BluEast Harmony #2

BluEast Harmony #2

<=

“Apa kita bisa mulai?” ucap Kyuhyun. Entah bagaimana, ia merasakan aura aneh dari semua anggotanya hari ini. Kyuhyun memutar bola mata, enggan memikirkan perubahan yang akan terjadi pada bandnya ini.

Setelah hitungan ketiga, suara alat musik mengalun, membentuk harmoni, mengikuti arahan dari selembar kertas hasil coret-coret Kyuhyun. Lelaki itu sendiri memainkan gitarnya. Dengan sebuah mic-stand di depannya, ia mulai bernyanyi.

—-

Shin Hyori melirik Jiyoo dengan tatapan khawatir. Permainan gadis itu memang tidak jelek, tapi jelas bukan sesuatu yang diharapkan Kyuhyun. Hyori sampai menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi ketakutannya.

Selama ia mengenal Cho Kyuhyun, Hyori tahu tak boleh ada cacat. Lelaki itu perfeksionis. Sangat.

“Mianhaeyo..” bisik Jiyoo, lebih ditujukan pada Kyuhyun dengan penggunaan kata formal itu. “Aku.. sudah lama tidak bermain keyboard, jadi–“

“Itu alasan terbaikmu?” Kyuhyun menunjukkan wajah datar dengan suara yang terdengar dingin. Hyori menelan ludah, tapi tak tahu apa yang seharusnya dilakukannya. “Sudah kubilang, kan, kita tidak memerlukan orang yang amatir. Kenapa kalian bersikeras menyuruhnya bergabung?”

Hyori agak terkejut. Emosi yang dikeluarkan Kyuhyun diarahkan padanya dan Hyukjae. Memang seharusnya begitu, mengingat keputusan itu diambil dengan voting suara terbanyak.

“Latihan sedikit akan membuatnya lebih baik,” ujar Hyukjae tenang. Lelaki itu tahu Jiyoo sedang melayangkan tatapan bingung padanya. Hyukjae melirik sekilas. “Bukan begitu, Jiyoo-ya?”

Jiyoo menggigit bibir. Kepalanya tertunduk, tak berani menatap Hyukjae apalagi Kyuhyun. Gadis itu akhirnya mendesah. “Beri aku waktu… tiga hari.”

“Benar. Permainan Yoo tadi juga tidak begitu… buruk, kan?” timpal Hyori setelah berdebat dengan pikirannya sendiri. “Aku akan memastikan anak ini belajar kembali dengan benar, eo?”

Kyuhyun memandangi anggotanya bergantian. Ia memutar bola matanya begitu sadar ia kalah jumlah –lagi. Tarikan napasnya terasa berat. “Terserah.”

—-

Choi Jiyoo mengembuskan napas keras-keras, berusaha mengeluarkan segala beban yang bersarang di dadanya. Keputusannya bergabung dengan band ini sama sekali tak dianggapnya benar. Seharusnya ia menolak –benar-benar menolak- saat Cho Kyuhyun menyerah pada dua anggota lainnya.

Sekarang ia mengacaukan segalanya. Jiyoo tak bisa dan tak ingin bertanggung jawab jika penampilan BluEast Harmony sebelum show case perdana itu berantakan. Jiyoo bergidik membayangkan kegagalan itu terjadi karena dirinya.

“Berat ya?” Jiyoo melihat sekaleng jus dingin di hadapannya. Ia mendongak dan menemukan Hyukjae tersenyum padanya.

Melihat Jiyoo yang tak merespon –gadis itu bahkan tak menyambut jus kaleng yang diulurkannya, Hyukjae mendesah. Lelaki itu duduk di samping Jiyoo. Ia tetap bersikeras menyodorkan jus kaleng pada gadis itu.

Hyukjae tersenyum simpul saat Jiyoo menerima kaleng itu. “Kau tahu, waktu pertama kali aku bergabung di sini, permainanku lebih buruk daripada dirimu.”

“Itu berbeda,” tukas Jiyoo pelan. Ia membuka kaleng jus dan meneguk isinya. “Maksudku, ini penampilan sebelum show case kalian, kan? Aku tidak bisa menjadi beban di sini.”

“Beban apa,” Hyukjae mencibir. “Penampilan sebelum show case sama sekali tidak akan mempengaruhi apapun. Yah.. kecuali emosi Kyuhyun. Dia selalu menginginkan kesempurnaan, kau tahu.”

Bagus. Matilah aku. Jiyoo mengumpat dalam hati. Tentu saja. Cho Kyuhyun menginginkan kesempurnaan. Lebih singkatnya, Kyuhyun tak akan segan-segan menendang Jiyoo keluar jika ia terus mengacaukan lagu buatan lelaki itu.

“Jiyoo-ya,” panggilan Hyukjae membuat Jiyoo melupakan bayangan seramnya. Ia bisa melihat lelaki itu menggigit bibir, tampak salah tingkah. Dan sepertinya Jiyoo tahu penyebabnya. “Senang bisa bertemu denganmu lagi..”

Jiyoo berdeham pelan, berusaha agar tak tampak gugup. “Ehm… ya, aku juga.”

“Baiklah,” Hyukjae tersenyum dan bangkit dari tempatnya. Lelaki itu mengembuskan napas berat, seperti baru saja mengeluarkan napasnya yang sengaja ditahan. “Aku harus pergi, jadi… sampai jumpa nanti?”

“Oh.. ya, tentu.”

Hyukjae berbalik memunggungi Jiyoo sebelum kembali bertatapan langsung dengan gadis itu. “Dan tadi, aku serius.” Jiyoo mengerjap-ngerjapkan mata, bingung. “Aku senang bisa melihatmu lagi.”

—-

“Dia tidak bisa bermain keyboard!” seru Kyuhyun frustasi. Ia tak menatap Hyori yang menggigiti bibir, ketakutan di sudut studio kecil itu. “Hah! Apa kita benar-benar memerlukan pemain tambahan?”

Hyori mengulum senyum simpul, berusaha agar tak memancing kemarahan lain Kyuhyun. “Yah… bukankah kau sendiri yang bilang, ‘akan bagus jika ada keyboardist dalam band ini..’” ujarnya sambil menirukan gaya dan suara Kyuhyun. Hyori berdeham saat Kyuhyun memelototinya. “Maksudku, yah.. begitulah.”

Untuk sejenak, Kyuhyun memejamkan mata. Terlihat sekali lelaki itu sedang berusaha keras meredam emosinya sendiri. Ia sama sekali tak punya pilihan. Kenyataan tentang membutuhkan pemain keyboard itu bukan hanya sesumbar darinya. BluEast Harmony membutuhkan keyboardist.

 “Memang,” sahut Kyuhyun. “Tapi tidak seperti dia!”

“Apa yang salah dari dia? Dia itu punya nama –Choi Jiyoo, dan dia temanku,” Hyori menyipitkan mata, terlihat kesal.

Kyuhyun merasakan napasnya tertahan. Ia sudah menahan emosinya seharian ini, dan sekarang ia harus meredamnya sekali lagi. “Semuanya salah. Sekarang katakan padaku, bagaimana menurutmu, soal permainannya?”

