Purple & You [Dua]

 ***

Aku menyukainya. Aku menyukai segala hal yang ada padanya. Aku menyukai caranya menyukai hal yang kusukai. Hal itu membuatku mengerti, aku tak bisa berhenti menyukainya lebih dalam lagi.

Tapi saat ia tak bisa lagi kulihat dan kusentuh, akan jadi apa rasa sukaku ini?

Aku merindukannya. Merindukannya hingga menyesakkan dadaku sendiri. Aku merindukan orang itu lebih daripada yang sanggup kukatakan. Hal itu membuatku paham, aku tak bisa tenang jika tak melihatnya.

Tapi saat ia berada di sana, akankah ia juga merindukanku?

========================

Dua

Sepasang sarung tangan ungu tergeletak begitu saja di atas meja. Choi Jiyoo memandanginya, dengan tatapan tak fokus. Arah pandangannya ke sana, tapi tak benar-benar ke sana. Ada sesuatu yang membuatnya ragu.

Ia merindukan lelaki itu setengah mati. Ada banyak hal yang ingin diucapkan pada lelaki itu, ada banyak ketidakyakinan dalam kepalanya saat ini.

Seandainya Eunhyuk tetap di sampingnya, apa Jiyoo bisa membagi pikiran-pikiran menyebalkan itu?

Jiyoo mengerjap-ngerjapkan matanya, menolak untuk berandai-andai. Ia tahu berandai-andai tak akan bisa membawa Eunhyuk kembali padanya –ke Seoul. Berandai-andai tak akan membuat perasaannya lebih baik.

Lalu bagaimana? Apalagi yang bisa dilakukan Jiyoo selain berandai-andai?

“Menurutmu, lelaki tanpa gadisnya akan merasa bagaimana?”

 Jiyoo mengernyitkan alis, berpikir keras untuk mencari jawabannya. “Kesepian..?”

 “Mungkin,” Minhyuk mengangguk-angguk, “mungkin iya, mungkin tidak.”

Jiyoo tak bisa menghilangkan bisikan-bisikan itu dari kepalanya. Tak tahu bagaimana, ia mulai ragu. Rasa percaya dirinya luntur seperti kain murahan yang masuk mesin cuci.

Perumpaman yang konyol, Jiyoo mengakui.

“YOO~~~” seruan Hyori berhasil mengenyahkan pikiran-pikiran buruk Jiyoo. Gadis itu melepaskan lamunannya, berlari kecil ke ruang depan dan menemukan Shin Hyori tak sendirian. “Temanmu, kan?”

Jiyoo melebarkan kedua matanya. Ia nyaris mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa ini tak termasuk dalam lamunan bodohnya tadi, tapi ia tak melakukannya. Ia tahu Kang Minhyuk tak menjadi tokoh utama dalam lamunannya.

Kang Minhyuk, lelaki yang berdiri di samping Hyori, tersenyum sambil mengangkat satu tangannya ke udara. “Hai..” sapanya singkat.

“Aku melihatnya di depan dorm, begitu aku sadar kalau dia drummer CN Blue, aku langsung minta tanda tangan,” sahut Hyori riang.

Jiyoo memutar bola mata, ingin mengabaikan nada pemujaan berlebihan dari Hyori tentang Minhyuk. Pandangannya beradu dengan sepasang mata teduh milik lelaki itu. Jiyoo tahu seharusnya ia memalingkan wajah, namun sepertinya sesuatu menahannya agar tetap menatap mata Minhyuk.

Minhyuk suka diperhatikan, dan Jiyoo sudah melakukannya dengan baik. Lelaki itu tersenyum ramah, “Tidak menyuruhku duduk?”

—-

“Kau tidak kelihatan senang hari ini,” Minhyuk mencoba membuka pembicaraan. Ia meletakkan lagi cangkir berisi teh hangat ke atas meja, “Apa kedatanganku..”

“Tidak,” sahut Jiyoo cepat. Genggamannya pada cangkirnya sendiri sudah dilepaskan sejak tadi. Ia menghela napas, “Mungkin sebagian kecil juga salahmu.”

Minhyuk mengerutkan keningnya, bingung. Pandangannya yang tadi hanya berkeliling ruang tengah dorm, kini tertuju sepenuhnya pada gadis itu. Ia membetulkan posisi duduknya, yang sekarang membuat keduanya berhadapan.

“Itu.. soal kemungkinan kesepian atau tidak,” Jiyoo menjawab jujur.

“Ah..” Minhyuk hanya menanggapi singkat. Ia sedikit terkejut gadis itu memikirkan perkataannya kemarin dengan demikian serius.

Mereka diam untuk beberapa saat. Ruang tengah yang disambungkan dengan balkon itu dibiarkan mengambangkan aura canggung di udara. Keduanya sama-sama tak nyaman dengan keheningan itu.

“Kalau kaupikir dia akan kesepian, mungkin dia memang kesepian tanpamu,” sahut Minhyuk. Nada suaranya rendah dan tenang, menimbulkan percikan kelegaan di tenggorokan Jiyoo. “Kalau kaupikir dia tidak akan kesepian, siapa tahu dia justru sangat kesepian di sana.”

Jiyoo merengut, “Sama sekali tidak memberi pencerahan.”

“Kalau kubilang hal yang buruk, wajahmu itu yang tidak akan kembali cerah,” Minhyuk melirik Jiyoo lalu tersenyum ringan. “Bisa tidak kita sudahi pembicaraan seperti ini?”

“Aku bertanya padamu karena kau itu laki-laki–kau juga temanku, jadi boleh tidak aku berharap kau bisa memberiku sedikit pencerahan?” ujar Jiyoo sambil menghembuskan napas panjang.

Minhyuk berhenti tersenyum. “Kau tahu aku seorang laki-laki, kan?”

Jiyoo tetap mengangguk walaupun pertanyaan Minhyuk itu tak membutuhkan jawaban. Gadis itu berusaha membaca air muka Minhyuk –dan gagal karena tak bisa membaca apapun di sana. Ia hanya melihat Minhyuk berubah serius.

“Kau tahu itu,” sambungnya, “lalu kenapa membuatku cemburu?”

—-

Lee Hyukjae membetulkan letak kacamata hitam yang disangga hidungnya. Kedua matanya tak fokus ke mana pun sementara bibirnya juga tak bisa tersenyum. Ada semacam perasaan tak nyaman yang mengganggu, tapi lelaki itu tak tahu pasti apa namanya.

“Sepuluh jam lebih,” gumam Kyuhyun yang sedari tadi mengamati layar dengan jadwal penerbangan internasional. “Kita bisa tidur sepuasnya di pesawat, kalau kita beruntung.”

Keduanya akan berangkat ke Seoul pagi ini. Tak ada hal lain yang sangat dinantikan Eunhyuk selain hal ini; kembali ke Seoul. Ia bahkan berpikir tak akan bisa melewatkan tiga minggu lain di Paris sementara imajinya–seseorang, tertinggal di tempat lain.

