Purple & You [Sepuluh]

 

 ***

Seandainya waktu dapat diputar kembali,

Seandainya keegoisanku ini tanpa batas,

Dan… Seandainya aku bukan aku,

Apa aku bisa mengulang semuanya agar kau tetap denganku, Lee Hyukjae?

=========================

Jalanan Rue Gramont terlihat masih ditutupi salju tipis. Tak banyak yang menarik perhatian Choi Jiyoo saat ini. Tidak, bahkan tak ada yang benar-benar dapat menarik perhatian gadis bermata kecil itu. Ia menopang dagu bosan sementara ponsel masih tertempel di telinga kirinya.

Jiyoo tak bisa mendengarkan omelan di sambungan teleponnya dengan baik. Pikirannya sedang menolak untuk bekerja. Sebagian otaknya seolah tengah lumpuh saat ini. Dan ia yakin sebagian sisanya akan bernasib serupa.

“Apa kau yakin tidak perlu kujemput di bandara?” Hyori bertanya lima kali pertanyaan yang sama.

Jiyoo menggeleng tapi buru-buru menyahut. “Tidak. Kang Minhyuk dan teman Kyuhyun itu –Lee Jonghyun, akan mengantarku ke dorm.”

“Geurae? Baiklah..” ujarnya. Kemudian Hyori memanggil dengan nada suara berbeda, “Yoo?”

“Hm?”

“Ng… Ani, jaga dirimu di sana,” walaupun ada jeda dalam ucapannya dan walaupun sepertinya ada sesuatu yang ingin dikatakan Hyori, gadis itu mengurungkannya. “Bersenang-senanglah!”

Jiyoo ingin sekali membantah Hyori dengan mengatakan bahwa ia tak bisa bersenang-senang saat ini –dan seterusnya. Ia menghela napas panjang dan bergumam, “Mm. Tentu.”

Dengan menggigit bibir, Jiyoo memandangi layar ponselnya. Ia memalingkan wajah, menolak untuk berpikiran yang tak ingin dipikirkan. Biasanya, tak banyak hal yang tak ingin dipikirkannya. Jiyoo tak pernah mau merepotkan diri untuk berpikir hal-hal yang tak menyenangkan.

Tapi bagaimana jika hal-hal itu juga bercampur dengan sesuatu yang paling membahagiakan untuknya?

Jiyoo menggelengkan kepala pelan. Ia tak boleh melamun atau berdiam diri atau melakukan apapun yang bisa mengingatkannya pada Lee Hyukjae. Semua itu mengingatkannya pada hubungan mereka. Hubungan yang telah berakhir.

“Ada apa denganku?!” makinya. Ia mengetuk-ngetukkan ponsel ke keningnya sendiri.

Ada banyak hal yang sudah dipertimbangkannya untuk mengakhiri hubungan itu. Misalnya, perasaan Eunhyuk yang mungkin akan lebih jelas atau Eunhyuk yang akan terbebas dari ikatan dengan Jiyoo. Semua itu benar-benar sudah dipikirkan oleh Jiyoo, setidaknya selama satu malam.

Hanya saja, Jiyoo lupa mempertimbangkan perasaannya sendiri.

Jika memang perasaan Eunhyuk menjadi lebih jelas dan ia akan bebas dari Jiyoo, lalu bagaimana cara Jiyoo melanjutkan hidup tanpa lelaki itu?

Membayangkan hal itu saja sudah membuat tubuh Jiyoo gemetaran. Seperti dikelilingi oleh kabut tebal yang dingin, Jiyoo ketakutan. Membayangkan tak ada lagi Lee Hyukjae dalam hidupnya, bukankah itu sama saja dengan hidup tanpa udara?

Jiyoo melipat kakinya, membuatnya dapat memeluk lututnya sendiri. Ia menyandarkan kepala ke sandaran sofa dengan pandangan menembus jendela kamar hotel.

Langit begitu cerah. Awan putih menghiasi langit kota Paris seperti lukisan dengan tinta istimewa. Cuaca hari ini begitu indah, menyenangkan untuk beberapa orang yang berencana piknik. Jiyoo mendengus. Langit selalu mengkhianatinya. Suasana hatinya tak pernah sejalan dengan cuaca.

“Kau kedinginan?” tanya Kang Minhyuk ketika lelaki itu melepaskan sepatu cokelatnya.

Jiyoo mengangkat wajahnya, memandang Minhyuk dengan tatapan datar. Ia menggeleng pelan. Tanpa berminat untuk melanjutkan pembicaraan, ia kembali membiarkan kepalanya tertahan oleh sandaran sofa.

Gadis itu kembali memandang ke luar jendela tanpa benar-benar memerhatikan sesuatu.

“Aku tidak tahu kenapa kau harus bersikap seperti ini, Choi Jiyoo,” Kang Minhyuk menjatuhkan diri di samping Jiyoo.

“Seperti apa?” tanya Jiyoo tanpa mengubah posisi duduknya.

Minhyuk menghela napas seolah dadanya benar-benar terasa berat. “Seperti ini; kadang bersikap ceria, tersenyum, dan tertawa setiap saat. Kadang, kau justru terlihat… murung. Aku tidak mengerti–“

“Dengar ya, Kang Minhyuk,” potong Jiyoo. “Apa aku memintamu untuk mengerti?”

“Tidak,” Minhyuk mengangkat telapak tangannya saat Jiyoo akan kembali menyelanya. “Tapi aku ingin mengerti, jadi kenapa kau tidak membiarkan saja aku melakukannya?”

Jiyoo mendengus tapi tak mengatakan apapun. Tak ada yang bisa mengerti dirinya, bahkan dirinya sendiri pun tidak. Jiyoo tak merasa ingin dimengerti dan tak merasa ada orang yang akan mengerti dirinya.

Tidak. Ada satu orang yang seperti itu; mengerti Choi Jiyoo.

“Mengerti seorang Choi Jiyoo adalah bakat alam Lee Hyukjae..”

Kalimat itu berdengung di telinga Jiyoo. Sebuah suara berbisik dan perlahan-lahan berubah menjadi teriakan yang memekakkan telinga. Jiyoo memejamkan mata, mencoba menyingkirkan suara itu.

