Purple & You [Enam]

 ***

Bagaikan musim dingin tanpa salju,

Seperti itulah ketidaksempurnaanku tanpamu.

Tetapi, bagaikan musim dingin yang akan tetap berlalu,

Seperti itu pula kekosongan ini akan kurasakan tanpamu.

Dan bagaikan musim dingin yang porak-poranda oleh badai salju,

Seperti itukah keadaan kita nantinya?

================================

Seoul – 6:27 PM

Gadis berkuncir ekor kuda bersandar di kerangka ranjang. Kedua kakinya dilipat hingga ia dapat memeluk lututnya sendiri. Rambutnya berantakan, beberapa helai rambut menjuntai bebas keluar dari ikatannya. Choi Jiyoo tak sempat melihat cermin dan memperbaiki penampilannya.

Sambil memandangi ponsel layar sentuhnya, Jiyoo mendesah panjang. Seharian ini tak ada yang bisa dilakukannya tanpa Eunhyuk. Ia ingin menghubungi lelaki itu, tapi seolah ada rantai maya yang membelenggu, tangannya tak bisa bergerak.

Segala hal tentang Kang Minhyuk hari ini membuatnya serba salah.

Apa yang harus dikatakannya jika Eunhyuk bertanya tentang harinya di Seoul dan tanpa sengaja nama Kang Minhyuk meluncur dari bibirnya? Bagaimana jika gadis itu tak sengaja membuka topik soal Kang Minhyuk?

Jiyoo meniup poni depannya frustasi. Gadis itu sangat merindukan Eunhyuk, tapi sekarang tangannya menolak bergerak. “Lee Hyukjae…”

Dengan helaan napas yang tertahan, Jiyoo mengangkat ponselnya. Jarinya berhenti bergerak saat nama lelaki itu muncul di layar. Sambil meloloskan napas panjang, gadis itu menempelkan ponsel ke telinga kanannya.

Eo, YOO~” seruan tak asing membahana melalui sambungan telepon. Jiyoo mengerutkan kening. “Kau lupa pada suaraku?”

Dalam satu kedipan mata, gadis itu mendesis, “Tch~ Lee Donghae?”

Ya! Panggil aku ‘Oppa’!” sahut Donghae. “Mau apa kau menelepon?”

“Aku menelepon Poo. Sedang apa kau dengan ponselnya? Kau.. tidak sedang bermesraan dengan calon suamiku, kan?” Jiyoo menyipitkan mata.

Donghae tergelak kemudian berseru, “Kau masih menganggapku saingan cintamu?”

“Memangnya salah?” sela Jiyoo. “Kalian lebih mesra, lebih hangat, lebih.. menyebalkan! Pokoknya, aku lebih cemburu padamu daripada dengan jutaan gadis di dunia ini. Kau dengar?”

“Eum.. semua gadis? Kau yakin?” ulang Donghae. Nada suaranya ragu dan hati-hati, seolah saat mengucapkannya lelaki itu sedang melirik ke sekeliling.

Jiyoo mengerutkan kening, heran. Gadis itu memindahkan ponsel ke telinga kirinya. “Ada apa di sana? Ada.. gadis lain di sana?”

“Lebih baik kau menelepon lagi nanti, Yoo, eo? Kami sedang ada wawancara,” sambung Donghae. “Annyeong~”

Sambungan terputus. Jiyoo tak bisa bertanya lebih banyak dan hanya memandangi layar ponsel yang memajang fotonya dan Eunhyuk. Donghae jelas bertingkah aneh –bukan yang pertama, tapi itu mengganggu Jiyoo saat ini.

Lee Hyukjae tak menjawab ponselnya, pembicaraan tentang gadis terhenti karena nada suara Donghae. Apakah Jiyoo diperbolehkan berpikiran buruk sekarang?

—-

The next morning..

Shin Hyori menyibak tirai ungu muda yang menutupi jendela kamar. Gadis itu mengangkat sebelah tangannya untuk menghalangi sinar matahari yang menyerang indera penglihatannya. Senyumnya terkembang saat melihat jalanan yang bersih dari salju.

Untuk beberapa alasan, ia senang musim dingin akan segera berlalu.

“SHIN HYORI!” pekikan Jiyoo yang masih membalut tubuh dengan selimut membuat Hyori menoleh. Ia mengerang. “Mataharinya..”

“Kenapa menyalahkan matahari? Kau yang salah, kenapa belum bangun, ha?” Hyori duduk di tepi ranjang ungu Jiyoo. Dengan cepat, ia berhasil menarik selimut tebal yang membungkus tubuh Jiyoo secara keseluruhan.

Jiyoo menyambar bantal besar di dekatnya kemudian menutupi wajah dengan bantal itu. Demi apapun, gadis itu tidak berminat untuk meninggalkan ranjang kesayangannya hari ini. Jiyoo terlalu malas berhadapan dengan apapun jika tak ada Eunhyuk di dekatnya.

Alasan klise yang tak masuk akal, tapi jelas itu berpengaruh untuk Jiyoo.

“Sarapan sudah siap, jangan harap aku akan membiarkanmu membawa sarapan ke dalam kamar, jadi lebih baik kau bangun,” ujar Hyori. “Sekarang!” tambahnya.

Jiyoo berbalik dan menurunkan bantal dari wajahnya. “Kalau begitu, aku tidak akan sarapan.”

“Coba saja kaulakukan itu!” ancam Hyori. Gadis itu menepuk lengan Jiyoo pelan. “Akan kubilang pada Lee Hyukjae kalau kau sudah bosan hidup tanpanya.”

Dengan lirikan sengit, Jiyoo meraih kacamata yang berada di atas laci. “Kau menghubunginya?”

“Kemarin dia menghubungiku,” Hyori mengusap dagunya. Ia kemudian tersenyum, “Tidak secara langsung juga. Bebek meneleponku dan Poo mengacau di belakangnya, menyuruhku menjagamu.”

Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Lee Hyukjae tidak terlalu sibuk kalau ia sempat mengganggu Kyuhyun. Selain itu, Kyuhyun masih tidak cukup sibuk untuk tidak menghubungi Hyori, Donghae juga pasti tidak cukup sibuk untuk mengangkat telepon Eunhyuk dan mengobrol dengannya.

Perasaan aneh berhasil menarik perhatian Jiyoo. Apa yang sedang dilakukan Lee Hyukjae kemarin?

“Yoo,” Hyori sudah berada di tepi pintu. “Sarapan!”

Jiyoo kembali menutupi wajahnya dengan bantal, “Sebentar lagi..”

—-

Paris – 10:13 PM

Sebuah panci besar berisi ramyun terhidang di atas meja makan. Asap masih mengepul, menandakan makanan itu akan menjadi makan malam sempurna bagi semua orang. Lee Hyukjae menarik kursi, tepat di depan piring kimchi.

Beberapa lelaki lain mengekor di belakangnya. Siwon, Sungmin, dan Donghae duduk berurutan. Ryeowook melepaskan celemek dan memilih duduk di ujung meja.

“Karena malam ini aku sangat merindukan Seoul, kita bisa makan ramyun!” serunya.

Donghae mengangkat sumpitnya dan mulai memasukkan ramyun ke dalam mulutnya. “Berbeda dengan seseorang yang sudah pulang ke Seoul kemarin.”

“Membicarakanku?” sahut Eunhyuk.

“Bukan, Kyuhyun,” Donghae memutar bola mata. Sambil mengunyah, lelaki itu menyikut lengan Eunhyuk. “Kau sudah memeriksa ponselmu?”

Eunhyuk menggeleng kemudian menyumpit potongan kimchi tipis. “Kenapa?”

“Yoo meneleponmu tadi siang. Waktu kita sedang wawancara,” Donghae berganti memegang sendok untuk meneguk kuah ramyun. “Lebih baik kau meneleponnya hari ini.”

Helaan napas pelan meluncur dari Eunhyuk. Ia memang menunggu gadis itu untuk menghubunginya, tapi setelah pertemuannya dengan Song Eunhee, ia mendadak tak bisa memutuskan apa-apa lagi. Otaknya penuh dengan banyak pertanyaan.

Salah satunya, apa yang harus dikatakannya pada Jiyoo soal Song Eunhee?

Eunhyuk mengunyah kimchinya perlahan. Hubungannya dengan Jiyoo sudah cukup sulit karena perbedaan jarak dan waktu, ditambah dengan Kang Minhyuk, lalu sekarang, jika Jiyoo tahu ada hal lain yang harus dikhawatirkannya di Paris, apa yang akan terjadi pada mereka berdua?

Lelaki itu tahu Jiyoo akan mengerti, bahkan dengan banyak pertimbangan, Eunhyuk tahu Jiyoo tidak akan mempermasalahkan Song Eunhee.

Tapi, entah bagaimana, dirinya sendirilah yang belum siap menjadikan Song Eunhee sebagai tema pembicaraan mereka. Eunhyuk tak akan melakukan itu, kecuali jika tak ada sosok Kang Minhyuk di dekat Jiyoo.

Jiyoo tak akan mengerti kekhawatiran Eunhyuk yang ini. Gadis itu juga tak akan mengerti soal kehadiran gadis dari masa lalunya. Jika Jiyoo tahu soal Eunhee sementara ada Minhyuk di dekatnya, Eunhyuk tak bisa membayangkan akan jadi seperti apa hubungan mereka nanti.

“Aku tidak cerita soal Eunhee noona,” sambung Donghae. Eunhyuk mendongakkan kepala.

Leeteuk, yang baru saja tiba di dapur, menyela, “Memangnya ada apa dengan Eunhee dan Jiyoo?”

“Tentu saja berhubungan,” sahut Kyuhyun. Lelaki itu menutup pintu kamarnya dan menarik kursi di sebelah Siwon. “Jiyoo tahu Eunhyuk hyung pernah bertemu dengan Song Eunhee noona di Seoul. Ah, Yoo juga tahu kalau Eunhee noona adalah mantan kekasih Poonya.”

Suasana di meja makan itu mendadak diliputi keheningan. Tentu saja tak ada yang tak mengetahui soal hubungan Eunhyuk dan Eunhee di masa lalu. Hanya saja, mendapat informasi jika Jiyoo juga tahu soal mereka agak membuat semua orang terkejut.

Eunhyuk dan Eunhee bukan pasangan sempurna, tapi semua orang tahu jika keduanya saling bergantung. Pasangan itu bisa membuat banyak orang iri dan cemburu. Eunhee, saat itu adalah orang yang penting bagi Eunhyuk.

Semua itu tentu saja masa lalu. Tak ada yang mengungkit soal Eunhee lagi sejak keduanya berpisah. Setidaknya sampai gadis itu muncul kembali. Di Paris.

Sementara itu, Jiyoo dan Eunhyuk juga bukan sekedar pasangan main-main. Dengan satu kali tatapan, semua orang bisa melihatnya; bahwa Eunhyuk adalah alasan Jiyoo untuk bernapas. Semua orang mengenal Jiyoo sebagai pasangan Eunhyuk dan sebaliknya.

Choi Jiyoo milik Lee Hyukjae. Lee Hyukjaenya Choi Jiyoo.

Semua orang setuju, walaupun tanpa pemberitahuan resmi, keduanya adalah masa depan untuk satu sama lain. Keduanya merupakan satu kata jamak yang tak bisa dipisahkan. Begitulah keduanya tergambar.

Jika Jiyoo tahu soal Eunhee, hubungan aneh seperti apa yang baru saja terbentuk?

“Lalu,” Donghae memecah keheningan. “Apa yang akan kaulakukan?”

