Marry Yoo! [2nd Step]

[2] The Proposal

“Namaku Lee Hyukjae atau Eunhyuk. Senang berkenalan denganmu.”

Eunhyuk beruntung. Jiyoo tak berkomentar apapun dan hanya membiarkan pelayan restoran membawakan tiga piring pancake ke meja mereka. Walaupun begitu, tatapan gadis itu masih lekat pada wajah Eunhyuk.

Satu-satunya hal yang ada di pikiran Jiyoo adalah kemungkinan ia sedang berhadapan dengan orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.

“Jadi, apa kau mau menghabiskan waktu denganku?” tanya Eunhyuk. Jelas sekali ia dengan mudah mengabaikan tatapan Jiyoo.

Jiyoo mengerutkan kening. Kali ini ia mencuri pandang ke arah Donghae, meminta penjelasan. Tubuhnya sudah luar biasa remuk karena penerbangan jauh, dan sekarang rasanya sudah tak bisa lagi menerima informasi apapun. Sebaiknya Donghae mulai menjelaskan tanpa basa-basi.

“Hyuk, bukankah lebih baik mengantar Jiyoo pulang?” Donghae menginterupsi. Bukan jenis pertolongan yang diharapkan Jiyoo, tapi cukup untuk membiarkannya menarik napas lega.

Eunhyuk mengerjap, memandangi Jiyoo dengan naïf. “Apa kau ingin pulang?”

“Eh? Tentu saja,” Jiyoo mengangguk-angguk. Ia memainkan garpu di tangannya. Pancake dengan saus stroberi itu terlihat menggairahkan. Jiyoo hanya mencicipi sausnya.

“Apa kau ingin pulang ke rumahku?” tanya Eunhyuk. Pertanyaan itu terdengar normal walaupun membuat Jiyoo mengangkat alis. “Ada sesuatu yang harus kuberikan.”

Jiyoo berdeham, menelan apapun yang menghalangi tenggorokannya. “Aku… kurasa itu bukan ide yang bagus.”

“Jiyoo akan tinggal di rumahku sementara waktu, Hyuk,” ujar Donghae. Lelaki itu menikmati potongan pancake dan madu yang ada di depannya. “Jadi, kau tahu kemana harus mengantarnya pulang, kan?”

“Donghae!” Jiyoo membelalakkan matanya lebar-lebar. Semuanya terasa aneh sekarang. “Apa maksudmu dengan mengantarku pulang? Kau… tidak mungkin membiarkan aku pergi ke… bersama…”

Donghae tersenyum puas. “Ke rumah Eunhyuk bersama Eunhyuk.”

Baiklah. Jiyoo mulai frustasi. Mungkin benar kalimat itu yang harus diselesaikannya, tapi jelas bukan itu kalimat yang diinginkan Jiyoo. Ada apa dengan dua orang di depannya ini? Ia bahkan tak mendapatkan dukungan Donghae.

“Oh, ayolah, makan pancake-mu, habiskan, dan isi perutmu,” sahut Donghae sambil menyuapkan potongan besar pancake. “Atau kau mau aku membantu untuk memotong–“

Eunhyuk menyela dengan menyambar piring Jiyoo. “Aku saja!”

—–

Gedung-gedung berlantai tinggi menghalangi pandangan Jiyoo untuk melihat langit. Ia harus melakukan hal lain jika tak ingin mengamuk dan merusak mobil yang sedang ditumpanginya ini. Jiyoo menggigit bibir. Rasanya semua hal –dan semua orang- sedang mengkhianatinya.

Gadis itu duduk di kursi belakang sementara lelaki bernama Eunhyuk menyetir dan Donghae ada di sampingnya. Jiyoo bahkan tak melihat Donghae berusaha memeriksa keadaannya di belakang. Jika Donghae melirik sekali saja, Jiyoo pasti akan langsung mencekik lelaki itu dengan tatapan maut.

Audi silver itu melaju melewati jalanan Incheon. Jiyoo, untuk pertama kalinya, merasa menyesal sudah pulang. Ia ingin hari ini cepat berlalu. Sialnya, sepertinya waktu berjalan sangat lambat.

Walaupun perjalanan terasa panjang, Jiyoo mulai menghela napas lega saat mobil berhenti di depan pekarangan rumah berlantai dua. Rumah bernuansa putih bersih dan biru muda. Rumah itu masih diingat Jiyoo sebagai rumah Donghae.

“Selamat datang di rumah!” Donghae berseru dan buru-buru tersenyum lebar saat Jiyoo melotot padanya. “Aku akan membawa barang-barangmu masuk. Kau tidak perlu turun, aku akan mengabari eomma kalau kau sudah tiba dengan selamat. Oke?”

Jiyoo tak menjawab. Kedua lengannya dilipat di depan dada. Semua itu cukup untuk menunjukkan seberapa kesal dirinya pada Donghae.

“Hyuk,” panggil Donghae, nyaris berbisik. “Jaga dia.”

Orang yang dipanggil Eunhyuk itu tersenyum. “Dia bersama orang yang tepat.”

“Tch,” Jiyoo tak mau repot-repot menahan diri untuk mendengus.

Donghae menghela napas panjang. Dengan enggan, ia membuka pintu belakang. Lelaki itu mendekat, menyikut lengan Jiyoo pelan. “Aku akan minta maaf nanti, tapi sekarang jadilah gadis yang baik.”

Jiyoo tak menjawab. Dan Donghae sama sekali tak terkejut.

“Jiyoo,” Donghae menepuk pundak Jiyoo. Gadis itu setengah berharap Donghae akan memintanya turun saja. Setidaknya Donghae harus melakukan itu, Jiyoo berharap. “Pindahlah ke depan. Eunhyuk bukan supirmu.”

Yah!” seru Jiyoo.

Donghae tergelak nyaring. “Akhirnya kau bersuara. Sudahlah, aku akan meninggalkanmu dengan Eunhyuk. Sampai nanti!”

—–

Eunhyuk melirik Jiyoo melalui spion dalam. Gadis itu masih bersedekap. Wajahnya kusut dan entah bagaimana, Eunhyuk tersenyum melihatnya.

“Kurasa kau kesal,” ujarnya.

Jiyoo mendengus pelan. Tatapan tajamnya menghujam Eunhyuk dari belakang. Jika memang sudah kelihatan, kenapa masih bertanya?

“Dengar, aku sama sekali tidak punya niat buruk. Seharusnya kau tidak perlu ikut ke rumahku, tapi–“

“Benar! Itulah poin pentingnya!” potong Jiyoo.

Saat melihat tanda rest area, Eunhyuk menghentikan mobilnya. Ia menoleh ke belakang untuk berhadapan dengan Jiyoo secara langsung. “Tapi poin penting lainnya adalah kau harus tetap ikut denganku.”

“Kenapa? Aku sama sekali tidak… mengenalmu.”

“Baiklah, itu menyakitkan, Jiyoo,” Eunhyuk benci merasakan perasaan dilupakan itu lagi. “Kau mengenalku, kau hanya belum mengingatku. Aku sendiri tidak tahu kenapa kau melupakanku.”

Jiyoo merasa dadanya sesak. “Kenapa aku harus mengingatmu?”

“Karena hanya Donghae dan aku yang kaupunya,” sahut Eunhyuk. Melihat raut wajah Jiyoo yang mengeras, Eunhyuk langsung merasa tolol. “Maaf, aku tahu seharusnya–“

“Terserah.”

Eunhyuk memejamkan mata sejenak, frustasi dan memaki dirinya sendiri. Untuk beberapa saat, ia tak membuka mulut. Sepertinya ia harus memberikan Jiyoo waktu.

“Kita tidak akan kemana-mana sebelum kau memaafkanku,” ucap Eunhyuk. Nada suaranya solid. Dan jika benar, Jiyoo harus rela berada di mobil dan tempat ini selama berjam-jam.

Jiyoo menolak memandang lelaki itu. Ia hanya memandang ke luar jendela mobil. Sinar matahari sedang terik dan tak akan butuh waktu lama untuk melihat cahaya jingga. Waktu akan tetap berlalu selama ia di sini.

Fine! Permintaan maafmu diterima!” serunya. Kali ini ia tak kalah frustasi.

Eunhyuk tersenyum lebar. Rasanya ia bisa bernapas lebih ringan sekarang. “Kau serius?”

“Jalankan saja mobilnya.”

“Donghae sudah bilang, kan, aku bukan supirmu,” senyum Eunhyuk belum hilang dari wajahnya walaupun Jiyoo tak melihat. “Pindah ke sampingku.”

Jiyoo mulai terganggu. Ia memalingkan wajah untuk menatap Eunhyuk. “Jangan memaksaku!”

“Kalau begitu kita akan tetap di sini.”

“Kau mengancamku?”

Eunhyuk mengangkat bahu. Kemenangan ada di tangannya. “Apa kau merasa begitu? Bukankah seharusnya kau memang duduk di sampingku?”

Tatapan Jiyoo menjadi lebih tajam. Entah sudah keberapa kalinya ia menyesali keputusannya untuk pulang. Jika mau dibandingkan, lelaki ini jauh, sangat jauh menyebalkan dibandingkan dengan redaktur monsternya.

Tanpa suara, Jiyoo pindah kursi. Ia tetap menolak menatap Eunhyuk. Jantungnya berhenti berdetak saat lelaki itu mendekatkan wajahnya. “A-apa yang kaulakukan!?”

“Memasang sabuk pengaman.” Hembusan napas Eunhyuk menyapu pipi Jiyoo. Senyuman lelaki itu belum hilang. Jiyoo menganggap senyuman itu adalah ejekan. Bisa-bisanya ia berpikir yang tidak-tidak saat lelaki itu hanya meraih sabuk pengamannya.

Jiyoo berdeham pelan. Rasanya jika ia bisa mengatur seluruh bagian tubuhnya, saat ini ia sangat ingin menghilangkan rona merah yang bisa dibayangkan terlihat jelas.

“Kenapa kau harus tinggal di rumah Donghae?”

Pertanyaan itu terdengar defensif. Jiyoo tak mengerti kenapa ia mengartikannya demikian. Sepertinya imajinasinya mulai keterlaluan.

“Karena aku ingin.”

Eunhyuk mulai menyalakan mesin. Pegangannya menjadi lebih erat. Ia menatap lurus ke jalan. “Kenapa kau ingin?”

Lagi-lagi pertanyaan aneh. Jiyoo menduga mungkin cita-cita lelaki itu adalah reporter. Ia mulai merasa jengah.

“Karena seperti yang kaubilang, aku hanya punya Donghae sekarang.”

