Purple & You [Tujuh]

***

Lebih dingin dari salju,

Lebih panas dari matahari merah,

Lebih menakutkan dari hujan badai,

Seperti itukah perasaan buruk yang kita rasakan?

==============================

Paris – 2:23 PM

Lee Hyukjae menyentak-nyentakkan kakinya di lantai. Ia bosan setengah mati. Bukan, bukan hanya bosan. Lelaki itu juga semakin tak nyaman jika berada seruangan dengan Song Eunhee.

Melalui jendela raksasa di sisi kanan restoran, ia membuang pandangannya ke jalan. Wawancara dengan Song Eunhee baru saja dimulai, dan tentu saja ini perdana –yang artinya perjalanan berada dengan Song Eunhee masih sangat panjang.

Kenapa harus ada majalah lokal yang berminat mencetak edisi khusus Super Junior? Eunhyuk merutuk dalam hati.

Ia menghela napas. Mungkin seharusnya yang disalahkan adalah kenapa majalah lokal itu mempekerjakan Song Eunhee sebagai penanggung jawabnya? Eunhyuk tahu ini konyol; mengeluhkan keadaan yang tak bisa diubah, tapi ia benar-benar tak tahu harus bagaimana.

Lelaki itu bahkan belum sempat menata perasaannya untuk menghubungi Jiyoo.

Eunhyuk melihat sepasang kekasih berjalan di jalanan bersalju. Keduanya bergandengan tangan. Untuk alasan yang aneh, Eunhyuk merasa sangat kesepian.

Sekarang, ia sangat merindukan tangan yang lebih kecil darinya itu. Tangan milik Choi Jiyoo.

“Giliranmu,” teguran Leeteuk membuat Eunhyuk membalikkan tubuhnya. Leeteuk menunjuk bar kecil di restoran yang menjadi tempat wawancara dan pemotretannya.

Eunhyuk mematung saat melihat orang lain menunggunya di sana. Song Eunhee menatap ke arahnya dan menunggu.

Tak ada yang bisa dilakukan Eunhyuk, jadi ia hanya menurut dan duduk di samping Eunhee. Lelaki itu mencoba untuk mengatur ritme napasnya sendiri. Agak konyol, tapi Eunhyuk merasa tak nyaman berada di dekat gadis itu.

“Kau bisa langsung bercerita,” ujar Eunhee memecahkan pikiran lawan bicaranya.

Eunhyuk berdeham pelan, “Cerita apa?”

“Eumm.. apa saja, hari-harimu di Paris, atau kesulitan apa saja yang kaudapatkan di sini. Semacam itu,” Eunhee tersenyum lembut. “Atau.. kau mau bercerita soal gadis itu?”

Noona.” Eunhyuk menegur.

“Tidak perlu marah,” sela Eunhee. “Maksudku, dia pasti jadi salah satu motivasi terbesarmu untuk tetap di sini, kan? Penggemar kalian pasti ingin tahu gadis seperti apa dia.”

Eunhyuk, yang sempat merasakan punggungnya menegang, berusaha untuk tersenyum kecil. “Dia.. sangat tidak bisa ditebak. Kadang aku bisa menemukannya dalam keadaan sangat senang, tapi kadang dia bisa menjadi sangat… apa yang harus kukatakan? Down?” ujarnya. “Kalau dia sudah seperti itu, dia hanya akan menangis di kamar mandi dan keluar dengan raut wajah yang seolah baik-baik saja.”

Bayangan Choi Jiyoo perlahan memenuhi otak Eunhyuk. Gadis itu tampak begitu tenang, seolah tak ada masalah berat yang berhasil menembus pertahanannya. Tapi belakangan ini, pertahanan itu semakin lemah. Eunhyuk tak akan heran jika pertahanan Jiyoo akan hancur dalam waktu dekat.

Memikirkan hal itu berhasil membuat Eunhyuk kembali mengkhawatirkan Jiyoo.

Semakin memikirkannya, Eunhyuk merasa semakin ingin berlari dari tempatnya sekarang. Ia begitu ingin berlari menuju tempat dimana gadis itu berada. Akan terasa sangat mudah baginya jika ia bisa selalu berada dekat dengan gadisnya. Dengan Choi Jiyoo.

“Dia istimewa ya?” pertanyaan Eunhee ini membuat Eunhyuk menatap langsung ke dalam mata gadis itu.

“Sangat.” Eunhyuk berkata jujur walaupun ada perasaan tak nyaman saat harus bercerita pada Song Eunhee.

Eunhee mengangguk-angguk sebelum membiarkan kamera dalam tangannya bekerja. “Aku jadi penasaran, apa dulu aku juga seistimewa itu?”

—-

Seoul – 9:15 PM

Shin Hyori melirik lagi gadis yang sibuk dengan koper besar di sampingnya. Gadis itu terlihat sangat bersemangat. Sudah dua jam ia menyiapkan pakaian dan barang-barang yang akan dibawanya besok.

Hyori mengerutkan kening. Ia merasa begitu terganggu dengan keputusan Jiyoo, tapi bahkan teman satu dormnya itu sama sekali tak merasakan gangguan yang sama.

“Apa kau yakin?” tanya Hyori. Jiyoo menoleh ke arahnya sambil mengernyitkan alis. Sudah sekitar lima kali Shin Hyori menanyakan hal yang sama padanya.

Jiyoo menghela napas. “Apa kau tidak percaya padaku?”

“Aku agak tidak percaya pada Kang Minhyuk, Yoo,” ujarnya. “Perjalanan mendadak ke Paris, tiket gratis yang diberikannya untukmu, kau tidak berpikir semua itu mencurigakan? Setidaknya, jangan pergi berdua dengannya.”

“Kami tidak hanya berdua, ada Lee Jonghyun –teman Kyuhyun itu,” jelas Jiyoo. Ia menutup risleting kopernya sebelum kembali berhadapan dengan Hyori. “Jangan khawatir. Aku hanya ingin bertemu dengan Poo, makanya aku menerima tawaran aneh Kang Minhyuk ini. Kau.. mengerti, kan?”

Hyori menarik napas panjang sebelum menyerah. “Kalau pun aku tidak mengerti, kau akan tetap memintaku mengerti, jadi ya, aku mengerti, bodoh.”

Jiyoo tersenyum lebar ke arah Hyori. Gadis yang lebih tua sebulan darinya itu pasti akan mengerti, kalau pun tidak, Jiyoo yakin Hyori akan tetap mencoba untuk mengerti. Lagipula Hyori tahu Jiyoo adalah gadis yang keras kepala.

