Purple & You [Delapan]

***

Aku begitu menginginkanmu, begitu membutuhkanmu,

Aku tahu tak akan ada yang bisa kulakukan tanpamu..

Hanya saja aku lupa bertanya padamu,

Apa kau tak lagi membutuhkanku sebanyak aku membutuhkanmu?

============================

Paris – 9:13 AM

“Aku sangat lelah,” kalimat itu terdengar begitu solid, tapi juga begitu rapuh. Choi Jiyoo memaksakan senyum kecil. “Bagaimana kalau kita selesaikan saja semuanya?”

Eunhyuk memandangi wajah gadis di depannya dengan tatapan tak mengerti. Ia bahkan tak tahu bagaimana caranya merespon kalimat itu. “Yoo, apa kau sedang bercanda?”

“Aku hanya banyak berpikir, dan akhirnya sampai pada satu pertanyaan yang aku sendiri tak tahu jawabannya,” ujarnya. Jiyoo mendongak dan lagi-lagi merasakan nyeri saat menatap wajah itu. “Apa aku sangat membebanimu?”

“Aku tidak mengerti–“

“Apa aku sangat membebanimu hingga menjawab pertanyaan gadis itu pun kau tidak bisa? Apa gara-gara aku sampai kau tidak yakin pada perasaanmu sendiri?” pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Jiyoo menelan ludah sekaligus berusaha menelan bongkahan besar kekecewaannya.

Eunhyuk terkesiap. Ia sadar dari mana arah pembicaraan ini. Ia hanya tak berani menebak akan ke mana arahnya nanti. “Eunhee noona?”

“Aku sangat egois ya? Sama sekali tidak mau tahu soal masa lalumu, sama sekali tidak mau mendengarmu menyebut namanya, padahal.. padahal kau masih sangat peduli padanya,” Jiyoo merasakan tubuhnya gemetaran.

Ia mencoba memandang wajah Eunhyuk dengan lebih jelas. Melihat raut wajah yang penuh dengan kebingungan itu semakin membuat Jiyoo ketakutan. Ia takut jika keputusannya ini benar.

Jiyoo merasa ia sedang dibayang-bayangi oleh gelombang pasang yang luar biasa.

“Aku mencintaimu, Yoo,” pernyataan itu terdengar tulus. Eunhyuk mengatakannya dengan berbisik lirih.

Jiyoo mengaitkan kedua tangannya di bawah meja. Ia begitu takut. Jika ada sesuatu yang dapat membuatnya melupakan semua keputusannya semalam, hal itu adalah kalimat tulus dari Eunhyuk.

Gadis itu merasa bodoh. Ia tak bisa berbuat apa-apa padahal ia sangat ingin membalas pernyataan itu.

Bahwa ia juga sangat mencintai lelaki itu. Ia, Choi Jiyoo, dengan sadar, sudah jatuh terlalu dalam pada Lee Hyukjae tanpa bisa ditolong lagi.

“Tapi dia masih sangat penting, kan, bagimu?” ujarnya. Dengan segenap hatinya yang kecewa, Jiyoo melanjutkan, “Aku mungkin adalah gadis super tangguh yang bisa melakukan banyak hal gila, tapi.. aku tidak bisa melihat laki-laki yang sangat kupedulikan tersesat dalam perasaannya sendiri.”

Jiyoo menggantikan kata kucintai dengan kata lain. Dan tak akan ada yang tahu betapa sakitnya melakukan hal seperti itu.

“Karena itu,” gadis itu tersenyum kecil, “kurasa kita harus mengakhiri ini dengan bahagia.”

Lee Hyukjae tersentak mendengarnya. Bagaimana ia bisa bahagia jika satu-satunya sumber kebahagiaannya menuntutnya untuk melepaskan semua kebahagiaan itu?

“Kau datang ke Paris hanya untuk mengatakan ini?” pertanyaan itu mengganggu Eunhyuk.

“Apa kaupikir aku orang yang suka buang-buang uang?” Jiyoo berusaha bercanda, tapi ia justru merasa usahanya itu gagal total. “Aku.. tadinya kukira kau sangat kesepian tanpa aku di sini, tapi kulihat kau sudah mendapatkan orang spesialmu yang dulu.”

Eunhyuk menundukkan kepalanya dan menatap kosong ke kaki meja. Ia membeku. Seluruh tubuhnya mati rasa kecuali bagian kecil di dada kirinya. Nyerinya berdenyut-denyut. Setiap jantungnya berdetak, pasti rasa nyeri itu ikut terasa. Semakin lama semakin kuat, semakin menyakitkan.

“Aku membutuhkanmu, Yoo,” hanya itu yang bisa diucapkannya.

“Aku juga, tapi bukankah kita bisa tetap berteman?” ucapan itu terdengar sangat mudah. Jiyoo mengepalkan telapak tangannya di bawah meja.

Bukan ini yang seharusnya dirasakan Jiyoo. Satu kalimat itu seharusnya bisa terucap dengan ringan, tanpa beban, bukannya terasa mencabik-cabik tenggorokannya seperti ini. Jiyoo tak lagi merasakan hatinya utuh.

“Apa kau tahu aku tidak akan pernah bisa menolak apapun yang kauinginkan?” tanya Eunhyuk.

Lelaki itu memandang lurus ke mata Jiyoo. Sama seperti miliknya, kedua mata itu menyiratkan luka dan ketidakberdayaan di dalamnya.

Eunhyuk sangat berharap keinginan Jiyoo sama seperti keinginannya; tak ada perpisahan atau apapun yang nantinya akan menyakitkan untuknya dan Jiyoo.

“Karena aku adalah orang yang egois, bolehkah aku bersikap egois lagi?” pinta Jiyoo dengan suara tertahan. Eunhyuk bertanya-tanya apa yang dilakukan gadis itu hingga bisa menahan perasaannya sejauh ini. “Kau.. adalah orang yang harus memintaku melepaskanmu.”

“Choi Jiyoo..” bisikan itu membuat hati Jiyoo yang sudah hancur berantakan kembali utuh dan tercabik lagi.

Jiyoo menarik napas dan membiarkan senyuman kecil tergambar di wajahnya. “Ayo, ucapkan, Poo..”

Eunhyuk tertunduk lemas. Panggilan itu kini terasa sangat menyakitkan. “Aku tidak mahir untuk menyerah, Yoo. Tidak pada apa pun, siapa pun, dan tidak pula padamu. Aku tahu perasaanku kemarin sangat membingungkan, tapi aku tidak tahu akan seperti apa lagi jadinya kalau kau memintaku.. menyerah.”

“Aku hanya minta ini, Poo. Kalau kau memintaku melepaskanmu, aku akan mematuhinya,” Jiyoo memandangi cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya. Gadis itu menghela napas sebelum melepaskan benda indah pemberian Eunhyuk.

