Purple & You [Sebelas]

***

Aku tidak bisa mengabaikan orang lain,

Aku terbiasa memikirkan ucapan orang lain,

Tapi, jika semuanya berkaitan denganmu dan bukan yang lain,

Kurasa aku bisa mengabaikan dunia dan mengacuhkan orang lain…

===============================

1:12 AM

Setitik cahaya merah menerangi angkasa yang gelap. Walaupun cahaya itu satu-satunya hal yang menarik perhatian, tetap saja tak ada hal lain yang dapat diteranginya. Langit tetap gelap, segelap yang dapat dilihat dari atas tanah.

Lee Hyukjae membenarkan posisi duduknya. Jendela kecil di sebelah kanannya tak berhasil membuatnya terhibur. Lelaki itu resah. Diam-diam ia menunggu banyak hal.

Menunggu pesawat besi yang dinaikinya ini mendarat, menunggu pemandangan malam kota Seoul yang menyilaukan, dan menyambut orang lain yang mungkin tak ingin menyambutnya.

“Harus kukatakan, aku bangga dengan sikapmu ini,” gumam Kyuhyun santai. Ia duduk tepat di samping Eunhyuk. Sebuah penutup mata yang terpasang tadi kini diturunkannya. “Terima kasih untuk tiket gratisnya!”

Eunhyuk mendengus. Ia hendak menimpali tapi urung dilakukan. Berdebat dengan Cho Kyuhyun sama sekali bukan hal yang diinginkannya saat ini. Sebenarnya, ia cukup berterimakasih karena Kyuhyun sudah membantunya –walaupun secara tak langsung.

Kyuhyun tak bisa berhenti peduli walaupun ia bukan tipe orang yang bersedia direpotkan oleh masalah orang lain. Eunhyuk cukup terkejut dengan hal itu. Tentu saja, ia akan menjadi lebih dan sangat berterima kasih jika tiket pesawat mereka dibayar masing-masing.

Sebelumnya, Kyuhyun memang berkata ia berada di pihak Jiyoo. Hal itu bisa saja diartikan sebagai benteng perlindungan baru bagi Jiyoo agar Eunhyuk tak bisa mendekat. Tapi mungkin ia terlalu khawatir.

Eunhyuk mendesah berat. Belakangan ini memang ada banyak hal yang dapat membuatnya khawatir. Oh, mungkin memang banyak hal, tapi penyebabnya jelas hanya satu orang.

“Aku tidak memberitahu Hyori kalau aku ke Seoul,” ucap Kyuhyun seraya memakai kembali penutup matanya. “Karena itu, kalau dia sampai marah atau mengamuk atau apapun yang bisa membuatku cedera, bersiaplah membayar ganti ruginya.”

“Hyori tidak akan tega menyakitimu,” timpal Eunhyuk.

Kyuhyun menarik napas sambil melipat kedua tangannya di dada. “Biar kuperjelas, kalimat ‘membuatku cedera’ itu jadi satu dengan PSP dan segala barang kesukaanku. Hyori memang tidak akan tega menyakitiku, tapi PSP-ku? Itu lain cerita.”

“Tch~ arasseo! Aku akan menjadi petugas-asuransi-sementaramu,” Eunhyuk memalingkan wajah, memandangi langit hitam pekat di sampingnya.

Di atas ketinggian seperti ini, Eunhyuk berharap bisa melihat bintang atau apa saja yang berkilau indah, tapi satu-satunya yang dilihatnya adalah cahaya merah mercu suar yang tadi. Eunhyuk mendadak cemas. Mungkin sebentar lagi ia akan mendarat.

Mungkin sebentar lagi ia bisa bertemu dengan Jiyoo. Mungkin.

Eunhyuk merasakan perutnya yang seakan diremas-remas. Tidak, bukan mungkin. Eunhyuk tak boleh menebak. Ia pasti bertemu dengan Jiyoo.

Pasti.

—-

7:23 AM – Dorm

Shin Hyori mengintip ke dalam kamar Jiyoo yang terbuka. Biasanya ia akan menghambur masuk dan menyibak tirai, atau menarik selimut Jiyoo dan memaksa gadis itu bangun tepat waktu. Hyori mendesah. Sepertinya ia tak bisa bersikap seperti biasanya kali ini.

Jiyoo baru tiba dari Paris sekitar pukul empat sore waktu Seoul. Seharusnya Hyori menjemputnya di bandara, tapi Jiyoo menolak agar tak ada yang direpotkan. Tentu saja Hyori menurut.

Hyori menyambut Jiyoo di dorm dengan senyuman lebar. Yang disambut justru bukan seperti orang yang dikenal Hyori. Jiyoo memang tersenyum, tapi Hyori bisa melihat dengan jelas tatapan sedih dari gadis itu.

Ingin bertanya, tentu saja. Hyori adalah tipe gadis yang selalu ingin tahu.

“Sedang apa?” pertanyaan Jiyoo membuat Hyori terkesiap. Gadis itu buru-buru menegakkan badan dan tersenyum salah tingkah. Jiyoo mengerutkan kening, “Mau membangunkanku?”

Hyori mengangguk cepat. “Kukira kau belum… bangun.”

Dengan sedikit kejelian mata, Hyori bisa melihat kantung mata Jiyoo yang menghitam. Mungkin gadis itu sudah bangun sejak tadi. Atau Jiyoo memang belum tidur sama sekali.

“Apa kau tidak mengalami apa yang disebut jet lag? Kukira kau akan tidur seharian, Yoo,” ujar Hyori pelan. Ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar Jiyoo. Gadis itu menyibak tirai ungu yang membingkai jendela besar di samping ranjang.

Jiyoo menggigit bibir kemudian tersenyum kecil. “Mm. Aku memang berencana begitu, tapi aku tidak bisa tidur.”

Tak ada yang bisa dilakukan Hyori selain mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengambil tempat di samping Jiyoo. “Bagaimana Paris? Menyenangkan? Indah? Menara Eiffel, apa kau ke sana?”

