DRAMALODY/Kibum

“SEOUL~~~ I’m coming again!” suara gadis berambut panjang itu membahana sesaat setelah ia keluar dari bandara Incheon. Yara, nama gadis itu, mengamit lengan lelaki yang berjalan di sampingnya. “Bum-ah, apa kau merindukanku?”

Kibum memutar bola mata sambil berusaha melepaskan pelukan Yara. “Naega wae? Lagipula kenapa kau hanya sebentar di Indonesia? Bukannya semester lalu kau selalu merengek minta libur?”

Yara tersenyum simpul dan memandangi langit pagi Seoul yang cerah. Pulang kampungnya kali ini memang menjadi liburan tersingkatnya sepanjang sejarah. Biasanya ia hanya akan kembali ke Seoul setelah dua minggu atau lebih, tapi baru sepuluh hari disana Yara sudah minta kembali ke Seoul.

Ini tahun ketiga Yara kuliah di Seoul University, jauh dari orang tua dan saudara-saudara laki-lakinya di Jakarta. Rasa cintanya pada negeri ginseng ternyata bisa membuatnya nekat mengambil pendidikan di Seoul. Lagipula beasiswa bukan hal yang bisa diabaikan, kan?

Kibum memerhatikan gadis yang masih tersenyum bodoh. “Jakarta sudah tidak menyenangkan?”

“Mana mungkin? Rumahku adalah tempat terbaik di dunia,” bantah Yara. “Kau sendiri, apa liburanmu sudah selesai? Kenapa memaksa menjemputku disini? Kau bilang nuna-mu baru kembali ke rumah?”

“Kenapa aku menjemputmu?” ulangnya. Kibum mencondongkan tubuh ke arah Yara. “Karena aku ingin. Lagipula aku tidak betah di rumah, jadi-“

Yara tersenyum mengejek. “Kau masih tidak pintar berbohong. Mana mungkin seorang Kim Kibum tidak betah di rumah?” ujarnya. Tapi melihat Kibum cemberut, ia tertawa. “Iya, iya, terima kasih sudah selalu menjemputku disini.”

“Lalu, kenapa kau pulang?” tanya Kibum lagi setelah mereka duduk di mobil Audi hitam –hasil pinjaman teman satu asramanya. Yang ditanya hanya senyum-senyum. Kibum menghela napas. “Drama?”

Mata Yara melebar. Gadis itu menoleh cepat ke arah Kibum. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Kibum memutar bola mata lalu memacu mobil pinjamannya menembus jalanan sepi bandara Incheon.

Yara Park; gadis asli Indonesia yang selalu bercita-cita menjadi seorang penulis, penggila drama Korea sejak ia masih SMA di Jakarta, dan gadis yang selalu menjadikan alur drama sebagai alur hidupnya. Tipe gadis pemimpi dengan kehidupan sulit di Seoul.

Diskriminasi bangsa adalah masalah rutin yang selalu jadi bahan pemikirannya. Orang Korea Selatan bukan orang yang mengagung-agungkan orang dari negara lain. Belum lagi sifat workaholic akut yang mendera masyarakat disana. Semua hal itu nyaris membuat Yara menderita lahir-batin.

Selalu ada happy ending di setiap drama..

Kalimat ala Yara Park itu selalu diingatnya. Bagi Yara, kalau ia tidak bisa menaklukan Seoul, tidak ada artinya ia berangkat kesana dan hidup sampai sekarang. Sifat yang bagus; optimis –walau kadang terkesan ambisius.

Kim Kibum tahu semua hal tentang Yara Park dari A sampai Z dan kembali ke A lagi. Sifat-sifat Yara itu gampang dibaca orang yang sudah sangat mengenalnya seperti Kibum. Sebenarnya Yara masih terhitung juniornya di kampus, tapi ia mengenal Yara bukan disana.

Di tahun pertama Yara masuk kuliah, ia dan Yara nyaris membuat keributan di sebuah toko kaset. Gadis itu sedang berburu dvd drama antik saat Kibum juga mencari benda yang sama dengannya. Seperti cerita drama percintaan pada umumnya, mereka beradu mulut tentang siapa yang melihatnya pertama kali, siapa yang menyentuhnya lebih dulu, dan lain-lain. Tapi sayangnya tidak ada adegan romantis pada mereka. Ia dan Yara langsung diusir keluar setelah membuat keributan.

Pertemuan kedua mereka terjadi di sebuah kafe yang sama-sama menampilkan teman pianis mereka. Tidak ada pertengkaran sepasang aktor dan aktris ala Full House, ia dan Yara malah cepat akrab karena sama-sama menyukai piano.

Selanjutnya? Tidak ada lagi adegan percintaan mereka. Yara menyukai bagaimana Kibum membuatnya tertawa saat ia sedang homesick. Gadis itu menyukai usaha keras Kibum untuk membuatnya betah di Seoul. Selama tiga tahun perkenalan mereka, Yara memberinya peran sebagai sahabat baik dari aktris utama sebuah drama –peran yang biasa diberikan pada seorang gadis.

Mungkin Yara lupa kalau Kim Kibum adalah seorang laki-laki.

Mungkin Yara juga lupa ada kisah cinta seorang sahabat dalam drama tertentu..

Kibum tersadar dari lamunannya saat Yara menegur. “Kau tahu Lee Donghae, aktor baru di drama KBS?”

“Lee Donghae?” ulang Kibum. Ia lalu menggertakkan gigi. “Tidak..”

—-

Yara menggembungkan pipi dan cemberut saat melihat Kibum duduk berhadapan dengan seorang laki-laki yang hanya dilihatnya melalui layar televisi. Laki-laki itu –Kim Kibum- sedang duduk bersama dengan Lee Donghae. Tidak bisa dianggap sebuah kebetulan, karena ia bisa melihat keduanya cukup akrab.

Setelah Lee Donghae bangkit dari kursinya dan keluar kafetaria, Yara buru-buru duduk di tempat Donghae –tepat di depan Kibum. “Apa itu?”

Kibum menautkan alis sambil memandangi Yara bergantian dengan gelas plastik yang dipegangnya. “Ini jus jeruk, kau mau?”