Perjalanan ke Paris ini seperti hadiah tak terduga dari langit –walaupun kenyataannya perjalanan itu berasal dari Kang Minhyuk. Jiyoo berusaha mengabaikan hal yang satu itu. Ia, saat ini, hanya ingin menemui Lee Hyukjae.

Jiyoo bahkan yakin ia akan segera masuk rumah sakit jiwa jika tak mendengar kabar dari lelaki itu seperti saat ini. Pilihan yang tersisa hanya ini; mengikuti Kang Minhyuk ke Paris tak peduli apapun motifnya.

“Kau sudah memberitahunya?” tanya Hyori. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke dinding.

“Belum. Ini kejutan,” Jiyoo berbisik gembira. Dalam kepalanya, sudah terbayang wajah Eunhyuk yang terkejut karena kehadirannya di Paris. “Ah! Kau juga dilarang memberitahu bebek!”

Hyori mengangkat bahu. “Sesuai keinginanmu, adik kecil.”

“Apa yang kauinginkan saat aku kembali ke sini?” tanya Jiyoo sambil menunjukkan wajah dengan senyum sempurnanya.

“Bawakan aku Cho Kyuhyun made in Paris,” sahut Hyori sekenanya.

“Mm.. baiklah, akan kubungkus dia dan kukirimkan padamu,” Jiyoo menjawab sembarangan. “Apa perlu kuberikan pita dan kertas kado motif polkadot?”

Hyori mendelik tajam menahan tawa. “Semoga berhasil, kalau begitu.”

“Tch~ mana mungkin berhasil. Seandainya Cho Kyuhyun sejinak itu,” gumam Jiyoo.

—-

Incheon International Airport – 6:45 PM

Kang Minhyuk duduk santai di kursi bandara sementara Lee Jonghyun melipat tangan di dada dan bersandar kursi. Keduanya tampak menunggu, tapi untuk hal yang berbeda. Jika Jonghyun sedang menunggu waktunya masuk ke dalam pesawat, Minhyuk sibuk menanti suara langkah kaki yang menuju ke arahnya.

Minhyuk memandangi koper merah tua besarnya. Senyumnya, harus ia akui, terkembang begitu saja saat membayangkan perjalanan menyenangkan ini.

Perjalanan terbang ke Paris setelah berhasil membuat gadis itu memutuskan untuk ikut bersamanya. Apa lagi hal yang bisa menyempurnakan harinya sekarang?

Kedua matanya membulat ketika seorang gadis berjalan sambil menarik koper cokelat di sampingnya. Minhyuk tersenyum kecil. Gadis itu mengenakan mantel navy dan sebuah syal rajut berwarna pastel –persis sama seperti yang dipakainya saat mengantar Lee Hyukjae di bandara yang sama.

“Kukira kau berubah pikiran,” sambut Minhyuk. Lelaki itu kembali tersenyum begitu Jiyoo menunjukkan wajah kesal.

Jiyoo menghela napas berat. “Tadinya begitu, tapi kurasa tiket gratis seperti ini tak akan datang dua kali. Lagipula,” ia melirik Jonghyun, “kita tidak benar-benar berdua, dan tentu saja itu menenangkanku.”

“Begitu? Aku tidak akan terluka hanya dengan ucapan seperti itu, kau tahu?” ujar Minhyuk sambil tersenyum miring. Ia begitu senang menggoda gadis berponi itu. “Kulihat kau tidak membawa orang lain untuk mengantarmu.”

Jiyoo mengerutkan kening sebelum berkata, “Hyori sedang ada kegiatan kampus.”

“Dan kukira kau tidak akan memberitahu Lee Hyukjae soal perjalanan ini, kan?” tebak Minhyuk sambil menyelipkan kacamata hitam di sela mantelnya.

“Kukira itu bukan urusanmu,” Jiyoo tak berminat mengobrol lebih banyak dengan lelaki itu.

Semakin sering ia melakukan kontak apapun dengan Kang Minhyuk, Jiyoo yakin pikirannya akan semakin tak normal. Sudah cukup ia beranggapan Minhyuk adalah anak laki-laki dalam kenangannya. Memikirkan kemungkinan itu saja sudah bisa membuatnya frustasi.

“Kuanggap itu sebagai jawaban iya,” sahut lelaki itu mantap. Minhyuk berjalan agak cepat hingga ia bisa menempatkan dirinya di samping Jiyoo. “Terima kasih sudah bersedia ikut denganku.”

Jiyoo tak bisa menahan diri untuk tak melirik Minhyuk. Ucapan terima kasih itu terasa tulus. Terasa terlalu tulus hingga Jiyoo tak bisa menjawab apapun sebagai responnya.

Lee Jonghyun berjalan santai di belakang Minhyuk. Sambil menghembuskan napas panjang, ia bergumam pelan, “Daebak..”

—-

Paris – 3:12 PM

Eunhyuk membiarkan cairan hitam panasnya berubah dingin. Kedua matanya tak bisa lepas dari permukaan kopi yang terhidang untuknya. Ia tahu ini luar biasa konyol, tapi ia tak berhenti memikirkan ucapan Song Eunhee sesaat sebelum jeda istirahat tadi.

Aku jadi penasaran, apa dulu aku juga seistimewa itu?

Pertanyaan macam apa itu? Eunhyuk bahkan tak bisa mengungkapkan rasa tak terimanya. Seharusnya, pertanyaan seperti itu tak perlu terlontar dari mulut seorang penanggung jawab majalah seperti Song Eunhee, kan?

Eunhyuk menarik napas, memaksa oksigen masuk dan memenuhi rongga paru-parunya. Satu-satunya yang tak dimengerti olehnya adalah kenapa ia tak punya jawaban dari pertanyaan itu?

Masa lalu adalah masa lalu dan masa lalu tak boleh memengaruhi apapun yang sedang terjadi di masa sekarang. Eunhyuk berulang kali mengulang kalimat itu dalam kepalanya. Tak begitu menenangkan, jelas.

Lelaki itu menelan ludah. Satu-satunya yang diinginkannya saat ini hanya Choi Jiyoo. Seolah kehabisan ketenangan, Eunhyuk menginginkan gadis itu untuk menjadi obat penenangnya sekarang.

Sepertinya, ia akan kembali baik-baik saja jika gadis itu ada di sini.

“Apa kau memikirkan pertanyaanku tadi?” Song Eunhee menarik kursi di depan Eunhyuk.

“Tidak.” jawaban singkat itu terlontar begitu saja. Eunhyuk setengah berharap Eunhee tak akan bertanya lebih banyak lagi.

Eunhee tersenyum kecil. “Kalau begitu, apa kau bisa menjawab pertanyaanku tadi?”

