Marry Yoo! [1st Step]

[1] The Memories

“Apa kau mau menikah denganku?”

Los Angeles – California, USA

Choi Jiyoo terbangun. Napasnya tersengal, paru-parunya seolah mengecil. Detak jantungnya tak terkontrol hingga ia harus menempelkan telapak tangan di dada kirinya. Gadis itu merutuk dalam hati. Mimpi sialan!

Suara yang menggema di mimpinya begitu nyata. Bahkan rasanya mimpi itu selalu mengikutinya. Ada apa dengannya?

Belum sempat Jiyoo memikirkan jawabannya, ponselnya berdering nyaring. Jiyoo menggerutu. Ponsel itu berdering terlalu nyaring untuk seseorang yang baru saja terbangun seperti dirinya.

Hello?”

“Angela Choi!” sahut seseorang di ujung telepon. Jiyoo mengernyitkan alis. Ia mendadak menyesal karena tak melihat caller ID di layar ponsel. “Sedang apa kau?” tanya orang itu dalam bahasa Korea.

Jiyoo menyibakkan selimutnya. Dengan enggan, ia beranjak meninggalkan ranjang dan membuka tirai. Jiyoo buru-buru mengangkat sebelah tangannya yang tak memegang ponsel untuk menghalangi sinar matahari yang menyilaukan.

“Aku sedang menyesali diri,” sebelum orang di ujung telepon menyahut, Jiyoo mendahului, “Karena aku sudah bertindak sembarangan dengan menjawab teleponmu. Wae?”

Alis Jiyoo terangkat sementara bibirnya mengerucut saat mendengar suara tawa renyah dari orang itu. “Aku disuruh bertanya, kapan kau pulang?”

“Kenapa aku harus pulang? Pekerjaanku masih banyak, kuliahku juga belum selesai,” Jiyoo menuruni tangga dan membuka pintu lemari es. Tangannya menggapai buah apel yang dibelinya kemarin.

“Oh? Jadi kau belum tahu?”

“Apa?”

Terdengar lagi suara tawa yang familiar itu. Jiyoo menahan diri untuk tak memutuskan sambungan telepon begitu saja. “Sudahlah. Nanti kau juga tahu.”

“Lee Donghae, aku masih memperingatkanmu dengan penuh kelembutan. Sekarang katakan padaku, apa maksudmu?” Jiyoo menggigit apelnya dengan kuat.

Seseorang yang dipanggil Lee Donghae itu kembali tertawa. “Aku tunggu di rumah!”

Yah, yah, yah!” pekik Jiyoo. Gadis itu memandangi layar ponsel sambil menyipitkan mata. “Dasar pria gila!”

—–

“Jika nanti aku kembali, kau harus menikah denganku!”

Seoul – South Korea

Lee Hyukjae membuka kedua matanya tiba-tiba. Ia mengerjap beberapa saat sebelum senyum lebar terkembang di wajahnya. Mimpi itu kembali mengunjunginya, tapi kali ini terasa semakin nyata.

Perhatiannya teralih pada kalender meja yang berada tepat di samping ranjangnya. Eunhyuk meraih benda itu tanpa meninggalkan ranjang.

Jantungnya mendadak berdebar. Seharusnya sekarang rencananya berjalan lancar. Eunhyuk sudah mempersiapkannya sejak tiga bulan lalu dan ia ragu rencananya akan gagal. Jika sesuatu sudah dipersiapkan dengan sempurna, resiko gagalnya akan lebih kecil. Bukankah demikian?

“Lee Hyukjae!” suara tinggi yang seharusnya tak bisa menembus pintu kamarnya membuat Eunhyuk berjengit terkejut. “Eomma menyuruhmu turun!”

“Sebentar lagi!” balas Eunhyuk nyaring. Lelaki itu tak lagi menghiraukan omelan dari balik pintu kamarnya.

Dengan penuh semangat, ia berkutat dengan lemari pakaiannya. Setelah memutuskan kemeja yang akan dipakainya, Eunhyuk melesat ke kamar mandi. Senandung ringan meluncur dari bibirnya.

Aigooo~ tampan sekali direktur kita hari ini!” pekikan ibunya menyapa gendang telinga Eunhyuk bahkan sebelum lelaki itu berhasil mencapai ruang makan. “Apa kau suka dengan jabatan barumu?”

Eunhyuk menarik kursi sambil meraih sumpit. Ia mengunyah nasi pelan-pelan. “Eomma harus bilang pada paman kalau aku tidak menginginkan posisi ini. Tidak perlu jadi direktur, apa saja juga boleh asal aku bisa bekerja di perusahaan.”

“Apa boleh buat. Pamanmu tidak memiliki anak lelaki, jadi apa salahnya menyerahkan jabatan itu untukmu, sang keponakan laki-laki kesayangannya?” ujar ibunya sambil tersenyum bangga. “Lagipula, itu bagus untukmu. Eomma tidak suka melihatmu menghabiskan waktu di jalanan hanya untuk bermain terus dengan Lee Donghae.”

“Kami tidak bermain, kami bekerja,” Eunhyuk mengangkat bahu santai.

“Ck, Eomma heran pada Donghae. Pamannya adalah pemilik perusahaan IT terbesar di negeri ini, lalu kenapa dia masih harus bekerja dengan jabatan rendah di sana?” gerutu ibunya. Begitu Eunhyuk bangkit dari kursinya, tangan sang ibu terangkat untuk membenarkan ikatan dasi navy yang dikenakan putranya.

“Donghae tidak suka mengandalkan koneksi. Dia akan tertawa jika melihatku seperti ini,” kali ini Eunhyuk yang mengomel. “Ah! Eomma! Anakmu tercekik!” Eunhyuk terbatuk-batuk sambil buru-buru menjauhkan diri dari ibunya.

Ani, tapi benar, kan? Kim Hwang itu pemilik perusahaan besar dan Donghae itu keponakannya?”

Eunhyuk merapikan sendiri dasinya. “Benar. Kenapa eomma selalu mau tahu urusan Lee Donghae? Anak eomma tercinta itu aku, bukan dia.”

“Donghae butuh pendamping, kan? Tanyakan padanya tentang kakakmu,” bujuk ibunya.

“Donghae tidak suka Sora nuna. Nuna juga begitu.”

Ibunya mengusap dagu, berpikir agak lama. “Tapi mereka sudah kenal sejak kecil. Seharusnya mereka saling mengenal dengan baik.”

“Justru karena itu. Donghae terlalu mengenal Sora nuna dan memilih untuk tidak menyukai gadis seperti dia,” sahut Eunhyuk tenang. Ia kembali mengaduh saat jitakan pelan mendarat di kepala. Eunhyuk melirik tajam ke arah kakak perempuannya. “Nuna!”

“Gadis seperti apa yang kaumaksud, Direktur Lee?” tegur Lee Sora.

Eunhyuk meringis mengelus-elus kepalanya. “Pokoknya, nuna tidak akan cocok dengan Donghae. Aku berangkat!”

—–

Lee Donghae mengamati Eunhyuk dari sudut matanya. Sepersekian detik berikutnya, tawa Donghae meledak. Ia merasakan tatapan Eunhyuk dan buru-buru mengalihkan pandangan.

Donghae sedang berada di ruangan baru Eunhyuk. Ruangan itu luas dengan nuansa putih gading. Terdapat jendela agak besar yang dibingkai kayu jati berlapis cat putih. Lemari yang bahkan lebih tinggi darinya diletakkan di sudut ruangan. Isinya buku, kata Eunhyuk.

Lemari berisi buku itu membuat Donghae keheranan. Memangnya sejak kapan Lee Hyukjae membutuhkan benda bernama buku?

Memikirkan hal itu justru membuat Donghae nyaris tertawa lagi. Ia berdeham. “Jadi, kau seorang direktur sekarang?”

“Sepertinya begitu. Aku hanya berharap semoga paman itu tidak menyesal sudah memilihku.” Eunhyuk memainkan ujung dasinya.

Donghae tertawa pelan. “Dia akan suka jika kau bekerja dengan baik.”

“Dia? Ah… dia.” Eunhyuk tergelak. “Apa dia sudah pulang?”

Alis Donghae terangkat, sejenak kebingungan sebelum tersenyum. “Entahlah. Yang pasti kau sudah membuat rencana paling ekstrem.”

Eunhyuk membuang napas berlebihan. Lelaki itu mendadak merasa gugup sekarang. Jauh lebih gugup dibandingkan pemindahan jabatan yang dilakukan pamannya, lebih gugup daripada saat ia harus menghadapi para rekan bisnisnya. Jauh… kalah jauh dibandingkan semua itu.

“Sebenarnya, aku masih penasaran. Apa yang akan kaulakukan pada tetangga kesayanganku itu?” tanya Donghae. Kedua tangannya dilipat di dada. Ia berniat bertanya dengan serius walaupun senyumnya masih terkembang.

“Hanya… pilihan kecil supaya dia cepat pulang,” Eunhyuk mengangkat bahu. “Dan kau, sebagai orang yang masih cukup dekat dengannya, wajib membantuku.”

Donghae mencibir. “Sepertinya aku memang tidak punya pilihan.”

Senyuman puas menghiasi wajah Eunhyuk. Rencananya sudah matang. Sekarang hanya bagaimana caranya ia mendapatkan semua bantuan yang dibutuhkannya dalam hal ini.

Dan tentu saja, Lee Donghae adalah bantuan paling tepat yang harus dimilikinya.

“Kau harus menjelaskan padaku tentang rencanamu secara rinci. Kau hanya memberitahuku soal kepulangannya,” ujar Donghae seolah membaca pikiran Eunhyuk. “Aku harus tahu sejauh apa aku membahayakan diriku sendiri.”