“Bukan itu,” ujar Yara sambil mendesah berat. “Kau bilang kau tidak tahu Lee Donghae, tapi tadi kau duduk bersamanya, mengobrol, dan tertawa seperti orang bodoh. Kau mengenalnya, kan?”

“Kenal,” Kibum mengangguk singkat lalu kembali menyeruput jus jeruk miliknya.

Yara membelalakkan mata. “Lalu kenapa bohong padaku?”

“Aku tidak bohong,” jawab Kibum santai, tapi kemudian ia tertawa nyaring. “Kemarin kau tanya apa aku tahu Lee Donghae, kan? Aku tidak tahu dia, aku kenal dengannya.”

“Apa bedanya, Kim Kibum yang baik?” Yara tak terima. “Kau menyebalkan. Sejak liburanku kemarin, aku resmi mengangkat diri sebagai penggemar no.1 Lee Donghae, kau tahu? Aku tahu dia senior di kampus ini, makanya kupikir kau bisa membantuku berkenalan dengannya..”

Kibum meninggalkan Yara yang masih bersemangat bercerita. Ia membuang gelas plastik di tangannya ke tempat sampah lalu menuju taman. Tanpa perlu menoleh ia tahu Yara mengikutinya dari belakang.

“Kenapa malah pergi? Aku belum selesai,” omel Yara. “Apa dia satu jurusan denganmu? Atau mungkin kau tahu dimana rumahnya?”

“Kau tahu rumahku, kan?” Kibum mendadak berhenti, membuat Yara menabrak punggungnya.

Yara mengerutkan kening, bingung. Kemudian ia mengangguk. “Apa rumahnya dekat dengan rumahmu? Berarti dia tetanggamu?”

“Rumahnya ya rumahku,” sahut Kibum. “Dia sepupuku..”

—-

Kibum masih berdiri di depan pintu kamar Yara sementara teman-teman Yara mulai memandanginya curiga. Lelaki itu sempat mengomel dalam hati lalu buru-buru mengeluarkan ponsel layar sentuh dari saku jaketnya dan mulai menelepon.

Ya! Kau ada di kamar, kan? Kenapa tidak membuka pintu untukku? Aku sudah berdiri sepuluh menit lebih disini,” tanya Kibum setelah seseorang di seberang sambungan menjawab teleponnya. Ia lalu menghilangkan ekspresi marahnya. “Kau menangis? Ada apa? Buka pintunya sekarang..”

Pintu terbuka dan Yara menampakkan wajah sembabnya. “Sudah lama di luar? Masuklah..”

Kibum menurut. Ia masuk ke kamar asrama Yara dan mengikuti gadis yang kembali duduk di sofa mungil yang ada di depan televisi. Tadinya ia penasaran –nyaris gila- karena mendengar suara serak dan melihat wajah sembab Yara, tapi ketika melirik layar televisi, Kibum membuang rasa penasarannya jauh-jauh.

“Lihatlah.. akting Donghae sunbae sangat meyakinkan,” ujar Yara, masih dengan suara parau. Ia mengambil selembar tissue dari kotak di atas mejanya lalu menyeka air matanya yang sudah keluar lagi. “Drama ini sangat menyedihkan.. masih episode ketiga, tapi aku sudah menghabiskan sekotak tissue.”

Kibum memutar bola mata. “Jadi drama ini yang membuatmu tidak betah di Jakarta?”

“Bukan,” sahut Yara cepat. Tapi kemudian ia meralatnya, “Maksudku bukan sepenuhnya karena drama ini, tapi karena kudengar Donghae sunbae, yang ternyata adalah sepupumu, mau mengadakan pertunjukkan mini untuk acara seni tahunan kampus. Dia kan salah satu pengisi OST drama ini, jadi aku ingin melihat dia bernyanyi secara langsung~~”

Tak ada respon dari Kibum. Saat ini ia malas menanggapi apapun tentang Lee Donghae yang keluar dari mulut Yara. Gadis Indonesia ini memang suka tenggelam dalam dunia dramanya, Kibum bisa mengerti yang satu itu, tapi saat Yara mulai membangga-banggakan orang yang jelas-jelas dekat dengannya, Kibum merasa tak nyaman.

“Apa yang disukainya?” tanya Yara tiba-tiba.

Kibum mengernyitkan alis, bingung sesaat. Tapi kemudian ia mengerti. “Donghae? Dia suka wanita, laut, dan kadang menyanyi.”

Tahu-tahu Yara menepuk tangannya. “Wah.. suaranya memang sangat bagus. Aku tidak sabar untuk melihat penampilan langsungnya!” serunya. Tanpa menyadari raut tawar Kibum, gadis itu terus berceloteh, “Gadis seperti apa yang jadi idamannya?”

Wae? Kau mau jadi gadis idamannya?” sindir Kibum. “Kau harus terlihat seperti Ha Jiwon atau Lee Minjung dulu baru bisa dilirik Donghae.”

“Sinis sekali,” Yara berkomentar pelan. “Jangan begitu pada sepupumu sendiri.”

Kibum mendengus tanpa suara. Sebenarnya ia heran. Saat menyebutkan apa yang disukai Donghae tadi, ia sudah menempatkan sifat yang paling dibenci tiap gadis; suka wanita. Secara kasar Kibum mengatakan Donghae itu laki-laki yang bisa mendapatkan gadis lebih dari satu. Tapi entah kenapa gadis di depannya ini tidak menangkap ucapannya yang satu itu.

Satu-satunya hal yang tampaknya berhasil menempel di kepala Yara hanya ‘Donghae suka menyanyi’.

“Rambut diikat ekor kuda, kaki panjang, dan memakai rok,” ucap Kibum dengan setengah kesal. “Itu ciri-ciri fisik yang harus kau miliki, tapi melihatmu yang suka seenaknya menghancurkan fashion, kurasa kau bisa langsung dieliminasi.”

Yara berdecak lalu mematikan televisinya. “Di setiap drama, semua pemeran utama gadisnya selalu berusaha keras mencari perhatian sang aktor, semua aktris itu pantang menyerah!”

