[JiHyuk’s Story] Reality

***

Choi Jiyoo mengikuti setiap gerakan Lee Hyukjae melalui ekor matanya yang lancip. Gadis itu memejamkan mata ketakutan saat Hyukjae mengarahkan tatapan kesal setiap menemukan benda tajam yang diincarkannya; gunting. Dalam waktu lima belas menit, lelaki itu menemukan tiga buah gunting yang tersebar di laci Jiyoo.

“Choi Jiyoo,” panggil Hyukjae dengan nada rendah.

Yang dipanggil hanya meringkuk, tak berani menatap lelaki itu secara langsung. “Y-ya, Poo?”

“Jangan panggil aku begitu,” tegur Hyukjae. Ia mengangkat ketiga gunting yang ditemukannya tinggi-tinggi. “Pertanyaanku sementara hanya satu, untuk apa kau menyimpan gunting sebanyak ini?”

Jiyoo menelan ludah kemudian mencoba tersenyum manis. “Itu… tadinya hanya ada dua, satu untuk keperluan kuliah, satunya untuk kepentingan dapur; menggunting bungkus bumbu ramyun, misalnya. Tapi beberapa minggu setelah aku pindah ke sini, aku kehilangan satu guntingku, jadi aku beli satu lagi. Kemudian–“

“Kemudian sebenarnya gunting itu tidak hilang dan kau menemukannya, begitu?” Hyukjae menyimpulkan cerita Jiyoo.

Jiyoo mengangguk pelan. Ia masih mencoba untuk tersenyum manis, berusaha mengurangi kekesalan Hyukjae padanya.

Dengan santai, Hyukjae menjatuhkan tiga gunting itu ke atas meja kayu, menimbulkan bunyi nyaring yang mengejutkan Jiyoo. Lelaki itu tak lagi bersuara. Jiyoo tahu Hyukjae sedang marah padanya. Sangat.

Hyukjae tak melirik Jiyoo sama sekali. Darahnya seolah mendidih karena gadis di sampingnya itu. Ia mengira Jiyoo akan lebih mengutamakan keselamatannya sendiri begitu hidup jauh dari keluarganya. Dengan kata lain, Hyukjae berharap gadis itu akan mandiri dan berpikir lebih bijaksana sebelum mengambil tindakan apapun.

Tapi ia terbukti salah.

Lelaki itu menemukan bekas luka yang masih merah di punggung tangan kiri Jiyoo. Hyukjae berusaha menepis pikirannya sendiri, tapi sepertinya pikiran itu terlalu jelas dan nyata untuknya. Jiyoo pun tak menyangkal.

Gadis itu melukai dirinya sendiri –lagi.

Hyukjae melirik sekilas bekas luka Jiyoo. Tak sebanyak dan separah yang pertama, namun tetap saja lelaki itu tak habis pikir bagaimana caranya Jiyoo bisa melukai tubuhnya sendiri. Gadis itu bahkan tak mengatakan apapun sebelumnya.

Mungkin itulah yang semakin membuat Hyukjae frustasi. Jiyoo sama sekali tak berusaha untuk berlari padanya, tak merengek atau pun mengomel.

Di saat seperti itulah Hyukjae harus mulai kembali mengkhawatirkan gadisnya. Di saat seperti itulah Jiyoo telah mencapai batasnya. Di saat itu pula lah yang bisa menjadi sangat berbahaya.

“Mianhae…” bisik Jiyoo lirih. Hyukjae bisa melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya.

“Kenapa minta maaf padaku?” tanya Hyukjae datar. “Bukankah bukan aku yang kaulukai? Kau itu melukai dirimu sendiri, Yoo. Bukankah seharusnya kau minta maaf pada dirimu sendiri?”

Jiyoo menghela napas panjang, menandakan ia mulai tak suka diceramahi. “Kalau aku tidak perlu minta maaf padamu, kenapa kau marah begini?!”

