Last Autumn

***

Someday in Autumn

Jalan setapak di taman ini dihiasi daun-daun gugur berwarna cokelat. Langit kota Seoul berubah mendung sementara angin lembut menerbangkan daun-daun yang berserakan. Daun cokelat yang berguguran terasa kontras dengan daun berwarna merah yang masih tergantung indah di pohonnya.

Seorang gadis terduduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Ia menggigil; bukan karena dingin, tapi karena sesuatu menyesakkan dadanya dari dalam.

Segala hal tentang musim gugur tahun ini tak begitu menarik perhatiannya. Ia tak ingin menikmati atau mencaci musim ini. Ia hanya ingin melupakan kenangan di musim gugur. Kenangan buruk..

—-

Bagaimana cerita kita dimulai, aku tak tahu. Sepertinya semua hal tentangmu muncul begitu saja. Tak beralasan, tak kumengerti.

Tapi segala hal tentangmu itu.. menyenangkan.

—-

Autumn – Last year

Im Saera berjalan gontai di tengah jalan setapak berlapis salju tipis. Sweaternya cukup tebal untuk melindunginya dari dingin, tapi tak cukup ampuh untuk menjaga agar hatinya tak membeku. Ia menarik napas, membuat kepulan uap dingin dari bibirnya.

“Tiga kali…” gumamnya. Sudut bibirnya tertarik sedikit, membentuk senyuman samar.

Tiga kali mencoba, tiga kali menyerah. Saera sudah sampai tingkatan ingin berhenti mencoba saat ini. Ia sangat ingin menyerah, tanpa harus dibebani rasa untuk mencoba lagi.

“Sudah kubilang, kan, kalau kau mencoba lagi, kau tidak akan mendapat apa-apa,” ujar lelaki di belakangnya. Lelaki itu mengikuti Saera sejak tadi, menanti gadis itu untuk menoleh. “Tidak ada yang bisa kujanjikan padamu..”

Saera memejamkan mata, menahan segala perasaannya sebelum berbalik ke arah lelaki itu. “Benar, aku tidak lupa.”

“Lalu? Mau berhenti?” tanya lelaki itu. Sorot matanya tak menunjukkan emosi, sama sekali berbeda dengan sorot mata Saera yang menyiratkan kelelahan.

Sambil menelan ludah, Saera menggenggam ujung syal cokelatnya. “Aku ingin. Tapi sekuat apapun keinginanku untuk berhenti, aku akan selalu merindukanmu..”

Lelaki bermantel abu-abu gelap itu tersenyum kecil, memaklumi Saera. Hubungan mereka akan selalu seperti ini; hanya berputar antara menyerah-kembali-menyerah-dan kembali lagi. Ia sendiri membiarkan Saera seperti itu. Itu sudah jadi pilihannya –pilihan Saera, dan ia tak mau mengubahnya.

Saera menundukkan kepalanya. Ia memilih tak menatap lelaki itu; ia memilih berlindung dalam dirinya sendiri. Walaupun itu tak banyak membantu, Saera tahu itu tindakan yang benar, untuk saat ini.

“Aku takut..” bisik Saera. “Aku takut akan merindukan perasaan ini, tapi aku juga takut untuk melupakan perasaan ini.. perasaanku untukmu.”

“Kau selalu ketakutan pada hal yang sederhana,” ujar lelaki itu seraya memeluk Saera yang masih menunduk.

Saera benci mengakuinya, tapi ia takut kehilangan perasaan hangat ini. Ia ingin meneriakkannya, bahwa semua perasaannya untuk lelaki itu, semua hal yang ditakutinya, dan semua perasaan ini.. sama sekali bukan hal yang sederhana.

Saera mencintainya; atau setidaknya ia pernah mencintainya.

Saera membutuhkannya; atau setidaknya ia pernah bergantung dan selalu membutuhkannya tiap saat.

Dan sepertinya, Saera masih ingin merasakan debaran jantung yang tak karuan saat bersama lelaki itu..

Untuk mengucapkan pengakuan itu saja, rasanya ada besi puluhan ton yang menghimpit jantungnya. Untuk menyampaikan perasaannya saja, rasanya ada tambang yang mencekik lehernya. Dan untuk memberi tahu semua ini, rasanya ada beton yang membebani kedua pundaknya.

