[JiHyukism] Muffin vs Cupcake

 

 ***

Kenapa aku menyukai tanggal lahirmu?

Karena… di tanggal itulah aku selalu mengingat datangnya seorang laki-laki sempurna; laki-laki yang masuk ke dalam hidupku dengan paksa dan mengacaukan segalanya.

Yoo

===========================

March 29, 2012 – Yoo’s dorm

“JJAN~!” Jiyoo mengusap keningnya. Senyumnya merekah sempurna menatap hasil karya di hadapannya itu. Empat buah kue muffin membuat kedua matanya berbinar-binar.

Binar matanya tak bertahan lama hingga ia menyadari tampilan yang kacau dari sesuatu yang dianggapnya sebagai master piece.

Gadis itu menarik kursi dapur dan duduk di atasnya. Sambil menggigit-gigit bibir, ia mengamati muffin-muffin mungil berhiaskan krim warna-warni. Jiyoo tahu hasil karyanya itu sama sekali tidak bisa dianggap bagus, bahkan ia sendiri sadar kue-kue itu buruk rupa.

Dua jam berkutat dengan adonan warna-warni, hasilnya justru di luar harapan. Jiyoo menggeleng pelan. Bukan benar-benar di luar harapan, ia memang tahu ia agak payah dalam hal seni hias-menghias kue. Ia tahu itu dan tetap ingin mencobanya.

Tentu saja hasilnya seperti yang dibayangkan Jiyoo. Berantakan.

“Hh~ andwaeneunde..” gumamnya.

Dalam hitungan detik, ia meraih satu muffin dan menggigit pinggirnya. Karyanya sama sekali tak pantas diberikan pada orang itu. Siapa yang mau menerima muffin buruk rupa tak berbentuk seperti buatannya?

“Sedang apa?” seorang lelaki merangkul pinggang Jiyoo dari belakang, membuat gadis itu nyaris kehilangan keseimbangannya.

“Kau yang sedang apa!” seru Jiyoo kesal. “Lepaskaaaaann~”

Lee Hyukjae mengerutkan kening. Tak biasanya Choi Jiyoo menolak skinship darinya. Lelaki itu merengut. “Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kau sering marah-marah?”

Jiyoo berdeham. “Memangnya aku tidak boleh marah?”

“Tidak boleh. Tidak boleh padaku,” Hyukjae tersenyum lebar. Sejenak kemudian ia melirik muffin-muffin mungil di atas meja makan. “Apa ini? Kau memasak?” ujarnya sambil menahan tawa.

Gadis itu menyipitkan mata dan menjauhkan nampan berisi ‘anak-anak’ buruk rupa buatannya.

“Yaaa~ aku mau lihat,” rengek Hyukjae.

Jiyoo menggelengkan kepala. “Ini untuk acara kampus.”

“Apa ada laki-laki idolamu di acara itu?” selidik Hyukjae. Melihat Jiyoo yang menolak menjawab, Hyukjae berdecak kesal. “Benar, kan? Aku benar, kan?!”

Sambil menelan ludah, Jiyoo memasukkan nampan dalam pegangannya ke dalam lemari es. Gadis itu kemudian menyentil kening Hyukjae pelan. “Benar sekali. Acara kampus bersama Tuan P, pasti menyenangkan, bukan begitu?”

“Ya! Aku ini kekasihmu, Choi Jiyoo!” Hyukjae menahan tangan Jiyoo yang tadi menyentuh keningnya. Lelaki itu merengut. “Lagipula acara kampusmu itu tidak lebih penting dari–“

“Oh, sangat penting. Lebih penting dari apapun,” Jiyoo melepaskan tangannya dengan cepat dan tersenyum puas sebelum meninggalkan Hyukjae di meja dapur.

Hyukjae mendesah. “Lebih penting dari ulang tahunku juga?”

—-

March 30, 2012

Dengan kacamata hitam terpasang di cuping hidungnya, Hyukjae menurunkan kaca jendela mobil Ford silvernya dan memandang ke seberang jalan. Dua buah gedung berdiri kokoh dengan sebuah banner raksasa yang menginformasikan acara ulang tahun fakultas. Tanpa sadar, Hyukjae mendengus.

Sekumpulan orang yang lalu-lalang di sekitar gedung itu tak menarik perhatiannya. Tidak satu pun, kecuali gadis dengan blazer ungu muda yang membawa sebuah kotak putih ukuran sedang. Choi Jiyoo berjalan entah menuju ke mana.

“Mau ke mana kau, Yoo?” kedua mata Hyukjae menyipit.

Ekor matanya mengikuti setiap gerakan kecil sosok gadis berambut panjang sebahu itu. Hyukjae terus memerhatikan Jiyoo hingga seorang lelaki dengan kemeja hitam dan tas slempang kain menghampiri gadis itu.

“Hmm? Nuguya?” gumamnya.

Hyukjae membuka kacamatanya, berusaha mengamati kedua orang itu lebih jelas. Jantungnya terasa tak beres saat melihat Jiyoo tertawa di depan lelaki tak dikenal itu. Hyukjae mengenali tawa itu, tawa kesukaan Jiyoo; dan kesukaan Hyukjae juga.