Noona ingin tahu apa dulu Noona istimewa untukku?” gumam Eunhyuk. Ia memandang lurus ke depan, tepat ke dalam mata Eunhee. Mata itu berbeda dengan Jiyoo. Kedua mata itu begitu besar dengan kelopak berwarna gelap.

Eunhyuk pasti sangat membutuhkan Jiyoo saat ini. Karena baru saja ia melihat kedua mata Jiyoo yang kecil dan indah. Kedua mata yang mampu menenggelamkan Eunhyuk di dalamnya.

“Benar, aku tidak bisa menjawabnya,” Eunhyuk tersenyum kecil sambil menunduk memandangi cangkir kopi di hadapannya.

“Hyukjae,” panggil Eunhee. “Apa kau tidak rela saat aku meninggalkanmu begitu saja?”

Eunhyuk mendongak dan menatap gadis di depannya sekali lagi. Setelah tiga tahun, pertanyaan itu baru terlontar sekarang.

Lelaki itu merasa semua ini semakin konyol. “Noona, sebenarnya pembicaraan macam apa yang sedang kita lakukan ini?”

“Kenapa? Apa kau juga tidak tahu jawabannya?” Eunhee tersenyum kecil. Sebersit perasaan bersalah kembali muncul di dadanya.

Dengan satu gerakan, Eunhyuk mendorong kursinya ke belakang. Lelaki itu, entah bagaimana, sudah merasa terlalu lelah dengan semua hal yang terjadi hari ini. Ia, dengan keadaan sadar sepenuhnya, menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

“Hyuk-ah,” Eunhee menahan lelaki itu untuk meninggalkannya. “Mianhae..”

—-

Charles de Gaulle International Airport – 4:25 PM

Choi Jiyoo mengerjap-ngerjapkan mata saat ia berhadapan dengan lampu-lampu yang menyilaukan. Seluruh tubuhnya terasa remuk setelah perjalanan udara tadi. Satu-satunya rasa takjub yang menyelimuti Jiyoo hanyalah waktu dunia.

Ia terbang dari Seoul pada sore hari dan sekarang tiba di Paris pada waktu sore juga.

Matanya lelah setelah tiga jam tertidur di pesawat. Jiyoo mengusap-usap pelipis dan kelopak matanya. Gadis itu mengernyitkan alis ketika melihat sebuah kacamata hitam terulur di depannya.

Kang Minhyuk tersenyum kecil, “Pakai saja.”

“Ehm.. aku hanya pinjam ya,” ucap Jiyoo. Walaupun sempat ragu, ia menerima uluran kacamata milik lelaki itu.

“Jaa~ sekarang kita akan mencari hotel yang sudah disediakan pihak kampus,” Jonghyun berkata sambil membaca petunjuk yang ditinggalkan penggemar yang memberikan tiket perjalanan ini. “Kita bisa naik taksi atau berjalan.”

“Jalan?” ulang Jiyoo.

“Hanya dua puluh menit, itu juga kalau kalian tidak keberatan kaki kalian menderita selama dua puluh menit ke depan,” ujar Jonghyun sambil tersenyum lebar.

Minhyuk mendesis kesal, “Jadi intinya tentu saja kita akan naik taksi.”

“Eumm..” Jiyoo bergumam, meminta perhatian dari dua lelaki itu. Saat Minhyuk dan Jonghyun memandangnya, Jiyoo berkata, “Apa boleh aku mencari tempat menginap sendiri?”

Jonghyun mengerutkan kening. Wajahnya terlihat bingung. “Di mana? Dorm Super Junior?”

“Mungkin, tapi mungkin juga aku akan menginap di hotel yang berbeda dengan kalian,” ujar Jiyoo cepat.

“Silakan saja,” Jonghyun menjawab sambil tersenyum. “Kurasa kau tidak akan nyaman bersama kami, kan? Jadi, silakan saja. Kita bisa menginap terpisah mulai dari sini, asalkan tiga hari lagi kita pulang bersama.”

Jiyoo memandang Jonghyun dengan kedua matanya yang berkilat-kilat karena senang. “Kamsahamnida!”

Gadis itu menarik kopernya dan masuk ke dalam sebuah taksi. Ia tak percaya Lee Jonghyun akan mengizinkannya pergi sendirian. Jiyoo sempat melirik Minhyuk dan melihat tatapan tak suka dari lelaki itu. Gadis itu mengabaikannya, jelas.

Karena Lee Jonghyun yang tertua di sini, bukankah Jiyoo hanya harus minta izinnya?

“Kenapa? Kau mau protes?” tanya Jonghyun sambil berusaha membaca raut wajah Minhyuk.

“Tidak. Untuk apa?” Minhyuk mulai menarik kopernya dan mencari taksi yang bisa mengantar mereka ke hotel. Saat keduanya duduk di taksi, Minhyuk bergumam, “Kita bisa tidur terpisah karena kamar jatah Jiyoo kosong.”

—-

SJ’s dorm – 6:55 PM

“YOO?!” adalah teriakan dari tiga lelaki yang menyambut Choi Jiyoo. Jiyoo tersenyum lebar, memamerkan wajahnya yang berbinar karena berhasil mencapai dorm Super Junior di Paris.

“Apa tidak ada yang merindukanku?” tanya Jiyoo. Matanya menatap Donghae, Ryeowook, dan Kyuhyun bergantian.

Kyuhyun menyahut, “Tidak.”

“Aku tidak jadi bertanya padamu kalau begitu,” Jiyoo menyipitkan mata dan memandang Kyuhyun tajam.

“Mana anak kecil itu?” tanya Kyuhyun sambil melihat melewati pundak Jiyoo, berharap akan ada seorang gadis mungil menghambur ke pelukannya. Matanya semakin sipit ketika tak menemukan siapapun di belakang Jiyoo. “Hyori tidak ikut ke sini? Lalu kenapa kau ke sini?”

Jiyoo berdesis kesal, “Hyori tidak mau bertemu denganmu.”

“Kebohonganmu payah sekali,” Kyuhyun berkomentar seraya menundukkan kepala, sibuk mengamati layar iPadnya.

“Aku tidak ada urusan denganmu. Mana Poo?” Jiyoo menyapukan pandangannya ke setiap sudut dorm. Ruangan utamanya terlihat lengang. Sepertinya dorm itu hanya dihuni tiga orang di depan Jiyoo. “Mana yang lain?”

Ryeowook kembali ke dapur dan mengeluarkan mug untuk Jiyoo. “Sedang ada wawancara. Jadwal kami sudah selesai siang tadi, jadi kami pulang lebih dulu,” ujarnya. “Mau minum apa, Yoo?”