Hyori mengedarkan pandangannya ke langit-langit. “Ehm… memang tidak begitu bagus, tapi–“

“Tepat sekali! Itu yang kumaksud sejak tadi, Shin Hyori,” potong Kyuhyun cepat.

“Tapi seperti kata Hyukjae, Jiyoo bisa berlatih lagi!” Hyori bersikeras, tak mau kalah.

“Dia mengatakan itu hanya karena Jiyoo mantan kekasihnya,” Kyuhyun bersedekap di depan dada.

Selama dua detik, Hyori mengabaikan Kyuhyun. Gadis itu tak akan mau meladeni perdebatan dengan Cho Kyuhyun. Hanya akan membuatku kesal setengah mati, cecarnya dalam hati.

“Anu…” suara itu membuat Kyuhyun dan Hyori menoleh bersamaan ke tepi pintu. Choi Jiyoo berdiri di sana. Jemarinya memilin-milin ujung sweater ungu yang dikenakannya. “Karena aku tidak mau membuat lebih banyak kekacauan, kurasa aku bisa berhenti dari sini.”

“Yaa~” Hyori adalah orang pertama –dan satu-satunya- yang menyuarakan ketidaksetujuannya.

“Mian,” bisik Jiyoo, nyaris tanpa suara.

“Ya! Cho Kyuhyun!” pekik Hyori. Yang diteriaki justru mengabaikannya. Kyuhyun masih tetap melipat tangan di depan dada sambil menatap Jiyoo. Hyori mengenali tatapan itu; tatapan menilai. Dan Hyori benci itu.

Kyuhyun mendesah sebelum akhirnya menurunkan kedua tangannya ke samping tubuh. “Tiga hari, kan?”

“Ne?” ulang Jiyoo.

“Kau bilang kau akan meningkatkan permainan kacau-balaumu dalam waktu tiga hari, kan? Atau aku yang salah dengar?” ujar Kyuhyun, tetap datar dan menghakimi. Melihat Jiyoo mengangguk-angguk, lelaki itu kembali menarik napas dengan sikap berlebihan. “Baiklah. Jadi jangan sampai kau berani keluar dari sini kalau tenggat waktumu itu belum habis. Kau dengar?”

Hyori melongo dengan mulut terbuka. Ia memang senang dengan keputusan bijak dari Cho Kyuhyun, tapi angel-mode yang dinyalakan lelaki itu ternyata terlalu cepat. “Whoooaa~ kau serius?”

“Kau ingin aku bercanda?” Kyuhyun mengerutkan kening.

“Cho Kyuhyun jjang!” pekik Hyori nyaring. Ia mengacungkan jempol ke arah Jiyoo. “Sekarang kau bisa berlatih dengan tenang! Buktikan pada laki-laki ini kalau kau itu Choi Jiyoo yang hebat!”

Jiyoo mengerjap-ngerjapkan mata. Rasanya terlalu mengejutkan tiap kali mendengar keputusan tak terduga dari Cho Kyuhyun. Ia mengangguk lemah. “Algesseoyo..”

—-

7:22 PM

Lantunan irama yang berasal dari tuts keyboard hitam-putih mengalun perlahan, terdengar kaku dan sama sekali tidak bisa dibilang indah. Jiyoo mendesah untuk kesekian kalinya. Ia sudah benar-benar kehilangan semangat untuk mempelajari ulang benda di hadapannya ini.

Jiyoo menjatuhkan diri di lantai studio yang berlapis karpet merah empuk. Ia suka bermain keyboard, tapi itu dulu. Dulu juga ia sangat mahir menarikan jemarinya di atas alat musik itu, tapi kenapa sekarang rasanya seluruh tubuhnya kaku, tak bereaksi pada benda ini?

Langit sudah gelap. Jiyoo bisa melihat cahaya bulan yang remang-remang menyusup masuk melalui kaca bening kecil di atas pintu studio. Gadis itu sudah berada di tempat ini selama dua jam.

Seharusnya ia sudah menemukan dirinya yang mahir bermain keyboard, tapi dua jam terbuang percuma karena gadis itu tak mendapatkan apapun kecuali rasa rendah diri yang semakin besar.

Hyori sudah pulang lebih dulu, kira-kira sejak satu jam yang lalu. Hyukjae justru sudah tidak berada di studio sejak siang tadi. Dan Kyuhyun… ah, Jiyoo tak tahu kemana lelaki yang satu itu. Sepertinya Kyuhyun sudah sangat frustasi dengan permainan Jiyoo yang semakin memprihatinkan.

Atau mungkin lelaki itu sedang menyesali diri karena keputusan yang diambilnya tadi siang salah. Sangat salah.

Jiyoo menggerakkan lehernya, menatap langit-langit studio. “Lebih baik aku pulang..”

“Siapa yang memperbolehkanmu pulang?” Jiyoo terkesiap. Lelaki yang mampir sebentar dalam kepalanya mendadak muncul di tepi pintu. Lagi-lagi kedua tangan lelaki itu dilipat di depan dada. Jiyoo bertanya-tanya apa hanya itu pose terbaik yang dimiliki Cho Kyuhyun?

“Anu… aku sudah berusaha untuk, ah! Pokoknya, aku tidak merasa permainanku akan menjadi lebih baik, jadi… aku benar-benar harus mengundurkan diri dari band-mu ini,” ucap Jiyoo. Walaupun terdengar cepat dan tegas, Jiyoo tahu tatanan bahasanya sangat kacau.

Kyuhyun menarik napas panjang. “Lalu?”

“Eh? Lalu apalagi? Ya aku akan meninggalkan studio ini, sekaligus menyelamatkan band ini dari bencana yang mungkin saja kutimbulkan,” Jiyoo mengembuskan napas keras dan meraih tasnya.

“Apa ada alasannya? Kenapa kau tidak bisa lagi bermain keyboard?” tanya Kyuhyun. Ia berjalan pelan menuju Jiyoo sebelum akhirnya menjatuhkan diri di atas karpet empuknya.

Jiyoo memegangi tengkuknya sendiri. “Bukan.. bukan seperti itu. Aku… sepertinya aku hanya terlalu lama tidak menyentuh alat musik itu.”

“Benarkah?”

“Ugh..” erangnya. Jiyoo ikut menjatuhkan diri di atas karpet dan duduk di samping Kyuhyun. Entah bagaimana, ia benci cara Kyuhyun mengucapkan semua hal. Seolah lelaki itu bisa membaca pikirannya. “Aku… pokoknya ada sesuatu. Aku tidak perlu menceritakannya, kan?”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Kalau hal itu tidak berpengaruh pada band-ku, aku tidak mau ikut campur.”

Jiyoo menahan umpatannya untuk lelaki itu dalam hati. Kalau Kyuhyun berkata begitu, sama saja Jiyoo berkewajiban untuk bercerita. Jiyoo mulai merasa kesal pada lelaki di sebelahnya ini.

“Kudengar kau tidak punya keluarga,” ucap Kyuhyun. Pelan namun tajam. Jiyoo menahan diri untuk tak menampakkan ekspresi terkejut. “Aku juga. Sejak awal.”

“Kenapa kau harus menceritakannya?”