“Aku juga bilang kau hanya punya aku sekarang,” ujar Eunhyuk. Ia mendapatkan poinnya. “Kenapa kau tidak tinggal denganku saja?”

Jiyoo nyaris membahayakan tulang lehernya sendiri dengan menoleh terlalu cepat. “Kenapa aku harus tinggal denganmu?”

“Karena aku bisa memberimu tumpangan gratis ke perusahaan,” Eunhyuk mengangkat bahu.

“Perusahaan? Apa maksudmu?”

“Kau akan bekerja di Unihealth, kan? Aku direkturnya.” Kalimat itu terasa janggal saat diucapkan olehnya. Eunhyuk sama sekali belum terbiasa dengan jabatan barunya. “Selain itu, kau akan melanjutkan kuliah di universitas di Seoul, bukan? Untuk apa kau tinggal di Incheon, kalau begitu?”

Jiyoo melongo. Rasanya seperti seluruh dunia jatuh menimpanya. Ia harus bersusah payah mengurutkan semua informasi yang menyerang dan menjejali otaknya saat ini.

“Kau… direktur Unihealth?” tanyanya. Eunhyuk mengangguk. “Dan Donghae bilang, kau yang membelikanku tiket pulang?”

Eunhyuk kembali mengangguk. Ia terkekeh pelan. “Jangan berpikir terlalu keras. Semuanya akan jelas sebentar lagi.”

Dan selain merasa menyesal, Jiyoo juga tersesat dalam pikirannya sendiri.

—–

Rumah itu seperti istana. Jiyoo harus mengakui hal itu. Rumah yang sedang dilihatnya jauh lebih besar daripada rumah Donghae. Mungkin hanya beberapa meter persegi lebih luas dibandingkan rumahnya sendiri di Incheon.

Eunhyuk membuka pintu untuknya. “Kau tidak mau turun?”

“Aku tidak mau masuk ke sana,” ujar Jiyoo. Ia mungkin mengatakan itu, tapi sebenarnya ia ingin melihat seperti apa rumah itu dari dalam. Apa dapurnya besar? Apa ada tangga dengan selusur berhiaskan ukiran bercat emas? Apa kamar tidurnya punya kamar ganti?

Jiyoo merutuk dalam hati. Kenapa ia harus memiliki rasa ingin tahu seaneh itu?

“Ayolah. Aku harus mengambilkan air untukmu, mungkin juga sedikit makanan. Kau tidak menyentuh pancake-mu, Jiyoo,” Eunhyuk mengingatkan. Ia sudah mencatat dalam pikirannya bahwa gadis itu bahkan hanya mengunyah sepotong pancake yang dipotongkannya. “Kenapa harus memesan pancake kalau kau tidak suka?”

“Aku tidak tahu menunya adalah yoghurt pancake.” Jiyoo mengatupkan bibir. “Aku tidak suka yoghurt.”

Eunhyuk mengangguk pelan. “Aku ingat.”

Benarkah? Jiyoo melirik Eunhyuk melalui sudut matanya. Lelaki itu tampak puas dengan kenyataan bahwa ia tak melupakan apapun.

“Ayo,” Eunhyuk menawarkan tangan untuk menyambut Jiyoo. Gadis itu berjengit. “Mungkin kau membutuhkan bantuan untuk turun.”

Jiyoo mendelik tajam. Ia memutuskan untuk turun tanpa meraih tangan Eunhyuk. Untuk beberapa saat, ia terpukau dengan rumah di hadapannya.

Pintunya berwarna putih. Indah sekali. Ukiran kayu yang terlihat rumit menghiasi permukaannya. Saat melihat ruang tamu, Jiyoo sama sekali tak terkejut. Ruangan itu besar, berhias gabungan warna putih dan biru lembut.

Jendela super besar memamerkan pekarangan hijau dengan taman kecil yang menghadap ke air mancur. Jiyoo mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari tahu apa lagi yang bisa membuatnya terpesona saat ini.

Ia terkesiap saat Eunhyuk meraih tangannya. “Kau harus duduk.”

Lelaki itu membimbing Jiyoo melewati ruang tamu. Jiyoo sedikit bingung. Ke mana lelaki itu akan membawanya? Ah, dan kenapa Jiyoo tak melepaskan diri?

“Aku bisa jalan sendiri,” ucapnya. Suaranya parau dan Jiyoo tak tahu kenapa.

“Tidak.” Eunhyuk mengeratkan genggamannya. Lelaki itu serius dan Jiyoo tak bisa membantah. Ada apa dengannya?

Eunhyuk yang tadi baru dikenalnya adalah lelaki yang selalu mengalah untuknya. Jiyoo mengerutkan kening. Baiklah, tentu saja tidak dalam semua hal. Tapi entah kenapa sikap otoriter lelaki itu terasa semakin kuat saat berada di rumahnya sendiri.

Jiyoo melihat sebuah televisi besar yang tak menyala. Ia menduga ruangan itu adalah ruang tengah. Sofa yang tak kalah besar dengan bantal-bantal empuk seakan memanggilnya. Sekarang Jiyoo tahu kenapa Eunhyuk tak membiarkannya berjalan sendiri.

Gadis itu bisa ambruk kapan saja. Tubuhnya terasa ringkih dan lelah.

“Duduklah. Aku akan mengambilkan makanan dan minuman untukmu,” ujar Eunhyuk. Ia baru melepaskan tangannya saat Jiyoo sudah menjatuhkan diri di sofa.

Jiyoo membasahi bibirnya yang kering. “Ambil saja barang yang harus kau ambil.”

“Aku akan melakukannya,” lanjut Eunhyuk, “setelah aku memastikan kau makan sesuatu.”

—–

Sofa itu nyaman. Jiyoo memeluk sebuah bantal sebelum memilih membaringkan diri. Kakinya terasa sakit saat diluruskan.

Tadinya ia akan memutar otak. Ia ingin mengacak-acak kepalanya dan mencari petunjuk tentang siapa Lee Hyukjae. Jiyoo ingin melakukannya karena, entah bagaimana, ia merasa bersalah tiap melihat lelaki bernama Eunhyuk itu.

Jiyoo mendengar suara piring berdenting dari ruangan lain. Mungkin dari dapur. Entahlah. Ia menolak memikirkannya.

Kedua pelupuk matanya terasa berat. Jiyoo memutuskan untuk menutup matanya sebentar. Hanya sebentar dan ia akan memaksa Eunhyuk membawanya pulang. Kesadarannya pelan-pelan menghilang.

Sepertinya, ingatan tentang Lee Hyukjae harus menunggu.

—–

Eunhyuk menempatkan mangkuk berisi sereal dan susu kotak di nampan. Ia mendesah tak puas. Seharusnya ia bisa menyajikan makanan manusia dan bukannya membuat Jiyoo makan sereal seperti ini.

Apa boleh buat. Tak ada apapun di dapur. Eunhyuk tak ingin membiarkan Jiyoo menunggu lebih lama. Gadis itu jelas butuh makanan.

Dengan langkah perlahan, ia menghampiri Jiyoo. Bibirnya yang sudah terbuka sama sekali tak bisa bersuara. Senyuman kecil pelan-pelan merambati wajahnya.

Gadis itu tertidur. Sambil memeluk bantal. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.

Eunhyuk meletakkan nampannya. Lelaki itu berlutut di samping Jiyoo. Kedua matanya mengamati gadis itu. Bulu mata Jiyoo lentik. Tarikan napasnya teratur. Jiyoo benar-benar tertidur lelap. Eunhyuk menahan napasnya agar tak membuat gadis itu terbangun.

Rasa hangat yang aneh menyelimuti dadanya. Setelah sekian lama, ia bisa melihat Jiyoo. Jiyoo yang nyata, yang bisa disentuh, yang sekarang berada di rumahnya.

Eunhyuk duduk di lantai, bersandar di sofa dan membelakangi Jiyoo. Jika ia memberikan waktu, apa gadis itu akan mengingatnya?

Ia tak bercanda saat mengatakan rasanya menyakitkan saat Jiyoo tak mengingatnya. Penantiannya sama sekali tak berarti di mata gadis itu. Eunhyuk tersenyum getir mengingat semuanya.

Dengan perlahan, Eunhyuk mengeluarkan sebuah kotak kayu dari saku jaketnya. Tak ada barang yang tertinggal. Sejak awal ia hanya ingin Jiyoo datang ke rumahnya. Jiyoo tak pernah menginjakkan kaki di sana. Sama sekali.

Dan egois kah jika Eunhyuk ingin rumahnya menjadi tempat pertama yang dijejaki Jiyoo?

—–

Donghae menyipitkan mata saat membaca pesan singkat dari Eunhyuk. Ia menghela napas dan menuruni tangga untuk melihat ibunya yang berada di dapur. “Eomma.”

Wae?” ibunya tak menoleh. Wanita paruh baya itu juga terlalu senang mendengar kabar kepulangan Jiyoo. Makan malam sempurna sedang disiapkannya.

“Jiyoo tidak akan pulang hari ini,” ujar Donghae.

Sekarang Donghae mendapatkan perhatian ibunya. Wanita itu berbalik, “Kenapa?”

“Mm… sepertinya Eunhyuk memonopoli Jiyoo,” Donghae terkekeh. Ibunya semakin tak mengerti. “Jiyoo akan menginap di Seoul.”

“Ah… sayang sekali,” raut kecewa tak bisa disembunyikan ibunya. Donghae merasa sedikit bersalah. “Sudahlah. Lagipula dia bersama dengan Eunhyuk.”

Donghae tersenyum samar. Jiyoo bersama dengan Eunhyuk. Sejauh ini, Donghae tak bisa menemukan orang lain sesempurna Eunhyuk untuk Jiyoo. Jiyoo kecilnya. Jiyoo kecil mereka.

From: Hyuk

Dia menginap di sini. Jangan cemas, aku akan membawanya pulang besok. Dan Lee Donghae, terima kasih.

—–

“Apa kau mau menikah denganku?”

“Apa kau mau menikah denganku?”

 “Apa kau mau menikah denganku?”

—–

1:12 AM

Jiyoo terbangun tiba-tiba. Mimpi itu membuatnya terkejut. Ia mengerjap beberapa kali. Jiyoo menyibakkan selimutnya.

Selimut?

Ruang tengah itu sama seperti yang terakhir kali diingatnya. Cahaya lampu membuat matanya menyipit karena tak terbiasa. Jiyoo memegangi kepalanya. Rasanya kepalanya bisa meledak kapan saja.