“Yoo..” Eunhyuk melihat sendiri cincin itu tergeletak di atas meja.

“Aku mohon..” pertahanan yang sudah dibangun Jiyoo sejak pagi hancur begitu saja. Dinding yang terbuat dari beton itu berubah menjadi lelehan air mata. “Aku mohon, Poo..”

Eunhyuk menatap kosong gadis yang sedang menangis di depannya. Gadis itu menangis memohon untuk diusir dari hatinya. Dan itu sama saja dengan menghancurkan Eunhyuk dari luar dan dalam. “Apa kau sangat menginginkannya?”

Jiyoo membekap mulut dengan tangannya sendiri. Tak ada yang bisa dilakukannya agar lelaki itu menurut selain menganggukkan kepala. Gadis itu mengangguk berkali-kali sambil berusaha menghentikan tangisannya.

Seiring dengan jawaban yang diberikan Jiyoo, Eunhyuk merasakan hentakan keras di jantungnya. Nyeri yang dirasakannya semakin parah, semakin tak terkendali. Semakin menyakitkan.

“Aish! Lakukan sesukamu!” Eunhyuk meraih cincin di atas meja dan meninggalkan kursinya. Sesaat kemudian, lelaki itu berbalik dan berdiri di depan Jiyoo. “Bukan begini yang kauinginkan.” gumamnya. “Choi Jiyoo, kumohon, tolong lepaskan aku.”

Jiyoo tahu ini keinginannya. Ia sudah membayangkan semua ini terjadi. Hanya saja, ia tak tahu rasanya akan sesakit ini.

Eunhyuk menunggu. Lelaki itu menunggu Jiyoo membatalkan permintaannya. Ia yakin gadis itu juga merasakan rasa sakit yang luar biasa. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya, mungkin.

“Lee Hyukjae, aku akan melepaskanmu,” Jiyoo berbisik pelan setelah bisa mengendalikan air matanya. “Annyeong..”

—-

Annyeong? Lee Hyukjae berusaha mengartikan satu kata itu ke dalam banyak bahasa. Salam seperti apa yang baru saja diucapkan Jiyoo? Perpisahan kah?

Eunhyuk membentuk kedua telapak tangannya menjadi kepalan kuat. Ia merasakan benda mungil dalam genggamannya. Cincin putih itu terasa sangat dingin di kulit Eunhyuk. “Aku..”

“Pergilah, kau bisa pergi setelah memutuskan hubungan ini,” Jiyoo mendongak. Eunhyuk bisa melihat kedua matanya yang bengkak. Gadis itu jelas bukan menangis saat ini saja. Entah berapa lama ia menangis semalam.

Lelaki itu menelan ludah dengan susah payah. Butuh waktu beberapa detik untuk mengangkat kakinya dari hadapan Jiyoo. Ia, tiba-tiba merasa lelah dan putus asa.

Eunhyuk begitu ingin merebahkan tubuh lalu tidur dan bangun dengan kenyataan yang tidak seperti ini. Ia begitu ingin meyakini bahwa semua ini hanya mimpi buruk.

Hembusan angin dingin menerpa wajah Eunhyuk begitu ia keluar dari café. Berkat sapuan angin itu, ia seolah disadarkan dari mimpi. Eunhyuk membalikkan tubuh dan menatap Jiyoo dari balik kaca. Gadis itu masih terduduk di tempatnya.

Eunhyuk mengangkat kepalan tangannya. Lelaki itu membuka kepalannya dan menemukan cincin putih di sana. “Selesai..?” ia bertanya.

Dengan langkah diseret, Eunhyuk berhasil sampai ke depan dormnya. Ia tak ingin pulang. Ia tak ingin pergi ke mana pun, sebenarnya. Eunhyuk hanya ingin kembali dan membatalkan permintaan konyolnya tadi.

Jiyoo memang menyuruhnya untuk minta dilepaskan, tapi seharusnya Eunhyuk tahu ia bisa memilih untuk tak melakukan itu.

Eunhyuk terduduk di kursi kayu yang terlihat putih karena salju. Ingatannya tentang isi pembicaraan Jiyoo berputar-putar di kepalanya. Seperti kaset lama yang tak bisa didengarkan dengan baik, kalimat-kalimat dari Jiyoo terputar begitu saja.

“Bagaimana kalau kita selesaikan saja semuanya?”

“Apa aku sangat membebanimu?”

“Aku hanya banyak berpikir, dan akhirnya sampai pada satu pertanyaan yang aku sendiri tak tahu jawabannya,”

“Aku mungkin adalah gadis super tangguh yang bisa melakukan banyak hal gila, tapi.. aku tidak bisa melihat laki-laki yang sangat kupedulikan tersesat dalam perasaannya sendiri.”

“Aku hanya minta ini, Poo. Kalau kau memintaku melepaskanmu, aku akan mematuhinya,”

“Lee Hyukjae, aku akan melepaskanmu,”

Annyeong..

Eunhyuk menundukkan kepala dan mulai merasa panik. Jika gadis itu benar-benar mengucapkan kalimat perpisahannya, apa yang harus dilakukan Eunhyuk?

Apa yang bisa dilakukannya?

—-

Choi Jiyoo merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Ia harus memeluk tubuhnya sendiri untuk menjaga agar tubuhnya tidak meleleh di kursi. Jiyoo memandangi kursi kosong di hadapannya dan langsung merasakan lubang hitam sedang menelannya pelan-pelan.

Jiyoo terkejut ia bisa merasa sangat kesepian tanpa lelaki itu.

Dengan agak naïf, ia mengangkat telapak tangannya ke depan matanya. Jiyoo tertegun. Tak ada lagi cincin indah yang terus menarik perhatiannya. Jari manisnya terasa begitu kosong, dan jelek. Cincin itu sudah menjadi pelengkap untuk jemarinya. Dan sekarang cincin itu tak ada.

Sama seperti Lee Hyukjae yang selalu melengkapi Choi Jiyoo –setidaknya hingga sepuluh menit yang lalu.

“Mau kembali ke hotel?” suara berat itu tak membuat Jiyoo menoleh. Ia tak mau repot-repot memastikan bahwa Kang Minhyuk masih berada di dekatnya.

Jiyoo menggeleng pelan. Ia menggigit bibir ketika tangannya menyentuh syal pastel yang melilit lehernya. Syal ini milik Eunhyuk. Gadis itu bermaksud untuk mengembalikannya tadi, tapi rupanya ia terlalu sibuk menata perasaannya yang kacau balau.

“Kalau begitu apa yang mau kaulakukan?” tanyanya lagi. Minhyuk menarik kursi tempat Eunhyuk duduk.

“Tidak ada,” Jiyoo heran mendengar nada suaranya sendiri. Melalui telinganya, ia sadar ada kelemahan dalam suara itu. Yang lebih pasti lagi, suara gadis itu tertahan. Jiyoo tak akan terkejut jika tiba-tiba ia menangis.

