Flories Tale [Two]

Pepohonan dan rumput yang mulai layu itu mendadak kembali seperti semula; kokoh dan hijau.

“Aku tidak akan membuat mereka mati semudah itu. Mereka pasti sedih,” Saera memandang mereka –pohon dan rumput- dari balik jendela kaca. “Maaf ya..”

Changmin memerhatikan wajah Saera dari samping. Gadis itu benar-benar tampak menyesal. Sambil pelan-pelan menghela napas lega, laki-laki itu tersenyum.

Tanpa ia sadari kehidupan ala dongeng pengantar tidur ini sudah membuka halaman awalnya..

======================

Flories Tale [Two]

Aku selalu tersenyum melihatmu merekah..

Shim Changmin

***

Changmin menggeliat di ranjangnya. Sinar matahari pagi berhasil menelusup masuk melalui celah-celah kecil jendela kamar dan membuatnya tak nyaman. Lelaki itu bergerak-gerak sebentar sebelum memutuskan duduk di ranjangnya. Ia mengacak-acak rambut lalu meregangkan otot lehernya.

Matanya berhasil terbuka –akhirnya dengan susah payah. Changmin membiasakan indera penglihatannya itu dengan cahaya dimana-mana sebelum menemukan tubuh lain di sampingnya.

Gadis itu dilihatnya sedang berbaring miring ke arahnya. Gadis peri bunga itu..

Changmin menggosok-gosok matanya pelan. “Dia..?!” pekiknya dengan suara rendah.

Rentetan kejadian semalam mulai berputar mengelilingi kepalanya. Pelan-pelan semua kejadian itu menyusun diri mereka sendiri membentuk kesatuan yang padu. Changmin menahan napas. Dengan berat hati ia mengakui bahwa yang dilihat dan dirasakannya semalam sama sekali bukan mimpi.

Sambil menampar-nampar wajahnya dengan pelan, Changmin beralih menatap gadis yang tidur satu ranjang dengannya.

Namanya Im Saera, batinnya. Dan ia peri bunga.

Changmin menarik napas lalu memejamkan matanya. “Aku tidak gila..”

“Ng?” suara desahan lembut itu membuat Changmin memutar kepala ke samping. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata sambil berusaha membukanya.

Changmin menelan ludah. “Kau.. bangun?”

Saera ikut terduduk di atas ranjang kemudian menoleh dan memperlihatkan wajah lemasnya. “Tuan..”

“T-tuan? Ya! Jangan panggil aku begitu,” larang Changmin. “Berapa umurmu?”

“Umur?” Saera hanya bisa mengulang ucapan Changmin. Otaknya terlalu lemah bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaan mudah seperti itu. Mungkin nyawa gadis itu belum terkumpul.

Changmin menyahut tak sabar, “Iya, umurmu, usiamu, atau apapun yang bisa menunjukkan berapa lama kau ada di dunia ini.”

Sambil menggaruk pipi, Saera tersenyum bodoh, “Lima belas jam waktu manusia..”

“Lalu sebagai peri bunga?” Changmin menghela napas berat.

“Ah, itu..,” kali ini Saera menggigit bibir bawahnya. Ia kemudian berdeham dan berwajah serius, “Itu.. itu bukan urusan Tuan, kan? Aku tidak akan memberitahu!”

Changmin menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya. Ia hanya bertanya berapa umurnya dan gadis itu malah bertingkah aneh. “Tch~ ternyata semua gadis itu sama saja. Walaupun kau bukan manusia, tapi tetap saja sensitif untuk urusan umur. Kalau begitu,” simpulnya, “kau ini ‘Noona’ ya?”

“Apa?” Saera memekik, tak suka. “Aku.. eh, iya, tapi..”

“Aku panggil kau ‘Noona’ saja,” sahut Changmin. “Kau bisa memanggilku ‘Changmin-ah’ atau apapun yang kau mau.”

Sambil berwajah masam, gadis itu memajukan bibirnya. “Tidak mau!”

“Apanya?” tanya Changmin. “Tidak mau kupanggil ‘Noona’ atau tidak mau memanggilku ‘Changmin-ah’?”

“Dua-duanya!” tegas Saera. Ia kemudian menelan ludah, “Aku.. memang lebih tua darimu, tapi itu dalam usia peri bungaku. Lihatlah! Menurutmu sebagai manusia, berapa usiaku?”

Changmin mengernyitkan alis. Matanya memerhatikan tubuh gadis yang masih duduk di sampingnya.

Delapan belas atau sembilan belas tahun, pikirnya. Tiba-tiba saja Changmin sadar bahwa gadis ini tidak jelek. Wajahnya kecil, matanya indah, rambut panjangnya yang berantakan justru membuatnya semakin menarik. Changmin menelan ludah. Gadis ini cantik.

“Kau itu..,” ujarnya tertahan. Saera malah semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Changmin, ingin tahu. “Jangan dekat-dekat!”

Saera langsung mundur kembali ke tempatnya semula. “Kenapa?”

“Apanya yang kenapa? Kau itu..,” Changmin buru memalingkan wajah ke arah lantai. “Walaupun bukan manusia, kau itu tetap seorang perempuan, jangan pernah mendekati lawan jenismu seperti itu! Dengar?”

Sambil menyipitkan mata, Saera menyahut, “Kenapa?”

“Tidak usah dibahas lagi,” desah Changmin lemah. Sepertinya energinya hari ini sudah terlanjur berkurang setengah setelah berdebat dengan gadis di sampingnya ini.

“Lalu umurku?” tanya Saera tak mau kalah. “Berapa umurku? Menurutmu saja, berapa umurku?”

Changmin mendesah lagi, kali ini dengan helaan yang lebih berat –yang terberat untuk hari ini. “Sembilan belas tahun.”

“Lalu kau?” Saera kembali mendekatkan tubuhnya saat Changmin membelalakkan mata dan menyuruhnya mundur lagi. “Kau berapa?”

“Dua puluh empat,” sahutnya acuh.

Setelah mendengar jawaban itu, tahu-tahu Saera tersenyum lebar –terlihat sangat sumringah. “Kau yang lebih tua~~~”

“Ya! Itu karena fisikmu yang pasti tidak pernah berubah,” tentang Changmin. “Siapa tahu kau justru berusia lebih tua daripada penyu!”

Saera merengut lalu kembali menyipitkan mata, “Aku tidak setua itu, tahu!”

