Purple & You [Tiga]

 ***

Saat kau tersenyum dan menyambut uluran tanganku, kau tidak tahu bagaimana rasanya..
Saat kau tersenyum dan mengangguk, kau tidak akan tahu bagaimana rasanya..
Saat kau tersenyum dan memelukku, kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya..

Aku tidak ingin kau tahu bagaimana rasanya..

Jika kau bertanya bagaimana rasanya,
Aku akan menjawab, aku sangat bahagia hingga aku bersedia mati saat itu juga..
Aku akan menjawab, aku sangat menginginkanmu lebih dari apapun di dunia ini..

Aku akan menjawab, aku selalu mencintaimu..

===============================

Tiga

Eunhyuk melepaskan sepatunya dan buru-buru menggantinya dengan sandal lembut berwarna putih. Lelaki itu melenggang masuk ke dapur, mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Tenggorokannya terasa kering; bukan karena udara dingin di luar.

Tenggorokannya kering karena semua yang telah dilakukannya hari ini.

Eunhyuk memandangi gelas kaca yang sudah kosong. Ia bisa melihat sedikit pantulan wajahnya di sana dan tiba-tiba ia merasa tak percaya. Eunhyuk baru saja melamar Jiyoo.

Lengkungan senyum lebar terpatri di wajah lelahnya. Cincin yang dibelinya pada hari pertama ia tiba di Seoul sudah berpindah tangan. Cincin itu tersemat sempurna di jemari Jiyoo. Membayangkan benda itu melingkar di jemari gadisnya membuat Eunhyuk tersipu.

“Sudah pulang?” tegur Kyuhyun. Lelaki itu baru saja keluar dari kamar dan sedang bersandar di dinding.

Eunhyuk mengangguk seraya meletakkan gelasnya di atas meja. “Tidak menghabiskan waktu bersama Hyori?” tanyanya.

“Aku seharian ada di dormnya. Aku sudah mencatat jadwal kuliah Jiyoo, jadi aku tahu kapan aku bisa menghabiskan waktu di tempat mereka tanpa Jiyoo,” sahut Kyuhyun bangga. “Lain kali, pakailah cara pintar sepertiku, jangan cuma mencatat jadwal kuliah Jiyoo.”

“Aku mencatat jadwalnya supaya aku tahu kapan dia bisa menemaniku,” Eunhyuk mengangkat bahu.

Kyuhyun menambahkan, “Tapi setiap kau ke dorm mereka bukankah selalu ada Hyori di sana? Tidak cerdas~”

“Ya! Maksudmu, hyungmu ini bodoh?” seru Eunhyuk.

“Tidak,” selanya. “Hanya tidak pintar.”

Eunhyuk menggerutu, “Sama saja.”

“Hei, apa kau tahu belakangan ini Jiyoo sering bersama dengan Kang Minhyuk? Kalau kau tidak tahu siapa itu Kang Minhyuk, dia itu drummer CN Blue, seseorang yang lebih muda dari Jonghyun,” ujar Kyuhyun.

“Kang Minhyuk?” gumamnya. Eunhyuk terdiam beberapa saat kemudian berseru, “Ah, aku bertemu dengannya di kampus Jiyoo.”

Kyuhyun mengerutkan kening. “Benarkah? Aku tidak tahu Jiyoo akrab dengannya.”

“Ya! Untuk apa kau harus tahu Jiyoo akrab dengan siapa?” hardik Eunhyuk nyaring.

“Cih~ bukan begitu,” Kyuhyun menahan senyum, senang melihat reaksi Eunhyuk. “Aku hanya terkejut saat Hyo cerita soal itu. Minhyuk sering bertamu ke dorm mereka untuk menemui Jiyoo, Hyo juga bilang kalau Jiyoo sering ditelepon orang itu. Setahuku, sebelum ini Jiyoo atau Hyori tidak pernah membahas Kang Minhyuk.”

Eunhyuk berpikir sejenak. Tadi siang ia memang merasakan sesuatu mengganggunya, yang berhubungan dengan Kang Minhyuk. Ia belum pernah melihat Jiyoo berjalan berdampingan dengan lelaki lain selain dirinya; dan beberapa membernya.

“Hanya senior di kampusnya,” akhirnya kalimat itu yang terlontar.

“Yah.. mudah-mudahan saja begitu,” Kyuhyun mengangkat bahu lalu menyeret kakinya masuk kembali ke kamar.

Eunhyuk menjatuhkan diri ke sofa empuk dorm. Kepalanya disandarkan ke bantalan sofa hingga pandangannya bisa terarah ke langit-langit. Seharusnya masalah Kang Minhyuk ini tidak mengganggunya –tidak mengganggunya separah ini, tapi otaknya menolak mengabaikan sosok lelaki itu.

“Kang Minhyuk..” gumamnya. “Siapa dia?”

—–

Shin Hyori memutar bola mata, jengah. Sudah sepuluh menit Choi Jiyoo menari-nari di depannya sambil memamerkan benda berkilauan di jemarinya. Kalau saja ada sendok perak atau sumpit besi di dekatnya, Hyori pasti sudah melemparkan benda itu ke arah Jiyoo dan menyuruhnya duduk manis di kursi.

Hyori berkata, “Choi Jiyoo, kau mau duduk atau tidak?”

“Duduk, duduk,” jawab Jiyoo sekenanya. Ia bilang akan duduk, tapi kakinya masih bergerak kesana-kemari mengitari Hyori yang duduk di sofa.

“Ya, Choi Jiyoo-ssi, jangan memintaku mengulangnya,” ancam Hyori. Seperti biasanya, ancaman itu berhasil. Jiyoo langsung beringsut duduk di sampingnya. “Jaa~ ceritakan sekarang.”

Jiyoo menoleh cepat kemudian tersenyum bangga. “Dia melamarku di pantai, di tengah salju dan pasir. Pokoknya indaaaaaah~~~”

“Aku tidak akan meragukan soal itu,” Hyori mengibas-ibaskan tangannya. Kemudian ia menopangkan dagunya. “Aku penasaran.. apa hubunganmu dengan Kang Minhyuk? Kalian tidak seperti teman, dia tidak terlihat seperti seorang senior kampus. Apa.. sebelum Poo melamarmu, kau sedang berusaha berselingkuh dengan orang itu?”

Dengan menyipitkan mata dan mendengus kecil, Jiyoo berkata, “Memangnya aku sebodoh itu? Kalau aku mau berselingkuh, untuk apa kubiarkan kau melihat perselingkuhanku secara langsung? Aku sangat paham kau akan selalu ada di pihak Poo.”

“Tapi orang itu mencurigakan,” gumam Hyori.

“Orang itu namanya Kang Minhyuk,” ralat Jiyoo cepat. “Kenapa semua orang lupa pada namanya sih?”