“Ini!” Minhyuk meletakkan sebuah kotak yang dikenal Jiyoo. Lelaki itu mengangkat bahu. “Aku tahu kau suka susu strawberry, tapi aku tidak tahu apa ini enak atau apakah rasanya sama dengan yang sering kauminum di Seoul.”

Jiyoo memandangi kotak susu bercorak merah muda dan garis putih itu. Dadanya kembali terasa sesak. Ia berusaha menarik seluruh oksigen di sekitarnya, tapi tak ada yang terjadi. Rasa sesak itu datang bergiliran dengan luka yang kembali berkedut-kedut. Menyakitkan.

Susu strawberry itu kesukaan Lee Hyukjae. Jiyoo tak pernah menyukai minuman itu sebelum mengenal Lee Hyukjae.

Melihat kotak susu itu di depannya, Jiyoo merasa semuanya salah. Tetap menyukai minuman itu sama saja memaksanya menelan lagi kenangan-kenangannya bersama dengan Lee Hyukjae. Semua kenangan; yang manis hingga yang mengiris ulu hatinya.

Dan sekarang, saat semuanya tak lagi sama, apa kesukaannya tak akan berubah?

“Singkirkan itu,” bisik Jiyoo.

Minhyuk menoleh ke arah gadis itu. Ia melihat Jiyoo menggigit bibir seolah menahan sakit. “Kau suka ini, kan?”

Dengan pandangan kabur, Jiyoo kembali berbisik, “Ini kesukaan Lee Hyukjae, bukan kesukaanku.”

—-

Eunhyuk memandangi sebuah lemari pendingin dengan pintu kaca di depannya. Deretan botol dan kotak minuman dingin tersusun rapi di sana. Seharusnya ia membeli minuman hangat untuk membernya –dan dirinya sendiri. Tapi sepertinya ia akan mengganti rencananya.

Ia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya keras-keras. Dengan satu gerakan tegas, ia membuka lemari dingin itu dan menyambar sebuah kotak dengan dominasi warna merah muda.

“Susu strawberry?” tanya Donghae yang mendorong cart dengan santai.

Eunhyuk mengangkat bahu. Ia memasukkan kotak susunya ke dalam cart dan berjalan di depan Donghae. “Apa lagi yang kauperlukan?”

“Ng… teh, tentu saja,” sahut Donghae. Lelaki itu memerhatikan Eunhyuk yang memasukkan beberapa kotak teh instan ke dalam tumpukan belanjaannya. “Hyuk-ah..”

Eunhyuk berbalik sebentar, “Hm?”

“Kau belum cerita apa-apa soal… Yoo,” Donghae bergumam dengan hati-hati.

“Tidak ada yang harus kuceritakan,” jawab Eunhyuk singkat. Lelaki itu belum siap untuk diinterogasi dan mungkin ia tak akan pernah siap. Menceritakan masalah itu sama saja memaksa Eunhyuk untuk mengingat kembali semuanya.

Semua; wajah murung gadis itu, setiap kalimat yang keluar darinya, dan air matanya.

Semuanya; rasa bingung Eunhyuk, ketakutan yang menyergapnya, dan jantungnya yang berdenyut nyeri.

“Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi aku tahu ada hal buruk yang terjadi. Bukan cuma aku, semuanya juga merasa seperti itu,” Donghae berkata sambil memerhatikan Eunhyuk yang memasukkan banyak barang dalam cart mereka. Ia heran roh halus gila belanja mana yang merasuki Eunhyuk. “Dengar, kau dan Kyuhyun juga aneh. Apa yang terjadi?”

Eunhyuk menjejalkan dua bungkus plastik besar kripik kentang sebelum menarik napas panjang. “Aku dan Kyuhyun?”

“Yah… sepertinya kalian sedang berbeda pendapat atau apa,” Donghae mengangkat bahu.

Benar. Berbeda pendapat, mungkin itu ungkapan yang tepat.

Eunhyuk ingat Kyuhyun mendeklarasikan dirinya akan berada di pihak Jiyoo. Itu berarti sia-sia saja meminta Kyuhyun untuk membantunya membujuk Jiyoo. Dengan kata lain, mungkin Kyuhyun membenarkan dan mendukung keputusan Jiyoo untuk… berpisah.

Ia bergidik dan merasa sulit bernapas sekarang. Berpisah? Kata itu begitu menyakitkan bahkan untuk sekedar ditempatkan dalam pikirannya.

“Semua orang berbeda pendapat, Lee Donghae,” ujar Eunhyuk tenang.

Donghae mengangguk-angguk. “Mungkin saja, tapi apa mungkin pendapat itu berhubungan dengan… Yoo?”

Eunhyuk merapatkan rahang. Punggungnya menjadi lebih tegang. Dengan susah payah, ia menelan ludah. “Mungkin saja.”

Lelaki itu menghela napas pelan saat Donghae tampak menyerah. Eunhyuk yakin ia akan terbebas dari segala hal interogasi itu untuk beberapa hari. Beberapa hari itu diharapkan cukup untuk menata kembali pikirannya.

Pikirannya akan lebih baik dalam beberapa hari, tapi perasaannya mungkin akan memerlukan waktu yang lebih lama.
Selamanya, mungkin?

Eunhyuk mendengus tanpa suara. Kemungkinan itu bisa saja terjadi karena sampai saat ini pun ia sama sekali tak terbiasa dengan jantungnya yang berdenyut nyeri. Jantung itu bahkan memompa rasa sakit ke seluruh pembuluh darahnya.

Diam-diam, ia membayangkan beginilah rasanya sedang sekarat.

“Oh, Eunhee noona!” seruan Donghae membuat Eunhyuk kembali ke dunia nyata. Lelaki itu mengerutkan kening saat melihat Song Eunhee tersenyum ramah ke arahnya dan Donghae.

“Kalian hanya berdua?” tanya Eunhee. Ia bertanya pada Donghae tapi kedua matanya terarah lurus untuk Eunhyuk.

Donghae mengangguk sambil tersenyum lebar. “Kami seperti pasangan guy di kota ini ya?”

Lelucon itu membuat Eunhee tertawa. Eunhyuk ingat suara tawa itu. Begitu menyenangkan rasanya saat mendengar Eunhee tertawa seperti itu… dulu. Itu dulu dan itu masa lalu.

