P.S: Help Me!

***

Autumn 2009

Sejak dulu, aku punya pertanyaan yang tak pernah bisa kujawab. Sederhana. Tentang bagaimana kesempurnaan hidup yang bisa kudapatkan bersamamu.

Sehebat apa dirimu, hingga menjadi pelengkap hariku?

Aku mencintaimu.. terlalu mencintaimu. Tak pernah bosan kubisikkan kalimat itu ke telingamu. Bahkan saat kau tertidur di sampingku, kurasa aku bisa mengucapkannya puluhan, tidak, ratusan kali lagi hanya untukmu.

“Jangan memandangiku terus,” aku melihat bibirmu bergerak tapi kedua matamu tetap terpejam. “Apa aku setampan itu?”

Walaupun tersenyum, aku mendengus, “Bangun, Cho Kyuhyun. Kau tidak berencana tidur seharian, kan?”

Cho Kyuhyun membuka matanya dengan malas sebelum menarikku untuk berbaring di sampingnya. Lelaki itu begitu tampan bahkan saat baru terjaga. “Aku hanya berencana tidur bersama tunanganku.”

“Tch~ setan mesum!” aku menyentil keningnya pelan.

Ia tertawa, tak berusaha membalas perbuatanku. Aku memandanginya lekat-lekat. Dengan perlahan, kususuri garis wajahnya yang tegas. Ia mempesona dan memabukkan.

“Kau beruntung, kan? Memilikiku sebagai tunanganmu?” ujarnya tenang.

Aku menggeleng dengan yakin. Ia mendengus dengan senyuman miring khas dirinya. Ia tahu jawabannya, jadi aku heran kenapa ia masih harus bertanya.

Aku merasa mendapatkan lelaki ini adalah keberuntungan yang berbahaya.

Segala keberuntungan kadang tak bertahan lama. Akan ada saatnya keberuntungan tak berpihak padamu. Karena itu, aku terbiasa tak bergantung pada keberuntungan. Jadi walaupun keberuntungan tak menghampiriku, tak akan berpengaruh besar padaku.

Tapi, Cho Kyuhyun adalah satu-satunya keberuntungan yang membuatku bergantung. Dan aku, dengan sangat egois, tak akan mau melepas keberuntungan berwujud Cho Kyuhyun ini.

Aku bukan tipe wanita yang bergantung pada hal-hal seperti itu. Memiliki Cho Kyuhyun sebagai keberuntungan bisa juga berarti menjadikannya kelemahan terbesarku.

“Kau melihatku seperti itu lagi,” keluhnya. Aku mengedipkan mata dan memandangnya sambil tersenyum. “Kau ingat apa yang harus kita lakukan besok?”

“Mencari cincin,” sahutku. Rencana pernikahan yang semakin dekat membuatku bahagia.. dan takut. “Apa kau ikut? Besok?”

Kyuhyun mengerutkan kening. Aku bertanya-tanya apa pertanyaan tadi adalah pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. “Gadis bodoh. Menurutmu aku akan membiarkanmu memilih cincin yang jelek?”

Ya~! Pilihanku selalu yang terbaik! Kau tidak lihat siapa yang kupilih sebagai tunangan?” aku merengut, membuatnya puas karena memang itulah yang disukai Cho Kyuhyun dariku.

Ia tertawa lagi. Aku ikut tertawa. Tawa dan senyumannya adalah hal yang selalu bisa membuatku mabuk –selain soju. Ia mungkin tak akan pernah tahu betapa besar pengaruh tawanya untukku.

Aku menoleh ke samping, memandanginya yang sudah kembali menutup mata. Kurasa Cho Kyuhyun memang tak akan bergerak ke mana pun hari ini.

Ia menegurku, “Sudah kubilang jangan memandangiku begitu.”

Senyum kecilku terkembang begitu saja. Berada di sampingnya membuat segalanya terasa lebih mudah. Mencintainya pun juga tak sulit.

Semudah tersenyum saat menyambutnya, dengan mudah juga aku mencintainya.

Ia menarik tubuhku mendekat, mendekapku, menenggelamkanku di lekukan bahunya. Aku bisa mencium aroma tubuhnya; aroma memabukkan yang selalu menjadi pengantar tidurku. Aku mendengar tarikan napasnya yang teratur. Ia kembali tidur.

Ia, Cho Kyuhyun, mungkin tak akan pernah tahu betapa besar pengaruh kehadirannya untukku.

—–

Aku memandangnya lagi saat ini. Ia sedang mengamati deretan cincin yang tersusun di dalam sebuah kotak kaca. Memandang Cho Kyuhyun yang sedang serius selalu berhasil membuatku tersenyum geli.

Pertanyaan baru muncul dalam kepalaku. Apa aku pernah tak menyukai apapun darinya?

Entahlah, aku tak tahu. Aku mendengar helaan napas beratku sendiri. Sepertinya aku, dengan polosnya, sudah memilihnya sebagai alasanku untuk hidup. Kurasa jika ia tahu soal ini, ia akan terus mengolok-olok dan menggodaku.