Tapi untuk menghilangkan semua perasaannya, Saera merasa lebih baik ia menusuk jantungnya sendiri dengan pisau berkarat..

Uri..” Saera mati-matian menelan ludah, berharap kata yang tersangkut di tenggorokannya akan ikut tertelan. “geuman haja.”

“Aku tahu kau akan mengatakannya,” lelaki itu sama sekali tak terkejut. Bukan pertama kali ini Saera minta semuanya disudahi. Tiap kali gadis itu mengucapkan permintaan putus, Saera terlihat seperti zombie; tanpa emosi. “Aku tidak pernah menyetujuinya, jadi kau bisa kembali kapan saja.”

Saera tertawa hambar –cenderung sarkastis. “Apa aku selalu seperti itu? Selalu putus asa seperti yang kau katakan?”

Lelaki itu mengangkat bahu. Ia juga sama sekali tak menganggapnya begitu, tapi ia hanya.. mengerti gadis itu lebih dari dirinya sendiri. Itu di luar kendalinya.

“Kita bisa putus kapan saja, kembali kapan saja.. Aku sangat lelah,” bisik Saera lirih.

“Aku tahu,” lelaki tadi mengusap pipi kiri Saera. Pipinya dingin sementara lelehan air mata menuruni wajahnya.

Saera mendongak, berusaha menatap wajah lelaki itu walaupun pandangannya sudah kabur karena air mata. “Apa kau tahu bagaimana rasanya? Terjebak dalam jurang yang sama, tersesat di jalan yang sama, dan terjatuh pada lubang yang sama? Sama dalam, sama dingin, dan sama-sama membuat dadaku sesak..”

“Kalau begitu tinggalkan jurang itu, lewati jalan itu, dan tutup lubang itu. Dengan begitu, kau tidak akan mengulangi hal yang sama, kau tidak akan merasakan sakit yang sama…” lelaki itu tersenyum, memberi Saera pilihan.

Saera mulai terisak, sesenggukan dengan suara yang memilukan. “Tapi aku tidak mau! Tidak mau meninggalkanmu, tidak mau melewatimu, tidak mau menutupmu! Sampai mati pun aku tidak mau!”

“Kau akan melakukannya,” tatapan lelaki itu tak lagi terarah pada Saera. Ia selalu tak tahan, tak tahan melihat gadis dengan rambut sebahu bernama Saera menangis semenyedihkan ini hanya untuk dirinya. “Aku akan membantumu melakukannya..”

—-

Aku juga tidak tahu. Tidak tahu bagaimana kisah kita berakhir, tidak tahu bagaimana perasaan ini memudar. Sampai akhirnya, aku tidak tahu pergi kemana debaran jantungku yang dulu saat menatapmu.

Kau akan membantuku, kan? Terima kasih, tapi aku tidak tahu bantuanmu itu akan semenyakitkan ini.

Aku tidak tahu kau akan menghilang pelan-pelan dari tempatmu yang seharusnya –hatiku.

Aku baru tahu, rasanya akan sekosong ini tanpamu..

—-

Autumn – Now

“Apa kau lihat dia bersama gadis itu lagi?” seseorang menyikut lengan Saera, memaksa Saera untuk menoleh ke arahnya. “Apa kalian benar-benar.. tamat?”

Saera tersenyum simpul kemudian mengeluarkan headphonenya. “Memangnya siapa yang akan melanjutkan kisah kami?”

“Tapi, kan, kalian pasangan yang dicemburui banyak orang. Semua orang ingin kalian tetap bersama,” sahut orang lain dengan bandana jingga. “Lagipula kalian sering putus-nyambung seperti ini, kan?”

“Tapi kami tidak bisa lagi menulis apapun dalam kisah ini,” ujar Saera.

Kedua orang tadi saling bertukar pandangan lalu sama-sama mengangkat bahu. Saera memaksakan seulas senyum mungil dari bibirnya sebelum meninggalkan kedua orang itu. Sambil memejamkan mata, ia menjauh dari mereka; menjauh dari zona amannya.

“Baguslah..” bisik Saera. “aku tidak lagi kembali padamu dan kau tidak perlu lagi menawarkan pelukan itu untukku. Semuanya sudah selesai.”