Dengan satu tangan, Eunhyuk menyodorkan sebuah arsip yang disimpan tepat di samping komputernya. Donghae mulai membacanya seteliti mungkin. Sesekali alisnya terangkat heran, tapi juga kadang senyuman kecil terukir di bibirnya.

“Kau gila.” Donghae mengakui. “Dia akan bahagia dan mengamuk bersamaan.”

“Bagaimana kalau kubilang memang itu tujuanku?” Eunhyuk menepuk tangannya satu kali. “Kaubilang dia di sana bekerja jadi apa?”

—–

Los Angeles, California

“Redaktur minta kau menulis ulang artikelmu kemarin,” Serena Chastain, gadis berkacamata dengan rambut cokelat tergerai menyambut Jiyoo dengan sambutan yang tak menyenangkan. Serena menggigit bibir. “Sorry, Angela, I didn’t mean to force you come at time like this, but–“

Got it!” Jiyoo –atau Angela- mencoba tersenyum. Dalam hati ia mencibir. Kenapa redaktur itu sama sekali tak menghargai hasil kerja kerasnya?

Jiyoo menghela napas panjang. Tepat di meja kerjanya, sudah tergeletak artikel yang sudah disusun rapi. Sepertinya redaktur itu bahkan belum membuka dan membaca isinya.

“Inilah kenapa dia disebut monster!” gerutu Jiyoo dalam bahasa orang tuanya. Ia membanting diri ke kursi, memandang nanar artikel yang dikerjakannya selama tiga hari penuh. “Geurae! Menulis ulang, katanya? Bagus! Setidaknya ada pekerjaan yang bisa kulakukan!”

Redaktur yang ruangannya hanya berjarak 15 langkah dari meja kerjanya membuat Jiyoo ingin menghambur masuk dan mencaci redaktur menyebalkan itu. Jiyoo sudah tahu orang itu sama sekali tak pernah menyukainya sejak ia bekerja di Super Life, sebuah majalah lokal Caifornia.

Perusahaan majalah Super Life itu terdiri dari tiga lantai. Jiyoo berhasil mendapatkan jabatan freelancer di sana dengan bantuan seorang teman. Sebenarnya orang yang berstatus mahasiswi sepertinya tak boleh bekerja di tempat itu, tapi memangnya apa yang tak mungkin di dunia ini?

Jiyoo tak memiliki ruangan sendiri. Dengan beberapa karyawan lain, ia menempati sebuah meja besar yang dibagi menjadi empat bagian. Tepat di sampingnya adalah meja kerja Serena, gadis setengah Korea yang dikenalnya begitu masuk ke perusaan ini.

“Aku bisa membantumu,” tawarannya menggiurkan. Sungguh.

Namun sepertinya Jiyoo masih menjunjung tinggi harga diri yang tak terlihat. “Tidak perlu. Aku bisa mengerjakannya sendiri.” Jiyoo tersenyum. “Lagipula akhir pekan adalah waktu yang jarang kaudapatkan, kan?”

“Untukmu juga. Jauh lebih sulit jika kau menyandang dua status, bukan?” Serena balas tersenyum.

Jiyoo meringis. Benar sekali. Menjadi mahasiswi di sebuah universitas di California dan freelancer di sebuah perusahaan majalah bukan dua hal yang bisa digabungkan begitu saja.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Serena. Jelas sekali gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan.

Well…” Jiyoo memulai sambil menyalakan komputer di hadapannya. “Tidak ada yang baru. Semester depan aku harus menyelesaikan tesis tentang healthy food. Yea, if only I could get a chance.”

You will. Don’t worry,” Serena tersenyum menenangkan. “Orang Korea itu tangguh.”

Jiyoo mengangguk-angguk setuju. “But absolutely not me.”

“Ah, aku lupa!” pekik Serena sambil membuka tas tangannya. Gadis itu mengeluarkan sesuatu dengan warna ungu pucat. “Undangan.”

“Undangan apa?”

Serena tersenyum puas dengan rona merah di pipinya. “Pernikahanku.”

“Eh? Congratulation!” Jiyoo buru-buru membuka undangan dalam pegangannya. Nama Serena Chastain dan Marcus Cho terukir dengan indah. “Kau pasti sangat bahagia. Marcus pasti… ah, entahlah. Aku tidak bisa membayangkan dia tanpa orang sepertimu.”

Tawa rendah dan lembut meluncur dari bibir Serena. “Kau berlebihan.”

“Ah~ aku juga ingin menikah…” Jiyoo memandang undangan indah bergantian dengan tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikannya. “Setidaknya akan ada orang yang menyemangatiku untuk bekerja.”

Serena tersenyum sambil menepuk punggung Jiyoo. “Kau akan menikah secepatnya.”

Gurauan itu terlalu sarkastis untuk diabaikan, jadi Jiyoo hanya tergelak. “Tentu saja. Secepatnya.”

—–

“Yah! Lee Donghae! Tunggu aku!” gadis kecil itu berlari, berusaha mengimbangi kecepatan Donghae dengan tenaganya yang kalah jauh.

“Cepatlah~” seru Donghae tanpa berbalik ke belakang. “Kita punya teman baru!”

Donghae berlari sangat kencang. Angin pantai meniup rambutnya yang agak panjang hingga wajahnya terasa dingin. Ia memperlambat langkahnya ketika melihat anak laki-laki yang tersenyum lebar padanya.

Donghae berjalan pelan dan lengannya merangkul anak laki-laki lain. Begitu si gadis mungil sampai tepat di samping Donghae, ia langsung terengah-engah. “Siapa dia?”

Donghae tersenyum bangga. “Temanku dari Seoul! Dia baru pindah ke sini.”

Gadis itu mengamati orang yang dirangkul Donghae. Anak laki-laki itu memakai kemeja rapi dengan rambut hitam yang disisir tak kalah rapi. “Kau kenal dia?”

“Yah! Apa menurutmu aku tidak punya teman dari kota?” tegur Donghae. “Aku mengenalnya saat aku pergi ke Seoul. Pamannya adalah… teman pamanku, eh, pokoknya begitu. Aku lupa.”

Gadis cilik berambut ekor kuda itu kembali mengamati anak laki-laki yang dibawa Donghae. “Siapa namamu?”

Ditanya mendadak membuat anak laki-laki itu sedikit bersembunyi di balik badan Donghae. Ia balas menatap gadis yang mengamatinya dengan sangat intens. Gadis itu mungil, lebih pendek darinya. Rambut hitamnya diikat satu ke belakang. Kedua matanya besar dan penuh rasa ingin tahu.

“Hei, apa dia tidak bisa bicara?” bisik gadis itu. Bisikan itu terlalu nyaring hingga Donghae harus menyentil keningnya pelan. “Aww~”

“Lee Hyukjae,” ucap anak laki-laki itu. Suaranya pelan sekali padahal biasanya ia sering berbicara lebih nyaring. “Namaku… Lee Hyukjae. Eunhyuk… aku juga bisa dipanggil Eunhyuk.”

Gadis mungil itu tersenyum lebar. Anak laki-laki itu bisa melihat kedua mata si gadis yang menyipit karena tersenyum. “Jiyoo. Aku Choi Jiyoo!”

—–

Lee Hyukjae tersenyum kecil. Kedua matanya masih terpaku pada kalender meja yang dipajang di meja kerjanya. Ia begitu menantikan hari ini. Sesuatu yang hanya bisa diimpikannya sekarang akan perlahan ia wujudkan.

Dulu, ia sama sekali tak punya kuasa untuk menghalangi kepergian gadis kecil itu. Dulu, ia bahkan tak bisa memberikan apapun untuk dibawa gadis itu. Dan dulu, ia hanya bisa berpegang pada janji indah yang diucapkan gadis itu.

Jika sekarang ia punya kuasa dan semua hal yang bisa diberikannya pada gadis itu, maka hal pertama yang akan dilakukan Eunhyuk adalah menepati janji mereka.

“Apa kau mau menikah denganku?”

Eunhyuk tergelak pelan. Selama 12 tahun ini, satu-satunya hal yang bisa membuatnya berdiri adalah janji itu. Walaupun janji mereka hanyalah janji sederhana yang jadi hiasan masa kecil, tapi Eunhyuk sama sekali tak melupakannya.

“Kau menyeramkan.” Donghae berdiri mematung di tepi pintu. Sepertinya ia baru saja melihat Eunhyuk tersenyum sendiri. Lelaki itu melangkah memasuki ruangan Eunhyuk dan menarik kursi. “Apa yang kaupikirkan?”

Dengan senyuman misterius yang jenaka, Eunhyuk mengangkat bahu. “Teman kecilmu.”

“Ck, dia benar-benar akan memakiku kalau tahu aku terlibat,” decak Donghae. Ia mengeluarkan ponsel layar sentuhnya. “Aku menerima 15 panggilan darinya hari ini. Bukankah seharusnya ini sudah tengah malam di sana?”

Eunhyuk tergelak. Belum sampai sedetik ia tertawa, ponsel Donghae berdering. Lelaki itu menatapnya meminta pertolongan. Eunhyuk langsung tahu siapa yang menelepon. “Angkat saja.”

“Kau ini…!” Donghae menghela napas. Ia menjawab telepon Jiyoo dengan enggan. “Angela Choi~”

—–

“Kau! Berhenti memanggilku begitu! Dan berhenti berakting!” suara Jiyoo menyerbu telinga Donghae dengan omelan berkecepatan tinggi. “Apa yang kaulakukan dengan urusan kuliahku?”

Tanpa sempat memberi ucapan selamat malam –atau mungkin siang di Seoul, Jiyoo langsung mengomeli Donghae. Saat ia sedang menyelesaikan ulang artikelnya, sebuah email masuk. Jiyoo tak menyangka email itu berasal dari kampusnya.