“Mwoya, mwoya?! Kau tertawa? Di depan laki-laki jelek itu?!” Hyukjae mengomel sendiri.

Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja. Dengan gerakan cepat, ia menekan layar ponsel untuk menghubungi Yoo-nya. Hyukjae menunggu jawaban dari gadis itu sambil berdecak tak sabar.

“Ne?” akhirnya suara bening itu terdengar di telinga Hyukjae.

“Di kampus?” tanya Hyukjae cepat.

Jiyoo diam sejenak, ragu untuk menjawab. Gadis itu kemudian menyahut pelan. “Tidak. Aku di perpustakaan kota, mencari buku. Kau?”

“Perpustakaan?” alis Hyukjae terangkat sebelah.

“Ne~ aku sedang sibuk, jadi sampai jumpa,” gadis itu bahkan tak berusaha mengulur waktu untuk mengobrol lebih lama dengan Hyukjae. Selama Hyukjae mengenal Jiyoo, gadis itu selalu suka lama-lama berbicara di telepon dengannya. Selama ini selalu begitu, lalu kenapa sekarang berubah?

Hyukjae melemparkan ponselnya ke kursi penumpang di sampingnya. Tangannya mencengkram pinggiran kemudi dengan kuat hingga buku-buku jarinya terlihat. Jantungnya juga seolah tak bekerja dengan benar.

Entah bagaimana, semua yang berhubungan dengan Lee Hyukjae tak akan pernah benar jika Choi Jiyoo tak menginginkannya bekerja dengan benar.

Hyukjae mengempaskan dirinya ke sandaran kursi. Ia tersenyum mengejek. “Choi Jiyoo..”
—-

Choi Jiyoo melirik laki-laki yang saat ini sedang duduk sambil melipat kaki di sofa. Untuk alasan yang tak jelas, Jiyoo merasa gugup. Lee Hyukjae tiba-tiba datang ke dorm dan menampakkan raut wajah yang sama sekali tak bisa dikategorikan sebagai ekspresi baik-baik saja.

“Hmm… Poo?” panggilnya ragu.

Lee Hyukjae tak merespon, bahkan sama sekali tak menanggapi Jiyoo. Lelaki itu hanya menghela napas tanpa menatap gadis yang memanggilnya.

Jiyoo mengerutkan kening, sedikit merasa frustasi dengan sikap Hyukjae. “Ada apa?”

Lagi-lagi tak ada jawaban. Jiyoo mendesah berat kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Hyukjae. Lelaki itu terkesiap untuk sesaat sebelum berdeham. “Apa yang kaulakukan?”

“Bersandar pada laki-laki kesukaanku,” jawab Jiyoo singkat. Kepalanya mendongak hingga keningnya menempel di dagu Hyukjae. “Ada apa denganmu? Kau marah?”

Hyukjae memalingkan wajah. “Tidak.”

“Bohong,” sela Jiyoo. Gadis itu menggigit bibir sambil mengamati wajah Hyukjae dari dekat. “Jelas-jelas di keningmu ini ada tulisan, ‘Aku marah, jangan diganggu’, benar tidak?”

Dengan satu kali lirikan tajam, Hyukjae menghela napas panjang. Ia tak bisa benar-benar marah pada gadis di sampingnya ini. “Baiklah, aku marah, sangat.”

“Kenapa?” Jiyoo mengerjapkan mata beberapa kali, bingung.

“Menurutmu kenapa?” Hyukjae balik bertanya. Ia mengetuk kening Jiyoo pelan. “Tentu saja karena dirimu, Choi Jiyoo yang manis.”

“Karena itu, kenapa?” tanya Jiyoo lagi, tak sabar. “Apa yang salah denganku?”

Hyukjae menyipitkan kedua matanya. Sesaat kemudian ia menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. “Pertama, karena sejak kemarin kau selalu marah-marah padaku. Apa kau punya pembelaan untuk itu?”

“Itu…”

“Aku tidak akan marah untuk yang satu itu, karena aku tahu wanita memang susah ditebak,” potong Hyukjae.

Jiyoo berdecak kesal. “Ya, ya, ya, tentu saja kau tahu dengan saaaaangat baik.”

“Apa ini, kau berusaha membuatku terlihat buruk di sini?” Hyukjae merajuk. “Anggap saja kita tidak pernah membahas soal mengerti wanita, deal? Deal!” ujarnya cepat. “Kedua, aku meneleponmu tadi siang, bukan?” Jiyoo mengangguk dengan wajah tanpa dosa. Tentu saja hal itu membuat Hyukjae kesal. “Kau bilang ada di perpustakaan?” Hyukjae melihat Jiyoo mengangguk lagi. “Tapi kenapa aku melihatmu di depan gedung fakultasmu? Membawa sebuah kotak putih.”

“Ah, itu… kau melihatku?” pertanyaan Jiyoo seakan-akan ia tidak membuat seseorang kesal dengan kebohongannya itu.

Hyukjae kembali menghela napas berat. “Ya, aku melihatmu. Dengan sangat jelas.”

“Itu… mianhae, kotak putih itu–“

“Biar kutebak, untuk acara kampus yang sangat-penting-dan-tidak-terkalahkan, kan?” Hyukjae kembali menyela. Jiyoo mengangguk walaupun terlihat ragu. “Karena aku adalah laki-laki yang sudah dewasa dan sangat pengertian, aku tidak akan mempermasalahkan kebohonganmu itu.”

