[JiHyukism] The Fancam: 1st Love, 2nd Accident

JiHyukism: The Fancam [1st Love and 2nd Accident]

===========================

Are you asking me whether I love you?

Don’t you know the answer?

If I do not love you, who else would it be?

—-

Jalanan Apgujeong dihiasi banyak pejalan kaki. Cuaca yang cocok untuk berbelanja; matahari yang hangat dan angin sepoi membelai wajah. Begitu pula yang dipikirkan Eunhyuk dan Jiyoo. Keduanya berada dalam mobil sambil mengedarkan pandangan ke beberapa etalase toko.

Eunhyuk memarkir mobil audinya di salah satu sudut jalan. Lelaki itu menoleh, tersenyum ke arah Jiyoo. “Sini, kubukakan sabuk pengamanmu.”

“Aku bukan bayi, Poo,” sahut Jiyoo sambil tertawa pelan. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan menghela napas. “Jadi, kita mau kemana?”

Eunhyuk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi pengemudi. Raut wajahnya berubah, lebih serius karena sedang berpikir. Kemudian ia tersenyum lebar. “Membeli barang-barang couple untuk kita?”

“Sirheo,” Jiyoo langsung menjawab. Singkat dan cepat.

“Ah, wae~?” rajuk Eunhyuk yang kemudian memutar duduknya hingga menghadap Jiyoo. “Setidaknya kita harus punya beberapa barang semacam itu, kan?”

Jiyoo menghela napas panjang. “Tapi aku tidak suka. Memangnya semua orang yang berpacaran harus memiliki barang semacam itu?” gadis itu mengucapkannya sambil berjengit, seakan jijik.

“Lalu, untuk apa kita disini?” Eunhyuk mengerucutkan bibir, agak kesal karena keinginannya ditolak secara langsung. Lelaki itu sengaja mengosongkan agendanya hari ini untuk menemani Jiyoo seharian.

“Mmm… mencari hadiah untuk orang tuamu?” kalimat itu diucapkan dengan penuh keceriaan hingga Eunhyuk sulit untuk menahan kekesalannya lebih lama. Begitu Eunhyuk mengangguk sambil membalas senyumannya, Jiyoo tersenyum lebih lebar. “Go go go~!

—-

Dengan masker hitam dan kacamata bingkai tebal serta topi navy yang dikenakannya, penyamaran Eunhyuk sempurna. Tak akan ada yang mengenalinya dengan penampilan casual namun misterius itu. Setidaknya itu yang diharapkan Eunhyuk sebelum turun dari mobil.

Kenyataannya, beberapa orang mengenalinya. Lelaki itu terpisah dari Jiyoo saat berada di sebuah toko yang menjual hiasan rumah. Mau tak mau, Eunhyuk harus menghindari tatapan lapar orang-orang di sekelilingnya dan memutuskan kembali ke mobilnya tanpa Jiyoo.

Lelaki itu mengeluarkan ponsel setelah mengatur napasnya yang tersengal. Jemarinya mengetuk-ngetuk pegangan setir dan menunggu. “Yoo?” serunya ketika teleponnya tersambung.

“Kau ini dimana? Kenapa meninggalkanku?” Eunhyuk bisa mendengar nada kesal dan kecewa yang terpancar dari suara Jiyoo.

“Mian. Ada beberapa anak sekolah yang mengenaliku,” hanya itu yang bisa diucapkannya. “Kau ada dimana? Biar kujemput sekarang, eo?”

Hembusan napas panjang dari Jiyoo membuat Eunhyuk gugup. “Tapi aku belum menemukan hadiah untuk orang tuamu, Poo. Bukankah akhir minggu ini kita akan berkunjung ke rumahmu?”

“Nanti akan kubelikan untuk mereka, katakan saja itu darimu. Ya?” tak ada yang bisa dikatakan Eunhyuk selain tawaran yang tidak cukup efektif itu. Entah bagaimana, Eunhyuk bisa menggambarkan wajah kesal Jiyoo saat ini. Gadis itu baru saja memiliki sedikit waktu luang, begitu pula dengan dirinya, tapi acara berbelanja mereka justru kacau. Eunhyuk benar-benar bisa melihat wajah Jiyoo yang ditekuk.

“Tidak mau,” jawaban itu jelas sudah diprediksi Eunhyuk. “Kau pulang saja. Aku akan berbelanja sendiri. Menyebalkan!”

Eunhyuk tak sempat bersuara. Gadis di ujung telepon sudah memutuskan hubungan lebih dulu. Lelaki itu menatap layar iPhonenya kemudian mendesah berat. Gadisnya marah. Sangat.

Akhir minggu ini adalah minggu terakhir jatah libur Eunhyuk. Akhir minggu itu akan menjadi agendanya untuk mengajak Jiyoo mengunjungi ayah dan ibunya. Eunhyuk benar-benar tak ingin memulai pertengkaran dengan gadis itu. Ia tak boleh memulai perdebatan apapun jika ingin konsentrasinya tidak terpecah-belah saat kembali bekerja besok.

Eunhyuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling mobil. Jalanan terlihat normal; tidak padat juga tidak lengang. Ia menghela napas. Mau tak mau, ia harus turun dan kembali ke tempat Jiyoo berada.

“Choi Jiyoo, kau harus senang,” ujarnya sambil mengenakan topi navy dan masker gelapnya lagi. “karena mempunyai Lee Hyukjae yang pantang menyerah ini.”

—-

“Apa-apaan dia? Hanya karena beberapa orang mengenalinya, dia langsung meninggalkanku,” Jiyoo mengomel dengan ponsel menempel di telinga kanannya. “Iya, iya, Shin Hyori, berhentilah membelanya… Geurae, geurae, bela saja ‘kakak’ kesayanganmu itu. Kkeunho!”

Gadis itu menjejalkan kembali iPhone putihnya ke dalam tas. Wajahnya ditekuk, kesal. Seharusnya hari ini sempurna dengan rencana yang sudah disusun matang. Ada banyak hal yang diharapkan Jiyoo soal hari ini.

Merasa emosinya semakin memuncak, Jiyoo memutuskan untuk duduk di salah satu kursi panjang di depan sebuah toko pakaian. Ia meletakkan tas belanja di sampingnya. Pandangannya terarah pada salah satu tas belanja sebelum ia mengeluarkan hasil berburu yang seharusnya diperlihatkannya pada Eunhyuk.

Sepasang mug keramik dengan warna merah muda dan biru muda dibeli Jiyoo di toko tempatnya terpisah dengan Eunhyuk tadi. Lelaki itu bilang ia ingin memiliki barang berpasangan, jadi Jiyoo membeli satu untuknya. Belum sempat Jiyoo menunjukkannya pada Eunhyuk, lelaki itu sudah menghilang.

“Menyebalkan!” umpatnya kesal.

“Choi Jiyoo?” suara yang memanggil Jiyoo membuat gadis itu buru-buru mengangkat wajah. Kedua mata kecilnya melebar melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.

Jiyoo merasakan debaran jantungnya berubah makin cepat, makin cepat, makin tak karuan. “Yonghoon sunbae..” bisiknya.