“Aku tidak marah!” nada suara Hyukjae jelas-jelas menjadi lebih tinggi. Lelaki itu kemudian mendesah berat. “Bisa tidak, satu kali saja, kalau kau memang benar-benar tertekan seperti itu, kau mengingatku? Sedikit saja.”

Gadis yang diajak bicara tak menyahut. Punggung tangannya masih berkedut-kedut nyeri dan ia sama sekali tak berminat mendengarkan kekhawatiran Hyukjae.

Hyukjae memejamkan mata sejenak, frustasi. “Dengar ya, Choi Jiyoo yang terhormat, kalau kau memang tidak mau melakukan apa yang kuminta, kenapa kau tidak berusaha berbohong saja? Bilang saja bekas luka itu kaudapatkan waktu praktikum atau di kelas atau apapun.”

“Geurae. Lain kali aku akan melakukan itu,” sahut Jiyoo dingin.

“Ya!” Hyukjae benar-benar tak tahan untuk tak berteriak pada gadis itu. “Apa kau tahu kalau aku akan langsung sadar saat kau berbohong?”

Jiyoo membuang muka. Ia benar-benar sedang tak dalam kondisi yang ingin diceramahi.

“Aku menemukan satu gunting di samping bantal. Aku yang membereskan tisu-tisu yang berserakan di lantai kamarmu. Aku berani bertaruh di antara tisu bekas air matamu itu ada satu tisu yang kau pakai untuk membersihkan lukamu!” omel Hyukjae. Ia memandang gunting-gunting di atas meja dan bergidik ngeri membayangkan ujungnya yang tajam berhasil meninggalkan bekas luka di tangan Jiyoo.

“Kau berlebihan! Lukaku tidak separah itu, bekasnya juga akan hilang dalam beberapa minggu,” ucap Jiyoo acuh.

“Berhentilah membuat orang lain khawatir, eo?” Hyukjae benar-benar kehilangan minat untuk kembali memarahi gadis itu.

Jiyoo merasakan tatapan Hyukjae yang melembut, tapi gadis itu tak bisa menghilangkan rasa tertekannya. “Berhentilah mengkhawatirkanku, eo?”

“Choi Jiyoo,” nama lengkap itu meluncur dan tentu saja itu bukan pertanda baik. “Kalau kau bertingkah baik, terbuka dan tidak suka menyendiri, akan kupertimbangkan untuk tidak mengkhawatirkanmu, bagaimana?”

Tawaran yang mustahil bagi Jiyoo. Seharusnya Hyukjae tahu itu, bahwa memang tak mungkin mengharapkan Jiyoo menjadi seperti gadis-gadis lain. Ia sama sekali tidak cocok memainkan peran sebagai gadis supel yang disukai semua orang.

Jiyoo akan tetap menjadi Jiyoo yang anti-sosial dan tertutup walaupun ia dapat menulari orang di sekelilingnya dengan suasana hangat yang menyenangkan.

Ia suka tersenyum, meleburkan semua orang untuk tersenyum dan tertawa bersamanya. Walaupun begitu, sifat aslinya memang tak bisa diubah, kan? Selama 19 tahun usia hidupnya, ia sudah terlatih untuk menjadi tertutup.

Terima kasih untuk dua orang yang membuatnya begitu.

“Apa masuk akal… tidak, masuk akal saja,” gumam Jiyoo. Hyukjae melihat bibir gadis itu bergetar. “Selalu masuk akal bagi mereka untuk membuatku tertekan melewati batasku sendiri.”

Hyukjae terdiam dan hanya mendengarkan. Jiyoo berusaha bercerita. Walaupun dengan terbata dan tanpa maksud yang konkret, gadis itu mencoba mengurangi perasaan kesal jutaan ton yang membebani pundaknya.

“Aku… anggap saja aku memang pendendam yang baik, tapi aku benar-benar tidak bisa menghilangkan perasaan sesak itu,” Jiyoo mengucapkannya dengan tersendat. “Kukira perasaan itu sudah menghilang, atau setidaknya menipis, tapi ternyata tidak.

