Purple & You [Empat]

 

Aku benci perpisahan, kau satu-satunya orang yang paham soal itu..

Aku tak suka ucapan selamat tinggal, kau juga hapal itu..

Kau tahu aku tak akan pernah setuju dengan semua itu, kan?

Tapi, kenapa kau tetap melakukannya, di hadapanku?

=========================

Empat..

Yoo’s dorm

Choi Jiyoo mengaduk-aduk nasi dalam piringnya dengan malas. Matanya melirik ke luar beranda. Salju putih berhenti turun dan matahari musim dingin tampak berjuang untuk menghangatkan semua orang hari ini. Jiyoo menghela napas panjang.

Tiga hari itu terlalu cepat. Empat hari juga pasti akan berlalu dengan cepat. Waktu mereka hanya tujuh hari, padahal Jiyoo yakin waktu seumur hidup pun tak akan pernah cukup untuknya dan Eunhyuk.

“Nasi buatanku memang tidak enak, tapi tolong jangan menganiaya mereka seperti ini, Yoo,” Hyori menyuapkan sesendok nasi putih ke dalam mulutnya.

Jiyoo menyentakkan sendoknya ke samping piring. “Apa kau tidak takut?”

“Takut apa?” tanya Hyori santai.

“Mereka.. akan pulang empat hari lagi, apa kau tidak takut kesepian lagi kalau tidak ada Kyuhyun?” Jiyoo bertanya dengan nada tinggi; sarat dengan keputusasaan.

Hyori mengunyah nasinya pelan. “Mm.. tapi mereka akan pulang lagi, kan? Memang menyebalkan, tapi kurasa tidak ada yang perlu yang ditakutkan, Yoo.”

Jiyoo menundukkan kepala. Pandangannya tertuju pada butiran nasi dalam piringnya. Kedua mata nakalnya melirik jari manis yang diikat cincin indah. Seseorang yang memberikan benda ini akan segera pergi lagi dan Jiyoo belum siap.

Ia tak akan pernah siap, sebenarnya. Jiyoo, jutaan kali tak pernah rela membiarkan lelaki itu pergi lagi.

“Kurasa ada hal lain yang kau khawatirkan, benar tidak?” Hyori meneliti wajah Jiyoo, memeriksanya dari ujung kening hingga ke dagu.

“Tidak ada, hanya.. lupakan saja,” sahut Jiyoo sambil mengibas-ibaskan tangan. Ia mendorong kursinya ke belakang. “Aku ada praktikum pagi ini. Sampai jumpa nanti malam.”

Hyori hanya mengikuti gerakan gadis dengan rambut ekor kuda itu melalui ekor matanya. Ia mengerutkan kening saat melihat piring Jiyoo. Nasinya berantakan, jelas. Tapi Hyori tahu nasi itu tak berkurang sesendok pun. “CHOI JIYOO! Sarapan–” Hyori berteriak begitu pintu dorm tertutup rapat. “..mu.”

—-

Suasana riuh dalam kelas tanpa dosen tak membuat Jiyoo menghentikan lamunannya. Sambil menopang dagu dengan salah satu tangannya, Jiyoo kembali memandangi taman kampusnya yang bersih dari salju. Ia tergoda untuk duduk di salah satu bangku taman, mengabaikan tugas yang tertulis di papan.

Tak butuh waktu lama bagi Jiyoo untuk mengemasi alat tulisnya, bangkit berdiri meninggalkan meja lalu berakhir di taman sesuai dengan keinginannya tadi.

Gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada tanggal hari ini.

Hembusan napas berat meluncur dari bibirnya. Empat hari dari sekarang, lelaki itu akan kembali jauh darinya. Jiyoo merasa perasaan takut dan tak relanya ini agak berlebihan. Entah kenapa, ia harus merasa seperti ini setelah jutaan kali ditinggalkan lelaki itu.

“Tapi setiap kali dia pergi, dia selalu kembali tepat waktu,” gumamnya pelan.

Tak peduli sejauh dan selama Eunhyuk pergi, Jiyoo akan tahu ada waktu yang jelas bagi lelaki itu untuk kembali. Jiyoo menelan ludah. Saat itu berbeda dengan sekarang. Saat tak ada kepastian tentang kapan Eunhyuk akan pulang lagi, setumpuk rasa takut membebani kepalanya.

“Kalau dia tidak kembali, memangnya kau bisa mati?” pertanyaan itu mengusik indera pendengaran Jiyoo. Gadis itu mendongak dan menemukan Kang Minhyuk bersandar di batang pohon.

“Bisa saja,” sahut Jiyoo asal.

“Tidak bisa. Hidupmu terlalu berharga untuk dihapuskan begitu saja,” Minhyuk berkomentar. Lelaki itu melangkah perlahan, pelan-pelan menempatkan tubuhnya di samping Jiyoo. “Kapan dia akan kembali? Ke Paris, maksudku.”

Jiyoo mengerucutkan bibir, tak suka dengan gaya bicara Minhyuk. Ucapan lelaki berambut pendek tadi seolah-olah Eunhyuk memang harus pulang ke sana, dan bukan ke Seoul. Padahal sudah jelas Lee Hyukjae itu akan selamanya menjadi warga Korea Selatan.

“Empat hari lagi,” walaupun enggan, gadis itu tetap menjawabnya.

“Begitu?” Minhyuk mengangguk-angguk sembari meluruskan kakinya. Wajah lelaki itu tampak santai. “Kalau begitu, pilih satu hari untuk menghabiskan waktumu denganku.”

Jiyoo menoleh dengan cepat, terlalu cepat hingga mungkin orang yang melihat akan mengira lehernya patah. “Naega wae? Aku tidak punya alasan untuk menghabiskan waktu denganmu, apalagi di hari-hari Eunhyuk ada di Seoul.”

“Anggap saja kau sedang membersihkan pikiranmu,” lelaki itu tersenyum miring. “Aku lelah mendengarmu menyebut namanya.”

Ya! Kang Minhyuk! Ini sudah melanggar batas, kan?” Jiyoo menyipitkan mata lalu bangkit dari tempatnya. Sebuah tangan menarik lengannya, memaksanya untuk kembali duduk. “Lepaskan tanganmu!”

“Hanya satu hari. Anggap saja ajakan seorang teman,” ujarnya.

Napas Jiyoo memburu, pikirannya buntu ketika diserang dengan pembicaraan tak masuk akal seperti ini. “Kalau begitu, anggap saja aku bukan temanmu.”

