BluEast Harmony #4

BluEast Harmony #4

<=

Hyukjae mendengus di balik drumnya. Tentu, banyak orang itu tidak mungkin ditukar Kyuhyun dengan seorang Choi Jiyoo. Hyukjae memutar bola mata. “Laki-laki egois.”

“Tapi, kami mohon maaf,” Kyuhyun memandang lurus ke depan, tetap tanpa emosi. “Ada beberapa masalah yang terjadi sebelum kami tiba disini.”

Hyori menelan ludah sambil sesekali mencoba membaca raut wajah yang tersirat dari pengunjung di depannya. Ia sudah cukup mendengar Hyukjae menggerutu dan ia hanya ingin mengalihkan perhatiannya.

Kyuhyun menarik napas panjang, “Karena itu, kami harus membatalkan show case ini.”

—-

Lelaki itu berjalan lebih dulu, mengabaikan riuh-rendah keluhan yang terlontar dari bibir-bibir yang kecewa. Dalam benaknya tergambar jelas celaan dari pihak yang telah membantu BluEast Harmony. Sekarang Kyuhyun tak bisa berbalik dan menarik ucapannya lagi. Ia terlanjur membatalkan showcase berharga ini.

“Yah~ Cho Kyuhyun! Kau keren!” seru Hyori sambil terus mengekor di belakang Kyuhyun.

Hyukjae merasa perasaannya campur aduk saat ini. Ia senang Kyuhyun telah memilih untuk mencari Jiyoo, tapi kenapa sepertinya ia juga terganggu dengan kenyataan Cho Kyuhyun membiarkan showcase ini berantakan hanya gara-gara gadis baru? Hyukjae menggelengkan kepala. Ia menolak memikirkan hal lain selain menemukan Jiyoo saat ini.

Ketiganya menuju ke studio. Pintunya terkunci dan lampunya padam. Tak seorang pun dari ketiganya menganggap Jiyoo ada di tempat itu.

“Sekarang kita kemana?” tanya Hyori setengah panik.

“Dormnya?” Hyukjae mengusulkan.

Hyori mendesah kemudian menggelengkan kepalanya. “Dia sudah tidak pulang ke dormnya sejak beberapa hari ini. Aku tidak tahu dia tinggal dimana belakangan ini.”

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencoba merasakan kehadiran Jiyoo. Lelaki itu tak merasakan apapun. Gagasan tentang tempat yang mungkin didatangi gadis itu menggelitik otaknya. Kyuhyun menelan ludah dan meninggalkan teman-temannya tanpa suara.

“Yah, yah! Mau kemana?” pekik Hyori. Tak ada jawaban yang diperolehnya. Hyori memandang Hyukjae. “Apa kau tahu tempat yang mungkin didatangi Jiyoo?”

Pandangan Hyukjae terkunci pada punggung Kyuhyun yang sudah tak terlihat hingga ia tak merespon pertanyaan Hyori. Menurut instingnya, Kyuhyun banyak berubah. Cho Kyuhyun memang masih tampak dingin, tapi ada sesuatu yang berubah darinya dan tak bisa diartikan Hyukjae.

“Yah, Lee Hyukjae!” Hyori berseru sekali lagi. Begitu mendapat perhatian Hyukjae, gadis itu menghela napas. “Tempat apa yang akan didatangi Jiyoo?”

Hyukjae tak bisa berpikir. Terlalu banyak pertanyaan yang menyesaki kepalanya hingga membuat lelaki itu bingung. Ia hanya bisa menggeleng pelan. “Kita cari saja di sekitar sini.”

—-

Napas Kyuhyun tersengal. Ia berlari sepanjang jalan menuju ke restoran dengan papan nama Amore yang terpasang di atas pintu masuk. Kyuhyun menempelkan kedua tangannya ke pintu kaca dengan harapan bisa melihat ke dalam restoran. Lelaki itu tak berharap banyak, tapi ternyata pintunya tak dikunci.

Dengan keyakinan yang sedikit menebal, Kyuhyun berharap Jiyoo ada di dalam. Sepasang matanya membiasakan diri  dengan kegelapan sebelum berhasil meraih saklar lampu di dinding dekat meja kasir.

“Choi Jiyoo?” panggilnya. Tak ada jawaban. Kyuhyun memutuskan untuk mencari hingga ke ruang karyawan dan menyalakan seluruh lampu di ruangan itu. “Apa kau disini?”

Telinganya dalam kondisi siaga. Kyuhyun akan tahu jika seandainya ia mendengar sedikit suara yang mungkin bisa menunjukkan tempat Jiyoo berada. Entah bagaimana, ia yakin gadis itu ada di sekitar sini.

Kyuhyun menghentikan langkahnya di depan toilet. Suara kran air yang terbuka membuatnya heran. Siapa yang membiarkan kran air terbuka seperti itu? Lelaki itu mengetok pintu toilet.

“Choi Jiyoo?” panggilnya lagi.

Kyuhyun tak berharap banyak, sebenarnya. Tapi mendadak rasa lega membanjiri seluruh tubuhnya saat suara gadis itu terdengar. “Tunggu sebentar.”

Selama sekitar dua menit, Kyuhyun menunggu. Punggungnya disandarkan ke dinding sementara kedua tangannya terlipat di depan dada. Saat Jiyoo membuka pintu pun Kyuhyun tak bergeming dari posisinya. Kelegaan yang tadi dirasakannya perlahan-lahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

“Apa… kau datang untuk memarahiku atau berteriak padaku sekarang?” tanya Jiyoo. Senyuman kecil terkulum di bibirnya. “Maaf.”

“Apa kau menangis di dalam sana?” Kyuhyun sama sekali tak menjawab pertanyaan Jiyoo.

Jiyoo mendongak dan Kyuhyun bisa melihat kedua mata gadis itu merah. “Aku…”

“Cara yang bagus.” Kyuhyun berjalan mendekat ke arah Jiyoo. “Bersembunyi di toilet dan membiarkan kran airnya terbuka hingga tidak ada yang bisa mendengar isakanmu yang menyedihkan.”

“Maafkan aku.”

Kyuhyun tak bersuara. Ia hanya mengamati gadis di depannya dengan tatapan yang intens. Bagaimana mungkin ada gadis sebodoh ini? Bersembunyi tidak akan pernah menyelesaikan apapun. Tidakkah gadis bodoh ini belajar tentang hal itu?

“Soal show case malam ini… aku minta maaf.”

“Apa kau tidak bisa mengucapkan kata lain selain maaf? Aku bosan mendengarnya,” sela Kyuhyun. Lelaki itu melihat Jiyoo menggigit bibir bawahnya, dan sepertinya gadis itu akan kembali menangis. Tanpa berkata apapun, Kyuhyun menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Tak ada yang berbicara. Kyuhyun diam-diam mengembuskan napas lega saat menyadari Jiyoo berada dalam jangkauannya, lebih dekat lagi, Jiyoo berada dalam dekapannya. Gadis itu tak membuka mulut. Tubuhnya kedinginan sejak tadi dan sekarang seseorang mencoba menghangatkannya. Beruntung sekali, bukan?

Jiyoo membiarkan rasa sakit hati menyebar lagi. Saat sepasang lengan menjaganya, Jiyoo membiarkan air mata mengambilalih segalanya. Dalam sekejap, kemeja Kyuhyun basah.

—-

“Choi Jiyoo! Pergi kemana kau?” pekikan Hyori langsung menyerang gendang telinga Jiyoo saat gadis itu melangkah masuk ke dalam studio. “Apa kau tahu kami semua sangat khawatir?!”

Jiyoo menelan ludah kemudian tersenyum kecil. “Maafkan aku.”

Dengan helaan napas panjang, Hyori mengibas-ibaskan tangannya. Kali ini untuk kedua kalinya, Jiyoo menerima pelukan tanpa suara. Hyori menepuk-nepuk punggung Jiyoo, membuat Jiyoo merasakan kenyamanan yang luar biasa.

