The Chastain’s [Serena #4]

-previously-

Senyuman lebar Serena tidak bertahan lama saat matanya menangkap sesosok bayangan dengan mata tajam sedang memerhatikannya. Tidak, memerhatikan mereka. Marcus dan dirinya. Serena mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa radarnya tidak berfungsi di saat sepenting ini?

Serena bisa melihat Vincent berdiri di dekat pilar besar dengan Aiden di sampingnya. Lelaki itu menatap Serena dan Marcus dengan geram. Sesekali ia mendesis dan memamerkan taring tajamnya yang beracun.

—–

“Siapa manusia lemah itu?” tanya Vincent tanpa memalingkan pandangannya dari Serena dan Marcus. Lelaki itu menggeram, menyadari bahwa posisinya terancam.

Aiden mengangkat bahu. “Teman sekelasnya, mungkin.”

“Aku tidak sebodoh itu sampai bisa tertipu. Mereka.. tidak punya aura teman,” Vincent mengepalkan tangan. “Mereka seperti pasangan abadi.”

“Dia manusia,” tukas Aiden. “Dan manusia tidak ada yang abadi, kawan.”

Vincent mendengus, tidak suka pendapatnya ditentang. Selama ini ia tahu pendapatnya selalu benar, bahkan kalaupun salah, tidak akan ada yang bisa menyalahkannya. Mungkin itulah keuntungan seorang pewaris sebuah koloni kuat. Mata Vincent sama sekali tidak bisa lepas dari manusia rapuh dan gadisnya. Sejauh yang ia tahu, Serena adalah gadis vampire paling berpendirian sepanjang eksistensinya, jadi sikap Serena pada semua pria nyaris sama. Pertanyaannya sekarang, sejauh apa Vincent mengenal gadis itu?

Aiden menghalangi tubuh Vincent. “Jangan.” Membuat Vincent menoleh dan mengerutkan kening. “Apapun yang sedang kau pikirkan, jangan coba melangkah lebih jauh dari ini.”

“Serena Chastain itu pasanganku,” tegas Vincent.

“Hanya kau yang menganggapnya begitu. Tapi menurut Serena, ia masih bebas,” Aiden mengangkat bahu santai. “Jadi? Kita bisa pergi dari sini sekarang kan?”

Vincent menggeram. Rasanya ingin sekali membantah ucapan Aiden tapi sayangnya Vincent sendiri membenarkan pendapat sepupunya itu. Dalam dunia mitos tentang vampire-nya, Vincent tidak pernah mendengar soal cinta sepihak. Tapi kenapa saat ini semua hal yang ‘sangat manusia’ itu bisa terjadi padanya?

“Aku harus melenyapkan manusia itu,” gumam Vincent pelan.

Aiden mengernyitkan alisnya sebelah. “Jangan bertindak bodoh. Kau tahu itu adalah hal terlarang, dan kurasa kau tidak akan mau mengorbankan kedudukanmu sebagai pemimpin koloni kalau kau melakukan hal mengerikan itu.”

“Hei, ini urusanku,” Vincent melirik Aiden yang ada di sampingnya. “Putra dari vampire yang kalah tidak perlu repot-repot memikirkan apa yang boleh dan tidak kulakukan.”

“Dan kurasa kau sudah setuju untuk tidak membawa nama ayahku hanya untuk memojokkanku,” ujar Aiden setengah menggeram.

Vincent mengalihkan pandangan pada Aiden sepenuhnya. “Aku tahu. Tapi sesekali kurasa kau memang harus diingatkan.”

“Aku tidak ada waktu melayani kecemburuanmu yang seperti vampire muda ini. Masih banyak yang menunggu untuk dikerjakan,” tukas Aiden. Dengan perasaan separuh terluka ia masih menundukkan kepala di depan Vincent, membiarkannya berjalan di depan.

Vincent mendengus singkat lalu lambat-lambat membuang muka dari pemandangan yang merusak selera berburunya. Ia bersumpah akan melakukan apapun untuk membuat Serena mengakuinya. Sebagai pasangan abadi.

Sementara Vincent masih berkutat dengan rasa cemburunya, Aiden melirik jauh ke arah Serena. Sedetik berikutnya ia tahu Serena Chastain berwajah pucat, sepucat mayat. Tekanan seorang Vincent memang bisa membuat hal mustahil menjadi mungkin. Sekalipun wajah pucat pasi yang ketakutan tidak akan pernah dialami vampire manapun, tapi kali ini Serena mengalaminya. Aiden mengibaskan tangan pelan, menyuruhnya dan manusia kesayangannya itu untuk pergi.

—–

“Serena? Serena? Halooo?” Marcus membiarkan tangannya terkibas di depan wajah pualam gadis itu. Saat Serena berhasil –dengan susah payah- kembali ke dunia nyata, ia malah memandang Marcus aneh. “Ada apa?”

Serena menggeleng-geleng tapi ketakutannya tidak bisa hilang. “A-aku.. boleh memelukmu?”

“Eh? Apa ya-“

Sebelum kata terakhir Marcus selesai, Serena sudah melingkarkan lengannya ke leher lelaki itu. Serena menghirup dalam-dalam aroma Marcus yang sangat menggoda. Saat ini ia hanya ingin merekam baik-baik semua hal tentang lelaki itu. Ada banyak hal yang harus Serena ingat. Sejak dulu ia bisa menghapal sesuatu dengan cepat. Tapi sekarang kemampuannya itu seolah terbang entah kemana. Ia harus bisa merekam setiap hal kecil tentang Marcus Cho sebelum-

“Tidak! Apa yang baru saja kupikirkan? Bodoh!!” maki Serena pelan, sama sekali tidak sadar kalau bisikan sepelan apapun pasti bisa didengar Marcus. Ia lupa sama sekali kalau sekarang ia sedang tenggelam dalam tubuh lelaki itu.

“Kenapa? Siapa yang bodoh?” tanya Marcus. “Aku tahu kau bodoh karena sudah mencintai manusia sepertiku, tapi tenang saja, kriteria gadis favoritku tidak harus pintar.”

Serena mendongak, mencoba menatap wajah Marcus lebih dekat. “Di saat seperti ini kau masih bisa bersikap sedatar ini? Bahkan bisa bercanda?”

“Karena itu kutanya, sejak tadi sikapmu mendadak aneh, apa yang terjadi?” Marcus mengernyitkan alis. “Karena kau tidak memberi jawaban apa-apa, kupikir kalau aku mencairkan suasana bisa membuatmu lebih baik.”

Serena menyentuh wajah Marcus, membelai setiap bagian wajahnya. “Aku memang bodoh..”