“Tch~” desisnya. “Lalu kenapa tidak mau bilang umurmu yang sebenarnya? Pasti karena kau le–“

“Changmin-ah, kau sudah bangun?” suara Cho Kyuhyun terdengar dari balik pintu kamarnya. Belum sempat Changmin menarik napas, pintu itu terbuka. “Kami menunggumu untuk sarapan– Siapa gadis ini?”

***

Meja makan dengan enam kursi itu tampak lebih terisi. Hanya satu kursi yang tersisa disana. Empat orang dari lima yang duduk justru tampak diam, tak bergerak. Sementara orang baru di antara mereka sibuk memerhatikan alat makan yang ada di samping piringnya dengan tatapan takjub.

Saera memain-mainkan sumpit besi dengan memegang keduanya di kanan-kiri tangannya.

Changmin tahu Kyuhyun, Hyori, dan Minhyuk menatapnya, menunggu jawaban. Ia sendiri tidak suka dibebani dengan hal seperti itu; membuat orang menunggu. Tapi walaupun ingin menjawab, ia tak tahu apa yang akan dikatakannya.

Ini Saera, peri bunga..’ jawaban konyol.

Changmin membuang pilihan itu. Ia bisa memastikan keluarganya itu akan langsung membawanya ke rumah sakit jiwa, atau yang teringan, diseret ke psikiater handal.

Ini pacarku di Seoul..’ jawaban agak bagus.

Walaupun Changmin tahu jawaban itu akan terdengar janggal di telinganya sendiri, tapi tidak bisa disangkal kalau ia juga memikirkan jawaban yang satu itu.

Hyori mengalihkan fokusnya ke obyek lain setelah Changmin sama sekali tidak berniat menjelaskan. Ia mengamati gadis yang masih bermain-main dengan sumpitnya itu. Sambil memiringkan kepala, ia merasa wajah gadis itu tidak asing.

“Hei, apa dia artis?” Hyori menyenggol lengan Minhyuk pelan.

Yang ditanya menggeleng lalu bertopang dagu, “Tapi dia manis..”

“Bukan itu yang kutanya, bodoh,” sergah Hyori cepat. Ia kemudian kembali memusatkan pandangannya ke arah Saera lalu berdeham, “Kau.. siapa?”

Saera mendongak, menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. “Aku? Im Saera, aku ini pe–“

“Perempuan milik Changmin!” Changmin menyahut secepat kilat. Ia memandang Saera dengan tatapan sinis. Bagaimana bisa gadis itu terlampau polos?

Belum sempat Changmin memberi pandangan mendominasi untuk Saera, ia sadar tiga pasang mata itu kembali menatapnya. Changmin tersenyum sambil menutupi kebodohan yang dilakukannya. Sekarang pertanyaannya berubah, bagaimana bisa ia terlampau bodoh?

“Dia.. pacarmu?” Kyuhyun mengucapkan kata itu dengan sedikit pelan. Changmin bahkan tak bisa menebak kenapa nada suaranya seperti itu.

Kau yang sudah membuat masalah, Shim Changmin, batinnya.

Changmin –mau tak mau- mengangguk. “Dia pacarku, seperti yang kalian dengar, namanya Im Saera.”

“Kapan.. dia masuk ke rumah ini? Bahkan dia masuk ke..,” Kyuhyun mengerutkan kening, “kamarmu.”

“Itu..,” Changmin berpikir, ia harus berpikir, harus cepat. “Tengah malam, penerbangan dari Tokyo ke Seoul agak ter..tunda? Yang jelas dia sampai semalam, dan karena kami, eh pasangan kekasih, kami.. tidur di kamar yang sama.”

Hyori merengut sebal lalu menatap Saera lagi. “Ya! Kau! Apa itu benar?” Saera mendongak, menampakkan raut bingung. “Kau itu..,” ia berdeham, “perempuan milik Changmin Oppa? Kau.. gadisnya?”

“Gadis?” ulang Saera. Ia baru saja jadi manusia nyaris duapuluh jam, tapi banyak hal yang tak dipahaminya. Sambil melirik

Changmin, ia tersenyum lebar, “Iyaa~ dia milikku..”

Kali ini Hyori membelalakkan mata, Minhyuk dan Kyuhyun sendiri tampak terkejut walaupun menolak menunjukkannya, sementara Changmin sudah melongo sambil menatap gadis yang masih memegang sumpit dengan kedua tangannya itu.

***

Saera terduduk di sebuah sofa panjang berwarna putih yang empuk. Ia sibuk menggerak-gerakkan tubuhnya sambil bermain-main dengan permukaan sofa yang lembut itu. Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tengah rumah Changmin, tanpa sadar mulutnya terbuka.

“Jangan melihat dengan wajah seperti itu,” bisik Changmin yang ada di sampingnya. Saera menoleh dan menautkan alis. Changmin menyahut, “Karena kau akan terlihat bodoh.”

Saera mendesis, “Tuan pintar membuat orang lain marah..”

“Oh? Kau marah?” ledek Changmin sambil menyeringai. “Ah, jangan panggil aku ‘Tuan’, bagaimana kalau ‘Jagiya’?”

“Apa?!” Saera memekik. Sebelum perhatian tiga orang yang lain terarah padanya, Changmin sudah membekap mulutnya.

“Kau ini hobi berteriak ya? Pelankan suaramu,” bisik Changmin tepat di telinga Saera. “Aku Tuanmu, kan?” Gadis itu mengangguk tanpa suara. “Kalau begitu kau akan menurutiku, kan?” Lagi-lagi gadis dalam bekapannya itu mengangguk. “Dengarkan aku, sekarang aku dan kau adalah SATU. Kita pasangan, bilang saja kalau kau pacarku, belahan jiwaku, atau apapun yang menurutmu masuk dalam definisi kata ‘pasangan’, mengerti?”

Setelah gadis itu mengangguk lagi, Changmin melepaskan tangannya. Saera menatap lelaki itu dengan tatapan bingung, “Kita.. pasangan?”

“Iya, eh maksudku.. begitulah,” Changmin menolak membalas tatapan gadis di sampingnya.

“Oppa,” panggil Hyori yang sejak tadi hanya mengamati perlakuan Changmin pada Saera. Ia cemburu, jelas. Changmin adalah lelaki yang dikenalnya seumur hidup dan tiba-tiba saja sikap lelaki itu tampak berbeda untuk gadis lain. “Aku.. mau bicara.”

Changmin mengerutkan kening lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia menoleh ke arah Saera sekilas, “Jangan kemana-mana..”

