[JiHyuk’s Story] Not My Shoulder This Time

~Jihyukism~

Dengan melihatmu saja, aku mengerti kenapa aku tersenyum..

Dengan membayangkan kebahagiaanmu saja, aku tahu arti keberadaanmu untukku..

Dan dengan memilikimu dalam pikiranku, aku bahagia..

Tapi satu kali saja dalam hidupku, bolehkah aku egois untuk selalu memelukmu?

—-

Seoul – December 4, 2011
At dorm of 6-nies

Choi Jiyoo melepaskan headphone dari telinganya. Ia menggigiti bibir bawahnya dan membaringkan tubuh ke ranjang. Ulu hatinya terasa sakit seolah sebilah pisau berkarat baru saja menembus bagian penting tubuhnya itu.

Gadis itu berusaha keras untuk tak menangis. Karena jika ia menangis, itu berarti tak akan ada orang lain yang bisa menemani orang itu menangis. Karena jika Jiyoo ikut menangis, lelaki itu tak akan punya tempat lagi untuk menangis.

Jiyoo meraih ponsel yang tergeletak di atas bantal. 23.51. Sembilan menit lagi acaranya selesai dan ia masih belum menerima panggilan dari orang itu.

“Haaaaaaahh~~~” ia melenguh panjang.

“Yoo? Kau tidur?” pintu terbuka dan Jung Haneul melangkah perlahan dengan piyama jingga kesukaannya. Gadis yang lebih tua dari Jiyoo itu langsung duduk di sampingnya. “Mendengarkan Sukira ya?”

Jiyoo membenamkan wajahnya di antara bantal lalu mengangguk pelan. Pundaknya bergetar dan isakan dengan nada rendah mulai terdengar. Jiyoo belum sanggup mendongak dan menatap Haneul –tidak sanggup.

Haneul menghela napas sejenak sambil mengusap-usap rambut Jiyoo. “Jangan ikut menangis, siapkan pundakmu untuknya. Yoo milik Poo selalu seperti itu, kan?”

“Tapi hari ini aku akan jadi Choi Jiyoo, orang biasa yang tak pernah berjanji akan menyediakan pundak untuk Super Junior Eunhyuk,” ia menyahut dari balik bantal. “Kenapa dia harus menangis dan membuatku menangis juga?”

“Tapi Super Junior Eunhyuk atau Lee Hyukjae atau seorang Poo hanya akan membutuhkan pundak Choi Jiyoo-nya,” Haneul tersenyum lembut.

Jiyoo tahu ia merindukan lelaki itu. Rasanya sudah lama ia tak melihat lelaki itu. Dan rasanya menyebalkan ketika ia baru kembali ke dorm, ia mendapat kabar kalau hari ini lelaki itu akan menyelesaikan siarannya.

Ia terkejut, pasti. Jiyoo suka kejutan, tapi bukan kejutan seperti ini.

Baru dua puluh menit ia tiba di kamarnya, mendapat kabar mendadak itu dari Jung Haneul, dan dua puluh menit yang lalu ia mencoba menghubungi lelaki itu.

Tentu saja tak dijawab. Lelaki itu sedang menyelesaikan tugas terakhirnya di ruang siaran dan tidak mungkin panggilan Jiyoo dihiraukan. Semua itu membuat Jiyoo frustasi!

“Eonni,” panggil Jiyoo sambil membuka pertahanan bantalnya. “mana bisa aku menyiapkan pundakku dalam keadaan mendadak seperti ini? Aku tidak sehebat itu, aku bukan super hero yang selalu punya kekuatan super setiap waktu. Aku.. aku juga bisa menangis sepertinya kalau aku mendengarnya seperti ini.”

Haneul tersenyum maklum. Magnae di timnya ini sudah cuti agak lama, bukan hanya dari 6-nies, tapi juga cuti dari Hyukjae. Jiyoo sudah lama tidak berhubungan dengan lelaki itu, ia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki Hyukjae.