Hyori menyela, “Bukan lupa, hanya tidak nyaman mengucapkan nama itu. Aku punya firasat jelek tentang dia. Apa kau tidak merasakannya?”

“Merasakan apa?” Jiyoo pura-pura sibuk membetulkan letak bantal-bantal sofa. Ia bukannya tak tahu perasaan yang dimaksud Hyori, tapi Jiyoo rasa ia bisa mengabaikan perasaan tak nyaman itu. Ia tak ingin menjadi apapun, kecuali teman yang baik untuk semua orang; termasuk Minhyuk.

“Seperti perasaan.. curiga?” tanya Hyori, tak yakin dengan pilihan katanya sendiri.

“Tidak,” sahut Jiyoo singkat. Sedikit, ralat Jiyoo dalam hati.

Hyori mengerutkan kening sambil mengamati wajah Jiyoo. Gadis itu kemudian mengangkat bahu santai, “Yah.. mungkin aku dan bebek yang berlebihan.”

“Kyuhyun ke sini?” Jiyoo bertanya sekaligus untuk mengubah topik pembicaraan.

“Mm,” Hyori menyahut sekenanya, berusaha menunjukkan sikap siapa-itu-cho-kyuhyun. “Kenapa?”

Jiyoo menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa. Akhirnya kau bisa bertemu dengannya ya.”

“Apa maksudnya?” tanya Hyori. Ia melihat cengiran yang selalu dipamerkan Jiyoo. “Jangan berpikir yang aneh-aneh ya!”

“Tidak aneh~” Jiyoo berseru. Gadis itu bangkit dari sofa dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi. “Kalau kau bahagia, tunjukkan saja.”

Hyori merengut. “Siapa yang–“

“Kau!” Jiyoo masih menyahut dengan suara nyaring.

Hyori masih mengomel tak jelas dan tak sulit bagi Jiyoo untuk mengabaikannya. Gadis itu menyalakan kran air hingga tak bisa mendengar apapun dari luar. Tangannya menyentuh air, memain-mainkannya sambil menunggu bath-tube terisi penuh.

Pandangannya tertumbuk pada jemarinya sendiri. Sebuah cincin melingkar di sana, berpendar sempurna seolah menuntut agar terus dilihat. Jiyoo merasakan kedua pipinya memanas.

Cincin itu adalah pengikatnya; pengikat mereka. Jiyoo mendengar talu-talu suara jantungnya. Memikirkan soal ikatan, pernikahan, dan sebagainya membuat kedua kaki Jiyoo lemas. Ia duduk di pinggiran bath-tube marmer dan memegangi pipinya sendiri.

Jiyoo mengatur helaan napasnya yang memburu. “Menikah.. dengan Lee Hyukjae.”

—–

The next day

Udara dingin memenuhi jalan-jalan kota. Semua orang berjalan sambil mengeratkan mantel dan menutupi wajahnya yang memerah karena terlalu lama berada di luar. Salju sudah berhenti turun, tapi sepertinya udara dingin enggan pergi ke mana pun.

Lee Hyukjae meringkuk di ranjangnya, sama sekali tak ingin berurusan dengan udara dingin pagi hari. Lelaki itu menutupi hampir seluruh tubuh dan wajahnya dengan selimut tebal. Tirai di kamarnya pun masih tertutup, tak ingin sinar matahari mengusiknya.

Tidur panjangnya agak terganggu saat ia mendengar suara berisik yang sepertinya dari dapur. Ia mengerang pelan, “Cho Kyuhyun..”

“Sepertinya dia lebih suka aku yang ada di dekatnya sekarang,” Eunhyuk mengerutkan kening dengan mata terpejam. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Kyuhyun. Lelaki itu ada di kamarnya, pikir Eunhyuk.

Eunhyuk mengabaikan suara Kyuhyun. Ia bahkan sama sekali tak berniat untuk membuka kedua matanya. Sambil bergerak-gerak pelan, Eunhyuk menutupi wajahnya dengan bantal.
“Kau bisa pergi dan meninggalkan dia denganku,” ucap Kyuhyun lagi. Eunhyuk bertanya-tanya, dengan siapa anak itu bicara. “Yoo..” sambungnya.

“Ah.. ya sudah,” suara gadis itu seperti lonceng dengan denting jernih yang berhasil membuat kesadaran Eunhyuk terisi penuh.

“YOO!” ia menyibakkan selimut dan berseru nyaring.

“Oh, bangun?” Kyuhyun bertanya dengan nada aneh. “Kukira kau sedang hibernasi.”

Jiyoo menyela cepat, “Memangnya dia beruang?”

“Bukan, dia itu monyet,” sahut Kyuhyun ringan. Lelaki itu terkena lemparan bantal dari Eunhyuk tepat di punggungnya.

“Monyet tidak hibernasi, bodoh!” umpat Eunhyuk. Setelah Kyuhyun menutup pintu kamar, Eunhyuk memandangi Jiyoo kaku. “Sedang apa?”

Jiyoo meletakkan tas tangannya di atas lemari kecil yang terbuat dari kayu. “Mengunjungi calon suamiku.”

Eunhyuk tertawa, menyembunyikan rasa senangnya yang meluap-luap. Ia tak beranjak dari ranjang. Kedua matanya hanya mengekor setiap gerakan Jiyoo. Ia bisa melihat gadis itu melangkah ke samping ranjangnya dan menyibakkan tirai biru muda yang masih tertutup sempurna.

“Kau tahu tidak ini sudah jam berapa?” sindir Jiyoo. Mata Eunhyuk sedikit menyipit ketika terkena sinar matahari.

“Yang jelas sekarang sudah pagi,” Eunhyuk mengangkat bahu, tak mau repot-repot mencari jawaban yang benar. “Jadi, sedang apa di sini, Choi Jiyoo-nim?”

Jiyoo duduk di atas ranjang. Kepalanya menghadap ke balkon dan kedua matanya memandangi salju yang belum mencair di jalan. “Aku hanya.. Ng, menghabiskan waktuku bersamamu?”

“Jawaban macam apa itu?” alis Eunhyuk terangkat sebelah. Dengan gerakan lembut, lelaki itu merangkul pinggang Jiyoo dari belakang, membuat gadis itu bersandar di dada bidangnya. “Katakan, ada apa?”

“Tidak ada,” jawab Jiyoo lagi.

“Choi Jiyoo,” Eunhyuk memanggil dengan nada tegas.

“Hh.. karena waktumu hanya sampai minggu depan, kupikir aku harus mengukir banyak kenangan sebelum kau meninggalkanku lagi,” sahut Jiyoo.

Eunhyuk mengangguk-anggukan kepala. Gadisnya jujur kali ini. Lelaki itu menempelkan dagunya ke pundak Jiyoo. “Begitu?”

