BluEast Harmony #5

BluEast Harmony #5

<=

“Kenapa kau tidak pergi makan siang saja dengan Hyori? Daripada harus menuruti permintaan Hyukjae,” gumam Kyuhyun. Lelaki itu berdiri cukup dekat, bahkan sangat dekat hingga Jiyoo dapat merasakan helaan napas Kyuhyun di sekitar pelipisnya.

“Kenapa itu harus jadi urusanmu?” Jiyoo meneguk air untuk meredakan kekacauan dalam dirinya.

Kyuhyun memiringkan kepalanya. “Kenapa itu tidak boleh jadi urusanku?”

“Dengar, tidak bisakah kau menjawab saja? Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Atau setidaknya berpura-puralah tidak enak hati karena telah mencampuri urusanku,” Jiyoo memutar kedua bola matanya.

Gerakan mendadak dari Kyuhyun membuat Jiyoo memejamkan mata. Lelaki itu menjadi beberapa senti lebih dekat darinya, dan dengan keberadaan Hyori dan Hyukjae disini, hal itu menjadi dua ratus kali lipat lebih menakutkan.

Kyuhyun berbisik, tepat di telinga Jiyoo. “Jangan pergi dengan Lee Hyukjae.”

—-

Choi Jiyoo menelan ludah. Ia bisa merasakan getaran kecil seperti aliran listrik merambat melalui kulitnya. Kakinya bahkan belum bisa bergerak walaupun Kyuhyun sudah meninggalkannya sejak satu menit yang lalu. Kenapa kehadiran lelaki itu bisa membuat Jiyoo merasa serba salah seperti ini?

Sambil meneguk sisa air dalam gelas yang masih dipegangnya, Jiyoo meloloskan hembusan napas panjang. Ia merasa perlu untuk menenangkan diri setelah menghadapi tingkah tak waras lain dari Cho Kyuhyun.

“Oh, apa peduliku, aku tidak harus menuruti siapapun, terutama dia!” Jiyoo menggigit bibir dan mengepalkan tangan.

Gadis itu baru kembali ke ruang studio setelah berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia tidak boleh terpengaruh oleh kehadiran Kyuhyun. Tidak boleh sedikit pun, tak peduli apa yang sudah dilakukan lelaki itu; termasuk ciumannya. Jiyoo menggeleng, membantah pikirannya. Oh, ya, ciuman. Hanya ciuman.

“Lama sekali,” komentar Kyuhyun mendarat di indera pendengaran Jiyoo. Gadis itu masih menahan diri untuk tidak melayangkan tinju pada Kyuhyun. “Ayo mulai latihan!”

—-

Lee Hyukjae duduk dengan tidak tenang. Latihan sudah selesai sejak 20 menit yang lalu dan ia sedang menunggu Jiyoo di taman kota dekat studio. Gadis itu belum menunjukkan batang hidungnya. Hyukjae berusaha memikirkan hal-hal positif agar tak diganggu pikiran usil.

Bahwa Jiyoo tak ingin bertemu dengannya karena sekarang gadis itu memiliki Kyuhyun.

Tentu saja itu gagasan konyol, bahkan gagasan terkonyol yang pernah dipikirkan Hyukjae. Jiyoo tidak menunjukkan reaksi apapun, setidaknya yang mencurigakan, di depan Kyuhyun. Gadis itu jelas tak merasakan apapun untuk Cho Kyuhyun.

Tidak, dan tidak boleh.

Hyukjae nyaris berlari untuk memeluk Jiyoo saat ia melihat gadis itu berjalan ke arahnya. Senyumnya terkembang sejak tadi, bahkan sebelum Jiyoo bisa melihatnya. Gagasan paling konyol itu sudah tentu hangus dari pikiran Hyukjae.

“Mianhae, aku mencari ponselku yang tiba-tiba hilang,” ujar Jiyoo.

“Eh? Lalu apa ponselmu–“

“Sudah kutemukan,” Jiyoo tersenyum samar sambil mengangkat tangannya, menunjukkan ponsel dalam genggaman. Gadis itu mengamati Hyukjae. “Kau… sudah lama menungguku?”

Hyukjae menggeleng pelan kemudian mengangguk. Lelaki itu mengerang walaupun bibirnya melengkungkan senyuman lembut. “Mm. Sepertinya aku tidak bisa berbohong. Aku sudah lama menunggumu, kupikir kau tidak akan pernah datang. Aku tahu pikiran seperti itu bodoh sekali, maksudku, aku tahu kau akan datang, hanya saja–“

“Baik, baik, aku mengerti,” melihat ucapan Hyukjae yang meluncur cepat, Jiyoo menahan tawa. Kemudian gadis itu menyadari sesuatu, bahwa ia tak pernah tertawa di depan Hyukjae sejak keduanya bertemu lagi. Rona merah muda merambat naik ke pipinya. “Ehm… jadi, ada apa?”

Senyuman itu masih di sana; di wajah Hyukjae. Lelaki itu pasti benar-benar memeluk Jiyoo jika ia tak bisa menahan diri. Melihat gadis itu tersipu, Hyukjae tahu tak ada yang mampu menggantikan luapan euphoria dari dadanya.

“Lee Hyukjae?” ulang Jiyoo. “Aku menunggu.”

“Aku tidak tahu, tapi… kurasa aku harus melakukan sesuatu, Yoo.”

Jiyoo mengerutkan kening. “Hm? Apa maksudmu?”

“Choi Jiyoo,” Hyukjae menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Tidak bisakah kau… menjadi Yoo-ku sekali lagi?”

—-

Cho Kyuhyun kesal; sangat kesal. Baru saja ia akan memberikan pekerjaan tambahan pada Jiyoo agar gadis itu tetap berada di studio, tapi tahu-tahu gadis itu sudah menghilang. Kyuhyun tahu pasti kemana gadis itu pergi, tapi ia tak ingin memikirkannya.

Lelaki itu sudah berusaha menahan Jiyoo, termasuk dengan menyembunyikan ponselnya di dalam sarung gitar. Tindakan konyol tapi ampuh. Jiyoo berada di studio selama 20 menit dengan berkeliling studio mencari ponselnya.

Memang ampuh, tapi tak cukup hebat untuk menahan Jiyoo lebih lama. Kyuhyun menghela napas panjang. Seharusnya ia meletakkan ponselnya di kotak besi dengan gembok raksasa yang kuncinya sudah dibuang ke laut.

“Kyuhyun-ah,” suara Hyori membuat Kyuhyun tersadar dari lamunannya. Gadis itu berdiri di tepi pintu.

Kyuhyun menyipitkan mata. “Kau sedang apa?”

“Hanya… ingin mengajakmu makan siang,” Hyori tersenyum lebar. Ia menelan ludah, berusaha menelan sekalian rasa sakit yang sejak semalam menyerang ulu hatinya. Tenggorokannya tercekat saat Kyuhyun berjalan mendekat ke arahnya.

Dengan satu tangan, Kyuhyun menyentuh kening Hyori. “Kau sakit?”

“Ani,” sahut Hyori, tetap dengan suara riang yang terdengar asing di telinganya sendiri. “Ayo makan siang bersamaku. Kita kencan!”

Kyuhyun mendengus geli kemudian membelai lembut pipi Hyori. Gerakan itu terasa begitu wajar. Dan entah kenapa, tapi kewajaran semacam itulah yang membuat jantung Hyori seakan ditinju dengan sarung tangan besi.

“Shin Hyori, tidak perlu pura-pura. Ada apa denganmu? Apa kau ada masalah?” Kyuhyun bersedekap dan memerhatikan gadis di depannya dengan cermat. Ia akan selalu tahu jika Hyori tidak seperti Hyori. Orang lain pasti tertipu, tapi Cho Kyuhyun tidak akan pernah termakan akting gadis itu.

Hyori menggigit bibir. Rasa panas mulai naik ke kedua matanya. Ia tidak boleh menangis. Tidak di depan Kyuhyun.

“Banyak,” ucap Hyori. “Tentu saja banyak masalah.”