“Mereka tetap bisa membuatku menangis di kamar mandi dengan kran yang terbuka, mereka tetap orang-orang yang bisa membuatku merasa gunting adalah sesuatu yang lebih baik.” Jiyoo mengangkat bahu santai. “Mungkin semuanya akan terasa lebih baik dibandingkan rasa sesak yang menyakitkan ini.”

Hyukjae menoleh ke samping dan menemukan Jiyoo sedang menyeka air mata. “Kalau memang semuanya lebih baik, kenapa kau memilih kembali pada gunting?”

“Kenapa ya… aku juga tidak tahu. Hanya saja, mengalihkan rasa sakit akan terasa lebih melegakan,” ujar Jiyoo jujur.

“Kau ingat kenangan pertamamu dengan gunting?” Hyukjae mengeluarkan selembar tisu dari kotaknya dan menyeka air mata Jiyoo. “Kedua punggung tanganmu itu penuh dengan luka yang menakutkan. Kau bahkan tidak bisa menopang dagu dengan punggung tangan seperti itu. Lebih jelasnya, kau tidak bisa melakukan apapun yang berhubungan dengan tangan tanpa merasakan nyeri.”

Jiyoo mendengus. “Itu dulu, dan sekarang lukanya tidak separah itu!”

“Siapa yang tahu? Saat Eomma mengobati kedua punggung tanganmu itu, kau ingat apa yang kaujanjikan?” tanya Hyukjae. Lelaki itu tersenyum simpul saat Jiyoo kembali mendengus kesal. “Kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi, Choi Jiyoo.”

Dengan lirikan sengit, Jiyoo menyahut. “Itu hanya kalau mereka tidak melakukan hal bodoh seperti biasanya!”

“Baiklah, kurasa kau akan tetap keras kepala seperti ini; seperti Choi Jiyoo,” Hyukjae mengangkat bahu kemudian meraih tangan kiri Jiyoo. Lelaki itu memerhatikan luka di bagian punggung tangan Jiyoo. “Sudah diolesi obat?”

Jiyoo menggeleng polos. “Tidak sakit.”

“Ck, gadis ini benar-benar…” Hyukjae buru-buru bangkit dan mengambil sebotol obat oles di sebuah lemari kaca di dekat dapur. “Kalau tidak diberi obat, bekasnya akan susah hilang, gadis manis!”

“Tapi tetap akan hilang, kan? Jadi jangan cerewet!” omel Jiyoo sambil berusaha menarik tangannya dari Hyukjae.

Hyukjae melotot ke arahnya, membuat Jiyoo tak punya pilihan selain menurut. “Aku tidak akan menikahimu kalau ada bekas luka walaupun sedikit, Nona manis. Jadi diam dan patuhi aku!”

“Dengar ya, walaupun kau bisa berkata seperti ini sekarang, aku tahu pada akhirnya kau tetap tidak akan menikahiku, jadi berhentilah mengucapkan kalimat seperti itu,” Jiyoo merasakan perih di tangannya. Hyukjae mengangkat wajah, memandangnya dengan tatapan heran. “Lee Hyukjae, kau akan menikah dengan gadis lain, seseorang yang akan secara nyata meminjamkan pundaknya padamu, bukan orang yang hanya membayangkan melakukan hal itu untukmu.”

“Mungkin saja,” ucap Hyukjae tenang. “Lee Hyukjae memang akan seperti itu, tapi bukankah kau masih punya Poo?”

Jiyoo tersenyum kecil. “Ya. Poo dan Mr. P-ku yang lain.”

“Selama kau menginginkannya, aku akan tetap menjadi Poo dan Mr. P-mu,” Hyukjae meniup luka Jiyoo dengan lembut. “Tapi seandainya nanti kau sudah menemukan Poo atau Mr. P-mu yang lain, kau boleh mengurangi rasa bergantungmu padaku sedikit demi sedikit. Ingat, hanya sedikit demi sedikit, tidak boleh sekaligus!”