Jiyoo mengangguk tanpa suara. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menghindar dari air matanya sendiri. Bukan ini rencana awalnya. Jiyoo berangkat ke dorm Eunhyuk pagi ini bukan untuk menangis dan memikirkan apa yang akan terjadi minggu depan. Ia berada di kamar Eunhyuk sepagi ini untuk menghabiskan hari ini bersama lelaki itu.

Jiyoo di sini untuk menghabiskan waktu bersama calon suaminya.

Calon suami memang kata yang tepat untuk menghindari topik sedihnya pagi ini. Jiyoo langsung merasa kedua pipinya terbakar. Ia merona hanya dengan memikirkan kata itu. Ia beruntung Eunhyuk sedang tak melihat wajahnya yang memerah.

Gadis itu berusaha keras meredakan debaran jantungnya. Eunhyuk sendiri sama sekali tak membantu. Lelaki itu mengecup lembut pundak dan leher belakang Jiyoo. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadisnya di pagi hari.

“Wangi sekali,” gumam lelaki itu. Hidungnya kembali menyusuri kulit putih Jiyoo sebelum ia melonggarkan pelukannya di pinggang gadisnya. “Sebaiknya kuhentikan saja.”

Jiyoo membalikkan badan dan menatap Eunhyuk heran. “Eh?”

“Jantungmu itu mau meledak, Yoo,” Eunhyuk menahan tawa. “Rasanya debaran jantungmu itu menembus jantungku.”

“Jangan berlebihan!” Jiyoo berdeham salah tingkah. “Ehm.. memangnya debaran jantungku sekuat itu?”

Kali ini Eunhyuk tertawa keras-keras. Ia tersenyum miring saat memandangi wajah Jiyoo. “Kau ini polos sekali, Yoo. Apa benar usiamu hampir 20 tahun? Bukannya masih 16 tahun?”

“Yaaa~!” rajuknya.

“Sepertinya kau harus sering olah raga, jantungmu itu lemah sekali,” ledek Eunhyuk lagi.

Jiyoo mengerucutkan bibir. “Aku bukan maniak olah raga sepertimu. Lari sebentar saja, napas dan jantungku pasti berlomba sendiri. Tapi aku juga tidak selemah itu–“

“Kau sangat lemah,” potong Eunhyuk. Tangan kirinya memeluk pinggang Jiyoo sementara tangan kanannya merengkuh wajah gadis itu.

Jiyoo nyaris kehilangan kesadaran dengan sentuhan yang mendarat di bibirnya. Telapak tangannya menempel di dada kiri Eunhyuk. Jantung lelaki itu juga berdegup dengan cepat, sedikit lebih lambat daripada jantungnya sendiri.

Dengan mata terpejam, Jiyoo ingin mendengus. Harus ia akui, ia kalah dalam hal jantung ini, tapi sepertinya Eunhyuk terlalu senang karena dengan kemenangannya. Jiyoo bisa merasakan sudut bibir Eunhyuk terangkat dan membentuk senyuman kecil.

“Kalah, kan?” goda Eunhyuk setelah ia melepaskan sentuhannya.

Jiyoo memalingkan wajah, menghindari kontak mata dengan lelaki itu. “Laki-laki memang begitu ya? Dalam urusan seperti ini selalu tak mau kalah?”

“Sudah kubilang kau kurang olah raga,” gumamnya. “Atau kau mau olah raga seperti tadi setiap hari?”

Mata Jiyoo melebar karena terkejut. Ia menempelkan tangannya di atas jantungnya, merasakan debaran yang masih belum normal di sana. “Tidak perlu!”

“Ayo turun dan buatkan aku sesuatu untuk dimakan,” pinta Eunhyuk. Lelaki itu beringsut turun dari ranjang dan mengulurkan tangannya ke arah Jiyoo.

Jiyoo terpaku pada tangan yang terbuka di depannya. Tangan itu begitu besar, begitu hangat dan kuat. Ia menggigit bibir sebelum tersenyum menyambut uluran tangan Eunhyuk. Tak perlu diragukan lagi, tangan itu bisa melindunginya mulai sekarang.

Sekarang dan selamanya, karena tangan itu sudah menjadi miliknya sejak kemarin.

—-

Jiyoo dan Eunhyuk menuruni tangga dan melangkah santai menuju dapur. Keduanya masih bergandengan tangan. Seolah direkatkan dengan lem super kuat, keduanya tak bosan untuk saling menggenggam dan mengeratkan genggaman masing-masing.

Gadis itu membuka pintu lemari es dan mengerutkan kening saat tak menemukan apapun di dalamnya. Ia berbalik ke arah Eunhyuk. “Apa yang bisa kita makan?”

“Tidak ada apapun?” tanya lelaki itu. Melihat Jiyoo menggeleng putus asa, Eunhyuk menutup kembali pintu lemari es dan membimbing Jiyoo ke ruang tengah. Ia menarik Jiyoo duduk di sampingnya. “Belanja?”

Jiyoo balas menatap Eunhyuk. Gadis itu mengerutkan kening. “Aku sedang tidak mau kemana-mana, Poo..”

“Ya sudah, kau di sini saja bersamaku,” Eunhyuk tersenyum lebar.

“Tapi kau harus sarapan, Poo~” rajuk Jiyoo.

Eunhyuk tampak berpikir sejenak sebelum melirik Kyuhyun yang memunggungi mereka. Jiyoo menautkan alis, tak mengerti. Tapi kemudian, Kyuhyun berseru, “Aku tidak mau belanja di tengah cuaca badai seperti ini.”

“Berlebihan. Ini hanya salju, bukan badai,” gumam Jiyoo. “Dwaesseo, kita bisa belanja berdua, Poo.”

Sambil menghela napas panjang, Eunhyuk menyahut, “Di luar dingin sekali, Yoo~”

“Hh.. ada apa dengan semua laki-laki di dorm ini? Semuanya takut salju?” Jiyoo mengekspresikan rasa takjubnya.

“Bercanda,” ujar Eunhyuk sambil menarik tangan gadisnya untuk berdiri. “Kau mau tunggu di sini atau ikut aku ganti baju?”

Jiyoo melotot kemudian menepis pegangan Eunhyuk. “Cepat!”

Eunhyuk tersenyum lebar sebelum berbalik meninggalkan Jiyoo. Kedua matanya sempat melirik cincin berkilau yang terpasang di jemari gadis itu. Tak bisa disangkal, Eunhyuk bangga sudah menyematkan benda itu di tempat yang tepat.

Sambil mengangkat bahu, Kyuhyun menyahut, “Yoo! Cincin itu pasti imitasi!”

“Eh?” Jiyoo memandangi cincinnya lalu memandang Eunhyuk. Gadis itu menahan tawa saat tahu Eunhyuk sedang menatap cincin di jari manisnya.