“Eh?”

“Kalau begitu, maukah kau menunggu si bodoh ini jadi pintar?” bisik Serena lirih. Tanpa menunggu jawaban Marcus, ia kembali memeluk tubuh lelaki itu erat. Tubuh Marcus yang tinggi dan tegap hanya seperti benda rapuh dalam pelukan Serena. Ia harus sangat berhati-hati untuk bisa melepaskan segala ketakutannya. Serena tahu perasaan itu akan lenyap seandainya ia bisa memeluk Marcus lebih erat. Sangat erat sampai tidak akan ada yang bisa mengambil lelaki itu darinya.

Sesuatu yang tidak menyenangkan kembali menjalari kepalanya. Pandangan mata Vincent jelas bukan tatapan yang ramah. Mata itu seolah bisa membakarnya dari jarak jauh. Bukan kemarahan Vincent padanya yang Serena takutkan. Satu-satunya yang jadi prioritasnya saat ini hanya pasangan-tak-abadinya, Marcus.

Bagaimana kalau Vincent melakukan sesuatu pada belahan jiwanya itu? Bagaimana seandainya tiba-tiba Marcus sudah tergeletak kehabisan darah di depannya? Bagaimana jika Aiden tidak cepat-cepat membawa Vincent menjauh dari mereka?

Semua pertanyaan menakutkan itu melayang-layang di kepala Serena, membuatnya merasa ingin jadi manusia sekali lagi. Setidaknya saat manusia mengalami perasaan itu mereka bisa menangis. Menangis sejadi-jadinya sampai ketakutan mereka hilang. Tapi sayangnya Serena bukan mereka. Serena bukan manusia.

Marcus melepaskan pelukan itu perlahan. “Kalau saat kau jadi pintar kau melupakanku, aku lebih suka kau jadi bodoh selamanya..”

Mau tak mau Serena memaksakan seulas senyuman kecil. “Sayang sekali, tuan Cho, aku tidak akan pernah jadi bodoh. Kau tidak tahu nilaiku di semester ini?”

Lelaki itu merengut. “Dasar gadis sok pintar.”

—–

@Chastain’s

“Lalu bagaimana?” Angela tidak bisa menyembunyikan raut ketakutan di wajah mungilnya yang oval. Melihat Serena menghela napas berat, ia menyela. “Hentikan itu!”

Serena mendongak. “Apa?”

“Itu.. menghela napas seperti tadi. Itu dilakukan manusia hanya saat mereka frustasi, dan aku tidak suka melihat manusia manapun melakukan itu. Sekarang kau malah melakukannya di depanku,” gerutunya.

“Aku hanya berusaha mengurangi kepanikanku,” ujar Serena. “Dan jangan tanya kenapa aku bisa merasa panik. Aku sendiri tidak tahu.”

Angela memutar bola mata. “Tentu saja kau harus panik. Pasanganmu sedang jadi incaran pemimpin koloni vampire terkuat di Asia Timur, nona.”

“Selain panik, aku juga takut. Apa itu juga wajar?”

“Aku.. tidak tahu,” jawab Angela lemah. “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Serena menggeleng. Otaknya tidak bisa diajak berunding tanpa harus membuat dadanya nyeri. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Bukankah seharusnya rongga dadanya itu kosong? Tidak ada jantung yang berdetak disana tapi rasanya sakit.

“Sembunyikan dia!”

“Eh?” Serena menautkan alis, bingung.

Angela melipat kedua tangannya lalu bangkit dari kursi dan bergerak anggun ke arah Serena. “Sembunyikan Marcus. Kemanapun, sejauh apapun yang kau bisa, bawa dia pergi dari sini.”

“Kau sudah gila? Bagaimana kalau terjadi kekacauan antar vampire? Lalu bagaimana denganmu dan Andrew? Kau pikir aku sudah sinting sampai berani kabur dan meninggalkan kalian?” seru Serena. “Lagipula Marcus belum tahu apapun. Aku.. tidak mau membuatnya ketakutan.”

Alis Angela mengernyit. “Kau belum bilang kalau Vincent, vampire nekat itu, bisa saja sedang mengincar nyawanya?”

“Hei, kau pikir bagaimana aku bisa memberitahunya? Oh, kau ingin aku bilang, ‘Selamat, Marcus, kau baru saja menjadi incaran pemimpin koloni vampire terkuat yang sangat kejam’ begitu?” Serena berteriak, setidaknya untuk telinga Angela, ia sedang berteriak frustasi.

“Aku tidak bilang begitu kan? Sensitif sekali,” gerutu Angela. “Maksudku, bisa saja kau jelaskan padanya kalau Vincent itu vampire, bedanya adalah dia vampire yang kolot, masih senang berburu dengan liar dan tak beradab.”

Serena memandangi adik perempuannya kesal. “Lalu apa? Kau tidak memikirkan bagaimana reaksinya?”

“Dia itu tetap Marcus Cho yang sama kan?” tanya Angela. Serena mengangguk tanpa suara. “Lalu apa yang kau takutkan? Mencium dan memeluk vampire wanita saja dia berani, apalagi hanya soal ini. Setidaknya aku yakin Marcus tidak akan pingsan di tempat.”

“Angela Chastain, apa kau sedang mengujiku?” Serena mendesis dan mengarahkan tatapan tajam pada Angela.

Angela meringis. “Jangan melihatku begitu. Kau menakutkan.” Lalu gadis mungil itu kembali duduk di sofa. “Lalu kau mau Marcus menjadi badut bodoh yang tidak tahu soal pertunjukan utamanya?”

“Apa? Apa maksudmu?”

“Kau mau membiarkan Marcus menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apapun disini? Setidaknya beri tahu dia,” jelas Angela. Kali ini ia yang memegang kendali. Angela bisa menatap lurus ke dalam mata Serena. “Kalau kau menjadikannya sebagai pasanganmu, libatkan dia.”

Serena menggeleng kuat-kuat. “Itu berbahaya!”

“Bukankah bahaya itu kalian lalui bersama? Kalau aku, aku tidak akan takut apapun selama ada Spencer di sampingku. Selama dia menggenggam tangan pucatku ini, aku bisa melakukan apa saja,” ucap Angela yakin. “Ah, bicara soal Spencer membuatku ingin melihatnya..”

“Mungkin dia masih ada di sekolah. Marcus bilang dia akan bersama Spencer sampai malam nanti,” Serena menjawab tapi pandangannya menerawang. Matanya susah fokus pada satu objek.

Angela mengangkat bahu. “Aku akan segera kembali. Kau mau aku menyuruh Marcus menemuimu?”

