BluEast Harmony #6

BluEast Harmony #6

<=

“Dia menghindarimu juga,” palu raksasa menghantam jantung Hyukjae saat itu. Menyakitkan. Lelaki itu menelan ludah. “Dan menghindariku.”

Hyori mendongak, menatap Hyukjae lebih jelas. Jika kedua matanya tak keliru, ia melihat guratan wajah Hyukjae yang menahan sakit. Wajah itu nyaris mirip dengan milik Kyuhyun tadi.

Butuh beberapa detik bagi otak Hyori memutuskan untuk meremas tangan Hyukjae. Gadis itu berharap rasa sakitnya dan Hyukjae terbagi menjadi sama rata hingga tak begitu sakit lagi. Dan saat itulah Hyori mengerti satu hal.

Bahwa rasa sakit itu sama sekali tak berkurang. Rasa sakit itu justru menjadi dua kali lipat lebih besar.

—-

The next day – 5:12 PM

Choi Jiyoo melirik Kyuhyun sambil mengerucutkan bibir. Entah bagaimana, sepertinya memang lelaki itu memiliki bakat untuk membuatnya kesal. Kyuhyun berkata santai soal akustik dan duet konyol kemarin, tapi sekarang lelaki itu bahkan tak mengijinkan Jiyoo menyentuh keyboardnya.

Oh, tidak. Kyuhyun juga melarang Jiyoo menyentuh apapun di studio ini. Apapun.

“Ck, lalu untuk apa aku ada di sini?” gumamnya pada diri sendiri. Jiyoo berdeham saat Kyuhyun menoleh padanya. “Kalau aku tidak dibutuhkan, aku–“

“Kau tidak akan kemana-mana.” Kyuhyun sudah memberi perintahnya. Perintah yang sangat ‘manis’.

Jiyoo mengangkat bahu santai. Ia sadar benar tak akan bisa melakukan apapun jika lelaki itu sudah bertingkah penuh kuasa seperti ini. Gadis itu memilih duduk di sudut studio, mengamati Hyori dan Hyukjae yang juga sedang bersiap-siap.

Ingatan Jiyoo melayang saat pagi ini ponselnya berdering, menampakkan nama Hyori di layarnya. Jiyoo menjawabnya, berharap itu memang dari Hyori. Dan ia buru-buru menahan diri untuk tidak membanting ponselnya saat mendengar suara Cho Kyuhyun lagi.

Sebuah lagu baru, kata lelaki itu. Memang tidak sesingkat dan seramah itu, tentu saja ada beberapa nada perintah dan tanda seru dalam ucapannya. Jiyoo dibuat terburu-buru menuju studio ini.

Sambil memeluk lutut, mendekatkannya dengan dadanya sendiri, Jiyoo memerhatikan. Kyuhyun sama sekali tidak menyentuh keyboardnya. Hal itu cukup membuat Jiyoo agak terkhianati.

Jiyoo merengut. Lelaki itu melarang Jiyoo keluar dari band, tapi sekarang ia justru tak mengacuhkan kehadirannya. Bahkan kehadiran keyboardnya saja tidak.

“Sudah siap?” tanyanya, benar-benar bukan untuk Jiyoo.

Hyori memetik gitarnya sebagai jawaban sementara Hyukjae hanya mengangkat bahu. Jiyoo memandang keduanya dengan iri. Ia juga ingin berada dalam lingkaran itu, memainkan tuts-tuts baru agar tak terlalu tampak tak berguna saat ini.

“Hei,” panggil Kyuhyun. Jiyoo mendongak, merasa lelaki itu mengarahkan panggilan itu untuknya. “Dengarkan baik-baik dan beri komentar.”

“Komentar macam apa?” melihat Kyuhyun menyipitkan mata, Jiyoo menyerah. “Oh, tentu. Mengingat itu adalah tugas yang sangat dan paling sulit saat ini.”

Petikan gitar Kyuhyun mengawali lagunya. Diikuti dengan suara drum Hyukjae dan alunan senar gitar lain dari Hyori. Jiyoo hanya diam, mendengarkan dan berusaha tak menatap Kyuhyun. Lelaki itu bisa menjadi sangat berbahaya saat sedang menunjukkan bakat-bakatnya.

I’m sorry I’ve always been lacking to you

Did you take this step back and wait?

 

You’re who’ve been tired of loneliness

I couldn’t be more honest

 

I hate this but please don’t leave my side

Please don’t take away your precious smile from my side

And even small gestures that make me laugh

Come back to me Come back to me Come back to me

 

Doesn’t it give you a sense of miserable in me

You said that you’re searching for more love and happiness

But if not like that, if you’re not happy as much as you feel now,

Don’t waste time anymore, please stay with me just like now…

 

Sulit bagi Jiyoo untuk memutuskan terus-menerus berpaling dari Kyuhyun. Lelaki itu jelas-jelas sedang menatapnya. Sambil bernyanyi. Jiyoo tak tahu bagaimana caranya menilai lagu itu.

Kyuhyun berhenti bernyanyi. Ia masih menatap Jiyoo, menunggu.

“Mm… itu, yah… lagu yang bagus,” suara Jiyoo mendadak parau, tenggorokannya seperti tercekik. “Maksudku, itu keren. Sangat keren!” ujarnya. “Yah, begitulah.”

Hyori menatap Kyuhyun dari samping. Lelaki itu menoleh sepenuhnya ke arah Jiyoo. Ia tak akan heran jika nanti akan berhadapan dengan punggung lelaki itu. Mendengarkan bait demi bait lagu itu membuatnya tak bisa bernapas.

Lagu itu untuk Jiyoo. Ditulis dengan memikirkan Jiyoo. Dinyanyikan khusus untuk Jiyoo.

Sekarang Hyori mengerti kenapa Kyuhyun tak mengijinkan Jiyoo menyentuh apapun. Kyuhyun ingin Jiyoo mendengarkan. Kyuhyun ingin Jiyoo mendengar kalimat yang ingin diucapkannya.

“Kau ini bodoh ya?” tanya Kyuhyun. “Tidak bisa memberi penilaian yang lain?”

Jiyoo mengerjapkan mata. Ia benar-benar terlalu bingung untuk merespon. Apa yang diinginkan Kyuhyun kalau begitu?

“Hyuk-ah,” panggil Hyori. Suaranya serak dan ketika ia menatap Hyukjae, ia melihat kondisi lelaki itu tak lebih baik darinya. “Temani aku beli makanan untuk makan siang kita.”

Jiyoo memandang Hyukjae. Jika lelaki itu pergi sekarang, Jiyoo akan merasa lebih buruk lagi. Ia tak akan bisa menghadapi Kyuhyun sendirian. Tapi jika ia minta Hyukjae tetap di sini, Jiyoo tahu lelaki itu yang akan merasa jauh lebih buruk lagi.

Hyukjae balas menatapnya. Ia bertekad dalam hati, jika Jiyoo minta ia pergi, ia akan melakukannya. Namun jika gadis itu tidak sanggup membiarkannya pergi, Hyukjae akan tetap tinggal.

“Aku…” Jiyoo membuka mulutnya. “ingin jus stroberi. Bisa… tolong belikan itu? Poo…”

Jelas sekali Jiyoo akan membiarkan Hyukjae pergi. Lelaki itu tersenyum singkat. Ia beranjak meninggalkan drumnya, menyambar jaket yang digeletakkan di lantai. Hyukjae berhenti di depan Jiyoo sesaat.

“Tentu, tentu saja akan kubelikan,” Hyukjae mengecup kening Jiyoo lembut. “Yoo.”

—-

Hyori berjalan gontai, mendahului Hyukjae yang berjalan lambat-lambat di belakangnya. Gadis itu meloloskan desahan napas berat. Perannya sebagai teman yang tak tahu apa-apa kini terasa sangat sulit. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya bersikap di depan Kyuhyun.

Dengan semua hal yang terbentang di hadapannya, Hyori tahu bahwa tak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Ini pertama kalinya Kyuhyun bersikap seperti itu. Lelaki itu jelas merasakan sesuatu yang lain pada Jiyoo. Dan apapun itu, sudah pasti terlalu besar hingga Kyuhyun benar-benar tak bisa membendungnya lagi.

“Kau–“

“Jangan bertanya apa aku baik-baik saja. Kau sudah tahu jawabannya.” Hyori memotong kalimat Hyukjae.

Hyukjae mengembuskan napas panjang. “Aku juga tidak baik-baik saja.”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Hyori.

“Apa kau harus minta ijinku?” Hyukjae terkekeh pelan. Ia mengendikkan bahu. “Silakan saja.”

“Apa yang akan kaulakukan… jika Jiyoo juga menyukai Kyuhyun?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, berputar-putar di sekeliling Hyukjae sebelum mencekik lehernya. “Pass! Aku masih belum tahu jawabannya. Ada pertanyaan lain?”

“Lee Hyukjae, seriuslah,” cibir Hyori. “Kalau aku… aku akan minta Kyuhyun dikembalikan padaku.”

Hyukjae mengerutkan kening. “Minta?”