“Paris… indah,” Jiyoo tak sanggup menggumamkan kata ‘menyenangkan’ karena memang tak ada yang bisa dianggap demikian saat ia berada di Paris. Jiyoo menghela napas berat dan berharap Hyori tak menyadarinya. “Aku tidak sempat ke Menara Eiffel.”

Hyori menurunkan bahunya karena kehilangan semangat. “Ah…” Ia kemudian berseru, “Tidak apa-apa! Mungkin lain kali.”

“Ya. Mungkin lain kali,” Jiyoo merasakan hantaman keras tepat di jantungnya. Ia tak mungkin berharap ada kali lainnya. Mengharapkan hal itu sama saja membunuhnya sekali lagi. Paris sudah tersingkir dari daftar kota tujuan berliburnya.

“Eumm… lalu, bagaimana Poo?” tanya Hyori lugu.

Jiyoo ingin menutup kedua telinganya atau sekalian saja membekap mulut Shin Hyori. Mendengar nama itu saja sudah berhasil meremukkan jantungnya. Jiyoo tak tahu bagaimana caranya memberi tahu Hyori.

Ia, tanpa tahu alasannya, takut menangis di depan Hyori.

“Dia sehat-sehat saja,” setidaknya Jiyoo tak berbohong. Eunhyuk memang sehat –secara fisik.

Hyori mengangguk-angguk lagi. Gadis itu kemudian teringat sesuatu. “Lalu bebek? Bagaimana kabarnya?”

“Kyuhyun? Kadang dia mengomel karena kedinginan. Selebihnya, dia masih hidup,” pengalihan bahan pembicaraan ini membuat Jiyoo sedikit tenang. Nol koma satu kilogram bebannya terangkat dan menghilang sekarang.

Bagus, hanya tersisa 99,9 kilogram lagi di pundaknya.

“Tch~ bebek manja,” gumam Hyori. “Ah.. aku juga ingin melihatnya.”

Jiyoo tersenyum kecil. Untuk beberapa alasan, ia merasa iri pada Hyori. Hyori bisa dengan bebas mengucapkan kalimat itu, bebas merindukan lelakinya, bebas mengakui apapun. Sementara Jiyoo? Untuk berpikir bahwa ia merindukan Eunhyuk pun rasanya itu adalah dosa besar.

Hyori mengembuskan napas panjang lalu tersenyum lebar. “Ayo sarapan!”

Ajakan itu disambut oleh anggukan Jiyoo. Meski lelah dan tak bersemangat, Jiyoo bertekad tak boleh membiarkan Hyori tahu. Dengan kekuatannya sendiri, ia harus menyelesaikan masalah hatinya ini.

Hyori baru saja hendak menarik tangan Jiyoo saat ponsel yang dijejalkannya ke dalam saku celemek berdering. Alis gadis itu terangkat heran. Nomor yang menghubunginya adalah nomor Kyuhyun, tapi kenapa nomornya nomor lokal?

“Ne?”

“Hyo, apa kau sedang bersama Jiyoo?” tanya Kyuhyun cepat. Hyori bergeming sambil melirik Jiyoo yang sedang melipat selimut kuningnya. Kyuhyun melanjutkan tanpa menunggu jawaban, “Ternyata dia di sana ya? Begini, aku ada di Seoul–“

“Mworago?!” Hyori memekik nyaring hingga Jiyoo reflek menoleh ke arahnya.

Walaupun tak bisa melihat Kyuhyun, Hyori yakin lelaki itu sedang menjauhkan ponsel dari telinganya. “Sekali lagi kau berteriak, pita suaramu akan kuatur ulang, Cho Hyori!”

Hyori mendengus pelan lalu berjalan menuju beranda. Ia sempat menoleh ke belakang dan memastikan Jiyoo sudah meninggalkan kamarnya. “Ya! Kaupikir pita suaraku ini senar gitar?! Kau ada di mana sekarang? Seoul?!”

“Mm-hmm. Kami tiba semalam–“

“Kami?” alis Hyori kembali terangkat dengan penggunaan kata jamak itu.

Kyuhyun menarik napas dan mengeluh. “Berhentilah memotong ucapanku. Kami, maksudnya aku dan Eunhyuk. Apa Jiyoo baik-baik saja?”

“Yoo? Dia baik-baik saja, eh, mungkin tidak. Sejak tiba kemarin, dia selalu tampak lesu, tak bersemangat, tapi dia tidak mau bercerita apa-apa padaku dan itu membuatku hampir gila!” Hyori menyerang Kyuhyun dengan omelan. “Ah! Cho Kyuhyun, kau tahu sesuatu, kan? Iya, kan? Iya, kan?”

“Kau ini cerewet sekali ya,” gumam Kyuhyun. Sebelum Hyori berhasil menyerangnya lagi, Kyuhyun menyela, “Jiyoo ada kuliah hari ini?”

Hyori berpikir sejenak, mencoba mengingat jadwal Jiyoo. “Mm! Siang ini sampai malam. Wae?”

“Nanti hubungi aku kalau dia sudah pergi, akan kujelaskan semuanya,” Kyuhyun menarik napas berat. “Hh~ Jiyoo sudah bilang aku tidak boleh memberitahumu soal ini..”

Alis Hyori terangkat. Kedua matanya menyipit. “Apa, kalian punya rahasia apa?!”

“Rahasia spesial JiKyu!” Kyuhyun memutuskan untuk menggoda Hyori sebelum memutuskan sambungan teleponnya.

Hyori memekik. “YAAAA~!!”

—-

Jiyoo mengangkat wajah saat menyadari Hyori baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu mendengar Hyori berteriak, tapi ia tak ingin repot-repot bertanya. Satu-satunya orang yang bisa membuat Hyori berteriak seperti itu hanya Cho Kyuhyun.

Hyori menarik kursi di samping Jiyoo kemudian menyendok nasi putih di mangkoknya. Ia melirik Jiyoo dan teringat pada rahasia spesial JiKyu yang dikatakan Kyuhyun tadi. Tanpa sadar, Hyori mengunyah dengan cepat karena kesal.

“Kyuhyun?” tanya Jiyoo.

