Stupid Kyupid [1 of 3]

Stupid Kyupid

1 of 3

What can you do when you fall in love?

Me?

I do everything stupid yet irrelevant.

“Hah…” Choi Jiyoo mendesah berat. Kedua matanya jengah melihat ruang tengah yang porak-poranda. Secara harfiah, ruang tengah itu memang ‘porak-poranda’.

Piring-piring menumpuk di tempat cuci. Sisa sarapan dan gelas-gelas tergeletak berantakan. Salah satu yang paling membuat Jiyoo mendadak lelah adalah beberapa isi lemari es yang bertebaran di meja ruang tengah.

Sepasang manik sipitnya menemukan sang pembuat karya. Jiyoo sudah tahu sebelumnya. Jika ia meninggalkan rumah dan menyerahkannya pada orang ini, rumah mungil itu akan berumur pendek.

“Eonni!” serunya. Yang dipanggil tak menoleh. “Hyunra Eonni!”

Gadis berambut panjang bernama Kim Hyunra mendongak, menatap Jiyoo. Bibirnya melengkung, tersenyum. “Sudah pulang?”

Jiyoo hanya mengangguk. Ekspresi wajah Jiyoo sudah jelas tak nyaman, tapi Hyunra justru mengabaikannya. Perhatian gadis itu tertuju sepenuhnya ke layar televisi. Tangannya menggenggam sebuah stick controller. Game baru, pikir Jiyoo. Pasti.

Sambil menahan kesal, Jiyoo melenggang ke dapur. Ia harus minum sesuatu yang dingin. Susu stroberi. Ia membutuhkan kotak merah muda itu.

Seharusnya ia menemukan susu stroberi persediaannya di lemari es. Kekecewaan mendadak meluap, membuatnya kesal.  Ia berharap banyak pada susu stroberinya. Apa boleh buat, Jiyoo justru tak menemukan apapun.

“Mian, aku haus, Yoo,” sahut Hyunra. Sepertinya gadis itu mencuri pandang saat Jiyoo membuka lemari es.

Jiyoo menarik napas panjang. Tenang, tenang. Jangan terpancing emosi. Tak apa, masih ada pudding stroberi dingin yang dibelikan–

“Puddingnya juga sudah kumakan tadi pagi,” sambung Hyunra santai.

“Eonni,” Jiyoo menggeram. “Bukankah seharusnya Eonni mencari pekerjaan? Mau sampai kapan Eonni tinggal di rumahku?”

Sambil meletakkan stick controllernya, Hyunra berbalik. Wajahnya memelas. Jiyoo menggerutu. Mulai lagi. “Yoo, kau tahu tidak, mencari pekerjaan di Seoul sangat sulit. Kau beruntung. Kau masih kuliah dan mungkin saja kau bisa langsung bekerja di tempat sepupumu yang kaya itu. Tapi aku? Kalau kau memang hoobae yang baik, seharusnya kau membantuku.”

Jiyoo nyaris meledak. Jika ia menghitung ulang, Kim Hyunra, senior sekaligus salah satu teman Eunhyuk ini, sudah tinggal di tempatnya selama tiga minggu. Selama tiga minggu hanya duduk di depan televisi sambil bermain game. Apakah hal itu tak boleh membuat Jiyoo kesal?

Kim Hyunra mungkin tak bermaksud merepotkan Jiyoo. Gadis itu sempat bekerja di tempat yang sama dengan Eunhyuk, sebuah perusahaan di bidang industri makanan. Namun, setelah 3 tahun, ia memutuskan untuk berhenti.

Alasannya: karena ia bosan mengurusi makanan. Jiyoo tak pernah tahu apakah itu alasan yang naïf atau bodoh. Yang jelas, alasan itu membuat Kim Hyunra berada satu rumah dengannya sekarang.

“Apa Eonni pikir pekerjaan bisa datang lewat game?” Jiyoo menunjuk televisi dan PS3 portable di atas meja. “Atau lewat game online?” Kali ini ia melirik komputer PC yang tak menyala.

Hyunra tersenyum tanpa rasa bersalah. “Aku memang suka bermain game. Kau, kan, sudah tahu itu. Dan obsesiku tetap sama. Aku ingin bekerja di perusahaan pengembang game!”

“Sega?” ujar Jiyoo. Ia membaca logo yang tertulis dengan warna silver metalik di atas PS3 Hyunra.

“Itu terlalu besar.” Hyunra menundukkan kepala.

Jiyoo menelan ludah. Hobi seniornya ini memang aneh. Bermain game, di PS3 atau PSP atau PC, tak pernah terlupakan dari agenda harian Hyunra. Mungkin karena itu Hyunra bosan bekerja di perusahaan sebelumnya.

Merasa tak enak karena membuat Hyunra murung, Jiyoo menghela napas. “Eonni, ayo kita pergi makan di luar sekarang!”

Hyunra mendongak. Tanpa diduga, senyuman sudah terukir nyata di wajahnya. “Sebelumnya, temani aku ke game center dulu. Oke?”

Dan sepertinya Jiyoo mulai menyesali ajakannya 5 detik yang lalu.

Layar raksasa LED menyala. Sinarnya dibarengi dengan warna-warni bentuk dan gambar yang sedang diputar. Ruangan rapat itu seketika menjadi hening. Seorang lelaki berjas cokelat gelap berdiri di depan podium. Kacamata tebal sesekali bergeser dari cuping hidungnya.

Presentasi tentang rancangan game online terbaru Nexon menjadi pusat perhatian seluruh orang. Kecuali satu orang. Ia duduk di ujung meja yang panjang. Tampangnya bosan.

Cho Kyuhyun, lelaki itu, menguap. Sejak 30 menit kehadirannya di ruang rapat ini, ia menghitung sudah 6 kali ia menguap. Jika dirata-rata, Kyuhyun menguap setiap 5 menit sekali. Lelaki itu sedikit bangga dengan dirinya.

