BluEast Harmony #7

BluEast Harmony #7

<=

Jiyoo menggigit bibir, tiba-tiba saja takut akan ucapan Kyuhyun. Ia sendiri tanpa sadar menyesali ucapannya sendiri. Sejujurnya, ia tak tahu apakah keadaan akan jadi lebih baik atau justru memburuk. Jiyoo hanya meluapkan apa yang mengganggu pikirannya.

“Choi Jiyoo,” panggil Kyuhyun. Datar, dingin, tegas. “Kau akan menyesal jika aku menuruti perintahmu.”

—-

A week later

Sebuah lapangan terbuka di pinggir kota Incheon dijadikan tempat audisi. Panggung sederhana dengan dekorasi meriah didirikan di tengah lapangan. Sementara kursi-kursi juri ditata rapi tepat di depan panggung, beberapa tenda raksasa didirikan untuk ruang tunggu para peserta. Untuk sebuah audisi band indie, semua itu jelas lebih dari cukup.

Hyori menggenggam tangan Jiyoo. Terlalu kuat hingga Jiyoo merasa tulang tangannya retak. Gadis itu tersenyum menenangkan saat Hyori mulai panik.

Hubungan keduanya sudah membaik. Memang tak akan pernah jadi sama lagi, tapi setidaknya inilah hal terbaik yang bisa dilakukan Jiyoo. Ia akan menghindari topik tentang Kyuhyun dan akan membicarakannya sesedikit mungkin hanya jika Hyori bertanya.

Hyukjae tak berbeda, hanya saja lelaki itu memberikan pengampunan lebih daripada yang pantas diterima Jiyoo. Jiyoo menjadi teman dan mantan kekasih yang baik. Hyukjae berhak mendapatkan perlakuan yang lebih baik, tapi lelaki itu tetap berusaha menjadi Lee Hyukjae-nya Choi Jiyoo.

“Aku tahu kau dan Kyuhyun sedang tidak saling bicara,” ucap Hyukjae setelah memerhatikan kening Jiyoo yang tampak berkerut. “Ada apa?”

Jiyoo memaksakan seulas senyum tipis. “Tidak ada apa-apa.”

“Aku mengenalmu, Yoo. Jangan melakukan sesuatu yang menyakiti dirimu sendiri,” ujar Hyukjae tenang. Ia tersenyum saat menyadari ucapannya berpengaruh pada gadis itu. Dengan helaan napas yang panjang, Hyukjae meremas tangan Jiyoo. “Pernahkah kau menyukainya? Cho Kyuhyun, maksudku.”

Pertanyaan itu terlalu mengejutkan hingga Jiyoo memutar kepalanya dengan cepat. Ia mengerang. Tidak lagi. Ia sama sekali tak ingin ada orang lain yang mendikte perasaannya.

Dan orang lain yang terakhir diinginkannya berbuat begitu adalah Lee Hyukjae.

“Tidak.” jawabnya. Jiyoo mengeluarkan usaha terbaiknya untuk membuat Hyukjae berhenti bertanya hal itu.

“Apa aku boleh menganggap itu sebagai hal yang bagus?”

“Silakan saja.”

Hyukjae menautkan jemarinya di antara jari Jiyoo. Lelaki itu merasakan kehangatan menyenangkan membungkus tubuhnya. Jika bisa, Hyukjae ingin meringkuk dalam kehangatan itu dan tak pernah meninggalkannya lagi.

“Aku merindukan ini,” bisiknya. Belitan jemarinya menjadi lebih erat.

Jiyoo menelan ludah dengan susah payah. Sulit memungkiri perasaan sama yang saat ini juga dirasakannya. Namun secercah rasa bersalah menyusup di sela-sela onggokan hatinya. Rasa bersalah untuk seseorang yang bernama Cho Kyuhyun.

Seseorang yang menatap punggung Jiyoo dengan kedua mata pisaunya.

“Aku tahu dia sedang melihat kita,” ucap Hyukjae tenang, tanpa emosi dalam suaranya. Jiyoo bergidik. Hyukjae tahu, sebaik Jiyoo sendiri, bahwa seseorang bernama Cho Kyuhyun itu sedang membeku di tempatnya berdiri. “Dia melihatku menggenggam tanganmu.”

—-

Tangan Kyuhyun terkepal. Begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya. Tak begitu sakit, setidaknya semua itu terlupakan saat ia melihat kedua orang di depannya ini.

Perjuangan meninggalkan Choi Jiyoo sendiri sesuai permintaan gadis itu sama sekali tidak mudah. Seolah belum cukup dengan itu, Jiyoo menguji usaha Kyuhyun dengan membiarkan Hyukjae mendekatinya lagi.

“Sebentar lagi giliran kita,” Hyori menepuk lengan Kyuhyun. Gadis itu tak ingin tahu apa yang sedang diamati Kyuhyun hingga lelaki itu membeku di tempatnya.

“Shin,” panggil Kyuhyun. Hyori mendongak dan cepat-cepat merutuki diri karena tetap saja terpesona oleh wajah lelaki itu. Semuanya. Garis wajahnya, kedua matanya, cuping hidungnya, bibirnya. Hyori masih tergila-gila pada semua hal yang dimiliki lelaki itu. “Apa menurutmu ini masuk akal?”

Hyori mengangkat bahu, berusaha menenangkan diri dan menguasai emosinya sendiri. Hubungannya dengan Kyuhyun memang membaik, tapi ia tahu lelaki itu seperti membangun dinding pembatas baru di hadapannya. Jadi jika Kyuhyun mulai mengeluarkan nada suara seperti itu, Hyori benar-benar tak tahu hal apa lagi yang bisa membuatnya melompat kegirangan.

“Kalau kau jadi dia, apa kau juga akan menjauhiku seperti itu?” tanyanya.

Jantung Hyori mencelos. Pertanyaan itu sudah sering mampir di kepalanya. Bagaimana jika ia berada di posisi Jiyoo. Bagaimana jika ia yang disukai Kyuhyun sementara ada banyak orang yang terluka karena hal itu. Bagaimana ia harus bersikap di tengah-tengah kekacauan konyol ini.

Dan hasilnya, Hyori tak pernah tahu jawabannya.

Bisakah ia meraih tangan Kyuhyun begitu saja, tanpa banyak pertimbangan seperti yang dilakukan Jiyoo? Tidak. Jelas tidak. Memiliki Kyuhyun sepenuhnya adalah mimpi paling indah dan paling jauh yang dimiliki Hyori.

Ia akan dengan senang hati mengabaikan semua hal untuk merasakan tangan hangat Kyuhyun di sela jemarinya.

Hyori kembali mengangkat bahu. Jawaban terbaik yang dimilikinya hanya itu. Tentu saja ada beberapa pengecualian dalam pikirannya.

Kecuali jika tak ada Lee Hyukjae atau Choi Jiyoo.

—-

I’m sorry I’ve always been lacking to you

Did you take this step back and wait?

You, who’ve been tired of loneliness

I couldn’t be more honest,

I hate this but please don’t leave my side

 

Please don’t take away your precious smile from my side

And even small gestures that make me laugh

Come back to me.. Come back to me.. Come back to me..

 

Doesn’t it give you a sense of miserable in me?

You said that you’re searching for more love and happiness

But if not like that, if you’re not happy as much as you feel now,

Don’t waste time anymore, please stay with me just like now…

—-

Latihan singkat selesai. Jiyoo tak berani mengangkat wajahnya. Alunan nada dan suara emas itu menggema di kedua indera pendengarannya.

Bukan hanya itu, bahkan setiap liriknya melekat kuat dalam ingatan terdalam Jiyoo. Sepertinya Cho Kyuhyun memang berbakat dalam hal musik. Jiyoo mengerang dalam hati. Oh, mungkin bukan karena itu.

Mungkin karena lagu itu memang ditujukan untuk seseorang. Seseorang yang sekarang sedang berpikir konyol.

Jiyoo buru-buru menarik napas, mengembuskannya perlahan, menariknya lagi, dan seterusnya seperti itu. Rasa kosong mulai menohok dada kirinya. Napasnya menjadi pendek-pendek sementara pikiran-pikiran usil mengganggunya.

Jika memang lagu itu ditujukan untuknya, apa mungkin itulah yang ingin dikatakan Kyuhyun untuknya, si gadis yang selalu tampak kesepian ini?

Atau… mungkinkah si lelaki arogan, sombong, dan menyebalkan seperti Cho Kyuhyun itu mengucapkan permintaan maaf melalui lagunya?

Ah, benarkah Kyuhyun memintanya kembali padanya jika Jiyoo tak mendapatkan kebahagiaan apapun dari tindakannya?

Jiyoo menegur dirinya sendiri. Untuk apa ia memikirkan itu? Dan kenapa pula ia berusaha memahami lirik lagu ciptaan Kyuhyun? Jiyoo tak harus memikirkan semua itu. Tak harus dan tak boleh.

Permintaannya sudah dipenuhi; Kyuhyun tidak mengganggunya lagi. Semua itu adalah hal yang harus disyukuri Jiyoo. Lelaki itu memang benar-benar menurutinya. Meskipun begitu, tentu saja Jiyoo tak bisa benar-benar tenang.