Saera mengangguk-angguk paham sebelum melihat punggung Changmin dan Hyori menghilang ke sebuah koridor berbelok panjang. Ia jadi bertanya-tanya sendiri sebesar apa rumah yang sekarang ditempatinya ini.

“Noona,” Saera mendongak. Ia mendapati Minhyuk berdiri di depannya sambil memasukkan tangan ke saku celana.

Saera merengut, “Aku tidak suka dipanggil begitu.”

“Ne? Tapi seharusnya usiamu memang lebih tua dariku,” ucapnya pelan. “Berapa.. umurmu?”

“Aku?” sambil mengerjap-ngerjapkan mata, Saera mengingat-ingat pembicaraannya bersama Changmin tadi. Ia tersenyum lebar, “Sembilan belas.. Kau?”

Minhyuk tahu ia terkejut dan kali ini ia tak bisa menutupinya lagi. “Sembilan belas? Dan Changmin Hyung benar-benar memacarimu? Gadis yang lebih muda lima tahun darinya? Bahkan lebih muda dariku dan Hyori?!”

“Kau bertanya?” Saera heran sendiri. Masalahnya, nada bicara Minhyuk barusan lebih terdengar seperti kemustahilan yang bisa dilakukan oleh Changmin. “Ng.. aku pasangannya, dia belahan jiwaku.”

Lagi-lagi Minhyuk membelalakkan mata. “Belahan.. jiwa?”

“Dia bilang aku boleh menyebutkan apa saja yang menurutku bisa menggambarkan kami sebagai satu kesatuan,” jelas Saera jujur.

“Satu?” ulang Minhyuk. “Lalu bagaimana dengan Hyori Noona?”

***

“Aku tidak lupa,” ujar Changmin tenang. Gadis di depannya sudah menggigiti bibir, ia tak tenang; sama sekali. “Aku tidak lupa kalau kakek mengadopsimu untuk jadi pasanganku nanti. Tapi, Hyori, bukankah kau juga tidak mau terikat dalam ikatan yang tidak jelas begitu?”

Hyori mendongak untuk menatap lelaki yang lebih tinggi itu. “Tidak.” ujarnya. “Itu bukan ikatan yang tidak jelas. Aku berterimakasih pada kakek karena sudah membawaku masuk ke rumah ini, dan aku mau melakukan apa yang diinginkan beliau sejak dulu.”

“Aku menganggapmu dan Minhyuk sebagai keluarga, Hyori,” ujar Changmin. “Setidaknya itu masih berlaku walaupun aku sudah diusir keluar dulu.”

“Oppa,” Hyori memanggil dengan nada lelah, “Aku.. menyukaimu sejak dulu.”

Changmin terkejut sejenak kemudian mengembuskan napas panjang. “Suka dan cinta itu perasaan yang berbeda.”

“Apa karena Oppa mencintai gadis itu?” tanya Hyori.

Kali ini Changmin tidak bisa menjawab. Tentu saja tidak. Ia tak mungkin mencintai gadis yang hanya dikenalnya selama duapuluh jam. Tapi untuk beberapa saat kemudian, ia mengangguk. “Begitulah. Dia pasanganku sekarang.”

“Begitu?” Hyori tak bisa menyembunyikan raut wajah kecewanya di depan Changmin.

“Hyori,” panggilnya. Changmin merasa tindakannya hari ini sama sekali tidak membuatnya nyaman.

Hyori tersenyum kecil, terlihat sangat terpaksa. “Jangan.. panggil aku dengan nada suara seperti itu. Nanti aku bisa jatuh cinta lagi pada Oppa.” Ia kemudian mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha memanggil masuk air mata yang nyaris jatuh. “Pergilah, pacarmu.. menunggu.”

Tangan Changmin terangkat, bermaksud menepuk pundak gadis yang tak lagi berani menatapnya. Tapi ia mengurungkan niatnya. Tangannya hanya tertahan di udara sebelum akhirnya ia berhasil memerintahkan kakinya untuk berjalan menuju ruang tengah.

Hyori menyadarinya. Ia tahu lelaki itu nyaris menyentuhkan tangan di pundaknya. “Kenapa tidak melakukannya?” bisiknya.

“Karena ada kotoran di pundakmu,” sahut Kyuhyun. Hyori menoleh, melihat lelaki itu bersandar di salah satu pilar yang menyangga rumahnya. “Mandi sana..”

“Tch~ menyebalkan,” Hyori mendengus lalu berjalan hampir melewati lelaki itu saat Kyuhyun malah menahannya. “Apa?”

Kyuhyun mengangkat tangannya, meletakkannya di puncak kepala Hyori lalu membelai-belai rambut gadis itu. “Sekarang pergilah, cari pangeranmu yang lain..”

Hyori membeku di tempat. Bukan karena ucapan Kyuhyun, tapi lebih karena sentuhan lelaki itu yang entah bagaimana terasa lembut dan membuat jantungnya berdebar kencang. Ia baru saja membalikkan badan saat tahu-tahu Kyuhyun sudah memunggunginya.

“Bodoh,” makinya pelan. “Kau pikir ini dongeng?”

***

Changmin berjalan santai menuju ruang tengah setelah selesai bicara dengan Hyori. Ia kemudian mengingat-ingat ucapan gadis itu. Hyori menyukainya, Hyori tidak merasa terbebani dengan permintaan kakek, dan Hyori memang selalu menunggunya di rumah ini.

Lalu sekarang apa?

Bisa saja Changmin mengangguk dan langsung melakukan apa yang diinginkan mendiang kakeknya; menikahi Hyori. Baginya gadis itu tidak buruk. Changmin sudah lama mengenalnya, dan Hyori bukan gadis yang sulit untuk dicintai.

Tapi sekarang pusat konsentrasinya ada pada si peri bunga itu.

Changmin menemukan Saera masih duduk di sofa ruang tengah. Untuk saat ini ia harus tahu apa yang membuat peri aneh itu malah mengikutinya dan merongrong soal menemukan ayah kandungnya. Seingatnya, Kyuhyun juga menyuruhnya menemukan orang yang sama.

Kalau ia tak bisa bertanya pada Kyuhyun, bukankah ia bisa mendapatkan jawabannya dari Saera?

“Lalu, apa yang kau suka?” suara Minhyuk samar-samar terdengar.

Changmin bergumam, “Sedang apa dia disana?”