“Untuk apa?” ujar Serena, tetap dengan pandangan mata yang sama. Diam-diam ia bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Untuk membahayakannya semakin jauh? Serena buru-buru menyahut. “Tidak, tidak usah.”

“Oh, terserah kau saja kalau begitu,” Angela meninggalkan tempat duduknya dan melangkah anggun keluar rumah. Gerakannya seolah dibuat cepat tanpa menghilangkan kesan lembut yang damai.

Serena sudah tidak bisa melihat punggung Angela yang menjauh dari pintu. Ia membiarkan aura adiknya menghilang dalam radar kecil miliknya dan hanya memusatkan perhatian pada aura Marcus. Lelaki itu sedang ada di ruang kesenian bersama Spencer. Serena merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ia ingin menemui lelaki itu dan memeluknya lagi..

—–

Marcus Cho mengetuk-ngetukkan tangannya ke meja. Sejak dua puluh menit yang lalu ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada apapun. Entah kenapa mendadak ada puluhan, tidak, bahkan ratusan pertanyaan terbang di kepalanya.

“Tuan Cho, Hei, Marcus Cho~ aku ada di sampingmu dan kau hanya mengabaikanku?” omel Spencer. Ia menatap Marcus bingung. “Ada apa?”

Marcus mengalihkan pandangan pada Spencer, menatapnya dengan datar. “Tidak. Tidak ada apa-apa, mungkin.”

“Kurasa itu artinya kau punya masalah,” ucap Spencer. “Kau keberatan bercerita padaku?”

“Kau makin mirip pasangan abadimu. Sangat suka ikut campur,” Marcus memutar bola mata, jengah. Kemudian ia berbalik menghadap Spencer. “Apa ada vampire lain selain.. Chastain?”

Spencer balas menatap Marcus dengan tatapan kau-polos-atau-bodoh. “Memangnya Serena tidak pernah bicara apapun padamu?” Melihat Marcus menggeleng lemah, Spencer menghela napas. “Ada. Tentu saja mereka ‘yang lain’ itu ada.”

“Seperti apa mereka?” tanya Marcus hati-hati.

Spencer mengangkat wajah, berusaha mencerna pertanyaan Marcus. “Kau bertemu mereka? Vincent? Atau Aiden dan Nadine?”

Marcus mengerutkan kening. “Siapa?” ulangnya.

“Koloni Lee,” jawabnya. “Koloni terkuat di Asia Timur. Serena tidak bilang apa-apa padamu?”

“Gadis itu! Selalu menyembunyikan sesuatu yang penting!” omel Marcus. “Siapa tadi? Vincent dan Aiden Lee? Lalu siapa itu Nadine?”

“Nadine itu pasangan abadi Aiden. Mereka berdua vampire,” jelas Spencer. “Apa Serena tidak pernah cerita soal hal ini? Padahal Angela selalu mencekokiku dengan segala hal tentang kaum mereka. Mulai dari koloni, sejarah Chastain, sampai kehidupan percintaan Serena dan Andrew.”

Marcus mengangkat alis, ingin tahu. “Percintaan Serena? Kau bisa berbagi denganku kan?”

“Itu.. kurasa aku tidak suka me-“

“Aku bisa!” suara nyaring berdentang seperti lonceng mengejutkan kedua lelaki itu. Saat keduanya menoleh, mereka bisa melihat Angela Chastain duduk di salah satu meja yang ada di belakang mereka. Sedetik berikutnya gadis berambut gelap itu melompat turun dengan satu gerakan lembut dan mendarat dengan ringan.

Spencer mengulurkan tangannya, berniat menarik gadis itu dalam pelukannya. “Kau disini? Sejak kapan kau jadi mata-mata?”

“Hei, bukan salahku kalau kalian tidak akan pernah menyadari keberadaanku,” Angela tersenyum lebar, merasa menang. Ia membiarkan tubuhnya direngkuh Spencer erat-erat. Kemudian ia menatap Marcus. “Apa yang ingin kau tahu?”

Marcus menganga. “Eh?”

“Soal Serena. Apa yang ingin kau tahu?” tanya Angela sekali lagi. Pelan-pelan ia melepaskan diri dari pelukan lelakinya. “Aku bisa memberitahumu semuaaaaa yang ingin kau tahu, Tuan Cho.”

Bibir Marcus tertarik ke belakang, membentuk seringaian lebar. “Begitu? Baik, siapa vampire beruntung yang dekat dengannya?”

Angela balas tersenyum. “Tidak ada. Satu-satunya makhluk yang bisa membuatnya jadi vampire setengah gila hanya manusia lemah sepertimu. Kau se-“

Tiba-tiba Spencer menahan lengan Angela. “Hei, soal Vincent Lee?”

“Vincent Lee?” ulang Marcus. “Vampire yang kau ceritakan tadi kan? Siapa dia?”

Angela menatap Spencer dengan mata menyipit. Sedetik berikutnya ia sudah menghadap Marcus lagi. “Dia.. pemimpin koloni-“

“Koloni Lee, yang terkuat di Asia Timur, dan ya, aku sudah tahu bagian itu,” ujar Marcus. “Maksudku, apa dia kenal Serena?”

Angela diam. Sesekali ia menggenggam tangan Spencer, meminta bantuan. Tapi bantuan yang ia harapkan bukanlah dari pasangannya. Satu-satunya hal yang harus ia lakukan sekarang adalah melindungi pasangan kakaknya ini dari sentuhan koloni itu. Serena tidak berlebihan saat ia bilang tidak pernah siap memberitahu Marcus soal Vincent. Mengatakan semua hal tentang Vincent sama saja membuat Marcus terjun bebas ke jurang kematian.

“Hei, aku menunggu,” omel Marcus. Ia memerhatikan setiap gerakan kecil dari Angela dan Spencer. “Kau mau memberitahuku atau tidak? Atau jangan-jangan tadinya mereka adalah pasangan?”

Angela meringis. “Akan kuberitahu singkatnya. Yang lainnya bisa kau tanyakan pada Serena. Tapi jangan bilang kalau kau mendengar soal Vincent dariku. Dia bisa langsung menggigit leherku.”

Spencer memandangi Angela geli. ”Seolah kau bisa mati saja.”

—–

@Han River

“Kau tidak kedinginan?” suara itu menyadarkan Marcus dari lamunan panjangnya. Serena tersenyum kecil sambil berjalan anggun ke arahnya.

Marcus menggelengkan kepala lalu meraih tangan Serena. “Aku tahan dingin sekarang. Buktinya aku bisa menggenggam tanganmu selama yang aku mau.”

