[JiHyukism] To Your Way

***

Aku berjalan dan akan terus berjalan.

Kau bertanya akan menuju ke mana diriku ini?

Tentu saja ke arahmu.

Karena itu, sudikah kau untuk menunggu?

============================

Helaan napasnya terdengar berat. Ia terengah seakan baru saja menyelesaikan perlombaan marathon di sekolah. Hembusan angin yang menerbangkan rambut sebahunya diabaikannya. Pandangan matanya masih lurus ke depan, menerawang.

“Kau tahu kau tidak perlu berlari,” sambutan itu berdengung di kedua telinganya.

Ia menggeleng. “Aku tidak berlari, aku berjalan.”

“Berlari atau berjalan, bagiku sama saja. Apa kaupikir kau bisa mendahuluiku, atau sekedar menyejajarkan langkahmu denganku?” pertanyaan itu jelas menusuk jantungnya.

Sekali lagi, ia menggeleng. “Tidak peduli seberapa jauh jarakmu dengan keberadaanku, aku akan tetap berjalan untuk menghampirimu.”

“Tch~” lawan bicaranya mendengus dengan senyuman yang tak bisa ditahan. Tangannya terangkat, membelai lembut puncak kepala si pejalan kaki. “Kalau begitu teruslah berjalan.”

Gadis dengan sandal jepit plastik mendongak. “Kau… jangan berlari.”

“Kenapa?”

“Jangan sampai aku tidak bisa melihatmu. Jangan sampai aku kehilangan jejakmu,” ia berbisik dengan separuh tenaganya. “Jangan sampai kau menghilang dari pandanganku, kau dengar?”

“Bagaimana ya…” orang itu menggodanya dengan mengusap-usap dagu dengan gaya berlebihan. “Kalau begitu, apa aku harus memperlambat langkahku?”

Pandangan si gadis kembali menerawang. Pikiran-pikiran menyebalkan menyesaki kepalanya. Seandainya lelaki itu memperlambat langkahnya, apa si gadis sempat menyusulnya?

“Menyebalkan. Kau menyebalkan, Lee Hyukjae,” gumamnya.

Lelaki yang dipanggil Lee Hyukjae itu mengangkat bahu. Bibirnya melengkung miring, membentuk senyuman aneh. “Sama denganmu, Choi Jiyoo. Sekarang, bangunlah!”

—-

KRIIIING~~~

Choi Jiyoo membuka kedua matanya seketika. Erangan pelan meluncur dari bibirnya saat jam mungil di samping ranjangnya berteriak. Gadis itu menyibakkan selimut dan membungkam benda kecil yang mengganggu tidurnya.

Jiyoo melirik jendela kamar. Matahari sudah mengirimkan sinarnya menyusup melalui sela-sela kecil jendela Jiyoo. Gadis itu menghela napas berat.

Gonggongan anjing menyadarkan lamunannya. Jiyoo menundukkan kepala dan menemukan anjing cokelat kecil menjulurkan lidahnya.

Jiyoo tersenyum kecil. Sejak Lee Hyukjae menjadi sibuk –bukannya selama ini tidak, hanya saja jadwalnya bertambah padat gara-gara Donghae; Oppa Oppa versi Jepang- Choco dititipkan pada Jiyoo. Karena ia juga menyukai Choco dan bagaimanapun ini adalah permintaan laki-laki itu, Jiyoo sudah tak tahu lagi apa alasannya untuk menolak.

“Mwoya, kau membangunkan Eonni, hm?” Jiyoo meraih anjing itu ke dalam pelukannya. “Gomawo, Choco-ya~”

Sambil menggendong anjing kecil bernama Choco, Jiyoo turun dari ranjang. Langkahnya diseret menuruni tangga, menuju dapur. Kedua matanya melebar saat menemukan orang dalam mimpinya duduk manis di kursi ruang makan.

Orang itu mengangkat satu tangannya. “Annyeong~”

“Tch,” Jiyoo hanya mendengus dan membiarkan Choco turun untuk menyambut orang itu. Kedua tangan Jiyoo terlipat di depan dada. “Like dog like owner.”

“Kenapa? Pagi-pagi suasana hatimu sudah buruk,” tanya lelaki yang berganti menggendong Choco dalam pelukannya itu. “Choco-ya, Oppa datang~ Kau merindukan Oppa, kan? Hmm?”