“Hei, hei, tunggu dulu! Apa tidak bisa kita lupakan soal ‘laki-laki pengertian’ itu? Kalau kau memang pengertian, bukankah seharusnya acara interogasi dan memojokkan Choi Jiyoo ini tidak terjadi?” sahut Jiyoo.

Hyukjae menyipitkan mata, memandang Jiyoo dengan tatapan jangan-pernah-menyelaku-seperti-itu. Jiyoo menurut dan menundukkan kepalanya. “Siapa laki-laki itu?”

“Eh?”

“Laki-laki itu! Yang mengenakan kemeja hitam jelek dan tas slempang dengan warna tidak jelas,” deskripsi dari Hyukjae sama sekali tidak membantu Jiyoo memahami akan ke mana arah pembicaraan mereka ini. Hyukjae mengerang, “Demi Tuhan! Yang berjalan bersamamu tadi siang!”

Jiyoo mengerutkan kening sejenak kemudian menepuk tangannya satu kali. Ia berseru, “Ah! Orang itu!”

“Benar, ‘orang itu’! Apa seseorang yang kita sebut orang-ini punya nama? Ah, bukan, setidaknya penjelasan singkat yang masuk akal kenapa kau bisa tersenyum semanis itu pada orang-itu?” omel Hyukjae.

“Aigooo~ Uri Hyukjae sedang cemburu? Kwiyeopda~” tanpa berusaha menunjukkan kekhawatiran atau kecemasan apapun, Jiyoo mengusap-usap pipi kiri Hyukjae.

Hyukjae menjauhkan kepalanya, menghindari sentuhan gadis itu. “Aku serius, siapa dia?”

“Siapa dia? Tentu saja teman kampusku,” Jiyoo mengangkat bahu. “Dan soal berbohong itu… aku minta maaf, ada sesuatu yang tidak boleh kukatakan padamu.”

“Mwonde?” tanya Hyukjae keras kepala.

Jiyoo tersenyum kecil. “Bukankah sudah kubilang kalau sesuatu itu tidak boleh kukatakan?”

“Terserah kau saja,” Hyukjae menarik diri dan bangkit meninggalkan Jiyoo. Gadis itu memandangi Hyukjae yang menatapnya. “Kalau tidak mau bilang, aku bisa cari tahu!”

—-

March 31, 2012

“Aku sudah bilang, kan, aku akan mencari tahu sendiri, Choi Jiyoo-ssi,” Hyukjae bergumam. Kedua matanya menatap lekat-lekat deretan cupcake yang masih berada dalam lemari es.

Hari ini seharusnya ia berada di dormnya sendiri untuk beristirahat sebelum terbang ke luar negeri lagi. Saat melirik penanda tanggal di ponselnya, ia teringat jadwal kuliah Jiyoo. Gadis itu tak akan berada di dorm sampai sore.

Dan tentu saja kesempatan seperti itu tak akan disia-siakan Lee Hyukjae.

Lelaki itu bertekad akan mencari tahu ada acara apa di kampus Jiyoo hingga ia begitu sibuk dan mengacuhkan satu-satunya kekasih kesayangannya ini. Yang lebih penting lagi, Hyukjae harus tahu siapa laki-laki berkemeja hitam jelek itu.

“Tch~ bahkan berani mengabaikanku yang akan berulang tahun, tahun sebelumnya kau bahkan rela menyusulku ke Taipei,” omelnya pelan.

Deretan cupcake mungil itu sangat menggiurkan. Hyukjae bertanya-tanya apa Choi Jiyoo sendiri yang membuatnya, atau gadis itu hanya membeli dari temannya? Hyukjae tersenyum geli. Tentu saja pilihan kedua-lah yang benar.

Choi Jiyoo sama sekali tak pernah membuat kue. Bukan, gadis itu pernah membuat kue, tapi tidak serapi cupcake-cupcake ini.

Hyukjae memiringkan kepalanya. Kue-kue di hadapannya ini terlihat dibuat oleh profesional; yang tentu saja profesional itu bukan Choi Jiyoo. Gadis itu terlalu ceroboh untuk dapat menghasilkan cupcake yang sedang dilihat Hyukjae saat ini.

Tebakannya benar. Hyukjae menemukan kertas dengan pembayaran 60.000 won untuk dua belas cupcake. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. “Ck, Choi Jiyoo..”

Gagasan lain menyelinap perlahan ke dalam kepala Hyukjae. Dua belas cupcake untuk acara kampus jelas terlihat berlebihan. Setidaknya dengan harga semahal itu bisa saja Jiyoo mendapat kue lain dengan jumlah lebih banyak.

“Solma…” ia bergumam kemudian tersenyum puas. “Cupcake-cupcake ini untukku?”

Hyukjae mengangguk-angguk. Tentu saja, ulang tahunnya sudah dekat. Jiyoo pasti hanya sedang mengerjai Hyukjae. Gadis itu pasti sudah menyiapkan semua hal untuk menyambut hari lahir Hyukjae. Pasti seperti itu.

