Lovabook Story #14 [END]

PS (di atas lagi): Warning~ Long chapter.. >.<

 

-previously-

“Kalau masalahku itu sudah selesai, kau tidak punya alasan untuk tetap disini, kan?” pertanyaan Siwon –terdengar seperti pernyataan bagi Jiyoo, ini berhasil menarik perhatian gadis itu.

“Walau pun begitu, aku akan tetap menikah dengan–“

“Tidak perlu,” potong Siwon. “Aku sudah mendapat calon istri di Tokyo.”

Jiyoo membelalakkan mata. Siwon tahu gadis itu menuntut penjelasan lebih detil, tapi ia mengabaikannya. Bukan saatnya bercerita. Ia hanya ingin gadis itu pulang, bersamanya.

Siwon bangkit dari kursi dan menatap Jiyoo lama. “Kita akan pulang ke Tokyo.. besok.”

===========================

Last Chapter

Entah indera pendengarannya sudah rusak atau memang hal itulah yang Jiyoo dengar, ia tak tahu. Sesaat tadi ia mendengar Siwon mengajaknya pulang. Pulang ke Tokyo. Jiyoo menelan ludah, berharap lelaki itu sama sekali tak pernah mengucapkan kalimat itu padanya.

“Pu..lang?” Jiyoo mengulang kata itu dengan suara parau.

Siwon tahu itu bukan pertanyaan yang ditujukan untuknya karena Jiyoo sama sekali tak menatapnya, tapi tetap saja ia merasa harus menjawab gadis itu. “Ya, pulang ke Tokyo. Kau sudah mendengarku tadi, Yoo.”

Jiyoo merasa sesuatu menghantam dadanya. Sesuatu dengan berat jutaan ton. Sesuatu dengan ribuan duri tajam di sekelilingnya. Sesuatu yang mampu meremukkan tubuhnya dalam waktu sepersekian detik.

Sesuatu yang menyakitkan.

Ia menelan ludah sekali lagi, kali ini ia berharap kedua telinganya tuli permanen untuk sepuluh detik yang lalu. Ia berharap tak pernah mendengar keputusan sepihak yang diambil Siwon.

Tiba-tiba oksigen di sekitarnya menipis, berubah menjadi karbon dioksida yang tak pernah bisa dihirup masuk ke dalam paru-parunya. Tiba-tiba saja penglihatan Jiyoo berubah kabur. Tiba-tiba saja bayangan Hyukjae dan semua hal tentangnya memenuhi otak Jiyoo.

“Penerbangan pagi. Pastikan malam ini kau sudah mengemasi barang-barangmu,” perkataan Siwon ini terdengar seperti sebuah titah –titah raja yang tak bisa dibantah.

Jiyoo membeku di tempatnya. Seluruh tubuhnya menolak bergerak, seolah otaknya berhenti memberi perintah untuk bergerak. Hal yang masih bisa dirasakannya hanya hembusan napas dan detak jantungnya sendiri. Detak jantung itu terdengar bertalu-talu dengan cepat, membuat dentuman nyaring yang hanya bisa didengar oleh Jiyoo.

Untuk sesaat, Siwon menunggu Jiyoo menyampaikan sesuatu padanya. Cacian, penolakan, atau pembelaan diri; ia menunggu semua itu, tapi Jiyoo tak berniat mengucapkan salah satu dari pilihan yang ditunggu Siwon. Lelaki itu baru akan berbalik meninggalkan Jiyoo saat lengannya tertahan oleh sesuatu yang dingin; tangan Jiyoo.

Siwon menarik napas panjang, bersiap menerima segala muntahan kekesalan Jiyoo. “Ada yang mau kau sampaikan?”

Wajah Jiyoo menyiratkan emosi yang tak bisa dibaca Siwon. “Kalau aku pulang, lalu bagaimana dengannya?” ucapan Jiyoo terdengar seperti bisikan. “Bagaimana dengan Lee Hyukjae? Apa yang harus kulakukan padanya? Aku tidak bisa meninggalkannya.. tidak bisa, tidak mau!”

Siwon merasakan bisikan itu berubah menjadi tamparan tak terlihat untuknya. Jiyoo tidak mau meninggalkan lelaki asing itu. Bukan situasi yang menahan Jiyoo untuk tak meninggalkan Lee Hyukjae, tapi gadis itu sendiri yang tak mau melakukannya. Semua itu membuat Siwon tak suka. Ia mengakui satu hal; ia cemburu.

“Tapi kau harus tetap pulang. Tidak ada alasan untukmu tetap disini,” rahang Siwon tampak mengeras.

Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya mencengkram lengan Siwon dengan kuat. “Lee Hyukjae.. tidak bisakah dia jadi alasanku untuk tetap tinggal?”

“Sejak awal tidak ada yang bisa jadi alasanmu disini kecuali aku,” Siwon mati-matian mengucapkan kalimat kejam itu di depan Jiyoo dengan tersendat. “Kau.. ke Seoul untukku. Bukan begitu?”

Sekali lagi hantaman keras kembali terasa di dada Jiyoo. Untuk kali ini, hantaman itu berhasil melemahkan seluruh indera tubuhnya. Cengkramannya di lengan Siwon perlahan melonggar dan jatuh bebas di samping tubuhnya sendiri.

Siwon melihat raut wajah putus asa itu lagi. Jiyoo sudah menyerah. Walaupun dengan sangat terpaksa, gadis itu sudah menyerah. “Aku akan berkemas sekarang.”

Satu per satu langkah Siwon membuatnya menjauh dari Jiyoo. Kedua manik Jiyoo yang biasanya berbinar itu kini meredup saat menatap punggung Siwon yang membelakanginya. “Apa kau harus selalu mengatur hidupku?”

Siwon berhenti. Jiyoo masih berhadapan dengan punggung lelaki itu.

“Apa kau penulis skenario untukku?” ujar Jiyoo sarkastis. “Apa kau harus menentukan semua hal yang berhubungan denganku?”

Lelaki itu berbalik. Siwon nyaris terkejut melihat Jiyoo menangis sambil mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat. Siwon baru membuka mulut saat ia mengurungkan kembali niatnya.

“Aku harus tinggal,” kali ini suara Jiyoo melemah. “Aku harus tinggal untuk seseorang, seseorang yang bukan dirimu.”

Siwon menahan sesak yang menggerogoti dadanya. Rasanya menyesakkan saat Jiyoo mengucapkan permohonan yang ditujukan untuk orang lain. Sangat menyesakkan, saat Jiyoo mengucapkan permohonan untuk lelaki lain. Siwon tak suka dikalahkan –atau dibuat cemburu.

Sambil mengatur napasnya yang seolah tersengal, Siwon berkata dingin, “Kau akan tetap pulang, bersamaku.”

Sekali lagi Jiyoo melihat punggung tegap Siwon menjauh darinya. Seolah ikut tertarik oleh langkah Siwon, leher Jiyoo terasa tercekik oleh rantai besi tak terlihat yang diikat lelaki itu. Jiyoo sesak napas oleh semua ini.

Saat rasa sesak itu merayap dan tak mengizinkan Jiyoo mengambil udara bebas, semua tubuhnya lemas. Jiyoo jatuh terduduk di kursi. Rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya kini berubah menjadi luapan air mata yang mengaliri pipinya.

Ia meraung dengan suara tertahan sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. “Lee Hyukjae…”

—-

Siwon memejamkan matanya rapat-rapat. Seandainya bisa, ia akan menolak mendengar isakan Jiyoo. Ia pernah mendengar isakan gadis itu yang seperti ini –saat Jiyoo kembali ke Tokyo setelah kejadian Kim Heechul- dan ia bertekad tak mau lagi mendengarnya.

“Keputusanmu ini keterlaluan, Siwon-ssi,” suara Park Hana tak mengejutkan Siwon.

Setelah mengatur napasnya, Siwon membuka kedua matanya dan menatap wanita paruh baya itu. “Tidak, Ajumma. Ini keputusan yang baik, untuk semua orang.”

“Bukannya hanya untukmu?” tanya Park Hana. “Siwon-ssi, Jiyoo tahu apa yang diinginkannya.”

“Tapi dia tidak tahu apa yang bisa saja menimpanya!” Siwon setengah berteriak. Begitu sadar tindakannya tadi terlalu kasar, ia menundukkan kepala. “Aku tidak mau dia berputar-putar lagi dengan apapun yang berhubungan dengan kota ini.”

“Lalu kenapa kau mengirimnya kesini?” Park Hana tak berhenti bertanya.

Siwon menarik napas panjang. “Kukira dia bisa melupakan kejadian yang dulu dengan menghadapi kota ini.”

“Pikiranmu polos, Siwon-ssi. Tidak salah, lagipula kau sudah lihat Jiyoo senang ada disini. Dia punya teman, dan seseorang yang bahkan mengajaknya menikah,” ujar wanita berambut keriting pendek itu.

Siwon merasa jantungnya mencelos dari tempatnya. Wanita paruh baya ini tidak salah. Jiyoo memang senang ada di Seoul. Jiyoo memang punya teman walaupun hanya Hyunyoung dan Kibum. Tapi Jiyoo tidak boleh memiliki orang itu, ia tak boleh memiliki orang yang akan menikahinya. Siwon tak rela –belum.

“Siwon-ssi,” panggil Park Hana. “Apa kau senang melihat Jiyoo menangis seperti itu?”

Pandangan Siwon beralih kembali pada Jiyoo. Gadis itu masih duduk di kursinya. Samar-samar Siwon bisa mendengar suara isakan serak keluar dari bibir Jiyoo.

Siwon memejamkan mata sesaat. Ia tak suka melihat Jiyoo seperti itu. Rasanya sama seperti mengiris kulit tipisnya sendiri dengan pisau bermata tajam. Menyakitkan.

“Dia tidak boleh disini lebih lama, Ajumma,” tegas Siwon, membunuh segala perasaan sakit karena melihat Jiyoo menangis nyaris meraung-raung seperti itu. “Di Tokyo nanti, semuanya akan baik-baik saja.”

Park Hana menghembuskan napas berat, menolak untuk mencampuri urusan keluarga Choi lebih jauh lagi. “Mudah-mudahan saja begitu.”

Siwon tak menyahut lagi. Kedua indera penglihatannya kini hanya terpaku pada gadis yang masih terduduk di kursi. Siwon mengepalkan tangan kuat-kuat, terlalu kuat hingga meninggalkan bekas berwarna merah muda disana.

“Siwon-ssi, kau tidak bisa terus-menerus jadi penulis skenario dalam hidupnya,” Park Hana mengingatkan sebelum melangkah masuk ke kamar tidurnya.

Siwon tersenyum kecil, berusaha menahan rasa lelah yang menyergap tubuhnya. “Kalau aku bisa jadi penulis skenario untuknya, aku pasti akan menulis kisah yang lebih indah..”

—-

Lee Hyukjae tak bisa mengalihkan perhatiannya dari selembar kertas yang tampak lusuh. Kertas itu hanya dihiasi dua buah tanda tangan dari Hyunyoung dan Kibum. Dua buah kolom yang seharusnya berisi tanda tangannya dan Jiyoo masih kosong.

Masih sambil mengamati kertas di atas ranjangnya, Hyukjae menjatuhkan kepala ke atas bantal. Otaknya sibuk berpikir tentang banyak hal. Hari yang jadi batas akhir perjanjian Jiyoo, Hyukjae, dan ibunya itu besok. Keputusan Jiyoo jadi sesuatu yang memonopoli kepala Hyukjae.

“Apa.. seharusnya tadi kubuat dia tanda tangan saja?” gumamnya. Hyukjae berbaring dengan menggunakan lengannya sebagai bantal tambahan. “Jangan-jangan besok dia berubah pikiran?”

Dalam hitungan detik, Hyukjae tak lagi berbaring di ranjangnya. Ia duduk sambil bersila dan menyambar kertas keramat di depannya. Otaknya mulai memikirkan banyak hal negatif dan itu sangat mengganggu Hyukjae.

Lelaki itu bertekad akan percaya pada Jiyoo; pada apapun keputusan yang diambil gadis itu. Ia tahu Jiyoo bisa saja berubah pikiran. Tahu jika sewaktu-waktu ia bisa mendapat keputusan yang tak adil atau bahkan menyebalkan.

Walaupun begitu, Hyukjae masih ingin memercayai Jiyoo. Percaya jika gadis itu memang sudah jatuh untuknya. Percaya jika gadis itu memang mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa Jiyoo hanya akan menikah dengan Hyukjae.

Tapi sepertinya akal sehat Hyukjae sedang menolak bekerja sama dengan keyakinannya. Terasa konyol jika lelaki itu berharap sesuatu yang tak bergaransi. Jiyoo tak berjanji apapun, hanya Hyukjae yang merasa harus percaya pada gadis itu.

Hyukjae memejamkan mata, menangkis segala pikiran buruk yang mengganggu.

Sesaat kemudian, ia meninggalkan ranjang lalu bergegas menyambar pena dengan tinta hitam yang tergeletak di atas meja tulisnya. Hyukjae menarik napas panjang, “Besok.. kuharap tidak ada yang berubah.”

Jemarinya bergerak lincah, membentuk coretan teratur di atas kertas. Hyukjae menandatanginya dan ia akan menunggu kolom di samping tanda tangannya terisi besok.

—-

Choi Jiyoo menatap layar ponselnya yang gelap. Wajahnya kusut, seolah beban pikirannya sudah terlalu berat dan berefek pada fisiknya. Ia menggigiti bibir bawahnya berkali-kali saat tak berhasil memikirkan jalan keluar dari masalahnya.

Ia tak ingin pulang, jelas. Ia tak bisa pulang saat Hyukjae masih membutuhkannya disini.

Seandainya pikiran itu sejalan dengan Siwon, Jiyoo berandai-andai. Jiyoo tak mengerti kenapa lelaki itu mengambil keputusan egois seperti ini. Walaupun mungkin ia bisa mengerti alasan Siwon, ia tak ingin mengerti.

Untuk sekali ini saja, ia ingin Siwon yang mencoba mengerti alasannya.

Satu-satunya hal yang sedang dipertimbangkan Jiyoo saat ini adalah apakah ia harus memberitahu Hyukjae soal kabar kepulangannya ke Tokyo?

Setengah jam memainkan ponsel di tangan, Jiyoo tak mendapat pencerahan apapun. Jika ia harus memberitahu lelaki itu tentang kepulangannya, apa ia bisa menanggung sesuatu yang lebih berat daripada melanggar janjinya sendiri pada Hyukjae?

Mungkin melanggar janji untuk membantu Hyukjae adalah hal yang berat, tapi Jiyoo beranggapan bahwa meninggalkan Hyukjae saat ia sendiri ingin tinggal di dekat lelaki itu adalah hal terberat yang tak bisa dibayangkan.