Tapi hari ini ada sesuatu yang membuatnya melupakan kesenangan itu.

“Ya,” panggilnya. Kyuhyun menoleh seraya menyematkan kacamata cokelat gelap untuk menutupi kedua matanya. “Apa kau merasa ada yang tidak beres?”

Kyuhyun berpikir sejenak sebelum menyahut, “Kecuali wajahmu, kurasa semuanya baik-baik saja.”

“Bukan itu, bodoh,” umpatnya kesal. “Perasaanku tiba-tiba tidak enak, apa kau pikir aku mendapat gambaran masa depan tentang pesawat yang akan kita naiki sebentar lagi?”

“Kau pikir kau sedang main Final Destination?” Kyuhyun berkomentar singkat.

Eunhyuk menggelengkan kepala, “Mungkin bukan itu, bukan soal pesawat ini atau kita. Kenapa aku selalu membayangkan Jiyoo sejak tadi? Apa terjadi sesuatu padanya?”

“Hyung, bukan saatnya untuk merasakan pre-flight syndrome,” sela Kyuhyun. “Jangan bilang kau merasa gugup karena akan segera bertemu lagi dengan Jiyoo?! Itu konyol~”

“Tidak tahu,” Eunhyuk mengangkat bahu kemudian mendahului Kyuhyun untuk duduk di ruang tunggu. “Perasaanku tidak seperti itu, bukan gugup, hanya.. begitulah.”

Kyuhyun mengerutkan kening. “Perasaanmu sangat kompleks.” Lelaki itu kemudian menambahkan, “Atau jangan-jangan Jiyoo memang sedang butuh bantuan?”

Tatapan mata Eunhyuk terarah lurus ke depan; ke arah kaca raksasa yang memperlihatkan lapangan bandara. Ia tak menyetujui pemikiran Kyuhyun, tapi ia juga tak bisa mengabaikan pikiran itu. Jika pikirannya hanya tertuju pada Jiyoo, apa mungkin gadis itu sedang memikirkannya juga?

“Teori konyol,” dengan segala perdebatan dalam kepalanya, Eunhyuk akhirnya bersuara.

“Kau tahu teori konyolku sebagian besar tepat,” sambung Kyuhyun bangga.

Eunhyuk berusaha keras untuk tak mendukung temannya itu. Setepat apapun teori Kyuhyun, Eunhyuk tak mau teori yang satu ini benar. Ia tak mau pikirannya tentang Jiyoo ini benar-benar menandakan bahwa gadis itu sedang kesulitan.

Teori apapun boleh saja benar, tapi tidak jika teori itu buruk–dan berhubungan dengan Jiyoo.

“Mau tahu teori konyolku yang lain?” tawar Kyuhyun.

Eunhyuk mendengus kecil. “Apa?”

Kyuhyun mengangkat bahu dengan santai, “Mungkin saja Jiyoo sedang bersama laki-laki lain.”

—-

“Aku bisa saja jadi laki-laki yang akan merusak hubunganmu dan Eunhyuk hyung,” ujar Minhyuk dengan suara rendah. “Bagaimanapun, aku adalah seorang laki-laki, kan?”

Jiyoo mengernyitkan alis kemudian tertawa ringan. “Bagaimanapun, tidak ada laki-laki yang akan merusak hubunganku. Tidak kau, tidak juga laki-laki lain.”

“Begitu?” Minhyuk ikut tersenyum. “Baguslah..”

Keduanya saling menyunggingkan senyuman kecil. Diam-diam, Jiyoo menelan lagi kegugupan yang tadi sempat dirasakannya. Gadis itu bisa memilah bagian mana yang serius dan tidak dari ucapan orang lain.

Anehnya, ia merasa ucapan Minhyuk tadi adalah bagian yang serius.

Jiyoo merasa hatinya tak sepenuhnya didera kelegaan karena ia baru saja menyatakan bahwa hubungannya dan Eunhyuk itu tak bisa diganggu gugat. Sebagian dari dirinya berpikir rasa gugup itu akan menghilang sebentar lagi dan Minhyuk akan tetap menjadi temannya. Tapi sebagian dirinya yang lain mengatakan bahwa rasa gugup itu permanen.

Dan Jiyoo memilih pikirannya yang pertama.

—-

Kyuhyun menginjakkan kakinya di aspal ketika keluar dari bandara. Ia membuka kacamata cokelat gelap yang menjadi teman penerbangannya. Disunggingkannya senyum lebar saat ia mendapati dirinya sudah kembali ke Korea Selatan. Perasaannya luar biasa senang hari ini.

“Aku akan menelepon gadis cerewet itu,” ucapnya. Tanpa mendapat persetujuan Eunhyuk, ia sudah menghilang.

Eunhyuk menghirup udara bandara Incheon dengan setengah hati. Perasaan tak nyamannya belum hilang. Selama berada di pesawat, ia tak bisa menghubungi Jiyoo. Pikiran lain menggelitiknya; teknologi sama sekali tak mengizinkannya untuk sekedar mendengar suara gadis itu.

“Baik! Aku bisa menemuinya sendiri,” gumam Eunhyuk. Ia memeriksa Kyuhyun yang masih menelepon. Eunhyuk yakin lelaki itu tak akan sadar bahkan jika ada gempa bumi sekalipun.

Ia berjalan santai, mencari taksi yang bisa mengantarkannya ke Seoul dengan cepat. Kacamata hitamnya sudah dimasukkan kembali ke dalam tempatnya. Jantungnya, untuk alasan yang konyol, berdebar-debar.

Akan bertemu lagi dengan Jiyoo, itu alasannya.

—-

Choi Jiyoo melayangkan pandangannya ke arah ponsel beberapa kali. Ia sedang sibuk di depan monitor notebook, tapi pikirannya teralihkan pada hal lain. Lelaki itu belum menghubunginya sejak kemarin, sesuatu yang tak akan pernah dilakukan Lee Hyukjae.

“Sejak kemarin! Apa yang kau lakukan sampai tidak bisa menghubungiku sejak kemarin?!” Jiyoo menggerutu. Jemarinya bergerak kasar di atas keyboard notebook, mengabaikan akibat yang bisa saja muncul jika benda kesayangannya itu rusak.

Setengah jam yang lalu, Jiyoo melotot ke arah ponselnya yang menghadap ke atas. Ia berharap tatapan tajamnya bisa membuat benda itu berdering.

Benda itu memang berdering. Dan Jiyoo menyambutnya dengan luar biasa senang. Wajahnya berubah murung saat melihat nama Kang Minhyuk di layar pesan.

Orang yang salah, pikirnya. Mungkin seharusnya Jiyoo menatap tajam ponselnya sambil mengucapkan nama yang diinginkannya. Atau mungkin ponselnya sedang ingin mengerjainya. Benda itu tahu siapa yang diharapkan Jiyoo, tapi berdering untuk orang yang salah.