Untuk sesaat, Hyori terkesiap. Ia mengangguk. “Menyebalkan!”

“Kenapa?”

“Dia bilang…” Hyori mendongak kemudian menghentikan ucapannya. Ia tak boleh bicara dulu pada Jiyoo. “Pokoknya dia menyebalkan!”

Jiyoo mengangkat bahu. Ia menyuapkan sesendok penuh nasi ke dalam mulutnya sebelum memandangi sarapannya tanpa napsu. Tiba-tiba saja, ia tak merasakan apa-apa lagi.

“Wae?” tanya Hyori yang mengunyah nasinya lebih pelan. “Ada yang salah lagi dari masakan buatanku?”

“Ani, aku sudah kenyang,” Jiyoo mengulum senyum tipis. “Mungkin aku akan berangkat lebih awal ke kampus. Kau libur, kan, hari ini?”

Hyori mengangguk-angguk dengan mulut yang penuh. Ia baru bisa membuka mulut setelah menelan makanannya. “Kau pulang malam?”

Setelah menyambar handuk biru muda miliknya, Jiyoo membalikkan badan dan mengangguk.

“Aku… ada acara organisasi sampai besok pagi, jadi–“

“Geurae?” potong Jiyoo. “Tidak apa-apa. Aku bisa di dorm sendiri. Bersenang-senanglah~”

Hyori mengangguk pelan. Punggung JIyoo menghilang di balik koridor pintu kamar mandi. Ia mengembuskan napas panjang. “Mianhae. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa tindakanku tadi benar, Yoo.”

—-

Song Eunhee menarik napas untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Kedua matanya tertutup kacamata hitam. Penerbangan tadi menguras seluruh tenaganya tanpa sisa dan ia hanya ingin tidur sekarang.

Gagasan itu tentu saja menggiurkan; tidur sepanjang hari karena jet lag. Eunhee mendesah berat. Sebelum melakukan itu, ia ingin melakukan hal yang lain terlebih dulu.

Eunhee memandangi langit yang biru. Langit kota Seoul selalu tampak berbeda baginya. Langit itu terlihat lebih biru, lebih teduh, dan lebih indah.

Mengejar Eunhyuk hingga kembali ke Seoul. Berapa kali pun diucapkan, kalimat itu terasa bodoh. Eunhee sendiri tak menyangka dirinya akan bertindak sejauh ini. Bukan yang pertama kalinya karena ia merasa belum lelah untuk mengejar lelaki itu ke mana pun.

Eunhee masuk ke dalam sebuah taksi. Tak ada koper, hanya tas tangan berisi paspor, dompet, dan kunci rumahnya di Seoul. Kedatangannya ke Seoul benar-benar tanpa persiapan.

Dengan sebuah senyum samar, gadis itu mengingat pembicaraannya dengan sang ayah di Paris.

Eunhee minta untuk dipindahkan sementara ke Seoul untuk membuat artikel tentang kota kelahirannya itu. Ayahnya, redaktur sekaligus pemilik kantor majalah lokal di Paris, tentu saja heran karena putrinya mengajukan permintaan seperti itu.

Pria baruh baya bertubuh gempal itu masih ingat bagaimana Eunhee merengek untuk masuk ke dalam kantor majalahnya. Eunhee juga yang mengusulkan satu edisi spesial untuk Super Junior, kelompok asal Seoul yang akan memulai debut di Paris. Semua permintaan itu masih masuk akal sampai permintaan yang lain meluncur dari bibir Eunhee.

Artikel tentang Seoul? Ayahnya tergelak nyaring. Song Eunhee lahir dan tumbuh dewasa di Seoul. Ia mengenal kota itu sebaik ia mengenal ayahnya sendiri. Untuk apa lagi gadis itu ke Seoul? Mengumpulkan bahan dan data? Yang benar saja.

Eunhee tersenyum seraya melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Tentu saja ayahnya benar. Ia bukan mencari bahan atau data apalagi membuat artikel tentang Seoul.

Semua itu dilakukannya demi satu orang, demi satu kata. Lee Hyukjae dan cinta.

Tadinya ia tak terpikir untuk bertindak sejauh ini. Menemui Eunhyuk adalah hal terakhir yang bisa dibayangkannya bahkan jika ia sedang bermimpi. Eunhee tahu lelaki itu terlalu berharga untuk itu dan ia sudah cukup menyakitinya.

Eunhee berpikir untuk menghilang saja selamanya dari pikiran Eunhyuk.

Semua itu berubah saat Kang Minhyuk datang padanya, memberitahunya bahwa ia harus menemui Eunhyuk setidaknya untuk yang terakhir kali. Eunhee ragu. Walaupun begitu, ia tetap pergi juga.

Ternyata, lelaki itu memiliki daya candu yang tinggi. Karena saat Eunhee ingin melepaskan Eunhyuk lagi, ia merasa tak rela.

Seharusnya ia menempati posisi yang lebih tinggi di sebuah kantor majalah di Roma, tapi ia menolak dan akhirnya mengemis pada ayahnya.

Eunhee mendapat posisi yang jauh lebih rendah –dengan keinginannya sendiri, tapi tak apa. Ia bisa bertemu dengan Eunhyuk lebih sering di Paris.

Dengan senyum muram, ia berpikir bahwa ia bisa mendapatkan lelaki itu lagi. Setidaknya itulah yang dipikirkannya sebelum melihat perubahan besar pada diri Eunhyuk. Lelaki itu sudah memiliki orang yang dibutuhkannya, yang tentu saja bukan Eunhee.

Eunhee mengeluarkan ponsel dan mulai menelepon. “Minhyuk-i? Kau senior di kampus Choi Jiyoo, kan?”

—-

4:12 PM

Choi Jiyoo menyeret langkahnya yang berat menyusuri jalan setapak di taman. Ia memandangi ruangan tertutup yang dibatasi oleh pintu bercat abu-abu gelap. Sebuah praktikum sedang berlangsung di sana dan Jiyoo sengaja melewatkannya.