Jiyoo mengedarkan pandangannya, mencari tahu kenapa ia masih ada di ruang tengah itu. Jika ia masih berada di sana, berarti kesimpulan lainnya adalah ia masih berada di rumah Eunhyuk.

Gadis itu membelalakkan mata. Ia masih duduk di atas sofa. Baguslah. Setidaknya lelaki bernama Eunhyuk itu tak mengambil inisiatif untuk membawanya ke kamar tidur. Memikirkan itu membuat kepala Jiyoo berdenyut.

Lagipula, di mana lelaki itu?

Jiyoo menutup mulut dengan tangannya saat melihat Eunhyuk tidur di lantai. Memang bukan benar-benar lantai karena secara teknis lelaki itu tidur di atas kapet. Jiyoo menelan ludah. Apa lelaki itu tidur di sana sejak tadi?

Kedua matanya menangkap sepiring sereal dan susu kotak yang mungkin sempat diletakkan Eunhyuk di atas meja. Jiyoo merutuk diri sendiri. Jadi ia tertidur? Di sofa ini, di rumah lelaki ini?

Daripada itu, Jiyoo merasa tak bisa tidur lagi. Ia memandangi Eunhyuk dari atas. Lelaki itu terlihat tak nyaman. Tentu saja, ia masih mengenakan pakaian lengkap. Dan karpet jelas bukan tempat tidur yang menyenangkan.

Jiyoo menghela napas panjang. Apa ia harus membangunkan Eunhyuk?

Tidak. Bukan ia yang memaksa lelaki itu tidur di lantai. Jiyoo mati-matian membela dirinya.

Tapi lelaki itu pasti juga tak punya pilihan lain. Jiyoo mendadak terganggu dengan kenyataan itu. Mungkin Eunhyuk bisa tidur di ranjang yang nyaman dan bukannya menemaninya tidur di ruang tengah.

“Hm…” Jiyoo berdeham pelan. Suaranya tak boleh terdengar aneh. “E-eunhyuk. Eunhyuk? Lee Hyukjae?”

Dengan enggan, Jiyoo menggoyang-goyangkan lengan Eunhyuk. Melihat lelaki itu hanya menggeliat, Jiyoo tergoda untuk membangunkan Eunhyuk dengan kakinya saja. Jiyoo terkekeh geli membayangkannya.

“Lee Hyukjae, bangunlah,” Jiyoo sedikit menaikkan nada suaranya. “Jangan pura-pura tidur.”

Eunhyuk tersenyum dengan kedua mata terpejam. “Kau tahu?”

“Aktingmu jelek.”

Lelaki itu membuka matanya, duduk di karpet beberapa saat. Ia menggerak-gerakkan lengannya. Tubuhnya remuk. Eunhyuk meregangkan ototnya. “Kau terbangun? Mimpi buruk?”

“Tidak.” jawab Jiyoo cepat. “Antar aku pulang.”

Eunhyuk menautkan alis. “Kau baru saja memintaku untuk apa?”

“Mengantarku pulang ke Incheon. Donghae pasti menungguku.”

“Tidak. Aku sudah bilang kau akan menginap di sini dan aku akan mengantarmu pulang besok setelah makan siang,” lelaki itu menguap. Sepertinya ia sama sekali tak memedulikan permintaan Jiyoo. “Ayo, kuantar kau ke atas. Kau bisa istirahat lagi.”

Jiyoo merengut. Kedua matanya menyipit. Selain menyebalkan, Eunhyuk ternyata juga sangat egois. “Aku tidak mau kemana-mana kecuali ke rumah Donghae.”

“Sudah kubilang, dia mengijinkanmu menginap untuk malam ini.”

“Aku tidak memerlukan ijinnya untuk menginap dimana pun. Aku ini manusia bebas, bukan budak.”

Eunhyuk menghela napas berat. Seluruh tubuhnya masih sakit karena tempatnya tidur sama sekali tak bisa dikategorikan nyaman. “Kau mau aku menyetir ke Incheon,” ia melirik jam tangannya, “pukul 1 dini hari? Kau mau membunuhku?”

“Tapi, aku…”

“Sudahlah. Makan dulu serealmu. Aku akan mengantarmu setelah kau makan sesuatu,” ujar Eunhyuk. Ia bangkit dari lantai dan duduk di samping Jiyoo.

Jiyoo melirik Eunhyuk. Lelaki itu tampak berantakan. Pasti tidak menyenangkan menghabiskan waktu tidur di lantai keras beralaskan karpet. Jiyoo menarik napas sebelum mengembuskannya pelan-pelan.

Melihat Jiyoo yang tak juga meraih mangkuk serealnya, Eunhyuk terpaksa mengambilkannya untuk gadis itu. “Kubilang makan, kan?”

“Aku akan menginap di sini.”

“Apa kaubilang?”

Jiyoo menggigit bibir. Otaknya berdebat. Apakah keputusannya ini benar? Atau ia hanya akan menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri?

“Aku akan menginap.” Jiyoo mengabaikan kedua mata Eunhyuk yang berbinar. “Aku tidak keberatan kalau aku harus tidur di sini.”

“Tapi aku keberatan.” Setelah meletakkan mangkuk yang masih dipegangnya, Eunhyuk meraih tangan Jiyoo. “Ayo ke atas.”

—–

Kamar tidur itu mewah. Jiyoo berusaha menyembunyikan rasa takjubnya. Perpaduan warna emas dan biru menghiasi setiap sudut ruangan itu. Sebuah ranjang berukuran super besar dihiasi kelambu biru muda berada di tengah ruangan.

“Ini kamar tamu. Kau bisa tidur di sini,” ujar Eunhyuk. Ia tersenyum hangat. “Kamarku ada di sebelah, kalau kau membutuhkan sesuatu.”

Jiyoo mengangguk pelan. Sebelum Eunhyuk meninggalkan kamar itu, Jiyoo membuka mulut. “Anu… apa kau tinggal sendirian?”

Wae? Apa yang mau kaulakukan padaku?” Jiyoo merutuk dalam hati. Seharusnya ia tak pernah bertanya. Eunhyuk tergelak. “Aku tinggal bersama ibudan kakak perempuanku, tapi kurasa mereka akan pulang pagi ini. Jadi secara teknis, ya, aku tinggal sendirian sekarang.”

Pandangan Jiyoo menerawang menyusuri setiap inchi ruangan itu. Kamar itu begitu luas, begitu mewah, dan begitu… hangat. Sebenarnya ia bisa menduga jika Eunhyuk memang tak tinggal sendirian. Seluruh penjuru rumahnya memantulkan rasa hangat yang menyenangkan.

“Jiyoo?”

“Ya?”

Eunhyuk mengambil langkah ke depan Jiyoo. Tatapannya tajam dan intens. Jiyoo ingin mengalihkan pandangannya, tapi otaknya menolak.

“Terima kasih sudah kembali.” Lelaki itu membelai rambut Jiyoo lembut. Jiyoo menahan napas. “Aku senang kau ada di sini. Sungguh.”

Jiyoo tak memberikan jawaban apapun. Apa yang seharusnya dikatakannya? Bahwa ia juga senang ada di sini? Terlalu aneh untuk diucapkan.

Hingga Eunhyuk meninggalkan ruangan itu, Jiyoo masih belum bergerak dari tempatnya.

—–

The next day

Eunhyuk menguap lebar-lebar. Sinar matahari menembus jendela dengan tirai yang tak membentang. Lelaki itu tersenyum. Pagi ini terasa begitu sempurna. Semuanya terasa sempurna jika Jiyoo ada di dekatnya.

Gadis itu berada kurang dari 10 langkah dari kamarnya. Eunhyuk bisa mendengar debaran jantungnya sendiri. Ia buru-buru turun dari ranjang dan melesat ke kamar mandi.

Dengan agak tergesa, Eunhyuk menutup pintu, nyaris membantingnya. Lelaki itu menarik napas, mengatur volume udara yang masuk dan keluar paru-parunya. Dalam hitungan detik, ia sudah berada di depan pintu kamar Jiyoo.

“Kau sedang apa?”

Eunhyuk terperanjat. “Nuna! Jangan menakutiku begitu!”

“Apa maksudmu dengan menakutimu? Sedang apa kau di depan kamar tamu?” Lee Sora mengerutkan kening. Ia merapatkan tubuh ke arah adik lelakinya. “Apa kau mengundang seseorang bermalam?”

“Bukan seseorang, hanya seorang gadis,” jawab Eunhyuk santai. Ia berbisik pelan, “Dia sudah kembali.”

Sora membelalakkan mata. “Benarkah? Dia ada di rumah ini!?”

“Sst! Pelankan suara nuna!” Eunhyuk menempelkan telunjuk di depan bibirnya. “Aku belum memberitahu eomma, tapi pasti dia akan memakiku karena membawa pulang seorang gadis ke sini.”

“Ck, jangan khawatir. Ini pertama kalinya kau membawa pulang seorang gadis. Eomma pasti akan menangis bahagia.”

Eunhyuk berdecak memandangi kakak perempuannya itu. “Menangis bahagia?”

Keduanya saling bertatapan sampai pintu tiba-tiba terbuka. Jiyoo terperangah sesaat, tak bergerak dari tempatnya sama sekali. Eunhyuk dan Sora memandanginya bersamaan.

“O-oh, kau sudah bangun?” tanya Eunhyuk. Ia tersenyum lebar. Suatu keberuntungan ia memastikan penampilan pagi harinya tak berantakan. “Apa tidurmu nyenyak?”

Jiyoo mengangguk kikuk. Ia menundukkan kepala saat Sora mengamatinya dari atas hingga ke bawah. Pandangan itu membuat Jiyoo merasa tak nyaman.

“Ini kakak perempuanku, Lee Sora, dan,” Eunhyuk berdeham dan menyikut lengan Sora. “ini Choi Jiyoo. Dia baru kembali dari California kemarin.”

Sora tersenyum hangat. Tangannya yang terulur disambut Jiyoo ragu-ragu. “Kuharap kau bukan terbangun karena Hyukjae berisik di depan pintumu.”

“Ah… tidak. Sama sekali tidak,” Jiyoo berusaha tersenyum setulus mungkin. Ia memandangi Sora. Inikah kakak perempuan yang dikatakan Eunhyuk semalam?

“Kalau begitu, aku akan menunggu di bawah. Sarapan pasti sudah siap,” ujar Sora sebelum meninggalkan Jiyoo dan Eunhyuk di tepi pintu. Gadis itu sempat mengerling pada adiknya. Sora harus memahami kenapa adiknya begitu terobsesi pada gadis bernama Choi Jiyoo itu.