Jiyoo menggelengkan kepala pelan, tak mau membayangkan wajah Hyukjae yang sedih. Atau sederhananya, Jiyoo tak mau meninggalkan lelaki itu.

Ting~

Jiyoo mendesah berat lalu menunduk untuk memeriksa ponsel di tangannya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat saat mulai membaca pesan yang masuk. HYUKiddo.

[Aku sudah tanda tangan~~~
dan sekarang hanya tinggal satu kolom yang kosong.
Kau akan mengisi kolom itu, kan?
Aku menunggu datangnya besok.. ^-^]

“Kau menunggu datangnya besok sementara aku sama sekali tidak ingin ada besok,” Jiyoo berbisik lemah.

Perasaannya tak karuan lagi saat ini. Ia ingin membalas pesan konyol Hyukjae, tapi ia tak bisa berjanji apapun pada lelaki itu. Jiyoo merasa sebuah janji hanya akan menyakiti Hyukjae –dan dirinya sendiri.

Ting~

Denting nyaring membuyarkan perdebatan Jiyoo dan kepalanya. Jiyoo tahu siapa yang mengirimkannya sebuah pesan lagi. Ia selalu tahu; tahu bahwa lelaki itu selalu mengetahui suasana hati Jiyoo lebih dari siapapun.

[Jangan mengerutkan kening!
Aku memang menunggu, jadi pikirkan saja keputusanmu dengan baik.
Jangan berjanji, jangan bebani dirimu sendiri,
dan jangan… pikirkan orang lain.
Pikirkan apa yang kau inginkan, ‘o?]

Jiyoo ingin tersenyum lalu mendengus saat membaca pesan ini. Ia ingin membalas pesan lelaki itu dengan ucapan sinis seperti biasanya. Jiyoo ingin.

Pandangannya berubah kabur, terhalang oleh air mata yang menggenang. Hyukjae akan menunggu besok dan Jiyoo tak bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan. Bahwa ia ingin berjanji pada Hyukjae, ia ingin memikirkan dirinya sendiri lebih dari orang lain, dan bahwa ia ingin mengatakan ia harus tetap ada di dekat lelaki itu.

Jiyoo terduduk di ranjangnya. Air matanya sudah tumpah dari tadi, membasahi celana panjang yang membungkus kakinya. Jiyoo mulai sesenggukan sambil memegang erat ponsel putih miliknya. Entah sejak kapan segalanya terasa sulit untuk Jiyoo.

Sulit, karena seolah keadaan menelan tubuhnya utuh-utuh..

—-

-the next day-

Sinar matahari menyusup masuk melalui celah jendela kamar, mengusik Jiyoo yang masih mengubur diri dalam selimut. Ia membuka mata namun memilih tak bergerak dari ranjang. Matanya terasa membesar karena air mata yang terus keluar hingga ia kelelahan dan tertidur.

Jiyoo menghela napas panjang. Doanya tak terkabul, harapannya tak terpenuhi. Permintaan agar tak usah ada hari ini sama sekali tak terwujud.

Hari ini tetap datang, bahkan dengan sinar matahari yang menyilaukan, seolah ingin mengukuhkan diri di depan Jiyoo bahwa hari ini sudah datang. Jiyoo ingin mendengus karena pemikirannya barusan. Sekarang ia merasa seluruh alam memang tak pernah ada di pihaknya.

Jiyoo membalikkan tubuh ke samping, memandangi awan putih yang dibingkai oleh pinggiran jendela kayunya. Sebuah pesawat terbang yang melintas menembus awan membuat Jiyoo tertegun. Sebentar lagi benda besi itu akan membawanya pergi.

Jika ia berada dalam pesawat itu, akan pergi kemana dirinya?

Jika ia terbang menjauh dari tempat ini, dimana lagi tempat yang akan ditinggalinya?

Dan.. jika ia benar-benar meninggalkan Seoul, apa ia juga akan meninggalkan Lee Hyukjae disana?

Kali ini Jiyoo benar-benar mendengus. Pikirannya sudah tak bisa diajak memikirkan hal lain yang lebih menyenangkan. Ia sendiri sudah menyerah memikirkan cara untuk tak menuruti keinginan Siwon sejak semalam.

“Kau sudah selesai berkemas?” Jiyoo memejamkan mata untuk sepersekian detik, tak menyangka pikiran kecilnya tentang Siwon bisa membawa wujud nyatanya ke depan Jiyoo.

Suara langkah Siwon mendekat dan Jiyoo masih tak ingin menyingkirkan selimutnya. Gadis itu berharap tubuhnya dapat menghilang secara ajaib jika ia tetap mendekam dalam selimut. Sesuatu yang konyol namun selalu ingin diwujudkannya di dunia nyata.

“Aku tidak melihat satu koper pun disini,” Siwon berkomentar. Ekor matanya seperti radar, menyapu seluruh kamar Jiyoo hingga ke sudutnya.

Jiyoo membuka selimut, menampakkan wajah kusutnya yang tak berubah sejak semalam. “Tak ada yang ingin kubawa, kalau itu yang Oppa tanyakan.”

“Bajumu?” tanya Siwon sambil menunjuk lemari kayu yang terletak di samping ranjang.

“Aku bisa pakai satu baju untuk ke bandara,” jawab Jiyoo dingin. Ia sudah kehabisan sisa tenaga untuk bersikap manis di depan kakaknya ini. Seandainya ini Siwon yang dulu, Jiyoo pasti sudah memasang senyum terbaiknya sejak tadi.

Siwon meraih tas tangan mungil yang selalu dipakai Jiyoo. “Kalau begitu bawa apa yang ingin kau bawa saja. Aku harus memberi tahu kalau kau tidak bisa pura-pura kembali kesini dengan alasan mengambil pakaianmu yang ada disini, Yoo.”

“Aku tahu,” Jiyoo menyambar tas tangan miliknya dari Siwon. Tanpa peduli kedua mata Siwon yang masih terpaku padanya, Jiyoo menjejalkan buku kecil, headphone, dan ponselnya sembarangan ke dalam tas. “Sudah, kan? Sekarang keluar, aku harus siap-siap.”

Siwon memandangi Jiyoo lama. Gadis itu terlihat baik-baik saja walaupun sikapnya dingin. Siwon menarik napas. Jiyoo akan segera mengerti keputusan yang sudah diambil Siwon. Ia hanya butuh waktu, Siwon menyimpulkan.

Setelah membelai puncak kepala Jiyoo dengan lembut, Siwon meninggalkan adiknya yang masih duduk di ranjang. Ia masih beranggapan keputusannya ini baik untuk Jiyoo –dan dirinya sendiri.

Jiyoo menatap lurus ke dinding, sama sekali tak berminat untuk sekedar mengekor punggung Siwon yang sudah terhalang oleh pintu kamar. Dadanya masih terasa sesak. Jiyoo tak senang, sama sekali tak senang dengan sikapnya sendiri.

Terasa sangat bodoh saat Jiyoo tetap menurut pada Siwon barusan. Ia merasa tak rela dengan keputusan lelaki itu, tapi sikapnya justru menunjukkan bahwa ia setuju –walaupun harus dipaksa.

Jiyoo mengeluarkan kembali ponselnya dari tas. Ia menggigit bibir, “Lee Hyukjae, maaf..”

—-

“KEMBALI KE TOKYO?” Hyunyoung memekik nyaring saat Siwon menuruni tangga sambil menyeret sebuah koper berwarna putih.

O-oppa, ini tidak benar, kan? Jiyoo tidak akan kemana-mana, kan? Kalian sedang bercanda, kan?”

Siwon menegakkan kopernya di lantai kayu. “Tidak ada yang bercanda. Jiyoo akan pulang, bersamaku.”

Oppa, tapi Hyukjae–“

“Aku tidak ada urusan dengan orang itu,” sahut Siwon ringan. “Apa taksi yang kupesan sudah tiba?”

Hyunyoung menggigit bibir, menahan keterkejutan sekaligus kemarahan dalam dirinya. Sadar tak ada yang bisa dilakukannya, ia hanya mengangguk kaku. Ia baru saja akan mengatakan ada supir taksi yang menunggu di luar. Hyunyoung tak tahu kemana tujuan taksi itu, tapi ia berharap taksi itu akan kemana saja, kecuali ke bandara.

Oppa,” panggil gadis itu lemah. “Apa Jiyoo setuju untuk ikut pulang.. bersamamu?”

Siwon mengernyitkan alis, agak tersinggung saat Hyunyoung menekankan kata ‘bersamamu’. “Kalau dia tidak setuju, apa dia akan mengikutiku seperti sekarang?”

Hyunyoung membelalakkan mata begitu menangkap sosok Choi Jiyoo bersiap di belakang Siwon. Jiyoo sudah mengenakan sebuah kemeja tanpa lengan berwarna ungu dengan tas tangan kulit bernuansa putih. Hyunyoung menatapnya, tapi Jiyoo tak memberi respon apapun.

“Kau.. benar-benar akan pulang?” tanya Hyunyoung. Nada suaranya sudah menyiratkan kelelahan, seolah ia tahu lebih dulu apa yang sudah diputuskan Jiyoo.

Jiyoo menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat. “Aku.. belum bilang pada Hyukjae.”

“Tch~ belum bilang? Lalu kenapa kemarin kau membuatku dan Kibum Oppa tanda tangan? Kemarin kau bertingkah seolah kau benar-benar akan menandatangani surat itu,” cecar Hyunyoung dengan nada tinggi. “Kemarin kau bertingkah seolah-olah kau benar-benar jatuh cinta pada Hyukjae!”

Luapan rasa sesak menyeruak dari dada Jiyoo, menyerbu hingga menimbulkan rasa panas di matanya. Ia tergoda untuk menangis, tapi ini bukan saat yang tepat. “Aku akan minta maaf padanya.”

“Kapan? Saat kau sudah sampai di rumahmu sendiri?” Hyunyoung tak bisa berhenti mengucapkan kalimat dengan nada sinis. “Atau, saat Hyukjae tidak akan bisa melihatmu lagi?”

Jiyoo menarik napas panjang lalu menelan bulat-bulat rasa sakit yang kini menyebar seperti bisa dalam tubuhnya. “Maaf, Hyunyoung-ah..”

“Jiyoo-ssi, kau memang berhutang maaf,” tatapan mata Hyunyoung berkilat-kilat karena marah. “tapi bukan padaku. Hanya pada Lee Hyukjae.”

—-

Tokyo – Japan

Choi Siwon melepaskan kacamata hitam yang sejak tadi dikenakannya. Tarikan napasnya terasa panjang, seolah ingin mengumpulkan seluruh udara yang ada di kota tempat tinggalnya. Ia tersenyum. Sudah masuk musim panas lagi dan hanya tersisa sedikit aroma musim semi disini.

Musim semi selalu indah di Tokyo. Bunga-bunga bermekaran dan angin semilir yang menyejukkan wajah membuat semua orang betah berada di luar rumah. Bunga sakura yang ada di taman belakang rumah menjadi favorit Siwon dan Jiyoo. Musim semi adalah musim yang selalu mereka tunggu.

Siwon dan Jiyoo memiliki alasan yang berbeda untuk itu. Jiyoo suka musim semi karena bisa melihat kelopak-kelopak sakura merah muda yang berguguran mewarnai rumput yang tadinya hijau. Tampak ajaib, menurut Jiyoo.

Siwon melirik ke samping, mengamati Jiyoo yang masih memasang ekspresi wajah yang sukar dibaca. Nama Jepang Jiyoo adalah Haru –Chiharu, yang berarti musim semi, dan rasanya musim semi dalam diri Jiyoo sudah ikut tergerus dengan datangnya musim panas.

Gadis itu tampak lesu walaupun berkali-kali mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Siwon tak pernah memberi tahu apa alasannya memilih musim semi. Ia merahasiakannya dari Jiyoo. Ia tak pernah bilang kalau ia menyukai musim semi karena musim semi adalah arti nama Jiyoo. Ia tak pernah bilang kalau ia menyukai musim itu karena Jiyoo.
Sekali lagi Siwon menarik napas panjang, menyesal karena tak pernah mengatakan alasannya pada Jiyoo.

Mungkin saja, jika ia mengatakannya sejak dulu, ia tak akan melihat rona merah muda di wajah Jiyoo menghilang. Mungkin saja, jika ia mengatakannya, ia akan bisa melihat raut musim semi yang cerah tergambar di wajah Jiyoo. Mungkin saja..

“Yoo,” Siwon menoleh, tapi tak mendapat respon dari gadis yang dipanggilnya. Jiyoo sama sekali tak fokus. Gadis itu bahkan tak mendengar namanya dipanggil. “Choi Jiyoo?”

Saat sadar Siwon menatapnya dengan intens, Jiyoo mengerjap-ngerjapkan mata. “Ng? Kenapa?”

“Kita harus mencari supir yang dikirimkan ayah,” ujar Siwon, menelan rasa kecewanya sendiri.

“Oh…” Jiyoo hanya berkomentar singkat. Emosinya sudah terserap habis sejak meninggalkan Seoul. Ia menahan lengan Siwon sejenak. “Oppa, panggil aku Haru saja.”

Siwon berdeham untuk menyembunyikan keterkejutannya. Ia selalu tahu Jiyoo tak suka dipanggil begitu oleh orang terdekatnya. Jiyoo ingin orang terdekatnya punya panggilan khusus yang membedakan mereka dengan teman-teman Jiyoo di Jepang.

Siwon ingin bertanya, apa ia sudah tak boleh memanggilnya dengan panggilan khusus itu? Atau, Jiyoo ingin mengelompokkannya menjadi orang-orang ‘biasa’ untuk Jiyoo?

O’, geurae.. Haru-chan,” sambung Siwon lembut.

Kini lelaki itu sibuk mencari supir yang sudah menunggunya dan Jiyoo di bandara. Walaupun sepasang indera penglihatannya sedang terpakai, Siwon masih sempat melirik Jiyoo. Ia sedikit merasa tak nyaman dengan sikap Jiyoo yang seolah ingin menjauh perlahan darinya.

Siwon tak tahu Jiyoo sadar lelaki itu sesekali meliriknya dengan tatapan aneh. Jiyoo bukannya tak tahu alasannya, ia hanya ingin mengabaikan tatapan Siwon. Pikirannya menolak untuk memikirkan masalah Siwon. Pikirannya, entah sejak kapan, sepertinya tertinggal di Seoul.

Atau.. seseorang yang lebih penting juga tertinggal disana?

—-

Seoul

Lee Hyukjae tersenyum getir sambil memandangi selembar kertas putih yang kini sudah benar-benar lusuh. Kertas registrasi pernikahan mereka sudah benar-benar jadi kertas lusuh yang tak berguna sekarang. Jiyoo pergi dan tidak akan ada yang menandatangani satu-satunya kolom yang tersisa.

