia sudah datang.”

Jiyoo mengembuskan napas lega saat pelayan tua bernama Han itu mengangguk dan meninggalkannya. Ia menyusuri tangga, bergegas ke kamar dan memakai piyama yang disiapkan pelayan Han.

Keputusannya sudah bulat. Ia harus menunggu Eunhyuk pulang.

Entah sudah berapa hari ia tak melihat Eunhyuk makan malam di rumah. Sekalipun lelaki itu suka berkata akan menemuinya saat makan malam, Jiyoo tak pernah melihat Eunhyuk di ruang makan. Gadis itu agak kesepian.

Pukul 23.54 dan kedua mata Jiyoo mulai berat. Ia mengangkat tangannya ke atas, memandangi cincin yang terselip di jari manisnya. Sepertinya ini saatnya Jiyoo memikirkan orang lain.

Ini saatnya ia memikirkan Eunhyuk. Jika ayahnya memang tak ingin kembali, tak apa. Tak apa, selama ada Eunhyuk, semuanya tak akan jadi masalah.

Jiyoo tersentak saat mendengar deru mesin mobil. Penantiannya berakhir. Ia menuruni tangga, sengaja menunggu di ruang makan. Dengan menghadap pintu, Jiyoo tahu Eunhyuk akan langsung melihatnya.

Selama sekitar 10 menit, Jiyoo tak menemukan tanda-tanda apapun. Mobil Eunhyuk jelas sudah berada di garasi, lalu kenapa pemiliknya belum masuk ke dalam rumah?

Jiyoo tersenyum saat lelaki itu masuk dan mendorong pintu dengan sentakan pelan. Kemejanya lusuh, dasi sudah tak terpasang di tempatnya. Jiyoo bertanya-tanya seberat apa hari ini untuk Eunhyuk.

“Hei,” sapa Eunhyuk. Kedua matanya yang sayu tetap bersinar saat menemukan Jiyoo di depannya.

“Hei,” Jiyoo berdiri dari kursi, menghampiri lelaki itu dengan perlahan. Ia ingin minta sebuah pelukan dari orang di depannya ini.

Eunhyuk tersenyum lemah. “Boleh… aku memelukmu?”

Desakan rasa terluka menyapu Jiyoo. Gadis itu bisa melihat raut lelah di wajah Eunhyuk. Sebenarnya ia juga ingin meminta hal yang sama. Jiyoo ingin mendapat pelukan dari lelaki itu. Kebetulan ini dapat menutupi harga dirinya sekarang.

Jiyoo melingkarkan lengan ke pinggang Eunhyuk. Seperti biasa, ia akan mendengarkan jantung Eunhyuk yang bertalu-talu. Jiyoo merasakan suara napas Eunhyuk di sekitar pelipisnya.

“Maaf,” bisik lelaki itu. Apa, permintaan maaf untuk apa? “Ayahmu sudah meninggalkan Korea sejak 10 tahun yang lalu. Mustahil melacaknya sekarang. Maaf… Maafkan aku.”

Telinga Jiyoo berdengung. Ia tak ingin mendengar permintaan maaf apapun dari lelaki ini. Tak peduli ayahnya ditemukan atau tidak, Jiyoo tak bisa menerima permintaan maaf itu dari Eunhyuk.

Jiyoo, bagaimanapun, tak bisa berkata apa-apa. Rasanya terlalu menyedihkan hingga hanya isakan kecil yang meluncur dari bibirnya. Eunhyuk harus tahu ia sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Ia tak lagi ingin menuntut agar ayahnya ditemukan.

Rasa bersalah dan kesepian menenggelamkannya hingga Jiyoo tak bisa mengatakan apa-apa.

“Jangan menangis. Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini, tapi aku sudah melakukan semua hal yang kubisa,” Eunhyuk mengecup pelipis Jiyoo. Rasanya ia juga bisa ikut menangis jika gadis itu tak berhenti. “Aku minta ma–“

Jiyoo mendongak, mengangkat wajah sambil berjinjit. Kedua tangannya menyentuh kedua pipi Eunhyuk. Ia menyapukan bibirnya ke bibir lelaki itu dengan cepat. Jika ia tak bisa mengatakan apapun pada Eunhyuk, ciuman ini akan menjelaskan semuanya.

