Sebuah Kisah

Time goes by, but I’m still here…

I can’t move. I can’t walk. I’m being a stone…

I ran to you but still not near yet close…

========================

Apa yang diinginkannya?

Seharusnya tiap orang tahu apa yang diinginkannya. Seharusnya tiap orang punya masing-masing jawabannya sendiri. Seharusnya tiap orang bisa menjawab pertanyaan itu.

Hidupnya terbentuk dari warna abu-abu. Tak ada hitam-putih dan benar-salah dalam harinya. Rasanya semua hal tak pernah benar-benar jelas untuknya.

“Apa yang kaulakukan?” tanya lelaki yang sejak tadi memerhatikannya.

Ia terpaksa mendongak. Pikirannya buyar, harus dilenyapkan sementara. Wajah lelaki itu sangat familiar. Ia mengenali setiap lekuk wajah itu sebaik pemiliknya sendiri.

“Apa kaupikir pilihanku ini tepat?” salah satu pertanyaan yang melayang-layang di kepalanya terlontar begitu saja. Seringan bulu, semudah bernapas. Mungkin ia tak menyadarinya, tapi semua hal terasa jauh lebih mudah dan ringan jika lelaki itu ada di dekatnya.

Lelaki itu berdecak. Ia merasa bosan mendengar pertanyaan yang selalu sama, entah untuk keberapa kalinya. Mungkin saja lelaki itu akan mendengarnya lagi di kali lainnya. Dan akan terus begitu.

“Apa menurutmu pilihanmu ini salah?” tandasnya.

Ia merenung, berpikir untuk mencari jawabannya. “Aku tidak tahu.”

“Kalau begitu, biarkan tetap begitu,” lelaki itu menyahut ringan. “Semua hal lebih berkesan jika kau tidak tahu akhirnya, alasan di baliknya, dan segala hal yang berhubungan dengan hal itu. Kau akan lebih bisa menghargainya jika kau tidak tahu.”

Sekali lagi ia termenung. Rasa tak yakinnya sama sekali tak menghilang. Perasaan itu justru harus ada untuk membuatnya lebih bersemangat menentukan hasil akhir miliknya sendiri. Mungkin.

“Sepertinya begitu.”

Lelaki itu mendengus, setengah melengos. Senyumnya merekah. “Memang begitu.”

Kisahnya mungkin hanya berupa tulisan dengan tinta hitam, bukan emas. Sampulnya mungkin hanya diwarnai abu-abu kusam, bukan perak sempurna. Pena yang mencoba menuliskan kisahnya mungkin juga bukan pena mahal.

Namun, bagaimana pun, kisahnya akan tetap berlangsung. Kalimat demi kalimat akan digoreskan menjadi rangkaian kisahnya. Seiring waktu, kisah itu akan semakin mendekati akhir. Kisah itu pasti akan berakhir.

Satu hal yang ingin dipastikannya, bahwa kisah itu akan menjadi teman perjalanannya, pengingatnya akan kesalahan tulis yang pernah dilakukannya di lembar-lembar sebelumnya. Agar ia tak lagi salah menuliskan kisah lanjutannya.

Tak ada pilihan yang salah.

Yang salah adalah jika tak berani membuat pilihan dan membuat pilihan itu menjadi hal paling tepat yang pernah dilakukan. Resiko pasti akan ada. Mungkin penyesalan pun akan ikut timbul.

Lalu apa?

Ia sudah menggunakan hak pilihnya. Ia tak ingin dan tak boleh menyesalinya. Tidak sekarang. Tidak saat kisahnya sudah terlanjur ditulis.

Mungkin ia hanya harus melanjutkan kisahnya. Merangkainya menjadi kisah yang pantas untuk dibanggakan olehnya. Membuat kisah yang bisa dikenang dan dijadikan pelajaran untuknya.

Saat kisah ini selesai, ia akan membuat seluruh dunia tahu.

Bahwa ia bisa mengubah abu-abu dunianya menjadi warna-warni yang menyejukkan mata. Dan ia akan berbangga karena itu.

===========================

Sowry~ absurd one. ^-^;

10 thoughts on “Sebuah Kisah

  1. Aku suka bagian “(Apa yang diinginkannya?

    Seharusnya tiap orang tahu apa yang diinginkannya. Seharusnya tiap orang punya masing-masing jawabannya sendiri. Seharusnya tiap orang bisa menjawab pertanyaan itu.)”
    MAsih melandaku juga..jadi kena banget kisahnya..
    Fighting shella-ya…^^

  2. “Semua hal lebih berkesan jika kau tidak tahu akhirnya, alasan di baliknya, dan segala hal yang berhubungan dengan hal itu. Kau akan lebih bisa menghargainya jika kau tidak tahu.”

    Lagi bingung menentukan pilihan ya eon?
    udah pilih saja hyuk (?)

  3. aa~ mampir disini dulu deeh..
    yg eonni angkat jadi pembahasan dicerita ini tuh, hampir dialami semua org yaa.. aku sering banget bingung sama segala keputusan yg aku buat.. bener ato engga sih yg aku buat, karena juga terkadang, yg menurut kita bener, dimata org salah, kalo udh gitu, kita bisa apa coba?
    eem, aku pikir yg eonni bilang bener juga. “Tak ada pilihan yang salah. Yang salah adalah jika tak berani membuat pilihan dan membuat pilihan itu menjadi hal paling tepat yang pernah dilakukan. Resiko pasti akan ada. Mungkin penyesalan pun akan ikut timbul.” yaah, semua hal pasti punya resiko kan? seharusnya juga aku lebih berani buat keputusan. life must go on, rite? seiring berjalannya waktu, makin banyak keputusan yg harus kita buat.
    eonni udh terlanjur nulis, trus apa? ada yg ga suka sama tulisan eonni? trus kenapa? nulis aja terus, dari yg ga suka, pasti ada yg suka kan? aku suka banget sama tulisan eonni, pasti juga banyak yg lainnya kok!
    aah, aku terlalu banyak cuap2, padahal ga tau masalahnya apa.. ini juga postingan yg udh lama, seharusnya aku ga usah banyak bicara kan? aku tau kalo eonni pasti bisa ngatesin semuanya.. hehhe:)
    teruslah berkarya eonni, biar semakin banyak yg bisa dikenang dan dijadikan pelajaran dari tulisan2 eonni..
    fighting eonni~ya!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s