Email itu menyatakan bahwa segala urusan kepindahan Jiyoo dari kampus itu sudah diselesaikan. Gadis itu hanya diminta untuk mengurus sisanya di kantor fakultasnya. Tentu saja itu membuat Jiyoo terkejut.

Ia, Choi Jiyoo atau Angela Choi, sama sekali tidak mengajukan permintaan pindah kampus. Dan satu-satunya orang yang rela-rela saja mengurusi masalah itu sedang berada di sambungan teleponnya. Jiyoo harus mendapat penjelasan yang masuk akal atau Lee Donghae akan menyesal sudah berteman dengannya.

“Ayahmu… minta kau dipindahkan ke Seoul. Aku, kan, tidak berbuat apa-apa. Aku hanya membantu ayahmu.”

Ayah? Jiyoo mengerutkan kening. Sejak kapan pria itu mulai mengurusi masalah perkuliahannya di Amerika?

Jiyoo tersenyum miring. “Kau pintar sekali membawa nama ayahku, Lee Donghae. Sekarang, beri aku jawaban yang benar!”

“Baiklah,” Jiyoo bisa mendengar Donghae menghela napas berat. Jika lelaki itu sedang berakting, Jiyoo yakin kemampuan Donghae sudah meningkat pesat. “Kau tahu Unihealth Corp.? Perusahaan pengembang produk pangan terbesar di Korea?” Tanpa menunggu jawaban Jiyoo, Donghae melanjutkan, “Tesis terakhir yang kaukerjakan itu… diterima oleh mereka. Mereka ingin kau pindah kuliah ke Seoul dan bekerja magang di perusahaan itu.”

Tak perlu dipastikan lagi, Jiyoo sedang melongo saat ini. Gadis itu terlalu terkejut dan kebingungan. Semuanya terjadi secara cepat dan aneh. Tesis itu seharusnya tak bisa semudah itu sampai ke Unihealth Corp. Jiyoo mengirimnya hanya untuk main-main.

“Jadi?”

“Apa?” tanya Jiyoo.

“Kapan kau pulang?” Donghae mulai menggerutu. “Aku bisa menjemputmu jika kau pulang nanti.”

Jiyoo menarik napas dengan cepat. Ingatannya melayang kembali ke pagi hari tadi. “Jadi ini sebabnya kau bertanya kapan aku pulang, Lee Donghae? Kenapa kau bisa tahu?”

“Mm… bagaimana ya. Aku juga bekerja di sana,” jawab Donghae mantap. “Di Unihealth Corp. maksudku.”

“Kau bercanda!” pekiknya. “Pamanmu itu pemilik perusahaan IT, lalu untuk apa kau bekerja di perusahaan makanan!? Siapa yang sedang kaubodohi, Lee Donghae?”

Donghae tertawa, nyaring sekali hingga Jiyoo harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Lelaki itu menikmati menggoda Jiyoo seperti ini. “Baiklah. Aku memang selalu gagal membodohimu.”

Jiyoo menggigit bibir. Jika kemampuan Donghae meningkat sangat pesat seperti ini, Jiyoo tak yakin hal apa yang bisa dipercayainya dari lelaki itu. Selain itu, jika soal tesis ini juga hanya bahan bercanda Donghae, Jiyoo akan…

“Jadi kapan kau bisa pulang? Aku akan memesankan tiket pesawat untukmu.”

Gadis itu mengerjapkan mata. “Apa?”

Yah! Kau tidak mendengarku sejak tadi?” omel Donghae. “Kapan kau bisa pulang?”

“Soal… Unihealth itu… bukan bagian dari usaha membodohiku?”

Donghae bergumam sendiri. Jiyoo tak tahu apa yang digumamkan lelaki itu, tapi jelas Donghae sedang mengomel. “Pokoknya cepat pulang!”

Jiyoo masih melongo. Mulutnya belum tertutup. Unihealth menerima tesis penelitiannya? Dan Donghae tidak sedang mencoba menipunya? Kenapa rasanya semua itu terlalu sulit untuk dipercaya. Terlalu menyenangkan… dan mencurigakan.

Pikiran itu sempat melintasi akalnya, tapi Jiyoo memutuskan untuk tak peduli. Ia lebih memutuskan untuk memekik senang. “AAAHH! LEE DONGHAE!”

YAH!” Donghae balas berteriak. “Kau membuat telingaku tuli!”

“Aku akan segera memberi kabar kapan aku pulang, jadi tunggu kabar dariku, oke?” sahut Jiyoo cepat. Ia buru-buru menulis email untuk pengurus administrasi akademik di fakultasnya. Jiyoo tak mau tahu, kesempatan seperti ini sangat jarang ada dan tentu saja pantang ditolak. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi ia akan bekerja dengan mapan di negara kelahirannya.

Donghae tertawa renyah. “Baiklah. Beri kabar padaku.”

—–

“Tentu, tentu. Ah, Lee Donghae?” panggil Jiyoo. Donghae menunggu, begitu pula dengan Eunhyuk. Lelaki itu nyaris berteriak juga mendengar suara Jiyoo di ujung telepon. “I love you!”

Eunhyuk terperangah. Kalimat itu memang singkat dan meluncur ringan dari bibir Jiyoo, tapi rasanya terlalu tak nyaman didengar olehnya. Ia memandang Donghae sambil menyipitkan mata.

“Ya, ya. Tentu saja,” Donghae mengangguk-angguk tak acuh sebelum memutuskan sambungan telepon. Lelaki itu langsung memeriksa raut wajah Eunhyuk. “Dia hanya bercanda.”

“Kalian berteman lebih lama daripada aku denganmu atau aku dengannya. Rasanya sedikit menyebalkan jika mengingat fakta itu,” Eunhyuk mengangkat bahu.

Donghae tertawa. Ia menepuk pundak Eunhyuk. “Kau cemburu?”

“Kau selalu berhubungan dengannya.”

“Hanya lewat telepon. Sama sepertimu, aku belum pernah bertemu lagi dengannya sejak 10 tahun yang lalu,” ujar Donghae.

Eunhyuk mengerutkan kening. “Duabelas tahun.” ralatnya.

Tawa Donghae semakin nyaring. Temannya ini benar-benar tak bisa melupakan Jiyoo. Donghae sendiri tak tahu apakah itu pertanda baik atau tidak. Ia senang Eunhyuk masih menjaga hubungan pertemanan mereka hingga saat ini. Terlebih lagi pengakuan lugu Eunhyuk tentang Jiyoo.

“Jadi kau mau aku menjauhi Jiyoo?”

“Ck, jangan konyol. Satu-satunya orang yang dipercaya olehnya adalah Lee Donghae, jauh melebihi ayahnya sendiri. Memangnya kau bisa mengubah kenyataan itu?” sahut Eunhyuk. Perasaannya tiba-tiba menjadi tak baik. Rasa tak nyaman itu mencekik lehernya.

Cemburu kah dirinya? Bahkan sebelum Jiyoo tahu tentang keberadaannya? Konyol.

Donghae menghela napas. “Kenyataan itu memang tak bisa diubah. Tapi kurasa kau bisa menjadi salah satu kenyataan dalam hidup anak itu. Kau tahu, sejak dia pindah ke Amerika, ayahnya tak pernah menemuinya. Aku juga tidak bisa ke sana. Kurasa dia hanya punya kenangan masa kecil sebagai teman di tempatnya sekarang.”

Rasa kesepian Jiyoo mendadak menjadi nyata di depan mata Eunhyuk. Jika selama 12 tahun itu Jiyoo sendirian, apa yang bisa dilakukannya untuk mengganti rasa kesepian itu?

“Hei, Hyuk,” panggil Donghae. Ia tersenyum. “Aku senang kau mau membawanya pulang. Sungguh.”

Eunhyuk mengangkat bahunya tenang. “Aku tidak bisa menikah tanpa mempelai wanita, kan?”

—–

“Choi Jiyoo!”

 “Aku paling suka stroberi. Kau mau?

“Aku akan menggantikan Donghae untuk menemanimu bermain hari ini!”

“Eh? Kau tidak suka yogurt?”

“Kenapa kau sendirian?”

“Aku benci padamu!”

“Kenapa kau harus pergi?”

“Apa kau tidak bisa tinggal?”

“Yoo…”

—–

Kedua mata Jiyoo terbuka tiba-tiba. Keringat membasahi kening dan pelipisnya. Mimpi apa itu? Jiyoo menghalangi sinar matahari yang menyilaukan matanya. Seolah kehabisan tenaga, Jiyoo sama sekali belum bergerak dari ranjangnya.

Suara itu bukan suara Donghae. Lalu siapa?

Keberangkatannya ke Seoul seakan menjadi pertanda yang aneh. Jiyoo menatap langit-langit kamarnya. Setelah sekian lama, akhirnya ada yang menginginkannya pulang –selain Donghae.

Jiyoo tahu harga dirinya terlalu tinggi. Selama ini ia selalu ingin pulang. Sangat sulit rasanya berada di benua lain yang cenderung memberi tekanan tak menyenangkan. Sekalipun Donghae sering membujuknya pulang, Jiyoo tahu tak ada orang lain selain lelaki itu yang akan menyambutnya.

Mungkin menetap jauh dari rumah adalah hal yang lebih baik dibandingkan dengan berada di rumah besar yang kosong.

Menghabiskan masa kecil di pinggiran Incheon, sendirian, membuat Jiyoo tak tahu rasanya diinginkan. Jiyoo menarik napas panjang. Ibu yang pergi dari rumah dan ayah yang selalu sibuk di luar kota. Mana yang lebih menyebalkan, Jiyoo tak tahu. Keduanya jelas memuakkan.

