Purple & You [Satu]

 ***

Ada jutaan warna yang bisa menggambarkan jagad raya. Ada ribuan warna yang selalu bisa melukiskan indahnya dunia. Semua warna itu indah dan mengindahkan. Bahkan hitam gelap dan putih memiliki keindahannya sendiri. Semua warna memang selalu indah.

Aku suka beberapa warna. Aku suka beberapa warna yang bisa mewakili perasaan terdalamku,

Untukmu..

Merah adalah salah satu warna kesukaanku. Strawberry berwarna merah, tapi bukan hal itu yang membuatku menyukai warna merah. Merah menggambarkan keberanian; keberanianku untuk menyukaimu.

Biru juga warna kesukaanku. Warna biru melambangkan ketenangan dan kedamaian; karena saat mencintaimu, aku tahu aku bisa mendapat ketenanganku sendiri, aku tahu aku bisa menciptakan kedamaian pribadiku sendiri hanya dengan mencintaimu.

Kau menyukai warna ungu. Sama seperti warna sekunder itu, kau tak suka menjadi orang yang menonjol. Kau tak peduli apakah orang lain bisa melihatmu atau tidak. Kau, gadis unguku, lebih suka menjadi warna sekunder di antara jutaan warna dunia.

Aku tidak suka warna ungu. Warna itu bukan warna primer, ungu hanya warna sekunder yang terbentuk dari gabungan antara dua warna primer. Aku tidak sepertimu, gadis penyuka warna ungu, aku tidak suka warna itu.

Tapi ada sesuatu yang terlupakan,

Bahwa ungu adalah warna yang tercipta dari warna merah dan biru. Bahwa warna kesukaanmu itu terbentuk dari dua warna kesukaanku. Bahwa ketiga warna itu saling berhubungan.

Aku ingat, bahwa mencintaimu dapat menggambarkan diriku sendiri dengan sempurna.

Aku teringat, bahwa mencintaimu dapat melengkapi semua warnaku –dan hidupku.

Dan aku mengerti, bahwa warna ungu adalah warna kehidupanmu yang tergores indah dalam kanvas kisahku.

======================

SATU

Langit kota Seoul tampak mendung namun matahari tetap terlihat bersinar sempurna di ufuk baratnya. Seolah tak mau kalah, awan hitam dan matahari senja tampak bersaing untuk memperoleh kedudukan tetap sore ini. Pertikaian keduanya membuat seorang lelaki menengadah menatap langit.

Lee Hyukjae menghentikan langkahnya sejenak. Sambil tetap memerhatikan langit luas di atasnya, ia merogoh ponselnya. Lelaki itu menarik napas sebelum menekan nomor 1 disana.

Ia menunggu beberapa saat, menanti seseorang menjawab panggilannya. Hyukjae berseru, “Oh! Ada dimana?”

“Ng.. dorm,” sahut suara di ujung telepon. Hyukjae menyunggingkan senyuman lebar walaupun tahu orang itu tak bisa melihatnya. “Kenapa?”

“Aku ada di depan dorm, bisa tolong turun sekarang?” tanya Hyukjae. Ia menadahkan tangannya, memeriksa rintik-rintik hujan yang bisa datang kapan saja. “Keadaan disini mengkhawatirkan.”

Hyukjae menahan senyum ketika mendengar helaan napas panjang. “Jangan kemana-mana~”

Sambil menjejalkan ponselnya kembali ke saku, lelaki itu memilih untuk bersandar di dinding. Ia mendongak ke atas, menemukan atap yang bisa dipastikan dapat melindungi tubuhnya dari hujan tiba-tiba. Hyukjae bersiul sambil kembali menunggu.

Entah kenapa, pekerjaan paling menyebalkan itu –menunggu, selalu menjadi pekerjaan paling menyenangkan jika dikaitkan dengan orang yang menempati dorm ini.

Hyukjae tersenyum samar. Ia menarik napas panjang sementara tangannya dijejalkan masuk ke dalam saku jaket biru-hitam yang dikenakannya. Menunggu tidak pernah semenyenangkan ini, batin Hyukjae.

“POO~~~” seruan seseorang membuat Hyukjae membalikkan badan. Lelaki itu mengembangkan senyuman lebar ketika mendapati gadis bermantel ungu muda berjalan cepat ke arahnya. “Hh~ liftnya rusak, aku harus menuruni tangga dari lantai 5 kesini.”

Hyukjae mengangkat tangannya ke udara, mengacak rambut gadis yang diterbangkan angin itu. “Maaf yaa..”

“Ada apa?” tanya gadis itu sambil meraih tangan Hyukjae yang tadi digunakan untuk mengacak rambutnya. “Ah, jadi maksudmu ‘keadaan mengkhawatirkan’ itu..”

“Mendung, hampir hujan,” Hyukjae tersenyum lebar –atau konyol.

Gadis itu mengerucutkan bibir, “Sia-sia saja aku terburu-buru turun kalau ternyata kekhawatiranmu itu hanya untuk hujan.”

“Choi Jiyoo-ssi,” panggil Hyukjae. “Apa kau rela melihatku kehujanan demi menunggumu disini?”

“Mm,” Choi Jiyoo menjawab cepat. “Kalau kau menunggu disini, bukankah terlihat lebih keren? Seperti dalam film romantis, seorang pria menunggu kekasihnya di luar rumah sambil ditemani hujan. Itu romantis..”

Hyukjae menghela napas, “Apa kau tidak tahu si pria dalam semua film itu langsung jatuh sakit karena demam gara-gara melakukan hal konyol seperti yang kau ucapkan?”

“Menyebalkan,” Jiyoo berkomentar pendek. Gadis itu melingkarkan tangannya ke lengan Hyukjae, memenjarakan lelaki itu hanya untuknya sendiri. “Tidak mau masuk?”

“Kalau ada Hyori, aku tidak akan masuk,” sahut Hyukjae santai.

Jiyoo menarik napas panjang lalu mencibir, “Lalu kita mau ke mana?”

“Melihat bintang dari langit,” Hyukjae tersenyum samar sambil mengaitkan jemarinya di antara jemari Jiyoo. Tangan gadis itu dingin, begitu pula dengan tangannya sendiri. Hyukjae mengeratkan genggamannya, menarik paksa jiwa gadis itu ke dalam pelukan mayanya.

Jiyoo balas tersenyum dari balik punggung Hyukjae. Ia tak pernah keberatan dengan semua hal manis yang dilakukan lelaki itu, karena ia sendiri tahu ia menginginkan segala hal dari Hyukjae. Seperti saat ini, ketika Hyukjae menggenggam erat jemari bekunya, Jiyoo tak ingin melepaskan diri walaupun tahu debaran jantungnya menggila.