“Kau ingat padaku?” tanya lelaki bertubuh tinggi dengan rambut cokelat gelap dan alis tebal itu. Jiyoo mengangguk antusias, membuat Choi Yonghoon tertawa kecil. “Apa yang kaulakukan disini?”

“Aku? Aku… berbelanja?” senyuman Jiyoo kaku hingga membentuk seringaian aneh. Ia menunjuk tas-tas belanja yang menemaninya. Saat Yonghoon memutuskan duduk di samping Jiyoo, rasanya gadis itu rela membuang semua barang belanjaannya saat itu juga. “Sunbae… sendirian?”

Alis Yonghoon terangkat, heran. “Memangnya aku harus bersama siapa?”

“Ah, benar juga ya…” Jiyoo tertawa salah tingkah. Ada apa dengannya sekarang? Bertemu Choi Yonghoon tidak bisa disamakan dengan bertemu dengan idola, tapi rasanya jantung Jiyoo sudah berpindah dari tempatnya karena berdetak terlalu nyaring.

Keduanya menundukkan kepala, sama-sama kehilangan topik pembicaraan. Jiyoo diam-diam mengingat semua kenangan yang dimilikinya bersama lelaki itu. Choi Yonghoon adalah cinta pertamanya, lelaki yang membuat dadanya berdebar tak karuan, sama seperti saat ini. Choi Yonghoon adalah lelaki dalam kenangan Jiyoo.

Sementara bagi Yonghoon, Choi Jiyoo adalah gadis yang manis dan menarik. Yonghoon ingat ia dan Jiyoo sempat menjadi dua orang dengan hubungan di luar garis pertemanan. Semua ingatan usang itu kini terbuka dan membuat lelaki itu tersenyum kecil.

“Apa yang kau beli?” tanya Yonghoon. Lelaki itu kemudian mengumpat dalam hati karena pertanyaan konyol yang dilontarkannya.

Jiyoo mengerjapkan mata. “Hanya beberapa… barang. Untuk hadiah.”

Yonghoon mengangguk-angguk sekedarnya. Masih banyak yang ingin dibicarakan lelaki itu. Bahkan terlalu banyak hingga ia tak tahu bagaimana memulainya.

“Yoo!” seruan itu membuat Yonghoon dan Jiyoo menoleh ke arah yang sama. Yonghoon mengerutkan kening. Seorang lelaki dengan topi navy nyaris menutupi mata dan masker yang menutup sebagian wajahnya membuat lelaki itu tampak mencurigakan.

“Siapa itu?” Yonghoon menyikut lengan Jiyoo pelan. “Dia terlihat aneh.”

Jiyoo tersenyum samar lalu berkata, “Itu… pacarku, sunbae.”

“Yoo, apa kau sudah selesai belanja atau ada barang yang ingin kaubeli lagi?” tanya Eunhyuk cepat. Napasnya terengah karena ia berjalan cepat untuk menemukan Jiyoo. Ia bahkan tak peduli jika ada orang yang mengenalinya lagi.

Melihat Eunhyuk kembali untuknya, Jiyoo tersenyum lebar. “Kukira kau benar-benar akan meninggalkanku, Poo. Apa…” ia berbisik, berharap suaranya tidak didengar oleh Yonghoon. “ada yang mengenalimu?”

“Tidak tahu. Sudahlah, tidak penting,” ujar Eunhyuk singkat. Senyumannya melebar saat sadar Jiyoo tampak sangat berterima kasih. Kedua matanya lantas mendarat ke arah Yonghoon, lelaki asing yang tak pernah dilihatnya. “Siapa ini?”

Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Rasa panik dan bingung menjalari tubuhnya hingga ke sendi. “Ini…”

“Choi Yonghoon. Teman Jiyoo,” Yonghoon mendahului Jiyoo.

“Mmm… aku Lee Hyukjae,” jawab Eunhyuk. “Pacar Jiyoo.”

Yonghoon mengangguk-angguk paham. Ia memiringkan kepalanya untuk melihat Eunhyuk lebih jelas. “Apa kau tahu, aku cinta pertama Jiyoo.”

—-

“Cinta pertama ya?” Eunhyuk bergumam tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan yang terhenti karena lampu merah. Walaupun ingin, ia sama sekali tidak menoleh untuk sekedar menatap Jiyoo. Emosinya terlalu tinggi hingga kehilangan minat untuk mengobrol.

Jiyoo sadar hal itu dengan pasti. Bahwa Lee Hyukjae sedang merajuk dan mungkin kecewa. Pertemuan mereka dengan Choi Yonghoon sama sekali tidak direncanakan dan Eunhyuk terlanjur mendapatkan kesan buruk dari pertemuan itu. Jiyoo mendesah. Seharusnya Yonghoon tidak bicara apapun soal cinta pertama itu. Masa lalu adalah masa lalu.

“Bukannya aku ingin membuatmu kesal, bagaimana pun ini kali pertama kita bertemu, kan?” ujar Yonghoon tenang setelah jelas-jelas merasakan aura tak nyaman yang berasal dari Eunhyuk. “Kami tidak pernah berpacaran, hanya… saling memperhatikan dari jauh. Kuharap kau tidak salah paham.”

Tentu saja Eunhyuk sudah salah paham. Bahkan mungkin ia merasa lebih dari itu. Punggungnya menegang, seolah waspada dengan ucapan lanjutan dari Yonghoon.

“Aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian, tenang saja. Lagipula aku dan Jiyoo baru saja bertemu lagi hari ini,” sambung Yonghoon. Ia sama sekali tak merasakan sinyal Jiyoo agar segera menghentikan ocehannya soal masa lalu. “Kau lihat tidak, Jiyoo masing memakai gantungan kunci beruang putih di tasnya? Aku punya pasangannya, beruang cokelat.”

Eunhyuk tak tahan lagi. “Apa poinnya?”

“Kau cemburu? Secepat ini?” Yonghoon tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Kemudian senyumnya terkembang. “Syukurlah. Berarti Jiyoo mendapatkan lelaki yang baik.”

“Eh?” Jiyoo dan Eunhyuk melongo bersamaan.

“Sudah kubilang jangan salah paham, kan? Aku hanya ingin memastikan cinta pertamaku ini mendapatkan laki-laki yang hanya akan mencintainya,” dengan seulas senyum lemah, Yonghoon melanjutkan, “tidak seperti aku.”

Jiyoo menelan ludah di samping Eunhyuk. Hubungannya dan Yonghoon tidak berlanjut karena beberapa alasan, salah satunya adalah yang disebutkan lelaki itu. Bahwa saat itu Jiyoo tak menjadi satu-satunya untuk Yonghoon.

“Ja~ kalau begitu, sampai jumpa lain kali,” Yonghoon tersenyum. Lesung pipi gandanya terlihat di kanan-kiri wajahnya yang tampan. Ia melambaikan tangan pada Eunhyuk dan Jiyoo sebelum berlalu meninggalkan keduanya.

Selama lima detik, Jiyoo membatu di tempatnya. Tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya seolah kekurangan energi. Cinta pertama yang gagal. Namun cinta pertama tetaplah cinta pertama, akan susah dilupakan.