Perasaan Eunhyuk kembali dibuat berantakan. Hatinya kembali dipaksa mengingat rasa yang lain. Begitu menyakitkan saat melihat air mata Jiyoo… waktu itu. Begitu inginnya Eunhyuk menghentikan air mata sialan yang membasahi wajah Jiyoo.

Tapi tak ada yang bisa dilakukannya… waktu itu.

Eunhyuk mengerang dalam hati. Ia ingin melihat gadis itu. Melihatnya tersenyum, mendengarnya tertawa hingga ia yakin ia sanggup hidup selamanya oleh senyum dan tawa itu. Senyum dan tawa Choi Jiyoo.

“Kau belum baik-baik saja ya?” bisik Eunhee selagi Donghae membiarkan mereka berjalan berdampingan di pusat perbelanjaan itu.

Eunhyuk menggeleng pelan dan tersenyum kecil. “Aku merindukannya.”

“Aku bisa melihatnya. Apa kau harus mengatakan hal itu depanku?” Eunhee tetap tersenyum walaupun lagi-lagi jutaan jarum menusuk jantungnya.

“Mianhae, noona,” ucap Eunhyuk. Sebuah kata yang seharusnya diinginkannya empat tahun lalu justru diucapkannya saat ini. Ia tak pernah membayangkan akan menolak kehadiran Song Eunhee. Ia, Lee Hyukjae, selalu mengira ia akan menunggu Song Eunhee selamanya.

Eunhee menggigit bibir bawahnya. “Tidak apa-apa.”

“Ya! Lee Hyukjae!” seru Donghae dari balik tumpukan handuk. Ia mengangkat handuk berwarna merah dan biru di kedua tangannya. “Yang mana?”

Eunhyuk mengerutkan kening. Ia melihat warna lain terselip di tumpukan benda lembut itu. “Ungu…”

Walaupun sempat berpikir sejenak, Donghae mengangkat bahu dan menambahkan handuk ungu muda ke dalam tumpukan barang belanja mereka. Lelaki itu masih mencari handuk untuk membernya yang lain sementara Eunhyuk dan Eunhee berjalan di belakangnya.

“Ungu?” tanya Eunhee.

Dengan senyuman lembut di bibirnya, Eunhyuk berbisik. “Warna kesukaan Choi Jiyoo…”

—-

Charles de Gaulle International Airport Paris

Kang Minhyuk melangkahkan kakinya dengan pelan, sangat pelan hanya untuk memastikan seseorang yang berjalan di depannya tetap terlihat. Ia melihat gadis itu menyeret koper besarnya tanpa napsu. Jika Minhyuk adalah orang asing yang memerhatikan gadis itu, ia yakin gadis itu akan ketinggalan pesawat dengan langkah siput seperti itu.

“Kau mau lebih lama berada di Paris?” Minhyuk tak tahan lagi dan berjalan cepat untuk berdampingan dengan Jiyoo.

Gadis itu menyipitkan mata kemudian menggeleng pelan.

Minhyuk memutar bola matanya dan meraih pergelangan tangan Jiyoo yang bebas dari koper. Lelaki itu tak memedulikan usaha keras Jiyoo yang ingin menepis tangannya. Minhyuk bahkan membiarkan koper Jiyoo yang terlepas dari pegangan gadis itu.

“Ya! Apa yang lakukan? Lepaskan!” serunya.

“Hyung! Tolong bawakan koper tuan puteri ini!” Minhyuk balas berseru untuk Jonghyun yang hanya bisa melongo menatap kedua orang itu.

Minhyuk membawa Jiyoo ke salah satu sudut lengang di bandara Charles de Gaulle. Lelaki itu menghela napas panjang kemudian mengembuskannya dengan pelan. Ia belum ingin melepaskan pergelangan tangan Jiyoo.

“Apa lagi, Kang Minhyuk?” tanya Jiyoo jengah. Lelaki di depannya ini sudah terlalu sering untuk berusaha mencampuri segala urusan Jiyoo, dan gadis itu tak heran lagi.

“Seharusnya kau tetap di sini,” ucap lelaki itu pelan.

“Apa?”

Minhyuk melonggarkan pegangannya hingga Jiyoo dapat menarik kembali tangannya. “Kau harusnya tetap di sini, menyelesaikan masalahmu dengan Lee Hyukjae.”

“Aku tidak punya urusan dengan orang itu,” bantah Jiyoo. Gadis itu baru akan melewati Minhyuk saat lelaki itu justru meremas bahu Jiyoo kuat-kuat. Tak ada yang dapat dilakukan Jiyoo saat kedua mata tajam itu terarah lurus untuknya, menembus pertahanannya sendiri. “Kang Minhyuk..”

“Aku tidak tahu kenapa aku harus berbuat seperti ini. Seperti yang sudah kubilang, aku sama sekali tidak berminat untuk memperbaiki ikatan kalian. Aku hanya menginginkanmu,” Minhyuk berbisik tanpa mengalihkan pandangannya dari Jiyoo. “Tapi bukan dirimu yang seperti ini..”

Jiyoo menarik diri dari Minhyuk. Ia benar-benar tak ingin berada dekat dengan lelaki itu jika Minhyuk harus mengatakan semua hal tentang dirinya.

Keduanya saling memalingkan wajah. Jiyoo berjalan lebih dulu, mencoba melewati Minhyuk sekali lagi. Lelaki itu meraih pergelangan tangan Jiyoo lagi, kali ini dengan lebih lembut. Minhyuk bisa bernapas dengan tenang karena Jiyoo tak mencoba menepis tangannya.

Minhyuk mengangkat pergelangan tangan Jiyoo yang memerah. “Maaf. Apa itu sakit?”

Gadis itu menggeleng pelan dengan wajah tertunduk. Jiyoo terkesiap saat tangan Minhyuk tak lagi mengurung pergelangan tangannya. Lelaki itu menyematkan jemarinya di antara jemari Jiyoo. Ia menggenggam tangan Jiyoo dan Jiyoo terlalu terkejut untuk menolak.

“Aku tidak akan melepaskannya,” ucap Minhyuk. “Jalanmu itu terlalu lambat.”

