Purple & You [Duabelas/END]

[Long ending~]

Seharusnya aku melakukan hal yang kukatakan,

Aku ingin melupakanmu, menyimpanmu dalam kotak kenanganku,

Tapi bodohnya, siapa pun yang kulihat adalah dirimu dan ke mana pun aku pergi aku pasti menemukanmu…

Pengakuan ini adalah rahasiaku, Lee Hyukjae. Aku merindukanmu…

============================

7:23 PM

Choi Jiyoo menatap lelaki yang sibuk memeriksa tas belanjanya dengan tatapan datar. Walaupun begitu, jantungnya berdebar tak karuan. Wajah dingin yang dipasangnya untuk Lee Hyukjae sama sekali berbeda dengan debaran jantungnya saat ini.

Gadis itu tak perlu bertanya mengapa dan bagaimana Lee Hyukjae bisa berada di dormnya. Shin Hyori berada di pihak Lee Hyukjae, selalu begitu.

Jiyoo sempat memeriksa kamarnya. Udaranya terasa lebih segar, sepertinya Eunhyuk sempat membiarkan jendela kamarnya terbuka. Membuka jendela adalah hal yang jarang dilakukan Jiyoo dan lelaki itu sama sekali belum lupa.

“Apa kau benar-benar mau memasak nasi goreng kimchi? Lagi?” tanya Eunhyuk.

Jiyoo agak terkesiap karena disadarkan dari lamunannya. Ia mengangguk pelan. Melihat wajah Eunhyuk yang menunjukkan rasa tak suka, Jiyoo berkomentar. “Sepertinya aku tidak memintamu untuk makan di sini, kan?!”

“Memang tidak,” jawab Eunhyuk. Ia tersenyum lebar. “Tapi aku yang mau.”

“Dengar ya, Lee Hyukjae, aku sangat lelah hari ini, kau tidak perlu menambah bebanku lagi,” Jiyoo bangkit dari sofa dan merebut tas plastik belanjaannya. “Apapun yang akan kumasak sama sekali tidak membutuhkan persetujuanmu.”

Eunhyuk mengangguk lugu. “Memang. Apa aku bilang kalau aku tidak setuju?”

“Ya! Kau ini– WAAA!” lampu ruang tengah tiba-tiba padam. Jiyoo yang berdiri tak jauh dari Eunhyuk langsung menyambar lengan Eunhyuk dan mendekat ke arahnya. “Kenapa ini? Lampunya…”

Eunhyuk memindahkan tangan Jiyoo perlahan ke tangannya sendiri. Ia mengaitkan jemari Jiyoo di antara jemarinya. “Biar kuperiksa.”

Lelaki itu berjalan pelan sambil tetap menggenggam tangan Jiyoo. Ia menyibak tirai dan menemukan kegelapan serupa di luar sana. Walaupun sudah memeriksa sekring dorm ini, Eunhyuk tetap tidak bisa membuat perubahan apa-apa.

“Kurasa ini pemadaman menyeluruh, bukan hanya dorm ini,” Jiyoo bisa melihat samar-samar Eunhyuk mengangkat bahu. “Kau punya lampu cadangan, kan?”

Kekhawatiran menyergap batin Jiyoo. Ia menggigit bibir. “Ada, tapi…”

“Biar kutebak, belum kau isi ulang?” terka Eunhyuk. Ia tahu tebakannya tepat. Jiyoo sama sekali tak mengucapkan apa-apa untuk menyangkal. “Lilin?”

Jiyoo mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. “Ada di laci dapur.”

Eunhyuk hendak melangkah ke dapur saat Jiyoo menahannya. “Kenapa?”

“Anu, aku… tidak suka sendirian di saat lampu padam seperti ini, jadi–“ kedua mata Jiyoo jelas membulat walaupun tak ada yang bisa melihatnya. Eunhyuk menarik Jiyoo mendekat hingga gadis itu bisa merasakan lengan kuat Eunhyuk menyentuh lengannya.

“Kalau begitu ikut saja,” ujar Eunhyuk.

Lelaki itu berhasil menyalakan lima batang lilin untuk menerangi ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Jiyoo merasa tak nyaman, namun ia juga tak ingin memisahkan diri dari Eunhyuk. Keduanya duduk di sofa yang sama, berdampingan, dengan jantung yang berdebar tak terkendali.

“Aku harus mandi,” gumam Jiyoo pelan.

Eunhyuk mengendikkan bahu, menunjuk pintu kamar mandi yang terbuka. “Mandi saja.”

“Kau akan tetap di sini, kan? Menungguku hingga selesai mandi?” pertanyaan itu jelas konyol. Jiyoo merasa itu bukan pertanyaan yang cocok untuk ditanyakan pada lelaki yang bergelar sebagai mantan kekasihnya.

Dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan, Eunhyuk menatap wajah Jiyoo. Lelaki itu yakin sekali melihat wajah Jiyoo merona di tengah cahaya lilin-lilin ini. Eunhyuk juga melihat binar mata Jiyoo yang berkilau indah.

“Kau ingin aku di sini? Bukankah tadi kau menyuruhku pergi?” goda Eunhyuk.

“Ya!” Jiyoo berseru tapi segera menurunkan nada suaranya. “Itu… tadi. Kalau lampunya tidak padam, aku pasti sudah mengemis agar kau pulang. Tapi sekarang lampunya–“

“Arasseo, aku sudah menyalakan lilin di kamar mandi, kan?” Eunhyuk tersenyum kecil.

Jiyoo melirik kamar mandi yang terbuka. Cahaya remang terpancar di sana. Jiyoo paling tidak suka keadaan seperti ini; gelap, tapi ia juga harus mandi. Seluruh tubuhnya terasa lelah dan ia sangat ingin menyegarkan diri.

“Kenapa lagi?”

“Pintunya… boleh kubiarkan terbuka?” tanya Jiyoo ragu.

Tawa Eunhyuk meledak, membahana di udara. Lelaki itu bisa melihat wajah kesal Jiyoo. “Mian, mian. Apa kau serius, mandi dengan pintu terbuka sementara seorang lelaki berada di dekatmu?”

“Dwaesseo! Harusnya aku tidak bicara begitu!” omel Jiyoo. Gadis itu bergegas menyambar sebatang lilin dan berjalan masuk ke kamarnya. Setelah membawa sehelai handuk biru dan pakaian ganti, Jiyoo melengos tak ingin menatap Eunhyuk.

Eunhyuk tertawa kecil. Ia sadar satu hal. Seharusnya ia tak perlu heran lagi kenapa ia selalu merindukan gadis bernama Choi Jiyoo ini.

Seluruh sel gadis itu seolah menarik untuk diperhatikan. Setiap ekspresi wajahnya, caranya berbicara, dan sifat kekanak-kanakannya. Eunhyuk menyukai semuanya.

“Eumm… Lee Hyukjae!” seru Jiyoo dari kamar mandi. “Jangan kemana-mana!”

Eunhyuk tersenyum lebar. Ia menyukai semuanya, termasuk yang satu ini.

—-

Kang Minhyuk memainkan kedua stik drumnya tanpa minat. Pikirannya sudah melayang sejak tadi. Dalam lima menit sekali, ia pasti memeriksa ponsel, menerka-nerka apakah gadis itu akan menghubunginya jika pertemuannya dengan Song Eunhee sudah selesai.

Nyatanya, gadis bernama Choi Jiyoo itu tak meninggalkan apapun untuk Minhyuk.

Jika Minhyuk mau, ia tentu saja dapat bertanya melalui Song Eunhee, tapi keinginannya untuk mendengar semuanya hanya dari Jiyoo terlalu kuat. Minhyuk, entah bagaimana pun caranya, harus memastikan gadis itu baik-baik saja sekarang.

Minhyuk melirik ketiga membernya dari balik seperangkat drum. Pandangannya beralih pada jam digital yang diletakkan di atas keyboard. Pukul sembilan nanti, paling lambat. Minhyuk akan  menemui gadis itu. Harus.

“Choi Jiyoo tidak akan mendengar pikiranmu, jadi berhentilah memikirkannya,” sela Jonghyun.

“Eunhee noona menemuinya hari ini,” Minhyuk menjawab dengan nada datar. Ia bisa melihat Jonghyun membulatkan kedua matanya. “Karena itu aku harus tahu apa yang mereka bicarakan. Sekaligus memeriksa apa gadis itu baik-baik saja.”

Jonghyun menggeleng-geleng pelan. “Ck, kau benar-benar menyukainya?”

“Itu… tidak seperti itu, aku hanya–“

“Kapan kau akan memberitahunya?” lirikan mata Jonghyun beralih pada penjepit rambut berbentuk pita dengan warna ungu muda yang terselip di saku blazer Minhyuk.

