Noonim~/Shin Dongho

Tanganku menggenggam selembar sapu tangan putih dengan erat. Lelaki itu memunggungiku, sama sekali tak berbalik, apalagi berjalan kembali ke arahku. Dengan sedikit air mata menggantung di sudut kelopak, aku menatap punggungnya yang menjauh..

================

“Noona, ayo pacaran denganku!” lelaki yang lebih muda namun lebih tinggi dariku itu memegang sebungkus roti cokelat dan menyodorkannya ke arahku.

Aku mendongak, meliriknya sekilas lalu memalingkan pandangan. “Kau gila ya?”

“Tidak! Noona akan menerimaku, kan? Kita sudah mengenal hampir-“

“Jangan melebih-lebihkan, kita hanya mengenal selama dua minggu, dan itu sama sekali tidak bisa disebut ‘saling mengenal’, Dongho-ya,” aku tidak menatapnya. Bukan karena aku tidak bisa, tapi karena aku memang tidak ingin menatap langsung ke dalam matanya.

Sepasang mata itu bercorak gelap pekat, dengan keteduhan yang terpancar dari sana. Shin Dongho ini tidak pernah gagal untuk membuatku menyukai matanya. Kedua manik itu bersinar setiap menatapku, dan aku tidak mau mengaguminya lagi.

“Noona.. kenapa? Memangnya aku tidak boleh menyukai noona? Kita memang belum lama saling kenal, tapi bukankah kita bisa mencoba untuk saling mengenal?” usulnya.

Usul yang tidak jelek, sebenarnya. Tapi aku tidak bisa mempertimbangkan usul apapun darinya –paling tidak dalam masalah ini. Aku menghela napas, “Bagaimana kalau akhirnya kau tidak mau mengenalku?”

“Eh?” Dongho menatapku heran. Ia mengamati setiap mimik mukaku yang tak terbaca.

“Yah.. bagaimana jika kau menyerah sebelum mengenalku lagi?” tanyaku. Ada angin kemenangan yang berhembus di sekitar leherku, dan aku menyukainya. “Pacaran dengan seorang noona itu tidak bisa dinilai menyenang-“

“Baik! Coba saja!” ucapnya yakin. Aku setengah melongo saat Dongho menggandeng tanganku. “Jadi, kita pacaran?”

—-

Choi Jiyoo mengarahkan tatapan tajamnya padaku selama sekitar dua menit lebih. Dan aku tahu dia akan bertahan dalam posisi itu, sampai aku mengeluarkan kata-kata yang lebih masuk akal.

“Aku tidak gila, Yoo,” ujarku, sengaja dengan nada berat.

Jiyoo mengangkat bahu. “Aku tidak bilang begitu. Tapi tetap saja, ini GILA! Memangnya seperti apa wajah anak kecil itu sampai kau bisa membalas pernyataan cintanya?”

“Mm.. kau ingat acara sekolah yang mengirimku untuk bagian pengisi bahasa Inggris?” tanyaku pelan. Aku berharap Jiyoo lupa jadi aku tidak perlu menjelaskan banyak hal padanya. Tapi salah besar –ia ingat. “Yah… Shin Dongho adalah junior yang ikut dalam kelompok 7 orang itu.”

“Lalu?”

“Apanya?” aku bertanya balik.

Jiyoo mendesah, menarik napas berat lalu menatapku frustasi. “Lalu bagaimana bisa anak itu menyukaimu? Apa dia memang penyuka noona? Dia itu termasuk noona-killer ya?”

“Bodoh~ mana mungkin begitu?” cibirku. “Setelah acara itu kurasa kami memang dekat. Tapi hanya sebatas itu, saling menyapa, dan sebagainya. Dan kurasa itu bukan kedekatan yang khusus. Iya, kan?”

“Putuskan saja,” ucap Jiyoo tenang; seolah tak menyadari mataku yang terbelalak. “Kenapa? Kau mau mencoba pacaran dengan anak kecil itu? Hei, kita sudah kelas 3, bukankah kau sendiri yang bilang kau tidak mau mengurusi masalah seperti ini? Merepotkan, katamu.”

Aku ikut-ikutan mendesah. Tanpa niat membalas ucapan Jiyoo, aku melemparkan pandanganku ke lantai kelas. Tidak ada yang salah dari tindakanku, tapi aku juga tidak merasa ucapan Jiyoo barusan tidak benar. Ah, membingungkan.

“Bagaimana kalau kau dan dia itu.. tidak bisa putus?”

“Eh? Lalu kenapa kalau kami tidak bisa putus?” alisku mengernyit.

Jiyoo mengetuk kepalaku pelan. “Memangnya kau serius dengan anak itu? Kau benar-benar akan pacaran dengannya? Itu pilihanmu?”

“Pilihan sementara. Aku bilang padanya supaya kami saling mengenal, tapi itu diartikannya sebagai jawaban iya. Memangnya kemarin aku punya pilihan?” cecarku.”Lagipula.. dia tidak buruk.”

Jiyoo melongo mendengar ucapanku.

—-

“Jjajan~” Dongho menyodorkan tangannya ke arahku. Aku melirik benda yang ada disana lalu mengerutkan kening. “Noona, ini hadiah kencan pertama kita!”

Aku meraih bungkusan kecil berwarna merah muda menggelikan itu. Satu poin yang bisa kujadikan alasan putus, aku benci merah muda. Saat baru saja merasakan manisnya kemenangan, saat itu juga aku langsung merasa kalah.