“Eii~ Choi Jiyoo,” kedua mata Hyukjae semakin berbinar saat memandangi deretan kue cantik di depannya. Lelaki itu mengangkat sebuah cupcake polos sambil tersenyum lebar.

“Kenapa?” suara itu membuat Hyukjae terkesiap hingga tanpa sengaja menjatuhkan cupcake dalam pegangannya. Jiyoo memekik nyaring. “YAAAA~!”

Hyukjae buru-buru membungkuk, berusaha meraih cupcake yang terjatuh ke lantai. Ia terlambat selangkah, Jiyoo sudah berjongkok dan memungut cupcake itu.

Jiyoo mengusap-usap cupcake yang berada dalam tangannya, sekedar berjaga-jaga kue itu masih terlihat baik-baik saja. “Mudah-mudahan masih layak dimakan..”

“Tidak perlu, sebelas cupcake sudah cukup membuatku bahagia,” sahut Hyukjae tenang. Lelaki itu sama sekali tak menyadari perubahan aura Jiyoo. “Omong-omong, kenapa kau ada di sini?”

Lirikan mata Jiyoo yang tajam terarah lurus pada Hyukjae. Gadis itu berdiri dan meletakkan cupcake yang terjatuh ke piring yang berbeda. “Kenapa aku ada di sini? Ini dormku, apa keberadaanku di sini juga harus dipertanyakan? Kau yang sedang apa di sini, muncul tiba-tiba dan menjatuhkan cupcake-ku.”

“Ah.. itu, kukira tidak ada orang di sini, jadi… aku mencari tahu tentang yang kemarin,” ucap Hyukjae sambil tersenyum malu. “Mianhae, aku sudah memergoki hadiah kejutanmu.”

“Hadiah? Kejutan? Kejutan apa?” tanya Jiyoo, masih dengan tatapan mata yang menyipit.

Hyukjae mengendikkan kepala, menunjuk deretan cupcake cantik di atas meja. “Itu, hadiah untuk ulang tahunku, kan?”

“Bukan,” sahut Jiyoo datar.

“Tidak perlu repot-repot begitu–“ Hyukjae mendadak sadar, “Ha? Apa katamu tadi?”

Jiyoo menghela napas panjang. “Kubilang bukan, ini bukan hadiah untukmu, Lee Hyukjae.”

“Kenapa bukan?!” Hyukjae mengerutkan kening, tak terima. “Sudah jelas-jelas kau sedang mempermainkanku; suka marah-marah tanpa alasan, juga berbohong saat sedang membawa kotak berisi kue-kue ini. Bukankah semua itu untuk menyambut ulang tahunku?!”

“Bukankah sudah kubilang ada acara kampus? Kue ini untuk acara itu,” jawab Jiyoo.

Jawaban Jiyoo membuat Hyukjae memalingkan wajah, kesal. Lelaki itu sudah cukup bersabar dengan jadwal Jiyoo yang semakin tidak bisa ditebak, sikap gadis itu yang suka berubah-ubah, sampai kenyataan bahwa Jiyoo berbohong saat sedang bersama laki-laki lain. Hyukjae heran kenapa ia bisa sesabar ini pada gadis itu.

“Bukan untukku?” tanya Hyukjae lagi. Jiyoo mengangguk sambil menggigit bibir.

Hyukjae memandang cupcake-cupcake dalam kotak putih. Lelaki itu kembali kesal mengingat Jiyoo membawa kotak itu bersama laki-laki lain. Dengan sentakan kuat, Hyukjae membuat kotak itu jatuh ke lantai.

Jiyoo terkesiap. Ia terlalu terkejut bahkan tak bisa bergerak dari tempatnya berdiri. Jiyoo hanya memandangi cupcake-cupcakenya berguling di lantai. Semuanya, tak terkecuali.

“YAA!” akhirnya ia hanya berteriak. “Apa kau tahu semua kue ini harus diserahkan besok pagi?!”

Hyukjae memejamkan mata sejenak. Untuk sesaat tadi, ia merasa kemarahannya menghilang, tapi sekarang ia merasa semuanya salah. Sama sekali tidak pada tempatnya.

“Lee Hyukjae, jangan pernah bilang kalau aku sama sekali tidak dewasa! Sikapmu ini lebih parah dariku!” Jiyoo memandang kekasihnya dengan tatapan sengit.

“Yoo, aku hanya..”

“Kau hanya sedang marah? Kenapa, karena aku sering tidak punya waktu untukmu? Karena aku terlihat melupakan hari ulang tahunmu? Atau karena kau merasa terganggu dengan kenyataan bahwa aku bisa tertawa bersama laki-laki lain?” ujar Jiyoo cepat. “Yang mana?”

Hyukjae merasakan dadanya yang tak nyaman saat mendengar rentetan kemarahan Jiyoo. “Yoo, mianhae. Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bersikap kekanak-kanakan seperti tadi, tapi kau boleh memarahiku sampai kau puas, aku tidak akan membantah.”

“Dwaesseo!” Jiyoo berjalan pelan ke arah lemari makan. Gadis itu mengeluarkan sebuah piring dengan empat buah muffin polos di atasnya. “Ini kejutanmu.”