Jiyoo berdecak tanpa suara. Tanpa sadar, mulutnya mengerucut kesal. Ia mengamati makhluk kecil berbulu cokelat yang berada nyaman dalam pelukan Eunhyuk.

Kedua mata bulat Choco mengamatinya, seolah bertanya kenapa pandangan Jiyoo terlihat menakutkan.

“Aku cemburu, tahu,” bisik Jiyoo pelan. Choco menggonggong dan itu diartikan Jiyoo sebagai respon dari si anjing kecil. Entah apa yang dikatakan Choco, tapi sepertinya Jiyoo menganggapnya sebagai Oppa-ini-hanya-milikku-Eonni-pergi-saja-cari-Oppa-lain.

“Ah, benar! Choco-ya~ Oppa punya banyak hadiah untukmu,” Eunhyuk menurunkan Choco dan menggeledah tasnya. “Jjan!” ia berseru sambil mengeluarkan baju alien –setidaknya itulah yang dapat dilihat Jiyoo.

Jiyoo mendengus. “Untukku tidak ada?”

Eunhyuk sibuk mendandani Choco dan menjawab tanpa menoleh. “Bukankah aku sudah datang? Itu berarti aku hadiahmu, kan?”

“Tch~ geurae, Lee Hyukjae yang pandai bicara,” omelnya. “Bilang saja kau lupa.”

—-

Lee Hyukjae masih sibuk bermain dengan Choco saat matanya menangkap tubuh Jiyoo yang membelakanginya. Lelaki itu melirik Choco, seolah bertanya tentang kekasihnya pada anjing kecilnya sendiri. Melihat kedua mata Choco yang bulat, ia tahu ia tak akan mendapat jawaban dari sana.

“Kau tunggu di sini, Oppa mau bertanya ada apa dengan kakak iparmu itu,” bisik Eunhyuk. Lelaki itu menarik napas panjang dan menurunkan Choco dari pangkuannya.

Tanpa memedulikan Choco yang seolah protes, Eunhyuk berjalan berjingkat mendekati Jiyoo. Gadis itu sedang mencuci piring dan suasana hatinya benar-benar sedang tak baik. Eunhyuk tahu itu karena air sudah membasahi sebagian lantai di bawah kakinya.

Tak banyak yang bisa dipikirkan Eunhyuk tentang bagaimana caranya bertanya dengan benar pada Jiyoo, jadi ia hanya melingkarkan lengannya di sekitar pinggang gadis itu.

“YAAA~!” Jiyoo memekik nyaring, terkejut dengan sesuatu yang menyentuh tubuhnya.

“Ada apa denganmu? Tidak suka menyambutku di sini atau tidak suka dititipi Choco?” tanya Eunhyuk tanpa basa-basi. Ia melirik Jiyoo yang menelan ludah. “Aah~ atau kau terlalu bahagia karena Eunhyuk Oppa sudah kembali?”

Jiyoo mendengus pelan dan melepaskan diri dari Eunhyuk. “Geurae, Eunhyuk Oppa, lalu kenapa kau tidak bermain saja bersama Choco di dormMU sendiri?”

“Kenapa?”

“Kenapa? Kau bertanya ‘kenapa’?” sesaat tadi Jiyoo berusaha menahan emosinya. “Tidak apa-apa. Tentu saja tidak apa-apa.”

Eunhyuk mengerutkan kening. Jiyoo kembali membelakanginya dan sibuk dengan piring-piring di tangan. Meskipun piring sudah dicuci, gadis itu memutuskan untuk mencucinya sekali lagi. Eunhyuk terpaksa menarik perhatian Jiyoo dengan kembali memposisikan gadis itu berhadapan dengannya.

“Sebenarnya ada apa?” tanyanya.

Jiyoo menggigit bibir dan memandang wajah Eunhyuk lekat-lekat. Ada banyak hal yang harus diungkapkannya, tapi bagaimana cara Jiyoo untuk memulai sementara semua hal itu tidak dapat diurutkan dan diberi nomor?

“Jangan memandangku begitu. Aku merasa kau bisa menelanku hidup-hidup dengan tatapan seperti itu,” gurau Eunhyuk.

“Aku… hanya bermimpi buruk. Hanya itu,” ujar Jiyoo pada akhirnya.

Eunhyuk mengangkat alisnya sebelah. “Mimpi… seperti apa?” tanyanya. “Kau tidak bermimpi akan menikah dengan laki-laki lain, kan? Hmm?”