“Benarkah? Kenapa, ada apa?” Kyuhyun memandang Hyori, menunggu jawaban gadis itu. Sia-sia, ternyata. Hyori tak menjawab dan hanya menundukkan kepala. “Yah, yah! Shin Hyori, kenapa? Apa kau menangis?”

Dengan punggung tangannya, Hyori menyeka air mata yang berhasil meloloskan diri dari pertahanannya. Gadis itu tersenyum, setidaknya ia berusaha walaupun yang terbentuk justru seringaian aneh. “Tidak, tidak apa-apa.”

“Apanya yang tidak apa-apa? Katakan, ada apa?” Kyuhyun menangkup wajah kecil Hyori dengan kedua tangannya. “Ini bukan hanya pertanyaan, tapi perintah.”

Hyori mendengus. “Kau suka sekali memerintah.”

Jemari Kyuhyun mengusap air mata yang terlanjur jatuh dari mata Hyori. Lelaki itu tak tahu apa yang terjadi, tapi ia jelas tak suka melihat Hyori menangis seperti ini. Jika begini, tentu saja Kyuhyun harus mendapat penjelasan dan cerita lengkap dari gadis itu.

Sementara Kyuhyun merasakan luapan keingintahuan, Hyori justru merasa jantungnya kembali diremas-remas. Ia tak suka mendapat perhatian seperti ini dari Kyuhyun; tidak jika nantinya ia hanya akan terus-menerus berharap.

“Apa… aku boleh memerintahmu, Cho Kyuhyun?” tanya Hyori, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat bahu dan tersenyum miring. “Asal bukan perintah untuk menghentikan pesonaku.”

“Ck, aku heran darimana imej misterius yang kaudapatkan jika tingkahmu menyebalkan begini,” Hyori berdecak walaupun sisa air mata masih membekas di kedua pipinya. Gadis itu menarik napas panjang, “Apa kau akan mengabulkannya?”

“Tentu, Tuan Puteri,” Kyuhyun memutar bola matanya dan menyahut tak peduli.

Hyori meremas kedua tangan Kyuhyun. Ia tahu lelaki itu keheranan saat menatapnya, tapi Hyori tak bisa mundur lagi. “Jangan… biarkan aku sendirian.”

—-

Jiyoo menatap kedua mata Hyukjae, mencari apapun yang bisa dipakai sebagai alasan untuk tertawa. Tentu saja Jiyoo berharap ucapan Hyukjae hanya sekedar lelucon kecil. Gadis itu menelan ludah saat tak mendapatkan yang dicarinya. Lee Hyukjae serius, dan jelas Jiyoo tak bisa tertawa.

Permintaan Hyukjae cukup sederhana, bahkan terlalu sederhana hingga Jiyoo tak tahu bagaimana cara meresponnya. Menjadi Yoo-nya sekali lagi? Gagasan yang menarik, tentu saja.

Jiyoo menggeleng pelan. “Kau tahu itu tidak mungkin.”

“Bukan tidak mungkin, tapi kau tidak mau,” ralat Hyukjae, tepat pada poinnya. Lelaki itu menarik napas panjang. “Berikan aku satu alasan yang jelas. Jangan coba-coba membawa masalah status ekonomi atau keluarga, karena itu sudah tidak mempan lagi untukku.”

Tentu, tentu saja masalah itu masih tetap menjadi yang utama. Jiyoo berpikir dalam hati. Tapi banyak hal yang menggoyahkannya. Oh, bukan banyak hal, hanya satu hal; ciuman dan satu orang; Cho Kyuhyun.

Masalah utamanya adalah: kenapa semua itu mengganggu Jiyoo?

Gadis itu sudah mensugesti dirinya sendiri bahwa tak ada yang terjadi. Semua –atau satu hal- itu tak pernah terjadi. Tidak ada ciuman, tidak ada Cho Kyuhyun.

“Memang itu alasannya,” ucap Jiyoo pada akhirnya. “Lee Hyukjae, kau tahu perbedaan terbesar itu, jadi kenapa kau selalu menutup mata? Aku berbeda denganmu, aku tidak bisa membuatmu terjebak dalam hidup menyedihkan seperti itu. Kau… terlalu baik untuk itu.”

Hyukjae nyaris mendengus. “Kau menyukai orang lain.”

Yang membuat Jiyoo terkejut adalah nada suara Hyukjae. Gadis itu membulatkan matanya saat menyadari bahwa Hyukjae sedang memberi pernyataan dan bukan pertanyaan.

“Tidak.” ujar Jiyoo tenang.

“Kau masih menyukaiku?” kali ini pertanyaan. Sialnya, Jiyoo sama sekali tak memiliki jawaban untuk pertanyaan semudah itu. Mungkin mudah, tapi sekaligus juga rumit.

Hanya bersama Lee Hyukjae selama 10 menit saja ternyata bisa membuat Jiyoo lelah. Gadis itu kelelahan secara mental, terlalu terkejut dengan segala hal yang diungkapkan Hyukjae. Ia tak akan heran jika 10 menit berikutnya ia pingsan atau kekurangan oksigen.

“Lee Hyukjae, itu sama sekali bukan pertanyaan yang… bisa ditanyakan di saat seperti ini,” hanya itu kalimat terbaik yang bisa dilontarkan Jiyoo. Gadis itu tersenyum. “Boleh aku pergi? Kurasa tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan.”

Hyukjae meraih pergelangan tangan Jiyoo. Ia bisa merasakan debaran jantung Jiyoo yang tak karuan. Setidaknya bukan hanya dirinya yang berdebar-debar, gadis itu juga.

“Tetaplah di sini,” bisik Hyukjae pelan. “Jangan pergi.”

“Lee Hyukjae,” Jiyoo berbisik lirih. Seperti apa perasaannya saat ini, ia juga tak mengerti. Apa yang harus dilakukannya, ia sama sekali tak tahu. Bagaimana selanjutnya, ia tak punya tebakan apapun.

Bibir Hyukjae terkatup rapat sebelum mengatakan sesuatu yang dipendamnya. “Cho Kyuhyun… menciummu.”

Oh, itu juga bukan pertanyaan. Lagipula siapa yang menanyakan hal sepasti itu? Jiyoo menelan ludah. Hyukjae tahu tentang ciuman itu dan untuk beberapa alasan, Jiyoo khawatir.

—-

The next day

Sinar matahari yang menembus jendela kaca di kamar Kyuhyun membuat lelaki itu mengerang pelan. Dengan susah payah, ia berhasil menghalau sinar dengan salah satu tangannya. Walaupun begitu, Kyuhyun sama sekali tidak bergerak.

Ia berguling membelakangi jendela. Kedua matanya tetap terpejam rapat. Ia tak ingin meninggalkan ranjang dan kamarnya. Kalau saja seorang gadis tidak menghambur masuk ke kamarnya, Kyuhyun tak akan rela meninggalkan tempat tidurnya.

“Shin Hyori, pergilah~” erangnya. Tanpa membuka mata, Kyuhyun tahu gadis yang datang padanya adalah Shin Hyori.

Hyori melipat kedua tangannya. “Bangun! Latihan!”

Kyuhyun bergeming. Untuk pertama kalinya, Kyuhyun kehilangan minat untuk latihan. Setelah batalnya showcase itu, seharusnya ia berusaha mendapatkan pertunjukan lain.

Bukannya Kyuhyun tak mencoba, tapi efek dari pembatalan showcase yang dilakukannya kemarin itu benar-benar membuat BluEast Harmony kehilangan tempat dimana pun. Kyuhyun sudah menduga hal itu. Ia mencoba menutup mata dan telinganya, tapi ternyata semua orang tak membiarkannya berbuat demikian.

Kyuhyun harus merendahkan harga dirinya untuk memohon pada salah satu hyung kenalannya. Ia harus berusaha meyakinkan beberapa orang agar mau mengundang BluEast Harmony tampil. Jika mengingat semua itu, Kyuhyun mendesah berat tanpa sadar.