Wae? Apa kau takut hatimu goyah? Aku tidak punya niat buruk, kalau memang ikatan kalian sekuat itu, kenapa harus takut untuk menghabiskan waktu yang hanya sehari denganku?” sudut bibir Minhyuk membentuk senyuman.

“Aku tidak takut, aku hanya tidak punya alasan untuk melakukan itu,” sergah Jiyoo.

Jiyoo memerhatikan wajah Minhyuk. Wajah itu diukir dengan garis wajah tegas dan ekspresi yang selalu tenang. Ketenangan itu justru menakuti Jiyoo sekarang.

“Mau kuberi tahu sesuatu yang bisa membuatmu berubah pikiran?” Minhyuk tersenyum, tanpa menghilangkan aura tenang dalam dirinya. “Eunhyuk hyung pernah berkencan dengan Song Eunhee, trainee dari manajemen kami, apa kau tahu?”

Ini pertama kalinya Jiyoo mendengar kabar itu –setidaknya ini yang pertama baginya mendengar nama gadis itu. Jiyoo tahu soal kencan Eunhyuk sebelum dengannya. Lelaki itu tak menutupi apapun darinya, tapi Jiyoo lah yang menutup telinga saat Eunhyuk ingin bercerita.

Bagi Jiyoo, lebih baik ia tak tahu secara rinci. Baginya, lebih baik ia bersembunyi seperti pengecut daripada harus mengetahui semua itu.

Jiyoo mengangguk pelan. “Lalu?”

“Wah, kau pintar menyembunyikan kegugupanmu,” puji Minhyuk. Lelaki itu mengeluarkan ponsel. “Apa kau tahu Eunhyuk hyung dan Eunhee akan bertemu besok?”

Seperti menelan batu raksasa, tenggorokan Jiyoo tercekat. Tanpa melihat cermin, ia tahu wajahnya pucat seperti mayat hidup. Ia tak tahu apapun soal ini, ia bahkan tak tahu apa Eunhyuk sudah berusaha menjelaskan ini atau setidaknya mencoba menanyakan pendapatnya.

Jiyoo mendadak tersesat dalam perasaannya pada Eunhyuk.

“Sepertinya kau tidak tahu,” Minhyuk mengangguk-angguk, tertarik dengan reaksi Jiyoo. “Kalau begitu, mau memastikannya sambil berkencan denganku?”

Y-ya! Untuk apa kau memberitahuku soal ini?” tanya gadis itu. Lagi-lagi ia merutuk pada suaranya yang bergetar. Untuk alasan yang tak jelas, Jiyoo menggigil.

“Untuk apa ya..? Hanya ingin tahu sampai di mana ikatan itu akan bertahan,” Minhyuk berdiri dari bangku. Lelaki itu menyentuh pipi Jiyoo dengan tangan kanannya. “Lagipula, aku tertarik padamu, Choi Jiyoo.”

Jiyoo menjauhkan wajahnya dari Minhyuk. Setelah lelaki itu meninggalkannya, Jiyoo sama sekali tak merasa tenang. Dadanya sesak, seluruh tubuhnya mendadak terasa dililit seekor ular raksasa. Ular besar itu siap melilitnya hingga ia mati kehabisan napas.

“Choi Jiyoo! Bernapas!” perintahnya. Jiyoo menepuk-nepuk dadanya yang masih terasa sesak. “Kau tidak seharusnya mendengarkan orang itu!”

Gadis itu memandang layar ponselnya yang hitam. Jiyoo ragu sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan apapun.

—-

SJ’s dorm – 3 PM

“Eunhee?” ulang Kyuhyun. “Maksudmu Song Eunhee noona? Song Eunhee yang itu?”

Eunhyuk mengangguk, setengah jengah karena Kyuhyun mengulang-ulang pertanyaannya. “Ada berapa Song Eunhee yang kau kenal, Cho Kyuhyun?”

“Tapi untuk apa menemuinya?” Kyuhyun menautkan kening, bingung.

Sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa, Eunhyuk memandangi ponsel dalam genggamannya. Masih terlihat e-mail dari Song Eunhee yang baru saja diterimanya. Gadis itu meminta bertemu untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar meninggalkan Korea Selatan.

“Hanya minta bertemu untuk terakhir kalinya,” jawab Eunhyuk.

“Karena itu, Lee Hyukjae yang pintar, untuk apa? Memangnya dia mau ke mana?” Kyuhyun menggeletakkan PSPnya di atas meja. Lelaki itu mengambil segelas air mineral sebelum duduk berseberangan dengan Eunhyuk.

Eunhyuk mengangkat bahu. “Kudengar dia akan mengambil pekerjaan jurnalistik di Inggris.. atau London? Yang jelas, Eropa.”

Cih~ aku harus bertanya pada Jiyoo kenapa dia mau menikah denganmu,” gumam Kyuhyun. “Inggris dan London, apa bedanya? Kalau Eropa, bagaimana kalau dia datang ke Paris? Ah, lagipula untuk apa menemui mantan kekasihmu kalau ada calon istrimu di sini? Kau cari mati ya?”

Sambil mengerutkan kening, Eunhyuk memiringkan kepala. “Kenapa kau sangat perhatian padaku? Apa kau salah minum obat?”

“Bukan padamu, pada Jiyoo. Hyung, aku akan memanggilmu Hyung satu kali ini saja, gadis kecil itu tidak pernah berhenti menyukaimu, jadi jangan melakukan hal bodoh,” Kyuhyun menenggak habis air dalam gelasnya.

Eunhyuk mengerutkan kening dan berpikir. Waktunya hanya empat hari di Seoul. “Ya! Kalau Jiyoo mengijinkan, bukankah tidak apa-apa?”

“Benar, tidak apa-apa,” sahut Kyuhyun. “Tapi kalau Jiyoo tidak mengijinkan, apa kau mau untuk tidak pergi? Aku bisa membaca pikiranmu, kalau kau bilang pada Jiyoo dan minta ijinnya, diijinkan atau tidak, kau akan tetap pergi.”

“Kalau begitu–“

“Tidak mau minta ijin Jiyoo? Lebih parah lagi,” Kyuhyun bergumam datar. “Jawab aku, apa Song Eunhee ini benar-benar penting? Apa dia lebih penting dari perasaan Jiyoo?”

Eunhyuk tak tahu jawaban yang pertama, tapi ia tahu pasti jawaban untuk pertanyaan yang kedua. “Tidak ada yang lebih penting dari Yoo, dan perasaannya.”