Jiyoo mendengus. Sejak kapan pikirannya jadi sekonyol itu?

Dan sejak kapan ia bisa menyalahkan ponsel –benda mati itu, untuk kesalahan yang bahkan tak bisa dilakukan si ponsel?

Satu-satunya yang bisa ia salahkan adalah orang itu. Lee Hyukjae. Jiyoo menunggu sepanjang hari sementara lelaki itu seperti menghilang; tanpa kabar, tanpa berita.

Jiyoo menghela napas berat. Ia bukan orang yang harus menunggu –Lee Hyukjae-lah yang berjanji akan melakukan itu; menunggu. Jiyoo juga bukan orang yang bisa tahan jika tak tahu semua hal tentang Eunhyuk. Jadi sekarang gadis itu sedang kesal; dan sedih.

“Choi Jiyoo-ssi?” Jiyoo mengerutkan kening. Suara itu bukan suara Hyori, Jiyoo yakin akan hal itu. Tapi Jiyoo juga yakin itu bukan suara orang yang ada di pikirannya. “Berdiri dari kursimu, tinggalkan pekerjaanmu sekarang.”

Ragu-ragu, Jiyoo berdiri kemudian bergumam, “Poo?”

“Tidak boleh bertanya,” sahut suara itu. “Apa kau sudah berdiri di belakang pintu kamarmu?”

Jiyoo mengangguk, tapi sadar anggukannya tak akan bisa dilihat Eunhyuk. “Sudah. Kau sedang apa? Kenapa bisa masuk? Mana Hyori?”

“Pertanyaanmu itu banyak sekali ya,” Eunhyuk menyela. “Hyori sudah menyerahkan dorm ini padaku untuk satu jam, jadi tidak ada orang lain yang akan menemanimu di sini, kecuali aku.”

Sambil menahan cibiran untuk Eunhyuk, Jiyoo berdeham, “Lalu kenapa kau tidak masuk ke sini?”

“Ke kamarmu? Aku bukan lelaki baik-baik, Nona,” jawab Eunhyuk. Jiyoo bisa membayangkan senyuman nakal lelaki itu. “Jadi diamlah di kamarmu sampai aku selesai menghitung.”

Jiyoo mengerutkan kening, “Menghitung?”

“Untuk mengetahui seberapa besar kau merindukanku, aku perlu memastikannya,” sahut lelaki itu. “Satu.. aku tidak bisa makan makanan Eropa, jadi aku hanya makan ramyeon saat lapar, apa saja yang kau makan saat lapar? Dua.. aku membeli dua pasang sarung tangan ungu untuk hadiah natal, apa yang sudah kau beli untukku? Tiga.. aku merindukanmu setiap detik, bagaimana dengan–“

Ucapan Eunhyuk terpotong saat pintu terbuka tiba-tiba. Jiyoo menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Eunhyuk. Kedua lengannya terikat erat di pinggang lelaki itu. “Aku merindukanmu!”

“Jawaban bagus,” gumam Eunhyuk. “Apa uri Yoo baik-baik saja?”

“Tidak. Aku tidak baik-baik saja tanpamu,” Jiyoo tak melepaskan pelukannya.

Eunhyuk mengecup pelipis kanan Jiyoo. “Bagus. Karena aku juga tidak pernah baik-baik saja tanpamu. Kupikir cuma aku yang merasakannya, karena kupikir kau punya semua orang di sini.”

“Aku tidak punya kau,” sahut Jiyoo sambil menghirup aroma parfum Eunhyuk dalam-dalam.

Betapa ia sangat merindukan semua ini. Aroma lelaki kebanggaannya, sentuhan hangatnya, dan ketenangan aneh yang selalu datang dari lelaki itu. Betapa Jiyoo tahu ia sangat bergantung pada Eunhyuk.

Jiyoo mengaitkan jemarinya di antara jemari besar Eunhyuk. Ia menuntun lelaki itu ke ruang tengah, dimana sofa abu-abu besar berada di sana. Jiyoo langsung menyandarkan kepalanya ke pundak Eunhyuk dan merasakan lengan lelaki itu merangkul tubuhnya.

“Kenapa pulang?” pertanyaan itu jelas bukan pertanyaan yang tepat, karena Jiyoo bisa melihat Eunhyuk mengangkat alis.

“Tidak boleh pulang?” tanya Eunhyuk.

“Bukan,” Jiyoo memainkan tangan besar Eunhyuk di tangannya sendiri. “Kau sama sekali tidak ada kabar sejak kemarin –sejak sarung tangan ungu itu sampai. Jadi kupikir kau sedang sibuk. Aku hampir merusak ponsel dan notebook gara-gara sama sekali tidak mendapat kabar darimu.”

“Wah, sayang sekali tidak ada yang rusak,” timpal Eunhyuk. “Sambungan internasional di Paris buruk, dan ponselku tidak mengizinkanku menghubungimu saat sampai di bandara.”

Diam-diam Jiyoo menarik napas lega. Kekesalannya yang tadi seolah lenyap seperti salju yang mencair. Alasan Eunhyuk bukan alasan yang ingin diperdebatkan Jiyoo. Sebenarnya ia juga tak ingin mengurangi saat-saat bersama lelaki itu dengan perdebatan konyol.

Keduanya diam untuk beberapa saat. Eunhyuk membiarkan pundaknya menjadi tempat Jiyoo bersandar. Jiyoo sendiri hanya menarikan jemarinya di atas telapak tangan Eunhyuk. Keheningan yang seharusnya membuat Jiyoo dan Eunhyuk tak nyaman, justru mendatangkan kedamaian luar biasa.

Jiyoo menikmati ketenangan di antara mereka, sama sekali tak terganggu dengan kebisuan Eunhyuk.

Eunhyuk membiarkan debaran jantungnya dan Jiyoo menjadi satu-satunya hal yang mengisi kekosongan mereka. Inilah yang kadang dirindukannya; ketenangan yang didapatkannya dari Jiyoo. Saat-saat seperti inilah yang membuatnya berpikir bahwa diam itu memang emas.

“Besok! Ayo piknik!” seru Jiyoo tiba-tiba. Kepalanya sudah terangkat dari pundak Eunhyuk.

Lelaki berambut cepak dengan garis wajah yang tegas itu memiringkan kepala, heran. “Piknik? Kau tidak ada kelas?”

“Ah.. benar,” Jiyoo tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

Eunhyuk tersenyum samar seraya membelai pipi gadisnya. “Akan kutunggu sampai kau selesai kalau begitu.”

“Eh?”

“Aku akan menunggu di dekat kampusmu, Yoo. Lalu kita berdua bisa pergi kemana pun kau mau,” Eunhyuk bisa membaca luapan kegembiraan di mata Jiyoo.