Eunhyuk tersenyum. “Maaf. Aku tidak tahu kakakku sudah pulang.”

Tentu saja Jiyoo tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk pelan. Memangnya apa yang bisa diucapkannya?

“Apa… kau keberatan untuk turun dan sarapan bersama keluargaku?” tanya Eunhyuk. Ia terdengar sangat berhati-hati, cemas tawarannya akan ditolak. “Lalu kurasa aku bisa meminjamkan pakaian kakakku–“

“Tidak. Tidak perlu. Sungguh.” Jiyoo berdeham. “Aku akan turun sebentar lagi.”

Eunhyuk mengangguk-angguk. Ia masih berada di depan pintu walaupun Jiyoo sudah menutupnya. Dengan senyuman jenaka, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Gadis itu benar-benar nyata. Ia bisa melihatnya. Penantiannya benar-benar berakhir.

“Hmm…” Eunhyuk bergumam agak nyaring. “Aku menunggumu.”

—–

“Apa kamar Hyukjae berantakan?”

Pertanyaan itu membuat Jiyoo nyaris tersedak. Ia mendongak dan mendapati ibu Eunhyuk memerhatikannya. Sepertinya wanita berkacamata itu menunggu jawaban darinya.

“Mm… itu…”

Eunhyuk menyela. “Ah, Eomma! Dia tidur di kamar tamu.” Lelaki itu buru-buru menyodorkan segelas air pada Jiyoo. “Apa hubungannya dengan kamarku.”

Eomma kira kau dan… Jiyoo, bukan? Kau dan Jiyoo memutuskan untuk…”

Eomma~!” seru Eunhyuk. Ia memastikan raut wajah Jiyoo tak berubah. “Maaf. Ibuku agak… mabuk pagi ini.”

“Apa maksudmu dengan mabuk?” bantah ibunya. Ia kembali memandangi Jiyoo. “Jadi, Jiyoo, sudah memutuskan akan melanjutkan kuliah ke mana?”

Jiyoo menyeka mulutnya dengan serbet makan. Jantungnya berdetak hingga memekakkan gendang telinganya. “Aku… mungkin di universitas Hanyang.”

“Bagus sekali! Hyukjae bisa mengantarmu setiap hari!” ibunya bertepuk tangan. Jiyoo tak mengerti bagian mana dari jawabannya yang harus diberi sambutan berlebihan seperti itu. “Apa kau sudah memutuskan akan tinggal dimana?”

“Mm… sementara ini aku akan tinggal di rumah Donghae.”

Ibu Eunhyuk mengerutkan kening. “Rumah Donghae di Incheon, kan? Apa tidak terlalu merepotkanmu jika berangkat setiap hari dari sana? Kenapa kau tidak tinggal di sini saja?”

“Apa!?” Jiyoo nyaris tersedak lagi. Ia meneguk airnya. “Eh, maksudku, aku… tidak perlu. Akan lebih merepotkan jika aku berada di sini.”

Eunhyuk melirik Jiyoo dari sudut matanya. Sikap tenangnya mulai terusik. Ibunya benar-benar mengacaukan semuanya. “Eomma, Jiyoo akan tinggal di mana pun yang dia mau. Kalau nantinya dia berpikir tinggal di sini akan lebih menghemat waktu dan biaya, dia pasti akan pindah ke sini.”

Eh? Apa benar begitu? Jiyoo tak bisa menahan diri untuk tak menendang kaki Eunhyuk dari bawah meja. “Aku tetap akan tinggal di Incheon.”

—–

Eunhyuk mengemudi dengan santai. Seharusnya ia membiarkan Jiyoo berada di rumahnya hingga waktu makan siang, tapi sepertinya ibu dan kakaknya akan memberikan lebih banyak tekanan untuknya. Eunhyuk merasa sakit kepala hanya dengan memikirkan itu.

Kesalahan besarnya adalah menceritakan semua hal pada ibu dan kakaknya.

Menjadi satu-satunya lelaki di rumah memang tak pernah menyenangkan. Kadang semua hal pribadi tak lagi menjadi sesuatu yang bersifat pribadi jika berada di sekitar para wanita. Eunhyuk mendesah berat.

“Ibuku pasti membuatmu tidak nyaman,” gumam Eunhyuk.

Jiyoo menggeleng pelan. “Kurasa ibumu wanita yang menyenangkan.”

“Memang. Tapi ada waktunya ibuku membuat orang lain sakit kepala seperti tadi,” Eunhyuk menghentikan mobilnya di pinggir sungai Han. “Apa kau mau berjalan-jalan sebentar?”

“Aku hanya ingin pulang ke Incheon.”

Eunhyuk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kedua tangannya terangkat, menjadi bantalan untuk kepalanya sendiri. “Tapi aku mau di sini.”

“Sepertinya bukan ibumu yang sering membuat orang sakit kepala,” Jiyoo berkomentar sinis.

“Yah… aku mendapatkan bakat itu darinya,” Eunhyuk mengangkat bahu. Senyum penuh kemenangan terlihat jelas di wajahnya. “Katakan padaku, apa kau sudah mengingatku?”

Alis Jiyoo bertaut. Ia belum menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Apa Eunhyuk memang sepatutnya diingat? Jiyoo tak tahu. Atau… lelaki itu berhubungan dengan mimpi-mimpinya?

“Sepertinya belum.” Lelaki itu menghela napas berat. Untuk kesekian kalinya, Jiyoo merasa bersalah padanya. “Perlu kuingatkan? Aku harus melakukan sesuatu setelah kau mengingatku.”

Jiyoo mengangkat bahu acuh. Jika memang Eunhyuk bisa membantunya mengingat, mungkin tak ada salahnya ia menggunakan kebaikan lelaki itu.

“Sebelum kau memutuskan pindah ke Amerika, kau dan Donghae berteman denganku. Kita tinggal berdekatan di Incheon. Aku anak yang baru pindah ke sana bersama ayahku.” Eunhyuk memerhatikan ekspresi wajah Jiyoo, mencoba membaca apapun yang ada di sana. “Tch… aku tidak tahu bagaimana kau bisa melupakanku.”

“Orang kadang berubah.” Jiyoo membuang wajah ke kilauan permukaan sungai Han.

“Kau bilang kau menyukaiku.”

“Aku menyukaimu…”

Jiyoo memejamkan mata. Suara itu melintasi pikirannya. Ia mengenali suaranya sendiri.

“Aku bilang aku juga menyukaimu.”

“Aku juga…”

Dengan setengah enggan, Jiyoo menoleh ke samping. Eunhyuk belum selesai menggali kenangannya. Jiyoo mulai gugup. Kabut yang menghalangi otaknya mulai tersingkap.

“Aku memberikan sebuah stroberi yang kupetik sendiri.”

“Untukmu. Aku… memetiknya saat perjalanan karya wisata kemarin.”

Kedua mata Jiyoo melebar. Kenangan itu berputar, sama seperti mimpi yang didapatnya di Amerika. Sekarang satu-satunya perbedaannya adalah adanya orang yang menjelaskan satu per satu peristiwa dalam mimpinya.

“Apa perlu kuteruskan? Sepertinya kau sudah mulai ingat,” Eunhyuk tersenyum puas. Inilah waktunya. Ia sudah menunggu sangat lama untuk menantikan saat-saat seperti ini. Jiyoo tak menjawab. Eunhyuk mendesah. “Kau… memintaku menikahimu saat kau kembali nanti.”

“Yah! Jika nanti aku kembali, kau harus menikah denganku!”

Jiyoo hendak menutup kedua telinganya. Bayangan itu masih terasa hangat. Rasanya baru terjadi kemarin. Eunhyuk benar. Bagaimana bisa ia melupakan semua hal itu?

Eunhyuk membuka pintu mobil. Ia menarik napas panjang sebelum berlari kecil ke sisi sebaliknya. Dengan tetap berusaha menenangkan debaran jantungnya, ia membukakan pintu untuk Jiyoo.

“Turunlah,” ujarnya pelan.

Untuk sesaat, kepala Jiyoo terasa kosong. Ia hanya menuruti ucapan Eunhyuk untuk keluar dari mobil. Kesadarannya seolah menghilang. Pertanyaan-pertanyaan aneh mengusik pikirannya, membuat Jiyoo merasa lelah bahkan sebelum bisa menemukan jawabannya.

“Aku menanyakan sesuatu saat itu,” ucap Eunhyuk. Senyumannya, entah bagaimana, mulai terasa familiar untuk Jiyoo. Lelaki itu mengeluarkan kotak kayu yang disimpannya sejak semalam. “Dan kurasa aku akan menanyakannya lagi sekarang.”

“Apa kau mau menikah denganku?”

“Apa kau mau menikah denganku?”

Jiyoo tertegun. Tak perlu bisa membaca pikiran untuk tahu bahwa kotak itu berisi sebuah cincin. Ia tahu semua itu akan terjadi, seperti sebuah de javu.

Eunhyuk berlutut di depannya. Untuk beberapa alasan, Jiyoo sulit bernapas. Untuk beberapa alasan, gadis itu tak bisa bergerak. Dan untuk beberapa alasan, rasanya lututnya lemas hingga ia takut akan mencair saat ini juga.

“Kau… Lee Hyukjae… Eunhyuk yang… itu?” gumaman itu terdengar konyol sekali.

Tawa Eunhyuk meledak, membahana di udara. Jiyoo merasakan angin sejuk membelai gendang telinganya. “Ada berapa Lee Hyukjae dan Eunhyuk yang kaukenal?” tanyanya. “Aku Eunhyuk dan Lee Hyukjae yang itu. Aku Eunhyuk dan Lee Hyukjae yang akan dan sedang melamarmu sekarang.”

“Eh? M-melamar?”

“Bukankah kau yang minta aku menikahimu jika kau kembali? Sekarang kau sudah di sini, di depanku. Satu-satunya yang kuinginkan adalah menepati janji kita.” Eunhyuk tersenyum puas. Rasanya semua bebannya terangkat saat ia berhasil mengatakan semua ini pada gadis itu.

Jiyoo melongo. Janji itu… tentu saja ia ingat. Setidaknya setelah Eunhyuk mengingatkannya, Jiyoo sudah ingat. Janji itu… haruskah ditepati?

“Bukankah itu hanya janji masa kecil yang konyol?”

“Menurutmu begitu?” Eunhyuk menautkan alisnya, tak bisa menyembunyikan kekecewaan.

Jiyoo menggigit bibir, mendadak merasa bersalah lagi. “Maksudku, aku… memangnya itu masih berlaku?”