Tentu saja keadaan seperti ini adalah keadaan yang paling dibenci Jiyoo. Ia kembali ke dorm untuk berkumpul dengan member-membernya. Alasan lain: ia kembali untuk menemui Hyukjae lagi. Ia tak pernah berharap akan mendapat kejutan seperti ini.

Selama ia tidak di Seoul, Jiyoo menjauhi semuanya. Ia tidak sempat menyapa kakak-kakaknya, tidak punya waktu untuk sekedar memeriksa lelaki favoritnya. Jiyoo seolah terasing dari semua hal sampai saat ini.

Jiyoo bahkan sempat bercanda kalau beginilah rasanya putus dari Hyukjae..

Ia tak akan bisa melihatnya tiap saat, tak bisa mendengar suaranya kapan pun ia mau, ia juga tak bisa memaksa dirinya untuk sekedar memikirkan lelaki itu.

Tapi bukan ini yang ingin dirasakannya. Jiyoo tak ingin merasakan lubang menganga di jantungnya. Ia ingin kembali merasakan Lee Hyukjae dalam pikirannya.

Ia ingin kembali lagi menyimpan lelaki itu dalam hatinya..

—-

Bahwa aku ingin selalu melihatmu walaupun kau tak menyadari kehadiranku..

Bahwa aku ingin menjadi bayangan yang bisa mendampingimu saat ada cahaya..

Tapi semakin lama, aku tahu keinginanku bertambah banyak,

Bahwa aku.. ingin menjadi setitik cahaya yang selalu bisa kau lihat..

—-

Choi Jiyoo kembali sendirian saat Haneul meninggalkannya di kamar. Gadis itu masih memeluk bantal dan menunggu telepon dari Hyukjae. Ia tahu lelaki itu pasti sudah mendengar kabar dari banyak orang soal kepulangannya, dan ia ingin lelaki itu menelponnya. Sekarang!

Lima menit berlalu..

Ponsel tipis Jiyoo masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berdering. Benda itu mengabaikan tatapan memohon yang dilayangkan pemiliknya. Jiyoo nyaris kehabisan kesabaran saat ini.

Lima menit berikutnya..

Jiyoo menarik napas dalam-dalam. Ia memain-mainkan jemarinya sementara terdengar alunan merdu dari ponselnya. Satu-satunya playlist miliknya saat ini: The Way of Breaking Up.

Mendengar tiap bait dan lirik yang keluar dari benda tipis miliknya, Jiyoo bangkit dan duduk bersila di atas ranjang. Ia berusaha memikirkan hal lain yang lebih baik dalam kepalanya. Bahwa ia dan Hyukjae belum putus. Mereka hanya kurang komunikasi.

Belum selesai masalah komunikasi mereka yang memburuk, artikel soal ciuman Hyukjae di salah satu MV juga sedikit membakar kesabaran Jiyoo yang memang sudah menipis. Hubungan jarak jauh memang seperti ini, dan ini hanya masalah kecil bagi mereka, setidaknya itulah sugesti dari Jiyoo sendiri.

“Tidak! Bukan masalah kecil!” keluh Jiyoo.

Ia meraih ponselnya, mengutak-atik layar sentuhnya dengan kasar lalu berhenti bergerak.

Tampilan layarnya masih pada menu Messaging, tapi ia belum mengetik satu kata pun disana. “Tidak bisa! Aku tidak mau menghubunginya lebih dulu! Tidak mau!”

Ia memang mengoceh seperti itu, tapi rasanya kedua jemarinya mulai gatal untuk tak bergerak mengetik sesuatu. Mengiriminya sebuah pesan sama sekali bukan tindakan yang baik saat ini, pikirnya. Bukan karena ia takut lelaki itu akan mengabaikan pesannya, ia hanya ingin memastikan keadaan lelaki itu yang sebenar-benarnya.

Jiyoo ingin mendengar suara lelaki itu..