Dongho tersenyum lebar, terkesan puas dengan ekspresi yang kutunjukkan. “Aku mendapatkannya setelah main game selama dua jam. Hebat, kan?”

Sebuah strap ponsel dengan bentuk beruang mini putih sekarang ada dalam tanganku. Aku mengangkat wajah, “Ini.. untukku?”

“Tentu saja, noona,” ucap Dongho. “Mm.. sebenarnya aku bisa saja mendapatkan sebuah boneka beruang putih yang besar, tapi aku pikir noona akan lebih suka strap ponsel.”

Aku mengangkat wajah, memerhatikan sepasang manik berkilau milik Dongho. “Kenapa berpikir begitu?”

“Entahlah.. saat itu aku sedang memikirkan noona dan tiba-tiba saja aku hanya ingin memberikan strap ponsel ini. Apa aku salah?” Dongho mengerjapkan mata berkali-kali –mencoba membaca ekspresi wajahku.

Sekali lagi aku menghindari kontak langsung dengan mata bening itu. Aku sengaja berlama-lama memandangi strap putih yang ada di tanganku. Ck, aku sama sekali tidak bisa mengakui kalau Dongho benar, tapi aku juga tidak mau membuatnya tampak seperti lelaki pertama yang sangat memahamiku.

Aku suka melihat strap ponsel yang tergantung; karena itu aku tidak pernah membiarkan ponselku polos tanpa hiasan strap warna-warni. Dan untuk warna, aku selalu menyukai warna putih. Bagaimana bisa anak kecil yang setahun lebih muda dariku ini bahkan bisa menebak apa yang selalu kusukai?

“Noona mau terus melihatnya atau memasangnya sekarang?” tanyanya. Dongho tersenyum kecil melihat wajahku –yang terus terang saja terlihat sangat bodoh.

Saat ia akan merebut strap itu dari tanganku, aku menghalanginya. “Eh, biar kupasang nanti.. di rumah.”

Dongho mengerutkan kening sebelum kembali tersenyum. “Baiklah.” Tangannya merangkul pundakku dengan mudah. Tinggi kami sama sekali tidak jauh berbeda, bahkan ia lebih tinggi beberapa senti dariku. “Noona?”

“Ya?”

“Aku akan sering memeluk pundakmu seperti ini. Aku pacarmu, kan?” Dongho menatapku sambil menunjukkan sedikit berkas merah muda di pipinya.

Harus kuakui sesaat tadi aku sempat lupa bagaimana caranya bernapas. Aku lupa memasukkan oksigen ke dalam paru-paru dan lupa mengeluarkan karbon dioksida dari sana. Seandainya Dongho tidak memegangi pundakku, aku pasti juga akan lupa bagaimana menopang tubuh. Memalukan..

—–

“Kapan kau akan memutuskan anak itu?” Jiyoo membereskan meja dan memasukkan buku ke dalam tasnya. “Kau sama sekali tidak serius dengannya, kan, Park Hyunyoung?”

Aku mendesah berat. Dengan satu gerakan cepat aku mengeluarkan ponsel dari saku seragam.

Jiyoo menyipitkan mata lalu meraih benda tipis itu dalam genggamannya. “Ada apa dengan ponselmu? Rusak?”

“Bodoh. Coba lihat strap ponsel baruku,” perintahku. Sementara Jiyoo tetap melayangkan pandangan tak mengerti, aku mulai menjelaskan. “Dongho memberikan itu padaku kemarin. Menurutmu aku bisa memutuskannya saat dia malah memberiku hadiah kencan pertama?”

“Gadis bodoh! Hanya gara-gara strap ponsel murah kau jadi kehilangan tujuanmu?” pekik Jiyoo. Ia kembali mengamati strap ponsel yang tergantung di ujung ponselku. “Lagipula apa bagusnya benda ini?”

Aku mendengus lalu merampas ponselku dari tangannya. “Bukan urusanmu! Aku juga tidak pernah bilang kalau aku akan putus dari Dongho. Dia baik.”

“Hei, jangan bodoh, Hyunyoung-ah, dia dan kau sama sekali berbeda. Dia itu juniormu. Memangnya kau mau orang-orang menertawakanmu gara-gara masalah ini? Apalagi teman-teman di klub bahasa Inggrismu,” ujar Jiyoo.

Dengan hembusan napas panjang aku menopang dagu. “Kalau mereka tidak tahu berarti aku tidak akan ditertawakan, kan?”

“Eh?” Jiyoo terperangah. “Yah.. begitulah kira-kira. Tapi kurasa itu akan sulit.”

Aku mengibas-ibaskan tangan di depan muka. “Tenang saja. Kalau aku merasa ada sisi Dongho yang tidak kusukai aku pasti akan memutuskannya. Mudah, kan?”

Jiyoo mengerjap-ngerjapkan mata lalu mengangkat bahu. “Terserah saja, Noonim~”

—–

“Noona, kau kenapa?” Dongho memerhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sejenak kemudian ia menempelkan telapak tangannya ke dahiku. “Noona, kau sakit?”

Aku melonggarkan sedikit lilitan syal abu-abu milikku. Dengan susah payah akhirnya aku bisa kembali bernapas bebas. “Aku.. aku sedang sedikit flu. Tapi aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”

“Begitu? Tapi kenapa penampilan noona sangat berbeda?” tanyanya lagi.

Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutku. Aku hanya tersenyum kaku sambil mengutuki tindakan bodohku. Dengan penampilan seperti ini aku sadar aku tampak aneh, mencurigakan, bahkan terlihat seperti alien.

Aku mengenakan mantel tebal dengan syal panjang yang melilit leherku. Tak cukup dengan itu, aku juga memasang kacamata bingkai tebal yang selama ini tak pernah kupakai. Sesekali aku menoleh sekeliling, dan sejauh ini aman.

Dongho mengajakku bertemu setelah dia selesai berlatih basket. Aku mengiyakannya tanpa ada ingatan soal teman-teman klubku yang suka berkumpul di sekitar sana. Walaupun aku bilang pada Jiyoo kalau aku sama sekali tidak keberatan dengan hubunganku dan Dongho, tapi aku tidak siap dengan reaksi teman-temanku yang lain.

Miss perfectionist. Mereka selalu menganggapku begitu. Tidak ada hal minor yang bisa mengurangi panggilan itu padaku. Soal pacar pun, mereka semua tahu aku tidak pernah suka pada junior. Dan kalau mereka memergokiku bersama dengan Shin Dongho, siswa kelas 2 SMA yang bahkan belum genap 17 tahun, mereka akan mendapat bahan lelucon paling tidak selama dua minggu non stop.

Mengingat semua hal itu saja bisa membuatku sangat lelah. Dongho berbalik ke arahku, membetulkan syal sial yang menutupi separuh wajahku. “Noona, pasang syalnya yang benar. Kalau sedang flu jangan keluar. Harusnya noona bilang saja kalau sedang sakit, aku tidak akan memaksa bertemu disini-“

“Tidak. Aku baik-baik saja,” aku menatap sepasang mata beningnya. “Lagipula aku ingin bertemu denganmu.”

Dongho tersenyum. “Begitu? Noona sudah sangat menyukaiku, kan?”

“Dasar anak kecil!” cibirku. Entah bagian mana dari wajahku yang membuatnya tertawa, tapi sekarang Dongho sedang tertawa lebar di depanku. “Hei, apa kau tahu kalau wajahmu itu sangat lucu?”

“Eh?” Dongho berhenti tertawa. Ia memegangi kedua pipinya lalu cemberut. “Aku bukan anak kecil. Apanya yang lucu?”

Aku mencubit pipi kanannya. “Kau itu seperti bayi.. sangat lucu!”

“Noona~ hentikan,” rengeknya. Dongho menahan tanganku lalu menggenggamnya erat. “Apa bagimu aku hanya anak kecil?”

Saat aku belum mengeluarkan suara, Dongho mencium bibir merah mudaku dengan cepat. Aku tidak sempat memejamkan mata, bahkan aku nyaris lupa untuk tetap memenuhi paru-paruku dengan oksigen. Tanganku tertahan di dadanya, membuatku bisa merasakan debaran jantung Dongho yang sama denganku; sama-sama tak beraturan.

“Noona?” panggilnya.

Aku tergagap sambil memegangi bibirku yang masih hangat. “Y-ya?”

“Apa aku masih terlihat seperti anak kecil?” Dongho menanyakan hal sebodoh itu setelah merebut ciuman pertamaku? Kepalaku menggeleng lemas. Tapi detik berikutnya aku memukul kepalanya. “Noona! Kenapa memukulku? Sakit~”

“Apa kau tahu kalau itu adalah ciuman pertamaku?” pekikku. “Shin Dongho! Kau pasti mati di tanganku!”

Dongho buru-buru menahan pergelangan tanganku. “Kalau begitu aku adalah anak kecil yang beruntung. Benar, kan, Noona?”

Aku mencibir. “Kau akan lebih beruntung saat aku sudah melemparmu dengan sepatuku!”

—–

“Hyunyoung-ah,” suara sedikit serak itu menghentikan kakiku yang baru sampai di depan perpustakaan. Shin Hyori, siswi kelas sebelah yang juga teman satu klub-ku, sedang berlari kecil ke arahku. “Nanti sore ada kegiatan klub, Miss Han menyuruhku memberi tahumu. Kau mau datang, kan?”

Aku mengingat-ingat jadwalku sore ini sebelum mengangguk singkat. “Aku akan datang. Terima kasih infonya.”

“Tidak masalah,” ujar Hyori riang. “Eh, kemarin sore kau ada dimana?”

“Kemarin sore?” ulangku. Mataku spontan melebar. Kemarin sore aku kan sedang kencan dengan Dongho. Tapi aku tidak boleh bilang begitu, kan? Semuanya bisa berantakan. “Aku.. pergi bersama Yoo. Dia sedang.. mencari kado untuk Poo.”

Hyori mengangguk-angguk paham. “Ah, Choi Jiyoo dan Lee Hyukjae,” Tapi ternyata aku belum bisa bernapas lega. “Tapi kemarin teman-teman klub merasa melihatmu di taman. Dan mereka bilang kau bersama anak kelas 2 yang lumayan dikenal Miss Han.”

“Eh? Tidak, tidak. Mereka salah lihat. Lagipula ada urusan apa aku dengan anak kelas 2?” ujarku mengambang. Memang sama sekali tidak terdengar meyakinkan, bahkan di telingaku sendiri.