“Itu bukan jawaban yang benar, Marcus,” sela Serena. Gadis itu beringsut duduk di sebelah Marcus. “Kenapa mengajakku kesini? Ah, biar kuralat, kenapa menyuruhku kesini?”

“Kau marah karena aku tidak bisa menjemputmu?” tanya Marcus.

Serena membuat jarak kecil antara jempol dan telunjuknya. “Sedikit. Aku juga mau merasa menjadi Bella Swan. Walaupun kau tidak membawa audi silver seperti milik Edward Cullen, kurasa aku cukup puas dengan motor itu.” Ia menunjuk sepeda motor berwarna hitam milik Marcus.

“Sangat manusiawi,” gumam Marcus.

“Eh?”

Marcus tersenyum geli. “Dirimu. Ternyata kau tidak seaneh yang kukira, tetap ada sisi manusia yang tersisa darimu. Contohnya seperti ini, masih butuh perhatian.”

“Hei, aku vampire, bukan robot. Tentu saja kadang aku merasa ingin menunjukkan pada orang lain –manusia lain, dalam hal ini- kalau aku juga punya kau. Seperti Angela yang selalu bisa memamerkanmu pada semua orang,” jelas Serena.

Marcus menatap Serena lama. Kemudian ia bergumam. “Kalau begitu lakukan.”

“Apa? Memamerkanmu di sekolah? Tidak, tidak. Itu.. konyol,” potongnya cepat. Masih ada bayangan Vincent dalam kepalanya. Vincent Lee yang menyebalkan dan menyeramkan. “Aku tidak kekanak-kanakan seperti Angela.”

“Siapa itu Vincent Lee?” tanya Marcus tiba-tiba.

Serena membeku sesaat, berkutat dengan pikirannya sendiri. Apa Marcus Cho bisa membaca pikiranku? Atau akulah yang sudah berbuat bodoh dengan tidak sengaja menyuarakan pikiranku?

Marcus menghela napas. “Apa tadinya dia pasanganmu?”

“Eh? Pasangan? Bukan! Tentu saja bukan! Aku tidak pernah punya pasangan sebelumnya, tidak sebelum aku bertemu denganmu. Dan lagipula tidak ada istilah ‘pernah’ dalam dunia kami. Semua pasangan yang ada memang tidak akan pernah terpisahkan,” ucap Serena. “Darimana kau tahu soal Vincent?”

“Ada yang memberitahuku soal vampire lain di sekolah. Koloni Lee kan? Kenapa kau tidak pernah bilang apa-apa?” tanya Marcus sambil memandangi Serena lekat-lekat.

Serena mendengus. “Aku bertaruh Angela-lah yang melakukannya.”

“Bukan, Spencer,” ralat Marcus. Wajahnya tampak tak berdosa padahal sudah ada janji tentang ini dengan Angela Chastain. Diam-diam ia menelan ludah. Tamat riwayatnya kalau Angela tahu ia sudah melanggar janji.

“Pasangan sinting!” umpat Serena pelan. Kemudian ia menatap lelaki di depannya dengan pandangan bersalah. “Aku tidak bisa melibatkanmu dalam hal ini. Lupakan saja.”

“Apa? Ini kan urusanku.”

“Bukan! Bagaimana bisa ini menjadi urusanmu? Kau hanya-“

“Memangnya aku tidak boleh tahu tentang masa lalumu? Siapa itu Vincent Lee, vampire seperti apa, lalu apa saja yang ia punya. Aku harus tahu semua itu,” potong Marcus.

Serena melongo. Ia memandang pasangannya dengan takjub. “Kau mencemaskan itu? Kau sadar tidak kalau Vincent Lee itu bukan manusia?”

“Aku tahu. Karena itu aku menyiapkan banyak pertanyaan tentang vampire,” ucap Marcus enteng.

“Marcus Cho, sebenarnya pergi kemana tombol rasa takutmu? Kenapa reaksimu hanya seperti ini, lagi? Kau sadar tidak kalau dunia sekitarmu sama sekali tidak masuk akal?” Serena mencecarnya dengan pertanyaan. “Kau memang selalu sedatar ini?”

Marcus mengerutkan kening. “Memangnya salah? Aku hanya tidak bisa memberikan reaksi yang luar biasa. Memangnya kau mau aku langsung pingsan? Atau berteriak keras-keras disini?”

“Tidak. Aku hanya.. takut,” jelas Serena tanpa melepaskan pandangannya dari Marcus. “Aku takut kau akan lari. Tidak ada manusia yang mau terjebak dalam dunia mitos yang menakutkan.”

Marcus mengangkat bahu. “Tapi Spencer ada disana, dan untuk perhatianmu, dia baik-baik saja. Sama sekali tidak lari atau meninggalkan Angela. Kurasa aku bisa lebih baik darinya.”

“Sok tahu,” Serena mengalihkan matanya. Kalau seandainya ia adalah manusia, Serena yakin ia sudah bisa menangis mendengar ucapan Marcus. Kata-kata itu, entah bagaimana, bisa menguatkannya. “Baik, apa yang ingin kau tahu?”

“Pertanyaan pertama, siapa itu Vincent?”

“Vampire. Pemimpin koloni besar. Salah satu siswa di sekolah juga. Nyaris selalu ditemani Aiden-“

Marcus menyela. “Aku tidak mau tahu tentang dia. Aku hanya mau tahu apa hubungannya denganmu, Serena Chastain?”

“Oh? Kau cemburu?” tanya Serena. Saat melihat guratan merah jambu di pipi lelaki itu, ia tertawa geli. “Kau benar-benar cemburu? Ah, ini harus kuabadikan.”

“Jangan menggodaku. Aku tahu vampire itu sangat sempurna, karena itu kupikir aku harus mencari tahu apa kekurangannya. Sekedar bertaruh apa benar seorang vampire memang sempurna tanpa celah,” ucap Marcus.

Serena menopang dagu, berpura-pura berpikir keras. “Kekurangannya ya.. Vincent Lee.. Ah! Kurasa dia tidak punya kekurangan apapun.”

“Begitu?” Marcus merengut. “Kalau begitu kau dengannya saja. Lupakan aku, lalu binalah kehidupan rumah tangga vampire yang bahagia selama-lamanya. Mungkin dunia dongeng itu sangat cocok dengan kalian yang hidup abadi.”

Serena diam agak lama lalu tertawa lembut. “Dia sempurna, bagi sebagian orang. Bagi orang lain yang sudah punya pasangan abadi, dia biasa saja. Puas?”

“Kenapa dulu kau tidak tertarik padanya?” tanya Marcus. Matanya menatap Serena lekat-lekat, penasaran.