Menurutnya, itu rekor tersendiri. Jika ia masih terjaga, hal itu bisa menjadi prestasi. Biasanya, ia sudah memejamkan mata di 10 menit pertama.

Kyuhyun melirik ke kanan dan kiri. Semua manajer perusahaan sibuk mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya anggukan kepala menjadi rutinitas dan trademark dalam setiap rapat. Lelaki itu mendengus geli.

“Direktur, bagaimana menurut Anda?” Kim Jongwoon, salah satu sahabat dan tangan kanannya, seolah membaca pikiran Kyuhyun.

“Entahlah.” Kyuhyun mengangkat bahu. “Sepertinya sebagian besar direktur ini lebih mengerti tentang game ini. Kenapa tidak tanya mereka saja? Pendapatku akan berbeda dengan anggukan kepala mereka.”

Gemuruh komentar menyerang gendang telinga Kyuhyun. Tak mengejutkan. Ia sudah mengira itu akan terjadi. Selama ini memang begitu.

“Game ini agak membosankan. Kalau aku yang jadi pemainnya, aku bisa menamatkannya dalam waktu 30 menit. Nexon butuh game yang segar, baru, dan… menantang.” Kyuhyun memiringkan kepala. “Apa yang Anda pikirkan saat mendesain game ini?” tanyanya.

Lelaki berkacamata di depan podium mendadak gagap. “S-saya… saya kira game seperti ini akan menarik perhatian para anak muda. Jadi… survival game yang berlatar peperangan Romawi tercipta dengan dasar film history-action dari barat.”

Kyuhyun berdecak kemudian berpikir sejenak. Alisnya terangkat. “Sepertinya target Anda keliru, Tuan… Moon, bukan? Begini, mungkin game ini akan menarik pada awalnya. Buktinya, saya tidak tertidur saat Anda menjelaskan.” Dengungan komentar mengudara lagi. Kyuhyun memutar bola matanya. “Tapi, lewat dari Stage 1, permainan ini membosankan.”

Kim Jongwoon yang duduk di sebelah kanan Kyuhyun mendesah pelan. Seharusnya ia sudah hapal dengan sifat Kyuhyun yang sulit dipuaskan. Jongwoon justru akan heran jika Kyuhyun mulai memuji atau berkomentar basa-basi.

“A-akan saya perbaiki, Direktur,” ujar lelaki yang dipanggil Tuan Moon itu.

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum tipis. “Oke. Rapat selesai.”

Semua direktur melongo. Cho Kyuhyun meninggalkan kursinya, diikuti dengan Jongwoon di belakangnya. Lelaki itu berjalan melewati Moon dan menepuk pundak lelaki itu.

Tentu saja tindakan itu dibarengi dengan gumaman kagum. Kyuhyun jarang bertingkah begitu jika kerja pegawainya tak berkesan di matanya. Lelaki itu bekerja dengan cara seperti ini; santai dan apa adanya.

“Kau membuatku ketakutan,” komentar Jongwoon.

“Wae? Memangnya ada yang salah?” Kyuhyun memasuki lift dan melonggarkan dasi merah marun yang dikenakannya. “Aku bosan sekali, Hyung. Apa aku boleh pulang?”

Jongwoon menggeleng. Ia mengeluarkan iPad yang sejak tadi dipegangnya. “Kau harus menghadiri grand opening game center yang dibuka oleh salah satu rekanmu.”

“Membosankan,” gumamnya.

“Mereka punya game baru. Salah satu game yang membuatmu sibuk selama dua jam minggu lalu.” Jongwoon mengingatkan. Rasanya ia tak akan lupa kapan saja Kyuhyun merasa puas. Hal itu sangat jarang terjadi.

Kyuhyun menoleh. Kedua matanya berbinar. Raut wajahnya seperti anak kecil. “Ah! Kapan aku harus ke sana?”

“Setelah jam makan siang,” ujar Jongwoon. “Atau kau mau ke sana sekarang?”

Untuk sesaat, Kyuhyun berpikir keras. Saat bunyi ‘ting’ terdengar dan pintu lift terbuka, lelaki itu tersenyum miring. “Sekarang saja.”

“Seharusnya aku mengajak Hyukjae,” gumam Jiyoo, entah untuk yang keberapa kalinya.

Jiyoo mengajak Hyunra makan siang di luar, bukannya menghabiskan waktu makan siang di game center baru seperti ini. Satu-satunya sifat buruk Jiyoo adalah selalu membiarkan Hyunra puas. Ia selalu tertipu dengan tingkah gadis yang lebih tua darinya itu.

Seperti bisa ditebak, Hyunra sepenuhnya sedang mengabaikannya. Gadis itu duduk di depan salah satu monitor PC. Jiyoo sama sekali tak mengerti game apa yang sedang dimainkan Hyunra.

“Apa menariknya game seperti ini sih?” Jiyoo menggerutu. Perutnya memberontak. Ia lapar. Sejak pulang kuliah tadi ia sama sekali belum makan apa-apa. “Eonni,” ujarnya, mendekat pada Hyunra. “Boleh aku pergi makan sendiri?”

Hyunra tak menoleh. Kedua matanya tetap lekat pada layar monitor. Karakter-karakter game bergerak-gerak, membuat Jiyoo pusing. “Eung!”

“Benarkah? Eonni akan sendirian di sini?”

“Mm!” sahut Hyunra lagi.

Jiyoo hanya mengangkat bahu. Sepertinya ia memang bisa meninggalkan Hyunra di tempat ini. Jika ia yang ada di sini, mungkin ia bisa tersesat, tapi Hyunra pasti tak akan tersesat, bukan? Mengingat tempat seperti ini adalah rumah impiannya sendiri.