Penjepit rambut itu sudah ada sejak Jonghyun mengenal Minhyuk. Lelaki itu tahu benda itu punya kenangan sendiri saat Minhyuk masih anak-anak. Hanya saja, ia tak menduga bahwa kenangan Kang Minhyuk berhubungan dengan Choi Jiyoo.

Jonghyun pernah mendengar cerita Minhyuk soal ini. Tapi kemudian ia kembali terkejut; Kang Minhyuk menemukan gadis kecilnya di stasiun televisi.

“Kukira dia bagian dari staf, tapi ternyata dia pacarnya,” penjelasan Minhyuk membuat Jonghyun mengerutkan kening. “Dia… pacar Eunhyuk hyung.”

Jonghyun memberi saran agar Minhyuk berkenalan dengan gadis itu. Minhyuk harus pelan-pelan membuat gadis itu mengingat kejadian saat keduanya masih kecil. Tentu saja Minhyuk menuruti saran itu.

Minhyuk sering mencoba menyapa gadis itu dengan tersenyum lebar. Jonghyun selalu berada di sampingnya ketika ia melakukan itu. Usaha Minhyuk tidak main-main, Jonghyun berani menjaminnya.

Hanya saja, gadis itu sama sekali tak memerhatikan Minhyuk. Setelah balas tersenyum, gadis itu akan berjalan menjauh, tak memberi Minhyuk kesempatan untuk berkenalan apalagi mengobrol. Bukan salah gadis itu, sebenarnya.

Bukan salah Choi Jiyoo jika apapun yang dilihatnya hanya Lee Hyukjae.

Semuanya tetap berjalan seperti itu sampai Super Junior memulai karir Eropanya di Paris. Jonghyun tahu Minhyuk tidak sabar untuk memberitahu Jiyoo soal mereka, tapi ia hanya bisa tercengang ketika Minhyuk memutuskan akan bermain-main terlebih dahulu dengan ikatan Jiyoo dan Eunhyuk.

“Hanya ini caranya supaya dia tidak melupakanku lagi,” ucap Minhyuk saat Jonghyun bertanya alasan lelaki itu melakukan ini.

Kang Minhyuk bukan orang yang jahat. Mungkin benar ia hanya cemburu karena Jiyoo menyukai Eunhyuk lebih dalam daripada yang dibayangkannya, tapi gagasan tentang memutuskan ikatan dua orang itu membuat Jonghyun bergidik.

Walaupun begitu, Jonghyun tahu Minhyuk sedang merasa bersalah saat ini.

Melihat Choi Jiyoo dengan keadaan seperti itu, Minhyuk sudah berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri. Jonghyun tahu adik kecilnya itu akan berusaha memperbaiki semuanya. Termasuk memperbaiki Choi Jiyoo, mungkin.

Minhyuk mengangkat bahu. Ia menarik napas panjang sebelum mengembuskannya keras. “Aku tidak tahu. Apa harus kukatakan malam ini?”

“Molla,” Jonghyun kembali sibuk menyetel ulang gitarnya. Ia kemudian merasa frustasi sendiri. “Kalau kau berencana memberitahunya, seharusnya kau meninggalkan kesan yang baik, Kang Minhyuk, bukannya melakukan itu. Kau justru membuatnya patah hati.”

Senyum Minhyuk terangkat miring. “Itu salah satu cara agar aku mendapat perhatiannya.”

“Tch~ pastikan saja dia tidak akan langsung menendangmu keluar dormnya,” Jonghyun mendengus kesal. Kang Minhyuk terkadang bisa menjadi sangat sulit dimengerti.

Minhyuk tersenyum puas. “Tenang saja. Aku akan mengajaknya bertemu di luar dorm agar dia tidak bisa menendangku keluar.”

—-

“Lee Hyukjae?” Jiyoo memanggil lelaki itu untuk kesekian kalinya. Ia menggigit bibir, menunggu sahutan dari orang yang dipanggilnya.

“Disini!” seru Eunhyuk nyaring. Matanya melirik pintu kamar mandi yang tertutup. Tiba-tiba saja ia merasa geli mengingat kembali Jiyoo yang mengurungkan niatnya untuk membiarkan pintu kamar mandi terbuka. Gadis itu benar-benar tak bisa ditebak.

Jiyoo mengembuskan napas lega saat mendengar suara itu. Dengan rambut panjangnya yang  sedikit basah, ia keluar kamar mandi sambil membawa lilin yang setengah meleleh. Gadis itu membiarkan handuk birunya melingkar di bahu.

“Sudah?” tanya Eunhyuk. Walaupun ruangan itu hanya diterangi beberapa batang lilin, Jiyoo yakin sekali lelaki itu sedang tersenyum menyeringai.

Jiyoo mengangguk. “Kalau… kau mau pulang sekarang–“

“Aku tidak akan kemana-mana, jangan takut,” Eunhyuk memandangi binar mata Jiyoo yang terpancar karena cahaya lilin.

Jiyoo berdeham salah tingkah. “Tidak apa-apa, kalau kau mau pergi sekarang, aku tidak akan melarangmu.”

“Apa ini konsep yang kaupakai pada hubungan kita?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Eunhyuk. “Kau akan tetap membiarkanku pergi walaupun aku sudah bilang aku tidak akan kemana-mana?”

“Sama sekali tidak ada hubungannya,” ujar Jiyoo dengan kepala tertunduk. Ia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Gerakannya terkesan hati-hati, terlihat jelas sekali jika gadis itu sedang berusaha mengganti topik pembicaraan.

Eunhyuk tersenyum kecil. “Mungkin aku memang terlalu terpengaruh dengan kejadian itu.”

Lelaki itu enggan menggunakan kata perpisahan dan lebih memilih untuk menggantinya dengan variabel lain. Untuk beberapa saat, keduanya membiarkan pikiran mereka mengambil alih. Cahaya remang-remang dari lilin tak membantu Jiyoo untuk menyembunyikan raut wajahnya yang tegang.

“Mau kubantu?” tanya Eunhyuk, memecahkan keheningan.

Jiyoo mendongak, memandangi Eunhyuk dengan alis terangkat. “Bantu apa?”

“Mengeringkan rambutmu,” lelaki itu mengangkat bahu santai. “Kau hanya mengusap-usap rambutmu, mana bisa cepat kering?”

“Ah…” Jiyoo menghentikan gerakannya yang memang sangat konstan. Kenapa ia bisa begitu gugup di depan Lee Hyukjae? Gadis itu menelan ludah. “Tidak perlu.”

Eunhyuk berdecak tak sabar. Lelaki itu meraih handuk biru dari tangan Jiyoo dan menempatkan diri di belakang punggungnya. Saat Eunhyuk mendekat, aroma wangi khas Choi Jiyoo menyerbak memenuhi rongga hidungnya.

“Wanginya sama,” gumam Eunhyuk.

Jiyoo merasakan punggungnya menegang. Perutnya serasa dililit dengan kawat besi.

Tangan Eunhyuk bergerak perlahan, mengusap-usap rambut panjang Jiyoo dengan handuk. “Apa perasaanmu jadi lebih baik? Saat aku tidak ada di sampingmu.”

“Mm,” bisik Jiyoo pelan.

Eunhyuk mengangguk-angguk lega. “Begitu? Baguslah.” Lelaki itu kemudian menghentikan gerakan tangannya. Ia mengeluarkan seuntai kalung dengan bandul cincin yang sejak tadi disimpannya dalam saku. “Kau tidak berbohong, kan?”

Gadis yang diajak bicara hanya diam. Tangan Jiyoo sibuk memilin-milin ujung kemeja kotak-kotaknya, kebiasaan yang selalu dilakukannya saat sedang berbohong. “Mm. Aku… baik-baik saja tanpamu dan kuharap kau juga… begitu.”

Tidak, tidak. Jiyoo tidak baik-baik saja tanpa Eunhyuk. Walaupun sekarang ia masih bisa hidup, tapi napasnya sudah tersengal-sengal. Hanya masalah waktu untuk merasakan udara di sekelilingnya menghilang.

Jiyoo juga tak ingin Eunhyuk baik-baik saja tanpanya. Seandainya lelaki itu juga merasakan apa yang dirasakan Jiyoo, semuanya akan terasa lebih melegakan.

Egois lagi. Jiyoo belum bisa menghilangkan sifatnya yang satu itu. Tidak, setidaknya ia akan tetap menyimpan sifat itu hanya untuk Eunhyuk.

Gadis itu terkesiap saat benda dingin menyentuh tengkuknya. Jiyoo merasakan sesuatu melingkari lehernya hingga ia harus meraba benda itu. Sebuah benda mungil berbentuk lingkaran tergantung menghiasi lehernya.