Choi Kwangho, pemilik saham di perusahaan IT ternama yang juga ayah Jiyoo selalu kehabisan waktu untuknya. Son Heeyoung, ibunya tercinta, pergi meninggalkan rumah setelah kematian adik bungsu Jiyoo.

Mungkin, hanya mungkin, jika adik lelakinya hidup, semuanya tak akan begini. Jiyoo berandai-andai. Benarkah?

Ayahnya sudah menjadi pria dingin yang tak acuh bahkan sejak Jiyoo bisa memanggilnya Ayah. Jiyoo mengerti rasanya ditinggalkan seperti itu. Ia melihat sosok ibunya yang sendirian setiap waktu. Bahkan saat-saat sulit ketika adiknya meninggal, Jiyoo tak melihat sang ayah dimana pun.

“Tch…” ia berdecak, merutuk diri kenapa kenangan itu justru membayanginya. Seharusnya ia tak perlu memikirkannya lagi.

Semakin kenangan itu membekas di pikirannya, semakin Jiyoo mempertanyakan arti kata keluarga. Jiyoo tahu satu keluarga yang normal, keluarga Donghae baik-baik saja. Ibunya hanya orang tua tunggal, tapi wanita itu tangguh dan lembut.

Satu fakta paling penting adalah ibu Donghae tak pernah meninggalkan Donghae.

Jiyoo tak bisa menahan diri untuk tak menghubungi teman kecilnya itu. Jam menunjukkan tengah malam di Seoul. Gadis itu tak berharap banyak, hanya…

“Mm?”

“Kau tidur?” sahut Jiyoo begitu suara parau Donghae terdengar.

“Tidak. Aku hanya sedang memejamkan mata dan melihat pemandangan indah.”

“Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu.” Jiyoo menggigit bibir. Setelah 12 tahun, rasanya kampung halamannya terasa sangat dekat hanya dengan melalui lelaki ini. “Lee Donghae, kau akan menjemputku, kan?”

Donghae menguap kemudian mendengus. “Tentu saja.”

“Seperti apa kau sekarang?”

“Tampan, memesona, dan tampan,” sahut Donghae penuh percaya diri. Sulit bagi Jiyoo untuk tak mendengus. “Tampan perlu disebutkan dua kali karena itulah kelebihanku.”

Jiyoo diam sejenak. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah keputusannya untuk pulang adalah hal yang benar. Tak ada yang akan menunggunya di rumah jika ia pulang. Hal yang ingin dilakukannya di Seoul hanya mengunjungi nisan adiknya.

“Bukan cuma aku yang merindukanmu,” ucap Donghae. Jiyoo bertanya-tanya apa lelaki itu sedang membaca pikirannya. “Ibuku juga menunggumu pulang. Ah, dan aku sangat penasaran jadi gadis seperti apa kau sekarang.”

“Aku menjadi gadis yang sangat sangat anggun. Cantik, tinggi, rambut panjang, dan kaki yang jenjang.” balas Jiyoo. Ia bisa mendengar Donghae mendengus geli. “Aku… memang ingin pulang.”

Donghae menarik napas panjang. “Aku tahu, Choi Jiyoo. Aku tahu.”

Jiyoo hanya mengangguk-angguk. Ia nyaris terisak. Dan hal itu akan jadi pertanda buruk karena Donghae akan berpikir jika gadis itu sudah tak waras. Akhirnya Jiyoo mengumpulkan suaranya. “Baiklah. Selamat malam.”

“Selamat pagi untukmu.” ujar Donghae. Sambungan terputus dan Jiyoo hanya memandangi layar ponselnya.

Pulang. Ia ingin pulang. Jika bukan untuk dirinya, ia harus pulang untuk adiknya. Siapa lagi yang akan mengurus nisan itu jika Jiyoo tak ada?

Rasa sepi mendadak membungkus tubuhnya. Seandainya saja adiknya masih ada, apa Jiyoo bisa pulang dengan perasaan menggebu-gebu? Seandainya saja… ia tahu ada yang menunggunya di rumah, mungkinkah Jiyoo tak akan pernah melakukan perjalanan ke benua lain?

Seiring dengan matahari yang semakin menyilaukan, Jiyoo duduk bersandar. Ia menarik lututnya ke dada, menenggelamkan wajahnya di sana. Kesepian tadi meledak, mengalir di setiap pembuluh darahnya.

Dan sejenak, Jiyoo melupakan mimpi anehnya.

—–

“Apa dia menangis?”

Donghae menggelengkan kepala. Tatapannya menerawang, mengingat nada suara Jiyoo dini hari tadi. “Kurasa dia menangis setelah telepon terputus.”

“Kenapa kau tidak menemaninya sampai dia bisa tenang!? Dia pasti sedang membutuhkan orang lain makanya dia menghubungimu,” Eunhyuk mengoceh. Ia frustasi dengan kenyataan bahwa Jiyoo menghubungi Donghae dan bukan dirinya.

Oh? Tentu saja gadis itu akan menghubungi Donghae. Satu-satunya orang yang masih menjaga komunikasi dengannya adalah Lee Donghae, bukan Lee Hyukjae.

Dan Eunhyuk merasa lebih tak berguna dengan perasaan tak nyaman untuk Jiyoo. Gadis itu tak pernah bersama orang lain sejak kecil, hanya Donghae, dan dirinya yang bergabung terakhir. Jika ada orang yang ingin dilindungi Eunhyuk saat itu, pilihannya selalu jatuh pada Jiyoo.

“Sudahlah. Aku akan bicara dengannya setelah dia pulang,” ucap Donghae. Ia memang mencemaskan Jiyoo, tapi Jiyoo tidak selemah itu. “Dan kau, jangan hanya melihat Jiyoo. Perhatikan juga gadis-gadis yang sejak tadi memerhatikanmu itu.”

Eunhyuk mengerutkan kening. Pandangannya tertuju pada gadis-gadis yang berada di ujung meja mereka. Ia mengangkat bahu. “Sepertinya hanya karyawanku.”

“Kenapa mereka memandangimu?”

“Bukannya mereka sedang memandangmu?”

“Yang benar saja. Bukan aku direktur baru yang muda dan populer,” Donghae tergelak. “Lagipula tipe lelaki sepertimu itu dianggap lebih menarik bagi mereka.”

Eunhyuk memiringkan kepala, memergoki satu-dua orang karyawan perempuan sedang mencuri arah padanya. “Wah, sayang sekali. Aku sudah tertarik pada orang lain.” Eunhyuk kemudian tersenyum. “Kau tahu, aku memang sudah tidak bisa melihat orang lain selain temanmu itu. Dia memiliki sesuatu untuk menarik orang lain agar berada di dekatnya.”

“Dia tidak berpikir seperti itu.” Donghae mengatupkan bibir.

“Setidaknya aku berpikir begitu. Dan sepertinya itu cukup.” ujar Eunhyuk tenang.

Donghae mendengus geli. Sejak ia mengenal Eunhyuk, perhatiannya selalu saja hanya tertuju pada Jiyoo. Bukan hal yang aneh. Donghae juga melakukan itu. Seseorang yang mengerti kondisi Jiyoo pasti tak akan mau meninggalkan gadis itu sendirian. Mungkin karena itu Donghae selalu merasa bertanggung jawab pada Jiyoo.

“Apa kau penasaran bagaimana wajahnya sekarang?” tanya Donghae.

Eunhyuk menggelengkan kepala pelan. “Tidak.”

Wae~?”

“Aku tahu dia akan tetap menjadi Choi Jiyoo yang sama. Dalam sekali lihat, aku akan tahu itu dirinya.” Eunhyuk tersenyum angkuh. Duabelas tahun memang bukan waktu yang singkat. Mustahil untuknya mengenali Jiyoo jika hanya berbekal kenangan masa lalu.

Orang bilang terkadang keyakinan akan menuntunmu menuju keberhasilan. Eunhyuk yakin akan mengenali Jiyoo dalam sekali pandang. Hal itu sudah sangat cukup. Ia pasti akan mengenali gadis itu.

“Bodoh. Aku tidak tahu kau akan jadi sebodoh ini.” gumam Donghae geli. Temannya yang satu ini benar-benar sudah jadi orang bodoh tingkat tinggi. Terlalu bodoh hingga rasanya ia ingin menyuruh Eunhyuk melompat dari gedungnya.

“Apa boleh buat. Selama 12 tahun, dia tidak bisa hilang dari pikiranku. Apa menurutmu itu aneh?”

Donghae mengambil napas berlebihan. Ia pura-pura prihatin. “Bukan aneh. Mungkin itu karena kau memang sudah cacat otak permanen. Mau kuantar ke dokter?”

“Tch,” Eunhyuk mendengus sementara Donghae tertawa nyaring sekali. Lelaki itu meraih cangkir kopinya dan menyesap isinya sedikit. “Tertawalah. Dan jika nanti dia kembali, akan kupastikan kau berhenti menertawakanku.”

“Tidak akan.”

“Oh, kau akan berhenti tertawa dan mulai merasa iri dengan banyaknya hal yang kusiapkan untuknya.”

Kali ini Donghae yang mendengus. Ia memutar bola matanya. Bayangan tentang banyak hal yang sudah disiapkan Eunhyuk memang terlihat di pikirannya. Tentu saja Lee Hyukjae sudah dan akan memberikan semua hal untuk Jiyoo. Donghae tak meragukan itu. Sama sekali.

“Ah, tentang hal yang kausiapkan itu,” gumamnya. “Mungkin dia sudah menerimanya saat ini.”

—–

Jiyoo melongo. Dalam tangannya terdapat selembar tiket pesawat tujuan Incheon. Kelas bisnis. Seharusnya ia membeli tiket ekonomi siang ini, tapi tabungannya benar-benar tak cukup membeli selembar tiket pun. Jiyoo berniat memberitahu Donghae tentang kemungkinan tertundanya perjalanan pulangnya.