Eunhyuk menyadari perubahan sikap Jiyoo. Perlu diakui, ia cukup kecewa. Gadisnya memiliki barang pasangan dengan cinta pertamanya sementara menolak saat Eunhyuk meminta satu.

Lelaki itu menggertakkan gigi kemudian menarik tangan Jiyoo. “Ayo pulang.”

—-

The next day

Eunhyuk membuka matanya lalu berguling ke kanan dan memejamkan mata lagi. Dua detik berikutnya, ia berguling ke kiri dengan mata terpejam. Sudah sejak pukul dua pagi ini ia mencoba untuk tidur. Usahanya sia-sia. Ia sama sekali tak bisa memejamkan mata dan mengirim jiwanya ke pulau mimpi.

Pikirannya sibuk mengurutkan berbagai kejadian. Tiga per empat bagian adalah milik Jiyoo dan cinta pertamanya. Eunhyuk membuka mata dan mengerutkan kening. Kenapa semua hal itu menjadi sangat penting?

Cahaya matahari menyusup masuk melalui sela-sela jendela kamarnya. Jam yang tergantung di dinding menunjukkan waktu pukul 8 lewat 5 menit. Seharusnya Eunhyuk sudah bangun dan berolahraga seperti biasanya. Tapi sepertinya pikirannya yang kacau menolak segala perintah dari otaknya sendiri.

Lelaki itu duduk di ranjang dan mengerucutkan bibir. Jiyoo dan cinta pertamanya memiliki barang pasangan, tapi Jiyoo tidak mau punya satu pun barang pasangan dengannya. Kenapa rasanya itu sangat mengganggu Eunhyuk?

“Hyung!” suara itu terdengar beberapa saat sebelum Kyuhyun membuka pintu kamar Eunhyuk. Tanpa memedulikan raut wajah Eunhyuk yang tak senang, Kyuhyun menyodorkan sebuah ponsel. “Aku titip ini.”

Eunhyuk mengerutkan kening sambil menerima ponsel dari tangan Kyuhyun. Ia mengenali benda tipis itu. Ponsel yang berada di tangannya itu adalah milik Jiyoo. “Kenapa ada padamu?”

“Hyori bilang dia meminjamnya dari Jiyoo, tapi kemarin dia meninggalkannya di mobilku,” ujar Kyuhyun. Lelaki itu kemudian memotong saat Eunhyuk hendak protes. “Hari ini aku sibuk dan tidak bisa menyerahkannya. Lagipula ponsel itu milik Jiyoo, bukankah dia akan suka kalau Poonya yang mengantarkan ponselnya?”

“Pintar sekali memerintah,” omel Eunhyuk.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Aku tidak memerintah, hanya menyarankan.”

“Geurae, geurae, pintar sekali berbicara,” Eunhyuk mengibas-ibaskan tangan. “Sekarang pergilah.” Sebelum Eunhyuk mengucapkan kalimat pengusiran itu, Kyuhyun sudah menghilang dari tepi pintu.

Merasa penasaran, Eunhyuk menimbang-nimbang benda tipis dalam pegangannya. Jiyoo memang memiliki dua ponsel; satu untuk teman-teman kampusnya, satu untuk keluarga dan orang-orang pentingnya. Yang sedang dipegang Eunhyuk adalah ponsel yang kedua.

Karena ponsel itu adalah ponsel yang bisa dibilang penting, Eunhyuk memeriksa beberapa kontak nama yang tersimpan di memorinya. “Eomma, Appa, Hyo-nim, My Poo..” sampai pada nama terakhir, Eunhyuk tersenyum kecil.

Eunhyuk belum berniat meninggalkan ranjangnya yang empuk, jadi ia hanya mengutak-atik beberapa aplikasi dalam ponsel Jiyoo, melihat playlist yang sering dimainkan gadis itu, dan membuka beberapa foto yang disimpan Jiyoo. Sebagian besar adalah foto iseng, sisanya hanya foto Jiyoo sendiri.

Tangan Eunhyuk terhenti pada folder video. Ia tersenyum puas saat mendapatkan beberapa video Super Junior. Sebuah video menarik perhatiannya. Judulnya Him. Eunhyuk harus menahan senyum saat memutuskan untuk melihat video itu.

Senyumnya mendadak hilang digantikan oleh desisan kesal dari bibirnya. Video itu seperti sebuah fancam. Jiyoo mengambilnya dari jarak yang agak jauh. Objek dalam video itu adalah lelaki yang ditemui Eunhyuk kemarin, Choi Yonghoon. Lelaki itu tampak lebih muda.

Saat Eunhyuk memeriksa tanggal diambilnya video itu, ia tertegun. Dua tahun yang lalu.

—-

“Ada yang mau kaujelaskan?” adalah pertanyaan pertama yang langsung dilontarkan Eunhyuk pada Jiyoo saat lelaki itu datang ke dormnya. Ia menggeletakkan ponsel Jiyoo di atas meja. Kedua tangannya saling bertaut, khawatir nantinya tak bisa menahan diri. “Choi Jiyoo.”

Jiyoo menelan ludah. Bisa-bisanya ia menyimpan video berdurasi sekitar satu menit itu. Video itu diambil di perpustakaan saat ia dan Yonghoon tanpa sengaja saling berhadapan dalam jarak kira-kira dua meter. Jiyoo hanya mengambilnya tanpa alasan yang khusus.

Gadis itu merutuk. Baiklah, tentu saja ada alasan khusus. Ia menyukai Yonghoon, jadi apa salahnya ia mengambil beberapa kenangan tentang lelaki itu. Jiyoo menyukai lelaki itu… dulu.

“Bicaralah selagi aku masih memintanya,” tegur Eunhyuk. Nadanya rendah dan mengancam. Jiyoo tak suka dipojokkan seperti ini. “Atau memang tidak mau bicara?”

Jiyoo memejamkan mata sejenak kemudian membukanya lagi. “Ini memang fancamku untuk Yonghoon. Kenapa?”

“Kau bertanya ‘kenapa’?” ulang Eunhyuk. “Lucu sekali. Cinta pertama, boneka pasangan, fancam, lalu berikutnya apa lagi? Bisa kau beri tahu aku sekarang, supaya aku tidak akan terlalu marah nanti?”

“Kenapa kau harus marah, Poo? Dengar, aku sama sekali tidak ingin memulai perdebatan apapun denganmu, jadi tolong bersikaplah dewasa,” ujar Jiyoo.

Eunhyuk mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. “Apa kau mau tahu apa masalahku, Yoo? Dan sekaligus apa masalahmu?”

Kali ini Jiyoo tak bisa memandang langsung ke arah Eunhyuk. Ia bukannya tak tahu apa alasan Eunhyuk saat ini, tapi bukankah ia punya alasan untuk membela diri? Jiyoo mengatupkan bibir rapat-rapat.

“Apa kau tahu aku sangat kecewa kemarin? Anggap aku kekanak-kanakan, tapi tidak bisakah kau memperlakukanku lebih baik? Apa bedanya aku dengan cinta pertamamu? Kenapa selalu ada hal yang kaulakukan untuknya sementara untukku tidak ada?”