Ia menoleh ke arahku, alisnya terangkat sebelah. Mungkin ia bingung kenapa aku hanya berdiri dan memandangnya tanpa berusaha melakukan tugasku –tugas kami. “Ada yang kausuka?”

Aku mengangkat bahu. “Ada yang kausuka?”

“Aku bertanya lebih dulu, gadis kecil,” Kyuhyun menarik napas frustasi. Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Kyuhyun yang frustasi adalah bukti bahwa ia bukan hanya sekedar mimpi indahku. Ia nyata. “Jangan tersenyum!”

“Aaah~ apapun yang kaupilih akan tetap kupakai,” senyuman lebarku tak membuat wajah frustasinya memudar.

Kyuhyun menutup mata dan menggerak-gerakkan jemarinya di atas kotak kaca. Sambil bernyanyi asal-asalan, ia menunjuk sebuah cincin. “Jaaa~ yang ini!”

Mwoya~?! Bagaimana bisa kau memilih cincin dengan sembarangan seperti itu? Di mana letak meaning dari cincinnya?” aku mengeluh. Kyuhyun mengangkat bahu tak peduli dan menarik tanganku agar aku bisa melihat cincin sembarang pilihnya. Aku menolak untuk sekedar melirik.

Ia meminta pegawai di sana untuk mengambilkan cincinnya. “Lihat!”

“Tidak mau!” aku bersikeras tak mau melihat cincin yang dipilihnya dengan asal.

“Aissshh.. lihat dulu,” Kyuhyun menyodorkan sepasang cincin ke depan mataku. Aku, mau tak mau, menurut. Mataku membulat saat melihat kedua cincin itu.

Sepasang cincin emas putih dengan desain sederhana. Jalinan rantai dengan sebuah berlian mungil menghiasi pusatnya. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut. Ukiran dengan namaku dan Kyuhyun terlihat di bagian dalam cincinnya. Namaku untuk cincin Kyuhyun dan nama Kyuhyun untuk cincinku. Bagaimana bisa?

“C-cho Kyuhyun, ini..?” aku mendongak dan menemukannya sedang tersenyum puas. “Kau sudah menyiapkannya?”

Kyuhyun mengangguk. “Tentu saja! Aku penuh dengan persiapan, berbeda dengan seseorang yang hanya bisa memandangiku sambil tersenyum seperti orang gila.”

“Menyindirku?” mataku menyipit ke arahnya.

“Sudahlah, lupakan saja,” ia mengabaikan ucapanku. Aku tersenyum kecil melihatnya sangat bersemangat. “Sini, kupakaikan.”

Lagi-lagi aku memandanginya. Kyuhyun menyelipkan cincin yang lebih kecil ke jari manisku. Ia tersenyum bangga. Ia mendongak, mengendikkan kepala untuk menyuruhku menunduk.

Aku terperangah. Jemariku yang tadinya kosong tanpa hiasan apapun kini dihiasi sebuah cincin. Cincin indah dengan ukiran namanya. Cho Kyuhyun.

—–

Hari itu adalah hari terakhir aku melihat senyumannya. Seolah dibangunkan dari mimpi, aku melihat kenyataan yang menyebalkan. Kenyataan bahwa aku akan kehilangan segala keberuntunganku.

Aku duduk di samping ranjangnya. Ia tertidur, begitu lelap dan tenang. Aku bertanya-tanya apa yang tengah dimimpikan Cho Kyuhyunku ini hingga ia menolak untuk bangun?

“Kecelakaan itu begitu cepat, Kyuhyun-i sedang dalam perjalanan menuju ke kantornya saat mobil perampok bank itu menyambar mobilnya,” samar-samar terngiang lagi penjelasan salah satu pegawai Kyuhyun.

Aku memejamkan mata, menolak membayangkan seperti apa kecelakaan yang dialaminya.

“Dia koma, tapi kita tetap bisa berharap dia akan bangun suatu saat nanti,” ucapan lelaki berjas putih, seseorang yang disebut dokter, membahana di telingaku.

Tanganku terkepal kuat. Aku berharap dokter itu salah. Aku berharap Cho Kyuhyun akan bangun saat ini juga.

“Pernikahannya hanya tinggal seminggu lagi, kenapa dia harus mengalami ini?” raungan calon Ibu mertuaku juga terdengar lagi.

Cincin yang kukenakan berdenyut samar. Walaupun belum resmi menikah, aku dan Kyuhyun memutuskan untuk mengenakan cincinnya lebih dulu. Apa itu dosa?

Dosa yang harus ditebus dengan tertidurnya Cho Kyuhyun?

Aku memandanginya lagi. Wajahnya, rambutnya, hidungnya.. aku merindukannya. Hidup sempurnaku bersama Cho Kyuhyun seolah terbalik. Aku merasa dadaku sesak. Aku berusaha tetap bernapas, menarik oksigen masuk ke dalam paru-paruku.

Tapi bagaimana bisa bernapas menjadi sangat menyakitkan saat ini?