Sepasang mata Hyukjae memandangi muffin-muffin dalam piring bergantian dengan wajah Jiyoo. Tentu saja tebakannya benar. Gadis itu memang menyiapkan sesuatu, tapi bukan cupcake. Tentu saja harus muffin, selalu muffin.

“Kau boleh membawa pulang muffin-muffin ini,” ujar Jiyoo pelan. “Tapi maaf, aku tidak bisa memberikan hiasannya, tadinya aku akan belajar menghias dengan cupcake untuk acara kampus itu. Kurasa aku sudah tidak bisa melakukannya, kan?”

Hyukjae mencoba meraih tangan Jiyoo, tapi gadis itu justru meletakkan piring muffin di atas meja dapur sebelum melenggang meninggalkan Hyukjae di dapur –sekali lagi.

“Yoo, Choi Jiyoo!” seruan Hyukjae sama sekali tak membuat Jiyoo berbalik. Ia bergumam sambil memandangi keempat muffin cokelatnya. “Mianhae..”

—-

April 3, 2012

Denting pesan terdengar dari ponsel Jiyoo. Gadis itu tak perlu melihat untuk tahu pengirim pesan adalah Lee Hyukjae. Sudah tiga hari sejak pertengkaran cupcake vs muffin mereka dan Jiyoo benar-benar kehilangan minat untuk kembali berurusan dengan Hyukjae –setidaknya sampai perasaan kembali tenang.

Acara kampusnya sukses walaupun cupcake diganti dengan muffin. Jiyoo berpikir keras untuk mendapat kue cepat jadi karena waktunya memang terbatas. Muffin terpilih sebagai alternatif kue yang bisa dibuat paling cepat tanpa harus memerhatikan ketelitian seperti membuat cupcake.

Untung saja ada temannya yang membuka toko kue, dan tentu saja permintaan Jiyoo untuk pesanan kilat bisa dikabulkan –dengan sedikit merengek.

“YOO~~~” ketukan pintu terdengar bersamaan dengan panggilan itu.

Jiyoo menyipitkan mata dan memandang pintu kamarnya yang tertutup. Sejak kemarin, Lee Hyukjae selalu datang setiap malam untuk minta maaf. Jiyoo baru mengetahui hal itu malam ini karena dua hari kemarin ia menginap di tempat salah satu temannya.

“Tidak mau bicara denganku? Lagi?” ujar Hyukjae dari balik pintu.

Kepala Jiyoo menggeleng walaupun tahu Hyukjae tak bisa melihatnya. Sebenarnya ia tak mau bersikap seperti ini saat ulang tahun Hyukjae hanya tinggal menunggu hitungan jam, tapi kerepotannya gara-gara Hyukjae kemarin membuat Jiyoo mengurungkan niat untuk menjadi gadis pemaaf.

“Tidak apa-apa, setidaknya kau ada di kamar,” katanya.

—-

Hyukjae tak mendengar suara apapun dari balik pintu kuning gading ini. Ia menghela napas panjang. Jiyoo tak mengangkat telepon darinya dan Hyukjae yakin Jiyoo juga menginap di rumah temannya dalam rangka menghindari Hyukjae.

Ia melirik jam dinding yang tergantung di atas lemari es. 22:45. Beberapa jam lagi akan memasuki hari ulang tahunnya dan ia tak mau menghabiskan hari itu dengan Jiyoo yang masih marah padanya.

“Aku membawa muffin-muffinmu,” ujarnya pelan. “Kau pernah bilang muffin tahan selama 4-5 hari, kan? Jadi bukankah sebaiknya kau keluar dan makan muffin bersamaku?”

Hyukjae diam sebentar, menunggu jawaban. Ia mengembuskan napas panjang saat tak mendengar apapun.

“Baiklah, kumakan satu ya,” ujarnya lagi.

Lelaki itu meraih salah satu muffin dan mulai menggigit pinggirnya. Ia terkesiap saat pintu tiba-tiba dibuka. Ia lebih terkejut lagi dengan Jiyoo yang langsung merebut muffin dari tangannya. “Sudah tiga hari, muffinnya pasti keras.”

“Tidak apa-apa, sini,” Hyukjae berusaha mengambil kembali muffinnya.

“Ini,” Jiyoo berhasil mengalihkan perhatian Hyukjae dengan kotak yang ditutup plastik bening.

Dengan setengah ragu, Hyukjae meraih kotak dari tangan Jiyoo dan meletakkan di lantai. Keduanya duduk di lantai, berada di antara kotak berukuran sedang yang dibawa Jiyoo. Hyukjae mengerutkan kening sambil menundukkan kepala. “Apa ini?”

Jiyoo meletakkan muffin kembali ke piring Hyukjae. Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya. Ia menyelipkan sebatang lilin ke tengah kotak dan melirik jam dinding yang sama yang dilihat Hyukjae tadi.

“Masih satu jam lagi,” ujar Jiyoo sambil mendesah berat. “Seharusnya aku menahan diri.”

Hyukjae melongo. “Ha?”

“Ini salahmu! Kenapa kau bilang mau makan muffin-muffin itu? Rasanya pasti sudah tidak enak, bodoh,” omel Jiyoo, sama sekali tak menjawab kebingungan Hyukjae. Ia kemudian menggigit bibir. “Ini… kejutan lain untukmu.”