“Begitu ya? Mungkin saja,” ucapnya. “Lagipula kau memang sama sekali tidak tertarik pada lelaki yang lebih muda, kan? Kau tidak suka anak kecil.”

Tanpa pikir panjang dan dengan niatan menghentikan semua kecurigaan Hyori, aku mengangguk cepat. “Ya.. aku tidak suka anak kecil yang bahkan tidak seumuran denganku.”

“Tentu saja itu bukan dirimu,” ujar Hyori. “Kata mereka gadis-yang-mirip-denganmu bahkan berciuman dengan anak kecil itu. Tindakan gila untuk gadis sepertimu, kan? Sama sekali bukan dirimu.”

Aku menelan ludah, tapi tetap berusaha memertahankan raut wajahku yang kurasa sudah pucat pasi. Mereka semua melihatnya? Ciuman itu? Untuk sejenak tadi aku sangat ingin menutup wajahku dengan apapun yang bisa membuatnya tak terlihat.

Hyori sama sekali tidak menyadari perubahan atmosfir di sekitarnya. Ia melirik jam tangannya lalu berwajah sedih di depanku. “Ah, aku harus kembali ke kelas sekarang. Si jelek menungguku.”

“Jelek- oh, Kyuhyun? He’s your aegi, isn’t he?” godaku, mencoba mengurangi produksi keringat dingin yang mengalir.

Dengan seulas senyum kecut, Hyori menyetujui ucapanku. “Yup, he is. Sial sekali, kan, aku?”

“Sejujurnya, aku tidak bisa melihat aura ketidakberuntungan dari dirimu, Shin Hyori-ssi,” aku memutar bola mata sebelum memandangi sosok Hyori menjauh dan menghilang di belokan koridor.

Setelah memastikan tidak ada yang melihat, aku menarik napas panjang-panjang, mengembuskannya  lalu mengacak-acak rambutku sendiri. Untuk pertama kalinya aku sangat ingin memaki diriku yang sudah bertindak sangat bodoh!

“Apa yang baru saja kau lakukan, bodoh?” gumamku kesal. “Kau baru saja menyembunyikan pacarmu sendiri, berbohong besar, dan mengatakan hal yang sangat amat tidak mungkin kau buktikan!”

Bagaimana bisa aku bilang kalau aku tidak suka lelaki yang lebih muda dariku sementara kemarin aku hampir kehilangan jantung saat lelaki muda itu menciumku?

Aku memutar otak. “Lalu sekarang aku harus bagaimana?”

Berkali-kali aku memikirkan apa yang harus kulakukan. Apa aku harus menyembunyikan Dongho? Atau justru membiarkan mereka mengenalnya? Ah, kira-kira apa yang harus kupilih?

—–

-The next day-

“Noona, kau masih sakit ya?” Dongho tidak berhenti mengarahkan pandangan ingin tahunya saat melihatku dengan penampilan yang tak jauh berbeda sejak kemarin.

Dengan satu gerakan kecil kurapatkan mantel cokelat yang membungkus tubuh, mencoba berakting lebih baik dari kemarin. “Yah.. flu-ku parah.” Aku memekik saat ia tiba-tiba bergerak ke arahku, “Kau, eh, jangan mendekat, nanti tertular.”

“Oh? Kurasa tidak apa-apa,” sahut Dongho sambil merangkul pundakku lembut. Shin Dongho selalu bisa membuatku tampak seperti anak kecil di sampingnya.

Aku membeku –bukan hal yang aneh saat ini. “Eh, apa teman-temanmu tahu?”

“Soal?”

“Soal.. kita-?” ujarku gamang. Aku belum terbiasa menyebutkan kata itu untuk definisi aku dan dia.

Dongho menggeleng. “Tidak ada yang bertanya apa aku sudah punya pacar atau belum, jadi kurasa belum ada yang tahu.”

Belum? Berarti suatu saat akan ada kata “sudah”? Tiba-tiba aku merasakan seekor kupu-kupu raksasa sedang melayang-layang dalam perutku. Sensasi yang ditimbulkannya sama seperti saat aku mendengarkan instrument Last Carnival. Tidak menyenangkan..

“Apa Noona tidak suka kalau aku memberitahu teman-temanku?” tanya Dongho. Ia sengaja melepaskan rangkulannya dan berbalik ke arahku.

“T-tidak, hanya-“

“Hyunyoung-ah!” suara itu tak asing. Dengan setengah hati, aku membalikkan tubuh, menemukan Shin Hyori dan Han Soonhee berjalan santai ke arah ‘kami’. Hyori tersenyum padaku, “Sedang apa kau disini?”

Soonhee, yang kebetulan berada di depan Dongho, sibuk memerhatikan lelaki mudaku. “Eh, siapa ini? Pacarmu?”

“Eeiii~ mana mungkin? Hyunyoung ini sama sekali tidak berminat pada anak kecil. Lagipula dia bilang tidak suka anak kecil yang bahkan tidak seumuran dengannya,” sela Hyori. “Dan anak ini.. pasti belum genap 17 tahun. Iya, kan?”

“Tapi kurasa mereka pacaran. Tadi mereka saling rangkul dan sekarang mereka pegangan tangan,” ucap Soonhee sambil terus memerhatikan Dongho. Ia beralih padaku, “Hyun-ah, dia pacarmu, kan?”