“Seandainya kau berjalan cepat dan tanpa sengaja meninggalkanku, apa kau akan berbalik untuk menjemputku?” Jiyoo meremas-remas tangannya sendiri.

“Berjalan cepat? Meninggalkanmu? Berbalik?” Eunhyuk mengulang kata-kata itu untuk berusaha memahami maksud ucapan Jiyoo, tapi gagal. Lelaki itu mengangkat bahu. “Ada penjelasan yang lebih mudah?”

Jiyoo mendelik kemudian menghela napas berat. “Lupakan saja.”

Sudah ia duga, tak akan ada gunanya membicarakan mimpi anehnya pada Eunhyuk. Bukan karena ia tak bisa menebak reaksi Eunhyuk, hanya saja perasaannya kadang memang tak bisa terbaca siapapun. Jiyoo sadar benar tentang hal itu.

“Walaupun aku tidak mengerti, apa aku tidak boleh mendengarkan?” ucap Eunhyuk. Lelaki itu tersenyum lebar.

Sambil mendengus geli, Jiyoo menarik napas. “Seandainya… kita tidak pernah bertemu, apa aku tetap akan menyukaimu seperti ini, Lee Hyukjae?”

“Wah, bagaimana ya…” Eunhyuk pura-pura berpikir keras sambil mengusap-usap dagunya. “Seandainya kita tidak pernah bertemu, akan jadi apa dirimu nanti? Setidaknya kau harus merasakan bagaimana rasanya bertemu dengan orang sepertiku, kan? Yang penuh pesona ini.”

Jiyoo menyipitkan mata. “Mwoya, terlalu percaya diri seperti biasanya.” Kemudian gadis itu mengangguk setuju. “Tapi kau memang selalu benar.”

“Lalu? Ada lagi yang membuatmu penasaran?”

“Mm… soal kenangan,” ujar gadis itu. “Apa kau bisa hidup dalam kenangan?”

Eunhyuk mengerutkan kening. “Kenangan seperti apa?”

“Kenangan yang… segala macam kenangan. Dari yang menyenangkan sampai yang membuatmu ingin tidur dan lebih baik menganggap hal itu sebagai bagian dari mimpimu,” Jiyoo menerawang memandang langit-langit dormnya.

Lelaki dengan senyum terkulum itu mengangkat kedua tangannya. Eunhyuk membelai rambut Jiyoo dengan kedua tangannya, seolah menutupi telinga gadis itu. “Apa yang harus kaukenang?”

“Banyak hal. Tentang hidupku, semuanya. Tentang dirimu juga,” kedua mata Jiyoo terarah lurus, terkunci pada mata Eunhyuk.

“Kenangan itu bukan sesuatu yang bisa kaujadikan tempat tinggal. Mereka.. hanya bagian dari kejadian hidupmu. Sebaik apapun, seburuk apapun, semua kenangan itu tak akan bisa hilang dari kepalamu,” Eunhyuk mengangkat bahu santai. “Kecuali kalau kau kehilangan ingatanmu.”

Jiyoo memiringkan kepalanya. “Apa aku harus melupakannya?”

“Apa kau bisa?”

“Hmm… mungkin akan sulit, tapi–“

“Apa kau tidak akan menyesal? Kenangan-kenangan itu sudah jelas mengajarimu tentang banyak hal. Tentang bagaimana sesuatu terjadi dengan seharusnya. Tentang sesuatu yang mungkin justru tidak terjadi sesuai keinginanmu,” ujar Eunhyuk. “Yang terakhir bisa kausebut sebagai kenangan buruk.”

Jiyoo melingkarkan lengannya di tubuh Eunhyuk. Sambil menyandarkan dagu di bahu Eunhyuk, Jiyoo berbisik. “Kalau begitu, seandainya saja kau terus berjalan di jalanmu dan melupakanku yang sedang mengikutimu, apa kau akan menyebutku sebagai kenangan juga?”

“Lalu, kau? Apa kau akan melakukan itu?”

“Ani.” Jiyoo tersenyum samar di balik pundak Eunhyuk. “Aku akan mengejarmu. Aku akan terus berlari di jalanmu, menyusulmu dan berteriak padamu!”

Eunhyuk menghirup dalam-dalam aroma sampo yang menyeruak dari rambut Jiyoo. “Berteriak?”