Bibir Jiyoo bergerak lembut. Ia merasakan bibir Eunhyuk yang dingin. Sudah berapa lama lelaki itu berada di luar rumah? Apa Eunhyuk memikirkan banyak cara untuk menyampaikan berita ini untuknya? Jiyoo tak bisa memikirkan semua hal menyakitkan itu.

Tangan Eunhyuk berada di punggung Jiyoo, menahan tubuh gadis itu. Ia tak tahu kenapa Jiyoo mendadak menciumnya, tapi ia tahu ia memang membutuhkan ini.

Bibirnya terasa basah. Eunhyuk menarikan jemarinya di punggung gadis itu. Ia mulai melumat bibir Jiyoo dan kehilangan efek kelembutan. Gadis itu baru mendorong tubuhnya menjauh saat udara menipis.

“Aku… itu…”

Eunhyuk menarik tubuh Jiyoo mendekat. Kecupan ringan menyapa bibir Jiyoo. Eunhyuk juga memberi kecupan lembut di pipi, hidung, dan kening gadis itu. Jelas penghiburan yang menyenangkan.

“Berjanjilah kau akan tetap di sini,” Jiyoo menggenggam tangan Eunhyuk. “Walaupun keluargaku sama sekali tidak sempurna, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku.”

“Bukankah aku juga sudah berjanji akan menikahimu?”

—–

The next day

Tiga gaun pengantin dan tiga setelan tuksedo. Jiyoo harus menenangkan diri setiap melihat seluruh benda itu. Persiapan pernikahan hanya akan dilakukan dalam waktu dua minggu. Memikirkan hal itu sukses membuat Jiyoo sakit kepala.

Seharusnya saat ia memutuskan akan tetap menikah dengan Eunhyuk, ia memilih juga waktu yang tepat.

Setidaknya butuh setengah tahun untuk menyiapkan hati kecilnya yang terkejut. Atau setidaknya tiga bulan agar ia benar-benar meyakini Eunhyuk sebagai calon suaminya. Setidaknya… pernikahan bukan disiapkan dalam waktu dua minggu!

Sudah seminggu terlewati sejak Jiyoo setuju untuk menikah. Selama seminggu pula kegiatan persiapan pernikahan mulai dilakukan. Dan untuk seminggu ke depan, Jiyoo harus menyiapkan mentalnya untuk menjadi seorang pengantin.

Jiyoo gugup. Setiap malam ia harus berusaha keras untuk tidur. Rasanya perutnya dililit anaconda raksasa.

Seminggu… tujuh hari lagi ia akan menikah. Jiyoo memejamkan mata. Napasnya mulai tersengal oleh rasa khawatir. Hanya dirinya yang terlihat tak siap di saat orang lain sangat… siap.

Donghae membantu dalam segala hal. Ibunya mempersiapkan hal-hal detil yang diperlukan. Ibu dan kakak perempuan Eunhyuk benar-benar ekstra bersemangat dalam menyiapkan semuanya.

Dan jika Jiyoo sudah berkata semuanya, itu benar-benar semuanya. Semuanya.

“Bukankah aroma lilac dan mawar adalah kombinasi yang bagus?” tanya Sora. Jiyoo sendiri sudah tersesat dalam acara makan siang keluarga ini.

Ibu Eunhyuk menggeleng pelan. “Mawar dan jeruk.”

Eomma~ lilac itu pasangan mawar! Aromanya lembut.” sergah Sora.

Jiyoo menolak memikirkan siapa yang akan memenangkan perdebatan itu. Yang ia tahu, semua hal yang menyangkut persiapan pernikahannya sudah diatur oleh keluarga Lee. Mungkin Jiyoo bahkan tak perlu melakukan apapun.

“Jiyoo, gaun putih yang kita pilih kemarin sudah datang. Kau pasti suka!” Sora berseru bangga.

“Terima kasih, eonni.” Jiyoo tersenyum tipis.

Seluruh gaun pernikahan menjadi urusan Sora. Ia juga menyerahkan gaun ibunya pada Sora agar bisa dipakai saat pesta. Setidaknya ada satu komponen penting dari keluarganya yang akan ada di pernikahannya.