Apa boleh buat. Jiyoo kelaparan sementara Hyunra sama sekali tak bisa diganggu. Jiyoo menyeret kakinya menjauh dari tempat berisik bernama game center itu. Ia harus makan sesuatu.

Setelah menyelesaikan beberapa stage, Hyunra meregangkan ototnya. Sudah lama ia tak bermain di game center sepuas ini. Biasanya ia akan dimarahi teman-temannya atau lebih buruk lagi, ibunya akan datang menjemputnya paksa.

Hyunra menoleh ke sekeliling. Untuk sesaat, ia bingung karena tak menemukan Jiyoo dimana-mana. “Dasar anak itu…”

Tangannya terangkat, menyentuh perutnya sendiri. Hyunra juga kelaparan. Rasanya sarapan plus pudding dan susu stroberi Jiyoo menguap dari perutnya.

“Ck, sudahlah!” Hyunra menolak memikirkan rasa laparnya. Lebih baik ia melanjutkan permainan di depannya ini. Ia akan minta Jiyoo membelikan sesuatu sebelum gadis itu kembali ke sini.

Stage 5. Hyunra baru kehilangan dua nyawa sementara skor nilainya terus naik. Sebenarnya game dengan latar peperangan bukan kesukaannya, tapi game baru ini menarik perhatiannya sejak awal.

“Ah! Kenapa kau tidak mengambil bonus itu!?” seruan terdengar jelas di telinga Hyunra.

Gadis itu melongo sepersekian detik. Apa orang itu bicara padanya? Hyunra memiringkan kepala. Bukan hal penting. Permainan ini lebih penting daripada seruan tak jelas itu.

Dan tokoh yang dimainkan Hyunra mati. “Sudah kubilang, kan!? Bonus tadi berisi senjata tambahan!”

Hyunra mengerutkan kening. Jadi suara itu memang tertuju padanya. Ia berbalik. Alih-alih menemukan Jiyoo atau orang yang dikenalnya, Hyunra melihat seorang lelaki bersedekap tepat di belakangnya. “Jeogiyo, apa yang kaulakukan? Siapa kau?”

“Aku hanya memberitahumu cara memainkan game ini,” ujar lelaki itu. “Ah, kau akan terkejut mendengar namaku. Aku Cho Kyuhyun.”

Lelaki itu –atau Cho Kyuhyun- tersenyum lebar. Hyunra tak mengerti kenapa orang itu tersenyum seperti itu. “Siapa itu Cho Kyuhyun?”

“Cho Kyuhyun itu aku.” Kyuhyun memutar bola matanya. “Nexon? Perusahaan pengembang game online terbesar di Korea Selatan?”

Hyunra mengangguk-angguk. “Aku tahu soal Nexon, tapi aku tidak tahu siapa itu Cho Kyuhyun.”

“Aku direkturnya! Aku Cho Kyuhyun, direktur utama Nexon!” seru Kyuhyun frustasi.

“Oh…” sahut Hyunra acuh. Ia kembali membalikkan tubuh, berhadapan lagi dengan layar di depannya.

“Hei, hei!” Kyuhyun masih berseru. Bagaimana pun, jika maniak game seperti gadis ini tahu soal Nexon, ia juga harus tahu tentang Cho Kyuhyun. Nama dan profilnya berkali-kali dimuat dalam artikel majalah dan online news. “Apa menurutmu kau tidak keterlaluan?”

Hyunra menghentikan permainannya. Dengan enggan, ia berdiri dari tempatnya dan menatap Kyuhyun dari ujung rambut ke ujung kaki. “Apa seharusnya aku memang mengenalmu? Aku tahu kau direktur utama Nexon, lalu kenapa?”

“Kau itu anti-Nexon ya?” tanya Kyuhyun dengan mata yang menyipit.

“Tck. Yang benar saja!” Hyunra berdecak. “Memangnya Nexon itu idola? Aku memang suka game dari Nexon, tapi tidak ada alasan khusus untuk mengenal direktur utamanya, bukan?”

Kyuhyun termenung. Ucapan gadis ini memang benar. Tak ada alasan untuk semua orang agar mengenal dirinya. Meskipun begitu, rasanya harga dirinya sudah dilukai.

Nama, foto, dan profil lengkapnya sudah sering dijadikan artikel. Direktur termuda dan tersukses tahun ini. Kyuhyun merasa dirinya menjadi idola, tapi dalam bidang yang lain. Bukankah masuk akal jika ia kecewa saat ada yang tak mengenalnya?

Ah, dan komentar di internet selalu positif. Direktur utama yang tampan, kaya, dan bertangan dingin. Tidakkah itu menambah daya tariknya?

“Kyuhyun-ah, kau harus bersiap sekarang!” Jongwoon menghampiri Kyuhyun. Kedua matanya sempat bertemu dengan mata Hyunra. Ia membungkuk sopan, begitu pula Hyunra. “Ayo!”

Sementara Hyunra masih memandang Jongwoon yang menjauh, Kyuhyun sesekali berbalik untuk memandang gadis itu.

The next day

Kim Hyunra mendesah. Kedua tangannya sibuk membolak-balik halaman koran. Sejak tadi ia berkutat dengan kolom-kolom lowongan pekerjaan. Ia juga sudah memeriksa setiap situs yang membuka lowongan kerja secara online.

Sepertinya ucapannya pada Jiyoo terbukti. Mencari pekerjaan di Seoul seperti mencari sehelai jerami di tengah tumpukan jarum. Jika tak hati-hati, jarum akan melukainya.

Sudah sekitar 5 kali ia mencoba, dan tak satu pun berkenan mendengarkan biografinya lebih lanjut. Masalahnya, ia mencari pekerjaan yang berbeda latar belakangan dengan pendidikan yang ditempuhnya. Hyunra sedang dalam perjalanan untuk menyerah.