“Bunga~~” Changmin akhirnya bisa melihat wajah gadis itu. Wajah yang sama yang selalu tersenyum lebar. “Aku juga suka.. pasanganku!”

Pasangan?

Changmin mengerutkan kening. Apa yang Saera maksud itu dirinya?

“Changmin Hyung?” tanya Minhyuk. Changmin terpaksa menghentikan langkahnya untuk sekedar mendengar jawaban apa yang akan diberikan Saera.

Saera kembali tersenyum. “Iya! Aku suka dia..”

“Tch~ aktingnya bagus juga,” gumamnya sambil menahan senyum. Ia kemudian pura-pura menimbulkan suara berisik untuk membuat Minhyuk dan Saera menyadari kedatangannya. “Apa yang kalian bicarakan?”

Minhyuk balas tersenyum. “Tidak ada, Hyung. Saera-ssi hanya bercerita tentang hubungan kalian, tapi hanya sedikit, jangan khawatir.”

“Saera-ssi?” ulang Changmin. “Kenapa tidak memanggilnya Saera saja? Umurnya lebih muda darimu.”

“Tapi dia pacarmu, dan dia tidak mau kupanggil Noona, jadi kurasa..”

“Saera saja! Aku suka saat orang memanggilku begitu,” potong Saera. Matanya berkilat-kilat senang saat menatap Minhyuk, membuat Changmin mendengus gerah.

Minhyuk masih tersenyum dengan senyuman yang sama. “Baik. Kau juga bisa memanggilku Minhyuk, atau.. Oppa.”

“Y–“

“Oppa~~~” Saera memotong lagi. Changmin baru saja akan melarangnya, tapi gadis itu lebih cepat satu langkah darinya. “Oppa, oppa, oppa..”

“Jangan terus-terusan memanggilku begitu, aku malu,” bisik Minhyuk di dekat telinga Saera.

“Ya! Ya! Ya!” kali ini Changmin tidak tahan melihat drama menggelikan yang ada di depan matanya. Ia menarik Saera untuk berdiri. “Kau disini bukan untuk main-main.”

“Maaf, Hyung,” sahut Minhyuk. “Padahal dia tidak memanggilmu Oppa, tapi aku malah minta dipanggil begitu.”

Changmin jadi salah tingkah sendiri. Bukan itu sebenarnya yang jadi masalah, hanya saja melihat orang-orang disini terlalu dekat dengan Saera, itu membuatnya tak nyaman. Ada apa dengannya?

“Tidak usah dipikirkan,” Changmin menyahut sambil menarik Saera keluar rumah.

Kalau ia ingin mendapatkan informasi tentang ayah kandungnya yang entah ada dimana, ia tak bisa memulainya di rumah..

***

Changmin berjalan dengan susah payah untuk tetap menyeret kakinya menyusuri jalan beraspal. Ia melirik ke samping. Gadis itu masih mengikutinya dari belakang. Saera memandang setiap bagian jalan yang dilihatnya; entah sebatas tiang listrik atau hanya lampu jalan.

“Hh,” desahnya. “Kau sangat menikmati waktu menjadi manusiamu, eh?”

Saera memiringkan kepala lalu berjalan mendahului tuannya. “Tidak juga. Aku suka dengan wujud baruku, tapi bukan berarti aku menikmatinya. Karena itu, tidak bisakah kita mulai mencari ayahmu?”

“Lagi-lagi masalah itu,” Changmin protes. Tapi kemudian ia hanya mengendikkan bahu santai. “Sudahlah, lagipula ada yang mau kutanyakan soal itu.” Lelaki itu menghentikan langkahnya, memaksa Saera ikut berhenti. “Ada apa dengan ayahku? Kenapa kakek memintaku mencarinya padahal dia bisa menemukannya sendiri?”

Untuk beberapa detik, Saera sibuk mencerna ucapan kilat Changmin. Ia mengangkat bahu, “Aku tidak tahu.”

“Tch~” Changmin nyaris mengumpat, namun tertahan. “Lalu untuk apa kau memaksaku mencari ayahku?”

“Supaya aku bisa cepat kembali ke wujud periku,” jawab Saera jujur.

Changmin membelalakkan mata tak percaya. “Cih.. gadis ini!”

“Lagipula,” tambah Saera, “kalau kau mau tahu, kenapa tidak tanya pada keluargamu disana?”

“Keluarga?”

Saera mengangguk-angguk semangat. “Tiga orang tadi, dua laki-laki dan satu perempuan. Bukankah mereka keluargamu? Sepertinya yang bernama Cho Kyuhyun –kalau tidak salah- tahu banyak tentang urusan kakek taman dan ayahmu.”

“Aku tidak punya keluarga seperti mereka,” desah Changmin berat.

Melihat raut wajah Changmin yang berubah mendung, Saera mengatupkan bibir. Ia ingin menanggapi pernyataan sepihak Changmin, tapi ia buru-buru menahan niat mulianya itu. Suasana hati lelaki ini sedang tidak baik.

Diam-diam Saera berpikir, hidup sebagai peri bunga tak selamanya jelek. Justru hidup sebagai manusia kesepian terlihat seperti nasib yang paling menyedihkan. Ia kemudian tersenyum kecil lalu meraih telapak tangan Changmin yang bebas di samping tubuhnya.

“Mwoya~~?” gerutu Changmin sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Saera.

Saera mengeratkan pegangannya. “Jangan bergerak. Aku akan menemanimu, jadi kau tidak harus merasa kesepian lagi.”

“Siapa yang–“ ucapan Changmin tertahan, “kesepian..?”

“Kalau begitu biar aku yang jadi manusia kesepiannya,” potong Saera. “Jadi kau harus menemaniku sampai aku bisa menemukan ayahmu, ya?”

Changmin menatap gadis di sampingnya dengan pandangan tak mengerti. Makhluk di sampingnya ini bukan manusia dan kenapa ia harus pura-pura memahami perasaannya soal kesepian dan sebangsanya? Siapa gadis yang ada di sampingnya ini, Changmin menolak memikirkannya.

***

“Shim Kangho belum ditemukan?” Kyuhyun bersandar di tepi meja kerjanya saat telinganya sibuk menunggu jawaban orang yang tersambung via telepon dengannya. Begitu orang yang ditunggunya memberi jawaban, ia mendesah kecewa. “Tolong laporkan padaku secepatnya.”

Kyuhyun menundukkan kepalanya lesu. Lagi-lagi usahanya mencari ayah Changmin itu gagal.