“Mm. Pada Jiyoo. Tidakkah kaupikir dia akan mengembalikan Kyuhyun?” Hyori memandang kosong ke jalanan beraspal. “Tapi kurasa itu akan jadi tindakanku yang paling konyol.”

Diam-diam, Hyukjae menelan ludah. Apa hal itu juga patut dicobanya? Sekali ini saja, Hyukjae akan meminta, mengemis, melakukan apapun agar ia bisa memiliki Jiyoo. Yoo-nya.

“Aku tidak akan melakukan itu. Kalau mereka memang ingin bersama, yah… apa lagi yang bisa kulakukan?” Hyori mengangkat bahu. Gadis itu menundukkan kepala, menyembunyikan kesedihan yang mungkin sudah terlambat disembunyikan.

Dengan satu tangan, Hyukjae merangkulkan lengannya ke pundak Hyori. Ia tersenyum lebar. “Anak pintar.” Hyukjae menepuk-nepuk pundak gadis itu. “Kau boleh menangis di depanku.”

“Aneh sekali. Sejak kapan hubungan kita jadi seringan ini?” gumam Hyori.

Hyukjae tak menjawab, hanya mengeratkan rangkulannya pada gadis itu. Keduanya berjalan lambat, berharap waktu akan memihak mereka. Waktu harus berhenti atau setidaknya bergerak mundur agar keduanya dapat melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.

Seharusnya Hyori membalas cinta Kyuhyun…

Seharusnya Hyukjae tidak mengutak-atik masa lalu Jiyoo…

Seharusnya begitu.

—-

Hyori memandangi wajah di hadapannya. Setangkai aster masih berada di genggaman si lelaki. Hyori mengerjap tak mengerti. “Kau bilang kau… menyukaiku?”

Kyuhyun mengangguk tanpa ragu. Senyuman miring tersungging di wajahnya. “Bukankah sudah pernah kukatakan kalau persahabatan antara wanita dan pria itu tidak ada yang murni?”

“Memang, tapi… Yah! Kau tidak mempermainkanku, kan?”

“Memangnya kaupikir aku tidak bisa serius?” Kyuhyun menyentil kening Hyori pelan. “Seharusnya kau tahu bagaimana rasanya tidak punya teman. Aku tahu ini akan terdengar sangat cengeng, tapi aku bersyukur sudah mengenalmu, Shin Hyori. Jadi jangan pernah berubah, tetaplah bersamaku.”

Kalimat-kalimat itu terdengar tulus, lembut, dan menyenangkan. Hyori tahu itu. Ia akan luar biasa senang jika Kyuhyun menawarkan semua itu untuknya.

Satu-satunya hal yang mengganggu Hyori hanya apakah semuanya akan tetap sama jika ia mengangguk?

Akankah semua hal yang telah dilewatinya bersama Kyuhyun akan tetap berada pada tempatnya? Teratur dan tanpa beban?

Hyori meraih tangai aster dari tangan Kyuhyun. Gadis itu tersenyum lembut kemudian mencubit pipi sahabatnya. “Aku tidak berminat pergi ke tempat lain. Jangan khawatir.”

“Sebagai sahabat atau…?”

“Cho Kyuhyun,” bisik Hyori pelan. “Perasaanku padamu tidak seperti itu. Atau setidaknya tidak sebanyak yang kaumiliki. Kau sahabatku yang baik, sangat baik walau kadang menyebalkan. Aku tidak ingin mengubah sesuatu yang sudah kumiliki.”

Kyuhyun melipat tangan di depan dada. “Aku tidak suka ditolak.”

“Aku tahu.” Hyori tersenyum puas. “Aku tidak menolakmu. Aku hanya tidak ingin kehilangan Cho Kyuhyun-ku. Aku tetap ingin menjadi Shin Hyori yang selalu mengurusmu, Cho Kyuhyun.”

Walaupun segurat kepedihan terlihat di kedua matanya, Kyuhyun balas tersenyum. Lelaki itu menarik Hyori ke dalam pelukannya yang hangat. Sekarang tubuh mungil itu berada dalam dekapannya, begitu nyata, begitu hangat.

Hyori merasakan jantungnya menggelepar. Benda malang itu melompat-lompat, berdebar kencang sekali. Hyori melingkarkan lengannya ke pinggang Kyuhyun, merasakan Kyuhyun dalam jangkauannya.

Ia hanya berharap agar tindakannya ini benar. Hyori tak ingin ada yang berubah di antara dirinya dan Kyuhyun.

Ia berharap semua ini tidak akan membuatnya menyesal. Kyuhyun akan selalu menjadi Cho Kyuhyun-nya. Kyuhyun yang hanya akan selalu menjadi miliknya.

“Apa akan tetap seperti ini?” tanya Kyuhyun, berbisik tepat di daun telinga Hyori. “Shin Hyori akan selalu seperti itu?”

Hyori mengangguk, menarik napas dalam-dalam hingga hidungnya terbiasa dengan aroma tubuh Kyuhyun. “Akan selalu begitu.”

“Hei,” Kyuhyun mengecup pelipis Hyori, menularkan rasa hangat pada gadis itu. “Kalau nanti kau tidak punya calon yang mau menikahimu, aku tetap Cho Kyuhyun-mu. Kau bisa menikah denganku.”

“Ck,” Hyori berdecak, kesal sekaligus geli. “Kau berharap aku jadi perawan tua ya?

—-

Hyukjae berusaha meraih tangan Jiyoo, namun gadis itu menepisnya. Lelaki itu benar-benar menyesal. Ia sudah menyalahkan dirinya sendiri karena sudah berusaha melakukan perbuatan konyol itu. Hyukjae hanya berharap Jiyoo tak semakin memojokkannya.

Hari itu masih pagi dan Hyukjae sedang duduk di ruang makan bersama keluarganya. Ayahnya mulai bertanya-tanya, menginterogasi, ingin tahu tentang Choi Jiyoo. Hyukjae tahu perceraian keluarga gadis itu akan menjadi skor merah untuk penilaian.

Hyukjae terpaksa meluncurkan kebohongan. Bahwa Jiyoo adalah anak yatim-piatu yang tinggal di panti asuhan. Bahwa gadis itu mendapat beasiswa yang membuatnya dapat bersekolah di sekolah yang sama dengan Hyukjae. Bahwa sekarang Jiyoo mendapat bantuan dari donatur panti.

“Lee Hyukjae, apa menurutmu aku rela menjadi anak yatim-piatu padahal kedua orang tuaku masih ada?” Jiyoo menahan diri untuk tak menangis. “Apa kaupikir aku bersedia menjadi anak panti asuhan saat kedua orang tuaku justru masih hidup? Walaupun mereka tidak… membawaku, aku tetap anak mereka, Poo. Aku… aku bukan yatim-piatu.

“Ah, dan aku tidak sepintar itu. Tidak ada beasiswa, aku membiayai sekolahku sendiri. Kau tidak perlu repot-repot mengarang cerita indah itu untukku.” Jiyoo menelan ludah. “Ceritamu sangat indah, sangat sempurna, tapi bukan untuk gadis sepertiku.”

Hyukjae memejamkan mata sejenak, berpikir keras untuk memperbaiki semuanya. “Yoo, dengar, aku minta maaf. Aku akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Abeoji, jadi–“

“Maaf. Sepertinya ada banyak perbedaan dalam… hubungan ini,” aku Jiyoo. Suaranya bergetar, seolah gadis itu sedang menggigil kedinginan. “Kita selesaikan saja, eo?”

Lelaki di hadapannya memandang datar, sama sekali tak fokus. Ia bahkan tak tahu bagaimana caranya menanggapi ucapan gadis di depannya ini. Lee Hyukjae hanya tahu gadis itu tak sungguh-sungguh mengatakan hal menyebalkan itu.

“Apa bedanya?” Hyukjae akhirnya membuka mulut.

“Bedanya?” ulang Jiyoo. Terdengar suara tawa hambar dari mulutnya. “Banyak. Kau punya keluarga, aku tidak. Kau punya hidup yang teratur, aku… tidak. Lee Hyukjae, kau punya segalanya. Kau sempurna, keluargamu adalah keluarga yang didambakan orang sepertiku.”

Hyukjae mengangkat wajahnya. “Poinnya?”

“Aku iri padamu.” Jiyoo memandang lurus ke dalam kedua mata Hyukjae. “Aku iri karena aku tidak bisa menjadi seorang anak dalam keluarga sepertimu.”

“Itu bukan alasan, Yoo.”

Jiyoo tersenyum pahit. “Aku menyukaimu, terlalu menyukaimu. Tapi kukira itu juga bukan alasan untuk tetap bersamamu.”

Kedua mata Hyukjae terpejam beberapa detik. Sejak awal, inilah yang dikhawatirkannya. Perbedaan yang dipermasalahkan Jiyoo benar-benar menjadi boomerang untuknya. Bukankah seharusnya karena perbedaan itulah hubungan mereka akan selalu baik-baik saja?

“Annyeong.”

“Jangan pergi.”