Minhyuk memiringkan kepala dan mencondongkan tubuh ke depan. Ia masih bisa melihat bekas air mata di kedua sudut manik Jiyoo. Lelaki itu berusaha untuk tak memikirkannya, tapi tetap saja bayangan Choi Jiyoo semalam mengusiknya.

Ketika semalam mereka sampai di hotel, Jiyoo tak juga membuka mulut. Ia betah berdiam diri sampai menjatuhkan dirinya ke ranjang. Mata gadis itu terpejam, tapi Minhyuk bisa melihat kilauan air mata di ujung matanya.

Jiyoo bahkan gemetaran walaupun selimut tebal sudah membungkus tubuhnya.

Minhyuk menggelengkan kepalanya pelan. Ia masih tak mengerti, seperti apa ikatan gadis itu dengan Lee Hyukjae? Ikatan itu membuat Jiyoo tampak seperti gadis yang menyedihkan.

Akhirnya tak ada yang bisa dilakukan Minhyuk selain menaikkan selimut Jiyoo dan membelai pipi gadis itu lembut.

Minhyuk mengira Jiyoo akan tampak sama pada pagi harinya, tapi ia salah. Jiyoo bangun dengan wajah berseri. Gadis itu bahkan tak lagi merasa terganggu dengan kenyataan bahwa ia dan Minhyuk berada dalam satu kamar hotel. Jiyoo, entah bagaimana, berusaha tampil seperti biasanya.

Walaupun senyuman bisa menghampiri Jiyoo, Minhyuk tak merasa semuanya baik-baik saja untuk gadis itu. Ia justru merasa lebih baik Jiyoo menangis meraung-raung daripada harus menunjukkan sikap tegarnya. Melihat Jiyoo tersenyum dengan tatapan sedih membuat Minhyuk merasa tak nyaman.

Entahlah. Sesuatu mengganggu lelaki itu. Jika Jiyoo bisa marah atau menangis atau apapun yang bisa menunjukkan emosinya, Minhyuk merasa itu jauh lebih baik.

“Kenapa diam saja?” suara serak Jiyoo membuat Minhyuk melupakan sejenak kenangannya semalam.

Minhyuk mendongak, tapi tak menemukan apapun. Jiyoo tak tersenyum atau tampak sedih. Seperti robot besi, gadis itu terlihat datar; tanpa emosi, tampak tak hidup.

“Apa kau harus seperti ini?” tanya Minhyuk. Jiyoo membuka mulut, tapi tak mengucapkan apapun. Minhyuk melanjutkan, “Kalau memang sedih, menangis saja. Kalau kau benci, luapkan saja kemarahanmu. Jangan.. jangan membiarkanku melihat semua ini.”

Jiyoo menundukkan kepala sesaat sebelum menunjukkan lengkung kecil di wajahnya. “Beginilah kalau orang dicampakkan, kau tidak tahu?”

“Jelas-jelas bukan dia yang mencampakkanmu, kau yang tidak memberinya pilihan,” sela Minhyuk. Bukan begini rencananya. Ia sama sekali tak berencana untuk menyelamatkan ikatan mereka.

“Benar, aku tidak memberinya pilihan,” Jiyoo bergumam. Suaranya kembali tertahan. Rasa sesak yang lebih kuat kembali menghampirinya. “Tapi aku juga tidak punya pilihan..”

Jiyoo menatap lurus, jauh ke dalam mata Minhyuk. Ia berusaha memberitahu lelaki itu tanpa suara. Jiyoo bahkan tak punya kekuatan untuk menjelaskan semua hal pada Minhyuk. Ia hanya bisa berharap lelaki itu bisa mengerti melalui kedua matanya.

Seandainya bisa, seandainya ada pilihan yang bisa dipilihnya, Jiyoo tidak akan melakukan ini.

Tapi ia tak bisa, ia tak memiliki pilihan lain yang lebih baik daripada ini.

—-

SJ’s dorm – 10:23 AM

Setelah tiga puluh menit memikirkan semua hal yang baru saja terjadi, Eunhyuk memilih untuk masuk ke dalam dormnya. Ia tak bersuara ketika melihat ruang makan yang ramai. Ia melangkah lambat dan terkesan dipaksa.

Hyung, kami sedang sarapan,” sambut Ryeowook. Eunhyuk bergeming.

Ia memandangi wajah-wajah yang sedang menunggunya. Eunhyuk tahu semua orang menunggu untuk mendapat penjelasan atau apapun yang bisa menggambarkan ekspresinya saat ini. Tapi ia sendiri bingung, tak tahu harus menanggapi seperti apa.

“Aku sudah makan,” hanya itu yang bisa diucapkannya. Eunhyuk berlalu diikuti dengan tatapan yang tak lepas darinya. Ia baru bisa merasa bebas ketika pintu kamarnya tertutup.

Eunhyuk tahu ada banyak adegan putus dalam film yang dianggapnya cengeng, terutama jika hal itu dilakukan oleh si aktor dengan menangis atau mengurung diri di kamar. Yang tak diketahuinya, ia justru bisa merasakan campuran emosi itu sekarang. Eunhyuk terduduk di atas kursi belajarnya dan pikirannya kembali melayang.

Satu per satu kenangan bersama gadis itu terlihat olehnya. Kenangan-kenangan itu bergerak perlahan, seolah ingin memastikan bahwa Eunhyuk harus melihat semuanya.

Hyukjae tersenyum kecil melihat gadis kecilnya itu berseru riang. Tak ada yang bisa menggantikan segala raut wajah Choi Jiyoo. Hyukjae menyukai segalanya; senyuman, rengekan, tangisan cengeng, bahkan kekesalan gadis itu.

Menjadi seseorang yang selalu ada di samping Jiyoo adalah hal paling hebat yang Hyukjae rasakan.

“Hari ini tidak sibuk, kan, Yoo?” tanyanya, mengalihkan perhatian gadisnya dari langit senja berwarna jingga di hadapan mereka.

Jiyoo menggeleng cepat. “Tidak. Aku sudah memutuskan jadwalku sendiri hari ini. Mau dengar?”

Mau tak mau, Hyukjae mengangguk. Lelaki itu ikut mengembangkan senyum ketika Jiyoo memamerkan senyuman lengkung sempurna miliknya. Seperti virus, gadis itu selalu bisa menjangkiti dirinya. Dan Choi Jiyoo adalah virus kesukaan Hyukjae.

“Ehm..” Jiyoo berdeham dengan gaya berlebihan, “hari ini seharusnya aku belanja dengan Hyori untuk makan malam, tapi saat kau datang, aku punya jadwal baru.” Gadis itu berhenti sejenak, “Mengikutimu sampai tengah malam!”

Hyukjae mengerutkan kening kemudian terkekeh nyaring, “Ya! Jadwal macam apa yang kau buat?”