“Kau akan menyesal jika aku menuruti perintahmu.”

Jiyoo menggigit bibir. Benarkah? Apa semua pikiran konyolnya ini adalah bagian dari penyesalan yang diucapkan Kyuhyun?

“Yoo,” panggil Hyukjae. Jiyoo mendongak dan mendapati lelaki itu tak memandangnya. Hyukjae menatap lurus ke depan. Wajahnya pucat, nyaris tampak tak bernyawa.

Merasa ada sesuatu –atau seseorang- yang dilihat Hyukjae, Jiyoo mengikuti arah pandangnya. Seorang pria paruh baya dengan gadis kecil dalam gendongannya membuat Jiyoo membelalakkan mata. Darahnya terhisap ke tanah. Jiyoo tak akan heran jika wajahnya menjadi lebih pucat dari Hyukjae.

Ayahnya berdiri menatapnya. Jiyoo tak berhalusinasi. Pria itu memang sedang menatapnya, berusaha menyunggingkan senyum kaku untuknya.

“Tidak perlu ke sana,” bisik Hyukjae. Lelaki itu sudah berada dekat dengan Jiyoo, berbisik tepat di telinganya. Terakhir kali Hyukjae melihat ayah Jiyoo adalah saat gadis itu memaksa pergi ke tempat ayahnya bekerja.

Dan setelah itu, JJAN! Hyukjae sama sekali tak berani bertanya alasan Jiyoo menangis. Ia tahu ayah gadisnya akan menikah lagi. Tentu saja tangisan itu akan menjadi tangisan bahagia jika ayah Jiyoo minta Jiyoo ikut bersamanya.

Ayah Jiyoo, jika Hyukjae masih boleh menyebutnya begitu, memutuskan meninggalkan Jiyoo. Persis sama seperti yang dilakukan ibu dan kakaknya pada gadis itu.

Kenyataan bahwa Jiyoo sempat berpapasan dengan pria paruh baya itu saat showcase membuat Hyukjae lebih takut. Ia takut gadis favoritnya akan hancur sekali lagi. Dan ketakutannya terwujud.

Hyukjae terperangah saat Kyuhyun tiba-tiba berjalan melewatinya dan Jiyoo. Walaupun latihan sudah selesai, Kyuhyun meminta beberapa orang yang menonton BluEast Harmony meninggalkan mereka. Termasuk ayah Jiyoo.

Jantung Hyukjae serasa diremas. Kyuhyun bertindak lebih cepat darinya. Tanpa suara, tanpa perintah.

Kyuhyun berjalan kembali ke arah membernya. “Ayo makan siang.”

—-

30 minutes later

“Terima kasih,” ucap Hyukjae saat ia menghampiri Kyuhyun yang sendirian. Lelaki itu menatap Kyuhyun dengan datar. “Karena sudah mengusir orang itu dari hadapan Jiyoo.”

Kyuhyun bergeming. Dengan santai, ia membuka zipper tasnya dan mengeluarkan botol air mineral dari sana. Lelaki itu meneguk air tanpa suara. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

Entahlah. Bicara pada rival yang sudah memperlihatkan pemandangan tak menyenangkan bukan hal yang sangat ingin dilakukan Kyuhyun saat ini.

“Kau sudah melepaskannya, kan?” tanya Hyukjae.

Kyuhyun menurunkan botolnya. Matanya berkilat karena emosi. “Kubalik pertanyaanmu, apa kau sudah melepaskannya?” Ia mendengus pelan. “Aku melihatmu menggenggam tangannya, bukankah hal itu tidak cukup pantas?”

“Aku melihatmu menciumnya,” balas Hyukjae. Skak mat. “Bukankah hal itu jauh dari kata pantas?”

Senyuman miring tersungging di sudut bibir Kyuhyun. Jadi ternyata Hyukjae melihat itu. “Karena itu sikapmu dan Hyori berubah?”

“Entahlah. Menurutmu?”

Kyuhyun mengembuskan napas. “Kalau begitu, selamat. Dia sudah minta aku menjauh, dan aku melakukannya.”

“Aku akan membawanya pergi,” ucap Hyukjae. Nada suaranya solid. Kyuhyun tahu lelaki itu tidak sedang bercanda atau berbohong. “Ayahnya… menemuiku.”

Tamparan keras tanpa wujud menyapa wajah Kyuhyun. Hyukjae jelas memberikan ucapan mengambang. Kyuhyun sama sekali tak bisa menebak maksudnya, tapi ia juga tak ingin terlihat tertarik. Karena jika begitu, ia akan kalah di depan Hyukjae.

“Lalu? Aku tidak peduli.”

Hyukjae tertawa pelan. Kenyataan bahwa Cho Kyuhyun tak pandai berbohong membuat Hyukjae mendengus geli. “Baguslah.”

Dengan umpatan tertahan di bibirnya, Kyuhyun berseru, “Sial! Ceritakan padaku semuanya!”

—-

Jam makan siang yang dipenuhi banyak orang serta keriuhan dari banyak arah membuat Hyukjae melangkah keluar tenda tunggu. Tenda itu cukup besar dengan warna putih tulang yang sempurna. Tiga sampai empat band indie dikumpulkan di sana sebelum panitia memulai acaranya.

Hyukjae tak menemukan Jiyoo yang kemungkinan sedang bersembunyi lagi entah di mana. Di tenda hanya ada Hyori dan Kyuhyun, jadi Hyukjae benar-benar tak punya alasan untuk tetap berada di sana.

Setelah menerima jatah makan siang miliknya, Hyukjae mencari tempat untuk makan di tengah taman. Lelaki itu mengembuskan napas lega saat menemukan sebuah kursi kayu panjang kosong. Ia akan makan dengan tenang di sana lalu pergi mencari Jiyoo setelahnya.

“Jeogiyo, Oppa,” seorang gadis kecil menghampiri Hyukjae. Lelaki itu menoleh, tersenyum lebar sebelum menyadari gadis kecil itu bersama ayahnya.

“Apa… kau teman Jiyoo?” tanya pria paruh baya itu. Hyukjae terdiam beberapa saat sebelum mengangguk tanpa suara. Ayah Jiyoo tampak mendesah lega. “Apa kau punya waktu?”

Hyukjae mengangguk, tetap tak bersuara. Sepertinya pita suaranya tak berfungsi baik karena membelit satu sama lain. Ia membiarkan ayah Jiyoo duduk di sampingnya.

Gadis kecil berambut ikal lucu itu naik ke pangkuan ayahnya. Kedua matanya memandangi wajah Hyukjae, seolah bertanya-tanya kenapa Oppa ini sama sekali tak bersikap sopan pada ayahnya.

“Aku pernah melihatmu… beberapa tahun yang lalu. Kau yang menemani Jiyoo menemuiku waktu itu, kan?” tanya Choi Hwangjo. Melihat Eunhyuk tetap mengangguk diam, Hwangjo tersenyum lega. “Ternyata benar. Apa dia baik-baik saja?”

Hyukjae mulai kehilangan kesabarannya. “Maaf, Paman. Seharusnya Paman bertanya pada Jiyoo.”

“Akan kulakukan nanti.” Hwangjo menatap langit biru yang indah siang itu. Tangannya membelai lengan gadis mungil dalam pangkuannya. “Ini Jiwon, putriku.”

Mendengar nama itu, Hyukjae langsung tersadar. Nama gadis kecil itu diambil dari gabungan nama kedua kakaknya. Entah apa yang akan dipikirkan Jiyoo, tapi Hyukjae merasa agak terobati. Ayah kesayangan Jiyoo sama sekali tak melupakannya.

“Aku ingin membawa Jiyoo tinggal bersama keluarga baruku,” ucap Hwangjo sambil tersenyum. Kerutan-kerutan halus tampak di sudut matanya. “Aku harus membawanya. Selama ini aku tidak bisa berhenti memikirkan Jiyoo, dan akhirnya istriku setuju untuk menerima anak bungsuku itu. Apa kau bisa menyampaikan ini pada Jiyoo?”

Hyukjae tertegun. Otaknya berjalan lambat sekali untuk mencerna maksud ucapan Hwangjo tadi. Seluruh kemampuan berpikir dan meresponnya seolah mati rasa saat ini.

“Aku tidak akan bisa menemuinya. Dia mungkin tidak akan mau,” Hwangjo kembali membelai lengan Jiwon yang kurus.

“Aniyo,” ucap Hyukjae akhirnya. Ia menelan ludah dan berdeham untuk membuat suaranya tak terdengar seperti sedang tercekik. “Aniyo. Jiyoo sangat… sangat menunggu kesempatan seperti ini. Dia selalu menunggu ayahnya.”

Hyukjae sadar Choi Hwangjo perlahan-lahan menghela napas lega. Pria paruh baya itu seakan menahan napasnya sejak tadi. Sedetik berikutnya, Hwangjo tersenyum lega; sangat lega hingga Hyukjae pikir pria itu bisa menangis saat ini juga.

“Tapi… Paman,” Hyukjae memikirkan sebuah permintaan yang akan diajukannya pada ayah Jiyoo. “Seandainya Jiyoo menerima tawaran Paman, apa boleh aku minta satu hal?”