Sesuatu yang hanya satu kali dibayangkannya ternyata bisa jadi nyata sementara hal lain yang selalu ia bayangkan bahkan tak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi.

Jiyoo akan jadi seseorang yang menyukainya lebih dari siapapun –ini hal yang sering dibayangkan Hyukjae.

Jiyoo berubah pikiran dan memberi keputusan yang menyebalkan untuknya –dan ini adalah hal yang benar-benar hanya satu kali dibayangkan oleh Hyukjae.

“Hyuk-ah, jangan murung begitu,” ujar Hyunyoung, setengah membujuk.

“Tidak apa-apa. Aku tidak akan bunuh diri,” Hyukjae tersenyum lebar sejenak sebelum perhatiannya tersedot kembali ke dalam kertas di atas meja.

 “Mungkin itu keputusan Choi Siwon, mungkin Jiyoo tidak mau pergi dan lelaki itu memaksanya. Mungkin Jiyoo tidak bisa menolak, atau mungkin–“

Hyukjae memotong, “Kenapa terlalu banyak kemungkinan dalam hidupnya? Mungkin dia menyukaiku, atau mungkin dia masih menyukai kakaknya itu. Mungkin dia akan menikah denganku, atau mungkin dia bisa membatalkannya kapan saja.”

“Hyukjae-ya..” Hyunyoung memandang wajah temannya yang sudah tampak lesu.

“Kalau dia memang tidak berniat menikah denganku, setidaknya dia harus mengucapkan selamat tinggal, kan?” pertanyaan Hyukjae ini membuat Hyunyoung yakin temannya ini sedang patah hati.

“Hyukjae-ya,” panggil Hyunyoung. Hyukjae tak menoleh ataupun menjawab gadis itu. “Lupakan saja Choi Jiyoo.. sejak awal dia bukan seseorang yang bisa berada di dekatmu.”

Hyukjae tersenyum pahit lalu mengangguk pelan. “Memang..” ia berbisik. “Tapi mau bagaimana lagi. Sejak awal aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa berada di dekat Choi Jiyoo..”

—-

Tokyo

Jiyoo menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Ruangan besar yang menyambutnya di depan pintu masuk sama sekali tak berubah. Sebuah karpet merah maroon raksasa digelar di ruang tamu. Baru dua langkah melewati ruangan itu, Jiyoo sudah dipertemukan dengan grand piano berwarna putih gading yang jadi kesukaan ayahnya.

Tak ada yang berubah dari tempat tinggalnya. Tetap besar, hangat, dan selalu terbuka untuknya. Rumah ini dan segala bagiannya menawarkan rasa aman seolah siap memeluk Jiyoo saat ia butuh. Seperti saat ini.

Jiyoo menyeret kakinya menyusuri ruangan demi ruangan di rumahnya. Ia berhenti di depan sebuah pintu putih besar yang dihiasi dengan ukiran elegan di kayunya. Salah satu ruangan yang selalu memeluknya; kamar tidur Jiyoo.

Jiyoo membuka pintu kamarnya. Kedua matanya langsung tertuju pada pintu lain berlapis kaca yang mengarah ke balkon. Ia bergegas menuju kesana, membiarkan tas tangan yang sejak tadi dibawanya tergeletak di lantai berlapis karpet cokelat.

Dari atas balkon, ia bisa melihat semuanya. Halaman belakang rumahnya, rumput-rumput yang masih hijau, dan pohon sakura raksasa yang tak berbunga. Ia merindukan semua itu, tapi merasa tak puas dengan pemandangan kesukaannya.

Jiyoo mendesah berat. Bukan hal ini yang benar-benar dirindukannya. Bukan semua ini yang benar-benar ingin dilihatnya. Ia ingin sesuatu yang lain –ia ingin seseorang yang lain.

“Choi Jiyoo!” Jiyoo buru-buru berbalik. Ia mengerutkan kening sejenak begitu menemukan ibunya sudah berdiri di tepi pintu kamar. “Apa kau ingat kapan terakhir kali kau memberi kabar pada Eomma saat kau disana?”

Wanita paruh baya itu berjalan ke arah Jiyoo. Sedikit demi sedikit, Jiyoo bisa mencium aroma parfum kesukaan ibunya. Ibunya dan aroma parfum ini adalah salah satu yang benar-benar dirindukannya.

“Apa kau merindukan Eomma?” goda ibunya.

Jiyoo tak menjawab. Saat melihat wanita berperawakan anggun ini, ia merasa seluruh bebannya terangkat ke udara, terbang menjauh, dan tak akan pernah kembali lagi. Satu-satunya yang tersisa dalam tubuhnya hanya luapan kelegaan yang berubah jadi deraian air mata.

Ibunya melihat Jiyoo menangis. Wanita itu hanya merengkuh wajah putrinya, menempelkannya ke pundak sementara tangannya menepuk-nepuk punggung Jiyoo. “Aigooo~ ada apa ini?”

“Tidak apa-apa,” sahut Jiyoo dengan suara serak.

“Tidak apa-apa itu bukan jawaban yang tepat. Tapi kalau bilang tidak apa-apa bisa membuat Yoo lega, Eomma juga tidak apa-apa,” tangan wanita itu membingkai wajah Jiyoo. Jemarinya mulai mengusap sisa air mata di pipi Jiyoo dan bibirnya sudah melengkungkan senyum kesukaan Jiyoo. Jiyoo sudah merasa jauh lebih baik sekarang. “Malam ini, ikut?”

Jiyoo mengerutkan kening lalu bersuara, “Ada apa malam ini?”

“Makan malam, dengan calon istri Siwon dan keluarganya,” wanita itu menjelaskan dengan lembut sambil menyelipkan rambut Jiyoo ke belakang telinga.

Untung saja Jiyoo tak mendengus di depan ibunya. Ia baru ingat sekarang. Sejak di Seoul kemarin, ia penasaran dengan gadis ‘tiba-tiba’ yang jadi calon istri Siwon. Tapi sepertinya rasa penasaran itu terkikis gara-gara Lee Hyukjae tak pernah berhenti memenuhi kepala Jiyoo.

“Aku ikut,” sahut Jiyoo tegas.

“Tapi kau tidak akan menghancurkan acara perjodohan Siwon lagi, kan?” lagi-lagi ibunya menggoda.

Jiyoo merengut lalu menggeleng kuat-kuat. “Tidak akan!”

Eomma pegang kata-katamu,” ibunya tersenyum dengan senyum kesukaan Jiyoo lagi. Wanita itu baru saja akan meninggalkan Jiyoo saat kemudian tubuhnya berbalik, “Ah, lalu Yoo? Apa tidak ada pria yang bisa diajak malam ini?”

Jiyoo menelan ludah kemudian tersenyum kikuk. “Tidak ada.” Ibunya hanya mengangguk satu kali sebelum menutup pintu kamar Jiyoo. “Pria itu sudah terlalu jauh dari sini, Eomma..”

—-

Meja makan berbentuk persegi panjang berukuran besar itu dihiasi peralatan makan antik. Piring yang terbuat dari perak dengan ukiran elegan di sekelilingnya, sepasang sendok dan garpu senada yang diletakkan di samping piring, serta gelas kaca berbentuk cawan melengkapi semua peralatan makan mewah itu.

Dua pelayan wanita dengan rajin bergantian menyajikan makanan. Seorang pelayan pria lain tampak sibuk menuang wine ke tiap gelas yang ada di meja. Semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Jiyoo baru saja menuruni tangga saat matanya berputar jengah melihat semua hal yang tak biasa dilakukan keluarganya. Seingatnya, pesta perjodohan Siwon yang terakhir –yang dengan sukses ia kacaukan, tak sampai seperti ini. Jiyoo melihat sekeliling, tapi tak menemukan gadis yang dimaksud ibunya tadi –belum.

“Kau masih marah?” suara dingin Siwon –atau setidaknya itu yang dirasakan Jiyoo, mengejutkannya.

Jiyoo tak menjawab. Tak ingin memulai percakapan apapun dengan lelaki itu, Jiyoo memilih membalikkan badan. Sesaat kemudian ia mendongak cepat karena lengannya ditahan sesuatu. “Lepaskan tanganmu itu!”

Siwon tersenyum puas mendengar nada tinggi dari Jiyoo, seolah ia telah memecahkan rekor dunia. “Akhirnya bersuara juga.”

“Aku tidak bisu, kalau itu yang kau khawatirkan,” tambah Jiyoo, setengah sengit. “Oppa.”

Mau tak mau, Siwon harus menarik kembali senyumannya. Gadis itu sudah kembali sinis, tapi bukan dengan cara yang sama seperti yang dulu ia lakukan. “Maaf, kalau itu yang mau kau dengar, Yoo.”

“Haru.” Jiyoo mengoreksi. Gadis itu menelan ludah lalu mendongak untuk menatap wajah kakaknya lekat-lekat. “Dan aku tidak butuh ‘maaf’ darimu, atau dari siapapun.” Gadis itu berbalik memunggungi Siwon.

“Lee Hyukjae itu..” kaki Jiyoo berhenti sendiri saat Siwon mengucapkan nama itu. “Apa dia.. sepenting itu?”

“Aku tidak mengerti, Choi Siwon,” Jiyoo kembali berhadapan lurus dengan Siwon. “Kau sudah berhasil membawaku pulang, lalu kenapa kau harus repot-repot membawa nama Hyukjae disini?”

Siwon sedikit tertegun melihat sorot mata Jiyoo. Kedua matanya memancarkan banyak emosi; kemarahan, kekalahan, dan kesedihan –kalau Siwon tak salah mengartikannya. Lelaki itu berdeham, berusaha mengalihkan pembicaraan mereka, “Kau akan tetap tinggal, kan?”

“Lucu,” dengus Jiyoo pelan. “Apa kau tidak tahu kalau kau selalu mengatur semua hal untukku?”

—-

Seoul – the next day

Lee Hyukjae mengetuk-ngetukkan jemarinya ke rak buku Lovabook Store. Pekerjaannya bukan lagi jadi sesuatu yang dipikirkan kepalanya saat ini. Seluruh perhatian dan pikirannya hanya tertuju pada satu objek –objek yang ia tahu sudah terlalu jauh darinya.

Ya,” panggil Kibum. Hyukjae menoleh lalu pura-pura menata buku yang sebenarnya sudah rapi. “Aku sudah dengar soal Choi Jiyoo. Ini baru dua hari, dia bisa kembali kapan saja.”

Hyukjae mendesah berat. “Mian, sepertinya aku akan membuat toko buku ini bangkrut kalau aku malas begini.” Ia baru ingat kalau ia sudah membuat dua orang gadis berseragam SMA meninggalkan Lovabook.

“Aku belum selesai,” tambah Kibum. Ia ikut-ikutan mendesah saat melihat wajah Hyukjae yang lesu. Lelaki itu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah ponsel dan secarik kertas berwarna putih. “Jiyoo menyampaikan sesuatu untukmu, tapi dia menitipkannya padaku. Hyunyoung dan aku sempat berdebat tentang hal ini, tapi kurasa kau bisa menjaga rahasia, kan?”

Sambil menatap ponsel dan kertas itu agak lama, Hyukjae mengernyitkan kening. “Aku tidak mengerti.”

“Hyunyoung akan membunuhku kalau tahu aku menyerahkan ini padamu,” jelas Kibum. Ia meletakkan kedua benda yang sejak tadi aman di sakunya ke tangan Hyukjae. “Tapi kurasa kau satu-satunya orang yang berhak menyimpan ini. Ini untukmu..”

Hyukjae tetap bingung dan Kibum menolak memberi tahu inti dari pembicaraan mereka. Ia mengamati ponsel bergantian dengan kertasnya; kertas kosong. “Apa yang harus kulakukan dengan kertas ini?”

Saat memainkan ponsel di tangannya, Hyukjae sadar ada sebuah voice mail disana. Hyukjae menempelkan ponsel itu ke telinga kanannya dan mulai mendengarkan. Matanya melebar saat mengenali suara dalam pesan itu.

Kibum-ssi, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu melalui pesan ini, tapi bisa tidak kau sampaikan suaraku ini pada Lee Hyukjae? Aku tahu kau akan menyanggupinya, jadi.. kumulai saja.

Mm.. Lee… Hyukjae?

Ya, bagaimana rasanya tidak bisa melihatku beberapa hari ini? Ng.. aku minta maaf, aku sudah melanggar janjiku sendiri. Kalau kau ingat, aku pernah berjanji untuk menikah denganmu, dan sepertinya aku sudah melanggarnya. Maaf.

Aku juga tidak mengucapkan salam perpisahan padamu, kan? Apa kau marah? Aku tidak tahu ini perasaan apa, tapi aku juga… tidak suka pergi tanpa mengatakan apapun padamu, jadi kurasa.. aku sama sekali tidak suka perjalanan pulangku ini.

Hyukjae menyunggingkan senyuman kecil. Ia tak tahu suara gadis itu bisa dengan mudah mengganti suasana hatinya. Dan saat ini, ia malah semakin ingin bertemu dengan pemilik suara yang mengucapkan kalimat-kalimat manis dengan terbata-bata itu.

Alis Hyukjae terangkat sesaat. Telinganya yang salah dengar atau gadis itu memang sedang menangis?

Ehm.. maaf, kurasa aku sudah gila malam ini. Maksudku, ini malam terakhirku di Seoul dan aku hanya bisa mengucapkan kalimat perpisahan melalui pesan bodoh ini. Aku ingin bertemu denganmu, aku.. harus bertemu denganmu.

Dan.. Lee Hyukae, aku harus menyampaikan sesuatu.

Aku menyukaimu.

Walaupun aku tidak tahu apa perasaan ini adalah sesuatu yang kau harapkan dariku, aku hanya ingin kau tahu, aku benci saat aku tidak bisa melihat senyum konyolmu itu dan aku… tidak suka saat tidak bisa ada di dekatmu.

Karena itu, apa kau bisa menungguku? Entah bagaimana caranya, aku pasti akan kembali dan menyatakan perasaanku secara langsung di depanmu. Aku harus melihat wajahmu yang merah dan senyum bodoh yang pasti akan terlihat saat kau mendengar ucapanku.

Hyukjae kembali tersenyum. Sekarang ia tahu apa fungsi kertas kosong itu. Ia buru-buru mengeluarkan pulpen bertinta biru dari sakunya. Sambil mendengarkan suara Jiyoo, ia memainkan pulpennya di aras kertas dan mulai mencatat.

Mencatat alamat dan nomor telepon Choi Jiyoo..

—-

Tokyo

Ruang makan raksasa itu tak seramai biasanya. Jiyoo selalu jadi penghidup suasana di meja makan dan sekarang gadis itu hanya diam sambil mengaduk-aduk sup miso di mangkuknya. Seharusnya ia bisa menjadi penghidup suasana seperti biasanya, tapi sayangnya, semuanya tak bisa jadi biasa lagi bagi Jiyoo.