Kyuhyun menghembuskan napas lega lalu berkomentar, “Masalah selesai.”

—-

Yoo’s dorm

“Song Eun.. nugu?” ulang Hyori. Gadis itu berusaha mengingat nama yang baru saja disebutkan Jiyoo. “Song Eunhee? Siapa dia?”

Jiyoo memilin-milin ujung bantal cokelatnya. “Mantan kekasih Poo, mungkin.”

“Mungkin?” Hyori mengulang lagi. “Ya! Choi Jiyoo, tidak bisakah kau memberiku penjelasan yang lengkap dan benar? Jangan berputar-putar, langsung saja!” gerutunya. “Jadi, Kang Minhyuk sudah jelas bukan orang baik, dia mengajakmu berkencan terang-terangan, dan memberitahumu soal mantan kekasih Poo. Lalu?”

“Apanya yang lalu? Aku tidak tahu bagaimana kelanjutannya,” Jiyoo mengangkat bahu.

Cih~ kau yang punya masalah, kenapa aku yang tidak tenang? Lalu apa yang akan kaulakukan? Menurutmu, Poo benar-benar akan bertemu dengan gadis itu? Besok?” tanya Hyori.

Jiyoo berusaha tersenyum kemudian menggeleng. “Tidak mungkin. Memangnya dia tipe pria seperti itu? Menurutku, Lee Hyukjae tidak akan kemana-mana besok. Song Eunhee atau siapapun namanya, dia tidak akan bertemu dengan Poo.”

“Bagus kalau begitu,” ujar Hyori. Gadis itu menarik napas. “Kau juga tidak boleh tergoda dengan Kang Minhyuk itu, dengar?”

“Aku.. sudah tidak punya alasan yang baik untuk tetap berhubungan dengannya,” Jiyoo berkata jujur. Kali ini, ia benar-benar merasa ketakutan pada lelaki itu. Hanya saja, tak bisa disangkal, ia sendiri penasaran dengan ucapan Kang Minhyuk.

..Hanya ingin tahu sampai di mana ikatan itu akan bertahan..

Jiyoo mengerutkan kening. Ikatan?

Ya! Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dengan mereka? Poo dan Bebek,” usul Hyori. “Daripada mengkhawatirkan di mana Poo besok, bukankah lebih baik membuatnya ada di dekatmu?”

Seulas senyum kecil melintas di wajah Jiyoo. Gadis itu mengeluarkan ponsel dan mulai menelepon. Senyumannya bertambah lebar begitu Eunhyuk menjawab panggilannya. “Poo, Hyori punya resep kue baru, bagaimana kalau besok kau dan Kyuhyun– Eh?… Begitu? Tidak apa-apa. Mm, kkeunho.”

Hyori melebarkan kedua bola matanya. “Bagaimana?”

“Dia.. ada urusan, di SM,” sahut Jiyoo lemas. Melihat wajah Jiyoo yang berubah abu-abu, Hyori langsung menepuk punggungnya. “Ya! Shin Hyori!”

“Jangan murung begitu, gadis bodoh,” seru Hyori. Ia meletakkan segelas air mineral dingin yang baru dituangnya dari botol besar di lemari es. “Setidaknya besok dia tidak akan pergi bersama Song Eunhee, mungkin dia akan berkencan dengan Lee Sooman atau Kim Youngmin.”

Jiyoo mendengus kecil. “Lucu sekali, Shin Hyori.”

“Kuanggap itu pujian,” gadis yang lebih mungil dari Jiyoo itu mengangkat bahu santai kemudian menghilang di ujung koridor dapur. Seiring menjauhnya Hyori dari sampingnya, Jiyoo merasa aura nyaman yang tadi dirasakannya ikut menjauh.

Ucapan Kang Minhyuk kembali menggema dalam kepalanya. Ikatan. Jiyoo berpikir, sekuat apa ikatannya dengan Lee Hyukjae?

—-

Kyuhyun melirik Eunhyuk yang menjejalkan ponsel kembali ke saku celananya. Dengan gerakan pelan, lelaki itu melangkah mendekat ke arah Eunhyuk. Kyuhyun tak tahu apa yang baru saja dilakukan Eunhyuk, tapi ia merasa itu sesuatu yang salah.

“Kau berbohong, kan?” tegurnya. “Pada Jiyoo?”

“Aku memang akan pergi ke SM besok,” Eunhyuk mengangkat bahu.

“Lalu setelah itu bertemu dengan Song Eunhee? Lee Hyukjae, sebenarnya ada apa denganmu? Kukira kau tidak akan melakukan hal sekonyol ini. Selama satu tahun hubungan kalian, kukira Lee Hyukjae tidak akan berbuat hal seperti ini,” gumam Kyuhyun.

Eunhyuk menarik napas panjang, seolah marmer raksasa baru saja menimpanya. “Aku.. agak terganggu dengan Kang Minhyuk.”

“Wah, kukira kau tipe pria yang bisa bersikap tenang walaupun muncul orang ketiga. Tapi apa kaupikir tindakanmu menjauh dari Jiyoo, membohonginya, dan bertemu dengan mantan kekasihmu itu tindakan yang benar?” tanya Kyuhyun. Lelaki itu meloloskan helaan napasnya yang tertahan, “Kalau menurutku, itu bukan alasan untuk bertingkah seperti ini.”

“Darimana kau belajar menasihati orang?” sahut Eunhyuk.

“Darimana lagi? Tentu saja gadis cerewet Shin itu,” Kyuhyun bergumam. Lelaki itu berbalik memunggungi Eunhyuk. “Ah, kalau terjadi masalah nanti, jangan minta bantuanku. Hyori akan berpihak pada Jiyoo, dan aku, secara otomatis akan ditarik menjadi sekutu mereka.”

Eunhyuk mengernyitkan alis. “Aku tahu.”

—-

Yoo’s dorm – the next morning

Choi Jiyoo menarik selimutnya hingga ke ujung dagu. Sesekali, gadis itu akan menutupi seluruh wajahnya dengan selimut. Cuaca pagi ini sama sekali tak bersahabat dengannya.

Jiyoo benci pagi dingin yang lengkap dengan paket salju. Ia suka salju, tapi tidak di pagi hari seperti ini.

Cuaca pagi yang membekukan tulang seperti ini sama sekali bukan favoritnya. Jiyoo meraih ponsel di samping bantalnya. Pukul enam tiga puluh, tapi ia sudah tak berniat untuk kembali tidur. Cuaca ini membunuh napsu tidurnya.