“Entahlah,” sahut Kyuhyun acuh.

Jiyoo memutar bola mata. Entah apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Cho Kyuhyun. Gadis itu kemudian menundukkan kepala, menyerah. “Aku pernah punya satu. Keluarga, maksudku.”

Kyuhyun tak merespon. Jiyoo mengartikan bahwa lelaki itu mendengarkan, dan siapa tahu masih ingin mendengarkan kisah Jiyoo. Kisah yang seharusnya dibiarkan tertutup dan menguap dari ingatan gadis itu.

“Ehm… kedua orang tuaku bercerai saat usiaku 12 tahun. Aku saja tidak ingat kenangan apa yang kumiliki bersama mereka,” Jiyoo tersenyum muram. “Aku punya seorang kakak. Laki-laki. Aku mengingatnya, tapi sepertinya kakakku tidak ingin diingat.

“Kakakku tinggal bersama Ibu. Dia tidak mau membawaku juga, jadi aku ditinggalkan di sini. Sendirian. Mm… ayahku.. apa yang kauharapkan dari seorang laki-laki paruh baya yang ditinggalkan oleh istri dan anak lelakinya dengan beban seorang anak perempuan? Dia meninggalkanku juga, tentu saja.”

Kyuhyun tak bisa lagi menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Jiyoo. Lelaki itu mendengarkan dalam diam dan bertanya-tanya kenapa nada suara Jiyoo justru seolah-olah semua hal itu wajar untuknya. Jiyoo memergokinya, membuat Kyuhyun buru-buru memalingkan wajah lagi.

“Sejak usiaku 5 tahun, aku sudah belajar alat musik. Keyboard dan piano, khususnya. Tapi sejak kekacauan itu –kalau aku bisa mengatakannya sebagai kekacauan–aku sudah berhenti total,” aku Jiyoo. “Menurutmu berapa banyak waktu yang kumiliki untuk bermain alat musik itu sementara aku punya beberapa pekerjaan paruh yang harus kulakukan?”

Jiyoo mendesah pelan. Terlalu pelan hingga Kyuhyun merasa gadis itu menahan diri.

“Yah… begitulah. Tidak ada hal khusus yang terjadi sampai aku tidak bisa bermain alat musik itu dengan benar lagi,” ucap Jiyoo sambil tersenyum. “Maksudku, kalau kau mengharapkan aku mengalami kecelakaan sampai tanganku cedera atau semacamnya, tidak, aku tidak mengalami hal semacam itu.”

Kyuhyun mendengar gadis itu terkekeh. Jiyoo merasa geli dengan kemungkinan ala drama itu.

“Kesimpulannya, mungkin aku bisa membangun lagi kemahiranku, atau mungkin tidak,” Jiyoo mengangkat bahu. Untuk sesaat, ia bingung kenapa ia menceritakan masalah pribadinya pada Kyuhyun.

Entahlah. Sikap yang terlalu memojokkan dari Kyuhyun memaksa Jiyoo membuka mulutnya. Mungkin.

“Mana yang lebih menyebalkan,” Kyuhyun mulai bersuara. Kembali dengan suara yang rendah, tanpa emosi di dalamnya. “punya keluarga sejak awal lalu kehilangan atau tidak punya sama sekali?”

Jiyoo mengeluarkan desahannya dengan keras. “Entahlah.. tidak ada yang tampak lebih baik.” ujarnya sambil tertawa.

“Benar,” Kyuhyun setuju. Lelaki itu kemudian bangkit, berdiri. “Lanjutkan saja latihanmu.”

Kedua mata Jiyoo terbelalak. “Tapi aku–“

Kyuhyun sempat membalikkan badan sebelum menutup pintu studio. “Aku akan mengawasimu.”

“Tch…” gadis itu berdesis kesal. “Apa-apaan orang itu?!”

—-

The next morning – 7:12 AM

Lee Hyukjae mengeluarkan kunci yang sudah dimilikinya sejak 6 bulan lalu. Lelaki itu membawa sebuah tas panjang kecil yang menjadi sarung stik drumnya. Kemarin ia melarikan diri padahal latihan BluEast Harmony baru berjalan setengah jam.

Hyukjae mendesah. Apa boleh buat, ia punya tanggung jawab lain sebagai dancer jalanan.

Dengan satu sentakan pelan, Hyukjae mendorong pintu studio musik BluEast Harmony. Lelaki itu tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Setidaknya ia akan mengganti waktu latihannya yang terbuang kemarin sekarang.

Keningnya tiba-tiba mengernyit. Ia terkejut, sebagian bingung dan heran. Hyukjae mengerjap-ngerjapkan mata, mengira indera penglihatannya agak terganggu.

Kedua matanya melihat sesuatu yang mustahil. Choi Jiyoo tertidur, meringkuk di atas karpet merah empuk sambil memeluk tas kainnya sendiri dengan selembar selimut yang menyelimuti tubuhnya.

Hyukjae berjingkat-jingkat. Walaupun mungkin bayangan dalam matanya ini tidak benar, ia merasa harus tetap mengendap-endap. Ia berjongkok di samping Jiyoo, menyunggingkan senyum lemah.

Lelaki itu harus menahan diri mati-matian agar tidak mengulurkan tangan dan membelai wajah Jiyoo. Namun sepertinya pertahanan dirinya sudah hampir runtuh. Atau sepertinya sudah benar-benar runtuh saat ia kembali melihat gadis itu.

Sambil berusaha menelan ludah dengan gugup, Hyukjae menggerakkan tangan mendekati wajah Jiyoo. Ia buru-buru menurunkan tangannya saat melihat Jiyoo menggeliat pelan. Hyukjae memejamkan mata, tiba-tiba merasa kecewa.

Jiyoo membuka kedua matanya kemudian mengerjap berkali-kali. Setelah dirasa cukup sadar, gadis itu duduk dan menemukan sebuah selimut biru membungkus tubuhnya. Ia melihat sekeliling dan menemukan Hyukjae sedang mengamatinya.

“Ehm… Pagi?” sambut Hyukjae ragu.

Jiyoo menatap lelaki itu agak lama sebelum mengangguk. “Pagi.” Gadis itu menyodorkan selimut pada Hyukjae. “Terima kasih.”

“Eh?” Hyukjae melongo, bingung. Walaupun begitu, ia menerima juga selimut yang disodorkan Jiyoo. Lelaki itu berpikir sendiri, memangnya apa yang tidak akan diterimanya jika Jiyoo yang memberikannya?

“Kau baru datang?” tanya gadis itu, masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling studio.

Hyukjae mengangguk sambil melipat selimut dan meletakkannya di salah satu kursi yang berada di sudut studio. “Kau menginap di studio? Maksudku, di sini?”

“Aku harus melatih permainanku,” Jiyoo mengangkat bahu, seolah itu respon yang wajar untuk lelaki di depannya.

Hyukjae mengerutkan kening, masih heran dan terkejut. “Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa kau harus melatih permainanmu sampai kau harus menginap di sini?” tanya Hyukjae, terdengar sedikit defensif.