“Akan kucoba bertanya pada Hyukjae,” ucap Jiyoo. Gadis itu jenuh memerhatikan Hyunra yang tak kunjung mendapatkan hasil.

Hyunra mendengus pelan. “Lalu aku harus kembali ke perusahaan itu? Yoo, aku yang minta keluar dari sana. Mau diletakkan di mana mukaku nanti?”

“Ck, karena itu! Kenapa Eonni keluar dari sana?!” Jiyoo mulai frustasi.

“Kan sudah kubilang, aku bosan. Aku sama sekali tidak cocok bekerja di sana, Choi Jiyoo yang manis,” sahut Hyunra asal. Mungkin alasannya memang konyol, tapi ia tipe orang yang tak bisa bekerja di tempat yang membuatnya tak nyaman.

Jiyoo menyerah. Sepertinya tak akan ada gunanya jika ia terus berdebat dengan kakak-tak-langsungnya ini. Ia merangkak ke depan televisi. Lebih baik ia menghibur dirinya sendiri.

“Oh? Cho Kyuhyun!” serunya beberapa detik saat televisi menyala.

Cho Kyuhyun? Hyunra mendongak. Rasanya ia pernah mendengar nama itu. Diingat-ingat lagi, nama itu sama sekali bukan nama kenalannya, apalagi temannya.

“Siapa itu Cho Kyuhyun?”

Jiyoo menoleh ke belakang sebentar. Senyuman lebar menghiasi wajahnya. “Direktur tampan! Dia bekerja di Nexon. Eonni tahu, kan, game besar itu? Baru-baru ini namanya mulai terkenal. Dia tampan… ah, lumayan, tapi yang paling penting, dia calon pemilik resmi Nexon! Satu-satunya penerus tanpa hubungan darah dengan pendiri Nexon. Bukankah itu hebat!?”

“Ah…” Hyunra merespon tak acuh. Otaknya berpikir keras. Nexon? Cho Kyuhyun? Bukankah itu nama lelaki yang kemarin berdebat dengannya di game center?!

Diam-diam, ia ikut menonton tayangan televisi. Siaran itu mengupas segala hal tentang Cho Kyuhyun. Dari nama kecil hingga sejarahnya bergabung dalam Nexon. Hyunra sedikit mengakui ternyata Cho Kyuhyun bukan bersikap arogan tanpa sebab.

Dengan semua hal yang dimiliki lelaki itu, pantas saja tingkahnya sangat menyebalkan.

Dan nama Cho Kyuhyun mengingatkan Hyunra pada lelaki yang menghampiri Cho Kyuhyun kemarin. Apa orang itu bekerja dengan Cho Kyuhyun? Hyunra agak menyesalkan jika hal itu memang benar.

Lelaki yang dilihatnya kemarin sama sekali bukan tipe yang cocok bekerja dengan orang sombong seperti Cho Kyuhyun. Lelaki itu tinggi, tampan, dan sopan. Sama sekali tak cocok dengan Cho Kyuhyun.

“Eonni,” panggil Jiyoo. “Bukankah Eonni jago dalam hal desain grafis walaupun tidak mengambil jurusan itu?”

Hyunra tercenung. Desain grafis memang hobinya. Sejak ia menyukai game, ia selalu ingin tahu bagaimana caranya membuat karakter dalam suatu game.

“Kenapa tidak mencoba melamar pekerjaan di Nexon?” Jiyoo tak menunggu jawaban Hyunra. Saat Hyunra memandangnya bingung, Jiyoo menunjuk layar televisi dengan dagunya. “Mereka membuka lowongan besar-besaran untuk bagian perencanaan.”

“Memangnya desain grafis termasuk bagian itu?” tanya Hyunra.

Jiyoo mengembuskan napas kesal. “Tidak tahu. Coba saja dulu. Kalau nanti diterima, Eonni bisa bekerja di perusahaan game, persis seperti yang Eonni inginkan.”

“Tidak.” Hyunra menutupi wajahnya dengan koran. “Aku tidak mau ke Nexon.”

Dengan map berisi lembar-lembar kertas, Hyunra berdiri di depan pintu kaca raksasa. Tulisan Nexon terpajang jelas di atasnya. Ia baru saja menjilat ludahnya sendiri dengan datang ke Nexon. Setelah membuang sedikit ego, ia memutuskan akan mencoba.

Hyunra membasahi bibir bawahnya. Jiyoo tak perlu tahu tentang ini. Segala bentuk cibiran dan ejekan adalah hal yang harus dihindari untuk sekarang.

Nexon memiliki 7 lantai. Hyunra mendengus. Siapa yang punya ide tentang jumlah lantai yang sama dengan lapisan langit? Gadis itu langsung menghadirkan wajah Cho Kyuhyun dalam kepalanya.

“Oh, bagus!” desisnya.

Antrian panjang membuat barisan manusia menyerupai semut. Hyunra hendak membalikkan badan, meninggalkan Nexon. Namun, ego lain menahannya. Pekerjaan ini adalah miliknya. Tak ada orang lain yang lebih pantas mendapatkannya selain Kim Hyunra.

Hyunra menghela napas. Dengan perasaan setengah mantap dan setengah tak yakin, ia memeluk arsip data dirinya di dada. Otaknya bekerja cepat, mencari cara bagaimana membuat antrian panjang ini menyusut.

Berteriak histeris dan mengalihkan perhatian semua orang? Tidak bisa. Hyunra tak punya cukup nyali untuk melakukan itu.

Berguling di aspal dan memohon agar ia bisa menyelipkan diri di barisan depan? Oh, tak akan ada yang memedulikan gadis yang berguling-guling di aspal.

Atau… menerobos masuk dengan mengatakan ia anak salah satu manager di sini?

Hyunra mendesah berat. Mustahil. Tentu saja itu hal yang tak mungkin. Hyunra menyerah. Ia akan mengikuti aturan main di tempat ini.