“Yoo,” suara ketukan pintu terdengar bersamaan dengan suara Hyori. Gadis itu masuk ke kamar Jiyoo bahkan sebelum Jiyoo sadar Hyori lah yang memanggilnya.

Jiyoo mengerang dari dalam selimut lalu duduk di ranjangnya. “Apa?”

“Ada… Kang Minhyuk di depan,” jawaban Hyori secara otomatis menyadarkan setiap sendi tubuh Jiyoo. Gadis itu membelalakkan matanya ke arah Hyori. Hyori langsung mengelak, “Jangan tanya aku, aku tidak tahu apa-apa.”

“Bilang saja aku tidak mau menemuinya,” sahut Jiyoo dengan suara seraknya.

“Benar, kau pikir aku bisa melakukan itu?” Hyori menolak. “Temui saja sebentar, setelah itu kau bisa mengusirnya dan aku akan membantu dari belakang.”

Tch~ yang benar saja, Shin Hyori,” Jiyoo menurunkan kedua kakinya dan menyentuh lantai kamarnya yang dingin. “Aku akan siap-siap, suruh dia menunggu, atau yang lebih baik lagi, suruh dia menunggu di luar.”

Hyori tertawa geli mendengar gurauan Jiyoo. “Aku akan mencoba saranmu yang terakhir.”

Suara pintu tertutup membuat Jiyoo kembali mengerang. Ia bertanya-tanya, dosa apa yang dilakukannya di kehidupan sebelumnya sampai seseorang datang sepagi ini untuk merusak kedamaian tidurnya.

Jiyoo berhenti berpikir konyol. Gadis itu menyeret langkahnya dengan sangat pelan ke arah kamar mandi. Dengan tekad bulat, ia memutuskan akan menghabiskan satu sampai dua jam di kamar mandi.

Rencana itu seharusnya sempurna, tapi nyatanya tidak.

Jiyoo berhasil menghabiskan waktu dua jam lima belas menit dalam kamar mandi dan kamarnya. Ia melangkah ringan menuju ruang tengah, dengan harapan Kang Minhyuk tak ada lagi di dormnya. Jiyoo mengakui, sebagian besar harapannya memang tak terwujud, tapi setidaknya tak bisakah harapannya yang satu ini terjadi?

Kang Minhyuk menyambutnya dengan senyuman saat melihat Jiyoo bergerak lincah. “Selamat.. eum, pagi? Atau siang?”

“Ehm.. ya, terserah,” ucap Jiyoo dengan nada putus asa. Ia menyipitkan mata, “Untuk apa kau ke sini? Apa harus kutegaskan kalau aku tidak mau jadi temanmu lagi?”

Minhyuk mengerutkan kening. “Sepertinya kau sangat marah soal kemarin, bukan begitu?”

“Menurutmu?” Jiyoo menjawab dengan pertanyaan. “Dengar, Kang Minhyuk-ssi, aku sama sekali tidak berminat dengan tawaran atau ajakanmu kemarin, tapi–“

“Kalau begitu, seharusnya aku tidak bertanya ya? Apa.. seharusnya aku langsung memaksamu?” potong Minhyuk. “Kau sudah tahu ke mana mereka akan pergi hari ini?”

Jiyoo mengerutkan kening. “Mereka?”

“Lee Hyukjae dan Song Eunhee,” jawab Minhyuk.

“Aku tidak ingin tahu,” sekuat tenaga Jiyoo mengeluarkan jawaban itu.

“Kau sangat takut ucapanku itu bukan sekedar kebohongan ya? Atau.. kau memang takut untuk menghabiskan satu hari denganku dan jatuh cinta padaku?” gurauan Minhyuk jelas bukan sesuatu yang menghibur bagi Jiyoo.

Jiyoo merasakan sensasi yang sama; dililit ular raksasa yang membuatnya sesak napas. Gadis itu menggigit bibir, “Joha! Lakukan sesukamu!”

—-

Amore Café – 9:15 AM

“Sudah lama sekali sejak kita pertama kali ke sini,” suara Song Eunhee bergema di telinga Eunhyuk. Gadis yang lebih tua dua tahun darinya itu tak berbeda sejak tiga tahun lalu.

Eunhyuk mengaduk-aduk vanilla latte di hadapannya. “Mm.”

Tempat mereka bertemu adalah sebuah café mungil. Tak ada banyak meja di dalamnya sementara pelayannya bisa dihitung dengan jari. Beberapa pelayan memandangi Eunhyuk yang memakai kacamata berbingkai tebal.

“Apa kau tidak ingin menanyakan kabarku?” tanya Eunhee singkat. Pertanyaan sederhana itu berhasil membuat Eunhyuk mendongak. “Aku akan segera terbang ke Eropa, tapi kau sama sekali tidak bertanya tentang itu.”

“Apa itu penting? Noona, aku tidak punya banyak waktu hari ini,” ujarnya. “Jadi, kalau ada yang mau Noona katakan, katakan saja–“

“Aku akan ke Paris, menyusulmu,” potong Eunhee.

“Apa maksud Noona?” Eunhyuk berhenti mengaduk minumannya.

Eunhee tersenyum kecil. Bukan kemenangan besar, tapi tetap saja ia berhasil menarik perhatian Eunhyuk. “Pekerjaan baruku.. di Paris. Apa kau sudah punya kekasih?”

“Tentu saja. Apa itu cukup untuk menjelaskan jawabanku?” ujarnya. Eunhyuk bisa melihat wajah Jiyoo dan cincin putih yang dikenakannya di jari manis gadis itu. “Kalau maksud Noona sekarang hanya ingin membuatku bingung, lupakan saja. Noona tahu aku bukan laki-laki yang mudah menyerah, kan?”

“Aku tahu,” sahut Eunhee. “Aku tidak ingin mengganggu hubunganmu dengan gadis itu. Aku.. hanya ingin memberitahu, kau akan sering bertemu denganku di Paris.”

Eunhyuk mendengus walaupun bibirnya tersenyum. “Terima kasih atas pemberitahuannya.”

Eunhee baru saja akan membuka mulutnya saat ponsel Eunhyuk bergetar. Lelaki itu mengangkat telapak tangannya, meminta Eunhee berhenti. Raut wajah Eunhyuk terlihat bingung sejenak, tapi ia menempelkan ponselnya ke telinga kirinya juga.

“Yoo?” panggilnya. “Aku? Aku sedang di dekat kantor, sebentar lagi aku pulang. Wae?”