“Saat itu, aku akan benar-benar mencintaimu dengan kadar yang benar,” ujar Jiyoo mantap. “Ah, tidak juga, sekarang pun aku sudah mencintaimu dengan kadar yang benar. Aku tidak mengikatmu dengan rantai emas yang membuatmu sesak napas.”

Hyukjae mengerutkan kening lalu menggeleng-gelengkan kepala. “Laki-laki mana yang membuatmu seperti ini, ha?”

“Siapa ya… Mungkin… Lee Hyukjae.” seru Jiyoo. Gadis itu tertawa hingga suaranya membahana di ruang tamu. “Tidak ada. Selain kau, tidak ada lagi. Setidaknya hingga saat ini.”

Dengan senyuman sinis di bibir, Hyukjae menyipitkan mata. “Lalu apa maksud dari draft yang disimpan dua hari yang lalu itu?”

“Draft ap– YAA! Kau membuka Hyukie?! Aku sudah memberinya password~!” Jiyoo memekik tak terima.

Hyukjae tersenyum puas. “Siapa yang menyuruhmu memasukkan 0404 sebagai passwordnya?”

“Karena… kukira kau akan mencoba tanggal ulang tahunku lebih dulu,” gumam Jiyoo pelan.

Kepolosan gadis itu benar-benar membuat tawa Hyukjae meledak. “Choi Jiyoo yang manis, aku selalu memasukkan tanggal ulang tahunku pada setiap gadget atau barang milikmu; ponsel dan akun universitasmu. Sebagian besar berhasil, tapi sebenarnya aku tidak berharap banyak pada Hyukie kecilmu itu.”

“K-kenapa kau selalu memasukkan tanggal ulang tahunmu?”

Hyukjae menyentil kening Jiyoo lembut dan tersenyum puas. “Karena aku tahu tanggal ulang tahunku sangat istimewa dan mudah diingat.”

==================================

Y’s Life Notes

Something that called ‘falling in love’
I don’t know, I don’t know it yet..
—-

Senja jingga menyelimuti langit, membungkus siluetnya yang sempurna. Ransel hitam disangga dengan tangan kiri sementara langkah kakinya berjalan konstan. Ia melewatiku begitu saja tanpa tahu aku memerhatikannya.

Aku selalu memerhatikannya. Hari ini ia memakai t-shirt hitam dengan sepatu converse yang selalu dikenakannya. Aku memerhatikan setiap inci wajahnya dari kejauhan.

Aku selalu memerhatikannya walaupun ia mungkin tak tahu. Tak perlu tahu. Tak apa, begitu pun tak apa.

Selalu bersama teman-temannya, sesuatu yang harusnya tak perlu dilakukannya. Jika terus begitu, ia tak akan pernah tahu aku selalu sendirian untuk menunggunya menatapku. Naïf, bukan? Maaf, aku memang seperti itu.

Ia duduk di lantai, melepaskan sepatunya. Tanpa sadar, bibirku membentuk senyuman kecil. Aku tersenyum hingga ia masuk ke tempat itu.

Hei, seseorang dengan inisial P, aku memberi satu nilai plus untukmu. Congrats! +1 for you.

Aku melihatnya duduk di baris yang sama denganku. Sesaat tadi, ia baru saja tiba dan duduk dengan dikelilingi teman-temannya. Lagi-lagi begitu.

Seandainya bisa, aku ingin pindah tempat. Aku ingin menarik kursi di dekatnya. Tak perlu sangat dekat. Setidaknya hingga aku bisa melihat raut wajahnya dengan jelas. Dengan begitu, aku bisa melukis wajahnya dalam benakku sendiri.

Perhatianku terlalu fokus padanya. Aku memerhatikannya yang berada di samping dan mengabaikan pertunjukkan di depanku. Aku tersenyum. Aku melihatnya seakan-akan tak ada objek lain untuk dilihat.

Saat waktunya tiba, ia meninggalkan kursinya dan kembali memanggul ransel hitamnya dengan satu lengan. Aku tahu ke mana ia pergi. Senyumku benar-benar tak bisa ditahan lagi.