“Kau tahu, Lee Hyukjae, sepertinya kau punya masa depan yang lebih baik. Tanpa aku. Tanpa Choi Jiyoo ini, kau bisa meraih semua yang kauimpikan,” bisik Jiyoo. “Kau bisa menjadi mahasiswa di universitas ternama, dancer terhebat yang pernah ada, bahkan mungkin kau bisa menjadi pengusaha tersukses.

“Aku tidak sepertimu. Aku tidak punya bakat apa-apa. Aku tidak punya bakat, uang, dan kesempatan. Bahkan aku tidak punya keluarga. Aku tidak akan menjadi apa-apa.”

Hyukjae kembali mendongak, menatap Jiyoo dengan kedua matanya yang besar. “Tidak bisakah kau hanya menjadi Choi Jiyoo-nya Lee Hyukjae?”

“Tidak bisa.”

Jawaban itu begitu cepat, tidak, terlalu cepat di telinga Hyukjae. Bahkan saking cepatnya, lelaki itu tak sadar ada luka yang menganga, mengeluarkan darah di hatinya. Tenggorokannya tiba-tiba kering. Hyukjae tak bisa menjawab apapun.

“Kalau begitu, selamat tinggal.” Jiyoo tersenyum kecil sebelum membalikkan badan. Gadis itu merasakan pelupuk matanya yang berat hingga air mata menuruni pipinya. “Terima kasih banyak.”

—-

6:45 PM

“Itu untukmu,” ujar Kyuhyun pelan. Lelaki itu mengembuskan napas berat. “Lagu itu, maksudku. Aku menulisnya untukmu.”

Jiyoo memandang kosong ke arah lantai. Tak banyak yang bisa dilakukannya. Ia bahkan tak bisa berpikir dengan jernih tentang apa yang harus dan bisa diucapkannya pada lelaki ini.

“Apa kau akan senang kalau kujawab aku tahu?” Jiyoo mendongak perlahan.

“Tidak ada jawaban lain?” alis Kyuhyun terangkat. Jelas sekali bukan itu respon yang diinginkannya dari Jiyoo. Melihat gadis itu tak bisa menjawab lagi, Kyuhyun mengangkat bahu. “Kalau itu jawaban terbaikmu, aku mengerti.”

Jiyoo menelan ludah. Udara di sekitarnya seperti menipis, perlahan-lahan mencekiknya. Ia memalingkan wajah lagi dari Kyuhyun. “Bukan. Itu bukan jawaban terbaikku.”

Nah, sekarang Kyuhyun bingung. Menurutnya, ia sudah menunjukkan perasaannya dengan sangat baik.

“Apa… kau sama sekali tidak memikirkan Hyori?” tanya Jiyoo.

“Jadi ini yang mengganggumu?” Kyuhyun tersenyum miring. Senyuman yang arogan, licik, dan tentu saja memesona.

Jiyoo menghela napas panjang. “Jangan bicara seolah-olah kau tidak menyadari perasaannya. Dia menyukaimu, dasar Cho Kyuhyun yang bodoh.”

“Dia yang tidak mau mengubah apapun. Aku hanya menurutinya.” Kyuhyun mengatupkan bibir. Topik itu sudah berlalu sejak Hyori memintanya dan jelas bukan hal yang menyenangkan bagi Kyuhyun untuk membicarakannya lagi. Terutama di depan gadis yang baru saja menjadi inspirasi lagunya.

“Kau menyukainya…” Oh, itu bukan pertanyaan.

“Pernah.” ralat Kyuhyun. “Tidak bisakah kau fokus pada apa yang sekarang ada di depanmu dan bukannya membicarakan masalah usang orang lain?”

Bayang-bayang Hyori yang selalu dan seharusnya sampai saat ini berada di samping Kyuhyun tiba-tiba terlihat jelas oleh Jiyoo. Gadis itu merasa tak bisa bernapas. Rasanya sangat salah jika ia mengacaukan bayangan yang terasa wajar itu.

“Dengar, Choi Jiyoo, kalau kau mempermasalahkan Hyori, apa aku boleh mempermasalahkan Hyukjae?” tegas Kyuhyun. Nada suaranya rendah, datar, dan dingin. Untungnya, rasa dingin itu tak membuat Jiyoo meringkuk kedinginan.

“Kau tahu apa yang kupikirkan, Cho Kyuhyun?” Jiyoo menarik napas kemudian tersenyum tipis. Sangat tipis hingga rasanya topeng senyuman itu akan pecah sebentar lagi. “Kita… berempat ada di lingkaran yang salah.”

Kyuhyun tertegun sejenak. Lelaki itu kemudian menyunggingkan senyum miring, senyum yang sama yang jadi kelemahan Jiyoo. Kesimpulan yang sederhana langsung terucap olehnya, “Kau menyukaiku.”

Itu benar-benar pernyataan. Jiyoo mengerang dalam hati. “Tidak.”

“Bohong.”

“Apa kau bodoh? Aku tidak menyukaimu. Tidak. Tidak sama sekali.” Sekarang Jiyoo merasa bodoh. Untuk apa ia mengucapkan kata tidak sebanyak tiga kali?

“Kalau begitu, aku harus bagaimana?” tanya Kyuhyun. Wajahnya berubah muram sebelum akhirnya tersenyum lagi. “Aku sudah menyukaimu.”

—-

Hyori memandangi gelas kaca yang sudah kosong di hadapannya. Seharusnya ia tak akan bisa menelan masuk cairan bening yang disebut soju itu. Walapun begitu, Hyori membiarkan tenggorokannya terbakar oleh minuman itu.

Sudut matanya melirik Lee Hyukjae yang duduk di sampingnya. Lelaki itu mengabaikan gelasnya yang masih penuh. Sepertinya Hyukjae tak berniat menemani Hyori minum malam ini.

“Kau tidak kuat minum, sama sepertiku,” ujar Hyukjae. “Jadi harus ada satu orang yang masih sadar malam ini.”

Hyori tertawa nyaring. “Benar, benar. Kau harus menggendongku pulang nanti!”

Setelah meracau, Hyori melipat lengan di atas meja bar. Gadis itu menyandarkan kepalanya dengan kedua mata terpejam. Dua teguk –bukan dua botol- soju berhasil membuat Hyori ambruk.

“Ayo pulang, Hyo,” Hyukjae menepuk lengan Hyori pelan. Helaan napas Hyukjae berubah berat saat melihat Hyori benar-benar sudah tidur. Ia mengamati wajah Hyori dan menemukan air mata meluncur turun dari sudut matanya.

Hyukjae mendesah. Banyak kejadian mengejutkan yang mengguncang Hyori dan dirinya. Lelaki itu terkejut Hyori masih bisa menahannya sampai saat ini.

Tangan Hyukjae terangkat ke udara sebelum mendaratkannya lembut di puncak kepala Hyori. Lelaki itu tahu tak ada yang bisa disalahkan. Ia tak ingin menyalahkan Jiyoo karena hal ini, ia juga tak bisa menyalahkan Cho Kyuhyun atau Hyori.

Hidup memang kadang tak adil. Takdir kadang mempermainkannya. Memangnya apa yang bisa dilakukannya jika begitu?

Hyukjae tersenyum muram. Ia mengeluarkan ponsel dari salah satu saku celananya. Setelah menimbang-nimbang, ia akhirnya menekan tombol hijau.

“Ne?”

“Yoo… apa kau bersama Cho Kyuhyun?” tanya Hyukjae. Kedua telinganya sudah siap mendengar jawaban paling buruk, setidaknya ia bersugesti demikian.

Namun ternyata rasanya tetap menyiksa saat jawaban itu benar-benar datang. “Mm.. Dia ada di sampingku. Ada apa?”

“Bilang padanya kalau Hyori mabuk. Hyori mungkin tidak akan suka kalau aku yang menggendongnya pulang, jadi bisa tidak–“

“Ya, tentu. Aku akan minta Kyuhyun menjemputnya.” Jiyoo mengucapkannya tanpa ragu. Dan Hyukjae semakin bingung tentang hubungan Jiyoo dengan Kyuhyun dan hubungan Jiyoo dengannya. “Kalian ada di mana?”

—-

Cho Kyuhyun melangkah panjang-panjang menembus lautan manusia yang menghalangi jalannya. Ruangan itu remang-remang, nyaris gelap. Musik berdentum nyaring dan asap rokok serta alkohol menembus hidung Kyuhyun.

“Untuk apa si bodoh Shin itu ke tempat seperti ini?!” umpatnya pelan.

Jiyoo tak menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling klub, mencari sosok-sosok yang dikenalnya. Dalam kondisi panik pun ternyata ia tak bisa menghentikan debar jantungnya yang tak teratur. Jiyoo melirik Kyuhyun, penyebab utama tak bisa fokusnya Jiyoo sekarang.

Tangan gadis itu terpaut di antara tangan Kyuhyun. Entah sejak kapan lelaki itu melakukannya, tapi Jiyoo tak bisa melepaskan diri.