“Tidak apa-apa. Aku punya banyak waktu! Satu jam, bukan, bahkan dua jam berdiri pun aku sanggup!” serunya pelan.

45 menit kemudian

“Aku sudah tidak sanggup lagi! Haaaauuuuss!” Hyunra memekik hingga orang di depan dan belakangnya terusik.

Antrian memang maju, tapi Hyunra merasa dirinya tak mendekat ke meja registrasi. Jika memang pekerjaan ini untuknya, seharusnya ia tak perlu menderita berlebihan seperti sekarang. Yah… apa boleh buat. Segala sesuatu memang membutuhkan sedikit pengorbanan.

“Maaf, registrasi akan kembali dilakukan setelah jam makan siang. Silakan kembali dua jam kemudian.” Pengumuman itu diserukan melalui pengeras suara. Bagi Hyunra, persis seperti sebuah panggilan ke neraka.

“Aku sudah menunggu sejak pagi!” omelnya. “Kalau aku meninggalkan tempatku, bisa saja orang lain mengambil tempatku ini, kan!?”

“Jelas sekali kau itu bodoh,” Hyunra buru-buru menoleh, merasakan sepatah kata yang mengusik indera pendengarannya. Kejutan. Cho Kyuhyun berdiri sekitar tiga langkah darinya. “Semua orang punya nomor antrian. Lalu kenapa kau takut tempatmu diambil orang lain?”

Sejak 30 menit yang lalu, Cho Kyuhyun mengisi sendiri bagian untuk mewawancarai beberapa orang. Tugasnya mulai dirasa membosankan 10 menit kemudian. Ia keluar ruangan untuk mengambil air dan menemukan Kim Hyunra sebagai salah satu pengantri di perusahaannya.

Kebetulan yang manis, pikir Kyuhyun. Mungkin setelah gadis itu melihatnya di sini ia bisa membuktikan bahwa ia memang direktur Nexon. Jangan lupa dengan kenyataan bahwa gadis itu menginginkan pekerjaan di sini. Oh, semuanya akan menyenangkan.

“Kita bertemu lagi,” sapanya. Kyuhyun melirik lembar-lembar yang tak teratur dalam dekapan Hyunra. “Kim Hyunra… benar?”

Hyunra mendengus. Baiklah, pertama, mungkin ia terlalu cepat mengeluh. Memang ada nomor antrian, dan bukankah seharusnya memang begitu? Kedua, dari sekian banyak manusia yang ada di sekelilingnya, kenapa ia harus berakhir dengan Cho Kyuhyun? Lagi.

“Sedang apa Anda di sini?”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Entahlah. Tiba-tiba aku melihat pemandangan bagus yang kukenal.”

“Pemandangan?” Tak lupa, ia mengulang kata ‘bagus’ di kepalanya. Haruskah Hyunra tersanjung?

“Kukira kau anti-Nexon,” gumam Kyuhyun. Tatapannya mulai menilai Hyunra dari atas kepala hingga ke ujung jari kakinya yang dibungkus convers hijau lumut. “Kau tidak sedang melakukan misi mata-mata untuk mencuri data dari sini, kan?”

Hyunra menghela napas dengan sabar. Sepertinya orang di depannya ini butuh sedikit pencerahan. Hyunra tak akan ragu untuk memukul kepala Kyuhyun sekarang. “Aku akan kembali setelah makan siang kalau begitu.”

“Kalau kau serius ingin bekerja di sini,” Kyuhyun berkata dengan santai. “Kau bisa mulai dengan membersihkan ruanganku.”

“Membersihkan ruanganmu,” ulang Hyunra sarkastis. “Seingatku, tak ada lowongan untuk bagian itu di televisi.”

Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan. “Memang. Aku baru saja menambahkannya.”

Seorang direktur baru saja membuka lowongan pekerjaan khusus untukmu. Hore. Betapa baik dan murah hatinya seorang Cho Kyuhyun. Hyunra tak bisa berhenti berpikir sarkastis. Seharusnya ia benar-benar memukul kepala orang itu, mengadunya dengan tembok saat Kyuhyun lengah.

Sayangnya, pikiran itu datang setelah ia, dengan tak tahu malu dan naïf, menerima tawaran Cho Kyuhyun.

“Jadi,” Jiyoo menjepit sepotong daging dengan sumpitnya. “Eonni bekerja bersama Cho Kyuhyun?”

Hyunra menegak segelas air mineralnya. “Ho, kau salah menyimpulkan, adikku sayang.” Ia memandang daging di atas panggangan dengan datar. “Aku baru saja dijadikan pembantu baru oleh laki-laki arogan, menyebalkan, sombong…”

“Dan luar biasa tampan,” tambah Jiyoo. Tatapan Eunhyuk menghunjam wajahnya. Jiyoo mengangkat bahu. “Aku hanya berkata jujur.”

“Apa yang tampan dari orang itu!?” Hyunra dan Eunhyuk berseru bersamaan.

Jiyoo melongo. Kunyahannya berhenti seketika. “Whoo… kalian sangat kompak.” Ia menempatkan daging ke atas nasi Eunhyuk. “Jangan khawatir. Pria seperti Cho Kyuhyun sangat jauh dari tipe idealku. Dia terlihat agak… menyebalkan.”

“Nah! Kau menangkap maksudku!” seru Hyunra. “Dia memang menyebalkan. Sangat. Luar biasa.”

“Luar biasa memesona dan tampan?” Jiyoo buru-buru menundukkan kepala saat dua pasang mata kembali melotot ke arahnya. Gadis itu tergelak pelan. “Baiklah, aku akan serius sekarang. Jadi, kapan Eonni mulai bekerja?”

Hyunra menatap Jiyoo tak percaya. “Dari sekian banyak usaha serius yang mungkin dapat kaulakukan lebih baik, kau memilih cara ini, Yoo? Mengecewakan.”