“Yang hangat~” sahut Jiyoo sebelum merebahkan tubuh di samping Kyuhyun. “Apa kalian di sini hanya berdua?”

Donghae berseru nyaring, “Ya! Bertiga! Kau tidak melihatku?!”

Oppa agak tak terlihat belakangan ini,” Jiyoo hanya melirik Donghae singkat. Ia masih ingat sebuah foto yang membuatnya kesal seharian. Donghae memeluk Poonya dari belakang. Dan tentu saja itu mengganggu Jiyoo.

Jjan! Cokelat panas buatan Ryeowook oppa,” ujar Ryeowook sambil meletakkan mug hijau di depan Jiyoo.

Kamsahamnida~” Jiyoo mengangguk-angguk dan memandang sekeliling. “Ah, apa Poo masih lama?”

“Entahlah, dia bersama Siwon, Leeteuk hyung, dan Sungmin hyung,” Donghae menggantikan Ryeowook untuk menjawab. Lelaki itu bisa melihat tatapan tajam dari Jiyoo. “Aku bosan menjadi sainganmu dalam merebut perhatian Hyukjae, jadi kita damai saja, eo?”

Jiyoo menenggak cairan cokelat hangat ke dalam tenggorokannya. Rasanya yang manis membuat Jiyoo tersenyum. “Baiklah. Sekarang kita satu aliansi.”

“Aliansi apa? Memangnya kalian sedang berperang?” kritik Kyuhyun yang masih duduk santai.

“Mencuri perhatian Lee Hyukjae adalah sebuah perang, Cho Kyuhyun-ssi,” sahut Jiyoo tenang. “Nah, sekarang, ada di mana Lee Hyukjae itu? Apa lokasinya di dekat sini?”

Donghae dan Kyuhyun baru saja akan membuka mulut saat Ryeowook mendahului keduanya, “Empat blok dari sini. Ke arah timur, namanya Jean le Café. Jaraknya dekat, kau bisa berjalan kaki, Yoo.”

“Aa~ geurae? Arasseoyo,” Jiyoo meneguk sekali lagi cokelat panasnya sebelum berdiri dari sofa.

“AWW!” suara mengaduh Ryeowook membuat Jiyoo menoleh.

Jiyoo melirik seorang lelaki yang duduk di samping Ryeowook. Gadis itu menemukan Donghae tersenyum kikuk padanya. “Apa yang Oppa lakukan?”

“Tidak, tanganku licin,” alasan Donghae jelas tak masuk akal.

“Terserahlah,” Jiyoo menelan rasa penasarannya dalam-dalam. Ia mengenakan kembali syal pastel yang sempat dilepaskannya sebelum tersenyum lebar. “Aku mau memberi Poo kejutan, jadi… sampai jumpa!”

Donghae menyikut lengan Ryeowook pelan. “Kau lupa kalau Hyukjae sedang bersama Eunhee noona? Kalau nanti Yoo bertemu dengan mereka lalu terjadi pertengkaran hebat dan mereka–“

“Memangnya Yoo tidak boleh tahu soal Eunhee noona?” Ryeowook bertanya setelah tak melihat punggung Jiyoo lagi. Gadis itu sudah meninggalkan dorm mereka dan sudah pasti sedang menuju café tempat Eunhyuk dan Eunhee berada.

“Sebenarnya boleh,” sahut Kyuhyun. “Hanya saja, karena Jiyoo itu kadang sama keras kepalanya dengan Hyo, kurasa gadis itu tak akan mau berurusan dengan masa lalu seorang Lee Hyukjae –dalam hal ini Song Eunhee.”

Donghae tampak menghela napas panjang. Seharusnya ia tak boleh mencampuri urusan orang lain, tapi kalau orang lainnya adalah Lee Hyukjae, apa boleh buat, kan? Lelaki itu mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Ya! Apa yang mau kaulakukan?” tegur Kyuhyun.

“Membereskan masalah Hyukjae,” Donghae mulai mengutak-atik ponselnya.

“Mereka sudah dewasa, terutama Choi Jiyoo itu,” ujar Kyuhyun santai. “Kalau memang nantinya akan ada masalah atau Jiyoo merasa tidak suka, biarkan Eunhyuk yang mengatasinya. Lagipula apa yang sebenarnya kau khawatirkan? Eunhyuk akan menduakan Jiyoo?”

Ryeowook menyela cepat, “Tidak mungkin, kan~?!”

“Karena itu, Eunhyuk tidak akan melakukan apa-apa di sana, jadi apa yang perlu dikhawatirkan?” Kyuhyun mengangkat bahu kemudian membenamkan pikirannya dalam layar iPad. Ia memang mengkhawatirkan hal yang sama untuk Jiyoo, tapi Kyuhyun tahu gadis itu tak akan bersikap kekanak-kanakan.

Donghae menarik napas dan menyelipkan benda tipis itu kembali ke sakunya. “Benar, Lee Hyukjae tidak akan berbuat macam-macam.”

—-

Mianhae?” ulang Eunhyuk. Wajahnya tampak muak setelah Song Eunhee mengucapkan kata itu.

Eunhee menundukkan kepala. Pikirannya tak dapat memerintah hal lain selain melontarkan permintaan maaf pada Eunhyuk. Perpisahan mereka jelas bukan hal yang mudah –bagi Eunhyuk dan bagi dirinya sendiri.

Meninggalkan seorang Lee Hyukjae sama artinya dengan mengiris pergelangan tangannya sendiri. Sama seperti bunuh diri.

Empat tahun yang lalu, meninggalkan Eunhyuk bukan pilihan yang tepat. Eunhee menggigit bibirnya. Tapi meninggalkan Eunhyuk adalah satu-satunya pilihan yang dimilikinya saat itu.

“Kau ingin mengejar mimpimu di Seoul, kan?” ujar Eunhee. “Aku juga ingin mengejar mimpiku, Hyukjae-ya. Menjadi seorang wanita berpendidikan tinggi dan dikenal sebagai jurnalis sejati. Bukankah kau tahu itu?”

Eunhyuk menahan diri agar tak mendengus di depan gadis itu. “Jadi meninggalkanku juga bagian dari mengejar mimpi noona, begitu?”

“Seandainya kau mengerti itu bukan keputusan yang mudah,” Eunhee bergumam lirih. Ia sudah cukup merasa bersalah dengan menemui Eunhyuk lagi dan tak perlu ditambah dengan tatapan menghakimi dari lelaki itu.