Melihat tiket dalam genggamannya, sepertinya Jiyoo tak perlu melakukan itu.

Siapa yang membelikannya tiket pulang? Donghae? Jiyoo mengerutkan kening. Kehidupan Donghae tak lebih dari pekerjaan biasa di perusahaan pamannya. Jiyoo tahu Donghae bukan tipe orang yang akan meminta belas kasihan orang lain, terutama orang terdekatnya.

Itulah sebabnya Lee Donghae tak pernah mau mengakui bahwa pamannya adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Terlalu kaku, katanya. Jiyoo tak pernah mengerti bagian mana yang terasa kaku untuk Donghae.

Jadi tentu saja Donghae terhapus dari daftar nama pemberi tiketnya. Jiyoo mengerucutkan bibir. Ayahnya? Memikirkan kemungkinan itu seperti berharap bulan Februari memiliki 31 hari.

Jiyoo mengamati tiket pesawatnya. Jadwal keberangkatannya adalah besok dini hari. Siapapun yang membelikan tiket itu sudah pasti punya banyak uang. Tiket pesawat bukan sesuatu yang bisa didapat secara mendadak, kan?

Hal itu pengecualian bagi pemilik uang yang berkelebihan.

Saat ponselnya berdering, Jiyoo buru-buru memasukkan tiket itu ke dalam tas. Ia merogoh ponselnya dan mengerutkan kening. “Lee Donghae?”

“Kau sudah dapat tiketnya?”

“Oh? Kau yang membelinya?”

Donghae tergelak. “Bukan. Teman kita yang membelikannya.”

“Teman… kita?” ulang Jiyoo. Ia perlu memastikan indera pendengarannya masih dapat berfungsi dengan baik. Jelas sekali Donghae mengucapkan kata yang terdengar asing untuknya. “Kau yakin? Teman kita?”

“Kau itu memang suka menempel padaku ya? Temanmu bukan hanya aku. Jangan bilang kau lupa,” tegur Donghae. Setelah menunggu dan Jiyoo sama sekali tak memberikan jawaban, Donghae menghela napas berat. “Dia akan kecewa kalau kau tidak mengingatnya.”

Jiyoo masih berusaha berpikir, mengingat-ingat, memaksa otaknya bekerja lebih keras. Nihil. Tak ada orang lain selain Donghae yang ditemukannya. “Pass! Aku tidak tahu.”

“Sudahlah. Pokoknya aku hanya ingin memberitahumu, aku dan dia akan menjemputmu,” ujar Donghae riang. “Aku ingin lihat jadi setinggi apa kau sekarang.”

“Cih,” Jiyoo mendengus. “Jangan khawatir. Aku tidak akan mempermalukanmu.”

Donghae tertawa renyah. “Baiklah. Sampai jumpa di Incheon!”

Dengan setengah mendengus, Jiyoo tersenyum. Sambungannya sudah terputus. Rasa penasarannya tentang ‘teman kita’ yang disebutkan Donghae masih mengganggunya. Ingatan tentang mimpi-mimpinya terusik. Apa itu sebabnya ia sering bermimpi aneh?

“Sudahlah,” Jiyoo meniru Donghae. “Sampai jumpa di Incheon!”

—–

Incheon

Pukul 8:28 pagi. Itu tandanya sudah nyaris dua jam Eunhyuk berkutat di depan cermin. Lelaki itu menatap pantulan wajah dan tubuhnya di cermin. Tak ada yang salah. Ia tampak sempurna seperti biasanya.

Eunhyuk mengerutkan kening. Semakin ia melihat cermin, ia justru semakin merasa ada yang salah. Ia ingin memperbaikinya, membuat penampilannya lebih baik.

“Aku akan menjemputnya sendiri kalau kau masih berpikir bahwa cermin itu bisa pecah dengan tatapanmu,” sindir Donghae. Lelaki itu berbaring di ranjang Eunhyuk, meluruskan kedua kakinya.

“Salah, banyak yang salah,” gerutu Eunhyuk pelan. “Yah! Apa kau tidak berpikir ada yang aneh dengan penampilanku?”

Donghae pura-pura berpikir. Ia kemudian menggelengkan kepala pelan. “Kecuali otakmu, kurasa tak ada yang aneh.”

Dengan tatapan tajam, Eunhyuk melirik Donghae dari cermin. Ia mendesah frustasi. Eunhyuk mungkin harus memutuskan tak akan mengenakan kemeja biru, mungkin kemeja hitam dapat membuatnya tampak  lebih memesona. Atau mungkin ia harus menggulung lengan kemejanya juga?

“Sudahlah. Kita akan menjemputnya, mengajaknya makan siang lalu mengantarnya ke rumah. Titik.” Donghae mulai tak sabar. “Penampilanmu sudah sangat sempurna. Dia akan jatuh cinta pada pandangan pertama! Sudah, kan?”

Eunhyuk kembali menatap pantulan wajahnya. Keraguannya sama sekali tak hilang atau berkurang. “Dia akan suka, kan?”

“Sangat!” kepala Donghae mengangguk-angguk tak acuh. Jika Eunhyuk tak diyakinkan, Donghae yakin aktivitas memandangi cermin ini akan berlangsung lebih lama daripada penerbangan Jiyoo ke Korea.

“Baiklah…” Eunhyuk menyerah. Untuk terakhir kalinya, ia menggulung lengan kemeja birunya. Ia menyentuh rambutnya, mencoba merapikan tanpa membiarkan tangannya bergetar tak karuan. Segala tentang gadis itu benar-benar membuatnya gugup.

Donghae langsung menghela napas lega berlebihan. “Akhirnyaaa!”

—–

Seluruh tubuh Jiyoo terasa kaku. Setiap sendinya seperti memadat tanpa bisa digerakkan. Penerbangan jarak sangat jauh, seharusnya ia tahu rasanya akan seperti ini. Jiyoo merasa seperti mayat hidup sekarang.

Jiyoo menarik koper besarnya menyusuri koridor bandara internasional Incheon. Semuanya banyak berubah. Beberapa bagian tampak lebih mewah daripada terakhir yang dilihatnya.

Dalam hati Jiyoo bertanya-tanya. Apakah keputusannya meninggalkan California itu benar? Apakah meninggalkan pekerjaannya yang menyenangkan sebagai freelancer juga bisa dibenarkan?

Ah, Jiyoo lupa menyelesaikan artikel yang diminta redakturnya!

Jiyoo merengut. “Biarkan saja. Aku tidak akan menyesal sudah memberinya waktu yang sulit.”

Dan Serena… ah, Jiyoo bahkan berjanji ia akan menghadiri pernikahan gadis itu. Sepertinya Jiyoo harus membiarkan Serena menganggapnya sebagai seorang pembohong. Jiyoo tahu Serena akan menghormati keputusan apapun yang diambilnya, tapi itu hanya dalam hal pekerjaan.

“Aku akan terbang ke California untuk menghadiri pernikahan itu,” gumam Jiyoo. Senyumnya terkembang saat semakin mendekati pintu keluar. Kedua matanya berkeliaran, mencari sosok yang seharusnya menjemputnya hari ini.

Percuma. Satu-satunya ingatan terakhir yang dimiliki Jiyoo hanya sosok Donghae kecil.

Mengenali seseorang yang sudah terpisah selama 10 tahun memang bukan pekerjaan mudah. Jiyoo menggerutu. Seharusnya ia meminta foto Donghae sebelum ini.

—–

Donghae memandangi setiap orang yang keluar dari koridor kedatangan. Matanya sama sekali tak bisa fokus. Ia tak punya bayangan seperti apa Jiyoo sekarang. Perhatiannya hanya terpusat pada gadis berusia 20 tahun.

Sementara ia bekerja keras menemukan Jiyoo, Donghae melihat Eunhyuk berjalan cepat menghampiri kerumunan pendatang. “Apa kau mengenalinya?”

“Itu!” sahut Eunhyuk. Senyumnya terkembang lebar. Ia menunjuk seorang gadis dengan koper cokelat besar yang memandang sekeliling.

“Kau yakin?”

Eunhyuk mengangkat bahu. Sikapnya tenang. Matanya masih tertuju pada gadis yang bermata besar. Wajahnya oval, rambutnya cokelat gelap dengan poni depan yang agak panjang. Eunhyuk bisa melihat garis wajah gadis itu jelas sekali dalam bayangannya.

Selama ini ia sering membayangkan seperti apa Jiyoo sekarang. Eunhyuk tahu itu konyol. Satu-satunya hal yang digunakannya hanya gambaran wajah gadis itu saat kecil. Dan sepertinya itu cukup membantu sekarang.

Mungkin memang sebenarnya Jiyoo sama sekali tak pergi kemana-mana. Eunhyuk selalu menyimpan gadis itu dalam kotak kenangannya baik-baik.

Eunhyuk mengambil langkah lebih dulu. Ia berjalan menghampiri Jiyoo. Bibirnya melengkungkan senyum. “Jiyoo.”

Itu bukan pertanyaan untuk memastikan. Jiyoo mendongak, memandang Eunhyuk sesaat kemudian memeluk lelaki itu dengan cepat. “Lee Donghae!”

—–

Jiyoo enggan mengangkat wajahnya. Ia diam-diam hanya meneguk air mineral yang ada disajikan. Cacian mulai melayang-layang di kepalanya. Jiyoo merutuk pelan.

Lelaki itu bukan Donghae. Bagaimana mungkin Jiyoo mengenalinya sebagai Donghae sementara perbedaan itu jelas berada di depannya? Donghae tidak memiliki tulang rahang seperti itu, bodoh.

“Aku… benar-benar minta maaf. Apa lehermu baik-baik saja?” tanya Jiyoo. Kebodohan lain hari ini. Kenapa ia harus menanyakan leher lelaki itu?