“Ya! Cho Kyuhyun!” seru Eunhyuk.

“Palsu pun tidak apa-apa,” Jiyoo tersenyum kecil. Sambil menggigit bibir bawahnya, gadis itu membiarkan jantungnya bertingkah lagi. “Selama si pemberi cincin ini adalah dia, aku tidak akan mempermasalahkan apapun.”

Kyuhyun mendengus pelan. “Selama kalian tidak berciuman di depanku, kurasa aku juga tidak akan mempermasalahkan apapun.”

—-

Deretan sayur dan buah-buahan yang disimpan di kotak pendingin mulai membuat Eunhyuk memijat pelipisnya. Cuaca bersalju di luar sudah cukup dingin dan ia tak mau semakin merendahkan suhu tubuhnya gara-gara ini. Lelaki itu melirik gadis bermantel hitam di sampingnya kemudian menghela napas panjang.

Semua gadis tak pernah lepas dari kebiasaan ini; belanja. Bahkan di tengah cuaca dingin dan bersalju, Eunhyuk yakin Jiyoo tetap sanggup berdiri di depan kotak pendingin buah dan sayuran ini.

“Yoo,” panggilnya. “Apa kita akan tetap di sini sampai kita membeku?”

Jiyoo berbalik dan mendapati Eunhyuk meniup-niup telapak tangannya yang kedinginan. “Rasanya cuaca hari ini tidak sedingin itu, Poo.”

“Memang,” aku Eunhyuk. Ia menunjuk kotak pendingin di depannya. “Tapi karena kita berdiri di depan benda ini, sepertinya pemanas ruangan seperti apapun tidak bisa menahan proses pembekuan darah kita.”

“Ha?” Jiyoo mengerutkan kening. Gadis itu meraih tangan kiri Eunhyuk lalu menjejalkannya ke dalam saku mantelnya yang besar. “Hangat tidak?”

“Seandainya kita sedang syuting drama atau film, aku pasti akan menjawab seperti yang kau harapkan, tapi berhubung kita sama sekali tidak terikat kontrak dengan sutradara mana pun, aku akan menjawab aku kedinginan,” sahut Eunhyuk. Lelaki itu menggigil dengan gaya berlebihan.

Jiyoo merengut. Ia menarik tangan Eunhyuk, berusaha mengeluarkan tangan lelaki itu dari mantelnya. “Ya sudah!”

“Eii~ kau ini sensitif sekali. Memangnya udara dingin tidak membantumu agar cepat dingin juga?” gurau lelaki itu. Eunhyuk meraih tangan gadisnya kali ini. Tangan itu begitu kecil dibandingkan dengan tangannya sendiri. Lelaki itu menggenggamnya erat lalu memasukkan tangannya dan tangan Jiyoo ke dalam saku mantelnya.

“Ya! Aku tidak bisa belanja dengan benar kalau begini,” Jiyoo menggerutu.

“Ya sudah, tidak usah belanja kalau begitu,” sahut Eunhyuk ringan. Lelaki itu menarik Jiyoo mendekat ke tubuhnya, membuat keduanya berjalan berdampingan dengan dekat. “Hangat, kan?”

Jiyoo mendengus dan tertawa kecil. “Bukan aku yang mengomel gara-gara kedinginan.”

“Mau masak apa hari ini?” tanya Eunhyuk. Tangan kanannya memegang keranjang plastik sementara tangan kirinya masih tenggelam dalam saku bersama sebuah tangan lain.

“Mm.. nasi goreng kimchi?” Jiyoo memandangi plastik-plastik kimchi ukuran sedang lalu menatap Eunhyuk.

“Sudah kuduga,” lelaki itu memutar bola matanya. “Kalau kau sudah menjadi Nyonya Lee, aku tidak akan mengijinkan ada makanan itu di rumah.”

Jiyoo merajuk, “Waaaaeee~?”

“Setahun lebih aku bersamamu, setiap kau memasak pasti hanya itu yang bisa kau masak dengan baik, Choi Jiyoo-yang,” gumam Eunhyuk. Ia merasakan lirikan tajam gadisnya, tapi cukup mudah untuk mengabaikan itu.

“Arasseo! Pergi saja ke tempat gadis yang bisa memasak makanan lain untukmu,” Jiyoo menarik tangan kanannya dari mantel Eunhyuk. Ia berjalan lebih cepat, mengacuhkan lelaki yang mulai mempercepat langkah dan menyusulnya.

Eunhyuk berkomentar sebelum menggenggam tangan Jiyoo lagi. “Wah.. musim dingin tidak selalu dingin untukmu ya.”

“Aku tidak akan pernah menjadi dingin kalau orang yang bicara padaku juga tidak berhati hangat,” sahut Jiyoo. Ia menghentikan langkahnya di depan etalase yang menjual daging. “Serius, Poo, aku harus masak apa untukmu?”

“Nasi goreng kimchi?” Eunhyuk tersenyum lebar.

Jiyoo tak bisa menahan senyumnya. Tangannya membelai pipi lelaki itu lembut. “Pintar sekali membuat orang senang..”

“Yah.. tidak juga, aku hanya pintar membuat Choi Jiyoo senang,” ralatnya. Eunhyuk memasukkan beberapa butir telur dalam keranjangnya. “Tapi ini terakhir kalinya kau boleh memasak itu untukku.”

Gadis itu kembali mengerang. “Lee Hyukjae..”

“Sebagai Choi Jiyoo, ini yang terakhir,” sambung lelaki itu. “Aku ingin mencoba nasi goreng kimchi buatan Lee Jiyoo secepatnya.”

Jiyoo menggigit bibirnya lalu menundukkan kepala. Kedua pipinya terasa panas. Ia bisa membayangkan wajahnya yang bersemu merah. Gadis itu berdeham, “Ehm.. kita cari bahan pelengkap yang lain. Kaja~”

“Ya!” seru Eunhyuk. “Aku sudah lengkap, olehmu.”

—-

“Waa~ kue beras!” Jiyoo menahan lengan Eunhyuk ketika keduanya melangkah menuju mobil. “Poo, tidak mau makan kue beras hangat?”

Eunhyuk menggeleng. “Aku sudah kedinginan, tidak ada napsu untuk makan itu. Ayo pulang~”

“Sebentar,” gadis itu melepaskan rangkulannya. Ia berlari kecil ke tempat penjual kue beras. Jiyoo memilih kue beras dengan saus pedas dalam sebuah cangkir plastik kecil. Tangannya sudah memegang cangkir plastik saat kembali ke samping Eunhyuk. “Mau?”

Eunhyuk memutar bola mata. Ia mendengus geli. “Kita habiskan dulu kue berasmu ini.”