“Eonni ingin aku bertanya kapan Eonni akan keluar dari pekerjaan yang baru didapat sekitar…” Jiyoo menghitung, mengira-ngira. “Delapan jam yang lalu? Kalau aku berbuat begitu, aku pasti sudah gila.”

Sejujurnya, Hyunra memang berharap Jiyoo akan bertanya itu. Jika memikirkan bahwa ia akan bekerja menjadi pesuruh Cho Kyuhyun, selera makannya hilang entah kemana. Hyunra mendesah. Padahal Jiyoo dan Eunhyuk sengaja mengajaknya makan daging panggang di restoran kesukaannya untuk merayakan hal ini.

Merayakan hal yang bisa dianggap sebagai akhir dari kebebasannya. Selamat tinggal harga diri, renung Hyunra murung.

“Sudahlah, setidaknya kau sudah mendapat pekerjaan baru,” sahut Eunhyuk. Mulutnya mengunyah daging pemberian Jiyoo. “Kau bisa bekerja di perusahaan game! Bayangkan betapa kerennya itu!”

Hyunra meringis. Tentu saja keren. Dengan catatan, jika ia memang bekerja menjadi bagian dari game itu sendiri. Dan bukannya hanya menjaga agar ruangan direkturnya tak dihinggapi debu.

Cho Kyuhyun tak bisa tidur. Semua game baru yang diujicobakan untuknya sudah tamat sejak tadi. Seharusnya ia sudah bisa memejamkan mata, tertidur pulas dengan mimpi indah menyertai.

Faktanya, Cho Kyuhyun yang ini belum bisa tidur.

Campuran macam-macam perasaan memenuhi dadanya. Kyuhyun tak tahu apa itu, tapi satu perasaan yang dominan adalah berdebar-debar. Ia mengantisipasi datangnya hari esok.

Hari esok dan datangnya pesuruh baru yang akan membersihkan ruangannya. Kyuhyun tersenyum miring. Sebenarnya tadi siang ia takut gadis itu akan menolak. Siapa yang bersedia menjadi pesuruh jika sudah mengantri demi posisi di bagian perencanaan Nexon?

Kyuhyun menjadikan lengannya sebagai bantal. Ada satu orang yang bersedia. Kim Hyunra.

Kyuhyun tak pernah memiliki pengalaman dengan gadis putus asa yang mencari pekerjaan. Ia bahkan tak sepenuhnya berharap gadis itu akan menerima tawarannya. Mungkin sebagian dirinya tak ingin gadis itu kecewa.

Semua posisi yang diiklankan sudah terisi.

Sebagai direktur, Kyuhyun tak bisa berbuat seenaknya dengan menambahkan satu orang pegawai yang bahkan belum menyerahkan arsip data dirinya. Tapi, ada satu cara sebagai direktur yang mungkin memang bisa dilakukannya. Kyuhyun tak berhenti membanggakan dirinya akan hal itu.

Posisi istimewa. Mendadak. Khusus. Sebagai pesuruh.

Alis Kyuhyun terangkat. Pesuruh mungkin bukan kata yang pantas. Bahkan bukan jenis pekerjaan yang diinginkan Hyunra.

“Tetap saja. Dia harusnya sangat berterima kasih padaku,” gumamnya. “Tidak semua orang bisa mendapat kesempatan sebagus itu!”

Lelaki itu kembali membayangkan apa yang akan terjadi esok. Saat Hyunra datang pada hari pertamanya bekerja. Kyuhyun menantikan, mengantisipasi segala hal dan kemungkinan yang bisa terjadi.

Mungkin, di bawah kesadarannya, lelaki itu terlupa. Kenapa ia tak membiarkan Hyunra pulang saja tanpa hasil? Bukannya memutar otak dengan rajin untuk meluangkan satu posisi untuk gadis itu.

The next day

Senyum Jiyoo mengembang. Kedua matanya yang sipit nyaris menghilang karena ia tersenyum terlalu lebar. Ia bahkan bersedia bangun lebih pagi untuk memasak sarapan pagi yang istimewa untuk Hyunra.

Gadis itu mungkin jengah dengan keberadaan Hyunra, tapi tetap saja ia ikut bersuka-cita dengan pekerjaan pertama yang didapat Hyunra setelah 3 minggu.

“Oh, Eonni!” serunya bersemangat.

Yang ditegur justru hanya melangkah gontai. Jelas sekali Hyunra tak menghendaki datangnya hari ini. Sepertinya hanya dirinya yang tak merasakan euphoria kebahagiaan mendapat pekerjaan baru yang menjanjikan.

“Kenapa? Eonni sakit?”

Usul bagus. Hyunra bisa berpura-pura sakit dan tak datang bekerja hari ini. Mungkin saja Cho Kyuhyun akan cukup kesal dan langsung memecatnya.

Mungkin Hyunra akan melakukan itu jika tak melihat binar khawatir dari kedua mata Jiyoo. ia menghela napas dan mencoba tersenyum. “Gugup.”

“Jangan cemas! Eonni bisa melakukannya dengan baik!” Jiyoo menyodorkan sepiring spageti istimewa. Master piece kebanggaannya. “Ini akan memberi semangat untuk Eonni!”

Spageti dengan saus jamur dan potongan bawang bombay itu memanggil-manggil Hyunra. Oh, baiklah. Hyunra mungkin gugup, khawatir, dan takut dalam waktu bersamaan. Tapi, spageti buatan Jiyoo bukan hal yang pantas ditolak.

Hyunra mulai menggerakkan garpu. Satu kali, dua kali, berkali-kali. Ia harus menghilangkan perasaan tak nyamannya dan hanya fokus pada spageti ini.

“Spageti buatanmu memang nomor satu!” serunya. Dengan cepat, hanya tersisa setengah porsi spageti di piringnya. “Maukah kau menikah denganku?”