“Telepon saja, Yoo,” Hyori menyahut dari ranjang atas. Gadis itu seharusnya sudah tidur sejak tadi, Jiyoo cukup yakin dengan hal itu, tapi ternyata Hyori masih bernyawa di atas sana. “Hyukjae juga pasti menunggu teleponmu..”

Tatapan Jiyoo berpindah ke atas layar ponselnya kembali. Ia mau saja melakukan itu, bukan tindakan yang sulit untuk sekedar menghubungi lelaki itu, kan?

Jiyoo melirik Hyori yang kali ini sudah menunduk ke bawah. Hyori mengerutkan kening, “Apa?”

“Aku tidak bisa menelponnya kalau ada orang lain,” sahut Jiyoo pelan.

Hyori mendengus lalu meniup poninya kasar. Gadis itu turun perlahan dari ranjang sambil membawa sebuah boneka bebek berwarna kuning. “Arasseo! Awas kalau kau tidak jadi menelponnya ya! Aku tahu benar kalau kau suka berubah pikiran di saat terakhir, jadi–“

“Kau akan keluar atau tidak?” sambar Jiyoo polos.

Dengan hembusan napas panjang, Hyori menggeleng-gelengkan kepala. “Kau benar-benar satu spesies dengan evil magnae itu.”

Begitu pintu tertutup rapat, Jiyoo kembali memandangi layar ponselnya. Ia memang harus menghubungi lelaki itu. Ia harus memastikan semuanya baik-baik saja.

Jiyoo memang harus mendengar suara Hyukjae karena gadis itu sudah nyaris gila sekarang..

—-

Aku ingin membuatmu dewasa..

Aku ingin membiarkanmu memilih jalanmu sendiri..

Dan aku.. ingin melihatmu jadi seseorang yang selalu bisa berjalan tanpa ragu..

Tapi, aku lupa, bahwa kau bisa tersesat di jalan yang salah tanpa aku di depanmu..

—-

Lee Hyukjae mengenakan kembali jaket yang tadi ia lepaskan sebelum siaran. Air matanya sudah kering dan ia sudah berterima kasih pada semua staf di Sukira. Satu-satunya hal yang belum dilakukannya adalah: memeriksa keadaan seseorang.

Ponselnya mati sejak tadi. Saat ia menyalakan benda itu, ada sedikit –ralat, mungkin banyak- pikiran yang diharapkannya. Bahwa orang itu akan meninggalkan beberapa pesan untuknya.

Hyukjae menghela napas berat. Nihil. Sama sekali tidak ada pesan atau voice mail yang tertinggal untuknya –setidaknya tidak ada pesan dari orang yang diharapkannya.

“Dia sudah pulang, kan?” Leeteuk, yang baru saja membereskan lembaran kertas siaran, menegurnya.

Tanpa suara, Hyukjae menganggukkan kepala. “Tapi dia belum menghubungiku..”

“Dia baru saja selesai dengan urusan kuliahnya, lalu kenapa bukan kau yang menghubunginya lebih dulu?” tanya Leeteuk santai. “Kalau kau yang dulu, pasti sudah sibuk mengutak-atik ponsel dan langsung menghubunginya begitu selesai siaran. Apalagi ini siaran terakhirmu..”

Hyukjae berdeham pelan lalu tersenyum samar. “Kalau aku yang dulu, pasti akan selalu menghalanginya untuk meraih sesuatu yang memang harus diraihnya. Dia itu harus bisa berjalan di jalannya sendiri, tanpa aku, Hyung..”

“Kalau dia terus berjalan dan meninggalkanmu di persimpangan jalannya, bagaimana?” pertanyaan Leeteuk ini tepat sasaran.

Hyukjae hanya menelan ludah. Ia belum bisa menjawab pertanyaan seperti itu –ia tidak bisa. Kalau Jiyoo menemukan jalannya sendiri dan benar-benar meninggalkan Hyukjae, lelaki itu tak bisa membayangkan seindah apa jalan pilihan gadisnya.