“Jadwal spesial semalam bersama Lee Hyukjae,” sahut Jiyoo sekenanya.

—-

“Jangan lupa memberi kabar, tapi jangan lupa kalau aku di sini sibuk, jadi.. yah pokoknya jangan lupa menghubungiku!” Jiyoo mendengus mendengar tatanan bahasanya yang kacau. “Lalu.. gadis-gadis Eropa itu tidak ada yang suka lelaki sepertimu, ingat itu! Jadi jangan macam-macam disana!”

Hyukjae tersenyum kecil membayangkan wajah Jiyoo yang mengamuk jika ia tak menuruti perintah-perintah itu. Senyumannya berubah muram membayangkan ia tak akan bisa melihat wajah kesal Jiyoo untuk waktu yang lama. Lelaki itu nyaris menangis sekarang.

Sepasang lengan melingkar di pinggang Hyukjae.

“Yoo?” panggilnya. Hyukjae menunduk untuk melihat kedua lengan Jiyoo. Ia kemudian menyentuhnya, menggenggamnya erat-erat. “Jangan menangis.”

Jiyoo tak menjawab. Gadis itu tahu pundaknya yang naik-turun sudah memberi tahu Hyukjae bahwa ia terlambat melarang gadisnya. “Aku tidak akan menunggumu!”

“Aku tahu,” jawab Hyukjae lembut. “Aku yang akan menunggumu..”

Eunhyuk tersenyum pahit. Gadis itu tak akan menunggunya, ia yang harus menunggu. Betapa gadis itu bisa menjadi sangat egois jika berkaitan dengannya. Eunhyuk tahu ini gila, tapi ia suka sikap egois yang selalu ditunjukkan gadis itu.

Lalu kenapa harus dirinya yang menyerah lebih dulu? Kenapa ia, dengan mudahnya, menuruti kemauan gadis itu?

Ia teringat tangisan Jiyoo yang pecah tadi. Eunhyuk menarik napas dalam-dalam. Apa gadis itu sangat menginginkannya hingga harus menangis?

Eunhyuk membuka kepalan tangannya. Ia memainkan cincin putih yang sejak tadi digenggamnya kuat. Cincin itu tak lagi terlihat indah tanpa pemiliknya. Eunhyuk tertunduk lesu. Sama seperti cincin itu, ia pun tak akan berarti tanpa gadisnya.

Semua ini terjadi begitu cepat, terlalu cepat hingga rasanya Eunhyuk kelelahan. Ia merasa lebih luar biasa bodoh karena tak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Lelaki itu memejamkan mata sejenak. Kenangan lain menggodanya.

Lima detik pertama: salam perpisahannya di sebuah atap gedung di waktu sore. Pelukan dari belakang yang dilakukan Jiyoo masih sangat diingatnya.

Lima detik selanjutnya: pelukan Jiyoo saat lelaki itu muncul di depan pintu kamarnya.

Lima detik lainnya: rona merah muda di pipi Jiyoo saat gadis itu menerima cincin pengikat mereka. Bayangan salju dan pasir menjadi salah satu yang mendominasi kenangan itu.

Lima detik selanjutnya: aroma tubuh Jiyoo yang memabukkan di pagi hari; wanginya begitu lembut dan manis.

Eunhyuk hanya bisa tersenyum mengingatnya. Pagi itu Jiyoo datang ke dorm, membangunkannya dan duduk di tepi ranjang. Eunhyuk masih bisa menghirup aroma tubuh gadis itu dan mendengar debaran jantungnya yang menggelepar seperti kepakan sayap burung.

Lalu ciuman pagi hari mereka. Rasa hangat yang ditawarkan Jiyoo membuat Eunhyuk semakin merindukan gadis itu. Menyadari semua kenangan itu akan tersimpan rapi tanpa bisa diulang membuat Eunhyuk merasakan dadanya berdenyut nyeri.

Senyuman, raut wajah kesal, dan tawa Choi Jiyoo adalah sumber kebahagiaan Eunhyuk. Lalu bagaimana lagi caranya ia berbahagia sekarang?

Eunhyuk membuka laci mejanya dan menemukan sepasang sarung tangan ungu. Kedua benda itu begitu hangat, sama seperti tangan Jiyoo. Tiba-tiba saja ia rindu untuk menggenggam tangan itu lagi.

Aroma tubuh, sentuhan lembut, dan debaran jantung Choi Jiyoo yang tak beraturan ketika bersama dengan Eunhyuk adalah alasannya untuk bernapas. Mulai sekarang, bisakah ia bernapas tanpa itu semua?

Pertanyaan-pertanyaan lain muncul bersamaan. Menyesakkan dan membuat kepalanya pening.

Apakah ia, Lee Hyukjae, sudah siap kehilangan gadis itu?

—-

Jiyoo meringkuk di ranjangnya. Ia memutuskan akan bergelung dengan selimutnya hingga ia jatuh tertidur. Nyatanya, ia sama sekali tak bisa berhenti berpikir walaupun otaknya sudah terlalu lelah untuk itu.

Merasakan sekelilingnya yang kosong membuat Jiyoo ingin memeluk tubuh lelaki itu.

Ucapan Eunhyuk terpotong saat pintu terbuka tiba-tiba. Jiyoo menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Eunhyuk. Kedua lengannya terikat erat di pinggang lelaki itu. “Aku merindukanmu!”

“Jawaban bagus,” gumam Eunhyuk. “Apa uri Yoo baik-baik saja?”

“Tidak. Aku tidak baik-baik saja tanpamu,” Jiyoo tak melepaskan pelukannya.

Eunhyuk mengecup pelipis kanan Jiyoo. “Bagus. Karena aku juga tidak pernah baik-baik saja tanpamu. Kupikir cuma aku yang merasakannya, karena kupikir kau punya semua orang di sini.”

“Aku tidak punya kau,” sahut Jiyoo sambil menghirup aroma parfum Eunhyuk dalam-dalam.

Betapa ia sangat merindukan semua ini. Aroma lelaki kebanggaannya, sentuhan hangatnya, dan ketenangan aneh yang selalu datang dari lelaki itu. Betapa Jiyoo tahu ia sangat bergantung pada Eunhyuk.

Jiyoo menyibak selimut kuningnya dengan kasar. Kenangan bersama Lee Hyukjae menyerbu kepalanya seperti ratusan lebah yang berdengung di telinga. Jiyoo tak takut disengat lebah, tapi untuk saat ini, ia tak ingin berurusan dengan lebah-lebah itu.

Gadis itu memejamkan mata dan menghembuskan napas berat. Ia tak percaya bernapas bisa menjadi sangat menyakitkan saat ini.
“Lupakan, Choi Jiyoo,” bisiknya. “Lupakan..”

“Tidak perlu dilupakan juga tidak apa-apa. Melupakan hanya masalah waktu,” Minhyuk berkata dari balik sofa. Lelaki itu sedang duduk sambil meluruskan kakinya saat mendengar Jiyoo bergerak gelisah di atas ranjang.