“Jangan tersesat,” ucap lelaki itu. Jiyoo mendengus. Mana mungkin ada yang tersesat di tempat seperti ini? Walaupun mungkin ia tersesat, Jiyoo tahu harus mencari pintu keluar lebih dulu. Kyuhyun sama sekali tak perlu menggenggam tangannya begini.

Jiyoo berusaha mengabaikan perasaannya sendiri dan kembali fokus untuk mencari Hyori. Gadis itu mengernyitkan hidung saat mencium aroma alkohol yang kuat. Memikirkan Hyori untuk menemukannya ternyata tidak berhasil, jadi Jiyoo mencoba memikirkan Hyukjae.

Gadis itu menggambar Hyukjae dalam pikirannya, membayangkan seperti apa sosoknya, bentuk punggungnya, gaya rambutnya, dan…

Kedua mata Jiyoo memanas. Tanpa alasan yang jelas, Jiyoo ingin menangis. Ia begitu ingin menemukan Hyukjae saat ini.

Jiyoo mati-matian mengenyahkan keinginan konyolnya setelah melihat Hyukjae berada tak jauh dari tempatnya berdiri. “Itu!” serunya.

Tanpa sadar, Jiyoo berlari lebih dulu. Ia melepaskan tangan Kyuhyun dan berjalan cepat ke arah Hyukjae. Gadis itu tak bisa merasakan kelegaan lain selain berhasil menemukan Hyori dan Hyukjae.

“Kalian datang,” ucap Hyukjae. Wajahnya memerah. Jiyoo langsung tahu lelaki itu juga minum lebih dari batasannya sendiri.

Kyuhyun berjalan melewati Jiyoo untuk duduk di samping Hyori. “Shin Hyori, kaupikir apa yang sedang kaulakukan sekarang?”

Dengan kedua tangannya, Kyuhyun membantu menyandarkan Hyori ke dadanya. Gadis itu membuka mata perlahan kemudian mengerjap. “Chooo Kyuhyuuunn… sedang apa kau disini?”

“Menjemputmu. Ayo pulang!” seru Kyuhyun. Ia berbalik, menunjukkan punggungnya untuk Hyori. “Naik.”

Hyori mengerang kemudian tertawa. “Hyori naik ke punggung Cho Kyuhyun!”

Jiyoo menggigit bibir. Ia tahu Hyori bukan gadis yang suka atau bisa minum, jadi pasti ada alasan kuat jika temannya itu berakhir di tempat seperti ini dengan sebotol minuman keras. Dan sepertinya Jiyoo tahu alasannya.

Setelah Kyuhyun membiarkan Hyori menempel di punggungnya, ia menatap Jiyoo. “Kau juga, ayo pulang.”

“Antarkan Hyori saja. Aku… harus memapah Hyukjae, kan?” Jiyoo menunjuk Hyukjae yang duduk dengan tatapan kosong.

“Tidak.” sahut Kyuhyun tegas. “Kau tidak akan bersamanya. Kau pulang bersamaku dan Hyori.”

Jiyoo mendesah berat. Pembicaraan semacam ini sama sekali bukan hal yang diinginkannya, tapi Kyuhyun memang benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa ia masih mementingkan hal sepele itu saat Hyori memeluknya?

“Aku akan mengikuti kalian dari belakang, sudah, kan?” ujar Jiyoo. Ia berpaling pada Hyukjae, mencoba mengamati wajah lelaki itu. “Kau bisa jalan atau…”

“Jadilah sandaranku, aku membutuhkannya,” Hyukjae tersenyum kecil.

Kyuhyun menatap tajam lelaki itu. Tangannya yang bebas mengepal kuat. Ucapan Hyukjae tadi sudah jelas bukan sekedar ucapan pria mabuk. Hyukjae bersungguh-sungguh.

“Ayo,” Jiyoo mengulurkan tangannya melewati pinggang Hyukjae, membantunya berdiri sementara Hyukjae menyandarkan tubuh di pundak Jiyoo.

Mau tak mau, Kyuhyun berjalan di depan. Lelaki itu bahkan tak bisa melirik Jiyoo dan Hyukjae atau mendengar pembicaraan mereka karena Hyori meracau tepat di telinganya. Kyuhyun bergumam, “Sebenarnya apa yang kaupikirkan, Shin?”

“Kau…” bisik Hyori. Kyuhyun bahkan tak tahu apakah jawaban itu benar.

—-

The next day – 9:34 AM

“Tidak.”

“Kau tidak akan bersamanya. Kau pulang bersamaku dan Hyori.”

Hyori memijat kedua pelipisnya. Kepalanya terasa mau meledak saat ini. Hyori tak ingat bagaimana ia bisa berada di klub bersama Hyukjae, tak ingat bagaimana rasanya memeluk leher Kyuhyun. Dan segalanya terasa tak adil.

Ia tak bisa mengingat hal-hal menyenangkan, tapi kalimat tegas Cho Kyuhyun terus berputar-putar di kepalanya.

Lelaki itu tak membiarkan Jiyoo pulang bersama Hyukjae. Lelaki itu berusaha melirik ke belakang, memastikan Jiyoo dan Hyukjae masih mengikutinya. Lelaki itu bernama Cho Kyuhyun.

Baru sepuluh menit Hyori duduk di ranjang, sekarang ia meledakkan tangisnya. Hatinya –jantungnya- terasa luar biasa sakit. Ia tak ingin menyerah, tak ingin membiarkan dirinya kalah seperti ini.

Air matanya meleleh menuruni pipi. Tanpa suara, Hyori membiarkan air matanya mengambilalih. Ia akan menangis sebanyak mungkin jika bisa mengubah kenyataan itu menjadi mimpi.

Cho Kyuhyun tidak menyukai Jiyoo. Tidak. Tidak mungkin.

Pintu kamarnya diketuk dua kali. Hyori tak berusaha meredakan tangisnya walaupun tak ingin ibunya melihatnya seperti ini. Gadis itu bisa bernapas lega saat yang muncul di tepi pintu bukan ibunya, melainkan Jiyoo.

“Hyo?” Jiyoo mengintip kemudian berubah panik saat melihat Hyori menangis. “Kau kenapa? Kepalamu sakit? Aku membawa sup yang–“

“Kembalikan…”

Jiyoo menatap Hyori bingung. Ia memerhatikan Hyori turun dari ranjangnya kemudian menggenggam tangannya erat. Gadis itu sudah mengusap air matanya sendiri.

“Kembalikan Cho Kyuhyun… kumohon…”

“Hyo..”

“Aku bisa memberikan apapun padamu, Yoo. Aku bisa! Tapi jangan Cho Kyuhyun…” bisik Hyori. “Aku menyukainya, Yoo.”

Hyori kembali menangis. Ia bahkan akan rela berlutut di depan Jiyoo jika Jiyoo tak menahan tubuhnya. Ini batasnya. Hyori tak peduli sekonyol apa tindakannya sekarang, ia hanya ingin Cho Kyuhyunnya kembali.

“Hyo…” Jiyoo menggigit bibir, menahan air mata yang sebentar lagi juga akan menetes.

“Kembalikan Cho Kyuhyun…” pinta Hyori.

“Aku bukan barang.” Kepala Hyori tersentak. Pandangannya beralih ke belakang Jiyoo. Kyuhyun berdiri di tepi pintu, dengan Hyukjae di belakangnya. “Kenapa kau seperti ini, Shin?”

Hyori menyeka air matanya. “Jangan tinggalkan aku.”

“Sudah kubilang aku bukan barang.” Kyuhyun berjalan cepat dan meraih tangan Jiyoo. Tanpa mengatakan apapun, lelaki itu meninggalkan kamar Hyori dengan Jiyoo dalam genggamannya.

Hyukjae masih berdiri di tempatnya, bahkan ketika Jiyoo berjalan melewatinya. Lelaki itu sempat bertatapan dengan Jiyoo. Melihat Jiyoo ditarik menjauh darinya membuat Hyukjae mati rasa. Ia tak merasakan apapun. Tidak pula detak jantungnya sendiri.

Lelaki itu membeku tanpa merasa dingin. Hyukjae ingin menangis jika bisa. Ia ingin berlutut jika boleh. Tapi sekarang ia tak bergerak. Tak bisa bergerak, tepatnya.

“Hyuk-ah…” Hyori berjalan mendekat ke arah Hyukjae. Gadis itu berjinjit untuk melingkarkan lengannya di leher Hyukjae. Air mata Hyori bahkan sudah kering. “Mian.”

Hyukjae merasa napasnya tersengal. Ia kesulitan memasukkan oksigen ke dalam paru-parunya sekarang. Dengan jantung yang seolah berlubang, Hyukjae membenamkan wajah di bahu Hyori.

—-

“Lepas! Yah!” pekik Jiyoo. Kyuhyun berhasil menyeretnya keluar dari rumah Hyori. Gadis itu meronta, berusaha membebaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun yang kuat. “Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun mengatur napasnya yang terengah-engah. “Jangan ke sana lagi! Jangan temui Hyori lagi!”

“Wae? Kenapa kau seperti ini?” Jiyoo mulai merasa frustasi. “Hyori itu sahabatmu. Bukankah wajar jika dia tidak suka kalau kau bersama gadis lain? Dan sialnya, kenapa kau harus menjadikan aku sebagai gadis lain itu?”