Jiyoo mengerjapkan mata, “Memangnya sampai kapan kau di Seoul?”

“Kenapa? Mau mengusirku?” tanya Eunhyuk setengah bercanda. “Sampai minggu depan, aku adalah milikmu, Choi Jiyoo-ssi. Walaupun kau tahu aku milikmu sepanjang waktu, tapi sebagai wujud nyata, aku milikmu sampai satu minggu ke depan.”

Jiyoo memaksakan seulas senyum tipis. Ia bahagia saat Eunhyuk berkata ia adalah pemilik lelaki itu sepanjang waktu –yang berarti selamanya. Tapi ia meringis ketika mengingat ada pembagian bentuk nyata dan semu dari lelaki itu.

“Baik! Ayo piknik~~~” gadis itu mengabaikan rasa risaunya dan melingkarkan lengannya ke lengan Eunhyuk.

Bagi Jiyoo, setidaknya ia adalah pemilik lelaki itu dan tidak ada yang bisa menyangkalnya..

—-

“Aku sudah pulang,” Eunhyuk melepaskan sepatu birunya dan menjejalkan kakinya ke sandal lembut berwarna putih. Lelaki itu menemukan Kyuhyun sedang duduk di sofa dorm mereka. “Kukira kau akan pulang tengah malam.”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Hyo tidak bisa meninggalkan kegiatan kampusnya. Ck, gadis itu jadi makin hyper-active sekarang.”

“Kenapa tidak menunggunya saja?” tanya Eunhyuk. Lelaki itu meraih gelas dan menuangkan air hangat untuk membasahi tenggorokannya yang dingin.

“Aku sedang akting marah,” sahut Kyuhyun santai. “Lihat saja, kalau asam lambungnya kambuh lagi, aku akan menyeretnya ke rumah sakit, mengikatnya di tempat tidur, dan tidak akan mengizinkannya pulang sampai dia sembuh!”

Eunhyuk memutar bola mata. “Kau tahu, aktingmu itu jelek.”

“Cih.. jangan bicara seakan-akan kemampuan aktingmu lebih bagus dariku,” hardik Kyuhyun. “Ah, bagaimana Jiyoo? Apa dia benar-benar punya laki-laki lain?”

“Dengan sedih kukatakan bahwa,” Eunhyuk menarik napas dan menampakkan wajah murung, “teorimu itu salah besar. Apanya yang punya laki-laki lain? Dia tetap Choi Jiyoo yang tidak tahan tanpa kabar dariku.”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Baguslah. Aku mau tidur dan besok akan kuculik gadis cerewet itu!”

“Hyori akan membunuhmu kalau kau berani mengganggunya, Kyu,” sahut Eunhyuk sebelum Kyuhyun menutup pintu kamarnya.

Eunhyuk menghela napas panjang, tahu jika peringatannya tadi percuma. Kyuhyun bukan orang yang akan mendengarkan orang lain, terutama saat berkaitan dengan Hyori. Eunhyuk hanya akan berdoa semoga Kyuhyun tetap selamat besok.

Lelaki itu kemudian tersenyum samar, mengingat sesuatu yang lain, “Ya. Tak ada yang berubah. Dia tetap Choi Jiyoo, gadis ungu milikku..”

—-

The next day

Choi Jiyoo mengembuskan napas ke depan kaca jendela. Udara dingin membuat uap putih terbentuk di atas kaca. Jiyoo menggerakkan jemarinya dan mulai melukis sesuatu.

Hati. Dan tulisan Hyuk.

Gadis itu tersenyum geli melihat tingkah konyolnya barusan. Helaan napas lain terdengar darinya. Seolah terbangun dari mimpinya, Jiyoo sadar lelaki itu tak bisa seperti dulu. Dulu, akan ada banyak waktu untuk mereka. Sekarang, keberadaan lelaki itu terbatas waktu.

Jiyoo sering meremehkan keberadaan waktu dan jarak. Ia tak sadar kedua hal itu akan menjadi tokoh antagonis dalam hidupnya.

“Hyuk untuk Minhyuk?” Jiyoo membalikkan badan dan menemukan Minhyuk memandangi lukisan uap putih buatannya.

“Bukan,” Jiyoo tertawa sebelum menghapus lukisannya.

Minhyuk mengerutkan kening, “Kenapa dihapus? Kau tidak mau membiarkannya tetap ada di sana?”

“Tidak penting, kan? Yang terpenting adalah aku tahu gambar itu terlukis di hati dengan darahku sendiri,” ucapan klise itu juga sering Jiyoo remehkan, tapi secara ajaib malah diucapkannya sekarang. Mendadak ia ingin berbagi sesuatu, “Eh, dia pulang!”

“Eunhyuk hyung?” tanya Minhyuk. Ia mendapat anggukan penuh semangat dan senyuman lebar dari Jiyoo. “Baguslah. Kau senang?”

Jiyoo makin melebarkan senyumannya. “Bukan hanya senang! Aku sudah hampir mati karena terlalu berdebar-debar. Dengan melihatnya lagi, aku tahu aku bisa menunggunya sampai kapan pun!”

Dengan wajah ikut tersenyum, Minhyuk mengamati Jiyoo. Gadis itu tampak berbeda dibandingkan kemarin. Ia sempurna, dengan lekukan senyum di bibirnya. Atau Choi Jiyoo memang akan sempurna dengan Lee Hyukjae?

Minhyuk berpikir, apa ia bisa membuatnya lebih sempurna daripada ini?

“Sepertinya kalian akan kencan hari ini,” ujar Minhyuk.

Jiyoo diam sesaat. Tapi Minhyuk bisa tahu jawabannya. Wajah Jiyoo menunjukkan semburat merah jambu sementara senyumannya tak lepas dari sana. Minhyuk ingin membelai wajah indah itu, tapi ia masih waras untuk tak melakukannya.

“Mm,” jawabnya singkat. “Piknik..”

Minhyuk tertawa, “Biar kutebak, aku tidak diizinkan ikut?”

“Tentu saja~~~” sahut Jiyoo ringan. “Mana ada kencan bertiga?”

“Ada, kalau kau mau, kita kencan bertiga,” Minhyuk menyandarkan punggungnya ke tembok di samping jendela. “Kau bisa menyuapi Eunhyuk hyung lalu menyuapiku bergantian.”

Jiyoo lagi-lagi merasakan nada serius dalam kata-kata itu. Ia berdeham dan tertawa kaku, “Yang benar saja, memangnya aku mau melakukannya?”

Tatapan Minhyuk menjadi milik Jiyoo sepenuhnya, “Tidak. Kau hanya akan melakukannya untuk satu orang.”

—-

Eunhyuk memandangi pantulan wajah dan tatanan rambutnya melalui spion dalam. Jantungnya berdebar, tapi ia tak boleh membiarkan penampilannya berantakan seperti debaran jantungnya. Ia sempat merapikan rambut sebelum menarik napas dan keluar dari mobil.