Jiyoo membalikkan badan menghadap Eunhyuk. “Apa ini?”

“Cincinmu,” ujarnya tenang. “Kukembalikan.”

“Aku tidak membutuhkannya, jadi–“

“Tapi dia membutuhkan pemiliknya. Walaupun tidak kaupasang di jarimu, dijadikan kalung seperti ini juga tidak jelek, kan?” Eunhyuk tersenyum samar. Jiyoo bergeming, tangannya masih menyentuh cincin putih yang kini berpindah tempat. “Jangan minta aku untuk pergi lagi. Kumohon.”

Jiyoo mengerjapkan matanya berulang kali sebelum berdiri membelakangi Eunhyuk. “Kau tidak perlu melakukan ini.”

Lelaki yang masih terduduk di tempatnya itu tersenyum. Eunhyuk berdiri dan meraih tangan Jiyoo. “Aku… merindukanmu.”

Bisikan itu terdengar seperti sebuah mantra; mantra ampuh yang dapat membuat Jiyoo merasakan hembusan angin lembut membelai kedua pipinya. Sentuhan Eunhyuk yang hangat menimbulkan sensasi menyenangkan yang mengaliri tubuhnya. Jiyoo mengepalkan tangannya yang bebas, menahan diri untuk tak berbalik.

Jika Jiyoo membalikkan badan, ia tak bisa menjamin ia tak akan menjatuhkan diri ke dalam pelukan lelaki itu.

Eunhyuk seperti bisa mendengar pikiran Jiyoo. Ia menyentakkan tangannya dengan kekuatan yang cukup untuk membuat Jiyoo berbalik. Lelaki itu tersenyum lembut. Tangan kirinya masih menggenggam tangan kanan Jiyoo. Ia mungkin tak akan tahu bagaimana caranya melepaskan tangan kecil itu lagi.

Dengan tarikan lembut, Eunhyuk memeluk Jiyoo dengan satu tangannya yang bebas. Tangan kanannya melingkar di bahu Jiyoo. Aroma rambutnya yang masih setengah kering membuat Eunhyuk menarik napas dalam-dalam untuk menghirup wangi rambut gadis itu.

“Dengar baik-baik,” bisiknya. “Aku sama sekali belum bosan untuk menjadi satu-satunya orang yang paling mengerti Choi Jiyoo.”

Jiyoo merasakan desakan kuat untuk menangis dari kedua matanya. Ia bisa mendengar debaran jantung Eunhyuk yang tak jauh berbeda dengan miliknya sendiri. Kedua matanya terpejam rapat.

Ia, Choi Jiyoo, begitu ingin membiarkan dirinya terhanyut pada semua kenyamanan ini.

Sentuhan, pelukan hingga bunyi tak teratur dari jantung Eunhyuk adalah godaan yang tak akan ditolaknya saat ini. Jiyoo menarik napas seolah ingin menyimpan aroma maskulin lelaki itu dalam kotak memorinya. Semua ini begitu menyenangkan. Dan menenangkan.

“Aku yang punya bakat alam itu,” tegas Eunhyuk lagi. “Selain aku, tidak akan ada yang lain.”

—-

Minhyuk berdiri di depan pintu kayu bercat putih. Tangannya menggenggam erat hiasan rambut ungu muda milik Jiyoo kecil. Ia begitu ragu, tapi juga begitu bersemangat pada saat yang bersamaan. Terdengar gila, tapi ia benar-benar ingin memiliki si gadis kecil dalam kenangannya itu.

Tarikan napasnya terasa menyesakkan. Dengan gerakan pasti, ia menekan bel dan bersandar di dinding, menunggu.

Tatapannya melebar saat melihat Eunhyuk membuka pintu seraya membawa sebatang lilin di tangan. Minhyuk mengerutkan kening. “Kenapa–“

“Kenapa aku ada di sini?” potong Eunhyuk. Nada suaranya datar, penuh kewaspadaan. “Aku… mencoba mengambil milikku kembali.”

“Jangan bermimpi,” Minhyuk mendengus dengan nada skeptis. “Mana Jiyoo?”

Eunhyuk menghela napas panjang. Tubuhnya menjadi dinding pembatas pintu agar Minhyuk tak dapat masuk ke dorm Jiyoo. “Harusnya aku mengatakan ini saat kau masih di Paris,” ujarnya tenang. “Kesempatan yang kaukatakan… aku tidak akan pernah memberikannya.”

“Kau sudah selesai dengannya. Sekarang giliranku.”

“Aku bukan memintanya,” ucap Minhyuk tegas. “Aku memang memiliki kesempatan itu sejak dulu.”

Eunhyuk mengernyitkan kening saat mendengar kata ‘dulu’. Sejak dulu? Sejak kapan?

Minhyuk mengabaikan tatapan ingin tahu milik Eunhyuk. Lelaki itu mengendikkan bahu ke arah bahu Eunhyuk, menyuruhnya minggir dari pintu. Langkahnya terhenti di langkah pertama melewati Eunhyuk. “Kalau kau ingin tahu, kau boleh di sini.”

Eunhyuk bergeming. Walaupun tak ingin berada dalam satu ruangan dengan Kang Minhyuk, ia menurut juga. Eunhyuk duduk di kursi makan setelah meletakkan lilin di meja ruang tamu.

“Hai,” sapa Minhyuk ketika Jiyoo muncul dengan rambut yang benar-benar sudah kering.

Jiyoo memandang Minhyuk bergantian dengan Eunhyuk. Gadis itu menatap keduanya dengan pandangan bingung yang sama. “Sedang apa kau di sini?”

“Ada sebuah pengakuan yang ingin kukatakan,” ujar Minhyuk tenang. Eunhyuk sendiri sudah merasakan punggungnya menegang. Minhyuk menyodorkan tangan kanannya yang terkepal, menggenggam sesuatu. “Apa kau ingat benda ini?”

Sebuah jepitan rambut dengan bentuk pita berwarna ungu membuat kenangan itu melintas di kepala Jiyoo. Perlahan, ia menyentuh benda itu sebelum meraihnya ke dalam genggamannya sendiri.

“Kau…”

“Apa kau masih mengenaliku?” tanya Minhyuk penuh harap. Tanpa menunggu jawaban Jiyoo, ia tahu jawabannya. “Aku sudah tahu itu kau sejak bertemu lagi denganmu. Hanya saja, aku tidak pernah punya kesempatan untuk.. untuk memperkenalkan diriku sekali lagi.”

Keduanya saling menatap. Jiyoo melihat senyuman samar yang dikulum Minhyuk. Itu pertama kalinya Jiyoo melihat senyuman memesona dari Kang Minhyuk.

“Annyeong, Kang Minhyuk imnida. Aku anak laki-laki yang dulu bertemu denganmu di stasiun. Kau anak kecil yang menangis karena tersesat dan terpisah dari ibumu, kan? Aku… sangat menyukaimu sejak itu,” Minhyuk berkata pelan. “Aku masih menyukaimu sampai saat ini. Apa kau masih ingat aku?”

Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Ia merasakan tatapan tajam dari Eunhyuk yang duduk tak jauh dari tempat Jiyoo berdiri. “Aku… mengingatmu. Selalu mengingatmu.”

Jawaban itu menimbulkan dua sensasi berbeda untuk dua lelaki yang berada di ruangan yang sama. Minhyuk mengembangkan senyum lebarnya, yang entah bagaimana, terlihat tulus dan lembut. Sementara bagi Eunhyuk, tangannya mulai terasa agak sakit karena sejak tadi terkepal kuat.

Pertanyaan besar memenuhi tengkoraknya. Siapa Kang Minhyuk bagi Choi Jiyoo; Choi Jiyoo-nya?

“Aku juga menyukaimu,” ujar Jiyoo. “Tapi tidak seperti yang kaupikirkan.”

“Kalau begitu, apa aku punya kesempatan untuk mendapatkan rasa suka yang selalu kupikirkan?”

Jiyoo merasakan tekanan berat menghimpit tubuhnya. Untuk beberapa alasan, ia senang bisa memastikan bahwa anak laki-laki itu memang Kang Minhyuk. Tapi kenapa semua itu harus terbongkar di depan Eunhyuk?

Melihat Eunhyuk kembali dan menunggunya di dorm ini membuat Jiyoo kehilangan keteguhan hatinya sekali lagi. Ia sudah bertekad akan melupakan lelaki itu –setidaknya hingga Song Eunhee datang menemuinya. Semuanya berlangsung terlalu cepat, terlalu membingungkan.

Jiyoo melirik Eunhyuk melalui ekor matanya. Ia tak bisa berpaling lagi saat menemukan lelaki itu juga sedang menatapnya dengan intens.