—-

“Tidak, tidak apa-apa. Kkeunho,” Jiyoo menurunkan ponsel dari telinga. Pandangannya masih tertuju pada seorang lelaki yang duduk di salah satu sudut café, berhadapan dengan seorang gadis berambut panjang. Eunhyuk berbohong. Sebagian jantung Jiyoo seolah mati rasa.

Minhyuk melipat tangannya di depan dada. “Hanya itu? Kau tidak mau masuk?”

“Kang Minhyuk,” panggilnya. Jiyoo mendongak untuk melihat wajah lelaki itu lebih jelas. “Soljikhi marhaebwa, apa maksudmu?”

“Ada permainan yang sedang ingin kumainkan, J,” Minhyuk memandang gadis di depannya dengan intens. “Menghancurkan ikatan. Bukankah itu menarik? Aku tidak suka melihat laki-laki itu memamerkan ikatan kalian. Kurasa aku bisa membuat ikatan yang lebih baik.. denganmu.”

“Berhenti bermain-main! Kau anggap apa perasaan–“

“Choi Jiyoo,” potongnya. “Tidak ada sesuatu bernama perasaan di dunia ini. Hal itu baru saja kaubuktikan, kan? Menurutmu kenapa Eunhyuk hyung tidak berkata jujur padamu? Bukankah itu artinya perasaanmu tidak ada artinya?”

Jiyoo menahan air matanya yang sudah di sudut mata. “Y-ya!”

Minhyuk tersenyum lembut lalu menarik Jiyoo ke dalam pelukannya. Jiyoo tak bisa bernapas dalam dekapan lelaki itu. Lengan Minhyuk begitu kuat melingkari tubuh Jiyoo. Terlalu kuat hingga Jiyoo tak bisa lagi menahan tangisannya sendiri.

“Aku ingin jadi temanmu, perlahan-lahan membuat ikatan yang lebih kuat denganmu,” bisik Minhyuk. Helaan napas lelaki itu terasa sejuk di leher Jiyoo. “Tidak masalah, aku tahu kau tidak pernah menganggapku jahat, karena aku memang tidak jahat, J.”

Jiyoo menelan ludah, memaksa rasa kebingungannya masuk kembali ke dalam pikirannya. “Hanya teman.. Aku menantangmu, Kang Minhyuk.”

“Menantangku?”

“Tetap jadi temanku dan lihat dari jauh, kami.. aku dan Hyukjae, tidak selemah itu,” Jiyoo mendorong tubuh Minhyuk menjauh.

Minhyuk mengamati wajah Jiyoo. Bekas air mata masih terlihat di sudut matanya. Gadis itu serius dengan kata-katanya. “Kau harus takut untuk kalah, J.”

“Aku.. tahu di mana batas kemampuanku,” ucap Jiyoo. “Aku tidak akan kalah.”

—-

Eunhyuk merogoh kunci pintu dorm dalam saku sebelum menyadari pintu itu tak terkunci. Lelaki itu mengintip sejenak lalu memutuskan untuk masuk begitu saja. Dengan melepaskan alas kakinya dan berganti dengan sandal lembut, Eunhyuk menyusuri ruang tengah.

Lelaki itu tersenyum kecil melihat Jiyoo duduk membelakanginya di kursi makan. Hyori dan Kyuhyun sedang berdebat di dapur sementara Jiyoo hanya menonton pasangan itu. Eunhyuk mengendap lalu memeluk bahu gadis itu dari belakang.

“Kau tidak bilang akan ke sini, Yoo,” bisiknya lembut.

Jiyoo menempelkan dagunya ke lengan Eunhyuk. “Hyori yang mengajakku, kukira kau ada di sini, tapi kau.. tidak ada.”

“Mm.. ada urusan di kantor,” Eunhyuk berbisik pelan sebelum melepaskan rangkulannya. Lelaki itu menarik kursi dan menempatkannya di samping Jiyoo.

“Hanya.. itu?” tanya Jiyoo. Jantungnya kembali berdetak tak terkendali.

Eunhyuk meraih sebuah apel di atas meja makan. Setelah menggigitnya satu kali, ia mengangguk-angguk. “Hanya itu,” ujarnya. “Ah, aku juga bertemu dengan seorang Noona tadi.”

Jiyoo tersenyum kecil. Setidaknya lelaki itu tak benar-benar berbohong padanya. “Noona?”

“Mantan kekasihku,” ujar Eunhyuk pelan. Ia memandangi wajah Jiyoo, mencoba membaca pikiran gadis itu. “Kau tidak–“

“Tidak,” potong Jiyoo. Senyumnya masih terkembang. “Tidak perlu cerita lebih banyak, aku tidak akan bertanya lagi.”

Eunhyuk tersenyum nakal sebelum mengangkat tangannya untuk memilah poni Jiyoo. Lelaki itu mencondongkan tubuh ke depan dan mencium kening gadisnya. “Aku tahu.”

Ciuman lembut itu menyisakan rasa hangat yang mendera seluruh tubuh Jiyoo. Eunhyuk tak berbohong –bahkan tidak berusaha melakukannya. Jiyoo lega. Tak ada yang perlu diragukan lagi olehnya, permainan Minhyuk ini konyol.

“Kang Minhyuk itu..” ucapan Eunhyuk tertahan. “Bisa tidak, jangan terlalu dekat dengannya?”

Jiyoo mengerutkan kening. Apa lelaki itu bisa membaca pikirannya saat ini?

“Aku tidak nyaman dengan orang itu, kurasa dia bukan orang baik,” Eunhyuk menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal. “Aku tidak menuduhnya sebagai orang jahat, hanya saja..”

“Poo,” panggilnya. “Kau janji tidak akan melarangku berteman dengan siapa pun, kan?”

Eunhyuk mengerang frustasi. “Siapa pun boleh, asal jangan Kang Minhyuk.”

“Lee Hyukjae, kaupikir aku mudah tergoda dengan lelaki tampan ya?” goda Jiyoo.

“Memang,” Hyori menyahut dari dapur. “Shim Changmin, GDragon, Choi Minho, eumm.. siapa lagi?”

Jiyoo berseru nyaring. “Ya! SHIN HYORI!” Gadis itu kembali memandang Eunhyuk sambil menghela napas panjang, “Jangan dengarkan dia, dia sakit jiwa belakangan ini.”

“Sejak dulu,” tambah Kyuhyun. Lelaki itu langsung meringis kesakitan saat sebuah pengaduk kayu mendarat di pundaknya. “Sakit, HYO!”