—-

Kyuhyun melipat tangan di depan dada. Tangannya kembali mengepal kuat. Satu demi satu informasi masuk dan menjejali kepalanya hingga penuh. Ia bahkan tak tahu bagaimana cara mengurutkannya dengan benar.

Meskipun begitu, Kyuhyun mendapat firasat tak enak. Ia menatap Hyukjae. “Apa yang akan kauminta?”

“Bukan hal penting.” ucap Hyukjae tenang. Ia kemudian berubah tegang. “Kau tahu semua drama dalam BluEast ini sudah menyakiti semua orang, kan?”

“Apa?”

Hyukjae meralat ucapannya sendiri, “Maksudku, semua orang selain dirimu.”

“Katakan saja apa yang ingin kaukatakan,” ujar Kyuhyun. Punggungnya menegang, sikapnya berubah waspada. Ia tahu Hyukjae menyimpan kejutan lain untuknya.

“Aku senang kau sudah menjauh dari Jiyoo dan berhenti membuatnya bingung. Dia nyaris tidak mengenal dirinya sendiri belakangan ini. Kau membuatnya ragu, ketakutan, dan tentu saja, tersesat, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun nyaris menggeram. “Poinnya?”

Dengan helaan napas yang tetap teratur, Hyukjae mendongakkan dagu. Sikap seperti itu jelas bisa disangka menantang, tapi siapa peduli? Hyukjae harus menyelesaikan drama picisan ini.

“Jika seandainya Jiyoo harus pergi dari sini, anggaplah dia memang tidak pernah ada. Lupakan semuanya. Lupakan lagumu. Kembalilah hidup seperti sedia kala,” tatapan Hyukjae melembut. “Lupakan Choi Jiyoo dan segala hal tentangnya.”

Kyuhyun mendengus walaupun rasanya ia harus menahan diri mati-matian untuk tidak melayangkan satu pukulan untuk Hyukjae. “Biar kujelaskan padamu. Satu, bukan aku yang membuat Jiyoo bingung, tapi kau. Kau dan Hyori membuatnya tidak bisa mengakui perasaannya padaku. Dua, aku tidak perlu melakukan apa yang kausuruh karena aku tidak akan melakukan apa-apa. Tidak ada yang harus kulupakan. Dan tiga, sebenarnya apa yang kauminta pada ayah Jiyoo?!”

Hyukjae tersenyum tipis. Reaksi Kyuhyun yang seperti ini memang sudah diduganya. Tentu saja lelaki itu tak akan setuju begitu saja. Bagaimana bisa? Hyukjae sendiri juga pasti akan menolak jika diminta melupakan Choi Jiyoo.

“Lupakan saja. Kita akan menjadi rekan kerja untuk terakhir kalinya, jadi aku akan melakukan yang terbaik sekarang,” Hyukjae mengendikkan bahu, menunjuk jam dinding yang mengarah ke angka 2 tepat. “Ayo mainkan lagumu sekali ini saja.”

Dengan sudut mata yang mengikuti Hyukjae, Kyuhyun merasakan letupan emosi di dadanya. Lee Hyukjae jelas menyembunyikan sesuatu. Dan Kyuhyun tak suka jika ia tak tahu.

Ucapan Hyukjae tak masuk akal. Kyuhyun mendengus, nyaris mengumpat. Tak akan ada yang bisa dan boleh memerintah tentang apa yang harus dan boleh dilakukannya.

Kyuhyun bukan lelaki yang suka diperintah. Benarkah? Oh, ia lupa. Jika ia memang seperti itu, untuk apa ia menuruti permintaan Jiyoo untuk menjauhi gadis itu? Bodohnya.

—-

Hyukjae melangkah ringan saat kedua matanya menemukan Jiyoo duduk di depan cermin. Gadis itu mengurai rambut sebahunya, membiarkan mahkota cokelat gelapnya itu berkilau diterpa sinar matahari. Hyukjae tergoda untuk membelai kepala Jiyoo dengan lembut.

Sambil bersandar di salah satu meja, Hyukjae memerhatikan Jiyoo dari dekat. Lelaki itu tersenyum. “Mau bertaruh?”

“Apa?”

“Bertaruh, berjudi, bermain keberuntungan.”

“Apa yang kaubicarakan?” tanya Jiyoo.

Hyukjae mengangkat bahu. Salah satu tangannya terangkat untuk menyapukan jemarinya ke helai-helai rambut Jiyoo yang lembut. “Aku akan menjadi satu-satunya tujuanmu setelah ini.”

“Lee Hyukjae, kau kenapa?”

“Tidak apa-apa. Kupikir… aku harus melakukan sesuatu agar kau tidak kebingungan seperti ini,” gumam Hyukjae. Lelaki itu kemudian tersenyum lembut. “Jika semua ini selesai, aku bertaruh kau akan kembali menjadi Choi Jiyoo-nya Lee Hyukjae.”

Jiyoo mengerjap tak mengerti. Walaupun demikian, jantungnya meronta, melompat-lompat, memberontak hingga rasanya Jiyoo bisa sekarat. Lagi-lagi Hyukjae mengatakan sesuatu yang membuatnya khawatir.

Hyukjae mengusap wajah Jiyoo. Perlahan, menarikan jemarinya di pipi gadis itu. “Kau berhutang showcase pada Kyuhyun dan mencoba menggantinya dengan audisi ini, kan?”

“Mm.”

“Kalau begitu, lakukan yang benar.” Hyukjae menelan ludah. “Semua ini akan jadi yang terakhir.”

Jiyoo terkesiap. Reaksinya terlalu cepat hingga ia memutar tubuh menghadap Hyukjae sepenuhnya. “Apa?”

“Setelah semua ini selesai, pergilah bersamaku. Tinggalkan BluEast Harmony. Aku akan membawamu pergi jauh dari semua ini dan membuatmu kembali menjadi Choi Jiyoo-ku,” Hyukjae tersenyum jahil. Kedua matanya berkilat jenaka.

Sensasi itu membuat Jiyoo melayang. Semua hal tentang Hyukjae hari ini menjadi sesuatu yang familiar untuknya. Ia pernah memiliki setiap detil kecil dari Lee Hyukjae. Sensasinya selalu sama; membuat perutnya terisi oleh puluhan kupu-kupu yang mengepakkan sayap.

Ucapan Hyukjae terasa menjanjikan. Sebagian diri Jiyoo ingin menyerah, menganggap semua itu memang sesuatu yang diinginkannya. Tapi sebagian dirinya mati-matian menolak sesuatu yang diucapkan Hyukjae.

“Kau… bodoh ya?” gumam Jiyoo.

“Begitulah. Bukankah itu yang kausukai dariku?” Hyukjae tetap tersenyum puas.

Jiyoo menghela napas berat. “Katakan padaku, apa maksudmu? Ada yang kausembunyikan, kan?”

“Tidak ada,” ucap Hyukjae riang. Lelaki itu kemudian meremas tangan Jiyoo, berusaha menularkan rasa hangat untuk Jiyoo. “Ayahmu… datang.”

“Aku tahu.”

Hyukjae mendengus geli. “Tentu saja kau tahu. Aku yang memberitahumu.” Lelaki itu kemudian kembali serius. “Dia minta kau ikut bersamanya. Tinggal dengannya, hidup bersama hingga kau tidak sendirian lagi.”

Jantung Jiyoo berhenti berdetak. Kabar yang didengar telinganya terlalu mustahil dan menipu. Seandainya wajah Hyukjae tidak tampak seserius ini, Jiyoo akan melempar vas bunga terdekat yang bisa diraihnya.

“Kau bohong.”

“Lee Hyukjae tidak pernah berbohong,” ucap Hyukjae, tapi kemudian ia mengerang. “Baiklah, aku memang sering berbohong, tapi tidak padamu.”

“Lee Hyukjae…”

Hyukjae tersenyum lembut. Inilah respon yang dibutuhkannya. “Kita akan menemuinya setelah audisi ini selesai.”

Jiyoo tak bergerak. Ia tak bisa bergerak. Otaknya melarang tubuhnya untuk melakukan gerakan apapun kecuali bernapas. Tanpa suara, Jiyoo melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Hyukjae.

Gadis itu yakin Hyukjae tidak mempermainkannya. Hyukjae serius. Jiyoo sudah menunggu lama untuk mendengar kabar semacam ini.

Ia sudah terlalu lama menunggu ayahnya untuk menyampaikan ajakan manis itu.

—-

Kyuhyun menyandarkan tubuh di tiang penyangga. Tenaganya terserap ke tanah hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali helaan napasnya sendiri. Tiba-tiba saja ia menyesal sudah mengikuti Hyukjae.

Dalam hati, Kyuhyun berharap Jiyoo akan menolak kabar itu. Ayahnya sudah meninggalkan Jiyoo terlalu lama, gadis itu tak punya alasan untuk merasa bahagia. Tidak sebahagia itu.

Melihat Jiyoo kehilangan kata-kata dan nyaris menangis haru membuat Kyuhyun kehilangan tenaga. Gadis itu bahagia. Dan kenapa rasanya Kyuhyun terjebak?