Eunhyuk berbisik dalam diam. “Katakan jawabanmu.”

—-

Song Eunhee meletakkan cangkir berisi teh hangat ke atas meja. Gadis itu menarik perhatian Jiyoo dan ia tak tahan untuk tak memberi penilaian. Jiyoo mulai memerhatikan setiap detil dari Song Eunhee.

Wajahnya oval, membentuk huruf V dengan kulit putih bersih. Jiyoo memberi nilai 9 untuk wajah Song Eunhee. Rambutnya panjang dan lurus, berbeda dengan milik Jiyoo yang sedikit ikal, 8,5 untuk rambutnya. Jiyoo menelan ludah. Dengan sekali lihat, ia menarik rata-rata 9 untuk penampilan Song Eunhee.

“Kau bilang tidak mau membicarakan Lee Hyukjae?” tanya Eunhee. Jiyoo mengangguk ragu. “Bagaimana ya.. justru itu yang mau kubicarakan.”

Jiyoo menarik napas panjang. Tangannya memegang erat cangkir di hadapannya. “Apa yang… mau kaubicarakan?”

“Menurutmu?”

“Kau ingin aku menolaknya walaupun dia berusaha untuk memintaku kembali? Tenang saja, aku sudah melakukannya saat di Paris,” ucap Jiyoo datar.

Eunhee tersenyum kecil, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Aku bukan wanita yang sejahat itu. Aku ingin bertanya, apa kau masih membutuhkannya? Atau kau sudah tidak membutuhkannya lagi hingga kau membuangnya seperti itu?”

“Aku tidak membuangnya!” nada suara Jiyoo meninggi. Ia kemudian berdeham salah tingkah. “Aku tidak… Semuanya tidak seperti itu.”

“Aku tahu,” gumam Eunhee. “Kau masih membutuhkannya. Sangat.” Ia sengaja menekankan kata itu. “Tapi kenapa? Kenapa kau melepaskannya saat kau masih membutuhkannya? Kenapa kau mengusirnya saat dia tidak punya tempat kemana pun untuk tinggal?”

Jiyoo merasakan tenggorokannya kering. Ia meneguk teh yang sudah dingin dan membiarkan cairan manis itu membasahi tenggorokannya.

“Aku juga masih membutuhkannya saat aku meninggalkannya,” Eunhee tersenyum samar. “Tapi aku terlalu bodoh untuk tidak merasakan perasaan itu. Aku berniat merebutnya kembali, tapi aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu membuat Eunhee tertawa. “Menurutmu kenapa? Tentu saja itu karena kau. Dia sangat menyedihkan, terlibat cinta yang sedalam ini denganmu. Tapi biar kutebak, kau juga sama dengannya, bukan?”

Jiyoo merasakan rasa panas menjalar di kedua pipinya. Ia tak pernah membicarakan perasaan gila seperti apa yang mengikatnya pada Eunhyuk, tidak pada siapapun, termasuk Hyori. Mengakui perasaan jatuh cinta tanpa dasar seperti ini membuat Jiyoo malu.

“Ternyata benar.” Eunhee tersenyum lembut. “Kalian membuatku iri.”

“Kami tidak akan membuat siapapun iri lagi,” ujar Jiyoo ragu. “Kami sudah berpisah, dan sekarang hanya masalah waktu hingga kami saling melupakan.”

Eunhee tergelak, namun tetap terlihat anggun –sesuatu yang membuat Jiyoo iri. “Menurutmu begitu? Apa kau yakin?”

“Ya, eh mungkin tidak,” aku Jiyoo jujur. Kepalanya tertunduk. “Aku mencoba.”

“Jangan,” sahut Eunhee cepat. “Jangan pernah mencoba melakukan hal yang memang tidak bisa kaulakukan. Itu seperti tindak kekerasan untuk dirimu sendiri dan Lee Hyukjae.”

—-

The next day

Choi Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Ia terduduk di ranjang sambil menatap lurus ke jendela dengan tirai warna ungu muda. Kedua matanya terlihat lelah tapi ia tak bisa tidur.

Sejak semua hal yang terjadi semalam, Jiyoo tak bisa memejamkan mata bahkan hanya untuk sedetik. Secara mental dan fisik seharusnya ia sudah kelelahan, tapi nyatanya otaknya menolak untuk memberi perintah yang benar. Ia seolah tak bisa mengendalikan tubuh dan pikirannya sendiri.

Eunhyuk dan Minhyuk pulang tanpa mendapat jawaban apapun dari Jiyoo. Keterlaluan, Jiyoo tahu benar hal itu.

Seandainya bisa, ia sangat ingin memberikan jawaban yang memang diharapkan semua orang. Tapi kenyataannya, Jiyoo tak akan bisa membuat keputusan tanpa melukai pihak yang lainnya. Walaupun tak secara langsung, Jiyoo tahu ia sudah melukai satu orang; Song Eunhee.

Jiyoo mendesah berat. Song Eunhee masih peduli pada Lee Hyukjae. Tentu saja dalam kadar yang mungkin tak berbeda sejak dulu.

Jika ia tidak bisa menentukan sikap untuk kedua lelaki itu, ia yakin bukan hanya dirinya sendiri yang terluka. Baik Lee Hyukjae dan Kang Minhyuk akan mendapat luka yang sama dengannya. Seperti berada dalam perahu yang sama, Jiyoo bisa saja membuat kedua lelaki itu tenggelam bersama.

Seandainya kedua orang itu bisa berenang, Jiyoo tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.

Namun sepertinya kenyataannya tidak sesederhana itu. Walaupun mereka bisa berenang dan menyelamatkan diri mereka sendiri, apa mereka mampu melakukannya? Jiyoo bisa menjamin kata tidak untuk jawabannya.

Jiyoo mengerang, membenamkan wajahnya dalam bantal. Pikirannya benar-benar tak bisa diajak berdiskusi saat ini, jadi ia memutuskan untuk mengambil handuk dan melangkah gontai meninggalkan ranjang ungunya.

Sebelum mencapai kamar mandi, Jiyoo meletakkan dua benda yang sejak tadi menempel di tubuhnya. Di atas sebuah meja kayu, ia menghela napas. Kedua benda itu tergeletak berdampingan.

Seuntai kalung berbandul cincin putih dan sebuah jepit rambut berbentuk pita ungu.

—-

“Annyeong, Kang Minhyuk imnida. Aku anak laki-laki yang dulu bertemu denganmu di stasiun. Kau anak kecil yang menangis karena tersesat dan terpisah dari ibumu, kan? Aku… sangat menyukaimu sejak itu.”

“Aku masih menyukaimu sampai saat ini. Apa kau masih ingat aku?”

 “Aku… mengingatmu. Selalu mengingatmu.”

“Mwo? ’Selalu mengingatmu’?” Eunhyuk mencibir. Lelaki itu masih terbaring di ranjang. Kedua tangannya menjadi bantal untuk kepalanya sendiri.

Eunhyuk tak bisa berpikir dengan jernih sejak semalam. Kalimat-kalimat Minhyuk dan Jiyoo melayang-layang di kepalanya hingga membuatnya frustasi. Keduanya saling mengenal, bahkan jauh sebelum Eunhyuk mengenal Jiyoo? Tidak masuk akal.

“Mwoya, memangnya ini drama televisi? Lucu sekali,” ia, sekali lagi, mencibir kesal.

“Hebat juga ya, semuanya serba kebetulan. Menarik sekali, bukan?” Kyuhyun yang sedang duduk bersila di lantai sambil bersandar membuka suara.

Eunhyuk mendengus. “Untukmu memang menarik, tapi untukku semua ini sangat menyebalkan!”

“Waeyo?” Hyori, yang sejak tadi duduk sambil memutar-mutar kursinya, bertanya lugu.

“Menurutmu kenapa?” balas Eunhyuk.

Untuk sesaat, gadis itu tampak berpikir. Hyori kemudian mengangguk-angguk mengerti. “Aah~ karena Oppa akan kalah jika dibandingkan dengan Kang Minhyuk? Begitukah?”

Eunhyuk membasahi bibirnya kemudian berseru, “Yah! Kenapa aku harus kalah? Apalagi dengan Kang Minhyuk itu. Aku sudah bersama Jiyoo selama setahun lebih, ani, kami hampir dua tahun!”

“Tapi Kang Minhyuk mengenal Jiyoo sejak umurnya 7 tahun,” timpal Hyori, membuat Eunhyuk mendadak kehilangan suaranya.

“Tapi belum tentu Jiyoo akan memilih Kang Minhyuk, kan? Bagaimana pun, anak itu tahu siapa laki-laki jelek yang selalu dibutuhkannya,” ujar Kyuhyun singkat.