“Joha!” gadis itu memekik senang. Langkahnya terdengar santai dan teratur sementara Eunhyuk berjalan di belakangnya dengan satu tangan memegang tas belanja mereka.

Jiyoo melambai-lambaikan tangan saat menemukan sebuah bangku panjang bercat biru. Gadis bermantel itu meraih tangan Eunhyuk. Sebuah pohon besar menaungi keduanya dari salju yang turun perlahan. Meskipun begitu, Eunhyuk masih saja kedinginan.

“Jangan bilang kau hanya mau melihat salju, Choi Jiyoo-ssi,” tegur Eunhyuk. Kedua matanya memerhatikan wajah berbinar Jiyoo. Ia mendengus dalam hati. Benar, gadis itu bukan ingin menghabiskan kue berasnya. Gadis itu sedang menikmati salju yang turun di musim dingin tahun ini.

“Mau?” dengan mengabaikan dugaan Eunhyuk, tangan Jiyoo terulur dengan sesendok kue beras.

“Tch,” Eunhyuk tersenyum. Ia merebut sendok dari tangan Jiyoo dan berbalik mengarahkannya pada gadis itu. “Bilang ‘Oppa’~~~”

Jiyoo mengerutkan kening. “Oppa–mmp-Ya!” Sesendok kue beras pedas berhasil masuk ke mulutnya. Ia mengerang, “Lee Hyukjae!”

“Aku sedang menyuapimu supaya makanan ini cepat habis, Yoo,” lelaki itu tertawa sambil menunjukkan huruf V dengan salah satu tangannya. Matanya menyipit ketika melihat sedikit saus menempel di sudut bibir Jiyoo. “Apa sausnya enak?” tanyanya.

Lagi-lagi Jiyoo mengerutkan kening. Walaupun bingung, gadis itu tetap menganggukkan kepala.

Eunhyuk bergerak cepat. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Jiyoo, yang masih terkejut, tak bergerak saat bibir Eunhyuk menyapu sudut bibirnya. Dalam keterkejutannya, Jiyoo bahkan bisa merasakan lelaki itu tersenyum –lagi- di tengah ciuman mereka.

“Y-ya!” seru Jiyoo. Ia memeriksa sekeliling, terlalu takut seandainya ada yang melihat keduanya. “Kau ini–“

“Aku mencicipi sausnya,” Eunhyuk menyela. “Kau bilang sausnya enak, kan? Kebetulan di bibirmu ada sedikit saus, jadi apa salahnya kucicipi?”

“Ya~! Ayo pulang!” Jiyoo mengerang. Ia menjejalkan sesendok kue beras secara paksa ke mulut Eunhyuk. Dengan cepat, gadis itu meraih kunci mobil Eunhyuk dan beranjak meninggalkannya. Jiyoo merasa pipinya memerah –dan itu bukan karena dingin. Ia tak ingin lelaki itu senang membuatnya merona berkali-kali hari ini.

Choi Jiyoo merona karena tingkah Lee Hyukjae.

Eunhyuk mengunyah kue beras dalam mulutnya cepat-cepat. Lelaki itu tersenyum nakal saat mendapati Jiyoo sudah duduk di samping kursi pengemudi. “Wah, sausnya memang enak.”

“Sudahlah! Magnaemu menunggu di dorm,” ujarnya. Jiyoo memaki dirinya sendiri karena suaranya yang bergetar.

“Hh..” Eunhyuk menarik napas sambil menyalakan mesin mobilnya. “Justru yang lebih mengkhawatirkan itu jantungmu. Apa kau yakin kau tidak perlu olahraga?”

Jiyoo menoleh, menatap lelaki itu dengan tajam kemudian mendengus, “Diam kau!”

—-

SJ’s dorm

Eunhyuk masih tersenyum lebar walaupun plastik belanja dalam tangannya sangat berat. Ia melirik gadis yang berjalan di depannya. Jiyoo masih kesal. Eunhyuk sendiri tak ingin melepaskan kesempatan untuk mendapat hiburan seperti itu.

Wajah Jiyoo yang kesal dengan semburat merah muda di pipinya adalah hiburan terbaik untuk Eunhyuk.

Lelaki itu mengerutkan kening saat melihat dua pasang sepatu di dekat pintu. “Oh? Ada tamu?”

Jiyoo sendiri sudah masuk lebih dulu tanpa memerhatikan dua pasang alas kaki asing di dorm Eunhyuk. “Cho Kyuhyun! Bantu kam–“

“Hai,” suara itu tetap sama; tenang dan ringan. Jiyoo mengernyitkan alis saat melihat Kang Minhyuk duduk di ruang tengah dorm Eunhyuk –tempatnya dan Eunhyuk menempel satu sama lain. “Baru kembali?”

Eunhyuk menyejajarkan tubuhnya di samping Jiyoo. Alisnya terangkat sebelah. “Kau.. sedang apa?”

“Ah, Jonghyun hyung yang mengajakku,” Minhyuk menunjuk lelaki lain yang duduk berdampingan dengan Kyuhyun. Di depan keduanya, sebuah monitor terpajang. “Game, mungkin.”

Jiyoo mengangguk-angguk kaku. Tubuhnya tak sepenuhnya sadar, tapi ada aura tak nyaman yang menaungi dirinya dan Eunhyuk. Gadis itu tiba-tiba merasa tak nyaman dengan keberadaan Minhyuk di dorm calon suaminya.

Jiyoo meringis. Ini pertama kalinya ia memikirkan Eunhyuk seperti itu; calon suami.

“Apa yang mau kau masak?” tanya Minhyuk.

“Eh? Nasi goreng kimchi,” Jiyoo menyahut walaupun senyum kaku membingkai bibirnya.

Eunhyuk berjalan lebih dulu ke dapur. Tangannya yang bebas dari plastik belanja digunakan lelaki itu untuk membimbing gadisnya. Genggamannya erat dan sepenuhnya membungkus tangan Jiyoo. Eunhyuk tak tahu alasannya, tapi ia ingin memberi tanda yang jelas.

Bahwa Choi Jiyoo adalah gadisnya.

Lelaki itu juga tak tahu kepada siapa tanda itu ditegaskan. Untuk Kyuhyun, mungkin? Atau Lee Jonghyun? Eunhyuk mengeratkan genggamannya. Ia merasakan tatapan seseorang menghujam punggungnya. Nama terakhir membahana dalam benaknya; Kang Minhyuk.

“Poo, sakit,” Jiyoo mengeluh saat keduanya tiba di dapur.

Eunhyuk buru-buru melepaskan tangannya lalu tersenyum seperti biasa. “Mianhae. Jaaa~ apa yang harus kulakukan?”

“Tidak ada,” sahut Jiyoo santai. “Aku tidak akan pernah menyerahkan urusan dapur padamu, jadi lebih baik kau kembali ke ruang tengah.”