Kyuhyun tak ingin membiarkan Hyukjae membawa Jiyoo pergi. Tidak, tidak setelah gadis itu membiarkan Kyuhyun frustasi dengan permintaan konyolnya. Ia setengah yakin kalau Jiyoo juga tak ingin meninggalkannya.

Yah… hanya setengah. Padahal Cho Kyuhyun sama sekali tak pernah berpikir setengah-setengah.

—-

“Choi Jiyoo,” panggil Kyuhyun ketika tak ada seorang pun di sekitar mereka. Hyukjae sudah pergi menyiapkan drumnya sementara Hyori pergi menemui ibunya di kerumunan penonton.

Jiyoo menatap Kyuhyun. Kedua matanya berkilau entah karena senang Kyuhyun sudah memanggilnya atau masih terbawa histeria kabar Hyukjae. Jiyoo jelas butuh kursus kilat untuk menentukan perasaannya sendiri.

“Aku menyerah.” Kyuhyun sempat menundukkan kepala sejenak sebelum mengadu tatapannya dengan mata almond Jiyoo. “Aku tidak bisa terus-menerus menurutimu. Aku menyerah untuk menjauhimu.”

Oh, haruskah Jiyoo merasa senang? Gadis itu menahan napasnya, menunggu kalimat lain yang mungkin akan disampaikan Kyuhyun.

“Hyukjae mengajakmu taruhan,” jelas sekali itu bukan pertanyaan.

Anggukan kecil menjadi jawaban Jiyoo. Gadis itu menolak memikirkan apa lagi yang kira-kira Kyuhyun ketahui. Termasuk dengan gagasan bahwa lelaki itu tahu soal ajakan Hyukjae meninggalkan BluEast Harmony.

“Aku juga akan mengajakmu bertaruh,” Kyuhyun berusaha tersenyum miring. “Aku pasti bisa mendapat gelar vokalis terbaik di sini.”

“Apa yang mau kaupertaruhkan?”

Dengan satu langkah pendek, Kyuhyun berhasil mencapai tempat Jiyoo berdiri. Keduanya terpisah hanya dengan jarak lima sentimeter. “Kau.”

“Aku bukan barang taruhan.”

“Kalau aku menang, kau akan membiarkan aku menjelaskan perasaanku. Selama lima belas menit, kau akan mendengarkan dan mempertimbangkan secara objektif kemudian kau akan memberiku jawaban tentang perasaanmu,” ucap lelaki itu tegas. “Tidak ada tekanan. Tidak ada Hyori, tidak ada Hyukjae. Semuanya murni darimu.”

Jiyoo mengerjap heran. Dari mana Cho Kyuhyun ini mendapat ide taruhan konyol seperti itu?

“Kalau kau kalah?” tantangnya.

Kyuhyun mengangkat bahunya tenang. Lelaki itu tak berniat kalah dan tentu saja ia tak akan membiarkan itu terjadi. “Kau boleh bertindak sesubjektif mungkin, kau boleh mendorongku menjauh dari lingkaran hidupmu. Kau boleh… membiarkanku tidak baik-baik saja.”

“Konyol,” gumamnya. Jiyoo nyaris kehilangan kesabaran untuk memaki Kyuhyun.

“Dan… sebenarnya, aku tidak mau Hyukjae membawamu pergi,” Kyuhyun berbisik, pelan sekali hingga Jiyoo harus benar-benar fokus untuk mendengarkan lelaki itu. “Aku tidak mau Hyukjae memanfaatkan permintaannya pada ayahmu agar dia bisa terus bersama denganmu.”

Jiyoo mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Hyukjae mengajukan permintaan pada ayahmu jika dia berhasil mengajakmu tinggal bersama Beliau,” ujar Kyuhyun sambil mengangkat bahu. “Aku tidak tahu apa itu, tapi kurasa dia minta agar dia bisa diijinkan berada di sampingmu.”

Oh, benarkah? Jiyoo tampak berpikir keras. Masuk akal, memang.

“Entahlah,” Jiyoo mengembuskan napas panjang. “Kurasa permintaan apapun yang diucapkannya tidak begitu penting.”

—-

Sorak-sorai mulai bergemuruh, membumbung di udara saat nama BluEast Harmony dipanggil. Semua pasang mata menunggu hingga empat orang menaiki panggung. Sambil tetap berseru penuh pemujaan, semua orang menunggu dengan tak sabar.

Kyuhyun memasang mic-stand dengan menyampirkan gitar di depan tubuhnya. Lelaki itu memakai t-shirt putih berlapis kemeja navy dengan celana jins senada. Tampilan itu jelas cukup untuk membuat para gadis meneriakkan namanya dengan liar.

Tampaknya gelar yang dipertaruhkan Kyuhyun akan membuatnya menang taruhan. Jiyoo bergidik membayangkannya.

Petikan gitar Kyuhyun menjadi pembuka lagu. Lagunya tetap sama; sebuah lagu yang ditujukan untuk Jiyoo. Memikirkan hal itu ternyata bisa membuat Jiyoo gelisah.

Jiyoo menarikan jemarinya di atas keyboard, menekan tuts hitam-putih sesuai kunci. Otaknya berusaha untuk menyingkirkan hal-hal yang berkaitan dengan Cho Kyuhyun. Ia memusatkan diri pada sepasang mata yang sedang mengawasinya.

Dadanya bergemuruh saat melihat ayahnya menatapnya dengan bangga. Jiyoo harus menenangkan diri. Ia takut ia akan menangis di tempat dan kembali mengacaukan audisi ini seperti ia mengacaukan showcase terdahulu.

Ucapan Hyukjae melayang-layang di kepalanya. Bahwa ayahnya juga menginginkannya. Ayahnya mengajaknya untuk tinggal bersama. Seperti dulu. Persis seperti yang sering dibayangkannya.

Saat irama itu mengalun dan liriknya menyapa gendang telinga Jiyoo, gadis itu teringat kembali dengan taruhan konyol yang dilakukan Kyuhyun. Butuh energi ekstra untuk memahami maksud lelaki itu.

Dan tentu saja, keberanian ekstra untuk memutuskan secara objektif.

Jiyoo memusatkan perhatian pada jemarinya yang menari. Objektif sama dengan mengabaikan perasaan semua orang. Dengan kata lain, objektif bukan hal yang baik.

Jika bisa mengabaikan semua itu, Jiyoo tak tahu jawaban apa yang akan diucapkannya pada Kyuhyun. Entahlah. Lelaki itu sudah membuatnya kebingungan dan panik. Benarkah ia, sesuai dengan ucapan Kyuhyun, sudah menyukai lelaki itu?

Tak mungkin ada alasan yang logis untuk ketakutannya saat ini, bukan?

Cara Kyuhyun menatapnya, mengikutinya, menemukannya di toilet, menciptakan lirik dan lagu yang indah ini… semuanya memesona.

Dan berbahaya. Mungkin inilah alasan Jiyoo tak bisa memberikan jawaban yang jujur untuk Kyuhyun. Karena gadis itu takut perasaan itu akan menghancurkan perasaan-perasaan yang lain. Karena bahkan Jiyoo takut membayangkan bahwa Kyuhyun menangkap basah perasaan itu darinya.

Jiyoo lebih memilih jawaban yang ‘tepat’ daripada jujur. Tepat dan jujur tidak selalu beriringan. Begitulah pikirnya.

Oh, Kyuhyun tahu itu. Jiyoo mendadak bergidik. Kyuhyun tahu persis perasaannya, karena itu ia meminta taruhan bodoh yang tidak masuk akal.

Lagu selesai. Jiyoo menekan tuts terakhirnya dan tersenyum simpul. Matanya kembali bertemu dengan sepasang mata lain yang mirip dengannya –mata ayahnya. Jiyoo merasakan kekuatan besar untuk tersenyum semakin lebar untuk pria itu.

Jiyoo terkesiap saat sebuah tangan menggapai tangannya. “Ajussi akan menemuimu nanti.” Kalimat Hyukjae luar biasa menenangkan.

Dengan senyuman kecil, Jiyoo mengangguk. Ia akan melupakan semua kekhawatirannya dan memikirkan hal lain. Semudah itu.

—-

The next day

Shin Hyori berguling di atas ranjangnya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk duduk tanpa niatan meninggalkan ranjang. Ingatannya terputar sendiri, tepat ke hari kemarin.

BluEast Harmony memenangkan juara pertama. Sudah bisa diduga, memang. Hyori tahu kemampuan Kyuhyun tak perlu diragukan lagi. Semuanya terasa sempurna kemarin.

Satu-satunya yang membuat hari kemarin tak sesempurna kelihatannya hanya tindakan Kyuhyun pada Jiyoo. Saat nama juara disebutkan oleh juri, Kyuhyun menarik Jiyoo ke dalam tubuhnya, memberikan gadis itu rasa hangat yang –mungkin- selalu menjadi milik Hyori.

Hyori mendadak tak bisa bernapas. Kejadian itu berlangsung tepat di depannya dan Hyukjae. Mungkin Jiyoo sempat melirik mereka, tapi jelas sekali gadis itu tak memiliki kuasa untuk melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun.