Pandangan Jiyoo mengarah pada kotak yang tutup plastiknya sudah dibuka. Sebatang lilin kecil tertancap di salah satu dari benda di dalamnya. Hyukjae mengikuti arah tatapan Jiyoo. Seperti ucapan Jiyoo tadi, Hyukjae memang menerima kejutan –karena ia sedang terkejut sekarang.

Empat buah cupcake tersusun di kotak itu. Dua buah cupcake dihias dengan chibi 3-dimensi, seorang laki-laki dan perempuan. Hyukjae bertanya-tanya apa dua model itu adalah dirinya sendiri dan Jiyoo.

Satu cupcake berhiaskan angka 404, model semi-3D buah stroberi dan 4-leaf-clover. Stroberi kesukaan Hyukjae dan 4-leaf-clover yang selalu jadi kesukaan Jiyoo tapi tak pernah diketahui banyak orang. Gadis itu malah bercita-cita membuka gallery aksesoris dengan brand 4-leaf-clover sejak masih di sekolah menengah; salah satu mimpi Jiyoo yang terlupakan.

Sisa satu cupcake berisi tulisan. Happy birthday, Poo.

Cupcake terakhir itu membuat senyum Hyukjae menjadi semakin lebar. “Ini… untukku?”

“Bukan, semua ini untukku,” bantah Jiyoo. “Tentu saja untukmu! Tidak lihat model laki-lakinya? Jelek, kan? Sudah pasti itu dirimu.”

“Choi Jiyoo..”

“Apa?” Jiyoo berusaha memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah muda. Ia melirik Hyukjae sekilas. “Mwoya, kau mau menangis karena hadiahku?”

Hyukjae tersenyum. Lelaki itu bertumpu pada lututnya agar bisa lebih tinggi dari Jiyoo yang duduk di lantai. Ia berbisik, “Aku membencimu, Yoo.” Kemudian mengecup lembut kening Jiyoo.

“Ehm… aku juga, Poo.” Jiyoo merasakan jantungnya menggelepar seperti kepakan sayap burung. “Aku sangat sangat sangat membencimu, terlalu membencimu sampai selalu melihat bayanganmu di semua tempat!”

“Baguslah,” ujar Hyukjae. “Kalau begitu kau tidak akan pernah melupakanku, kan?”

Jiyoo mengangguk mantap. “Tidak akan.”

—-

April 4, 2012 – 04:00

Choi Jiyoo melirik jam dinding dengan mata yang masih setengah menutup. Ia merasakan kakinya yang kaku dan berat. Begitu ia menundukkan kepala, ia melihat Hyukjae tertidur di pangkuannya.

Untuk sesaat, ia merasa linglung. Kenapa Hyukjae tidur di pangkuannya, kenapa mereka tertidur di sofa, dan kenapa ulang tahun Hyukjae terlewat begitu saja?!

Perlahan-lahan, Jiyoo mengingatnya. Tadinya ia dan Hyukjae akan menunggu datangnya pukul 00:00. Keduanya duduk berdampingan di sofa sampai Hyukjae menguap berkali-kali dan Jiyoo memintanya tidur sementara ia menunggu tanggal 4.

“Aku… pasti juga tertidur,” gumam Jiyoo pelan. “Bodoh sekali kau, Jiyoo-ya!”

Jiyoo akan membangunkan Hyukjae saat gadis itu justru mengurungkan niatnya. Tanpa sadar, tangannya membelai wajah Hyukjae. Jiyoo menarikan tangannya di atas wajah lelaki itu.

Untuk sentuhan terakhir, ia menyibak rambut depan Hyukjae dan menunduk untuk mengecup keningnya. “Happy birthday, my Poo..”

“Terima kasih, uri Yoo,” Jiyoo melihat bibir Hyukjae bergerak sebelum lelaki itu akhirnya membuka mata dan tersenyum jahil. Ia bangkit dari pangkuan Jiyoo dan meregangkan ototnya yang kaku. “Haaahh~ sudah pagi ya?”

Jiyoo mengangguk lemas. “Maaf ya, aku juga tertidur..”

“Jam berapa ini?” gumam Hyukjae. Lelaki itu mengeluarkan ponsel dan melihat layar yang menunjukkan jam digital. “Wah, 04:04, kau lihat?”

Dengan gerakan cepat, Jiyoo mendekat pada Hyukjae. Matanya terbuka sempurna saat melihat angka cantik yang ditunjukkan lelaki di dekatnya. “Kebetulan yang menyenangkan.”

“Waktunya sudah sempurna, sekarang mana hadiahku?” tuntut Hyukjae.

“Ah, kita belum menyalakan lilin yang kupasang di cupcake ulang tahunmu!” Jiyoo baru saja akan meraih kotak di atas meja saat tangannya ditahan oleh Hyukjae. Gadis itu protes, “Waaaee~?”

Hyukjae mendesah panjang. “Hadiah yang lain.”

Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyoo. Salah satu tangannya yang bebas dari ponsel mendekap wajah gadis itu. Kedua matanya terpejam saat sapuan lembut bibirnya menyentuh bibir Jiyoo.

Empat detik. Tepat setelah hitungan keempat, Hyukjae melepaskan gadis itu dari dekapannya. “Terima kasih hadiahnya!”