“Jiyoo-ssi,” panggilan bernada riang itu membuat Jiyoo mendongak untuk melihat siapa yang berbicara padanya. Shin Hyori, calon tunangan Choi Siwon –entah asli atau tidak, tersenyum lebar ke arah Jiyoo. “Aku dengar kau baru kembali dari Seoul, apa yang kau lakukan disana?”

Jiyoo meletakkan sendok kembali ke mangkuknya. “Tidak ada. Hanya mencari seseorang..”

Siwon memerintahkan ekor matanya untuk melirik Jiyoo, berusaha menangkap ekspresi yang tergambar di wajah gadis itu. Hyori sendiri sudah menyomot sepotong fillet ikan di depannya, “Calon istri untuk Siwon Oppa, kan? Orang tuamu bercerita itu padaku.”

“Bukan,” potong Jiyoo, mengabaikan seluruh tatapan mata yang terarah tajam ke arahnya. “Aku ke Seoul untuk memenuhi janjiku pada seseorang, janji untuk menikah dengannya.”

“Menikah?” Jiyoo tahu ibunya setengah memekik, tapi lagi-lagi mudah untuk mengabaikan reaksi itu.

Siwon dan ayahnya sendiri sudah saling berpandangan. Ayahnya menuntut jawaban dan Siwon tak bisa memberikan jawaban yang diinginkan ayahnya. “Chiharu-chan, apa maksudmu?”

“Tidak ada,” Jiyoo mengangkat bahu. Ia mendorong kursinya ke belakang lalu menyeka bibir dengan sapu tangan. “Aku sudah selesai. Selamat malam..”

“Jiyoo-ssi,” suara itu membuat Jiyoo berbalik. Hyori bicara dengannya –lagi. Hanya satu jam mereka duduk di ruang makan, gadis itu sudah berani bertanya tentang banyak hal pada Jiyoo, dan itu berhasil membuat Jiyoo kesal. “Apa ada lelaki yang menunggumu disana?”

Jiyoo membulatkan kedua matanya, berusaha menatap Hyori secara intens. “Aku tidak tahu.”

Ia berkata jujur. Jiyoo memang sudah menyampaikan hal yang ingin disampaikannya untuk Hyukjae, tapi ia tak tahu apa tanggapan lelaki itu. Jiyoo tak berharap kali ini. Ia tak bisa menjadi orang jahat yang memaksa orang lain menunggunya.

Ia tak mau memaksa di saat ia sendiri tak tahu kapan ia bisa kembali.

“Kau tidak tahu dia menunggumu atau tidak? Kenapa tidak cari tahu?” tanya Hyori lagi.

“Karena aku tidak tahu, dan aku tidak mau repot-repot mencari tahu, Hyori-ssi,” balas Jiyoo, setengah jengah dengan pertanyaan-pertanyaan gadis yang seumuran dengannya itu.

Hyori memiringkan kepala. Ia benar-benar penasaran dan tak bisa melupakan perasaan itu begitu saja. “Mau ke Seoul bersamaku?”

—-

Seoul – Lovabook Store

“KE TOKYO?!” teriakan Hyunyoung berhasil membuat setengah pengunjung Lovabook Store menoleh ganas ke arahnya. Gadis itu tersenyum kikuk sambil menundukkan kepala lalu kembali fokus pada lelaki di depannya. “Ya! Lee Hyukjae, kau.. sudah gila?”

Lelaki dengan kaos hijau dan jaket putih itu mengerutkan kening, tak terima dengan pernyataan Hyunyoung tadi. “Park Hyunyoung, apa aku terlihat seperti itu sekarang?”

“Tentu saja!” lagi-lagi Hyunyoung berteriak walaupun dengan volume suara yang lebih rendah.

“Aku jarang setuju dengan Hyunyoung, tapi kali ini kurasa kau memang sudah gila,” tambah Kibum.

Lee Hyukjae, Kim Kibum, dan Park Hyunyoung sudah duduk di salah satu meja kosong yang ada di Lovabook Store. Mereka berkumpul setelah Hyukjae bilang ada hal penting yang perlu disampaikan. Tapi bagi Hyunyoung sekarang, hal itu bukan hal penting; hal yang disampaikan Hyukjae ini adalah hal gila!

Lee Hyukjae akan terbang ke Tokyo. Besok pagi.

Keputusan mendadak ini membuat Hyunyoung dan Kibum tak mengerti dengan jalan pikiran Hyukjae. Satu-satunya kesimpulan yang berhasil mereka ambil adalah: lelaki itu sudah tak bisa berpikir dengan jernih. Hyukjae sudah gila.

Bukannya Hyukjae tak bisa membaca pikiran ini, tapi lebih mudah baginya untuk mengabaikan semua pemikiran orang lain untuk urusan Choi Jiyoo. Sepertinya semua logika miliknya tak akan bisa berfungsi dengan benar jika berhubungan dengan gadis itu. Choi Jiyoo seperti kutub magnet pribadinya, yang memiliki medan magnet sendiri. Medan magnet kuat yang tak bisa dihalangi oleh apapun.

Ya,” sahut Hyunyoung, “Kau akan benar-benar pergi? Besok?”

Hyukjae menghela napas panjang sambil menyodorkan tiket pesawat yang berwarna dominan biru. “Kau sudah lihat tiketnya, Hyun.”

“Aku mengerti,” Hyunyoung menghembuskan desahan berat yang sejak tadi ditahannya. “Lakukan yang kau inginkan.”

—-

-the next day-

Hyukjae menggenggam erat tali ransel hitam yang digendongnya. Ia berkali-kali melihat layar dengan informasi keberangkatan pesawat bergantian dengan tiket biru di tangannya. Dua puluh menit lagi dan Hyukjae akan berada dalam burung besi raksasa itu.

Burung besi yang akan membawanya bertemu Choi Jiyoo..

Lelaki itu menelan ludah lalu tersenyum untuk mengurangi debaran jantungnya yang menggila. Hyukjae merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kertas berlatar putih dengan beberapa coretan tangan dirinya.

Alamat dan nomor telepon Choi Jiyoo ada di tangannya sekarang..

“Jangan kembali sebelum kau bisa membawa Jiyoo kesini atau Hyunyoung akan membunuhku,” Kibum membuyarkan fantasi indah Hyukjae.

Hyukjae tersenyum lebar, “Hyunyoung akan marah padaku untuk waktu yang agak lama, jadi selama itu, tolong jaga dia.”

Saat terdengar pemberitahuan untuk bersiap-siap, Kibum menghela napas panjang sebelum akhirnya menjabat tangan Hyukjae. Ia tersenyum untuk memberi tahu Hyukjae kalau ia mendukungnya. Sepertinya masalah tentang Hyunyoung bisa diatasi nanti.

Hyukjae memasukkan kembali kertas penting itu ke dalam sakunya. Ia memanggul tasnya di punggung lalu melangkah masuk meninggalkan Kibum. Benda besi seperti burung itu akan membawanya pergi.

Perjalanan ini akan menyenangkan, pikirnya.

—-

Tokyo

Jiyoo merasakan jantungnya berdebar-debar. Debarannya terlalu kuat hingga ia harus menempelkan tangan di atas cardigan ungunya. Ini bukan penerbangan udara yang pertama kali untuknya, jadi akan sangat aneh jika Jiyoo sedang mengalami demam pesawat.

Tatapannya terarah pada tiket berlatar pesawat terbang dan pohon sakura yang digenggamnya. Jiyoo menarik napas, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sedang tak bermimpi atau berfantasi berlebihan. Ia akan kembali ke Seoul. Sekarang.

“Berangkaaaat~~~” seru Hyori sambil mengamit lengan Jiyoo di sampingnya.

Jiyoo mengerutkan kening lalu memandang gadis yang seumuran dengannya itu, “Kenapa kau mengajakku ke Seoul?”

“Karena kau mau menemui laki-laki yang sedang menunggumu, kan? Aku hanya membantu, lagipula kau harus melakukan apa yang sudah kulakukan juga,” Hyori tersenyum riang. Tangannya sudah sibuk menarik koper cokelat yang disiapkannya dari rumah.

Merasa tak mengerti, Jiyoo mulai menarik kopernya sendiri. Walaupun ia tak mengerti dan tak tahu ke mana arah pembicaraan Hyori ini, Jiyoo berusaha tak peduli. Setelah sampai di Seoul dan bertemu dengan lelaki itu, baru Jiyoo akan bersedia merepotkan dirinya untuk penasaran.

Sambil menunggu antrian panjang para penumpang, Jiyoo mengeluarkan ponsel dari tas tangannya. Gadis itu menyalakan benda layar sentuh tersebut lantas mencari kontak yang diburunya. Seulas senyum kecil tergambar di wajah Jiyoo saat ia berhasil menemukan sesuatu dalam ponsel.

Hyukiddo.

“Kalau kau tak menungguku, berarti kau cari mati, Lee Hyukjae,” ucapnya pelan.

Jiyoo tersenyum geli. Untuk apa ia mengucapkan perpisahan pada Hyukjae kalau ia akan kembali ke Seoul dalam waktu kurang dari 72 jam?

Perjalanan ini akan terasa singkat, Jiyoo menyimpulkan.

—-

Lee Hyukjae menyapukan pandangannya ke sekeliling dan buru-buru menghirup udara Tokyo. Tak ada yang berbeda; udara yang dihirupnya tetap berupa oksigen, tapi tidak bagi Hyukjae. Lelaki itu bahagia bisa menghirup udara yang sama dengan Jiyoo.

“Lalu sekarang aku harus ke mana?” gumamnya.

Hyukjae mengeluarkan lembaran kertas lusuh dari saku celananya. Alisnya mengernyit. Masalah lain muncul sekarang. Bagaimana ia bisa sampai ke rumah Jiyoo dengan kemampuan berkomunikasi, dalam hal ini dengan penduduk Tokyo, yang menyedihkan seperti ini?

Lelaki itu menarik napas panjang, seolah memaksa oksigen memenuhi seluruh tubuhnya dan memberinya solusi dari masalah baru yang baru saja didapatkannya.

Untuk pertama kalinya, Hyukjae menyesal selalu melewatkan kelas bahasa Jepangnya saat masih sekolah..

—-

Seoul – Lovabook Store

“Jangan bercanda denganku, Hyunyoung-ah,” Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Baru dua jam ia sampai di Seoul dan kabar perginya Hyukjae ke Tokyo nyaris membuat kakinya lemas.

Hyunyoung mengerutkan kening. “Aku tidak bercanda. Dia berangkat hari ini dengan penerbangan siang. Lagipula bagaimana bisa kalian berangkat dalam waktu yang sama tapi dengan tujuan yang berbeda? Seperti drama saja.”

“Lalu aku harus bagaimana sekarang? Laki-laki bodoh itu malah pergi ke Tokyo padahal aku kembali ke Seoul.. LEE HYUKJAE BODOOOOOH~” Jiyoo berteriak sebentar lalu menundukkan kepalanya, putus asa.

“Hubungi saja dia,” sahut Hyori. Sejak tadi ia hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan Jiyoo dan Hyunyoung. “Bilang padanya untuk kembali kesini atau kau yang akan menyusulnya ke Tokyo, yang penting kalian bisa bertemu secepatnya.”

Hyunyoung menatap gadis yang baru saja berbicara itu, “Siapa dia?”

“Ah, aku Shin Hyori,” Hyori menjawab sambil mengusap-usapkan telapaknya ke celana jinsnya, berniat bersalaman.

Jiyoo menambahkan, “Calon istri Siwon Oppa.”

“Calon istri?” ulang Hyunyoung. Ia mengangguk-angguk paham lalu menyambut uluran tangan Hyori. “Kenapa bisa ada disini? Membantu Jiyoo?”

Hyori tersenyum kikuk kemudian menggeleng, membuat Jiyoo tertarik. “Karena Siwon Oppa yang memintaku untuk mengantar Jiyoo kembali kesini. Aku.. ke Tokyo karena Siwon Oppa, jadi kupikir aku harus membuat Jiyoo melakukan hal yang sama untuk laki-laki yang dia bilang bodoh itu.”

“Jadi bukan membantuku? Siwon Oppa yang minta kau mengantarku? Kenapa bukan dia sendiri yang mengirimku kembali kesini?” Jiyoo tak bisa menghindari nada sinis dalam ucapannya.

“Kalau wajahmu selalu tampak kesal padanya, apa bisa dia bicara baik-baik denganmu, Jiyoo-ssi?” balas Hyori, setengah menahan tawa. “Kalau nanti kau bertemu dengan Siwon Oppa, jangan lupa bilang terima kasih.”

Jiyoo menelan ludah sambil berdeham pelan. “Kita bicarakan saja itu nanti. Sekarang bagaimana denganku? Lee Hyukjae bodoh itu malah ke Tokyo padahal aku sudah sampai disini.”

“Kita bisa kembali lagi ke Tokyo dan menemui Lee Hyukjae,” Hyori menyahut mantap. “Dan untuk menahan Lee Hyukjae agar tetap disana, ada satu orang yang bisa kita percaya,” tambahnya.

Jiyoo nyaris mendengus saat bisa membaca jawaban Hyori melalui wajahnya sementara Hyunyoung masih penasaran, “Siapa?”

Sambil merogoh ponsel layar sentuh miliknya, Hyori tersenyum, “Choi Siwon..”

—-

Tokyo – A Café at somewhere

“Aku mengerti,” Choi Siwon masih berkonsentrasi pada lawan bicaranya di telepon. Indera pendengarannya tetap sibuk sementara tangannya mengaduk-aduk teh hijau dalam cangkir keramik kecil. Ia mendongakkan pandangannya sesaat, “Ya, dia sudah ada disini, bersamaku.”

Seseorang yang sadar sedang dibicarakan itu langsung berseru, “Apa itu Jiyoo?”

Siwon mengibas-ibaskan tangan, “Nanti aku hubungi lagi, Hyori-ya.” Lelaki itu memutuskan sambungan dari Seoul dan menjejalkan ponselnya kembali ke saku di balik mantel. “Mereka akan menjemputmu kesini, dan itu artinya kau tidak akan kemana-mana sampai Jiyoo dan Hyori kembali ke Tokyo.”

Lee Hyukjae, yang tadinya tampak bersemangat, memasang ekspresi masam. “Aku bisa saja kembali ke Seoul dan menemui Jiyoo.”

“Kalau kau lupa, biar kuingatkan, Lee Hyukjae-ssi,” Siwon mencondongkan tubuhnya ke depan hingga menempel pada meja. “Kau hampir dibawa ke kantor keamanan bandara karena tertangkap basah sedang menguntit seorang wanita, semua orang disini menganggapmu seorang pencuri sekaligus penguntit. Lalu kau mau kembali kemana? Kembali ke Seoul? Jumlah uang Yen-mu itu bahkan tidak cukup untuk membayar uang kompensasi keamanan.”