Sebelum ini pun, Jiyoo sudah kehilangan minat untuk duduk diam mendengarkan penjelasan pria baruh baya yang memakai kacamata bening berbingkai tebal. Seluruh konsentrasi, bahkan pikirannya sedang tak berada di tempat yang benar.

Jiyoo memutuskan untuk duduk di salah satu kursi kayu panjang. Punggungnya disandarkan ke sandaran kursi. Ia merasa luar biasa lelah meskipun tak mengerjakan apapun yang melelahkan.

“Kudengar ada yang sedang melewatkan praktikum hari ini,” sebuah suara membuat Jiyoo menoleh. Kang Minhyuk berdiri di samping kursi Jiyoo dengan senyum miring khas dirinya. Ia melirik ruang kosong di samping Jiyoo. “Boleh?”

Jiyoo mengendikkan bahu. “Terserah.”

Minhyuk tersenyum lalu merebahkan diri di samping gadis itu. Dengan hati-hati, ia melirik Jiyoo. “Kau… masih belum baik-baik saja ya?”

“Entahlah,” aku Jiyoo singkat. Ia tak berusaha berbohong pada Minhyuk, setidaknya ia tak bisa melakukan itu. Kang Minhyuk cukup memahaminya dengan cara yang berbeda.

Tangan Minhyuk meremas tangan Jiyoo lembut. “Akan kubantu.”

Jiyoo memandang lurus ke depan, tempat teman-temannya yang lain sedang berkutat dengan peralatan laboratorium. Pikirannya tak bisa diajak beramah-tamah saat ini. “Aku tidak perlu bantuan apapun.”

“Aku akan membantumu melupakan Lee Hyukjae,” tegas Minhyuk lagi.

“Melupakannya?” Jiyoo mendengus geli. Gadis itu mengangkat wajahnya untuk melihat langit biru. Helaan napasnya terasa berat. “Kau percaya tidak, aku sama sekali tidak ingin melupakannya.”

Minhyuk memalingkan wajah, tak ingin melihat wajah Jiyoo yang terluka. “Tapi kau harus melupakannya, bukan begitu?”

Ucapan Minhyuk tak bisa disangkal. Lelaki itu benar. Jiyoo menarik napas panjang. Entah sejak kapan semua ucapan Kang Minhyuk terasa benar untuknya.

“Memang,” Jiyoo mengakui. “Tapi aku ingin menyimpannya hingga nanti kenangan tentang Lee Hyukjae memudar dengan sendirinya.”

Minhyuk menelan ludah. Ia tak ingin dibantah atau ditolak. “Kalau kau tidak mempunyai niat untuk melupakannya, kenangan itu tidak akan pernah memudar. Kalau tetap begitu, kau akan terluka dan tidak akan pernah sembuh, percayalah padaku.”

“Aku ingin percaya padamu,” ucap gadis itu perlahan. “Hanya saja, aku tidak bisa.”

Jiyoo menggigit bibir dan membiarkan Minhyuk menatapnya dengan tatapan tak percaya. Gadis itu memang ingin percaya pada setiap kata-kata Minhyuk, tapi selalu saja tak bisa. Diam-diam, Jiyoo hanya ingin berharap sesuatu yang sebenarnya tak boleh diharapkannya.

 Gadis itu berharap, dengan sangat, agar kenangan bersama Lee Hyukjae selalu melekat dalam ingatannya.

Minhyuk menghela napas kemudian mengembuskannya keras. Tangannya melepaskan tangan Jiyoo dengan cepat. “Aku tidak mau melihat Choi Jiyoo seperti ini, jadi tolong berhentilah bertindak bodoh!”

Jiyoo mengarahkan tatapannya pada Minhyuk. Gadis itu melihat kekesalan Minhyuk melalui kedua matanya. Emosi itu bercampur, mencerminkan banyak pantulan warna di kedua manik lelaki itu.

“Maaf, tapi… aku hanya tidak ingin melupakan apapun,” bisiknya. “Aku tidak peduli walaupun rasa sakit ini tidak akan berkurang. Aku hanya tidak ingin melupakan kebahagiaan itu.”

Minhyuk bisa melihat bibir mungil Jiyoo melengkung membentuk senyuman kecil. Lelaki itu, entah bagaimana, merasa dadanya dipukul dengan palu raksasa. Senyuman itu begitu indah sekaligus menyayat kulitnya.

“Kau… benar-benar tidak bisa berhenti membuat orang lain khawatir padamu!” nada suaranya meninggi walaupun ia tak menginginkannya.

Jiyoo menatap lelaki itu dengan alis terangkat. “Aku tidak pernah memintamu untuk khawatir padaku.”

“Aku sendiri juga tidak mau, tapi…” Minhyuk menelan ludah. “Aku benar-benar khawatir.”

“Tidak apa-apa. Jangan khawatir,” ucap Jiyoo datar. Ia meraih tas slempangnya dan berdiri. “Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku memang seperti ini.”

Minhyuk menahan lengan Jiyoo sebelum gadis itu sempat melangkahkan kaki. “Bukan itu maksudku. Biar kuantar pulang, eo?”

“Aku bisa naik bis,” balas Jiyoo. Gadis itu merasa jawabannya sia-sia karena Minhyuk sudah membawakan tasnya dan berjalan di sampingnya tanpa suara.

Keduanya berjalan menuju gerbang belakang kampus, tempat Jiyoo biasa menunggu bis. Minhyuk ingin memastikan gadis itu mendengar sesuatu tentangnya, jadi ia tak akan membiarkan kesempatan ini lenyap. Lelaki itu melirik Jiyoo diam-diam selama sepuluh detik sekali.

“Choi Jiyoo?” suara lembut itu membuat Jiyoo mengangkat wajah.

Jiyoo bisa melihat seorang gadis dengan kacamata hitam bersandar di dinding. Gadis itu berjalan pelan ke arah Jiyoo setelah menyisir rambut panjangnya dengan jari. Entah mengapa, Jiyoo merasa tegang dan tak nyaman.

Minhyuk menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja, otaknya memerintahkan untuk waspada. Ia mengambil tempat di depan Jiyoo hingga ia berada di tengah-tengah kedua gadis itu. “Eunhee noona?”