Eunhyuk memandangi wajah Jiyoo. Merah, merona, indah sekali. Jika saat ini perasaannya tidak sedang terluka, Eunhyuk pasti sudah mencium pipi gadis itu. “Leherku baik-baik saja.”

Pelukan itu sangat menyenangkan, sebenarnya. Eunhyuk mengakui itu. Aroma tubuh Jiyoo memenuhi rongga hidungnya, nyaris membuatnya mabuk. Seharusnya itu menjadi kenangan baru untuknya.

Eunhyuk kembali menatap Jiyoo. Gadis itu masih mengintip dari balik bulu matanya yang lentik. Eunhyuk bertaruh ia tak akan bisa lama kesal pada Jiyoo. “Sebenarnya, nama depanku juga Lee, jadi kau tidak sepenuhnya salah.”

“Tapi,” Jiyoo menggigit bibir. Ia melirik Donghae yang duduk di seberangnya, meminta bantuan. “kau… aku… pokoknya aku minta maaf.”

“Kau minta maaf untuk kesalahanmu yang mana?” Eunhyuk mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Jiyoo terpaksa bersandar ke kursi. “Minta maaf karena salah mengenaliku sebagai Lee Donghae atau karena sudah memelukku sangat erat atau… karena tidak mengingatku?”

Jiyoo melongo. “Eh?”

Seingat Jiyoo, kesalahannya hari ini tak sebanyak itu. Lagipula kesalahan terakhir yang disebutkan lelaki itu sama sekali tak terduga. Apakah Jiyoo sepatutnya mengingat lelaki itu?

“Begini, Jiyoo-ya, mungkin kau lupa, tapi Eunhyuk adalah teman kita,” Donghae yang sejak tadi hanya mendengarkan ikut ambil suara. Ia mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. “Yang membelikanmu tiket pesawat adalah Eunhyuk… lalu–“

“Aku akan menjelaskannya sendiri, Hae,” sela Eunhyuk cepat. Ia tak ingin mengambil resiko membiarkan orang lain memberi penjelasan paling penting pada Jiyoo. “Namaku Lee Hyukjae, kau bisa memanggilku Eunhyuk. Apa kau ingat padaku?”

Tenggorokan Jiyoo mendadak tercekat oleh kenyataan yang memusingkan. Ia berdeham. “Begini, Lee Hyukjae atau Eunhyuk, mungkin seharusnya aku berterimakasih padamu… tentang tiket itu. Lalu, untuk pertanyaanmu tadi… aku benar-benar minta maaf. Aku mungkin… tidak mengingatmu.”

Ucapan itu melayang seperti tamparan maya. Eunhyuk merasakan pipinya panas oleh tamparan sementara dadanya mendadak sesak. Apa ada hal yang lebih menyakitkan dari ini?

“Bagaimana ini…” gumam Eunhyuk. Nada suaranya rendah, membuat Jiyoo sekilas merasa sangat bersalah. “Kalau begitu, apa kau mau berkenalan denganku sekali lagi?”

Jiyoo membelalakkan mata, begitu pula dengan Donghae. Lelaki itu berpikir temannya benar-benar mengalami cacat otak permanen. Bisa-bisanya Eunhyuk memiliki rasa percaya diri tingkat langit seperti itu.

“Nah,” Eunhyuk tersenyum. Ia mengulurkan tangan. “Namaku Lee Hyukjae atau Eunhyuk. Senang berkenalan denganmu.”

===============TBC================

I think my cast(s) got along well. Since those are just 3 of em, I wrote it in simply way. Friendship yet family drama… again. Lol. *I’m getting used to write that one*

Cameo: Serena Chastain. Haha~ How I miss that OC of mine! xD

Well, I considerate to put new cast(s) in here. It’s boring wif just Eunhae-Jiyoo, isn’t it? -_-

For you who’ve asked, Donghae’s role just as a good friend of JiHyuk. :3 Since Jiyoo just has Donghae, and Eunhyuk use Donghae as his partner in crime. JiHyuk can’t live without Donghae. ;~; xD

I know this story is about marriage, wedding, bla bla bla, but I wanna make a story-line before our main cast get married. Thanks! ^^

116 thoughts on “Marry Yoo! [1st Step]

    • Wuaaaaaaaaaaaaahh……. Yoo pikun yah?? Msh muda tp udh ky nenek2, pikun… /plak xD
      tp poo hebat, dia ga putus asa dilupain sm yoo, yg berakhir selingkuh sm kyu (buka twit kyu hr ini) … LMAO~ xD
      bagus yoo ceritanya… Cepet post yg berikutnya… ><
      you like want to kill me with post this fic only once per week… OTL ~

  1. waw! Finally 1st chapter is released wkwkwk
    I’ve waited for sooooo long! #plakk #lebeh
    Hahahaha

    Yaaaah wae? Wae? Why yoo must forgetting lee hyukjae although he’s already prepare for somethin good to yoo
    Poor you hyukjae *pats*
    I doubt that yoo have a feeling to hyukjae… T_T

    Actually for this chapter i didn’t get a ‘greget’ yet. Because jihyuk scene is still bit more than eunhae and i jealous #plakk
    But i cant wait for this next story for jihyuk married awawawaw
    Fighting!! I support you!

    • Thanks a lot for waiting! Means so much for me.. ;~;
      Everyone love Hyukjae at this moment. xD
      Yeps, this is just an early way for introducing jiyoo to hyukjae yet donghae’s role between those too. So you can call this as eunhae story or yoohae for now. xD
      Fighting! Thank you! ^-^

  2. apa aku jodoh sama ff ini atau apa, pas kemaren prolognya keluar pas bgt aku lgsg buka skrg juga-_- dan…….JiYoo-ssi how can you forget that adorable, handsome, amazing, charming boy? poor hyuk :””( dan kak shela…..aku gabisa nebak jalan ceritanya….terlalu unpredictable, dan itu yg bikin aku suka :3 susah ditebak~ eung, did jiyoo get amnesia or smth? i jst guess it……

    • HAHAHA! So he is the adorable, handsome and blablabla boy? xD
      Terima kasihh syuda bacaa~ ^-^
      ps: and no, jiyoo gak amnesia. xD Coba dibaca lagi prolognya, kamu bakal tau kenapa Jiyoo milih ngebuang beberapa kenangan masa kecilnya sebelum pindah ke luar negeri. Kecuali Donghae. :3

  3. yay step 1
    Eunhyuk sedih bgt dh
    Gk diingat
    Dpeluk tp manggilnya nma donghae
    Tp aku yakin dsni jiyoo gk akan jtuh cnta sma donghae dan donghae pun gt
    Scra jihyuk will be together forever

  4. Seru tuh paas jiyoo marah gara gara eunhyuknya pulang … Tapi kok sekarang dia malah lupaaa ??? Ahhh kutak sabar ayoo nikahh !!! Hahaha

  5. jitak yoo,pake godam(?)#poor hyuk😦.

    mungkin lupa’a karna ga da kontak”an sama sx kli sama hyuk,moga aja ga beribet ya perjuangan(?) hyuk,wat ngembaliin ingatan yoo yg hilang#apadech bahasa gw.

    SMANGAT BUAT POO#klo msh susah ngebuat yoo ingt sama poo,realisasikan saja saran sy yg di a atas#plakk^^

    next…next…next…please^^

    ps:LEE DONGHAE EMANG SELALU TAMPAN,MEMPESONA & AMAT SANGAT TAMPAN#capsjeblok*Kabur~

  6. sebel sama jiyoo eonnieeeeeeee. pengen nyubit pipinya errrr~ gimana bisa lupa sama hyukjae -_- padahal hyukjae selalu inget sama dia, haduuuuuhhh.. kenapa aku jadi kasian sama eunhyuuuukkkkkk /peluk Hyukjae erat/
    Poo, yang sabar yaaaa. suatu saat Yoo pasti inget sama Poo trus cepet married deh. pokoknya jihyuk mesti bersatu. fighting (?)
    betewe eon, jangan bilang donghae entar juga suka sama Yoo. aaaaa eunhae jangan dibuat musuhaaan dong, eon. aku nggak tega mereka musuhan u,u

    pokoknya kutunggu chapter 2-nyaaaa u,u

  7. Ayolah Choi Ji-Yoo sayang masa ga inget tapi tiap malem dimimpiin… /cubit/

    Jangan bilang klo Hyuk suka sama Yoo tapi Yoo suka sama Hae???
    Bang Hyuk klo dirimu kaya raya berikan aku tiket ke Seoul aku akan aku tidak akan membiarkan cinta segitiga itu terjadi /siap2culikhae/

    teteh bakal ngamuk klo ada cinta segitiga… Yoo tteh udah pesen kebaya nih buat ke kawinan (?) hihiiiiiii

    • Kaga. Mana ada ceritanya yoo suka ama hae? -____-
      Itu mustahil teh. Gak mungkin. Sama kaya kyu, hae itu ada di urutan atas daftar musuh jiyoo.

      Tenang aja, kebayanya pasti kepake kok teh. xD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  8. Kasiian Nyuk, dianya gak pernah lupa sama Jiyoo, eh malah Jiyoo-nya yang gak ingat.ckck.
    Sini nyuk sama aku… Aku selalu ingat kamu kok #HugNyuk.
    Aku tunggu part 2 nya, berharap JiHyuk cepetan nikah -maunya-😀

  9. kyaaaaa marry yoo publish*cium hyuk*

    hadeuhh setuju ama hae..otak hyuk bener2 bermasalah..10 ga ketemu tapi tetep yg ada di pikiran hyuk tu cuma yoo.DAEBAKK!!
    tapi sayangnya yoo lupa klo ada cowo selain hae d masa kecilnya..poor hyuk*pukpuk*

    suka banget ma gaya hyuk d sini,hyuk ga panik pas tau yoo lupa ama dia,hyuk malah ngajak kenalan lg..
    hoho..d mulai dari nol lagi deh..

    huaaa butuh part 2..ayo d publish eonn…hehe

    • Ikut pukpuk hyuk deh. xD
      Hehe… saya anti bikin panic-hyuk di ff ini. Dia harus jadi cowok nekat yg lovable lah pokoknya. :3
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^
      Next chapter……..minggu depan?