“Untukku iya. Aku menunggu selama 12 tahun.”

Dua belas tahun. Itu tandanya lelaki ini menunggu sejak Jiyoo memutuskan meninggalkan Incheon. Jiyoo menelan ludah. Tak terbayangkan ada seseorang yang menunggunya selama itu.

Akal sehatnya tak berfungsi sama sekali. Jiyoo tahu seharusnya ia meluruskan semua ini. Seharusnya janji dan kenangan masa kecil hanya akan menjadi janji dan kenangan biasa. Nyatanya, Jiyoo tak bisa menyangkal apapun. Ia, dengan sangat egois, merasa senang karena ada seseorang yang menunggunya.

“Sampai kapan kau mau melihatku berlutut?”

Jiyoo terperangah. Ia buru-buru memaksa Eunhyuk berdiri. “Maaf.”

“Tidak apa-apa. Kurasa kau hanya bingung.” Eunhyuk tersenyum lagi. Senyum yang sama, batin Jiyoo. Senyuman itu mulai membuat Jiyoo nyaman. Eunhyuk kembali menawarkan benda bulat berkilau ke arah Jiyoo. “Apa kau mau menikah denganku?”

—–

Degupan jantungnya bertalu-talu. Benda malang itu bisa terlempar kapan saja jika Jiyoo tak segera menguasai diri. Jiyoo memandangi cincin berkilau itu bergantian dengan sang pemberi.

Eunhyuk menundukkan kepala. Jiyoo tak tahu apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. Sepertinya Eunhyuk tak akan bersiap untuk menerima sebuah penolakan. Duabelas tahun dan penolakan sama sekali bukan dua hal yang cocok.

Jiyoo sendiri terlalu terkejut. Banyak hal berkeliaran dalam pikirannya. Semua hal sangat mendadak. Semuanya.

Kepulangannya. Kenangan masa kecil itu. Lee Hyukjae. Lamarannya.

Rintik-rintik hujan mulai turun. Jiyoo menghalangi kepala dari air langit dengan kedua telapak tangannya. “Ayo pergi dari sini. Hujannya akan semakin–“

“Jawab aku.”

“Eh?”

Eunhyuk berbalik ke mobil dan mengeluarkan sebuah payung lipat. Lelaki itu tersenyum puas dengan persiapan yang selalu dilakukannya. Payung itu dipindahtangankan untuk Jiyoo. Sekarang tubuh Jiyoo tak basah sementara rambut Eunhyuk sudah basah seluruhnya.

“Ayolah, jangan begini,” bisik Jiyoo, mencoba menyodorkan payung untuk lelaki itu. Sia-sia. Eunhyuk sama sekali tak menginginkan payungnya. Jiyoo semakin tak tahu bagaimana menghadapi lelaki itu. “Eunhyuk, Hyukjae! Aku tidak bisa menjawabmu. Aku… aku akan melakukannya nanti. Sekarang mendekatlah! Hujannya semakin deras.”

Hujannya memang menjadi semakin deras. Tiap tetesannya seperti jarum yang menusuk tubuh Eunhyuk. Lelaki itu mendongak, menatap Jiyoo dari balik bulu matanya yang sudah basah.

“Kau butuh waktu?” tanyanya.

Jiyoo tak menjawab. Gadis itu hanya berjalan mendekat, menaungi tubuh Eunhyuk dari hujan. Eunhyuk bisa merasakan kehangatan tubuh Jiyoo.

“Kau kedinginan,” bisik Jiyoo.

“Aku akan memberimu waktu,” Eunhyuk membuka mulut. Suaranya parau. Ia menggenggam cincinnya dan kembali berlutut.

Jiyoo terkesiap. “Apa yang kaulakukan!?”

Kali ini Eunhyuk yang tak menjawab. Ia membuka ikatan tali convers Jiyoo. Convers ungu itu membungkus kaki Jiyoo yang indah. Eunhyuk tersenyum sambil memasukkan cincin ke salah satu ujung tali sepatu. Dengan cepat, ia membuat cincin itu menggantung di sepatu Jiyoo.

“Biarkan cincin itu di kakimu sampai kau bersedia menikah denganku,” Eunhyuk menepuk tangannya. “Jah! Sekarang, kau akan membawa benda itu bersamamu. Jika sekali saja kau mengeluarkan cincin itu, itu tandanya kau bersedia menikah denganku. Kau dengar, Choi Jiyoo?”

Jiyoo nyaris memaki. “Apa-apaan!? Kau sangat konyol.”

Eunhyuk tersenyum penuh kemenangan. Tawarannya serius. Jika Jiyoo melepaskan cincin itu dari ikatan tali sepatunya, Eunhyuk akan memaksa gadis itu untuk tetap menikah dengannya. Dengan begitu, Jiyoo tak akan punya pilihan lain.

“Tidakkah ini romantis? Aku melamarmu di tengah hujan,” Eunhyuk menengadahkan tangan, merasakan air langit yang dingin menyentuh kulitnya. “Ah, boleh aku memberikan satu bahan pertimbangan untukmu?”

Jiyoo menyipitkan mata. Ia harus berusaha menunjukkan ia tak peduli. Ia harus membuat lelaki itu kesal atau merasa ditolak. Ia harus…

Payung terlepas dari pegangan Jiyoo. Eunhyuk sengaja menjatuhkannya. Lelaki itu menarik Jiyoo mendekat. Satu tangannya melingkar di pinggang Jiyoo sementara tangan yang lain ditempelkan di wajah gadis itu.

Eunhyuk memejamkan mata, membiarkan suara rintik hujan menutupi debaran jantungnya dan Jiyoo. Hanya ada suara musik yang merdu saat bibirnya menyapu bibir dingin gadis itu. Rasanya lembut dan manis. Bibirnya seakan menari, memburu bibir Jiyoo hingga rasanya sesuatu akan meledak di antara mereka.

Jantung Jiyoo berhenti. Ia tak bisa merasakan benda malang itu lagi. Satu-satunya yang dirasakannya saat ini hanya sentuhan hangat di bibirnya. Tangannya menempel di dada bidang Eunhyuk. Ia bisa mendengar debaran jantung lelaki itu menggantikan debaran jantungnya yang hilang.

Suara rintik hujan belum berhenti. Ciuman itu juga belum akan berhenti dalam waktu singkat. Eunhyuk menyapukan bibirnya di atas bibir Jiyoo, menikmatinya tanpa jeda. Tangannya perlahan naik, membelai wajah Jiyoo yang basah.

Jiyoo tak bisa bernapas. Anehnya, ia tak keberatan. Napasnya adalah napas Eunhyuk, begitu pula sebaliknya. Napas mereka menjadi satu. Debaran jantung mereka saling melengkapi.

Eunhyuk memisahkan ciuman itu sesaat. Ia mengambil napas hanya sepersekian detik. Kedua tangannya masih membelai wajah Jiyoo sebelum ia kembali memberikan sentuhan dingin di bibir gadis itu dengan bibirnya sendiri. Bibirnya mendamba setiap inchi bibir Jiyoo. Tubuhnya menari di tengah hujan, menarik tubuh Jiyoo menari bersamanya.

Akal sehat… akal sehat… pergi kemana ia!? Jiyoo berusaha keras mencari celah untuk tetap berpikir jernih.

Jiyoo mendorong tubuh Eunhyuk dengan lemah. Tenaganya berasal dari sedikit akal sehat yang tersisa. Bagian tubuhnya yang lain justru sama sekali tak ingin melakukan apapun.

Bukan penolakan. Eunhyuk tak ingin mendapat penolakan. Lelaki itu tak ingin menjauh. Eunhyuk mendekat, menyentuhkan bibirnya di setiap bagian wajah Jiyoo. Kecupan ringan bergantian mendarat di pipi, hidung, kelopak mata, dan pelipis gadis itu.

Setelah Eunhyuk memberikan semua kecupan yang menyenangkan, lelaki itu kembali mencium bibir Jiyoo.

Lama.

Sangat lama.

Terlalu lama.

“Ber… henti!” Jiyoo benar-benar mendorong tubuh Eunhyuk. Gadis itu terengah. Napasnya habis. Seluruh tubuhnya basah dan air matanya tersamarkan dengan baik. “Jangan berani-beraninya kau menyentuhku lagi!”

Eunhyuk tersenyum samar. Ia menyisir rambutnya yang basah dengan jari-jarinya. “Menurutmu selalu ada lain kali ya? Baiklah. Aku setuju.”

“Antar aku pulang!” seru Jiyoo. Tangannya gemetar saat memungut payung yang terlempar di depannya. Ia membanting pintu mobil tanpa menoleh pada Eunhyuk.

Dengan enggan, Eunhyuk menyalakan mesin dan mulai melajukan audinya ke jalanan. Gedung-gedung yang semakin jarang terlihat menyadarkannya bahwa Incheon sudah dekat. Ia tak bisa membiarkan Jiyoo merasa ketakutan seperti sekarang.

“Jiyoo, aku…”

“Aku tidak akan memaafkanmu.”

Eunhyuk mendengus geli. “Kalau begitu apa perlu kita menginap malam ini?”

“Tidakkah kaupikir kau keterlaluan!? Kau melakukan hal seperti itu di… tempat umum! Pergi ke mana akal sehatmu!?” seru Jiyoo. Suaranya bergetar karena kedinginan. Ia mengerutkan kening saat Eunhyuk menepikan mobilnya di rest area. “Yah! Jangan berhenti! Aku mau pulang!”

Eunhyuk diam. Ia menarik tas yang dibawanya dari Seoul. Dengan tetap mengabaikan Jiyoo, lelaki itu mengeluarkan handuk dan sweater. “Pakai ini. Ganti bajumu di toilet. Aku akan menunggu di sini.”

“Eh?”

“Kau bisa sakit.”

Jiyoo menyambar handuk dan sweater yang disodorkan Eunhyuk. Gadis itu ragu sejenak sebelum turun dari mobil dengan payung di tangannya. Ia sama sekali tak menoleh ke belakang. Saat ini melihat Lee Hyukjae bisa membuat Jiyoo kesal.

“Bodoh, bodoh! Jiyoo bodoh!” umpatnya.