“Kau bertanya kenapa aku seperti ini? Kalau kau terus bertemu Hyori atau Hyukjae, kau tidak akan pernah melihatku! Kau akan terus ketakutan saat melihatku!” erang Kyuhyun. Lelaki itu berbalik, memunggungi Jiyoo. “Aku tidak mau. Aku tidak akan mau!”

Jiyoo tak bisa menahan diri lagi. Gadis itu menangis. Awalnya berupa bulir-bulir kecil sebelum akhirnya berubah menjadi isakan tanpa henti. Ia mengingat permintaan Hyori, mengingat raut wajah Hyukjae dan tatapan muramnya.

Dan sekarang ia harus berhadapan dengan punggung Kyuhyun.

“Maaf…” bisik Jiyoo. Gadis itu mendekat perlahan hingga kedua lengannya melingkar di pinggang Kyuhyun. Jiyoo menempelkan pipinya di punggung lelaki itu. “Maafkan aku.”

Rasanya hangat saat seseorang memelukmu dari belakang. Tarikan napas Kyuhyun menjadi lebih ringan. Kyuhyun merasakan getaran dari Jiyoo. Gadis itu menangis.

“Maaf… Jangan pernah mengucapkan kata itu. Tidak lagi.” ujar Kyuhyun.

Jiyoo masih terisak, sesenggukan hingga tak ada kalimat yang meluncur dari bibirnya. Perasaannya sendiri seperti telah mengkhianatinya. Jiyoo tak tahu apa yang dipikirkannya, apa yang bisa dilakukannya. Yang ia tahu, ia baru saja menyakiti banyak orang.

Menyakiti Hyori, Hyukjae, dan sekarang Kyuhyun. Kenapa Jiyoo tak bisa melakukan apapun dengan benar? Tak ada yang bisa dilakukannya selain minta maaf, dan sekarang pun Kyuhyun sudah melarang Jiyoo melakukannya.

“Tidak ada yang menyalahkanmu,” ucap Kyuhyun pelan. Lelaki itu tak berbalik. Ia menikmati pelukan Jiyoo dari belakang. “Jangan menyalahkan dirimu lagi untuk sesuatu yang tidak kaulakukan.”

Jiyoo memperat lengannya di tubuh Kyuhyun. Sekalipun lelaki itu berkata demikian, tentu saja Jiyoo tahu Kyuhyun tak sepenuhnya benar. Jiyoo juga tak sepenuhnya setuju dengan ucapan lelaki itu.

Akan ada banyak orang yang menyalahkannya. Walaupun tak satupun mengucapkannya secara langsung, Jiyoo tahu akan ada banyak orang yang seperti itu.

“Kau bohong, kan? Kemarin saat kubilang kau menyukaiku,” Kyuhyun bergumam, tapi cukup jelas untuk didengar Jiyoo.

Jiyoo menelan ludah, merapatkan tubuhnya ke punggung Kyuhyun. “Aku tidak tahu.”

“Aku tahu.” ucap Kyuhyun tenang. “Kalau kau sendiri tidak tahu jawabannya, aku bisa memberitahumu.”

Seperti ada gelombang pasang dasyat yang menuju ke arahnya, Jiyoo mengatupkan bibir. Ia terlalu takut mendengar jawaban atas perasaannya sendiri dari orang lain. Dan orang itu justru Cho Kyuhyun.

“Sudah kubilang,” Kyuhyun meremas tangan Jiyoo. “kau menyukaiku. Kenapa harus bertanya pada semua orang kalau aku saja bisa memberi jawaban itu untukmu?”

—-

Hyori memandang langit-langit kamarnya yang berhias lampu. Rasa sakit akibat alkohol yang seolah meledakkan kepalanya sudah hilang sejak tadi. Ia cukup sadar untuk menyesali tindakan konyolnya saat Jiyoo dan Kyuhyun berada di kamarnya.

Tindakannya itu bukan hanya menyakiti dirinya sendiri, tapi juga lelaki yang sekarang duduk di sampingnya.

“Kau boleh memakiku, Hyuk,” ucap Hyori. “Aku… mengacaukan semuanya, kan?”

Hyukjae mendesah berat kemudian mengangguk. “Kau sangat bodoh hingga bisa bertingkah menyedihkan seperti itu. Sekarang, apa yang akan kaulakukan?”

Sambil ikut-ikutan mendesah, Hyori mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Kyuhyun pasti sangat marah, Jiyoo juga pasti ketakutan, dan kau… kau pasti sangat patah hati.”

“Mm. Aku sangat patah hati sampai rasanya aku ingin mati saja,” gumam Hyukjae. Melihat Hyori yang terkejut, lelaki itu terkekeh. “Tentu saja tidak, bodoh. Kurasa sudah waktunya melepaskan Jiyoo. Jangan tanya apa aku rela, sampai mati pun aku tidak akan pernah rela. Aku hanya… merasa itu tindakan yang benar.”

Hyori termenung. Ucapan Hyukjae itu tampak berputar-putar di kepalanya, membuat sakit kepala Hyori datang lagi. Bicara soal melepaskan tentu saja bukan topik yang menyenangkan, toh Hyori juga tak akan rela.

Tapi masalahnya bukan rela atau tidak, tapi benar atau tidak.

Tentu saja Hyori tak akan rela melepaskan Cho Kyuhyun, tapi ia juga tahu itu satu-satunya tindakan yang benar untuk dilakukan. Setelah memohon, meminta seperti orang bodoh pada Jiyoo, Hyori tak tahu ada cara apa lagi yang bisa mempermalukannya seperti tadi.

“Menurutmu begitu?” tanya Hyori ragu.

Hyukjae mengendikkan bahu. Ia tak tahu jawabannya. Walaupun sudah berkata ingin melepaskan Jiyoo, Hyukjae sama sekali tak tahu dari mana memulainya. Ia sudah cukup tersesat saat hubungannya dengan Jiyoo berakhir, ia tak tahu akan jadi seperti apa dirinya jika ia benar-benar harus melepaskan gadis itu.

Bisa saja Hyukjae akan mati rasa. Tak bisa merasakan apapun sampai berharap mati adalah hal yang lebih baik dari hal itu.

“Tidak. Menurutku tidak begitu. Menurutku aku tidak akan bisa berbuat apapun jika Jiyoo menghilang dari kepalaku,” gumam Hyukjae. Ia mendongak dan tersenyum kecil. “Tapi aku sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.”

Hyori tak menjawab. Pandangannya menerawang sementara pikirannya berkelana jauh entah kemana. Banyak hal yang menyesaki otaknya, bahwa mungkin inilah saat-saat perpisahan dengan Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun-nya.

Ternyata sebuah kenyataan bisa menjadi lebih menyebalkan dan menyedihkan. Hyori bergidik memikirkan waktu-waktu mendatang tanpa adanya Cho Kyuhyun di dekatnya. Ia tak mau. Jelas ia tak akan mau.

“Bagaimana dengan audisi itu?” Hyukjae mengalihkan pembicaraan. Ia sadar benar topik tentang Kyuhyun dan Jiyoo adalah hal paling menyakitkan untuk mereka.

Hyori menggelengkan kepalanya sebelum bergumam, “Kyuhyun mungkin tidak mau aku tetap bergabung di BluEast…”

“Tidak mungkin,” bantah Hyukjae. “Dia tidak akan melakukannya. Kau tahu kau lebih berharga untuk laki-laki dingin itu.”

“Mudah-mudahan saja.” Hyori meringis. “Mengingat tingkah murahanku pada gadis yang disukainya, mungkin Kyuhyun akan berubah pikiran soal berharga atau tidaknya aku.”

Hyukjae mengerutkan kening. Pikiran Hyori jelas lebih terbuka dari yang dibayangkannya. Hyukjae menghela napas panjang sebelum menepuk-nepuk puncak kepala gadis itu dengan lembut.

“Kalau kau tidak diijinkan ada di BluEast lagi, aku akan ikut bersamamu, gadis bodoh,” ucapnya.

Hyori melongo kemudian tergelak nyaring. Gadis itu memukul lengan Hyukjae keras-keras hingga lelaki di sampingnya mengaduh. “Lalu kau akan mengikutiku seperti anak anjing yang tersesat? Tidak perlu, terima kasih. Aku bisa merawat anak anjing sungguhan daripada merawatmu.”

“Tch, katakan apa saja yang kausuka,” ucap Hyukjae tak acuh.

“Tapi…” Hyori memandang Hyukjae dengan kedua matanya yang gelap. “aku akan sangat berterima kasih kalau kau bisa melakukan itu.”

—-

The next day

Suasananya hening, atmosfernya canggung. Jiyoo merasakan itu seketika saat ia menginjakkan kaki di studio. Kyuhyun sudah ada di sana, bersama Hyori sementara Hyukjae belum terlihat di mana pun.