Keduanya berjalan beriringan setelah Jiyoo meyakinkan diri jantungnya tak akan meledak saat itu. Gadis itu mendongak untuk menatap lelaki yang lebih tinggi darinya, ia tersenyum.

Jiyoo, tanpa sadar, memejamkan mata dan bergulat dengan pikirannya sendiri.

Bahwa ia beruntung menjadi satu-satunya ‘pemilik’ lelaki ini. Jiyoo beruntung bisa menjadi gadis yang selalu bisa membelai wajah lelaki kesukaannya ini. Jika segala keberuntungan itu tak pernah menjadi miliknya, Jiyoo tak tahu lagi bagaimana caranya untuk tetap bernapas.

“Sampaaaaii~” seruan Hyukjae membuat Jiyoo mengabaikan pikirannya. Perhatian gadis itu langsung tertuju pada gedung restoran Perancis yang sudah gelap.

Jiyoo mengerutkan kening, “Apa ini?”

“Tempat rahasiaku yang baru,” Hyukjae menyahut bangga. Telunjuknya mengarah pada selusur tangga yang terbuat dari besi. “Kita bisa ke atapnya dengan tangga itu.”

“Jadi tawaran melihat bintang itu bukan lelucon ya?” tanya Jiyoo lugu. Ia melirik jam tangan keramik warna ungu di pergelangannya. “Masih jauh untuk melihat mereka, Tuan Lee Hyukjae.”

Hyukjae mengembuskan napas, melepaskan udara yang seolah menjadi beban dalam dirinya. “Ada yang mau kukatakan, pentiiing..”

“Baiklaaaah,” Jiyoo menyahut santai dan memimpin di depan sambil mengamit lengan Hyukjae. “Ayo naik..”

—-

 Mega berwarna jingga terpajang luas memenuhi langit. Jiyoo berdiri tegap, memegangi kawat pembatas erat-erat. Langit senja berhasil mengalahkan awan mendung yang tadi tergantung di langit dormnya. Ia tahu ini konyol, tapi ia senang matahari dapat tenggelam sempurna.

“Wooooaaah~” serunya. Jiyoo berhasil menarik lengan Hyukjae, memastikan lelaki itu akan berdiri di sampingnya.

Hyukjae tersenyum kecil melihat gadis kecilnya itu berseru riang. Tak ada yang bisa menggantikan segala raut wajah Choi Jiyoo. Hyukjae menyukai segalanya; senyuman, rengekan, tangisan cengeng, bahkan kekesalan gadis itu.

Menjadi seseorang yang selalu ada di samping Jiyoo adalah hal paling hebat yang Hyukjae rasakan.

“Hari ini tidak sibuk, kan, Yoo?” tanyanya, mengalihkan perhatian gadisnya dari langit senja berwarna jingga di hadapan mereka.

Jiyoo menggeleng cepat. “Tidak. Aku sudah memutuskan jadwalku sendiri hari ini. Mau dengar?”

Mau tak mau, Hyukjae mengangguk. Lelaki itu ikut mengembangkan senyum ketika Jiyoo memamerkan senyuman lengkung sempurna miliknya. Seperti virus, gadis itu selalu bisa menjangkiti dirinya. Dan Choi Jiyoo adalah virus kesukaan Hyukjae.

“Ehm..” Jiyoo berdeham dengan gaya berlebihan, “hari ini seharusnya aku belanja dengan Hyori untuk makan malam, tapi saat kau datang, aku punya jadwal baru.” Gadis itu berhenti sejenak, “Mengikutimu sampai tengah malam!”

Hyukjae mengerutkan kening kemudian terkekeh nyaring, “Ya! Jadwal macam apa yang kau buat?”

“Jadwal spesial semalam bersama Lee Hyukjae,” sahut Jiyoo sekenanya.

“Sudahkah kubilang kalau kau itu gadis yang bodoh?” Hyukjae mengacak rambut Jiyoo sebelum merapikannya kembali. Ia mengumpulkan rambut gadisnya jadi satu, memegangnya untuk beberapa saat sebelum ia mengikatnya menjadi ekor kuda yang manis. “Nah~”

Jiyoo mendengus geli. “Keahlianmu itu memang hanya mengikat rambutku ya?”

“Begitulah,” Hyukjae mengangkat bahu acuh.

“Lalu? Ada apa?” tanya Jiyoo sambil menempatkan dirinya duduk di lantai atap, membiarkan celana putih panjangnya kotor dalam sekejap.

Hyukjae sempat mengernyitkan kening melihat tingkah gadis di sampingnya itu, tapi akhirnya ia tetap mengikuti Jiyoo. Lelaki itu ikut duduk di lantai. “Kalau.. ini hanya kalau ya.. kalau kita hidup terpisah untuk waktu yang singkat, apa kau tidak apa-apa?”

“Ng?” Jiyoo memandang wajah Hyukjae lekat-lekat, “Bukannya kita sering begitu ya?”

Sambil tersenyum samar, Hyukjae mengalihkan pandangannya ke depan; ke arah langit sore. Lelaki itu bukannya tak sadar kalau selama ini mereka berdua sudah menjalani hidup seperti itu. Ia bahkan sudah yakin Jiyoo sangat kebal dengan perpisahan seperti itu.

“Kenapa, Poo?” tanya Jiyoo. “Jadwal tour-mu diperpanjang?”

Jiyoo memiringkan kepala, menunjukkan raut wajah khawatirnya. Walaupun bukan sesuatu yang kecil –untuk berhubungan seperti itu, ia tak pernah keberatan. Ia mengerti dan akan terus mencoba untuk mengerti semua alasan Hyukjae.

“Bukan perpisahan yang seperti itu,” rahang Hyukjae tampak mengeras. “Kau sudah melihat artikel di internet?”

Jiyoo menggeleng, tentu. “Aku belum melihat berita apapun hari ini.”

“Super Junior bisa debut di Eropa, itu kata artikel,” Hyukjae tersenyum muram. “Super Junior akan debut di Eropa, itu kata perusahaan.”

Terkejut, pasti. Mendadak merasakan dadanya kembang-kempis, itu juga. Jiyoo berusaha keras memilah semua hal yang menyesaki kepalanya saat ini. Terlalu banyak kabar, terlalu banyak kejutan. Ia sampai harus mengerjapkan mata berkali-kali sekarang.

“Wah,” itu respon pertama yang bisa ditunjukkan Jiyoo. “Hebat..”

Gadis itu merutuk dalam hati, berkesimpulan bahwa respon itu salah, tidak benar. Hyukjae memandang wajah gadisnya dengan ragu, mencoba membaca perasaan gadis itu yang sesungguhnya. Hasilnya nihil, tak ada yang bisa dibaca dari raut wajah Jiyoo.