“Aku hanya minta bantuan pada wanita itu untuk mengantarku ke rumah Jiyoo, mana kutahu kalau dia tidak bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Merasa kalah telak, Hyukjae hanya berdeham, “Tidak perlu mengungkit semua itu secara rinci, kan? Kenapa, kau mau menceritakan itu pada Jiyoo?”

“Memangnya kau pikir begitu?” ucap Siwon. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, “Memangnya kau pikir Jiyoo akan langsung membencimu kalau aku menceritakan kejadian seperti itu?”

Hyukjae mengerutkan kening, “Memangnya tidak?”

“Seandainya semudah itu,” Siwon menatap tajam ke arah Hyukjae, “aku sudah bisa membuat Jiyoo melupakanmu seumur hidup.”

Seolah tak melihat tatapan tajam Siwon, Hyukjae tersenyum puas, “Kau mau bilang kalau Jiyoo sama sekali tidak bisa membenciku, apalagi melupakanku, kan? Sudah kuduga.” Hyukjae mengangguk-angguk penuh kemenangan, “Jadi kuharap kau jangan melakukan apa-apa lagi padanya, dia bukan anak kecil dan kau tidak perlu selamanya jadi kakak sekaligus anjing penjaga untuknya.”

“Bagaimana kalau kubilang aku memang tidak mau jadi kakaknya?” tambah Siwon.

Hyukjae tertegun sesaat. Ucapan Siwon ini mengarah tepat ke jantungnya dan sukses membuat Hyukjae gagal jantung selama tiga detik. Selama ini pikiran seperti itu hanya bercokol di kepalanya, sama sekali tak pernah ia bayangkan akan terjadi. Choi Siwon ini menyukai Choi Jiyoo-nya; pikiran keramat yang tak berani dibayangkan Hyukjae.

“Tapi,” Siwon tersenyum lemah, “dia lebih suka aku tetap jadi kakaknya.”

Sambil berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, Hyukjae bertanya, “Apa itu bisa jadi pertanda bagus untukku?”

“Mungkin tidak,” helaan napas berat terdengar dari bibir Siwon, “mungkin tidak salah.”

—-

Shin Hyori menyeret koper besarnya menyusuri lantai bandara. Kacamata hitamnya masih terpasang, menutupi kedua matanya yang lelah. Perjalanan pulang-pergi Tokyo-Seoul adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya, dan itupun akan dilakukannya jika ia memang sudah terlalu gila karena tak bisa mendapatkan Choi Siwon.

Gadis itu melirik gadis yang berjalan di sampingnya. Choi Jiyoo tampak tergesa-gesa, sama sekali tak terlihat lelah walaupun sepasang manik gelapnya nyaris membentuk garis lurus. Langkah demi langkah yang diambilnya pun jauh berbeda dengan Hyori.

Choi Jiyoo berjalan cepat –nyaris berlari.

Hyori menghela napas panjang, “Jiyoo-ssi, pelan-pelan. Lee Hyukjae itu tidak akan kemana-mana lagi.”

Jiyoo berhenti dan membalikkan badannya. Ia tersenyum kaku, “Benar, dia tidak akan kemana-mana. Aku akan berjalan dengan santai..”

Kedua gadis itu kembali berjalan dengan langkah yang sama. Hyori melirik Jiyoo dengan ekor matanya dan kembali menghela napas, “Santai, tapi bukan berarti wajahmu harus tegang begitu, kan?”

Jiyoo menoleh ke samping lalu meraba wajahnya sendiri. Satu helaan panjang meluncur dari Jiyoo. Ia memejamkan mata, menggigit bibir, dan mendesah berkali-kali untuk menghilangkan ketegangan yang ada dalam pikirannya.

“Hei,” Jiyoo menyerah. Sepertinya hal yang dapat meredakan perasaan seperti hanya dengan mengobrol. Ia tak ingat kapan ia pernah benar-benar bicara berdua dengan Hyori secara pribadi. “Kau menyukai Siwon, kan?”

Hyori mengangguk satu kali lalu melepaskan kacamata hitamnya. “Kenapa?”

“Aku tidak pernah mendengar soal itu. Aku tidak pernah tahu nama Shin Hyori dalam daftar nama putri teman ayah,” gumam Jiyoo.

“Dia itu senior di kampusku. Aku hanya mahasiswi yang ikut pertukaran pelajar, jadi hanya 3 bulan sampai aku harus kembali ke Seoul,” kenang Hyori sambil tersenyum kecil. “Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja dan meninggalkan perasaan ini di Tokyo. Aku sempat mengiriminya e-mail, aku bilang aku akan menunggu di tempat yang sama dengannya. Dan disinilah aku, aku meninggalkan Seoul dan kembali ke Tokyo untuknya.”

Jiyoo mengerjapkan matanya berkali-kali kemudian berkomentar singkat, “Konyol.”

“Benar, konyol sekali,” Hyori sependapat, “dan sepertinya kita berdua menyukai cara konyol seperti ini.”

—-

Choi Jiyoo mendorong pintu kaca yang berhiaskan tulisan warna-warni di sisi depannya. Matanya langsung menyapu sekeliling, berusaha mencari seseorang yang dikenalnya. Gadis itu menggigit bibir saat tak juga menemukan seseorang yang dicarinya.

Ia berusaha menyusun kembali semua kenangan tentang Lee Hyukjae. Ia merangkai kembali wajah lelaki itu. Jiyoo mengumpulkan kepingan-kepingan ingatannya tentang lelaki itu sampai akhirnya ia berhasil mengingat wajah Lee Hyukjae –dan senyuman konyolnya.

Jiyoo berhasil menemukan Lee Hyukjae dalam pikirannya. Ia bahkan sadar ia sangat merindukan lelaki itu, bukan sekedar dalam pikiran, ia ingin lelaki itu ada di hadapannya. Jelas dan nyata.

“Kau mencariku?” Jiyoo memusatkan pandangannya ke depan dan menemukan lelaki itu menyapanya.

Dengan langkah perlahan, Jiyoo mendekati lelaki itu. Selangkah demi selangkah sebelum akhirnya ia berdiri tepat di depan lelaki dalam ingatannya. “Lee.. Hyukjae?”

“Bukan, aku Wonbin,” ucap Hyukjae asal. “Tentu saja ini Lee Hyukjae, memangnya kau pikir siapa?”

“Sayang sekali, kupikir aku bisa bertemu Wonbin di Tokyo,” sahut Jiyoo setengah bergurau. Melihat Hyukjae yang cemberut, gadis itu tertawa. Jiyoo mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah lelaki itu. “Tapi aku lebih ingin bertemu dengan seorang Lee Hyukjae dibandingkan dengan seribu Wonbin.”

Hyukjae tertawa nyaring, “Terima kasih, tapi boleh aku tahu dari mana kau belajar kalimat seperti itu?”

“Kenapa? Tidak suka?” tanya Jiyoo.

“Tidak, aku suka,” Hyukjae menggenggam tangan Jiyoo yang bebas. “Untuk pertama kalinya, aku merasa Wonbin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Lee Hyukjae.”

—-

Choi Siwon menyadari kedatangan Jiyoo melalui pintu masuk. Lelaki itu langsung menatapnya tapi Jiyoo sama sekali tidak melihatnya. Ia bisa melihat Jiyoo tampak bingung mencari sesuatu –atau seseorang dalam hal ini, dan Siwon tahu pasti bukan ia yang sedang dicari Jiyoo.

Lelaki itu melirik Lee Hyukjae yang menyesap teh hijaunya. “Jiyoo datang..”

Hyukjae langsung mendongak dan berhasil menemukan gadis yang masih tampak kebingungan itu dengan cepat. “Kau mencariku?”
Siwon menarik napas panjang. Raut wajah Jiyoo berubah drastis walaupun gadis itu masih tidak bisa melihat Siwon di dekatnya. Siwon suka memastikan, tapi ia tak suka jika harus memastikan hal yang satu ini.

Jiyoo memang bukan mencarinya.

“Oppa,” Siwon mengalihkan pandangannya dari Jiyoo. Lelaki itu menemukan seorang gadis berperawakan mungil sudah duduk di tempat Hyukjae tadi. “Ayo pulang..”

Siwon tersenyum samar. “Sudah harus pulang ya?”

“Oppa masih mau disini?” tanya Hyori, bingung.

“Kalau bisa.” Siwon mendorong kursinya ke belakang lalu meraih tangan kecil Hyori. “Ayo pulang..”

—-

At somewhere

Matahari bersinar terik dengan semilir angin musim panas yang mengiringinya. Beberapa orang berjalan lalu-lalang sambil memakai topi dan pakaian tanpa lengan. Taman dengan jalan utama yang tak cukup lebar ini mendadak dipenuhi oleh anak-anak sekolah yang sedang liburan musim panas.

Lee Hyukjae tidak sedang mengamati musim panas di Tokyo. Ia bahkan tidak punya waktu untuk penasaran kenapa musim panas menjadi musim favorit orang-orang Jepang. Pikirannya terlalu fokus pada hal lain, pada seseorang yang berjalan mendekatinya.

“Hh~ panas sekali, kan?” Jiyoo langsung merebahkan tubuh di samping Hyukjae lantas menyodorkan sekaleng jus dingin; jus strawberry dalam kaleng. “Tidak ada susu strawberry kalau itu yang mau kau tanyakan.”

Hyukjae menyambut kaleng jus bagiannya. “Bagaimana rasanya?”

“Eh?” Jiyoo, yang baru saja akan membuka kaleng minumannya, menoleh ke samping. “Apanya? Jus ini?”

Dengan satu gerakan cepat, Hyukjae menurunkan kembali kaleng yang baru dibukanya. Lelaki itu mengambil kaleng milik Jiyoo, membuka penutupnya lalu menyerahkannya kembali pada pemiliknya. “Memiliki orang yang menunggumu, bagaimana rasanya?”

“Tidak tahu,” Jiyoo buru-buru meneguk jus kalengnya, merasakan asam dan manis bersamaan membasahi rongga mulutnya sesaat.

“Aku menunggumu, kau tahu?” sambil menenggak minumannya satu kali, Hyukjae membuang pandangannya ke jalan setapak taman. Ia berharap jawaban yang menyenangkan, sebenarnya. Ia ingin mendengar sesuatu yang selalu ingin didengarnya. Dari Choi Jiyoo.

“Aku.. juga,” Jiyoo menundukkan kepala, memandangi permukaan atas kaleng jus yang digenggamnya erat-erat. “Jadi.. aku tidak tahu bagaimana rasanya ditunggu orang lain, aku harus mendengarnya darimu lebih dulu.”

Hyukjae melirik Jiyoo sekilas sebelum memalingkan pandangannya ke sembarang tempat. Lelaki itu berdeham, “Rasanya.. menyenangkan. Walaupun aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi, tapi saat mendengar pesanmu itu.. kurasa aku bisa menunggu seumur hidup.”

“Lalu kenapa kau malah kesini?” Jiyoo setengah mendengus, setengah menahan tawa.

“Kalau aku bilang alasannya, jangan pernah tertawa!” ujar Hyukjae tegas. Jiyoo mengangguk tanpa suara, menunggu lelaki itu menjawab. “Aku kesini karena.. kupikir kau harus tahu kalau aku bisa –dan akan- menunggumu seumur hidup. Kupikir kalau aku tidak mengatakan hal ini secara langsung, kau akan lupa kalau ada aku yang sedang menunggu. Jadi kuputuskan untuk terbang kesini, berniat menemuimu secara langsung dan bilang, ‘Yoo, aku akan menunggumu, jadi kembalilah kapan pun kau mau’, begitu.”

Jiyoo tak bisa berkedip saat memandang lelaki di sampingnya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana rupanya saat ini. “Kau kesini bukan untuk menjemputku?”

“Bukan.” Hyukjae menyahut santai. “Kalau aku menjemputmu paksa, orang tuamu akan menilaiku sebagai calon menantu yang tidak sabaran.”

“Bodoh..” Jiyoo berkomentar singkat. Gadis itu sudah mati-matian menahan tawa. Ia sempat bingung kenapa ia bisa merindukan lelaki ini. Tapi sekarang ia tahu alasannya.

Karena lelaki ini adalah Lee Hyukjae. Karena kalau bukan Lee Hyukjae, Jiyoo tidak akan mau.

“Jaaa~ sekarang ada yang mau kutanyakan,” Hyukjae berdeham sambil meletakkan kaleng jus di sampingnya sementara ia membalikkan badan ke arah Jiyoo. “Apa kau akan tetap menikah denganku?”

Jiyoo nyaris menyemburkan cairan merah yang baru saja diteguknya. “Memangnya hal itu masih berlaku? Ibumu tetap mempermasalahkan pernikahanmu?”

“Bukan ibuku, gadis bodoh~” sahut Hyukjae. “Kalau bukan karena ibuku, apa kau tidak mau menikah denganku?”

Jiyoo tertegun. Tiba-tiba saja dunia di sekitarnya berhenti berputar. Anak-anak kecil berhenti berlarian dan awan di langit berhenti berarak. Detak jantungnya kini menjadi satu-satunya benda yang dapat berjalan dan bekerja –walaupun benda itu bisa dibilang nyaris meledak saat ini.

“Choi Jiyoo-ssi, kau dengar aku?” Hyukjae memiringkan kepala, memeriksa apa gadis itu masih ada bersamanya disini.

Jiyoo mengerjapkan matanya sebelum kembali meneguk jus asam dalam kaleng. “Apa itu sebuah lamaran?”

“Kalau iya, apa jawabanmu?” tanya Hyukjae lagi.

“Aku tidak tahu..” Jiyoo menggigit bibir lalu memandang Hyukjae dengan tatapan bersalah. “Aku menyukaimu. Demi apapun di dunia ini, aku berani bilang kalau aku menyukaimu, tapi.. apa ibumu tidak akan curiga lagi?”

Hyukjae memutar bola matanya. Tanpa memberi jawaban yang diperlukan Jiyoo, lelaki itu menatap kedua manik besar Jiyoo.

Hyukjae mengulurkan tangannya, mengusap pipi kiri gadis itu dengan lembut. “Choi Jiyoo-ssi, yang ingin menikahimu itu aku, Lee Hyukjae, bukan ibuku. Sepertinya kau tidak mau menikah denganku, iya, kan?”

Jiyoo tahu sentuhan ini bukan sesuatu yang tak memiliki garansi. Ia tahu Lee Hyukjae memiliki garansi seumur hidup untuk setiap hal yang pernah diucapkannya. Ia tahu lelaki itu tidak main-main.