“Seandainya noona mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan seperti itu,” balas Eunhyuk. Raut wajahnya berubah lebih lembut. “Noona bertanya seistimewa apa noona untukku?” tanyanya. Eunhyuk tersenyum lemah. “Noona sangat istimewa, tentu saja.”

Eunhee mendongak dan menatap wajah Eunhyuk. “Apa sekarang juga masih seperti itu?”

“Sekarang?” ulang Eunhyuk. Ia sadar perasaan seperti ini tak boleh dibiarkan tumbuh, tapi otaknya tak bisa memberi perintah apapun. Eunhyuk tersesat dalam perasaannya sendiri. “Aku.. tidak tahu.”

Eunhee menangkap kebingungan di wajah lelaki itu. Wajar. Eunhyuk sudah bukan miliknya lagi. Ada orang lain yang memiliki dan dimiliki Eunhyuk. Eunhee hanya mengacaukan perasaan lelaki itu.

“Aku tidak punya jawabannya. Noona istimewa atau tidak saat ini… aku tidak tahu,” ujar Eunhyuk. Sebagian dari otaknya memberitahu bahwa akan ada yang merasa terkhianati oleh jawaban seperti ini. Dia akan merasa terkhianati. Dia, Choi Jiyoo.

Sambil meraih tangan Eunhyuk yang bebas, Eunhee tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku mengerti.”

—-

“Aku tidak punya jawabannya. Noona istimewa atau tidak saat ini… aku tidak tahu,” adalah jawaban yang keluar dari mulut Eunhyuk dan kalimat itu sudah cukup untuk menyakiti Jiyoo.

Gadis itu bersembunyi di balik pilar besar bercat kuning gading saat melihat Eunhyuk duduk bersama orang lain. Orang lain, seorang gadis, dan tak tampak seperti teman biasa. Jiyoo sempat menimbang-nimbang haruskah ia pergi ke sana atau diam saja untuk menunggu.

Dan otaknya memberi perintah untuk diam dan mendengarkan.

Jiyoo menggenggam erat syal pastel yang melilit lehernya. Tiba-tiba saja ia merasa tak bisa bernapas. Ia berusaha mengatur napasnya, tapi sia-sia. Semakin ia berusaha bernapas, dadanya justru semakin sesak.

Song Eunhee. Jiyoo mengingat nama itu. Seorang noona, mantan kekasih Lee Hyukjae. Hanya itu informasi yang bisa disusunnya saat ini. Ia tak sempat bertanya pada dirinya sendiri kenapa gadis itu ada di Paris.. bersama kekasihnya.

Jiyoo menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Mungkin saja dia bukan Song Eunhee..”

 “Jadi meninggalkanku juga bagian dari mengejar mimpi noona, begitu?”

“Seandainya noona mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan seperti itu,”

“Noona bertanya seistimewa apa noona untukku?”

“Noona sangat istimewa, tentu saja.”

“Aku tidak punya jawabannya. Noona istimewa atau tidak saat ini… aku tidak tahu.”

Suara Eunhyuk saat mengucapkan kalimat-kalimat itu mendengung di telinga Jiyoo. Gadis di samping Eunhyuk sama sekali bukan orang biasa. Gadis itu jelas orang yang penting bagi Eunhyuk.

Jiyoo memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tak ingin memikirkan hal itu. Tapi seperti sebuah badai salju, semua pikiran itu menyerangnya, meluluhlantakkan setiap dinding pertahanan yang sudah dibangun Jiyoo sejak dulu.

“Benar, itu Song Eunhee noona,” suara lain menyadarkan pikiran Jiyoo. Gadis itu membuka mata dan melihat Kang Minhyuk berdiri di depannya. “Kenapa dia ada di sini?”

Song Eunhee. Jiyoo mendapatkan jawabannya. Gadis itu benar-benar Song Eunhee.

Jiyoo menyeret kakinya keluar dari tempat itu. Ia bahkan tak ingin bertanya kenapa Kang Minhyuk muncul di dekatnya. Gadis itu kehilangan banyak pertanyaan dalam kepalanya.

Ia tak ingin bertanya pada Eunhyuk tentang Song Eunhee. Ia tak ingin tahu. Jiyoo seolah mengerti jawaban Eunhyuk nantinya hanya akan melukainya lebih dalam. Gadis itu tak akan berbuat apapun kali ini.

Ia tak ingin bertanya, tak ingin tahu, dan tak ingin peduli.

Jiyoo menyusuri jalanan kota Paris yang dihiasi lampu warna-warni. Kota ini jelas tak pernah sepi. Semua lampu itu membuktikannya. Tapi Jiyoo tak tertarik untuk menikmati riuhnya kota ini. Ia hanya ingin tidur dan melupakan apa yang dilihat dan didengarnya tadi.

Jalan lurus itu membawa Jiyoo ke sebuah persimpangan. Kedua jalan yang terpisah akan membawanya ke tempat berbeda. Jiyoo harus memilih jalan yang benar agar ia bisa sampai di tempat dimana seharusnya ia berada.

Jiyoo mendengus kecil. Sama seperti sekarang, ia harus memilih. Ia harus memilih jalan yang tidak akan membuatnya kebingungan lagi; tempat tujuannya yang benar.

“Ke kanan,” bisik Minhyuk. Lelaki itu, entah bagaimana, masih mengikuti Jiyoo. “Hotel kita ada di ujung jalan itu.”

Seakan tak peduli, Jiyoo memilih duduk di trotoar. Ia ingin menangis. Seperti biasanya, saat Eunhyuk berbuat sesuatu yang menyakitinya, Jiyoo ingin menangis. Tapi untuk kali ini, ia tak bisa. Air matanya seolah tertahan dan menolak untuk keluar.

Salah satu cara melepaskan perasaan ini adalah dengan menangis, tapi air matanya benar-benar mengkhianatinya.

Jiyoo mengingat lagi kalimat yang diucapkan Eunhyuk tadi. Lelaki itu tak memiliki jawaban untuk pertanyaan Eunhee. Gadis itu bertanya-tanya, apa itu karena dirinya?

“Apa karena aku, sampai kau tidak bisa menjawab pertanyaan semudah itu, Poo?” gumamnya. “Apa.. kau terbebani olehku, Poo? Apa kaupikir lebih baik aku tidak ada?”

Kang Minhyuk memandangi gadis yang terduduk di depannya. Lelaki itu mendengar bisikan Jiyoo. Ia duduk di samping gadis itu. “Ayo kembali ke hotel.”

“Apa.. lebih baik aku tidak ada di dekatnya?” kali ini pertanyaan itu untuk Minhyuk.