Jiyoo berusaha agar tak terkejut. Walaupun pikiran dan hatinya sedang tak bisa diajak berdamai, gadis itu sadar sepenuhnya bahwa Kang Minhyuk berada di kamar yang sama dengannya. Lelaki itu bahkan terus mengekor pada Jiyoo sejak kejadian di kafe semalam.

Tak sulit untuk mengabaikan celetukan Minhyuk. Jiyoo duduk di tepi ranjang dan meraih syal berwarna pastel di atas meja kecil. Pandangannya terpaku pada benda itu.

Gadis itu tahu tindakannya konyol, tapi ia tetap melakukannya; Jiyoo melilitkan syal ke sekeliling lehernya dan merasakan kehangatan benda itu.

“Hanya terakhir kalinya.. terakhir kalinya dan aku akan mengembalikan benda ini, Poo,” Jiyoo bergumam lirih.

Tangannya terangkat untuk menyentuh helaian lembut syal di lehernya. Jiyoo tak sadar matanya terpejam. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menghirup aroma si pemilik syal, berharap hal itu dapat meringankan beban di pundaknya.

Jiyoo menggigit bibir bawahnya sebelum meringkuk lagi di ranjang. Dengan syal yang masih melingkari lehernya, ia kembali mencoba untuk tidur. Dengan syal itu, ia berusaha mengingatkan dirinya bahwa semuanya akan berakhir –sudah berakhir.

Dengan syal pastel itu, ia berharap dapat mengucapkan salam perpisahan pada Lee Hyukjae dalam mimpi.

—-

6:17 PM

Noona,” panggil Eunhyuk saat baru saja tiba di lokasi pemotretan hari ini. “Aku ingin bicara..”

Eunhee mendongak dan menatap lelaki itu dengan kedua matanya yang besar. Dengan mengabaikan pandangan seluruh staf dan member Super Junior yang lain, ia tersenyum pada Eunhyuk. “Geurae.”

Hari masih tak begitu gelap ketika Eunhyuk, dengan susah payah, memutuskan untuk berangkat ke tempat ini. Dengan segala keegoisan dan keputusasaannya, ia sangat ingin membiarkan jadwalnya berantakan. Eunhyuk ingin dan harus menenangkan diri.

Tetapi ada sesuatu yang harus diselesaikannya. Sekarang. Bersama Song Eunhee.

Keduanya mengambil tempat di sudut kafe. Eunhyuk teringat pada pertemuan menyakitkannya pagi tadi. Jiyoo juga memilih tempat seperti ini. Tempat di sudut ruangan selalu mudah untuk diabaikan orang lain.

“Ada apa?” Eunhee menarik kursi dan duduk di sebuah kursi besi dengan desain klasik.

Eunhyuk menarik napas, berusaha mengulur waktu hingga ia berhasil menyusun kalimat demi kalimat dalam kepalanya. “Hari ini.. aku putus dengannya.”

“Dengannya?” ulang Eunhee. “Gadis itu?”

“Namanya Choi Jiyoo,” Eunhyuk merasakan lidahnya yang kelu saat mengucapkan nama itu. “Apa Noona tahu apa penyebabnya?”
Eunhee mengerutkan kening kemudian menggeleng.

“Dia pikir aku tersesat dalam perasaanku sendiri karena tak pernah punya jawaban atas pertanyaan Noona kemarin,” Eunhyuk menjelaskannya dengan lancar, setidaknya ia tak terbata-bata dalam mengatakan itu.

“Jadi dia ada di Paris,” Eunhyuk tak menjawab karena tahu Eunhee tak bertanya.

Dengan menarik napas panjang, lelaki itu menatap Eunhee. “Apa menurut Noona, aku sedang tersesat?”

Eunhyuk merasa seperti orang gila karena menanyakan perasaannya sendiri pada orang lain. Tentu saja tak akan ada yang menjawabnya. Bagaimana bisa, jika ia sendiri tak tahu jawabannya?

“Kenapa bertanya padaku?” sahut Eunhee tenang. “Eunhyuk-ah, kalau memang kau sudah selesai dengan Choi Jiyoo itu, apa kaupikir kita bisa kembali seperti dulu?”

Eunhyuk bergeming sejenak. Permintaan lain dari gadis lain hari ini. Eunhyuk bertanya-tanya kenapa dua orang gadis mengajukan permintaan tak masuk akal padanya? Apa ia terlihat seperti lelaki yang selalu mengabulkan permintaan semua orang?

Noona, aku–“

Eunhee menarik mantel Eunhyuk dan mengecup pipi kanan lelaki itu dengan lembut. “Aku tidak akan memaksamu. Pikirkan saja baik-baik. Sampai kau bisa melupakan Choi Jiyoo, aku akan menunggu.”

Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terisi, Eunhyuk menghela napas tak sabar. “Apa Noona tahu alasanku bicara bersama Noona di sini?” tanyanya. “Aku ingin memberi tahu sesuatu pada Noona, tentang aku dan Jiyoo.”

Eunhee seakan mendapat penglihatan akan menuju ke mana pembicaraan lelaki itu. “Aku tidak akan mendengarkan dengan baik.”

“Terserah,” sahutnya. Eunhyuk menegakkan punggung dan mengeluarkan sebuah cincin putih dari saku mantelnya. Eunhee memandangi benda itu tanpa suara. “Cincin ini milik Jiyoo. Cincin ini.. pemberian dariku. Aku sudah melamarnya.

“Aku begitu yakin pada perasaanku yang satu itu. Pada akhirnya pun, aku akan tetap memilih Choi Jiyoo. Hanya saja, aku masih tidak tahu kenapa aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan Noona kemarin.”

Eunhee diam, mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibir lelaki itu. Setiap kata menghujam jantungnya ke seluruh bagian. Ia begitu panik melihat keyakinan dalam suara dan tatapan mata Eunhyuk.

Belum sempat ia bertemu dengan Choi Jiyoo itu, ia sudah merasa kalah.

“Tapi kurasa, aku tahu perasaanku pada Noona sama sekali berbeda dengan perasaanku yang dulu. Aku tidak mencintai Noona seperti aku mencintai Song Eunhee yang dulu,” ucap Eunhyuk.

“Lalu, kenapa?” Eunhee mendongak untuk menatap lurus ke dalam mata lelaki itu.

Eunhyuk menarik napas sambil mengeluarkan seuntai rantai kalung dari saku mantelnya yang lain. “Walaupun aku sempat tersesat dalam perasaanku sendiri, aku harus menegaskan bahwa itu bukan karena aku merindukan masa-masa bersama Noona. Mungkin, aku hanya teringat pada rasanya saat Noona meninggalkanku dulu.”