Jiyoo berpura-pura berpikir dengan serius. Ia mengangkat bahu. “Kalau Eonni mau mencuci piring-piring ini, akan kupertimbangkan.”

Tentu saja Hyunra tak akan keberatan. Semua bisa ia lakukan jika menyangkut sarapan super buatan Jiyoo. Dan bukan karena Hyunra benar-benar ingin menikahi Jiyoo. Ia membayangkan Eunhyuk yang tak akan senang dengan gagasan itu.

Yah… sangat tak senang. Dan menentang hingga harus membawa Jiyoo pergi.

Hyunra geli membayangkan semua itu. Seiring dengan piringnya yang mulai kosong, perlahan perasaan tak nyamannya kembali. Hyunra kembali gugup.

Bagaimana nasib hari pertamanya di ruangan Cho Kyuhyun?

“Siapa yang kautunggu?” Jongwoon bertanya.

Sejak tadi ia memerhatikan Kyuhyun yang mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja. Untuk sekilas tadi, Kyuhyun tampak gugup. Jongwoon tak akan menebak itu disebabkan oleh rapat. Tak mungkin. Cho Kyuhyun tak pernah gugup menjelang rapat.

Kyuhyun mengangkat bahu, berusaha bersikap tenang. “Hanya pesuruh baru.”

“Pesuruh baru?” ulang Jongwoon.

“Aku lupa memberi tahu Hyung, aku mempekerjakan satu orang untuk membersihkan ruanganku,” jelas Kyuhyun. Jongwoon tak boleh tahu kenapa ia melakukannya…

“Kenapa?”

Seharusnya Kyuhyun tak perlu berpikir seperti itu. Kadang pikirannya terlalu menakutkan saat jadi kenyataan. “Bukankah tadi kubilang untuk membersihkan ruanganku?”

Jongwoon memiringkan kepalanya. “Untuk apa? Kau sudah punya sekretaris dan beberapa orang yang bekerja untuk membersihkan semuanya.”

Beginilah kesalnya saat orang terdekatmu selalu berpikir kritis. Dan selalu ingin tahu.

“Gadis itu membutuhkan pekerjaan.” Kyuhyun malas menjelaskan lebih lanjut. Melihat ekspresi Jongwoon, ia tahu masih banyak pertanyaan yang menumpuk untuknya. Syukurlah Jongwoon selalu bisa membaca sikapnya.

Yang tak dimengerti Jongwoon adalah entah sejak kapan Kyuhyun bersikap sangat dermawan pada gadis yang tak dikenalnya.

Pintu diketuk. Kyuhyun langsung menegakkan badan. Sekretarisnya masuk dan meminta seseorang menunggu di luar. “Direktur, apa Anda mengenal Kim Hyunra-ssi?”

“Ya. Dia asisten pribadi Jongwoon Hyung yang baru,” ujar Kyuhyun tenang.

Jongwoon menyipitkan mata. Asisten pribadi? Setelah pesuruh baru, sekarang asisten pribadi? Jongwoon memang tak akan pernah bisa mengerti isi kepala Cho Kyuhyun.

Kyuhyun berbisik pelan, “Hanya agar dia tidak dilecehkan orang pegawai lain, Hyung.”

“Masuk akal,” gumam Jongwoon.

Sekretaris dengan blazer kuning pucat dan rok senada menunjukkan wajah tak puas. Ia berbalik dan menatap Hyunra dengan tak acuh. “Kau dipersilakan untuk masuk.”

“Tentu saja aku dipersilakan untuk masuk. Aku sudah bilang, kan?” desis Hyunra tak senang. Saat ia melongok, mengintip ke dalam ruangan Kyuhyun, ia terkejut. Lelaki yang sempat dilihatnya bersama Kyuhyun ada di sana!

Jantung Hyunra mendadak berdebar-debar. Mungkin seharusnya Jiyoo bertemu dengan lelaki yang sedang bersama Kyuhyun. Hanya agar gadis itu berhenti mengelu-elukan Kyuhyun sebagai lelaki yang luar biasa tampan.

Kyuhyun tak ada apa-apanya dibandingkan dengan lelaki yang sedang diamati Hyunra saat ini.

“Annyeong haseyo,” lelaki itu membungkuk sopan.

Secara otomatis, Hyunra membalas salamnya. “A-annyeong haseyo.” Hyunra harus mengingatkan dirinya sendiri untuk tak bertingkah konyol dengan tergagap seperti itu.

“Tugas pertamamu,” sela Kyuhyun. Hyunra mulai menambah daftar panjang hal yang tak disukainya dari Kyuhyun. Lelaki itu suka mengintrupsi kebahagiaan orang lain. “Membersihkan ruangan rapat yang akan digunakan sekitar… satu jam lagi.”

“Apa!?”

Bagus. Bertambah lagi daftarmu, Cho Kyuhyun. Hyunra menggeram pelan.

“Kyuhyun-ah, itu agak… kelewatan. Biarkan dia berkeliling tempat kerjanya dulu,” sahut Jongwoon.

Dan Hyunra harus membuat daftar tentang hal-hal yang disukainya dari lelaki itu. Belum apa-apa, daftarnya mulai panjang. Mungkin bukan hal yang aneh. Lelaki itu sangat… sangat atraktif.

“Hyung,” Kyuhyun menoleh, menatap Jongwoon sekilas lalu beralih pada Hyunra lagi. “Gadis ini tidak akan menolak pekerjaan pertamanya. Bukan begitu, Hyunra-ssi?”

Hyunra tercengang. Rasanya ia baru saja terjebak dalam lubang penderitaan tanpa akhir. Hyunra mulai menyesali keputusannya menerima tawaran Kyuhyun. Dan sialnya, tak akan ada jalan kembali.