Lelaki itu menolak menjawab. Ia meraih tangan Jiyoo dan terkesiap, “Ya! Tanganmu sangat dingin! Ayo pulang.”

“Jawab aku!” Jiyoo berteriak dengan suara parau. Air mata yang diharapkannya tadi jatuh tak tertahan.

Minhyuk mendengus pelan melihat buku-buku tangan Jiyoo yang memutih. Gadis itu sudah berkeliaran di jalanan Paris sejak sore dan sekarang malah duduk di tengah cuaca yang seperti ini. Hal itu membuat Minhyuk tak mengerti. Apa menyenangkan bagi Jiyoo untuk menyiksa dirinya sendiri?

Lelaki itu meraih tangan Jiyoo dan menggosok-gosoknya dengan tangannya sendiri. “Kau tidak boleh kedinginan.”

Jiyoo menatap datar kedua tangannya yang digenggam oleh Minhyuk. “Apa kaulihat bagaimana cara Poo memandang gadis itu?”

“Tidak,” jawab Minhyuk.

“Dia.. pasti sangat merindukan Song Eunhee itu,” gumamnya. “Apa kaudengar suara Poo saat bicara dengan Song Eunhee?”

“Sudah kubilang aku tidak melihat dan mendengar apapun!” Minhyuk menghentikan gerakan menggosok tangannya. Lelaki itu bangkit sambil menawarkan tangannya pada Jiyoo. “Ayo!”

Jiyoo mendongak, menatap uluran tangan Minhyuk. Lelaki di depannya ini tampak tak sabar. Minhyuk menolak memberi jawaban dari semua pertanyaan Jiyoo malam ini. “Bukankah kau yang paling senang jika aku dan dia berakhir seperti ini?”

“Jangan bicara lagi!” seru Minhyuk. Ia tak bisa lagi menunggu, jadi ia menarik tangan Jiyoo secara paksa.

Gadis itu menepis tangan Minhyuk dengan kasar. Minhyuk menatap Jiyoo dengan pandangan bingung. Jiyoo kembali duduk di tempatnya. “Tinggalkan aku.”

Minhyuk semakin dibuat bingung dengan ucapan gadis itu. Ia tak mengerti dimana letak pentingnya menangisi lelaki yang berada bersama dengan mantan kekasihnya. Dan ia lebih tak mengerti kenapa reaksi Jiyoo ini menarik perhatiannya.

Gadis itu hanya diam sampai akhirnya ia berdiri dengan tatapan datar. Jiyoo mulai berjalan dan Minhyuk mengikutinya dari belakang –seperti yang dilakukannya sejak tadi sore.

Jiyoo tahu Minhyuk tetap mengikutinya. Dan gadis itu membiarkannya. Jiyoo menolak untuk berdebat malam ini. Ia sangat lelah –secara mental dan fisik. Seluruh tubuh dan pikirannya sudah remuk tanpa bisa diperbaiki dalam waktu singkat.

Bayang-bayang wajah Eunhyuk terlihat di kepalanya. Lelaki itu begitu serius, begitu menghayati ucapannya untuk Song Eunhee.

Jiyoo mengenal lelaki itu. Ia tahu Eunhyuk bisa mengucapkan jawaban lain dari pertanyaan Song Eunhee. Ia, dengan sangat terluka, tahu Eunhyuk tersesat dalam perasaannya sendiri.

Pandangan Jiyoo teralih pada cincin di tangan kanannya. Cincin itu begitu indah, berpendar dan bersinar meneriakkan nama Eunhyuk. Jiyoo selalu tersenyum melihat cincin itu mengikat dirinya dan Eunhyuk, tapi sekarang, untuk memikirkan ikatan itu saja terasa menyakitkan untuknya.

Jiyoo terus bertanya. Benarkah Eunhyuk terbebani olehnya?

—-

SJ’s Dorm – 8:15 PM

Lee Hyukjae memasuki dormnya dengan langkah gontai. Hari ini adalah hari tersibuknya sejak menetap di Paris. Sebagian besar karena ia kelelahan secara mental. Entah siapa yang mengusulkan Song Eunhee sebagai penanggungjawab majalah lokal itu.

Sejak pertemuannya dengan Song Eunhee, hari-hari Eunhyuk selalu terasa lebih berat. Alih-alih tahu mengapa, ia justru menjadi tak tegas pada dirinya sendiri. Ia lupa pada batasan-batasan yang seharusnya memagarinya.

Sambil menuangkan cokelat panas ke dalam gelas, ia menarik kursi makan. Eunhyuk memijat pelipisnya sendiri. Di saat seperti ini, satu-satunya suara yang dibutuhkannya adalah milik Choi Jiyoo.

Lelaki itu baru akan mengeluarkan ponsel saat Ryeowook duduk di sampingnya. “Sudah bertemu Yoo, Hyung?”

“Yoo? Bicara apa kau ini?” Eunhyuk mengabaikan ucapan lelaki berambut merah gelap itu.

“Dilihat dari penampilannya, kurasa Yoo tidak jadi menemuinya,” sambung Kyuhyun. Lelaki itu berjalan santai ke arah dapur dan mengambil sebungkus besar kripik kentang.

“Yoo? Dia tidak ke sini, kan? Maksudku, ke Paris?!” kali ini Eunhyuk memekik nyaring.

Ryeowook mengerutkan kening. “Kalau kau tidak bersama Jiyoo, kenapa pulangnya selarut ini?”

“Dia ke sini, ke Paris –jangan tanya aku kenapa, bagaimana, dan dengan siapa karena aku tidak tahu. Yang jelas, dia menanyakan lokasi kafe kita dan menyusulmu tadi sore,” jelas Kyuhyun.

Eunhyuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau gadis itu datang ke Paris dan ke dormnya, kenapa ia tak bertemu dengan gadis itu? Eunhyuk kebingungan dan hanya menatap layar ponselnya.

“Jangan bilang kau bersama noona itu tadi sore,” Kyuhyun menyela, jelas sekali ada nada tak suka dalam suaranya.

“Apa menurutmu Jiyoo…”

“Tidak tahu. Mana kutahu soal itu,” Kyuhyun mengangkat bahu.

Eunhyuk berpikir. Semakin berpikir, pikiran buruk semakin menyesaki kepalanya. Bagaimana jika gadis itu melihatnya bersama Eunhee? Bagaimana tanggapan gadis itu jika ia memang melihat Eunhee?

Pikiran-pikiran seperti itu membentuk lingkaran dan terbang dalam kepala Eunhyuk. Semuanya baru berhenti bergerak saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Eunhyuk menjawab dengan hati-hati, “Yoo?”