“Aku memandangimu lagi, apa kau tidak mau menegurku?” bisikku lemah. Aku menggenggam tangannya. Cincin itu masih di tempatnya, cincin dengan ukiran namaku. “Aku merindukanmu, kau tahu?”

Kyuhyun tak menjawabku. Tentu saja! Ia sedang tidur dan bermimpi indah, mana mungkin ia akan mendengarkan ocehanku?

Tapi, tidak bisakah ia menjawabku satu kali saja? Aku benar-benar membutuhkannya.

Aku terus memandanginya. Selain memar dan perban yang melilit di kepalanya, aku masih bisa melihat wajah tampannya. Cho Kyuhyunku begitu tampan.

 Tapi, Cho Kyuhyun, tidakkah kaupikir kau akan terlihat lebih tampan jika kau tersenyum dan tertawa?

Suara rintik hujan dengan ritme yang pelan membuatku melihat ke arah jendela. Aku tersenyum lemah. Kaca jendela mulai basah oleh air langit yang turun kecil-kecil.

 “Ya! Sekarang sedang hujan, apa kau mau melihatnya?” tak ada jawaban. Aku menelan ludah dan masih berusaha tersenyum. “Kau tidak mendengarku? Kubilang, apa kau mau melihat hujan bersamaku? Cho Kyuhyun! Jawab aku!”

Aku meninggalkan kursiku dan berjalan ke arah jendela. Tak peduli kamar rumah sakit yang basah, aku membuka jendelanya. Suara rintik hujan yang nyaring akan menyamarkannya; isakan tangisku yang tak tertahan.

Dengan kedua tanganku, kubekap mulutku sendiri. Aku sengaja menjauh dari ranjang Kyuhyun. Ia tak akan suka melihatku menangis.

Suaraku terbata dan serak. Aku mengucapkan pernyataanku untuknya. “Aku merindukanmu, Cho Kyuhyun..”

—–

Winter – 2010 

Lagi-lagi aku memandanginya. Wajahnya tampak lebih bersih karena memar yang menghilang perlahan. Dengan wajahnya yang semakin tampan ini, aku semakin heran kenapa ia menolak untuk bangun. Apa mimpinya seindah itu?

“Lebih baik Eonni pulang dulu,” tegur adik perempuanku. Ia selalu menemaniku untuk menemui Kyuhyun. Aku selalu bilang aku menemuinya, bukan menjenguknya. Karena Cho Kyuhyun tidak sakit, lelaki itu hanya sedang bermalas-malasan saat ini.

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak apa-apa. Kau pergi kerja saja.”

Arasseo,” ujarnya. Ia menyelempangkan tas kain ke samping tubuhnya dan sempat berbalik. “Eonni, sudah tiga bulan lebih..”

Sebuah anggukan menjadi tanggapanku untuknya. Aku tahu sudah berapa lama semua ini. Aku tak perlu diingatkan sudah berapa lama sejak kecelakaan itu. Aku tak ingin tahu.

“Kau dengar? Kau sudah tidur terlalu lama, bodoh,” aku membelai rambut cokelat terangnya.

Kyuhyun tetap diam. Hanya dadanya yang naik turun yang membuatku tahu ia mendengarkanku. Aku tak lagi sering menangis seperti dulu dan sepertinya Kyuhyun juga tahu itu. Entah bagaimana, kadang aku merasa ia meresponku.

Entah bagaimana, aku tahu ia akan segera bangun.

—–

Spring – 2010

Aku baru saja akan keluar dari toilet saat aku mendengar kalimat terkutuk itu. Sambil menahan emosiku, aku memasang kedua telingaku baik-baik. Aku akan berbaik hati dengan hanya mendengarkan pembicaraan mereka.

“Kurasa tidak ada harapan lagi untuknya,” suara serak yang berat itu milik dokter. Aku selalu tahu dokter itu tak pernah memberikan pikiran positif bagi keluarga Kyuhyun. “Jika boleh kukatakan, dia ini hidup hanya karena bantuan alat-alat yang mengelilingi tubuhnya.”

 Tak ada jawaban. Aku yakin kedua orang tua Kyuhyun sedang menimbang-nimbang untuk meninju dokter sok tahu itu.

“Seluruh organnya masih baik, mungkin ada beberapa organ yang bisa ditransplantasikan untuk orang yang membutuhkan. Jujur saja, aku tak bisa memberi jaminan tentang kapan dia akan bangun, jadi–“

“Kami tidak butuh jaminan Anda!” aku tak tahan lagi. Sejauh yang bisa kutangkap, dokter itu akan memaksa Kyuhyun… Ah!

“Maaf, Nona, aku mengerti perasaanmu, tapi–“

“Anda tidak mengerti! Kalau pun Anda mengerti, apa Anda pikir kami akan menyerah? Siapa Anda, berani sekali menyuruh kami menyerah dan meninggalkan Kyuhyun begitu saja?!” aku merasakan lelehan air mata menuruni pipiku. Kedua orang tua Kyuhyun memandangiku, dengan mata yang basah juga. “Kami tidak akan meninggalkannya!” seruku.