Aku menelan ludah. Napasku tertahan, seolah tersumbat dan tak mendapat izin keluar. Di saat seperti ini pun aku tidak tahu apa yang harus kujawab. Tanpa sadar aku melepaskan tanganku dari genggaman hangat Dongho. “D-dia ini-“

“Sepupu,” suara Dongho yang tiba-tiba membuatku mendongak. Aku menemukan lelaki itu sedang tersenyum dan menjawab sesuatu yang salah. “Aku sepupunya. Noona sedang menemaniku mencari buku untuk referensi.”

Soonhee mengerutkan kening sementara Hyori mengangguk-angguk paham. “Benar, kan? Mereka tidak pacaran. Hyunyoung bukan penyuka lelaki di bawah umur.”

“Ya,” Dongho menjawab lagi. “Mana mungkin Noona menyukai anak kecil?”

Walaupun ingin, aku tidak bisa mengangkat wajah untuk kembali melihatnya. Aku takut melihat senyuman palsu yang terpasang di wajahnya padahal matanya terlihat sendu. Saat itu dengan sisa keyakinanku, aku tahu ia terluka. Pasti terluka..

Hyori mengamit tangan Soonhee. “Ah, kami harus ke toko kaset, kalian mau ikut?”

“Tidak. Noona dan aku masih harus memilih buku di tempat lain,” sahut Dongho.

Kedua gadis itu berjalan meninggalkanku yang masih menahan napas. Aku masih belum bisa menatap Dongho. Seluruh tubuhku seolah dipaku supaya tidak bisa bergerak. Dan detik berikutnya aku tidak bisa merasakan apapun kecuali tatapan dingin yang terarah padaku..

—–

Dongho sedang menatapku. Aku tahu itu. Tapi aku terlalu pengecut untuk sekedar membalas tatapannya.

“Seharusnya aku tahu Noona tidak benar-benar menyukaiku,” ucapannya tajam, membuat pinggiran hatiku tergores. “Tapi kurasa semua ini salahku. Aku yang lebih dulu menyukai Noona.”

Bibirku tak bergerak –tidak bisa bergerak. Untuk mengucapkan satu kata pun aku tak mampu. Saat ini aku hanya bisa menjadi pendengar setianya.

Dongho menatapku, kali ini dengan mata sayu. “Maaf..”

Sejak tadi aku sangat ingin membungkam mulutnya. Aku sama sekali tidak ingin mendengar ucapan-ucapan konyol darinya lagi. Setiap ucapan bohongnya tanpa kutahu sudah sangat menyakitiku. Dan bodohnya aku hanya tahu kalau ucapan itu lebih menyakitinya.

“Kau mempermainkanku, tapi tidak apa-apa,” ucapnya. “Aku menyukaimu, Noona. Sangat. Dan aku tidak pernah menyesalinya.”

Sebenarnya aku bisa memilih untuk menyela ucapannya dan berteriak nyaring kalau aku juga sudah.. terlanjur menyukainya.

Dongho merengkuh kedua pipiku dan memberiku kehangatan melalui tangannya. “Aku memilih menyukaimu saat kau tidak. Aku memilih bersamamu saat kau menolak. Tapi aku tidak pernah tahu apa pilihanmu..”

Aku melihatnya. Aku bisa melihat sepasang manik cokelat itu menatapku dengan berkaca-kaca.

“Dan kurasa kau memang tidak suka anak kecil,” ucapnya lagi.

“Aku..,” mulutku terbuka perlahan. “Aku tidak punya pilihan-“

“Aku tahu. Maaf,” Dongho melepaskan tangannya, membiarkan serbuan udara dingin menerpa tulang pipiku. Aku tidak suka dingin. Aku butuh sentuhannya lagi..

Dongho mengerutkan kening. “Noona, kenapa menangis? Aku sudah melepaskanmu sekarang…”

Jangan!

“…aku sudah membiarkanmu memilih,” sambungnya. “Kalau begitu, terima kasih untuk semuanya. Dan maaf sudah membuang waktumu. Ah, ujian kelulusan sebentar lagi, kan? Kau pintar, pasti bisa berhasil. Noona, kau, kau selalu bisa mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Senyuman itu terlihat lagi. Senyuman yang sangat tidak ingin kulihat itu terlihat lagi..

“Jangan menangis,” tangannya kembali menyentuh wajahku. Lelehan air mataku sama sekali tidak mau berhenti. Jauh di dalam hati, aku merasakan rasa sesak yang luar biasa. Dongho mengecup keningku lembut lalu memberikan sehelai sapu tangan putih padaku. “Aku.. hanya akan jadi juniormu sekarang.”

Tidak mau! Jangan katakan itu!

Tanganku menggenggam selembar sapu tangan putih dengan erat. Lelaki itu memunggungiku, sama sekali tak berbalik, apalagi berjalan kembali ke arahku. Dengan sedikit air mata menggantung di sudut kelopak, aku menatap punggungnya yang menjauh..

Rasa sesak yang tadi tertahan sekarang menemukan jalan keluar. Saat mengingat sepasang mata teduh itu, air mataku terjatuh satu-satu. Rasa sesak itu semakin tak tertahankan. Aku berjongkok, memeluk lutut dan mengikuti punggungnya yang semakin tak terlihat.

Saat sesaknya menggila, aku memejamkan mata, berharap air mata ini akan  berhenti dengan sendirinya. Tapi tidak, selain ada sesak yang bergumul di dadaku, aku merasakan nyeri yang menyiksa.