Ne, ini Choi Jiyoo,” penggunaan nama lengkap Jiyoo itu memberi firasat buruk untuk Eunhyuk.

“Yoo! Kau tidak bilang kalau kau datang ke sini? Sekarang kau ada di mana?” Eunhyuk tak bisa menahan diri untuk tak mengetahui semua hal detail soal gadis itu.

Bukannya menjawab, Jiyoo justru mengajukan permintaan, “Aku.. ingin bertemu denganmu. Besok?”

Eunhyuk terdiam sesaat sebelum mengiyakan. Lelaki itu bahkan menerima pesan soal tempat dan waktu pertemuan mereka. Ia belum sempat benar-benar berpikir kecuali satu hal. Suara Jiyoo yang lesu sangat mengganggunya.

Untuk apa yang telah dilakukannya hari ini, Eunhyuk tiba-tiba merasa bersalah.

—-

The next day..

Choi Jiyoo menunggu di salah satu sudut kafe yang menghadap langsung ke jalan raya. Kedua tangannya menggenggam erat cangkir keramik berisi teh hangat. Cairan itu berhasil menghangatkan kedua tangannya, tapi tidak seluruh sendi tubuhnya.

Jiyoo menunduk ke bawah, memandangi pantulan wajahnya yang tergambar di permukaan teh. Wajahnya tampak berantakan. Kedua matanya bengkak dan kulitnya berubah pucat, seperti mayat hidup. Secara tampak luar, ia kacau.

Jika ia bisa melihat keadaan dalam tubuhnya, ia tak yakin apa yang akan ia lihat.

Secara mental, Jiyoo sudah benar-benar lelah –dan kalah. Seluruh perasaannya seolah berjuang keras untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukannya. Ia, dengan setengah sadar, mengakui bahwa secara mental, ia memang sudah remuk.

Jiyoo menarik napas, yang entah bagaimana terasa jutaan kali lebih sulit. Ia merasakan batu raksasa menindih paru-parunya. Hal itu membuat Jiyoo tak sanggup meloloskan banyak oksigen ke dalam tubuhnya –padahal ia sangat membutuhkan oksigen dalam jumlah besar.

Dengan lirikan kecil, Jiyoo menangkap bayangan Eunhyuk berjalan ke arahnya. Lelaki itu tersenyum dengan senyum kesukaan Jiyoo –setidaknya sampai tadi malam.

Jiyoo mengeratkan genggamannya pada cangkir teh. Melihat senyuman itu justru membuat oksigen di sekitarnya menipis hingga tak ada apapun yang masuk ke dalam paru-parunya.

Jiyoo memaki dalam hati. Bagaimana bisa senyuman itu justru membuat keadaannya semakin sulit?

“Kau mau memberiku kejutan ya?” tanya Eunhyuk begitu sampai di meja Jiyoo. Lelaki itu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan gadisnya. “Kenapa tidak bilang kalau mau berkunjung ke Paris? Apa kau sedang berlibur?”

Jiyoo memaksakan senyuman kecil. Ia begitu ingin menangis meraung-raung dan menuntut perhatian lelaki itu sekarang juga. Jika saja ia tak bisa menahan diri, ia yakin tangisannya akan terdengar ke setiap sudut kafe ini.

Eunhyuk memandangi wajah itu dengan tatapan tak mengerti. Gadis itu tak tampak seperti Choi Jiyoo yang sama –yang dikenal dan dimilikinya. Pikiran buruk merasuki kepalanya. Apa Jiyoo memang melihat sesuatu kemarin?

“Yoo, kudengar kemarin kau menyusulku ke kafe dekat dorm, apa.. benar?” pertanyaan Eunhyuk terdengar hati-hati dan entah bagaimana itu tak membuat Jiyoo lebih baik. Pertanyaan itu begitu defensif, begitu hati-hati, dan begitu menyakitkan bagi Jiyoo.

“Lee Hyukjae,” panggilnya. Eunhyuk menatapnya dan semakin tak mengerti. Panggilan itu bukan panggilan untuknya, pasti. “Apa kau tidak lelah?”

Eunhyuk mengerutkan kening dan lagi-lagi semakin tak mengerti dengan ucapan Jiyoo. “Lelah?”

“Aku sangat lelah,” ujar Jiyoo dengan lengkungan kecil di sudut bibirnya. “Bagaimana kalau kita selesaikan saja semuanya?”

=================TBC=================

Yups~ finally, the broke up scene..😉

Kurang galau disini, padahal maunya bikin yang galau galau galau~ Full galau pokoknya *curhat*

Eniweii, please anticipate Kang Minhyuk and Song Eunhee in the next part. ^-^

PS: sengaja putus di part 7, soalnya 7 adalah… angka yang jadi beda umur Yoo ama Poo. xD Dan akan dilanjutkan di part 8, karena 8 adalah urutan Poo di SJ. :3

59 thoughts on “Purple & You [Tujuh]

  1. kaya gni blm galau???astaga kamarku uda banjir onn,sesak napas!!!!no coment,perfect diskripsimu tentang kegalauan,,,,,,,
    d tunggu next part aja…..T,T

  2. YAAAAAAAA CHOI JIYOOOOOOOO~~~!!!!!
    ;________________;
    Ige mwoya ?! ;A;
    /galau bareng poo/
    Leeeeeeeee hyukjae~ !!! /cekek poo/
    Galau galau galau~

    Hayoooo minhyuk tanggung jawab tuh ;A;
    Bawa2 ank org ke paris, malah putus kan tuh T^T

    • Eummm… ige? This is my lovely break up scene [teaser]
      Kurang galau bangets~ gak dapet feelnyah. ;___;
      kenapa poo dicekek2, kyuhyo-nim?! -___-

      bukankah anda suka dengan scene putus? Saya syuka iniii~~~
      makasihh syuda bacaaa~ ^-^

  3. Shelaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….
    kamu tega bikin aku frustasi..
    kenapa di cut dibagian yg lagi seru???

    Kayaknya benaran jd putus neh..
    Ati-ati ntar Poo kamu jd ma Hae aku lho (?)
    Pasti ntar Yoo lebih sakit hati dr pd Poo ma Eunhee kan klo kayak gitu kkkkk..
    Part 8!!! Part 8!!! Part 8!!! Ga sabar neh!!!