Walaupun hal yang kaulakukan itu sama, tapi tanpa sadar, aku memberi satu poin tambahan lagi untukmu. Hey! +1 for you again.

—-

Mr. P, how many score that I’ll give to increase your point?
Because I don’t even know how I could give you so many +1 like this…

==================================

“Hei, Lee Hyukjae, bolehkah aku menuliskan banyak tulisan untuk Mr. P ini?”

“Mm… tidak boleh! Dia masih belum cukup dekat padamu, dan mungkin saja dia tidak akan pernah mendekat ke arahmu.”

“Y-ya! Jahat sekali!”

“Dia tahu kalau auramu itu adalah aura gadis yang memiliki orang lain.”

“Tapi aku tidak punyaaa~”

“Lalu kau anggap apa aku ini?”

“Kau itu… Poo-ku, sama sekali bukan orang yang harus dipertimbangkan oleh si Mr. P itu. :3”

“Lihat, lihat, siapa yang sebenarnya jahat di sini?!”

==================================

Sedikit curhatan tentang banyak hal. ^-^; Tentang caraku buat mengalihkan rasa sakit, tentang gimana perasaanku ama Lee Hyukjae itu, dan tentang seseorang berinisial P.

Walopun Lee Hyukjae akan selalu diinget sebagai bagian penting dari Choi Jiyoo/Yoo/Angela/BabyJ ato bahkan dari seorang Shela, tapi semua nama itu gak bakal jadi bagian –bahkan yang terkecil sekalipun- buat Lee Hyukjae.

Teteup mencintai dia, mendukung tentu saja, dan berdiri di garis depan buat ngebelain laki-laki itu. :3

Teteup menjadi Yoo-nya Poo yang baiks, yang berbahagia buat dia kapan pun dia bahagia. Hehehe~ Teteup menjadi Yoo-nya Poo di tiap FF. My eternal couple in fiction world, of course. xD

Tentu saja tanggal anniversary kami gak berubah, teteup di tanggal itu. ^-^

Terakhir, teteup berimajinasi dan menulis, membayangkan dia sebagai tipe cowok ideal seorang Shela. xD

Hei, P! It’ll be nice if we can be a classmate, ne? :”> Sebenernya sih, kamu bahkan gak ada mirip-miripnya ama Poo; dari tampang sampe sikap, tapi mungkin aku memang syuka ama yang kalem-kalem kaya kamu. xD Hmm… Lee Hyukjae itu sebenernya kalem sih, cuma jarang keliatan ajah kalemnya. =___=

Tapi tapi tapi, tulisan ini gara-gara kamu loh, P! >3<

Sorry, Lee Hyukjae~ Your yoo need her real P or Poo. :’3

==================================

“Dimaafkan.”

“Jinjja?!”

“Dengan syarat, peluk Baby-Poo setiap kau merasa sendirian.”

“Itu pesan dari Shin Kyuhyo. =__=

“Itu juga jadi pesanku untukmu, Choi Jiyoo.”

“Arasseo!”

“Janji?”

“Jan– Tidak tahu. Aku tidak tahu apa aku akan merasakan perasaan menyebalkan itu lagi atau tidak, jadi.. jangan minta aku berjanji.”

“Kalau kau tidak mau, aku akan mengutukmu!”

“=_____= Yang benar saja.”

“Aku akan mengutukmu tidak bisa terpesona pada laki-laki lain selain aku.”

“Ck, kalau begitu berarti kau sudah mengutukku sejak awal, Lee Hyukjae!”

“HA HA HA~ Sepertinya begitu.”

“……”

“Ah, aku tahu kenapa kau selalu memasukkan tanggal ulang tahunku sebagai password dimana pun.”

“Kenapa memangnya?”

“Selain karena tanggal ulang tahunku yang lebih mudah diingat daripada tanggal ulang tahunmu sendiri, aku tahu kau akan selalu memikirkan aku saat sebuah kolom muncul di monitor dan memintamu memasukkan kata kunci.”