“M-mwoya?! Seharusnya hadiahmu itu bukan–“

“Jaa~ sekarang ayo kita tiup lilin!” Hyukjae mengabaikan omelan pagi hari Jiyoo. Lelaki itu meraih kotak cupcake dan mengambil pemantik warna merah muda yang disiapkan Jiyoo. “Apa lilinnya memang hanya satu?”

Jiyoo mengangkat bahu. “Kalau aku menancapkan banyak lilin, nanti hiasannya rusak, Lee Hyukjae yang tampan.”

“Yah sudahlah,” ujar Hyukjae seraya memandangi nyala lilin yang kecil.

“Sini, aku yang pegang!” Jiyoo merebut kotak cupcake dari tangan Hyukjae. Ia merasa ia-lah yang harus memegang kotaknya. Gadis itu menarik napas. “Happy birthday to Poo, happy birthday to Poo, happy birthday, happy birthday, happy birthday to Poo~”

Hyukjae tersenyum setelah lagu selesai dinyanyikan. Bukan suara indah milik penyanyi terkenal, tapi tetap saja suara itulah yang paling disukainya.

“Ucapkan permohonan lalu tiup lilin,” ujar Jiyoo, mengingatkan.

“Aku sudah berulang tahun sebanyak 27 kali, Nona,” Hyukjae mendengus. Lelaki itu kemudian menutup kedua matanya sesaat lalu menarik napas dan meniup lilin kecil di hadapannya. “Saengil chukhahae, Lee Hyukjae!”

Jiyoo tersenyum lebar. “Ne, happy birthday, Lee Hyukjae!”

============================

[EPILOG]

“Yoo?”

“Hmm, Poo?”

“Kenapa kau sangat senang menyambut hari ulang tahunku padahal kau sedang merasa sangat kecewa seperti ini?”

“Kecewa? Rasa kecewaku memang saaaaangat besar, tapi kurasa tidak lebih besar dari rasa cintaku pada tanggal ulang tahunmu. Kau bangga, kan?”

“Aku bangga karena kau bisa memikirkan orang lain. Tapi, yah… aku lebih bangga karena kau sangat sangat sangat menyukai tanggal ulang tahunku.”

“=____=”

“Yoo?”

“Apa?”

“Terus terang saja padaku, kenapa kau menyukai tanggal ulang tahunku? Apa karena angkanya yang cantik? 0404..”

“Hmm… sepertinya begitu. Aku suka angka cantik. :3”

“…”

“Apa kau tahu alasanku yang lain?”

“Coba katakan.”

“Karena seorang laki-laki menyebalkan yang mengacaukan hidupku lahir di tanggal itu, bukankah seharusnya aku mengingat tanggal ini?”

“Wah, wah, tunggu sebentar! Menyebalkan?”

“Mm-hmm. Kau sangat menyebalkan, terlalu menyebalkan karena selalu muncul di kedua mataku, pikiranku, bahkan di dalam mimpiku pun kau ada!”

“Jangan salahkan pesonaku yang besar.”

“Geurae, geurae. Pesonamu memang terlalu besar sampai aku tidak bisa mengatasinya. -___-”

—-

“Choi Jiyoo,” panggil Hyukjae. Jiyoo menoleh dengan alis terangkat sebelah. “Terima kasih hadiahnya!”

Jiyoo mengikuti arah tatapan Hyukjae. Lelaki itu menunjuk kotak yang berisi empat cupcake dengan macam-macam hiasan. Jiyoo mengibas-ibaskan tangan. “Bukan masalah.”

“Yoksi! Uri Yoo!” Hyukjae mengambil satu buah cupcake dengan model semi-3D stroberi dan semanggi. “Aku tidak tega memakannya.”

“Ya sudah, tidak usah dimakan,” ujar Jiyoo santai. Hyukjae menatapnya heran. “Kau tidak curiga kalau cupcake ini cupcake yang kaujatuhkan kemarin, Poo?”

Hyukjae membelalakkan mata. “Ini cupcake waktu itu?!”

“Sebenarnya aku mau saja memberimu cupcake yang itu,” Jiyoo mengangkat bahu. “Tapi Hyori sudah membuang cupcake-cupcake malang itu sebelum bisa kubungkuskan untukmu.”

YA!” Hyukjae memekik nyaring. “Choi Jiyoo~!

===============================

Once again, HAPPY BIRTHDAY, LEE HYUKJAE~ ^^

Selamat ulang tahun, panjang umurs yaaaahh.. Makin tua, makin dewasa, makin cakeps. xD

Couldn’t give you anything but always the best wishes for you. :* en ofc something to be read *I don’t have any speciallity but this. ^-^v*

Ah, also the pretty cupcakes! OMG~ I really really can’t eat those. Too pretteeeehh.. ;A;

I exposed my used-to-be interest thing, 4-leaf-clover, or simply just clover. :3 Why? Clover is semanggi, named Marsilea. My biology teacher in junior-high school said that my name is similar wif clover. Arselia=Marsilea. xD

So yea, I always adore clover alias semanggi alias tumbuhan paku back then. Ha ha ha~

Happy birthday! I love you… too much! :*

56 thoughts on “[JiHyukism] Muffin vs Cupcake

  1. meragukan. itu cowok mr. P apa dadang ya ?
    kok deskripsinya agak ke dadang gimana gitu wkwk.