Tubuh Eunhyuk kedinginan. Ia menyalakan pemanas sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya. Ia  tersenyum puas. “Aku sudah melamarmu, Choi Jiyoo…”

===============TBC================

Hi, you guys! ^-^

Oh, how I love Hae’s character! Such a cute yet warm friend you can have. I think I have to delete my jelly feeling toward him *related wif Eunhae thingy* so I try to make him as lovable-Donghae. :3

Err… that kiss scene… I dunno. Too much romance in my head. Kkk~

New cast(s) will come along! Please anticipate. Thanks! ^-^

123 thoughts on “Marry Yoo! [2nd Step]

  1. firstkah? puji tuhan🙂
    eonnie-yaaa, nggak tau harus komen apa tapi aku melting sumpah jadi jiyoo. gimana bisa eunhyuk seromantis itu. aaaa pokoknya nggak ada penolakan sama sekali. sayang sekali eunhyuk ditolaaaaakkk..
    aku suka banget sama peran donghae di sini, sama kayak eonnie. pokoknya ff ini daebak. sukses bikin aku senyam senyum sendiri bacanya. jiyoo beruntungnya memiliki eunhyuk yang setia menantimu hampir 12 tahun itu, haduuuuuhhhh /cium eunhyuk/
    pokoknya aku tunggu karya eonnie selanjutnya. chapter 3 aku tunggu, eon.

    eon, Poo-nya eonnie datang ke INA tuh. nggak nyambut, eon u,u

    • Congrats! ^-^

      Semoga semua ff disini selalu bisa bikin kamu senyum2 sendiri yaa.😉
      Makasihh syuda baca sayaang~ ^-^
      Gak nyambut deh, cukup menyertai dengan doa aja. xD

  2. mbaca ini..aye senyam – senyum sendiri shel..
    Nginget Poo a ka Lee hyukjae ada diINA.
    Nice story,ayo diteruskan..cepat-cepat..sudah tidak sabar menanti saya…:D

  3. Kyaaa Kereen badaii…
    Senyum tak pernah hilang dari bibirku sejak bibir Hyuk nempel di bibir jiyoo #DASAR
    Romantis deh pokoknya, Ngelamar Jiyoo pas lagi hujan-hujan. Oh Ya tuhan jagan sampai aku mimpi Hyuk kaya gitu sama aku -________-“
    Mereka nikahnya kapan kak shel? Udah gak sabarrr🙂 hahaha

    • Dimimpiin juga gak papa loooohh~ xD
      FF ini buat dijadiin bahan mimpi para reader. Kali aja nanti jadi berdebar2 sendiri. xDD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

    • huaaa idk what i’ve to say…melting sndri bcanya..
      hyukkie romantis bnget dahh eonn :*🙂
      keren yahh dilamar di tngah” hujan kyk gtu dan diselingi dgn deep kiss yg sumpah bkin envyyyyyy,,jd kepengen hehe😀
      ada new cast ?? huaa cwe kah?? ato si titisan epil *kyu* ato yg laen ato ato…/kebanyakan ato/ hehe
      d tnggu konflik *?* slnjutnya😀

      • *anggukangguk*
        kepingin juga kissing in the rain, tapi pas sepi ajah, ama hyukjae juga. xD
        Kyu? KYU? BIG NOOOOOO~~~ Saya syuda cukup menderita gara2 dia.. ;~;
        Makasihh syuda baca yaaa.. ^-^

  4. Hmmm, aku udh komen kan ya di sms?? Perlu komen lg kah?? /plak xD
    eciyeeeeeeeeehhh…. Prikitiuuuuuuw… Sok jual mahal, gak mau diajak ke rmh hyukjae, pdhl dlm hati kebat kebit pengen bgt bgt.. Lol~ xD
    sok2 gak mau dicium pdhl pengen nambah, mlh klo bs ga berenti tuuuuuh… Hahahahahha~
    aiiiiiih, bullied sister ku udh gede, udh dicium hyukjae (di ff) xD
    oia, mw ngingetn, siap2 aja ya boa hyuk di smtown, kali aja dituker gr2 byk yg request.. *ngajak berantem* xD
    asli msh pengen ngakak baca sms mu yg ini, “SIAPA YG MINTA GANTI??” sama “jgn alihkan pembicaraan”… Lol~ xD such a jealous yoo… #foreverteasingyoo

    • HEEEEEIIII~ Gak boleh membocorkan isi sms ituuu.. -__-
      Kare mah gitu, suka teasing2 akyuuu.. :’3
      Makasihh syuda baca yaa, Kare yang suaranya imut banget. xD

      • tp udh terlanjur bocor, gmn dong?? hahahhaa…. :p *oops* xD
        ms km lupa, itu ada di my rules book.. peraturan no.1, teasing shela… it’s a must thing to do looooh… kkk~ xD
        yesseu.. sama2 dedek shela yg suaranya medhok, yg gak rela teleponannya hrs udahan.. lol~ xD

  5. hmmm Yoo…
    1
    2
    3
    aaaaaa~ joged bonamana like it
    dari kemaren ada tokoh baru siapa?? jangan bilang klo itu cewek trus suka sama Hyuk -___- klo ama hae sih ga papa…
    berharap klo new cast nya itu cowo… Minhyuk atau jidi atau daehyun atau dek jelo??? hihiiii

  6. tuhkan untuk ketiga kalinya pas banget aku bukanya:/ masyaAllah kak, ini unyu sekalihhhhhh ㅠㅠ kenapa jiyoo ga sadar? kenapa pas jiyoo inget ga langsung nerima aja? kasian hyukjae, tp salah dia juga sih(?) aku suka kiss scene nya, eunhyuk nya napsu jiyoo nya malu tapi mau gitu awwww :3 udah terima aja jiyoo-nim! sudah deh, aku cuma mau bilang….kak shela!!! gomabseumnida~ bisa jadi pengalih perhatian dari smtown sebentar, tadi aku ke gbk loh/curhat/ denger rapnya eunhyuk dong *pamer* kak shela fighting!

    • SELAMAAAAATT~ xD
      Ini sengaja dipost pas SMT kok. Lumayan, penghalau galau. ;~;
      Ciyeee~ asik tuh ke GBK. Enpiii deehh.. :’3
      Fighting! Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  7. setres sendiri baca part ini???kenapa bisa yoo lupa ma hyuk???*garuk aspal*,owh,kakak ma eomanya hyu udah tau kalo hyuk gila ma yoo ya onn???’?gila bayangin rumahnx bkn melting.dan apa it????knp bisa seromantis it tu monyet?*envy*,aku suka pas hyuk cium semua bagian d wajah trus pas ujan,romantis bgt.

    cuma berharap yg jd penghalangnya jangan donge,miris klw dia,solmate bo!!!

    • Donghae aman terkendali. Jangan khawatir. No problemo. xD
      Satu yang bisa dipastikan, Hae gak bakal jadi orang ketiga. Gak ada YooHae apalagi EunHae. xDD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  8. Ini Poo yg sama dgn “sesuatu” yg berbeda yaaa???
    “̮ wk°wk (′▽`) wk°wk “̮
    *apa kalii

    Seneng bgt begitu buka ini blog, udh dipost lanjutannya…
    Kalimat2nya makin asoooy nih..O(≧∇≦)O
    Waitin’ for the next chapt!!

  9. Aigoo mulai ada rasa rasakah jiyoo ke eunhyuk? Kkk dilamar dibawah hujan? Aaaaa envy sama jiyoo, mana habis itu kissing (super) lama lagi,aduh buruan nikah deh jihyuk, gasabar nungguin cerita pas mereka udah punya anak😄 ayoo part berikutnya ditunggu lho eon. Fighting eon
    Ps: semoga hyuk gak sakit gara gara kedinginan :b

  10. ayolahh YOO, terimaaaa!!kasian atuh akang hyuknya!!🙂
    euhyuk yg disini unik banget, lucu sekaligus sweet!!! saya suka, saya suka.
    terus, lee donghae disini setia kawan banget eonni,,,

    lanjuttt….di tunggu part selanjutnya eonni. ^^

  11. aaaaaa sumpaaaaah sy mw neriakin Lee Hyukjae!! Ampun dah! Itu adegan ngelamarnya keyen sumpah… Dan demen bgt adegan deep kiss aw aw aw
    Hyukjae ya
    Dan akhrnya yoo inget ama eunhyuk…

    Dan donghae ksh cwe kek itu laki2 sbaik gtu syg dianggurin *?*
    Wkwkwkwkwk

    • Hahahaha~~~ xD Lagi suka bikin kiss scene nih *eh? xD
      Hae emang cocok dianggurin, dibikin jeles ama jihyuk. Aaahh… bahagianyaa. xDD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  12. Baru brkunjung lg ke blog ini, trnyata udah ada FF baru. Wah itu Eunhyuk nekat jg ya? Hahaha. Dan Yoo seolah tak mampu menolak. :p
    Btw itu Hae msh belum nemu pasangan? Tenang saya bersedia kok. Park Jae Mi disini. *eh ga ada yang nanya jg
    Anw hwaiting!

  13. Suka banget sama jalan ceritanya , walopun si hyukjae terkesan egois dan mentingin diri sendiri , tapi yg namanya cinta selalu ada kata egois buat mendaptkannya .
    Kissing scane ? So hot !! Ciuman itu menggambarkan banyak hal tentang perasaan hyuk ke jiyoo .
    Kirain pas udah dicium si jiyoo bakal nerima , eh ternyata malah nolak .