Jiyoo merasakan kegetiran dalam suara itu. Gadis itu tidak suka mendengarnya, tapi ia harus membiarkan Eunhyuk mengeluarkan perasaannya terlebih dulu.

“Aah~ karena dia yang pertama, jadi semua hal yang kaulakukan untuknya tidak akan kaulakukan untuk orang lain?” kesimpulan yang ditarik Eunhyuk jelas tidak berdasar. “Jika itu adalah masalahku, masalahmu adalah kapan kau akan bersedia memiliki satu barang yang sama denganku? Ah, atau setidaknya, kapan kau akan mengambil video seperti saat kau melakukan kegiatan seperti mengambil fancam untuk cinta pertamamu itu?

“Apa kau pernah merepotkan dirimu untuk mengambil video kegiatanku? Aku pernah bertanya soal ini padamu, tapi kau bilang kau tidak mau terlihat seperti fans lain, bukan begitu?” Eunhyuk merasakan kepalan tangannya semakin kuat. “Atau… kau memang fans sejati laki-laki itu?”

Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahan lagi. “Lee Hyukjae.”

“Wae? Ada yang salah dari ucapanku?” kali ini Eunhyuk menatap ke dalam mata Jiyoo. Ia tahu gadis itu sudah mulai hampir menangis. Tapi jangankan Jiyoo, Eunhyuk sendiri nyaris menangis karena terlalu marah.

Untuk beberapa saat, tak ada yang berbicara. Jiyoo menunggu Eunhyuk selesai dengan emosinya, tapi sepertinya penantiannya itu akan sia-sia. Lelaki yang duduk di hadapannya itu tampak tidak berusaha meredakan emosi yang menyelimuti seluruh tubuh hingga ke peredaran darahnya.

Eunhyuk memejamkan mata beberapa saat. Ia kemudian membukanya lagi dan bangkit dari sofa. “Aku pulang.”

—-

Pandangan Jiyoo berubah kabur. Sudah sepuluh menit Eunhyuk meninggalkan dormnya dan Jiyoo sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Ia masih duduk di sofa. Kedua matanya terarah pada tempat kosong yang ditinggalkan Eunhyuk.

Sekalipun sikap Eunhyuk tetap kekanakan, Jiyoo tahu masalah kali ini berasal dari dirinya sendiri. Sekalipun pertemuan dengan Choi Yonghoon kemarin tidak direncanakan, Jiyoo tetap bersalah karena masih menyimpan video setahun yang lalu itu. Sekalipun mungkin seandainya Eunhyuk tak menegurnya seperti tadi, Jiyoo pasti akan tetap menyalahkan dirinya sendiri.

“Yoo..” Hyori, yang sejak tadi mengintip dari balik dapur, melangkah pelan ke arah Jiyoo. “Kau baik-baik saja?”

Jiyoo mendongak, menatap Hyori dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ia mengangguk. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya.

“Apanya yang baik-baik saja kalau wajahmu seperti itu?” Hyori duduk di samping Jiyoo, memeluk gadis itu dari samping. Tangan Hyori yang hangat mengusap-usap lengan Jiyoo. “Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Hyuk oppa tidak akan marah terlalu lama. Tenanglah, eo?”

Tetap tak ada kata yang diucapkan Jiyoo. Tarikan napasnya terasa lebih ringan saat ada yang bersedia menjadi tempatnya untuk bersandar. Walaupun perasaan Jiyoo berkata Eunhyuk tak akan memaafkannya dengan mudah, Jiyoo tetap mengangguk. “Mm.”

—-

The next day

Kyuhyun melirik kedua gadis yang duduk manis di sofa yang ada di dormnya. Alisnya terangkat. Ia hendak melancarkan protes, tapi Hyori sudah melayangkan tatapan tajam padanya. Kyuhyun hanya bisa menghela napas berat kemudian meletakkan sebuah benda yang diinginkan Hyori dan Jiyoo. Sebuah handycam.

“Konyol sekali kalian ini,” gumam Kyuhyun.

Jiyoo meraih handycam di atas meja dan tersenyum lebar. “Aku tidak punya ide lain yang lebih baik. Kau punya?”

“Aku bahkan tidak sempat berpikir apa-apa,” Kyuhyun mengangkat bahu dan menjawab sekenanya. “Lagipula bukankah Eunhyuk hyung tidak akan marah terlalu lama? Biarkan saja dia, nanti pasti akan bermanja-manja lagi padamu.”

Dengan ucapan Kyuhyun, Jiyoo berhenti mengutak-atik benda elektronik di tangannya. Ia menundukkan kepala. Seandainya saja ia punya keyakinan bahwa Eunhyuk tak akan marah lama padanya, ia mungkin tak akan merasa setakut ini. Alasan Eunhyuk untuk marah jelas sangat diterima, masuk akal, dan tentunya menyebalkan.

Dan hal itu menggerus perlahan keyakinan Jiyoo.

“Sudahlah,” sela Hyori, membaca perubahan sikap Jiyoo. Pandangannya beralih pada Kyuhyun, “Sekarang, apa saja jadwal Hyuk oppa?”

Kyuhyun menyipitkan mata kemudian mengeluh, “Kau bahkan tidak pernah sangat peduli pada jadwalku.” Raut wajahnya kembali berubah datar, “Kau berharap aku akan mengatakan itu, kan, Shin Hyori?”

“Ck, pergi saja kau ke neraka, bebek jelek,” Hyori menginjak kaki Kyuhyun yang berada tepat di depan kakinya.

Jiyoo tersenyum kecil melihat Hyori dan Kyuhyun yang selalu seperti itu; tidak mempermasalahkan apapun yang sepele. Bukannya ia dan Eunhyuk tidak berusaha seperti itu, tapi terkadang memang masalah sekecil apapun bisa menjelma menjadi masalah besar yang tak tampak penyelesaiannya. Apakah lantas itu kesalahannya?

Kyuhyun membaca ekspresi wajah Jiyoo saat ini. Lelaki itu mendesah. “Seharian ini… Strong Heart di studio SBS, dan perform di MBC, terakhir Sukira bersama Sungmin hyung dan Wookie.”

—-

Hiruk pikuk staf acara memenuhi gendang telinga Eunhyuk bergantian. Lelaki itu sedang berada di studio, mempersiapkan penampilan bersama Leeteuk dalam Teukigayo. Matanya terarah lurus ke lembaran kertas yang diberikan Leeteuk, tapi pikirannya sudah terbang entah kemana.

Sebagian besar Eunhyuk melayangkan pikirannya pada Jiyoo dan pertengkaran mereka kemarin. Diam-diam ia menghela napas berat. Ia sangat merindukan gadis itu.

“Yah! Fokus,” tegur Leeteuk. Eunhyuk hanya mengangguk, berharap hal yang sama dapat dilakukannya. Semoga saja ia bisa fokus.