Aku tidak akan meninggalkannya. Tak peduli berapa musim lagi yang harus kulalui dengan Kyuhyun yang masih tertidur, aku tidak akan ke mana pun. Aku tidak ingin ke mana pun.

“Kami tidak akan melakukan apapun, Dokter,” aku menatap wajah Ayahnya. Walaupun guratan usia menghiasi wajahnya, aku begitu yakin Kyuhyun mendapat banyak gen dari lelaki paruh baya ini.

Membayangkannya saja membuatku semakin merindukan Kyuhyun..

Dokter itu mengangguk pasrah dan meninggalkan kamar ini. Aku langsung diserang oleh suara isakan Ibunya. Serangan itu membuat jantungku berlubang. Dadaku terasa perih. Aku pamit untuk keluar kamar.

Begitu menutup pintu kamar Kyuhyun pun, ternyata aku tak bisa ke mana-mana. Aku jatuh terduduk di lantai, bersandar pada tembok. Kakiku mendadak lemas, tak mampu menopang tubuhku sendiri.

Aku menangis tanpa suara, begitu tenang hingga aku sendiri heran kenapa aku bisa melakukannya. Berbeda dengan tangisan histerisku sebelumnya, aku menangis dengan luka baru yang menganga lebar. Begitu perih… dan menyiksa.

Tanpa kesadaran penuh, aku membiarkan air mataku meluncur deras.

“Cho Kyuhyun, aku akan melakukan apapun agar kau mau bangun! Apapun!” pandanganku kosong, terarah ke lantai. “Termasuk jika aku harus meninggalkanmu nanti..”

—–

Summer – 2010

Aku memandanginya dengan mata melebar. Ia duduk di atas ranjang putih. Wajahnya begitu lemah, tapi tetap saja begitu tampan. Aku harus mengepalkan kedua tangan untuk menahan diri agar tak berlari memeluknya.

Kyuhyun bangun. Ia terbangun saat mendengar Ayah dan Ibunya memanggilnya. Aku sendiri sedang berada di kantin rumah sakit saat Ibunya meneleponku. Dengan cepat, aku berlari ke kamarnya dan menemukannya dengan mata terbuka.

Aku begitu bahagia sampai bersedia mati saat itu juga. Aku selalu memandanginya dengan kedua mata yang terpejam, tapi sekarang ia membuka matanya. Ia melihat sekeliling dan matanya berhenti di mataku.

Bibirku otomatis tersenyum. Aku hendak melangkahkan kaki menuju ke arahnya saat bibirnya terbuka. “Siapa dia?”

Jutaan petir menyambarku, menyerangku tanpa henti. Aku berjalan satu langkah. “C-cho Kyuhyun, kau bercanda ya?”

“Maaf, apa aku mengenalmu? Eomma, apa dia temanku?” pandangannya terlihat bingung. Tatapan itu menghujam jantungku. Setelah banyak hal yang melukai jantungku, aku heran kenapa jantungku masih ada.

Aku membeku di tempatku berdiri. Kakiku seolah menempel dan tak bisa digerakkan. Aku hanya mengikuti gerakan seorang dokter yang memeriksa Kyuhyun.

“Setelah tertidur lama, saya rasa benturan di kepalanya juga menyebabkan lost memory,” jelasnya. “Saya tidak tahu memori mana yang hilang dan tidak, tapi berharaplah keadaan ini hanya sementara.”

Apa?!

Jadi ada kemungkinan semua ini permanen? Aku menatap dokter itu lekat-lekat, berharap ia akan mengucapkan hal lain yang bisa membuatku lebih baik.

Dokter itu tak mengucapkan apa-apa lagi. Ia memang bukan dokter yang sama dengan dokter jahat yang mengusulkan hal gila pada musim semi kemarin, tapi kedua dokter itu tampaknya membenciku.

Ibu Kyuhyun mendekatiku, mengusap-usap lenganku. Sepertinya Beliau berharap aku akan merasa lebih baik dengan itu. Ingin rasanya kuberitahukan bahwa aku bahkan tidak sedang baik-baik saja. Aku… sama sekali tidak baik-baik saja.

“Permisi,” aku menarik diri dari Ibunya. Dengan berat hati, aku berusaha untuk tak berbalik dan memandang Kyuhyun. Aku akan menghindari luka lain dengan tidak melihat tatapan asing darinya.

Ia memandangku seakan aku adalah orang asing. Ia memandangku seolah aku bukan tunangannya. Ia memandangku seolah-olah aku bukan siapa-siapa.

Itu menyebalkan, jelas. Aku menunggu selama ini bukan untuk dilupakan. Aku sudah melawan semua orang bukan untuk melihatnya memandangku dengan tatapan seperti itu. Aku menunggunya bangun untuk memeluknya, merasakan hangat tubuhnya.

Aku tertawa hambar. Banyak yang harus kutertawakan. Nasib, hidup, dan semua ini sangat lucu. Semuanya seolah sedang mempermainkanku. Aku… muak.