Tidak jika Hyunra bisa melihat lelaki pemilik senyum indah itu setiap hari.

“Tentu saja. Aku profesional,” sahut Hyunra, menolak dikalahkan oleh Cho Kyuhyun. “Di mana ruang rapatnya?”

Kyuhyun tersenyum miring. Sepertinya ia membuat keputusan yang benar dengan menyediakan lowongan pekerjaan khusus untuk gadis itu. “Jongwoon Hyung akan mengantarmu.”

Terlepas dari seringaian Kyuhyun yang menyebalkan, Hyunra mengulang-ulang nama yang disebut oleh bosnya itu. Jongwoon. Setidaknya nama itu terdengar lebih familiar di telinganya –jika dibandingkan dengan Kyuhyun.

“Tunggu, tunggu!” sela Kyuhyun. Ia menyadari tatapan macam apa yang ditangkapnya dari kedua mata Hyunra. Gadis itu harus diawasi. Dengan ketat. Olehnya sendiri. “Aku yang akan mengantarmu!”

===============TBC===============

It’s two-shot! ^-^

Honestly, I’m still in my rest-time after work wif Cho Kyuhyun in BluEast Harmony. -__- But now I work wif him again. *Fortunately, it’s not JiKyu. –thank God for that!*

So, enjoy! And see ya next week! *waving hand*

If ppl like my one/two-shot, I probably will make it as many as I can. Just like the old time –in facebook; request from readers. Kkk~ ^-^

ps: KARE! It’s Kyuhyun – Yesung and YOU. :3 Kare must be glad to know I have two-shot for her. *sigh* Kidding! It’s for you! I’m happy to write this. xD

25 thoughts on “Stupid Kyupid [1 of 3]

    • huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh…. totally nice fics….. /kiss you/ :***
      thanKYU bullied sister…. kkkk~ xD
      btw, sejak kapan yah saya suka main game?? hahaha… boro2 suka, bisa jg gak.. paling banter bs main mario bros, itu jg jaman dl.. /plak xD
      you made it perfectly with my OT3 there… Kyuhyun Eunhyuk & Yesung… /nose bleeding/ lol~
      & yesseu, i really really really llike spaghetti….😀
      wait for the next chap… :p

  1. waw tumben bkin gyu lg… Jd cast utama lg… Wkwk
    Tp beda couple ya skrg
    Hahaha

    Dan aku bca ini sambil ketawa2 dah abisnya kocak… Dan ttp jihyuk ttp eksis #plakk

  2. yuhuuu uri babygamekyu*lambai2*
    kemajuan,sekarang udah jadi cast utama.keke
    ga usah bersaing lg ama hyuk*inget blueastharmony*
    tapitapii sekarang bersaingnya ama kim jongwon!!di ulang,KIM JONGWON!!*sesaknapas*pingsan*

    cocokcocok!!!penggila game sejati*prokprok*
    ckck..pesona kyu ga mempan ke hyunra..efek kebanyakan main game tuh*soktau*

    okehh aku lebih setuju kyu ama hyunra!!!
    twoshoot eonn???huaaa sayang banget,padahal klo d buat b’part2 seru eonn*maunya*

    • uwaaaaaaaaaaaaaaaaahhh…… jd GR ini aku dibilang cocok sm kyu… /plak xD
      hrs nya yesung itu jd oppa ku, tp sie yoo ini bkin jd siangankyu.. T^T *bknnya makasih malah protes* /plak xD

      btw, aku RT!!!! komen mu yg ini: “okehh aku lebih setuju kyu ama hyunra!!!
      twoshoot eonn??? huaaa sayang banget,padahal klo d buat b’part2 seru eonn*maunya*” /dicium KyuSungHyuk/ xD

  3. hahaha . suka adegan trahiiir !
    lagilagi motong kebahagiaan orang wakaka .
    yayyaayy~ tibatiba kangen sama imej cool kyu di blueast xD
    dan skrg balik lg jadi evil *as usual lol*
    greaaaat joooob YOO~~❤
    next chap ditungguuuuu :))

  4. kyaaaa….suka hahhhhaha..
    kyu bener2 tengil banget ya disini hahahha. sok PD smua orang kenal dia..
    itu endingnya bikin kakak ngakak.aku lgsg bayangin muka kyu yg minta ditabok itu hahahhhha

  5. ad yesungq!
    *mencak2*

    ad kyu..
    huft, byk game..
    wkwkwk

    hyunra bnr2, yoo mpe kyk gtu dbwt uring2.annya..
    wkwkwk

    g tw mw komen gmn..
    hehehee
    nice pkoknya..:-)

  6. klop bgd dech..
    pas, hyunra kyuhyun..
    sama2 suka game..
    *keprok2*

    syg bgd hyunra lbh tertarik ma jongwoon oppa..
    kyu jgn nyerah..
    #apa deh??
    tp pling g rasa sebelnya hyunra k kyu ntinya jd tanend..
    wkwkwkwk
    #sotoy
    🙂

  7. Waaaah, keren, lucu, gemes… Gkgkgkgk.
    Aduh ngebayangin hyunra, tu eonni nyusahin amat saengx ya, numpang aja idupnya. #plak *ditampar hyunra*
    aaah, bagian kyunra kalo dah ketemu bikin gemes aja nih. Si kyu kasian amat, pesonanya memudar, jiamatny dah ga ampuh tu *tarik kyu ke apotek(?)*
    tapi tapi ada abang yeye….kyakny hyunra sk tuh, eh tp si epil kyakny ngeh tuh, lgsung ngegaet hyunra dy..
    Ah, seru seru.. Ditunggu nextny y yoo .^^

  8. kyaaaaaaaaaaaaaa syuka banget sama hyunraaaaa… Dia dia dia keren abis hohoho… Dan cho kyuhyuuuuuunnn aw aw menyebalkan tapi gemesin deh hohoho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s