“Iya, iya,” Kibum mengalah. Diam-diam ia berbisik. “Tapi ini bukan drama..”

—-

Alunan lagu salah satu OST drama terdengar melalui headphone putih Yara. Gadis itu bersandar di batang pohon oak raksasa yang berdiri kokoh di pusat taman kampusnya. Mata Yara terpejam, seolah jiwanya sudah dibawa terbang jauh oleh OST drama di telinganya. Kalau sudah begini Yara akan berpikir seolah-olah ia adalah pemeran utama dalam drama itu.

Penggila drama Korea ini selalu gampang terpaku pada alur dan konflik pada tiap judul drama yang ditontonnya. Yara tenggelam disana sampai lupa kalau ia juga punya dunia nyata. Karena itu kadang beberapa temannya menganggap Yara aneh.

Yara aneh dalam ukuran yang normal –menurutnya sendiri. Ia tidak punya pacar, tidak di Jakarta tidak pula di Seoul. Ia hanya punya Kim Kibum, beberapa teman asrama, dan tentu saja tumpukan kaset drama Korea di kamarnya.

Ya! Bangun!” sebuah suara yang tak asing membuat Yara meninggalkan dunia dramanya dan berusaha kembali ke dunia nyata.

Yara membuka mata perlahan lalu menguap lebar-lebar. Butuh beberapa detik untuknya mengomel. “Kim Kibum~ berhenti mengganggu tidur siangku! Apa kau tidak tahu semalam aku mengerjakan tugas sampai tengah-“ Mata Yara terbelalak saat tahu Kibum tidak sendirian. “Ah! D-donghae sunbaenim?”

Annyeong,” sambut Donghae riang. Sepertinya ia sudah mendapat hiburan gratis dengan melihat wajah seorang gadis yang bangun tidur.

Tubuh Yara membeku. Ia bahkan tidak bisa membalas salam Donghae. Yara berniat memukul pipinya sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi, tapi kalau ia melakukannya dan ternyata ini memang bukan mimpi, ia tidak tahu apa ia sanggup menahan malu sekali lagi.

Yara menarik lengan Kibum dan menyeret lelaki itu menjauh dari Donghae. “Apa yang kau lakukan?”

“Apa yang kulakukan? Tentu saja mengenalkanmu pada Lee Donghae, dia orang yang akan bekerjasama denganmu,” jelas Kibum. Sebenarnya ia sendiri sengaja membuat Yara terlihat kacau sekacau-kacaunya di depan Donghae.

“Kerjasama apa?” tanya Yara bingung.

Kibum merengkuh kedua sisi pipi Yara dan mendekatkan wajah gadis itu ke arahnya sendiri. “Kau akan bermain piano di acara seni tahunan, kau pura-pura tidak tahu atau pura-pura bodoh?”

Sesaat tadi Yara merasa wajahnya panas karena jaraknya dan Kibum hanya terpisah tiga senti. Yara berdeham. “Piano? Aku?” ulangnya sendiri. Tapi kemudian ia ingat sesuatu. “Benar! Aku sendiri yang iseng mengirimkan video permainan pianoku dua bulan yang lalu! Memangnya aku benar-benar terpilih?”

“Lalu kau pikir untuk apa aku membawa Donghae kesini?” keluh Kibum.

“Yara Park, kan?” tahu-tahu Donghae berdiri di belakang Yara, membuat gadis itu mundur dan bersandar pada Kibum. “Aku Lee Donghae. Mohon bantuannya..”

Yara tersenyum kaku. Seluruh urat sarafnya beku dan darahnya berkumpul di kepala, membuat wajah Yara merah padam. Kibum hanya memutar bola mata sambil membungkukkan badan Yara. “Setidaknya bilang mohon bantuanmu juga, kan?”

“Besok kita latihan, di tempatku.” Donghae tertawa melihat Yara yang setengah beku lalu menambahkan, “Maksudku, rumah Kibum.”

—-

Kibum duduk diam di sofa cokelatnya saat Yara masih terpaku pada grand piano warna putih gading yang terletak di tengah-tengah ruang keluarga Kim. Gadis itu mengusapnya lembut, seolah piano itu adalah benda hidup yang bisa merasakan sakit. Kibum tahu Yara bisa bermain piano. Tidak, gadis itu sangat mahir memainkannya.

Kedua mata Kibum tak berhenti mengikuti tiap lekuk gerakan tubuh Yara. Ia juga hanya tersenyum samar saat melihat Yara menarik kursi dan duduk di depan piano.

Alunan melodi merdu membahana di rumahnya yang sepi. Yara mulai menarikan jemarinya di atas tuts piano dan membiarkan lagu itu memanjakan telinga Kibum. Satu demi satu alasan Kibum mengagumi gadis Indonesia itu terpapar jelas.

Yara Park adalah gadis tertutup, tapi untuk orang-orang di dekatnya ia adalah gadis yang menyenangkan. Semua orang baru yang di dekatnya mungkin bisa cepat merasa bosan dengan kehadiran Yara. Tapi untuk beberapa orang lain, Yara adalah obat penenang yang tak terbatas.

Yang Kibum tahu, Yara lebih suka menghibur orang lain daripada menampakkan kesedihannya sendiri. Yara suka berceloteh tentang kehidupan ala drama favoritnya, tapi sebenarnya ia juga ingin hidup di dunia nyatanya dengan banyak teman dan seorang lelaki sebagai pacarnya.

“Berhenti menatapnya begitu, kau seperti seorang psikopat,” sindir Donghae yang tahu-tahu sudah duduk di samping Kibum.

Kibum mendengus dan mengalihkan pembicaraan. “Darimana saja kau? Tidak cuma mencari sarapan, kan?”

“Pintar! Aku sengaja pulang lebih lama untuk membuatmu bisa berdua saja dengan gadis itu,” Donghae menunjuk Yara dengan dagunya. “Tapi sepertinya kau malah diam disini tanpa melakukan apa-apa. Kurasa gelar Pangeran itu hanya bualan.”

“Bicara apa kau ini?” elak Kibum. Ia tidak pernah bilang pada Donghae kalau ia tertarik pada Yara. Mungkin lelaki di sampingnya ini bisa tahu dari bahan pembicaraannya yang hanya berpusat pada gadis Indonesia itu.