Eunhyuk kembali mendesah dan berusaha memusatkan seluruh perhatiannya kembali pada kertas-kertas di tangannya. Lelaki itu tak sadar ada lensa kamera yang terfokus padanya, menjadikannya objek utama. Setiap ia bergerak, kamera itu akan mengikuti seperti bayangan.

Choi Jiyoo tersenyum kecil melihat wajah Eunhyuk terekam sempurna dalam handycam yang dipegangnya. Gadis itu bergerak setiap Eunhyuk berpindah tempat. Memang agak merepotkan, tapi nyatanya sangat menyenangkan bisa mengikuti Eunhyuk seperti ini.

Saat Eunhyuk meninggalkan studio dan mungkin berjalan menuju ruang tunggunya, Jiyoo berhenti merekam. Sebuah desahan pelan terdengar olehnya. Jiyoo menoleh dan menemukan Kyuhyun bersama Hyori tampak bosan.

“Mian,” ucap Jiyoo pelan. “Sudah kubilang kalian bisa meninggalkanku disini.”

Kyuhyun mengendikkan bahu kemudian melirik Hyori yang berdiri di sampingnya. “Keinginannya tidak pernah bisa kutolak.”

“Cho Kyuhyun memang pintar,” Hyori mengangguk-angguk puas. Ia kemudian merebut benda yang dipegang Jiyoo. “Bagaimana? Bagus?”

Jiyoo mengangguk antusias. Ia memperlihatkan hasil rekamannya yang hanya terarah pada Eunhyuk. “Apa dia tidak akan marah lagi kalau aku memberikan fancam seperti ini?”

“Geureo~m! Hyuk oppa bukan hanya tidak akan marah, tapi juga akan menangis terharu,” sahut Hyori yakin. “Ah, dan juga, jangan lupa kalau kau sudah membeli sepasang mug lucu sebelum Hyuk oppa mengeluhkan soal barang pasangan.”

Helaan napas panjang membuat paru-paru Jiyoo terisi penuh oleh oksigen. Walaupun begitu, jumlah oksigen yang memasuki tubuhnya tidak sanggup meredakan kekhawatiran yang berlebihan ini. Jiyoo mengangguk lemah.

“Apa kita sudah selesai disini?” tanya Kyuhyun. Lelaki itu berdiri tegap sambil melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. “Sebentar lagi perform kami.”

—-

Jiyoo berhasil memasuki backstage –terima kasih untuk Cho Kyuhyun- dan mendapatkan momen saat Super Junior sedang rehearsal. Handycam tetap berada manis di tangannya. Ia kembali memfokuskan lensa pada Eunhyuk.

Melihat wajah lelaki yang tampak lelah itu membuat Jiyoo menggigit bibir. Ia sadar beberapa faktor yang menyebabkan wajah lelah itu tercipta adalah karena dirinya. Eunhyuk pasti berpikir terlalu banyak tentang pertengkaran kemarin.

“Yoo, sudah, kan? Ayo keluar,” ujar Hyori saat ia mendapat sinyal dari Kyuhyun di ujung lorong. Kyuhyun menunggu dua gadis itu untuk keluar dan kembali menyembunyikan mereka agar tak ada seorang pun yang melihat Hyori dan Jiyoo.

Jiyoo mengangguk tanpa berhenti merekam. Ia membiarkan Hyori berjalan lebih dulu sementara ia bergumam sendiri. “Mianhae. Kalau boleh jujur, aku ingin melakukan banyak hal untukmu, tapi nyatanya aku selalu tidak bisa berbuat apapun saat berhadapan denganmu. Tapi seharusnya One Day Special Fancam ini bisa sedikit mengurangi kekesalanmu, kan? Hmm, Poo?”

Gadis itu terlalu sibuk dengan handycamnya sendiri, tak sadar beberapa staf berlari ke arahnya. Seorang staf bertubuh besar menubruk Jiyoo hingga gadis itu menyenggol sebuah tangga. Tumpukan kardus milik staf peralatan kehilangan keseimbangan dan meluncur jatuh.

AWAS!” adalah teriakan yang akhirnya disadari Jiyoo untuknya.

Gadis itu mendongak ke atas, melihat kardus yang akan menimpa tubuhnya. Bergerak, Yoo! Bergerak! Jiyoo mengumpat dalam hati. Tapi nyatanya tubuhnya membeku di tempat. Ia hanya sempat mengangkat tangannya ke atas dan menutup kedua matanya.

Handycam terlepas dari tangannya. Jiyoo jatuh tersungkur di lantai dengan bagian sudut keningnya mengeluarkan darah segar. Helai-helai rambut hitamnya menutupi wajah dan rasa sakit mulai menyebar ke seluruh tubuh Jiyoo.

Pandangannya kabur dan yang terakhir dilihatnya adalah wajah panik Hyori.

—-

“YOO! YOO!” Hyori berteriak panik. Kyuhyun sudah berada di samping Hyori, berusaha memapah Jiyoo bersama beberapa staf yang ada di sana.

Kyuhyun bergerak cepat memacu mobilnya sementara Hyori merangkul lengan Jiyoo di kursi penumpang. Jantung Hyori seolah berhenti berdetak. Sekali lagi, ia merasa panik dengan kecelakaan Jiyoo. Keduanya pernah mengalami kecelakaan, tapi kali ini kenapa kejadian itu harus terjadi lagi?

Hyori masih ingat bayangan Jiyoo dengan pelipis yang mengeluarkan darah dan tidak sadarkan diri di mobilnya. Seperti de javu, Hyori merasakan lagi aliran rasa takut di seluruh tubuhnya. Ia menggigit bibir, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Hubungi Eunhyuk hyung!” perintah Kyuhyun dari balik kemudi. Ia melihat raut wajah itu pada Hyori. Satu-satunya yang bisa dilakukannya saat ini adalah mengalihkan perhatian gadis itu dan mengantarkan Jiyoo ke rumah sakit secepatnya.

Tangan Hyori bergetar. Ia mengeluarkan ponsel dan mulai menelepon. Tangan kirinya yang meremas pundak Jiyoo menjadi lebih erat saat mendengar nada tunggu yang tidak putus. “Tidak diangkat!”

Kyuhyun mengeratkan pegangannya ke benda bulat bernama setir. Matanya melirik Hyori yang masih panik kemudian beralih pada Jiyoo yang tidak membuka mata. Rasa kesal dan panik memenuhi dada lelaki itu. Seharusnya ia tak menuruti keinginan Hyori dan Jiyoo. Ia tahu akan ada kejadian buruk, tapi tak menyangka kejadiannya akan seburuk ini.

Seharusnya ia bisa meyakinkan Jiyoo bahwa ada ide lain untuk membuat Eunhyuk tak marah padanya. Ide fancam satu hari itu sama sekali bukan ide yang bagus.

Setelah berhasil memarkir mobil dan membiarkan beberapa petugas rumah sakit membawa Jiyoo, Kyuhyun berjalan cepat untuk menyesuaikan jalannya dengan Hyori yang sudah berada di depan. Lelaki itu mengalami perasaan yang sama seperti saat Hyori kecelakaan, tapi kali ini korbannya bukan Hyori.

“Maaf, silakan menunggu di sini,” seorang perawat dengan rambut dicepol rapi menutup pintu ruangan gawat darurat.