“Tidak tahu. Aku tidak tertarik pada- Ah! Kau tahu soal itu? Pertunangan konyol ala vampire itu?” pekik Serena cepat. Begitu Marcus mengangguk, Serena cemberut. “Pasti Angela Chastain mengatakan semuanya padamu, dari A sampai A lagi, benar kan?”

Marcus berpikir sejenak. “Mm. Dari tingkah vampire aneh yang selalu mengikutimu kemanapun kau pergi, berusaha menarik perhatianmu dengan kekuasaannya di seluruh Asia Timur, sampai betapa seringnya dia pamer keahlian berburu di depanmu. Benar tidak?”

“Angela Chastain! Kurasa dia harus diajarkan untuk tutup mulut!” Serena membayangkan wajah Angela yang terasa sangat menyebalkan saat ini. “Bagaimana pendapatmu?”

Marcus menghela napas. “Perasaanku? Bagaimana ya.. sepertinya baik-baik saja. Kurasa aku bisa menang dari tuan vampire-yang-sangat-sempurna itu.”

“Seperti biasa, dasar tuan-mulut-besar,” omel Serena. “Tapi kali ini kau benar, kau punya lebih banyak hal menarik daripada Vincent.”

“Benar kan? Sudah kubilang aku bisa lebih baik dari siapapun. Dari Spencer dan si vampire-sempurna juga, aku bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa mereka lakukan,” ucap Marcus yakin.

Serena memutar bola mata. “Ya, ya, ya. Aku tahu itu.”

Jauh dalam dadanya, ada getaran aneh disana, seolah dipenuhi ledakan perasaan yang menyesakkan. Ia lupa apa nama perasaan itu. Setiap saat ia harus waspada. Ada orang penting yang harus ia lindungi. Lelaki itu sekarang ada di sampingnya, tertawa sambil menatap Serena lekat-lekat. Lelaki yang sama sekali tidak punya rasa takut dalam dadanya.

Kadang Serena merasa keberanian Marcus itu justru membuatnya dua kali lebih kuat. Setidaknya lelaki itu bisa menularkan rasa panas yang menyenangkan. Tapi mengingat kembali bayang-bayang Vincent Lee membuat Serena sadar. Bukan keberanian Marcus yang bisa menyelamatkannya. Serena-lah yang harus melindungi lelaki itu. Lelaki itu terlalu rapuh.

Marcus Cho tetaplah seorang manusia. Manusia menyedihkan dengan kulit tipisnya yang bisa langsung dirobek dalam satu kali serangan. Serena bergidik. Tiba-tiba ia ingat nama perasaan yang mengganggunya. Ketakutan.

—–

Vincent Lee berdiri tegak sambil melihat jauh ke arah selatan. Pandangannya terfokus pada seorang gadis yang tertawa di samping lelaki paling lemah yang pernah ia temui. Tangan Vincent terkepal erat.

“Kau.. tertawa? Dengan manusia itu?” tanya Vincent, hanya pada dirinya sendiri.

Ia tidak bisa mengalihkan matanya pada objek lain, seolah pusat penglihatannya hanya ada pada gadis itu. Serena Chastain sudah lama menunjukkan ketidaktertarikannya pada Vincent. Tidak pada kesempurnaan fisik abadinya, atau kekuasaannya yang ada di seluruh Asia Timur. Tapi Serena Chastain bisa dengan mudahnya tertawa lepas di samping manusia rapuh seperti itu.

Vincent menggeram, kesal pada kegagalannya. “Serena..”

“Lupakan saja,” sela Aiden. “Dia bukan pasanganmu, dan sekarang dia sudah memutuskan siapa pasangannya.”

“Aku tidak tanya pendapatmu kan?” bisik Vincent. “Kau tidak mengerti karena kau sudah punya Nadine.”

Aiden mengelak. “Dan kurasa kau juga tidak mengerti bagaimana rasanya memiliki pasangan abadi. Serena bukan pasanganmu, itu jelas. Berhentilah menatapnya dari sini. Dia bisa tahu kita disini.”

“Kau pikir aku peduli? Kemarin pun dia tidak menyadari keberadaan kita,” Vincent duduk di salah satu balok kayu besar. “Kenapa begitu?”

“Mungkin perasaannya yang menutupi radar dalam kepalanya? Nadine juga begitu. Saat dia bersamaku, pendengaran jarak jauhnya tidak berfungsi,” jelas Aiden. “Apa kau tahu kalau itu adalah keistimewaan? Semua hal yang tidak biasa terjadi padamu saat kau menemukan pasanganmu sendiri.”

Vincent mendengus. “Jangan mengguruiku. Kau mau bilang kalau manusia itu adalah pasangan abadi Serena? Lelaki itu bahkan tidak abadi! Dia manusia lemah yang cepat mati.”

“Sama saja. Suatu saat Serena bisa mengubahnya menjadi seperti kita, begitupun dengan Angela. Mereka punya hak,” Aiden duduk beringsut ke samping Vincent.

“Kau akan terus mengomel atau memberi apa yang kuminta?” tanya Vincent, setengah jengah dengan ucapan Aiden tentang pasangan dan sebagainya. Begitu Aiden menyerahkan gulungan kertas putih, Vincent menyeringai, “Apa semua ini benar?”

Aiden mengangkat bahu. “Aku mengambilnya di ruangan Professor Park, kau pikir ini palsu?”

“Tidak, mungkin tidak,” balas Vincent. Ia mengamati isi kertasnya dengan seksama. “Sepertinya aku akan mulai malam ini. Kau ikut?”

“Jangan gila. Sudah kubilang aku hanya akan membantumu sampai sini. Sisanya, bereskan sendiri. Aku ada di tengah-tengah kali ini. Jangan libatkan aku dan Nadine,” ucap Aiden. Selanjutnya ia berdiri dan bergerak lembut meninggalkan Vincent.

Vincent sama sekali tidak mempermasalahkan kepergian Aiden barusan. Matanya hanya tertuju pada kertas di tangannya. Ia kembali menggeram. “Marcus Cho..”

—–

@Library

Amelia Lee baru saja meletakkan buku yang berisi tentang kedokteran saat ponselnya bergetar. Gadis itu meraih benda itu dari sakunya. Butuh tiga detik untuk membaca pesan yang ada disana kemudian ia tersenyum sebelum mengembalikan ponsel layar sentuh itu kembali ke saku.

Gadis berkacamata itu menggapai-gapai tempat yang agak lebih tinggi dari tinggi badannya sendiri. Ia berusaha mengacung-acungkan buku besar ke tempatnya tapi ia tak cukup tinggi. Amelia baru akan menyerah saat kemudian ada yang menyentuh tangannya dan membuatnya terkejut.