Angin dingin menerpa wajahnya begitu ia menginjakkan kaki ke aspal putih yang tertutup salju. Eunhyuk menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Lelaki itu bersandar ke mobil dan menunggu.

Dengan menahan udara beku yang ada di sekitarnya, Eunhyuk mengeluarkan ponsel. Ia menekan nomor satu tanpa melihat. “Aku di depan kampusmu..”

Senyuman pendek terulas di bibirnya saat suara Jiyoo membahana di daun telinganya. Dengan agak santai, Eunhyuk kembali menunggu.

Tak butuh waktu lama hingga ia bisa melihat Jiyoo dari kejauhan. Eunhyuk hendak melambaikan tangan, tapi urung dilakukan ketika ia melihat gadisnya tak sendirian. Kedua matanya menyipit, merasa mengenali sosok lain di samping Jiyoo.

Annyeong haseyo, hyung,” sosok yang tampak tak asing itu menyapa Eunhyuk. “Sepertinya ini pertama kalinya kita bertemu selain di stasiun televisi.”

Eunhyuk mengerutkan kening, tak paham. Tapi kemudian ia mengangguk-angguk, “Oh, CN Blue!”

“Kang Minhyuk,” ralat Jiyoo. “Namanya bukan CN Blue, Poo~”

“Maksudku itu.” Eunhyuk nyengir sementara tangannya menjabat tangan Minhyuk. “Kau kuliah di sini?”

Minhyuk mengangguk sambil tersenyum. “Aku senior Jiyoo, kalau itu yang mau hyung ketahui. Aku menjaganya dengan baik selama hyung tidak di sini.”

Nada suara Minhyuk cukup tenang; terlalu tenang untuk tak mengganggu perhatian Eunhyuk. Lelaki itu memandangi Minhyuk dari atas hingga ke bawah, seolah kedua matanya bisa mendeteksi pikiran orang lain. Ia merasa janggal dengan lelaki yang ada di samping Jiyoo.

“Aku hanya bercanda,” sahut Minhyuk, menyadari aura di sekitarnya menjadi tak nyaman.

“Tentu saja,” Eunhyuk bergumam dan berusaha mengabaikan pikirannya barusan.

Jiyoo melirik kedua lelaki itu bergantian sebelum berdeham, “Ayo pergi..” Lengannya sudah mengamit lengan Eunhyuk dengan erat.

“Selamat bersenang-senang,” Minhyuk tersenyum sekali lagi. Lelaki itu mengawasi Jiyoo dan Eunhyuk sampai keduanya masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan hingga mobil hitam milik Eunhyuk menjauh dan menghilang di balik tikungan jalan.

“Sepertinya mereka tidak akan bisa bersenang-senang kalau ada dirimu,” Lee Jonghyun, member CN Blue lain sudah berdiri di samping Minhyuk. “Jangan main-main dengan mereka..”

Minhyuk mengangkat bahu, “Permainan seperti ini menyenangkan, hyung.”

—-

“Pantai?!” seru Jiyoo ketika mobil Eunhyuk berhenti di samping jalan menuju ke pantai. “Poo, kau bercanda ya?”

Eunhyuk melepaskan sabuk pengamannya. “Kenapa?”

“Ini musim dingin dan kau mengajakku ke pantai? Kau mau membuat kita flu parah?” Jiyoo masih berseru tak setuju. Ia menolak untuk melepaskan sabuk pengaman sampai Eunhyuk mengganti tempat tujuan piknik mereka.

Eunhyuk tersenyum lalu mengambil payung plastik transparan yang ada di kursi belakang. “Ayo turun, Nona..”

Jiyoo mengerang, “Tidaaaaaaak~”

“Ada kejutan untukmu,” bujuk Eunhyuk. Ia sudah lebih dulu turun dari mobil sambil memegang sebuah payung di tangannya.

Setelah mendesah frustasi, Jiyoo membuka sabuk pengamannya dan mengeratkan mantel abu-abu gelap yang ia kenakan. Gadis itu membuka pintu mobil dan nyaris tertawa karena menemukan Eunhyuk sudah berdiri, menunggunya turun sambil mengulurkan sebuah payung.

“Poo, ayo mendekat, nanti kau sakit,” Jiyoo menegur Eunhyuk yang berjalan agak jauh di sampingnya.

Eunhyuk tersenyum samar. Salah satu tangannya masih memegangi payung untuk melindungi Jiyoo dari salju yang turun sementara rambutnya sendiri sudah penuh salju berwarna putih. Lelaki itu sengaja membiarkan Jiyoo terlindungi sepenuhnya dari salju.

Jiyoo memutar bola mata kemudian merebut payung dari tangan Eunhyuk. Ia melipat payungnya. “Ayo main salju sama-sama..”

“Kau bisa sakit, sini payungnya,” sahut Eunhyuk. Lelaki itu berhasil merebut kembali payungnya. “Baiklah, aku kalah.”

Jiyoo tersenyum puas saat Eunhyuk merapat ke arahnya dan ikut berlindung di bawah payung. “Mau apa kita di sini? Ini bukan tempat yang cocok untuk piknik, Lee Hyukjae~”

Eunhyuk mengabaikan komentar Jiyoo. Ia tetap menggiring gadisnya ke tempat yang sudah disiapkannya. Kedua matanya berkilat-kilat senang saat ia menemukan sesuatu di pinggir pantai.

Sebuah kursi pantai berwarna putih dengan payung di atasnya membuat Jiyoo mengerutkan kening. Hanya sebuah lingkaran kecil di bawah payung yang tak terkena salju. Lingkaran kecil itu menjadi lingkaran pasir di antara lautan salju yang putih.

Jaaa~ duduk,” kata Eunhyuk sambil melipat kembali payung transparannya.

Jiyoo masih mengerutkan kening. Pemandangan yang dihadirkan Eunhyuk di pantai ini sangat berbeda dari pemandangan pantai yang sering dilihat Jiyoo. Ia tak menyangka salju dan pasir pantai bisa melukiskan pemandangan seperti ini.

Warna pasir pantai yang lembut dipadukan dengan warna putih salju. Pantai dengan warna biru muda dan langit dengan warna serupa semakin membuat pemandangan ini harus dibingkai rapi.

“Indah tidak?” tanya Eunhyuk. Lelaki itu sudah duduk di samping Jiyoo setelah menyandarkan payungnya ke tepi kursi.

Jiyoo mengangguk tanpa suara. Senyuman lembut terukir di wajahnya saat ia menoleh ke arah Eunhyuk yang tersenyum untuknya. “Kukira seleramu sudah jadi aneh sejak kau pindah ke Paris.”

“Eii~ selera seniku semakin baik setelah aku di sana,” katanya. “Aku melihat pemandangan seperti ini di sebuah museum. Judulnya Sand and Snow.”