—-

Shin Hyori menggenggam erat mug keramik di depannya. Ia harus mengontrol tenaganya agar tak memecahkan gelas berisi teh hangat itu. Dengan pandangan menyipit, ia memandang kedua lelaki di depannya bergantian.

“Jadi, apa yang mau kaulakukan?” tanyanya sinis.

Kyuhyun berdeham. “Hyo, ini bukan salah Hyukjae.”

“Tapi tetap saja! Yoo benar-benar berubah sejak dia kembali ke sini! Apa kau tidak tahu bagaimana paniknya aku? Aku sangat penasaran, tapi tidak bisa bertanya!” omel Hyori. “Ternyata… dia mengalami kejadian buruk di Paris gara-gara Poo-nya!”

“Ck, sudah kubilang, ini bukan salah Hyukjae. Setidaknya, bukan sepenuhnya salah orang ini,” ulang Kyuhyun sambil menunjuk Eunhyuk.

Hyori berdecak tak sabar. “Inilah yang aku takutkan! Jiyoo itu benar-benar terlalu bergantung pada Poonya. Aku pernah berpikir bagaimana jika kejadian seperti ini terjadi dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan anak itu nantinya, tapi sekarang aku tidak mau melihatnya seperti ini.”

“Kau ini, kenapa membayangkannya? Tidak takut kalau bayanganmu itu menjadi kenyataan?” kali ini Kyuhyun balas mengomel.

“Cho Kyuhyun-nim, kita harus realistis. Semua hal punya kemungkinan terbaik dan terburuk. Kalau yang terjadi adalah yang baik, tentu saja itu bagus. Tapi bagaimana kalau seandainya kemungkinan terburuklah yang terjadi?” Hyori mengembuskan napas keras, nada suaranya melemah. “Tentu saja aku selalu berharap kemungkinan terbaik yang akan didapatkan Yoo.”

Gadis itu melirik Eunhyuk tajam. Walaupun tak mengerti masalah yang membuat keputusan itu tercipta, Hyori tahu itu tak baik untuk Jiyoo maupun Eunhyuk.

Eunhyuk bergeming. Ia menundukkan kepala, memandang lantai dorm yang sudah lama ditinggalkannya. Menemui Hyori dan bercerita padanya sudah tentu akan mendatangkan kalimat-kalimat tajam seperti ini, Eunhyuk tahu itu dan ia tak peduli.

“Apa keadaannya seburuk itu?” tanya Eunhyuk.

“Dia… Molla!” Hyori mengempaskan tubuh ke sandaran sofa. “Lee Hyukjae, menurutmu seperti apa keadaannya?”

Eunhyuk tersenyum muram. “Seperti kehilangan warna. Kadang kau akan menemukannya sedang melamun lalu jika kau memergokinya, dia akan tersenyum lebar seperti orang bodoh. Seperti itu?”

Hyori mengangguk-angguk pelan. Kyuhyun menimpali. “Itu sama seperti keadaan seseorang yang lain.”

Gadis berambut hitam gelap itu mendengus. “Ya, tentu saja keadaan itu sama dengan orang lain.”

“Kau salah sasaran,” sela Kyuhyun. “Tolong kau marahi anak kesayanganmu itu.”

“Wae~?” Hyori berseru tak terima.

“Karena anak itu yang mengajukan permintaan gila,” Kyuhyun menarik napas lelah. “Dia minta Poonya untuk memohon agar dilepaskan darinya. Apa itu masuk akal?”

Kedua mata Hyori tampak membulat. Mulutnya nyaris terbuka, hendak mengatakan sesuatu. Apapun itu, Hyori mengurungkan niatnya. Gadis itu hanya memandangi lelaki di samping Kyuhyun.

“Lalu sekarang apa? Untuk apa kalian datang ke sini sebenarnya?” tanya Hyori. Nada suaranya melembut. Ia memutuskan akan mendengar penjelasan Eunhyuk sebelum ia mungkin akan mencakar lelaki itu dengan sepuluh kukunya.

Eunhyuk mengembuskan napas berat. “Aku pinjam dorm kalian.”

“Mwo?”

“Dia perlu dorm kalian untuk bertemu dengan Jiyoo. Lagipula sepertinya Jiyoo akan mencari alasan agar tak bertemu dengan Hyukjae, jadi dia ingin menunggu Jiyoo di dorm. Jelas, setan kecil?” Kyuhyun mengabaikan tatapan sengit milik Hyori.

Hyori menggigit bibir bawahnya. Ternyata inilah sebabnya kenapa ia merasakan firasat aneh tadi pagi. Setelah menarik napas panjang, Hyori mengangguk. “Arasseo!”

“Cepat sekali setujunya.. sama sekali di luar bayanganku,” gumam Kyuhyun.

Dengan satu tangan, Hyori meraih mug di depannya sementara tangannya yang lain memukul lengan Kyuhyun pelan. “Bayangan dalam kepalamu itu membosankan, selalu tidak ada kejutan.”

—-

6:13 PM

Bunyi gemerincing lonceng kecil membahana saat pintu kafe kecil itu dibuka. Minhyuk sama sekali tak berminat menoleh ke arah pintu. Mungkin tepatnya, lelaki itu sama sekali tak berminat menoleh ke arah lain.

Kedua matanya tetap fokus memerhatikan Jiyoo dan sesekali melirik Eunhee. Ia berada di tengah-tengah kedua gadis yang sama sekali tak bisa ditebak. Karena beberapa hal, ia sangat tegang.

“Aku tidak tahu denganmu, tapi aku punya banyak hal yang harus kukatakan, Jiyoo-ssi,” ucap Eunhee. Ia berdeham kemudian melirik Minhyuk. “Berdua.”

Jiyoo mengikuti arah tatapan Eunhee. Gadis itu menggigit bibir. “Kang Minhyuk, kurasa kau tidak perlu berada di sini.”

“Kenapa?” Minhyuk bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Eunhee, meminta penjelasan.