Melihat sikap Kyuhyun yang tegang, Jiyoo tahu lelaki itu belum bicara apapun pada Hyori. Dan tak perlu dua kali tebakan untuk tahu kalau Hyori cukup takut memulai pembicaraan dengan Kyuhyun. Jiyoo tak akan menyalahkan Hyori. Tak banyak orang yang bisa melakukan hal semacam itu.

“Mm…” Jiyoo berdeham, menarik perhatian Kyuhyun dan Hyori. “Aku minta maaf.. soal kemarin.”

“Siapa yang mengijinkanmu mengucapkan kata itu?” sahut Kyuhyun.

“Hyo, soal kemarin… aku tidak.. aku sama sekali tidak mau melihatmu seperti itu lagi,” Jiyoo mengabaikan teguran Kyuhyun. Perhatian gadis itu sepenuhnya terfokus pada Hyori. “Maaf.”

Hyori menatap Jiyoo, berusaha membaca raut wajah gadis itu. Sambil menggigit bibir bawahnya, Hyori tersenyum. “Aku… mungkin aku terlihat sangat menyedihkan ya kemarin?”

“Memang.”

“Cho Kyuhyun!”

Hyori memerhatikan teguran Jiyoo pada Kyuhyun. Begitu hidup, begitu alami. Gadis itu kembali merasakan kepahitan aneh di ujung lidahnya. “Seharusnya aku tidak meminta apapun. Kyuhyun… bukan barang. Aku hanya… berharap dia tetap menjadi Cho Kyuhyun-ku.”

“Shin,” panggil Kyuhyun. Kali ini Jiyoo tahu panggilan itu lebih lembut, lebih akrab. “Aku tetap Cho Kyuhyun-mu.”

“Kalau kau menyukai Jiyoo, tentu saja itu sama sekali tidak berlaku, bodoh,” ujar Hyori. Tenggorokannya mulai tercekik. Hanya masalah waktu hingga suaranya bergetar.

Jiyoo tak tahan lagi. Bom waktu yang tadinya masih tenang kini meledak dalam kepalanya. Ia benar-benar muak berada dalam lingkaran aneh ini. “Aku sama sekali tidak peduli siapa menyukai siapa, siapa milik siapa. Aku… hanya orang luar. Selamanya akan tetap begitu.”

“Tapi anak ini menyukaimu, Yoo.”

“Kau juga menyukainya, kan?” tegas Jiyoo. “Kau menyukainya, Hyo. Semua orang bisa melihatnya, semuanya kecuali Cho Kyuhyun.”

Hyori terkesiap, hanya sesaat hingga ia menguasai diri. “Bukankah kau juga? Semua orang juga bisa melihatnya, Yoo, kecuali dirimu sendiri.”

“Cukup! Tidak ada yang boleh mendikte perasaanku. Aku tahu apa yang kurasakan. Aku tidak butuh kau atau Kyuhyun untuk memberitahuku soal itu,” Jiyoo tiba-tiba merasa panik. Ketakutan aneh menjerat lehernya.

Jiyoo tak pernah tahu perasaan apa itu. Jelas sekali perasaan itu selalu muncul saat berkaitan dengan Cho Kyuhyun.

“Kalian tidak lelah?” Hyukjae bersandar di tepi pintu. Wajahnya lesu hingga nyaris pucat. “Karena aku sudah benar-benar kehabisan tenaga sekarang.”

—-

BluEast Harmony tetap berkumpul di ruangan yang sama. Latihan rutin sudah berlangsung selama satu jam dua puluh menit sementara waktu istirahat tak membuat keadaan mencair. Tak ada yang bicara.

Audisi akan berlangsung minggu depan dan Jiyoo tak mungkin tahan jika seminggu ke depan keadaan akan tetap seperti ini. Hanya memikirkannya saja membuat Jiyoo kelelahan.

“Kau sudah mendapat jawabanmu, kan?” tegur Kyuhyun yang mendadak berdiri di sampingnya.

Jiyoo tak mendongak. “Aku sama sekali tidak mencari jawaban apapun.”

Gadis itu tahu persis jawaban apa yang dimaksud Kyuhyun. Pertanyaan jika Jiyoo menyukai Kyuhyun sama sekali belum terjawab. Setidaknya bagi Jiyoo memang belum terjawab.

“Kenapa kau sangat keras kepala? Kau membuatku frustasi!” Kyuhyun menarik lengan Jiyoo agar gadis itu berdiri berhadapan dengannya. Genggamannya melonggar saat gadis itu mengernyitkan alis, kesakitan. “Aku juga lelah. Bukan aku yang ingin menempatkan kita berempat dalam keadaan seperti ini.”

“Tapi kau bisa mencegahnya! Kau bisa tetap berperan sebagai laki-laki yang angkuh, arogan, dingin, dan menyebalkan, bukannya berubah menjadi laki-laki yang…”

“Laki-laki yang menyukaimu?” lanjut Kyuhyun.

Jiyoo menghela napas panjang. “Bukan itu!”

“Lalu apa?”

“Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu.”

“Berhentilah mengucapkan itu!”

“Dan berhentilah memerintahku untuk mematuhi setiap ucapanmu!”

“Perintah memang untuk dipatuhi.”

“Tapi tidak perintah konyolmu!” Jiyoo mengerang putus asa. “Demi Tuhan! Tinggalkan saja aku, Cho Kyuhyun. Semuanya akan jauh lebih mudah jika begitu.”

Kyuhyun melepaskan tangannya dari lengan Jiyoo. Kedua tangannya tergantung bebas di kedua sisi tubuhnya. Lelaki itu mendadak kehilangan kata-kata. “Kau… tidak serius, kan?”

“Aku… Hanya itu yang dibutuhkan untuk membuat kita berempat baik-baik saja. Tidakkah kau mengerti?”

“Tidak. Aku tidak mengerti. Kau tahu kenapa? Karena aku memang laki-laki angkuh yang arogan dan dingin.” sahut Kyuhyun tegas. “Dan perlu kauketahui, mungkin kau akan baik-baik saja, tapi aku jelas tidak.”

Jiyoo menggigit bibir, tiba-tiba saja takut akan ucapan Kyuhyun. Ia sendiri tanpa sadar menyesali ucapannya sendiri. Sejujurnya, ia tak tahu apakah keadaan akan jadi lebih baik atau justru memburuk. Jiyoo hanya meluapkan apa yang mengganggu pikirannya.

“Choi Jiyoo,” panggil Kyuhyun. Datar, dingin, tegas. “Kau akan menyesal jika aku menuruti perintahmu.”

========================

Backhug for JiKyu, hug for HyoHyuk. :3

Banyak yang penasaran kah sama hubungan JiKyu? Tolong jangan tanya, saya sendiri bingung. Jiyoo ini masih gak enak ama Hyori, jadi kalo Kyuhyun nanya ya dia sendiri juga gak tau dia suka gak ama cowok itu. Belom lagi ada Hyukjae, kan. Jadi Jiyoo makin bingung. -__-

No need to worry, ini syuda mau ending kok. xD

Dan seperti biasa, saya menanti masukan, ide ending ato apapun yang pingin kalian sampein buat BluEast Harmony. Buat semua saran ama komen kemaren, saya cuma bisa bilang makasih banyak. ^-^

Ah, abis BluEast Harmony ini kelar, saya akan kembali ke jalan yang benar (re: JiHyuk) dalam MARRY YOO. Dan yang syuda nungguin kemunculan Yoon, dia lahir di MARRY YOO kok. xD

Last, THANK YOU and SORRY for everything! ^-^ *bow

 

82 thoughts on “BluEast Harmony #6

  1. Aish~jinjja knp tmbh rumit bgini??? Huaaaa nangis dah baca nih part..Hyori Hyukjae Jiyoo Kyuhyun..smuanya terjebak dlm lingkaran cnta yg memusingkan,,bkin nyesek,,bkin nangis,,dan bkin skit hati… :((
    I dunno what I have to say…aku udh stuck dgn JiHyuk,,tp aku suka sikap kyuhyun ke Jiyoo,,keren..gmnaaaaa gtu… Aigoo~ hyori~nim :(( aku jd ikutan nangis pas scene yg di kmar hyori itu..gk tau knp aku kesel stengah mati sm cho kyuhyun bodoh itu…
    Aaaaaa…gk pduli dehh siapa yg bkal sm siapa..aku cmn menantikan happyend.y hihi /maksa/ kkekeke . mau JiKyu JiHyuk HyoHyuk ato KyuHyo..terserah dahh..tp knp tba” aku kgak mau KyuHyo yah?? hihihi..pokoknya next chap d tnggu eonni🙂

  2. waktu baca atas, “Eommmaaa~ aku ditembak cho kyuhyun~”
    begitu baca dibawah /jdeng
    rasanya pgen ada disitu, terus injek2 hyori. dasar, ngapain coba pake berlutut2 ? harusnya sujud ! /slapped
    saya tidak menyangka, ide2 hebat yang tercipta di kos-an jalan cikampek bisa membuat saya menjerit2 ckckck…

    oooh~ Lee Hyukjae~~~ uri Oppaaaa >.. balas dendam ceritanya😄
    2. tetap menyarankan ending yang itu… yang ending keren itu… yang naik mobil terus… boom !😄

    Marry yooo~~~~~~ dtunguuuuuuuuuuu

  3. komen kepotooong !
    *sigh*
    kirain back hugnya di chapt 7 ternyata….. ternyata……
    so sweet yaaa /poke2 kyu/
    This !
    galau girl banget >. balas dendam ceritanya😄
    2. tetap menyarankan ending yang itu… yang ending keren itu… yang naik mobil terus… boom !😄

    Marry yooo~~~~~~ dtunguuuuuuuuuuu

  4. This !
    galau girl banget
    terima kasih uri Yoo~ terima kasih !!!!!
    /peluk-bow/

    suggest ending :
    1. “hancurkan cho kyuhyun” -> balas dendam ceritanya😄
    2. tetap menyarankan ending yang itu… yang ending keren itu… yang naik mobil terus… boom !😄

    Marry yooo~~~~~~ dtunguuuuuuuuuuu

    • Samasama Hyo-nim. Prinsip yoo buat hyo adalah: yang penting hyo galau. :’)
      Endingnya bagus yang no.1, yoo suka menghancurkan chokyuhyun. xD Mmm… no.2 itu agak…. beresiko membuat readers ngamuk dan memblacklist rumah stroberi ini. Sekian.