Eunhyuk mengangguk-angguk, membenarkan. “Ne, ne, aku ini laki-laki jelek– Yah, yah! Apa maksudmu dengan ‘jelek’?!”

“Pokoknya,” potong Kyuhyun cepat. “Buat Jiyoo memilih. Setelah dia memilih, masalah selesai!”

—-

3:22 PM – Dorm

Choi Jiyoo berjalan santai menyusuri koridor apartemennya. Gadis itu sempat merogoh tasnya untuk mengambil kunci dengan gantungan strawberry. Alisnya mulai terangkat saat ia menemukan sebuah kartu dengan rantai di atasnya tergantung di kenop pintu apartemennya.

Kartu itu berukuran 10×10 cm dengan dekorasi warna ungu di depannya. Jiyoo menelan ludah, mendadak menyadari siapa pengirim kartu itu. Jantungnya terasa mencelos saat tebakannya benar.

Choi Jiyoo, mYOO.

Tempat pertama kali kita bertemu. Hari ini. 4:04 PM.

I’ll wait. ^-^

Lee Hyukjae. Your Poo.

“Eo? Sudah pulang?” Hyori tiba-tiba membuka pintu. Jiyoo menatapnya dan ia tahu pasti Shin Hyori itu tahu semuanya. Semuanya terlihat melalui senyum pura-pura polosnya yang lebar.

Jiyoo berjalan masuk mendahului Hyori. Sambil tetap memegang kartu dari Eunhyuk, ia menggeletakkan tasnya di karpet ruang tengah. Ia baru saja akan meminta pendapat Hyori saat denting singkat terdengar dari saku blazernya.

Gadis itu perlahan mengernyitkan kening. Sebuah pesan menghiasi layar ponselnya dan entah bagaimana, Jiyoo mendadak merasakan tekanan dari semua arah.

[Kang Minhyuk]

Apa kau bisa menemuiku setengah jam lagi? Di stasiun tempat kita bertemu. Aku akan menunggumu.

“Aku bisa gila!” seru Jiyoo.

“Eh? Wae?” Hyori mencondongkan tubuhnya untuk melirik pesan yang baru saja sampai ke ponsel Jiyoo. “Masalah lagi.”

Jiyoo merasa kepalanya mulai pening. Dalam kedua tangannya sekarang ada dua benda yang masing-masing mengirimkan perintah yang sama. Pukul empat sore. Tempat pertama bertemu. Jiyoo menghela napas.

Hyori menggigit bibirnya. “Bagaimana ini? Waktunya sama. Siapa yang akan kaupilih?”

“Jangan. Tanya. Aku.” Jiyoo menjatuhkan diri di sofa dengan punggung disandarkan ke sandaran sofa. “Apa yang sedang mereka lakukan? Mempermainkanku?”

“Eii~ mana mungkin,” timpal Hyori santai. “Tapi ini benar-benar DAEBAK! Mereka meminta bertemu di waktu yang sama tapi di tempat berbeda!” Jiyoo melirik Hyori tajam. Sepertinya Hyori sangat menikmati adegan ala drama yang sekarang sedang terjadi di depan matanya. “Ah! Kau dan Eunhyuk oppa… di mana kalian pertama kali bertemu?”

“Stadium Olympic?” Jiyoo mengingat-ingat. “Waktu itu… aku sedang menonton konser mereka. Kalau tidak salah.”

Hyori mengerutkan kening. “’Kalau tidak salah’? Kalau salah, bagaimana?”

“Mana mungkin. Konser mereka selalu diadakan di sana, kan?” Jiyoo tertawa kecil.

“Kalau stadium Olympic… bukankah itu sangat jauh dari stasiun?!” pekik Hyori nyaring. “Lalu bagaimana dengan Kang Minhyuk?”

Jiyoo mendesah berat. Ia memandangi kartu dan ponsel yang masih berada dalam kedua tangannya. “Bukankah seharusnya kau juga mengkhawatirkan Lee Hyukjae?”

“Yah! Apa kau tidak akan memilih Eunhyuk oppa?”

Sambil sekali lagi mengembuskan napas, Jiyoo bangkit dari tempatnya dan mengangkat bahu. “Aku pergi dulu~”

“Yah, yah! Beri tahu aku kau akan kemana~!”

—-

4:00

Kang Minhyuk duduk tepat di depan pintu masuk stasiun. Gerimis yang turun rintik-rintik membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan dan bermain air. Senyumnya terkembang mengingat pesan yang telah dikirimkannya untuk Jiyoo.

Sebenarnya, ia sangat berharap Jiyoo akan datang. Minhyuk ingin menunjukkan pada Jiyoo tempat yang penuh kenangan ini. Ia ingin Jiyoo tahu bahwa setiap ia bertemu dengan Jiyoo yang sama sekali tak mengenalinya, ia selalu datang ke stasiun ini.

“Ada banyak hal yang ingin kuberitahu, Choi Jiyoo,” gumamnya pelan.

Saat Minhyuk mendongak, kedua matanya membulat. Seseorang sudah berdiri di hadapannya dengan memegang sebuah payung cokelat.

—-

Lee Hyukjae menarik napas panjang. Kedua tangannya bertaut erat, berharap hal itu dapat mengurangi debaran jantungnya yang berantakan. Kakinya menendang-nendang tanah tak sabar.

Eunhyuk memandang sekeliling. Tempat parkir di belakang stadium itu tak banyak berubah. Ia mengingat lagi pertemuan pertamanya dengan Jiyoo.

Seharusnya, pertemuan itu sama sekali tidak meninggalkan kesan yang baik. Jiyoo terpaksa harus menghabiskan waktu yang lama untuk menebus kesalahannya. Eunhyuk tersenyum kecil. Walaupun tidak berkesan baik, setidaknya kisah itu memiliki akhir yang indah untuknya dan Jiyoo.

Eunhyuk buru-buru membalikkan badan saat telinganya mendengar suara langkah kaki. “Yoo?”

—-

“Hai..” adalah kata pertama yang meluncur dari bibir Jiyoo.

Kang Minhyuk tersenyum lembut. Dengan spontan, ia sudah berdiri dan menatap Jiyoo tanpa berkedip. “Kau… datang?”

“Mm. Bukankah kau yang memintaku datang?” Jiyoo menggit bibir bawahnya, salah tingkah di depan Minhyuk. “Apa… kau sudah lama menungguku?”

Minhyuk menggeleng dengan cepat. Senyuman masih belum hilang dari wajahnya. “Tidak, tidak. tidak sama sekali. Lalu, mau ke mana kita?”

—-

“Maaf mengecewakanmu, Hyung,” Kyuhyun tersenyum miring dengan kedua tangan terselip di saku celananya. “Sudah berapa lama kau menunggu?”

Eunhyuk menahan diri untuk tidak mendengus. “Belum satu jam.”

“Kapan kau akan berhenti menunggu?” tanya Kyuhyun lagi.

“Entahlah,” Eunhyuk mengangkat bahu. “Berapa lama menurutmu?”

Kyuhyun menarik napas panjang. Lelaki itu berdiri bersandar di samping Eunhyuk. “Apa kau benar-benar mau mendengar pendapatku?” Melihat Eunhyuk mengangguk, Kyuhyun kembali menghela napas. “Jangan menunggu lagi.”

“Apa kau sedang mengujiku?”

Kyuhyun tak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu sambil memandang langit yang mendung. Sepertinya akan turun hujan. Hujan yang deras.

“Oppa, sebenarnya–“

“Kau diam saja, setan kecil,” potong Kyuhyun. Hyori yang tadi bersembunyi di balik punggung Kyuhyun mengambil langkah pendek-pendek, menampakkan diri di depan Eunhyuk.

Eunhyuk mengerjap-ngerjapkan mata saat melihat Hyori. “Oh, kau juga di sini? Kenapa?”

“Ani, itu… kau tahu, kan, kalau kau bisa mengganti janji hari ini ke… hari lain. Mungkin..” gumam Hyori pelan.

“Kenapa aku harus mengganti hari? Apa Jiyoo sedang sibuk?” Eunhyuk memiringkan kepala, berusaha membaca raut wajah gelisah yang ditunjukkan Hyori. Lelaki itu kemudian memalingkan wajah, mendadak mengerti semuanya. “Kang Minhyuk?”

Hyori menggigit bibir. Walaupun cuaca musim semi sedang dingin, gadis itu merasakan keringat membasahi kening dan punggungnya. Kyuhyun melirik gadis mungil di sebelahnya kemudian mendesah. “Sepertinya Kang Minhyuk punya urusan dengan Jiyoo.”

“Di mana?”