Hyori merasa kedua lututnya lemas. Ia terduduk di salah satu kursi dan menarik Kyuhyun untuk duduk di sampingnya. “Jiyoo akan baik-baik saja, kan?”

“Ya, dia akan baik-baik saja, Hyo,” Kyuhyun mengulurkan lengannya di sekeliling pundak Hyori. Lelaki itu menarik gadisnya mendekat. “Jangan khawatir.”

—-

“Aish! Pergi kemana Cho Kyuhyun itu?!” Leeteuk mengomel sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Sudah sekitar sepuluh kali ia mencoba menghubungi sang magnae, tapi ponsel Kyuhyun selalu sibuk.

Sungmin juga sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi Kyuhyun melalui pesan singkat. Hasilnya tetap sama. Tak ada balasan apapun dari Kyuhyun.

“Yah, yah! Apa kalian tahu ada kecelakaan di backstage saat kita selesai rehearsal?” Shindong teringat bisik-bisik dari beberapa staf yang ditemuinya. “Apa Kyuhyun ada hubungannya dengan itu?”

Leeteuk mengerutkan kening kemudian membantah ucapan itu, “Kalau begitu seharusnya sudah ada yang melaporkannya pada kita, kan?” ujarnya. Ia melirik Eunhyuk yang hanya duduk diam tanpa melakukan apapun, “Yah! Eunhyuk-ah, coba kau hubungi Kyuhyun juga.”

Eunhyuk mengangguk dengan malas. Ia menggeser tas kecil yang selalu dibawanya. Sejak tadi ponselnya berada manis di dalam tas, padahal biasanya Eunhyuk akan selalu sibuk dengan benda itu. Alisnya terangkat saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari Hyori dan Kyuhyun.

Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Firasat buruk menghantuinya saat ini. Tanpa mengatakan apapun, Eunhyuk menghubungi Kyuhyun.

Tepat saat itu, seorang staf membuka pintu ruang tunggu Super Junior. Lelaki bertubuh agak kurus dengan topi hitam itu tampak terengah. “Maaf, apa Kyuhyun-ssi mengenal gadis yang hari ini mengalami kecelakaan kecil di backstage?”

“Ne? Kyuhyun?” ulang Sungmin, bingung.

“Benar. Saat kecelakaan terjadi, Kyuhyun-ssi ada di sana bersama seorang gadis lain. Dia langsung membawa gadis yang terluka itu dengan mobilnya,” jelas sang staf. Ia menyerahkan sebuah handycam. “Ini mungkin milik gadis itu, tolong berikan pada Kyuhyun-ssi. Ah, saya juga sudah mengatakan pada PD bahwa Kyuhyun-ssi mungkin tidak akan bisa berada di sini.”

Leeteuk menerima handycam itu dan membuka layar kecilnya. “Yah, Eunhyuk-ah, ini fancammu.”

Seluruh member berkumpul –kecuali Eunhyuk- sambil melihat rekaman yang tersimpan dalam handycam itu. Video Eunhyuk saat berada di studio Strong Heart dan saat dirinya sedang rehearsal menjadi satu-satunya isi video. Macam-macam tebakan mulai memenuhi kepala mereka.

“Mianhae. Kalau boleh jujur, aku ingin melakukan banyak hal untukmu, tapi nyatanya aku selalu tidak bisa berbuat apapun saat berhadapan denganmu. Tapi seharusnya One Day Special Fancam ini bisa sedikit mengurangi kekesalanmu, kan? Hmm, Poo?”

Suara itu seakan menjawab semuanya. Leeteuk membelalakkan mata. Reaksi yang sama diberikan oleh member lainnya. Mereka mengenali suara itu, terlebih panggilan konyol yang hanya menjadi milik Eunhyuk.

“Apa gadis yang kecelakaan itu… Jiyoo?” bisikan Donghae didengar oleh semua orang yang berada di ruangan itu. “Jiyoo? Choi Jiyoo?”

Eunhyuk, yang sejak tadi mendengarkan, mulai kehilangan fokus pada ponsel dan nomor yang sedang dihubunginya. Lelaki itu mendongak, menatap staf yang masih berdiri di tepi pintu. “Kecelakaannya kecil? Sekecil apa?”

“Itu… beberapa kardus berisi peralatan yang diletakkan di atas tangga… terjatuh menimpa gadis itu,” jelas si staf mengulang lagi kejadian yang sempat dilihatnya.

Walaupun tenggorokannya terasa kering, Eunhyuk memberanikan diri untuk tetap bertanya. “Lukanya… sekecil apa?”

Donghae menelan ludah. Ia tahu Eunhyuk tak ingin bertanya, tapi rasa penasaran lelaki itu pasti lebih besar daripada ketakutannya sendiri. Pandangannya beralih pada staf yang masih berdiri tegap.

“Gadis itu… terluka di keningnya. Darah… darah keluar dari lukanya,” staf itu mengingat bayangan gadis yang tersungkur dengan darah di keningnya. “Dia tidak sadarkan diri.”

“Tidak sadarkan diri?!” seruan Donghae membahana, menyuarakan kepanikan yang sama dari membernya yang lain. “Apa itu yang dinamakan kecelakaan kecil?”

Eunhyuk merasa jantungnya mencelos. Gadis itu terluka, mengeluarkan darah, tidak sadarkan diri. Rentetan kata itu membuat Eunhyuk mendadak pening. Ia menggertakkan gigi untuk tetap berpikir jernih dan positif. Sayangnya, kemampuannya itu seolah lenyap saat ini.

Lelaki itu masih terdiam saat Hyori menjawab telepon Kyuhyun. “Oppa! Kenapa baru menghubungiku?! Jiyoo kecelakaan, cepat datang ke rumah sakit!”

Jiyoo kecelakaan. Ia terluka, mengeluarkan darah, dan tidak sadarkan diri. Eunhyuk memejamkan mata. Demi Tuhan, harus berapa kali lagi ia mendengar kata-kata itu?! Semuanya terdengar monoton, tapi semua kata itu membuat jantungnya kembali dihantam palu raksasa.

Eunhyuk menyambar handycam Jiyoo dan melesat meninggalkan semua orang.

—-

Kepalan tangan Eunhyuk semakin kuat. Langkahnya semakin cepat. Koridor rumah sakit yang berbau tidak menyenangkan ini terasa lebih panjang hingga rasanya tak peduli secepat apapun langkah Eunhyuk, lelaki itu tak akan pernah sampai ke ujungnya.

Eunhyuk menelan ludah saat menemukan Kyuhyun dan Hyori duduk di depan ruang perawatan. “Jiyoo! Ada dimana dia?!”

“Di dalam. Masih belum sadar,” ujar Kyuhyun datar. Ia bisa melihat kepanikan yang sama dari Eunhyuk, sama seperti saat mereka berjalan di koridor rumah sakit tempat Jiyoo dan Hyori dibawa setelah kecelakaan mobil.

“Apa yang terjadi? Kenapa kalian membiarkan Jiyoo melakukan hal konyol?!” nada suara Eunhyuk meninggi. “Hyori-ya, katakan sesuatu, bukankah seharusnya kau melindungi Jiyoo?!”