“S-siapa kau?” tanya Amelia, waspada. Ia mengamati lelaki itu perlahan, memerhatikan setiap bagian tubuhnya dari atas ke bawah. Kemudian ia menunjuk pintu kaca besar. “Perpustakaan baru saja tutup.”

Lelaki itu tersenyum samar. “Aku butuh buku tentang.. mitos dan legenda.”

Amelia menampik tangan lelaki berwajah porselen itu dengan cepat. “Tuan, bukankah sudah kubilang kalau perpustakaan ini sudah tutup? Aku harus pulang.”

“Hanya satu menit. Tidak akan lebih,” ucapnya lembut.

“Baiklah, siapa namamu?” tanya Amelia pasrah. Dengan setengah kesal ia meletakkan kembali buku besar itu ke meja lalu menuntun lelaki itu ke meja lain.

“Aku? Aku malaikat,” lelaki itu kembali tersenyum lebar. “Vincent Lee. Aku punya kartu anggota disini. Bisa tolong carikan?”

Amelia mengernyitkan alis. “Ada disini? Siapa namamu tadi? Vincent Lee?”

“Ya. Aku teman Marcus Cho,” Vincent menatap gadis di depannya tanpa berkedip. “Dia.. punya hubungan denganmu kan?”

“Kau teman Marcus? Aku tidak tahu dia punya teman sepertimu,” ucap Amelia tenang. “Aku adiknya, eh, beda ayah. Baru saja dia mengirimiku pesan. Dia bilang ada tamu istimewa yang mau dia pertemukan denganku. Kurasa dia sudah punya pasangan, benar kan?”

Vincent meringis. “Sepertinya begitu.”

Sedetik berikutnya Amelia mendongak. “Aku tidak menemukan kartu anggotamu. Tapi tenang saja, karena kau teman kakakku, aku pasti meminjamimu buku disini. Kau cari buku apa?”

“Buku mitos dan legenda perang,” jawab Vincent. “Sebuah buku yang menuliskan tentang, ‘perang yang sebenarnya akan dimulai saat kau mengedipkan mata satu kali’.”

Amelia mengerutkan kening tapi tetap melangkah ke susunan rak raksasa di depannya. “Ikut aku.”

Vincent menganggukkan kepala lalu bergumam. “Perang benar-benar akan dimulai..”

-TBC-

====================

Haloooo~ *apadeh?* Akhirnya perjuangan berat ini berakhir! Susah payah nyelesain part 4 di saat2 kritis kaya gini.😄 Tapi kelar loooohh~ Seperti biasa, aku ga yakin ini memuaskan. Banyak hal yg bikin perasaanku naek-turun pas nulis part ini. Mohon maaf seperti biasa yaaa~ *bow*

Komen tetep ditunggu. *SANGAT* Hehe..😀

Amelia Lee, salah satu cameo baru disini. Utang FF-ku aku satuin disini aja yak onn? Aku lagi ga mood nulis My Wonderful Life lagi. Ga ada ide.😦 Moga berkenan.

Ini satu part sebelon ending, mungkin. Mudah2an bisa cepet dikelarin yahh, soalnya moodku soal dunia pervampire-an uda terbang tinggi entah kemana. Makasihh banyak buat supportnya buat The Chastain’s ini. *deep bow*

Eniweeiii, Changmin DBSK makin keren yah? *digetok unyuk* *ignore this, enjoy the fanfict.🙂

67 thoughts on “The Chastain’s [Serena #4]

  1. Vincent…
    ingatlah cintamu pada Marcus, nak…
    wkwkwkwkwkwk…
    oh jadi radar2 begitu klo udh deket pasangan jiwa gak fungsi ya?
    wakakakakaka…

    naik turun kenapa couple?
    be strong, be happy…
    I am here for you *nyanyi Bon Jovi*’
    wkwkwkwkwkwk

    lanjuuuuut aku penasaraaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!

    • Huahahahaha~ kyumin onn? Bakal hancur disini.😄
      Ho’oh, biasanya radarnya suka ga fungsi. Ga ada sinyal kalo lagi dket couple. XDD

      I’m stroooong kok.🙂
      lagi naek turun aja, banyak pikiran. .___.
      Makaaaaasiiihh berat uda bacaa~😀
      *terbang ke sjff*

  2. Lanjut onn! Aku penasaran…amelia lee bakal jd pasangan abadinya vincent kah?emang ff my wonderful life belum tamat ya onn?lupa aku hehehe

    • Ameliaaa.. masih tanda tanya. Beneran dehh belon ada lanjutan ide.😄
      MWL uda tamat kok. Cuma rencananya tadinya mau bikin after story.🙂
      Makasihh banyak uda baca yaa~😀

  3. huweeeeeee…
    aku penasaran lanjutannyaaaaa…. o.O
    aku mau diapain tu ama umin…😄

    aaaa,,,, it angela nggak bisa tutup mulut dikit aja apa???
    semuanya dikasih tau…😄

    huweeeee,,, aku tunggu part 5…🙂

    P.S aku ngebayangin serena itu vic…😄

    • jyahh~ dia napsuan.😄
      Mau diapa2in ama umin, suka kan? Uda aku jodohin nih ama umin. XDD

      Hehehe.. apa boleh buat, angela kan tipe2 ember. Tetanggaan ama kangin & Tuki.
      Kita kan trio ember. (?) *dicekek kangteuk*

      PS: Hahaha.. aku juga bayangin victoria pas lagi ngetik.😄 *kiss Victoria*
      Makasihh uda baca onn~😀

      • yeee,,, boleh dong napsuan…
        emang situ kagak???😄
        tuh kan,,, dibilangin dari dulu juga jodohin aku ama umin…
        kenapa gag daridulu aja???😄

        wah,,, bener” deh…
        kalo gini mah gag boleh cerita kebanyakan ama angela nih…😄

        neee,,, cheonmaneyo…
        lanjutannya mana nih,,, uda lama ditunggu juga…🙂

  4. Keren2, tapi Kyu dipeluk sembarangan lagi. Sebel! Ah, adiknya Kyu mau dibunuh, tuh? ANDWAE!
    Asyik, mau ending, ya? Hahaha… keren2 y bikinnya. Jgn ampe yeobo mati. Hohoho…
    Changmin, eh? Mau selingkuh qm?

    • kan serena emang pasangannya marcus, jadi wajar diapa2in. :p
      Nasib kyu ada di tanganku, jadi awas aja kyu kalo ga jadian ama victoria. (?)

      Ga lahh.. aku setia. Ga kaya fangirl laen. :p
      Makasih uda baca..