Kedua mata Hyori membulat. Ia menyikut Kyuhyun pelan untuk minta bantuan atau setidaknya petunjuk tentang apa yang harus dilakukannya jika pertanyaan itu benar-benar meluncur dari bibir Eunhyuk. Lelaki yang dimintai bantuan malah bungkam.

“Aku tanya, di mana?” ulang Eunhyuk. “Di mana mereka sekarang?”

“O-oppa–“

“Stasiun,” Kyuhyun menyahut singkat, mengabaikan tatapan Hyori yang makin melebar. Lelaki itu kembali menghela napas panjang. “Memangnya apa yang akan kaulakukan, Hyung? Mendatangi mereka dan menarik tangan Jiyoo? Tch.. anggap saja aku memang kejam, tapi Jiyoo bukan Yoo-mu lagi.”

Eunhyuk tertegun sesaat. Ucapan Kyuhyun tidak salah, bahkan sangat benar. Tidak ada yang salah dari perkataan menyakitkan itu. Eunhyuk kemudian tersenyum kecil. Kepalan tangan yang menyakiti tangannya sendiri perlahan-lahan terlepas.

“Oppa..” panggil Hyori. Setelah berhasil menginjak kaki Kyuhyun kuat-kuat, gadis itu berjalan mendekati Eunhyuk. Setidaknya ia berharap dapat sedikit menghibur lelaki itu. “Jiyoo…”

“Tidak apa-apa,” Eunhyuk mendongak dengan senyuman kecil yang masih dipasangnya. “Anak itu benar, Jiyoo bukan Yoo lagi.”

Untuk sesaat, Hyori memejamkan mata. Ia merasa terlibat dalam masalah ini, tapi tak tahu apa yang harus dilakukannya. Gadis itu bahkan ikut merasa bingung dan seolah merasakan semua kekacauan dalam hubungan Jiyoo dan Eunhyuk.

Kyuhyun melipat kedua tangan di dada. “Lalu sekarang bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?” tanya Eunhyuk, merasa pertanyaan Kyuhyun itu tak perlu dijawab. “Tentu saja aku harus tetap menunggu di sini.”

Hyori menganga. “Ha?”

“Tch… sudah kubilang dia akan melakukan itu,” ujar Kyuhyun, seolah bangga atas kemenangannya. Ia melirik Hyori. “Lain kali percaya saja pada ucapanku, setan kecil.”

Hyori mengerucutkan bibir. Ia mengira akan terjadi suasana atau setidaknya atmosfir ala drama yang menunjukkan bahwa si pemeran utama prianya merasa patah hati. Gadis itu mati-matian menyuruh Kyuhyun untuk menjaga perasaan Eunhyuk, tapi ternyata tak ada yang perlu dijaga.

“Kakiku sakit, Hyo!” tegur Kyuhyun.

Hyori buru-buru nyengir penuh rasa bersalah. “Akan kuobati dengan cintaku. Cukup, kan?”

—-

“Apa kau benar-benar ingat tempat ini?” Minhyuk menunjuk peron stasiun dengan pilar-pilar besar bercat biru langit.

Jiyoo memandang ke arah yang ditunjuk Minhyuk. Peron itu adalah tempatnya menangis dan berjalan mondar-mandir untuk menemukan ibunya. Jiyoo menelan ludah dan melirik lelaki di sampingnya. Ternyata bukan dirinya-lah orang yang satu-satunya mengingat tempat ini.

“Sejak kapan..” ucap Jiyoo tertahan. Ia berusaha mencari kata yang tepat untuk pertanyaannya. Gadis itu berdeham pelan. “Sejak kapan kau menemukanku?”

Minhyuk tersenyum samar. Ia mengangkat bahu. “Entahlah. Sepertinya aku sama sekali tidak berniat menemukanmu, kau datang sendiri ke hadapanku,” ujarnya. “Sebagai kekasih Eunhyuk hyung.”

“Ah… stasiun televisi,” gumam Jiyoo.

Sejak menjadi seseorang yang sering berada di sekitar Eunhyuk, gadis itu selalu suka membuntuti Eunhyuk kemana pun. Selain karena saat itu ia adalah bagian dari asisten Super Junior, Jiyoo juga senang bisa berada dekat dengan Eunhyuk. Ia sama sekali tak sadar anak laki-laki dalam kenangannya akan menemukannya.

Jiyoo menundukkan kepala, menatap lantai peron yang terbuat dari marmer kuat. Gadis itu sadar Minhyuk sedang mengamatinya, memerhatikannya dengan kedua mata yang tajam. Jiyoo menolak untuk mendongak. Ia lebih suka menghindar.

“Karena kau sudah datang ke sini, apa itu artinya kau…” Minhyuk mencoba mengeluarkan pertanyaan inti yang tersimpan dalam kepalanya. “Bagaimana aku mengatakannya? Apa kau… memilihku?”

Memilih? Jiyoo tersentak hingga tanpa sadar ia mengangkat wajahnya, menatap Minhyuk secara langsung. Apa ia memilih Minhyuk? Jiyoo mendadak merasa tenggorokannya tercekat. Bukankah memilih Minhyuk berarti ia mengabaikan Eunhyuk?

“Atau kau datang kemari untuk menolakku?” tanya Minhyuk.

Jiyoo kembali terkejut. Apa benar? Ia merasa luar biasa tolol. Kenapa ia tak bisa menyuarakan pikirannya sendiri? Mau sampai kapan orang lain yang harus membacakan pikirannya untuknya? Jiyoo menelan ludah.

Bukan. Bukan karena ia tak bisa menyuarakan pikirannya, tapi karena memang ia sedang tak bisa berpikir apa-apa. Terlebih saat ia menerima dua undangan yang nyaris membuatnya gila.

“Kau tahu, ditolak di tempat pertama kali kau bertemu itu sangat menyakitkan,” Minhyuk berusaha mengeluarkan lelucon. Lelucon yang hanya membuat Jiyoo semakin tertekan.

Lelaki itu masih memandang Jiyoo. Ia melihat jelas kebingungan di wajah gadis itu. Minhyuk kemudian membelai puncak kepala Jiyoo pelan. Jiyoo mengernyitkan alis.

“Maaf,” ucapnya. Minhyuk mengulurkan tangan kanannya. “Mana?”

Walaupun sempat tak mengerti apa yang diminta Minhyuk, Jiyoo merogoh saku dan mengeluarkan jepitan pita berwarna ungu. Gadis itu mengulurkan tangan, hendak menyerahkan benda itu kembali ke genggaman Minhyuk.

Jiyoo membulatkan kedua matanya yang kecil saat Minhyuk meraih tangannya, menariknya lembut sebelum memeluk tubuhnya yang kedinginan.

“Terima kasih sudah datang,” bisik lelaki itu tepat di telinga kiri Jiyoo. “Sekarang kau bisa pergi, gadis kenanganku.”

“Eh?”

“Kubilang, kau boleh pergi,” ulang Minhyuk di hadapan Jiyoo. Lelaki itu tersenyum. “Maaf sudah mengacaukan hidupmu, tapi sekarang kau boleh pergi. Aku tidak akan memaksamu hidup dalam kenangan usang ini.”

Jiyoo mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menghalau rasa haru yang mendadak menyergap dadanya. Ia menelan ludah. “Kang Minhyuk..”

“Hm?”

Gadis itu tampak menimbang-nimbang, ragu akan sesuatu. Ia kemudian hanya berdiri diam di tempatnya. “Terima kasih..”

—-

5:04 PM

Eunhyuk menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang serasa membeku. Musim semi yang sudah datang belum berhasil mengusir angin musim dingin. Lelaki itu mengumpat dalam hati. Berharap esok pagi akan mendapatkan angin musim semi yang hangat.

Perhatiannya teralihkan saat ia melihat dua orang berjalan ke arahnya. Jiyoo dan Kang Minhyuk sedang menuju ke tempat Eunhyuk, membuat lelaki itu tak tahu harus merespon seperti apa. Ia senang Jiyoo memutuskan untuk datang, tapi kenapa harus bersama dengan Kang Minhyuk? Eunhyuk mendengus.

“Maaf, Hyung. Kukira kau sudah pulang,” ucapan Minhyuk dianggap Eunhyuk sebagai pengganti salam. Ia tak mau repot-repot mencela lelaki itu. Eunhyuk melirik tajam Minhyuk yang sekarang berhadapan dengan Jiyoo. “Kalau begitu, kuantar sampai sini saja.”

Jiyoo mengangguk pelan. “Ne..”

Eunhyuk menahan decakan yang sudah sampai tenggorokannya. Setelah menunggu demikian lama, sekarang ia harus menyaksikan potongan adegan dalam drama romantis? Hebat sekali.