“Kami akan menetap di sana,” jelas Hyukjae, menganggap beritanya tadi belum cukup lengkap karena reaksi Jiyoo yang mengambang.

“Aku tahu, itu hebat, kan?” Jiyoo menyunggingkan senyuman kecil, namun ujung matanya berkedut, memaksa sesuatu meluncur dari sana. “Atau.. tidak.”

Mendadak keheningan menyergap dan menyelinap di antara mereka. Jiyoo gagal menahan desakan cairan dari matanya sementara Hyukjae sama sekali tak tahu harus berkata apa. Kabar itu mengejutkan, bagi Jiyoo; dan menyebalkan, bagi Hyukjae.

Perpisahan bukan hal yang baru untuk Jiyoo. Ia selalu bisa mengerti, atau setidaknya selalu mencari cara untuk tetap mengerti. Ia mengerti, bahwa lelakinya tak selalu jadi lelakinya.

Jiyoo bukannya tak pernah merasakan kesepian, ia tahu rasanya. Sesuatu yang bisa menghilangkan rasa sepi itu hanyalah bayangan Hyukjae yang ia sambut di bandara atau dormnya. Sederhana, tapi menyembuhkan.

Tetapi, untuk berpisah dengan jenis perpisahan seperti ini, Jiyoo tidak bisa –belum.

Perpisahan seperti ini adalah hal yang baru untuknya. Ia butuh belajar; ia harus belajar. Untuk kali ini, ia tak bisa menawarkan semua kesepiannya dengan bayangan Hyukjae. Karena entah bagaimana, Jiyoo mengerti bayangan itu tidak akan muncul dalam selang waktu yang sebentar.

“Menetap ya?” ulang Jiyoo parau. Ia mati-matian mencoba mengatur ritme napasnya; dari tersengal menjadi tidak begitu tersengal.

Hyukjae mengangguk walaupun tahu gadis itu tidak sedang memandangnya.

Hubungan seperti ini saja sudah berat dan menyakitkan, ditambah dengan segala hal tentang kepindahan. Hyukjae merasa seseorang harus membunuhnya sekarang juga. Atau paling tidak, ia butuh seseorang menggantikannya untuk pergi dan meninggalkan gadis ini.

Jiyoo punya kesibukan, Hyukjae tahu. Tapi bukan berarti ia bisa meninggalkan Jiyoo begitu saja dan berpura-pura bahwa masalah kepindahan dan menetap ini bukan masalah besar. Ia tak bisa begitu; ia tak mau begitu.

“Apa.. kau harus pergi?” pertanyaan Jiyoo terdengar konyol di telinganya sendiri.

“Ini timku,” Hyukjae menyunggingkan senyuman kecil.

Kepala Jiyoo langsung tertunduk. Benar. Ini timnya, keluarganya, hidupnya; segala-galanya bagi Hyukjae. Jiyoo mengerti semua itu, dan justru karena mengerti, sekarang ia tak bisa berbuat apapun. Tiba-tiba saja ia tidak ingin mengerti tentang segala hal itu.

“Jadi.. tidak ada gunanya aku memohon, kan?” Jiyoo berbisik pelan, takut mendadak tangisannya pecah dan berubah menjadi raungan putus asa.

Hyukjae berusaha meraih tangan Jiyoo, tapi gadis itu mengelak. “Maaf, Yoo..”

Jiyoo bangkit dari tempatnya, mundur ke belakang Hyukjae. “Jangan berbalik!” perintahnya.

“Aku selalu menurutimu,” Hyukjae balas berbisik.

Sepasang manik Jiyoo menatap punggung Hyukjae sesaat. Tapi kemudian gadis itu memandangi langit senja yang seolah muram. Jiyoo berpikir langit itu juga akan meninggalkannya sebentar lagi; sama seperti lelaki ini.

Hyukjae memandangi langit yang sama dengan Jiyoo. Untuk saat ini, ia merasa telah berubah menjadi malaikat kegelapan yang memberi kabar buruk. Ia mendadak menyesal, seolah ia baru saja memberikan kabar kematian untuk dirinya sendiri.

Lelaki itu menghela napas, menghalangi air matanya sendiri untuk tumpah.

Ia mengerutkan kening ketika sentuhan kecil terasa di punggungnya. Hyukjae tertegun. Gadis di belakangnya sedang mengukir sesuatu. Sebuah kalimat –atau nama; namanya.

 Lee Hyukjae.

“Aku tidak akan memintamu tinggal,” ujar Jiyoo seraya sekali lagi mengukirkan nama Hyukjae di punggungnya. “Karena aku tahu aku tidak pernah punya hak apapun untuk itu.”

Hyukjae merasa tenggorokan Jiyoo tercekat. Gadis itu sedang menahan tangisannya; mati-matian. Dan entah bagaimana, Hyukjae bisa merasa kalau hal itu menular; ia juga sedang menahan sesuatu dari matanya.

“Jangan lupa memberi kabar, tapi jangan lupa kalau aku di sini sibuk, jadi.. yah pokoknya jangan lupa menghubungiku!” Jiyoo mendengus mendengar tatanan bahasanya yang kacau. “Lalu.. gadis-gadis Eropa itu tidak ada yang suka lelaki sepertimu, ingat itu! Jadi jangan macam-macam disana!”

Hyukjae tersenyum kecil membayangkan wajah Jiyoo yang mengamuk jika ia tak menuruti perintah-perintah itu. Senyumannya berubah muram membayangkan ia tak akan bisa melihat wajah kesal Jiyoo untuk waktu yang lama. Lelaki itu nyaris menangis sekarang.

Sepasang lengan melingkar di pinggang Hyukjae.

“Yoo?” panggilnya. Hyukjae menunduk untuk melihat kedua lengan Jiyoo. Ia kemudian menyentuhnya, menggenggamnya erat-erat. “Jangan menangis.”

Jiyoo tak menjawab. Gadis itu tahu pundaknya yang naik-turun sudah memberi tahu Hyukjae bahwa ia terlambat melarang gadisnya. “Aku tidak akan menunggumu!”

“Aku tahu,” jawab Hyukjae lembut. “Aku yang akan menunggumu..”

—-

A month later..

“Aku pulang..” Choi Jiyoo menyeret kedua kakinya masuk ke dorm. Tas tangannya digeletakkan di atas meja sementara gadis itu menjatuhkan diri ke atas sofa. Ia memejamkan mata.

Samar-samar telinganya mendengar rintikan hujan yang semakin lebat. Jiyoo beruntung ia sudah sampai di dorm sebelum hujan turun. Senyumannya tersungging kecil. Ia menang dari hujan kali ini.

Jiyoo membuka matanya tiba-tiba, meraih tas tangannya kembali kemudian mengeluarkan ponsel. Entah kenapa, ia memandangi layar ponselnya lalu mendesah berat. Aplikasi kalender dalam ponselnya selalu menghasilkan tarikan napas panjang.