Kuraba dada kiriku. Ada jantungku disana, ada debaran yang teratur, tapi ada sayatan berdarah yang tak terlihat. Perih. Semua orang membutuhkan obat merah untuk mengobatinya, tapi aku butuh sentuhan lelaki itu untuk menghilangkan perihnya.

Aku memeluk lututku makin erat. Aku tidak mau bagian tubuhku yang lain juga hancur. Hancur, seperti hati dan jantungku yang sudah remuk..

“Aku tidak akan pernah punya pilihan. Mencintaimu bahkan bukan sebuah pilihan..”

—–

-2 weeks later-

Semilir angin musim gugur tidak menghentikan langkah para siswa yang menunggu informasi. Aku sendiri tidak berminat melihat pengumuman hari ini. Tidak banyak yang bisa kuharapkan dari beasiswa itu.

Tapi Jiyoo berhasil membuatku –menyeret, tepatnya- berdiri dan menunggu di depan ruangan tata usaha. Dua minggu lalu aku mengerjakan soal tes dengan setengah hati, jadi gagal disini pun aku tak akan heran.

“Park Hyunyoung!” teriak Jiyoo dari pintu ruang tata usaha. “Jepang! Kau akan ke Jepang!”

Aku mengernyitkan alis, memandangnya heran. “Apa maksudmu?”

“Beasiswanya! Kau dapat! Kita dapat!!” Jiyoo memelukku erat bahkan sebelum aku sempat mencerna ucapannya.

—–

Jepang ya.. aku akan segera ke Jepang. Kurasa aku harus senang. Inilah yang kuinginkan..

Shin Dongho, aku sudah memilih. Aku memilih untuk pergi ke Jepang. Tidak, aku tidak memilih menjauhimu. Itu bukan pilihan yang bijaksana.

Tidak peduli berapapun usiamu, aku tidak pernah mempermasalahkannya.. Tolong pegang ucapanku ini.

Saat aku kembali nanti, aku hanya ingin mengatakan, “Aku tidak punya pilihan. Aku terus mencintaimu bahkan selama aku tidak melihatmu. Karena seperti yang pernah kubilang, mencintaimu itu sama sekali bukan pilihan.”

-FIN-

====================

Kembali dengan FF aneh.. Sepotong memori yang aku dapet dari masa hiatus. Suka? Suka berondong? Hh.. I think Poo wont talk with me for a while.

Hey, hoobae 2837, this Noona already has someone.. someone called POO. *poo kipas-kipas*

Kenapa milih Shin Dongho dari UKISS? Soalnya dia juga hoobae-ku. Hehe.. mau pake dede Taemin, tapi ga ada feel-nyaa. Jadi culik Dongho dulu disini. Pertama kalinya bikin FF dengan cast selaen SJ ama SHINee. Sangat malu ama FF ini, sampe pake nama orang laen. ><

Oneshoot mengecewakan setelah lama ga nulis. Memalukan.. .__.

Will be so thankful to everyone who leave comment.. *bow*

 

 

 

 

 

63 thoughts on “Noonim~/Shin Dongho

  1. hh~hh~hh~ *sigh*
    ini sesuai kenyataan itu bukan ? :3
    ternyata bukan cuma di komik yg ku baca aja yang ada kejadian kea gini..
    dikehidupan nyata juga ada ya~~~~😄
    cieee~~ /pokepoo(?)

    Hyunyoung-ssi, strap ponselnya jangan dibuang ya, nanti kalo uda balik dari jepang, dikasih liat ke dongho~
    bukti klo selalu jaga apa yang dikasih sama org /oke ini saya curcol –___–

    WAH, bebe, kita ada di masukin loh😄 *jingkrak bareng kyu*
    /kh : sial ya punya aku, hm hm hm ?/ -> aura ga enak~
    ya ampun, saya kesannya jaat banget deh /kibas kyu (?)

    dongho imyut, jgn patahati ya syg, ada noona shin disni (?)😄

    • iyaa.. seorang hoobae dateng2 mengacaukan segalanyaaaa.. ><
      komik? hidupku penuh komikalitas, mbak~😄
      ga pake 'cie.. cie-an'.. ini bikinnya menahan air mata *lebai*
      endingnya dibikin ngarang setengah mampus.. soalnya aku dan hoobae pun belum tau endingnya.. .__.

      eciyeeee~~ curcol soal apa ituuu??😄

      haha.. aku bingung ngajak siapa jadi cameo, ga banyak namkor reader yg aku tau.. .___.
      yahh, bagian sial2an itu cuma imajinasiku, mbak~ padahal mah dirimu ga pernah ngerasa sial kan punya bebek?😄

      eiii~ jangan noona shin, ada yoo noonim juga disini.. *poo terjun bebas (?)
      makasihh uda baca, mbaaaaak~~~ :*

  2. bagus kooook, daebak eonn~
    cuma syg, ngegantung endingnyaa.. bikin chapter aja eonn…#ditendang krn nyuruh”
    jdi iniii?? orang ini yg buat eonni mw berpaling dri Lee Hyukjae?!?! #digebuk panci
    berhubung eonni udh pnya si unyuk, dongho buat aku aja eonn.. hehehehe #plak