“Hyung,” suara itu membuat Kyuhyun mendongak. Minhyuk menatapnya, menunggu. “Paman itu.. belum ditemukan?”

Kyuhyun menyunggingkan senyum kecil lalu menggeleng pelan, seketika itu juga Minhyuk ikut-ikutan kecewa.

Shim Kangho tak ditemukan dimanapun. Tidak di Kangnam apalagi di Osaka. Pria baruh baya itu seolah lenyap ditelan bumi saat ayahnya tahu Changmin bukan anak kandung menantunya. Ayahnya merasa ditipu oleh anaknya, tapi ia lebih kecewa saat tahu menantu kesayangannya pun memihak Kangho dan memilih merawat Changmin.

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak. Kakeknya ingin Shim Kangho ditemukan agar masalah ibu kandung Changmin bisa cepat diselesaikan, agar Changmin tahu tentang hal yang belum diketahuinya.

Bahwa ia tak bersalah. Ia tak berdosa. Bukan salahnya jika kakeknya yang terlampau kolot itu justru mengusirnya bersama ibu yang ia ketahui sebagai ibu kandungnya. Tapi kakeknya tak pernah membenci Changmin; Changmin juga paham benar soal hal itu.

Hanya saja, menemukan lelaki itu tidak terlihat seperti masalah yang mudah..

“Apa Changmin hyung.. benar-benar tidak tahu soal ibu kandungnya?” tiba-tiba Minhyuk bertanya.

Kyuhyun menarik napas panjang lalu mengendikkan bahu. “Entahlah. Baginya, ia hanya punya satu ibu yang ia kenali sebagai ibu kandungnya..”

“Ternyata nasib Changmin hyung tidak jauh berbeda denganku atau Hyori,” ujar Minhyuk. “Kami yatim piatu, setidaknya dari awal kami tahu kami tidak punya siapa-siapa, tapi Changmin hyung, sepertinya justru dari awal ditipu.. oleh orang tuanya.”

“Minhyuk-ah,” panggil Kyuhyun. “Jangan mengingat masalah itu lagi. Sekarang kau dan Hyori bukan yatim piatu.”

Minhyuk nyengir lebar lalu memandang wajah ‘kakak sepupu’nya itu. “Aku tahu.”

“Ah, lalu gadis itu,” Kyuhyun tiba-tiba teringat pada seseorang, “pacar Changmin, siapa dia?”

“Namanya Im Saera,” sahut Minhyuk singkat, tapi ia buru-buru menambahkan saat Kyuhyun memberinya tatapan aku-juga-tahu-itu. “Gadis itu bilang dia dan Changmin hyung adalah belahan jiwa. Sepertinya mereka serius, walaupun saat melihat gadis itu aku merasakan aura aneh..”

Kyuhyun mengerutkan kening, “Aura..? Aneh?”

“Mm. Tapi kurasa karena ia punya sifat ceria,” Minhyuk tersenyum kecil. “Dia.. menyenangkan, seperti bunga; berwarna, wangi, dan indah.”

“Ya!” tegur Kyuhyun sambil mendekat ke arah Minhyuk. “Kau tidak boleh menyukainya, dia calon kakak iparmu –seandainya Changmin serius dengannya.”

Minhyuk mengangguk-angguk walaupun sempat merengut. “Aku tahuu~ aku hanya bilang sepertinya Saera itu menyenangkan, aku sama sekali tidak menyukainya –sebagai wanita. Usianya baru 19 tahun sementara aku lebih suka pada Noona~”

“Noona? Bukan aku, kan?” Hyori muncul dari balik pintu sambil tersenyum riang. Kyuhyun meliriknya, merasa aneh pada perubahan ekspresinya yang terlalu kilat. Lelaki itu tahu Hyori merasakan tatapannya, tapi sepertinya gadis itu menolak mengadakan kontak mata dengannya.

“Tentu saja bukan! Kau juga bukan Noona, umurmu sama dengan Saera,” tegas Minhyuk asal. Tapi kemudian ia menutup mulutnya, sadar bahwa Saera bukan topik yang tepat untuk Hyori. “Hyo, mianhae..”

Hyori memiringkan kepala lalu meninju lengan Minhyuk pelan. “Tch~ kenapa? Aku tidak apa-apa..”

“Minhyuk-ah,” Kyuhyun hanya memanggil Minhyuk tapi Hyori ikut-ikutan menoleh. “Bisa tinggalkan kami?”

***

Saera memerhatikan wajah Changmin dari dekat. Lelaki itu duduk di sampingnya, jadi ia terus memandangi wajahnya dari samping. Saera juga menghitung berapa kali Changmin menarik napas panjang, mengembuskannya berat, menarik napas lagi dan seterusnya.

“Jangan melihatku terus,” tegur Changmin. Saera buru-buru memalingkan pandangannya ke arah lain. “Kalau ada yang mau kau katakan, katakan saja..”

Kali ini Saera kembali menatap Changmin –sambil tersenyum lebar. “Apa kita bisa mulai mencari ayahmu?”

“Untuk apa?”

“Karena.. sepertinya kau memang harus menemukannya,” sahut Saera sembarangan.

Changmin mendengus sebal, “Jawaban macam apa itu? Bukan karena kau mau cepat-cepat kembali ke dunia perimu? Cih~”

“Itu juga, tapi alasan lainnya.. aku juga harus menemukan orang lain,” aku Saera ragu. Changmin menatapnya dengan heran; minta penjelasan lebih lanjut. Saera menggigit bibir lalu mulai membuka mulut, “Peri bunga.. bisa jadi manusia.”

“Aku tahu. Kau ini salah satunya,” potong Changmin.

Saera melotot. “Bukaaann~ bukan makhluk sepertiku. Tapi benar-benar manusia, hidup sebagai manusia, berubah jadi tak abadi, lalu mati dan seterusnya. Saat peri bunga berubah jadi manusia, ingatannya akan menghilang, digantikan dengan memori manusia buatan.. dan aku… kehilangan dua orang teman periku.”

“Lalu?”

“Mereka berubah jadi manusia setahun yang lalu, tapi aku tidak bisa mengingat wajah –salah satu aturan konyol peri bunga, jadi aku ingin mencari mereka saat wujudku masih seperti ini,” jelas Saera. “Aku hanya.. ingin menemukan mereka.”

Changmin menghela napas berat, “Lalu apa hubungannya denganku?”

“Kau!” Saera nyaris mengumpat. “Kau ini tidak punya jiwa sosial ya? Tidak bisakah kau membantuku?”