Tiga minggu yang lalu ia sendiri yang mengantarkan Hyukjae ke bandara. Bersama dengan Hyori, ia bahkan menangis di bandara setelah kedua lelaki dalam satu tim itu terbang menjauh dari Seoul; dari mereka. Seperti dua anak kecil yang tersesat, ia dan Hyori menangis sesenggukan.

Jiyoo tersenyum muram. Tak ada yang berubah darinya. Ia tetap Choi Jiyoo yang sama, yang baru saja masuk universitas, yang selalu disibukkan dengan kegiatannya sendiri. Ia tetap Choi Jiyoo.

Pikiran lain menggelitiknya. Choi Jiyoo yang sama; yang menyukai Lee Hyukjae, yang menunggu lelaki itu, yang belum rela melepaskan lelaki itu terbang jauh darinya. Ia tetap Choi Jiyoo yang itu.

Tiba-tiba saja ia mendesahkan napas berat. Pikiran seperti itu selalu berhasil merusak kemampuan fokusnya belakangan ini. Jiyoo bukannya tak sadar ia sedang merindukan lelaki itu, tapi bukankah tidak bijaksana jika ia terus merengek dan minta lelaki itu ada di hadapannya saat ini juga?

Jiyoo mendengus pelan, bukannya tidak mungkin Lee Hyukjae akan melakukan itu, kan?

“Bodoooohh!” umpatnya. Jiyoo sudah bertekad akan berubah. Ia harus menjadi gadis yang kuat walaupun tak ada Hyukjae di sampingnya. Ia bertekad akan membuat lelaki itu bangga karena memiliki gadis sepertinya.

“YOO~~~” Hyori berseru tepat setelah ia masuk ke dorm. Jiyoo menoleh dan mendapati gadis berponi itu basah kuyup sambil menenteng tas belanja. “Bantu akuuu..”

Jiyoo buru-buru bangkit dari sofanya yang nyaman. Ia meraih tas belanja sementara Hyori bergegas ke kamar mandi. “Kau tidak bawa payung?”

“Payungku sudah kuberikan pada bebek,” seru Hyori nyaring.

“Lalu untuk apa kau ke super market tanpa membeli payung baru, Shin Hyori-ssi?” Jiyoo mencibir sambil merapikan bahan belanjaan Hyori.

“Karena aku menunggu payung baru dari bebek, aku mau payung dari Eropa!” tiba-tiba saja Hyori sudah muncul di belakang Jiyoo dengan sehelai handuk tergantung di lehernya. “Ah, aku beli strawberry untukmu~”

Jiyoo mengulum senyum samar. Strawberry memang buah kesukaannya, tapi itu setelah ia mengenal Hyukjae. Saat Hyukjae tak disini, rasanya strawberry itu hanya akan memperburuk suasana hatinya.

“Oh, tadi di depan pintu ada paket untukmu,” sahut Hyori yang sedang berjongkok untuk memasukkan persediaan makanan mereka ke dalam lemari es. Ia menjejalkan macam-macam buah dan beberapa jenis sayuran. “Dari Eropa, kalau kau ingin tahu.”

Jiyoo menegakkan punggung sebelum berjalan cepat ke depan dorm. Tenggorokannya seperti tertahan sesuatu saat ia menemukan paket berukuran agak besar yang dibalut kertas kado berwarna ungu, warna kesukaannya.

“Dari siapa? Hyukjae, kan?” tanya Hyori yang kali ini sudah memakai celemek dan menghidupkan kompor.

“Mm.” Jiyoo menyahut singkat sebelum menyeret kakinya dan mengurung diri di kamar.

“Apa isi–” Hyori menoleh dan tak menemukan siapa-siapa di ruang tengah. “nya?”

—-

 Lee Hyukjae terpaku melihat salju tebal berwarna putih yang terbentang di jalanan kota Paris. Ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya walaupun ia tak berada di jalanan itu. Dinginnya terasa magis, menelusup masuk menembus jendela kaca ini dan membekukan tulang-tulangnya.

“Sedang apa?” suara Donghae membuatnya berbalik.

Hyukjae hanya mengangkat bahu kemudian mengikuti Donghae yang sudah duduk di sofa dorm barunya. Kedua lelaki itu tak saling bicara, seolah terlalu banyak beban yang bisa terbaca jika mereka membuka mulut. Tanpa suara, mereka hanya mendesah berat.

“Yoo?” Donghae, yang tak tahan dengan keheningan seperti ini, menegur.

“Mungkin,” sahut Hyukjae.

Lelaki itu terlalu merindukan Choi Jiyoo hingga tak tahu apa nama perasaan yang dirasakannya saat ini. Ekor matanya tertuju pada sarung tangan tebal yang kemarin dibelinya. Warnanya ungu, padahal ada puluhan warna lain yang lebih baik.

Hyukjae memilih warna ungu walaupun sadar sepenuhnya ia tak begitu suka warna itu. Di antara puluhan warna yang bisa jadi pilihannya, ia memilih ungu. Ia bahkan tak ingat apa ia melihat warna biru atau merah kemarin.

Hyukjae memilih warna ungu karena sadar sepenuhnya ada gadis yang menyukai warna itu.

“Aku lihat kau beli dua pasang,” ujar Donghae seraya mengikuti arah pandangan Hyukjae. Jelas, yang ia maksud adalah sarung tangan ungu itu.

“Kenapa, kau kira aku membeli satu lagi untukmu?” Hyukjae mengejek.

“Boleh, kan, kalau aku berharap?” balas Donghae konyol. “Kita bisa berkunjung ke sana akhir bulan ini walaupun itu artinya akan memangkas liburan kita tahun depan.”

Hyukjae tak berminat menanggapi. Perhatiannya masih terarah lurus pada sarung tangan pilihannya. Bukannya tak berkeinginan untuk kembali ke negaranya, hanya saja ada pikiran yang mengganggunya.

Untuk apa pulang kalau akhirnya akan meninggalkan Jiyoo lagi?

“Hanya dua minggu,” tambah Donghae. “Tapi lumayan, kan?”

“Kalau aku bisa membawanya ikut kesini, itu baru namanya lumayan, teman ikanku,” sahut Hyukjae santai. “Atau.. kalau aku bisa kembali ke sana dan tetap bersamanya, itu lebih baik.”

Donghae mencibir, “Kau itu tipe orang yang tidak mau berkorban ternyata.”

“AH!” pekik Hyukjae, nyaris membuat Donghae terjatuh dari tempatnya. “Itu dia!”

“Apa?” Donghae bertanya walaupun enggan. Ia tahu ide yang keluar dari lelaki di sampingnya ini selalu ide yang konyol –dan aneh.