“Sampai jumpa,” Minhyuk membungkukkan badan singkat ke arah Eunhyuk. “Aku tidak akan berusaha mengambilnya lagi, Hyung bisa menghukumku kalau aku sampai melakukan hal itu.”

Sambil berdeham, Eunhyuk mengangkat dagunya. “Geurae? Kupegang ucapanmu.”

Minhyuk mengangguk seraya tersenyum. Setelah tersenyum pada Jiyoo, dengan senyum kecil yang tertahan, Minhyuk membalikkan badan. Perlu Eunhyuk akui, senyum itu terlihat lebih tulus daripada yang sebelumnya. Lelaki itu menatap Jiyoo yang seolah meminta izin padanya.

“Tidak cukup aku membiarkan kalian bersama-sama selama satu jam?” ia menggerutu, tapi kemudian menganggukkan kepala. “Kembalilah..”

Senyum Jiyoo mendadak terkembang. Gadis itu mengecup pipi Eunhyuk lembut selembut ciuman yang biasanya. Eunhyuk merasa kelegaan membanjiri seluruh tubuhnya. Semuanya tampak akan baik-baik saja.

“Aah..” lelaki itu mengeluarkan napasnya yang ditahan sejak tadi sambil memandang Jiyoo yang berlari kecil. “Aku memang kekasih yang sempurna.”

—-

“Kang Minhyuk!” panggil Jiyoo. Gadis itu berlari, berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Minhyuk. Sebelum Minhyuk berhasil membalikkan badan, Jiyoo sudah memeluk lelaki itu dari belakang.

Minhyuk tertegun. Ia menundukkan kepala untuk melihat lengan putih Jiyoo melingkari pinggangnya. “Ada apa? Kau berubah pikiran?”

“Ani,” jawab Jiyoo dengan napas agak tersengal. Ia bisa mendengar Minhyuk terkekeh. Jiyoo menggigit bibir bawahnya. “Kau akan baik-baik saja, kan?”

“Tentu saja tidak. Apa yang kauharapkan dari laki-laki yang baru saja patah hati?” goda Minhyuk. Dengan jemarinya, ia mengusap punggung tangan Jiyoo. “Tapi yang jelas, aku bahagia sudah melakukan hal yang benar.”

Jiyoo merasakan lengannya basah. Entah bagaimana, ia tahu Minhyuk meneteskan air mata.

“Choi Jiyoo,” panggilnya. “Terima kasih.”

—-

Eunhyuk menyandarkan punggung di pintu mobil. Alisnya terangkat saat melihat Jiyoo berjalan perlahan ke arahnya. Lelaki itu tak ingin bertanya, ia hanya ingin merasakan bahwa gadis itu nyata. Nyata karena gadis itu kembali ke jalan yang sama dengan Eunhyuk.

“Apa yang mau kaukatakan sekarang?” ujar Eunhyuk. “Membuatku menunggu selama satu jam, berlari mengejar lelaki lain dan membiarkanku menunggu lagi.”

Jiyoo menatap Eunhyuk dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Bibirnya terkatup rapat. Gadis itu masih bingung dengan apa yang harus dikatakannya, apa yang bisa dilakukannya. Semua hal sederhana itu terasa rumit untuknya.

Eunhyuk menghela napas. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Aku tahu. Kemarilah..”

Dengan sentakan kuat, Jiyoo menjatuhkan diri ke dalam pelukan Eunhyuk. Saat ia merasakan kedua lengan itu melindunginya, semuanya terasa benar. Inilah satu-satunya hal yang seharusnya dilakukan Jiyoo. Kenapa ia bisa tidak menyadarinya? Bahwa ia membutuhkan pelukan ini.

Ah. Tentu saja karena ia adalah Choi Jiyoo. Choi Jiyoo yang tidak pernah mengerti dirinya sendiri.

Dan tentu saja karena orang yang sedang memeluknya saat ini adalah Lee Hyukjae. Lee Hyukjae dengan bakat alami untuk selalu mengerti seorang Choi Jiyoo lebih dari diri gadis itu sendiri.

“Akan kuberitahu satu rahasia besarku, Lee Hyukjae,” bisik Jiyoo. Ia menutup kedua matanya, menikmati sensasi menyenangkan dari pelukan Eunhyuk. “Aku merindukanmu..”

=================================

[EPILOG]

Shin Hyori melirik Jiyoo dengan tatapan tajam. Gadis itu merasa sedang dipermainkan oleh banyak orang. Ah, bukan. Bukan banyak orang, hanya tiga orang. Tiga orang di hadapannya ini.

Hyori menggigit bibir. Seharusnya aku tidak menyanggupinya, umpatnya dalam hati.

“Ppali!” seru Kyuhyun tak sabar.

“Aishh… kenapa aku harus melakukan hal menggelikan ini?!” Hyori menggerutu sambil berjalan gontai.

“Perlu kuingatkan?” tanya Kyuhyun. “Kau sudah menginjak kakiku, Nona. Sekarang kau harus mendapat balasannya.”

Hyori balas berteriak. “Kalau begitu injak saja kakiku!”

“Hei, di mana letak keseruannya kalau mata dibalas mata, darah dibalas darah? Sekali-kali, mari kita coba mata dibalas dengan jantung,” lelaki itu mulai berfilosofi sambil mengangkat bahu.

Hyori menyipitkan mata, tak habis pikir dengan jalan pikiran Cho Kyuhyun. Bagaimana bisa ia meminta balasan injakan kaki dengan memparodikan adegan pelukan Jiyoo dan Eunhyuk? Konyol sekali lelaki itu.

“Hyo!” panggil Jiyoo. Hyori menoleh dengan sengit. “Hwa-i-ting!” ujar gadis itu dengan penuh aegyo –aegyo gagal

Hyori mendengus kemudian menarik napas. Baiklah, yang terjadi terjadilah! Ia mengangkat wajah dan berjalan menghampiri Kyuhyun yang sudah menunggunya.

“Apa yang mau kaukatakan sekarang?” ujar Kyuhyun penuh penghayatan. “Membuatku menunggu selama satu jam, berlari mengejar lelaki lain dan membiarkanku menunggu lagi.”

Dengan sedikit berdeham, Hyori melirik Jiyoo yang sudah membekap mulut dengan tangannya sendiri, menahan tawa. Eunhyuk menyipitkan mata, merasa akting Kyuhyun sama sekali tidak cocok dengan kesan yang sudah ditinggalkannya.

Kyuhyun tetap menghayati perannya. Lelaki itu melebarkan lengannya, bersiap menerima tubuh mungil Hyori. “Aku tahu. Kemarilah..”

Hyori mendengus kemudian menjatuhkan diri ke dalam pelukan Kyuhyun. “Akan kuberitahu satu rahasia besarku, Cho Kyuhyun,” bisik Hyori. Ia menutup kedua matanya, “Aku sangat membencimu, setan neraka!” Hyori melepaskan tubuh dari Kyuhyun dan kembali menginjak kaki lelaki itu. “Berani-beraninya mempermainkanku seperti ini!”

“NG~ Itu NG!” pekik Jiyoo. “Yah! Shin Hyori-nim, apa kau tidak bisa menikmati pelukan Bbek?”

“Tidak bisa! Tidak mau!” seru Hyori. Gadis itu kemudian menggaruk-garuk pipinya. “Tidak di.. sini. Kalian berdua kenapa membuat adegan seperti itu? Susah sekali menirunya!”

Kyuhyun mendesis setelah meredakan nyeri di kakinya. “Sebelum kau bisa memparodikan adegan itu dengan baik, aku tidak akan pernah memaafkanmu, setan kecil!”

==============FIN==============

Kkeut! Finish! ^-^

Sorry for the looooong chapter. -__- *bow* I’ve cleaned up Minhyuk-Eunhee’s image. I cant make anyone become my antagonist here~ .__.

PS: Comment(s) are needed. Will officially publish JiKyu-HyoHyuk (or still JiHyuk-KyuHyo? xD) Please anticipate it~ Ah, so sorry if I cant really visit this home often, WP is being bitchy to my Hyukie.. ;A;

64 thoughts on “Purple & You [Duabelas/END]

  1. sips ! sudah terpost !
    paling suka part chessy Hyuk😄
    paling suka Minhyuk disiniiiiiiiiiiiiiiiii/
    eouemjiiiii. suka suka minhyuk bangets >.<
    epilog ? *angkat alis* no komen deh :p *jempol*

  2. happy ending!! akhirnyaa, lee hyukjae kau sangat baiik hati hahaha. Huaa minhyuk jadi baik hehe, thank you oppa *peluk* haha.
    AKU SUKA EPILOGNYA!! ngebayangin kyu sok romantis hihihi lucu yeaa.
    chukkae onnie, purple & you daebaak🙂 *hug onnie*

  3. Wuaaahahhh~~~ daebaaakk!!! Sukkaaaaaa ^^
    Hyori bner2 gengsian akut sama Kyuu~ kekekeke..
    Akhirnyaa, Jiyoo kembali ke tempat asalnya dia.. Choi Jiyoo terlalu mencintai Lee Hyukjae hahahaha!
    Ah, kapan liat Kyuhyo akur.. ^^
    Keep writing~🙂

  4. asik udah ada part endnya..siap maraton ff deh..hehe eonni, td aku udh add fb km dan inbox km..aku minta pw bwt cerita jihyukism yg diprotect yaaa..jebalyo. Gomawo eonni..