Bicara tentang komponen keluarga, Choi Siwon akan menjadi pengganti ayahnya untuk menemaninya berjalan di altar nanti.

Seingat Jiyoo, ia tak pernah mengingat Choi Siwon sebagai salah satu sepupu jauhnya. Yah… mungkin itulah sebabnya disebut sepupu jauh, jadi wajar untuk tak diingat.

Yang jelas, Jiyoo sangat berterima kasih pada orang itu karena sudah menawarkan diri menjadi pendamping di pernikahannya. Walaupun begitu, Eunhyuk sama sekali tak menyukai gagasan Choi Siwon. Jiyoo tak sempat bertanya kenapa lelaki itu tak nyaman dengan Siwon.

Sambil menopang dagu, Jiyoo melihat halaman belakang rumah utama keluarga Lee. Rumput hijau terhampar seperti karpet raksasa yang empuk. Ia membayangkan nyamannya berguling di sana.

Sudah seminggu ini Jiyoo dipindahkan ke rumah utama. Ibu dan kakak Eunhyuk perlu memastikan Jiyoo selalu berada di dekat mereka demi kepentingan persiapan pernikahan. Alasan konyol karena jelas itu tindakan yang membuat Jiyoo tak puas.

Jiyoo bosan setengah mati. Jika seharusnya ia bisa menyiapkan segala hal tentang pernikahan sendiri, sekarang ia justru tak perlu berbuat apa-apa kecuali memastikan ukuran yang tepat untuk gaun-gaunnya.

Selain itu, Jiyoo juga dilarang bertemu dengan Eunhyuk. Sedang apa lelaki itu sekarang?

—–

“Aku tidak percaya kau mengikuti ucapan Choi Siwon itu.” gerutu Donghae.

Dengan masuknya Choi Siwon sebagai pendamping yang mengantarkan Jiyoo ke depan altar, kesempatannya sebagai satu-satunya kerabat lelaki Jiyoo otomatis hilang. Donghae setengah berharap dapat menjadi orang yang mengantarkan Jiyoo untuk Eunhyuk nanti. Peran itu sangat penting untuknya.

Eunhyuk mematut diri di depan cermin. “Aku juga tidak percaya aku melakukan itu.”

Donghae tergelak. Jika ia saja kesal, ia tak bisa membayangkan perasaan Eunhyuk. Donghae pernah bertemu dengan Choi Siwon satu kali saat ia dan Eunhyuk membawa kabar soal pernikahan Jiyoo.

Satu-satunya kesan yang ditangkap Donghae adalah Eunhyuk menganggap Choi Siwon sebagai rival. Terlihat jelas temannya itu sama sekali tak menyukai keberadaan Siwon.

“Kalau Jiyoo berjalan bersama Choi Siwon, tidakkah menurutmu para undangan akan menganggap mereka berdua yang akan menikah?” goda Donghae.

Eunhyuk menyipitkan mata dan menoleh ke arah Donghae. “Lee Donghae. Kau tidak akan menempati baris pertama.”

“Oh, tenang saja. Aku punya Jiyoo yang bisa mengatur hal itu untukku.” Donghae tertawa puas. “Ah, bicara tentang Jiyoo, memangnya ini adat di keluargamu? Kenapa Jiyoo dipindahkan dari sini? Aku tidak bisa menemuinya.”

Helaan napas berat diloloskan dari bibir Eunhyuk. Tentu saja ia juga tak suka menghadapi kenyataan bahwa Jiyoo sengaja dijauhkan darinya. Ibu dan kakaknya adalah dua pelaku utama dalam hal ini.

Donghae menepuk pundak Eunhyuk. “Sudahlah. Setelah ini kau bisa melihatnya setiap detik. Kau akan menikah dengan Jiyoo-ku.” Ponsel Donghae berdering nyaring. “Ibuku menelepon. Aku tunggu kau di bawah! Kita makan siang bersama Daehyun hari ini.”

Sambil menjawab panggilan ibunya, Donghae meninggalkan kamar Eunhyuk. Sepertinya mengurusi pernikahan Jiyoo dan Eunhyuk membuat keluarga Lee yang ini sangat bersemangat. Jiyoo selalu menjadi bagian dari mereka.