Jiyoo balas mengerutkan kening, sangat heran dengan pertanyaan Hyukjae –yang menurutnya tidak perlu dijawab. “Aku harus bermain lebih baik, ingat? Bukankah kemarin kau juga minta Cho Kyuhyun itu untuk memberiku waktu 3 hari untuk berlatih?”

“Memang, tapi aku tidak menyuruhmu menginap di sini,” ucap Hyukjae. “Di sini agak berbahaya saat malam hari.”

“Benarkah?” kedua mata Jiyoo membulat. Benar juga. Ia bahkan tak sempat memikirkan hal itu semalam, padahal selama ini ia paling takut berada di tempat asing saat gelap.

Hyukjae mengangguk, tapi kemudian memutuskan untuk tidak membuat gadis itu semakin panik. “Tapi kau baik-baik saja. Syukurlah. Lain kali tolong jangan menginap di sini, kalau memang sudah terlalu larut, hubungi saja… eh, aku.”

Tak ada yang bisa dikatakan Jiyoo. Apa ia memang perlu melakukannya, menghubungi Hyukjae saat tak ada seorang pun yang bisa dihubunginya? Bukankah itu hanya akan membuat hubungan mereka menjadi semakin aneh?

Mantan sepasang kekasih. Berada dalam satu band. Berjanji untuk menghubungi jika terjadi sesuatu.

Jiyoo merasa hubungannya dengan Hyukjae akan berubah menjadi semakin konyol. Terjebak dalam satu band bersama lelaki itu sudah cukup mengejutkan. Ia tidak akan melakukan apapun yang justru akan memperparahnya.

“Yoo, eh, Jiyoo-ya?”

“Ya?” Jiyoo mengerjap dan menemukan Hyukjae sedang menunggunya.

Lelaki itu menatapnya dengan kelembutan aneh yang terpancar melalui kedua matanya. “Bisa, kan? Hubungi aku kalau kau membutuhkan… bantuan,” Hyukjae buru-buru meralatnya, “atau sekedar teman untuk mengantarmu pulang?”

“Tentu,” adalah jawaban yang akhirnya meluncur dari bibir Jiyoo.

Gadis berambut cokelat gelap itu bisa melihat Hyukjae yang mengembuskan napas lega. Sepertinya ia sudah membuat Hyukjae menahan napas saat memikirkan jawaban itu. Jiyoo meyakinkan diri sendiri.

Teman untuk mengantarku pulang, ulangnya dalam hati.

—-

Shin Hyori berjalan cepat –nyaris berlari kecil- menuju sebuah rumah tepat di samping studio BluEast Harmony. Bibirnya melengkung, membentuk senyuman lebar di wajahnya yang mungil. Gadis itu langsung mengetuk pintu dengan nyaring.

“CHO KYUHYUN~!” teriaknya. Hyori menunggu selama 30 detik dan tetap tak ada jawaban. Gadis itu mencibir kesal kemudian mengeluarkan benda gemerincing dari tas tangannya.

Dengan cekatan, ia memasukkan kunci berwarna perak itu ke lubangnya. Hyori tersenyum puas saat pintu terbuka. Tanpa ragu, ia melepaskan conversnya dan berjalan masuk ke dapur.

Gadis itu melongok ke koridor kamar Kyuhyun. Sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan. Hyori yakin lelaki itu pasti masih tertidur di sofanya.

Walaupun agak kurang etis jika seorang gadis masuk ke kamar laki-laki, Hyori mengabaikannya. “Aku bukan masuk ke kamar laki-laki,” ucapnya. “Hanya ke kamar Cho Kyuhyun.”

Kaki Hyori berjingkat, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun. Ia mendongakkan dagunya, mengintip Kyuhyun yang berbaring di sofa. Hyori tak bisa berhenti heran kenapa lelaki itu lebih suka tidur di sofa daripada di ranjangnya sendiri.

“CHO KYUHYUN~ BANGUN!” Hyori berteriak tepat di telinga kanan Kyuhyun. Lelaki itu nyaris terguling dari sofa sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan diri.

Kyuhyun menatap Hyori dengan sengit. Yang ditatap hanya nyengir lebar sambil mengangkat tanda V dengan kedua tangannya. Kyuhyun mengerang. “Mau apa?”

“Membangunkan Cho Kyuhyun yang pemalas,” ucap Hyori. Baru saja akan merapikan bantal, ia mendengar Kyuhyun bersin. “Kau sakit?” Lelaki itu menggeleng pelan. Kemudian tiba-tiba Hyori tahu penyebabnya. “Kemana selimutmu? Meskipun sudah masuk musim semi, tapi cuaca masih sangat dingin, bodoh.”

Hyori memandang sekeliling, berusaha mencari selimut yang selalu dipakai Kyuhyun untuk membungkus tubuhnya sendiri. Kyuhyun berdeham. “Sedang kucuci.”

“Kalau begitu beli satu lagi untuk cadangan, Tuan Muda,” omel Hyori lagi. Ia kemudian melemparkan handuk tepat ke wajah Kyuhyun. “Cepat mandi! Akan kubuatkan sarapan lalu kita ke studio~”

Kyuhyun menggerutu tak jelas. “Tentu, Eomma.”

“Ck,” Hyori berdecak kesal. Gadis itu memerhatikan punggung Kyuhyun yang terhalang pintu kamar mandi. “Bisakah aku menjadi yang lain saja?”

—-

Hyori menatap Jiyoo yang berdiri di belakang keyboard dengan sorot mata khawatir. Di sampingnya, Kyuhyun sedang bersedekap, dan itu membuat Hyori semakin cemas. Lelaki itu sudah siap menuntut permainan yang lebih baik hari ini.

Selama sekitar satu menit permainan Jiyoo, Hyori seperti sedang menahan napas. Ia terlalu takut sampai-sampai tak berani mengambil napas. Sikapnya itu seakan-akan permainan Jiyoo akan berantakan jika Hyori bernapas.

Jiyoo menyelesaikan permainan singkatnya. Gadis itu menatap Hyori pertama kali dan mendapat senyuman lengkap dengan acungan jempolnya. Jiyoo mengembuskan napas perlahan. Sekarang bagian tersulitnya.

Kyuhyun bergerak, mendekat dan mengusap keyboard silver-putih miliknya. Jiyoo menahan napas –benar-benar menahan napas.

“Bagus, kan?” Hyukjae, yang tidak tahan pada sikap diam Kyuhyun, membuka mulut.

Ketiga pasang mata terarah padanya. Sorot mata yang terpancar pun berbeda untuk masing-masing orang. Hyukjae bisa melihat Hyori memandangnya dengan sorot mata protes, tak suka jika tingkah Hyukjae tadi membuat Kyuhyun kesal dan membuat Jiyoo kembali jadi sasaran amuk lelaki itu.

Kyuhyun sendiri hanya memandang datar ke arah Hyukjae. Sepertinya ia sudah sangat terbiasa dengan sikap Hyukjae yang seperti itu. Ia menatap Hyukjae hanya sesaat sebelum akhirnya perhatiannya kembali terpusat pada Jiyoo.

Untuk orang yang terakhir, Hyukjae bisa mengulum senyum kecil. Jiyoo menatapnya seolah-olah ia adalah Jiyoo yang dulu. Jiyoo-nya yang selalu bergantung padanya. Sorot matanya seperti mengungkapkan rasa terima kasih untuk Hyukjae.