Dan untuk pertama kalinya, ia tahu ia sudah jatuh terlalu dalam pada Lee Hyukjae..

Jiyoo tahu ia tak bisa memanjat naik dan meninggalkan lubang itu. Ia tahu ia tak bisa minta bantuan orang lain untuk mengeluarkannya dari Lee Hyukjae. Ia tahu akan sia-sia saja jika ia tetap ingin keluar dari sana.

Dan kali ini, ia tahu ia tak pernah punya pilihan selain hidup di dalam jurang bernama Lee Hyukjae..

“Aku akan menikah denganmu,” jawab Jiyoo setelah mengatur kerja jantungnya sendiri.

Hyukjae mengerutkan kening, heran. “Kalau bukan karena ibuku, apa kau akan tetap mengatakan ini?”

“Bodoh..” Jiyoo memejamkan mata dan menghela napas panjang. Salah satu tangannya meraih tangan Hyukjae. “Justru aku bisa mengatakan hal itu karena.. kau adalah Lee Hyukjae.”

Hyukjae mendekatkan wajahnya ke arah Jiyoo. Kedua telapak besarnya memenjara wajah gadis itu. Secara perlahan, kesejukan merambat melalui sentuhan bibir keduanya. Hyukjae bisa merasakan aroma strawberry dari bibir Jiyoo. Ia tersenyum kecil.

Kedua mata Jiyoo terpejam rapat. Ia tak berani mengintip apalagi menghentikan sentuhan menyejukkan yang baru saja diterima bibirnya. Selama Hyukjae menciumnya, Jiyoo hanya membeku sambil mengepalkan telapaknya kuat-kuat. Ia berdebar-debar.

Jiyoo baru bisa melepaskan helaan napas panjang saat Hyukjae melepaskan sentuhannya. “Kau tahu kalau ciuman seperti ini adalah ciuman yang selalu kutunggu?” tanya Hyukjae.

“Ng.. tidak. Kenapa?” Jiyoo tak bisa dan tak berani menatap Hyukjae, setidaknya selama lima menit selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya lagi.

“Karena ada rasa strawberry di bibirmu,” Hyukjae menunjuk kaleng jus strawberry yang ada di samping Jiyoo. “Strawberry Kiss..”

Jiyoo berdeham lantas memegangi tengkuknya sendiri. “Ah.. ya, tadi juga ada rasa strawberry di bibirmu.”

“Yoo,” panggil Hyukjae. Jiyoo menoleh sambil menaikkan alis. “Coba bilang lagi sesuatu yang kau ucapkan sebelum ini..”

“Yang mana?” tanya Jiyoo dengan alis masih terangkat. “Aaah~ yang itu..”

Hyukjae menyipitkan mata, memerintahkan Jiyoo untuk mengatakan sesuatu yang ingin didengarnya tadi. “Ucapkan lagii~”

“Cerewet..” keluh Jiyoo. Ia menarik napas lalu berkata, “Kalau kaukira aku akan menikah denganmu karena ibumu, kau salah. Aku.. bersedia menikah denganmu karena itu kau, Lee Hyukjae.”

“Benar, aku Lee Hyukjae yang lebih baik dari seribu Wonbin,” sahut Hyukjae bangga.

Sambil memutar bola matanya, Jiyoo mencibir, “Seribu, dua ribu, puluhan ribu, atau jutaan Wonbin sekali pun, kau tetap lebih baik darinya,” Hyukjae mengulaskan senyuman lebar. “karena idolaku sekarang adalah Jung Ilwoo Oppa..”

“YAAAA~” Hyukjae merengut kesal. “Kau harus tetap menikah denganku walaupun Jung Ilwoo itu idolamu! Kau dengar?!”

—-

Seoul – 3 months later
Lovabook Store

Oppa~~~ ada undangan!” Park Hyunyoung berseru nyaring sambil berlari ke arah kantor Kibum. Gadis itu masih terengah-engah dan langsung meletakkan selembar undangan dengan kesan antik itu ke atas meja Kibum. “Lihat inii~”

Kibum menghentikan tarian jarinya di atas layar iPad kemudian mendongak menatap gadisnya. “Undangan dari mana?”

“Tokyo! Mereka akan menikah dua minggu lagi!” sahut Hyunyoung.

Sambil membaca tulisan yang tercetak di atas undangan dengan dominasi warna putih dan hitam itu, Kibum tersenyum, “Kita diundang ke Tokyo.”

“Jalan-jalan!” lagi-lagi Hyunyoung berseru nyaring. Saat pintu ruang kerja Kibum dibuka dari luar, gadis itu mendadak sinis. “Padahal berbulan-bulan lalu ada yang berkicau akan segera menikah, tapi sampai hari ini justru undangan Siwon Oppa yang tiba lebih dulu.”

Merasa tersindir, Hyukjae hanya berdeham dengan nada tinggi. “Bukankah sudah kubilang kalau kami memang menunggu Siwon menikah lebih dulu? Setelah dia menikah, baru bisa kupastikan kalau dia tidak akan macam-macam pada Yoo!”

Jiyoo, yang berdiri berdampingan dengan Hyukjae, melipat tangan sambil menyandarkan tubuh ke dinding Lovabook Store.

Hyunyoung mencela, “Ya! Kau pikir aku tidak tahu kenapa kalian masih belum bisa menikah?”

Hyukjae membelalakkan mata lalu melirik Jiyoo, gadisnya. “Yoo, jangan bilang kalau kau cerita pada makhluk ini..”

Sambil menghela napas panjang, Jiyoo mengangkat bahu. “Memang cerita, tapi hanya sedikit, tidak detail.”

“Ibumu masih belum setuju, masih marah karena sandiwara picisanmu tiga bulan lalu. Kau diusir dari rumah dan terpaksa tinggal di Lovabook, jadi otomatis kau tidak bisa melamar Jiyoo karena tidak punya tempat tinggal yang layak. Apa ada yang salah?” tantang Hyunyoung.

Hyukjae merengut dan kembali melirik gadisnya. “Itu yang kau sebut ‘sedikit dan tidak detail’, Yoo?”

========THE END========

YIPPY~~~ FINALLY IT’S THE ENDING!

Omaigaaaahh.. kalo diliat-liat lagi, Lovabook ini pendek, tapi waktu nulisnya lama banget, uda kaya bikin sinetron 200an episode.
-__-a

Dan author minta maaf buat temen-temen yang uda nungguin cerita ini *bow* Minta maaf juga buat yang tadinya sabar nungguin ini sampe yang jadi bosen nungguin Lovabook Story *BOW*

Jadi intinya, JiHyuk gak jadi nikah disinih.. :3 Saya masih pingin kuliah, belom mau nikah dulu *slapped*

Gak ding, emang persiapan buat ngadain pesta kawinan JiHyuk tuh kurang.😄 Kalo pingin liat kami nikah, gimana kalo pada baca 2060-nya Kakak Yuli alias Han Hyena? :3

The last one is: THANK YOU SO MUCH~~~ :*

PS: Lovabook Story last chapter ini bakal punya BTS, jadi boleh ditunggu lagi kalo mau. Kalo gak mau, ya tetep harus nungguin.. *diinjek-dibakar-diemut (?)*

PS PS: Kenapa chapter ini panjang? Karna ternyata ide buat ending ini bermunculan bagai popcorn yang baru mateng. xD Jadi, maaf lagi kalo misalnya kepanjangan. Reader saya pasti tahu terakhir saya bikin chapter panjang kaya gini itu pas The Chastain, dan hasilnya pada capek baca. ^-^;

PS PS PS: Chapter panjang ini juga buat bayar utang selama penundaan Lovabook Story~ *BOW*

145 thoughts on “Lovabook Story #14 [END]

  1. panjang ga masalah ga ngebosenin qo tenang aja…
    ahhh hyukjae emang bodoh kelewat oon hahahaha
    modal nekat doang ke tokyo, ck dasar lg di mabuk cinta..
    tp kalo ga gtu bukan hyukjae namanya,,,,
    tak kira yg undangan itu punya jiyoo-hyuk,
    tp gpp lah udah baca nikahannya hyuk-jiyoo di 2060 qo ^^…
    di tunggu FF selanjutnya ^^

  2. Finally onnie, huaa pas onnie nge-tweet lovabook 14 aku langsung buka yeaa hehehe. Huaaa chukkae onnie udah nikah di 2060 semoga langgeg dan cepet punya anak looh hahaha.
    Onnie!! Aku kira pas ada undangan dateng yg nikah itu Jihyuk ternyata siwon -___-
    Gapapa deeh pacaran dulu lebih baik haaha. Aduuh kata-katanya onnie yg “Tapi aku lebih ingin bertemu dengan seorang Lee Hyukjae dibandingkan dengan seribu Wonbin.” EMEEY sekali huuu jd ngiri. Untung siwon baik hati, awas aja kalo dia jahat aku kurung di kamarku #hahahaha. Ffnya daebak!! Gak sabar nunggu bts-nya. Huaaaa onnie, kenapa lee hyukjae semakin tampan?? *donghae juga sih*

    • Hehehe~ ketipu ama bagian undangannya yah? xD senangnya bisa menipu.. *plakk
      ini lagi dibikin BTSnyah, dateline-nya sih onnie targetin seminggu, jadi mudah2an aja gak ngelewatin dateline yahh~ ><
      tadi onnie lagi liat MAMA dan OMG~ dia emang tambah kinclong.. ;A;
      dan onnie kangen banget sama diaaaaaa!! TT^TT
      kalo si ikaaaann.. hmm~ yah, gitu deh, takut tergoda ama ikan nih.. xD
      makasihh syuda baca yaaa.. ;D

  3. Ah, akhr yg membahagiakan untk smua. Mski gagal nkah tp yah, stdk.a JiHyuk b1, won2 akhr.a nkah. Pnjang? Kyk.a msh krg pnjang #plakk, keren bgt ni crta.a Shel

  4. akhirnya .. happy end !!
    hiks hiks nangis bacanya , so sweet abis .
    lee hyuk jae yg konyol , jiyoo yg dingin .
    akhirnya mereka bersatu ..
    dari seribu kata yg mau diucapin , cuma mau bilang:
    TERIMAKASIH !!

  5. kyakyaaaaaaaa~ kak shelaaaaaaa peluk dan cium mesra untukmu :*:* {} akhirnya ending~ padahal tadi malem udah ngecek dan belom publish dan baru sekarang publishnya-_- aaaa gara2 lovabook hyukjae jadi bias ke 2 menyingkirkan kyuhyun wk._. Kak itu nanggung kenapa ga nikah aja……etapi cie banget di 2060 udah nikah eciecie. Padahal sempet komen di 2060 kangen jihyuk banget eh akhirnya publish u,u oiya cie banget jiyoo nanti jadi orang kaya di 2060. Ecie dah. Ayo kak buat ff baru lagi *slapped* fighting buat kuliahnya~ {}

  6. ditunggu BTS na ^^
    hati jadi adem abis baca hahahahhaahaa
    gumawo Shela ya… cerita2 shela itu bacaan favoriteku..
    soooo…..rajin2 nulis crt Jihyuk ya..

  7. HOOOAAAAAAA!!! EONNI!! SARANGHAE!! -cipok eonni-
    gileeeee.. diriku treak” geje waktu buka blog eonni hari ini,pdhl kmrn blm ada XDD
    tuh kan,gak jadi dapet undangan -. .-
    tapi keren yah,bs selisipan di jalan,a bedanya ini di udara .__.
    co cwit lah puokoke,jadi pengin strawberry kiss /plaaakkk
    aku dah baca 2060 eon..tapi kayaknya situasi jihyuk di sini ma 2060 tuh jauuuuuhhh banget .___.
    di 2060 mah hyuk triliuner,nikah di bermuda pake yatch,,
    lhaa di sini mah hyuk malah diusir dari rumaahh.. -dungteeeet-

    okelah,pokoknya perfect deh!!! daebak!! jjang!! taewanmi! /lho??
    kutunggu btsnya ya eon~ -cipok eon lagi-

    • Bwahahaha~ iyah, selisipan di udara, biar elit dikit. xD
      dan iyah, hyukjae di 2060 itu PERFECT bangeeeeett~
      di Lovabook mah amit2.. xDD

      Nado saranghae~~~ Makasihh banyaaaaks yaaa.. ;D

  8. wkwkkwkwkw,,,ngakak aq gra2 si hyuk dikira penguntit di bandara…..
    hmm,tp hebat juga tuh hyuk bisa nanya pake b.ing..
    ommoo,,aq juga mw strwbry kiss dunk ma hyukppa chingu..boleh ga ya??
    wkwkkwkw…fighting chingu,,ditunggu bts n kyutorianya…

  9. ini kurang panjang sayanggg, #plakk
    mau lagii ih,, *emut siwon #eh?

    –Bagaimana dengan Lee
    Hyukjae? Apa yang harus
    kulakukan padanya? Aku
    tidak bisa
    meninggalkannya.. tidak
    bisa, tidak mau!”– terharu aku baca kalimat ini,pengen nangis jadinya..😦 kau dapat kalimat ini darimana? Ahahaha,,aku mau cari sumbernya,buat dipraktekin sama heechul, #jder

    bagian paroritku yg pas lg di taman,,so sweet bgt itu jihyuk kisseu kisseuan,,pemandangan langka buat jihyuk,😀

    untung itu si siwon kagak ngotot walopun badannya penuh otot (?).. I love happy ending🙂

    BTS nya kutunggu yaa, *hug*

    • Yaolooohh, kurang panjang onn?
      ini uda pending laaaama dan uda paaaanjang banget loh~ xD

      ciyeeehh.. so suit banget yah kalimatnyah, aku sendiri bingung dari mana dapetnya..
      kayanya dapet dari kantung ajaibnya doremon.. xD
      Nyehehehe~ jihyuk jarang kiss2an yah? >3<

      selamat menunggu BTS~ Makasihh syuda bacaaa~ *hug* ;D

  10. akhirnya final chapnya muncul juga…
    agak lama nunggunya sih…tapi ngga apa2 karna sebanding ma critanya..
    Jihyuk couple keren… Hyukjae keren dgn smua tindakan badohnya…Ji-Yoo keren waktu dia dingin ke Siwon…tp aku kurang puas liat Siwon…dia kurang menderita…hohoho…
    kalau mau dihubungin ke 2060, gimana ya?? feelnya ngga dapat…di 2060 Hyukjae itu luar biasa kayanya…trus di sini, dia jadi gelandangan ngga punya rumah gara2 diusir…hehehehe:) tapi ngga apa2lah cukup buat menghilangkan rasa penasaran….
    BTSnya ditunggu… Fighting bwt kuliahnya:)

    • hehe.. maaf yah kelamaan nunggunyah. *bow*
      kalo bikin siwon menderita, nanti aku yang gak tega..😄
      dan kalo mau dihubung2in ama 2060 sih emang beda jauh, aku kan cuma bilang silakan baca 2060 kalo mau liat jihyuk nikah.. :]
      FIGHTIIING~ en makasihh syuda bacaa~ ^-^

  11. bolehkah saya mengeluh???