Saat Hyori melepaskan pelukannya, kedua mata Jiyoo bertemu dengan sepasang mata milik Hyukjae. Lelaki itu duduk diam. Kedua tangannya bertaut erat. Jiyoo mengenal lelaki itu dan sadar sepenuhnya bahwa Hyukjae mungkin adalah orang yang paling panik saat Jiyoo menghilang sesaat.

“Apa kau lapar?” tanya Hyori, membuyarkan pikiran Jiyoo tentang Hyukjae.

Jiyoo menggeleng pelan. “Tidak. Kurasa setelah aku menampakkan diri pada kalian aku akan pulang saja. Aku… eh, lelah.”

Hyori mengangguk-angguk paham dan tak bertanya apapun lagi. Gadis itu mengerti jika Jiyoo tak ingin membicarakan apapun malam ini. Satu-satunya yang bisa dilakukan Hyori adalah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan ada di tempat yang sama jika Jiyoo siap berbagi.

“Ayo bicara,” ujar Hyukjae, memecahkan keheningan di antara mereka berempat. Ia memandangi Hyori serta Kyuhyun yang sejak tadi berdiri di belakang Jiyoo. “Berdua.”

“Yah, ada apa denganmu, Hyuk? Jiyoo bilang dia lelah,” Hyori menyuarakan ketidaksetujuannya.

Kyuhyun melipat tangannya di dada. Hyukjae bisa mengartikan itu sebagai ketidaksetujuan dari Cho Kyuhyun. Tapi ia tak butuh persetujuan dari siapapun saat ini. Hyukjae meraih pergelangan tangan Jiyoo dan membawanya ke luar studio.

“Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Hyori. Ia mendongak untuk mencari jawaban dari Kyuhyun. Lelaki yang ditatapnya justru memandang lurus ke arah punggung Hyukjae yang menjauh. Tiba-tiba saja Hyori merasa sedikit tak nyaman, entah apa sebabnya.

Hyori memandangi wajah Kyuhyun. Lelaki itu tampak berpikir keras tentang sesuatu. Raut wajah Kyuhyun yang seperti itu membuat Hyori melayangkan pikirannya ke hal lain.

Jiyoo kembali bersama Kyuhyun dan lelaki itu tak berkata apapun. Bagaimana bisa? Di mana Kyuhyun menemukan Jiyoo? Tempat macam apa yang mungkin didatangi Jiyoo dimana hanya Kyuhyun yang tahu? Bahkan Hyukjae pun tak berhasil menemukan tempat yang istimewa untuk Jiyoo.

“Cho Kyuhyun,” panggilnya pelan. Kyuhyun menoleh padanya saat ini. Hyori berdeham, “Di mana… di mana kau menemukan Jiyoo?”

Kyuhyun mengerutkan kening. “Apa itu penting?”

“Tentu. Kalau kau tidak keberatan berbagi cerita itu padaku,” Hyori berusaha mengucapkannya sesantai mungkin. Padahal tak dapat disangkal gadis itu bahwa bibirnya bergetar.

“Bukan tempat yang khusus,” ujar Kyuhyun. Lelaki itu tersenyum miring; senyum kesukaan Hyori. “Toilet.”

—-

Bulan berbentuk tidak bulat sempurna memberi penerangan remang di taman. Lee Hyukjae tetap menggenggam erat pergelangan tangan Jiyoo. Ia menghentikan langkahnya saat mencapai sebuah bangku taman di bawah lampu jalan.

Hyukjae berusaha menenangkan napasnya yang tersengal. Ia frustasi dan ingin meneriakkan semua hal yang mengganjal tenggorokannya. Semuanya terlalu banyak hingga ia tak tahu harus mulai dari mana.

“Maaf.” Jiyoo mengawali percakapan mereka.

“Kenapa minta maaf?”

Jiyoo membiarkan kedua matanya menatap lurus ke arah mata Hyukjae. Lelaki itu memancarkan emosi yang kentara dan jelas, jadi kenapa ia masih bertanya kenapa? Jiyoo menelan ludah. Ia sendiri tak tahu kenapa ia harus repot-repot mengurusi emosi Lee Hyukjae.

“Aku tidak marah padamu. Aku hanya… entahlah, mungkin aku marah pada semua orang kecuali padamu,” ujar Hyukjae. Perlahan-lahan, ia menyunggingkan senyuman kecil. “Apa kau baik-baik saja?”

Luapan rasa bersalah menenggelamkan Jiyoo saat ini. Bagaimana mungkin ia membiarkan semua orang mengkhawatirkannya? Hanya karena kejadian bodoh itu, ia membiarkan orang lain kehilangan kesempatan. Jiyoo menelan ludah, membayangkan kesempatan yang mungkin bisa diraih Cho Kyuhyun.

Belum lagi rasa bersalah karena membuat Hyori kembali khawatir. Jiyoo pasti sudah membuat gadis itu cemas dan panik karena sikapnya ini. Rasa bersalahnya menjadi berkali-kali lipat karena ia tak akan bisa berbagi apapun. Dengan sifat tertutupnya, Jiyoo bahkan tak yakin bisa bercerita pada Hyori.

“Yoo?” panggil Hyukjae. Nada suaranya rendah, dan khawatir.

Jiyoo menatapnya, lelaki dengan kedua mata yang bersinar itu. Ia terlupa bahwa sejak dulu lelaki inilah yang juga selalu mengkhawatirkannya, apapun yang terjadi. Tenggorokannya seperti tersumbat. Jiyoo tak bisa mengatakan apa-apa pada lelaki ini.

“Aku tidak akan mengintrogasi atau bertanya yang aneh-aneh. Yah… setidaknya ada satu hal yang membuatku penasaran,” ujarnya. Hyukjae tersenyum seraya meloloskan helaan napas lega. “Aku hanya ingin tahu apa kau baik-baik saja..”

Tak ada yang bisa dikatakan Jiyoo saat ini, jadi ia hanya mengangguk yakin. Jiyoo tidak apa-apa, setidaknya ia yakin ia akan baik-baik saja. Ia tak ingin membuat Hyukjae kembali mengkhawatirkannya. Jiyoo sudah menerima perasaan seperti itu setiap saat dari lelaki itu. Dulu.

“Baguslah,” tanpa sadar, Hyukjae mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa lebih ringan sekarang.

Hyukjae tahu Jiyoo sedang berusaha membohonginya. Tak ada yang akan dilakukan gadis itu selain membuat orang di sekitarnya berhenti khawatir. Dan ketika Jiyoo melakukan itu, Hyukjae tahu ia tak akan bisa mengharapkan apa-apa lagi.

“Pulanglah,” Jiyoo bersusah payah membuka mulutnya. “Kau… kelihatan lelah sekali.”

“Benarkah?” Hyukjae meraba kedua pipinya sendiri. Lelaki itu kemudian tertawa melihat Jiyoo tersenyum samar. “Kau akan ada di sini, kan… besok?”

Jiyoo merasakan perutnya dililit sesuatu yang besar. Ia menggigit bibirnya dan mengangguk. Gadis itu berusaha tersenyum yakin. “Tentu.”

Hyukjae mengangguk-angguk, setengah paham dan setengah puas. Setidaknya lelaki itu akan menemukan Jiyoo di dekatnya lagi besok dan besoknya lagi dan besoknya lagi. Memikirkan itu saja sudah cukup membuat Hyukjae lega.

“Kalau begitu…” Hyukjae berkata dengan suara yang dipelankan. Lelaki itu melangkah maju untuk memberikan pelukan pada Jiyoo. Jiyoo tak bergerak. Ia terlalu terkejut untuk memberi reaksi apapun. Pelukan ini adalah yang ketiga, yang diterimanya hanya dalam waktu semalam. “Sampai besok.”

Punggung Hyukjae menjauh. Ketika lelaki itu berbelok di salah satu persimpangan jalan, punggungnya tak terlihat lagi. Jiyoo memeluk lengannya sendiri. Mendadak rasa dingin menyelimuti tubuhnya.

Pikirannya melayang pada banyak kejadian yang ditimbulkannya malam ini. Satu masalah, tiga pelukan. Cho Kyuhyun memberi pelukan pertama dengan Lee Hyukjae sebagai yang terakhir.