Eunhyuk tak menjawab. Ia sibuk mengacak-acak kepalanya, tapi tak menemukan jawaban apapun di sana. Dalam imajinya yang terbesar, ia hanya bisa melihat wajah Jiyoo dan cincin yang melingkar di jari manisnya.

Tapi, kenapa bayangan Eunhee sesekali juga muncul di sana?

—-

Seoul – 8:32 AM

Uap putih keluar dari bibir Jiyoo ketika gadis itu berusaha menghangatkan telapak tangannya. Ia sedang menunggu bis setelah Shin Hyori menjejalkan kotak bekal ke dalam tasnya. Jiyoo merengut sebal. Shin Hyori itu kadang bisa menjadi sangat menyebalkan dibandingkan Lee Hyukjae.

Sambil menyelempangkan tas ke samping tubuhnya, Jiyoo mendesah berat memandangi layar ponsel. Eunhyuk sama sekali belum menghubunginya. Biasanya, Jiyoo tak akan bertingkah seperti ini. Ia tidak akan ambil pusing walaupun lelaki itu terlambat memberi kabar.

Terima kasih banyak pada Lee Donghae yang membicarakan soal gadis. Jiyoo, mau tak mau, berpikir lebih kritis dari biasanya.

Jiyoo menarik napas. Donghae jarang membicarakan masalah lain selain persaingannya dengan lelaki itu. Tak tahu bagaimana, perubahan nada suara Donghae semalam membuat Jiyoo terganggu.

Apa di Paris ada hal yang tak diketahui Jiyoo?

“Bisnya datang,” suara datar mengingatkan Jiyoo. Gadis itu menoleh dan menyipitkan mata saat melihat Kang Minhyuk di sampingnya.

Sambil terus memandangi lelaki itu, Jiyoo tak bersuara –setidaknya ia tak bisa mengeluarkan suaranya.

Minhyuk tersenyum miring. Ia mengendikkan kepala, “Masuk, J.”

Jiyoo tahu ini konyol, tapi ia membeku di tempatnya berdiri. Ia bahkan harus berpikir berulang kali saat Minhyuk meraih tangannya dan berhasil masuk ke dalam bis. Gadis itu tetap membeku walaupun Minhyuk masih menggenggam tangannya.

Satu kesimpulan yang ditariknya adalah: pikiran soal Lee Hyukjae serta kemunculan tiba-tiba Kang Minhyuk merupakan perpaduan sempurna untuk membekukan syaraf-syaraf Choi Jiyoo.

“Apa yang kaulakukan?” setelah mencairkan pikirannya, hanya itu yang terlontar dari bibir Jiyoo.

“Menunggu bis dan masuk ke dalamnya,” sahut Minhyuk. Lelaki itu berdiri di samping Jiyoo. Ia tak menemukan kursi kosong dan yakin Jiyoo tak akan keberatan soal itu.

“Jangan konyol. Arah pulangmu berlawanan dengan dormku,” Jiyoo tak ingin repot-repot menoleh ke sampingnya. Sepanjang waktu, ia yakin ia hanya akan memandangi jalanan melalui jendela.

Minhyuk menghela napas secara perlahan hingga Jiyoo dapat mendengarnya. “Bukankah kau setuju kita sudah jadi teman lagi? Kalau begitu, apa salahnya menemani temanku naik bis ke kampus?”

“Salah. Tentu saja sangat salah! Aku, untuk alasan yang jelas, sama sekali tidak memintamu,” sahut Jiyoo tegas.

Gadis itu melihat Minhyuk tersenyum kecil. Ia tak berminat untuk menegurnya. Seluruh otaknya sudah dipenuhi banyak masalah tanpa perlu ditambah masalah dari seorang Kang Minhyuk lagi. Memori kecil dalam kepalanya bahkan sebagian besar hanya untuk Lee Hyukjae.

Jiyoo menggigit bibir. Pikiran lain mengusiknya. Sedang apa lelaki itu di sana?

“Jangan pikirkan Lee Hyukjae kalau kau sedang bersama denganku,” sela Minhyuk. Jiyoo, dengan terpaksa, menoleh padanya. “Aku tidak membaca pikiranmu, aku tidak bisa. Aku hanya merasakannya, dan aku tidak suka diduakan.”

“Tch~” Jiyoo mendengus kasar.

Minhyuk kembali menampakkan senyumannya. Jiyoo mengamati wajah lelaki itu dari samping. Wajah itu meninggalkan kesan lembut bagi siapa pun yang memandangnya –termasuk Jiyoo. Bukan wajah itu yang mengganggu pikirannya, tapi kedua mata Minhyuk.

Mata itu begitu tegas, tajam, dan dalam. Satu kali memandangnya, kedua mata itu dapat menenggelamkan setiap orang yang melihat ke dalamnya.

Jiyoo memiringkan kepala. Pikirannya kali ini sudah benar-benar melanggar batas. Ada sesuatu dalam kedua mata Kang Minhyuk yang menarik perhatiannya sejak awal. Kedua manik berkilau itu mengingatkan Jiyoo pada sesuatu –seseorang.

—-

Winter – 2003 

Seorang gadis kecil bersyal ungu menggigit bibir bawahnya. Dengan terseok, ia menyeret kedua kakinya menyusuri terminal stasiun Seoul. Setelah menyapukan pandangannya ke sekeliling, ia mulai ketakutan saat menemukan segerombolan anak laki-laki jalanan.

Tak banyak yang bisa dilakukan gadis itu selain menjauh dari gerombolan tadi. Ia mempercepat langkahnya ketika menyadari seorang anak laki-laki yang lebih tinggi darinya membuntutinya dari belakang.

Ya!” seru anak laki-laki itu. Walaupun tahu dirinya lah yang dipanggil, gadis kecil itu menolak menjawab dan terus berjalan dengan cepat.

Gadis itu baru berhenti saat kakinya benar-benar terasa sakit. Ia bersandar di dinding dan berjongkok. Karena ketakutan dan putus asa, gadis kecil itu menangis.