    Yahhhh lovabooknya tamat..
    Kenapa secepat ini.. Hikssss…

    Eh disini jiyoo gombal juga ya ternyata, pasti ketularan hyukjae dah.. Hehehehe..

    Suuukkaa meskipun panjang gak ngebosenin..
    Akhirnua siwon ngalah juga * fuihh lega.. Jadinya kan ada jihyuk..
    Heheheehe

    itu ada hyori muncul.. Meskipun cuma ada beberapa adegan, lumayan kan dapat bayaran dari jiyoo.. Hahahahaha

    huaaa akhirnya mengucapkan selamat tinggal juga pada lovabook.. Huaaahhh

    • yahh~ jangan ngeluh dooong.. Ini lovabook uda ketunda laaaaama banget, dan aku gak enak sendiri ama yang tiap hari nungguin inih.. ><
      dan ini gak cepet loh, ini kayanya uda laaaama banget, bener-bener berasa bikin sinetron.😄
      nyehehehe~ Jiyoo latian gombal dari hae sebenernyah. XDD

      silakan tunggu BTS ini kalo mau tau kisah di balik perekrutan hyori..😄
      Makasihh syuda baca Lovabook dari awal yahh~ aku terharuuuuuu.. ;A; *deep bow*

  12. *hmph*
    *hmmmmph*
    HUAHAHAHAHAHAHAHAHA~
    LEE HYUKJAE, DAEBAK *jambak* xD
    sumpah 2060 sama lovabook, aura hyukjae kok beda-tipis ya ? :p
    dan kata-kata andalan………….. “kalau bukan……. aku tidak akan mau…”
    ARGHHH~ *gigit siwon*
    choi siwon, saranghe! :*

    saya sarankan jgn terlalu bersemangat dengan BTS, sy khawatir akan keselamatan sang author xD
    *hug yoo*

    • APA ITU KENAPA KETAWA-KETAWAAAA?? -__-a
      dan itu kata2 andalan memang selalu bikin pingin gigit oraaang~~~ *gigit poo*
      MOM, PUHLEASEEE JANGAN NAMBAHIN MASALAH ANTARA YOO AMA BEBEKYU.. ;A;
      bentar lagi abis nih yoo ditelen idup2 ama diaaaa.. T^T
      selamat tinggal Poo~ jaga dirimu sayang.. ;_______;

      • umm~ kan Yoo udah mom sogok pake sekotak stroberi tadi…
        jadi itu udah cukup untuk menyelamatkan nama baik mom di mata Kyu (?)
        ini tdi abis masukin whatif di draft cuma blm sanggup selesein =_= ngantuks beraaat

      • sekotak stroberi belom cukup mom~ butuh dua puluh kotak stroberi plus mas-mas yang jual (baca: Poo) buat nyogok yoo supaya nasib mom gak terancam di hadapan kyu..
        AYO WHAT IF~~~~!!! ^0^

  13. masih kurang panjaaang…. #plakk
    huaaa…aku nangis loh…nyesek bgt pas siwon maksa jiyoo pulang…TT
    ditunggu BTS nya,after story buat KiYoung juga #plakkplakks

  14. Puas bca chapter akhirnya.. meskipun agak nggak rela Hyukjae ma Jiyoo g’ nikah benerann…

    Tapi saya msih bingung.. tuh om kuda cinta nggak sih sma Hyori?? Ksian Hyori.a klolo dijadiin istri tpi nggak dicintai.. *bahasa saya –‘

    Over all,, saya SUUUUUUUUUKKKKKKKKKKAAAAAAAAAAAAAAA

    • kenapa pada gak rela kalo jihyuk kalo gak nikah sih?
      kami masih di bawah umur (?) xD
      kalo hyori ama siwon gak bisa diterusin kisahnya, nanti author bisa dibunuh Kyuuu~~~ ;A;

      Maacihh syuda bacaaa~~~ ^-^

  15. wakakakakaka~
    ketawa ngakak bc’y, lee hyukjae narsis’y gak ketulungan. mana bw2 nama wonbin lg..😄

    jiyoo jujur amat,,
    smw kemalangan hyukjae d’ceritain ma hyunyoung yg bawel, d’bongkar tuh smw..😀

    pdhl onnie nunggu JiHyuk nikah,
    ternyata gak…
    tp puas kok ma adegan pernikahan JiHyuk d 2060. chukhae…^^

  16. gyaaaa >,< akhirnya publish jg
    endingnya aq sukaaaa \^,^/ love it
    siwon akhirnya sadar juga klo yoo cuma bisa sma hyuk, haha

  17. GREAT LOOO~NG CHAPT~!!!!
    Lee hyukjae~ saranghae *plak!
    dan apa itu seorang lee hyukjae lbh baik drpd seribu wonbin =___=
    mata yoo perlu diperiksa xDD

    BTS~ BTS~
    Ati2 loh yoo dibunuh kyu xD

  18. berasa gw yg jd jiyo0. sedih plus sakit hati. sumpah yg nama x CHOI SIW0N nyebelin bgt. pengen jitak tu org. pas jiyo0 dah mulai suka sm hyuk, eh . . . siw0n malah ngalangn. siw0n egois bgt deh, bru nyesel kan gak blang ska dr dlu sm jiyo0. skrng pas jiyo0 dah bs sk sm org lain eh malah d tahan.

    nah kan bener dugaan gw, mrk brselish jaln. tp untng x hyori pny otak yg lmyan encer, dya lngsung tlp siw0n.

    “untuk pertm kali x, aq mras w0nbin tu tdk ada apa2 x dg lee hyukjae” G0MB4L BGT. tp brhsl bkin gw senyum2 sendiri.

    hahahahaha . . . nah lho, pas ke2 x dah sdar sm perasaan msing2 ada z halangan x. kemaren2 siw0n, skrng ibu x hyuk. slmat brjuang y kawan. hahaha . . .

  19. dah agak meloow pas baca di awal2, tapi gitu ketemu ama tulisan ini –> “Untuk pertama kalinya, aku merasa Wonbin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Lee Hyukjae.” aku ngakak setengah miring(?) palagi langsung inget solonya dia SS4 kmrn wakakakaka…

    jiah, aku kita yoo en poo yg bakalan nikah kok malah siwon duluan, prasaan poo yg paling getol ama urusan nikah hahaha.

    ohia aku mau crita,
    pas MAMA kmren ada temen yg ke singapura, dia bukan fans suju apalagi fansnya eunhyuk tapi pas liat eunhyyuk dia langsung terkagum2 gitu, katanya di ga bisa berhenti ngeliatin eunhyuk saking cakepnya poo mu itu..
    dari awal acara ampe akhir dia curi pandang terus ama eunhyk wakakakak..
    ternyata pesona poomu itu sangat kuat yoo sayang ^^

    • Bwahahahaha~~~ uda bener-bener berkhayal tingkat tinggi soal Wonbin ituh, dan emang terinspirasi dari SS4..😄
      dan iyah, poo belom ada modal yang cukup buat ngajak yoo kawin kak~ ;A;
      makasyihh syuda bacaaa~ ^-^

      nyehehee.. karna emang pesona dia itu beda kak~
      yoo juga sempet mikir, kok bisa yoo suka ama makhluk ituh? -__-
      eh tapi tetep aja gak bisa dapet yang laenn~ Yoo menderitaaa.. ;A;

  20. huweeee selesai..
    ada kiss scenenya😄 kyaaaaa aku masih dibawah umur :3
    memuaskan banget endingnya
    aku suka scene yang bawa-bawa nama “Won Bin” hehehehe
    Ditunggu karya selanjutnya ;____;
    keep up the good work!
    I love u kaka author :*

  21. Udah ending iah???
    Ga kerasa banget udah ending…
    Kayaknya baru kemarin bikinnya deh..

    Nguntit orang di bandara??? Apalagi it?!!
    Bener” Hyuk ini sering bgt bikin gara” yg akhirnya malah bikin orang ngakak..
    Hyori sama Siwon??
    ga salah tuh??
    Kyu mau ditaruh mana??
    Padahal aku udah berhasil nemuin calon istri yg cocok buat Siwon lho😦
    Iah paling ga Siwon akan aman sama Calon istri yg aku cariin… tapi klo sama Hyo aku ga nanggung Siwon bakal hidup tentram dunia akhirat /dibunuh Hyo

    • iyah, pas dulu bikin kan aku masih di rumah, onn~ *nangis ngejer. ;A;*
      nyehehehe~ entah kenapa yoo gak bisa ngelepasin poo dari kekonyolan masal. xD

      calon istri buat won? siapa yah? Jiyoo? xD
      gak tau tuh, si hyo minta suasana baru, bosen kali ama si bebek.. ==a
      dan yoo pasti kena deh ama bebek gara-gara ngasih peran inih. TT^TT
      makasihh syuda baca onnie~ ^-^

  22. MBOOOOOOOOOOK!!!!
    Perkenalkan..
    Saya adalah Cho Sara adik sah-jadi2an-Cho Kyuhyun yg mengganti usernamenya..😄

    MBOOOOOOOOOOOKKK!!!
    Maaf telat ya!!!
    Salahin mbok donk..
    Siapa suruh mbok jarang post.. Jadi aku jarang buka deh.. *ditendang*

    MBOOOOOOOOOOOKK!!!
    Kok Siwon bikin kesel banget ya?? Pengen kali ku bwa pulang #loh?
    Lagii.. Lagi.. Kok g nikah?? Pdahal aku sudah nunggu2 utk nikah looo, undangan kan uda di tangan aku..
    Haiyaaa…
    Kok di cafe g kliatan si kunyuk??
    Rambut si kunyuk kan plg menyilaukan..

    Sampai sini dlo aaah.. Mau lanjut baca jihyuk yg laen.. Siheeey..

    • iya, mbok, gak usah perkenalin diri lagi kali. -__-a
      sumpe, dirimu kebanyakan manggil ‘Mbok’, mbok. :3
      gak usah manggil diri sendiri gitu dong.. :p

      makasihh syuda mampir lagi, mbok~ ^-^

  23. ending yg memuaskan,,
    meskipun ga nyampe nikah,,
    saya dah lhat prnikahan yoo n poo di 2060
    moga cpet punya anak ya,,

    yoo jdinya balik ke seoul ya,,
    pas ada undangan dri tokyo kirain
    poo ma yoo yg nikah
    ternyata bukan,,

    dtunggu BTS nya ya saeng,,,,

  24. alhamdulillah ya udah di publish *plak*
    hyaaaa!!~~~ suka sekali sama part ini >.<
    (sayangnya kok udah tamat)

    gak sia-sia nungguin ff yang ini dipublish, dan begitu dipublish beneran, omaigaaattt~~~ daebaakk ^^

  25. wah menurut aku ini mah malah kurang panjang *dicekek* hehe
    Tp bneran aku gk ngerasa bosen kok bcnya…

    Ya pdhal aku nungguin jihyuk nikah… Tp gpp lah… Kali aja da after story *slapped*

    Dan hyori yg jd istri siwon? Gk nyangka…hehe
    Ah suka dh…
    Gk krasa udah ending aja dah…
    Pkknya di tunggu ff2 terbarunya…

  26. yah aku telat bacanya padahal udah nunggu . huhu *nangis di pojokan*

    itu sinetron banget oen yang satu ke jepang satunya ke seoul. ih aku benci ma siwon ! nyebelin og kok bisa – bisanya bikin ji yoo jauh – jauh dari hyukjae kakakku hehe . kirain endingnya married tapi belum juga . ada afstornya dong brarti ? *kedipin mata* hehe

  27. Akhirnya eon!😀
    Lovabook sudh finish!
    Siwonie, kok disini kau jahat ya? /digampar Siwon
    Paling lucu pas Hyuk ke Jepang dan Yoo ke Korea~ seperti tertukar (?)
    Endingnya kok blon married? Pdhl mw lihat mereka married lho~ ;p
    Buat cerita pas marriednya dongg eon~ *aegyo*

  28. YOOOOO~~~
    maap baru komen…:/
    akhirnyaaaaa ending jugaaaa… tapi ga sampe nikah yaaa?
    akuuu… ehm… ya nangis, ya galau, ya senyuum2 baca ini. manis manis manis… tapi emang siwon agak keterlaluan sih awalnya sampe kayak gitu, aish, prince charming~

    itu bisa satunya brgkt ke jepang satunya malah ke korea gitu jiahahaha…😄
    iya ini jauh lebih panjang dari biasanya kayaknya… tapi gak flat kok… keren ih!😄
    bikin mereka nikah dong yoo~~~~ kan aku nunggu2 momen nikahnya jihyuk~ ><

    • Waduuhh~ kakak adalah orang kedua yang nangis gara2 Lovabook inih. xD
      Yippy~~~~😄

      Eh? nikah? nantiii dehh, kalo yoo mood nikah ama dia. :3 /plakk
      makasihh syuda baca kakak~~~ ;D

  29. MAMAHHHH~~~ ankmu yg unyu ini mau nanya :3
    jadi kalian BUAT aku kpn sih#PLAKKK ~~XD
    #pikiran yadong :p wkkwkwkkw XDD
    ntar ak req sama yuli on biar ad adegan MP ny ah ._.
    klu ga knp ak dibuat wkwkkw #dsate yuli sama shella on ==”

    ehh, sumpah ini part puas bgt bacanya mah~ :’D akhirny ff ny panjang juga wkkwkkw,,
    buat om Siwon # secara dia disini oppa mamah jd otomati samchon aku :p
    it betuln syang ga sam istrinya ==” mah itu kayakny butuh after story pnasaran ak sma om ganteng itu *kedip” #maaf td belekan soalny wkwkwkw

    it nenek knp ya? kok marah mulu =3= nenek ga asik ah ~ lama nanti ak ad lo nek wkwkwk, mamah kwn muda aj ._. kuliahany ntar aja, buat jurnany ntar aja😄 nikah aj dulu wkkwkw,,

    mau komen lbh lg, cuma udh malem wkkw #prasaan klu komen jam 12 ke atas mulu dah ==” y udh ya ma ditunggu Jihyuk lainy

    tunggu dulu ad hal yg gk pnting cuman menarik😄 it JihHyuk kan? ._.
    brarti yg NYERANG mama dong , yg DISERANG papa hyuk ==”
    oemge, ga tau mana yg ganas (?) nih :p wkkwkw

  30. finallyyyyyy…
    kyaaaaa… ini g pnjang.. walau itu panjang g kerasa.aslinya g ngebosenin..
    jodoh bget dah mereka ampe pergi k tmpat brbda dgn wktu yg sama..
    manis dan ngakak akhir.. manis lyt jihyuk brgng,ngkak dgn pgusiran hyuk. tp bgus hyuk mmikir g nglamar jiyoo wktu dy kere.. tipe pria yg memikirkan gadisny dmasa dpan. #eh

    lovabook kereeeeeeeen..
    xixixixi *loncat.loncat*
    eh. itu knapa mas swon bsa ktemu ma hyuk dbndara??