  10. Wuhoho
    Eunhyuk yg keracunAn virus jiyoo slm 12 tahun….
    Ckckck…..

    Kenapa jiyoo background keluarganya gitu amat yak….

    Lee Hyukjae,i love u puoll

  11. Akhirnya aku mampir lagi k rumah JiHyuk..
    Kangen pengen baca ff bikinan Shela🙂

    Bru baca awalnya aja udah bikin penasaran pengen baca lanjutannya..
    kasian Hyuk..
    Kenapa Yoo bisa nglupain Hyuk?
    Yoo kena penyakit pikun kah? atau malah amnesia??
    Kaget wktu Yoo blang I love You ma Hae..
    Hiks.. mngkin perasaan aq sama kayak Hyuk kali yaa wktu dnger it..

  12. Woaaaaa subhanallah marry yoo 1st chap is released!!! ditengah tmpukan tugas & jdwal les yg super duper ngebosenin, akhirnya dpt refreshing yg sangaaaaat memuaskan…
    I dunno what I’ve to say, this story is soo unpredictable
    But jiyoo~ssi how can you forget that handsome and sexiest hyukjae?? I’m so curious yeahhh*mendadak nyanyi*
    Tuan ikan is the most handsome cameo here haha..
    and Serena Chastain…i dunno why but I like that name🙂
    Huaaaa i cant wait for the next chap eonn..apa jihyuk bkal nikahhh huuaaaaa gl sbar >.< d tnggu eonn😀

    • Alhamdulillah kalo bisa bermanfaat buat yg baca. x’D
      Unpredictable? Makasihh. Mudah2an artinya bukan karna story ini maksa ya, cantik. Hihihi… xDD
      Makasihh syuda baca, sayaaangs~ ^-^

  13. Aaaaaa !! Suka banget deh sama ff ini , genre nya baru sekali . Mudah2an gak ada cinta segitiga yah ? Karna jiyoo kan udah ditakdirin buat abang monyet .

  14. manisnyaaaa!!
    *senyum2gaje*
    daebak nih ff..
    bkin emosi naik turun..
    wkwkwk

    eunhyuk g d.inget ma jiyoo..
    *poor eunhyuk*
    hebat kn uri eunhyuk bisa ngenalin jiyoo dlm sekali lihat..
    dan gilanya, jiyoo ngira itu ongek oppa..
    ckckck
    bnr2..
    hahahahaaa

    aq nunggu lnjutannya..
    ^^

  15. entah yah.. kapan aq ga suka sama tulisan shela? dari pertama nemuin blog ini (?) ampe berjalan setaunan lebih *ato malah udh 2 taun?* semua cerita yang dibikin dirimu tuh ga pernah bikin aq bosen. dari mulai alur cerita yang selalu bikin penasaran, diksi dan semua susunan kalimatnya yang ngalir, plus penggambaran karakternya yang selalu sanggup bikin meleleh (?)
    aaahh dan termasuk yang ini, karakter hyuk yang dibuat shela kayaknya ga pernah cacat. selalu keliatan sempurna :’3
    padahal ini baru part awal ya, tapi udh kebayang aja gitu momen2 unyu (?) yg bakal di perlihatin JiHyuk ini. huoooo ga sabar lah ngeliat JiHyuk ber-soswit2 ria (?) kekekeke
    as usual, bakal ditunggu part selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya dengan sangat (tidak) sabar~~~~~~~~~ huahahaha😄
    love yaaaaa :3
    *btw, setelah sekian lama komen kayaknya ini komen pertama aq yang waras deh* ==v
    #ngilang

    • Terima kasyiiihh… ;~;
      Kak rae adalah salah satu orang yang tetep stay sejak awal blog ini ditemukan (?) Saya juga sangat sangat berterima kasih buat segala bentuk dukungan yang selalu kakak kasih. That’s sooooo much yet meaningful. :’D
      Terima kasih setulus hati, setinggi langit. ;_______;

      Last, terima kasih buat komen warasnya. Saya sangat menghargai itu. x’D

  16. annyeong,..
    pendatang baru,..🙂
    bru nemu nih blog,..

    marry yoo,..
    suka am ceritany,..
    hehe,..
    penggambaran eunhyuk d’sini, it’ perfect,..
    hehe,..

    jd, si jiyoo lupa sm eunhyuk nih?
    kykny kena pnyakit pikun 2h,.. ‘d’tendang’
    wah, penasaran am lanjutanny,..

    ok, d’tunggu part berikutnya,..
    fighting,..🙂

  17. yak YOO!!! knp aku gak bs bales komen mu?? =.=’ sengaja yah, biar gak di bully?? /plak xD
    kkk~ ooh, foto itu bagus looh yoo, mesra bgt bgt… astagaaaaaaaaaaahh, suami2 kita saling selingkuh.. gmn klo kita jg selingkuh?? LMAO ~ xD
    sama2 Yoo.. ^^ kan aku pembaca setia mu… /preeeeeeeett… :p

  18. annyeong.. aku reader baru sini, ajeng imnida..

    ini FF yang pertama aku baca dari blog ini.. dan langsung suka! *uwoo*
    bahasanya bagus banget.. aku suka bahasa FF yang kayak gini.. ngga berat tapi juga ngga ringan (?).. ya pokoknya kayak gitu lah, hehe
    Dan saat ini juga aku memutuskan untuk jadi -JiHyuk- shipper, hahaha😀

    di sini ceritanya pas kecil jihyuk ketemunya ngga lama ya sebelum jiyoo ke california? *ini gimana bahasanya*
    uuu, kasian hyukjae, jiyoonya ngga inget.. sini sini *pukpuk hyukjae*
    tapi setelah ini jihyuk bener-bener nikah kan? iya kan?
    oke deh, kalo gitu mau langsung baca part selanjutnya aja..
    paii paii🙂

  19. annyeong ^^ rizka imnida.
    aku readers baru loh disini😀

    ff nya bagus bgt sumpah😄

    Semacam nyesek pas tau si jiyoo ngira kalau eunhyuk itu donghae –”
    walah~ tp kenapa jiyoo bisa ngelupain eunhyuk yaa .-.
    okelah..aku mau baca part selanjutnya dulu u,u

  20. Baru sempeeet bacaaaaaa pedahal udh tau lama ada cerita baru ._. Tapi mengingat tugas yg pasti bakal keteteran kalo aku baca segala macam ep ep maka diputskan dipending #plak

    Aigoooo eunhyuk beneran keren! Dia bener” bisa mengenali jiyoo dengan tepat. Bbang!

    Jiyoo ampun deh, kenangan dia ama eunhyuk pas kecil g ada tersisa sedikitpun? Dan… Mimpi itu?

    Lanjutt baca dah :p

  21. wuohohoho kasian amat hyukjae disangkain donghae, kalo aku mah udah nangis daaa *pukpukhyukjae*
    perjuangan amat si hyukjae… hahaa
    aku bingung mau bilang apa yoo, support kamu aja deh, she.. (akhirnya manggil she juga) hahaha xD

  22. wow kasian eunhyuk dilupain sama jiyoo *poor eunhyuk*
    ceritanya seru..
    like it!!!
    jalan ceritanya gag ketebak..

    lanjut baca chapter 2 ^^

  23. ya allah disini eunhyuk sweet banget❤
    beruntunglah kau cho jiyoo ㅋㅋㅋ
    dan nyesek banget waktu jiyoo lupa sama eunhyuk *poor eunhyuk*

    i like like it!!! \(^o^)/

    lanjut baca chapter 2 ^^

  24. hello, aku reader baru, bangapta~
    setelah baca ceritanya, sepertinya bakal banyak konflik di depan ya kak?
    itu hyukkie oppa dibuat nunggu selama tu? OMG, yoo must be soo precious for him,, well, kak, maaf aku cuma mampu komen segitu, karena segi storyline maupun bahasa it is super jjang!! once more, bangapta~

  25. aaaah, dah lama gak bc ff bikinan shela…
    msh ingat unnie? smg gak lupa, hehe
    seru, lanjut k part selanjut’y…😀

  26. Aaah, donghae bikin penasaraaaan>>asli ngakak baca ini.. iya lee donghae, kau memang taaaaampan sekali😄
    “Lagipula tipe lelaki sepertimu itu dianggap lebih menarik bagi mereka.” Uuh T^T, lelaki sepertimu juga menarik donghae~ya..
    Hyukjae disini hebaat!! Jjang!! Bisa langsung ngenelin jiyoo dalam sekali pandang.. sejelas apasih jiyoo dimemori otak seorang lee hyuk jae.. c’mon,, 12 tahun yang lalu sama sekarang, udah pasti mukanya beda kan? Jangan-jangan, uri hyukjae.. aish, molla😄
    Pokoknya eonni, aku yakin jiyoo bakalan jatuh ke pelukannya eunhyuk, siapa sih yang bisa menolak pesona dan kharisma seorang lee hyukjae?? No one, i think.. apalagi terus diingat sampe lebih dari 10 tahun, walaupun udah dilupain, diajak kenalan lagi.. aduh, lee hyukjae, aku sih dengan senang hati menghamburkan tubuhku kepelukannya ><, hehhe..
    sebelum nikah aja udah manis gini.. ah, overload sweet eunhyuk~
    hihihi, saranghae eonni ya.. ceritanya bener-bener kaya strawberry, asem +manis..