“Apa… kita tidak bisa tampil dimana-mana lagi?” tanya Hyori hati-hati. Walaupun tak ingin menyalahkan Jiyoo, tapi tentu saja Hyori mengerti alasan Kyuhyun membatalkan showcase penting itu. Lelaki itu melakukannya untuk Choi Jiyoo.

“Tidak.” sahut Kyuhyun solid. “Kita akan tampil lagi. Entah kapan dan dimana, kita pasti bisa tampil lagi. Jangan khawatir begitu.”

Hyori menarik napas dengan susah payah. Dadanya mendadak terasa berat. Ia memang mengkhawatirkan sesuatu, tapi itu bukan masalah band. Hyori mengkhawatirkan Kyuhyun.

Gadis itu tahu dan mengerti sepenting apa kesempatan showcase kemarin. Tentu saja ia ingin Kyuhyun berhasil mewujudkan showcase impiannya. Dan melihat showcase itu kacau bukan hal yang diharapkan Hyori.

Kyuhyun membaca raut wajah Hyori. “Sudah kubilang, kan, jangan khawatir.”

“Aku tahu.” bisik Hyori. Ia kemudian tersenyum lebar. “Ayo sarapan!”

—-

Choi Jiyoo bertopang dagu. Kedua matanya memandang kosong ke arah jalanan. Semangkuk sup yang belum sempat disentuhnya sudah dingin. Pikiran-pikiran usil selalu mengganggunya, mengepung kepalanya sambil mengeluarkan suara bising seperti lebah.

Jiyoo mendesah pelan. Walaupun begitu, ternyata tak cukup pelan untuk tidak diperhatikan Park Hyunyoung.

Gadis itu sudah berada di restoran sejak semalam. Hyunyoung memutuskan menyelesaikan catatan keuangan restoran bulan ini hingga ia harus menginap. Pagi ini pun ia berakhir di meja yang sama dengan Jiyoo, menyantap sarapan pagi yang sederhana.

“Apa kau memikirkan Hyukjae?” tanya Hyunyoung sambil menyendok nasinya.

Jiyoo menoleh dengan malas kemudian menggeleng. Pertanyaan semacam itu sudah mampir padanya sekitar sepuluh kali dan selalu berasal dari Hyunyoung. Kadang teman sekaligus bosnya ini bisa sangat cerewet.

“Lalu? Semalam dia mengantarmu ke sini,” lanjutnya.

Dengan tatapan sengit, Jiyoo meminta Hyunyoung tidak menanyakan apapun lagi. Gadis itu sudah cukup jengah dengan nama Lee Hyukjae dan tidak ingin merepotkan diri dengan kembali berurusan dengan segala hal tentang lelaki itu. Ia lelah.

“Hmm… setidaknya jawab aku,” ucap Hyunyoung, setengah merajuk. “Bagaimana kalian bisa bersama dalam satu band begini? Takdir?”

Jiyoo meringis. Jika bisa disebut takdir, pasti takdir itu punya nama; Shin Hyori. Namun sepertinya tak cukup tepat. Bagaimana pun, Jiyoo-lah yang cukup naïf untuk berada di tempat yang sama dengan Hyukjae.

“Ah, Yoo, tolong ambilkan koran hari ini,” Hyunyoung menyerah. Ia tak akan mendapat apapun dari Jiyoo; setidaknya hingga gadis itu berusaha lagi.

Tentu saja Jiyoo lega. Pertanyaan dan rasa penasaran Hyunyoung akan terhenti sementara. Jiyoo mendorong kursinya ke belakang, meninggalkan sarapannya untuk mengambil koran yang digulung di beranda restoran.

Gadis itu membuka beberapa halaman, membaca sekilas beberapa berita utama hari ini. Tangannya berhenti bergerak saat menemukan kolom iklan besar. Tulisan besar dan warna-warni mencolok membuat Jiyoo tertarik.

Audisi Band Indie – Yongsan-dong

“Apa itu?” Hyunyoung berdiri di samping Jiyoo, ikut membaca. Alisnya terangkat. “Oh? Audisi band? Hadiahnya sebuah kontrak rekaman dan pelatihan. Ditambah dengan 5 juta won?! Iklan ini pasti bukan main-main!”

Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Matanya tampak berkilat-kilat. Iklan yang dibacanya ini langsung mengingatkannya pada Cho Kyuhyun, BluEast Harmony, dan sebuah showcase yang gagal.

Kalau iklan ini diserahkan pada Cho Kyuhyun, apa…

“Yah! Ini bagus untuk bandmu!” seru Hyunyoung. Jiyoo menatapnya dengan ragu. Hyunyoung menepuk lengan Jiyoo pelan. “Eii~ tentu saja kau harus memberitahu teman-temanmu!”

Jiyoo tersenyum puas sebelum melesat meninggalkan Hyunyoung. “Aku akan kembali sebelum restoran buka!”

—-

Dengan satu tangan, Hyori membawa dua kotak makanan yang dibawanya dari rumah. Gadis itu berjalan cepat menuju studio. Hyori sudah memutuskan untuk tidak terpengaruh dengan tentang Kyuhyun dan Jiyoo. Ciuman sama sekali tak berarti apa-apa. Hyori tahu dirinya-lah yang berada paling dekat dengan Kyuhyun.

Ia tahu Kyuhyun tak akan pergi kemana-mana. Lelaki itu akan selalu bersamanya, di dekatnya.

Hyori baru saja akan menyentakkan pintu studio saat menemukan koran yang baru diantarkan. Ia meraih koran itu dengan tangannya yang bebas. Merasa penasaran, Hyori membuka beberapa lembar hingga matanya menemukan sesuatu yang menarik.

Kedua matanya melebar. Hyori bahkan meletakkan dua kotak makanan yang dibawanya agar dapat mengamati tulisan besar yang tercetak di atas kertas koran. Ia berseru, “KYUHYUN-AH!”

Seseorang yang dipanggilnya tak muncul. Hyori berdecak pelan kemudian membawa masuk koran, meninggalkan kotak makanan di luar studio. Gadis itu menemukan Kyuhyun di dapur, dengan sebuah gelas di tangannya.

“Yah! Kau harus lihat ini!” sahut Hyori.

Kyuhyun mengangkat alis, heran. “Apa?”

“Iklan ini!” Hyori menunjuk-nunjuk kolom iklan yang lebih besar dari yang lainnya. “Audisi! Bukankah kita bisa mencoba ini?!”

“Audisi?” butuh waktu sedetik lebih hingga Kyuhyun merebut koran dari tangan Hyori. Ia memandangi tulisan besar-besar yang berwarna-warni. “Mungkin… kita bisa mengikutinya.”

Hyori mengerang. “Mungkin?! Kita memang harus mengikutinya, bodoh!”

“Yah,” Kyuhyun mengangkat bahu kemudian tersenyum miring. “Tentu saja kita akan mengikutinya! Kau hebat, Hyo!”

—-

Jiyoo menundukkan kepala, memandangi koran yang dibawanya dari restoran. Ia berdiri tegap di tepi pintu studio. Terlambat. Kyuhyun sudah tahu soal audisi itu. Baguslah. Jiyoo tak perlu repot-repot lagi mengabari soal itu. Bagus sekali.

Hyori sudah membawakan koran yang sama untuk Kyuhyun. Sudah pasti gadis itu tidak akan membuang kesempatan apapun demi harapan Kyuhyun. Sudah tentu iklan audisi itu juga termasuk sebagai salah satunya.

Memang begitu seharusnya. Hyori adalah satu-satunya gadis yang selalu berada di dekat Kyuhyun. Bukan sesuatu yang aneh jika gadis itu akan selalu berusaha menemukan jalan lain untuk mewujudkan impian Kyuhyun. Jiyoo tahu itu, ia mengerti.

Lalu kenapa rasanya gadis itu sedikit kecewa?

“Bodoh,” gumam Jiyoo. Ia mengetuk keningnya sendiri. Dengan senyuman samar, Jiyoo menggeletakkan koran itu di lantai.