“Kalian ini bukan putus, kan? Kalau Jiyoo sibuk dan tidak sempat menengokmu, memangnya itu artinya kalian putus?” Leeteuk mulai menjejalkan barang bawaannya ke dalam tas.

“Tapi bukannya ini memang cara lain dari putus? Dia akan perlahan-lahan menjauh lalu menghilang tanpa jejak,” bisik Hyukjae.

Leeteuk memutar bola matanya, “Apanya yang tanpa jejak? Choi Jiyoo-mu itu sudah kembali ke dorm 6-nies, kalau memang dia mau menghilang, kenapa semua membernya mau memberi tahumu kalau magnae mereka sudah pulang?”

Hyukjae hanya mengangkat bahu. Selama Jiyoo pergi, ia memang membiarkan gadis itu menjalani apa yang harus dijalaninya. Ia tak mengeluh walaupun gadis itu hanya sesekali menghubunginya, karena ia tahu Jiyoo selalu memikirkannya pada saat seperti apapun.

Gadis itu akan mengomel jika suasana hatinya sedang buruk disana. Gadis itu akan bercerita panjang lebar soal kesenangannya disana. Gadis itu selalu mengingat Hyukjae bagaimana pun suasana hatinya.

Tapi semakin lama, Hyukjae sadar kalau gadis itu tak bisa selalu menjadi medan magnetnya.

Karena semakin jauh sebuah magnet, daya tariknya akan semakin lemah, dan medan magnetnya akan semakin kecil.

Hyukjae menghela napas panjang. Dengan perlahan, ia membiarkan Jiyoo beradaptasi dengan dunia barunya. Ia tahu ia tak boleh mengganggu proses penyesuaian diri gadis itu.

Dan perlahan, Jiyoo akan terbiasa jika lelaki itu tak ada di dekatnya..

“Aku bisa melepaskanmu, Yoo..” gumam Hyukjae pelan. Lelaki itu tersenyum kecil lalu menjejalkan ponselnya ke dalam saku jaket.

Ia baru saja akan melangkah pulang saat benda tipis dalam sakunya berdering nyaring. Lelaki itu membulatkan bola mata setelah melihat caller id di layar ponselnya.

<<MYoo>>

—-

Saat kembali mendengar suaramu, semua bebanku terbang tinggi dan tak kembali..

Saat kembali merasakan hembusan napasmu, aku tahu aku bisa hidup lagi..

Dan saat kembali membayangkan guratan wajahmu, kedamaian hati itu bisa kuciptakan sendiri..

Tapi, saat nanti kau kembali pergi, apa kau yakin aku bisa bernapas tanpamu?

—-

Hyukjae menelan ludah sementara ponselnya masih menempel di telinga. Sudah dua menit dan gadis yang menelponnya sama sekali tak bersuara. Lelaki itu juga tak tahu harus berkata apa. Sepertinya keduanya bisa menghabiskan malam ini dalam diam.

“Apa..” akhirnya Jiyoo membuka mulutnya. “apa kau menangis tadi?”

Saat itulah, semua perasaan kosong yang sejak beberapa minggu lalu dirasakan Hyukjae kembali terisi. Saat itulah Hyukjae mengerti kalau ia hanya sedang membutuhkan gadis di ujung ponsel ini. Saat itulah ia tahu jika Jiyoo adalah magnet paling kuat yang selalu bisa menciptakan medan magnetnya sendiri.

“Tidak.. kau?” jawab Hyukjae, setengah menekan perasaan gembiranya.

Lelaki itu mendengar desahan berat Jiyoo, “Jangan bohong.. aku tidak bodoh, aku tahu kau menangis. Apa kau sangat sedih, Poo?”

Mendengar sapaan konyol dari Yoo-nya juga adalah salah satu yang membuat hatinya nyaris meledak karena senang. Hyukjae menahan senyum, “Tidak, Yoo. Aku hanya terharu. Kalau kubilang aku butuh pundakmu, apa kau bisa langsung kesini?”