Dan Hyukjae menikmati itu. Terlampau menyukainya.

“Kau berlatih dengan giat,” Kyuhyun berkomentar. Melihat Jiyoo yang sedikit menggigit bibir, lelaki itu kemudian mengangkat bahu. “Ayo mulai latihan.”

Suara itu tetap datar, tanpa emosi yang berarti. Namun tentu saja suara itu mampu membangkitkan euphoria lain dalam studio. Hyori jadi orang pertama yang memekik gembira, diikuti dengan high-five bersama Hyukjae dan Jiyoo.

“Cho Kyuhyun jjang!” seru Hyori.

Hyukjae menyela, “Ya! Choi Jiyoo juga jjang!”

Dengan helaan napas berat, Kyuhyun menimpali, “Kalian berdua juga akan jjang kalau mulai memegang alat musik.”

—-

11:36 AM

Denting bel yang berada di atas pintu terdengar hingga ke belakang counter. Jiyoo buru-buru meraih nampan, bersiap menyambut pelanggan restoran yang baru tiba. Gadis itu mengerutkan kening saat melihat pelanggan yang datang.

Cho Kyuhyun? Bersama seorang laki-laki paruh baya dengan setelan kemeja lusuh,

Latihan di studio hanya dua jam, memberikan Jiyoo waktu yang cukup untuk mengambil jatah shift siangnya di restoran. Gadis itu baru saja menghela napas lega karena bisa menjauh dari studio musik, keyboard, dan Cho Kyuhyun. Tapi nyatanya perasaan lega itu tidak bertahan lama.

Jiyoo mengembuskan napas. Ia memutuskan akan tetap bersikap profesional. Sambil berjalan tegap, ia menunduk menyambut kedua pelanggannya. “Selamat datang..”

Gadis itu melihat Kyuhyun yang membulatkan mata, tapi Jiyoo tahu ia hanya harus mengabaikannya. Ternyata Kyuhyun cukup cepat mengendalikan perasaan. Lelaki itu berdeham datar. “Teh.”

“Aku juga,” susul sang lelaki paruh baya.

Jiyoo sempat berpikir untuk menebak-nebak orang yang duduk bersama Kyuhyun, tapi sepertinya ia tidak mau mencampuri urusan Kyuhyun. Atau lebih gampangnya, gadis itu tidak mau melibatkan diri dalam sesuatu yang berhubungan dengan Kyuhyun.

Oh, tentu saja BluEast Harmony adalah pengecualian. Jiyoo sudah terlanjur terjebak di dalamnya, jadi ia hanya akan membiarkan dirinya tenggelam lebih dalam lagi.

“Jeogiyo,” ucap Kyuhyun, masih dengan nada datar. “Kami sudah pesan.”

“Ah, ne,” Jiyoo buru-buru membungkuk meminta maaf dan meninggalkan meja itu. Ia merutuk dalam hati. Seharusnya ia tidak merepotkan diri sendiri dengan berpikir tentang masalah Kyuhyun.

Walaupun sudah menetapkan seperti itu, ternyata Jiyoo tidak bisa untuk tidak melirik meja Kyuhyun setiap tiga puluh detik sekali. Kedua orang itu –Kyuhyun dan laki-laki berkemeja lusuh- sepertinya sedang terlibat pembicaraan yang serius.

Jiyoo bisa melihat kening Kyuhyun yang sesekali berkerut atau tatapan matanya yang tiba-tiba menyipit. Entah apa yang dikatakan si paruh-baya sampai reaksi Kyuhyun seperti itu. Jiyoo bersimpati pada si paruh-baya.

“Itu bukan urusanmu, Choi Jiyoo,” gadis itu mengetuk keningnya sendiri. Sambil mendesah berat, Jiyoo memutuskan kembali ke meja itu dan mengantarkan pesanan pelanggannya.

Baru setengah meter akan mencapai meja Kyuhyun, Jiyoo menyadari lirikan lelaki itu. Sepertinya Kyuhyun memelankan suaranya. Jiyoo mengangkat bahu tak peduli kemudian meletakkan dua cangkir berisi cairan hangat berwarna cokelat. Gadis itu harus segera kembali ke balik counternya.

“Tapi aku tetap ayahmu,” ucapan si kemeja lusuh membuat Jiyoo membeku sesaat. Ayah, katanya? Jiyoo sangat ingin berbalik tapi beruntunglah ia bisa menahan diri. Ia bahkan tak sempat melihat reaksi Kyuhyun. “Kau tahu itu, kan? Kau tetap putraku.”

“Putramu?” Jiyoo benar-benar membalikkan badan. Ia melihat Kyuhyun berdiri dari kursinya. Gadis itu merasa Kyuhyun masih memelankan suara walaupun sudah jelas kekesalan terpancar dari sorot mata dan tindakannya. “Omong kosong apa ini?”

Jiyoo menunggu respon sang lelaki paruh baya. Lelaki itu berbisik, “Duduklah. Kau membuat semua orang melihat kita.”

“Lupakan saja. Aku benar-benar tidak peduli lagi,” ucap Kyuhyun. Ia menarik napas panjang dan kembali duduk di tempatnya.

Jiyoo terkesiap saat tiba-tiba kedua mata lelaki itu menatapnya. Jiyoo takut dianggap mencampuri urusan Kyuhyun. Tapi ia bisa bernapas lega karena Kyuhyun memilih tak mempedulikannya.

Kyuhyun mengeluarkan sebuah amplop cokelat panjang dari saku jaket kumalnya. “Jangan temui aku lagi.”

Tanpa sadar, Jiyoo benar-benar menahan napas. Ia memerhatikan punggung Kyuhyun yang menjauh, meninggalkan restoran. Jiyoo bahkan menggigit bibir walaupun tak mengerti apa yang membuatnya simpati seperti itu.

“Joha!” hanya suara gembira dari laki-laki berkemeja lusuh yang mengembalikan Jiyoo ke tempatnya berada. Gadis itu melihat sang kemeja lusuh mencium amplop pemberian Kyuhyun sebelum memasukkannya ke saku celananya sendiri.

Jiyoo tak tahu kenapa, tapi ia melayangkan tatapan jijik pada laki-laki paruh baya itu. Ia buru-buru meletakkan nampan di counter dan berlari ke luar restoran. Jiyoo tidak mau lebih lama berada dalam rasa penasaran yang menenggelamkannya.

—-

Cho Kyuhyun berjalan cepat, sangat cepat dan mengabaikan seluruh orang yang berpapasan dengannya. Seakan-akan langkah kakinya yang cepat akan mengikis kemarahannya saat ini. Lelaki itu memelankan langkah saat merasa usahanya sia-sia.

Baru dua detik ia berjalan pelan, sesuatu –atau seseorang- menabrak punggungnya. Kyuhyun berseru, “Apa-apaan–“

“Aduuuh~ kenapa berhenti mendadak?” kening Kyuhyun berkerut heran melihat Jiyoo di belakangnya, mengusap-usap kening yang menubruk punggungnya. Gadis itu terkesiap dan buru-buru menegakkan badan. “Maksudku,” Jiyoo tersenyum salah tingkah, “hai..”