“Ah, Yoo!” seruan Hyori membuat Jiyoo terkejut. Hyori tersenyum. “Sedang apa?”

Jiyoo buru-buru menendang koran yang digeletakkan di lantai. Indera penglihatannya menangkap dua kotak makanan. “Ini, makanannya…”

“Aku lupa!” Hyori berlari kecil, meraih dua kotak yang tadi ditinggalkannya. “Ini untuk Kyuhyun dan aku. Apa kau sudah sarapan?”

“Aku?” seperti orang bodoh, Jiyoo justru mengulang pertanyaan Hyori. Ia tertegun sesaat, apa ia sudah sarapan? Ah, belum sempat. Ia langsung berlari ke studio sambil menggenggam koran pagi ini. Jiyoo menggelengkan kepala. “Aku hanya… mampir sebentar. Aku… yah, aku sedang dalam perjalanan membeli sarapan.”

Hyori menelan ludah namun berusaha memasang senyumnya. Ia tahu sikap Jiyoo berubah. Ia hanya tak mau tahu apa penyebabnya. Sepertinya jawaban Jiyoo sama sekali bukan sesuatu yang jujur.

“Dia akan sarapan bersamaku,” Hyukjae tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang Jiyoo. Gadis itu sampai harus membalik tubuhnya untuk memastikan seseorang yang berada di belakangnya adalah Lee Hyukjae.

“Oh, geurae?” tanya Hyori. Ia tak habis pikir kenapa Lee Hyukjae juga memainkan peran yang sama dengannya. Lelaki itu tetap bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi dan tetap berada di dekat Jiyoo.

Lee Hyukjae bersikap seolah-olah tak ada apapun. Tak ada ciuman. Tak ada sesuatu di antara Kyuhyun dan Jiyoo.

Hyori mendesah pelan. Tentu saja Hyukjae memilih peran seperti itu. Jika ia bertanya kenapa Hyukjae melakukan itu, apa jawaban yang dapat diberikannya jika orang lain menanyakan hal yang sama padanya?

Hyori jelas-jelas mengerti peran konyol yang dilakoninya sama dengan peran Hyukjae di depannya sekarang.

—-

“Aku bisa melihat kau terburu-buru tadi,” ucap Hyukjae, mengawali pembicaraan dengan Jiyoo.

Keduanya berada di salah satu toko swalayan. Jiyoo mengatakan ia hanya ingin makan roti sementara Hyukjae sama sekali tidak punya niat untuk menolak gagasan itu. Hyukjae selalu tidak punya hasrat untuk menolak apapun yang diinginkan Jiyoo.

Jiyoo meraih dua bungkus roti panggang. “Apa?” tanyanya tanpa mendongak.

“Koran itu,” Hyukjae mengingatkan.

Jiyoo mengerang dalam hati. Bagus sekali. Jadi tingkah bodohnya dilihat oleh Hyukjae? Sekarang apa lagi? Salah paham lagi? Waw, Jiyoo sangat mengharapkannya.

“Hmm.” gumam Jiyoo singkat. Ia menggeletakkan dua bungkus roti dan dua kotak susu stroberi sebelum membayarnya di meja kasir.

Hyukjae membiarkan Jiyoo berjalan di depannya. Kemudian lelaki itu sadar ia tak ingin berjalan di depan atau di belakang Jiyoo. Hyukjae ingin berjalan dan berada di samping gadis itu.

“Yoo,” panggilnya. Jiyoo menoleh sebentar. “Untuk apa kau membawa koran itu? Kau ingin menunjukkan iklan audisi itu pada… Kyuhyun?”

Jiyoo mengangguk tanpa suara. Perlu ia akui, tindakannya kali ini cukup bodoh dan konyol untuk ukuran gadis berpikiran matang sepertinya. Dan tindakan Hyukjae yang menanyakan hal ini sama sekali tidak membantu.

“Kenapa?”

“Kenapa apanya?” ulang Jiyoo. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengembuskan napas panjang. “Aku hanya ingin membantu. Bukankah aku juga salah satu anggota BluEast?” ujarnya. Ia kemudian meralat ucapannya sendiri. “Oh, baiklah. Aku bukan anggota legal, tapi aku tetap bertanggung jawab.”

“Pada apa?”

Jiyoo merebut tas belanja dari tangan Hyukjae. Gadis itu menusukkan sedotan ke susu stroberinya sebelum menyesapnya. “Kau tahu, kan, showcase? Acara itu berantakan gara-gara aku. Dan jika menurutmu aku tidak memikirkan soal itu sama sekali, kau salah.”

“Apa soal ciuman itu juga kaupikirkan?”

“Lee Hyukjae,” sela Jiyoo. “Aku sedang berusaha melupakan soal itu. Terima kasih banyak karena kau sudah membuat usahaku gagal.”

Keduanya terdiam. Jiyoo terlalu kesal untuk membuka mulut dan Hyukjae terlalu penasaran untuk bertanya lebih banyak lagi. Lelaki itu ingin memastikan banyak hal, termasuk soal perasaan Jiyoo pada Kyuhyun.

“Apa kau menyukainya?”

“Cho Kyuhyun, maksudmu?” Jiyoo menatap Hyukjae. Ia berpikir keras tentang jawaban yang akan diberikannya pada lelaki itu. “Jawaban apa yang kauinginkan?”

Hyukjae mengangkat bahu. Ia mengunyah roti yang dibukanya. “Entahlah. Aku juga tidak tahu jawaban apa yang kuinginkan. Mungkin kau bisa membantuku.”

Tanpa sadar, Jiyoo berhenti menyesap susu stroberinya. Gadis itu berpikir tentang jawaban apa yang dapat membantu Hyukjae tapi tidak menyudutkan dirinya sendiri? Atau setidaknya jawaban apa yang dapat membuat Jiyoo hidup lebih tenang di tengah-tengah lingkaran ini.

—-

“Jjan!” Hyori berseru sambil memamerkan selembar kertas dengan tulisan besar-besar dan warna mencolok. Ia tersenyum lebar. “Inilah saatnya! BluEast Harmony bisa kembali tampil di depan umum. Audisi ini audisi terbuka, yang artinya akan ada banyak orang yang menonton dan memberikan penilaian!”

Hyukjae bergeming. Sudut matanya terarah pada Jiyoo. Gadis itu tersenyum samar, menyambut usulan Hyori dengan sikap ceria. Mungkin benar Jiyoo hanya merasa bertanggung jawab pada apa yang terjadi saat showcase. Hyukjae diam-diam menghela napas lega.

“Kalau begitu, ayo latihan,” ujarnya.

Kyuhyun sudah kehilangan fokus pada pemberitahuan Hyori. Perhatiannya tertuju pada Jiyoo –atau Hyukjae yang selalu menatap gadis itu, tepatnya. Gadis itu tak berkata apapun. Tidak walaupun Kyuhyun sudah melakukan hal yang tak dapat dipercaya.

Lelaki itu mendesah pelan. Hal yang tak dapat dipercaya itu adalah ciuman, tapi Jiyoo melarang Kyuhyun mengucapkan atau memikirkan kata itu. Sekarang Kyuhyun frustasi karena ia tak bisa mengatakan apapun.

“Akustik, bagaimana?” sahut Kyuhyun tiba-tiba. Ketiga rekannya memandangi lelaki itu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Kyuhyun jelas benar-benar melewati batas karakternya sendiri. “Wae? Tidak suka?”

Hyori menggaruk pipi kanannya. “Ani, bukan. Akustik memang… kreatif, tapi kalau kita melakukan akustik… Hyukjae dan Jiyoo–“

“Hyukjae bisa bermain gitar,” sela Kyuhyun. Ia melirik Hyukjae yang bingung. “Dia bisa memainkan gitarku. Dan soal Jiyoo… entahlah, menyanyi?”

“Apa?!” Jiyoo terkesiap. Reaksinya terlalu cepat hingga suaranya melengking tinggi. Ia buru-buru berdeham. “Bernyanyi? Aku? Tidak! Tidak akan!”