Eunhee tersenyum kecil. “Akan kujelaskan padamu nanti, Minhyuk-ah. Bukankah sekarang kau harus latihan bersama membermu?”

“Noona sudah tahu jadwalku hari ini?” sindir Minhyuk. Lelaki itu mengeluarkan ponsel dan melihat tampilan jam digital di layarnya. “Sepertinya noona banyak mengobrol dengan memberku.”

Eunhee mengangkat bahu ringan. “Tentu saja.”

Minhyuk menjejalkan kembali ponselnya ke dalam saku dan menatap Jiyoo. Seolah mengerti arti tatapan Minhyuk, Jiyoo mengangguk. “Aku akan baik-baik saja.”

“Mwoya, sejak kapan kau berubah menjadi seperti ini, Minhyuk-i?” bibir Eunhee membentuk senyuman miring. Gadis itu kembali merasa iri dengan seluruh perhatian yang diterima Choi Jiyoo. Eunhyuk sudah sering menunjukkannya di Paris dan ia tak ingin melihat hal yang sama dari Minhyuk di Seoul.

Sambil menarik napas dan mengembuskannya perlahan, Minhyuk mendorong kursinya ke belakang. “Aku memang seperti ini, Noona.”

“Kau berubah, adik kecil,” Eunhee meneguk teh hangat dalam cangkirnya. “Kau… sangat berubah.”

Minhyuk menunduk sesaat sebelum mengangkat wajah dan menunjukkan senyum sempurnanya. “Karena seseorang, mungkin.”

Dengan gerakan lembut, Eunhee menurunkan cangkir dan mendongak untuk menatap Minhyuk yang sudah berdiri. “Seseorang juga mengatakan hal yang sama denganmu. Aku bertanya-tanya, apa orang yang kalian berdua sebutkan itu orang yang sama?”

Tangan Minhyuk terkepal di samping tubuhnya. Ia tentu saja sudah tahu siapa yang dimaksud Eunhee. Diam-diam, Minhyuk melirik Jiyoo, ingin tahu apakah gadis itu sadar siapa yang sedang ia dan Eunhee bicarakan.

Jiyoo menundukkan kepala. Dari tempat Minhyuk berdiri, ia bisa melihat gadis itu meremas-remas tangannya di bawah meja. Minhyuk menghela napas panjang. Jiyoo tahu siapa yang dimaksud Eunhee dengan seseorang itu.

“Tidak pergi?” tanya Eunhee, setengah menyindir.

Minhyuk jelas menunjukkan wajah tak suka. Latihan bersama membernya bisa berarti latihan sampai malam. Ia punya sesuatu untuk dikatakan pada Jiyoo dan kesempatan seperti ini sangat tak ingin disia-siakannya.

Jiyoo menatap Minhyuk yang tampak frustasi. “Sudah kubilang aku akan baik-baik saja. Pergilah.”

“Geurae,” ujar Minhyuk lesu. Lelaki itu sempat menoleh sebelum benar-benar membuka pintu kafe dengan satu dorongan.

Eunhee menarik napas dengan sikap berlebihan. Ia benar-benar lega saat tak ada lagi orang yang mengganggunya dan Jiyoo. Gadis itu memandang wajah Jiyoo dengan seksama. “Jiyoo-ssi, aku–“

“Apapun yang akan kaukatakan,” sela Jiyoo cepat. “Aku tidak ingin membicarakan soal Lee Hyukjae.”

—-

Lee Hyukjae menyapukan pandangannya ke setiap sudut kamar dengan dominasi ungu itu. Beberapa buku menghiasi rak kecil di dekat ranjang. Eunhyuk mendekat dan tersenyum kecil. Lebih dari separuh buku-buku itu adalah novel terjemahan. Tak mengherankan, kesukaan Choi Jiyoo.

Tarikan napasnya terasa lebih ringan. Selama ini, Eunhyuk selalu merasa kesulitan bernapas. Entah mengapa, tapi kadang dadanya lebih sering terasa berat. Tapi saat berada di ruangan ini, Eunhyuk merasa luar biasa nyaman dan tenang.

Napasnya lega saat menghirup aroma kamar Jiyoo yang bercampur dengan parfum gadis itu. Wanginya menyegarkan. Walaupun ini baru kedua kalinya ia memasuki kamar gadis itu, Eunhyuk merasa ia merindukan kamar ini. Dan pemiliknya.

Eunhyuk menempatkan dirinya di atas ranjang. Salah satu tangannya menyentuh selimut kuning yang dilipat rapi menutupi ranjang Jiyoo. Ia ingat Jiyoo pernah bercerita bahwa ia selalu tidur dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Jadi selimut itu adalah selimut kuning ini. Eunhyuk tersenyum.

Lelaki itu mengernyitkan kening saat melihat sebuah kotak ungu besar dengan tutup terbuka. Ia berjalan mendekat dan mengintip isinya. Eunhyuk terhenyak.

Sepasang sarung tangan ungu dengan hiasan bulu putih lembut, syal rajutan warna pastel, dan seluruh barang Jiyoo yang berhubungan dengan Eunhyuk berada di sana. Eunhyuk duduk bersila di lantai. Ia mulai mengeluarkan semua barang itu satu per satu.

“Kau kekanak-kanakan sekali, Choi Jiyoo,” gumamnya. “Kenapa semua barang konyol ini masih kau simpan?”

Eunhyuk tak menyangka semua barang lama mereka jadi satu dalam kotak itu. Ia tersenyum kecil saat menemukan daun strawberry kering yang ditempelkan di tepi potret mereka berdua. Jiyoo bilang ia ingin menyimpan daun itu karena itu pertama kalinya ia makan strawberry di kebunnya langsung.

Sebuah album foto menarik perhatiannya. Eunhyuk mengusap sampul kulitnya yang tebal. Warnanya ungu gelap dengan corak hati di sekelilingnya. Lagi-lagi, khas Choi Jiyoo.

Eunhyuk membuka lembar pertama. Foto Jiyoo kecil yang bersandar manis di samping kakaknya. Jiyoo merengut saat ibunya bercerita ia duduk bersandar seperti itu karena ia belum bisa duduk hingga harus disangga kakak laki-lakinya.