“Begini ya, Im Saera si peri bunga,” Changmin mulai lelah, “aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus menemukan ayahku, dan sekarang kau minta aku membantuku mencari manusia perimu? Kenapa kau harus datang dalam hidupku selama 24 jam ini, aku bahkan tidak mengerti.”

Saera menelan ludah. Rasanya menyakitkan saat seseorang yang kau harapkan justru menolakmu, batinnya.

“Jangan melihatku begitu,” ulang Changmin lagi. “Aku akan membantumu, asal kau bisa membantuku.” Dalam sekejap Saera menautkan alisnya. Changmin tersenyum kecil, “Cari tahu kenapa aku harus bersusah payah menemukan laki-laki yang meninggalkan ibuku.”

“Sebut saja ‘ayah’,” cibir Saera pelan. Ia mengangguk satu kali, “Aku mengerti~”

Changmin melirik gadis yang terlanjur percaya diri di sampingnya kemudian bergumam, “Tch~ gadis ini.” Lelaki itu tahu-tahu mengeluarkan sebungkus roti nanas. “Makanlah, kau tidak sarapan, kan?”

“Aku tidak suka itu,” Saera berjengit jijik. Wujudnya yang setengah manusia sama sekali tak merubah seleranya pada makanan. Matanya berbinar saat menemukan sebuah toko bunga. Saera menarik tangan Changmin. “Ini~~~” sahutnya pada satu vas penuh bunga lily putih.

Changmin mengerutkan kening. “Kau mau bunga?”

“Aku lapar..” rengeknya.

Sambil mendesah, Changmin membelikannya satu buket bunga lily. “Kau.. benar-benar makan ini?”

“Hmm..” ujar Saera riang. Tangannya menyambut buket bunga dari Changmin. Ia kemudian menyobek sehelai kelopak bunga sebelum mengunyahnya dalam mulut. Changmin sendiri sudah menjauh dari Saera. “Kenapa?”

Changmin mengibas-ibaskan tangan, “Tidak apa-apa. Makan saja..”

“Changmin-ah,” panggilan pertama Saera untuk Changmin mengejutkan lelaki itu. “Untuk seterusnya, belikan aku bunga yang banyaaaak~~~”

***

Kyuhyun menyandarkan punggung ke dinding sementara matanya terus mengekor pada gerakan kecil Hyori. Gadis itu tampak tenang walaupun sebenarnya Kyuhyun menebak-nebak kenapa ia bisa setenang itu. Apa ia memang baik-baik saja?

“Tidak ada yang mau kau bicarakan, kan?” tanya Hyori tiba-tiba.

“Tidak apa-apa?” Kyuhyun menatap gadis yang berdiri sambil menyilangkan kaki di depannya.

Hyori menautkan alis. “Aku kenapa? Oh, kau pikir aku akan depresi setelah ditolak oleh Changmin Oppa? Aku tidak apa-apa. Justru kau yang aneh, kenapa tiba-tiba peduli padaku?”

“Kau lupa kalau aku yang tertua disini?” sahut Kyuhyun penuh arogansi. Bukan itu alasannya, bukan masalah kedudukan siapa yang lebih tua yang mau ia ucapkan.

“Cih.. benar, kau yang tertua, jadi harus menjaga yang lebih muda dengan baik, begitu?” Hyori mendengus sebal. Gadis itu kemudian menarik napas panjang. “Hh.. aku baik-baik saja. Karena itu, berhentilah membuatku merasa kalau aku tidak baik-baik saja..”

Kyuhyun berdeham, “Baik. Terserah kau saja.” Ucapan itu berhasil membuat Hyori meninggalkannya sendiri. Ia bergumam, “Aku bahkan tidak tahu kenapa aku harus memeriksa keadaanmu..”

***

“Oh, hyung!” Minhyuk langsung berdiri saat melihat Changmin masuk lewat pintu ruang tamu. Matanya semakin berbinar begitu menemukan Saera muncul dari balik punggung Changmin. “Saera~”

Saera tersenyum lebar sebelum menghambur menghampiri Minhyuk. “Oppa~~~”

“Ya!” tegur Changmin cepat. “Panggil saja Minhyuk, kenapa harus memanggilnya begitu?”

“Karena aku ingin,” sahut Saera santai. “Oppa, lihat, Changmin-i membelikanku bunga lily..”

Minhyuk mengernyitkan kening. Ini pertama kalinya ia melihat kakaknya itu bersikap romantis pada seorang gadis. Dalam hati ia mengambil kesimpulan bahwa Changmin memang serius. “Waa~ indah sekali, tapi kenapa setengah kelopaknya gugur?”

“Karena aku–“

“Karena dia terus menggoyang-goyangkan buket ini sampai kelopak-kelopak rapuh itu rontok dengan cepat,” potong Changmin. Ia kemudian menarik paksa tangan Saera, menyeretnya kembali ke kamar.

Saera merebahkan tubuh di ranjang putih Changmin. Wajahnya merengut. “Kenapa seenaknya memotong ucapanku?”

“Karena kalau aku tidak melakukannya, Minhyuk akan mengira kalau aku sudah gila. Mana ada manusia normal yang makan bunga sepertimu?” cibir Changmin.

“Aku mau bilang kalau tadi aku tidak sengaja menjatuhkan buket ini di jalan sebelum kelopaknya banyak yang gugur~~~” ujar Saera membela diri. “Aku ini tidak bodoh. Aku tidak akan merepotkanmu dalam wujudku ini, aku bisa belajar dengan cepat apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan atau kuucapkan di depan keluargamu ini!”

Changmin tertegun, setengah takjub karena gadis itu sudah bisa membantahnya dan mengajaknya berdebat.

“Karena itu,” sambung Saera, “jangan menganggapku bodoh dan merepotkan..”

Sambil menarik napas panjang dan berkacak pinggang, Changmin memilih duduk di samping Saera. Lelaki itu mengulurkan jari kelingkingnya, “Maaf..”

Saera melirik jari kecil Changmin sejenak sebelum menautkan kelingkingnya sendiri. “Ah, Changmin-ah, aku bisa membantumu!” Changmin mengerutkan kening, bingung. “Itu, soal ayahmu, kenapa kau harus menemukannya, aku bisa mencari tahu dari Minhyuk Oppa!”

“Kau.. bisa?”