“Ah…” gumamnya lirih. Hyori tahu belakangan ini semua rasa sakit sering menyapanya. Hanya saja Hyori tak pernah bisa terbiasa.

Seharusnya Hyori menghindari rasa sakit itu. Seharusnya akal sehatnya berjalan benar untuk menjauh dari segala penyebab kesakitannya itu. Seharusnya… ia melindungi dirinya sendiri.

Hyori sadar sepenuhnya bahwa ia tak bisa terus-menerus hidup dengan menelan rasa sakit ini bulat-bulat. Ia harus melindungi diri. Saat tak ada yang mampu melindunginya dari rasa sakit, Hyori jelas harus melindungi dirinya sendiri.

Tapi bagaimana caranya melakukan itu?

Jika menghindari rasa sakit berarti menjauh dari Cho Kyuhyun, apa ia sanggup melakukannya? Hyori tak berpikir dan tak ingin memikirkan akibat yang bisa ditimbulkan dari menjauhi Kyuhyun. Ia tak akan sudi repot-repot memikirkan pengaruh lelaki itu untuknya.

Karena jelas, Hyori tak akan bisa dan tak akan mau beranjak dari sisi Kyuhyun.

“Akan kubuktikan padamu, Cho Kyuhyun yang bodoh,” bisiknya. “Aku menepati janjiku untuk tetap berada di tempat yang benar, untuk tetap menjadi Shin Hyori yang sama untukmu.”

—-

Choi Jiyoo menyapukan telapak tangannya yang berlapis sarung tangan untuk membersihkan jendela kafe. Sepasang headset tergantung di kedua telinganya. Ia harus menyibukan diri sebisa mungkin.

Seharian ini ia akan bebas dari pekerjaan di studio dan di kafelah tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu dan pikirannya.

Perlu diakui Jiyoo, ia merasa lega saat pengumuman vokalis terbaik ditunda hingga 3 hari ke depan. Kyuhyun akan kehilangan alasan untuk menekannya dengan taruhan konyol itu. Walaupun begitu, waktu 3 hari ke depan ini seakan membunuh Jiyoo perlahan.

Jika ia berharap Kyuhyun tak mendapat gelar itu, Jiyoo tak perlu mengakui apapun padanya. Seandainya semudah itu.

“Kau melamun,” bisikan itu terasa dekat walaupun orang yang dipikirkan Jiyoo jelas sedang jauh saat ini. Kepalanya tersentak saat melihat Kyuhyun berdiri di depannya, hanya dihalangi kaca besar. “Apakah aku tidak pantas diberi ucapan selamat pagi?”

Jiyoo mencibir. “Tidak.”

“Selamat pagi juga,” ucap Kyuhyun tak peduli. Lelaki itu membuka pintu kafe yang ternyata tak dikunci. Jiyoo merutuk kenapa Park Hyunyoung meninggalkan kafe tanpa mengunci apapun? Kyuhyun menarik kursi dan menatap Jiyoo. “Aku mau pesan.”

“Kafe belum buka.” Jiyoo mengendikkan bahu, menunjuk tanda Closed yang masih terpasang di counter kasir.

Kyuhyun mengernyitkan kening. “Tapi aku sudah di sini.”

“Lalu kenapa?”

“Setidaknya berikan aku segelas air mineral,” melihat Jiyoo yang tak bergerak, Kyuhyun menyerah. “Baiklah, tidak perlu air mineral.”

Jiyoo menghela napas berat. Gadis itu menarik kursi tepat di depan Kyuhyun, mencoba mencari tahu apa yang diinginkan lelaki itu. “Kenapa kau ke sini?”

“Menemuimu,” jawab Kyuhyun singkat.

“Lucu sekali. Aku serius. Dan jangan sampai aku menendangmu keluar dari kafe ini. Hyori biasa membangunkanmu di studio, kan? Sekarang pulanglah dan tunggu Hyori di kamarmu,” Jiyoo menggeletakkan headsetnya dan menatap Kyuhyun dengan tajam.

Kyuhyun mengangkat bahu. Ia balas menatap Jiyoo. “Kenapa kau tidak bisa membicarakan tentang dirimu saja?”

“Karena aku tidak mau dan tidak ada yang perlu kubicarakan.”

“Soal ayahmu.”

Kedua mata Jiyoo melembut. Ia teringat pertemuannya dengan Choi Hwangjo kemarin. Lelaki itu benar-benar ingin Jiyoo tinggal bersamanya. Dan itu membuat hari Jiyoo luar biasa sempurna.

Oh, kecuali dengan pelukan tiba-tiba Kyuhyun di depan Hyori dan Hyukjae, Jiyoo pasti benar-benar mendapatkan hari yang sempurna.

Terkadang ia heran kenapa lelaki seperti Cho Kyuhyun sama sekali tak peka pada perasaan orang lain. Jiyoo jelas sekali melihat sorot keterkejutan dari Hyori dan Kyuhyun sama sekali tak menangkapnya. Dasar lelaki bodoh!

“Memangnya apa yang perlu kau tahu, Cho Kyuhyun yang baik?”

Kyuhyun mendekatkan tubuh ke arah Jiyoo. “Semuanya. Apa yang kalian bicarakan dan apa yang Hyukjae putuskan.”

“Hyukjae? Apa hubungannya ayahku dengan Hyukjae?” tanya Jiyoo. Seingatnya, Lee Hyukjae-lah yang sudah meyakinkan dirinya untuk menemui Choi Hwangjo. Dalam hal ini, Lee Hyukjae adalah pahlawan yang super baik hati, bukan?

“Apa dia minta supaya bisa pergi bersamamu? Dan, kemana kalian akan pergi?”

Jiyoo mulai tak sabar. Ia memutar bola matanya. “Demi Tuhan, Cho Kyuhyun. Kenapa kau harus peduli?” Tahu Kyuhyun akan memberi jawaban picisan yang sering diucapkannya, Jiyoo meneruskan, “Istri ayahku ada di Incheon, dan tentu saja aku akan dibawa ke sana. Lalu soal Lee Hyukjae, aku tidak tahu soal permintaannya, jelas?”

“Begitu. Baiklah, anggap saja Lee Hyukjae itu memang belum mengatakan apapun padamu,” sahut Kyuhyun tenang. Sikap tenangnya ini benar-benar membuat Jiyoo ingin menendang lelaki itu keluar kafe.

Keluar dari hidupnya sekalian, jika bisa.

—-

“Lee Hyukjae!” panggil Hyori dari beranda kamarnya. Ia mengerutkan kening saat melihat Hyukjae berada di sekitar dorm Jiyoo.

Lelaki yang dipanggilnya mendongak, terkejut sesaat kemudian melambaikan tangan ke atas. Sebelum lambaian tangan itu turun, Hyori sudah menghilang dari berandanya. Hyukjae tak harus repot-repot kebingungan mencari gadis itu karena ia sudah tahu.

Hyori berlari kecil ke arahnya. “Apa yang kaulakukan disini?”

“Membereskan masalah Jiyoo,” Hyukjae tersenyum sambil mengangkat bahu. Melihat Hyori mengernyitkan alis, Hyukjae melanjutkan, “Urusan utang Jiyoo harus diselesaikan. Ayahnya yang menyuruhku.”

Anggukan paham ditunjukkan Hyori. Gadis itu kemudian menyikut lengan Hyukjae. “Mau melihat kamar Yoo?”

“Jangan konyol. Aku sudah menemui pemilik gedung ini dan sekarang aku harus menemui Choi Ajussi,” Hyukjae terkekeh. Ia kemudian memiringkan kepala. “Tapi kalau kau memaksa, aku akan menurut.”

Hanya begitu Hyukjae langsung berjalan di depan Hyori. Ia sudah tahu letak kamar Jiyoo. Hyori memang benar. Ia sudah lama ingin tahu kamar Jiyoo di sini.

Hyori melongo. “Yah! Kapan aku memaksamu!?”

Hyukjae menoleh ke belakang dan tersenyum jahil. “Anggap saja kau memaksaku.”

Mendengar kepolosan aneh dari Hyukjae, Hyori hanya mendesis. Ia mempercepat langkah saat Hyukjae berdiri menunggunya. Hyori ikut tertawa begitu Hyukjae melingkarkan lengannya di sepanjang bahu kecilnya.

Hyukjae berhenti di depan pintu dengan pelat hitam bertuliskan 202. Kamar Jiyoo sekarang berada di depan hidungnya. Sejak gadis itu pindah dan menghilang, Hyukjae sama sekali tak tahu soal kamar ini. Tentu saja hal itu membuat rasa penasarannya meningkat berkali-kali lipat.

“Kau punya kuncinya?” tanya Hyori setelah memerhatikan Hyukjae yang membeku sesaat.

Lelaki itu mengangguk, mengeluarkan sebuah kunci berwarna emas yang diberikan oleh pemilik gedung. Dengan perlahan, Hyukjae memasukkan kuncinya ke lubang dan memutarnya hingga terdengar bunyi ‘klik’ pelan.