Donghae tersenyum menyeringai. “Mau kuberi tahu caranya?”

Mwoya? Aku tidak mau tahu cara apapun darimu,” Kibum mengalihkan pandangannya dari Donghae dan kembali memandangi punggung Yara.

“Oh? Kau tidak menyukai Yara Park? Kalau begitu biar aku yang maju dan mendekatinya, bagaimana?” ujar Donghae. Sebenarnya ia sedang menggoda sepupu kesayangannya itu, tapi Kibum juga tidak berusaha melarangnya. “Baiklah.. jangan menyesal ya.”

Kibum membelalakkan mata. “Ya! Lee Donghae, neo-“

Sunbae sudah datang?” Yara menghentikan permainan pianonya. Ia berdiri dan tersenyum lebar. “Mau mulai latihan?”

—-

Kafetaria kampus sepi karena ada acara di gedung aula, tapi Kibum menemukan Yara duduk bertopang dagu di depan televisi kecil yang ada disana. Lelaki itu meliriknya sekilas lalu menghela napas berat. Drama lagi.

Mwohae?” tanya Kibum sambil menarik kursi di samping Yara.

Yara menunjuk layar televisi tanpa suara. Kibum mengikuti arah telunjuknya. Drama Donghae sedang diputar. Kibum melongo lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis Indonesia yang hidupnya dipenuhi drama Korea ini bisa-bisanya meninggalkan acara kampus hanya demi satu episode drama Donghae. Benar-benar tidak bisa dipercaya..

“Bum-ah, apa kau pikir aku bisa jadi gadis dalam drama itu?” tahu-tahu Yara bertanya sambil menunjuk aktris yang ada dalam drama Donghae.

Kibum melihat layar televisi agak lama, tanpa berkedip, dan tiba-tiba kepalanya memutar adegan drama Donghae dengan jelas. Tapi bedanya, gadis yang sedang dipeluk Donghae itu adalah Yara. Adegan itu terlihat makin jelas dan terasa makin nyata. Dalam hitungan detik, Donghae mendekatkan wajahnya ke arah Yara lalu-

“STOP! Berhenti! Kau tidak bisa melakukan itu!” Kibum berteriak sambil menutup mata dan tangan yang meronta-ronta.

“Apanya yang ‘stop’?” tanya Yara santai.

“Kenapa kau menyukai Lee Donghae?” tiba-tiba Kibum balas bertanya. Selama ini Yara Park yang ia kenal hanya menyukai aktor dari drama Korea, ia tidak pernah benar-benar menunjukkan gejala nyata pada lelaki yang juga nyata.

Yara tampak berpikir sambil kembali menopang dagunya di atas meja. “Karena dia tampan, baik, dan keren.”

“Kau menyukai seorang Lee Donghae atau tokoh dalam dramanya?” tuntut Kibum. “Kalau kau hanya menyukai perannya, lebih baik jangan tumbuhkan perasaan apa-apa padanya. Karena satu kali kau merasakan cinta, kau akan susah menghilangkan rasa itu. Jadi, berhentilah sekarang..”

Yara membuang muka lalu membentak Kibum. “Apa kau pikir aku terlalu kecil untuk jatuh cinta?”

“Tidak. Usiamu kan sudah 20 tahun,” ucap Kibum tenang. “Kau hanya terlalu labil dalam urusan seperti itu. Apa kau pernah benar-benar menyukai seseorang? Aku pernah. Sejak usiaku 14 tahun aku sudah mencium seorang gadis dan menjadikannya pacarku. Waktu usiaku 17 tahun aku berhutang pada temanku hanya untuk membeli kado untuk pacarku saat berkencan.”

Untuk beberapa detik Yara melongo. Kemudian gadis itu mendengus. “Mwoya~ kau sedang menjelaskan soal merasakan cinta atau malah membanggakan julukan pangeran-wanna-be-mu?”

“Setidaknya aku punya lebih banyak pengalaman daripada dirimu, karena itu kau harus memikirkan semuanya sebelum kau jatuh cinta-“

Yara menghela napas berat lalu bangkit dari kursinya. “Dalam drama, jatuh cinta dan merasakan apa itu cinta bukan hal yang bisa kau pikirkan. Cinta dan segala hal tentangnya itu bukan sesuatu yang bisa diantisipasi. Dalam drama, semua orang yang-“

“Drama lagi? Sebenarnya berapa usiamu? Apa selama ini kau pikir dirimu adalah peran utama dalam sebuah drama Korea yang butuh rating penonton?” cecar Kibum.

“Sebenarnya apa masalahmu? Kenapa baru sekarang protes soal dunia dramaku? Tidak usah peduli pada hidupku!” Yara mempertegas ucapannya sebelum meninggalkan Kibum yang masih duduk diam di kafetaria.

Kibum kembali memandangi layar televisi mungil di depannya. Ia tidak berani melihat punggung Yara yang menjauh darinya. “Masalahku?” ulangnya. “Masalah terbesarku adalah kau, gadis bodoh..”

—-

Yara menarik napas panjang sambil berdiri tegap di depan pagar rumah Kim Kibum. Kalau bukan karena Lee Donghae yang minta latihan di rumahnya, ia tidak akan pernah mau ke  rumah Kibum, apalagi kalau sampai bertemu dengan lelaki itu. Walaupun enggan, Yara tetap melangkahkan kakinya.

Annyeong,” sambut Donghae di depan pintu. Lelaki itu memamerkan senyuman manis untuk Yara. “Masuklah, kita hanya berdua disini, tidak apa-apa, kan?”

Yara mengerutkan kening. “Berdua? Kibum.. tidak disini?”

“Tidak, dia ke rumah sakit.” Donghae menyahut santai lalu mempersilahkan Yara masuk ke dalam. Setelah menyuruh Yara duduk di sofa ruang tamu, Donghae menuju dapur. “Pengurus rumah kesayangan kami sedang sakit, jadi kami bergantian menjaganya. Mau jus atau air mineral?”

“Apa saja, sunbae,” jawab Yara.