—-

Eunhyuk mengatupkan rahang. Pemandangan tepat di depannya itu membuat darahnya naik ke kepala. Kang Minhyuk berani menyentuh, tidak, menggenggam tangan Jiyoo. Jelas bukan sesuatu yang ingin dilihatnya, tapi Eunhyuk juga tak ingin menjadikan hal itu sebagai alasan untuk melayangkan tinju untuk Kang Minhyuk.

Sepertinya Kang Minhyuk memang sedang memaksa Eunhyuk untuk melakukan itu.

“Apa kau sengaja memberitahuku jadwal kepulangan Jiyoo agar aku melihat semua ini?” tanya Eunhyuk pada Kyuhyun tanpa repot-repot menoleh.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Memangnya aku sekejam itu?”

Pandangan keduanya masih terpaku pada Minhyuk dan Jiyoo yang berjalan bersisian. Kyuhyun memilih memberitahu Eunhyuk soal kepulangan Jiyoo ke Seoul hanya agar mereka berdua bisa saling mengucapkan salam perpisahan dengan sepatutnya. Melihat inisiatif Kang Minhyuk untuk menggenggam tangan Jiyoo, hal itu membuat Kyuhyun sendiri terkejut.

“Ayo pergi,” ujar Eunhyuk.

Kyuhyun menatapnya heran. Ia mengendikkan kepala ke arah Minhyuk dan Jiyoo. “Tidak mau menemui Yoo-mu?”

“Kau berpihak padanya, kan? Lalu kenapa masih memanggilnya begitu? Dan kenapa harus repot-repot menyuruhku menemui Yoo?” Eunhyuk melipat tangan di dada.

“Aku berpihak padanya, tapi bukan berarti aku tidak mau melakukan hal yang kuinginkan,” sahut Kyuhyun asal. Ia sedikit terhibur karena Eunhyuk masih memanggil Jiyoo dengan panggilan kesayangan lelaki itu. “Kau tetap tidak mau menemuinya?”

Eunhyuk memandang Jiyoo dari kejauhan dengan menerawang. Melihat gadis itu dari jauh saja bisa memaksa jantungnya berdebar tanpa kendali, bagaimana jika ia berada di hadapan Jiyoo?

Semakin lama Eunhyuk memandangi Jiyoo, semakin kuat pula debaran jantungnya yang seperti kepakan sayap burung itu. Organ vitalnya seakan memberontak, ingin segera menemui orang yang selama ini –dan hingga saat ini- menjadi alasan jantungnya untuk berdetak.

“Ah! Molla!” Eunhyuk berjalan dengan langkah panjang menuju Minhyuk dan Jiyoo. Kyuhyun mengekor dari belakang. Senyuman kecilnya tak bisa disembunyikan.

“YOO!” seruan Kyuhyun membuat Jiyoo dan Minhyuk membalikkan badan.

Jiyoo terkesiap sesaat sebelum ia dapat mengendalikan raut wajahnya. Ia teringat tangannya yang masih digenggam Minhyuk, tapi gadis itu memilih untuk tak bergerak. Membiarkan Eunhyuk melihat kedua tangan yang saling bertautan itu bukan perbuatan kriminal.

Tapi kenapa Jiyoo merasa ada yang salah dari tindakannya itu?

“Wah, ada yang mau mengucapkan selamat tinggal?” gumam Minhyuk tenang. Seharusnya ia tak perlu merasa terancam, tapi nyatanya ia mengeratkan genggaman tangannya pada Jiyoo.

Eunhyuk mengabaikan lelaki itu. “Aku ingin bicara denganmu, Yoo, eh, Jiyoo-ya.”

“Pesawat kami akan segera lepas landas, kenapa kalian mempersulit kami?” Minhyuk menempatkan dirinya di depan Jiyoo hingga ia berada di tengah Jiyoo dan Eunhyuk.

Kyuhyun menarik napas panjang dan memutar bola mata. “Kang Minhyuk, bagaimana kalau kita minum kopi bersama Jonghyun saja?”

Sambil menggigit bibir bawahnya, Jiyoo merasa harus melepaskan tangannya dari Minhyuk. Lelaki itu menoleh dan memandangnya dengan tatapan… khawatir? Jiyoo menghapus pikiran itu. “Aku tidak apa-apa. Lima menit lagi aku akan menemui kalian.”

Adegan saling menatap itu mau tak mau membuat Eunhyuk jengah. Cara keduanya berkomunikasi pun membuat perasaannya mendadak buruk saat ini. Dan jatah waktu pemberian gadis itu yang hanya lima menit memperburuk keadaannya.

Eunhyuk memastikan Kyuhyun dan Minhyuk sudah menjauh hingga tak terlihat lagi dalam pandangannya. Kedua lelaki itu menuju ke sebuah ruang tunggu, mungkin ke tempat Lee Jonghyun menunggu. Entahlah. Eunhyuk tak ingin tahu.

Saat ini, ia tak bisa memalingkan pandangannya dari Jiyoo.

Gadis itu berdiri dengan tidak nyaman. Jiyoo bahkan meremas-remas kedua tangannya. Walaupun merasa kecewa dengan reaksi gadis itu, Eunhyuk sama sekali tak ingin mempermasalahkannya.

“Aku… tidak tahu kau masih mau menemuiku,” ucapnya pelan.

Jiyoo menundukkan kepala. “Aku tidak mungkin menghindarimu. Lagipula aku juga tidak mau melakukannya. Bebek, maksudku Kyuhyun, juga sudah memintaku berjanji untuk itu.”

“Yoo, eh, Jiyoo-ya, aku–“

“Panggil Yoo saja,” potong Jiyoo. Ia menelan ludah. “Panggil begitu saja, kalau kau memang lebih nyaman memanggilku begitu.”

Eunhyuk memegang tengkuknya yang dingin. “Aku akan memanggilmu Jiyoo sampai kau memohon agar dipanggil Yoo lagi. Kau… mengerti maksudku, kan?”

Jiyoo bergeming. Kalau saat ini bukan musim dingin dan suhu di luar bandara bukan 7 derajat celcius, ia pasti sudah berkeringat karena gugup. Apa maksud lelaki di depannya ini? Apa pikiran Lee Hyukjae sama dengannya?