Hyukjae sempat mengamati pintu kamar Jiyoo. Catnya sudah pudar bahkan terkelupas di beberapa bagian. Ia bertanya-tanya sejak kapan Jiyoo tinggal di tempat ini. Seperti apa kehidupan gadis itu di sini. Hyukjae ingin tahu.

Sepertinya sudah bukan hal yang baru lagi untuk Hyukjae jika ia selalu ingin tahu tentang Choi Jiyoo.

“Kau sedang sensitif ya?” celetuk Hyori. Gadis itu tahu Hyukjae sedang berpikir tentang banyak hal yang menyangkut Choi Jiyoo. Sepertinya menyenangkan jika menerima perasaan sekuat itu dari seorang lelaki. Hyori berandai-andai. “Jangan sampai kau menangis di sini. Aku tidak punya tisu.”

Hyukjae melirik Hyori yang menunjukkan tanda V dengan jarinya. “Ayo masuk.”

“Siapa yang sejak tadi jadi patung di depan pintu?” gumam Hyori pelan.

—-

Kyuhyun menopang dagu dengan punggung tangannya. Kedua matanya belum bisa lepas dari Jiyoo. Masih banyak pertanyaan yang tersusun rapi di benaknya, tapi lelaki itu belum tahu bagaimana cara mengutarakannya dengan benar.

Untuk seorang lelaki baru yang memasuki hidup seorang gadis, Kyuhyun ingin tahu lebih banyak tentang Jiyoo. Entah itu hal remeh atau penting dalam hidup gadis itu.

“Kalau tatapan itu bisa membunuh, kurasa aku sudah mati sekarang, Cho Kyuhyun,” ujar Jiyoo sambil mendesah. “Berhentilah menatapku seperti itu.”

Kyuhyun menggeleng pelan. “Siapa yang menatapmu? Aku sedang berpikir.”

“Kalau begitu, alihkan matamu ke tempat lain,” Jiyoo mengerucutkan bibir.

“Ini mataku. Tuhan menitipkannya padaku dan aku bebas menatap apapun atau siapapun selama tidak ada unsur negatifnya,” Oh, Kyuhyun mulai lagi.

Jiyoo tak akan menanggapi tantangan berdebat lelaki itu. Semakin lama, Jiyoo tahu umurnya akan berkurang hanya dengan meladeni ucapan Kyuhyun. Gadis itu hanya harus mengabaikannya. Jiyoo hanya harus bersenandung dalam pikirannya.

“Hei,” Kyuhyun menuntut perhatian. Jiyoo menoleh dengan malas, sekedar ingin tahu apa lagi yang diinginkan Cho Kyuhyun. “Apa… kau masih menyukai Lee Hyukjae?”

—-

Jemari Hyukjae menyusuri meja tempat Jiyoo memajang banyak pigura lucu. Sebagian besar warna ungu. Sebagian besar benda itu membuat Hyukjae menemukan Choi Jiyoo-nya yang dulu. Sebuah album foto mini menarik perhatiannya.

Hyukjae pernah melihat benda itu di dorm Jiyoo yang dulu. Ia meraihnya, meniup debu yang melapisi permukaan album foto itu.

Dadanya menjadi hangat saat melihat Jiyoo masih menyimpan fotonya. Hanya satu, tapi itu cukup untuk membuat Hyukjae bahagia. Foto itu diambil diam-diam oleh Jiyoo saat keduanya kencan ke kebun stroberi.

Sehelai daun stroberi kering diselipkan di foto itu. Daun itu berasal dari stroberi yang dipetik sendiri oleh Jiyoo. Gambaran itu kini terputar jelas di kedua matanya.

Hyukjae pikir kenangan itu sudah usang. Ia kira kenangan itu sama sekali tak berarti lagi.

Tapi ternyata diantara dirinya dan Jiyoo, Jiyoo-lah yang paling mengagungkan setiap keping kenangan yang dimiliki mereka. Hyukjae kira gadis itu sangat membencinya hingga tak akan sudi menyimpan semua benda tentangnya. Hyukjae kira… Jiyoo berhenti mengingatnya.

“Aku sudah bilang tidak bawa tisu, kan?” omel Hyori lagi. Ia memerhatikan cara Hyukjae menyentuh barang-barang Jiyoo. Dan sekali lagi, ia berharap dapat menjadi gadis yang dipuja seperti itu.

Hyukjae mendengus dan mengabaikan Hyori. Lelaki itu membaringkan diri di ranjang Jiyoo. Aroma tubuh gadis itu jelas sudah tak berbekas. Ia hanya ingin merasakan bagaimana Jiyoo menghabiskan malamnya di ranjang ini.

Hyori memutar bola matanya. “Aku mau pulang.”

“Hmm.”

“Dasar bodoh!” umpat Hyori. Tapi gadis itu juga tak bisa menahan senyumannya saat melihat kebahagiaan kecil yang menyapa Hyukjae. Sepertinya ia sudah cukup senang. Setidaknya satu diantara mereka bisa berbahagia, walaupun sedikit.

Pintu menimbulkan suara bedebum saat Hyori menutupnya. Hyukjae menarik napas dalam-dalam. Di kamar yang sempit ini, ia sama sekali tak merasa sendirian. Hyukjae bisa membayangkan Jiyoo berada di kamar ini, melakukan semua hal yang membuat gadis itu sibuk.

Pikiran konyol mampir ke kepalanya. “Jika aku bisa berada di sini selamanya, aku rela mati sekarang, Yoo.”

—-

Shin Hyori bersandar di dinding sambil memeluk gitarnya. Ia memetik nada-nada sembarangan. Seharian ini ia tak kemana-mana, tidak pula ke tempat Kyuhyun. Mungkin memang ia harus pelan-pelan membiasakan diri berada jauh dari lelaki itu.

Mungkin memang Kyuhyun perlu waktu-waktu kosong tanpa dirinya mulai sekarang…

Bayangan Hyukjae dan tatapan hangatnya pada barang-barang Jiyoo membuat Hyori merasa kesepian. Lelaki itu benar-benar terikat dengan Jiyoo. Orang bodoh saja bisa tahu kalau Hyukjae tak akan bisa jauh dari Jiyoo.

Dan sepertinya, orang bodoh juga pasti tahu kalau ia, Hyori, juga tak bisa jauh-jauh dari Kyuhyun.

Hyori mendesah berat. Rasanya ia dan Hyukjae berada di posisi yang sama. Bedanya, Hyukjae bisa dengan ringan memberikan bantuan apapun untuk gadis itu sementara Hyori selalu merasa sesak napas jika harus melihat tatapan dari Kyuhyun untuk gadis lain.

Riuh-rendah kerumunan orang membuat Hyori menghentikan lamunannya. Ia mengerutkan kening. Apa yang membuat tetangga-tetangganya mengeluarkan suara berisik seperti itu siang hari begini?

Hyori meninggalkan kamarnya, menuruni tangga dan mencari ibunya. “Eomma, ada apa?”

“Hyori-ya, temanmu, Jiyoo, tidak sedang berada di dormnya, kan?” pekik ibunya. Kentara sekali kecemasan dari suara wanita paruh baya itu.

“Jiyoo? Dia sudah lama tidak menempati dormnya. Ada apa?”

Jawaban yang membuat Hyori lemas terucap dari bibir ibunya. “Gedung itu kebakaran! Ada korsleting listrik dari lantai 1, pemiliknya membiarkan listrik menyala selama 24 jam terakhir. Beberapa orang melihat percikan kembang listrik sebelum api menyebar.”

“Apa!?” Hyori merasakan kedua kakinya mati rasa. Ia bisa saja terjatuh ke lantai saat itu juga, tapi ia memutuskan untuk berlari ke luar. “Lee Hyukjae! Lee Hyukjae!”

Kerumunan orang terlalu banyak. Asap hitam mengepul ke udara tepat di atas gedung itu. Hyori mulai panik dan memutuskan kembali ke teras rumahnya. Di pikirannya hanya ada satu nama. Choi Jiyoo.

Hyori menempelkan ponsel ke telinganya, menunggu dengan tak sabar dan nyaris menangis. Begitu tersambung, Hyori mulai meneteskan air mata. “Yoo! Dorm-mu… kebakaran.” Bisiknya parau. “Lee Hyukjae… dia, Lee Hyukjae ada di dalamnya.”