Eunhyuk mendengus geli. Ia kembali memandang pantulan wajahnya di cermin. “I’m going to marry Yoo.”

===============TBC================

The wedding is waiting. ^^

I couldn’t leave the rivalry thingy between Hyuk and Won. Kkk~ I dunno why, I just love it. xD And again, I feel so in love wif Hae’s character here. And Hyuk’s. :’3

Err… I know I wrote some (?) kiss scene here. Romance-mood is in the air.❤

Thank you! I’ll see ya around! ^-^

ps: I’ll try my best to visit here more often. TT^TT

100 thoughts on “Marry Yoo! [4th Step]

  1. aaaa….lee hyukjae is going to mary yoo …. i love this part … yes you are …
    sumpah part ini bikin iri …
    lee hyukjae.. you are the perfect man
    and choi jiyoo … lucky girl ..
    lee donghae .. i love how the author give him those kind of character ….
    pliss no rivalry thing .. just let it be sweet story

  2. seseeeeeeeeeeeeeeeeeekkkkkk napaaaaaaaaaaaasssss……………… ;A;
    uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh… cepet publish yg ke 5… *buka draft* /plak xD

  3. Shella-ssi,km pinter ngebuat saya semakin jth cinta dgn seorang lee hyukjae,
    Tp jgn mpe dirivalin sm siwon donk…:((
    Intinya,shella jjang…^^

  4. heh,Q kira udah resmi di chapter ini
    tapi ternyata..
    *gigit bantal*

    mentang2 judulnya marry yoo,skinship bertebaran ye
    ckckck…..
    hasrat terpendam nih…

    dan turut berduka cita krn hae kagak jd pendamping yoo…

    let”s wait for next chapter
    *kecup shela*

  5. Hyaaaa hore hore horeee akhirnya jihyuk nikah juga!! Omo hyuk gak suka siwon? Waee kkk btw kemajuan nih si jiyoo udah mulai nyium duluan :p aah gasabar nunggu kelanjutanya,wedding wedding yeay
    Fighting buat jihyuk fighting buat eonni!!

  6. eonnie-yaa aaaa part ini sumpah nggak bisa bikin aku berhenti senyum-seyum teruss aaaaaa
    “Aku adalah orang yang akan menikah dengan Jiyoo. Kau bisa menyebutku sebagai tunangan Jiyoo.” suka banget pas bagian eunhyuk bilang kalimat itu, nggak tau bawaannya jadi pengen senyum terus. aduh sepertinya aku bener-bener kena virus Jihyuk ini o.O
    eon, jangan bilang ntar siwon rivalan sama eunhyuk buat dapetin hati jiyoo. yak kenapa balik ke lovabook lagi u,u
    andwae, eon. udah biarin jihyuk bahagia lah, eon, jangan bikin mereka pisah dan rencana pernikahan mereka jangan sampe gagal. sumpah aku nggak rela.
    aku nggak bisa ngasih kritik nih soalnya semuanya perfect. chapter besok mereka mesti udah married ya, eon, aku tunggu pestanya u,u
    semoga nikahan eonnie sama eunhyuk lancar ya, eon u,u

  7. Ya ampun, kenapa author tega menggantuk aku dan menggantung wedding day-nya hyuk oppa?? Sweat banget sih ceritanya, eh buat prince charming, ikan amis dari mokpo, saengil chukkahamida, kadoku adalah cintaku untukmu #plak
    author, aku senantiasa menantimu, eh salah menanti tulisanmu.

  8. 12 thn penantian eunhyuk moga berujung bahagia…apa siwon akan menjadi sesuatu antara jihyuk?
    Suka sm kiss scenenya so sweeeeeetttt bgt!hyuk yg romantis n hae yg easy going,,bruntung bgt yoo brada diantara duo sahabat ini…

  9. yeahhh akhirnya yoo mau di ajak nikah ama hyuk,padahal kalo eonni ga mau aku siap gantiin.hihi

    hyaaaaa eonni..bang hae udah ada yg punya belum..maumaumau..lempar sini dong eonn..
    klo ga bang hae daehyun juga boleh*kedip genit*

    fufufu..adegan ppopponya manis banget banget banget..
    jadi siapa yg mesum d sini..hyuk?yoo eonni?atau malah duaduanya..hihi*kabur*

    jadi cuma sampe sini nih pencarian appanya yoo..ga akan dilanjutkah??

    tuan muda choiiiii..huaa jarang2 jadi cast lagi d ff eonn..terakhir tu yg lovebook bukan sih??

    next partnya sangat sangat d tunggu eonni..hwaiting!!