Kyuhyun menyipitkan mata. Kentara sekali ia tak suka dengan penolakan. Belum-belum ia sudah ingin memaksa gadis itu. “Kau lupa siapa yang mengacaukan showcaseku?”

“Berhentilah menggunakan hal itu sebagai alasanmu memojokanku, Cho Kyuhyun!” Jiyoo benar-benar menaikkan nada suaranya. Terakhir kali alasan showcase itu diungkit adalah saat Jiyoo mendapatkan ciuman dari Kyuhyun.

Tanpa melunakkan sikap, Kyuhyun melipat tangan di depan dada. “Kalau begitu cari alasan lain yang bisa kaugunakan untuk menolakku.”

Jiyoo menggigit bibir. Semakin lama ia semakin ingin mendorong Kyuhyun jatuh ke jurang tanpa dasar. Ia heran sekali bagaimana lelaki itu bisa menjadi menyebalkan seperti ini.

“Begini, teman-teman,” Hyori memecahkan aura tegang di sekitarnya. “Ide akustik itu tidak jelek, tapi… kita bisa tetap bermain seperti biasa–“

“Aku tidak mau.” Kyuhyun menunjukkan raut wajah datar. Jelas sekali ia tak ingin mengalah.

“Joha!” seru Jiyoo. Ia bisa melihat Kyuhyun menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Gadis itu memiringkan kepala. “Lakukan saja bertiga. Aku bisa keluar dari sini.”

Tanpa menunggu komentar dan reaksi apapun, Jiyoo bangkit dari tempatnya. Sekarang ia benar-benar ingin pergi dari lingkaran yang membuatnya tak bisa bernapas ini. Gadis itu mengambil langkah panjang-panjang untuk segera meninggalkan studio kecil milik Kyuhyun.

“Yah! Yah!” seruan itu tak membuat Jiyoo berbalik. Ia bahkan sempat memutar bola matanya saat menyadari suara itu berasal dari Kyuhyun. “Berhenti!”

Jiyoo berdesis. Oh, apakah ia harus berhenti? Tentu saja tidak. Ia tak akan menuruti ucapan lelaki menyebalkan itu. Entah apa yang diinginkan Kyuhyun, tapi Jiyoo tahu lelaki itu baru saja mengalami benturan keras di kepalanya hingga bisa memiliki ide konyol seperti itu.

Apa katanya? Akustik? Dengan berduet sementara Hyukjae dan Hyori menjadi pengiring mereka? Cho Kyuhyun memang sudah benar-benar gila! Jiyoo mengumpat dalam hati.

“Kubilang, berhenti!” tangan yang kuat berhasil menyambar lengan Jiyoo. Gadis itu sempat kehilangan keseimbangan sebelum berhasil menegakkan tubuhnya lagi. “Kau tidak dengar aku memanggilmu?!”

Jiyoo mendesah, menunjukkan seberapa kesalnya ia pada lelaki itu. “Kau memanggil ‘Yah!’”

“Dengar ya, aku tidak ada waktu untuk main-main sekarang–“

“Oh, benarkah? Bagus, aku juga tidak ada waktu untukmu,” sebisa mungkin Jiyoo berusaha melepaskan diri, tapi ternyata tangan Kyuhyun justru semakin erat. Gadis itu meringis kesakitan. “Lepaskan tanganmu itu!”

Kyuhyun melirik lengan Jiyoo yang dipenjarakan tangannya. “Oh, ini? Nanti akan kulakukan jika kau menjadi gadis manis yang patuh.”

“Ishh!” Jiyoo meniup poni depannya frustasi. Ia menyerah. Ia akan berhenti melawan. “Baik. Apa yang kauinginkan?”

“Sebenarnya apa alasanmu? Kenapa marah?” tanya Kyuhyun. Jiyoo agak terkejut ketika Kyuhyun melonggarkan pegangannya.

Jiyoo menatap lelaki itu dengan kedua mata yang menyipit tajam. “Kau bertanya? Biar kujelaskan, aku sama sekali tidak ingin bernyanyi bersamamu, aku juga sama sekali tidak setuju dengan usulan gilamu soal akustik itu. Memangnya apa yang kaupikirkan? Akustik di tengah audisi band indie? Kau pasti bercanda.”

“Kalau hanya itu, kenapa kau ingin keluar? Dari band dan studio, maksudku.”

“Karena aku sama sekali tidak menyukai sikapmu yang seenaknya itu. Bukankah alasan itu sudah sangat berdasar?” Jiyoo menatap Kyuhyun dengan tatapan menantang kali ini.

Kyuhyun tersenyum miring. Sikap Jiyoo yang kadang meledak ini justru membuatnya terhibur. Walaupun begitu, ia tak boleh tersenyum lebih lebar lagi. “Kau tidak menanyakan alasannya?”

“Aku tidak mau tahu. Bagiku, bersikap kekanak-kanakan seperti itu sama sekali tidak punya alasan yang penting,” ujar Jiyoo santai.

“Kenapa kau tidak mau membicarakannya denganku?”

“Soal apa?”

“Ciuman kita.”

Jiyoo membelalakkan mata. Lelaki di depannya ini pasti sudah benar-benar gila. “Jangan ucapkan itu!”

“Wae?”

“Tidakkah kau ingin melupakannya saja? Tidak perlu dibahas lagi. Aku akan menganggap hal itu terjadi hanya karena kau simpati padaku. The end. Tidak berlanjut.”

Kyuhyun memandangi wajah Jiyoo. Gadis itu jelas tersipu. “Kau sama sekali tidak menolakku saat itu.”

“Itu… itu hanya ciuman singkat. Aku tidak menganggapnya–“

“Lalu kenapa kau diam saja? Kau menyukainya, aku tahu itu.”

Jiyoo mengerang frustasi. “Hanya karena aku diam saja, bukan berarti aku menyukainya! Aku sedang kalut waktu itu, lalu kau… kau mendekat dan melakukannya. Kau menciumku hanya untuk membuatku lebih baik, tidak lebih.”

“Begitu?” gumam Kyuhyun. Ia menyentakkan tangannya kuat, menarik tubuh Jiyoo mendekat. “Bagaimana kalau bukan itu alasanku?”

Napas Jiyoo memburu cepat. Ia butuh oksigen, tapi ia malah menghirup lebih banyak aroma maskulin dari tubuh Kyuhyun. Berada dalam jarak sedekat ini dengan lelaki itu membuat otak Jiyoo kosong. Ia tak bisa berpikir.

Jika ia saja tak bisa berpikir, lalu bagaimana cara Jiyoo memerintahkan tubuhnya untuk menjauh?

“Kaja, ayo kembali,” Kyuhyun melepaskan pegangan tangannya. Lelaki itu melirik bekas kemerahan yang ditinggalkannya di lengan Jiyoo. “Aku… minta maaf. Untuk yang itu.”

—-

Lee Hyukjae mengamati Kyuhyun dan Jiyoo yang berjalan kembali ke studio. Seharusnya ia yang berlari dan menyusul gadis itu. Seharusnya ia membiarkan saja tubuhnya mengambilalih kendali. Seharusnya… seharusnya.

Kedua matanya menatap Jiyoo dari jauh. Gadis itu tampak sedikit terguncang. Apa yang dikatakan Kyuhyun? Ah, mungkin bukan itu.

Apa yang sudah dilakukan Kyuhyun pada Jiyoo, Yoo-nya?

Tanpa sadar tangannya mengepal kuat. Kuku-kukunya menancap di telapak tangannya, meninggalkan bekas merah saat Hyukjae melepaskannya nanti.

“Yoo,” panggilnya. Ia berlari kecil menghampiri Jiyoo. “Kau…”

“Aku baik-baik saja,” jawab Jiyoo. Bibirnya melengkungkan senyuman kecil. Ia terlihat ragu sebelum menyambung, “Poo.”

Hyukjae terperanjat. Untuk sesaat, jantungnya terasa berhenti berdetak. Bermacam-macam luapan perasaan bergumul di dadanya, bingung menentukan perasaannya yang mana yang harus ditunjukkan.