—–

Aku memandanginya lagi hari ini. Hanya saja, aku melakukannya dari kejauhan. Dengan dinaungi pohon besar yang menghalangi sinar matahari, aku melihatnya duduk di kursi roda. Dari jarak jauh pun, aku begitu memuji ketampanannya. Wajah tampan lelakiku.

Ibu Kyuhyun bilang Beliau tak menceritakan apapun tentang aku padanya. Kyuhyun mungkin hanya akan kebingungan. Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya pelan-pelan.

Aku akan membuatnya mengingatku.. pelan-pelan.

Tapi jika kau tak juga mengingatku, mungkin akulah yang harus melupakanmu.

Aku menggelengkan kepala, menolak pikiran itu. Sudah sejauh ini, dan semuanya akan sia-sia jika aku menyerah. Menunggu Kyuhyun bangun selama tiga musim tak akan ada artinya jika aku menyerah.

Kyuhyun mendaratkan pandangannya tepat ke arahku. Aku terkesiap, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Jantungku remuk saat menerima tatapan seperti itu lagi darinya. Ia memandangku dengan tatapan bingung.

Eonni, ayo pulang,” adik perempuanku menarik tanganku, memaksaku menjauh dari Kyuhyun.

Tak banyak yang bisa kulakukan di kamarku sendiri. Aku memandangi sekeliling, merasa asing dengan kamar itu. Senyum lemah terukir di bibirku. Aku terlalu lama meninggalkan kamar ini dan selalu berada di apartemen Kyuhyun.

Tiba-tiba saja aku merindukan kamar itu. Aku meraih tas tangan dan kunci mobil di atas meja. Dengan mengabaikan seruan adikku, aku meninggalkan rumah –lagi.

Dalam hitungan menit, aku sampai di depan pintu apartemen itu. Aku merasakan debaran jantungku yang tak beraturan. Entah apa yang kuharapkan dengan datang ke tempat ini. Jika bisa mengucapkan permohonan, aku ingin mengucapkan satu.

Seandainya saja semua ini hanya mimpi.

Jika semuanya hanya mimpi, aku akan menemukan Kyuhyun di dalam sana. Ia akan duduk di depan televisi, sama sekali tak menyadari kedatanganku. Lalu kami akan berada di dapur yang sama, memasak sembarangan dan akhirnya akan memesan layanan antar.

Aku menekan beberapa angka sebagai kode apartemen ini. Tanggal ulang tahun ibuku dipilih sebagai kuncinya. Aku mendengus. Ia begitu konyol dalam memutuskan hal-hal semacam itu.

Bunyi Klik terdengar sesaat sebelum aku membuka pintunya. Tak ada yang berubah dari ruang tamu apartemen ini. Semuanya tetap tertata rapi, sama seperti terakhir kali Kyuhyun meninggalkannya. Sebelum ia mengendarai mobil terkutuk itu.

Bukan, sebelum mobil perampok bodoh itu menabrak mobilnya.

Apartemen ini adalah hasil kerja kerasnya. Ia membelinya tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Konyolnya, ia mengatasnamakan apartemen ini dengan namaku.

Aku memandang sekeliling. Seketika itu pula rentetan kenangan menyerangku. Napasku tertahan saat kenangan-kenangan itu membutakan penglihatanku.

Sebuah balkon yang dibatasi oleh pintu kaca besar adalah tempat kami merayakan ulang tahunnya. Kyuhyun menciumku. Di bawah jutaan bintang, ia menyentuhkan bibirnya ke bibirku.

Dapur di pojok ruangan adalah tempat kami mengacaukan segala resep koki terkenal. Kyuhyun akan terus-menerus menggangguku saat ia bosan dengan tugas memasaknya. Ia tak akan berhenti sampai aku meletakkan alat yang kupegang.

Aku membuka pintu kamar. Seprainya putih dengan corak bunga emas di sekelilingnya. Tempat favoritku. Kyuhyun selalu memelukku hingga aku tertidur.

 Kusapukan tanganku di atas permukaan seprai itu. Lembut, selembut kulitnya yang sering kusentuh.

Mataku tertuju pada mantel hitam yang tergantung di balik pintu. Mantel itu pemberianku saat musim dingin tahun lalu. Aku meraihnya, mendekapnya erat-erat, menghirup aroma Kyuhyun yang masih tertinggal di sana.

Dengan terduduk di atas ranjang, aku mengenakan mantel itu. Aroma tubuhnya begitu kuat. Aku memeluk tubuhku sendiri, membayangkan Kyuhyun sedang memelukku.

“Aku harus bagaimana, Cho Kyuhyun?” bisikku. Aku merasakan dengan jelas luka lain yang terbuka dan mengucurkan darah. “Jika kau melupakanku, aku harus bagaimana?”

—–

Autumn – 2011

Aku masih memandanginya. Dengan kedua mataku, aku memandangnya yang sedang menunduk sedih. Wajah tampannya tak terlihat tampan lagi jika ia sedang sedih begitu. Apa yang terjadi, Cho Kyuhyun?