—-

The next day

Shin Hyori memetik senar gitarnya dengan asal. Kedua matanya melirik Jiyoo, memerhatikan segala tingkah gadis yang sebaya dengannya itu. Jika ia berusaha mengingat-ingat, Jiyoo masih baik-baik saja –katakan saja masih normal- bahkan beberapa detik sebelum showcase. Entah apa yang dilihat Jiyoo hingga membuatnya melarikan diri seperti semalam.

Tanpa sadar, Hyori menarik napas panjang. Jemarinya terhenti dan ia memutuskan meletakkan gitar putih kesayangannya. Ia kemudian mengamati Jiyoo lagi.

Hyori sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bertanya. Ia yakin Jiyoo akan berbagi dengannya jika segala sesuatu –yang entah apa itu- terasa lebih mudah bagi Jiyoo. Tapi Hyori bukan tipe orang yang penyabar.

“Jiyoo-ya?” panggil Hyori. Yang dipanggil menoleh, mengerutkan kening. “Apa yang terjadi… semalam?”

Dan tentu bukan hanya Jiyoo yang tertegun. Lee Hyukjae dan Cho Kyuhyun pun membelalakkan kedua mata mereka. Kedua lelaki itu tidak terlihat penasaran, tapi Hyori yakin mereka juga menyembunyikan pertanyaan yang sama. Yah, mungkin saja kedua lelaki itu memang pandai berakting.

“Semalam?” Jiyoo berdeham, berusaha menelan bongkahan batu yang tersangkut di tenggorokannya. Tentu saja semua orang ingin tahu, siapa yang tidak? Jiyoo bertingkah aneh sekali, dan ia ragu tak ada orang yang berpikir bahwa ia gila.

Lee Hyukjae mengetuk-ngetukkan stik drumnya. “Bagaimana kalau kita latihan saja? Bukankah kita masih punya agenda di jalanan Apgujeong?”

Usaha yang bagus. Hyori menyipitkan mata ke arah Hyukjae, menegurnya karena selalu mengalihkan topik pembicaraan. “Kita bisa berlatih siang ini.”

“Baiklah, baiklah,” Jiyoo menyerah. Ia mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Sebenarnya ia berharap, sedikit –dan hanya sedikit saja, upaya pengalihan Hyukjae berhasil. Gadis itu menggigit bibir dan tampak berpikir, menyusun semua inti cerita. “Aku bertemu dengan ayahku.”

Kali ini Hyori yang menahan napas. Topik tentang keluarga adalah hal yang selalu dihindari Jiyoo sejak ia mengenal gadis itu. Hyori membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, tapi Jiyoo tersenyum ke arahnya.

“Mm… dan dia bersama keluarga barunya,” ujarnya pelan. Jiyoo membetulkan poninya yang sebenarnya baik-baik saja. “Yah, akhir cerita! Hanya itu. Maaf sudah bersikap cengeng.”

“Mian,” Hyori meraih tangan Jiyoo, menggenggamnya. “Aku benar-benar tidak… yah, pokoknya maaf.”

Jiyoo mengangguk kemudian memamerkan senyuman lebar. “Tidak apa-apa. Ayo latihan?”

—-

Kyuhyun memandangi gadis yang memunggunginya. Selama satu setengah jam, ia mendengar gadis itu tertawa, mengoceh gembira, dan memainkan keyboardnya. Jika saja ia melihat gadis itu dari depan, ia akan percaya bahwa gadis itu memang tertawa, benar-benar tertawa dan gembira.

Sayangnya, bukan itu yang dilihat Kyuhyun. Ia hanya melihat punggung Jiyoo. Dari tempatnya melihat, Kyuhyun merasa punggung itu memancarkan rasa kesepian.

Sama seperti saat Kyuhyun memeluk gadis itu, ia hanya ingin menepuk punggungnya dan membisikkan kalimat bahwa semuanya baik-baik saja. Kyuhyun merasakan perutnya tak nyaman saat sadar tak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Ia tetap berada di tempatnya, duduk bersila tanpa bersuara.

“Aneh, kan?” suara itu membuat Kyuhyun menoleh. Bukan hanya dirinya yang sedang mengamati punggung Jiyoo. Lee Hyukjae juga. “Dia sudah memutarbalikkan duniamu. Begitu mudah membuat orang lain berpusat padanya, tapi begitu sulit saat dia sudah tak berada dalam medan gayamu lagi.”

Kyuhyun bergeming, menolak memikirkan lebih jauh maksud ucapan Hyukjae. Dengan Lee Hyukjae yang sudah memergokinya, Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari Jiyoo.

“Aku tidak tahu apa yang kaupikirkan, tapi… jangan jatuh cinta padanya,” kalimat itu terdengar solid, sama sekali tidak ragu.

“Apa itu perintah?”

Hyukjae menggeleng sambil tersenyum. “Hanya harapanku untukmu.”

“Jaaah! Sudah cukup latihannya, jadi bagaimana kalau kita pergi makan siang? Yah, mungkin sudah terlambat untuk makan siang, tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?” tiba-tiba saja Hyori mengoceh dengan suaranya yang nyaring. Ia sudah mengamit lengan Jiyoo. “Kaja~”

Sepiring fetuccini nyaris tak bersisa di hadapan Hyori. Gadis itu menyandarkan punggung ke sandaran kursi restoran. Senyumnya terkembang saat menatap Kyuhyun yang duduk tepat di depannya. Lelaki yang sedang diamatinya itu meneguk air mineral yang ada di gelasnya. Sesaat tadi perasaan Hyori masih bahagia karena dapat melihat lelaki itu, tapi perlahan ada perasaan tak nyaman yang mengganggunya.

Tentang bagaimana Cho Kyuhyun menemukan Choi Jiyoo semalam. Tentang bagaimana hubungan baru yang terjalin aneh di antara keduanya.

Hyori menggelengkan kepala samar. Kenapa itu sangat mengganggunya? Bukankah bagus jika Kyuhyun sudah tidak menganggap Jiyoo sebagai orang asing? Yah, itu sangat bagus. Tidak ada lagi tekanan dalam BluEast Harmony.

“Perlu air, Hyo?” Hyori menoleh ke samping, menemukan Jiyoo memandangnya sambil tersenyum.

“Tidak, tapi aku butuh sepiring fetuccini lagi,” sahutnya asal. “Bosmu baik sekali sudah mentraktir kita di restorannya.”

Jiyoo meringis. Salah satu agenda kebohongannya hari ini adalah soal mentraktir di restoran tempatnya bekerja. Jiyoo memohon pada Park Hyunyoung, bosnya, agar tagihan makan siang ini dipotong dari gajinya. Bagaimanapun, Jiyoo tak tahu bagaimana caranya berterima kasih pada ketiga orang yang sudah mengkhawatirkannya semalam ini.

“Malam ini kita tidak ada latihan, kan?” tanya Hyori. Ia menunggu jawaban dari Kyuhyun yang bersedekap.

Kyuhyun mengangguk tak acuh. “Wae?”

“Apa… kita tidak bisa bersenang-senang sedikit? Kita berempat bisa… entahlah, jalan-jalan?” Hyori memandang Kyuhyun dengan kedua mata yang berkilat-kilat senang. “Ah! Pesta kembang api! Bukankah ada pesta kembang api di dekat sini? Bagaimana kalau kita–“

“Hyo,” panggil Jiyoo. Gadis itu menggigit bibir. “Aku ada shift malam.”

Kedua bahu Hyori langsung lemas. Ia mengerucutkan bibir, kecewa. “Benar juga…”

Yah, apa boleh memakai restoran ini untuk bermain musik? Kita bisa tampil di sini malam ini,” usul yang menggoda dari Hyukjae. Tentu saja Hyori menyambutnya dengan semangat. Hyukjae memandang Kyuhyun dan Jiyoo bergantian, menunggu jawaban. “Yoo, tidak apa-apa, kan?”