===============================

HA HA HA~ Saya desperate, saya putus asa. Scene ini suda jadi cadangan ide kalo gak ada ide sama sekali. ;___;

Mari maen tebak-tebakan!

a.       Hyukjae mati, JiKyu jadian, Hyori sekolah ke luar negeri

b.      Hyukjae mati, JiKyu gak jadian, Hyori tetep ama Kyuhyun

c.       Hyukjae idup, JiKyu jadian, Hyori ama Hyukjae jadi partner patah hati

d.      Hyukjae idup tapi amnesia, JiKyu gak jadian, Hyori jadi cewe penyelamatnya Hyukjae *sinetron banget, gak nyambung pula. xD*

e.      Opini bebas Anda+saran ending yang enak

Ketik BEH<spasi>a/b/c/d/e kirim ke: rumah Choco~

Sebenernya, gak satu pun dari option a/b/c/d jadi pertimbangan saya. HA HA HA~ xD

Buat yang e, beneran saya bikin polling aja deh. Anda mau JiHyukyuHyo ato HyoHyukJiKyu. Semua ide yang masuk, jadi bahan pertimbangan kok. ^-^

Eh, and yea, Jiyoo mulai suka ama Kyuhyun, tapi ya itu… gak bisa bilang jujur-jujuran. :’3

88 thoughts on “BluEast Harmony #7

  1. EIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII~~~~
    IGE MWOYAAA~~ ?!!!
    option : e. hyori nyelametin hyuk trus jikyu juga ikutan masuk kdlm dorm yoo trus mati semua, dan akhirnya reunian di depan pintu neraka~ otte ? :3

    ah! bikin jantung ketar ketir ini bacanya T.T poor hyori~ tapi keyen :3
    and I lobe lobe chuykyuhyun yeee~ jwbannya soal mata itu titipan Tuhan dan bebas gunainnya bwt apa ajah :*
    dan hyuk oppa yang lovable minta ampun itu~ /hug/ xD

    sumpah. yoo pinter banget bikin penasaran -_-”
    tolong aja ye kan. saran saya cuma atu, ga ada acara die die~ dan no additonal cast ! :p

    • Option e Anda tidak saya pertimbangkan.
      Kenapa?
      Karena Anda ngajak ketemuan di depan pintu neraka alias kampung halaman kyu.

      Poor hyori bangeeets~ dia iri gitu ama perhatiannya hyuk. *ini based on real story. Hihi~*
      Chuykyuhyun itu….makin bingung karakternya dia di sini jadi apa. -_-a
      Yang di-hug Hyuk oppa doang? Yoo dongsaengnya gak? Oh… gitu. *buangmuka*

      Hehehe~ kan yoo syuka bikin orang ngamuk2.. *diamuk beneran*
      Gak ada die die? Yahh…. *penonton kecewa*
      TERIMA KASYIIHH SYUDA BERSEDIA NGEPOST-IN BLUEAST~ *hug-kiss-bow

  2. gimana kalau hyukjae oppa hidup,tapi diselamatin sama jiyoo..dan akhirnya jiyoo sadar klo hyukjaelah belahan hatinya.jd jihyuk nalik lagi jd pasangan#ngarep bgt ini jd couple trs pokoknya…haha

  3. Kyu ~ harus ya ngeliat pake mata pisau itu ??? Serem abisss hehehe
    Jadi disini kyuhyun ngejauhin yoo tapi dia ga bisa -_- yahh gagal moveon#ganyambungggg
    Emmg jiyoo mau dibawa kemana sama hyukjae ? Ko misterius bgt …..
    Part berikutnya ending kah ?
    Gimana kalo opsi yg d. jikyu telat dateng , terus yg nyelamatin hyukjae si hyori abis itu hyukjae sadar kalo hyo belahan jiwanya . Jadi deh ga ada yg tersakiti wkwkwk … Intinya terserah pada mu eonn, yang penting sensasional!!! #kayaiklan #loh

  4. opsi dari aku jikyu jadian. hyori gila trus hyuk patah hati en jd workoholic ampe tua waakakakakakakaka *jangan bunuh saiah*..

    liat hyuk disini kakak makin yakin yoo lum bisa ngelepas hyuk en beralih ke kyu *deep sigh*

  5. aku sama kyk pendapatnya @amelia, tetep jihyuk tesera yg nyelametin hyuk siapa pokoknya hyuk jng mati kasian dri chap awal ud merana msak akhirnya tragis gtu (red:matikebakar)…hehe
    ditunggu next chapnya,fighting,!!🙂

  6. aku sama kyk pendapatnya @imelia, tetep jihyuk tesera yg nyelametin hyuk siapa pokoknya hyuk jng mati kasian dri chap awal ud merana msak akhirnya tragis gtu (red:matikebakar)…hehe
    ditunggu next chapnya,fighting,!!🙂

  7. aku mau ngasih opsi aku pake capslock
    HYUKJAE ENGGA MATI, TAPI MALAH DITOLONGIN SAMA JIYOO AKHIRNYA HYUKJAE SAMA JIYOO BALIK LAGI DAN KYUHYUN SAMA HYORI JADIAN POKOKNYA JIKYU ENGGA BOLEH JADIAN *EVILLAUGH HARUS HYUKJAE YANG SAMA JIYOO!!
    Hahaha itulah obsiku onn pokoknya jikyu engga jadian yang jadian hyukjae sama jiyoo, kyuhyun sama hyori harus gini ya onn ya ya ya aku engga tega baca yang tentang hyori dia itu dari awal udah cocok sama kyuhyun nah kalau jiyoo aku emang jihyuk shipper jiyoo hyukjae shipper ya onn😀 sekian obsi dan komenku

  8. nooooooo gk stju klo hyuk matiii…. Itu sumpah klo hyuk mati justru bkin teka teki nya gk terungkap…
    Jd biarin hidup aja.. Klo mw egois mah mw nya jihyukkyuhyo tp klo ngikutin alur ceritanya apa lg si gyu udah cheesy bgt dah… Lovey dovey bgt ke jiyoo kyknya cocok jg bwt jikyuhyohyuk…
    But up to you dah… Muhaha /labil/
    Pkknya ttp nunggu next story gmana jd nya ni story bkal ttp keyen koks… Wkwkwk

  9. Gmna kalo hyori tetep sama kyuhyun terus hyukjae sama jiyoo???
    Gmna kalo kyuhyun d hadapkan pada sebuah pilhan, lebih tidak ingin kehilangan siapa?hyori atau jiyoo,,begitu pula sama jiyoo,,hhehehe

  10. Huaaa muncul juga part ini eon!!>,< lebih suka kalo jikyu jadian hyohyuk partner patah hati trus mereka ke luar negeri ke museum broken herat deh :3 (ˆ⌣ˆ‎​​​​)♉. Fighting eon buat part selanjutnya!!
    Ps:ditunggu ya ff baby jihyuk :p

  11. pokoknya hyukjae gakboleh mati yayaya gak boleh mati, terus jihyuk pacaran lagi pokoknya yayaya ayolah please thor yayaya

  12. Kyuhyun gagal moveon hahaha
    Hyuk jgn mati…msa ganteng” gtu akhirnya hrus mati jgaaa..syang bnget hyuk disia”in
    Actually..aku lbh dpat feel.y JiHyukyuhyo tp ngeliat kyu yg sperti.y desperate bnget gk bsa jauh” dr jiyoo jd ksian jga sihh..tp lbh ksian lg sm hyori~nim,,dia sperti jd pihak yg tdk diinginkan #digeplak hyori~nim
    Aduhh bingung…aku suka Jikyuhyohyuk tp aku lbh comfort ke JiHyuKyuHyo…pokoknya yg pnting happyend eonn #maksa🙂

  13. tetep jihyuk , karna dari pertama sekali buka blog ini , yang membekas pasangannya jihyuk . dibawa kemana2 juga tetp jihyuk . tapi seriusan , di part ini makin runyam . kenapa juga pake acara kebakaran . emang si kunyuk didalem ngapain ?

    • JiHyuk kah? Okeeeehh~ :3
      Hyukjae ke dorm di bawah titah (?) bapaknya yoo, buat ngelunasin utang yoo. Kan yoo di chapter2 kemaren numpang tinggal di kafe tempat kerjanya, nah itu gara2 utang. xD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  14. ah..ff ini bener2 complicated! suka banget😄 ~
    aku tetep JiHyuk-HyoKyu.. soalnya otak udh bener2 nempel sma karakter pasangan JiHyuk …
    dengan konflik JiKyuHyoHyuk sebenernya aku suka banget, cuma tetep aja akhirnya pengen JiHyukHyoKyu #elahbelibet

    plis plis hyukjae jgn mati…~
    bikin happy ending thor..^^
    semangat terus thor..!!!!!!!!!😀

  15. kyaaa lee hyukjae ! please selamatkan uri eunhyuk ! aku mau hyohyukjikyu ! aduh ini jikyu feelnya dapet bngt , harus jadian. please bngt juga hyohyuk jadiin yaa , biar gak jadi partner brokenheart hahaha

  16. waa… di ending ny nyesek bnget.. wkwk
    saran lg dech unnie, gpp ya? hehe
    emm, gmna jd KyuHyuk JiHyo aja.. jd ga ada yg pacaran.. semua ny bersahabat…. wkwk😄
    abis bingung mau jikyu hyohyuk jihyuk hyokyu semua ny bakal ada yg sakit ><

  17. Aduuuuuh!!!
    Hyukjaeeeee~~~~ kenapa dapet ide kebakaraaaaaan?? ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
    Option E deh.. Jiyoo panik langsung nerobos api masuk nyepametin hyuk, ngeliat jiyoo lari kyuhyun ikut masuk nerobos api, terus mereka bertiga mati… Sisa hyori yang selamat, naas memang.. ㅠㅠ
    Gak tau lah saya juga bingung ㅠㅠㅠㅠㅠ

  18. kya…
    Ige mwoya…
    Q pilih opsi yg mana,haduh bingung ?