Keduanya saling berpandangan untuk sejenak. Tangan Jiyoo terangkat ke udara, membelai wajah Eunhyuk yang ada di depannya. Seolah ingin melukisnya, Jiyoo menggerakkan jemarinya perlahan ke setiap inci wajah Eunhyuk.

Jiyoo tersenyum kecil. Jemarinya mulai bergerak di pelipis Eunhyuk, turun ke pipinya kemudian menuruni tulang hidung dan berhenti di bibir Eunhyuk.

Ada hembusan angin panas yang membelai pipinya sendiri. Jiyoo merasakan dorongan untuk terus menyentuh lelaki itu. Betapa ia ingin memiliki lelaki itu dan menyimpannya untuk dirinya sendiri hingga nanti.

Eunhyuk menangkap jemari yang bermain di wajahnya hingga jemari itu kini ada dalam genggamannya. Entah bagaimana, ia bisa merasakan kerisauan gadisnya.

“Ambilkan segenggam salju untukku,” pintanya.

Merasa tak yakin dengan indera pendengarannya, Jiyoo mengulang, “Salju?”

“Iya, segenggam salju, lalu aku akan menunjukkan sebuah sulap,” Eunhyuk sempat mencium telapak tangan Jiyoo yang masih berada dalam genggamannya.

Jiyoo menurut. Ia berbalik dan berjongkok untuk menggenggam salju dingin yang ada di sekitar pasir. Setelah mendapatkan segenggam salju, Jiyoo kembali duduk di samping Eunhyuk. “Mau diapakan?”

“Kau lihat apa yang kubawa?” Eunhyuk mengulurkan telapak tangannya yang terkepal. Jiyoo menggeleng, jadi Eunhyuk membuka kepalan tangannya.

Segenggam pasir sudah ada di tangan Eunhyuk. Jiyoo mengangkat sebelah alisnya. “Lalu untuk apa salju dan pasir ini, Poo?”

Jiyoo tak suka dibuat bingung dan tak mengerti apapun. Ia nyaris membuang kembali salju dalam genggamannya saat Eunhyuk menahannya. “Buka tanganmu, akan kutuangkan pasir ajaib ini.”

Eunhyuk melakukan apa yang diucapkannya. Lelaki itu mencampur pasir dalam genggamannya dengan salju Jiyoo. Sementara Eunhyuk sibuk dengan sulapnya, Jiyoo hanya memutar bola mata.

“Katakan kau mencintaiku,” ujar Eunhyuk.

Jiyoo membelalakkan mata, “Ha?”

“Katakan saja, Yoo,” Eunhyuk tetap memaksa.

“Konyol,” gerutu Jiyoo. Eunhyuk meliriknya tajam dan Jiyoo mau tak mau harus menurut, “Aku mencintaimu..”

Eunhyuk menutup genggaman tangan Jiyoo yang berisi salju dan pasir itu. Setelah melafalkan kalimat ajaib –yang menurut Jiyoo hanya kalimat berbahasa planet yang tak bisa dimengerti, Eunhyuk mengambil napas. “Buka tanganmu dan temukan sesuatu di dalamnya.”

Jiyoo mengerutkan kening. Gadis itu menggosok-gosok tangannya, menjatuhkan campuran pasir dan salju itu ke pangkuannya. Alisnya terangkat ketika merasakan benda padat di antara tangannya sendiri.

Gadis itu membulatkan kedua matanya lebar-lebar. “Poo..”

Eunhyuk tersenyum puas. Reaksi Jiyoo persis seperti yang dibayangkannya. Lelaki itu menyambar benda yang masih ada dalam pegangan Jiyoo.

Sebuah cincin sudah berpindah tangan. Cincin dengan kilauan putih di tengahnya itu menarik perhatian Jiyoo. Cincin itu sederhana. Terbuat dari emas putih dengan kilauan berlian kecil di tengahnya. Jiyoo masih tertegun diam. Ia bisa melihat ukiran indah bertuliskan kata Ji dan Hyuk di lingkaran dalam cincinnya.

Benda bulat kecil yang berkilau itu dimainkannya di tangan. Eunhyuk menarik napas. “Tadinya mau kuminta ukiran Yoo atau You saja, tapi mendadak aku tidak mau tidak ada di cincin ini.” lelaki itu tersenyum lebar. “Choi Jiyoo-ssi, will you marry me?”

Jiyoo hanya diam. Ia tak bisa bergerak atau menjawab apapun karena otaknya tiba-tiba beku. Dalam kepalanya, hanya ada nada panjang berbunyi Bip yang mengacaukan sistem kerja otaknya.

Gadis itu memandangi Eunhyuk bergantian dengan benda mungil yang masih ada dalam genggaman Eunhyuk. Keduanya menggiurkan; lelaki itu dan tawarannya. Jiyoo bisa saja langsung mengangguk dan memeluk Eunhyuk, tapi ia masih belum bisa bergerak saat ini.

“Kau.. tidak bercanda, kan?” setelah bermenit-menit, hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.

Eunhyuk mengerutkan kening kemudian tertawa. “Memangnya aku harus membeli cincin berlian asli kalau aku mau bercanda denganmu, Yoo?”

“Mm.. benar, kau tidak mungkin mau rugi,” Jiyoo bergumam.

“Ck, jadi bagaimana?” desak Eunhyuk, “Mau menikah denganku tidak?”

Jiyoo melihat lelaki itu mengerlingkan mata ke arahnya. Ia berdeham pelan. Sepertinya hanya itu yang bisa dilakukannya untuk mengurangi resiki gagal jantung yang dideritanya gara-gara lelaki ini.

Ya,” panggil Eunhyuk pendek. “Kau akan menyesal kalau tidak bilang Iya. Kau tahu tidak ada berapa banyak gadis Eropa yang menungguku di Paris?”

“Kalau begitu, kau nikahi saja salah satu dari mereka, tidak perlu repot-repot ke Seoul untuk melamarku,” Jiyoo menggerutu. Ia yakin Eunhyuk tahu ia tak suka membahas soal Eropa dan Paris –apalagi gadis-gadisnya.

Eunhyuk mengangkat bahu. “Yah.. mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menikah dengan gadis lain selain Choi Jiyoo. Dan setahuku, satu-satunya gadis bernama Choi Jiyoo yang kukenal adalah dirimu, jadi terima saja, aku hanya akan menikah denganmu.”

“Kau ini sedang melamar atau memaksa?” ujar Jiyoo.

“Jadi, mau atau tidak?” Eunhyuk kembali mendesak.

Jiyoo menarik napas panjang, berusaha membebaskan desakan perasaan bahagianya ke udara. “Sepertinya aku tidak punya pilihan lain.”

“Apa maksudnya ‘tidak punya pilihan lain’? Memangnya kau berharap siapa lagi yang bisa melamarmu seromantis caraku ini?” gumam Eunhyuk. “Tidak ada yang lain, kecuali Lee Hyukjae!”