Jiyoo menimbang-nimbang. Akan sangat menyenangkan jika malam ini ia tidak sendirian di restoran. Akan lebih menyenangkan lagi jika ia dapat sedikit demi sedikit menggantikan showcase yang dikacaukannya semalam.

Gadis itu melirik Kyuhyun. Mungkin memang bukan showcase yang diimpikan lelaki itu, tapi setidaknya mereka bisa memulai lagi untuk menyiapkan showcase lain, bukan?

“Kurasa tidak apa-apa,” sahutnya riang. “Aku akan bicara dengan Hyunyoung, dan akan kupastikan bayaran yang tinggi!”

—-

Tak ada kendala berarti. Seperti yang sudah ditebak, BluEast Harmony akan mengadakan pertunjukan kecil di restoran milik Park Hyunyoung. Hanya dalam waktu satu jam, gadis muda itu sudah melakukan promosi ke sekitar restoran.

Kesibukan lain di sisi BluEast Harmony adalah memindahkan beberapa alat musik dari studio mereka ke restoran Hyunyoung. Hyukjae, dengan susah payah, berhasil menghubungi beberapa temannya untuk mengangkut seperangkat drum kesayangannya. Hyori sudah berada di restoran dengan sarung gitar disangga di pundaknya.

Jiyoo masih berkutat dengan keyboardnya, yah, bukan benar-benar keyboard miliknya. Alat musik itu hanya benda yang menemani Jiyoo saat bersama BluEast Harmony. Gadis itu baru saja akan meninggalkan studio saat Kyuhyun keluar dari kamar tidurnya.

Keduanya saling bertatapan, menautkan pandangan tanpa suara. Jiyoo merasakan darahnya berdesir karena tak bisa memalingkan wajah. Ia sama sekali tidak bertegur sapa dengan Kyuhyun sejak semalam. Belum.

“Ayahmu itu… seperti apa?” suara Kyuhyun terdengar jernih dan tentu saja tenang.

“Ne?”

Kyuhyun memandang Jiyoo dengan tak sabar. Ia tak suka mengulangi ucapannya sendiri. “Ayahmu yang semalam…”

“Ah… hanya pria yang baik, jadi aku tahu dia akan mendapatkan keluarga lain yang baik juga.” Jiyoo mempercepat gerakannya. Ia hanya ingin segera pergi dari sini dan menghindari topik semacam itu.

“Kau sudah mengacaukan showcase-ku, kau ingat itu, kan?” kalimat Kyuhyun membuat Jiyoo menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh dan menatap Kyuhyun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kyuhyun tahu caranya ini agak… kejam, tapi ia harus tahu cerita yang dipendam gadis itu. “Jangan disingkat atau dipotong. Aku ingin yang lengkap.”

Jiyoo berdecak kesal. “Demi Tuhan, aku tahu aku sudah mengacaukan showcase impianmu itu, tapi aku juga tahu aku tidak perlu bercerita apapun padamu.”

“Yah, itu menurutmu. Tapi menurutku, aku harus tahu setiap penyebab kacaunya showcase impianku.” Kyuhyun tak mengalah. Ia tak ingin dan tak akan mengalah saat ini.

“Cho Kyuhyun…”

Kyuhyun melangkah maju, mendekati Jiyoo dan meraih keyboard yang dipegang gadis itu. Tak ada suara darinya. Kyuhyun hanya akan menunggu. Ia akan mendengarkan apapun dan tak berniat pergi sebelum mendengar seluruh cerita Jiyoo.

“Orang itu… ayahku… bersama seorang gadis kecil,” Jiyoo mendongak, menatap Kyuhyun dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. “Nah, tentu saja itu anaknya. Aku… tahu appa tidak pernah benar-benar ingin meninggalkanku dulu. Aku, dengan sangat bodohnya, berharap kalau suatu saat nanti bisa berkumpul lagi dengannya. Hanya berdua, hanya aku dan appa.”

Tangan Jiyoo terangkat ke udara, hendak menghapus air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Terlambat. Satu tetesnya sudah jatuh, membasahi karpet studio.

“Melihat appa bersama gadis kecil itu membuatku membayangkan appa yang dulu,” bisik Jiyoo.

Sebuah paku yang menancap di jantungnya tercabut bersamaan dengan meluncurnya cerita itu. Rasa lega dan sakit yang aneh menderanya saat ini. Darah seolah mengalir deras keluar dari lukanya.

Jiyoo merasakan jantungnya berlubang. Rasa sakit berdenyut di dada kirinya. Tanpa bisa dihentikan, air matanya jatuh dengan deras. Ia terisak-isak di depan orang lain, dan ia tak suka itu.

“Jangan menangis,” Kyuhyun tahu ia tak akan pernah mengerti perasaan semacam itu. Gadis yang berada di hadapannya ini pernah memiliki keluarga sementara dirinya sama sekali tidak. Jika pria yang berpenampilan berantakan itu bisa disebut keluarga, Kyuhyun juga tak akan bersedia mengakuinya.

Jiyoo menelan ludah kemudian menarik napas dalam-dalam. Bercerita pada orang lain bukanlah hal yang ingin dilakukannya, tapi lelaki di hadapannya ini berhasil memaksanya. Merasakan kelegaan atau kesal karena dipaksa, Jiyoo tak tahu mana yang lebih baik.

“Ini gara-gara kau. Kenapa kau harus bertanya? Kenapa kau selalu ingin tahu?” cecar Jiyoo. “Aku membencimu, Cho Kyuhyun!”

Senyuman miring khas Cho Kyuhyun tersungging di sudut bibirnya. Lelaki itu memang sering menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus bertanya? Kenapa ia selalu ingin tahu? Mungkin saja karena ia merasa gadis itu mengerti perasaannya.

“Aku tidak akan minta maaf,” ucap Kyuhyun tenang. Jemarinya menyusuri wajah Jiyoo, menghapus jejak-jejak air mata yang menghiasi wajah gadis itu.

Kedua matanya menatap mata Jiyoo yang masih berair. Sentakan aneh dari dalam tubuhnya membuat Kyuhyun meraih tengkuk Jiyoo. Tanpa perintah, Kyuhyun memejamkan mata dan menyapukan bibirnya ke bibir Jiyoo.

Pikiran Kyuhyun seolah kosong. Saat bibirnya menyentuh bibir lembut gadis itu, pikirannya melayang entah kemana. Ia begitu ingin menghentikan air mata gadis itu. Sebuah pelukan jelas bukan sesuatu yang akan dipilihnya. Perasaan Kyuhyun terlalu kuat, bukan sesuatu yang bisa dijelaskan melalui sebuah pelukan.

Tadinya, lelaki itu ingin mengawasi Jiyoo dari jauh. Diam-diam, tanpa suara, tanpa ada yang tahu.

Mengingat bayangan Jiyoo semalam; wajah lesu dengan mata merah setelah menangis, punggung gadis itu yang selalu tampak kesepian, dan isakan pelannya yang tak berhenti membuat Kyuhyun tak bisa berpikir jernih.

Sepertinya tak akan ada lagi rencana bergerak diam-diam. Kyuhyun mengerti apa artinya sendirian dan ia tak ingin Jiyoo mengerti arti kata itu. Entah sejak kapan perasaan sederhana itu mulai tumbuh dan berkembang terlalu cepat, terlalu kuat hingga seperti saat ini.

Kyuhyun melepaskan Jiyoo, membiarkan gadis itu kebingungan. “Aku juga tidak akan minta maaf untuk yang itu.”

—-

Tubuh Shin Hyori bergetar. Lututnya terasa lemas. Kedua matanya mulai panas dan sengatan listrik yang menyakitkan mengaliri setiap sendi tubuhnya. Berbagai perasaan menyerang kepalanya saat ini. Hyori tak tahu perasaan mana yang lebih dominan.

Terkejut, bingung, marah atau sakit hati? Hyori sama sekali tak bisa menentukan perasaan apa yang sedang menyelimutinya saat ini.

Keputusannya untuk menjemput Jiyoo di studio mungkin adalah keputusan paling salah yang pernah diambilnya. Hyori tepat berdiri di tepi pintu, sama sekali tidak berniat mengumumkan kehadirannya di sana. Ia tersenyum puas saat melihat Kyuhyun dan Jiyoo tidak menyadari kedatangannya.