Detik berikutnya ia sudah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu. Entah sudah berapa lama ia mengenal Kibum sampai ia tak sadar kalau lelaki itu tak tinggal bersama orangtua dan nunanya. Sekarang pengurus rumah yang memang sudah tua itu sedang sakit.

Kibum pasti kesepian, pikir Yara. Tapi kemudian ia buru-buru menyingkirkan pikiran itu. Pangeran-wanna-be sepertinya mana mungkin kesepian. Yara mendadak kesal sendiri. Pangeran-wanna-be dan semua teori Kibum soal cinta membuat Yara kesal.

Donghae kembali dan meletakkan segelas jus jeruk di atas meja. Ia memilih duduk agak berjauhan dengan Yara. “Kau dan Kibum sedang tidak rukun ya?”

“Eh? Tidak,” sahut Yara cepat. “Memangnya dia bilang apa?”

“Oh.. kalian benar-benar sedang bertengkar? Anak bodoh itu tidak bilang apa-apa, hanya selalu marah-marah di rumah,” jelas Donghae. “Kalau dia marah tanpa alasan, itu berarti dua hal.”

Yara diam dan mencoba mendengarkan.

“Masalah dance clubnya dan…,” Donghae meneguk jus jeruk dalam gelasnya. “Kau.”

“Aku? Naega waeyo?” tanya Yara. “Dia itu suka sekali membuat orang kesal dan marah-marah, dia orang yang sulit dimengerti. Kadang menyenangkan, lucu, dan bisa diandalkan, tapi kadang bisa jadi menyebalkan, menyusahkan, dan sangat kekanak-kanakan!”

Donghae melongo sesaat lalu terkekeh nyaring. “Wah.. kalian berdua benar-benar lucu! Kau juga menyukainya ya?”

Mwo? Apa sunbae sedang mencari masalah denganku?” tuntut Yara. “Aku tidak menyukainya, aku menyukai.. sunbaenim.”

“Aku? Naega wae?” Donghae kembali melongo dan nyaris menyemburkan jus jeruk yang baru saja diteguknya. Kemudian ia menelan ludah dan tersenyum kaku. “Kalau Kibum tahu, dia bisa membunuhku. Apa kau tidak tahu kalau dia menyukaimu? Ah! Tentu saja kau tidak tahu, dia bahkan tidak pernah bilang apa-apa padamu. Walaupun kau bilang kau menyukaiku, kurasa kau berbohong.”

Yara mengerutkan kening lalu mengerjap-ngerjapkan mata. “Kenapa semua orang bertingkah seolah paling mengerti apa yang kurasakan padahal aku sudah bicara jujur?”

Neo.. baboji? Kau sadar tidak sejak pertama kita latihan bersama selama hampir seminggu semua yang kau bicarakan hanya tentang Kim Kibum?” tanya Donghae.

Untuk beberapa saat Yara tampak berpikir. Ia memang sering latiPark dan sesekali mengobrol dengan Donghae, tapi soal membicarakan Kibum tiap saat, ia sendiri tidak yakin. Lagipula untuk apa ia membicarakan Kim Kibum dengan sepupunya sendiri?

“Dia juga sama,” ucap Donghae sambil tersenyum.

“Eh?” Yara meletakkan kembali gelas jusnya dan memusatkan perhatiannya pada Donghae. “Dia.. bilang apa?”

Donghae menyeringai jahil lalu menenggak jus jeruknya sampai habis. “Kau penasaran, kan? Kau ingin tahu apa yang dikatakan orang yang kau sukai tentangmu? Kalian sangat lucu.”

“Sudah kubilang aku tidak menyukainya. Aku menyukai Donghae sunbaenim,” ucap Yara lagi. “Siapa yang bisa menyukai Pangeran-wanna-be level bawah seperti Kim Kibum? Aku sudah cukup sial menjadi sahabatnya, bahkan sekarang dia bilang aku belum pantas untuk jatuh cinta. Memangnya aku anak kecil?”

“Benar. Kau masih kecil, tidak mengerti apa-apa, dan sudah terlalu lama hidup dalam dunia dramamu,” suara Kibum terdengar dari pintu masuk utama. Lelaki itu menatap tajam ke arah Yara dan Donghae. “Mau sampai kau memelihara perasaan yang tawar itu, ha?”

Yara bangkit dari tempatnya dan berjalan cepat sampai ke depan Kibum. Tinggi tubuhnya memang lebih rendah dari lelaki itu, tapi ia mengabaikannya. “Jangan bicara seolah-olah kau tahu bagaimana rasanya cinta.”

“Cinta bukan seperti drama romantis yang selalu terasa manis,” ujar Kibum. “Cinta itu bukan sebuah drama yang hanya bisa ditonton dan ditunggu kelanjutan episodenya. Cinta itu sesuatu yang harus dirasakan dan dikejar. Cinta itu tidak semu karena semua orang bisa merasakannya.”

Kedua pasang manik mereka bertemu, saling berpandangan tanpa ada minat melepas satu sama lain. Definisi dan penjelasan soal bagaimana rasa cinta sudah membuat Yara tak bisa melepaskan pandangannya dari Kibum.

“Apa kalian yakin kalian sedang tidak bermain drama romantis sekarang?” tegur Donghae tiba-tiba.

Yara buru-buru memalingkan wajah dan menelan ludah. Ada sedikit rasa aneh yang merambat menggerayangi perutnya saat tadi memandang wajah sahabatnya. Ia mendengus di depan Kibum dan tersenyum pada Donghae. “Sunbaenim, latihan hari ini dibatalkan dulu ya? Aku.. aku mau pulang.”

“Oh? Terserah kau saja,” ucap Donghae sebelum Yara berjalan melewati Kibum yang masih berdiri di tepi pintu. Donghae menyikut dada Kibum pelan. “Kau bodoh ya? Dia sudah jelas menyukaimu, tidak bisakah kau tadi langsung memeluknya lalu mencium keningnya?”

Kibum memutar bola mata. “Kau pikir ini dramamu?” keluhnya. “Lagipula siapa tadi yang tiba-tiba merusak suasana?”

Mwo?” Donghae mendengus perlahan. “Jadi barusan salahku?”