    • Kenapa? Kenapa kamu mau sama hae? Kenapaaaa?? *dramatisasi*
      Dua2nya jago kiss scene laaahh. xD
      Hmm… he’eh, pake won dulu di Lovabook. Hoho~ x’D
      Makasihh syuda baca yaa~ Hwaiting! :*

  10. Menikah… Menikah Yee #prok prok
    Hyuk Jiyoo nikah sipp dah, peristiwa yang udah lama aku tunggu #eaaa

    Itu… itu scene kissnya ada 2. Aaaaa Kece Bo’😀
    Ketahuan deh Yoo Persaannya nnt gimana sama Nyuk, bakal tersegel ==
    merriednya bikin yg romantis ya kakShel. hoho😀 mauya!!

  11. Aaaaaaaa !! Melting abis sm kiss scenex🙂
    Suka hyuk dsini, sweet gthoe tp tetp manly🙂
    The best bngt deh shel qm nyiptain kraktr hyukx. Hehehe
    Oh ya knalkn saya bian. Redr bru ney🙂. Bangapseumida🙂

  12. aaaaa komen pertama gk masuk ><

    Aduh ya bnyak kiss nya ini dan sy suka #plakk
    Dan jihyuk emang pada jago kiss dah…
    Hehehe

    Biar awalnya yoo ngerasa manfaatin si hyuk tp pd akhirnya dgn suka rela mw nikah… Hoho

    Gak sabar jihyuk married trus pny baby
    Wkwk

  13. akhirnya…………………
    hyuk cepet nikah ama yoo..🙂
    hae plissss come to me bebeh… ^_^
    won…. jadi suami kedua aku mau…?? hahah😀
    intinya…. i will wait for the wedding….. ekkek-

  14. aaaa syuka ! sukaa banget sama euhyuk , dia itu sweet bngt sih. aaaa dan mereka jadi menikah !!! seneng banget ~~~~ tapi ayah jiyoo kemana dah ? ahh masa gak bsa ketemu sih. terus si siwon ? eemm jan blang dia ada rasa ama yoo hahaha

  15. YOOOO !!!! this is too sweeeet ;A;
    hyuk’s reallyyyyy sweeeeet hereee ..
    here and real , both sweeet :3
    aaarh , why is he so perfecto numero uno ?😦
    gahh , i love Won VS Hyuk as well kkk~
    so speechless for sweet hyuk here ;A;
    perfect boyfriend .. and yoo …
    hehehe i love the way yoo kissed him lightly (/——\)
    aaah~ i’m romantic-holic and u got me shel .—-.
    lanjoooooot !!!!!😀

  16. Jiyoo emg manfaatih hyuk tapiiiii tinggal tunggu waktu aja pastiiii timbul rasa cinta *aduhh* dan siap buat nikah hehehehe
    Donghaee sabar ya tempatmu diambil choi siwon :((
    Kukira hyuk bakal ngejar ayah jiyoo ke luarnegri sana -_- ehh tapi liat part berikutnya dulu deh hehe
    Kisseu kisseu *tutup mata* tuuuhkan jiyoo nyium duluaaan

  17. huweee
    ngiri sma jiyoo!!
    beruntungnya jiyoo bsa dpt perlakuan kyk gtu dr eunhyuk..
    lee hyukjae..
    kw bnr2!!
    ckckck

    kiss scenenya y ampuuun..
    aq meleleh tiap ad jihyuk moment..
    iri, iri, iri..
    wkwkwk

    next part slalu dtnggu..
    good fanfiction..^^

  18. wuih aku jg suka karakternya hae tp daehyun juga hahahay 3 serangkai dong mereka 3 cowo kece hmmm…
    lanjutnya jngn lama2 yah :p