    • Hahaha~ tenang, tenang, Marcus mbak Evil baek2 aja kok di tangan saya.😄
      Asal dia ga macem2 aja. Cukup satu macem (?)

      Huahahaha.. umin ga jahat, dia terobsesi ama angela *ga nyambung*
      Ehem, it’s better if you remember ur babyhoon and the evil, miss Evilia~ XDD
      Makasihh uda baca, mbak~😀

      • they don’t remember me -__- saia kan slalu dianggap tidak ada *cabut pspnya-bakar*😄
        resiko punya dua evil~ depannya psp ya saya di cuekin *gelayutan ama babyJino :3*
        wkwk~

      • haduh, haduh.. sabar mbak~ Kayanya sekali2 mereka perlu dibina, dibinasakan.😄
        Eh, gapapa tuh, gelandotannya ama babyJino ajaaa~ Aku setujuu. Aku uda ga mabok jino lagi soalnya. XDD *unyuk jingkrak2*

  5. Wkwk..seperti biasa,serena slalu nyosor duluan..xD
    tp keren bgt!
    Amelia lee pasanganx umin kah??kasian kalo umin ga dpt pasangan,..T.T
    trus cerita siwon nya gmn??
    Lanjott…

  6. wahhhh….akhirnya keluar jugag…..saeng q dah lama nunggu loh….
    #gak tanya ….
    kayaknya ada couple baru nie vincent ma amelia….wkwkwk/…..suka…suka..kuk partnya spencer sdikit banget yach…trus…andrew gak muncul…hiks…hiks…kasihan…

    tapi gapa…si marcus disini berani banget gak takut ma apapun gak gentar sama vampir,tapi kyumin…#SARANGHAE……….popo…popo…
    #unyuk : jagi ngapain berisik gitu…malu…tau…

    • Wahh.. maaf ya kalo nunggunya kelamaan. Maklum, kelas 3, sibuuuuk~ *sok sibuk*
      Vincent-Amelia.. belom tau sihh. Idenya lagi terbang entah kemana. ><
      Hahaha.. kenapa part spencer dikit, soalnya ini masih cerita seputar serena.🙂
      Andrewnya lagi sibuk ama athenna.😄

      Aku juga suka karakternya kyu disini. Ama aiden juga.😄
      Makasihh uda baca yaa~😀

  7. aaaaaaa rame tapi saia ga ngerti >,< *as usual doyan loncat2 =,=
    komen benernya ntaran deh, mau ngobrak-ngabrik part 1 ampe 3 dulu.. heheh *dicekek*
    lanjuuuuuuuuuuuutt~~~ *ikut2an yg lain* xD

  8. Jiah.. dia ngikutin ajaran sesat diriku, udah mau ujian masih sempet aje curi-curi waktu…😄

    Yaaa! Shela… seperti biasa FF buatan dikau bagus dan berkelas.. wakakakak..

    Vincent Lee makin sangar aja disini..
    * ngebayaning wajah aegyo bang Umin berubah galak* 😄

    Aku cuma mau ngasih info kalo koloni vampire yang terkuat di Timur itu masih ada satu lagi Shel..

    “Koloni Kim ”

    Pemimpinnya itu Jeremy Kim… jadi si Umin kudu ati-ati tuch sama pasangan jiwanya Fiona Han..
    Hahaha.. *tetep maksa deh ye eikeh*😄

    over all bagus shel.. *Peluk Shela kuat-kuat*

    • Hehe.. abis banyak godaan sihh. Lagian ga tenang kalo ga lanjut nulis.😄
      Waduuhh.. makasihh banyak yaa onn..😀

      Vincent itu sisi jahat umin, anggep aja gitu.😄
      O yaa? Kim? Aigooo~ itu masih di bawah Lee, onn.
      Jeremy kan vampir penyayang, kurang gahar. (?)

      Makasihh banyak uda baca yaa~😀
      *hug balik erat2*

  9. eh..penasaran kertas yang dikasi ma aiden itu isinya apaan ampe bikin si vincent geram gitu….omo bang umin disini kenapa jadi sangar gini yah..?? kemana aegyomu bang?? huhuhuhu….

    amelia lee itu saudara tiri markus yah..?? jangan2 ntar dia jadi pasangan abadinya vincent nih, secara sama2 marga lee kan..?? *sotoy*

    aih..aih,,si shela masih sempatnya lirik2 changmin..nyebut shel..nyebut..kasian unyuk…kkkkk~~~~

    • Ng.. aku buka disini aja ya. Sebenernya tu kertas kaya datanya marcus, makanya vincent bisa tau kalo marcus punya sodara tiri.🙂
      Aegyo umin lagi ga berlaku disini.😄

      Hehe.. abis changmin itu masa laluku di dbsk.😄
      Makasihh banyak uda baca onn~😀

  10. i am c0ming again..
    Shela bosen,bosen dah aku datang malulu..hehe..
    Oke,it’s time to comment..

    As usual,,kata2nya pas bgt..nyaman bgt bcanya,,

    heudeuh..entar dri mana dtangnya..aku iri sama spencer+angela..
    Huwee..heechul oppa..
    *hug oppa erat2*

    ngakak bca part ini :
    “Begitu?” Marcus
    merengut. “Kalau begitu
    kau dengannya saja.
    Lupakan aku, lalu binalah
    kehidupan rumah tangga
    vampire yang bahagia
    selama-lamanya. Mungkin
    dunia dongeng itu sangat
    cocok dengan kalian yang
    hidup abadi. ”
    wkwkwkwk..kebayang k0nyol bgt wajah kyu wktu ngm0ng kek bgtu..
    *ditendang kyu*

    aiah,gk tau harus ngomen apa lg..pkiranku lg error..
    Yg jelas,gk mengecwakan kok saeng,bgus spt biasanya.😉

    iya iya,,changmin sm my yunho sungguh mempesona..
    *digetok tiba2 ngm0ngin mreka*

    • kaga bosen kok. Tenang ajaa~😄

      hehe.. spencer-angela emang selalu bikin iri. (?)
      Pas bagian itu aku bikinnya ngebayangin orang laen. Tapi aku lupa siapa. Bukan kyu kayanya. -.-

      Tuhh kaaan~ Homin lagi menggila. XDD
      Masih sedih liat dbsk berdua doang. Tapi tetep dukung mereka full. ><
      Makasihh banyak uda baca yaaa~~~😀