Ya! Kau tidak mendengarku tadi?” suara anak laki-laki itu begitu tegas dan kasar. Gadis kecil itu tetap berjongkok tanpa hendak mendongak. Ia terkejut dan semakin ketakutan saat anak laki-laki itu berjongkok di depannya. “Kau kenapa?”

Gadis itu diam. Ia menolak untuk menjawab dan hanya membiarkan anak laki-laki tinggi itu merasa frustasi. Gadis kecil dengan pita rambut ungu tua itu menggigit bibirnya dan menangis semakin keras.

Uljima!” seorang anak laki-laki berambut hitam pekat berjongkok sambil memerintah gadis kecil itu. “Aku tidak suka melihat perempuan menangis, jadi berhenti menangis!”

Gadis mungil itu bertanya dengan suara sesenggukan, “Apa kau bisa membantuku mencari Ibu?”

“Merepotkan. Tidak mau!” laki-laki kecil yang mengenakan jaket tebal berwarna hitam itu menolak kasar. “Lagipula bodoh sekali sampai terpisah dari Ibumu. Sudah ya, aku harus pulang.”

“Bantu aku..” ujar gadis dengan pipi bulat itu.

Laki-laki itu menundukkan kepala untuk menatap gadis berambut panjang itu lebih dekat. “Walaupun merepotkan, kurasa tidak ada salahnya membantumu.”

Gadis itu mendongak, menatap laki-laki yang kira-kira dua tahun lebih tua darinya itu. Diam-diam, ia mengamati kedua mata laki-laki itu.

Kedua matanya besar. Jika menatap orang lain, pasti tatapannya terasa menusuk. Kedua mata itu tak terlihat menakutkan baginya . Dengan mata setajam itu dan ekspresi wajah datar, orang lain pasti sudah menganggap laki-laki itu sangat angkuh.

Tapi, gadis mungil itu tahu laki-laki yang tadi menolak membantunya ini bukan anak yang jahat. Sikapnya tidak buruk. Entah bagaimana, ia percaya anak laki-laki itu baik.

Gadis itu tersenyum dan mengusap pipinya yang basah. “Terima kasih..”

Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya ke arah gadis bersyal ungu. Sambil menggosok hidungnya yang tak gatal, ia menyusuri koridor stasiun dan bertanya pada beberapa orang serta mengantarkan si gadis mungil ke pusat informasi.

Kedua mata gadis itu membulat ketika menemukan ibunya duduk di depan meja petugas stasiun. Gadis mungil itu berseru, “Eomma!”

“Itu ibumu?” tanya si anak laki-laki. Gadis itu mengangguk dengan senyum terkembang di bibirnya. 

“Terima kasih sudah membantuku!” gadis itu kembali berseru. Ia melepaskan genggaman anak laki-laki itu dan berlari ke arah ibunya.

Ketika gadis berambut panjang itu membalikkan badan, anak laki-laki tadi sudah tak ada di tempatnya berdiri. Ia kembali menggigit bibir, bertanya-tanya pergi ke mana anak yang sudah membantunya tadi.

—-

Jiyoo menggelengkan kepala pelan. Kenangan tentang anak laki-laki berambut gelap itu tidak boleh muncul saat ia sedang berada di dekat Kang Minhyuk.

Gadis itu melirik Minhyuk diam-diam. Tatapan lelaki itu memang mirip dengan anak laki-laki dalam kenangannya, tapi Jiyoo akan menolak kenyataan jika anak itu memang Kang Minhyuk. Jiyoo berhutang budi padanya, tapi untuk sekarang, ia tak ingin memiliki perasaan itu pada lelaki di sebelahnya ini.

“Kenapa memandangiku terus?” Minhyuk bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari jalan. “Jangan bilang kau tergoda secepat ini?”

Jiyoo memutar bola mata lalu mendengus, “Mimpimu terlalu tinggi.”

“Begitulah,” sahut lelaki itu tenang, “Mimpiku juga kadang tak sulit untuk kuwujudkan.”

—-

Paris – 1:12 PM

Lee Hyukjae memandangi layar ponselnya walaupun di hadapannya ada sepiring Coq au vin –masakan khas Paris yang dibuat dari ayam jantan yang dimasak dengan wine, lardon, dan jamur. Bukan makanan kesukaannya, memang, karena Eunhyuk tak pernah bisa membiasakan diri dengan makanan di kota barunya.

Waktu istirahat makan siang adalah satu-satunya waktu dimana ia bisa sendiri. Sejak pagi, seluruh membernya berada di sekitarnya dan itu membuat Eunhyuk, entah bagaimana, sedikit jengah.

Selain membernya, tentu saja kehadiran Song Eunhee juga mengusik pikiran Eunhyuk.

Lelaki itu begitu ingin mendengar suara Jiyoo. Mendengar omelan gadis itu selalu bisa menenangkannya. Suara Choi Jiyoo sudah menjadi zat anestesi pribadi Lee Hyukjae.

Entah bagaimana, sejak kapan, dan mengapa, Eunhyuk merasa harus mengisi hari-harinya dengan apapun yang berhubungan dengan gadis itu. Seandainya bisa, ia pasti akan mengganggu Jiyoo sepanjang hari.

Tapi, keberadaan Song Eunhee di sekitarnya membuat lelaki itu ragu.

Eunhyuk tak terkejut ketika gadis dalam pikirannya sekarang muncul di hadapannya. “Apa menyenangkan makan sendirian?”

“Rasanya begitu,” sahutnya. Ia tak repot-repot mendongak untuk memastikan Song Eunhee berada di dekatnya karena aroma parfum gadis itu tak pernah berubah. Selalu sama bahkan hingga saat ini.

“Kau tidak suka aku di sini, kan?” Eunhee menyendok sup merah dalam mangkoknya. “Apa boleh buat, ini pekerjaanku. Aku tidak bisa memilih artis mana yang harus bekerja sama denganku.”