“Sedang apa kau?”

“Aku? Aku…”

Kyuhyun melipat tangan di depan dada. Jiyoo mulai menyadari sikap itu sebagai trademark seorang Cho Kyuhyun. “Kau mengikutiku?”

“Itu… anu… tidak juga, tapi,” Jiyoo menggigit bibir sambil berusaha mengendalikan tata bahasanya yang berantakan. Gadis itu menghela napas, menyerah. “Ugh. Baiklah, aku memang mengikutimu.”

“Kenapa?” tanya Kyuhyun. Nada suaranya datar, tanpa emosi.

Melihat sikap Kyuhyun yang seperti itu; mengintimidasi, seperti sedang menginterogasinya, Jiyoo berpikir dalam hati. Benar juga. Ia tidak tahu kenapa ia mengikuti Kyuhyun keluar. Persisnya, ia tidak tahu apa alasannya meninggalkan restoran yang sedang penuh pengunjung itu seperti ini!

“Aku tidak tahu,” ucap Jiyoo jujur. Gadis itu bisa melihat Kyuhyun yang terkejut, hanya sesaat, tapi lelaki itu jelas mendapat kejutan. “Kukira… pokoknya sepertinya ajussi tadi berbuat tindakan yang keterlaluan padamu, jadi… yah.. siapa tahu kau akan kalap lalu mengamuk di tengah kota. Yah… seperti itu.”

Kyuhyun berdecak kesal. “Kau pikir aku tipe orang seperti itu?”

Jiyoo mengangkat bahu santai. “Entahlah. Siapa yang tahu?”

“Kau sangat mengganggu,” gumam lelaki itu pelan. Kyuhyun kembali berjalan pulang, memilih mengacuhkan gadis di balik punggungnya.

Seharusnya Jiyoo kembali ke restoran. Seharusnya ia mengurusi urusannya sendiri, bukannya sok mencemaskan lelaki itu. Seharusnya seperti itu, kan?

Pikiran-pikiran penuh akal sehat itu tidak mampu menghentikan gadis itu untuk kembali mengekor di belakang Kyuhyun. Jiyoo yakin ini adalah tindakan paling irrasional, paling gila, dan paling konyol yang pernah dilakukannya. Tapi sepertinya untuk sekedar membantu, tindakannya tidak terlalu keliru.

“Apa kau akan benar-benar mengikutiku?” sela Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

Jiyoo mengangguk kemudian menyahut. “Eung!”

“Joha!” Kyuhyun berhenti berjalan.

“Eh?” Lagi-lagi Jiyoo harus membiarkan hidungnya menabrak punggung Kyuhyun. “Aduuuh~ kenapa mendadak lagi?”

Kyuhyun membalikkan tubuh dan memberi pandangan menilai pada Jiyoo. “Jangan menyesal karena sudah memutuskan mengikutiku. Kau dengar?”

“Mm… itu…” Jiyoo menggaruk lehernya yang tidak gatal.

“Ayo ikut!” nada suara memerintah khas Cho Kyuhyun. Jiyoo bahkan tidak diberi kesempatan untuk memikirkan ulang keputusannya. Gadis itu hanya membuntuti Kyuhyun. Tanpa bertanya, tanpa suara.

—-

“Kau mempermainkanku ya?” gumam Jiyoo, kesal. Gadis itu melayangkan pandangan herannya ke arah gedung tua yang sudah ditutup. Sepertinya gedung itu sudah lama ditutup karena rumput liar di halaman depannya tumbuh subur tanpa ada yang merasa periu repot-repot memangkasnya.

Kyuhyun mengabaikan gadis itu lagi. Ia sibuk mencari cara untuk masuk ke dalam pekarangan gedung tua itu. “Aishh… terkunci!”

“Tentu saja. Kau tidak lihat pagarnya digembok?” Jiyoo merutuki tindakan bodoh lelaki di sampingnya itu. Tiba-tiba ia melihat Kyuhyun berjalan ke sisi lain pagar. Jiyoo terbelalak saat lelaki itu menemukan lubang yang agak besar, cukup untuk keluar-masuk orang dewasa. “Hei, hei!”

Kyuhyun membungkukkan badan untuk masuk melalui lubang itu. “Ayo!”

“Sebenarnya kau itu pemusik atau mantan perampok? Kenapa bisa saja menemukan cara untuk masuk gedung ini?” Jiyoo bergumam pelan. Dengan perlahan, ia masuk melalui cara yang sama dengan lelaki itu. “Haaaahh~”

“Biasanya gembok pagar itu tidak pernah terkunci, dan lagi,” Kyuhyun menyipitkan mata, memandang Jiyoo kesal. “aku bukan mantan perampok hanya gara-gara aku tahu bagaimana caranya masuk ke dalam sini.”

Jiyoo mengangguk-angguk tanpa suara. Ia lagi-lagi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Gadis itu berusaha membiasakan indera penglihatannya dengan suasana baru yang dilihatnya.

“Ini panti asuhanku,” ucap Kyuhyun tanpa ditanya. Jiyoo mengerutkan kening. Kyuhyun berjalan menyusuri bagian samping gedung sampai akhirnya mencapai halaman belakang yang cukup luas. Lelaki itu duduk di kursi kayu panjang yang berada di bawah pohon akasia besar.

Gadis itu memilih duduk di samping Kyuhyun. Ia akan mendengarkan, hanya sebatas mendengarkan, sama seperti yang sudah dilakukan Kyuhyun padanya kemarin. Jiyoo pikir itu akan membantu Kyuhyun. Mungkin.

“Lalu orang tadi itu ayah angkatku,” bisikan Kyuhyun memang pelan, tapi tidak cukup pelan untuk tidak didengar Jiyoo. Gadis itu membelalakkan mata. Kyuhyun tersenyum kecil melihat reaksi Jiyoo. “Aku memang tidak punya keluarga, tapi aku punya ayah angkat.”

Jiyoo merenung, berusaha mencerna ucapan lelaki itu. Apapun yang diusahakan untuk dipikirkannya, Jiyoo mendapat hasil nol. Ia justru merasa pikirannya menjadi rumit.

“Dan hari ini adalah ulang tahunku,” Kyuhyun tersenyum, senyum paling menyedihkan yang pernah dilihat Jiyoo. “Hari dimana aku diangkat sebagai anak dan keluar dari panti asuhan ini.”

===============================

Chapter 2 finished! ^-^

Panjang banggets kah? Biar aja. Biar cepet kelar. Saya menderita siksaan batin kalo terus ngerjain JiKyu ini. =____=

Eniwei, sudah mulai kebaca karakter masing-masing cast kah?