    • Nyehehehe.. makasihh syuda baca yaaaahh~ ^-^
      nah, itu kan ada scene pas hyori nelpon siwon, siwon langsung nyusul ke bandara dan ternyata di bandara si hyuk malah bikin masalah. -__-a
      yah pokoknya gitu deh ketemunya..😄
      Makasihh lagii~ ;D

  31. Howaaaaaa………….. Finally, selesai jg bacanya….😀
    Bagus she… Aku smp nangis bacanya…. Hikz… *yg ini aku gak bohong*
    *peluk kyu* :p
    Ditunggu lanjutan kyutoria nya ya… Hehehhe… :p

  32. haiiiiiiiiiiiiiiiii shela sayonnggggg~~~
    sorry telat banget komennya, udh baca dr kmrn TAPI daku lupa pw jd ga lsg komen dweeeehhh..
    akhirnya jadi juga, tdnya sempat mikir kalo yg mau dijodohin ama siwon itu yoo /plak/
    aaaahhhh nice ending <333333

  33. panjang??gpp yg penting ceritax nyambung dan bwt qta senang..
    Hyukjae trlalu nekat utk seoranh jiyoo..dgn modal pas-pasan ke tokyo eh malah mw dtangkap keamanan bandara..hehehe
    nikahx jiyoo ma hyukjae dah dbaca kq di 2060..nikah di bermuda..hehehe

  34. Wah….puanjang banget…tp puas n g bkn bosen… Salut ma hyuk yg mw nyusulin Yoo ke tokyo walau modal nekat…n 2 jempol u/ Yoo yg rela bolak balik tokyo seoul demi Hyuk…
    N lbh salut lg bt author’a yg bkn ff semenarik ini…

  35. Hi, im new here… FFnya bagus, keren!.. Sampe terbawa suasana bcanya.. Lucunya aku kyaknya malah lebih suka kalo si Yoo sama siwon oppa slny feelny gmn gtu.. Hehehe ::: Anyway ini adalah salah satu ff terbaik yang pernah aku baca, dtuntaskan semalaman, penasaran sm endingx.. #BanyakanNgomong #Cari2FFygLain..

  36. YOOOOOO !!!! ANYYEONG ! hahahaha
    saya baru selesai baca FF ini , fiuuhhhh~ saya dari tadi bacanya baru kelar sekarang. aigooooo , dan seperti biasa saya komeng di part terakhir kekekeke

    yapp ! pertama saya geli banget waktu acara blind date unyuk sama si gadis 19 tahun ahahahaha saya ngakak ! apa itu MANIAK ?!!! PROSTITUSI ?!! BUAHAHAHAHA YOOOO ! SAYA SETUJUHHHH AHAHAHA
    DAN LAGI ! LESBIAN ?! BUAHAHAH SUMPAH ITU KOCAK #capsjebol

    terusss … emmmm itu si jiyoo gila atau apa ? pake acara mengacaukan pertunangan siwon ? aigoo sebenernya dari sini saya sudah mulai curiga sama yoo #nahloh
    dannnn jeng jeng jeng ! itu akhirnya dua insan #read : jiyoo unyuk dipertemukan kembali di lovabook. dan kata kata MANIAK mucul lagi. dan saya kembali ngakak buahahaha

    eunhyuk mulai deketin jiyoo , dan tanpa sadar jiyoo sebenernya membutuhkan eunhyuk #eeeeeaaaa
    sampai akhirnya siwon datang , saya jadi makn geregetan bacanya. pake acara nyokap unyuk maksa buat nikah.

    DAN YOOOOO ! SAYA SANGAT SUKA BAGIAN EUNHYUK MASANG GELANG DI KAKI YOO ! ITU SO SWEET SUMPAH , ASLI ! AHAHAHAH

    terusss emmm apa ya , jiyoo sepertinya mulai lebih terbuka. dan eunhyuk mulai berani nunjukin kalo dia suka. tapi tapii aku sedih pas jiyoo nangis itu , ternyata dia suka siwon ! huwaaaaa tidak bisa

    tapi akhirnya jiyoo tetep mutusin buat nikah kan ? pas jiyoo peluk eunhyuk , aigoo saya jadi turut bahagia. ehhhhhh pas dia mau nandatanganin surat nikah siwon ngajak balik ke Tokkyo ! BAYANGIN NGAJAK BALIK KE TOKYO ! GUE SEDIH , GUE SETRES , SILET MANA SILET ! #EHH?

    Sedih banget waktu jiyoo nangis di kamar , trus ada sms eunhyuk. sampe sms dua kali coba huwaaaaa tapi tetep aja dia ke tokyo juga. tapi untung sekali akhirnya happy ending ahahahaha itu mereka akhirnya ketemu lagi. dan yaaakkkk kenapa mereka kagak dinikahkan saja ????!

    endingnya bikin saya ngakak !
    “Ibumu masih belum setuju, masih marah karena sandiwara picisanmu tiga bulan lalu. Kau diusir dari rumah dan terpaksa tinggal di Lovabook, jadi otomatis kau tidak bisa melamar Jiyoo karena tidak punya tempat tinggal yang layak. Apa ada yang salah?” tantang Hyunyoung.
    buahahhaa sumpah , saya ketawa guling guling , hykjae kau hina sekali lol

    okey sepertinya saya terlalu banyak bicara , dadahhh #ngilang

  37. huwaa udh ending nih..
    Daebak ending, feelnya dpt bgt, dr pertama baca bikin hati, jantung n perut jd ser seran dan jg brhsl bkn mewek mewek..
    Kalo soal kepanjangan malah bagus tuh..
    Akhrnya berhsl baca ff ini ampe tamat

  38. Panjang?? Hoa! Andai ada after story lage n lebh panjang lage, qw tetep mw baca n qw kurang ama jihyuk kopel #slapped.
    Sepertinya qw mulai jath cinta ma ni kopel!
    Part ni bkin nyesek awalnya. Huhuhuhu. Qw sdh lage sa-at hyuk mengatakan* law pun ingin pergi kenapa tak ucapkan gudbye* huhuhuhuhuhug. So sad……..

    Siwon kenapa mesti maen game mcm i2 n bwt yoo menderita.
    Ah. Qw akan kangen kopel ini #bersiap cr ff bru di blog ini.

  39. aawwww. so sweet! :3
    akhirnya end!
    Btw sempet ngira kalo calon istri Siwon yg di Tokyo itu si Jiyoo. Syukurlah ga gituu.🙂
    New reader… new reader…
    Komennya baru dua hehe. Maaf yaa.🙂

  40. kyaaa mian comentnya lagi lagi di part ini kkkk happy endiing yeaaaah saking jodognya itu jihyuk sampe naik pesawat waktunya bareng dan hasilnya taraaaaa jiyoo harus balik lagi ke tokyo kkk, suka sama ceritanya keseluruhaan kkk eonni jjang hwaiting selalu eon

  41. wah. Keren2. Ceritanya bener2 gag bisa ditebak…
    Aq kira mereka pura2 nikah. Trus lama2 saling jatuh cinta..
    Eehh trnyata lebih menarik dari itu.
    Eh iya. Aq pernah mention ke twitt mu loh. Tapi gag dibales. Huhu.
    Kapan ni mereka nikah di jihyukism? Pengen tau si kecil yoon…

    • Makasihh syuda baca yaaa~ ^-^
      Pernah mensyen? Mungkin gak kebaca, soalnya acc twitterku di protect.. Mianhaeyo~ *bow*
      Nanti abis BluEast langsung lanjut Marry Yoo kok.🙂
      Ditunggu yaa~ ^-^

  42. Selesai~
    aku gatau mu komen apa, endingnya!! kenapa ngga sampe nikah?! *emoseeehh

    okeh, eonni. aku ud komen sepanjang yg aku bisa *wkwkwk~
    dan pada kenyataannya, gada satu pun dari komen aku yg panjang *ketawasetan

    nice story~ ^^

  43. finally enddddd.. walaupun gak melulu romantis tapi aku suka sama kisah yang seperti ini bahkan ini jauh lebih romantisss ahahahha.. aku suka kata-kata Jiyoo ttg Jung Il Woo ituu hahaha kasih Hyuk. ckckck.. nice ff thor. daebak. baru satu FF author yg baru aku baca. siap-siap ke next ff yg lain hehe.

  44. aaaaaa, akhirnya happy ending juga..
    wlopun muter2 seoul-tokyo-seoul-tokyo..

    tapi keren..

    nah loh, emang siwon beneran udah bisa ngelupain jiyoo..’?!

    hhaha, ngga bisa ngebayangin hyuk yang diamuk eomma nya, saat ketahuan itu semua sandiwara..

      • hhehe, soalnya aku suka ama ceritanya..
        trus gaya bahasa nya juga suka, enjoy aja klo bacanya..

        ngomong2 saya lama ngga ngacak2 blog ini, lagi sibuk soalnya (ngga da yang nanya)..
        mana hp rada error, kan saya biasa bacanya via hp doank.. -__-”

        pas nengok blognya, eeee pada banyak bgt udah efef yg d’publish.. :O
        mesti sabar dah bacanya satu2..

        semangat yoo’ tuk selalu berkarya..😀

  45. Hahahaha mereka malah berlawanan arah, Hyukjae ke Tokyo sedangkan Jiyoo kembali ke Seoul. Padahal aku berharap mereka menikah tapi gak papa deh akhirnya juga lucu. Endingnya ngenes, kasihan Hyukjae yang diusir sama mamanya. Wkwkwkwkwk

  46. fuuuh,.,.

    nyesek bner wktu yoo blik k tokyo,.,dn yg bkin ngkak d tengh keterharuan pas mrka selisih jln..ooo god…

    tpi akhirny happy ending…

  47. annyeong.. Chia Imnida.. salam kenal^^
    reader baru.. #baru tau kl ada blog kece kyk gini, plak!
    tau blog.nya anda (nggak tau bin bingung harus manggilnya gmn ><
    saya benar2 pamit skrg.. ok.. bye!! ^^

    • omo!!! knp komen saya jd macam bgitu??
      mianhe.. sepertinya jaringan lg kacau balau..
      ini komen yg benar nggak pake macem2..

      annyeong.. Chia Imnida.. salam kenal^^
      reader baru.. #baru tau kl ada blog kece kyk gini, plak!
      tau blog.nya anda (nggak tau bin bingung harus manggilnya gmn ><
      saya benar2 pamit skrg.. ok.. bye!! ^^

      • what?? terpotong lg!!

        annyeong.. Chia Imnida.. salam kenal^^
        reader baru.. #baru tau kl ada blog kece kyk gini, plak!
        tau blog.nya anda (nggak tau bin bingung harus manggilnya gmn ><
        saya benar2 pamit skrg.. ok.. bye!! ^^

  48. hmm.. happy end cuma sayang ga ampe bener2 married.

    so far
    DAEBAK

    pengen menjelajah lagi ke ff berikutnya
    pai ^_^

  49. Huweee,,,
    Mabok hyukjae mabok hyukjae!!!
    Kenapa si hyukjae jadi makin tampan gini ya setelah baca ni ff,,, *_*

    aduh onnie,, Dari pagi aku gak beranjak mantengin ini blog, bener2 bikin ketagihaann,,,

    kata2nya selalu bikin aku tanpa komando bilang °WOW° sambil buletin bibir :0

    hadeuuh,,, bisa kagak pinjem hyuk malem ini aja???
    #ditimpuk jiyoo

    Kwkwkwkwkkkk……

  50. weeh saya komen di part akhir lagi
    wahaaaaaaaaaa
    Akhirnya JiHyuk bersatu wakakakaka
    daebak
    Choi Si Won itu ckckckck
    Eoh ??? ternyata dugaan aku gak salah
    karakter Choi Ji Yoo dsini memang yg ada di FF 2060 nya Yuli eonni
    aku suka JiHyuk di situ
    Hyuk oppa keren meskipun Kyu lebih keren /digampar/
    tapi aku ttap suka hahaha
    dan fighting
    maaf ya komennya di part akhir lgi kkk

  51. finally, happy end. Bngung, mau komen apa lagi. Pujianx udah d blang d part sblumnya. Pkokx ak suka critanya dan keep writing ^^

  52. Anyeongggggggg Finally happy endingg gpp hyukyoo ga nikah yg penting yoo udah bener2 menerima hyukjae di hatinya sekarang dan hanya untuk Lee hyukjae ❤
    Maaf karna aku baru ninggalin jejeak di part terakhir abisnya makin penasaran sama part2 selanjutnya sih jadi diputuskan untuk meninggalkan jejak di part terakhir ^^
    Butuh waktu 3hr buat nyelesaiin baca ini dari part awal sampe akhir di tengah2 jadwal kerja yg padat hihi mungkin aku ketinggalan jaman ya baru baca ini sekarang abisnya aku baru menemukan blog ini kira2 sebulan yg lalu lah jadi mohon di maklumi ~~
    Dan untuk FF ini aku ga tau mesti komen apa yg jelas suka pake banget banget sama karaktrrnya hyuk disini, dia dewas dan sweet bangettttt apalagi kalo udah ngomong ke yoo dewasa banget pokonya suka sama ff ini suka sama couple ini juga ~~
    izin untuk menjelajahi blog mu ya dan
    Semangat buat nulis2 FF yg bagus2 lagi, fighting :: ))

    • Annyeoooong! \o/
      Wah, terima kasih ya suda baca sampe tamat plus menyempatkan diri buat ngasih komen. :’) Selamat berjelajah! Semoga betah, dan fighting juga buat kamu! ^^

  53. Aaaaarrghh..akhirnya happy end jugaaa:D *lapkringet*
    agak kesel gimana gitu sama perannya siwon disini. penghambat jihyuk bgt *plak
    tapi overall, ini ff seperti biasa. DAEBAK.
    Aku sampe senyum” sendiri setiap baca momentnya jiyoo sama eunhyuk. gak lebay tapi manissss:$
    ah, pokoknya kereeen bgt.
    semangat terus nulisnya yaaa:)

  54. Aaaaak suka banget sama endingnya. Ngga kerasa panjang kok hahahaha
    Plotnya bener2 ngga terduga. As always. Siapa yg bakal nyangka klo mereka selisih waktu ke tokyo dan seoul wkwk. Dan koplakk hahahaha. Nice storyyyyy😀😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s