“Menurutmu?” keluh Jiyoo. Suara seperti ini selalu dianggap lucu oleh Hyukjae. “Kalau kau mau aku kesana, aku bisa sampai disana dalam waktu sepuluh detik..”

Tawa Hyukjae meledak kali ini. “Baik, kau sendiri yang bilang, Yoo.” ujarnya. “Aku ingin kau ada disini, aku merindukanmu, gadis bodoh~”

“Hitung sampai sepuluh, tapi dengan tempo paaaaling lambat,” sahut Jiyoo.

Dengan polosnya, Hyukjae menurut. “Saaa… tu. Duuu… a. Tiii…ga..”

“Kau bodoh ya? Bagaimana bisa aku sampai disana dalam waktu sesingkat itu?” Jiyoo memotong. “Sekalipun kau hitung berkali-kali, aku tidak akan bisa sampai disana dengan–“

“Kalau begitu biar kucoba untuk terus menghitung sampai kau tiba di depanku,” sela Hyukjae.

Lelaki itu hanya ingin memastikan Jiyoo-nya tidak akan pergi kemana pun kecuali ke jalan yang hanya mengarah padanya. Lelaki itu hanya ingin Jiyoo berjanji ia akan selalu berada dalam pikirannya jika Hyukjae menghitung sampai sepuluh. Hyukjae hanya ingin Yoo-nya tetap menjadi medan magnet pribadinya.

Jiyoo menimpali, “Berbalik ke belakang..”

Lagi-lagi Hyukjae menurutinya. Lelaki itu membalikkan tubuh dan menemukan seorang gadis dengan rambut diikat ekor kuda pendek sedang memegang ponsel. Choi Jiyoo benar-benar sampai di hadapannya.

“Sudah kuduga,” sahut Hyukjae. “Sejak kapan kau disini?”

Jiyoo tersenyum lebar. “Aku minta Hyori mengantarku kesini dengan kecepatan kilat, kau tahu, kan, dia itu berobsesi jadi pembalap F1, dan jjajaaaann~ aku disini!”

“Bagaimana kuliahmu?” Hyukjae memandangi wajah gadisnya yang tampak mengantuk. Tangannya terangkat ke udara untuk merapikan sedikit helaian rambut yang luput dari ikatan ekor kuda Jiyoo. “Apa kau kesepian?”

Dengan gerakan cepat, Jiyoo merengkuh leher lelaki itu. Ia menempelkan wajahnya ke pundak Hyukjae. Hanya dengan cara itu lelaki itu bisa mengerti bagaimana rasanya merindukan seseorang. “Kali ini biarkan aku pinjam pundakmu!”

Hyukjae tak menyahut. Ia membiarkan Jiyoo menjawab pertanyaannya dengan caranya sendiri. Hanya rangkulan erat yang diberikan lelaki itu untuk menghangatkan tubuh Jiyoo.

“Jangan meninggalkanku lagi,” bisik Jiyoo. “Aku tahu kau sengaja membiarkanku fokus pada masalah kuliah, tapi bukan berarti kau harus membiarkanku merasakan perasaan putus seperti ini, kan?”

Tak ada jawaban dari Hyukjae. Lelaki itu hanya mengusap-usap punggung Jiyoo, memberikan jawaban yang hanya akan dimengerti oleh Jiyoo. “Aku merindukanmu..”

“Aku benci kalau harus melupakanmu diam-diam! Aku tidak suka melihat punggungmu yang menjauh! Aku tidak akan sudi kalau aku tidak bisa menemukanmu dimana pun!” seru Jiyoo. Pelukannya terasa semakin erat.

Hyukjae tersenyum lalu mencium sisi kanan pelipis Yoo-nya, “Aku tidak akan pergi kemana pun kecuali ke dalam pikiranmu, Nona..”

—-

Dan bahwa aku akan selalu merindukanmu, itu benar..

Bahwa sampai kapan pun aku hanya akan melihatmu, itu juga benar..