“Yoo~~~” rajuknya. “Keahlianku di dapur tidak separah itu.”

Jiyoo tersenyum lembut dan Eunhyuk mengartikan senyuman itu sebagai persetujuan. “Aku tidak mau disalahkan oppadeul kalau dapur ini hancur, Poo. Jadi, tunggu saja, oke?” Belum sempat Eunhyuk membantah, Jiyoo menjawab sendiri, “OKE!”

—-

“Cih.. gadis itu tidak pernah percaya pada kemampuan memasakku,” gerutu Eunhyuk begitu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Aku bisa memasak, dan kalau dia makan masakanku, aku yakin dia pasti–“

“Mati keracunan,” sambung Kyuhyun.

Eunhyuk melirik magnaenya sengit. Laki-laki berambut merah itu masih sibuk memandangi monitor ditemani Jonghyun, tapi masih bisa menyahut. Eunhyuk heran sejak kapan Cho Kyuhyun melatih lidahnya itu.

“Aku bisa memasak, apa Jiyoo perlu kubantu?” tawaran Minhyuk berhasil membuat ruangan itu seolah terpusat padanya. “Aku hanya menawarkan diri.”

“Tidak perlu. Kita akan pulang sebentar lagi, Minhyuk-ah,” Jonghyun menyahut tanpa berniat membalikkan badan.

Eunhyuk memandang respon Minhyuk yang hanya mengangguk-angguk paham. Lelaki itu tergelitik untuk mengenal Kang Minhyuk. Eunhyuk tak pernah seperti ini; merasa tak nyaman dengan orang yang baru dikenalnya. Ia pribadi yang mudah dekat dengan orang lain, tapi dengan Kang Minhyuk, pribadinya itu seolah menghilang.

“Sejak kapan kau mengenal Jiyoo?” tanya Eunhyuk. Bukan pertanyaan yang tepat untuk berkenalan, tapi pertanyaan itulah yang mengganggu pikirannya.

Minhyuk berpikir sejenak. Kedua tangannya bertautan sementara matanya terarah lurus pada Eunhyuk. “Cukup lama, tapi kurasa perkenalan resminya saat Hyung sudah berada di Paris.”

Jawaban itu tak melegakan, justru menambah perasaan aneh Eunhyuk pada lelaki ini. Secara harfiah, ia bisa mengartikan jawaban itu seperti, ‘Kami bisa lebih dekat lagi jika tidak ada Hyung di sini.’

Eunhyuk menepis pikiran konyolnya. Dengan sekuat tenaga, ia berhasil menelan pikiran itu kembali terkubur dalam otaknya.

“Hyung.. akan kembali ke Paris atau..?” Minhyuk menunggu jawaban Eunhyuk.

“Aku akan kembali ke sana,” ucapan Eunhyuk mengalir lancar melalui mulutnya. “Kenapa? Kau mau mendekati Jiyoo saat aku tidak di Seoul lagi?”

Kyuhyun menegakkan punggung, begitu pula dengan Jonghyun. Keduanya seolah diliputi ketegangan maya yang tak terlihat. Mereka menunggu jawaban Minhyuk tanpa berbalik.

“Wah.. pikiranku terbaca ya?” Minhyuk tersenyum miring.

“Ya! Kau–“

“Aku hanya bercanda, Hyung,” sahutnya. “Apa aku pantas bersaing denganmu sementara Jiyoo tidak akan mau mempertimbangkan kehadiranku?”

Kedua mata Eunhyuk tampak berkilat-kilat. Napasnya memburu cepat karena marah. Dalam imajinya, muncul bayangan Jiyoo dan Minhyuk yang berjalan berdampingan, terdengar pendapat-pendapat Kyuhyun soal lelaki itu sebelumnya, perasaan tak nyaman yang dirasakan Eunhyuk juga tak bisa ia abaikan.

“Jjan! Nasi goreng kimchi!” seruan Jiyoo membahana, membelah suasana tegang yang dirasakan keempat pria di depannya. Gadis itu berjalan lincah mengitari meja makan dan meletakkan sepiring besar nasi goreng.

Jiyoo tersenyum puas pada hasil pekerjaannya sendiri. Ia merebahkan tubuh di samping Eunhyuk dan melingkarkan lengannya di antara lengan lelaki itu. Tak ada yang dapat menghilangkan rasa lelahnya kecuali semua hal yang berkaitan dengan lelaki kesukaannya ini.

Eunhyuk menelan ludah. Tatapannya beralih ke samping, sedikit menunduk untuk menempelkan pipinya ke puncak kepala Jiyoo. Rasa marah masih menyelimuti dadanya. Bahkan kehadiran gadisnya tak bisa melenyapkan perasaan itu dengan sempurna.

Lelaki itu berusaha menjernihkan pikirannya dengan menarik napas panjang. Sekilas, ia menangkap kilau yang dipantulkan dari cincin Jiyoo –cincin pengikatnya.

Sebuah senyuman hangat merambat menyusuri wajah Eunhyuk. Kelegaan langsung membanjiri seluruh tubuhnya. Gadis itu masih miliknya; akan selalu menjadi miliknya.

Minhyuk menangkap tatapan Eunhyuk. Alisnya terangkat, heran melihat sebuah cincin putih yang melingkar di jari manis Jiyoo. Dilihat dari tatapan Eunhyuk, cincin itu darinya; cincin itu milik Jiyoo; cincin itu pengikat mereka.

Lelaki itu tersenyum samar. Ia penasaran bagaimana rasanya menghancurkan ikatan itu.

===============TBC============

Somehow, I feel so…….angry to this guy. *I meant, Poo*
Konfliknya belom rame. :3 Peran Minhyuk syuda keliatan jahatnya. I love bad boy~ xD

75 thoughts on “Purple & You [Tiga]

  1. UPS. lupa nih.. cincinnya poo bentuknya gmana ya ? *cough*
    pendek banget ah ! perasaan tadi pas cerita panjang deh :p
    choi jiyooo~~~~~~ *gelayutan*
    bener-bener pengen battle bikin adegan yg romantis ya ? *cekek*
    *gigit guling* AAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~
    minhyuuuuk *iket bawa pulang*😄

    chapter 4 ! chapter 4 !😄

  2. nyonya lee. “calon suami”
    jadi gimana gitu ngebayangin jiyoo mikir gitu. hihihi
    omo minhyuk, baik baik yaa. jangan ampe bangunin monyet yg lagi tidur. hihihi
    penasaran dengan gimana shela bikin jahatnya minhyuk. secara di imut banget. hihihi

    • kyaaa~ jadi maluuu.. ><
      tenang aja, monyet tidur kan jinaks~ xD
      makasihh syuda bacaa yaa.. ;D

      bayangin aja minhyuk tampang polos, dia emang tampangnya uda gak bisa dijahat2in. xD

  3. sempat si minhyuk hancurin hub mereka, kucekik dia…

    Mbok… Masi pendek nih.. ._.v

    aigoo.. Ceritany makin seru… Yoohoo. Tak sabar lanjutan ny..