“Aku menarik lagi ucapanku beberapa hari yang lalu. Aku tidak mau mengabulkan permohonanmu yang konyol itu,” ucap Eunhyuk pelan. “Aku tidak ingin dilepaskan dan melepaskan. Tidak olehmu. Jadi–“

“Bagian mana yang tidak kaumengerti soal ‘putus’?” Jiyoo memejamkan mata dan menarik napas frustasi. “Atau bagian mana dari kata ‘berpisah’ yang tidak kaupahami, Lee Hyukjae-ssi?”

Eunhyuk merasakan sesuatu menghantam jantungnya. Seakan rasa nyeri belum cukup menyiksa, pukulan telak pada organ vitalnya kini membuatnya seolah sedang sekarat. “Choi Jiyoo, berhentilah bersikap seakan-akan kau tidak membutuhkan aku! Kau tahu persis bagaimana rasa sakitnya, lalu kenapa masih mati-matian menahannya?!”

“Aku memang tahu rasanya,” bisik Jiyoo dengan suara parau. “Kau bertanya kenapa aku menahannya? Bukankah itu salah satu cara kita untuk membiasakan diri? Dengan sebuah perpisahan, maksudku.”

Sesaat tadi, Eunhyuk merasa tak bisa bernapas. Semakin menarik napas, dadanya justru semakin berat.

“Sesakit apapun, aku akan menahannya,” Jiyoo mulai mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sayatan perih di ulu hatinya kembali mengeluarkan darah dan ia berharap bisa mengalihkan rasa sakit itu ke tangannya.

Eunhyuk menelan bulat-bulat bongkahan besar emosinya. “Sampai kapan kau mau bertahan?”

“Sampai aku–“

“Karena aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Kukira aku akan terbiasa, tapi ternyata rasa sakitnya selalu berhasil membuatku terkejut. Aku sama sekali tidak akan pernah terbiasa,” setiap kata yang keluar dari mulut Eunhyuk seolah menimbulkan rasa sakit lain dalam dadanya.

Jiyoo memandang kedua mata lelaki itu. Dengan susah payah, Jiyoo menahan diri agar tidak tenggelam dalam sepasang manik indah milik Eunhyuk.

Dengan susah payah pula, ia berjuang agar tidak membisikkan pengakuan yang sama.

Bahwa ia, Choi Jiyoo, juga merasakan sakit yang sama. Sakit tak tertahankan yang membuat seluruh tubuhnya berhenti bekerja dengan seharusnya. Sakit luar biasa yang bisa membuat seseorang merasa sekarat dan lebih baik segera mati.

Keduanya terdiam, bukan karena kehabisan bahan pembicaraan. Keduanya saling diam karena tak bisa menebak luka apa lagi yang akan tercipta dari kedua bibir mereka.

Eunhyuk tak tahu kebenaran apa lagi yang harus diucapkannya karena kebenaran itu pada akhirnya akan melukainya dan Jiyoo. Jiyoo sendiri sudah tak sanggup membisikkan kebohongan lain pada Eunhyuk, takut kebohongan itu akan menjadi halilintar yang menyakiti dirinya dan Eunhyuk.

Suara pengumuman bersiap-siap untuk para penumpang pesawat menuju Republik Korea menegur keduanya.

Jiyoo mengangkat wajah dan memandang Eunhyuk lebih lama. Ia tahu ia harus mengangkat kakinya dan meninggalkan lelaki itu di sana, tapi sekali lagi, seluruh tubuh Jiyoo memang sama sekali tak bisa bekerja dengan seharusnya.

“Pesawatmu…” ucap Eunhyuk sambil mengendikkan kepala.

“Hmm,” Jiyoo pasti sudah benar-benar lumpuh. Ia sama sekali tak bisa menggerakkan kakinya.

“Sampai jumpa,” dengan senyuman kecil di bibirnya, Eunhyuk mengangkat salah satu telapak tangannya.

Jiyoo mengangguk. Ia bahkan tak bisa menjawab salam perpisahan Eunhyuk. Satu hal yang ditakutinya saat ini; ia takut akan menangis jika membuka mulut sedikit saja.

“J,” suara itu menyadarkan Jiyoo. Kang Minhyuk berdiri dengan kedua tangan menggenggam pegangan koper. Jiyoo tahu salah satunya adalah koper miliknya. “Ayo..”

Kyuhyun menepuk puncak kepala Jiyoo pelan. “Jangan rindu padaku ya! Tolong jaga gadis kecil cerewet itu!”

Jiyoo mendengus tanpa suara kemudian membalikkan badan. Ia meraih pegangan koper besarnya sendiri sebelum menyeret barang itu menjauh. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Tiap langkah yang diambilnya seakan melawan sebuah gaya magnet yang kuat.

Kang Minhyuk menoleh ke belakang saat Jiyoo berhenti berjalan. “Ada apa?”

“Maaf,” ucap Jiyoo. Gadis itu menarik napas dan berbalik. Pandangannya tertuju pada Eunhyuk yang masih berdiri di tempat. “Lee Hyukjae, selamat tinggal..”

—-

Selamat tinggal? Setelah kata Annyeong waktu itu, sekarang Selamat Tinggal?

Eunhyuk merasakan jantungnya diremas-remas. Sesuatu yang lebih besar perlahan-lahan berusaha menghancurkan jantungnya. Kedua matanya memandang punggung Jiyoo dengan tatapan menerawang.

“Apa kau sudah mengatakan apa yang ingin kaukatakan?” tanya Kyuhyun. Lelaki itu memandang ke arah yang sama; punggung Jiyoo yang menjauh.

“Sudah,” Eunhyuk mengangguk lemas. “Hanya saja… dia tidak merasakan hal yang sama sepertiku.”

Kyuhyun mendengus pelan. “Mana mungkin. Ah… mungkin saja. Pasti itu karena kemampuan akting gadis itu sudah meningkat pesat.”

“Berhentilah mengatakan kalau Jiyoo sedang berakting. Aku tidak bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tetap menunggunya,” ujar Eunhyuk.