“Benar,” ucap Jiyoo pelan. “Selain kau, tidak ada yang lain.”

Eunhyuk meraih tangan Jiyoo lembut. Lelaki itu menelan ludah sebelum memandangi jari manis Jiyoo. Pandangannya bergantian dengan cincin putih mungil dalam pegangan tangannya yang lain. Dengan satu gerakan manis, lelaki itu menyematkan cincin berukiran JiHyuk ke jemari Jiyoo.

Jiyoo mengangkat tangannya ke udara, memandangi cincin di tangannya lebih seksama. Cincin itu begitu indah. Kilaunya mengingatkan Jiyoo pada bintang di langit. Warna putihnya menyadarkan gadis itu bahwa warnanya sama seperti salju yang mengelilingi mereka.

Jaaa~” serunya. “Sekarang kau milikku, cincin ini adalah rantaimu, jadi tak akan kubiarkan kau pergi kemana pun kecuali ke dalam hati dan pikiranku.”

=================================

Waaaaaaaahh~~~ SYUDA LAMA PINGIN NGETIK ADEGAN LAMARAAAAANN!! ;;____________;;

Siapapun jodohku, yang ada di luar sana, tolong lamar aku pake cara yang lebih romantis daripada si POO.. xD❤

Special thanks for Momma buat teasernyah *yeah, you know what I meant, Mom~ xD*
Teaser itu bakal jadi pembangkit napsu Yoo ke Poo.. :3 

 Eniwei, ada yang pernah tanya soal PoV di awal yah? Gantian kok, edisi ganjil itu Poo, kalo genap itu Yoo.. ^-^ Ato gampangnya, kalo paragrap awal itu bicarain Jiyoo ya itu punya Yoo, sebaliknya buat Poo yaah~😉

65 thoughts on “Purple & You [Dua]

  1. Kang MinHyuk!! Kalo si elu ganggu jiyoo sama eunhyuk dirimu berhadapan langsung dengan ku!! (?) Hahahahahaha itu jihyuk juga bisa jiyoo-minhyuk -_- oh tidaaaaaak!! Di bikin sakit dong eunhyuk nya!! Kan keujanan salju! Jadi nanti di rawat ama jiyoo deeeeeh :p

  2. YA! LEE HYUKJAE KENAPA LO JADI ROMANTIS GITU BAAAAANNGGGGG? Envy sama jiyoo sumpah ;A; kirain tadi mau sulap beneran tau-taunya dilamar ^o^ cieee jiyoo dilamar bentar lagi nikah~ akhirnya jihyuk nikah juga~ Minhyuk kata-katanya agak menggoda iman gimana gitu ya….:’3 kak shelaaaaaaaa yaAllah kak shela lagi baik, sinisini aku cium(?) padahal kirain hari ini kak yuli yang bakal publish duluan ternyata kak shela duluan~ gapapalah yang penting sm2 ff *curhat*

  3. Adegan.lamarannya manis bgt!! >_<
    Romantis bgt Hyuk, aku kasih 10 jempol utk idemu ngelamar Jiyoo!
    Dasar MinHyuk penganggu ga jelas hubungan mereka -_- pdhl klo misalnya jd JiHyuk yg versi JiYoo sama MinHyuk aku ga bakal kecantol di blog ini hehehehe
    Nanti ada update-annya lg y Onn?

  4. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA (۳ ˚Д˚)۳
    DEMI TUHAN MINHYUK, JANGAN GANGGU JIHYUK YG BARU ABIS LAMARAAAAAAN
    Silahkan ganggu hyori ajah yg masih blm ttd kontrak seumur idup (´⌣`ʃƪ)♡
    Nyesel deh kasih teaser klo ntar ada adegan sedihnya :p
    Tolong jgn hancurkan kharisma menawan hyukjae HA HA HA HA

    Oh jiyoo choi~ udah dirantai ama poo. Say bye to changmin-minhyuk-seungho dkk😄

    Last but not least, Uri cho kyuhyun~ (っ ̄³ ̄)っ. ♥ miss yuh miss yuh😄

    • GAK BISAAAAA~~~ Minhyuk masih harus maen di tiap FF yoo, gak boleh diambil duyuuuu..
      syuda cukup yoo relakan yoo seungho kemarenn, Mommaaaa~~~ ;A;
      ……………….
      teaser itu bikin Yoo GILAAAAAA!! OHEMJIIII, KEREEEEEENN~~ ;__________;
      gak bisa, belom mau say bye amah mereka. :3

      Ciyeeeeee~ ada yang kangeeenn.. *dandanin kyu, sodorin kyu, pitain kyu*
      makasihh syuda baca mom~ ^-^

  5. Halooo onnie!! Lama tak berjumpaa, aku masih utang 2 atau 3 ff yg belom aku comment T.T
    Horee ff baru ciee gadis ungu hahaha, aduh di ff ini onnie sm hyuk gemey banget, jadi iri hehehe. Kemaren siwon sekarang minhyuk, maunya apaa? Kenapa yg ganggu jihyuk ganteng semua *hahha gak deng hyuk juga ganteng*
    Oooh jadi begitu toh pov yg di awal, aku juga sempet bingung ini yg lagi ngomong siapa hehhe.
    Aku juga mau dilamar seromantis hyuuuk😀

    • HALOOOOOO, SAYAAAAANG~~~ ^o^ *lambai-lambai*
      gak papah, santai ajahh.. ;D

      kalo yang ganggu jihyuk gak ganteng namanya bukan ngeganggu dongs? xD
      Ahahaha~ makasihh syuda baca yaaa.. ;D

  6. Sii Minhyuk kyak hantu ya?? sk muncul tiba2 -________-

    Trnyata eunhyuk bs romantis jg ya?? imajinasi nya yoo ttg ‘romantis’ tinggi banget… ksian qta ini yg gak prnah dpt hal2 romantis, ngbayanginnya susah pula.. *sigh* nasib😥
    semangat yoo, ditunggu next chapt :p

  7. gila…
    romatis amat….
    siapapun jodohku lamar donk, haha

    aduh, shela..
    onnie envy berat..
    d’lamar eunhyuk, d’sukai n d’jagain minhyuk.. wuiih..

    minhyuk gak jahat kan??
    beneran suka ma jiyoo kan??

    kyuhyuk momen…^^
    perbyk interaksi mereka yah, onnie suka sih..😀

    • nyahahaha~ tugas yoo adalah membuat iri orang banyak. *ditimpuk koin cinta hyuk (?)
      gak mau jawab dulu ah, nanti gak seruu. xD
      kyuhyuk…………hh~ kasian hyuk sih kalo kyuhyuknya dibanyakin. *sigh*
      makasihh syuda baca onnie~ ;D

  8. tolong ya ini cerita membuat saya jadi galau..
    Saya gak bisa milih hyuknya eunhyuk atau minhyuk..