“Mm! Berteriak begini, ‘Bodoh! Kau tidak sadar aku ada di belakangmu?!’ lalu aku akan pergi dengan cool,” jawabnya. Jiyoo mendesah sebelum menjawab, “menuju ke jalanku sendiri.”

Eunhyuk mengulum senyumnya. Walaupun tak melihat, ia bisa menebak Jiyoo sedang memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Gadis itu tak bicara lagi, jadi Eunhyuk hanya akan diam dan memeluk gadis yang seolah meringkuk padanya ini.

“Aku aneh ya?”

Eunhyuk mengangguk sebelum mengusap-usap punggung Jiyoo. “Sangat.”

“Apa aku boleh menambah kadar keanehanku?”

“Mm. Apa?” tanya Eunhyuk.

“Aku ingin melihatmu terus,” Jiyoo mengangkat dagunya sebelum berhadapan dengan Eunhyuk dalam jarak dekat.

Eunhyuk memutar bola mata. Dengan gerakan yang sama, ia menutupi telinga Jiyoo dengan kedua tangannya. “Aku sedang melihatmu. Aku akan selalu melihatmu.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kau bosan. Ani, walaupun kau bosan pun, aku akan terus melihatmu!” tegas Eunhyuk sambil tertawa.

Jiyoo menghela napasnya. Entah bagaimana, hanya dengan begini saja semua bebannya terangkat. Hanya dengan berbuat begini saja, ia merasa semuanya baik-baik saja.

Hanya dengan melihat lelaki ini saja, Jiyoo tahu semuanya akan baik-baik saja.

“Semudah ini?” gumamnya.

“Apa?” tanya Eunhyuk.
Jiyoo tersenyum samar kemudian menggeleng. Kedua bola matanya menatap mata Eunhyuk yang besar. Semua hal yang disukai Jiyoo, entah bagaimana, selalu berada di dalam Eunhyuk. Semuanya.

Seandainya lelaki itu tak ada dan pergi melupakannya, Jiyoo tak yakin ia akan bisa bernapas dengan benar.

“Lee Hyukjae Oppa,” panggilnya pelan.

Eunhyuk mengerutkan kening dan menyipitkan matanya. “Oppa?” ulangnya.

“Kau tidak mau kupanggil begitu?”

“Mm… mungkin akan terdengar bagus, tapi tidak bisakah kau berikan aku panggilan yang lebih khusus? Aku lebih suka kaupanggil dengan Poo,” Eunhyuk mengangkat bahu dan tersenyum kecil.

“Poo,” Jiyoo mengulang nada panggilannya untuk Eunhyuk.

“Ya?” walaupun samar, Jiyoo berani bertaruh sempat melihat Eunhyuk memalingkan wajah sekilas dengan pipi yang merah.

Perlahan-lahan, Jiyoo menjauh dari Eunhyuk. Gadis itu membuka lemari kayu yang berada di atas tempat cuci piring. Eunhyuk hanya diam memerhatikan sambil berusaha menebak apa yang akan dilakukan Jiyoo.

“Kau tahu, kan, aku sudah merawat Choco selama kau pergi,” gadis itu mulai bersuara. Sebuah mangkok plastik khusus anjing disodorkan pada Eunhyuk. “Jadi karena kau sudah kembali, bukankah seharusnya kau yang mengurus Choco sekarang?”

“Ha?”

“Ini sudah waktunya Choco sarapan~” seru Jiyoo. Ia mengendikkan bahu ke arah Choco yang menggoyang-goyangkan ekornya. Sambil tersenyum manis, Jiyoo memandang Choco. “Tunggu sebentar ya, Oppa ini akan menyiapkan sarapanmu.”

Eunhyuk masih memandangi Jiyoo bergantian dengan mangkok plastik di hadapannya. Ia berharap gadis itu akan meminta atau melakukan sesuatu yang romantis padanya. Setidaknya, sesaat tadi suasana di sekitar mereka sudah sangat mendukung; Jiyoo sedang melankolis.

Eunhyuk berharap sesuatu yang lain, bukannya mangkok plastik milik Choco.

“Ya! Choi Jiyoo, aku–”

GUK~!

—-

“Sampai kau bosan. Ani, walaupun kau bosan pun, aku akan terus melihatmu!”

Sampai aku bosan?
Bagaimana aku bisa bosan?
Kalau itu kau, aku tidak bisa bosan.
Tidak akan.