“Kalau aku tidak punya bukti apapun, aku pasti juga akan tertipu oleh gadis cengeng itu,” Kyuhyun mengangkat bahu. Tanpa menoleh, ia tahu Eunhyuk sedang menunggu penjelasannya. Kyuhyun tersenyum puas. “Menurut Jonghyun, dia belum pernah melihat seorang gadis menangis seperti itu.”

Eunhyuk membulatkan mata. “Menangis?”

“Mm-hmm,” Kyuhyun mengangguk-angguk pelan. “Saat melihatmu bersama Song Eunhee, mungkin. Jonghyun memang tidak melihat semuanya, tapi dia bilang gadis itu menghabiskan waktu dengan meringkuk di ranjang dan menangis semalaman hingga kelelahan dan tertidur.

“Memang hal yang wajar untuk gadis cengeng sepertinya, tapi Jonghyun bilang Minhyuk mendengar semuanya. Gadis itu mengigau, mengucapkan permintaan maafnya untukmu. Maaf, karena sudah membebanimu.”

Eunhyuk merasakan kepalanya dihantam palu besi. “Maaf?”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Itu yang kudengar dari Jonghyun. Apa kau berharap dia menjadi Jiyoo yang selalu egois seperti biasanya? Kurasa dia bukan lagi Jiyoo yang seperti itu.”

“Apa dia tidak tahu aku selalu menyukai Jiyoo yang egois?” gumam Eunhyuk.

“Memangnya kaupikir apalagi yang bisa dilakukannya jika dia sudah merasa membebanimu?” Kyuhyun menarik napas panjang.
Eunhyuk berusaha memikirkannya secara bersamaan. Ia memasukkan segala informasi yang diterimanya ke dalam otak. Walaupun terasa menyesakkan, ia berusaha menyusun semuanya dengan benar.

Termasuk satu pertanyaan yang menggodanya; bagaimana cara memberitahu Jiyoo bahwa ia tak pernah membebaninya?

“Kurasa… sekarang benar-benar waktuku untuk menyerah,” Eunhyuk memandang jauh ke arah pintu kaca besar yang sudah tertutup. Jiyoo masuk ke sana dan tak mungkin akan kembali lagi.

Untuk pertama kalinya, Eunhyuk sadar bahwa terkadang kenyataan memang pahit. Dan menyebalkan.

Kyuhyun mendesah berat. Lelaki itu menyikut lengan Eunhyuk. “Kau mau seperti Jiyoo? Memaksa meninggalkan rumah yang sebenarnya masih bisa ditempati?”

“Apa maksudmu?”

“Pasangan kekasih itu seperti sebuah rumah, tempat tinggal. Ke mana pun kalian pergi, ke tempat itu pula kalian akan kembali. Jika rumah kalian ternyata tak cukup nyaman lagi untuk ditinggali, kalian bisa pindah,” jelas lelaki itu sambil mengangkat bahu. Kyuhyun mengusap dagunya. “Tapi rumah kalian masih cukup nyaman, kan? Tidak perlu pindah.”

Eunhyuk mendengus. “Filosofimu berlebihan. Dan konyol.”

“Ck, setidaknya aku tahu apa yang harus kulakukan kalau seandainya hal seperti ini menimpaku,” ucap Kyuhyun santai.

Eunhyuk menundukkan kepala, memandangi lantai bandara. Tentu saja ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia, dengan tekad baja, harus meminta Jiyoo kembali, bukannya meratapi nasib dan menerima keinginan gadis itu begitu saja.

Hanya saja, bagaimana jika seandainya hal yang dilakukannya itu akan menyakiti Jiyoo?

“Kau membiarkannya menangis seperti itu… Bukankah seharusnya kau menghilang saja dari hadapannya? Walaupun aku tidak akan memintamu secara baik-baik, tapi kuharap kau bisa meninggalkan Choi Jiyoo di tempatnya berada sekarang.”

“Dia memang terluka, tapi dia sudah berada di tempat yang benar. Waktu akan menyembuhkan segalanya,”

“Dia sudah cukup bodoh dengan menahan sakit karena melepaskanmu, kalau kau kembali dengan sikap seperti ini, akan sedalam apa lagi kau melukainya, Lee Hyukjae?”

Eunhyuk memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Ucapan Kang Minhyuk jelas bukan kata-kata kosong. Ada alasannya jika lelaki itu sampai melontarkan kalimat-kalimat itu.

Mungkin benar, Kang Minhyuk sudah menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Mungkin memang benar, Jiyoo menangis nyaris histeris hingga akhirnya keputusan itu tercipta. Mungkin, Jiyoo sudah benar-benar terluka tanpa bisa diobati lagi oleh Eunhyuk.

Benarkah? Jika ia bersikap seperti yang diinginkannya, apakah Jiyoo akan terluka lagi?

Apa yang akan terjadi jika seandainya Eunhyuk tetap meminta gadis itu tak pergi ke mana pun? Bagaimana jika Eunhyuk memohon agar gadis itu tetap tinggal?

Apa… semua itu hanya akan melukai gadis itu lebih dalam, seperti kata Kang Minhyuk?

“Tch~ kau ini penuh pertimbangan!” omel Kyuhyun. Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Lee Hyukjae, kau masih punya hutang padaku!”

Eunhyuk menoleh dengan malas. “Hutang apa?”

“Tiket pesawat ke Seoul,” Kyuhyun mengangkat bahu santai. Bibirnya mengulum senyum tipis yang licik. “Apa kau tahu kalau tiket itu kubeli dengan uang tabunganku sendiri, tabungan yang kusimpan untuk si gadis cerewet itu?”

“Lalu?”

Kyuhyun memutar bola matanya, kesal. “Ayo kita ke Seoul!”

—-

SJ’s dorm – 11:23 AM

“SEOUL?!” pekikan itu bukan hanya berasal dari satu sumber. Seluruh member yang sedang berada di dorm dengan kertas dinding biru itu memekik bersamaan.

Eunhyuk dan Kyuhyun duduk dengan santai di tengah-tengah member mereka. Setelah memesan tiket pesawat untuk penerbangan hari itu juga, keduanya segera membereskan pakaian. Dan tentu saja membereskan kekacauan yang tanpa sengaja mereka timbulkan.

Super Junior bukan sedang berlibur di Paris. Keputusan sepihak Eunhyuk dan Kyuhyun ini jelas akan mengacaukan jadwal yang sudah ada.