Hyori hanya bergerak lincah lalu bersenandung. “Lalala~”

Sebuah napas berat diloloskan Eunhyuk. “Jadi..?”

“Apa?”

“Jadi kau tetap akan berteman dengan Kang Minhyuk itu?” jelas Eunhyuk.

Jiyoo mengalihkan pandangan ke piring kosong di hadapannya. Pikirannya menggumamkan banyak jawaban di kepalanya, tapi Jiyoo tak yakin jawaban mana yang harus dipilihnya. Gadis itu memaksakan sebuah senyuman kecil, “Hanya teman..”

“Aku mengerti. Hanya teman,” ulang Eunhyuk. Tangannya meraih tangan dingin Jiyoo. “Aku percaya padamu, Nyonya Lee.”

Jiyoo mendengus geli mendengar panggilan itu. Ia memalingkan wajah, tak ingin rona merah di pipinya terlihat oleh Eunhyuk. Sepertinya, sampai kapan pun, ia tak akan pernah terbiasa dengan panggilan itu.

Cincin dalam jari manisnya berdenyut seolah benda itu mengikuti debaran jantung Jiyoo. Gadis itu melirik cincinnya dan tersenyum. Ikatan ini memang kuat.

—-

Yoo’s dorm – the next day

“HARI TERAKHIR?” seruan Jiyoo membahana di seisi dorm.

Hyori baru saja mendapat telepon dari Kyuhyun. Lelaki itu berkata liburan mereka di Seoul akan berakhir lebih cepat dari rencana. Cho Kyuhyun dan Lee Hyukjae akan kembali hari ini, lebih cepat sehari dari rencana awal mereka.

Wajah Hyori terlihat murung. Gadis itu menunduk lemas, “Mm.”

“Lalu bagaimana? Aku belum siap! Aku belum.. ARRGHH!” Jiyoo menjambak rambutnya frustasi. Ia menggigit bibir bawahnya dan merasa seakan-akan sebuah lemari besi menimpa tubuhnya. Mendadak saja, ia ingin menangis.

Jiyoo memang tak akan pernah siap jika lelaki itu pergi lagi, tapi setidaknya saat perpisahan itu, ia bisa mengatur ekspresi wajahnya sendiri.

Ia bisa mengatur aliran air matanya yang mungkin jatuh.

“Pesawatnya nanti malam, jadi mungkin kita bisa.. bersama mereka sampai malam,” usul Hyori ini bukan usul terbaik saat ini, tapi hanya ini ide yang terlintas di kepalanya.

“Karena itu, kami di sini sekarang,” Jiyoo dan Hyori menoleh ke arah pintu masuk. Lee Hyukjae berdiri di sana, mengenakan mantel cokelat dan kacamata beningnya.

Jiyoo memandangi lelaki itu dalam diam. Kakinya seolah menempel di lantai. Ia tak bisa bergerak atau berlari atau menghambur ke pelukan lelaki itu. Lemari besi tadi masih menindih tubuhnya.

Wae~? Tidak suka melihatku di sini?” tanya Eunhyuk. Lelaki itu melepaskan sepatunya dan berjalan mendekat ke arah Jiyoo. “Kenapa?”

“Aku..” gumaman Jiyoo tak bisa diselesaikan. Eunhyuk memberikan rasa hangat di sekeliling tubuh Jiyoo melalui pelukannya. Gadis itu tak membalas pelukan Eunhyuk; Jiyoo benar-benar membeku.

Kyuhyun melangkah dan menempatkan dirinya di belakang Hyori. “Apa kau tidak bisa menunjukkan kesedihan seperti Yoo?”

“Maaf mengecewakanmu, aku memang tidak ekspresif,” Hyori mendengus. Gadis itu menoleh ke belakang. “Tapi aku tidak akan memaafkanmu kalau kau tidak cepat kembali!”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Siap, Madam.” Lelaki itu tampak terkejut saat Hyori melingkarkan lengan ke pinggangnya. “Dasar..” Kyuhyun bergumam sambil tersenyum kecil.

—-

Jaaa~ kira-kira apa yang bisa kita lakukan?” seru Eunhyuk. Ia mengangkat telapak tangannya untuk menghalau sinar matahari. “Cuacanya bagus.”

Jiyoo memandangi wajah Eunhyuk dari samping. Kulit putih lelaki itu kelihatan bersinar saat cahaya matahari menerpanya. Eunhyuk memang bukan vampire, tapi Jiyoo tak bisa mendeskripsikan betapa memesonanya lelaki itu; lelakinya.

Taman kecil di dekat dorm menjadi tempat kencan mereka. Matahari terik musim dingin menawarkan rasa nyaman semua orang yang kedinginan. Tak ada salju hari ini, menandakan musim dingin akan segera berakhir.

Entah kenapa, perginya musim dingin juga membawa pergi semangat Jiyoo pagi ini.

Sebuah pohon besar menaungi mobil Eunhyuk. Keduanya hanya duduk diam. Tak satu pun dari mereka berani membuka mulut. Keduanya tampak menggumamkan sebuah harapan. Harapan yang sama.

Semoga waktu berhenti selamanya.

“Eii~ jangan menunjukkan wajah seperti itu padaku, membuatku merasa bersalah, Yoo,” gumam Eunhyuk setengah bercanda.

Jiyoo mengangkat wajahnya. “Aku.. berpikir, seandainya kau tidak berlibur ke sini, apa hatiku akan tetap terasa sesakit ini? Seandainya kau kembali ke sini tanpa harus meninggalkan kota ini lagi–“

“Jadi kau tidak suka aku meluangkan waktu untuk berlibur?” goda Eunhyuk.

“Tidak, hanya..” gadis itu menutupi wajah dengan kedua tangannya. “Aku hanya.. seandainya kau akan tetap di sini, semuanya pasti.. sempurna!”

Eunhyuk membelai puncak kepala Jiyoo. “Semuanya akan tetap sempurna.”

Jiyoo ingin membantah. Bagaimana bisa semuanya sempurna tanpa lelaki itu di sampingnya? Bagi Jiyoo, hidup sempurna adalah bisa melihat lelaki itu setiap saat. Hidup sempurnanya adalah alunan merdu suara lelaki itu. Hidup sempurnanya adalah Lee Hyukjae.

Selama Eunhyuk berada di Paris, Jiyoo tak merasa sekecewa ini. Mungkin, ketika lelaki itu pulang, walaupun hanya sebentar, Jiyoo jadi makin tak rela melepasnya.