Tapi kemudian tubuhnya membeku di tempat. Kyuhyun mencium Jiyoo. Cho Kyuhyun yang itu, yang disukainya sejak dulu, yang dicintainya diam-diam. Cho Kyuhyun yang itu.

Hyori bahkan tak tahu berapa lama ia berdiri di sana. Sepertinya ia menunggu hingga Kyuhyun memisahkan diri dari Jiyoo, yang ajaibnya terasa sangat lama. Gadis itu merasakan serangan dari mana-mana.

Jantungnya seolah diremas-remas dengan tangan kekar yang kuat. Hyori memaksa memasukkan oksigen ke dalam paru-parunya yang mendadak mengkerut hingga rasanya ia susah bernapas. Gadis itu heran bagaimana ia masih tetap hidup dengan organ vital seperti itu.

Ah, tentu saja ia tetap hidup. Semua itu hanya halusinasinya. Otaknya menggambarkan perasaannya yang berantakan hingga rasanya seluruh organ tubuhnya tak dapat bekerja dengan benar.

“Ah…” Hyori merasakan desakan kuat dari dadanya. Jantungnya tetap berdetak, tetap berdenyut. Tapi sepertinya bukan darah yang dipompa ke seluruh tubuhnya, melainkan rasa sakit. Rasa sakit yang keterlaluan.

Gadis itu tak bisa menangis. Rasanya terlalu sakit hingga air matanya pun menolak keluar. Dengan tetap menatap punggung Kyuhyun, Hyori berdiri dengan meletakkan telapak tangan di dada kirinya.

“Untuk apa kau masih di sini?” entah sejak kapan, Lee Hyukjae sudah berdiri di samping Hyori. Lelaki itu melihat hal yang sama, bahkan juga merasakan sakit yang sama.

Hyori tak menyahut. Untuk membuka mulut dan mengeluarkan suara pun rasanya sulit.

Hyukjae meraih tangan Hyori, menariknya. Lelaki itu hanya ingin membawa Hyori menjauh dari tempat ini. Sejauh mungkin, selama mungkin.

—-

Udara malam musim semi menyapu wajah Hyukjae dan Hyori. Keduanya masih berjalan cepat, sangat cepat untuk menjauhi studio BluEast Harmony. Hyori berjalan di belakang Hyukjae, nyaris diseret karena kaki gadis itu terasa berat untuk diangkat.

Hyukjae baru menghentikan langkahnya di sebuah taman dengan sepasang ayunan kayu bercat senada. Lelaki itu duduk di salah satu ayunan tanpa berniat memainkannya. Firasat buruknya terbukti sekali lagi; ada sesuatu pada Cho Kyuhyun untuk Choi Jiyoo, Choi Jiyoo-nya.

Entah bagaimana, Hyukjae seperti mengalami de javu perasaan. Sebelum Jiyoo memutuskan untuk meninggalkannya, Hyukjae juga merasa perasaan aneh seperti ini. Tentu saja itu bukan perasaan yang ingin dirasakannya lagi.

Harapan untuk membujuk Jiyoo agar kembali seperti dulu memang kecil. Hyukjae sadar itu, hanya saja ia menolak mengakuinya. Ia tak akan mengakui sesuatu yang dapat merusak kepercayaan dirinya.

“Aku menyukainya sejak dulu,” gumam Hyori. Gadis itu masih berdiri di atas rumput yang kering sebelum mengambil tempat di ayunan di samping Hyukjae. “Aku sangat sangat menyukainya. Aku menyukai Cho Kyuhyun…”

Hyukjae mengangguk samar. “Aku tahu.”

“Tapi dia tidak pernah menyukaiku seperti… itu,” perut Hyori terasa diremas-remas oleh kenyataan yang tidak menyenangkan. “Aku senang dia tidak pernah menunjukkan perasaan seperti itu pada siapapun. Siapapun, termasuk gadis-gadis yang selalu mencari perhatiannya. Sikapnya yang seperti itu membuatku senang.. karena hanya aku yang ada di dekatnya.”

Tanpa perlu penjelasan, Hyukjae mengerti maksudnya. Hyori dan Kyuhyun selalu memiliki ikatan aneh yang tak pernah bisa dimengerti dan ruang aneh yang tak pernah bisa dimasuki siapapun. Hanya mereka yang mengerti. Selama ini selalu seperti itu.

Hyori mulai menggigil. Bibirnya gemetar. “Lalu jika dia mulai menunjukkan perasaan itu… aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?”

Untuk beberapa alasan, Hyukjae tahu bagaimana rasanya. Ia juga ketakutan saat memikirkan mungkin saja Jiyoo akan mendapatkan orang lain. Hyukjae takut tempatnya sebagai lelaki kesukaan Choi Jiyoo tergantikan.

Jika gadis itu sudah tak membutuhkan Lee Hyukjae-nya, apa yang bisa dilakukan Hyukjae?

“Tidak ada,” bisik Hyukjae pelan. Jawaban pertanyaan Hyori jelas sama dengan pertanyaannya sendiri. Tak ada yang bisa dilakukan Hyukjae untuk mempertahankan posisinya. Sama sekali.

Air mata lain menggenang di pelupuk mata Hyori. Gadis itu merasa pertahanan diri dan topeng cerianya lenyap entah kemana. Dengan mengabaikan keberadaan orang lain yang sedang memandanginya, Hyori kehilangan cara untuk menahan air matanya.

Hyori menundukkan kepala, membiarkan tetes demi tetes air matanya jatuh ke tanah. Setelah tadi tak bisa menangis, luapan kesedihan mulai menenggelamkannya. Ia terisak, menangis sesenggukan tanpa tahu cara untuk berhenti.

Begitu melegakannya jika Hyukjae juga bisa menangis seperti itu. Hyukjae membayangkan bebannya yang sedikit berkurang dengan menangis. Walaupun begitu, ia tak yakin ada pengaruh besar yang bisa ia dapatkan.

Walaupun menangis, mungkin saja rasa sakitnya tidak akan pernah berkurang, tidak menguap, tidak kering.

Hyukjae bangkit dari tempatnya, menempatkan diri dengan berdiri tepat di hadapan Hyori yang masih menundukkan kepala. Lelaki itu tak dapat menahan diri untuk tidak menarik Hyori mendekat padanya. Tanpa suara, Hyukjae melingkarkan lengannya ke pundak Hyori.

Napas Hyukjae tertahan saat Hyori menyandarkan kepalanya di tubuh Hyukjae. Gadis itu belum berhenti menangis, tapi tangannya menepuk-nepuk punggung Hyukjae pelan. Keduanya paham, tak ada yang dapat dilakukan selain menghibur satu sama lain.

Entah bagaimana, rasanya perasaan Hyukjae dan Hyori sama; sama-sama kecewa dan terluka.

—-

The next day

Jiyoo tak bergerak dari atas selimutnya. Matanya dapat melihat kalau waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Tak ada pertanda lain kecuali pikiran yang menyadarkannya bahwa sekarang ia harus beranjak dari tempat tidurnya, menyegarkan tubuh dengan mandi kemudian berjalan santai menuju studio.

Pikiran yang terakhir membuat perut Jiyoo mendadak berputar tak nyaman. Menuju ke studio dan bertemu dengan Cho Kyuhyun setelah kejadian semalam sama sekali tidak menandakan bahwa hal itu merupakan tindakan yang bijaksana; dan tentu saja tindakan itu sangat tidak bertanggung jawab dan tidak profesional.

Jiyoo mengerang. Apa urusannya dengan keprofesionalitasan saat justru lelaki itu sudah bertindak tidak profesional? Dan jika boleh Jiyoo mengatakan, Kyuhyun benar-benar sudah tidak dalam pikiran warasnya semalam.