Bahwa aku akan selalu membutuhkanmu, itu benar..

Satu-satunya hal yang tidak benar adalah, bahwa aku bahagia jika kau memilih jalanmu tanpa aku..

—-

At dorm of 6-nies
6AM

“Kalian berdua ini magnae, tapi kenapa tidak pernah menurut satu kali saja pada salah satu eonni disini?” Han Yeosin menatap tajam kedua adik bungsunya.

Tindakan kabur dari dorm sambil membawa mobil dengan kecepatan tinggi termasuk kejahatan berat yang tidak akan mendapat pengampunan dari Yeosin dan Sanni. Kedua gadis itu sudah menunggu Hyori dan Jiyoo sejak pukul lima pagi, menunggu untuk menangkap basah kedua adik kecil mereka.

Chaesun hanya menggeleng-gelengkan kepala, “Hanya demi bertemu dengan Hyukjae oppa, kalian nekat begini?”

“Bukan ‘kalian’, Eonni,” ralat Hyori, “hanya Yoo~~~”

“Tapi kau yang mengantarnya ke gedung KBS, Nona Shin Hyori..” timpal Haneul. Hyori langsung menundukkan kepala. Termasuk hal yang langka jika seorang Jung Haneul berkata setegas itu. “Kalian ini bisa saja tertangkap netize atau wartawan, kan? Kenapa tidak memikirkan akibat buruknya, hm?”

Hyori menelan ludah sementara Jiyoo masih belum bisa mendongakkan kepala. “Tapi kami hanya sebentar..”

“Sebentar atau lama, tetap saja kalian melanggar peraturan yang sudah dibuat dalam dorm ini,” ujar Sanni. “Kalian tahu hukumannya, kan?”

Jiyoo mengerucutkan bibir sambil mendongak ke arah leadernya, “Apa hukumannya tidak bisa dikurangi, Eonni?”

“Tidak perlu mengeluarkan aegyo-mu, BabyJ, tidak mempan,” sahut Yeosin dari belakang. “Kalian berdua akan tinggal di dorm sepanjang hari Minggu ini sementara kami berempat akan mengisi variety show di Busan.”

Hyori memekik, “BUSAN?! Lalu kapan Eonnideul kembali?”

“Besok pagi,” kali ini Haneul yang menjawab.

“Jangan nakal di dorm, jadilah adik yang manis selama kami pergi. Ah,” Chaseun mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu won. “Ini untuk uang jajan kalian seharian.”

“Eonni~~~ tidak cukuuuupp,” rajuk Jiyoo.

“Tidak mau tahu,” sahut Chaesun lagi. “Aku sedang kesal dengan Donghae Oppa kalian, jadi biarkan aku bersikap jahat hari ini.”

Jiyoo dan Hyori saling berpandangan setelah keempat kakak mereka masuk ke kamar masing-masing. Mereka sama-sama merengut lalu tertawa bersamaan. Mereka berdua akan bebas di dorm tanpa kakak-kakak mereka.

Keduanya berbisik, “Hari ini akan menyenangkan~~~”

=====================

Tadinya mau jadi curhatan soal Poo malem ini, tapi sepertinya malah mengarah ke cerita soal JiHyo~😄

Eniweii, aku bener-bener gak tau tanggal 4 Desember 2011 itu adalah hari terakhir Poo nge-DJ bareng bang Teuk.. dan aku bener-bener bener-bener syediiiihh karna telat banget taunya.. ;A;

Okeh lah, next adalah cerita iseng JiHyo di dorm 6-nies~😄

71 thoughts on “[JiHyuk’s Story] Not My Shoulder This Time

  1. *HMPH~~~*
    AAAAAA LEE HYUKJAE SARANGHEEEE~~~ :*
    Ah Tuhan, kenapa disini unyuk terlihat… ;a;
    Apalagi pas di peluk yoo~ kyaaaa mamah pengen juga (?)
    Kok aku ga menemukan kata2 andalan nih ? :p