    Chap 4 jgn lama2 ya mbok.. :*

  4. oh my~~~
    aura kejemnya minhyuk berasaaa .__.
    gak kebayang klo minhyuk bakal ngancurin ikatan mereka.
    mereka uda bersama slama 1 thn dlm situasi romantisme dan adem-isme(?) tb2 dtg pengacau xO

    dan di chapter ini, JiHyuk bener2 ngebuat panas ati drtd adegannyaaaaa asdhjkmgsyf~
    mbak nandaaa ayok buat beginian, jangan mau kalah sm mbakgummy😀

  5. sepanjang baca ne chap senyum mulu ma kelakuan yoo-poo…
    ya ammpuuuunn knp minhyuk bsa sejahat itu,, ahhh poo yg sabar ya, yoo ga blh selingkuh,,, >><

  6. huaaaa
    Part ini penuh dengan adegan romantis..

    Mauuu nyelip di antara mereka..
    Kekeke..

    Ey.. Jonghyun yang ngajak minhyuk ke dorm suju atw sebaliknya tuh..

    Waduhw minhyuk frontal bgt ya,, keke tipe antagonis bgt..
    Keke..

    Part dpan kyknya minhyuk beraksi ya..
    Keke

    Udah yoo embat aja dua duanya..
    Keke

    • SAYA SYUKA KOMEN INI! *nyalain kembang api*
      BAIKLAH, AKAN SAYA EMBAT DUA-DUANYA!😄

      nah, jonghyun emang pingin ketemu sama kyu, tapi minhyuk minta ikut.
      semoga syuda jelas yaaah~ :]
      makasihh syuda bacaa.. ;D

  7. Kyuhyun mendengus pelan. “Selama kalian tidak berciuman di depanku, kurasa aku juga tidak akan mempermasalahkan apapun.”

    wuHHhhHaaaaahahahah..ngakak pas bagian ini..kyu2 sampe sgitunya..
    ommo mulai genjatan senjata..itu kyu ma jong mpe tegang???ckckckck bakalan dahsyat nih gra2 minhyuk2222…lanjutkan minhyuk biar rame wlpn aku ga rela bacanya ada yang ganggu couple sweet ini …hihihi

    trus..yah lee hyukjae!!lanjutkan nyobain sausny…wkwkwkkwkw

  8. Mwo Minhyuk ngeseliiiinnn!!!
    sumpah mana oppadeul mesti balikke Paris segala lagi!!!
    aish pensaraaaannnnnnnn!!!part 4 di tunggu!!
    Hwaiting!!
    ^^b

  9. Oh great!! Minhyuk itu terang terangan mau ngerusak hubungan orang ya –‘ aduh minhyuk! Aku dukung minhyuk ganggu hubunga mereka deh! Pingin liat juga perjuangan eunhyuk-jiyoo menghalau badai minhyuk! :p next chap nya kapaaaan?? (⌣́_⌣̀) aaaaaah! Deg degan bacanya juga! Memacu adrenalin!

  10. di part ini hyuk abis ngelamar jiyoo kok berasa jd raja gombal y? Wkwk
    Omaigad lucu bgt dah pasangan ini, ky bocah… Ky anak sma aja gaya pacarannya… Hahay

    Dan oke I can say that mihyuk is musuh dalem selimut #plakk
    Ah, cpt kawin dah hyuk n jiyoo spy mihyuk gk ganggu lg…

  11. aduh manissnyaa…seriously, really wanna be yoo….

    cowok itu kenapa ngeselin ya?min hyuk maksudnya. Gak rela ada yang ganggu yoo…

  12. nyonya lee…
    seneng dch pny calon suami, haha

    minhyuk tipe bad boy..
    penasaran ma sepak terjang mnghancurkan hub jihyuk…

    d’tunggu part selanjut’y..😀

  13. ahahahahaha saya juga suka napeun namja lohhh yoo buahahaha
    eyaaaa itu minhyuk aura jahat nya mulai muncul yeee … aigooo
    unyuk mulai esmosi nih kayaknya , dan jiyoo~sii ?! aigoo tak sadar kah anda kalau minhyuk itu ingin merebut mu dari poo ? aissshhh geregetan …
    dan saya sangat penasaran dengan knflik yang ada hohohoho
    dan satu lagi , yak ! kang minhyuk ! yoo itu cuma buat poo tauuu , kau sama saya sajaa sinih #eeeaaaaa
    ahahahaha lanjut yoo ~

  14. nappeun namja yang saya suka cuman eunhyuuuuk !!
    minhyuk imyuuutt jgn bandeeeel !! *digaplok bikin rusuh*
    nyengir ndiri liat poo usil banget . tp lebih nyengir lagi liat yoo yg malu2 kucing . buakakakak😄 butuh olahraga beneran tuu yoo .. :DD
    hadoooh minhyuk (_ _”) nantangin enyuk banget ><'
    mentang2 sunbaenim yg satu ini kurus kerontang + ga ada serem2nya -,-

  15. kepotong udah gitu salah pula-_- harusnya chapter 3 udah publish^^ full of romance~ kisseunya juga banyak, alhamdulillah(?) pasti ini gara2 2060 bulan madunya udah di kutub utara ke ganggu pula *killed* seperti biasa ff nya daebak kak, walaupun kayak ada yang kurang. Tapi overall bagus aku suka ><

  16. udah minhyuk sama aku aja. kalo ngga eunhyuknya yg buat aku haha
    bahagianya jiyoo dikelilingi orang ganteng 😀
    calon suami istri tapi kelakuannya kaya masih kecil -_-“

  17. shelllllllaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………….knapa aku belum komen???????
    prasaan aku dah baca ampe dua kali deh…. *getok junsu* hehehe……

    sukkkkkkkaaaaaaaaaaaaaaaaa ama critanya…
    cemburu akuuuu..pengen dilamar hyuk juga *heh??? :DD

    ga sabar pengen liat minhyuk godain shella en hyuk pun kebakaran bulu ketek hehehehe….