“Hmm,” gumam Kyuhyun tenang.

Leeteuk menarik napas panjang. “Kenapa?”

“Ada yang harus kami selesaikan,” Kyuhyun menjawab lagi-lagi dengan tenang.

“Apa?” tanya Donghae penasaran. “Kenapa kalian harus terbang ke Seoul lagi?”

Sebenarnya Eunhyuk sama sekali tak ingin menjelaskan masalah Jiyoo pada membernya. Super Junior mengenal Jiyoo lebih dulu, dan tak ada jaminan kalau mereka tak akan membela gadis itu. Seperti Kyuhyun, membernya mungkin justru akan membiarkan Jiyoo melangkah keluar dari lingkungan hidup mereka.

Tapi bagi Eunhyuk, ia sama sekali tak bisa membiarkan atau sekedar membayangkan hal itu.

“Mengejar Jiyoo,” gumam Eunhyuk pelan. Semua mata terarah padanya, penuh dengan rasa penasaran. “Kami sudah putus beberapa hari yang lalu, waktu Jiyoo berada di Paris. Aku hanya… ingin memintanya kembali.”

Donghae berseru, “Putus?! Ya! Lee Hyukjae, kenapa kau melakukan itu?!”

“Kalau Hyukjae yang melakukannya, apa kaupikir dia akan berusaha mengejar Jiyoo seperti ini?” Leeteuk menepuk kepala Donghae pelan. “Berapa lama kalian di Seoul?”

Sambil mengusap-usap dagu, Kyuhyun tampak berpikir. “Seminggu, dua minggu, tiga minggu? Pokoknya sampai gadis kecil itu kembali pada Poo-nya.”

“Lalu bagaimana dengan jadwal di sini?” Sungmin, yang sejak tadi diam, mulai bersuara.

Leeteuk menarik napas panjang, membuat dadanya terangkat. “Arasseo. Pergi saja. Sepertinya kami bisa mengatasi semuanya tanpa kalian berdua.”

“Gomawo, hyung,” Eunhyuk menyunggingkan senyum lega. “Kami akan kembali secepat mungkin. Walaupun mungkin Jiyoo tidak akan berubah pikiran, kami akan tetap kembali ke sini.”

Siwon meninju lengan Eunhyuk pelan. “Andwae! Kalau Jiyoo belum berubah pikiran, jangan pernah kau kembali ke sini!”

“Ck, Choi Siwon, Choi Jiyoo-ui yongwonhan Oppa,” gumam Kyuhyun pelan.

Donghae meraih bantal dan memeluknya. “Kapan kalian berangkat?”

Sambil saling melemparkan pandangan, Kyuhyun dan Eunhyuk menyahut, “Malam ini.”

============TBC============

Tuh kan! Syuda gak galau, jadi gak dapet feelnyah. =___=

Eniweii, Yoo’s back to Seoul and Hyuk was following her! ^-^ *wif Kyuhyun -.-

Once again, Kang Minhyuk and Song Eunhee aren’t finished yet. They still have role. :3 I love Kyuhyun’s character here. xD

Comments are needed, loved, and appreciated. ^-^

58 thoughts on “Purple & You [Sepuluh]

  1. mau tau aku mau bilang apa??
    ini kereeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!1
    daebak!!
    ah itu Kyu kesurupan setan apa bisa jadi bener*dijitakKyu*
    hhahahaha
    kok lama chingu updetnya??
    next nya jangan lama2 ok???
    Hwaiting!!!^^v

    • Congrats! 1st padahal ngupdatenya gak tau waktu. xD
      Makasihh yaaaahh~ ^-^
      Kenapa lama? Sebenernya P&Y ini suda ada sampe chapter 12, mungkin terakhir2 disitu. Kenapa gak sempet ngepost, soalnya gak ada waktu, masih rada sibuk plus inet yang memang ngajak berantem kalo malem, padahal biasanya aku kosongnya malem. ;A;
      Makasihh syuda baca yaa~!! *bow*

  2. kak shelaaaaa aku senang (~^o^)~ ini eonyeooooo~~~ kyuhyun baik sekalih disini *pelukkyuhyun* dan sepertinya disini donghae ditinggal sama eunhyuk *pukpukdonghae* aku masa suka momment dimana minhyuk genggam tangan Jiyoo, ngebayanginnya senyum2 sendiri-_- dan pada akhirnya…..kyuhyuk ke seoul lagi~~ dan semua karena kyuhyun~ dia jadi anak baik sekarang 🙂 oiya kak aku penasaran….dulu jiyoo ketemu ama eunhyuk gimana di ff ini? ._. Oke part 11 ditunggu sekali~~ kak shela fighting!

    • Eonyeo adalah….? xD Unyu? *ngakak*
      Hahaha~ silakan syuka sama jihyuk [jiyoo-minhyuk] Saya juga suka mereka. *lho?
      Kalo awal ketemunya bisa dianggep sama kaya FF di rumah ini kok, terserah mau ngebayangin versi yang mana, soalnya emang gak bikin versi ketemunya di sini. .__.
      Makasihh syuda baca yaa~ Fighting! ^-^

  3. akhirnya part 10 terbit…
    hm… masih ada galaunya kok
    suka ma scene eunhae belanja,
    ntah kenapa saya malah ketawa waktu baca itu
    suka hyukjae waktu di bandara itu
    omong2, aku suka ‘setan’ di sini
    si ‘setan’ bener2 jadi ‘malaikat’ di sini
    ngebuat hyukjae nglakuin itu semua,
    terus buat hyukjae langsung pergi seoul buat yoo
    ayo..susul yoo!
    tuh.. semua member berpihak ma hyukjae
    setuju ma siwon, nggak boleh pulang sebelum yoo berubah pikiran!
    makin penasaran…

  4. KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    LEEE HYUKJAE SARANGHEEEEEEEEEEEE~~!!!!!😄
    /tidak terkecuali cho kyuhyun yg sok kaya :*/

    balikan ! balikan ! balikan !