  19. bebskiiii i’m back!!😀
    one of the sweetest ff i’ve ever read! i love it so much❤ esp the kissing scenes. i feel the butterflies in my stomach :s
    hyukjae, i love you more and more because this ff. sorry jiyoo kkk ^^v
    can't wait for the next chapter!😀

      • gak kemana mana kok bebs. cuma terkurung dalam lingkaran tugas tugas kuliah, organisasi dan praktikum .___. baru sekarang sempet mampir hehehe ^^v aku gak kangen hyukjae aku kangennya kamu beb #ecie wkwkwkw

      • Sama….. ;~; *meratap*
        Fighting bebebs! Kamyu pasti bisaaa.. :’*
        Eciyeee~ sosuit bener dah. Akyu juja kanggens kamyu~ ;_____;

  20. Baby J~~~, uri magnae..
    eonni datang mampir.. hheheee..
    sebenernya udah sering mampir tapi baru komen sekarng.. kkkkk.. *tabok*

    baru mau baca part 3 sama 4..
    soalnya pulsa modem habis.. hhihhiii..
    ya sudahlah, mau baca dulu ntar lanjut komen.. ^^
    annyeong~~… *lambai2*

  21. wah, lee hyuk jae,..
    kau manis bnget,..
    bahagia si jiyoo mendapatkan mu,..
    hehehe,..
    suka bnget peran hyukjae d’sini,..
    ad siwon, ap bkl ad antagonis d’sini,..
    ok, d’tunggu karya lainny,..
    figthing,..🙂

  22. ciyeeeeh jiyooo ciyeeeehh udah gede niyeeeeh berani kisu duluan *uhuk uhuk* hahaha
    romantisnya ga nahaaan~~ aduduh ini belum ampe nikah udh bikin jantung dug dug plesh (?) gimana klo dah nikaaah? *AWW* kisu makin banyak kali ya? *eh*
    dan om siwon disini ga tau kenapa aq ngeliatnya keren *o* pas bagian percakapan hyukwon juga malah jd ngakak. duuuh ni dua cowok kece paling jago klo udh songong-songong-an yeee…. *tebar kiss* (?) LOL
    jadi oh jadi ceritanya dr kecil jiyoo emang udh jauh dr bapake ya? kirain aq awalnya dia ke luar negeri karena diungsikan (?) sama si pak’e. *dan kenapa ini omongannnya jd medok?* #abaikan
    terus aq mau ngomentarin apa lagi ya? ah, udah lupa gara2 adegan si kisu (?) muahaha pokoknya intinya sih tetep satu, lanjutannya ditunggu *dor* hohoho
    shela hwaiting! ^^/

    • Lagi syuka kisseu2 nih kakak. x”D Maafkan otak saya yang mesum. Hahaha~
      Siwon juga niatnya dibikin keren. Hoho~ Biar kalah saing aja lah si Hyuk. xD *jaat bener*
      Hwaiting! Terima kasyiihh syuda baca kakak~ ^-^ :*

  23. Susah banget mau komen yg di part3 gagal teyuuus pedahal udh penasaran ama part selanjutny😦
    Miannaeee g ninggalin jejak disana, rasa penasaran sama rasa frustrasi gagal terus itu menyebalkan~

    Siwon? Dia nggak bakal jadi perusuh di pernikahan jihyuk kan?

  24. kyaaaaaa… she…
    yoo, akhirnya yoo, akhirnyaaaaaaa >////<
    hyukjae tampak menikmati itu yoo….
    diluar perkiraan, aku kira yoo nya gakan suka ama hyukjae, beneran cuma pengen ditemuin appa nya…
    entah kenapa aku suka banget ama peran donghae disini..
    supportshe-ya

  25. Errrrr~~
    Baru smpet baca part ini, -…-

    rivalty semacam apaaaa??
    Penasaran deehh!
    Itu morning kiss nya pake sele stroberi ato melon #abaikan
    Dan kenapa, kenapa knapa adegan2 kecil kyak berlutut di dket pintu mobil yang di part sbelumnya, dan pelukan pas pulang kerja itu bisa bikin gw ngepens abis sma karakter hyuk di sini…
    Aigooo~~ cariin gw lemari es dunk sel, udah lumer sejak part 2 smpe part ini. ><