Saera menjatuhkan tubuhnya ke kursi panjang yang dicat hijau. Tangan kanannya meraba bagian kiri dadanya, seolah memeriksa luka disana. Sentuhannya berubah menjadi genggaman erat pada kemeja ungunya sendiri.

“Sakit…” ia bergumam pelan. Tanpa sadar lelehan air mata tumpah ke pipinya.

“Aku juga,” Saera menoleh, entah hanya imajinya yang berlebihan atau memang ia sudah setengah gila, ia melihat lelaki itu ada di sampingnya. “Aku juga sakit.”

Saera memandangi lelaki itu, dari atas sampai bawah. Ia, tanpa sadar, memerhatikan lelaki itu, mengingat semua hal detil darinya. Ia, sadar atau tidak, nyaris berteriak ia merindukan lelaki itu.

“Tapi aku tidak akan minta kau kembali,” ujarnya. “Kau sudah terlalu lelah untuk menulis kisah ini, Saera-ya.”

Walaupun bukan itu yang ingin didengar Saera kali ini, ia tetap mengangguk. “Aku memang lelah..”

Lelaki itu diam sambil tersenyum simpati. Ia ingin menggumamkan kata maaf; seperti yang biasa ia lakukan jika gadis itu seperti ini. Tapi untuk melakukan itu saja ia sudah tak bisa.

“Memutuskan ikatan, hubungan, dan perasaan ini ternyata.. jauh lebih berat daripada yang kubayangkan,” Saera mengusap air mata dengan punggung tangannya; hal yang tak biasa dilakukannya karena biasanya lelaki itu yang akan melakukan hal itu untuknya.

“Aku mencintaimu,” ujarnya lagi.

Saera menelan ludah sambil mengepalkan tangan, mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk lelaki di sampingnya itu. “Aku.. tidak pernah berhenti melakukannya.”

“Untuk terakhir kalinya,” lelaki itu tersenyum dengan senyum kesukaan Saera. “Terima kasih..”

—-

Kalau kisah ini benar-benar berakhir, bolehkah aku tetap mengingatmu?
Kalau semuanya harus disudahi, bolehkah aku sekedar menyimpan namamu?

Dan.. kalau semua tentangmu memang harus dihapuskan, bolehkah aku menghapus semua tentangku dan ikut menghilang bersama semua hal tentangmu?

—-

Now

Saera berdiri di tepi jalan raya. Pandangannya tak fokus kemana pun kecuali pada dua tubuh yang terbaring di tengah jalan. Ia melihat kedua orang itu dan tersenyum miris.

Lelaki itu menutup matanya disana. Darah mengalir deras melalui pelipisnya sementara memar mewarnai tubuh kekarnya. Jaket biru kesayangannya dalam sekejap bersimbah darah, menghilangkan warna asli jaket itu sendiri.

Orang yang satunya, Saera sendiri. Melihat salah satu kakinya yang mengarah ke arah yang salah, ia tahu kakinya patah. Kemeja ungunya berwarna senada dengan jaket lelaki itu. Merah.. dan bau karat.

Mereka berdua dikelilingi banyak orang. Sebuah mobil –yang tadi membawa mereka, sudah tak berbentuk. Bensin mengucur dari tangkinya sementara kaca mobil pecah. Mobil itu, bisa dikatakan hanya tinggal kerangka.

“Apa kau senang, bisa bersamaku sekarang?” lelaki itu berdiri di samping Saera, mengulum senyum kesukaan Saera lagi.

Saera mengangguk. “Mungkin…”

Lelaki itu baru saja akan mengantar Saera kembali ke kampusnya –sebagai hadiah terakhir perpisahaan mereka- saat sebuah mobil van hitam besar kehilangan kendali dan menyambar mobil mereka dari samping.

Saera masih ingat doa yang diucapkannya sebelum naik mobil lelaki itu; bahwa ia harap ia bisa menghilang bersama lelaki itu dan semua hal tentangnya.

Doa itu terwujud.

Saera tak bisa membayangkan untuk kehilangan lelaki itu sepenuhnya. Ia selalu berbohong pada dirinya sendiri bahwa ia bisa tanpa lelaki itu. Kenyataannya, Saera sama sekali tak pernah siap untuk kehilangan perasaan ini.