Saera mengangguk yakin kemudian menyerahkan buket lilynya pada Changmin. Gadis itu meninggalkan tuannya dan keluar dari kamar dengan cepat. Changmin melongo; tak yakin pada tindakan Saera. Ia memilih mengikuti gadis itu diam-diam.

***

“Saera?” Minhyuk menoleh saat melihat Saera terlihat riang menuruni tangga. Ia ikut tersenyum begitu gadis itu berjalan ke arahnya. Minhyuk menunjuk ruang kosong di sebelahnya. “Ada apa?”

Saera langsung duduk di samping Minhyuk. Gadis itu tersenyum walaupun dalam hati ia mencari cara bagaimana memulai pertanyaan pada Minhyuk. Sambil menggigit bibir, ia berkata, “Ada yang mau kutanyakan.”

“Soal?”

“Changmin-i,” sahut Saera. Entah benar atau tidak, tapi Saera sempat melihat perubahan raut wajah Minhyuk sekilas. “Aku.. diberitahu orang tadi, laki-laki lain di rumah ini, kalau aku harus membujuk Changmin supaya dia mau mencari ayah kandungnya. Apa.. kau tahu kenapa?”

Minhyuk langsung menautkan alis. “Kyuhyun hyung? Dia memberitahumu?”

Jadi namanya Kyuhyun, gumam Saera. “Iya. Tapi dia tidak sempat memberitahu apa alasannya. Jadi.. mungkin aku bisa bertanya padamu.”

“Kalau Kyuhyun hyung saja bercerita padamu, sepertinya tidak apa-apa kalau aku memberitahumu,” Minhyuk menganggukkan kepala.

Saera bersiap mendengarkan saat ia melihat Changmin berdiri di belakang Minhyuk. Gadis itu tersenyum simpul sementara Changmin hanya menanggapinya datar. Bukan apa-apa, Changmin memang tak mau mengakui bahwa gadis itu pintar.

“Changmin hyung.. bukan anak kandung ibunya –ibu yang dikenalnya seumur hidup itu bukan ibunya,” Minhyuk memulai ceritanya dan Saera yakin ia melihat Changmin membelalakkan mata.

“B-bukan anak kandung ibunya?”

Minhyuk tersenyum miris. “Kakek tahu hal itu lima tahun yang lalu, tepat sebelum Paman Shim meninggalkan rumah. Mungkin.. kakek marah pada paman, tapi malah melampiaskannya pada Changmin dan ibunya. Mereka diusir. Kakek tahu mereka pergi ke Osaka, tapi tak pernah berhasil memanggil mereka kembali.”

Saera menelan ludah sambil sesekali melirik Changmin. Dan ia tahu lelaki itu sudah tak fokus.

“Kuncinya hanya ada pada paman. Changmin hyung juga harus tahu siapa ibu kandungnya, kan?” ujar Minhyuk –lagi-lagi dengan senyum hambar. “Tapi kami belum bisa menemukannya. Mungkin Changmin hyung tahu tempat yang mungkin didatangi paman, tapi ia menolak bekerja sama dengan kami semalam.”

Tak ada respon yang bisa Saera keluarkan. Konsentrasinya terpecah sekarang; antara terus mendengarkan Minhyuk dan memeriksa kondisi Changmin.

Saera menggigit bibir saat melihat Changmin menaiki tangga dan kembali ke kamarnya. “Minhyuk oppa, apa tidak ada kabar soal ayahnya?”

“Tidak ada. Kyuhyun hyung juga belum mendapat kabar apa-apa,” jawab Minhyuk.

“Ng.. terima kasih sudah memberitahuku,” gumam Saera. “Aku.. akan membantu… sebisaku.”

Minhyuk belum sempat bertanya lebih banyak soal Changmin dari gadis itu dan Saera sudah buru-buru berjalan cepat kembali ke kamar Changmin. “Gadis itu perhatian sekali pada Changmin hyung..”

***

Saera berhasil membuka pintu. Gadis itu menemukan Changmin berdiri di tepi balkon kamarnya. Perlahan, ia mendekati tuannya itu. Saera belum tahu apa yang akan ia ucapkan pada Changmin, tapi sepertinya hal itu tak terlalu penting sekarang.

“Changmin-ah,” panggilnya lembut.

“Jadi hanya aku yang tidak tahu?” suara Changmin tersendat. Tenggorokannya seolah terbakar dari dalam.

Saera merasa matanya panas. Mendengar suara Changmin yang seperti itu justru membuatnya lebih sedih. Dadanya sesak. “Kita.. cari ayahmu ya?”

“Kenapa?” tanya Changmin putus asa. “Kenapa aku harus mencarinya?”

“Aku.. aku akan membantumu. Kita cari bersama-sama, begitu ayahmu ditemukan, kau bisa–“

“Cukup,” Changmin berbalik, memandang Saera lekat-lekat dengan tatapan kecewa. “Aku tidak mau. Dan kau, terserah kalau kau mau terus mengikutiku, tapi aku tidak akan mencari laki-laki itu. Aku juga tidak peduli pada orang-orang di rumah ini, jadi.. tinggalkan aku sekarang.”

Saera mengulurkan kedua tangannya dan memenjarakan wajah Changmin disana. “Tidak apa-apa. Tidak usah mencarinya juga tidak apa-apa. Aku sudah janji akan menemanimu, kan?”

“Y-ya! Aku tidak butuh siapapun apalagi..” Changmin menghentikan ucapannya. “dirimu.”

Baru saja Changmin akan mengucapkan kata-kata yang bisa membuat Saera sedih. Ia berhasil menahan lidahnya sendiri. Changmin melepaskan kedua tangan Saera dari wajahnya.

Changmin menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Aku akan kembali ke Osaka..”

=====================

46 thoughts on “Flories Tale [Two]

    • huwaaaa.. daebak oenni ^^. seru seru.. bikin penasaran aja
      tapi, aku baca FF ini lama banget. kudu baca yang part pertama. dah lupa ma alur ceritanya saking lamanya gak dilanjutin hehe :p

      untuk part selanjtnya jangan lama-lama ya oenni.. keburu lupa ^^

  1. ahh..konflik baru di mulai neh ceritanya???
    waahhh,,klo changmin ga suka saera,kasih ke minhyuk aja saeranya dia pasti mau..😀
    kyu suka ya ma hyori,tp blum mau ngaku..emmm bgtu kah?? *masih blank ma jalan cerita,jd msh nebak asal aja suka-suka*😄

  2. minhyuk kayaknya disini lebih keren deh..