Hyukjae tersenyum lebar, memamerkan gusi merah muda yang melekat dalam mulutnya. “Aku bisa membawanya bersamaku..”

—-

 Seoul tak bersalju. Itu komentar pertama yang terlintas di kepala Jiyoo saat kedua matanya tertumbuk pada jalanan kota yang masih terlihat jelas. Ia mendesah, merutuki kenapa salju enggan turun untuknya. Gadis itu sudah menyiapkan sepasang sarung tangan berwarna ungu pucat dengan hiasan bulu putih di ujungnya.

Ia membayangkan betapa hangatnya benda itu saat membungkus kedua telapaknya. Namun sepertinya bayangannya itu tak bisa terwujud saat ini.

“Untunglah tidak turun salju~” luapan kelegaan seseorang itu membuat Jiyoo menoleh sengit. Gadis itu mengernyitkan kening saat melihat lelaki berbadan tegap berdiri di sampingnya. Lelaki itu tersenyum begitu sadar seseorang sedang mengamatinya. “Kau juga tidak suka salju, kan, Jiyoo-ssi?”

Jiyoo terperangah. Ia sama sekali tak mengenal lelaki yang baru saja mengajaknya bicara –tidak secara personal, tapi Jiyoo tahu lelaki itu sering muncul di televisi. Hal lain yang diketahuinya adalah: lelaki itu senior di kampusnya.

 Kang Minhyuk.

“Oh, hai,” entah kenapa sapaan ringan seperti itu terasa janggal di lidah Jiyoo sendiri. Kali ini ia merutuki dirinya, Kang Minhyuk bahkan sama sekali bukan temannya, dan sekarang sapaan Jiyoo terdengar seperti sapaan orang bodoh.

Minhyuk tersenyum menanggapi, “Kampus ini tidak membosankan untukmu ya?”

“Eh?” Jiyoo tahu ia tak boleh melongo, tapi ia terlanjur melakukannya. Gadis itu merebakkan rona merah di kedua pipinya, “Tidak, kurasa. Aku lebih suka disini daripada di dorm.”

“Aku tidak pernah bertemu denganmu kalau aku ke stasiun televisi,” Minhyuk menyindir.

“Ah, kurasa itu karena CN Blue belum pernah promosi bersamaan dengan Super Junior,” dan Jiyoo menyahut sekenanya, tak menanggapi serius sindiran Minhyuk karena ia tahu lelaki itu juga sedang bercanda.

Minhyuk tergelak, menyipitkan matanya saat tertawa. “Mungkin juga.” Ia lalu berdeham, “Mereka belum kembali ya?”

“Belum, lagipula definisi ‘menetap’ kurasa bukan berarti setelah sebulan bisa kembali kesini, bukan begitu?” Jiyoo nyengir –setidaknya itu yang berusaha ditunjukkannya.

“Pasti menyebalkan,” tebak Minhyuk. Punggungnya yang lebar disandarkan ke dinding sementara wajahnya tetap terarah pada Jiyoo.

“Sedikit,” Jiyoo setengah berbohong. Melihat tatapan Minhyuk yang menyelidik, gadis itu mengerang, “Baiklah, menyebalkan. Sangat. Tapi kenapa bertanya begitu?”

Minhyuk mengulum senyum ramah –senyum yang menyenangkan. Jiyoo bisa melihat guratan lembut di wajah lelaki itu, seolah wajahnya terbuat dari pualam sempurna. “Aku hanya sedikit tahu tentang kau dan Eunhyuk hyung, dan begitu tahu grupnya menetap di Eropa, pikiranku langsung tertuju padamu.” Lelaki itu tersenyum lebih lebar, “kurasa kau keberatan.”

Memang, Jiyoo ingin mengakuinya.

Tapi untuk apa? Kang Minhyuk hanya senior di kampusnya, bukan seseorang yang harus menerima keluhannya mentah-mentah, Jiyoo mengambil kesimpulan.

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa,” gadis itu mengangkat bahu, menunjukkan bahwa semua itu bukan masalah besar. Bukan masalah besar, hanya kebohongan besar, tentunya.

“Kuanggap itu sebagai ‘ya’ darimu,” sahut Minyuk tenang. Tiba-tiba saja lelaki itu penasaran, “Kau tidak merasa canggung bersamaku?”

Jiyoo melakukannya lagi –melongo. Ia berpikir sejenak sebelum menggeleng, “Yah.. sedikit, tapi kurasa sosokmu terasa tidak asing, setidaknya di televisi.”

“Kau bahkan tidak memanggilku dengan sebutan ‘Sunbae’?” tanya Minhyuk lagi.

“Kau mau dipanggil begitu?” Jiyoo balik bertanya. Gadis itu tak tahu kenapa ia bisa bersikap seperti itu. Sepertinya salju yang tidak turun, yang menyebabkan ia tak bisa mencoba sarung tangan barunya, membuat suasana hatinya buruk.

Minhyuk memandangi gadis yang berdiri di sampingnya –gadis yang masih menyapukan kedua matanya ke jalanan aspal. “Kurasa tidak. Panggil saja sesukamu, aku sudah sering melihatmu dan kurasa kau bisa cepat akrab denganku.”

“Begitu ya?” Jiyoo memiringkan kepalanya, tampak mencerna ucapan Minhyuk lebih dulu.

“Begitulah,” sahut Minhyuk santai. Kedua tangannya tersimpan di dalam saku celana, tak membiarkan rasa dingin menyiksanya.

Lelaki itu melirik Jiyoo yang mengangguk-angguk paham. Melihatnya begitu, Minhyuk jadi ingin tahu bisa seberapa dekat nanti gadis itu dengannya. Bukan gayanya untuk mendekati seseorang dengan cara seperti ini –pura-pura kenal, tapi Jiyoo seperti sebuah pengecualian.

Minhyuk bukannya tak tahu gadis itu punya orang lain –lelaki lain yang dianggapnya sebagai senior, tapi jika godaan untuk mendekati Jiyoo terlalu besar, ia sendiri tak ingin menolaknya.

Gadis itu tak menonjol di kalangan para senior, pikir Minhyuk. Lelaki itu bahkan berbohong saat mengatakan ia sering melihat Jiyoo. Tidak sepenuhnya berbohong karena ia pernah sesekali melihatnya bergandengan tangan dengan Eunhyuk –di stasiun televisi, bukan kampus.

“Lalu,” Minhyuk kembali memulai pembicaraan, “apa kita bisa berteman tanpa rasa canggung?”

—-

 Eunhyuk memandangi langit kota Paris sebelum menghembuskan napas, membuat kepulan uap putih dari bibirnya. Cuaca kota ini nyaris nol derajat dan Eunhyuk tak percaya suhu itu akan terus menurun di akhir tahun. Ia menghela napas lagi, merasa seluruh jaket tebal yang ada di lemarinya tak akan pernah cukup untuk membuatnya hangat.