“Hal konyol? Benar. Mengambil fancam khusus Lee Hyukjae agar orang itu tidak marah lagi pada Jiyoo memang hal konyol, benar, kan?” Kyuhyun berdiri di depan Eunhyuk, membelakangi Hyori. Ia tahu Eunhyuk sedang panik, tapi bukankah menyalahkan orang lain –terutama Hyori- bukan tindakan yang bijaksana?

Eunhyuk menahan diri untuk tidak mengumpat. Walaupun ingin menyangkal, tentu saja ia tak bisa melakukannya. Kecelakaan ini mungkin secara tidak langsung memang disebabkan olehnya sendiri. Bukan Hyori, apalagi Kyuhyun. Hanya dirinya sendiri, seseorang yang membanggakan diri sebagai seseorang yang selalu bisa mengerti seorang Choi Jiyoo.

“Aku mau masuk,” ujar Eunhyuk lemah.

Tanpa menunggu persetujuan dari Hyori ataupun Kyuhyun, Eunhyuk melangkah cepat memasuki ruangan Jiyoo. Lelaki itu harus menemui gadisnya, memastikan tak ada hal buruk yang terjadi. Setidaknya, Eunhyuk harus memastikan bahwa gadisnya akan baik-baik saja.

Eunhyuk hanya berdiri satu meter dari ranjang putih Jiyoo. Tiba-tiba saja ia merasa tak sanggup melangkah lebih jauh lagi. Melihat Jiyoo memejamkan mata dengan perban menghiasi sudut keningnya membuat Eunhyuk merasakan jantungnya berhenti berdetak.

“Yoo..” ia berbisik.

“Oppa, tidak apa-apa. Temani Jiyoo disana,” Hyori tahu-tahu berdiri di samping Eunhyuk. Gadis itu terlihat lebih lega daripada tiga puluh menit yang lalu. “Dia benar-benar merasa bersalah karena membuat oppa kecewa.”

Eunhyuk masih tidak bisa bergerak. “Apa kau yang menemukan Jiyoo tadi?”

“Aku… ada di dekatnya,” ujar Hyori tertahan. Mau tak mau, ia memutar lagi memori saat ia berbalik dan menemukan Jiyoo sudah berada di lantai, matanya tertutup, keningnya berdarah. Hyori menggelengkan kepala. “Tapi sekarang dia sudah baik-baik saja. Kata dokter, Jiyoo akan sadar sebentar lagi, jadi lebih baik oppa ada di sampingnya, bukan begitu?”

Rasanya ada bongkahan batu yang tersangkut di tenggorokan Eunhyuk. Lelaki itu tak bisa mengeluarkan suara dan hanya berbisik lemah. “Syukurlah… syukurlah dia baik-baik saja.”

Eunhyuk melangkah perlahan, menempatkan diri di samping ranjang Jiyoo. Dengan energi yang tiba-tiba lenyap seperti ini, Eunhyuk menjatuhkan diri di kursi yang tersedia di samping ranjang. Tangannya terulur, mencoba menggapai tangan Jiyoo yang terlipat.

“Kau membuatku tidak bisa bernapas lagi,” bisiknya. Eunhyuk menggenggam erat tangan Jiyoo, menciumnya lembut.

Hyori menggigit bibir bawahnya. Luapan rasa lega dan bahagia membanjiri tubuhnya, membuat daerah sekitar matanya menjadi panas. Gadis itu mau saja menangis jika Kyuhyun tidak berada di sampingnya.

“Ayo pulang..” ajak lelaki itu.

Hyori menoleh ke samping dengan tatapan bertanya. “Kenapa kita harus pulang?”

“Memangnya untuk apa lagi?” Kyuhyun mendekatkan tubuh mungil Hyori ke tubuhnya. “Tentu saja agar Jiyoo bisa memamerkan fancam special Lee Hyukjae-nya.”

—-

Eunhyuk membelai lembut helai-helai rambut Jiyoo yang menutupi keningnya yang diperban. Lelaki itu berjaga di ruang rawat Jiyoo, tak peduli beberapa perawat yang melayangkan tatapan heran padanya. Sampai Jiyoo membuka matanya, Eunhyuk ingin jadi orang pertama yang dilihat gadis itu.

Setelah dua jam berada di samping Jiyoo, gadis itu mulai membuka matanya. Eunhyuk menahan napas, menanti Jiyoo benar-benar sadar. Gadis itu mengernyitkan kening, merasakan nyeri di sekitar pelipisnya.

“Yoo?”

Jiyoo membuka matanya yang berat. Bibirnya terbuka perlahan, “Hmm…”

“Gadis bodoh, apa yang sudah kaulakukan? Kau suka berada di rumah sakit ya?” Eunhyuk mengusap lembut pipi Jiyoo. Kelegaan luar biasa menghambur menyapanya. Eunhyuk harus menahan diri untuk tidak menarik Jiyoo ke dalam tubuhnya.

“Kenapa kau ada disini, Poo?” pertanyaan lugu Jiyoo membuat Eunhyuk terkekeh.

“Kenapa aku ada disini? Karena seseorang yang bodoh tiba-tiba membuatku panik setengah mati.”

“Maaf,” ucap Jiyoo pelan. Suaranya parau. “Maaf sudah membuatmu cemas, maaf sudah membuatmu kecewa, dan maaf karena selalu membuatmu kesal.”

Eunhyuk menundukkan kepala untuk mengecup kening Jiyoo. Kecupannya lembut dan dalam, seakan Eunhyuk berharap luka di kening Jiyoo dapat sembuh dengan sentuhan bibirnya. “Maaf juga.”

“Apa?”

“Karena aku sangat mencintaimu.”

“Aku akan minta maaf untuk hal yang sama,” Jiyoo tersenyum. Ia menarik tangan Eunhyuk, mencium punggung tangannya. “Aku sangat mencintaimu.”

“Memangnya siapa lagi yang bisa kaucintai?” tak ada yang lebih ingin dilakukan Eunhyuk selain memeluk dan mencium gadisnya saat ini, tapi sebelumnya ia membisikkan sesuatu, “Aku tahu kau mencintaiku. I love you too…”

Eunhyuk menyentuhkan bibirnya ke bibir Jiyoo yang lembut. Seandainya, hanya seandainya, Jiyoo tak berada di dekatnya lagi, Eunhyuk tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tak akan pernah tahu apa yang bisa dilakukannya.

“Aku tidak membutuhkan barang pasangan atau fancam spesial,” ujar Eunhyuk. “Aku hanya membutuhkan Choi Jiyoo-nya Lee Hyukjae.”

===========================

I’ve lost my humour sense for JiHyuk, jadi gak papalah sekali-sekali JiHyuk agak serius yah… ^-^;

Sorry for the looooong oneshot. *bow*

56 thoughts on “[JiHyukism] The Fancam: 1st Love, 2nd Accident

  1. ehemm…so sweeett!!!sukaa…
    aku selalu nunggu momen jihyuk kaya gini🙂.