“Menyebalkan.”

“Kenapa menyebalkan?”

“Semuanya selalu menyebalkan saat kau menebak dengan tepat!”

==================================

Kkeut! Beneran tamat! xD

 

49 thoughts on “[JiHyuk’s Story] Reality

  1. “….kita butuh yang nyata, tapi yg nyata itu ga bakalan jadi nyata karena ga ada yg nyatain (?)”

    babymilooooooooooooooooooooo~~~!
    ih itu boneka lucu beuds deh, babypoo ? similar like my baby’s name, babypooh :3

    no more comments ^^
    inget ya, “setiap satu luka atau lecet yang ada dibadan itu mengurangi nilai jujuran/seserahan” -quote dari ibu2 dikeluarga saya-
    kkk😉

  2. eonnie. its been so loooong ~
    apapun yang terjadi, be patient and be stronger than before ^^

    btw, jangan jangan eonnie lagi beneran jatuh cinta nih? ciiiiieeee ;;)

    FIGHTING! eonnie pasti bisa melewati semuanya. don’t hurt yourself anymore😦 i’ll support you aaaannnytime okey😉

  3. Chingu, keren sangat . . .tulisan nggak akan punya feel kalau yg nulis nggak ada feel . . . N U g0t that !! Jadi brasa jadi Jiyoo . .eh? Gag b0leh? ? Ya udah, lanjut aja deh. . . .
    E lupa, annye0ng . .ryELFa imnida. . . .*b0w*

  4. ciyeeee Mr. P ciyeeeee..
    dari Y ke P #eh *tancap gas*😄
    Ini………… Kereeen~ :3
    Swemwangaaat shelaaaaaaaaaaa~~!! :*

  5. ehemm.. ehemm…
    da yg mulai lirik2 nih..
    mr.p, dr nama’y spt’y cowok yg menarik..
    smg sukses aja dch d kehidupan nyata’y n selalu berbahagia…😄

  6. ecieeeeee poo tergantikan sama mr. P #plakk wkwkwk
    yoo serem amad dah klo lg tersakiti…
    jgn ya yoo nyawa cuma satu biarpun cadangan banyak wkwkwkwk *diinjek*

    tp saya syuka ini realita dong ya… dunia maya emang para idol2 jd milik pribadi…didunia nyata.. ya bgtulah *apainigkjelas*
    Lanjutkan~

    • Mr. Pnya kan Poo juga. *loh? xD
      *angguk angguk*
      sebagai pelarian, lebih baik memiliki mereka di dunia maya. *peyuk poo*
      kalo di dunia nyata, cuma bisa menunggu. xD
      makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  7. anyyeeeeong! saya mampir kesini lagi hohhoho
    ini ceritanya kenapa jadi serem ya? ._. itu beneran kejadian nyatakah tiap sakit trus ngasih ‘tanda’ ditubuh sendiri😮
    daaan ga tau mau komen gmna lagi *speechless*
    fighting!! apapun yang terjadi hohoho smoga itu Mr P nya cepet sadar klo ada yg pengen sama dia *ini gw komen apa yak kga jelas gini /slap*

  8. baca dah dari kemaren2, tapi ru komen skrg
    hahaha *plak*
    mengalihkan rasa sakit dengan melukai diri sendiri?
    hampir sama -,-
    saran saya, jgn terlalu keras melukai diri sendiri *saran jelek*
    di tempatmu da gunting 3, di sini guntingnya ada lebih dari 7 *gak penting, abaikan!*
    eciee..cieee…suuuiit…suuuiit…
    ada yg lagi…uhuk..uhuk
    so sweeeeeett bangeeet ! >o<
    akhirnya kamu bisa nemuin mr p di depan mata
    mr p, yoo ga suki desu
    memang perlu seseorang yg nyata di depan kita, tdk baik terlalu memikirkan mereka *wkwkwk*
    berarti cinta seorang yoo/shela pada poo/hyukjae dah berada di posisi yg benar dong
    saya ngakak waktu hyukjae ngomong
    "ingat hanya boleh sedikit demi sedikit, tidak boleh sekaligus!"
    bilang aja, poo gak mau dilupain ma yoo -_-
    terus, mang hyukjae kalem ya -,-
    ngomong2, poo tau banyak hal tentang yoo ya,soal password itu maksudnya
    doa saya, semoga kamu bahagia ma orang yg tepat buat kamu aja ^^
    dan orang tepat itu..mungkin aja mr p itu *wkwkwk*