Eunhyuk memejamkan mata sejenak lalu mendongak, “Sampai kapan?”

“Wawancara dan pemotretan majalah, karena ini edisi spesial untuk Super Junior, mungkin hanya dua minggu,” ujarnya. Song Eunhee tersenyum sebelum meneguk air mineral di gelasnya. “Hanya dua minggu, tidak lebih.”

Dua minggu jelas bukan waktu yang singkat. Eunhyuk mengakui itu dalam hati, tapi setidaknya semua ini ada titik akhirnya. Eunhyuk akan sangat panik jika semua ini tak menemukan ujung. Ia tak akan bisa menghubungi Jiyoo sebelum pikirannya tentang Song Eunhee menghilang.

Eunhyuk tahu pikirannya tak akan tenang sebelum Eunhee menjauh darinya.

Song Eunhee pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Gadis itu sangat penting hingga ia memutuskan untuk meninggalkan Eunhyuk tanpa alasan. Eunhyuk, yang saat itu sangat bergantung pada gadis itu, bahkan tak pernah tahu apa alasannya.

Hubungan itu berakhir tanpa kalimat apapun. Hubungan itu berakhir bahkan setelah Eunhyuk yakin ia tak bisa hidup tanpa Song Eunhee.

“Ada banyak hal yang harus kita bicarakan ya,” ujar Eunhee tenang. Ia mengusap bibirnya dengan sebuah sapu tangan.

Eunhyuk tersenyum samar. “Tidak. Tidak ada yang ingin kubicarakan.”

“Begitu? Mungkin hanya aku yang punya banyak hal untuk dibicarakan,” Eunhee memandang Eunhyuk lurus. Sorot matanya tetap sama. Lembut.

Noona,” nada suara Eunhyuk terdengar lelah. “Aku sudah tidak mempermasalahkan kepergianmu, jadi sebaiknya Noona juga tidak mempermasalahkan perasaanku saat ini. Aku punya orang lain di sampingku, dan aku tidak akan membuatnya khawatir dengan kehadiran Noona.”

Eunhee merasakan sentakan keras yang menampar jantungnya. Gadis itu tetap tersenyum, enggan menunjukkan perasaan kalahnya. “Gadis itu.. bisa khawatir dengan kehadiranku? Apa kau sangat terganggu olehku?”

“Bagaimana pun, aku tidak mendengar ucapan perpisahan dari Noona, jadi kuanggap semuanya sudah berakhir. Aku sangat terganggu dengan kenyataan Noona berada di dekatku sekarang,” ujar Eunhyuk jujur. Ia tak bisa menutupi perasaan yang seharusnya disimpannya rapat-rapat.

Lelaki itu, entah mengapa, memang tak nyaman dengan Song Eunhee yang berada di sekitarnya.

“Apa kau bilang pada kekasihmu? Bahwa ada aku di sini?” tanya Eunhee.

“Apa itu penting?” Eunhyuk meletakkan pisau dan garpu di kedua sisi piringnya.

“Ternyata belum bilang apapun ya,” Eunhee tersenyum puas. Mengetahui kenyataan bahwa Eunhyuk tidak memberitahu gadis itu tentang keberadaannya tiba-tiba membuat Eunhee senang. “Apa aku masih berpengaruh besar padamu, Lee Hyukjae?”

Eunhyuk menelan ludah. Ia merogoh saku mantelnya diam-diam. Lelaki itu menggenggam erat ponselnya untuk mengingat Choi Jiyoo. “Aku akan memberitahunya.”

“Begitu?” gumam Eunhee. “Itu bagus. Aku ingin tahu responnya.”

—-

Summer – 2008

Eunhyuk memandangi pintu apartemen yang terkunci. Tak ada penghuni di dalamnya. Lelaki itu tahu, satu-satunya penghuni kamar apartemen itu sudah pergi entah ke mana sejak dua jam yang lalu.

Dengan hati yang seolah diremas-remas, Eunhyuk menyeret langkahnya yang berat. Ia menuruni tangga dan berakhir dengan duduk di salah satu anak tangga.

“Pergi tanpa mengucapkan apapun, itu memang gayamu, Song Eunhee,” Eunhyuk bergumam lirih.

Lelaki itu mengeluarkan ponselnya. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari manajernya, Leeteuk, dan Donghae. Dengan mengabaikan semua itu, Eunhyuk membuka pesan yang membuatnya berlari ke apartemen ini.

[Aku akan pergi. Aku tak akan memintamu untuk ikut, aku tahu mimpimu akan terwujud di sini. Seandainya ada yang bisa kukatakan lagi, itu adalah: Semoga Sukses!]

Eunhyuk tersenyum perih dan berbisik, “Aku membutuhkanmu..”

Sambil melipat tangan dan membenamkan wajahnya di sana, Eunhyuk merasakan sesak yang luar biasa. Sepenggal pesan singkat dari Song Eunhee sama sekali tidak menenangkannya. Semua itu justru semakin membuat setiap tulang dalam tubuh Eunhyuk retak.

Rasa nyeri mendera jantungnya ketika ia membayangkan tak ada lagi sosok Song Eunhee di dekatnya.

—-

Memori itu menyergap Eunhyuk dan merampas seluruh jatah oksigen paru-parunya. Dengan menarik napas perlahan, ia mengangkat gelasnya dan menenggak isinya seketika. Air mineral yang dingin karena cuaca itu tak sanggup memberikan efek apapun.

Eunhyuk merasakan dunia menghimpitnya. Lelaki itu merasakan memori bersama Song Eunhee membunuhnya perlahan.

“Apa kau tidak mau mengetahui alasanku?” pertanyaan dari Eunhee sama sekali tidak membuat Eunhyuk baik-baik saja. “Alasanku pergi.. apa kau tidak mau tahu?”

Eunhyuk menghela napas setenang yang ia bisa. “Tidak.”