Jemari Jiyoo terangkat ke wajahnya, meraba bibirnya yang masih terasa hangat. Oh, tentu saja tidak benar-benar hangat, tapi gadis itu masih merasakan jejak bibir lelaki itu di sana. Memikirkan ‘kejadian’ itu sama sekali bukan ide yang bagus juga, karena Jiyoo mendadak berdebar-debar.

Gadis itu baru saja akan membuang pikiran-pikiran konyolnya saat benda tipis berwarna putih yang disebut ponsel itu berdering nyaring. Jiyoo menelan ludah begitu melihat nama Hyori di layarnya. Inilah salah satu penyebab utama Jiyoo tahu bahwa kejadian semalam sangat tidak bertanggung jawab.

Hyori menyukai Cho Kyuhyun. Sangat. Jiyoo tahu benar soal itu.

“Ne?” Jiyoo menjawab telepon setelah berhasil menenangkan diri.

“Kau tidak mau datang ke studio?” suara itu jelas bukan suara Hyori. Jiyoo merasa percuma melakukan usaha menenangkan diri. Satu-satunya orang yang membuat dirinya tak tenang sekarang justru mendengungkan suaranya di telinga Jiyoo.

Jiyoo menghela napas panjang. “Cho Kyuhyun?”

“Kau bertanya walaupun sudah tahu?” ujar lelaki itu. Jiyoo merutuk dalam hati. Bisa-bisanya lelaki itu bersikap tak acuh setelah tingkah tak warasnya semalam.

Yah, memang bukan benar-benar salah Cho Kyuhyun. Seingat Jiyoo, ia memang sudah mengatakan pada Kyuhyun bahwa ia tak ingin mendengar apapun tentang ciuman itu. Dan tentu saja Jiyoo tak lupa berpesan agar Kyuhyun sama sekali tidak membahas masalah semalam. Sama sekali.

“Cepat datang ke sini!” sudah tentu itu bukan permintaan yang manis. Kyuhyun sudah memerintah dan siapa yang bisa mengabaikan perintah yang sangat manis itu?

Jiyoo memutar bola matanya sebelum menyahut dengan kecut. “Aku tahu!”

—-

Kyuhyun memandangi layar ponsel Hyori sesaat. Lelaki itu menyodorkan kembali ponsel itu ke pemiliknya. Dan tanpa sepengetahuan Kyuhyun, Hyori melihat senyuman kecil yang ditunjukkan lelaki itu.

Hyori menggenggam ponselnya erat-erat. Ia berandai-andai, jika semalam ia tak melihat Kyuhyun mencium Jiyoo, apakah kejadian pagi ini juga akan membuatnya merasakan perasaan menyebalkan ini?

Oh, Hyori tahu jawabannya. Jika ia tak tahu apa-apa dan Kyuhyun meminjam ponselnya untuk menghubungi Jiyoo, Hyori tak akan bertanya apapun. Hyori, sudah pasti dengan sangat senang hati, meminjamkan ponselnya tanpa merasa tak nyaman.

Memangnya apa yang akan ditolak Hyori jika Cho Kyuhyun sudah meminta padanya?

—-

Jiyoo berhasil mencapai studio kecil itu setelah sengaja memperlambat langkahnya. Gadis itu mampir sebentar ke dormnya, bertamu ke rumah Hyori; berpura-pura tak tahu jika Hyori sudah berada di studio, dan tentu saja sengaja mengabaikan beberapa bis yang berhenti di hadapannya.

Sepertinya, sebelum ditanya pun, Jiyoo akan memilih melewatkan hari ini begitu saja.

Tentu saja. Siapa yang bisa membayangkan suasana canggung antara dua orang yang baru saja berciuman di depan gadis yang menyukai si lelaki dan lelaki yang menjadi mantan kekasih gadis yang pertama?

Jiyoo memejamkan mata sebelum membukanya dan mengembuskan napas. Hubungan aneh macam apa yang baru saja diciptakannya? Bagaimana perasaan Hyori nanti? Dan… walaupun berusaha tak memikirkannya, Jiyoo juga mengkhawatirkan perasaan Hyukjae.

“Tiga puluh menit dua puluh satu detik,” adalah sambutan yang diterima Jiyoo saat membuka pintu studio dengan satu sentakan ringan. Kyuhyun duduk di kursinya, melipat tangan di depan dada. “Terlambat.”

Kedua mata Jiyoo menyapu sekitar dan melihat Hyukjae sedang menatapnya sementara Hyori tersenyum padanya. Oh, menyebalkan sekali. Jiyoo mengendikkan bahu. “Jadi apa hukumanku? Membersihkan kamar mandi, Seonsaengnim?”

Kyuhyun menyipitkan mata dan tersenyum sinis. “Ha-ha. Lucu sekali.”

Jiyoo mengabaikan komentar Kyuhyun. Ia melepaskan tasnya dan duduk bersila di samping Hyori. Punggungnya menegang saat dua pasang mata mengamatinya. Jika yang sedang memerhatikannya adalah Lee Hyukjae, Jiyoo tak akan heran. Tapi pemilik sepasang mata lain itu adalah Cho Kyuhyun.

Dan Jiyoo sangat ingin meninju wajah Kyuhyun, yang tak bisa membaca situasi.

“Kau sudah sarapan, Yoo?” tanya Hyori. Jiyoo menggeleng pelan sambil tersenyum lebar. “Mau makan bersama setelah latihan?”

Alis Jiyoo terangkat, keningnya berkerut karena sedang berpikir. “Sepertinya aku ada pekerjaan lain setelah ini, Hyo. Mian..”

Hyukjae memerhatikan Jiyoo, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu, dan menghela napas berat. Lelaki itu juga sadar sepenuhnya bahwa bukan hanya dirinya yang sedang menikmati kegiatannya. Kyuhyun juga sedang memandang Jiyoo, sesekali melirik gadis itu.

Pikiran itu membuat Hyukjae terganggu. Seketika itu pula ia melihat kembali visual Kyuhyun yang menyentuhkan bibirnya ke bibir Jiyoo. Hyukjae memejamkan mata, menahan emosinya.

Kedua mata Hyukjae bergerak saat Jiyoo bangkit dari tempatnya. Ekor matanya mengikuti Jiyoo yang masuk ke dapur kecil di studio. Hyukjae tak ingin menunggu, jadi ia berdiri di dekat koridor.

“Yoo…” panggil Hyukjae. Jiyoo menoleh dan Hyukjae kecewa saat melihat guratan ketakutan di wajah gadis itu. Apa yang ditakutkan Jiyoo? Bahwa Hyukjae melihat kejadian itu? Hyukjae tersenyum, “Nanti siang… ada yang mau kubicarakan.”

“Aku, kurasa aku–“

“Kau tahu aku tidak bertanya, Yoo. Itu permintaan, permintaan yang selalu tidak boleh kau tolak,” ucap Hyukjae tenang.

Jiyoo mendesah kecil, berusaha tak menunjukkan apapun di depan Hyukjae. Tapi tentu saja percuma, Jiyoo tahu Hyukjae tidak bisa tidak melihatnya. “Tentu.”

“Terima kasih,” Hyukjae tersenyum samar kemudian berjalan mendekati Jiyoo. Tangannya tertahan di udara sebelum lelaki itu memutuskan membelai pipi Jiyoo lembut. Terpikir oleh Hyukjae untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya, tapi tentu saja ia masih cukup waras untuk tidak melakukan itu.

Jiyoo mengembuskan napasnya perlahan setelah Hyukjae berlalu meninggalkannya. Ia bahkan baru sadar jika ia menahan napasnya sejak tangan hangat Hyukjae menyentuh wajahnya. Harus Jiyoo akui, ia merindukan sentuhan itu.

“Wah, pasangan yang serasi,” suara itu pelan, terdengar seperti desisan. Jiyoo tak terkejut saat Kyuhyun muncul dari kamar tidurnya. Lelaki itu mendekat dan Jiyoo mulai panik, terbayang kedekatan lain yang dirasakannya dari lelaki itu semalam. “Apa yang kaulakukan?”

Sadar pertanyaan itu menjurus pada hal yang berkaitan dengan Hyukjae, Jiyoo bergeming. Ia mengangkat gelas plastik dari tangannya. “Mengambil air.”