“Saat kau mengucapkan ini, aku jadi tahu bagaimana rasa sakitnya,” gadis itu berkomentar datar.

“Aku akan menegaskannya lagi, aku sama sekali tidak tersesat,” ujar Eunhyuk. Lelaki itu meraih kembali cincinnya dan menjadikannya bandul di rantai kalung yang dikeluarkannya tadi. “Aku.. mencintainya, Noona.”

Eunhee tersenyum kecil sambil mendengus. “Kenapa kau mengatakan ini padaku, Hyuk-ah?”

“Karena.. sebelum aku mencoba untuk memintanya kembali padaku, aku harus membuat perasaanku jelas,” Eunhyuk menundukkan kepala.

“Kalau dia tidak bersedia kembali padamu?”

“Sebelum aku melanjutkan hidup tanpa dirinya sekalipun, aku tetap harus memperbaiki perasaanku lebih dulu,” jelasnya. Eunhyuk merasakan dadanya berdenyut nyeri saat harus membayangkan kemungkinan itu. Ia bukannya tak berpikir sejauh itu, hanya saja ia menolak memikirkannya.

Jika memikirkannya saja bisa membuatmu sulit bernapas, bukankah seharusnya kau menolak untuk berpikir?

Eunhee menelan ludah dan memandang Eunhyuk tanpa berkedip. “Sejak kapan kau menjadi laki-laki sekeren ini?”

“Entahlah,” jawab Eunhyuk. “Mungkin sejak aku mengenal Choi Jiyoo..”

—-

“Enak!” Choi Jiyoo berseru sambil melahap ramyun instan yang dibawanya dari Seoul. “Seandainya aku bawa kimchi juga..”

Minhyuk memandangi gadis itu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Ia ada di sana saat Jiyoo tertidur sambil memeluk syal berwarna pastel itu, ia juga ada di sana saat gadis itu terbangun dan langsung menjejalkan syalnya masuk ke dalam koper.

Sebelum dan sesudah tertidur, gadis itu begitu berbeda.

Jiyoo bisa tampak begitu rapuh sebelum ia tertidur dengan syal itu di lehernya. Minhyuk nyaris merasa ia sedang bersama dua orang dengan pribadi berbeda.

Minhyuk mendekat untuk bisa menyentuh pipi kiri gadis itu. “Kau baik-baik saja?”

“Aku? Aku baik-baik saja, eh, tidak, aku kelaparan,” sahut Jiyoo sambil tersenyum. Inilah salah satu alasan Minhyuk cemas. Gadis itu tak pernah tersenyum padanya –dan sekarang ia melakukannya.

“J..” panggil Minhyuk.

Jiyoo menoleh sambil mengerutkan kening. “Apa?”

Minhyuk mendesah berat. Gadis itu juga tak pernah suka dipanggil J olehnya –dan sekarang ia merespon ketika dipanggil begitu. “Jangan pura-pura lagi! Kau boleh berpura-pura di depan semua orang, tapi tolong.. jangan di depanku!”

“Siapa yang–“

“Kau!” Minhyuk menjawab sambil mendekap tubuh Jiyoo. Tangannya mengusap-usap lengan gadis itu berulang kali seakan Jiyoo sedang kedinginan. “Apa semua ini sulit atau berat, kau bisa bicara padaku.”

Pandangan Jiyoo kembali menerawang seakan ia tak sedang berada dalam ruangan itu. Kehangatan yang baru saja mendera tubuhnya membangkitkan gadis itu dari mimpi. Perlahan-lahan, Jiyoo bisa merasakan rasa nyeri yang sejak tadi terlupakan.

Sekarang, ia merasakan lubang berdarah itu lagi. Lubang yang tadinya tertutup itu kembali meneteskan darah. Sedikit demi sedikit, dan genangan darah akan menenggelamkannya.

Jiyoo kembali gemetaran. “Aku.. ketakutan.”

Minhyuk mengeratkan pelukannya walaupun tak tahu apa yang ditakutkan gadis itu.

“Jika tidak ada dia, apa yang harus kulakukan?” tangisnya kembali pecah. “Jika tidak ada Lee Hyukjae, aku harus bagaimana?”

Jiyoo tak sempat dan tak sanggup membayangkan semua itu –hari-hari tanpa Lee Hyukjae, tanpa Poonya. Akankah semuanya semudah biasanya, seperti saat ia bersama lelaki itu? Jiyoo tak tahu.

Minhyuk menahan napasnya ketika mendengar pengakuan itu dibisikkan, “Aku mencintainya.. Aku sangat mencintainya..”

============TBC============

So.. yesseu! They’d ended here.😉 I dunno how you guys feel, but I do feel a bit blue after re-read this. ;A;

Ah! Scene make dan tidur ama syal itu terinspirasi dari.. jaket Dadang. I’ve worn his jacket and it feels so.. good. :3 *tapi bukan berarti saya syuka sama dia yah. Nanti diamuk Ika* Pingin aja masukin scene kaya gitu. xD

*sigh* Song Eunhee is trying to get Eunhyuk back, but in the soft way. xD A sweet kiss in the cheek, wasn’t it cute?

And ofc, Jiyoo can’t let him go, although it was her decision. -_-‘

 Thanks for xokyu-love for the poster~ ^-^

82 thoughts on “Purple & You [Delapan]

  1. Eonnniee! gabisa tidur garagara galau! ini galau jlebnya super duper dewaaa! aaargh Jiyoo kenapa putusin Hyuk ? jangan siksa dirimuuuuu sendiriiiiii T~T
    aku baca ini heboh sendiri -_-

    • Kyaaa~~~ senengnya ada yang duluan baca abis ngepost. ><
      Tadinya mau ngepost besok, tapi karna P&Y 10 selesai malem ini, jadi dipost sekarang. ^-^ Dan ternyata ada yang masih melek~ MAKASIIIIHHH… ;A;

      eumm.. syuda cukup galau kah? bagus deh. :3
      memang itu tujuannya, penggalauan masal. xD
      makasihh syuda baca yaa~ ^-^

      • iya aku sengaja on sampe jam segini jelajahin mozilla. eh terus ada email tentang P & Y 8 makanya langsung aku bukaa blog ini dan aku bacanya ngebut ._.

        dan hasilnyaa… sukses bikin kakak aku bilang “men (aku dipanggil ramen haha -_-v) udah gila ? daritadi guling guling terus”

        scene disini bikin aku gilaaa aaa sedih jleb galau dan unyu pun ada *.* Daebaakkkk! *gulingguling*

      • Cute ? NYAHAHAHAHA~ *jgerr!*
        awalnya sempet kesel sma minhyuk. cuma dia terlampau unyu untuk disebelin u.u

        gila ini ff udah ngobok ngobok jiwa ett (?) -________-(y)

        btw eonnie kuliah jurusan apa ?