  14. yoo’a lucu dr awal napa ga nolak dengan tegas aja.ko bisa”a dia mau di suruh hae sama hyuk wat ngikutin mau’a hyuk(O.on nich#plakkk.

    skinship di bawah guyuran hujan’a,sweet banget.jadi pengen#Tarik hae(hae:ngarep bngt si loe gwmah ogah,me: TT.TT)

    next part please^^

  15. Demi apapun choi jiyoo aku sampe diliatin orang2 do kereta gara2 senyum2 sendiri baca ini ><
    Hyukjae!!! Kenapa manis banget asdfghjkl hadoh aku melting… Semacam jelly yg dipanasin, aku lumer gitu aja baca ini. lumer maksimal!!!
    Ah~ tapi aku mau diterima apa engga ama jiyoo terserah yoo aja. kalo diterima aku bahagia.. kalo gak langsung diterima juga bukan ide yg buruk. Artinya akan ada masa2 galau. asik. *hobi galau*
    toh pada akhirnya, jiyoo is belong to hyukjae, like always.. jihyuk jjang!!!! \^^/

    • :’)
      Syuka deh ama komen ini. Lumer kaya jeli yang dipanasin. Aiiihh~ Melting banget ya kayanya? xD
      Galau galau… iya juga ya. *catet. xD
      Makasihh syuda baca kakak~ :’* ^-^

  16. Uuuuh ketinggalan bgt -_-
    Jadi kenapa yoo bisa lupa sama eunhyuk ???
    Ngelamar di tengah hujan pinggir sungai han tambah kisseu kuran apa lagi yaa wkkwwk
    Daaaan aku suka karakter donghae nya tapi dia ga akan suka sama yoo kaann ?!!!
    Oke ditunggu selanjutnya beserta new cast nya😀

    • Jadi, Jiyoo itu kaya pingin ngelupain semua hal tentang masa kecilnya. Kan gak ngenakin tuh ortu gak peduli ama dia, adiknya meninggal. Yang diinget cuma donghae ama ibunya. Hehe~
      Donghae…. gak deh. Jiyoo gak minat ama Hae. xD
      Makasihh syuda bacaa~ ^-^

  17. akhirnya jiyoo inget jg stlh d’ingetkan oleh yang d’lupakan,.. ‘ap cba’
    abang ikan, emang temen yg baik,..
    ckckckc,..
    pas jiyoo t’tidur, tak pikir bakal gendong jiyoo k’kmr al bridal style gitu eh ternyata lee hyukjae malah ikutan tidur d’karpet sblh jiyoo,..
    ya ampun so sweetny lee hyukjae,..🙂
    kissing in the rain,.. >_<
    hahahaha,..
    wah puas 2h lee hyukjae kissing dgn jiyoo,..
    haha,..

    ok, d'tunggu lanjutanny,..
    fighting,..🙂

  18. wow..
    great n nice fiction..
    hanyut dech hanyut..

    eunhyuk maniz n lembut..
    akhrnya jiyoo inget jg ma eunhyuk..
    *keprokkeprok*
    wlwpun kisseu g sdar tp yoo mnikmati..
    wkwkwk

    g suka bsa ajah..
    tp yoo ttp punya hyuk ya!
    hahahaha
    nunggu jihyuk moment lbh byk..
    *pdahal ud byk*
    #plak

  19. aw…aw…aw…..they kiss again neh critanya hohoho..
    lebih lama lg dri yg sebelumnya..
    ini siapa yg salah, hyuk or jiyoo?? hahhaha

    sukaaaaaaaaaaaaaaa hyuk bgt disini..
    ayo shel, cariin kakak suami kek hyuk hahahahhaah *stres karna ga puas liat hyuk di SMtown*

  20. gyaaaaaaaa~ demi apaaaaa hyuk soswit bangeeet *sobs*
    tapi masih misteri itu gimana bisa yoo lupa sama hyuk dan cuman keingetan di mimpi doaaang *muter otak*
    saya baru baca 2-2nya skrg sekaligus , jd boleh komen duaduanya disini yaa digabuung😀
    entah kenapa suka sama karakter hae ..
    kaya penjaga transparan (?) gituuu :3
    syukaaa~ kenapa ga segitiga sama kyu lagi shel ? #eh hahaha
    ayooo hyuk hwaitiiing~~ !!😀

  21. ciyeeciyeee..yoo udah mulai inget tuh hyuk,harus syukuran nihh*tabok*

    kyaaaaa,.hoho sukaaaaa ba.nget ama karakter hyuk d sini,klo ada namja kyk hyuk gini langsung aku ajar ke KUA dahh,trus umpetin di kamar biar ga d rebut orang.gyahahaha*ketawaevil*

    jadi eonni ama eommanya hyuk udah tau ya sypa yoo.keke udah dapet restu nih,trus kyknya hae juga dengan senang hati lempar yoo ke hyuk*d injek yoo eonni*

    aisshh jinjja..makin kesemsem ama tulisan eonni..dan part ini tuh bener2 romantis+sikap hyuk yg otoriter gitu bikin aku makin suka..
    kyaaaa yoo eonni saranghae~*peluk+cium paksa yoo eonni*

    gara2 baca ff eonn aku jadi sering2 lirik hyuk nih..
    kyknya hyuk bakal masuk list selingkuhan aku eonn*d tendang yeye*

  22. Sumpah, itu adegan pas hujan2an so romantiiiiccc.
    Dilamar Hyukjae oppa, ga usah nunggu lama saya pasti langsung terima.
    Donghae karakter, jadi penasaran dengannya??

  23. Eerr. . kiss scene nya bner2 so sweet bgt. .
    n aq sssuuukkkaaaa. . bgt sma karakter hyuk d sni. .
    ayo dong lgsg nikah za *maksa*
    eh, aq pling suka adegan masukin cincin ke tali sepatu yoo itu lho. .seandainya ada yg ngelamar aq pke cra kyk gtu. . *ngayal*

  24. Hot.. Hot.. Hot.. *kipasan*
    ternyata Poo klo ciuman bisa sehot itu yaaa…Lama pula.. eh terlalu lama.. hhehe😛
    Donghae bener” pngertian bgt ma Hyuk..
    Bener” berasa sohib bgt dsini (?)
    I love his character pokoknya❤
    New cast nya siapa??
    seseorang yg suka sama Hyuk kah??
    Atau ………

  25. aku… aku… mau ngacuuuuung (?) *v* ada yang sedikit bikin otak aq joget disko (?) hihihi
    ini kan pas bagian donghae bilang :::: “Jiyoo akan tinggal di rumahku sementara waktu, Hyuk,” ujar Donghae.
    nah tapi pas kalimat berikutnya, hae malah bilang ke jiyoo ::: Donghae tersenyum puas. “Ke rumah Eunhyuk bersama Eunhyuk.”

    jadi sebenernya yoo itu disuruh ke rumah donghae apa ke rumah hyukjae? @,@ *tolong maklumi kedudulan saia yang diatas rata2* hahahah
    lanjut lagi……
    tapi kan klo ke rumah hae, kenapa pas JiHyukHae nyampe di depan rumah donghae, Jiyoo ga disuruh turun dan malah diajak ke rumah eunhyuk? dan pas nyampe rumah eunhyuk, yoo mau dianterin lagi ke rumah hae? apa rumah donghae lebih dari satu apa gimana? *goyang gergaji* (?) aq baca bagian2 itu ampe berkali2 dan belum nemuin jawabannya T^T *ngesooot~

    oke, pertanyaan itu ga penting sih. super duper ga penting banget sekali malah (?) hehehehhe tapi berhubung aq ini tipe manusia kepo tingkat tinggi yang dianugerahi kedudulan di atas rata2 *bangga* makanya aq ngacung dulu daripada otak aq ga bisa berenti goyang2… wkwkwkw

    nah lanjut ke ceritanya… *udh sepanjang ini masih berlanjut?* *piiiss*
    DEMI APA AKU PENGEN PINGSAN GULING2 GELAYUTAN LOMPAT TINGGI TERJUN BEBAS pas liat adegan lamaran dan disusul sama kissing scene-nya JiHyuk? ;________; huaaaaaaaa itu keyeeeen bangeeeet sumfeeeh! mana di tengah hujan pula. huhuhu *peluk yoseob* *ajak ujan2an* (?) #abaikan

    daaaaan aq mau bilang lagi kalau aq suka banget karakter LHJ disini :3 aaaaaaah so sweet. jadi pengen ngemut JiHyuk kan klo udah baca yang kayak gini. muehehehe

    aq penasaran, ini kan jiyoo udah mulai inget tuh ya, bisa dong langsung digiring ke KUA terdekat (?) *excited*😄

    • Ehem… *ngetes mic ceritanya*
      Jadi gini kak, jiyoo kan nyampe di Incheon, dia bakal tinggal ama hae plus ibunya di sana. Nah, hyukjae itu pingin Jiyoo ke rumahnya yang di Seoul dg alasan ada barang yg ketinggalan dan pingin dikasih ke jiyoo pdhl gak ada barang apapun yg ketinggalan. Intinya sih hyukjae pingin lebih lama ama jiyoo, pingin rumahnya jadi tempat pertama yang dijejakin (?) jiyoo. Di bagian jiyoo ketiduran kan dia minta dipulangin ke rumah hae di incheon tuh. Begitchu kira-kira.
      Mudah-mudahan penjelasan itu bisa membantu mengurangi kadar kekepoan kakak. xD

      HAHAHA! Aku pas bikinnya juga mupeng tingkat tinggi.. Kebayang gitu yah ujan2an, dilamar, dicium pula… x’D
      emut, emut ajah kamii… kalo itu bisa bikin kakak bahagia….. :’
      Makasihh syuda bacaa kakak~ Syuka deh ama komennya yang panjang.. ;~; ^-^

  26. Unni.. (aku panggil unni aja ya, karena ternyata aku lebih muda 6 bulan :p)
    ahh, hyukjae.. jadi makin cinta.. ahhh *pukul manja*
    hyukjae romantis banget! kya kya kya >.<
    ngga tau mau komen apa nih, mau lanjut baca part selanjutnya aja😀

  27. annyeong😀
    New reader here ~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~
    Salam kenaaalll…
    Kamu mau aku komen apaaa???
    Aku udh kehabisan kata2 soalnya…
    ga ada kata lain selain LUMER plus DAEBAK!!!
    Kamu udh sukses bikin aku lumerrr tanpa kekenyalan ….
    Itu kissing in the rain bener2 so sweeettt abiiisss…
    udh! Ga sanggup komen lagi, mau ngelanjutin kelumeran di next part.
    Sekian.
    ~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~

  28. Hyukjaeeeee disini dominan banget tapi sifanya… ohemjiii bikin melting bange apalagi itu pas dilamar ditengah ujal dan ada… kisseu lagi huahahahahaha kalo aku jadi jiyoo udah langsung lemes ditempat diperlakukan seperti itu :»

  29. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa//////
    hyukjae bisa – bisanya …
    kalo aja beneran ada pria semacam dia yaaaah xDDD
    waduh itu kisseu kisseu bikin pengen aja *digeplak*
    masa iya sih yoo ga inget sama sekali sama hyukjae, kasihan sekali yaaaaah *poorhyukjae* kekeke
    supportshe yuuuuu. hahaha

  30. kyaaa nglamarnya sesuatu banget >///<
    eunhyuk oppa kenapa nasibmu menyedihkan sekali disini </3
    suka banget sama karakter eunhyuk ///<

    lanjut part 3 \(^o^)/

  31. aaah, romantis banget….
    kissing scene, hujan2an lg… impian unnie banget, hahahaha
    buru2 k part selanjut’y….😀

  32. Akhhh hyuukkkk sungguh romantis bangeett.. Ada kah lelaki seperti hyuk? 12 tahun menunggu terus dikecewakan krna dilupakan tapi tetap menunggu aaaaaaaa sumpah ini bagus bangeetttt🙂

  33. ehem, just ask, katanya pancake menggairahkan, tapi kenapa jiyoo cuma nyicipin sausnya? sini deh buat aku aja😄 kaya donghae dong, menikmati makanan. gehehe~

    “Jiyoo akan tinggal di rumahku sementara waktu, Hyuk,” “Jadi, kau tahu kemana harus mengantarnya pulang, kan?”“Ke rumah Eunhyuk bersama Eunhyuk.” awalnya saya ga ngerti maksud kalimat2 donghae diatas, tapi semakin kebawah baru ngeh, aah, mampir ternyata~

    kyaa~ adegan eunhyuk yg menyela biar dia aja yg motong pancakenya ituh, paporit deh paporit, singkat tapi ngena banget! oh my, sukses bikin senyum2 sendiri, iih, my hyuk, garela banget jiyoo sama orang..