      Terima kasyihh komennya yang banyak beuds itu~ *bow
      makasihh syuda baca yaa.. ^-^

  5. Jjaaaaa~
    akhirnya setelah setiap hari buka ini blog, Blueast Harmony nya muncul juga..
    itu kenapa Hyori mohon-mohon ke Jiyoo? ><
    kasihan Hyorinya. Huhu
    Tapi udah agak banyak ya ini Hyohyuk moment nya~
    Hehehe
    Btw, eon aku suka pas Backhugnya Jikyu
    Ahahah xD

  6. .aigoo chap ini bener2 menguras em0si…
    sumpaah yaa thor nelangsa bgt liat 2org yg paling merana dsini#tunjukhyo+hyuk,nasib cinta mrka bner2 memprihatinkan… -__-
    kalo aku berharap happyend aj thor*jihyuk-hyokyu*, biar g ad yg patah hati, ud g tega liat si hyuk merana gtu… :,(

  7. Itu sihh keliatan bgt lagunya emg buat yoo !!!!
    Kyu pleaseeeee jgn egois dongs ~ disini hyuk ga bisa ngeluarin emosinya … Jadiyaaa pasti sakit bgt
    Hyoo … aku kira pas dia bilang mau minta kyuhyun balik itu cuma bercandaa ohhh ternyataaaaa kejadian, sampe berlutut gitu aaaah gatega liat hyohyuk -_-
    “Bukan rela atau tidak, tapi benar atau tidak” kalimat yang bakal aku inget buat bisa ngelupain *ehem* #abaikan aduh malah curhat hahahaha
    Jadi sebenernya ini semua salahnya ………….. Takdir (?)
    Siapa yg sangka kalo kyuhyun segampang itu suka sama org lain dan hyo terlupakan !! Hyuk juga kenapa harus ngebohong ???
    masalah kecil juga bisa bikin jadi gede gini ya *sigh*
    Endingnyaa mau sad ending ato happy ending terserahlah yg penting seruu🙂

    • Ralat yah, hyo gak sampe berlutut, cuma dia ‘bakal’ berlutut kalo jiyoo gak megangin lengannya. Gitu..
      mana tega saya bikin anak orang berlutut2? .__.
      Eciyeee~ dia curcol. xD

      BENER! si takdir yang salah!! *demo*
      makasihh syuda baca yaa.. ^-^

      • yaaampuuun *elus dada* komen ku tengahnya ilang lagi eon😥
        pedahal udah nulis panjang lebar malah yg masuk cuma awal ama ujungnya doang… capek ngulang-ulang ngetik itu mulu😦
        kalo ini kepotong juga yasudahlah .____.
        lagi ditest kesabaran komen diblognya shela eonni ._.

      • Maap yah, wp emang kadang suka rese beud~ *bow
        Tapi intinya dapet kok, nungguin yoon kan? *digeplak*
        Haha~ Pokoknya makasihh syuda baca yaa.. ^-^

  8. hyaa kenapa hyohyuk tragis sekali. jiyoo ! please bngt bilang suka ke kyu. haah saya galau bcanya. buat ending , pelish bngt yoo ama kyu yah ! trus hyo sma hyuk , pelish bngt haha

  9. onnie, aku mau ngasih ide nih bolehkan…..
    Ide nya kalau menurutku JiHyuk tetep balin lagu kyuhyun sama hyorin juga balik lagi jadi kayak ada ikatan antara kyuhyun sama hyori yang engga bisa ditebak nah nanti mereka balik lagi jihyuk juga balik lagi jadi semuanya balik lagi ke semula, terus kayak dibikin pg 15 buat hyorin sama kyu jangan terlalu parah, pokoknya bisa bikin mereka balik lagi jadi ending nya semuanya kembali seperti dulu😄 hehehe ini ideku kalau diterima ya makasih kalau engga juga gpp😀

  10. kenapa????huaaaaa
    kasihan hyori.nyaaa
    perasaan itu ternyata bisa berubah kapan saja
    mungkin jika jiyoo jujur,itu akan lebih sedikit meringankan beban,,meskipun akan ada 2 orang yang merasa sakit,,

    • Huhuhu~ coba deh ada di posisinya jiyoo, pasti bingung juga bisa ngapain. ;___;
      Tapi yah kalo gak ada hyohyuk paling jikyu suda jadian. xD
      makasihh syuda baca yaa.. ^-^

  11. aaaaaa seriusan aku berkaca-kaca apalg pas bagian hyo yg minta si kyu dikembaliin… Itu miris bgt…

    Tp si yoo jd galau kan kasian jg tuh… Bingung mana yg kudu dipilih…
    Klo aku ttp milih lee hyuk jae! Yeyy… wkwkwk

    Skali2 ah mw jd jikyu n hyohyuk jd gk mslah klo endingnya gtu deh… Hehe

    Gk sbar pkknya sm marry yoo! Ahh yoon… Omg ditunggu yaaah

  12. knapa jiyoo masih dilema??? lum bisa trima ya kalu dah jatuh cinto ama kyu?? hohohoho.. ga usah mikirin hyo ada hyuk yg ngejaga en aku yg ngejaga hyuk ahahaha *slapped*
    ayo kuatkan hatimu en cepat berpaling ke kyu hihihi..

    my fav scene adalah BACKHUG!!!!!!!!!!!!!!… hoaw………..aku cinta sangat ama yg namanya backhug en makasi buat jikyu yg sudah mewujudkannya hehehehehee

  13. “Kembalikan Cho Kyuhyun… kumohon…”
    Astagfirullah… bener2 nangis deres di part itu..
    Shin Hyori kasian… nggak tega. nggak tega. nggak tega.
    tapi nggak nyangka juga kalo sebenernya dulu si cho kyuhyun itu sempet nembak hyori… ckck

    ahh, disini aku suka sifat choi jiyoo, ka shela.. yg bijak, masih mikirin perasaan hyori.. eh, si kyuhyun nya malah ngancem jiyoo bakal nyesel gitu..
    pokoknya lanjut ka shela~~ nggak sabar nunggu ending nya

    eh? MARRY YOO???? Aku menungguuuuuuu…. baby yoon~~

  14. Cinta segiempat yang lebih rumit daripada cinta segitiga.. Hmm, super rumit.. Tp semoga jiyoo bs sadar kl perasaannya buat kyuhyun.. Ternyata hyori punya story sama kyuhyun dan hyori yg nolak kyuhyun dl awww percintaan yang memilukan ;p

  15. setelah buka tutup blog, akhirnya publish.
    sumpah demi SMTownINA yg bkn galau. part ini bener2 jleb ngenes dan bkn semua cast bingung harus brsikap kek apa satu sama lain. scene favorit d kmr hyori, mungkin dia udh frustasi gk tw hrs gmna bwt dapetin kyuhyun balik. tp, aku lebih dukung jikyu #MaafYaHyori.
    utk jiyoo, ayo dong melek sama prasaan sendiri, bener2 dh bikin bluest jungkir balik. jd, penasaran gmn hidup jiyoo klo d tinggal kyuhyun, apakah lebih nelangsa dr hyori.
    next chap sangat d tunggu. gomawo

    • Terima kasih dukungannya buat jikyu~ xD
      Mm… gak kebayang gimana kalo jiyoo beneran suka ama kyu terus ditinggal ama kyu gitu. Hmm… ide menarik! :3
      makasihh syuda baca yaa.. ^-^

  16. NYESEKKKKKKKKKKKKKK
    GALAUUUUUUUUUUUUUUUUUU
    woahhh bener2 berhasil buat perasaan aku campur aduk!
    jadi kyuhyun pernah suka sama hyori???
    huwaaaaaaaaaa ayo cepet di lanjut jiyooooo