Ini sudah hampir dua tahun sejak kejadian itu. Sekitar satu tahun kurang sejak aku meninggalkanmu. Dan hampir lima tahun sejak kau memintaku menjadi pengantinmu. Tidakkah kaupikir waktu berjalan terlalu cepat?

Ibumu memelukmu. Aku tersenyum. Cintanya memang tak pernah berubah. Aku bertanya-tanya apa hubungan kita juga bisa seperti itu? Tak berubah walaupun waktu tetap berjalan seperti biasanya.

Ah, adik perempuanku juga di sana. Ia duduk di sofa biru muda yang dulu kita beli bersama. Wajahnya tak dapat kubaca. Ia juga menggigit bibir. Apa yang sudah kaulakukan pada adikku, Cho Kyuhyun?

Eonni bilang suratnya harus diberikan kalau Kyuhyun-ssi sudah mengingatnya,” bibir adikku bergetar. “Akhirnya, aku bisa menemuimu secara langsung, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun meletakkan kertas, yang tanpa kusadar, sejak tadi dipegangnya. “Aku… mengingatnya. Karena itu aku mendatangi rumah kalian kemarin. Aku… kenapa aku butuh waktu lama untuk mengingatnya?!”

“Tidak apa-apa, Kyuhyun-ssi. Eonni… aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, tapi ia tak pernah mengeluh walaupun kau sama sekali tidak mengingatnya,” aku mengangguk sambil tersenyum samar. Aku tak pernah menyalahkanmu, Cho Kyuhyun.

“Di mana… dia?” kau bertanya! Akhirnya kau bertanya!

“Kurasa kau sudah tahu soal kecelakaan setahun yang lalu, bukan? Eonni meninggal setelah dua hari mengalami koma. Dia menitipkan surat itu untukmu,” bukan itu yang ingin didengarnya, adikku sayang.

“Kubilang, di mana dia?!” aku melihat Kyuhyun mengamuk.

“Dia dimakamkan di sebuah bukit, tempat Anda melamarnya lima tahun yang lalu,” adikku tampak ketakutan. Tidak apa-apa, Kyuhyun tidak seseram itu.

Aku melihat Kyuhyun bangkit dari sofa sambil menggenggam selembar kertas yang kukenal. Aku mengikutinya masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu dan terduduk di lantai. Wajahnya pucat, seolah darahnya terserap habis.

“Kau kenapa?” tanyaku. Kyuhyun bergeming. “Kau terkejut karena orang yang kaucari sudah pergi lebih dulu ya?”

Sama seperti kecelakaan yang menimpamu, kecelakaanku juga terjadi begitu cepat. Aku baru saja akan meninggalkan apartemen ini setelah menuliskan surat itu untukmu. Belum sempat kutitipkan pada Ibumu, mobilku hilang kendali dan berguling beberapa kali saat menabrak pembatas jalan.

Akhirnya, aku berakhir di rumah sakit yang sama denganmu.

Aku juga tahu bagaimana rasanya koma. Benar-benar seperti tidur. Begitu lelap hingga aku selalu menolak untuk bangun lagi.

Tapi aku bangun. Bahkan jaaaaaauh lebih cepat darimu. Aku bangga untuk yang satu itu.

Aku menitipkan surat itu pada adik perempuanku –gadis berponi yang kau temui di ruang tamu. Karena aku tahu aku tak akan bisa memberikannya sendiri padamu, aku berpesan banyak padanya. Salah satunya adalah agar aku bisa tidur di tempatmu melamarku dulu.

Bukit itu sangat indah, kau tahu? Tapi kau selalu tak mengakuinya. Menghadap ke timur, tempat matahari terbit. Jika musim dingin pun, salju tak banyak turun di sana.

Tempat sempurna untuk tempat tidurku.

Ah! Lalu pesanku yang lain adalah agar adikku memberikan surat itu jika kau sudah mengingatku. Ini hukuman untukmu. Siapa suruh melupakanku begitu saja?

Syukurlah.. kau mengingatku lagi. Kupikir surat itu akan berakhir di bawah tumpukan barang adikku.

Tanganku terangkat ke udara. Aku berusaha membelai wajahnya. Entah apa perasaan yang sedang menyelimutiku saat ini, tapi aku sangat bahagia.

“Cho Kyuhyun,” aku memanggil namanya. Ia mendongak dan menatap udara kosong di hadapannya. Aku memeluknya, berbisik dekat di telinganya. “Terima kasih sudah mengingatku..”

 ============================

Cho Kyuhyun yang bodoh..

Sebenarnya sekecil apa otakmu sampai bisa melupakanku, hm? Apa aku bahkan tidak punya ciri khas yang bisa membuatmu terus mengingatku?! Ya~! Aku punya suara cempreng yang tidak mudah dilupakan orang, kau tahu?!

Tapi.. tidak apa-apa. Melihatmu bangun, membuka mata, tersenyum, dan tertawa sudah cukup mengurangi kekesalanku padamu. ^-^

Ada banyak yang mau kukatakan padamu. Bagaimana memulainya ya?