      • huahahaha biar bisa bikin jajangmyeon pake pisang wkwkwkwk xD

        ngomong ngomong itu cincinnya jiyoo nganggur kan ? *nyodorin jari* *ditonjok yoo* ㅋㅋㅋㅋ~

      • kalau cincinnya gak dikasih, syalnya ajadeh. gausah balikin syalnya ke poo. kasih ke aku aja eon *dijejelin kimchi stroberi* :3

  2. persaan udah 3 malam aku teriak teriak mulu pas di jam segini..
    tau kenapa??
    aku baca ff yang bener2 ngobok2 perasaan ku!!
    aku sebel ama Jiyoo!!
    apalagi ma Eunhee!!
    demi apa! aku sebeeelll..
    lanjutannya ditunggu ya..
    he3x
    Hwaiting!!^^b

  3. ada untungnya aku belum tidur
    nggak belajar padahal besok to tapi malah baca banyak ff ^^
    kaget juga karna dalam kurun waktu kurang dari 6 jam, ngepost 2 tulisan
    yak! disini jihyuk ngenes banget…
    feelnya dapat, sangat galau, saya ampe nyesek bacanya T.T
    gini toh scene putusnya,
    pantas slalu semangat buat scene ini =,= nyesek ternyata T.T
    nggak salah aku nunggu scene ini ^^
    yoo, dirimu salah besar kalo nggak ngasih kesempatan buat poo!
    dan apa itu, maksa nglepasin tapi nggak bisa kan? dan nggak bakal bisa!
    ckckck… eunhee… sadarlah dirimu
    nggak usah buat poo kembali padamu dengan nyium pipi seperti itu!
    yesseu… saya suka ucapan nan tegas poo ke eunhee QwQ
    kesannya hyukjae keren banget ngomong kaya gitu ^^
    buat minhyuk… terserahlah…
    aigoo… aku ngomong nggak penting lagi nih kayaknya =_=
    *lirik jam* ya ampun! dah jam segini! aku belum buka fisika!
    *abaikan*
    sudah ah… sekian dari saya
    saya mo belajar fisika sekarang T.T

    • Huhuhu~ kenapa hyuk jadi keren banget kayanya dan yoo yang nyebelin? ;A;
      gak papa sih, emang gitu niatnya. xD
      MAKASIHH SYUDA BACA YAA~ ^-^
      selamat belajaaarr.. *sodorin kyuhyun :3*

      • abisnya hyukjae dah bisa mutusin masa lalunya,
        tapi yoo malah kaya gitu =_=
        iya… ini baru buka buku
        terima kasih kyuhyunnya, tapi saya lagi ngapalin rumus bukan ngitungannya =_=
        jadi nggak da gunanya kyu disini meski dia jago mtk
        *diajar sparkyu*
        semangat belajar!

  4. HAIIYYAAAAA!!!!!!!!!
    APA-APAAN IN?!?!?!?!

    gemes bgt ma minhyuk…
    tuh anak rasanya pengen aku celupin di sumur supaya kaga bisa macam2 lagi..
    hedehhh… kasian uri Yoo..

    Poo, palli bawa Yoo ke KUA. klo kga mau, tarek paksa aja ding!!
    hehehe ^o^v

  5. galau…
    aku ga terlalu ngeh kalo galau trus jadi
    tadinya aku mo baca part terakhir aja tapi napa malah penasaran
    wuahh, kata lelah terucap juga
    ga tau kenapa hyuk di sini keren
    mutusin dgn tegas perasaannya
    hyuk pas masukkin cincin ke kalungnya terlihat wah
    suka suka suka
    ternyata galau itu menyenangkan ‘eh’
    cinta persegi tu rasanya kayak gini tho
    masa lalunya hyuk masih jalan ga?
    sama minhyuk juga?
    yg terpenting cara putus kaya gini daebak, perlu ditiru’lho’
    “wuah fisika fisika, belajar”

  6. shellaaaaaaaaa…. nyeseknya dapat bgtt.
    hiks…hikss..hiks…kok sedih ya?/ *yaiyalah* hehehe..

    ahhh……hyuk bodoh lagi..
    napa juga dia mau menuruti perintahnya jiyoo ckckck….

  7. kak….aku galau…GALAU TO THE MAX!!!! Putusnya….unyu banget(?) tapi emang iya-_- geregetan sumpah sm eunhyuk disitu kenapa dia kayak orang bodoh pas disitu w(‘A’w) paling nyesek pas bagian yoo ngasih cincin…mau nangis TT-TT ayoayo jihyuk cepet balikan ayoooo~ biar minhyuk patah hati terus berpaling ke aku (?)*killed

  8. Hado…
    Please, udah donk galau – galauan nya…
    Hiks hiks, makin galau gini si.
    Jangan sampe ntar eunhyuk yg salah paham, bisa – bisa beneran jadi hujan air mata dh kayaknya….
    Ho ho, gx rela…..

  9. berasa yaaa galau nya .
    entah tapi aku berpikir yoo dan poo terlalu pasrah .
    sama sama gak ada yg mau egois . egois doong sekali sekali .
    maunya balikan lagi lah yoo ama poo nya.
    nanti minhyuknya biar ama aku aja😛

  10. FF kali ini bener” menggalau..
    Apalagi bacanya sambil dengerin lagunya Bigbang yg Blue..
    Mantap banget bikin jd perasaan mengharu biru..
    Hiks..Hiks..
    Putus beneran deh..
    Kalau kayak gini Poo jd saingan berat aku buat dapetin perhatian Hae..
    Ayo balikan lagi dunx, biar hidup kami aman sentosa, sejahtera, makmur, bahagia, happily ever after…
    Pokoknya ditunggu Poo n Yoo balikan lagi..
    Klo udah ditunggu nasi tumpengngya juga (?)

  11. hmmmm..

    Udah yang ke 8 lagi,, gak kerasa..

    Di part kemaren2 saya gak nongol.. Maklum sedang sibuk,, hahahaha..

    Ihhh,, iniiii membuat air mata mengalirrr menganak sungaiii..

    Nah lo minhyuk harus tanggung jawab ngebuat orang lain putus, bikin anak gadis nangis..

    Hayooo..
    Yah jangan kelamaan putusnyahh..
    Takut takut takut..
    Takut ga balikan lagiii iniii toooloooonggg..

  12. Choi jiyoo yang kejam ck ck ck /elus2 poo/😄
    Bangun tidur baca beginian itu…….
    =________________=
    Sesuatu sekali Jiyoo-ssi..