Lelaki itu menyambar sepasang sarung tangan yang dibiarkan di atas ranjang putihnya. Eunhyuk tak ragu untuk membungkus kedua tangannya sendiri di dalamnya.

Membayangkan tangan Jiyoo terbungkus di dalam sarung tangan yang sama dengannya saja sudah membuat Eunhyuk hangat. Bukan kehangatan yang solid, hanya kehangatan maya yang merayap ke seluruh tubuhnya. Lelaki itu merindukan gadisnya.

“Hyori bilang Jiyoo sudah menerima kirimanmu,” Kyuhyun mengejutkan Eunhyuk dengan muncul tiba-tiba di tepi pintu.

Eunhyuk hanya berdeham sambil melepaskan sarung tangannya. Ia tak tahu seperti apa tampangnya tadi, tapi sebaiknya bukan jenis ekspresi yang bisa membangkitkan jiwa usil Kyuhyun.

“Kukira kau bukan orang yang mau membeli sarung tangan bergaya seperti itu,” ini dia, Kyuhyun mulai berkomentar. Ia meraih sepasang sarung tangan itu dari tangan Eunhyuk. “Warnanya ungu, kesukaan Jiyoo, kan? Kalau dipakai seorang gadis pasti bagus, tapi kalau kau.. aku tidak yakin.”

Dengan cepat, Eunhyuk berhasil memindahkan sarung tangan ungunya dari genggaman Kyuhyun. “Aku tidak butuh komentar orang yang tidak pernah membelikan pacarnya hadiah natal.”

Tentu saja ucapan Eunhyuk itu tepat sasaran. Ia belum pernah melihat Kyuhyun bersedia merepotkan diri untuk berjejalan di sebuah toko demi membelikan Hyori sesuatu. Dan tentu saja Kyuhyun hanya menyipitkan mata, kesal.

“Kukira aku bisa membantumu dalam hal gadis,” ucap lelaki itu acuh. “Tapi sepertinya tiket ke Seoul ini akan kuberikan pada hyung-ku yang lain.”

Eunhyuk membelalakkan mata. Tak butuh sedetik untuk mencengkeram lengan Kyuhyun dan memaksanya duduk kembali. “Tiket ke Seoul?!”

—-

 “Menurutmu, apa hubungan jarak jauh itu bisa berhasil?” Minhyuk tiba-tiba bertanya sebelum menyendokkan es krim ke mulutnya.

Keduanya, Minhyuk dan Jiyoo, sedang duduk di beranda kafetaria kampus. Tak banyak orang-orang yang ada di sana, membuat keduanya tampak mempunyai area privasi sendiri. Mereka tak terlalu lapar, jadi hanya dua cup kecil es krim strawberry yang menghiasi meja.

Jiyoo sempat memandangi potongan strawberry dalam cupnya. “Eumm..” ia membiarkan sendok es krimnya berada dalam mulutnya lebih lama. “Tidak tahu.”

Jawaban gadis itu nyaris membuat Minhyuk berguling-guling di lantai. Entah dari sudut pandang seperti apa, Minhyuk semakin tertarik dengan gadis di depannya. “Bukannya kau sedang menjalaninya?”

“Oh, ya.. benar,” Jiyoo menancapkan sendok ke atas es krim yang belum meleleh. Gadis itu menghela napas, “Tapi aku belum berpengalaman, jadi aku belum tahu. Kalau kau masih ingat, kami baru menjalaninya selama satu bulan.”

“Lalu?” lelaki itu sama sekali tak bosan bertanya.

“Kami baik-baik saja,” jawab Jiyoo. Seketika itu, ia tiba-tiba penasaran pada sesuatu, “Kenapa kau mau tahu?”

Minhyuk mengerutkan kening sesaat, tampak berpikir. Kemudian bibirnya mengulaskan senyum mengagumkan –senyum paling mengagumkan yang pernah ditunjukkannya. “Karena aku peduli,” tambahnya, “padamu.”

“Wah, terima kasih kalau begitu,” Jiyoo kembali menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulut, “tapi aku masih punya orang lain yang memedulikanku.”

“Menurutmu begitu?” tanya Minhyuk penuh selidik. “Menurutmu, lelaki tanpa gadisnya akan merasa bagaimana?”

Jiyoo mengernyitkan alis, berpikir keras untuk mencari jawabannya. “Kesepian..?”

“Mungkin,” Minhyuk mengangguk-angguk, “mungkin iya, mungkin tidak.”

Raut wajah Jiyoo berubah, penuh kebingungan dan ketidakyakinan. Biasanya, gadis itu akan percaya diri dengan apapun yang telah diyakininya. Sekarang, karena ini tidak biasa –karena ini pertama kalinya ia benar-benar bicara tentang lelaki dengan seorang lelaki, dinding keyakinan itu goyah.

Satu-satunya pertanyaan yang memenuhi benaknya adalah: apa Hyukjae kesepian tanpanya?

—-

 Lee Hyukjae menatap datar layar televisi yang menyiarkan siaran berbahasa Korea di kamarnya. Tangannya meraba-raba ranjang sebelum berhasil menemukan remote dan mengutak-atik channel. Merasa bosan, lelaki itu melemparkan benda itu begitu saja ke sofa setelah membuat televisi layar datarnya istirahat.

Ia benar-benar merasa kesepian. Tanpa Jiyoo. Yoo-nya.

“Hh~” tak ada yang bisa dilakukannya selain menghela napas berat sepanjang hari.

Ya! Lee Hyukjae!” teriakan Donghae membuatnya menoleh ke arah pintu. Donghae berjalan cepat ke sofa dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa tidak bilang kalau mau ke Seoul?”

“Kesempatan yang tidak bilang padaku,” sahut Eunhyuk enggan. “Dia datang sendiri, bersamaan dengan seonggok iblis dari neraka.”

Donghae tak tahan dan menyandarkan tubuhnya ke tepi sofa. “Kyuhyun cuma beli dua tiket?”

“Tidak tahu,” Eunhyuk mengangkat bahu. “Kalaupun iya, kurasa tidak mungkin dia sengaja membeli lebih. Dia selalu mau menemui Hyori sendirian. Jadi, apa kau pikir dia sedang mabuk?”

“Ck, kalau kau tidak mau tiketnya, berikan saja padaku,” ucap Donghae.

“Aku hanya bilang aku curiga kalau Kyuhyun mabuk, bukannya tidak mau menerima tiket pesawat darinya, Lee Donghae,” Eunhyuk menyahut singkat. “Dan kenapa sambungan internasional di dorm ini masih bermasalah sejak tadi pagi?!”