    • Gak tegaaaaa, onn~ Cuma emang kepanjangan, ini chapter paling panjang loooohh. Makanya aku cut. xD
      Heeeeiii! kenapa bawa2 eunhaaaaeeee?? Nanti aku lebih galaaaaaauu~~~
      Part 8……..syuda selesai, tapi nanti aja yaaaahh.. :*
      makasihh syuda bacaaa~ ^-^

  4. kak….aku udah galau kok… Segini aja kakak bilang belom galau ya, berarti yang galau gimana w(‘A’w) sekarang geregetan sama eunhyuk, yaaaaa!!!! Hyukjae-ya! Masa jawab pertanyaan gitu aja gabisa hah? Graahhhhh pisau mana pisau w(TATw) pdhl tadi baru seneng baca kyunara scene mereka balikan dan sekarang…..huweeeeee mau nangis TT-TT kalo putusnya di paris 2 hari ke depan yoo sama siapa? Minhyuk? Andwaeeeee

    • nyehehehe… nda tau, berasa kurang galau ajah~~
      *sodorin piso plastik* Maen masak2annya jangan jauh2 yaaa.. xD
      Eummm… dua hari di paris jadi special broken heart trip. xDD
      makasihh syuda baca yaa~ ;D

  5. serius Break???
    aigoo~
    kasihan Hyukie..
    hahahaha

    ayolah~
    setidaknya dengerin penjelasann nya Hyuk dulu…
    jangan putus donk..
    kan keenakan si Minhyuk itu…
    pa lagi gadis masa lalunya Eunhyuk itu..
    Part 8 nya di tunggu!!
    Hwaiting!!
    ^^v

  6. AAAkkkkhhhh!!! poo! Hyukjae! payah bgt sih dikau!?!!
    si yoo…aduuhh…bingung dah mau komen apa
    si minhyuk emang paling pinter manfaatin situasi ini
    hadeuuuhhh -_-

  7. Holaa.. Holaa….
    Mbook..
    Maaf toh..
    Part yg lalu aku tak komen..
    Alasannya karena aku tak baca..😄
    Alasan tak baca krna aku lgi galau.. Jdi klo aku galau + baca ff yg bikin menggalau..
    Nnt aku jdi galau kuadrat (abaikan)..😄

    Okee..
    Nih part 7 pendek ye..
    Nyahahaha..
    Itu song eunhee.. Siap2 aku culik la..
    Palak kali aku liatnya..
    (¬_¬)
    Jihyuk putus ye??
    Jangan doooonk
    Huaaaa..
    T.T
    Yoo g sayang poo lgi nih????

    Next part jgan lama2 yee..

  8. Authooor part ini udh galau to the max yaaaa jangan di buat tambah galau doong puhleassee. Gak tega ngeliat yoo dan poo putus. Gara gara eunhee siih! -_- kenapa dia muncul?? Kenapa dia buat si poo bimbang?? Ihhh keseeeel bgt -__-
    si minhyuk jugaaaa -_-
    Aku jatuh cinta deh sm quote-quote yg dibikin sm yoo. Keren.
    Author boleh nanya gak, author kuliah jurusan apa?

  9. poo plin plan seh nentuin hati diputus deh ama yoo hehehe…
    dah hepi2 brangkat ke paris malah liat pemandangan yg bikin mata yoo sakit ckckck
    moga part slanjutnya makin galau ahahahaa

  10. waktu tau part 7 muncul, aku pikir…
    apakah di part ini sudah ada scene putusnya jihyuk?
    ternyata bener…meski ada di akhir
    liburan ini jadi liburan air mata dong ^^
    aku penasaran, sebenarnya jonghyun itu setuju nggak sih kalau minhyuk ‘bermain’ kayak gitu?
    wkwkwk😀
    ketawa ngakak waktu baca adegan donghae ma yoo
    sebegitu bencikah yoo dengan eunhae?
    galau…galau…galau…
    dah galau… tapi besok2 buat lebih galau lagi ya ^^
    ntah kenapa akhir2 ini aku sering baca ff galau -_-
    untuk poo ma yoo…
    tegas dong kalian ma masa lalu!
    at last, ditunggu part 8 ^^

  11. oke, pengakuan dosa…

    aku cuma baca endingnya dan memutuskan ga akan baca sampe ff ini tamat dan mereka baikan…

    hahahahahahaha…pembca yang picky banget. Abis sedih banget baca pas terakhirnya…segini aja belum full part buat break up scenenya #sesek napas#

  12. anyeong,,,,
    saia silent readers yg nyoba tobat,,kekeke~
    padahal udah bca semua jihyuk story nya,,

    demi apa,,
    ini part terGALAU..
    selama aku baca FF disini,,
    huuungg~,,
    benci banget ma noona itu..
    aku tau nyuk mang casanova,,
    tapi ini ngena banget..
    hiks…
    part 8 di tunggu yoo~,,,

  13. akhr’y putus jg…
    part 7 msh kurang galau, pst part 8 lbh galau.. hehe

    gak mau komen pjg lebar…
    d’tunggu part 8 aja dch..😀

  14. Wkakaakak sgtunya bnci ma eunhae mam , hahahhah😄 ngakak bgt pas bgian it. Disini ak ngerasa minhyuk it baek bgt — hahahha #ad ap ini? . Sumpah adegan terakhirny bikin nangis (╥_╥) hahahah jihyuk mau dibawa kemana ? #nyanyi galau :p wkkk next part ak tunggu :p

  15. ;____________________;
    harusnya jiyoo ga usah nyusul poo..
    harusnya jiyoo ga usah ngumpet..
    harusnya wokkie dibantai~~~ #eh
    aaah, saia cinta galaauuuuuuuu :3
    ini masa putus sih? saia sebagai fans JiHyuk tidak terima!! kembalikan kesadaran Jiyoo dan Poo!! MERDEKAA!! #loh
    lanjutannya ditunggu <33333

    • harusnya wookie disayang-sayang, onnie~~~ :3
      Tidak bisa! Jalan kemerdekaan kita masih panjang, bung!
      Mari kobarkan semangat galau! WOOOHOOOOO~~~ *saya gila*
      makasihh syuda baca, onnie~ ^-^

  16. kya…shela tobecon bikin nyesek*garuk-garuk tanah*
    huhu…konflik semakin besar…
    Argh…penasaran tingkat dewa.
    Ditunggu next part
    *reader g sabar*

  17. hyuk jahat jahat jahat*gaya aegyo*

    Aduh ini semi galau nih!*sadis*
    Bkin dh yg super galau tp abs itu bkin poo dan yoo pny anak?! Otte? Wkwk
    Ditunggu part 8 nya!

    Dan mihyuk lu ama gw aja yuk? Kita nikah? Kamu unyu dh wkwk

  18. Huwaaaaaa….. Poo babo chorom….. Baka!!!! *kick* ==’
    yg salah bkn eunhee / minhyuk, tp pooyoo yg gak tegas…. *jitak shela* *kabur* xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s