“Kenapa kau tidak pergi makan siang saja dengan Hyori? Daripada harus menuruti permintaan Hyukjae,” gumam Kyuhyun. Lelaki itu berdiri cukup dekat, bahkan sangat dekat hingga Jiyoo dapat merasakan helaan napas Kyuhyun di sekitar pelipisnya.

“Kenapa itu harus jadi urusanmu?” Jiyoo meneguk airnya untuk meredakan kekacauan dalam dirinya.

Kyuhyun memiringkan kepalanya. “Kenapa itu tidak boleh jadi urusanku?”

“Dengar, tidak bisakah kau menjawab saja? Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Atau setidaknya berpura-puralah tidak enak hati karena telah mencampuri urusanku,” Jiyoo memutar kedua bola matanya.

Gerakan mendadak dari Kyuhyun membuat Jiyoo memejamkan mata. Lelaki itu menjadi beberapa senti lebih dekat darinya, dan dengan keberadaan Hyori dan Hyukjae disini, hal itu menjadi dua ratus kali lipat lebih menakutkan.

Kyuhyun berbisik, tepat di telinga Jiyoo. “Jangan pergi dengan Lee Hyukjae.”

===============================

Chapter 4 finished~ ^-^;

Dengan banyak kegalauan, akhirnya saya berani menuliskan kissing scene buat JiKyu. En of course, Cho Kyuhyun yang mengawali. Hahaha~

Dan dengan kebesaran hati, saya berhasil menuliskan comforting scene buat HyoHyuk. Sesuai permintaan Hyo-dongsaeng, Hyuk yang memulai. Huhuhu~

Galau is in the air~ berasa kah? Pas nulis bagian Hyori nih bener-bener galau, men. Saya syedih… ;_____;

Seperti biasa, comment(s) are appreciated! Thank you for all of you! :*

And sorry, gak bisa balesin komen secepet dulu, inet di sini sangat sangat sangat bikin emosi. *bow* Tapi seperti biasa juga, saya baca komen kalian, dan senyum-senyum sendiri. Hehe~

So, yea, THANK YOU and SORRY again! ^-^;

 

84 thoughts on “BluEast Harmony #4

  1. Eonni…
    hahaha.😄
    daebak daebak daebak :3
    speechless deh baca part ini… *bejek babymilo*

    jadi, kalo shela eonni merasa bingung dengan kelanjutannya,
    pakai aja rencana ending kita yg itu ^^~ /plak/

    I love this part and I think I’m gonna love the next part HAHAHA~
    thank you so much for hard work, author-ssi
    /lempar kyuhyuk/

    • Ending yang ‘itu’? Nanti diamukin satu blog nihh~ xD
      Biar saya tebak, anda hanya baca ulang bagian galau-hyo bukan? -__-
      *tangkep hyuk, tendang kyu*
      maaf, saya kembalikan yang satunya. Saya belom butuh dia. *kibas jilbab*
      makasihh suda bacaa~ ^-^

  2. Hwaaaa kasian hyori ma hyuk..dari awal hyuk dah curiga.tapi kurang cepet bertindak T_T

    ppoppo??kisseu?oo andwaee >.<
    daann hyohyuk liat.kyaaaaa
    hyo ma hyuk aja..hyuk pria baik ko*sodorin hyuk ke hyo*
    yoo masih suka g sii ma hyuk?. Atau mulai tergoda ma kyu?bikin geregett

    'aku juga tidak akan minta maaf untuk yg itu'..aigoo evilnya keluar lagi -__-"
    bikin penasaran eonn..gmn nasib hyohyuk.gmn kelanjutan hubungan jikyu..
    D tunggu next partnya ^.^

  3. waaa… kyuuuu kissing scene ama yoo.. waaa.. tapii unnie debaek. pengambaran tentang perasaan HyoHyuk yg galauuu berasa bnget..
    ayoo lanjutkan.. ditunggu. hwaiting!

  4. JJANNN~~~
    Setelah dapet inbox email ada update-an baru, aku langsung meluncur ke blog ini. ㅋ ㅋ ㅋ ㅋ

    Ka shela….. cover baru ya, bagus (>̯͡.̮<̯͡)

    Astagaa, apa itu?
    kisseu kisseu antara jiyoo dan kyuhyun ? ƪ("°͡o°)͡ʃ (˘⌣˘)ε˘`)
    ckck.. dapet bgt galau nya, ka (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)

    shin hyori, aku mengerti perasaanmu..
    berasa pengen nangis pas lagi adegan hyohyuk di taman..
    tapi. tapi. tapi
    pas hyukjae meluk hyori, eh itu kenapa hyori balik ngelus2 si hyukjae?
    padahal kan itu bentuk friendship ya -_-v . saling mengerti.
    aneh. masa aku ketawa… /slapped
    kekeke.

    bagus, ka shela…
    aku menunggu part selanjutnya :3

  5. Huwaaaa~
    Love this part. Kekeke😀
    Aku kira tuh adegan bakal lama, eh ternyata udah ada di part ini~
    Huehehehe *excited* xD
    Buat lagi ya, eonn :p

    • Nyahaha~ tentu saja gak bakal lama. Soalnya blueast juga gak ada rencana panjang2 kok. xD
      Eii~ jadi kamu bahagia banyak adegan kaya gini? Baguslaaahh.. (?)
      Makasihh syuda bacaaa~ ^-^

  6. Sukaaaa sukaaa bgt part jihyuk lg ditaman …. Hyuk pasti khawatir bgt sama yoo … Pas yoo bilang kalo dia ketemu ayah kandungnya ituu lohh ngena abiss ~
    Eh jikyu kissing ????
    Asli kebawa suasana bgt pas bacanya apalagi waktu hyo nahan nangis disana abis itu hyuk narik tangannya !!! Perasaan kaya gitu tuh ga enk bgt. .. Kenapa mereka harus liattttt ???!!!
    Nahan emosi itu susah looh daan bikin sakit jugaa , salut lah sama hyohyuk mereka masih bisa nahan emosi😥
    Aduh kyu udh biarin aja yoo berdua sama hyuuuuuk

  7. Ciee ,, sepertinya kyu udah nunjukin rasa sukanya secara terang2an , chemistry mereka mulai kerasa nih , kyu yng misterius , dingin , tapi bisa tiba2 lembut kalo menyangkut org yg dia suka . Keren deh !! Kasiah hyo-hyuk , disini keanya si hyuk aja yg mencoba partahanin si yoo , next deh .

  8. Kyakyakyaaa kyuhyuuuun mulai berani juga kau nak nunjukin perasaanmu ke jiyoo kkkkk *ketawa setan* ohmy eonni sukses bikin nyesek di part hyohyuk di taman itu, gak tau kenapa jadi pengen nangis. Selalu suka ceritanya dan ditunggu selalu lanjutanya eon. Eonni 화이팅!!

  9. wuaaah jikyu so sweet,bikin greget…!! sukaad bgt gayaa kyu dsini,🙂
    hyohyuk miriss bgt dchap ini..#poorhyohyuk😦
    ff btanmu rapii bgt thor,!! kata” yg qm guna.in jg paass bgt bkin feelnya makin kerasa, q jd pengen berguru padamu thor…kkeke😉
    next chap jng lama” y thor…

  10. Eiiii~ aniyo eonni~
    Eyke baca dri awal eooni :3 apalagi bagian kyu meluk2 eonni, please deh please..
    Banyakin lg adegannya ! :p

    Btw,
    Terima kasih pujian posternya eoonniii huahaha xD

  11. Part ini galaaaaau :’)
    Ya ampuun kasian yaa hyohyuk. Cepet jadian deh (?)

    Awalnya aku suka banget sama jihyuk dan gak rela kalo jd jikyu. Tapiii semenjak part ini, aku jadi suka banget sama jikyu dan suka sama hyohyuk *curcol*
    Nggambarin alur cerita cintanya mereka itu lho daebak bangeeeet😀
    Pokoknya suka bangeeeet deh. Lanjutannya pasti bakalan seru lagi nih.
    Hwaiting!!!