    • makasihh..🙂
      emang ending ama si hoobae ga ketauan. Uda ga pernah ketemu lagi di sekolah. Kelas 11 ama 12 kan gerbangnya beda. .__.
      dongho? onnie emang ga suka ama dongho kok. Ini cuma perwujudan dari si hoobae aja.
      ga ada member suju yg lebih muda dari onnie soalnya.. -.-
      makaasihh uda bca yaa~😀

  3. Pingback: Tweets that mention Noonim~/Shin Dongho « Shela Spencer's Home -- Topsy.com

  4. Daebak!!
    Haha..makasi uda pake namaku…xD
    eh?emg ni d ambl dari kisah nyata author y??
    Waduh..sapa tu hoobae nya??
    Setuju sama komen d atas.harusny ni d bikin chapter,ngegantung c endingnya..xD

  5. Shella… annyeong…🙂
    sebenernya udah beberapa kali baca FF disini,, tapi baru meninggalkan jejak sekarang…/plaaaak…
    lagi-lagi.. cinta tidak mengenal usia…
    ini ceritanya real life yaa?.. based on true storykah?.. *mulai sotoy*
    Donghoo bijaksana juga yaaa.. tau bagaimana bersikap dan menempatkan diri..
    apalagi pas dihadapann temen-temennya Park Hyunyoung.

    ayo shel.. nulis lagi… ditunggu karya-karyanya yang lain..😀

    • Annyeong~~~😀
      gapapa, aku tau kamu sering nongol disini kok. Makasihh yaa..

      hehe.. iya, ini based on true story. ><
      bukan bijaksana sih, donghonya kelewat baek hati aja disini.😄
      Iyaa~ pasti tetep nulis kok. Makasihh uda baca yaa~😀

  6. Woooooooo romantis banget onn ♪───O(≧∇≦)O────♪

    Terus si dongho nya gimana ??? Penasaran onn.o(^▽^)o

    Bikin sequelnya ya onn Kalo sempat (*^_^*)

    • Jinjja?😄
      makasihh yaa~

      hehe.. berhubung di cerita aslinya ga ada endingnya, onnie juga bingung donghonya gimana. ^^;)7
      kalo sequel belon tau, ini cuma comeback iseng. ><
      makasihh uda bacaaa~😀

  7. bahh .. epep macam apa ini ?!
    Bagus banget !!! terharu eike *plakplak

    Btw , foto.a si Dongho imut banget disituu .. ^w^
    padahal ak kn cinta mati am Kibum~~~ *malah curcol

    bkin after story dong , kalo bisaaa

    • Epepku biasanya cuma satu macem, epep sableng..
      ya begini ini modelnya.😄

      demen kibum di ukiss? aku suka xander~ :3
      after story ga adaa.. ending aslinya ga ketauan soalnyaa.. .__.
      makasihh uda baca yaa~😀

      • wuakakakakakk .. Epep edan ga ada kah ?

        Hoo~? Xander ? Okelah kalo begitu X3
        Yaah , ga ada after story .. >_<
        Eh , mo nanya dong ! Di Pamekasan it ngomong pke bahasa ap ?

      • ga ada~ yang sisa cuma epep sableng doang. xD

        xander itu lucu~ <33
        kalo di pamekasan sih pake bahasa indonesia, ya kadang bahasa madura.
        campur2 sihh~ tapi yg jelas bukan bahasa korea. *yaiyalahh~*

      • hooo .. oke deh ..

        eh ? lucu mukanya ato lucu tingkahnya ? [jangan disamakan dgn Kyu XDD]
        bahasa madura ? kea gimana tuh ? ajarin dong !

      • hahaha .. udah bukan rada . udah ajaib banget XDDDDD
        aneh gimana ?
        kasar ? wuiddiiiihh *plakplak

  8. wuih, based on true story toh..
    feel’y dapet kok, bgs lg..
    cmn syg ending’y kurang..
    moga ja happy ending d kehidupan nyata, hehehe

    dongho’y cakep…>w<

    • iyah, based on my stupid love story~ *ga love juga sihh.. .__.
      hehe.. ending di dunia nyata sama sekali ga bisa dibilang hepi..😄

      dongho imuut~ <33😄
      makasihh uda baca onn..😀

  9. ah sepertinya ini cocok sekali buat aku yg ngidam pengen pacaran sama hoobae yg aku suka sayangnya dia masih smp dan aku sma =….=’
    aku baca dulu deh.

  10. Lama g baca ff kamu kgen jg iah,.

    Udah slese hiatusny??

    Pacaran ma brondong luthu jg..
    Ampe ngumpet” gtu..

    Suka karakter Dongho..
    Biarpun dy lebih muda tnyata dy bisa dewasa jg..

    Mau dbikin after storyny??
    Penasaran aph Dongho akan te”p nunggu Hyunyoung g..

    • yahh.. alhamdulillah ada yg ngangenin.. (?)
      belon selesai sihh, lagi gatel aja pingin nulis lagi.. .__.

      hayoo~ jangan sampe kepikiran buat pacaran ama brondong yaaa..😄
      after story mungkin ga ada.. lagi bikin oneshoot aja lahh..
      makasihh uda baca onn~😀

  11. wahhhh
    kug ngegantung sich shelll….

    q kira kau masih hiatus…*jd weh jarang kesini
    hehehhehehehehh

    keren ….
    cinta yang terpisah karna usia..
    pdhal usia bukan suatu batasan kug…
    hehhehehehhe

    lanjoot shel…
    eheheh

  12. Dongho-yaaaaaaaa !!! xD

    Yess eomma bikin oneshoot lagi!
    Akhirnya.. Penantian reader geblek nii ksampean juga! Hahay..