    • Jangan sarang-sarang Lee Hyukjae aaaahh~ Sarang sarang cho kyuhyun ajaa, dia kurang sarang tuh. :3
      Nanti ya saya pikir2 duyu mau balikan apa gak. Ada rencana bikin Minhyuk-Jiyoo gak pulang ke seoul malah bulan madu ke bulan (?) sementara hyukjae nyariin di seoul. Muahahaha~ xD
      makasihh syuda baca momma~ ^-^

  5. Jiyoo lama bgt ngepostnyaa…….
    Aahh lee hyukjae idaman pacar semua cewe bangett! Walaupun udh putus tetep aja masih mau dikejar. Setia. Ayoo dong poo dan yoo balikin jangan syedih-syedih muluuuu…..
    Onnie nonton ss4ina gak?

  6. Jiyoo lama bgt ngepostnyaa…….
    Aahh lee hyukjae idaman pacar semua cewe bangett! Walaupun udh putus tetep aja masih mau dikejar. Setia. Ayoo dong poo dan yoo balikan jangan syedih-syedih muluuuu…..
    Onnie nonton ss4ina gak?

  7. Setuju. Aku suka bgt karakternya bang setan.
    Gitu dong buat ngejar yoo aja banyak bgt perhitungan,pertimbangan,dan pemikiran.
    Ga suka deh sm karakter minhyuk.

  8. sama… eonnie suka ma karakter kyu..
    knp dy keren amat yak, kata2’y dewasa euy.. hehe

    giliram hyuk yg ngejar jiyoo..
    ayooo, go go go.. *menggila*
    d’tunggu next part..😀

  9. finally p&y published!!
    Ah asik dah jd catch me if you can dah! #nahloh
    Hahaha

    Mau tebar konfeti ah! Yeyy akhrnya hyukjae ngejar yoo lg dah!! Sya dukung!!!
    Ayo kalahkan mihyuk! Biar sy mengejar mihyuk #eh hehe

  10. I Love U full bang evil,, teruz bantu Poo+Yoo balikan y y y..HWAITING!!!
    Poo kejar teruz cintamu…HWAITING!!!
    P&Y JJANG!!!<3<3<3

  11. Katanya shela ga suka EunHae couple tapi Hae sering muncul bareng Poo..
    Tapi ga papa deh kan aku jd tau kbar Hae d Paris hehehe ^_^
    Asyik deh KyuHyuk pulang ke korea lagi…
    Aku kasian ma Jonghyun disini..
    Kayak obat nyamuk aja.. mending dia liburan ke bogor ke kosan aku aja dr pada jd obat nyamuk..
    Hhehehe..
    Next part Poo n Yoo udh balikan blm neh??
    H2C neh..

    • Muahahaha~ emang gak suka eunhae, tapi kan disini si hae dicuekin abis ama hyuk, hyuk lebih deket ama kyu. xD
      maunya sih jonghyun aku suruh ngedate ama aku, onn. xDD
      Makasihh syuda baca, silakan ditunggu~ ^-^

  12. saya juga sangat suka karakter kyuhyun disini .
    setan tapi ada sisi malaikat yg sangat logisnya. baik hati sekali mau beliin tiket pesawat.
    aku tau jiyoo keras kepala tapi gak tau kalo sekeras kepala ini.
    saking keras kepalanya bakal bikin sakit hati.
    hayoo cepet baikan.
    minhyuk udah atuh ngejar nya yg lain yoo mah gak tertarik pula lagi pula yg lebih cantik banyak *ups re: yoo cuma buat poo . hhehe
    baikan baikan🙂

  13. skali lagi captain cho menjadi dokter asmaranya hyukjae hehehe..
    alasan bgt kyu minta bayar tiket. bilang aja mau ketemu setan kecilnya hahaha
    bener yoo..galaunya dah berkurang ^^

  14. Onnie!!! I love kyuhyun character too! Hehe love it love it🙂
    Ayooo cepat balikan, jadi gak ada yang galau-galau lagi hehe. Semangaaat lee hyukjae!! Sebentar lagi ulang tahun masa gak mauu balikan yeaa.
    Daebaak ff-nya, aku penasaran onnie hihihi, hwaiting buat part berikutnya😉

  15. cium kyuuuuu…..

    padahal aku bertekat buat ga baca sampe tamat sejak p&y 6 gara” sedih mereka putus, tapi apa daya…

    minhyuk nya ga bisa buang ke jurang ya??lol

    eniwei good writing as usual, thanks authorrr

    • Nyahahaha~ tapi makasihh banyak loh mau tetep bacaa.. *bow*
      Makasihh makasihh~ tapi minhyuknya tolong jangan diapa2in, itu bagian saya.. xD
      makasih syuda baca yaa~ ^-^

  16. benerrr saya suka karakter kyu disini..
    Salah pilih cast nih shela kayaknya,, kenapa harus kyu dewasa gini.. Hahahaha *diseret kyu..

    Wuahhh yang ditunggu2 akhirnya datang juga..

    Kang minhyuk benr deh bikin pengen ngigit, semua tingkahnya ngselin karena jadi orang ketiga tapi bijak,, jadi bingung..

    Gak apa2 sih minhyuk ngebingungin juga toh dia imut ganteng gitu,, hehhehe

  17. kyaaaaa~
    suka.suka.suka
    banyak kyuhyuk moment dsinih.. kyu dwasa sangat🙂
    gra2 bca ini jd sebel sm yg namany minhyuk..kkkkk~
    menunggu cerita d seoul.. btw meraka bolak-balikk seoul-paris yh. ck. org kayaa ^^

  18. Poo lola bgt sih mikirnya…. =.= hrs sll disuruh dl sm kyu br jalan… Ckckck…..
    Btw, ayo lanjutannya mana shel?? Kirain aku udh tamat, taunya belom…. Wkwkwk….

  19. kyu daebaaakk!! sorry baru buka blog ini lagi…ketinggalan update-an bgt
    hyukjae…cepet rebut lgi itu si yoo…ah…

  20. keren!! satu kesimpulan, sebijak apapun kyuhyun, dia tetep aja evil u,u aku kira tiket ke seoul dari kyu itu di kasih ke eunhyuk gratisan, taunya malah ditagih lagi xD tapi oke, aku suka banget karakter kyu nya.
    dan poo~~ aku gereget banget sama eunhyuk uwaaaa rebut lagi dong jiyoo nya x(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s