    Oke, sip BabyJ !
    Mari kuasai dorm
    MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA *ketawa evil ala kyuhyuk*

  2. iya emang sedih bgt denger teukie hyuk dah selesai siaran di sukira
    apalagi pas denger hyuk syuting mv ad adegan kisseu nya, g relaaa T.T

  3. sing: “you can count on me like 1 2 3, i’ll be there. i can count on you like 4 3 2, you’ll be there hehehehe….

    demi wonbin yg masih cakep, aku pengen meluk eunhyuk jg hehehehe

  4. kyakyakyaaaa~ akhirnya ada ff yang jadi pendingin otak setelah uas tadi TT-TT ff nya kayak biasa daebak! Tapi ada yang kurang gatau apa tapinyah._.
    Aku juga sedih tadi malem hari terakhir eunteuk jadi dj di Sukira TT-TT setelah heechul berhenti jadi dj kenapa eunteuk juga? Tapi masih nyesekkan heechul kak….dia berhenti tanpa alasan yang jelas dan ternyata karena wamil TT-TT aku juga langsung stres sendiri pas tau ada mv yg dipernanin eunhyuk ada adegan kisseu nya TT-TT gaboleh~
    oiya btw 6nies itu……….apa? ._.v

  5. Aku udah tahu kalo mereka bakalan gajadi dj lagi tapi aku ga mau liat takut ikutan nangis. Akkkh jiyoo gila juga ya ;___;

  6. akhir na lu muncul jg yoo….tau deh poo sgt merindukan mu..
    seneng bgt ada byk tanda2 kehidupan disini..setelah sekian lama gw hunting postingan lu..skrg dah mulai ngalir..
    anyway uri JiHyuk hwaitingggg !!!

  7. jiyoo teh so sweet banget Ya Allah! Aku mau jadi yoo~~~~~ hehehehehehe (⌣́_⌣̀) heuuuu sedih ih last broadcast DJ EunTeuk (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩) keep fighting!!

  8. so sweet… imagine that monkey blonde become so romantic like that…
    hmmm, it’s not like him.. lol…
    btw, he’s not blonde anymore… he have “jambul” now… wkwkwk….
    nice ff, as always… & i love it too, as always…😀

  9. ckckkkckkckck..”Aku tidak akan pergi kemana pun kecuali ke dalam pikiranmu, Nona..”hyukny ga ga nahannnnnnn,,,tapi aq suka banget ma gambar paling atas yg buat mvny….ganteng bangetttttttttttt..

  10. *ikut peluk hyuk* huwaaaaa ~ lee hyukjae neomu neomu neomu johaaa.. saranghaeyo lee hyukjae :*

    Uhm, kayaknya pulang2 dr busan sesepuh(?) 6-nies ga bkal bisa bedain antara dorm atau kapal karam .____.

  11. Kysaaaaa jd ingat malem itu…. Pertama kalinya stream sukira dr awal ampe akhir……. Liat hyuk cengengesa… Ampe trsedu sedu……. Last kiss dy juga huweeeeeeng……. Petjumpaan ama hyuk dikit bener dah…..
    dtgl sendr di dorm??? Mlh seperti di beri hadiah wkwkwk

  12. hyuuuuk~ romantisssss~
    yang masih kebayang itu waktu adegan “Bagaimana kuliahmu?” Hyukjae memandangi wajah gadisnya yang tampak mengantuk. Tangannya terangkat ke udara untuk merapikan sedikit helaian rambut yang luput dari ikatan ekor kuda Jiyoo. “Apa kau kesepian?”
    uhg~ kebayang-bayangggg teruss~
    ngomong-ngomong 6nies itu apa ya? #penyakit readers baru –> polos ga tau apa-apa😄

  13. ahhhhhhh hyukkkk~~~~~
    siaran sukira episode terakir dgn eunteuk dj…..
    yoo dan poo…… 22nya agak……. bodoh #plak
    kasian banget hyori~ niat baik,,. ehh kena imbas
    aaaa lee hyukjaeee neomu saranghaeeeyoooooo
    sekarang yoo jadi manis yah *?*