—-

Beberapa hari setelah itu Kibum sama sekali tidak melihat Yara dimanapun. Tidak di kampus atau gedung asramanya. Gadis itu juga sama sekali tidak mencoba menghubunginya. Kibum menarik napas berat. “Dia benar-benar marah..”

“Tentu saja dia marah! Kau bilang dia masih kecil sementara kau terus memberi kuliah gratis soal cinta dan lain-lain, bagaimana dia tidak marah?” Donghae duduk di samping Kibum sambil mengomel.

Kibum menghela napas lalu memandangi rumput di dekat sepatunya. Bahkan untuk membalas ucapan sepupunya pun ia sudah tidak bisa. Semua ini gara-gara gadis Indonesia penyuka drama itu. Semua ini gara-gara Yara Park..

“Kau sangat menyukai gadis itu ya?” tanya Donghae jahil

“Mungkin. Mungkin iya, mungkin tidak,” sahut Kibum. Suaranya malah terdengar tidak yakin. Isi kepalanya sekarang hanya gadis drama itu. “Mungkin iya aku menyukainya, tapi mungkin juga aku sudah mencintainya.”

Donghae melongo sesaat lalu bertepuk tangan. “Wah.. Yara Park mengagumkan!”

“Berhenti menggodaku,” Kibum mencibir dan kembali fokus pada layar ponselnya. Benda tipis itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berdering padahal pemiliknya sangat menunggu dering panjang atau sekedar suara denting pesan dari sana.

“Yara sedang di Jakarta. Dia pulang kemarin lusa. Katanya neneknya disana sedang sakit dan orangtuanya menyuruhnya pulang lebih cepat,” jelas Donghae.

“A-apa kau bilang?” tanya Kibum.

Donghae mengerutkan kening. “Kau tidak dengar? Aku bilang Yara sedang di Jakarta, neneknya sakit-“

“Bukan itu! Darimana kau tahu? Kenapa dia memberitahumu dan bukan aku?” Kibum mulai mencengkram kemeja Donghae. “Aish.. gadis gila itu! Memangnya dia sudah lupa nomor ponselku sampai harus menghubungi pria genit sepertimu? Dia tidak akan selamat!”

“Kenapa marah sekali? Tenanglah, aku tahu dari kakak kelasnya yang menggantikan tugasnya sebagai pianisku,” ucap Donghae sambil terkekeh. “Ternyata aku bisa membuatmu cemburu.”

Kibum buru-buru berdeham dan mengubah ekspresi wajahnya. Sesaat tadi ia pikir Yara sudah benar-benar jatuh pada Lee Donghae. Kalau gadis itu memberi kabar pada lelaki selain dirinya, Kibum rasa ia bisa gila.

“Kapan dia kembali?” tanya Kibum. “Ingatkan aku untuk bilang pada gadis itu kalau aku rela menjadi aktor drama murahan untuk memuaskan dunia dramanya.”

Donghae tersenyum lebar sambil memandang langit dan berpikir sejenak. “Dua minggu lagi..?”

—-

@Indonesia

“Cinta bukan seperti drama romantis yang selalu terasa manis,” ujar Kibum. “Cinta itu bukan sebuah drama yang hanya bisa ditonton dan ditunggu kelanjutan episodenya. Cinta itu sesuatu yang harus dirasakan dan dikejar. Cinta itu tidak semu karena semua orang bisa merasakannya.”

Yara mengulang-ulang ucapan Kibum dalam kepalanya selama ia di rumah. Belakangan ini ia bahkan hanya suka melamun sebelum tiba-tiba wajah Kibum muncul di matanya.

“Aku pasti sudah gila,” gumam Yara pelan. “Tapi.. dia benar.”

Kepala Yara memutar kembali semua ingatan tentang Kim Kibum. Lelaki itu adalah satu-satunya orang yang rela meninggalkan kelas hanya untuk mencari Yara yang sering membolos demi sebuah episode drama Korea.

Yara tersenyum lebar. “Kenapa aku harus marah saat kau bilang aku memang masil labil dalam hal rasa? Kau benar, aku mati rasa soal cinta. Tapi aku tidak sebodoh itu, kau tahu? Aku pernah jatuh cinta pada Hyunbin dan Kimbum!” Tapi kemudian ia meralatnya, “Baiklah, itu bukan cinta..”

“Serem ah,” keluh Mama Yara. “Kenapa ngomong sendiri, Ra? Pakai bahasa Korea pula, besok kamu sudah balik kesana, jangan ngomel sekarang dong.”

“Ma, kalau Yara mikirin satu cowok, ngebicarain satu cowok ke cowok lain, pokoknya kemana-mana selalu tentang cowok itu,” Yara memilin-milin rambut panjangnya. “Yara engga gila, kan?”

Mamanya tertawa lalu duduk di samping Yara. “Yara naksir sama cowok Korea ya?” tanyanya. “Kalau seperti itu kasusnya, berarti ada dua kemungkinan, Sayang. Satu, kamu dijampi-jampi alias dipelet. Tapi kayanya orang Korea engga kenal pelet ya? Ya berarti kamu lagi jatuh cinta.”

“Jatuh…,” Yara mengulangnya pelan. “Cinta..?”

—-

@South Korea

Yara melangkah keluar bandara sambil menarik napas panjang. Ia lega sudah kembali ke Korea Selatan dan sekarang ia hanya ingin bertemu Kim Kibum. Kalau Yara memang jatuh cinta padanya, paling tidak Yara harus mengatakannya.

“Kim Kibum, tunggu aku,” gumam Yara sebelum memanggil taksi.

Rumah Kibum dan Donghae masih sama seperti sebelumnya; sepi. Yara memberanikan diri membuka gerbang dan berhenti di depan pintu masuk utama rumah keluarga Lee. Beberapa kali gadis itu menelan ludah dan menyemangati diri sendiri.

Belum sempat Yara mengetuk pintu, Donghae sudah muncul di depannya. “Oh, Yara Park? Kau sudah kembali? Maaf, aku tidak bisa menemanimu, aku buru-buru.”