—-

Eunhyuk memandangi layar iPadnya dan tersenyum puas. Postingan terbaru di blog Jiyoo yang dihiasi gambar Wisteria ungu menunjukkan suasana hati gadis itu. Eunhyuk menghela napas lega. Setidaknya ia tidak perlu mengkhawatirkan Jiyoo untuk beberapa saat.

Denting pesan membuat Eunhyuk mengeluarkan ponsel yang disimpannya dalam tas. Ia sempat melirik manajernya yang sedang menyetir sebelum membuka ponselnya diam-diam.

[Kau melihat blogku, kan?]

Alis Eunhyuk terangkat. Ia bertanya-tanya apa gadis itu bisa melihatnya dari Seoul. Jemarinya bergerak cepat memberikan balasan.

Reply [Kau itu cenayang ya?]

Beberapa detik kemudian, balasan dari Jiyoo datang.

[Karena aku tahu kau akan selalu jadi yang pertama. Rekor membuka blogku kali ini: 30 detik! Lee Hyukjae jjang~ ^-^]

“Tch~” Eunhyuk mendengus sambil menahan tawa. “Gadis ini benar-benar!”

Lelaki itu kemudian mendengar suara berdeham dari sampingnya. “Teruskan saja kalau kita tiba di hotel.”

Eunhyuk mengangguk patuh. Perjalanan kali ini adalah Shanghai. Tanpa sadar, ia menghela napas berat.

Sepertinya Jiyoo akan kembali menunjukkan sikap tak bersahabat saat ia pulang ke dormnya nanti. Jika gadis itu masih sempat membuat emoticon ^-^ dan mengirimi Eunhyuk pesan, berarti ia belum sampai di dormnya.

“Kau sudah memberitahu Jiyoo soal keberangkatan kita?” tanya Donghae di bangku belakang mobil. Eunhyuk mengangguk dan tersenyum lebar. “Ah! Lalu apa kau sudah menitipkan Choco pada orang tuamu?”

Eunhyuk memiringkan kepalanya. “Itu… aku tidak akan melakukan itu.”

“Wae?”

Dengan senyuman puas yang sama, Eunhyuk mengirimkan satu pesan balasan terakhir untuk Jiyoo. “Choco harus akrab dengan kakak iparnya dulu.”

—-

[Choi Jiyoo juga jjang~ ^^ Aku minta bantuanmu lagi, Yoo. Saranghae! Bbyong~]

“Hah! ‘Bbyong~’? ‘Bbyong~’?!” Jiyoo menggeram tertahan begitu mendapati Choco sudah menyambutnya di dorm. Choco menggoyang-goyangkan ekornya yang kecil, seolah benar-benar memberikan salam untuk Jiyoo.

Jiyoo baru saja membuka pintu dormnya dan ia sama sekali tidak memiliki rencana untuk merepotkan dirinya sendiri dengan mengurusi anjing milik orang itu lagi. Tapi entah bagaimana, Lee Hyukjae itu berhasil mengirimkan Choco masuk ke dormnya dan sekarang sudah pasti Jiyoo tak bisa mengelak.

“Ya! Pergi ke mana lagi Oppamu itu, hm?” Jiyoo meraih Choco dari lantai dan menggendongnya ke dapur.

Choco, anjing yang sedang ditanya, hanya memandangi Jiyoo dengan kedua bola matanya yang besar.

“Aishh~ Lee Hyukjae itu…” Jiyoo menggerutu. “Ani, kenapa dia jadi kebiasaan menitipkan Choco padaku? Apa aku terlihat seperti ketua klub penyayang binatang?”

“Mm! Ketua klub khusus penyayang anjing Lee Hyukjae,” sahut Hyori dari ruang tengah.

“Ya! Kau yang membukakan pintu untuknya, kan?!”

Hyori mengangkat bahu. “Kurasa kau butuh teman, Yoo. Dan menurutku, teman yang cocok untukmu itu adalah Lee Choco, adik kesayangan Lee Hyukjae.”

===============FIN=================

Welcome CHOCO, the fresh cast here~ xD

Kalo lagi galau ato bete ato down emang paling enak bikin JiHyukism. .__. Galau ama betenya jadi ilang dikit. Thank you, Poo~ :*

Well, am not living in those memories anymore. ^-^ Life is to love and laugh, to be loved and maybe sometimes to be laughed. But to give my life up, I wont. So if someone don’t care or ignore me, I do more. Trust me, I’m so original and limited edition. I wont try to hold em back if they wont keep me in.