  9. waduuh pantes aja bikin cerita putus dari hyuk~
    udah nemu poo yang laen tooh😄
    haha .
    dan itu kalimat trahir bikin syok .
    enyuk kalem darimana ? -____-”
    keurae, kalemnya hyuk emang jarang keliatan😄
    ngga pernah malah -___-“

  10. Yoo~ ini ceritanya miningpul banget.. ;;~~;; jleeeb.. Jleeeb.. Yoo~ benarkah suka bermain dgn gunting-gunting itu? Sereeeem (┌_┐) kaka jg suka main2 sama gunting, tp buat bikin prakarya dikertas, bukan prakarya ditubuh. Next time kalo lg sedih, nyesek, atau apapun itu.. Coba ulangi kata2 ini, “Everything is gonna be alright, because I have a big God” kalo buat kaka, itu sih lumayan ampuh🙂 gyaaaaaa~ Mr.P dikehidupan nyatanya Shela, Nuguya? *alis naik turun* temen kuliah dijurusan yang samakah? *wink* Yoo pernah denger tak kalo manusia punya 7 kembaran di dunia ini. Emm, kalo tak bisa dgn Poo yg asli, mungkin kembarannya Poo juga boleh😉 hwhwhwhwhw~ xD Kaka setuju sama statementnya Poo yg begitu wiseu disini. Suka ajaaaah.. Lee Hyukjaenya keliatan dewasa.. Horeeeee \(^o^)/

    • Hehehe… iyah kakak, sekarang syuda mikir kalo lebih banyak yg sayangs sama yoo jadi mudah2an gak diulangi lagi.
      Terima kasyihh kakak~ ^-^ Terharuuu~
      Mr. P itu… someone yang mengilhami sebuah tulisan tercipta. Eheeemm~ Cihuuuuyy. xD
      temen satu angkatan kok. *blushing* Tapi kita gak deket, pingin kenal tapiii..

      AMIIINN buat yg kembaran itu! Poo!! Aku menunggu salah satu kembaranmu.. ;A;
      Terima kasyihh kakak jingga~ Yoo loves kaka~❤ :*

  11. rada binuunnn nue,, ada apa ma kel.nya jiyoo,, ah sudahlah nnti aq ngerti sendiri ,,###,, Mr P , ??? hahha disini author langsung curhat ,,mmm inspirasi yang keren nue dengan tampangnya hyukjae as poo ??? oya thor ,itukan bulan maret curhatnya,,mm gimana dengan sekarang mm maksudku PERKEMBANGANNYA ><

  12. Aku kira ff ini isinya apa, eh ternyata…
    Eonni, aku nangis lho baca ini apalagi pas bagian kata-kata eonni yang “tapi semua nama itu gak bakal jadi bagian –bahkan yang terkecil sekalipun- buat Lee Hyukjae”..
    Aku jadi sadar kalau perasaanku buat Kyuhyun oppa juga kayak gini.. Hiks.. *curcol
    Geundae eonni, jangan suka menyakiti diri ya!! setiap kali eonni terluka, inget aja ada temen2 dan reader tercinta eonni yang selalu setia buat mendengar dan membaca apapun yang eonni buat..
    Himnaeyo, eonni!!! ^^

  13. Aku sekarang benar benar jadi fans jihyuk couple kekek~ , fanfiction nya kebanyakan kayaknya real life ya kakak ?
    Oia salam kenal kak~ aku putri .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s