  12. Ohhemjiii >_< jadi bener-bener cross kapel? ,/slap

    Kmaren" pas baca ini masih rela bgt kalo jikyu-hyohyuk, tapi skrg kok jadi g rela ya?_—_
    Mana kyuhyun jdi over dosis (?) gitu lagi cemburunya…

    Gatega ama hyori… Masa dia g ngerasa bersalah gitu sma org yg slama ini merhatiin dia -____-

    Emang bener galau laah~

  13. What the?????
    Huaaa cho kyuhyun frontal banget sumpah.
    Main sosor aje ya.
    Hah HyoHyuk malang sekali nasibmu nak. Terutama hyo…
    Eumm jadi yoo lihat ayahnya…
    Hah kayaknya semua org di sini punya masalah yang cukup berat ya…

  14. hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    benerkan dugaan saya!!!!!
    haishhh GALAU amat ini part!
    aku beneran penasaran deh sm lanjutannya!
    haghaghaghag
    bikin adegan kissing nya hyori sm hyukjae… *di tendang jiyoo*

  15. Ħä哈ª哈ˆ◦ˆĦã哈⌣ª哈ˆ◦ˆĦå哈ª哈:D
    Kamu suuukkkseeessss bikin aq beralih dr JiHyuk jd JiKyu shipper…
    *sorry Hyukkie
    Daebak saeng!!! Tak tunggu kelanjutannya..Нę².. “̮ нę².. “̮ нę².. “̮ нę²‎​

    • Huaaaa…..gk mau gk mau Jikyu maunya JiHyuk & KyuHyo…😦
      ngapain sih Kyu pke nyium Yoo sgala?? Hyori Hyukjae kasian noh..huaaa😥
      nyesek baca bgian wktu Hyo nangis d taman ituuu….
      tp ngakak aku pas Hyo nangis trus dipeluk sm Hyuk,,eh si Hyo malah ngusap balik punggung hyuk haha /tiktoktiktok/😀
      gak rela gak rela ..pokoknya gak rela Jikyu lbh suka JiHyuk eonn #maksa .__.V
      wuaaa~penasaran next partnya..d tunggu eonn🙂

  16. aaaaaa kisseu?? Stop being me crazy #plakk
    Omg!! Gak rela #eh
    *labil pdahal minta jikyu momment* tp ampe kisseu itu sesuatu bgt…

    Dan hyori-nim dan hyukjae-ssi sabar ya klo jdoh gk kmana kok… Hikshiks
    My heart is hurt too #lebeh
    Lanjutannya hyohyuk kisseu jg… Didepan jikyu biar ngerasa gmana rasa kehilangan…. Hahaha #stres
    Okelah drpd tambah gila mending sy cow *ngilang kekamar hyuk*

  17. oh okay, nih ff lagi2 sukses buat aku gila gila subuh2 gini..
    ya ampunnn… sumpah ya, lngsung baca 2 part skaligus gini bikin hati menggila…
    entah di bgian mna, tapi slalu aj ada part yg ng’buat aku nahan nafas..
    ayyssss… makin gila lagi ngeliat tulisan ‘chapter 4 finished’ -____-
    hedehhh.. bner2 yahh…
    tapi tak apalah lh… aku setia mnunggu klanjutannya ^.^

    oh iya, hpefully next part bgian HyoHyuk di banyaki yah-yahh walaupun aku ga yakin kau sanggup menulisnya apa tidak, mngingat it HyukMu. hahaha-.. ksian bgt ngliat mreka mnggalau bgitu.. kekekeke~

    keep fight to writing chingu-ya~ :*

  18. GALAU~~~ ㅠㅠ
    Jiyoo jgn denger omongan kyuhyun, pergi aja ama hyukjaeeee~~ kasian hyukjae😦 where is jihyuk?? ㅠㅠ
    Tapi kyuhyun bikin meringding ih…
    Next chap cepet dipost yaah, please~~~~~~ ㅠㅠ penasaran dan berhasil bikin galauuu.. Pokoknya next chap!!!!

  19. sudah lama tidak mampir kesini dan dateng2 udah publish ;3 aku ngerasa kak shela berhasil bikin jikyu……aku jadi suka sama mereka tp tetep aku kangen jihyuk :””’ ending yang part ini bikin pengen teriak :O CHO KYUHYUN-SSI LI MAKAN APA ;A; unyu banget kak :””)

  20. author jjang!!
    demi apapun chap ini bnr2 galau.
    ada yg bahagia, ada yg sedih. komplit dh😀
    ya, ampun sebenernya apa yg ada d otak kyuhyun sih, hyo apa jiyoo nh?
    dan endingnya, sukses bikin aku tahan napass gara2 kelakuan n kata2 kyu.
    next chap jgn lama2 y, d tunggu🙂

  21. ow ow ow
    mann lee hyukjae yg paling mengerti choi jiyoo
    pas jiyoo ilanh kenapa yg nemuin kyu?????
    pikiran saya masih terpatri sama jihyuk….huaaaa……

  22. perfect….
    galaunya dpt,emosinya dpt hohoho…keren deh..
    jadi makin suka ama jikyu hahahahahaa..

    omo..jikyu kissueee..!!!! daebakkkkk…… hahaaha
    slamat ya yoo,sudah bisa merasakan bibirnya kyu hahahahaa *dicekek hyori* hahahah

  23. klo boleh…
    saya ingin menggorok leher authornya*eh salah deng leher kyuhyun!*oops
    dia udaa kaya pembunuh berdrah dingin tpi keren, cool! haghaghag
    dan yg pasti tetep suami aku*ditabok sparkyu* wkwkwk
    *fly kiss author😀

  24. mwo ???? bgaimn ini,,ini di luar kendali seorang pikirn baikq(?) ,,dan aq juga mau minta maav untuk ITU ?? ,,KYUHYUN sadis amat,,lw bgtu knp dia tdk langsng menlk perasaannya hyori ,,,masa dia tdk tau ,,aiiiigg,, apa jiyoo mao truti katanya kyu untuk tdk keluar ma lee hyuk jae , ooo gawat ,,,, mmm next cepat2 yup><

  25. Q nyesel dech eon
    q baru nemu blog nie.
    Tepatny ff ney.
    Kalo bolleh egois, q lebih mengharapkan jiyoo sama kyu.
    Alasanny sederhana. Terkadang cnta tdk hrs terpatok pd masa lalu. Jika takdir memang benar terjadi, sekalipun sosok kyu tb” hadir pda saat atmosfir yg tidak begitu menyenangkan pada khdpn jihyuk. Tp cnta tdk pernah salahkan ?, , n perasaan seseorng tdk akan bisa d atur mskpn diri mr sndiri mncegahny.*haah ngmng ap q. .
    *ikut”an virus galau. .hehe
    maaf ea eon q malah nyampah.

  26. Kau tahu onn aku menangis. Bisa ngerasain sakitnya jadi Hyori, Ya Ampun *cakar-cakar Yoo* Tapi aduh! Emang siapa sih yang bisa menolak pesona Kyuhyun /digampar/

  27. Sumpah, aku benar-benar ga suka ma Kyu dipart ini. Apa-apaan kisseu?!!!! kenapa Jiyoo ga dorong tubuh Kyu ajj waktu dicium. Huaaaaaaa~ kesel aku maa Kyu!!!!!

  28. iya wktu scene hyori sm hyukjae mergokin mrk, itu feelnya dpt bgt jd kasian😥.. tp q mmg lbh sk jiyoo sm kyuhyun mgkn krn mrk senasib jd ngrs lbh klop n slg bs memahami satu sama lain🙂..

  29. Kalo jadi Hyori, aku langsung bungkus gitarku capcus dari studio, makan es krim rasa mint, minum susu cokelat, mandi air anget, makan ramen, tidur dan besok paginya pamit hengkang dari BluEast Harmony *pesimis is in the air*

    Untung ada Poo di samping Hyori waktu kissing scene itu *tepuk-tepuk pundak Poo*

    Hyori-nim, be strong! ^^9 Poo, saranghamnida❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s