    ye empuns i-yuk-je narsis beuds deh minta dirayain ultahnya :p
    cupcakenya ga dibuang.. tapi dibungkus buat bekal oppadeul dipesawat ke paris (:

    • Kok dadang? -____- dimana letak deskripsi yg mirip ke dadang?
      Itu mr. P, just mr. P~ u.u

      Tega nian, cupcake jatoh buat bekal ke paris. xD
      makasihh syuda baca, Pan- eh, Mom~ xDD

  2. HAPPY BIRTHDAY LEE HYUKJAE xD
    Inget hari ini Hyuk ultah, langsung mampir ke blog kakak deh pengen baca FF tentang ultah Hyuk .__.
    Baca judulnya… Langsung pengen muffin(?) .__.

    Daripada dibuang, cupcakenya kasi aku aja…

    Aku bukan reader yang pinter komen jadiiiii aku suka sama ceritanya xD
    04:04 angka bagus… D? (?)

    Dan itu hubungan semanggi sama nama kakak… -__- unik :3

    Sekali lagi happy birthday Yoo’s Poo xD

  3. Saengil Chukahamnida Poo~
    sem0ga panjang umur n sehat slalu..
    Seneng y dikasih kejutan s ma Yoo..ayo cpet blz hadiah.a, langsung lamar yoo z y..hehe
    Love P&Y..
    JIHYUK JJANG!!❤

  4. hyaaaaa >< ah dan soal cupcake…..aku geregetan tangan aku pengen download itu picture dan mention ke eunhyuk 'It's from yoo, poo!!!! See this!' graahhh gregetan

  5. woah komenku kepotong :O aku suka kaakkkkk. Pokoknya aku suka semua adegan saat2 dimana eunhyuk ngerajuk ke jiyoo gitu. Itu unyuuu :3

  6. ecieee yoo romantis #plakk hahay
    Ini sumpah ngakak si hyuk is back… Karakter ini hyuk bgt lah #soktaunyasaya

    Dan happy bornday lee hyukjae my lovely oppa hahay

  7. haha hyukjae cmburu
    Aku selalu suka tingkah pasangan ini
    Gmn mreka manja bgt
    Bahkan cma kata2 ‘poo’ atau ‘yoo’ aku ngrsa mreka saling syang bgt.aaa sweet
    Happy birthday uri anchovy!

  8. Ne, saengil chukae ourbeloved Lee Hyuk Jae, Asia anchovy.
    Wish you always healthy, blessed and always give/show us the best.
    Annyeong chingu~ya, reader baru disini.
    Couple No.2 yang aku suka di FF 2060 punya Hyena Eonnie, JiHyuk Couple.
    Eniwei, gimana caranya minta psaword biar bisa baca yang di protect? *ketauan pengen baca NC*

  9. waaaa soswiiit ternyata yg buatan sendiri itu yg mau dikasih hyukjae :p
    untung aja ketiduran… jadi ngucapinny bsa pas jam 04:04
    btw, kuenya bagus jadi pengen comot satu #eh

  10. telat bc n telat ngucapin…
    happy birthday lee hyukjae, wish u all the best.. :*

    ff’y seru, berasa nyata…
    suka ma kata2 d epilog’y, apalagi alasan yoo suka tgl lahir poo..
    berasa gmn gt, eonni smpe nangis,, ntah knp..:)

    kue’y menggiurkan, pengen nyicip tp syg.. hehe

  11. ROMANTIIIISS!! Yah meskipun harus marah2 dulu beberapa jam sebelum ulang tahun poo. Udah gitu ulangtahunnya kelewat juga…
    Great!!

  12. ROMANTIIIISS!! Yah meskipun harus marah2 dulu beberapa jam sebelum ulang tahun poo. Udah gitu ulangtahunnya kelewat juga…
    Great!!!

  13. ROMANTIIIISS!! Yah meskipun harus marah2 dulu beberapa jam sebelum ulang tahun poo. Udah gitu ulangtahunnya kelewat juga…
    Great!!!!!

  14. Hyuk-jiyoo lucu banget disini ;333

    Apalagi pas hyuk-jiyoo berdebat soal muffin huhu
    Congrats dengan perayaan ultah hyuk yg pas dgn waktu 04:04 ~~😀

  15. shellll…aku suka bgt ama muffin. bikinin dunk hehehehe…
    as usual, jihyuk strory emang slalu bikin cemburu
    walopun hyukjae-nim agak minta disentil disini tapi tetap aja bikin cemburu hahahahaha…
    kekna junsu musti blajar byk dr hyukjae #eeeaaaaa….
    hahahahaha

  16. aaa, so sweet! Suer!😄
    saengil chukha hamnida uri ancovy!
    Muffin vs cupcake. Jdulnya lucu, huehe
    lucky sekali it*?* ngucapin ulangtahun di jam yang cantik.04:04 tanggalnya juga cantik04-04

  17. sebelumnya aku belum dapet blog ff yang cast utamanya hyuk karena belum ada yang kena dihati tapi sekarang aku udah punya ahhhhh suka banget sama ff-ff disini ceritanya ringan tapi enak untuk dibaca🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s