  14. yoo~~~ smoga nasip nya hyuk lbh bgs dr ichul. mudh2 keluar ngedj g buru2 wamil Y.Y

    Ehmmm Yoo jgn macem2 d dorm ntar g d ajak k yongpyong bwt liburan loh

  15. Aaaah supeeer sweeet.. Yoo udh jd dewasa dan skr poonya jd kayak anak kecil.. That’s true jauh bukan berarti menghilang pelan-pelan ☺

  16. Demi apa deh aku kejer pas liat nyuk nangis waktu ituu.. T_T

    inii.. Emg yoo kmn sih kok jrg ktmu nyuk? O.o
    hik hik, galauuu… Akhir2 ini aku jd sering bgt galau gara2 nyuk.
    Aih, aku suka ama quotes2nya. Suka bangeeeeet…😄
    yoo drabble YeRa yg kmu bkin wkt itu boleh aku publis di blog ga? *wink*

    • Puhlease kak, gak usah diingetin. ;A; syediiiiihh~
      Ini yoonya lagi sok sibuk ama kuliah plus ospek. Yg nyata2 dimasukin ke dalam dunia fiksi. xD
      Makasihh syuda baca kakak~~~ ^-^

      Oh, boleh dongs, kan YeRanya buat kak Tri~ ;D

  17. eh aku bru baca, :p *ditendang ke kotak komen*

    aku suka yg pake huruf warna warni.. >..< feelnya dapet bgt aku,

    paporitku : Tapi, aku lupa, bahwa kau
    bisa tersesat di jalan yang
    salah tanpa aku di
    depanmu..
    Kyaaaaaa.. *emut yoo* like this like this like this,😀

  18. sedih jg eunteuk berhenti jd DJ d sukira..
    blm liat perpisahan’y..😦

    JiHyuk moment..
    deep emotion..^^
    suka banget, jd pengen meluk eunhyuk jg, hehehe

  19. sial~~ sial~~ kok aku yg nangis ya TT^TT
    sial~~ critanya nyesek kalii huaaaaa,,, emakkk,… emaaakkk… minta uang (?) eh==”

    wkkakkakakakka~😄
    mah jd skrg papa ngangur ya? jd skr papa ga ad krjaan lg? :O
    mau makan apa kita mah? makan apa? makan .. makann.. #maaf autis tiba” =.=

    hahhaha gtu aj deh komenya galo aku mau komen apa wkkwk :p

  20. Ah~ Hyuk N Jiyoo kalo kangen kenapa mesti ragu-ragu buat telpon? nyiksa diri sendiri deh.

    bener2 nekat tengah melem keluar dorm demi ketemu sang pujaan hati. tapi memang sih, akan melakukan apapun demi cinta. weeekkk~

    DAEBAK!

  21. Baru baca…. Baru Baca… Ada Haneul disini… Fufufufufu… (˘ε˘“). Ummmm~~ aku enggak tega pas liat TeukHyuk malem itu… Berasa pengen meluuuuk… Tapi jaaaauhhh…😦 langsung keingetan Yoo~ dan langsung mensyen Yoo saat itu juga.. Nah khan ini JiHyo berulah lagi,, keluar dorm diem.. Diem… Bandel… (ˇ▼ˇ)-c<ˇ_ˇ) tapi kali ini bandelnya berkualitas (?) Hwhwhwhw ~ xDD

  22. sedih banget waktu eunteuk berenti di sukira =(
    btw, gengsinya yoo tinggi banget >< tapi tetep nelp poo juga akhirnya😀
    kabur tengah malem demi hyuk….. bisa dicoba *eh tapi aku jadi penasaran sama hyori kalo lagi nyetir. kayanya asik ngebut wahahaha. aku ngubek ngubek blog nyari ff lagi ya eon xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s