Kepala Yara mengangguk semangat. “Tidak apa-apa. Sunbae tahu dimana Kibum?”

“Kibum..?” ulang Donghae. Raut wajahnya berubah sedih. “Aku mau ke pemakamannya sekarang, kau.. mau ikut?”

“P-pemakaman?” Yara membelalakkan mata dan mengulang ucapan Donghae, seolah tak yakin dengan indera pendengarannya sekarang. “Apa yang terjadi? Pemakaman apa? Dimana Kim Kibum?”

Donghae menelan ludah dan terus menundukkan kepala. “Kau akan tahu kalau kau ikut denganku.”

Yara tidak bisa berpikir. Ia tak mau menolak ajakan Donghae. Otaknya berusaha merangkai rentetan perkataan Donghae dan Yara menolak untuk menyimpulkannya. Pemakaman.. Kibum?

—-

Lee Donghae tidak bisa berhenti tertawa saat melihat Yara sudah menangis selama perjalanan dan makin sesenggukan saat berlutut di depan peti kayu yang dikelilingi banyak orang. Yara sendiri masih terlihat syok dengan lelucon Donghae yang menyedihkan. Ia tak menunjukkan emosi apapun di wajahnya.

Mianhae, kalau tidak begitu kau tidak akan mengakui rasa cintamu pada Kibum bodoh itu,” ucap Donghae sambil menaPark tawa.

Yara mengusap air matanya lagi. “Tapi sunbaenim keterlaluan! Kenapa bercanda seperti ini?!”

“Apa kau akan sesedih itu kalau aku mati?” tanya Kibum yang berdiri di samping Yara. Ia memang sempat marah saat sepupu konyolnya itu menjadikan kematiannya sebagai bahan lelucon, tapi saat mendengar Yara bilang ia menyukainya, rasa marah Kibum lenyap entah kemana.

“Bodoh,” cibir Yara singkat. “Ini pemakaman pengasuhmu, jangan merusaknya dengan pertanyaan bodoh..”

Kibum tersenyum kecil. “Kau sudah tahu rasanya cinta?”

“Tidak tahu, tidak mau tahu!” tegas Yara. Ia benar-benar kesal sudah dijadikan lelucon Lee dan Kim bersaudara. “Tahu begini aku tidak akan mau kembali kesini. Lebih baik aku pindah kuliah ke Jakarta!”

Tanpa suara, Kibum meraih tangan Yara dan menggenggamnya erat. “Jangan kemana-mana. Aku belum selesai denganmu. Kau tahu tidak, drama kita bahkan belum tayang di televisi.”

Yara mendengus geli. “Rasa cinta itu tidak sama dengan cerita drama Korea..”

-F I N-

—————————————-

Kya.. kya.. kyaa… (?)
Another Yara’s bday~~~ Hepi bday, jagiyaaaaa… ^3^

Ini FF suda agak lama, tinggal ganti nama doang, mudah2an nda ada typo yahh~ *bow*

51 thoughts on “DRAMALODY/Kibum

  1. Kyaaaaa kibum unyuuu :3 (?)
    untung si hae gasuka sama yara! kekeke
    jadi pengen sekolah ke korea ._. kali dapet cowok kaya kibum ._.

    Oh iya, kemaren nanya namkor ku ya shel? Kekeke song je hwa imnida xD

  2. wah, onnie kira kibum’y bener2 meninggal…
    donghae usil banget..

    tumben kibum byk ngomong…
    tp lbh baek drpd dy tetep pendiam, hehe

    byk typo shel..
    sempat bingung bc’y..🙂

  3. ada yang typo cantik, kata yg ada ‘han’ semua keganti jadi ‘park’😉
    mungkin ke replace all waktu mau ganti namanya Yara.
    ceritanya simple, ringan tapi ngalir,
    bikin yg baca senyam senyum xD

    for birthday girl,
    happy birthday, selamat menempuh hidup sebagai (calon) mahasiswa ^^
    semoga sehat, sukses, selalu~~
    semoga langgeng ama kibum & shela (?)😄

  4. Honey bunny sweety~
    Kenapa “han” pada kata latihan sama murahan jadi “park” ? Jd latiPark sama muraPark..🙂
    Typo ya?
    Kejadian langka nih tulisan shela ada typo nyaa.. *djigg*

    Sedikitt cemburu saya bacanya..ehehe..
    Bumpa bias pertama kali waktu aku tau suju..kkk~~
    *diinjek heechul ngungkit2 masa lalu*

    Haahh…om ikan jail bgt..heuheu..

    Yaranya gak peka sii..jadi aja om ikan turun tangan..
    *diinjek yara*

    • hehe.. mianhae, onnie~~~ >.<
      ehh~ gak kok, siapa bilang langka, aku sering typo lohh~ *buka aib*

      hoho.. ada yg lirik kibum lagiii~😄
      jangan diinget2 onn, masih ada bang chul yang setia.. :3

      makasih suda baca, onnie~ ^-^
      makasih suda dikoreksi typo jugaaa.. hehe.. *nyengir kuda (siwon)*

  5. Hahahaha aku udh mau sedih aja tuh pas baca kibum meninggal! Dasar donghae kurang ajar!! Cium nih! hahahaha! btw selamat ulang tahun buat yara, wyatb! /Sok kenal/

  6. Yoobo(?)………aku pikir kibum mati beneraaann….T.T
    mas ikan nakal ih…suka banget scene terakhir nya,so sweet banget…ngeahahaha
    padahal kalo ada kisseu2nya,pasti tambah keren tuh #plakk
    bum-ah…aku cinta padamu…I lop U…:*

    jeongmal gomawo Yeobo,aku seneng banget dapet ff ini dari kamu :* :*
    ah.jadi tambah cinta ma kamu deh *colek dagu*

    • HEPI BDAY, URI JAGIYAAAAA~~~~ :*
      iyah, i lop u tuuuuu.. ^3^

      perasaan dari 2 taun lalu aku ngadonya ff mulu ya, jagi?
      nda bosen? aku bosen lohh~ *diinjek*
      gak usah colek2 ah, akyu bukan sabun coleeeeekks~ -___-
      hehe.. makasih suda baca, jagiii~
      hepi bday tu yuuuuu.. ^o^