    Aduh saya bner2 d bkn klepek2 nih ma ef ef..

    Ehm, eunhyuk romantis sangat,, pengenya sih ga membagi hati, tp bagaimana ya karakter minhyuk d efef ini menggemaskan gmn gtu, pastinya bkn kepincut…

    Huaaaa saya gtw kmen apa ini…
    Suuuuka um…….

  9. wah,pasti author masukin si minhyuk biar bisa sama hyukny ya??wkwkkwk…

    kya,,,3 hitungan ga bisa nahan yoo buat meluk hyuk…aku mw ikutan ah meluk hyuknya..hihi

    minhyuk,,dengerin dong kata hyungnya jangan jadi ngerusak hubungan orang dunk,aq ga rela dah kamu sama aku aja..hihi

    jatuh cinta sama hyuk disini..ditunggu lanjuttannya..fighting ..

  10. ahh gk percaya deh hyuk bisa seromantis ini… Aigoo hyuk akhrnya bisa jg ngelamar #eh

    Cie minhyuk ceritanya demen sm yoo nih… Eii yoo drimu di demenin anak band skrg bkn cuma anak boyband… Hahay

    Ini masih teruskan? Iya kan iya donk… Oke pkkny ditunggu next story P&Y…

  11. feeling kyu ternyata lbh kuat dri hyuk…
    ahhh hyukjae,, jiyoo dalam bahaya tau, minhyuk suka ma jiyoo tau…
    lamarannya romatiiiiiiisss… jiyoo ga blh berpaling dri hyuk,..
    kali ini kalian harus nikah (?)

  12. huwaaaaaaaaaaaa !! romantiiiss~~ #kipaskipas
    onyet romantis pergi ke pantaaai *plak*
    haduu minhyuk terlalu imut buat jadi tokoh ketiga~ ><'
    demi apapun suka banget sama enyuk disini !!:* :* :*

  13. ciyeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee,,,,,, poo…………… dilamar nih yeeeeeeeeeeee……….. *tiup terompet kerang* XDDDDD
    aseeeeeeeekkk….. ihiiiiiiyy…. *siapin pelaminan… :p

  14. lee hyuk jae-ssi…… cepet lamar aku!!!!!!!!!!!!!!!!! *dicium yoo* hehehehehehehehe………….

    aku ga bisa bayangin muka cemburunya poo… kekekekek

  15. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa sukaaaaaaaa ! ahhhh eunhyuk so sweet bngt sihh ! ahaha senyum senyum dah bacanya. dan yak ! minhyuk ! jangan ganggu jiyoo aigoooo ! hyukieee lindungi jiyoo muuuu ahahaha

  16. omooo~~
    aku mau dilamar kayak gitu :3
    so sweet bangeettt~

    minhyuk tuhh.. sesuatu banget yah -___-
    jadi pengin nglempar sendal swallow –”

    keren banget eon critanya!! ngena banghet lah eon😀
    next part ditunggu~😀

    • aku juga mau dilamar kaya gituuu~ >//<
      heii, jangan sebut merk, bilang aja sandal jepit. xD
      tapi kesian kalo minhyuk ditimpuk sandal, kan~ *brb peyuk minhyuk*
      Makasihh syuda baca yaa~ ^-^

  17. ABANG KOK BISA JADI ROMANTIS GITU..!!! Boleh request donk bang… Aku juga mau di lamar… *Ji Yoo unn udah standby depan rumah pake duit*

    Yoo unn, cerita daebak.. telat banget aku tau part 2 nya udah publish.. next part di tungguin unn,, sekalian nungguin abang ikan (teri) ngelmar aku jugak.. #plakkkkk

    Jangan lama-lama ya unn lanjutanyya..
    Sekian aku nyampah di sini.. ^^v

  18. Asiiiik… Poo ngelamar Yoo~ dengan kadar keromantisan yang tidak perlu diragukan lagi.. /brb pingsan.. Poo belajar darimana bisa romantis macem itu?… Yoo bilang Mineul romantis?.. Justru JiHyuk yang lebih romantis, AAAAAAAAA~~ (´⌣`ʃƪ)♡ mau lagi ngambek2kan kek, kangen2an kek, mesra2an kek, smuanya dpt banget feelnyaaaa… Uauauauauawawa…. Itu siapa?? Lee Jonghyun CN Blue?.. Gyaaaaaa~~ Jonghyunnie burning…. Pria-pria dari sienblu ini yaaah memang pesonanya.. Haduuuh.. Haduuuh.. *tutup mata sejenak* ayoooo cepetan Jihyuk nyusul Mineul ke pelaminan.. Okay?.. ~^-^

    • Poo itu yoo suruh nontonin drama romantis biar romantisnya ketularan. xD
      Gak bisaaaa~ Mineul itu uda kalem, tenang2 aja tapi sosuiiiitt~ ><
      Yesseu.. Jonghyun CN Blue.. Bwahahaha~😄

      nanti jihyuk nyusul deh, tapi maunya dibayarin ama Mineul~ :3
      makasihh syuda baca kakak jingga.. ;D

  19. Aku telatt.. Aku telat (º̩̩́Дº̩̩̀) anak macam ap aku ini (つ _-) . Mian telat mamah kue” natal dan taun baru membuatku lupa ingatan wkwkkw,,

    Paling nyesek waktu si minhyuk bilang kau tahu, dan kau membuatku cemburu. « Disitu pengen teriak aja si minhyuk it waria ._. Wkwkwkkw😄
    Si papa romantis gila -_- makan ap dia di paris masih sm kan –” wkwkwk *lirik hae*
    Eyakk kayakny bakal bnyk adegan kyuhyuk moment nih ya ._. Smoga aj si kyu gk suka nyiksa hyuk, ngenes aj klu liat hyuk slalu di siksa kyu kkkk~
    AAAAA~ daebakk ff mu punya ciri khas tersendiri mah (˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ)

  20. HUAAAAAAAAAAAAAA aku mau nangis bacanya!! Romantis bgt..demi tuhan.. Aaku senyum2 sendiri bacanya..neomu joahae!!! Eonni…knp km jd cewek kok romantis bgt??huaaaaaa semoga beberapa tahun lg aku jd jiyoo..amin

  21. Ya! Kang MinHyuk, sebenarnya apa maumu hah ???!!!
    Meskipun wajahmu imut dan kau adalah salah satu namja yg mengalihkan duniaku, #Diinjek# tapi aku tidak rela kau merusak hubungan JiHyuk, atau kau akan aku blacklist dari daftar pria idamanku.
    #Plakkkk
    #Abaikan

  22. Aish…minhyuk mau rebut jiyoo dari hyuk y…
    Bang eunhyuk…
    Mau dong dilamar kaya’ gtu…aaa…sweet bgt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s