Thanks for reading, wait for comment(s)~ ^-^

64 thoughts on “BluEast Harmony #2

  1. waaa… unnie itu di akir ny nge’gantung bnget.. aigoo kyu yg ngasih yoo unnie selimut yaa. aigoo.. jinjja.. msh aga ga iklas gitu klo jd ny JiKyu couple.. wkwk😄
    okok.. ditunggu next chap.. hwaiting!^^

  2. .suka.suka.suka jikyu moment tp q jg suka.suka jihyuk moment(-.-) #readerlabil
    g tw mw k0ment pa lg cz ff btan qm sempurna bgt, rapi,g da typo, n alurnya itu lohh gmn y blngnya !! nyantai tp pasti jd g keliatan buru”…
    pokoknyaa sukaaa sma ff qm,
    mian ya k0mentq kepanjangan…
    ditunggu next chapnya.!!🙂

  3. Annyeong!!! Pendatang baru… Aku suka sama karakter Kyu disini… Cool2 gmn gt… :p
    Ceritanya jg menarik.
    Hwaiting buat next part!🙂

  4. hyaaa yoo ! sukaa ! eiy jiyoo ama kyu sudah mulai dekat. ciee , haha mereka merasa senasib sepenanggungan ye. hyaaa begitu bnyk moment jikyu ! mana momen hyohyuk nyah haha jgn blang author kagak kuat bkin haha next ditunggu yaa

  5. So swiiitttt..kyu nyelimutin yoo yg lagi tidur y..manisnya*cubit eonn
    jikyu jjang*d tendang hyuk

    ngenes loh denger cerita kyu..jadi appa nya kyu cuma manfaatin anak nya doang..kacian*peyuk kyu

    Hyuk masih ngarep balikan lg ma jiyoo y..
    Kalo jikyu jadian trus gmn nasib ny hyori ma hyuk..

    panjang??y ampun eonn..q baca ni brasa pendeeekkk bgt..
    Eonniii…sukasuka…d lanjuuut eonn 😀

  6. So sweettt~~~ kyu rela kedinginan demi ngasi selimut ke yoo!

    Ah, jadi bingung mau shipperin Jikyu ato Jihyuk!!!

    Tapi kok dipikir2 jikyu cucok ya? wkwkwk..
    Panjang? Ga ini kurang panjang!!!!!!!!😀

    Pengen tau, knp tiba2 Kyu ngasi uang ke ayah angkatnya, trs kenapa tiba2 kyu terbuka aja sama jiyoo. apa krn punya nasib yg sama? *tiba2 bayangin di Blueast harmony ketiga kyu meluk jiyoo😛 kan seru tuh onn. Terus si hyori liat *tambah ngelantur

    Keep writing~
    – Always Nadine Lee –

  7. EONNNNNNNNNNNNNNNNNNNNIII :3
    uh so sweet ya pake di selimutin. aw aw.
    hyuk ada nyelimutin hyori ga eonn ? nyelimuti hati hyori dengan cinta karena patah hati gitu ?
    bisa kali ya ? ya kaaan ?
    hyohyuk moments dums eonni~ :3

    um..
    akuh nunggu chapt 4 aja deh eonni~ :p
    semangat ya eonni~ semakin cepet selesai chapternya, hidup eonni akan damai dari bayang2 cho kyuhyun yang menggemaskan itu !

    semangat shela eonni, aku percaya eonni pasti bisa menyelesaikan ff ini dengan flawless~
    shela onnie jjang~! *aegyo nih~*

    HAHAHA~
    semangat nak !😉

  8. panjang apaan kak? Itu kurang panjang ;~; /slapped/ etapi disini sudah banyak jikyu momment, finally…:””””) aku iri sama jiyoo…pasti unyu diselimutin seorang cho kyuhyun….dan jadi kasihan juga sama hyukjae, dia kayak…cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi aku suka cara dia nunjukkin perhatiannya ke jiyoo T-T bikin aku iri…..;-; udah diselimutin kyuhyun di perhatiin hyukjae juga…..aaaaa envy to the max. Tapi bagaimanapun jikyu momment nya…aku tetap merindukan jihyuk momment T-T

  9. Huwaaaa muncul juga part ini!! *kyakyaakyaa* sudah mulai tumbuh tumbuh benih cintakah dari kyu ke jiyoo? *plak* makin sukaa sama ceritanya. Hwaaa bakalan ada yang patah hati kalo jikyu bersatu ㅋㅋㅋㅋ part selanjutnya ditunggu eon, hwaiting!!!

  10. Hahahahaha
    saya mencoba melupakan jihyuk dan kyuhyo saat baca ini.
    Eum… Susah mau ngomong apa. Cuma itu bapak angkatnya kyu keterlaluan amat ya

  11. ahhh~~ aku krang ngeh dgn part ini,,terlalu bnyak JiKyu moment.y :(((
    okeii,,kta mulai comment.y:: pertama, si EvilKyu itu bner” mnyeramkan,,sinis & dingin bnget..nyebelin tpi ttap suka sma karakter.y dia hihi… kedua, knpa Kyu jd baik gtu sm Yoo,,smpe minjemin slimut sgala dan bohong sm Hyo klo tuh slimut dicuci pdhalkan dipinjemin ke Yoo..isshh~~ cho Kyuhyun,,kmna lgi jiwa iblismu itu?? ckck,,knp mendadak jd baik kyk gtu?? sm Hyo aj keterlaluan dinginnya..Hyo kan kasian..😦
    ketiga..knpa Yoo & Kyu jd sling curhat”an gtu…hihi😀 dan lagi,,Yoo gk tau yahh klo Kyu bkn hnya skdar pemain musik ato mantan perampok,,mlah lbh parah dri itu..Kyu itu raja iblis tau Yoo hahaha..
    keempat,,,eonni aku gk sabar next part.y bkal kyk gmna…apakah akan ada KyuHyo moment ato JiKyu kmbali beraksi lgi *?*/abaikan hihi😀
    kelima,,spertinya aku udh trllu bnyak cincong deh hehe /ditabok readers/andwee/ hihi…klo gtu next part d tnggu eonn😄

    • Hahaha~ kalo dijelasin sih si kyu kenapa baek ama yoo soalnya nasib mereka itu mirip, jadi si kyu ngerasain jadi si yoo.
      kaya gitulah kira-kira. xD
      makasihh suda bacaa~ ^-^

  12. Aaaaaaaaaa jikyu momen brarti bentar lg ada hyohyuk momen…
    Asiiik wkwk
    Tp jujur emang lbh cocok jihyuk momen bknnya gk bgus, tp mungkin emang udah terbiasa kali ya… Hehe

    Blm lg kisah hdup jikyu menyedihkan bgt dah…. Aduh ini makin seruuu lanjutannya geuraaaaa hehe

  13. Kyuhyun serius banget disini , apa lagi pas jiyoo nyeritain masa lalunya .. Mereka jadi deket yaa ,, berhasil nih jadiin jikyu momment ! Hyohyuk nya jangan sedih ya ~hahaha

  14. ehhh buset..miris pisan ya nasipnya si kyu ini *tepok2 kyu*

    cieeee…ciee…… ada angin topan dari mana tuh yoo ngikutin kyu?? ga takut neng kalu tiba2 diterkam ama setan itu??? hehehhe

  15. Hmmm…suka nih sama karakter2 disini…ga jauh dr yg biasa,cumaa tetep aja ngrasa ini asik n segerrr bwt dibaca *halaaah
    Ditunggu lanjutannya ya,saeng ^^

  16. Hallo Kak Shella ini Ule. Kak Shella gak kangen Ule ….? …Karena sibuk heheh bye enggak ding, Ule belum baca update ff baru kakak T.T . Tapi buat fanfic ini Ule minta HYUKJAE DI BULLY CINTA BULLY TAPI PENUH CINTA HAHAH BYE BYE BYE ……. apakah anak nakal masih berlaku ?