I’m that special person.😉

Lesson: very fast relationship always has the very fast ending too.

42 thoughts on “[JiHyukism] To Your Way

  1. “very fast relationship always has the very fast ending too.” like dis quote hohoho……

    baru kali ini aku tau kalu yoo cemburu ama choco hohoho, persaingan dimulai😄

    yoo, kalu ga mau ngurus choco..kakak mau kok ngurus en ngerawat choco dengan sepeuh hati dan cinta hahahaha

  2. Waah daebak, suka ceritanya onnie hehe. Welcome choco hihihi semoga bisa cepet akrab sama kakak iparmu yaa🙂
    Lee hyuk jae kenapa sangat romantis :’) aku ngiri sama onniee huaa hehehe

  3. eh, ternyata mimpi toh yg kejar2an kirain lg adegan olahraga :p
    Haha

    Lee choco mwoya? Sumpah ngakak… Kasian dah si yoo jd penitipan si choco, wkwkwkwkwk
    Aduh si hyuk manisnya, romantis ya blg gk bkal bosen unyuu /cium hyuk/

  4. kkkkkk akhirnya chocco berpartisipasi jga meramaikan blog kakak iparnya #eh
    quote terakhir manstaaaabbb setuju bgt itu, pokoknya maah yg instan-instan abisnya jga bakal instan #apaini ._.

  5. lama ggk baca ff diblog ini..
    pengen kangen2an baca ulang ternyata sudah banyak yg baruuuuu……
    bahkan p&y sudah tamat, padahal mulai baca aja beluuummm…hhhaja…mian
    eperti biasa couple.ini terlalu manis untuk dibaca….saya gak yakin hyukjae bisa begitu manisnya ke cewek…huhuhuhu…

  6. wahaha~
    yoo cemburu ma choco…
    eonni pikir choco itu jantan, gak tau’y betina. sumpah baru tau..😄

    suka ma quote’y “very fast relationship always has the very fast ending too..”

    emg klo lg galau plg nyaman ngobrol ma org yg kita percayai, apalagi ma org yg kita syg spt lee hyukjae.. hehe

  7. As usual, there r s0 many unusual qu0tes here, n I always like this. . . BTW, s0al cuek-mencueki, ky.na level Qta sama . .#curc0l . . . . Shela, hwaiting! !

  8. Yoo~ kaka selalu berpikiran utk menikahkan Lee Choco & Lee Cacao, biar kita besanan (?) ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ”̮ eh tp sbnrnya Choco itu Noonanya Cacao, umurnya Cacao lebih muda dari Choco. Tp khan cinta ga menilai umur *tsaaaah* /tlg abaikan komen saya yang ngaco ini. ㅋㅋㅋㅋ

  9. baru kepoo baru bacaa hihihi :3
    kalo aja ada cowo aseli macem lee hyukjae disini :’33
    mupeng sangat !!
    and i guess we have some similarity shel !
    me too , prefer to be more careless than pretend evrythg is alrite :3
    i’m not that strong x”D
    yet i dislike two-faced thingy(s) kkkk~

    • Hohoho~ ada tuh lee hyukjae yang aseeli, mudah2an sikapnya kaya gini. ;~;
      Bener banggets. Lebih baik menghindar dan cueks. xD
      Two-faced thing is something complex lah. Dunno when we actually need to act so but yes, I also hate being two-faced. If I dont like someone or something, I prefer go away. :’3

  10. ternyata saingan berat jiyoo itu choco hahaha lucu liat dia cemburu.
    eonni bolehkah aku nanya sesuatu? anggap aja boleh ya hehehe
    arti poo disini sebenernya apa?

    • Arti poo? Dulu sih pernah bikin postingan soal itu, tapi lupa judul postingannya apa. ><
      Poo: Precious, Oxygen, Oasis sih kepanjangannya.

  11. Padahal suasananya udah romantis, tiba-tiba langsung waktu Hyuk disuruh ngasih sarapan ke Lee Choco. Wkwkwkwk….

  12. “Seandainya kau berjalan cepat dan tanpa
    sengaja meninggalkanku, apa kau akan
    berbalik untuk menjemputku?”

    kok ngena banget yak!!!!
    hyuk u make me love u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s