Lembar demi lembar membuat senyuman Eunhyuk semakin lebar. Semua kenangan gadis itu seolah menjadi bagian dari kenangannya juga. Tak heran, karena sebagian pun ada potret keduanya.

Ada foto Jiyoo diapit Eunhyuk dan Donghae. Eunhyuk ingat ketika itu ia dan Donghae mencubit kedua pipi Jiyoo hingga wajah gadis itu tampak seperti sedang tersenyum; tersenyum konyol. Saat itu adalah masa-masa awal Jiyoo masuk dalam lingkaran Super Junior.

“Sudah berapa lama foto ini?” Eunhyuk bertanya-tanya.

Lembar lainnya, Jiyoo dan Eunhyuk hanya berdua. Keduanya membentuk huruf V dan tersenyum lebar ke arah kamera. Sebuah bianglala raksasa menjadi latarnya. Eunhyuk tersenyum. Itu kencan pertama mereka.

Eunhyuk mengusap foto di tangannya dengan lembut. Wajah Jiyoo semakin nyata dalam indera penglihatannya. Tarikan napasnya kembali menjadi berat.

“Aku tidak pernah minta untuk kaulepaskan, Choi Jiyoo,” bisiknya.

Eunhyuk kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Imajinya bergerak, membayangkan Jiyoo berada dalam kamar itu. Eunhyuk seolah bisa melihat apa yang sering dilakukan gadis itu di kamarnya.

Sebuah lemari pakaian dengan banyak ornamen ungu membuat Eunhyuk menghidupkan visual Jiyoo yang sedang mengomel karena tak menemukan pakaian yang cocok untuk dikenakan saat kencan.

Eunhyuk mengalihkan pandangannya ke ranjang yang kosong. Lelaki itu membayangkan Jiyoo sedang tertidur dengan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya. Ia bertanya-tanya apa gadis itu sering kedinginan.

Sebuah notebook hitam yang tak tertutup membuat Eunhyuk bisa melihat Jiyoo yang duduk diam sambil mengetik sesuatu sambil memasang earphone hingga tak ada yang bisa mengganggunya. Eunhyuk mendesah berat. Benda hitam itu adalah harta Jiyoo –di atas koleksi novelnya.

Eunhyuk mendekap album foto itu di dadanya. Ia berbisik sambil tersenyum. “Aku merindukanmu, Choi Jiyoo.”

—-

Choi Jiyoo menghela napas berat sebelum memasukkan kunci ke lubangnya. Salah satu tangannya menenteng tas belanja plastik. Hyori tidak akan berada di dorm hingga besok pagi, jadi Jiyoo harus menyiapkan makan malam dan sarapannya sendiri.

Gadis itu mendorong pintu dengan sentakan pelan. Jiyoo meletakkan tas plastiknya di lantai sementara ia melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal lembut.

Ruang tengah dormnya tampak gelap. Jiyoo mendesah. Ia tak suka berada di tempat gelap sendirian. Gadis itu berjalan perlahan untuk meraih saklar lampu.

“Kau sudah pulang, Jiyoo-ya?” suara itu terlalu dikenalnya hingga Jiyoo tak perlu lampu yang menyala untuk tahu pemilik suara itu.

Jiyoo membulatkan mata saat cahaya lampu itu menerangi wajah Eunhyuk. Lelaki itu berdiri di tepi pintu kamarnya. Jiyoo menebak-nebak apa yang dilakukan Eunhyuk di kamarnya, bukan, dorm ini. Apa, bagaimana, dan mengapa adalah rentetan kata tanya yang berbaris di kepala Jiyoo.

“Kau beli makanan?” Eunhyuk melirik tas plastik yang masih berada di lantai. Lelaki itu mendekat dan meraihnya. “Mwoya, nasi goreng kimchi? Ddo?”

“Sedang apa kau di sini? Ani, kenapa kau bisa ada di Seoul?” tanya Jiyoo.

Eunhyuk mengangkat bahu. “Ada yang harus kukatakan, tapi aku tidak mau mengatakannya lewat telepon, email, apalagi surat, jadi aku ke sini untuk menemuimu.”

“Lee Hyukjae,” panggil Jiyoo datar. “Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi, termasuk tidak akan berteriak dan memanggil semua orang karena kau menyusup ke dorm yang hanya ditinggali dua gadis lajang, jadi bisakah kau pergi dari sini?”

“Hh… bagaimana ya,” Eunhyuk pura-pura bergumam. Lelaki itu tersenyum puas. “Tidak. Aku tidak mau. Tidak bisa.”

==============TBC==============

Bwahahahaha~ I wanted to make unhappy ending, actually. But why did I make another lovable-Lee-Hyukjae~?! =___=

Anyway, I still have to make Minhyuk-Eunhee real roles, so… yea, fighting for me. xD

Those memories that Eunhyuk had seen, I doubt you guys remember, but I took em from My Wonderful Life and Paparazzi in Love. :3

Err… and yesseu, lets move to Seoul! xD Thanks for readiiing~ Comments are waited.. ^-^

I’ll officially start JiKyu new story, so please anticipate it~! *smirk* But I wonder if Shin Kyuhyo-nim will change her mind.😉 I believe she wont let this become real. xD

p.s: what do you guys want for ending? Happy or…. Sad ending? :3 Since I already made a half for ending, I’ll ask your opinion guys. ^^

47 thoughts on “Purple & You [Sebelas]

  1. Happy ending aja ya. Kan dr kmrn udh sedih2 plus menggalau ria

    entah mengapa pengen cakar2 minhyuk sm eunhee. Mereka itu serasa maaf,ga tau malu. Hehehehehe

    mwoya Jikyu? Hahahhaahaha entar perang dunia hlo…

  2. HAPPY ending ofc !! :3
    ahirnyaaa hyuk keras kepala jg ! gitu ke nyuukk dari kemarenkemaren .
    itu si nunanuna ngapein lagi dah ? -.-
    ckck . minhyuk disini msh dalam batas ambang normal , jd ngga perlu dikarungin seperti sebelumsebelumnya😛
    happy yaaa yoooo ? *tebar koskaki hyuk*