    Klo bisa mereka berempat pisah,menjalani kehidupan masing2 dan dapet pasangan hidup yg lain supaya tidak ada yg merasa menyakiti ataupun disakiti
    *makin bingung*

  19. Part ini bener” menguras emosi dan jiwa *apasih*
    Ya tuhaaan, baca part ini jadi galau deh, yg awalnya setuju jikyu hyohyuk, skrg aku gak setujuu, balik aja deh ke jihyuk *yayayaya*

    Kasian kan hyuk kebakaran, berharap yg nyelametin itu Jiyoo *awaw*

    Eonnie plis yaa, jihyuk aja *puppyeyes*

  20. MWOYA?!?!?!!?!?!?!?!??!!!!!!!!!!!
    ANDWWEEEEE!!!!!!!!!!!1
    JANGAN BIARKAN HYUK MATI~~ JEBALLLL~~
    #upss, sory,capslock nyala :p

    ayssss, bneran deh… ga, ga, ga,, ga relaaaa… oh ayolah.. klo hyuk mati psti bkalan ad stu sisi yg ga dpat psangan.. ksian donk.. mkax jgan apa2in om monyet yahhh..huhuhuu
    btw, aku ttep ng’dukung JiHyuk-HyoKyu!!! hahaahaha…
    HyoHyuk blum dpt feel sama skali.. yah,, wlaupun JiKyu udh lmayan dpat sih…
    tpi bagusan JiHyuk-HyoKyu kemana2 deh.. lebih tentram dan tnpa msalah.. hahahaha#plakkkk

    overall, good work ^.^d

  21. Gilaaaaaaak kenapa ada part kebakaran sgala? Udah dokki doki nih baca akhirnya….Hyukjaeeeeeee kau harus selamat~
    Opsyen e… Pokoknya jangan bikin hyukjae amnesia u.u udah kenyang ama amnesianya sinetron indonesia -_-“

  22. Eh, jujur kasian bgt sama karakter Hyuk di sini >< mana di part ini ada acara kebakaran Hyuk di dalem~~ Huaaa~ endingnya harus happy end *maksa* tetep JiHyuk *maksa lagi* kekekeke~ ^^ Si Jiyoo lebih gak bisa kehilangan Hyuk dong~

  23. Aku dukung JiKyu onn!! Sekali-sekali jiyoo sama kyuhyun gakpapa kan?
    ide aku, eunhyuk berhasil menyelamatkan diri tp di rawat di RS trus maunya Jiyoo yang nemenin, trus kyuhyun mengepalkan tangannya lagi hehehe

  24. Duh, aku bingung mau coment apa..
    Ka shela emang pinter bgt deh bikin penasaran. Entah itu permintaan hyukjae atau kelangsungan hidupnya hyukjae (mati/hidup)..
    Nyehh… Aku terserah padamu ka shela, endingnya gimana..
    Tapi sampe sekarang aku msh setuju sama HyoHyukJiKyu ~(‾▿‾~)(~‾▿‾)~

    Ka shela….
    tapi. tapi. tapi.
    hyukjae nya jangan dibikin mati yayaya? kasian~~

  25. Shela… Yoo… sayangkuu… Huwaaaa mianhae baru komen. Aku langsung jadiin satu aja ya komennya di sini ekekekekek…
    Baiklah, sete;ah lama banget ga maen ke sini dan akhirnya aku baca ini maraton (yeah u knew it already), langsung 7 part, sampe sahur menjelang… break makan, dan lanjut lagi sampe subuh. Subhanallah banget ini berkah ramadhan(?)

    And yeah, I looooove Kyuhyun more than Hyuk here… sorry, Poo.. :p
    Awalnya masih maksain, kalo yoo milik poo, selamanyaaahhh… tapi makin lama makin gregetan ama kyu. Sikap coolnya, cara dia jagain jiyoo, cara dia maksain jiyoo buat tetep bertahan ama dia (walau kesannya jadi rada maksa), gimana dia protektif banget kalo udah menyangkut hyuk (i love the way he jealous kkk). Dan makin ke sini jikyu ini makin bikin jantung nyessssss(?) gitu.

    Dan demi apapun, hyori itu… hikssss… aku berulang kali nangis baca part dia. Tipe karakter yang puk-puk-able banget. Yang minta dibelain aja ama reader :(((
    tapi entah ya, emang tipe karakter favorit aku yang model2 gini –>> cewe yang cinta mati ama cowok, tapi ngalamin one side love, yang tertindas ama perasaannya sendiri. iya, saya emang tipe2 reader yang galau hahahaha…

    Hyukjae… aaahh… giliran nemu bagian yang bikin dia jadi terlihat manis banget… pas buka2 foto dia bareng jiyoo itu (menurutku itu manis, hyukjaenya manis). Kenapaaaaaaaaaaaahhh??? Kenapaaaaahhhh harus ada beginian ini cerita apartemen pake kebakaran aaaaaaaaakkkk……. *frustasi sendiri*
    Yaudah sih hyukjae mati juga gapapa deh, trus jiyoo depresi, KyuHyo jadian…. entah kenapa option yang saya bikin kesannya jahat banget. biarin. bebas!! Muahahaha…

    • WAW~ *tepok tangan*
      Subhanallah masih ada yang mau begadang buat ngebut baca ini.. :’)
      Berkah Ramadhan yang indah….

      Hahaha~ sebenernya aku juga suka ama kyu disini, onn. Cuma kadang suka lost aja soal karakter dia. Ngerasa gak cucoks gitu. :3
      Jadi Anda prefer JiKyu, ne? *catet*

      Puk-puk-able? HA HA HA~ xD
      Itu juga tipe kesyukaan akyu, soalnya sering ngalamin gitchu deh. *curhats*
      Saya juga tipe author yang suka galau kok. HA HA~

      Tadinya mau bikin scene pembunuhan aja, biar ada titik terang buat ff abal-abal ini, tapi ya…. gak tega juga.
      Ide cerita yang menarik! Patut dicatat! HA HA HA~ xD
      Makasihh syuda mau ngebut baca, onnie.. *bow* ^-^

  26. JIHYUK JIHYUK JIHYUK JIHYUK JIHYUK JIHYUK JIHYUK
    KYUHYO KYUHYO KYUHYO KYUHYO KYUHYO KYUHYO KYUHYO. JIHYUK JIHYUK JIHYUK JIHYUK JIHYUK JIHYUK JADIAN!?! KYUHYO NIKAH😄 maaf kak capslock nya jebol hehehe

  27. hullaaaa shelaaa :33
    huwaa baru baca ini dan langsung tamat sehari :3
    sumpaah ! berkat strong heart jd ngga bisa bayangin kyu cool lagi -___-
    jd kebayangnya jail ajah :3
    dan berkat FF inih jd kebayang lg xD
    lol .
    hyuuuuuk keluaaaaar cepeeeet😦
    ngga rela hyuk mati , tp lbh rela hyuk mati drpd hyuk sakit hati liat JiKyu :3

    eung~ sebenernya kalo voting lbh milih Yoo sama Kuyun , soalnya dri awal emg udh dpt feeling JiKyu dan entah kenapa ngerasa kyu cuek cool mampuus ..
    dan beneraaaaan ga tahan sama karakter gtuuu :33
    ya hampuun ! kalo ga inget kyu yg aseli aja -____-

    karakter hyuknya as usual <333
    posesif sma pratian yg bikin melting :3
    sbnernya Yoo yg dilema jg scra ga langsung bikin aku dilema (?) *plak
    hahaha , brasa jd yoo gt diprebutin hyuk sma kyu :3
    kkkk~

    • Lah jadi kalo banyak yang milih jikyu mending hyuknya mati dong? xD
      Bwahahaha~ jangan bayangkan kyu yang aseli disini, gak sinkroooon.
      Silakan dibayangkan, kira-kira siapa yang you inginkan. xD
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  28. Huaaaaaaaa kenapa tbcnya nongkrong d situ…ga ridooooo

    eonni…tegakah dirimu bikin hyuk mati..hyaaaa maldo andwae!!!!
    Eh..knp appanya yoo ngeda2k dapet hidayah gitu..trus permintaan hyuk apaan sihhh..penasaran><
    kyu bakal menang g ya..

    Aq golput aja deh..terserah eonn mau bikin endnya gimana*pasrah*
    tpi klo jikyu jadian boleh juga*kedip2mata*

  29. annyeong eon *sok kenal
    mian bru komen di part 7
    kekekekeke
    aku sih lbih ke jihyuk soalnya lebih dpet feel nya, klo jikyu kesannya kyu cma simpati ma yoo stlah dger crita hdupnya
    klo saranku sih jiyoo yg dger tu kbar lgsg ke dormnya n trnyata hyuk ud dislmatin ke RS, trus kyu sbnarnya gk cnta ma yoo cma simpati. And moga” happy end ya eon. . Kekeke

  30. GILAAAAAAA!!! Ini bener-bener bikin depresi! Jam segini masih mantengin FF kamu, She gegara rasa penasaran, ga rela, patah hati dan sedih yang tak berujung *Glenn Fredly*

    Poo sayang, hati-hati dengan ucapanmu…ucapan itu doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s