Kau harus tahu bagaimana perasaanku saat pertama kali kau menggenggam tanganku. Aku begitu senang. Sampai sekarang pun, aku bersyukur aku tidak terbang ke langit saat itu. Kkk~

Lalu.. saat kau menciumku di balkon. Saat kau memelukku setiap malam. Saat kau tersenyum miring setiap kali berhasil membuatku kesal. Saat kau selalu menegurku yang selalu memandangimu. Saat… aku tahu aku tidak akan bisa melakukan apapun tanpamu.

Untuk semua saat-saat itu, terima kasih.

Dan maaf karena aku selalu memandangimu sambil tersenyum seperti orang gila. :p

Begitu aku tahu kau melupakanku, aku sangat… sedih. Air mataku tidak bisa berhenti mengalir padahal aku sudah mati-matian menghentikannya. Aku membayangkan dirimu yang tak bisa mengingatku selamanya. Aku sangat takut, kau tahu?!

Tapi tidak apa-apa. Aku akan berusaha agar kau mengenalku sekali lagi! Jadi bersiaplah!

Ah, satu lagi. Aku tidak pernah memenuhi permintaanmu yang satu ini, aku tidak pernah mengatakannya secara langsung karena aku benci melihatmu menyeringai licik saat kau terhibur dengan kedua pipiku yang merah. Biasanya aku tidak mengatakan ini, tapi… aku mencintaimu.

Cho Kyuhyun’s
*karena aku memang milikmu, kan? Kkk~*

P.S: help me to make you remember me.. If you can’t, help me to introduce myself once again.. Help me to always be your life part..

=========FIN========

Couldn’t think too much when I imagined this story. Galau is in the air~

One thing that Kyuhyun must be proud of is: Jjan! I did really prepare this story for him. xD Why? Because… dunno, maybe I have to do some PDKT (?) before work wif him in the next story. :3

69 thoughts on “P.S: Help Me!

  1. semalem ketiduran, ga smpet ngecek ;A;

    ………………………………….
    Galau galau galau galau galau galau galau galau galau galau galau galau galau galau
    iya bener, galau yg gini ;A;
    T^T
    Mau komen apa lagi ya ? Galaunya udah pas deh ;A;
    /ambil tissue/
    Di awal udah senyum2 baca gmana mereka bahagia, trus makin ke bawah…. ;A;
    T^T

    @teteh :
    =_= bayangin hyo yg mati trus jdi setan disekeliling kyu, yak.😄

    • Galau yg gini…? –”
      galau yg seperti apa ya? yang mati terus jadi setan gitu? xD
      Nah inilah yg yoo bilang kacau. Maksa banget pokoknya~~~ .____.
      tapi berhubung kata mom ini syuda galau, yaaa~ Okeh. xD
      makasihh syuda baca momma~ ;D

  2. *hening*
    tau gak, aku bacanya sore hari hening, pokoknya settingnya bisa -menurutku- ngepas buat baca ini -_-
    habis ujian praktek agama, baca ini malah tambah galau
    galaunya dapat banget!
    kamu kalo nulis cerita tragis…ujung2nya pasti mati!
    tapi itu ada typo tulisan tahunnya ya…
    abis autumn 2009 kok tiba2 winter 2010 terus kembali ke spring 2009
    terus…disitu nggak disebutin nama yeoja nya ya?
    tapi…seperti biasa…tulisanmu bagus banget! ^^
    aku ngakak waktu baca note bawah, waktu kamu bilang kamu nulis ini buat pdkt ke kyu😀

    • nyehehehe… baiklah, akan saya jelaskan.
      1. kenapa mesti tragis, karna definisi cerita galau untuk saya adalah dipisahkan oleh maut. xD
      2. karna alasan no.1-lah nama yeojanya gak disebut. Siapa yang mau maen di ff cuma buat dibunuh? xDD
      3. gak ada salah ketik kok. ^-^ Winter itu biasanya akhir taun sampe taun baru kan? makanya disitu abis autumn 2009 pindah ke winter 2010. Gak ada salah spring juga, kan spring 2010.😉
      4. KAMSAHAMNIDA~~~ ^o^

  3. huft,
    aku ga kebayang kalo akhirnya kaya gitu
    menunggu lama, tapi hasilnya, hah bikin gimana gitu
    ngebayangin aku jadi dia, dah ga kuat
    mempertahankan seseorang yang berarti emang susah
    apalagi yg sakit bahkan yg masih sehat aja susah
    keberuntungan adalah suatu keajaiban karena susah tuh ngedapetinnya
    hehehe….
    oh, ya, aku belum ngenalin diri,
    dina, 94

  4. aishhhhhhhhhh…..sedihnyooooooooooo
    sebegitu tidak berjodohnyakah mereka???
    awal2 baca aku sempet komen *sweet bgt neh pasangan*
    pas baca ampe ending aku cuma bisa ngasi komen *tragis bgt neh pasangan* hehehehe…..