Donghae mengendikkan bahu kemudian menghela napas, “Aku tidak bisa menghubungi Sun-ku.”

“Aku belum memberitahu Yoo kalau aku akan kembali ke Seoul besok,” kali ini Eunhyuk yang menghela napas berat.

Ya,” panggil Donghae, “kejutan itu selalu manis, Lee Hyukjae.”

======TBC======

Lalala~~~ xD
Apakah ini? Ini Jihyuk baru.. Saya setres makanya bikin ginian.. TT^TT

Summary singkatnya: Jihyuk are themselves, Yoo is his girl, Poo is himself as SJ member. Kenapa ceritanya SJ menetap di Paris, soalnya mau bikin jihyuk LDR-an~ ^-^
And yesseu, I’ve made Kang Minhyuk gets his role in heeere~ OMG! xD

Menilik dari judul; Purple and You, well.. gak ada arti khusus sih, cuma asal mikir judul itu, yang ternyata bisa disingkat jadi P&Y, yang artinya bisa Poo & Yoo~ *mengarang indah. xD*

Err.. and true, I love purple.. :3

71 thoughts on “Purple & You [Satu]

  1. oen ayo lanjut2 ! bagus LDR kan jarang aku bacanya hehe . ohya maksudnya si jiyoo gak mau nunggu itu apa ? mereka break atau putus atau gimana ?

  2. hehe annyeong~
    maen kesini byk postingan baru *ratapi nasib*
    asek dah minhyuk dan eunhyuk~😄
    apa ntar ada jaeshyuk #plak!digamparomjaesukbolakbalik
    ngeliat hyuk galau memang selalu menyenangkan hahaha . tp bntaran lg jg ketemu kan~ ayo nyuk !! bawa yoo ke eropa😄

  3. waa aq juga suka bnget wrna unggu. sampe2 klo ada barang wrna unggu nyasar di tmpat tmen aq, lngsung di kira pnya aq… pdhal kn blm tentu… haha😀

    dhduuhhh. musim dingin gituuu hyuppa galau… huee
    tp ga nyangka kyu bae amad mau ngasih tiket je seoul gratis… ada apa yaaa?

  4. eaaaaaaaaaaaaaaaaa LDR-an juga akhirnyaaa
    *poke poke*
    hayo, hyukjae jangan ampe cemburu ama minhyuk :p kan minhyuk punya saya (?)

    ih, demi apa kyu ngasih tiket ? =__=

    believe it or not.
    ada beberapa ‘scene’ disini yang sama kyk draft mom😄 /kyaaa kita sehatiiii❤ kkkk
    btw, sorry sorry I didn't reply ur msg 2days ago😦

    • Gak bisaaaaaaaa~~~ Minhyuk punya Yoo, semua hyuk punya yoo.. *dibuang ke laut*
      demi hyori lah si kyu ngasih tiket. Bwahahahaha~~~ xD

      KYAAAAA~~~~ iyaaaa, kita sehatiii..❤ xD
      nanti kalo uda terbit, tolong kasih tau, biar yoo bisa ketawa ngeliat persamaan scene yang kita tulis. :3

      gak papah~ santaii ajah momma.. ^-^

  5. aigoo, hyukjae terlalu manis disini :3 dan kenapa tiba2 ada minhyuk? Minhyuk-aaaaa, jiyoo udah ada yang punya sinisini sama aku aja-_- ditunggu lanjutannya. Kak shela fighting!

  6. ahhhh…

    Shellaa kenapa ini…
    Pilihan yang sulit bagi saya,, saya penggemarnya kang minhyuk.. Saya bingung milih siapa ini ?? *berasa jadi jiyoo..
    Hahahahahaaha

    ih ih ih.. Mereka ldr dan ada minhyuk jadi penggoda,,, sepertinya selingan yang indah ya minhyuk..
    Kekekekeke

    saya selalu suka efefmu heheheh..

    • Aahhh~ jangankan Anda, saya sendiri juga bingung mau ama yang mana. xD
      gimana kalo changmin masuk disini dan jadi pasangan abadi saya saja?? XDD *diinjek*

      Makasihh syuda bacaaa~~~ makasihh syuda selalu sukaaa~~ :***

  7. LOoooh???? Kok TBC??? *kesel*
    Ni mbok suka kali ngilang.. Trus tba2 muncul..
    Siheey…

    Knpa harus paris sih??
    Kejauhaaaaaaaaaaaann…
    Aku jga jd LDR ma yesung.. #loh

    trus tuh opening nya Pov na spa coba??
    Aku binguuuuuuuuungg loooooooo…
    Yg d bagian wrna ungu…. *nunjuk2 atas*

    • Nyehehehehe~~ xD
      hobi baru saya adalah suka menghilang dan muncul tiba-tiba.. :3

      Kenapa harus paris? Gak tauu jugaa, cuma itu yg kepikiran..😄
      yg di depan itu semuanya hyuk’s pov.. :3
      makasih syuda baca yaaa~ ;D

  8. minhyuk?? ada minhyuk di tengah jiyoo-hyuk???
    waaaaaaahh bahaya…
    ahhh yg ldr’n semangat ya, pasti pada kangen banget satu sama lain ^^

  9. Yes! Jihyuk couple! Ah ngebetein minhyuk nya -_- jiyoo keyakinan mu jangan goyaaaaaaaah!! Hyuk kesepian banget! Aduh bacanya geregetan –‘

  10. annyeong kak author, reader baru😀
    gyyaa ni minyuukkk *slapped* ky ngegoda si Yoo~ deh
    it panggilan syg nya lucu bgt Poo~ Poo~ Dipsy Lala Poo~ wkwkk
    ini di part selanjutnya jgn deh nyuk salah paham pas si Yoo ama minyuuk *seneng bgt ganti nama org kkkk* ~~
    baikla sekian komen saya..😀

  11. ak datangggg~ HAHAHA *gaya pahlawan bertopeng*
    itu ceritanya sii yoo mw selingkuh??
    ya ampuuunnnn.. kq ada tanda2 ke arah sana yak?
    LDR?? Gue bangettt~ *deepsigh*

    oiia, kang minhyuk itu sp ya? /plak *katrok*
    ntr dh ak cari2 ;p

    • Gaaaaaakk, kakak~ Yoo gak selingkuh kok, sumpaaaaahh.. ><
      Ciyeeeee~ curhaaaatt, kakak LDRan? ama siapaaaaa??

      kang minhyuk itu drummernya CN Blue, kakak.. ^-^;
      makasihh syuda baca yaa~ ;D

  12. wuooh kali ini temanya LDR!
    chap 1-ya bgs nih, tpi klo suju debut bneran di eropa jdnya bhsa inggria mreka pasti terlatih tuh ya wkwkwkw
    lanjut Onn, aku penasaran gmn lnjtannya😄