“Kau tidak mau menangis untukku?” sela Eunhyuk. Bibirnya membentuk lengkungan senyuman lembut kesukaan Jiyoo.

“Apa aku perlu mengantar ke bandara?” Jiyoo tak menjawab pertanyaan Eunhyuk. Gadis itu tak berniat menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.

“Mm.. kalau kau mau ikut terbang, itu lebih baik,” Eunhyuk tersenyum nakal.

Jiyoo menelan ludah. Tiba-tiba saja hatinya terasa mengecil. Betapa ia menyukai senyuman lelaki itu. Ia mengusap pipi Eunhyuk lembut, merasakan garis wajah lelakinya. Betapa ia mengagumi sensasi aneh yang membanjirinya ketika ia menyentuh lelaki itu.

Sekarang, ia tak bisa membayangkan betapa buruk suasana hatinya saat jauh dari Lee Hyukjae.

“Lee.. Hyukjae,” panggil Jiyoo. Eunhyuk menoleh dan tak sempat menutup mata saat Jiyoo menarik kerah mantelnya. Bibir gadis itu terasa dingin di bibirnya. Tangan kanan Jiyoo menarik kerah Eunhyuk sementara tangannya yang lain menempel di pipi lelaki itu.

Eunhyuk tersenyum lalu menutup kedua matanya. Bibir Jiyoo dingin, lembut, dan manis. Inilah salah satu hal yang tak bisa ditinggalkan Eunhyuk di Seoul.

Lelaki itu membuka mata saat merasakan sesuatu yang basah menuruni wajah gadisnya. Jiyoo melepaskan ciumannya dan cepat-cepat berpaling dari Eunhyuk. Pundak gadis itu naik-turun. Eunhyuk tersenyum lemah.

“Lee Hyukjae,” suara Jiyoo berubah agak parau. Gadis itu berbalik dan menatap Eunhyuk lekat-lekat. “Cepat kembali!”

================TBC================

Another long chapter~ ^-^;
Minhyuk & Song Eunhee, tokoh baru.😉

75 thoughts on “Purple & You [Empat]

  1. first? eng ing eeeeeng😀
    panjaaaaaaang sukaaaa tp lbh suka lg klo lbh panjaaaaang buahaha XDD
    deg2an mbaaak. kata2 diatas ada pisahnya, ak kira bakal pisah gara2 pihak ketigaaa TT~TT
    minhyuk sm eunhee bener2 deh yaa gk bsa diem, minta diinjek! nyebelin! euw :e
    sudah dlu ah, emosi gara2 mereka mbak /ngilang

  2. kang minhyuk jadi jahaaaat, oh no. penjahat tampan pastinya.
    aduuh yoo dan poo ,
    rada aneh pas yoo manggil poo “lee hyuk jae”
    ikut ke paris lebih baik kayaknya yoo :p

  3. kak shela, aku langsung galau nih bacanya TT-TT minhyuk apa-apaan sih dia._. Sini-sini ganggu ikatanku sama dongho aja(?) ahya, ciecieee jiyoo udah mulai berani cium2 eunhyuk awaw :3 debarannya kemana tuh? Gasabar nunggu chapter selanjutnya ;A;

  4. *emot murka*
    kirain chapter ini udah pu *uhuk* tus *uhuk*

    kya~ kang minhyuk ;A; kenapa dirimu jadi nyebelin gini nak~ *masukin karung. bawa pulang*
    hasil kegalauan ni yeee~ :p
    gimana kalo sambil nnton WG, #eh *brb* kabur

    um :3
    kyuhyo……………………………………………………….. *guling2*

  5. haduuh itu song eunhee sama minhyuk emg janjian mau bikin putus ikatan orang apa emg minhyuk yg emg suka mata-matain orang ? *digerek minhyuk*
    tp mau brusaha sekeras apapun minhyuk, ttp aja yoo dapet feelingnya cuman sama enyuk :3
    apa belum ?😄
    well, we’ll see . hahaa . jd penasaran sama karakter bad-boy minhyuk .
    yoo hwaitiiing !!! ><)//

  6. sayang eunhyukkkkkk *pelukkkkk*

    Astaga rasanya ikutan narik nafas waktu Eunhyuk ngaku dia ketemu mantannya. -akibat dari tadi pagi baca FF yang rata” entah kenapa cast SJnya menggalau-

    Ditunggu lanjutannya chingu. Gomawoo

  7. yaaakk ! kang minhyuk ! anda keterlaluan ya ! terang teragan mau ngerusak hubungan jiyoo eunhyuk. aisshhh udah gregetan pas hyuk boong sama yoo , tapi see , pada akhirnya dia jujur kan. kau beruntung yoo ahaha

  8. Prasaan Kang minhyuk g da muka jahat”nya,tp kenapa d sini sadis bener??hhhhhh

    akhhhh….ikt ngegalau d tinggal poo:-(
    sabar yoo,sabar it si poonya kan udah d rante,g bakal lepas dieh…..wkwkwkw

  9. akh……….ntah knpa aku pengen jihuk putus trus hyuk agak merana gitu trus yoo asik2an ama minhyuk trussssss…..apalagi ya???? hahahahaha

    ditunggu kabar perpisahannya…antara paris en korea mayan jauh lohhh..jadi mending putus aja hahahah *kompor*

    kyu,,,,,plis deh ga usah pake alasan hyori otomatis ngajak dia jadi sekutu buat ngedukung jiyoo biolang aja situ fansnya jiyoo wakakakakak *diemut*

  10. kang mihyuk minta d cipok tuh!!! Dia anggap maenan tuh ikatan poo dan yoo,,,
    Ck ck ck

    Fighting yoo jgn tergoda!! Gk mw liat poo ngamuk kan… Hehe
    Dan hyuk suka gayanya dh yg bersikap jujur sm yoo…
    Ah so sweet!!