  5. keren ffna,
    baca ni ff sambil dengerin lagu mellow+Sedih.
    hwaaaa ga berenti ni mata basah mulu.
    bisa di sebut Penantian yg percumakah???
    bener” keren dagh.

    • Penantian yg percuma? yah… gak ada yang percuma di dunia ini.
      tergantung dari sudut pandang mana kita ngeliatnya.😉
      kalo dari cerita ini, seenggaknya yg cewe gak pernah nyerah, itu penting buat hidup. xD
      Makasihh syuda baca yaa~ ;D

  6. ini. dalem. banget.
    ak mbaca sambil berkaca”
    dan kacanya pecah *oke stop g nyambung*
    onni daebak~
    apalagi pov nya first person dan cewe nya gada nama.
    feel kalo saya tunangan kyuhyun dapet
    sekalian feel meninggalnya jg dapet ┒(—˛—)┎

  7. skian lama ga mampir k rumah yoo tnyata bkin kangen jg iah..
    so sweet bgt..
    ini salah 1 ff yg bsa bkin aku menetaskan air mata.. (#^.^#)
    tapi aku suka critanya..
    wkt bca ff ini aku jd kbyang hyori wkwkwk

  8. hhhaaaaah *hela nafas sebanyak”nya* nyesek beneran se-nyesek-nyeseknya #plak
    kyuhyun kasian… udah kecelakaan, hilang ingatan eh begitu sadar malah ditinggal mati calon istri…
    yang sabar ya bang ._.

  9. DAEBAK!! sediiih TT.TT aku yang lagi galau, baca ini jd tambah galau
    huaaaa kasian cewe itu itu ditinggal lama, trus dilupain😥
    kyu juga kasiaaaan… sini-sini aku peluk hehehe :p

    *salah username, yg sebelumnya itu username adek aku -___-*

  10. seeeeeeedddddddddiiihhh!😥
    i read this a couple days ago from mobile.
    this is so great that i feel so guilty if i didnt give some comments here.
    kyuhyun babo! kenapa ngingetnya kelamaan T^T
    tragis banget banget.
    kalo galau itu emang enak banget didukung sambil baca ff yang kaya gini yaaa T_T
    good job sheila!

    • Nyahahaha~ pinjem kyu yahh..
      ini cuma awal pdkt aja, pingin nyari karakter kyu yang enak itu apa. Susyaaaaahh~~~
      Hidup galau! aku juga gampang galau sekarang~ ;A;
      Makasihh syuda baca yaa.. ^-^

  11. awal’y eonnie ngebayangin tuh yeoja eonnie sendiri..
    senyam senyu salting pny tunangan n 1 rmh ma kyu..😀

    d tengah cerita, eonnie msh bs ngebayangin n b’imajinasi..

    tp ending’y…
    sumpah, gak rela….
    gak rela yeoja’y meninggal..

    yah, smw trgantung shela sih, hehe
    surat’y bikin galau..😥

  12. cho kyuhyun-nim tanggung jawab!!
    /sya hamil/ #plakk
    Sy mewek baca ini! Astagfir gk nyangka giliran udah inget ma tuh cwe, eh malah ditinggal mati… Hiks hiks

    Tp daebakk lah bwt cwe nya bwt kesabarannya…

  13. Ya Oloh…..ujan mewakili hatiku yg galau mewek
    tngkt ubun2………nyesek bnget bcanya…….
    bak tertmpa ribuan karung duren pnyanya pak lurah…..

  14. ih..ih..aku dipermainkan…..

    si Kyu pake ilang ingatan sgla..pas ud kmbali ingatan… skrg malah cewek nya yg meninggall… Howaaaa……………..shelllllllllllll tega bener2 kamuuuuu… huhuhuuhhuhuh

    jalan cerita nya asli gk ketebak yaaa.. kereeeeeeeeenn!!!!!!!!

    dannn..aku mewek baca surat nya.. T.T

    1 pertanyaan gapen.. nama ceweknya sapa sih? #plak

  15. Aaaa…… sumpah shel ni ff keyen benjetz…. kkkk~
    Hampir mmbuat q menitikkan air mata
    #lebeh
    #ambiltissue

    Aq ga nyangka trnyta malah cwe.ny yah.yg dluan pergi…..
    Dan pendeskripsian kta” nya nyangkut dihati🙂
    Daebak shel!!!!

  16. galau galau galau galau ahhhhhh.
    jadi ini ceritanya si cewenya meninggal duluan okesiip itu menyakitkan setelah menunggu lama dan akhirnya kyu inget tapi udah keburu meninggal.
    tapi aku suka sama tulisan eonni rapih banget dan aku suka cerita galau yang dipisahin oleh maut bukan dipisahin karena takdir lainnya

  17. Aaaa…nyesek bacanya, kirain happy ending taunya udah mati duluan. Feelnya dapet thor jd nangis bombay (y)

  18. Sheee~ apa-apaan iniihh?? TT TT
    Mau ditambahin theme song, ga supaya makin sesenggukkan bacanya? Dengerin lagunya Padi-Kasih Tak Sampai.
    Bener-bener deh cerita ini ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s