  3. aku pgn happy ending..
    happy ending yang manis..and terasa nyata..
    hehehee….

    tetap lah menulis…aku suka baca hasil tulisan kamu shella ^^

  4. happy ending doongss
    eunhyuk keren bgt langsung ngadepin masalahnya sampe balik ke korea cowok bangetlahh
    yoo ayo balikan lg sm poo nyaaa~
    kyuhyun evil dasar ga pernah mau rugi ! hyo juga kebawa evil kan hahaha

  5. HAPPY ENDING pokoknya!! Wkwk
    Gak tega liat tampang menyedihkan kunyuk oops I mean Poo hohoho

    Penasaran sumpah sm hyuk, bkal ngelakuin apa tuh hyuk beduaan sm jiyoo… O,o
    Hahaha
    Ditunggu kelanjutannyaaaa

  6. finally P&Y published~ aku sampe kangen sm JiHyuk aku smp ke blognya kak nanda >< kakaaakkkkk Jiyoonya kenapa disini bikin geregetan. Aku geregetan w('A'w) kalo hidupnya kayak gitu tanpa HyukJae kenapa masih sok2 kuat w('A'w) aku gasabar nunggu bagian 12~ apa yang bakal dilakuin eunhyuk?:Ojangan lama2 publishnya kak T-T fighting~

    • Hehehe… iyah, Mom syuda cerita kamu maen ke e-house buat bilang kangen jihyuk.
      Makasihh yaaa~ ^-^
      Mm… doain aja wp gak bikin kesel yah, males banget ama wp sekarang~ ;A;
      makasihh banyaaks~ ^-^

  7. Happy ending..happy ending..happy ending..
    Eunhee+minhyuk sepasang penggangu slalu bkin kesel..kpan kxan berhenti ganggu Poo&Yoo..?
    Ayo Poo semangat teruz..jgn dlu kmana2 sblum Yoo mw blikan..haha
    next part.a ditunggu sx chingu..
    Hwaiting!!!

  8. akhirnya ya, publish juga. WordPress dan koneksi lagi akur kayaknya. :3
    sumpah. jadi pengen ngejambak eunhee -__- ngapain ikutan datang juga sih ?!
    dasar JiPoo~ pasti mau happy ending lah !
    anyway, I won’t change my mind. *mehrong~*

  9. As always…DAEBAK!!!
    Tapi kurang panjang..(∩.∩)づ hε.•.hε.•.hε..
    Happy ending aja la saeng,ga kuat kalo sedih2 mulu..
    みaみa ..
    Fightinggg….!!!!!!! ‎​(ง!`☐´)ง

  10. happy ending, happy ending yaa…
    Atau sad ending juga gpp sihh,, tapi eunheenya dilenyapkan saja,, kesel tuh sama cewek satu ituh, antagonisnya kerasa banget,, ngapain ikut2an pergi ke seoul.. Huhhh..

    Adeuh jiyoo berdua di dorm sama poo,, ckckckc.. Poo jenius yaaaa,, kekekke..

    Pokoknya saya tunggu part berikutnya deh..

  11. happy!!!!

    aduh maaf ya, au bacanyacuma scroll cepet”. ,asih ga tega baca part menggalaunya sebelum tau happy ending. Pembaca yang ga penting banget…

    ditunggu lamjutannya…

    ps: boleh EunHee nya didorong ke jurang aja? #pembaca makin ga tau diri

  12. aigoo~~ harus happy ending… #maksa.. ^^ ksian si Poo…
    itu Eunhee.. minta dijambak kli ya?!! ngapain ngikut ke Seoul,, dsar noona noona genit… apa lgi cba yg dy blng sm Jiyoo… gk kapok bnget udh d tolak jg… isshh~~
    next part d tungguin😀

  13. hihihihi~ pembukaannya dah bikin saya ketawa xD
    perbincangan kyuhyuk di pesawat itu bikin saya ketawa
    pekerjaan hyukjae sekarang selama di seoul : petugas asuransi sementara nya kyu xD
    ntahlah..tapi menurutku part ini dah tidak begitu galau, benar tidak ya?
    sesi introgasi hyori juga bikin aku ketawa…
    soal minhee…no coment lah~
    hihihi~pembukaannya bikin ketawa…penutupnya juga bikin ketawa xD
    ckckck…hyukjae…hyukjae….
    happy ato sad ending ya?
    sad end juga nggak papa…happy end lebih suka lagi ^-^

  14. happy ending donk~
    jgn smpe da sad ending, dah galau2 tuh….

    minhyuk benar2 berubah, jd lbh baek.. hehe
    utk eunhee, terserah dch… gak suka ma karakter’y…🙂

  15. Happy end laaaah… Aku benci sad end….. ><
    ditunggu lanjutannya yoo….😀 *pilox rambut poo jd blonde* :p

  16. annyeong..
    reader baruu.. ^^ intan imnida..
    kak author yg super.. *mario teguh banget*
    jujur ini bingung mau komen dari mana; jadi di part ini ja ya #gapentingbgt
    ··ㅇㅇㅇㅇ··
    aku sih mentok jelas pengen happy ending..
    aku ngerasa penggambaran sakit hatinya yoo ini bener-bener ngoyak hati. sakitnya ikut ngalir. emosinya sampai. dengan konflik yang rasanya ‘ini kenapa nggak selese-selese‘ dan aktor2 yg bikin jengkel; suka nyelip sembarangan dan bikin kacau acara (ditampol eunhee sama -bibir- minhyuk XD) ceritanya bener asik..
    ah bingung apalagi·· sekian saja ··

    lanjutan makin cepet dipost batin makin puas *plak
    #kissbye wk

  17. Poo eh Hyukjae ding nyusul Yoo ke korea..
    Huaaahhh so sweet..
    Apa yg diomongin eunhee ma jiyoo??
    Aku jd penasaran gimana Jiyoo bisa masuk ke lingkaran kehidupan super junior n bisa jd pacar Hyukjae..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s