    ““Kurasa kau kesal,” ujarnya.Jiyoo mendengus pelan. Tatapan tajamnya menghujam Eunhyuk dari belakang. Jika memang sudah kelihatan, kenapa masih bertanya?”.. eung, well, saya rasa eunhyuk ga nanya deh, disitu juga ditulis dia berujar.. choi jiyoo, sangking keselnya jadi gitu yaa😄

    ““Kita tidak akan kemana-mana sebelum kau memaafkanku,” ucap Eunhyuk. Nada suaranya solid. Dan jika benar, Jiyoo harus rela berada di mobil dan tempat ini selama berjam-jam.” eem, disini eonni ga bilang mobilnya berhenti? yah, kalimat di akhir paragraf ini dan paragraf2 selanjutnya udah jelasin sih, walaupun gaya penulisan setiap org berbeda2, tapi menurut aku, ceritanya bakalan terasa lebih mengalir kalo hal2 kecil kaya gitu ditambahkan.

    OMO!! perfect hyuk! sanget berkharisma dgn pertanyaan menyebalkan! iya kaliya, beneran bercita2 jdi reporter.. karakternya sukses bikin yang baca klepek2.. dan itu demi apa tingkahnya sangat menyebalkan sekaligus menggemaskan😄.. eonni jjang!! padahal aku yakin(walaupun aku g prnh bkin ff, baca punya org ajah) buat beberapa orang, karakter kaya gini susah dituangkan dalam tulisan, banyak yg gagal.. aigoo, anda malah menyajikannnya dengan sempurna. yang baca jadi bisa ikut merasakan kesel dan panas merona kaya jiyoo.. JJANG JJANG JJANG!!! ♥♥♥♥~

    aku mau cerita dikit deh.. waktu eunhyuk bilang dia direktur unihealth, sejujurnya saya juga terdiam, berpikir, bengong. diotak berseliweran beberapa kemungkinan, tapi begitu eunhyuk bilang “Jangan berpikir terlalu keras. Semuanya akan jelas sebentar lagi.” im just ‘oh, okay, arraseo hyuk! i listen to you’ gehhehhe😄 aku padamu deh hyuk~

    Conversation is very simple, why is my heartbeat so abnormal (demambreakdown).. aaah! melting nih melting.. so romantic, so sweet.. “kau harus duduk””aku bisa jalan sendiri.””tidak” gyaaaa~ eomma~😄 i love hyukjae and jiyoo~ ini juga bikin melting “setelah aku memastikan kau makan sesuatu.” how can you make that sentence?? daebak eonni~yaa! thumbs up!

    eem, tempat pertama yg dijejaki jiyoo saat tiba di seoul bukannya airport ya?*readersarapbanyaknanya* aah, abaikan eon -_-. ehem, aku cuma bisa speechless baca part dimana eunhyuk senyum kecil dan senyum pahit itu.. senyumannya terasa pas sama ceritanya.. trus yg bilang terimakasih buat donghae, aih, manisnya lee hyukjaekuu~😄 trus ituh mimpinya juga datang lagi, cuma kata2 yg diulang 3 kali, tapi hebatnya, ngena banget dikepala dan hati..

    “Aku tidak keberatan kalau aku harus tidur di sini.””tapi aku keberatan.” eeng, saya sedikit bingung, eunhyuk keberatan, tapi kenapa tetep bawa jiyoo ke kamar tamu? bukankah seharusnya dia engga keberatan? jiyoo menginap loh lee hyuk jae! aah, setelahnya saya baru mengerti, ternyata eunhyuk keberatan kalo jiyoo tidur di sofa. hihihi, matanya pake berbinar lagi waku jiyoo blg mau nginap😄 sebelumnnya eunhyuk juga maksa jiyoo makan, trus kenapa ditinggal makanannya? capek maksa kali yaa-_-

    tsaah, banyak skinship!! johaaa!! kkk~
    ‘Dengan senyuman jenaka, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.’ ini juga, saya berulang kali membayangkannya. hehhe, glad hyuk.. dan pagi hari di meja makan itu, lucu banget. saya jadi ngepens deh sama emaknya eunhyuk.. kkk~
    saya suka part ketika hyuk jelasin masa lalu mereka, dan jiyoo yg mulai mengingat.. iih, ampun deh, jantung saya lompat lompat excited! part ini juga paporit..😄

    gyaah, kasihan banget eunhyuk disini TT~TT awalnya aku bisa menghela napas lega, tapi ketika jiyoo minta waktu, hikseu, hyukkieya~ sabarlah, ga lama lagi kok. eeng, itu kisseunya panjang bangeeeeee~t. disitu tertulis kisseunya sangat lama, eh terlalu lama. aah, kalo kisseu sama hyuk, gaada yg namanya terlalu lama bagi aku, yg ada ituh kurang lama. nyehehe *smirk*..
    ‘Tubuhnya menari di tengah hujan, menarik tubuh Jiyoo menari bersamanya.’ ayo dance maxstep hyukkieyaa~ ehehehe..aiyaaah, hujan2, dilamar, dicium, lihat eunhyuk yang basah2, gyaah, aku mau jadi jiyoo T_T..

    ‘Ia menyisir rambutnya yang basah dengan jari-jarinya.’ yg ini saya juga membayangkannya berkali2.. hot hyukkie, nyehehehe😄
    ‘Ia menyalakan pemanas sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya. Ia tersenyum puas.’ yg ini jugaa~ ff ini sukses membuat saya banyak berimajinasi.. plokplokplok!
    haa, ikut seneng deh, akhirnya jiyoo berhasil dilamar.. hihhi, fighting buat part 9nya, yaa~

    • OMG~ Ini komen cantik banget ya Tuhan! ;~;
      Buat hal2 kecil itu, makasih banyak sudah diingetin. Yang masalah mobil itu kayanya sudah ditulis kalo hyuk menepikan mobilnya, bukan sih? *balik nanya. author pikun*
      Buat yg lain2nya, akan saya catat. Makasih yaa~ ^-^

  34. Gak berhenti senyum sendiri baca ini dari tadi >,<
    Hyuk romantisnya kelewataaaaaan xD tapi sekali lagi, sayang sekali Hyuk di tolak -,-
    Ceritanya itu unyu-unyu banget deh, thor😀
    Lanjuuuuut ke next part!😉

  35. annyeong.. aku readers baru disini. mian baru bisa nyapa dan comment skrg.
    aku suka sama ceritanya… 12 tahun menanti cinta di masa keciL.. itu jrg sekali terjadi… biasku Donghae yg kbtlan ambiL peran di ff ini.. wahhhh jadi semangat bacanya walaupun bkn hae oppa yg jadi cast utamanya… minimal pasangan couple‘y yg bakaLan eksis disini.

    penasaran ma kelanjutannya.. SO… kajja…!!

    *mian.. kalo aku ga bs comment di setiap part‘y.. soalnya oL pake HP jd kdg koneksi kaya siputtttt* hehehehe

  36. romantis bgt cara hyukjae ngelamar jiyoo. Di tengah hujan, uwaa… Melting aku dibuatnya.

    Hehe baru pernah baca scene cincin diikatkan di tali sepatu.

    Next…

  37. Astagaaaaaaa~
    tidak bisakah Lee Hyuk Jae tidak seromantis itu?! dan itu adegan kisseu ditengah hujan, MELTING Z.
    Benar-benar Z suka alur dan permainan (?) kata-katanya.

  38. ampun deh….

    critanxa ngena bnget…feelnya dpet bnget.
    pkoknya rugi deh jiyoo klau smpai nolak tuh eunhyuk..
    eunhyuk oppa.. kmu bner2 romantis skaligus sdikit egois. tpi ak ttap ska kraktermu..

  39. kyaaaaaaaa itu beneran lee hyujae????
    curang tuu taroknya disepatuu brarti kgak bisa nolak dong kkkk~

  40. annyeong~ hehe maaf baru memperkenalkan diri ^^ dipart1 aku udah sembarangan komen ;D salam kenal untuk author yg kece *lol
    parrraaahhhhhh~ kiss scene paling luar biasa >< romantis banget ya ampun! ahh hyukjae~ errrhhhh… author well done😀

  41. itu hyukjae lamarannya sambil maksa.. hihihi..
    romantisnya kisseu ditengah hujan, tapi malu juga karena kisseu di tempat umum.. kkkkk..😄

  42. huahhhh aku gak tau harus komen apa pokonya daebak hyuk manis banget sihhhh mau dong aku jadi jiyoonya dituggu sama cowo selama 12tahun itu keren banget kesetiaannya

  43. Eonnnnniiiiiiii Ɣå媪 اَللّهُ sumpahhh kerennnnnnnnn bgtttttttttt,,, bner2 kerennnnnnnnnnnnn rennnn rennn rennnnnn,,, huhhhhhh nyesel knapa gk dri dlu aku ngebuka blog ini,, (╯︵╰,)

    Daebakkkkk eonni sumpahhh daebakkkkkk ,, kernnn pkoknya susah di jelasin lwa kata2,, haduhhhhh eonnniii ini tuh bner2 kerennnnn,,,
    Aku mw lnjut bca dlu Ɣå媪 eonnii,, papai ˆ⌣ˆ

  44. Aduh min..
    Adegan lamarannya romantis banget, jadi IRI deh
    Apalagi eunhyuk setia menunggu yoo Dan menepati janjinya untuk menikahinya

    Eunhyuk adalah salah satu daebakq
    Baca ff ini semakin suka eunhyuk…

  45. Omg lee hyukjae such romantic.. Dilamar di tengah hujan terus dapet kiss.. Ulala~ aku suka ide lamaran.a itu sumpah romantis banget.. Trus cincin.a itu di taruh di tali sepatu convers, jiyoo ga boleh dilepas.. Jiyoo bakalan nyesel deh klo nolak hyuk.. Donghae bestfriend impianku.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s