“Gadis itu memberikan banyak kekuatan padamu ya,” Eunhee berkomentar singkat. Senyuman kecil merambati wajahnya. “Aku ingin bertemu dengannya suatu saat nanti.”

“Dia.. dengan sifatnya, aku takut dia tidak mau bertemu dengan Noona,” ujar Eunhyuk. Dengan membayangkan Jiyoo, lelaki itu merasakan rasa nyaman menjalar di seluruh tubuhnya. “Dia tidak suka berurusan dengan masa laluku.”

Eunhee tersenyum samar sebelum mendorong kursinya dan meninggalkan Eunhyuk. Gadis itu bisa merasakan perubahan aura Eunhyuk, dan jelas, kekasih Lee Hyukjae itu berpengaruh sama besar seperti dirinya. Atau mungkin lebih besar karena Eunhyuk kembali seperti Lee Hyukjae yang biasa.

Sambil memandangi pantulan wajahnya dari gelas kaca, Eunhyuk terus memikirkan pertanyaan Eunhee. Apakah ia tidak mau tahu alasan kepergian gadis itu?

Tentu saja ia ingin tahu. Eunhyuk sudah menunggu tiga tahun untuk mengetahuinya. Tiga tahun, sebelum ia bertemu dengan Choi Jiyoo. Tiga tahun, sebelum Choi Jiyoo mengubah semua hal yang menjadi tujuannya.

Eunhyuk tersenyum kecil. Jiyoo tak pernah ingin tahu soal masa lalunya. Gadis itu berkata ia lebih suka jadi seorang pengecut daripada harus mendengar semua masa lalu Lee Hyukjae. Sifat yang jelek, tapi juga masuk akal.

Sekarang, kalau pun Eunhyuk tahu alasan itu, apa ada yang berubah?

Atau… apakah Eunhyuk terlalu takut ada sesuatu yang berubah jika ia tahu alasan Song Eunhee?

“Yoo..” Eunhyuk bergumam. “Mungkin aku harus meniru sifatmu yang ini. Aku akan memilih menjadi pengecut daripada harus tahu tentang masa laluku sendiri.”

—-

Seoul – the next day

Sepiring nasi goreng kimchi menghiasi meja makan kecil di dorm Jiyoo dan Hyori. Keduanya duduk berhadapan. Di depan Hyori, sarapan nasi gorengnya sudah berakhir sempurna. Matanya melirik piring Jiyoo dan Hyori meloloskan helaan napas berat.

“Kau ingat apa yang akan kulakukan kalau kau tidak sarapan lagi?” tanya gadis itu.

Jiyoo mendongak kemudian menyendok nasi gorengnya dengan malas. Hanya satu sendok dan Jiyoo sudah kembali memandangi Hyori. “Apa dia sangat sibuk di sana?”

“Poo? Tidak tahu, kenapa tanya aku?” Hyori membereskan piringnya sendiri dan berlalu ke dapur.

“Karena dari kemarin aku tidak mendapat kabar darinya,” bisik Jiyoo.

Bisikan itu tak cukup pelan hingga Hyori kembali ke kursinya. “Kalau begitu, kau saja yang memberi kabar untuknya.”

“Tidak!” jawaban Jiyoo terlalu cepat dan ia terpaksa berdeham pelan, “Maksudku, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan soal Kang Minhyuk.”

“Gampang, kan? Jangan cerita apa-apa kalau kau memang tidak mau cerita,” sahut Hyori. “Lee Hyukjae itu bukan orang yang suka memaksa untuk dilibatkan dalam setiap masalahmu. Tapi.. aku juga tidak yakin untuk masalah yang satu ini.”

Jiyoo mendesah panjang. “Benar, kan?! Aku takut.. dia akan berpikir macam-macam kalau kubilang aku sedang bermain permainan bodoh dengan Kang Minhyuk.”

“Karena itu! Kenapa kau mau meladeni orang itu kalau memang kau takut Eunhyuk akan salah paham?” seru Hyori tak tahan.

“Sudah kubilang, kan, Kang Minhyuk itu mengingatkanku pada seseorang. Dan kalau sebelumnya aku hanya yakin 50%, sekarang sudah meningkat menjadi 65%. Kurasa, Kang Minhyuk memang anak laki-laki dalam kenanganku,” gumam Jiyoo.

Hyori bertopang dagu dan memandangi gadis polos di depannya. “Lalu? Kau mau memastikannya? Atau sejak awal kau hanya ingin melakukan itu?”

“Aku.. tidak tahu,” ujar Jiyoo jujur.

“Tch~ anak ini benar-benar mau membuatku gila!” seru Hyori gemas. “Katakan saja kau memang hanya mau memastikan hubungan Kang Minhyuk dan anak laki-laki dalam kenanganmu itu, lalu apa selanjutnya?”

Jiyoo menggigit bibirnya. “Kalau, ini hanya kalau, Kang Minhyuk benar-benar anak itu, apa aku masih bisa menjauh darinya?”

“Tentu saja..” Hyori tampak berpikir, “tidak.”

Dengan raut wajah yang lelah, Jiyoo mengangguk. Itulah yang menjadi jawabannya juga. Anak laki-laki dalam kenangannya itu bukan seseorang yang bisa dengan mudah diabaikannya.

Seandainya Kang Minhyuk adalah anak laki-laki itu, lalu apa yang bisa dilakukan Jiyoo?

—-

“Jangan mengikutiku lagi,” teguran Jiyoo tertuju pada lelaki berjaket baseball yang berjalan di belakangnya. Lelaki itu sudah mengikuti Jiyoo bahkan sejak Jiyoo berada di ruang praktikum. Jiyoo tak tahu ia benar atau tidak, tapi lelaki itu jelas menunggunya.

Karena gadis itu melihat Kang Minhyuk bersandar di salah satu tiang yang terlihat dari dalam ruang praktikum.