“Apa kau bilang? Kau… memanggilku apa tadi?” suara Hyukjae tercekat. Ia bisa merasakan Hyori dan Kyuhyun memerhatikannya, tak mengerti dengan pembicaraannya dan Jiyoo. “Kau memanggilku… Poo?”

Jiyoo merapikan rambutnya dengan kaku. Kepalanya tertunduk dalam-dalam sebelum mendongak dan tersenyu. “Kau tidak mendengarku?”

“Dengar! Tentu saja aku mendengarmu, Yoo!” seru Hyukjae nyaring. Tak butuh waktu lama saat tubuhnya bergerak lebih cepat daripada otaknya. Hyukjae memeluk Jiyoo, membenamkan wajah gadis itu di dadanya yang bidang. Kehangatan tubuh Jiyoo terasa nyata, jadi tak mungkin ia hanya berimajinasi, bukan?

Semuanya terlalu terkejut dengan semua itu. Semua, kecuali Hyukjae. Hyori membelalakkan mata dengan ekor mata yang diam-diam melirik Kyuhyun. Kyuhyun sendiri tak banyak bereaksi. Lelaki itu sempat terkejut, tapi dengan cepat berhasil menunjukkan wajah datarnya.

Entah bagaimana, Hyori bisa melihat kekecewaan di mata lelaki itu.

Apa yang dibicarakan Kyuhyun dan Jiyoo? Hyori yakin sekali kedua orang itu membicarakan–atau melakukan- sebelum kembali ke studio. Apapun itu, jelas sekali Kyuhyun sedang tersiksa melihat Jiyoo berada dalam pelukan orang lain.

Jiyoo memejamkan mata. Jantungnya berdebar-debar. Ia membiarkan lengan kuat Hyukjae melingkari tubuhnya, melindungi dan menyangganya hingga Jiyoo bisa bernapas lega.

Gadis itu memahami sesuatu. Bukankah begini lebih menyenangkan? Ia berada di tempatnya dulu berada; dalam jangkauan Hyukjae. Jiyoo berjengit mengingat rasa takut yang menyergapnya saat ia bersama Cho Kyuhyun.

“Ah,” Jiyoo melepaskan diri dari pelukan Hyukjae perlahan. “Soal duet itu… apa kau yakin? Tidakkah kaupikir aku bisa mengacaukannya lagi?”

Kyuhyun menatap Jiyoo, tepat ke kedua mata gadis itu. Ia mencari-cari, entah apa, yang mungkin bisa jadi jawaban dari kebingungannya saat ini. “Menurutmu kau bisa melakukannya?”

“Entahlah. Bukan aku orang yang harus memerintah di sini,” ucapan itu jelas sindiran. Jiyoo sudah berusaha mengucapkannya dengan sinis. Yah, setidaknya ia mencoba.

“Tidak. Tidak akan ada duet atau apapun yang sedang kaupikirkan,” sela Hyukjae. Tangannya meraih tangan Jiyoo, membungkusnya erat. “Formasi seperti biasa. Tidak akan ada perubahan.”

Jiyoo meringis. Perlakuan Hyukjae yang seperti ini, pantaskah ia mendapatkannya? Jiyoo langsung merasakan perutnya yang berputar-putar tak nyaman.

“Terserah, tapi aku yang akan memilih lagunya,” Kyuhyun mengangkat bahu. Lelaki itu memandang Jiyoo dengan tatapan datar. Tatapan yang seandainya hanya bisa dilihat Jiyoo adalah menghakimi.

Sudut mata Jiyoo mengikuti gerakan Kyuhyun. Lelaki itu berusaha bersikap tenang, pura-pura tak terusik walaupun sebenarnya terlihat tersiksa. Dengan gerakan cepat, Kyuhyun mengambil beberapa helai kertas kosong. Jiyoo tak akan bertanya untuk apa kertas-kertas itu. Ia sudah tahu jawabannya.

“Aku akan ada di kamarku.” Kyuhyun memunggungi tiga orang yang menunggu.

Hyori mengangguk walaupun tahu Kyuhyun tak melihatnya. Penjelasan Kyuhyun itu cukup jelas. Lelaki itu akan berada di kamarnya untuk membuat satu lagu baru. Tentu saja tak akan ada yang mau repot-repot mengganggunya.

“Jadi,” ujar Hyori setelah Kyuhyun menghilang di balik pintu kamarnya. “apa yang sudah kulewatkan?”

Jiyoo bergumam pelan. “Tidak ada yang kaulewatkan. Sama sekali.”

“Kau berharap aku percaya pada ucapanmu itu? Jelas sekali ada yang kulewatkan, bahkan banyak yang kulewatkan,” Hyori bersedekap. “Kau dan Hyukjae… apa hubungan kalian sekarang?”

“Aku…”

Hyukjae menyela, “Tidak ada hubungan khusus. Tetap teman yang baik.”

—-

Kyuhyun meremas sehelai kertas menjadi benda bulat tak beraturan. Kertas malang itu dilemparkan begitu saja ke sudut kamarnya, berkumpul dengan kertas-kertas lain yang tak berbentuk lagi. Tangan Kyuhyun bergerak-gerak, menuliskan kata demi kata sambil mencari nada melalui keyboard yang berada di kamarnya.

Namun sepertinya tingkat kepuasan lelaki itu sedang tinggi. Tak satu pun lagu buatannya berhasil membuatnya puas.

Kyuhyun menyerah. Ia berbaring di atas ranjang, membiarkan kertas dan pensilnya terjatuh di lantai. Pikirannya terasa begitu sesak hingga tak sanggup dijejali dengan materi nada atau lirik apapun.

Bayangan Hyukjae yang memeluk Jiyoo setelah gadis itu mengucapkan sesuatu masih bercokol di benaknya. Bayangan itu terlihat kembali nyata dan seolah memang sedang menggoda Kyuhyun, bayangan itu tak ingin beranjak dari pikirannya.

“Ani, bodoh sekali. Aku sudah menunjukkannya, tapi kenapa gadis itu malah…” Kyuhyun menggerutu. Ia kesal sekali karena sikap Jiyoo benar-benar tak bisa ditebak. Bagaimana mungkin ia membiarkan Hyukjae memeluknya seperti itu? “Bahkan ketika aku sedang melihatnya..”

“Ini gara-gara kau. Kenapa kau harus bertanya? Kenapa kau selalu ingin tahu?”

“Aku membencimu, Cho Kyuhyun!”

Ucapan Jiyoo yang meluncur cepat menggema di telinga Kyuhyun. Gadis itu membencinya. Benarkah? Kyuhyun mengerutkan kening, memikirkan jawabannya.

Lelaki itu kemudian menghela napas panjang. Jika Jiyoo membencinya, lalu apa yang dirasakan gadis itu pada Hyukjae?

“Kenapa itu harus jadi urusanmu?”

Kyuhyun mendengus. Suara-suara Jiyoo belum mau pergi dari kepalanya. Walaupun percakapan lama, Kyuhyun masih dapat mengingatnya dengan jelas. Gadis itu tampak terganggu dengan kehadirannya.

“Tapi aku sudah menciumnya dan dia tidak menolaknya, bahkan tidak juga menunjukkan wajah tak suka,” gumamnya lagi.

“Berhentilah menggunakan hal itu sebagai alasanmu memojokanku, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun tersenyum geli. Sepertinya ia sudah kehilangan akal sehatnya. Ia bertingkah seolah-olah Jiyoo sedang berada di ruangan ini, menjawab segala pertanyaan-pertanyaan konyolnya. Kemudian ia tersenyum lebih lebar mengingat percakapan terakhir dengan gadis itu.

“Kau bertanya? Biar kujelaskan, aku sama sekali tidak ingin bernyanyi bersamamu, aku juga sama sekali tidak setuju dengan usulan gilamu soal akustik itu. Memangnya apa yang kaupikirkan? Akustik di tengah audisi band indie? Kau pasti bercanda.”

“Kalau hanya itu, kenapa kau ingin keluar? Dari band dan studio, maksudku.”