  5. huwaaaa akhirnya publish!! Aku rindu kakak~ >,< part terakhirnya bener-bener memuaskan banget! Aku ganyangka jihyuk balikannya kayak begini :') entahlah, tp balikannya something bgt TT-TT aaa minhyuk baik banget, td sempet ngira kalo minhyuk bakal minta jiyoo sm dia ternyata engga. Baik banget TT-TT

  6. Waaaawaaaawaaa !!! Eh mati lampunya bawa keberuntungan banget tuh , jiyoo nya takut gelap tooh . Yeaah jiyoo miilih orang yg tepaaat jiyoo eunhyuk emg ga bisa pisah yaa😀 udaaah kita lupakan eunhee eh minhyuknya baikk hati banget ya!! Asli greget sama kyuhyo masih sempet sempetnya injek injekan pas lagi genting . Keren eonn😀

  7. Aku pikir mati lampunya disengaja,, ternyata emang mati lampu tah..
    Kebruntungan buat Poo🙂
    Salut ma Minhyuk,, pasti berat bgt ngelepas cinta masa kecilnya..
    Epilognya.. penyiksaan buat Hyo kkkk

  8. Aaaaaaaa ~ suka banget ama ending nyaaa . Untung happy ending kekekke~
    Epilognya bikin ngakak
    Hhahah xD.
    Makin suka aja ma ff onie😀

  9. ahhh happy endd akhirnyaa..

    Itu yang gelap2an aw aw aw.. Suukaa kekekee

    minhyuk tobat ya, kasian sini biar sama saya aja.. Hehehe

  10. Ah demi apapun endingnya bikin greget bgt.
    Part paling bikin envy waktu hyuk cuma bilang ‘Aku tahu. Kemarilah…’ trus mereka pelukan. Ya ampun pengen pengen….
    Ish.. Cho Kyuhyun itu ga ush minta yg aneh2 deh. Ga pantes( lirik epilognya.)
    ah tetep KyuHyo-JiHyuk

  11. annyeong onnie~ ^^
    akhirnyaa aku bisa menampakkan diri lg d wp ini setelah lama vakum karna hape yang… ehem! jadul.

    owkeee~~ berapa part ya yg blm ak komen? –a
    bismillah~

    – song eunhee? berani mengacaukan perasaan leehyukjae? jgn coba2 deeeeh. #efekiklan
    kangminhyuk? see? bahagia melihat hub mereka?

    – choijiyoo-ssi~ selamat menempuh hidup baru lagi dg pangeran mu ^^
    minhyuk-ssi, eunhee-ssi~ gamsahaeyo. semoga kalian diberi pengganti yg lbh baik dr mereka ^^
    epilog? kyuhyun-niiiim hahaha jinjja dae~~bak! :DD
    mbakevilia sebenernya uda bersemu itu pipinya wkwkwk😄

    ps : for all, thx alot onnie~yaa. jeongmal mianheyo for the last comenting ><V

  12. giyaaaaaaaaahh~ happy endiiing yang menyesakkan buat minyuk ! :3
    tapi sumpaah sweet banget buat kyu yang dipeyuk hyoo~ #plak
    selaluuuu ajaa di ff yoo tuh poo keliatan bego tapi cool ..
    otaknya radarada miring tapi gentle ! aiiih~ jjang jjang jjaaaaang deh pokonyaa😄

  13. Eiiii, asiiiiiiiik tamat…. \(^o^)/ *tumpengan krn pooyoo balikan* xDD
    bagus2, aku suk ending nya.. Hahahaha….
    Klo hyori ga mau dihukum begitu, aku aja yg gantiin shel, rela kok aku, rela bgt bgt bgt deh… Wkwkwk…. :p

  14. yeyy finally happy ending….
    Dan sy sudah tertipu, kirain bkal sad ending yoo n poo putus, abisnya si yoo malah ngedatengin si minhyuk… Tp ternyata malah si minhyuk nya yg ngalah /cium minhyuk/

    Dan ampun dah kelakuan kyuhyo wkwk ada2 aja haha

  15. baiklah..sesuai dengan dugaanku happy ending buat semuanya.. hahaha…..

    brarti ntar kalu mati lampu, tinggal panggil hyuk aja ya buat nemenin.lumayan jd satpam ganteng hehehehe…

    endingnya dah bagus..sayang dihancurkan oleh epilognya hahaha…

  16. woah~~~ udh ending😥 hiks……. dan happy end jga … kyaaa :)) senengnya..
    JiHyuk couple balik lgi… alhamdulillah yah *?*
    minhyuk oppa tobat.. ama aku aj gmna oppa? hheheh #ngayal -__-
    ngapain tuh pda gelap.gelapan??/ ehmmmm??? #curiga //plakk hehehe
    nice ending eonnn…….😀

  17. sik-asik..sik-asik..sik-asik..
    Happy ending..tralala-trilili..*readergila*haha
    akhirnya choi jiyoo kembli kepelukan lee hyukjae..jgn galau2an lg akh..yeyeye senangnya..
    aq Suka sma filosofinya bang evil..haha
    parodinya jg bagus..haha
    ada2 z nih bang evil..
    Still JiHyuk chingu..
    Aq g rela poo/yoo berpindah kelain hati..hehe
    JiHyuk Jjang!!!

  18. aaaaaaaaaaaaaaa suka bgt eonni! Ini long chapter? Gak keberasa ‘long’ bacanya!! Narasinya sederhana tp romantis bgt! Suka bgt sama epilognya!! Hahahaha bikin ff chapter lg ya eonni! Aku tunggu! Keep writing and FIGHTING!

  19. happy ending…^^
    tindakan yoo luar biasa, smw bahagia….

    minhyuk dewasa banget, suka ma kata2 minhyuk..😀
    akhir’y gak da yg tersakiti…🙂

  20. aaaa~
    part endingnya dah ada! telat banget diriku!
    minhyuk-a~ dirimu manis sekali >o<
    aku suka saat yoo dipanggil 'gadis kenanganku' kesannya minhyuk bener2 bakalan nglepasin yoo
    kyuhyo, kayanya seneng banget bisa nonton adegan ala drama jihyuk -,-
    lee hyuk jae-ssi, anda memang laki2 idaman ^^
    suka cara jihyuk rujuk, senyum bacanya
    happy end~
    dan…epilognya? ngakak guling2 plus agak merinding mbayangin kyuhyo parodiin adegan jlhyuk
    astaga~ tuan cho! filsofil anda patut dicontoh!
    itu kyuhyo ngelihat adegan jihyuk di parkiran?
    pokoknya… saya nggak nyesel ngikutin p&y ampe part end ini, selamat akhirnya bisa nglesein cerita ini
    ceritanya DAEBAK!
    shela-eon, hwating! saya nunggu cerita lainnya ^-^

  21. baca ffnya pas kuliah…gara2 ngantuk nggak mudeng mending baca p&y…lagian udah penasaran sama endingnya…

    saya sih udah yakin dari awal kalo mereka pasti rujuk…tapi cara rujuknya itu looo yg keren…
    memang nggak ada kata yg menegaskan merwka balikan ya karna hati mereka kan emang gak pernah pisah…..#ceillleeee…

    hahaha…akhrnya finish juga baca ff ini setelah sekian lama menunggu kapan sempetnya..
    oke deh ditunggu ff chapter yang baruuuu

  22. deg degan sendiri bacanya >< tapi untung akhirnya sama hyuk~😀
    minhyuk gimana nasibnya? kasian juga dia ternyata ._.
    di ff ini kyuhyun bener2 berfilosofi terus =))
    dan epilognya… ngakak banget xD

  23. Dari awal sampek akhir bacanya,yamg bikin gemes itu si Minhyuk,bener-bener bikin esmosi kkk juga dan bener suka banget ama karakter Kyu di sini…Gimana yah,dewasa banget gitu apalagi kalimat-kalimatnya yang selalu tepat sasaran…Yoo dan Poo,Jjang!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s