  7. waaaa~ udah lama ngga baca ff shelaa~~
    kereeen unyuuu~
    bumppa as usual yaa, stay cool~😀
    aaaah~ jd ga sabar nnggu 5jib !! >///<
    trus ituu si mas ikan jail daah . tp shel, saya ga ridoo beneraaan klw drama hae ad peluk dan apalah ituu -__-')a
    #ditendangbanyakprotes

    • keren unyu itu kaya apa yah?😄
      aaa~ 5jib, dia ikut gak? aku kangeeeeenn KIM KIBUM!! *bawa papan demo*

      yasuda, anggep aja pelukannya diilangin, nda usah dibaca..😄
      makasih suda komenns~ ^-^

  8. Simple tapi bagus..
    suka ma critanya..😀

    Wah,, wah,,
    susah iah kalo hidup udah disangkutpautin ma drama..
    Aku pikir Hae bakal jadi orang ketiga dcritanya..

    Yara orang Indonesia asli??
    tapi di Pict nya kayak muka orang Korea..

    Btw happy b’day Yara #sksdmodeon
    moga makin langgeng sama kibum😛
    Biarpun telat tapi ucapannya moga bisa nyampe orangnya..
    kekekekee 🙂

    • ahahaha~ aku nda suka cinta segitiga, onn.. nanti kesian kibumm..😄
      lagian nanti kalo ada hae bisa2 diomelin onnie kann~ :3

      hehe.. picnya mah asal nyomot dari gugel..😄
      iyaaahh, makasih onnie, nanti aku sampein ke orangnya..😀
      makasih juga suda bacaaa~ ^-^

  9. Great story.. simple tapi menarik perhatian. Intinya kan suka tapi nggak mau tahu.. Bikin lagi ff yang lain.:)

  10. *numpang ngakak*
    Hae-nya baiiik bgt ya shel disini😀
    idenya bagus tuh, ngomong kalo Kibum udah meninggal~
    kalo ga gitu Yara ga ngaku2 juga donk ya..😀

    aaa~ HBD buat Yara ya🙂
    aku kangen si Killer Smile ini juga..semoga kabar kalo Kibum ikut 5jib bukan cuma rumor~

    eh tau ga shel?aku mikir kalo ini sebenernya ff JiHyuk..😀
    cassanova, club dance..
    sepupu Hae, kan dimana ada Hyuk disitu ada Hae..hehe
    *reader sok tau*
    shela kan kagak demen EunHae~~😀😀

    • ahaha.. makasihh yaa, nanti disampein ucapan ultah sama salam kangen kibumnya (?)
      err.. hehe.. iyaa, ini awalnya Jihyuk, tapi inget si yara ultah, makanya langsung diganti.. ^^;
      nda papa lah buat kado yara aja, jihyuknya kapan2 aja..😄

      yess~ aku nda suka eunhae.. -__-
      makasih suda baca yaa~~ ;D

  11. waaaah… kenapa Han jadi Park semua ya??? bumbum ternyata lucu juga lo cemburu.. untung donghaenya ga suka ma yara… sempet mikir kimbumnya ninggal untung ga….

  12. ecieeee kibum si pemalu (?)
    ide ceritanya keren! sangat! ^^
    ngakak waktu mamanya yara ngomong kalo di korea itu nggak ada pelet, bener jg sih😀
    drama kebawa sampe kehidupan nyata emg sering kayaknya yaa…
    btw, daebak! ^^

  13. Ceritanya bagus! Rasa cintanya kibum ke yara ngena banget.. Untung aja ngga ada yg namanya pihak ketiga.. Haha.. Oia bner, msh ada typo’a.. Edit lg kyknya bias bs lbh enak dibaca..🙂

    hmm,, kangen kibum~

  14. onnie!! ff-nya keren. kata-katanya tentang cinta bagus banget😀
    akhirnya bisa baca ff kibum yg lagi jatuh cinta. biasanya aku kurang tertarik kalo ff trus pemeran utamanya kibum. tapi yg ini aku suka, alurnya enak buat diikutin
    donghae iseng banget disini hihihi xD
    nice ff onnie, daebak!!

    ps: ada typo dikit onnie🙂

  15. demi penguasa bumi dan surga ff nya keren banget >,<

    dapet banget romantisnya, meskipun tanpa kissing/hugging

    realistis banget jadinya, deket ke kehidupan nyata #apadeh

  16. hehehhehehe, suka bgt ama critanya…
    hae bukan pihak ketiga, tapi jadi comblang hehehe

    untuk kibum mau ikutan main di dramanya yara, kalu ga beneran naksir ntar si yara ama donghae hehehehehe..

    great story shel… ^^

  17. ahhh,,,so sweet,,,
    ini beneran bisa di angkat jadi drama neh XDD…
    ceritanya drama banget lah.. ^^
    aduuuhhh jadi kangen kibum neh… >.<
    kangen liat senyumnya…

  18. itu tntang definisi drama, unnie berpengalaman banget deh /2thumbs up
    naah, yara jatuh cinta ama kibum tapi dianya yng ngga sadar ya ?
    eciee traktirannya jangan lupa hoy (?)
    daebak ^^

  19. hemmm…
    tumben2 nih author ngasih peran ma hae-ya pake dipuji2 sgala… Jadi senang deh…
    *lari2 peyuk author tapi lgsung dihadang hae-ya*

  20. Itu marganya yara aslinya Han ya?ada sedikit typo…tp g bgtu mengganggu kok.

    yara bener2 terobsesi sama drama korea ya..smpai kebawa2 gitu.

    Ahh kibum manis bgt dsni…pendiam tp cinta mati sm yara~

  21. Kibum membuktikan ucapannya untuk rela manjadi aktor sebuah drama demi Yara kyaaa!!! Itu bagian akhir almost drama, cuma kurang adegan sekedar elus kepala, peyuk mesla atau kisseu hahaha *mengawang jauh*

    My baby boo, Lee Donghae koq ga kayak biasanya ya? Lebih terbuka, to the point dan agak flirting hahaha

    Manis, She tulisanmu ini *v*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s