    “aku hanya membutuhkan Choi Jiyoo-nya lee hyukjae” ituuu satu kalimat yang palinggg aku suka. hehe

    ditunggu karya selanjutnya *bow ^_^

  2. Ya ampuuun hyukjaeeee kenapa lama banget sihh yoo ketemu first love nya deh !!! Yonghoon kenapa harus bilangbilang kalo dia cinta pertamanya hahhh …
    Tapi yaa usaha jiyoo juga keren walopun harus ada kecelakaan lg. Romantis lagi romantis lagi >.<
    Seperti biasa kyuhyo ga pernah akur ckckck kira kira kalo kyu keteemu cinta pertamanya hyo bakal gimana ya ??? Hahaha

  3. So swiiitttt..sukasuka…
    Hyuk cemburu berat tuh*tunjuk hyuk

    usaha yoo ga sia-sia deh..akhirnya poo maavin dia juga..jihyuk jangan berantem dong..agak serem liat hyuk marah-marah kaya gitu..

    Eonni hwaiting..d tunggu ff2 selanjutnya ya….

  4. walaupun harus berbelasungkawa atas kecelakaan kecil yg menimpa choi jiyoo
    tp sumpah scene terakhir sukses bikin envy berat…

  5. aaaaaaaaaaaa~ ini lucu sekaliihhhh >< aaaaa lucu banget :''''3 Cho Kyuhyun bikin aku salut :3 terus fancamnya bagaimana……sini buat aku aja :]

  6. aaaaaaaaaaaa~ ini lucu sekaliihhhh >< aaaaa lucu banget :''''3 Cho Kyuhyun bikin aku salut :3 terus fancamnya bagaimana……sini buat aku aja😐

  7. aah, so sweet…
    gak kepanjangan kok, unnie suka bc’y.. hehe

    untunglah Yoo gak knp2, klo knp2 kan kasian Poo’y…🙂

    d’tunggu ff2 yg laen..😀

  8. ih waw so sweet bgt ini apa lg bls2an blg cinta2an uwooo

    Dan gk nyangka hyuk bs semarah itu sm yoo, biasanya kn si hyuk yg ngrengek-rengek
    Wkwkwk

    Aduh yoo dmen bener ama rumah sakit #plak
    Kena musibah mulu dah… Tp membawa berkah dpt kisseu wkwkwk

  9. Yoo kcelakaan? lagi? O.o Stlah gara2 mobil, skrg gara2 Fancam? Dan lagi2 itu dari ide gila Shin Hyori? Yaish! Itu Ratu neraka petuahnya bawa sial sekali! *ditendang Kak Nanda* -__-V

    Oke, pdhl dpan2 udh sweet ya… Eciee, Yoo mau k rumahnya ikan teri, ngunjungin calon mertua. haha.. udh mw serius nh critanya. ayo! hyukjae! lamar! lamar! #halahh

    Lalu ktmu First love, ya? wuahh, qu stju bgt ama perasaan Yoo dsni, Kak Shel! Cinta pertama itu, walau udh ga cinta lg, tpi t2p aja sensasi seneng & deg2annya msh suka membekas kalo ketemu… ^^
    Dan apa bgt itu, fancam? haha.. qu lngsung ngakak sendiri, jdi berasa ngaca ke masa lalu gitu. wkwk.. *curcol**dilemparbakiak*

    Aigoo… liat Hyukjae yg marah2, trus Yoo cuma diem tnpa mw melakukan pembelaan apa pun, itu nyesek bgt. gemes pingin lempar kulkas kalo tu kunyuk udh mulai emosian gitu, mojokin Yoo.. :3 *gigit sendal*

    Tapi ya, kak Shel. tiap baca Jihyuk pas ada scene Hyuk emosi ato galau, entah knpa itu kebayang jelas di otakku! dan ngena bgt! kok bisa sh? Kak Shel pasang susuk apa di FF ini? #plakkk
    trus jadi kepikiran… KALO TU KUNYUK MAEN DRAMA KAYAK HAE GITU KAYAKNYA BAGUS JUGA YA!😄

    And last, suka bgt akhrnya mrka baekan juga. Lee Hyukjae-nya Choi Jiyoo pada akhrnya akan selalu berdiri d samping Choi Jiyoo lagi🙂
    tpi emang Yoo hrus kcelakaan dlu ya bru tu kunyuk sadar? -___- *lirik sinis lee hyukjae*

    ENTAR2 KALO HYUK NGAMBEK LAGI, YOO HRUS KCELAKAAN DULU JUGA? LALU BERAPA KALI SAYA HARUS LIAT CHOI JIYOO KECELAKAAN DI BLOG INI CUMA GARA2 MAU ANDA? *emosi akut* –v

    Udah y, kak shel. maaf nyampah.

    • fancam itu sebenernya juga……curhatan terpendam. HA HA HA~
      tuh si hyo tau kok fancam macam apa yang aku ambil. *blushing*
      pokoknya ini mah kejadian sehari-hari yg baru kejadian. xD

      SYUKAA DEH SAMA KOMEN KAMYU~ panjang2 gitu, jadi bahagia bacanya.. :’) *terharu*
      makasihh banyaks yaa~ ^-^

  10. Shelaaaaaa eonniii :3
    aku belum komen ya shellaaaa eonni…
    eonni… eonni,..
    ffnya unyu beuds deh, hasil bertapa selama perjalanan pulang dari matos ya ? :p

    ah. as always hyukjae OPPA ini selalu romantis tis tis. selalu bisa bikin klepek klepek =____________=
    tapi mom suka adegan pas hyukjae OPPA marah sama yoo EONNI perkara fancam, disitu keliatan cowok banget /plak/
    dan tolong hyukjae OPPA kalo ada hal aneh yang menimpa yoo EONNI, jangan salahkan hyori terus, salahkan aja si choco /kicked/
    semacam kangen romantisme jihyuk ya… tapi jikyu tetep berjaya dong ya :p

    • saya nda mau baca komen ini. -___-
      tapi memang kecipta sepanjang perjalanan pulang dari matos sih. xD

      JiKyu kan syuda anda larang~ :*
      saya akan kembali ke jalan yang benar..
      makasihh suda bacaa~ ^-^

  11. Eonnie! Aku suka ff mu! Terutama jihyuk couplenya! Daebak! ^^ ohya, eon. Berhubung aku reader baru nih, aku boleh minta password ‘a night for you nc 21’ ga, eon? Ga boleh yaa? u,u

  12. hallo q reader baru disini
    aaaaa jihyuk couple manx plg sweeeeeeeet deh
    ditunggu cerita lainnya y
    tp boleh gak minta pw a night for you nc 21 nya gak pleaseeee

  13. cinta pertamanya jiyoo kenapa harus bilang ke hyuk tentang semuanya jadinya kan mereka berantem tapi gpp deh dengan begitu cinta jihyuk kan jadi teruji hehehe

  14. Baca JiHyuk yang ini bikin hati jadi galau pas kemunculan cinta pertama Ji Yoo. Tapi untunglah semua berakhir dengan ciuman yang manis diranjang Rumah Sakit. Wkwkwkwk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s