“Karena aku sama sekali tidak menyukai sikapmu yang seenaknya itu. Bukankah alasan itu sudah sangat berdasar?”

 “Kau tidak menanyakan alasannya? Kenapa aku bersikap seperti ini.”

“Aku tidak mau tahu. Bagiku, bersikap kekanak-kanakan seperti itu sama sekali tidak punya alasan yang penting.”

“Kenapa kau tidak mau membicarakannya denganku?”

“Soal apa?”

“Ciuman kita.”

“Jangan ucapkan itu!”

“Wae?”

“Tidakkah kau ingin melupakannya saja? Tidak perlu dibahas lagi. Aku akan menganggap hal itu terjadi hanya karena kau simpati padaku. The end. Tidak berlanjut.”

 “Kau sama sekali tidak menolakku saat itu.”

“Itu… itu hanya ciuman singkat. Aku tidak menganggapnya–“

“Lalu kenapa kau diam saja? Kau menyukainya, aku tahu itu.”

“Hanya karena aku diam saja, bukan berarti aku menyukainya! Aku sedang kalut waktu itu, lalu kau… kau mendekat dan melakukannya. Kau menciumku hanya untuk membuatku lebih baik, tidak lebih.”

Kyuhyun menghela napas lagi. Jiyoo benar-benar suka mengambil kesimpulan sendiri. Alasan Kyuhyun menciumnya bukan itu.

Tidak, bukan hanya karena lelaki itu ingin menunjukkan simpatinya. Bahkan alasan itu meleset, melenceng terlalu jauh dari apa yang dirasakan Kyuhyun saat itu. Ciuman itu lebih dari rasa simpati. Kyuhyun melakukannya karena ia ingin, bukan karena ia harus.

Dan seandainya Jiyoo memang membencinya saat ini, Kyuhyun tak akan menyesali apapun. Seandainya gadis itu pernah tak membencinya, Kyuhyun yakin ia bisa membuat Jiyoo kembali memiliki perasaan seperti itu.

Entah sejak kapan, sosok Jiyoo yang berada di benaknya membuat tangan Kyuhyun kembali bergerak. Ia mulai menuliskan beberapa kata, menjadi bait dan barisan lirik baru. Sesuatu yang tercipta dari imaji tentang gadis yang diciumnya.

Tentang gadis yang akan kembali untuk mempertimbangkan sesuatu.

—-

“Kau bodoh,” ucap Hyori setelah Jiyoo meraih tasnya dan berjalan pulang menuju restoran. Ia memandangi Hyukjae yang jelas-jelas berada di hadapannya.

Hyukjae mengendikkan bahu. Tangannya memainkan stik drum sembarangan. Ia tahu kemana arah pembicaraan Hyori ini.

“Dia sudah menerimamu lagi. Persis seperti yang kauinginkan!” Hyori menatap Hyukjae dengan kedua mata yang tampak frustasi. “Seharusnya kau menegaskan diri kalau kalian sudah bersama lagi!”

“Menurutmu begitu?” tanya Hyukjae. Kepalanya mendongak untuk balas menatap Hyori.

Hyori menelan ludah. Ketakutan maya menampar pipinya. “I-iya. Kaubilang Poo adalah panggilan khusus kalian, kan? Lalu kenapa menurutmu aku keliru?”

“Tidak.” ujar Hyukjae tenang. “Kau tidak keliru.”

Tanpa sadar, air mata Hyori menggenang di pelupuk matanya. Nada suara Hyukjae mengarah pada sesuatu yang tak ingin dipikirkannya. Ia menggigit bibir. “Menurutmu aku hanya menyimpulkan sesuatu yang sangat kuinginkan, begitu?”

“Mm.” Hyukjae mengangguk. “Aku juga begitu.. tadi. Jiyoo tidak benar-benar melakukan itu untukku. Dia sedang menghindar. Kau pasti tahu itu.”

“Tidak! Dia tidak menghindari siapapun!” Hyori teringat raut wajah Kyuhyun yang tersiksa saat Hyukjae memeluk Jiyoo. Gadis itu memalingkan wajah dari Hyukjae, menghindari tatapan mata langsung dari lelaki itu. “Dia tidak menghindari Kyuhyun… Kalau dia berbuat begitu, itu tandanya Jiyoo merasakan sesuatu untuk Kyuhyun. Tidak, bukan seperti itu.”

Hyukjae berjalan maju, menghampiri Hyori yang ketakutan dengan bayangan-bayangannya sendiri. Sambil mengacak rambut Hyori lembut, lelaki itu berkata, “Bukan hanya dari Kyuhyun.”

Dan seketika itu, tatapan Hyori berubah menjadi lebih sendu. Ia menatap Hyukjae, seolah berbisik tentang jawaban yang tak mungkin baginya.

“Dia menghindarimu juga,” palu raksasa menghantam jantung Hyukjae saat itu. Menyakitkan. Lelaki itu menelan ludah. “Dan menghindariku.”

Hyori mendongak, menatap Hyukjae lebih jelas. Jika kedua matanya tak keliru, ia melihat guratan wajah Hyukjae yang menahan sakit. Wajah itu nyaris mirip dengan milik Kyuhyun tadi.

Butuh beberapa detik bagi otak Hyori memutuskan untuk meremas tangan Hyukjae. Gadis itu berharap rasa sakitnya dan Hyukjae terbagi menjadi sama rata hingga tak begitu sakit lagi. Dan saat itulah Hyori mengerti satu hal.

Bahwa rasa sakit itu sama sekali tak berkurang. Rasa sakit itu justru menjadi dua kali lipat lebih besar.

===============================

Chapter 5 finished! ^-^

I love when Kyuhyun recalled his conversation wif Jiyoo. :”> Seriously, I began this wif JiKyu so I’ll try my best on JiKyu. I still don’t know how this story will end tho, so yea I’ll listening to your suggestion(s).

Wut do you want for ending? Just tell me so I can make a clearer future (?) for BluEast Harmony. ^-^

I’m bit… upset when ppl stick wif JiHyuk, bcs my early intention was for JiKyu. But its alright, I’m happy you guys remember and used to love JiHyuk. :’)

And ofc I’m glad when ppl said that I’m success wif JiKyu~ xD

Thank you for the comment(s) *bow*

68 thoughts on “BluEast Harmony #5

  1. np: it’s a war~
    T__________________________T
    ihiks
    ihiks
    ihiks
    ihiks
    ihiks

    *puk puk Hyohyuk*
    “Bahwa rasa sakit itu sama sekali tak berkurang. Rasa sakit itu justru menjadi dua kali lipat lebih besar.”
    ;_____________________;
    syeddddddiiiiiih~~~

    it okay if they love jihyuk dear, nado~ I love jihyuk also :3
    but I can’t stop smiling whenever I think about jikyu xD
    I already gave u options about the ending😀
    whether it’s jikyu or jihyuk or maybe no one get any (?)😄

    don’t worry we already have plan B for the ending~
    a crazy ending /kicked by readers/ xD

    Thank you for the hard-working author-nim (_ _)

    • It’s a WAR~
      *tepoktepok*
      The last one! None get any. xD
      Ato ending yang ajaib itu. Paling nanti blog ini diblacklist ama readernya. xDD

      Thank you for pulishing and reading and commenting and galau-ing, Hyo-nim~ ^-^

  2. wuaah keyeens , pokoknya jiyoo kudu ama kyu dan hyo ama hyuk. hyaaa yoo , jikyu mu sukses loh hahaha daan tentu blueast lolos audisi dan jadi sukses juga. happy end dah pokoknyah

  3. wuaaaaa…. nyesek bgt jadi Hyori.. sakit hati bgt suka cwo’ yg trnyta ska sm shbtnya sendiri. mna Kyu gk peka lgi ma perasaan Hyori…

  4. kenapaa begini..!! aku skrg jd g relaa jiyoo ama kyu, aku gak tegaa bayangin hyukjae yg semerana itu…😦
    chap ini berhasil mengaduk-aduk perarasaanku thor…#jiaahapadeh -.-
    berharap next chapnya g lebi dri seminggu…kkekeke~
    fighting thor,!!🙂