    Aish.
    Minhyuk~~~~
    Bawa pergi yoo sana balik ke Seoul, biar eunhyuk sama eunhee /kicked/
    Jangan lah~ jiyoo dan hyukjae harus tetap bersatu :3
    Ditunggu part 9nya ! JiKyu aw~😄

    • Kejam? Kejam?!
      Setidaknya saya gak pernah minta poo buat maen ama cewek laen demi sebuah gelar galau girl. *diinjek*

      JIKYUUUU~ =______= j-jjang.
      Jiyoo dan hyukjae harus tetap bersatu? Tak ingatkah anda pada ucapan anda kemarin, Kyuhyo-nim?
      makasihh syuda bacaaa~ ^-^

  13. mari bergalau ria….
    bc nih ff bener2 galau plus geregetan, poo n yoo slg menyiksa diri pdhl dah jelas slg cinta tp tetep ja..
    smg cepat balikan aja dch…😀

  14. Hwaaaaa….jejeritan gw…kga nahan baca tiap paragrafnya….
    Sediiiiiiiih….
    Bikin galau…(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
    Daebak saeng!!!
    But,I hope it’ll be happy ending..can’t imagine how sad I’ll be if not…

    But,in the end..it’s up to you..
    I’ll wait 4 the next chapter then…

    Gomawo n fighting!!!

  15. Huaaaa…
    Banjir…
    Kehabisan stok tissue.
    Baca ini sambil dengerin Blue nya Big Bang, menghasilkan satu kesimpulan.
    JLEB!!!
    Sedih.
    Onnie keren bgt. Itu rasanya pasti amat sangat menyakitkan.

  16. Onnie!!! Gak tega ngeliat si poo galau huaa T.T ayooo balikan lg, kan kalian berdua saling mencintai. Aku sangat mendukung ehhehehe.
    Bete sm eunhee hehehe xD mengganggu aja. Semangat melanjutkan part berikutnya hehehe🙂
    *mian di part sebelumnya belom comment :(*

  17. Onnie!!! Gak tega ngeliat si poo galau huaa T.T ayooo balikan lg, kan kalian berdua saling mencintai. Aku sangat mendukung ehhehehe.
    Bete sm eunhee hehehe xD mengganggu aja. Semangat melanjutkan part berikutnya hehehe

    *mian di part sebelumnya belom comment

  18. huwa…sepertinya persediaan tisu dlm rumah abis.
    Nyesek,galau,geregetan campur aduk g karuan.
    ah lee hyukjae…bawa jiyoo kembali padamu sesegera mungkin…

  19. akhirnya bener2 putus…
    Poo & Yoo putus…
    Aigoo…
    Ya sperti yg aku blg sblumnya, puas2in galau dulu dah abis itu poo n yoo ke pelaminan /eaaaa/

    Aku setujuuuuu
    Poo keren deh tuh ngomongnya…
    Ayo fighting poo kejar lg yoo

  20. T_______________T
    ;______________________;
    >_____________________________<
    ini sih namanya penggalauan berencana (?) tidak bisa terus dibiarkan! mana choi jiyoo? ada yang merasa memiliki nama choi jiyoo? mana orangnya? mana? mana? mana? dia harus segera digelindingin (?) secepat mungkin ke arah poo syubidubidubidam #eh

    aaahh saia cinta galau! dan ini udah galau to the max!! <3333333333
    LANJUTKAN!!

    *contoh komen ga konsisten abad ini*
    #maklumyangbikinnyalagigalaujuga HAHAHAHAHAHAH
    *ngilang dengan anggun*

    • Eheeeemmm… Saya Choi Jiyoo, orang yg bertanggung jawab di sini, ada apa ya? *benerin blazer*
      Jadi anda mau menggelindingkan saya? Coba saja, nanti saya gelindingkan lee hyukjae lebih dulu.

      YESSEU! saya juga cinta galau. xDD
      Lanjutkan, komandan!
      makasihh syuda bacaaaaa~~~ ^-^

  21. galau, galau, galau..
    Nyesek, nyesek, nyesek..
    Miris bgt..TT_TT
    knp aq yg ngrasa sakit bgt y?JLeB bgt..*readeralay*
    balikan..balikan..balikan..balikan..balikan..balikan..*sayabawar0mbongandem0perusuh*
    chingu please jgn sad end, sgini z dh galau n nyesek minta ampuuun…huhuhu:'(
    happy end z y y y y:-**plakk#readerkurangajarsukamaksa*
    Poo kejar terus cintamu, low perlu low dh dpt ikat yoo ditiang listrik biar g da yg mw ngrebut lg*nunjukc’penggebugdram*
    udh akh cuap2.a..hehe
    Hwaiting chingu!!ditunggu next part.a*bow:-D*

  22. Betul kan galau kali kan ;A; sebenernya udh liat dr 1 maret kmren it , cm ga mau baca takut galau guling” (?)

    Mamah emg jago bgt bikin ff galau ;A; uwaaa gua ga rela Jiyoo sma Minhyuk .. Minhyuknya sma aku aja dia kan manis :3 #plakplak
    pengen nebak jalan crtanya nie ff xD baru kali ini crita jihyuk main putus”san xD biasany kn meggalau gr” org ketiga ._. dsini org ketigany kok jd baik ya -,- org keempantny (red : si noona) yg jahatttt ;A;

    aaaaa ini ff galau klimaksss rindu ff eunhyuk yg lugu” sm jiyoo yg pendiem #ecieee kangen Lovabook😄 dtungu next part umma kwkwk

    • Galau kali? xD Bacanya pake logat medan cocok tuh.. *gapen*
      Orang keempatnya gak jahaaat~ song eunhee gak jahaaaatt~ *peyuk eunhee*

      Bwahahaha~ ada yang kangen lovabook. xD Makasiiihh~ :*
      makasihh syuda baca, cantiks~ ^-^

  23. aiiiihh . banyak ff menggalaaaaaauu😥
    aaaaahh choi jiyoooo !! jangan sok tegaar .
    ini kaya minhyuk tu berperan sbg rider yaa .
    pengen gremekgremek jiyoo biar dia ngeluarin emosinya -___-”
    yoo ga boleh bisa tanpa poo~ :3
    dan itu APAAPAAAAAAAN EUNHEE CIUMCIUM -___-”
    bener2 ngingetin sama sena :((((
    jangan bilang ini jg terinspirasi dari situ yoo ?😄
    *terbang ke P&Y 9* :DD

    • Hahaha~ saya cinta galau. xD
      Sena? hohoho… saya bahkan gak liat videonya. xDD
      gak juga sih, cuma mau bikin karakter mantan hyuk yang pas ajah. :3
      saya syuka sama karakter eunhee loh. xD
      makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  24. part ini benar2 deh…
    Aq ampe nangis baca nya. Hikz.
    Hyuk nya kejam bgd… Minhyuk jg kenapa ngikutin yoo sih…

  25. GALAU!!!
    Z nangis, nangis, nangis.
    Napa jadi begini siCh? napa harus putus kalo pada akhirnya sama-sama sakit T_T

    Cuma gara-gara ff, bisa bikin Z ga nafsu makan. Huaaaaaaa~

    Mian, ga commet dipart sebelumnya, pulsaku sekarat. Sekarat perasaan Lee Hyuk Jae T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s