“Kukira ini jalan umum,” ujar Minhyuk sambil mengangkat bahu. Jelas sekali ia merasa cukup penting karena bisa mendapatkan perhatian Jiyoo. “Lagipula, sejak di ruangan praktikum tadi kau memang sering melirikku, J.”

Gotcha! Jiyoo mengerang dalam hati. Ia bukannya sengaja memerhatikan lelaki itu, tapi mengetahui Minhyuk menunggunya di luar jelas sangat mengganggu konsentrasinya.

“Aku punya kabar baik,” lelaki itu mengabaikan wajah kesal Jiyoo. Ia memilih duduk berhadapan dengan gadis itu dan membiarkan semua teman Jiyoo menjauh dari mereka. “Apa kau tahu soal special trip ke Paris?”

Jiyoo berusaha untuk tampak tak tertarik –setidaknya ia sudah mencoba walaupun ekspresi wajahnya menggambarkan sebaliknya. “Hadiah untuk karya ilmiah pangan ke Paris, kan?”

“Tepat! Aku tidak tahu apa kau tahu soal ini, tapi aku akan berangkat,” Minhyuk tersenyum lebar.

Mwo?!” seruan Jiyoo jelas bukan ekspresi kebahagiaan. “Memangnya kau yang menang?”

“Tidak, tapi penggemarku yang menang. Dia memberikan hadiah perjalanan ke Paris untukku. Tidakkah kaupikir itu hebat?” sahut Minhyuk puas.

Jiyoo berusaha menelan bulat-bulat perasaan irinya. “Dasar idola..”

“Karena itu,” Minhyuk mencondongkan tubuhnya ke depan. Cukup dekat hingga Jiyoo bisa menghirup aroma parfum yang dipakai lelaki itu. “Apa kau mau terbang ke Paris?”

Mworago?” entah mengapa, Jiyoo merasa ada yang salah dengan indera pendengarannya.

“Kau. Pergi. ke. Paris.” Minhyuk mengulang sambil menekankan setiap kata dalam jawabannya. “Apa kau senang?”

Jiyoo menelan ludah. Hatinya sudah nyaris keluar dari tempatnya. Ia pasti pasti akan berangkat jika ada kesempatan. “Apa kau serius?”

“Menurutmu, aku hanya bercanda dan mempermainkanmu?” tanya Minhyuk. “Sudah kubilang aku tidak sejahat itu, J. Jadi, apa kau mau pergi?”

Tanpa menghela napas, Jiyoo berseru, “MAU!”

“Tiga hari lagi kita akan berangkat, siapkan paspormu. Pastikan paspor dan visamu tidak akan mendatangkan masalah bagi kita. Kemudian, untuk masalah hotel, semuanya ditanggung pihak kampus,” penjelasan Minhyuk terlalu cepat untuk dicerna Jiyoo.

Gadis itu bahkan harus mengerutkan kening, “Kita?”

“Kaupikir kau akan pergi sendiri?” Minhyuk tertawa geli. “Aku juga akan berangkat bersamamu.”

================TBC================

Some memories in their past~ those make JiHyuk waved. Jadi Yoo gak bisa cerita soal Minhyuk dan sebaliknya, Poo juga ragu buat cerita soal Eunhee. They’re wavering into their past..

Syuka deh bikin yang kaya gini.. xD

Kesampean juga bikin cinta segi-4. Eumm.. prepare urself~ The next are special trip Minhyuk-J, and please anticipate for Eunhyuk-Eunhee too. :3

And well, soal putus yah? Don’t worry, it’ll come soon~~~ :”>

50 thoughts on “Purple & You [Enam]

  1. astaghfirullah…aku gatau harus ngomong apa. Tapi aku geregetan pengen narik eunhyuk ke seoul lagi biar minhyuk pergi jauh2. Ohya aku penasaran sama alasan eunhee ninggalin eunhyuk._. Ah Jiyoo jangan terlena sama minhyuk dong kalo minhyuk beneran anak laki-laki itu ;A; kasian eunhyuk TT-TT kata kakak apa? Soal mereka putus don’t worry it’ll come soon? Aku malah khawatir kalo muncul kak…pasti putuusnya di paris deh jangaaannn TT-TT

  2. YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~
    /guling2/
    apaa apaan itu, trip ke paris ?
    IKUT /brb siapin koper/

    Eish, Eunhee semacam ‘memancing’ nih~ tenang aja Yoo, kalo Poo terpancing berarti Yoo….. cari mangsa lain xD
    KYAAAA~ CINTA SEGI EMPAT YA AMPUNS MAU JUGA DONGS ASXVZFGH😄

    p.s : entah kenapa sosok hyori disini seperti pengasuh ya ? hmm~ xD

    • Jangan ikut-ikuuuutt~ anda suda saya kirim ke neraka buat hanimuuuuuunnn..
      Yups! saya akan cari mangsa laenn. xD Betapa bahagianya bisa cari mangsa yang lainn. xDD
      Terima kasyihh syuda baca, momm~~~ xD

      p.s: karena di dunia nyata pun, hyori adalah pengasuh yoo. :3 Silakan dinikmati peran itu. xD

  3. entah mengapa , kayaknya shella udah ketularan setan nya kyuhyun.
    ampe buat cerita kayak gini .
    beneran ini bakal ada putusnya ??
    balik lagi gak kira kira ?
    terlalu rumit emang kalo cinta segi4 .
    yoo ama poo aja .