“Sebenarnya,” lelaki itu menggenggam tangan Saera sementara kedua matanya terpaku pada kedua jasad yang terbaring di jalan raya. “aku lebih rela mati sendirian daripada membawamu bersamaku.”

Saera tersenyum kecil. “Terima kasih.. untuk membiarkanku tetap bersamamu.”

—FIN—

Err.. salahkan “If I Stay”, karna alasan penulisan ini semua didasari atas buku itu serta sebuah perasaan aneh pada seseorang.. :3

50 thoughts on “Last Autumn

  1. Err, ini termasuk happy ending ato sad ending yah? T________________T
    perpaduan antara ngenes dan tragis..
    AAAAAAAAAAAA #penggalauanmassal
    seperti biasa, aq suka banget sama perpaduan kalimatnya~ ringan tapi menusuk dan nubles tepat sasaran (?) HAHAHAHAH *ketawa galau* (?) -.-v
    eh, tapi ini ada unsur dr kisah nyata juga ya? ciyeeeeeeeeeeeee…. ehem! ehem! uhuk! uhuk! Huaaachiiim…. *plak

    • Eung… ini…. gimana kalo kita klasifikasikan sbg geje ending? *plakk!😄
      syuda, syuda, jangan bikin penggalauan massal disinihh.. aku ikutan galau nihh~ >3<
      unsur nyata? kasih tau gak yaahh.. xD Gak lah onn, aku gak mau mati cepet2 kaya si saera.. ^-^;
      *kasih tisu* Lagi flu yah onn?😄

      makasihh syuda bacaaa~~~~ ;D

  2. buatku ini yang namanya Real happy ending.. Together ever after😀 love this so much jagiyaa.. *cium2 shela*

    kalimat paporitku disini,
    —Apa kau
    tahu bagaimana rasanya?
    Terjebak dalam jurang yang sama, tersesat di jalan yang sama,
    dan terjatuh pada lubang yang
    sama? Sama dalam, sama dingin,
    dan sama-sama membuat
    dadaku sesak..— oh thanks..ini aku bangett TT____TT

    • hehe.. this is the real happy ending? I dont really think so tho..😄
      namanya uda takdir, dan kalo ada takdir semenyenangkan ini pasti idup kita tenang2 aja, karna pada akhirnya kita bakal sama orang yang kita… cinta *maybe?*
      *bales cipok* Itu juga kalimat yang aku suka onn.. walopun agak blibet dibacanya, tapi aku suka kalimat itu. :3
      makasiihh uda baca, onn~ ;D

    • gak, kakak.. mereka ini pasangan putus-nyambung, tp karna si cewe capek ama hbgn kaya gitu, dia pingin bener2 putus dr cowonya walopun dia sndiri gak yakin ama kputusannya.
      Sampe mereka bener2 putus (ada kata2 autumn last year ama now kan? itu uda setaun dan mereka bener2 putus), tp ternyata mereka sama2 sakit ama kptusan itu..
      pas terakhirnya, mereka kecelakaan di mobil yang cowok.. :3

      • oh i got it hhehehehe..
        kirain slama ini dia berhalusinasi tapi ga yakin cos cewek itu bahas tuh cowok ama temennya
        tapi ragu lagi pas baca ending waolah….keknya IQ ku perlu di upgrade neh hehehehehe

        thanks ya non buat penjelasannya hehehe *chu*

      • Wahahahaha….. Lg dpt mood komen iseng di ff mu…😄
        Bta, itu yg napsu nyuruh komensie kyu, dia ikutan baca sm aku… Trs dia blg, klo aku ga mw komen, ntar dia yg komen… /plak
        Hehehhee…. (^⌣^)♉

        Ditunggu ff2 bagus selanjutnya….😀

  3. sungguh… mengenaskan~ *merinding* Kata2mu sadaaappp!

    td pas bc judulnya, aku kira Late Autumn, ck gara2 keseringan dengerin lagu si evil maknae itu sih..
    tp shel, bukannya kalo drable itu maks 200 kata yah? mungkin ini lbh tepat disebut one shot, bner ga? maap kalo sok tau, ahahaha😀

  4. ehmmm..

    Saya bener2 terpesona sama cerita ini??