  26. perasaan gag enak kalo denger nama siwon -_-// ciyus miapa..
    uhuy skinship bertebaran >/// i like it!!

    cuss part 5 (9 ^3^)9

  27. actually i’ma fishy, butbutbut,,,, seorang lee hyuk jae memang sulit diabaikan… tapi memang karakter donghae disini juga keren sekali,,
    yoo eonni dikelilingi pria-pria macam begitu? how wonderful her life…
    siwon? ahjussi? OMG pria tampan again…

  28. persahabatan yg menyenangkan…
    karakter hae keren banget, penghubung JiHyuk..
    beruntung’y Jiyoo, envy..🙂
    next part, kekekeke

  29. Akhirnyaaaa.. Selamat Hyukk dan suka banget sama perasaan Yoo.. Emang gak butuh waktu lama untuk belajar mencintai Hyuk😀.

  30. disini jiyoo udah tau yaa kalo dia udah cinta sma hyuk oppa?
    jiyoo jdii anak pingitan skrangg hehee

  31. “pesona ku bisa menutupi pesonamu”.. Hahah dia udah berargumen seperti itu terlebih daluhu kan eonni,.. Jadi tidak perlu khawatir dengan ancaman donghae,.. Choi siwon? Orang seperti dia seorang sepupu tidak mungkin membawa saudra mengikat janji di altar bukan ? Hahah *getok donghae..
    Jiyooo…. Lee hyuk jae seorang yg arogan dan belum pernah membiarkan gadis masuk ke mobil.a lucky bgt kamu..
    Cinta itu tulus,.. Cinta itu yakin akan kepastian kita membahagiakan orang yg kita sayang.,.. Terkadang berfikir untuk kedua kalinya seorang lee hyuk jae bisa melakukan hal itu, sebelum menikah harus mencari sesuatu yg sudah tidak mungkin tapi.. Aaah cinta itu membuat semua.a terasa mudah bukan…?
    Jiyoo aku cemburu..😥

  32. hyukjae baik banget.. dia tau kalau dia cuma dimanfaatin sama jiyoo.. tapi dia ga ngerasa dimanfaatin.. cinta hyukjae begitu besar.. beruntung jiyoo bisa nikah sama hyukjae..

  33. /joget hula/ siwonku disini muncul kkkkkk
    ahhh part ini bikin aku ngiri deh asli. tapi kasian ya jiyoo ditinggal gitu sama orang tuanya padahal salah dia apa coba. tapi keren eonn aku suka🙂

  34. Yeeeeyyyyy hyukyoo akhirnyaaa nikahhhhhhhhhhh,,,, ehh blm Ɣå媪 ,, kan bru ♍ãů nikah,, kekekekekke

    Eonni ff eonni keeereeeenn bneran gk bsa ktebak,,, so swettttttttttt bgt ngeliat hyukyoo kekekek

    Aku ♍ãů lanjut bca dulu Ɣå媪 eonni papapapapapapaiiiiiiii

  35. “Dan, Jiyoo?” Eunhyuk membelai wajah Jiyoo dengan sebelah tangannya. “Perlu kau tahu, aku sangat ingin menciummu sekarang.” Oh my GOD, She dari mana kamu bisa dapet kalimat ituuuhhh??? You’ee a girl, but you can…I’m totally speechless and I love that part so much!!! Ini yang aku maksud bahwa P&Y ga perlu NC part, karna begini ajah udah bikin bulu kuduk berdiri dan mupeng tingkat dewa monyet hahaha

    Masukin part Hae dengan seseorang dong…aku juga nggak apa-apa hahaha *ngarep tingkat dewa ikan*

    Lanjutkan karyamu!!! ^^9

  36. Di part ini jiyoo mulai terlihat manis.. Tpi aku sdkit heran ma sifat jiyoo.. Pernikahan itu memang diinginkan.a atau cma skdar kasihan ma ehyuk cus tergambar disini dia bingung? Ya moga aja ini memang pilihan terbaik buat jiyoo.. Karakter hyuk terlalu lugu sabar dan penyayang.. Berharap bisa lihat sisi agresif dan kekanakan.a hyukjae.. but nice ff sis..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s