  17. Yakk!! oke eonni endingnya…. -_-v
    ada berita baik *ini sok banget* aku udah mulai bisa nerima mereka(JiKyu) karena eonni jejelin momen mereka bedua muluk ._.
    tapi eonni aku ngga tega deh sama Hyori ><
    Hyori kan suka kyuhyun, kalo misalnya Hyori ngga bakal sama Kyu dan Kyu sama Yoo, Hyori jangan sama Eunhyuk deh *melas* kasian Hyo u,u
    ya yah?😀

    • SAYA SYUKA KABAR BAIK ITU! xD
      tegain aja. Semua orang pada gak tau gimana saya dibully ama hyo di dunia nyata. ;A;
      Okeh, berarti no hyohyuk kan? xD BERES!
      makasihh suda bacaa~ ^-^

  18. Coment! =D
    Aigoo, akhrnya mulai bnyak JiKyu moment dsini. tpi kasian si Hyori ama Kunyuk, masih menganggur. macam brtepuk sbelah tngan gtu ya cintanya Hyo. *puk puk Hyori*

    Aku ska bgt ama cra Kak Shel njelasin identitas Kyu & Jiyoo lewat dialog2 yg simple tapi ngena itu. Berasa pas, ga muluk2, dan itulah yg bkin cerita ini jadi enak..🙂

    “Kalau hal itu tidak berpengaruh pada band-ku, aku tidak mau ikut campur.” –> ska bgt kalimat Kyu yg ini. Trkesan cuek sh, tapi ada perhatian yg kerasa nyelip disana ^^
    Terus, perhatian2 kecil Kyu yg kayak ksh selimut diem2 itu, sweetnya Cho Kyuhyun bgt..

    Intinya aku ga trlalu masalah soal JiKyu moment dsini. Fine fine aja lah. Krna qu percya, Kak Shel mau bkin karakter couple siapa pun juga pasti bakal kerasa idup \^o^/

    Oke, jadi.. brakhir di hari itu hari ultah Kyu? lalu apa yg akn Yoo lakuin untk ‘ulang tahun seorang cho Kyuhyun’?

    • *free pukpuk hyo* xD
      nanti bakal butuh lebih banyak pukpuk buat dia. xDD

      Hehe~ baguslah kalo fine2 ajah ama jikyu. Aku mulai bingung gimana nerusin ini kalo pada masih fokus ama jihyuk. ;__;
      Hari ulang taun kyu dirayain di next chapter. ;D
      makasihh suda bacaa~ ^-^

  19. maafkan diri saya karna nggak ngomen di part 1, tapi langsung di part ini

    jikyu dah mulai merajalela
    kyu nyelimuti yoo…berarti kyu nungguin yoo slama latihan ampe yoo tidur?
    bisa ya kyu kayak gitu -,-
    terus kenapa jikyu pada membuka sesion curhat =,=
    tapi, mereka berdua mempunyai nasip sama tapi berbeda ya

    waktu hyori ma hyukjae teriak abis penampilan yoo kedua itu…

    “Cho Kyuhyun jjang!” seru Hyori.
    Hyukjae menyela, “Ya! Choi Jiyoo juga jjang!”
    Dengan helaan napas berat, Kyuhyun menimpali, “Kalian berdua juga akan jjang kalau mulai memegang alat musik.”

    itu adalah adegan yg saya suka di sini…

    kok rasa-rasanya nasip hyohyuk ngenes banget ya di sini
    pa lagi hyo cuma dianggep ‘eomma’ ma kyu

    ayah angkatnya kyu itu….kaya memperalat kyu
    apa tiap kali dia nemuin kyu hanya untuk minta uang?
    hah~ malang nian nasipmu…
    jadi, hari itu adalah ulang tahun kyu….terus yoo disuruh apa?

    oke…saya nunggu part selanjutnya
    ganbatte ne~

  20. JiKyu!! cie mulai ada tanda-tanda niiih hehhe. pengen cepet-cepet scene JiKyu jadinya hehehe😀 HyoHyuk belom terlalu keliatan disini, tapi gara-gara pas si hyori nyamperin kyuhyun dan bangunin jadi pengen liat adegan HyoKyu juga *yea maunya banyak*
    aku tunggu part berikutnya onnie! HWAITING!

  21. huaaaa…jikyuuuu
    madih gak rela….hati dan pikiran sudah terpatri dengan jihyu….hahaha lebaiiii
    heem……karna kesamaan latar belakang ya???
    kadian kyu disini ak punya kdpresi..datar terus….

  22. Pingback: BluEast Harmony #3 « « Strawberry's Room »

  23. sweet bgt kyu nyelimutin jiyoo, eh, jiyoo malah nyangka hyuk yg nyelimutin.
    hemm. . . kyaknya kyu udh mulai luluh nh sama kegigihan jiyoo buat bsa main keyboard lg.
    tp, bingung klo hyuk msh suka sama jiyoo, knp mereka putus dlu?
    next chap biar gk penasaran

  24. jikyu moment :D…
    aku suka karakter jiyoo..lucu..wkwkwk tp aku pngen jitak kepala kyu*eh#digampar sparkyu
    kyu itu meski dngin tp perhatian yah😀 aku makin suka sma ff inii😀
    author jjang!😀

  25. jiyoo daebak bisa buatin kyu mau certa yahwalaupun cuman jadi pendengar yang baik, kikkuk, si kyunya dingin gitu perhatian ya rupanya apa2 selalu dingin,, soo cool, apa jhyuk bakalan jadian ya di part2 berikutnya, mm aq baca lagi dah,,,

  26. Doh karakter Kyuhyun pas banget! Tuh bocah bisa dibikin kayak apa aja, pendiem, cool, terus jutek, tanpa ekspresi, tanpa emosi(?) pokoknya suka banget sama tulisan shela onnie, soalnya ceritanya tuh kayak drama-drama. Malahan kayak nonton drama beneran, dibikin drama keren kali onn😄 terus…terus kenapa mris banget jadi Hyori yang cuman dianggep eomma T.T itu Hyukjae pasti masih ada rasa, doh komplit lah ini cerita. Lanjut next chap ah. Shella Onnie jjang!😄

  27. biasanya kan hyuk yg konyol dpan jiyoo,nah skarang giliran jiyoo yg sering bikin konyol,tapiiii napa kyu yg bsa bkin yoo kya gtu,,, bagaimana nasibmu slanjut’y suamiku??? T.T

  28. Abis baca part ini, kenapa aku malah galau. Jiyoo ga ada rasa ma Kyu kan? aku ga mau JiKyu, maunya JiHyuk couple ajj. kkkkk

  29. kalo ada jikyu, mereka udah mulai dekat kayaknya..kenapa rada ga rela??
    kuatirnya entar kalo mereka saling suka karna didukung dg ‘persamaan’
    hyuk. .hyuk. .kau di mana??
    aq suka sifat hyori di sini yg ceria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s