  4. sejauh-jauhnya jarak paris en seoul temanya tetep sama, jihyuk menggalau hehehe…
    mwo??? trip ke paris??? kakak mau jg dunk hahaha

  5. uwaaaaaaaaaaaa seruuuu , ada masa lalunya gtu ahhhh jinjja dulu hyuk kesian yee , ditinggalin eunhee.
    dan itu itu jihyuk mau putus beneran ? aigoo okelah aku menanti putusnya #ehhh

  6. Kenapa kayanya gw ga rela ya ngebayangin mereka putus?!
    Hwaaaa….
    Lanjuut saeng! Biar ati ini berdarah2,bakalan kutunggu ff buatanmu..
    Hahahahaha…apa kali berdarah2…╋╋ム╋╋ム╋╋ム

  7. Authoor kenapa jihyuk nya dibikin galau???!!! Si eunhee masih nyimpen perasaan yaa ke poo? Ah pasti di paris ntar yoo lg sm minhyuk dan poo lg sm eunhee ketemu terus mereka saling salah paham deh *slapped
    penasaraaan bangedd nih!!! Mudah2an aja next part cepet publishnya amin o:)

  8. wah…permainannya makin seru ya!
    aku suka permainan kaya gini (?)
    kenangan masa lalu menbuat hubungannya jadi kaya gini?
    kenapa? kan itu hanya kenangan
    minhyuk…terang-terangan banget!
    jalan2 ke paris?! enak banget!
    baiklah..memantapkan hati buat adengan eunhyuk-eunhee ma minhyuk-yoo
    omong2…aku penasaran gmn acra putusnya poo ma yoo ^^

    • Waaaa~ anda berhasil mencari point dari semua masalahnya. Yup, sebenernya cuma masalah kenangan sih. :3
      Nyehehehe.. silakan dinanti adegan pustusnyaaaahh~ ;D
      terima kasyih syuda baca yaaa.. ^-^

  9. Minhyuk..!!! Dunia aherat jgn ganggu pasangan kasmaran ini..!!! Geregetan pengn nimpuk si minhyuk pake spatu militer x heenim #dirajamBOICE

    Tapi,….. putus..???
    huweeee… masak putus sih unn.. ><

    aniwwi, next chap smga cpt publish y unn.. di nanti..^^

  10. gak relaaaaaa~~~
    klo hyuk putus dari ji yoo
    dan well sebenernya jujur aku lebih demen gayanya mihyuk itu…
    cool gimana gitu… tp tetep gk mw klo yoo sama mihyuk…

    aduh.. mereka itu (jihyuk) sama2 lg pada ababil sama kisah masa lalunya…
    tp mestinya mereka itu jadi orang yang buta dan tuli aja lah… ya walaupun ini tentang hati sih.. ayo aku dukung jihyuk!!!!

    dan liburan ke paris bareng mihyuk?! oh maigad!!! cari masalah dah….

  11. Ya ampuuuuuuun ngeri deeeeeeeh it’ll coming sooon -_- tp aku jd simpati ama eunhee.. Secara bisa di bilang eunhee masih setia tp hyuk berpaling –‘ hehehehehe

  12. hmmm, bingung mau komen apa..
    d’bilang galau, gak jg… d’bilang gak galau, gak jg… *bingungsendiri*

    rencana’y mau putus yah..
    eonnie setuju!!
    kyk’y seru klo JiHyuk putus, haha

  13. Makin rumit aza neh..
    Apa yg akan terjadi d paris selanjutnya???

    Masih suka cmburu ma EunHae kah??
    hehehe it emang saingan terberat Yoo..
    Couple it emang susah dipisahin..
    Tp ga papa ntar aku bantuin biar Yoo ga cmburu lagi..
    Kan Hae udh ma aku hehehe ..

    Dari awal baca ff ini tokoh yg makin lama makin aku suka it Kyu..
    Karakter Kyu disini bikin gimana gtu…

    • YESSEU! Eunhae itu bener-bener…………….=_______=
      Tolong onnie amankan si hae, puhleeease~ demi kelanjutan hubungan Yoo ama Poo. xD

      Ya sih.. aku juga suka tokoh kyu. Friendly banget. :3
      makasihh syuda baca onn~ ^-^

  14. ;A; agak menggalau baca note terkahir si umma seneng bgt ya mau trip breng Minhyuk wuahahhaah😄 ukhh~ keknya udh jlas bgt tu si minhyuk yg jd cowo masa kecilny jiyoo tinggal nunggtu wktu yg pas si minhyuk ngasib tau jiyoo .-. Wkkk.. Akhh~ kenapa eunhyuk jd ikutan mengalau kyk jiyoo ini ;A; sumpah nyakin bgt pas adegan putus psti ntar konfliknya dpt bgt .-. Segiempat😄 segiempat wkkk .. Loncat next part :p

  15. ;A; agak menggalau baca note terkahir si umma seneng bgt ya mau trip breng Minhyuk wuahahhaah😄 ukhh~ keknya udh jlas bgt tu si minhyuk yg jd cowo masa kecilny jiyoo tinggal nunggtu wktu yg pas si minhyuk ngasib tau jiyoo .-. Ngakak bgt waktu baca bgian yoo brdebat sm hae😄 mamah bnci bgt eunhae ya? Ak malah eunhae shipper .-. Buakakkk.. Ngeliat eunhae emg udh ngerasa si hae it cewe .-. #jiwa fudjosi bekobar hahahha -,-

    Next part :3

  16. Eaaaaa yang mau jalan-jalan ke pariiissss~~~~!!
    Saia mencium aroma terselubung seorang minhyuk >o<
    aaaaah ini pasti akan terjadi penggalauan masaal~~ HIDUP GALAU!! hahahaha~

  17. Entah kenapa aku pengen ketawa pas Ji Yoo bilang gini ke Hae “Pokoknya, aku lebih cemburu padamu daripada dengan jutaan gadis di dunia ini. Kau dengar?” )Нɑ˘°˘НɑHɑ˘•˘ ‎ Eunhae, Eunhae -,- sama juga kaya Kyumin yang sering buat aku jeles u,u

  18. Aiiiiish, ga suka nih aku klo bgini…. Rasanya pengen jewer jihyuk barengan…. =.=’
    btw, shelaaaaaaaaaaaaaa~~~ miss you so much loooh, lama bgt aku ga mampir sini…. Akhirnya bs baca lg… Hehehehe…. ^+++^v *peyuk yoo*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s