  11. Huweeee ngebayangin adegan kissing scene nya jihyuk malah bikin deg2an wkwkwk
    kang minhyuk frontal bgt sih kalo mau ngancurin hubungannya poo dan yoo. Ish!
    Ayoo choi jiyoo semangat! Jgn terpengaruh sm kata2nya si minhyuk😉
    aku rasa si eunhee itu kerja sama sm minhyuk buat ngancurin ikatannya poo&yoo *sotoy*

  12. huaaa
    makin kesini makin complicated
    aa ada song eunhee lagi
    masa ia dia sama2 d paris dgn eunhyuk
    aa minhyuk mana ngejar jiyoo terang2an
    aa gk bsa dbiarkan
    makin galau ini

  13. kya,,,kang minhyuk…boleh ga aku nyulik kamu biar ga jadi orang k3???
    wah aku pengen banget nyulik nih makhluk imut n tinggi dari tuh kampus biar ga ganggu poyo ini…ckckckkc
    segitu senangnya kah kau jadi orang k3??
    wah,,,aku padamu hyuk,,terima kasih dah mw jadi cow jujur buat aku!!lah serasa jadi jiyoo??wkwkkw
    what??aduh pusing aku sekarang nambah ada orang ke4 si noona??pake bilang mw nyusul ketempat hyuk??aduh2,,,tambah pusing deh…
    kren thor,,ditunggu kelanjutannya…fighting!!!

  14. sumpah,, saya ngesave ni cerita udah dari awal publish,,
    tapi saya bacanya lelet, soalnya degdegser gimana gitu..

    Apalagi pas minhyuk ngajak yoo liatin eunhyuk, takut pas udah baca part itu, bawahnya mereka putus..

    Dan untungnya mereka gak putus,, beneran deh ini cerita dari awal bikin saya galau, makannya, bacanya juga sedikit sedikit biar gak jantungan,, hahahaha

    aigoo.. Minhyuk ngegemesin disini, tapi ga tega buat nendangnya, lebih enak buat dipeluk sih.. Hahaahha..

    Lega akhirnya hyuknya mau ngaku ketemu sama noona noona jelek.. Hehehehehe…

    Ah,, gak sabar baca part selanjutnya nih,, hehehehe

    • Nyehehehe~ saya berharap saudari akan membayangkan jihyuk putus. xD
      Ciyeeee.. ada yang galaaaaauu. Entah kenapa aku suka bahagia kalo ada yang galau gara-gara cerita ini.. :3

      Peluuuukk ajah minhyuknyaaahh. xD Ato anda mau meluk eunhyuk? silakaaaaaaann~
      Makasihh syuda baca yaa~ ;D

  15. bingung mau komen apa…
    sedih iya, galau pst..

    sebel ma kang minhyuk..
    spt’y song eunhee jd pihak ketiga jg yah..🙂

    suka ma adegan perpisahan’y..
    pengen’y sih jiyoo ikut jg k paris, spt’y gak mungkin yah…😦

  16. Minhyuk…..!!!!! Berhenti gangguin hub.nya Yoo ama Poo.

    Mending gangguin hubungan aku aja ama Eunhyuk (Eunhyuk ama Poo sama aja kan ?)

    huaaaaaT.T pasti si Eunhee ada hub.nya ama Minhyuk. Kok Si Minhyuk tahu segalanya……. Apa punya indera ke6 ?? #plak

    Minhyuk. Drummer CN BLUE yang tampan nan rupawan. Daripada ama Jiyoo yang cuma milik Eunhyuk. Mending ama kakakku aja. Hahaha:D

    ceritanya bagus+mengejutkan. Semuanya serba gak disangka-sangka. Gak disangka Kyu ama Hyuk mesti balik ke paris. Gak disangka Si Hyuk jujur ama Yoo tentang Hyuk bertemu kmbli mantan.nya dan yg gak paling disangka adalah si yoo nyium hyuk tiba-tiba. Huaaaaaaa cemburu butaaaa nih #nangisdipojokan

  17. Hwaaaaaaaa…sediiiiih…
    Ati gw berasa diremes2 dah bacanya..(-̩̩̩-͡ ̗̊–̩̩̩͡ )Ɨƚʊ̈̇ђυ͡_Ɨƚʊ̈̇ђυ͡(-̩̩̩-͡ ̗–̩̩̩͡ )
    Daebak ni thor!! Feel nya dpt bgt…kian hari kian ok tulisannya…˚☺k˚‎​​​​°ºoĸế(y) (-͡. •͡)
    Ga sabar sama lanjutannya..
    Fighting!!!

  18. ga mempan…. untunglah….
    ahhhh 22’y bakal dapet cobaan yg sama sepertinya….
    emm,,, yoo-poo tambah so sweet aja ya… ^^

  19. suka ff yang panjang hehehe *ketawa evil* iiih minhyuk nyebelin maksa-maksa yoo. kok onnie mau sih temenan sm minhyuk? dia jahaaat *yeaa ditabok*
    udah susul aja ke paris onn, sebelum terlambat!! aku baru sadar kalo disini yoo sm poo makin unyuuu gak kayak biasanya yoo-nya suka marah2 kayak di lovabook, tp gapapa asiiik ngebayangin orang2 pacaran haaaaaaaaaa jadi malu yeaa🙂

    • karena minhyuk imut, sayang~ makanya onnie mau temenan ama dia. xD
      nyehehehe~ soalnya disini kan pacaran, jadi mesti unyu2 najis gimana gituuu. :3
      onnie demen bikin cerita orang pacaran. xD
      makasihh syuda baca yaa~ ;D

  20. Panjang~😄 asekkk.. Hahahha..
    Plig suka bgian minhyuk sm jiyoo agk gmna gtu, kkk~😄 aaaa~ semoga jiyoo ga kegoda sm minhyuk hahhah . Kykny bakal rumit nih si jiyoo di seoul sm minhyuk si hyuk sm noona di pariss~ kkk.

    loncat next partt umma~😄

  21. sukaaaa, sukaaa, sukaaa xD
    minhyuk it*getok kepala minhyuk*
    blak2.an sekali dia kalo mw ngambil jiyoo dri hyuk
    ckck, jihyuk, cnta kalian it kuat, jgan sampe goyah*apaantoh*
    bca part slanjutnya.aaa x)

  22. Eheeeeemm~~ tolong ya yoo, tolong itu minhyuk sm eunhee nya diawetin aja di musium, jgn dikeluarin lg… Merusak jalan cerita aja nih… Lol… XDD
    NO minhyuk or eunhee, Poo only for Yoo…. (^⌣^)♉

  23. aaaaaaaaaaa endingnya romantis bgt :’) ky di bbf waktu jan di nyium jun pyo..manis bgt eonni..well aku geregetan bgt sama eunhee..knp dia jg hrs keparis?! Smakin mendukung konflik..tp neomu joahae!!

  24. Mungkin dengan ada’a tu tokoh baru buat mencoba seberapa kuat ikatan hubungan yoo n poo msih bisa bertahan gga? Coz yoo di goda ma minhyuk lah si poo di goda ma eunhee ckck tokoh antagonis!!?

    Next..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s