    Hahahahaha

    kyu suka tuh sama hyori, tapi sayang hyorinya suka changmin.. *ngakak bahagia liat penderitaan kyu..

    Lah changmin pulang ke jepang,, gimana dong saeranya nanti ga jadi peri lagi..

    Kekeke

  3. msh bingung ama cerita’y, hehehe
    saera lucu amat, emg umur’y brp jd gak mau nyebut umur?

    minhyuk-hyori umur’y sama kan, tp kesan’y minhyuk yg magnae dsitu..🙂

  4. wohooo changminnie mulai suka sama saera? *naik”in alis
    ehm kyuhyun-ah… buruan nyadar trus tembak si hyori trus ntar kamu jadi bbek peliharaan hyori deh, hahaha :p

  5. It toh alsan changmin hrus nyari ayahnya ..
    tapi onn apa hubngan ny sm saera ? kok saera hrus bntuin changmin nyari ayahny sh ? #mianhe bnyk nany ..

    “perempuan milik changmin” hwaa sweetny ..

    Ps: poster ny luchu .

    • soalnya sebenernya kan misi saera sebelom jadi setengah manusia ini disuruh ama kakek changmin buat nemenin changmin nemuin ayahnya, gitu..🙂
      nyehehe~ onnie juga suka posternyahh. :*

  6. makin suka ama kopel saera-changmin *mian hyuk* hehehe
    wah.. jd ada kemungkinan saera brubah jd manusia ya??
    asek2..changmin bisa lega hehehehe

    kasian hyori ditolak, tapi kalau ga kek gitu kasian ntar kyu ga ada jodoh hehehe

  7. Aaaaaaaaa =.=a ap it? Onieee it kok gk ad kta tbc malah kepotong -_- #ya iylah biar nanti ga ad yg protes klu tbcny bikin pnasaran #plakk.. Hahahha XDD

    Oniee sumpahh si saera unyu” gmna gtu kyk aku😄 ahhaha~ #naris #dinjek wkwkwk..
    Uwaaa.. Disini hyori kasihann~ knp harus kecantol sma changmin dulu bru sma kyu.. Sabar ya eon~ #tb” sksd -_- hahahah.. Uwaaa.. Critanya seru bgt mamah eons stoberi dingkat mes #manggil seenak jidat.. Wkwkwk.. Aihh.. Smpe gergetan sndiri bcanya dr td guling” di tmpat tdur smpe jatuh -_- #kasihann~ aihh gaje out ahh.. Nice ff mes wkwkwk

    • Nyahahahaha~ saera unyu kaya kamu?😄 Berarti kita sama2 unyu dongs? XDD
      kamu tau, nak, onnie baca komen kamu malah beneran ngakak guling2 di depan lepi.. Apa pula itu MES?? -___-

      • wkkwkwkkw iy dong on😄 kita kn mamah ank wkkwkwkw :p wajar unyu kita on wkkwkw ,,, on ngakak guling”? ak udh loncat” msk kamar yesung (?) pas ngomen bgtu wkkwkw😄 mes it singkatan dr mamah eons stroberi on wkwkwk😄

        on mian jrg mampir -..- biasa drita ank sma pny guru kya soo man kya saya jrg bisa ol huhuhuhuh😥

      • eciyeee~ kita mamah dan anak?😄 *peyuk anak (?)
        tapi kenapa sepertinya satu keluarga kita bodor semua? gak mamahnya, gak papahnya (hyuk. xD), anaknya juga ikutan bodor.. *geleng2 pala*
        baguslah, nak.. berarti kita memang satu keluarga.. :’3

        nda papah, nak.. ini juga suda masuk waktu syibuk.. TT^TT

  8. Saera noona~~
    *dibakar*

    Changminnya menyedihkann..kesiann *peluk yuyun oppa*
    Jadii ehm..ahirnya juga entar changmin mau nyari bapaknya kan? Kan? Kan?

    Dan minhyuk..nantinya jangan jadi orang yg menyebalkan ya? Ya? Ya?

    Om epil uda operprotek begitu..uda suka kali ya,,🙂

  9. ;________; changmin oppa wae~ ? Kasian kan hyori_nya ditinggal demi saera *siap2 telen saera* :p

    Aww minhyuk *kedip2* ama noona yg ini aja mau ga ? /poke poke/

    Arrrrrr~ aku syukaaaaa T.T syuka karakternya kyu disini (ʃ⌣ƪ)

    • ih kalo gak gitu nanti hyo gak bisa bahagia ama kyu.. *kibas poni*
      gak mauuuu~~~ minhyuk sibuk ama noona yang ini, gak mau deket2 noona yang ituuu… -___-
      ciyeeeeehhh.. ada yang naksir bebek sekali lagi..❤

  10. Waaa udah baca dari kpan tpi baru sempet komen skrag! #mian
    Ihh BaChang nya kasian~ ayolah BaChang cari Ayah kamu ama Saera.. biar jelas semuaNya!Hhahaha
    BaChang agak cemburu juga ya ama Minhyuk?Itu Hyori ntarNya ama Bebep ya?Cieee #ehm

  11. Yoo~~~~~~….
    udh baca sejak jaman piraun ngojek tapi baru sempet kokomen…
    rame… rame.. lanjut…
    ayo Yoo semangat nulisnya /tebar stoberi/

    tragis banget nasip bang imin…
    jadi Hyori itu di jodohin ma imin tapi Kyu nya suka??? tumben Kyu bertepuk sebelah tangan… pantes aja tiap ngeliat imin bawaan kayak cewek lagi dapet sensitip terus hhhh

    • Teh Yeeeeoooo~~~~
      /pungut stlobeli/ Tapi ntar lagi yoo sibuks, teh.. pasti males2an nulisnya.. TT^TT

      nyehehehe.. lagi pingin bikin kyu menderita, pingin bikin hyori kegeeran ama kyu..😄
      eii~ kyu emang bawaannya sensi kalo gak dapet jatah PSP.. (?)

  12. Hmmmm…
    mulai muncul tanda” shela yg mau selingkuh neh..
    Poo mau ditaruh mana??
    Buat aku juga boleh… aku menerima co buangan sejenis Poo og /dicekek Poo+Yoo

    Hyori kasian amat..
    Ditolak mentah” gitu ma bang Chang..
    kalah pamor sama Saera tuh /digantung Nanda

    Ini ff bikin aku jungkir balik deh..
    terlalu banyak cast yg aku suka..
    Minhyuk, Changmin, Kyuhyun, n tentu saja Eunhyuk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s