  5. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA… Cemburu gelaaaa~ *aneh yak, HyoHyuk yang di gantungin, aku yang cemburu* #Gaplok xD
    akhirnya gimana yak, Eunhyuk sama Jiyoo atau Kyuhyun sama Jiyoo? Atau jangan jangan Kyuhyun sama aku *oke,yang terakhir terlalu ngarep* xD

    btw, salah satu yang aku suka dari FF eonni bukan cuma bagus & kata”nya puitis. Tapi juga berasa nyata (^3^) Daebak!!😀

  6. mm….tlg donk shel,jihyuk ttp ada.berikan yg terbaik ujtuk hyukjae oppaku…^^
    shela jang!!??critanya ngebuat mellow

  7. aaaaa sy mah seneng2 aja lah mw hyohyuk atau jikyu ya walau terbiasa dgn jihyuk kyuhyo tp disini sy suka… Wkwk

    Gantian dong bkin momment hyohyuk yg ky jikyu trus diliat jikyu kan impas #plak

    Sbnernya si kyu macem ngasih harapan kosong bwt hyori dah… Kan kasian.,

    Serius makin seru kisahnyaaa ditunggu next chapter… Fighting!

  8. Part ini sukses bkin aku nangis…bgmna sakit.y perasaan hyo…huaaaaa😥
    Speechless bca part ini..gk tau mau komen apa..nyesek rasanya..
    But,, aku suka dgn sikap acuh kyu pd jiyoo dan sikap care.y pd hyo..sukses bkin aku kesel stengah matii..kiyuu..
    Next part d tnggu eonn

  9. Saya suka banget sama part yang ini , kesannya kena banget . Apa lagi yg pas scane mereka manggil yoo dan poo . Og god !!

  10. ooh~~ damn!
    makin penasaran….ka shela cepet di publish buat chap selanjutnya…..
    yayaya?

    aku sedih ngeliat hyohyuk (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)
    si hyori yg nge-galau, berasa sendirian ditinggal sama kyu.
    terus si hyukjae yg kayak di php-in nih sama yoo-nya.
    ckck~~
    sukses, ka! next chap, ok?
    I’m still support for Jikyu…..ㅋ ㅋ ㅋ ㅋ

  11. Untung yoo dtg ke taman walaupun telat … Emg kyuhyun nyebelin suka bertindak seenaknyaaa !!!!
    Itu pas hyuk bilang “kyuhyun…. Menciummu” traktakdungcesssss ~ gatau kenapa jleb aja hehehe
    Disini sering ngbahas tentang ciuman ciuman ciuman kasian jiyoo dia ngerasa terpojok😦
    Kyuhyun perhatian ke jiyoo hyuk perhatian ke jiyoo . Hyo ? Poor girl ~
    Salut sama hyo dia masih bisa ceria😀
    Tapii aku bingung jiyoo suka sama siapa ????

  12. Saranku c lanjut JiKyu aja saeng…lagian,,semakin jauh chapternya berasa banget kalo JiHyuk tinggal kenangan (di cerita ini yaaa…aq tetep suka JiHyuk soalnya)..
    Aneh aja kalo balik lg ke JiHyuk…

    Yg ptg,happy ending yaaa…sutra mw diputer-diperes kya gimana..
    *halaaaah..bhs gw..
    Hwaitiiiiiiiing (ง!`☐´)ง

  13. waa… JiKyu ><
    aigoo.. kyu jd kasmaran gitu ama yoo wkwk, jadii perasan kyu ke hyori cuma perasaan care ke adik dong gitu yaa?
    waa, ga sabar nunggu next chap, ditunggu, hwaiting!~^^

  14. hhhh..aku tau banget perasaan kalian berdua Hyo-Hyuk😐 *sotoy*
    sedikit2 konflik mulai ada..sedikit sedikit tingkat konfliknya naik terus..yang kayak gini aku suka eonn ^^ jadi ga monoton

    kebawa perasaan bgt pas baca part ini, apalagi hyo-nya..yang sabar Hyo-Hyuk😀

    lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut!! daebak eonni!!! semangat😄

  15. Aarrrrrgggggg hyukiiiiieeeeeeeeeeeeeee!!!!!!
    ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
    Shel, please next chap! ! ㅜㅜㅜㅜㅜㅜㅜ

  16. Hyuk..malang nian nasibmu nak.cupcup
    jiah..ternyata sang tersangka itu kyuhyun yg udh nyembunyiin hp jiyoo..ampe segitunya.ckckck

    kyuuu..jangan bikin hyo sakit lg..kacian*peyuk hyo*

    hwaaaa penasaran..
    Gpp deh jikyu kopel berjaya di ff ni..udah mulai rido yoo jadi sama kyu#miris

    emm tentang endingnya..huhu T_T
    tentunya harus happy ending..yoo happy,kyu happy,hyuk happy n hyo juga happy..ya kan eonn*tarik2 baju eonni*

  17. my fav ff!!! congrats eonni for make me fall and keep waiting for this one! kkkk dan sekarang rasanya lebih suka jikyu mwehee, bener bener nunggu lanjutan ceritanya, ngebayangin gimana perasaan hyuk sama hyori kalo jikyu bener bener bersatu? aaaah waiting for this! keep writing eon, fighting!!!

  18. Huaaaaa nyesek banget T.T
    Aku nyampe g tau mau komen apa, rasanya abis baca ini jadi bengek ._.
    Kenapa bisa setragis (?) ini cinta mereka? Ini udh jadi cinta segi berapa yak? #plak
    Nekeuseu part ditunggu lah :p

  19. Ah~ Daebak, .
    Blueast sukses dan Jiyoo tetep sama Hyuk dan Kyu tetep sama Hyo :3 loh, gak jadi JiKyu dong ^^ kekeke~ yang terbaik aja deh endingnya😄

  20. heemmmmmm….. jiyoo semacam bimbang ya di part ini..

    ayo dunk..mantepin hati buat kyu..
    pokoknya di Blueast harmony jiyoo jadiaannya ama kyu seorang #ngotot hahahaha
    kapan lagi liat jikyu bersatu, mumpung istri si setan merestui *lirik hyori* hahahaha

  21. Kyuhyun gitu deeeeh, langsung aja ngomong suka Jiyoo dong hehe

    Hyohyuk buruan jatuh cinta juga dong hehe
    *banyakminta*

    Pokoknya ending harus Jikyu dan Hyohyuk *iniperintah* :-p
    Soal ceritanya aku yakin pasti bakalan bagus banget dan aku suka😀

    Hwaiting🙂

  22. Kasihan Hyo nya~
    eon.. kasih hyohyuk momentnya lebih banyak ya..
    biar kaya Jikyu-nya~~
    eheheh xD
    Jikyu Jjang!😀

  23. huwa…
    Hiks…hiks…

    Kenapa malah makin kesini malah bikin banjir air mata
    *ambil tisu*

    Q dukung jikyu couple klo kejadiannya dia hanya org luar,tanpa jd member blueast harmony.

    G tau,rasanya kurang adil bt hyori…
    Nyatanya kyu juga bs ngerti klo hyori sdg bermasalah( pdhl hyo g cerita apa2 )

    buat ending,up to you aja deh jeng shela.
    Hak mutlak khan ada pada dirimu.
    Q hanya bisa berterima kasih sudah dikasih kesempatan bc hasil karyamu ini
    *kecup yoo*

  24. sudah mulai terbiasa dengan jikyu …. khusus di sini aja lho … catet di sini saja…..
    kalo yg lain? tetep harus jihyuk ..jangan kebanyakan jikyu ..
    kenapa saya akhirnya lebih penasaran dengan hyohyuk ya??? wae??

  25. sdh amad ,, tpi moga aj andingnya jikyu n hyohyuk,kekekekek,, hrpn qq bgtu unnie,,mmm tgl 3 part ,yeyeyey,, partini bnr2 sakit ati BANGGAADD :(((( TT TT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s