    Kasian dongho iih.. ==’ ngrasa jadi hyunyoung. Paling ga nahan waktu dongho ngaku jadi sepupuny. Huhuhu emang sesusah itu kah pacaran ama noona-noona ‘perfect’ ?
    Sayang banget dongho tetep aja lebih tua drpd aku! Hahaha

    Tapi suka endingnya nii maa.. Agak nggantung! Jadi bisa main pake fantasi sendiri gimana hubungan dongho ama hyunyoung! Haha

    Maa bikin oneshoot sering-sering yaa! *dijitak* terserah deh cast ny siapa aja! Ku comment kok! Yaa maa yaaa.. Hehe xD
    Yaa udah bye..bye.. Maa *lambaii-lambai* *apadah?* o.O

    Oya maa cewe yang dsamping Dongho tu siapa?🙂

    • yahh.. kalo bukan ada kejadian nyata kayanya ga bakal comeback dulu.😄

      iyaa~ si dongho tetep ‘oppa’ buat kamu, tapi jadi berondong buat umma~ .__.
      silakan dibayangkan sendiri nasib hyunyoung ama dongho dehh~😄
      oneshoot mah lagi males, miskin idee.. -.-

      ps: cewek di samping dongho mah cuma foto ulzzang, nak~ xD
      makasihh uda bacaaa..😀

  13. yaaa..gantuuuunngg nee..
    *plak dateng2 lgsung mrengek*

    kalo aja ni bukan based on true str0ry pasti aku bkal dem0 minta lanjutannya..wkwkwk..

    Dongho nya kebyang ma aku kok imuuutt bgt ya..bikin mupeng..
    *dilirik tajem heechul*

    jiyoonya provokator tuh..
    *digampar*

    hehe..peace..

    • haha.. jadi berhubung based on true story mending jangan nagih lanjutannya onn~😄
      hehhh~ bang ichul juga ga kalah imut kok.. dia kan awet mudaaaa.. XDD

      makasihh uda bacaaaa~😀

  14. Onnie, akhirnya balik juga!!
    True story ya onn?kenapa gak diterima aja hoobaenya?kan udh baik bgt ituuu, temenku juga banyak kok yg pacaran sama hoobae *bongkar aib temen* hahaha itu cuma pendapatku sih onn~ abaikan aja!^^

  15. hehehehe baru baca~ *plak*
    kirain dirimu mau hiatus bikin epep .__.
    *EHEM* ini true story kah? *kedip2*
    ceritanya baguss tapi ko endingnya gelayutan (?) >~< huhuhu
    sini deh dongho ama aq aja~ *lagi doyan berondong* *plak*

    • iyap~ true story, the story of brondong.. xD
      endingnya gantung soalnya realnya juga belon ending. .__.
      ciyeee~ lagi demen jagung mudaaaaa.. xD
      makasihh uda baca onn..😀

  16. shel maaf baru komen hehehe (>////<)

    seperti biasa ff kamu itu selalu ngebuat aku serasa jadi pemeran wanita diceritanya.. apalagi aku juga pernah pacaran sama yang lebih muda dari aku hehe jadi pas banget (?) xD *apa deh gaje banget akuu*
    pengen nangis tapinya pas.. mata udah berair gitu baca ini ff.. endingnya.. sedih banget menurut aku.. kenapa dongho-nya gak hyunyoung dipanngil, jelasin klo misalnya dia juga suka sama dongho.. hiks ;~~~~;

    • jinjja? aku pikir aku aneh gara2 ada hubungan ama berondong. ;____;
      endingnya pada banyak yg bilang ngegantung, yahh.. mau digimanain lagi, realitynya juga masih ga tentu. *sigh*
      makasihh uda baca yaa~😀

      • woa~ komenku yang terakhir masuk akhirnya.. ckckck sumpah semaleman coba komen gagal mulu.. internetku jelek banget jaringannya.
        wkwkwk sampe lupa gitu apa yang mau ditulis abis komennya gak masuk mulu, typo pula jadinya haha xDD

        hihi enggak aneh kok. namanya juga suka. gak pandang usia🙂
        hoho iya makanya tadinya aku mau bilang minta lanjutannya tapi gak mungin kan, padahal aku berharap donghonya tetep sama-sama hyunyoung-nya.. sedih ah pokoknya, shel.. *sensitif banget aku he .____.

  17. kayaknya ini cerita kamu beneran g sih???
    jadi kamu beneran g mau punya co yang umurnya lebih kecil dari kamu???
    *just asking*

    by the way, like it…
    Poo ama Yoo pasti keluar mulu dah…😄

    • iya, all about brondong jaguung.. -.-
      bukan ga mau, tapi mungkin ga etis aja *waktu itu sih gitu mikirnya*

      Poo ama Yoo ga terpisahkaaan~ #gombal
      makasihh uda baca onn~😀

      • hahahaha,,, gpp kali shel,,, brondong jagung kan enak tuh…
        rasanya gurih-gurih gimana~ gitu…😄
        kayak temenku aja dia punya co brondong mulu,,, sekarang aja adek kelasnya di sma masih banyak yang suka sms ke dia gtu…😄
        kalo waktu itu mikirnya gitu terus waktu ini gimana???😄

        halah,,, halah,,, halah…😄
        sipp dah…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s