  17. ya ampunnn , aku kasihan ya Jiyoo, Hyori ama Hyuk, masalah mereka rumit banget.. kyuhyun sihh , coba gak usah suka sama jiyoo #plak. abaikan . hahaha suka sama kyuhyun disini yang terang2an kayak gitu biarpun agak kasihan sam hyuk and hyori apalagi hyori sampai minta kayak gitu ama jiyoo, jujur aku lebih suka KyuHyo , JiHyuk.😀 . dan pasti buat cerita ini harus happy ending. ya walaupun akau tau tidak bakal ada happy ending buat h\Hyori dan Eunhyuk😦

  18. Huaaa muncul juga ini ff eon! *kyaaak* kenapa part ini full galauu T,T jadi orang patah hati emang gak enak yah, kasian hyohyuk sampe segitunya :”( apakah kunci dari semua kerumitan ini si jiyoo? *plak* sukaa, selalu suka eon sama ff ini. Oya 화이팅 buat next ff eon!! Gasabar liat hyuk kecil mwehehe :b

  19. annyeong! maaf baru komen :’p maaf maaf maaf bgt baru komen :”) kenalin, rizka_lee, ’95 liners, terserah mw panggil apa😀

    aku tetep pengen happy ending🙂 ,<!

    tapi komen aku emng bakal sama kyk komenyg diatas2, sedih dan menggalau bgt part ini..😥

    aku tetep pengen kayak semula, KyuHyo-JiHyuk kekekekekke :p
    tapi terserah deh, pokoknya aku suka banget ceritanya!!!! jjang jjang!!!😄
    lanjut lanjut lanjut *demo depan rumah author/plak*

  20. wah, komennya kepotong, padahal aku komen hampir satu lembar HVS *watde..?*

    yang kepotong cuma sekalimat kok, kayaknya menurut blog ngga penting jadi di potong *sedih:'(

  21. ah please kasian hyukjae~~ ㅠㅠ
    Klo jiyoo sama kyuhyun kasian hyukjae sama hyori, tapi kalo jiyoo balikan lagi sama hyuk, gimana nasib kyu??
    Sumpah saya juga jadi bingung mikirinnya ㅠㅠ
    Aduuh kenapa ini ff super galau..ㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜ
    Arrrgghhh~~~ shel sumpah apapun deh endingnya yg penting semua bahagia, galaaauuuu galaaauuu, bener2 terhanyut dlm cerita ㅠㅠ great ff!!
    Next chap ditunggu secepatnyaa~~ terlanjur penasaran dan galau pokoknya next chapnya ditunggu….

  22. Kok perasaan aku ngerasa jiyoo pasti balik ke hyuk yah . Jikyu cuma sekedar pemanis aja . Padahal emang dibuat ending nya jihyuk . Hahahaha😀 ini cuma perasaan aku aja loh thor . Si hyuk pasrah aja niih , gak bisa buat banyak , harusnya kalo emang masih sayang , biar gimanapun harus tetep kejar dong jiyoonya .

  23. Cihui~~ makin seru nih JiKyu sama HyoHyuk ^^ kenapa ya di part ini yang semula saya gak rela HyoHyuk (JiHyuk shipper) sekarang malah sukaaa banget~~
    Bagaimana kalau endingnya tetep JiHyuk?? *maunya* kekekeke~~

  24. Makiinnn paraaahhh..semua castnya galau n juga ikut galau T_T
    menurutku ni ff tergalau dari part2 sebelumnya..
    Banyak adegan nangis2nya..huhu*peyuk jikyu&hyohyuk*

    yoo makin serba salah..d tambah hyo yang bilang ‘kembalikan’ itu..sumpeh,sukses bikin nangis..hikss
    sikap kyu k yoo malah nambah sakit semua orang..
    jaaaadiiii..endingnya mau gmn eonn..ga sabar >.<*kejar2 eonni*

    marry yoo..bukan ff galau kan eonn*maksa*
    cukup d ff ni yg nguras air mata.
    Daaan buat yoon..huaaaaa ga sabar nunggu..

    • Huhuhu~ saya suka bikin orang galau. :’3
      Endingnya….. eonni juga bingung. TT^TT
      Mm.. tenang, Marry Yoo gak segalau ini kok. xD
      makasihh syuda baca yaa.. ^-^
      makasih sambutan buat Yoon-nya. ;D

  25. wwa.. chap ini nyesek bnget unnie ><
    apalagi pas hyo mohon2 ke yoo.. berasa bnget kehilangan ny.. dan aq jd agak benci ama karakter kyu di sini. wkwk
    tp tetep pas adegan yoo peluk kyu dr belakang aq cukup suka.. wkwk di sini yg paling tabah ky ny hyukkie oppa yaa. hehehe
    unnie aq mau saran bwt ending ny.. wkwk gmana klo JiKyu pacaran.. hyo unnie ama cowo lain siapa gitu, L, jiyoung.. wkwk nanti hyuk oppa di jodohin ama ortu ny.. wkwk sekedar saran aja ya unnie.. wkwk makasih~^^
    ditunggu next chap ny. hwaiting!~^^

  26. Gosh….
    Ini kenapa makin rumit ya
    asli deh waktu hyuk bilang dia lelah disitu keliatan bgt dia bener2 tersiksa.
    Ga berharap apapun endingnya mau jihyuk kyuhyo atau jikyu hyohyuk terserah yang penting hubungannya jelas.
    Daripada kayak gini kesiksa batin semua

    huaa ga sabar nunggu marry yoo.
    Asik….

  27. shela pas nulis ff abis ngiris bawang bombay ama bawang merah kali ya makanya nih ff penuh dengan deraian air mata.
    Atau jgn2 emg lg demen bgt nulis angst,makanya nih ff berasa mellow sangat.

    Yoo,poo di Sexy,Free & Single gantengnya dah nambah 1000X lipat ye
    jd jgn coba selingkuh ama evil magnae kesayangan.
    Dia MILIKKU !
    Ehm…suka bgt flashback’nya hyori…
    Kyu,klo g ada namja yg mo nikah sama Q
    kita berdua kawin yuuk..
    *ngarep.com*

    Buat poo…pdhl Q jatuh cinta padamu karena kau tidak suka minum…
    Tp akhirnya pertahananmu runtuh juga…
    Walaupun begitu…Q tetap mencintaimu….sangat….selalu…
    *kabur*

  28. ini cuma saran ya eon…. kl aku dri dlu lbih suka JiHyuk KyuHyo… lebih ngefeel aja rasanya. pkoknya ngarep happy ending…..

  29. CHO KYUHYUN!!!!!!!!!!!!!!11
    arrggghh… kenapa aku tiba2 kesel gini yah ma kyu.. huhuhu
    tapi ga bsa nyalahin dy jga sih..
    ayysss.. Hyo bner2 di luar ksadaran nih.. ksian~ hiks hiks
    dan, Lee Hyujae… OMG! sumpah, aku ng’fans berat ma kamu dsini!!! sikapmu bner2…. ayss.. kga tw mau blang ap deh.. salut bgt a hyuk…#hugHyuk :*

    ending?? ayyss..wlaupun aku ga suka crita2 yg mnggalau gini-bikin tereak2 sndiri soalnya..kekeke-, tapi knapa brat yah klo udh blg ending??😦
    tapi bukankah akan lebih baik jika endingnya kembali pada jalan awal??? JiHyuk-HyoKyu

    but, well hnya pendapat yg tak brguna spertinya. mengingat dri awalmmank d’ingatin klo ini HyoHyuk-JiKyu…kekeke
    Udah;ah.. trima apa adanya ajaa ntar..kekeke..

    Well, keep spirit to write a nice story like this,chingu-ya~
    Hwaiting ^0^g

  30. Pingback: BluEast Harmony #7 « « Strawberry's Room »

  31. JIIIIAAA,,aq kin histeris unnie,,, ahhh cita ini bnr2 mnguras otak,, jiyoo trmlh kyu n hyori u hrus lpskn kyu ku pastkn itu di part selnjtnya,,kekekeke,, unnie aq jadi idola mu ,woww lngsung jatuh hti ma unnie ,,ffnya daebakk ,,><

  32. mkn ribet ya hubungan mrk ber4:-/.. tp salut sm hyori, q pkr dia bakal ngebenci jiyoo krn hyori kan slalu ceritain mslh dia yg sk sm kyuhyun dr dl tp nyatanya jiyoo mlh sk sm kyuhyun jg wlwpun smpe skrg dia msh blm mau ngakuin itu krn ngrs ga enak sm hyori.. pas scenenya hyukjae jg nyesek bgt bkn galau😥..

  33. aa, ternyat kyu jg pernah nembak hyori ? Hyorix jg sih, ngapain coba nolak kyu. Gini kan, jadinya. Critax makin seru, thor ^^

  34. Cinta segi-empat ini bikin saya merinding, Jikyu, Jihyuk, Hyokyu, atau Hyohyuk semuanya keren, sampe gak bisa milih suka sama yang mana?
    Yang pasti saya kepincut sama karakter eunhyuk disini, lebih tepatnya di ff kamu. Dia luar biasa! Keren! Karismatik dan manusiawi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s