  18. MAMAHHH~ I LIKE BAD BOY😄 si minhyuk pen dimakan😄 dimasukin isi kue nastar trus dikunyah-kunyah hahahha😄 aaaa~ ngebayangin minhyuk di mv intution di ff ini buat dia btul” bad boy :3
    Chap ini kocakk aaa tapi co maniss *semutan hahahha😄 kkk~ disini appa eunhyuk romantis bgt ya ._. Makin pande gombal lagi~ kebanyakan nonton raja gombal appa tuh wkkwwk😄
    Ahhhh~ sriuss awas aja umma pindah hati ke minhyuk, ak cipok” (?) Tu minhyuk wkkk..
    Yg terakhir nyesek bgt aaa ._. Di jamin papa hyuk pasti pas tiudur adilau (antara dilema dn galau )😄 wkkkk..
    Wait next chap :3

  19. astagaaa
    jahat amat ya minhyuk
    bahkan si evil kyu bisa merasakan aura lain minhyuk
    huaa eunhyuk jgn balik ke parisss
    klo ke paris bawa jiyoo aja
    hehehe

  20. ralat ralat. mensyen yang ditwitter diralat dikit. blushingnya cuma sampe mereka pulang dari abis belanja. pas ketemu minhyuk mendadak kesel! bhahahaha
    minhyuk mukamuuuu unyu” gitu gausah jahat napa aaaaaaaaaa

    err sebenernya saya sudah cere sama abang kuda, gyahahaha naksir poo mu :3 ehehehehe

    • yaaahh.. jangan kesel2 sama minhyuk dong, mbaaaakk~ ;A;
      aku yang syedihh.. *peyuk minhyuk /kesempatan. xD*

      HEHH~ suda cere gimanah? Jangan tega ama bang won dong.. ><
      makasihh syuda bacaaa~ ;D

  21. Bentar… Bentar.. Aku itung dulu ada berapa kissue scenenya.. DUA KALI?!! (Correct me if I’m wrong) howaaaaaaa.. JiHyuk sudah berani kissue-kissue O.o Siapa yang ngajarin? Lanjutkan~~~~ #ehhh. Asli.. Ini porsi romantisnya JiHyuk meningkat dari part sebelumnya,, buat yang baca ga berenti senyum-senyum gemes geregetan.. Aku malah kasian sama kyuhyun karena harus menyaksikan keromantisan dua sejoli ini, huahahahahaMIN.. Bikiiiin enpiiiii tauuuk.. Errrrrrr~~ Kang Minhyuk memang punya bakat (?) Buat jadi Nappeun Namja koq.. Aku sempet liat beberapa fotonya yg mengindikasikan kearah situ.. Tapi memang lebih dominan sisi cutenya sih.. Sepertinya JiHyuk harus mulai waspada dengan sosok drummer menjulang yang satu ini.. #SIAGA 1, kalo butuh bantuan, nanti tinggal panggil Labumin buat lawan Minhyuk *berasa mau perang* hwhwhwhwhwhw~xD

    • Ne, ne, dua kali, kakak~ x3
      Yoo lagi emosi pas ngetik ini, jadi dilampiasin ke kiss scene.. xD
      dan tenang aja, akan yoo lanjutkan~ ^-^9

      MINHYUUUUUKK BAD BOY IMUTTTS~ >3<
      eh, nanti kalo minhyuk lawan labumin ntar mereka malah adu imut gimana??
      Makasihh syuda baca kakak JinggaaaaA~~~~ ;D

  22. annyeong onnie!! maaf aku baru comment lagi, aku capeek sekali dengan kegiatanku T.T *mau peluuuk*
    ciee mengunjungi calon suami niih, jd kapan undangannya nyampe? hahaa
    aaah cerita yang ini bikin penasaran gimana tindakan minhyuk berikutnyaa. aaaaaaaaaaa *lari-lari keliling rumah* minhyuk kenapa dirimu terlihat begitu jahaat? padahalkan kamu baik hati dan tidak sombong *plaak*
    abis ini mau baca yang part 4 hehe, aku penasaraaan. cerita ini daebak (y)😀

    • ANNYEOOOONG, SAYAAAANGS~ *peyuk*

      undangan…eum, ada undangan yang syuda disiapin dari jaman lovabook sih.
      mungkin kami mau pake sisa undangan itu ajah~ xD
      MAKASIHH SYUDA BACA YAAAAHH.. ;D

  23. Minhyuk oh Minhyuk..
    Siapakah minhyuk? Saia tidak kenal Minhyuk.. Apa Minhyuk kenal saia? *jdeerr*
    Ini kenapa harus ada antagonis ganteng disinihhh? :O

  24. Ciyeeeeeeeeeehhh…….. Pst km bkin part ini sambil bayangin klo km yg dillamar ya shel?? Kkkkk…. :p
    Btw, aku ga suka minhyuk nya…. *kick* xD

  25. huaaaaaaaa eonni bs bgt bikin aku mupeng ._.v romantis bgt sih tragedi sausnya u,u
    well, agak geregetan si minhyuk knp jd bad boy gitu..over all daebak! Really love this!! Btw, bls inbox aku di fb ya eon..aku mau pw kamu di ff jihyuk..gomawo. Fb ku karina putri

  26. aaaah senyum senyum sendiri baca part ini xD suka karakter hyuk disini~~ xD hyuk romantis tapi evil, seneeng banget ngegodain jiyoo ;;) kkk~ part ini romantiiis😀
    daaaan itu selama di korea hyuk bareng sama kyu terus ya?! awas nanti ketularan evilnya kyu *diinjek*
    Minhyuuuuuk *tarik nafas* stress sendiri tiap baca scene yg ada minhyuknya u,u semoga dia ga aneh aneh aja deh *kick*

    btw, annyeong eonni🙂 aku reader baru. bangapta ya eon😀

  27. Bener-bener, Kang MinHyuk bikin Z naik darah. Serasa pengen cakar-cakar tu wajah imutnya.
    #GigitDadaDongHae
    #Yg slah MinHyuk, koq DongHae jd sasaran

    Adegan kisseu yang lebih HOT lagi dong😛

  28. Konflik blom rame tapi otak saia dah rame!! Ugh jdi pengen sekep minhyuk di gudang!!
    Gga usah poo yg gga nyaman ma kehadiran’a minhyuk org yg disekeling yoo n poo juga! Gmana klo kita karungin minhyuk trus buang ke jurang??*smirk*provokator!!
    *

    Sumpah panas ni ati ckck!!

    Next part..

  29. omo! minhyuk.. ngotot amat mas😡 sadar diri atuuh ahelah yoo itu selalu dgn poo :p
    rasanya aku ikutan merona bersama yoo pas liat cincin der hyukkie oppa >////<

  30. Huwaaaaaah kau minhyuk kurang ajar! Knapa peranmu disini antagonis? *tnya auhtornya aja
    pdhl udh suka peran minhyuk di the heirs knapa disini jd antagonis. Kau hancurkan anganku minhyuk.. Kyaaaa pokonya pengen ngejambak tu rmbt minhyuk! Eh eh becanda😀
    auhtornya hebat dah bisa bikin aku greget sama minhyuk.. Daebaaaaak..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s