  13. ceritanya kereeen…ad minhyuk juga disini
    LDR, kayanya aq pernah, oppsss…jdi curcol, hehe
    lanjuuuut, kayanya bakalan ad konflik pas hyukjae balik ke seoul nih

  14. kyaaaaaaaaaaaaa…… so swit bgt sie poo….. *cium poo*
    sie nemo iri aja sm teri… ckckck.. suruh dia beli tiket sndiri, kan byk duit, klo uyuk ketawan pelit, jd dibeliin kyu yg loyal… XDDD
    *dicium kyu* :p
    lanjut shel… jgn lama2 hiatusnya… wkwkwk…

  15. yah ampun tuh minhyuk kenapa nyangkut disini..
    cckkckckck,,wah ..itu aq takut si hyuk kalah saing nih ma minhyuk…
    hehehehe,,,peace ya hyuk,,,kalo dirsuruh milih hyuk ato minhyuk juga aq bakal khilaf …kwkwkkwkwkkw

    wah , tuh kyuuppa baek amat ngasih tiket ke hyuk???gratisan ato ntar ditagih tuh tiket…dasar hyuk,,udah dikasih tiket malah bilang orang maboklah…wkwkkwkw

    bagus thor critanya plus jempolq buat kamu gra2 masukin minhyuk…
    kapan kyutoria lagi???

    • nyahahaha~ kalah saing? againn? emang si hyuk kalah saing banget yah ama semua orang? *elus2 poo*
      makasihh syuda baca yaahh~ ;D

      bocoran: ada rencana bikin fantasy-kyutoria. Jadi genrenya romance-fantasy, tapi liat ntar yahh.. ^-^;

  16. Kalau di sj aku suka eunhyuk, di cn blue minhyuk –” perasaan kesukaan kita samaan mulu mah? Di shinee suka sapa? Atu di boyband lain? Wkwkwk Σ( ° △ °|||) gakk deng ak gk trlalu sukak stroberi lebih ke jeruk wkwkwk,,

    Eyak~ jng pas kali lah twitt ak kmren di RT ya mah😄 mamah jadi janda mudahh gr” si papah di eropa sanahh~ T^T. Ntah knp ak Ğακ relany si Minhyuk yg jd org ke tiga cobak yesung? Wkakakkak😄 seru tuh :p
    Kkkkk~ bakal galau” nian kyk ini eyak menggalau di tau 2011.
    Si papah udh jadi International Oppa , pdh udh pny ank dy disini :p wkkk~

    Next chap dtunggu (˘⌣˘)ε˘`) wkwkwk

    • nyahahaha~ kita kan sehati, nak. xD
      di SJ ya papahmu, CN Blue ya minhyuk, Shinee…..Minho belum tergantikan. Kalo yang laen…..agak gak teratur, suka labil. XDD

      Makasihh ya sayaaaang~ :*

  17. wah jihyuk new story…
    Cie yg lg long distance…

    Tp aku suka dh sm ceritanya, jd berasa dewasa gtu jihyuk dsini… Asik dah jd ada moment baru nih…

    Dan what the hell? Apa yg bkin magnae setan kesayangan ku itu jd baek? Wkwk
    Hyuk giliran gratisan demen dh… Haha

  18. ShellaYoo~~ annyeong….😀 ini Jihyuk new story yaa?.. Aku blum selesai baca yang lovabook,, kekekeke~~ Ada Kang Minhyuk disini… KYAAAAAAA~~ calon menantuku dia… Ahahahaha… Udah Yoo sama Poo aja yaa,, biar Minhyuk sama anaknya Mineul.. *ngarep punya menantu macem Minhyuk yang jago main drum plus tinggi menjulang plus punya eyes smiling* /dies~~ APAAAAAA?? LDR??!! Andwaeyoooo… Pasti kedepannya bakal banyak godaan (?) Fighting JiHyuk~!! Kalo SJ debut di Eropa,, kemungkinan Jasmine Jung juga akan terpisah dengan Vincent Lee~nya, huks…😦 As usually, aku selalu suka rangkaian kata di tiap ffnya Yooo~ setiap kalimatnya itu bermakna banget…😀 mau lanjut baca ke bagian dua~nya ahhh.. *cuuuusssss melayaaaang~*

  19. waah gatau kenapa eunhyuk ko ganteng bgt ya disini.
    if you know what i mean. eunhyuk di paris galau LDR .
    it just cool for me hehe. love the setting so much :*

  20. Mau nyampah ah :3 *plak*
    Udah baca ini dr pas awal publish sebenernya.. tapi berhubung saia belum komen dan saia ini reader yang baik dan tidak benar (?) makanya saia mau komen sekarang (u_u)” HAHAHAHA
    aq cintaaaaa LDR~~~~ *O*

    udah ah, komennya segitu aja .__. #gubraaak #inikomenemangudahbasi #ngilangsebelumditelen

  21. Wah…lumayan tuh,ga ada eunhyuk,yoo dapet minhyuk…XD
    ntar ada cewe,orang ketiganya juga ga??
    Pengen liat yoo cemburu #plakks
    kkkk~

  22. aigoo aku suka bgt bc ff eonni..bahasanya..walaupun dgn karakter apapun bkin romantis..dan ada minhyuk disini..kayanya minhyuk bkal jd rivalnya hyukkie..daebak!

  23. eonni, perkenalkan aku reader baru. Aku baru baca ff ini dan insya Allah bakal baca ff2 yg lain.
    Komenku, keren! Awal yg seru dan bikin penasaran!

  24. annyeong eonni…mmber baru nue…ktmu blog ini d blogx *karinafacts..
    salm knl ya unnie moga dibc kommnt singkt q ini
    ijin bongkar pasang ff karya unnie y dimly dari p n y …kekeke…..tpi sblmx slm knl y^^

  25. MinHyuk??
    Kenapa kembarannya Kim Jong Woon ada disini? Kkkkkkk~

    MinHyuk ngomporin Jiyoo niCh, nyebelin ah!

  26. Annyeong…
    *lambai2 tangan*
    Aku readers baru…
    Salam kenal…
    *bungkuk 90 drajt*
    aku mau ijin bca ff2 yg ad disni…
    Pasti RCL kok..
    Gamsahamnida^^

    • Annyeoooong~ ^-^
      Selamat membacaaaa.. Dan maap, gak bisa bales semuanya. Cuma perkenalan ini aja yang bisa saya bales. Terima kasihh~ *bow*

  27. Huwaaaaaah pembukaanya so sweet bgt! Kok bisa sih author ngarang kata2? Wah wah salut bgt deh. Suka dgn kata2😀 jihyuk couple is the best :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s