    Keren,, bener2 membuat hati saya tak karuan antara bingung dan sedih, dan ah pokoknya begitu lah..

    Hehehehe

    saya jatuh cinta sama tulisan shella..

  5. Ntah gua nya yg lelet ato apa ya?? Kok g ngerti???? Ending na tuh looo..
    Truss.. Mbook.. Buku if i stay karangan spa mbok??

  6. Mw d blg sad ending tp tuh 2 makhluk malah seneng mati b2, d blg happy ending jg gk happy2 amad… Jd gmn klo aku blg tanggung ending? Wkwk

    Aku bcanya smbl dgrin late autumn nya kyu jd brasa bgt galaunya dah (╥_╥)

    • Bwahahahahaha~ disebut gaje ending juga gak papah.😄
      Makasihh loh, aku jadi ikutan dengerin late autumnya kyu.. ;_____;
      padahal aku cuma niru judulnya, gak sempet dengerin lagunya.. *maap, kyu~*
      makasihh syuda baca yaa~ ;D

  7. Shella~~Yoo~~ *airmata meleleh*
    udah berabad-abad ga main kesini, sekalinya main langsung baca cerita ini… baca dari paragraf pertama sampe terakhir kata-katanya nanclep… apalagi pas bagian,,,

    Kalau kisah ini benar-benar berakhir, bolehkah aku tetap mengingatmu?
    Kalau semuanya harus disudahi, bolehkah aku sekedar menyimpan namamu?

    Dan.. kalau semua tentangmu memang harus dihapuskan, bolehkah aku menghapus semua tentangku dan ikut menghilang bersama semua hal tentangmu?

    ya ampuuun… ya ampuuun… ya ampuuun… (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) ini yang dinamakan cinta sehidup semati (?) matinya barengan gitu… udah takdir… T^T

    pas bagian uri…. geuman haja.. aku jadi teringat MVnya after scholol yg love love love..😉

    yang pake bandana jingga Haneul bukan yaaa?.. *ngaco

    • KAKAK JINGGAAAAAAAA~~~ YOO KANGEEEEENNS.. ;______;
      diliran uda pada ngumpul berlima, magnae dilupain.. Syedih kan..

      Takdir yang indah, kan? :3 Kayanya imajinasi yoo ketinggian.. >3<
      Hehehe.. kakak pinter! Yoo emang ngambil Uri geuman haja dari mbak UEE..😄
      And yesseu, bandana jingganya kakak.. Hehehe.. Maap yah, tanpa nama, maen tebak2an ajah.. XDD
      makasihh syuda mampir lagi, kakak~ ;D

  8. omaigat…
    gak bs ngomong apa2..
    perasaan onnie campur aduk,,
    onnie merasa ini happy ending walaupun amat sangat tragis..😥

  9. annyeong aku reder baru#plak gda yg nanya…….

    sad and pa happy and????hwaaaaaa bingung saiia,tp sumpah bacanya nyesek banget,liat judulnya langsung puter lagu kyu jga,,,,,,mantap jadi pengalauan ria,

    g bisa bayangin???cinta….cinta….cinta….hanya satu alasan tapi bisa bikin logika ngilang,

    pokoknya DAEBAK banget nie crita,,,,,,,

  10. merinding -,- rrr merinding..
    serem ih terakhirnya pake ‘kecelakaan’ segala
    TT^TT
    cowoknya siapa sih?huwaaaang😥 kenapa gak nikah aja biar Happily Ever after..
    Keep up the good work ,kakak author

  11. MAMAHH~~ INI NYESEK SUMPAH! T^T
    Uwaaa prasaan ku jd campur aduk kyk gado” krg sambel kcang (?) Skrg =.=a

    Y ampun nyesek gila щ(ºДºщ) . Mana lg stress mau ujian lg щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) . Ya ampunn~ it happy endnya knp tragis amat yak? Wkkwkw

    Udh lah ak mau galau brng sejarah dulu deh😄 wkkwkw :p

    • HUWAAAAA~~~ enak banget gado2nyaahh.. tapi gak enak juga yah kalo gak ada bumbu kacangnya nak.. -__-a
      bentaar, “happy endnya tragis”?? Nak, mana ada happy ending yang tragis? Yaumpaann anak ini.. *cubits*
      makasihh syuda baca yaa nak~ ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s