    • uukh-_- komenku kepotong.. sebel, sebel.. aku komen ulang deh, untung udah kebal sama yang beginian, jadi sebelum nge-post komen, aku co-past dulu ke micr.word.. hehhe:) here..

      Aaah, donghae bikin penasaraaaan><, hehhe..

      • ige mwoya?!?! kepotong lago eonni~ya… apa yang harus kulakukan? hikseu TT_TT mian, aku jadi nyampah..aish, wp nyebelin..

        Aaah, donghae bikin penasaraaaan><, hehhe..

        sebelum nikah aja sebelum nikah aja udah manis gini.. ah, overload of sweet eunhyuk..
        hihihi, saranghae eonni ya.. ceritanya bener-bener kaya strawberry, asem +manis..

      • udah, aku nyerah, kepotong mulu.. aku nyoba komen lagi besok ya eonnie.. mianhae jadi nyampaaah~~ hikseu TT_TT

      • Ya ampuunn~ terharu deh liat usahamu buat komen. :’
        Makasihh banyak yaaa.. *bow
        Di email, twitter ato FB, semuanya boleh. Tapi kalo di email pasti suka jarang dibuka, sayang~ ;~;

  27. Aigooooo.. Kasian Hyukk.. Ishhh.. Setelah berjuang 12 tahun dengan kenangannya dan sekalinya bertemu dilupakan.. Uuuuu jiyoooooo

  28. ehehemhem.. i try again~ semoga ga dipotong.. hehehe, aga lama ya ngelanjutinnya~ eng, FYI ajah eonni, komen aku ituh terdiri dari komen untuk beberapa adegan.. jadi kaya compilation gituh.. kalo ntar ngebingungin, maaf banget, dingerti-ngertiin ajah yaa~ >,,<
    pokoknya eonni, aku yakin jiyoo bakalan jadi istri eunhyuk, siapa sih yang bisa nolak pesona & kharismanya lee hyuk jae? no one, i think.. apalagi ditungguin lebih dari 10 tahun, walaupun udah dilupain, diajak kenalan lagi, itu bikin meleleh~ aduuh lee hyuk jae, aku dengan senang hai jadi milikmu~!!!
    sebelum nikah aja udah sweet gini, aah, overload of sweet eunhyuk..

  29. Satu lagi Hyukie yg bagus..astaga kenapa baru baca sih. Nyesel drdlu cuma dbookmark.
    Serius ini bagus bgt,
    Hyukjae aku sesuatu bgt deh 12thn g ketemu tp bisa tau wajahnya. Salut.
    Donghae-nya juga lucu dsni. Tipe sahabat sejati bgt..
    *lnjt part selanjutnyaaaaaaaa….

  30. Aaah, donghae bikin penasaraaaan😄 apaan? Apaan?
    Wah, sepertinya mimpi jiyoo dan eunhyuk itu sama.. bedanya, jiyoo kesel karena mimpinya dateng lagi, tapi eunhyuk malah seneng, senyum-senyum, padahal baru bangun tidur, aih, my hyukkie~, huhu u,u
    Iya, ibu mertua, uri hyukjae memang selalu tampan.. kkk~
    Aigoo, eonni, itu eunhyuk lucu banget.. “anakmu tercekik”.. ahaha~ sering2 aja eunhyuknya dicekik ibu mertua~ hehhe😄.. manis banget eunhyuk sama eommanya.. malah eunhyuk cemburuan lagi.. aish lee hyuk jae, ibumu kan hanya ingin tahu, jangan ngambeek doo~ng..
    Aku suka peran donghae disini.. pengen banget punya temen kaya donghae.. ah, andaikan didunia nyata ada temen begitu.. pasti asik.. baik sekarang maupun di masa lalu mereka, dia itu temen yang menyenangkan deh🙂
    Well, katanya eunhyuk ga ngasih apapun buat jiyoo bawa pergi.. trus strawberry itu apa? Dibawa pergi juga kan? Setidaknya ikut didalem perut jiyoo.. atau malah udah jadi nutrisi ditubuh.. kkkk~
    Aku tahu nunggu itu ga enak banget , apalagi 12 tahun O_o… karena itu, semoga mereka beneran nikah.. eunhyuk udah nunggu lama, tapi malah dikira donghae.. udah gitu tetep aja hyuk ga marah, *oke kesel sedikit mungkin?*, i love hyukjae role here~ TT_TT

    “Tampan, memesona, dan tampan,” sahut Donghae penuh percaya diri. Sulit bagi Jiyoo untuk tak mendengus. “Tampan perlu disebutkan dua kali karena itulah kelebihanku.” asli ngakak baca ini.. iya lee donghae, kau memang taaaaampan sekali😄
    “Lagipula tipe lelaki sepertimu itu dianggap lebih menarik bagi mereka.” Uuh T_T, lelaki sepertimu juga menarik donghae~ya..
    Hyukjae disini hebaat!! Jjang!! Bisa langsung ngenelin jiyoo dalam sekali pandang.. sejelas apasih jiyoo dimemori otak seorang lee hyuk jae.. c’mon,, 12 tahun yang lalu sama sekarang, udah pasti mukanya beda kan? Jangan-jangan, uri hyukjae.. aish, molla😄
    Pokoknya eonni, aku yakin jiyoo bakalan jatuh ke pelukannya eunhyuk, siapa sih yang bisa menolak pesona dan kharisma seorang lee hyukjae?? No one, i think.. apalagi terus diingat sampe lebih dari 10 tahun, walaupun udah dilupain, diajak kenalan lagi.. aduh, lee hyukjae, aku sih dengan senang hati menghamburkan tubuhku kepelukannya , hehhe..
    sebelum nikah aja sebelum nikah aja udah manis gini.. ah, overload of sweet eunhyuk..
    hihihi, saranghae eonni ya.. ceritanya bener-bener kaya strawberry, asem +manis..

  31. Annyeong~
    Aku pendatang baru, kkk~😉
    Lagi nyari-nyari FF, eh dapet FF yang keren ini ^,^
    Aku suka Marry Yoo! >,<
    Suka banget sama penggambaran karakter Hyuk yang keren minta ampun. Mempertahankan rasa cinta selama bertahun-tahun itu 'wow' banget xD tapi sayang hyuk dilupain gitu aja -,-
    Suka juga sama sifatnya Hae yang gimana ya? *garukpala* xD
    Pokoknya aku suka!😀
    Lanjut ke next part ya, thor, eonni xD

  32. annyeong eonnie..
    aku reader baru ..😀 salam kenal
    huft… aku suka ceritanya. Dan ini sepertinya akan menjadi ff yang sweet . deskripsi cast nya ngena banget, dan ak penasaran sama ceritanya karena sekarang sudah memasuki part 9 ..
    well, need to read more part ..😀

  33. i can’t stop to smile reading this part. Tingkah Hyukjae yang berlebihan saat akan menjemput jiyoo di bandara, cocok bgt karakternya.

    Kasihan hyukjae. Jiyoo tak mengenalnya dan malah mengira dia donghae.
    Hyukjae-ya, malang benar nasibmu nak.*pukpuk eunhyuk*

    sepertinya akan ada cerita cinta segitiga disini.
    Hehehe
    next…

  34. annyeong~ aku pembaca baru hehehe
    hyuk lucu bgt si kalo lagi kasmaran :3
    aku suka ff nya author~~~
    detail bgt hehehe

  35. Whoaaaaaaa, aku suka ceritanya. Jiyoo pikunnya udah keterlaluan yh, aigooooooo~

    Krn aku reader baru dsini, jadi perkenalan dulu deh.
    Annyeong, Ayunie Imnida, 88Line. Bangapta^^
    YeEunHae my bias

  36. Whoaaaaaaa, aku suka ceritanya. Jiyoo pikunnya udah keterlaluan yh, aigooooooo~

    Krn aku reader baru dsini, jadi perkenalan dulu deh.
    Annyeong, Ayunie Imnida, 88Line. YeEunHae my bias

    Bangapta^_^

  37. waahh kok jiyoo bisa bener2 lupa sma hyukjae oppa yaa pdhalkan dia yg bilang sukaa ckckckck
    mau punya shabat kyak hae oppa ada dsaat kitaa btuhh
    nice ff^^

  38. Anyeoongg .. aku new reader nih eonn
    Love at the first sign deh eon sama ff ini, cast nya eunhae lagii .. aduhh makin melayang deh bayangin mereka
    haha

  39. annyeong aku reader baru senang terdampar disini rasanya🙂
    wah itu kenapa jiyoo tidak mengingat hyuk? sebenarnya apa yang terjadi kalau hae ingat tapi hyuk tidak tapi itu yang ada dimimpi jiyoo hyuk kan? wah jadi penasaran
    eonni aku ijin ngacak-ngacak blogmu ya🙂

  40. Wahh knpa cuma hae doang yg d inget hyuknya kgak.
    apa gara2 hyuk g prnah komunikasi m yoo y…????
    ahhh jd pnsaran akut ni….
    Lnjut bca dlu deh…

  41. Kasian hyukjae dilupain gtu aja,, hyukpaaaaa sbar neeeee (っ˘з(˘⌣˘c)

    Eonnni ff nya DAEBAK gk bsa di tbak jlan critanya, pkoknya ngalir aja gtu kya airrrr kekekek
    Fighting eonni (っ˘з(˘⌣˘c)

  42. hai eonni🙂 /senyumanggun/
    Aku reader baru, salam kenal eonni.
    Marry Yoo! baru step 1 aku bacanya, bagus..bagus, ternyata ff ini udh lama dipublish
    Bolehkan baca lainya eonni ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s