  11. aduuuh, the chastain’s udah sampe part 4, mana part 3 belum rini baca lagi. mianhaeyo onniee.. ini wp di hape udah berubah jadi lama banget bukanya –..–

    baca dulu yakk ^^

    *btw violetter udah end ya? omo rini ketinggalan zaman banget banget –..–

    • AAAA ONNIE SUMPAH NIH FF LEBIH BAGUS DARI TWILIGHT~~~ >.< dijadiin film aja deh onnie. pasti banyak yg sukaa XDD

      tapi itu tingkah sungmin kejam bgt deh ya. mau ngelenyapin kyu segala T.T baru aja baca ff behind you yg sungminnya kaya angel eh disini dia kaya ibliss ck –..–d

      • eh? lebih bagus dari twilite? diomelin mbak Meyer lohh?😄
        Film darimana? berantakan gini alurnya. XDD
        Yahh.. alhamdulillah lah kalo ada yg sukaa.🙂

        Hehe.. imejnya vincent ama umin tu beda banget lahh.
        Kaya dua pribadi yang beda. Iseng banget kan bikin kaya gitu. XDD
        Makasihh uda baca yaa~ *hug*😀

  12. jiaaah, sungmin jd jahat…
    gak bs byangin sih sbenar’y, yg muncul malah aegyo’y sungmin, hehehe

    amelia lee tu adek’y kyu yah…
    jgn2 pasangan abadi’y vincent?
    pkok’y kyu jgn d’apa2in yah…

    • hehe.. bayanginnya jangan umin, vincent. Mereka beda.
      Vincent aku anggep jadi sisi jahatnya umin.😄
      \
      Nasib kyu ada di tanganku. Kekeke~ *evil smile*
      makasih uda baca ya onn~😀

    • makasihh lohh~ hehehe..😀
      Mudah2an bisa makin bikin penasaran, supaya endingnya ga mengecewakan.
      Aku paling susah bikin ending yg berkesan. ><
      Makasihh uda baca onn~😀

      • lah komenku kepotong lagi? .___.
        iya penasaran banget. apalagi keluar tokoh baru si amelia.. wah kayaknya cocok dijodohin sama umin biar dia dapet pasangan juga.. kasian kan dia gak dapet serenanya hohoho

        ah tapi aku buat aku berkesan, aku sampe gampang ngapalinnya.. perasaan dulu waktu sma buat ngapalin sejarah aja susah hahaha xD
        ffmu kata2 ngena banget soalnya XDD

  13. Shela, mianhae, ud dr kmren bc, tp bru hri ini bs komen. .^^v

    Kyu santai banget y?? Gmana ntar y kalo ud brhdpn lngsng m vincent??

  14. Kykny Amelia ntar jd pasangn vincent neh,. *sok tau*
    Tkesan bgd ma karakter marcus dcni.
    Tenang tp mnghanyutkan,.
    Brarti part 5 ntar ending iah,.
    Dtggu next part..

  15. Aaaaaaaaaaah suka banget onn
    Apalagi pas serena nya bareng Kyuhyun he9
    Nggak tau kenapa aku ikut deg deg an, ha9
    Emosinya dapet banget onn
    As usual Onnie emang DAEBAK deh (^O^)/
    NeXT part mau di publish kapan onn ?? Minggu depan ??
    Aku tunggu ya NeXT part nya, he9
    Onnie hwaitiiiiiiiiiiing o(^▽^)o

  16. Selalu telat datang, n komennya udah banyak *sigh*
    Yo wes lah, ff mu tetap bagus seperti biasa
    Itu marcus punya adek? Terus ntar adeknya mau dibunuh sama sungmin?
    Omooo ~
    Sungmin dibuat jahat di sini ,, kasihan sekali muka imutmu tersia-siakan,,hehe
    Shela,, ayo semangat!!
    Btw, tentang tvxq, aku lebih fokus ke JYJ
    Aku udah nolak HoMin dari lama. N mian buat biasnya Homin,, sejak Thanks To, aku jd ilfeel sama mereka berdua..
    Mian ya, jadi curcol neh. Habis benar2 dibuat galau sama mereka..

  17. Vincent!!!!!!! Sama Aku aja !!!!! *digetok kyu*
    wah… makin rame… hahahaha *abaikan*
    KyuMin disini parah banget
    mana lagi sahabat saya suka umin
    bagaimana kalo persahabatan aku ancur??? hiks…. hiks…. hiks….. *nangis dipojok ruangan*
    niceff deh… 😀

  18. Onnie emang Daebakkkkkk !!!!! *unyuk jingkrak jingkrak*
    Vincent!!!!!!! Sama Aku aja !!!!! *digetok kyu*
    wah… makin rame… hahahaha *abaikan*
    KyuMin disini parah banget
    mana lagi sahabat saya suka umin
    bagaimana kalo persahabatan aku ancur??? hiks…. hiks…. hiks….. *nangis dipojok ruangan*
    niceff deh… 😀

  19. dah baca, tapi komennya hari senin aja ya #plak hehehehe
    neh aja dah nyuri2 buat baca, mo mandi dulu trus brangkat hehehehe

    annyong ^^

    • gw bantuin serena nutup mulut angela, tp pake apa ya, sambel teri ato toge goreng?? hahahahahahah #kidding

      keknya kyu harus dibuat jadi vampire deh, cos kriterianya dah cocok jadi vampire, trus ntar bertarung ama sungmin rebutin serena #khayalan tingkat menengah hahahahahahhaha

      • Pake sambel teri enak tuhh onn~😄
        Demen dah aye. Apalagi teri yg laen. XDD

        Kyu jadi vampir? Waduhh.. dia uda cukup sempurna tanpa harus jadi vampir. *gombal*
        KyuMin? Bertaruuung? Omoo~ ga kebayang.😄
        Makasihh uda bca ya onn~😀

  20. wadoooh~ kalo beneran perang wah perang dunia kalah sadiiiisss!!! >.<
    next part ny sadis y eonn psti?? ckckckck~
    klo dijadiin pilem seru psti ni eonn…
    gmn eonn?? udh ada panggilan bwt bikin novel?? saya pasti bacaaa~
    part yg ini bnr" kesengsem sama keanehannya Kyu.. #plak
    kok ada ya orang yg santenya kyq gtu? padahal udh mw mati.. akakaka~*ditabok*
    eniweeiii.. part selanjutnya dtungguu~ FIGHTING eonn~ ^o^

    • Next partnyaa.. ayo pinginnya jadi gimana?😄
      Kalo dijadiin pilem, kasian produsernya, dek. Ga ada yg nemu pemeran mirip Marcus, Vincent apalagi Spencer. XDD
      Novel? Mudah2an ada jalan. ><
      Makasihh banyak uda baca yaa~😀 *hug*

    • Keanehannya kyu itu harus bener2 digali, soalnya kan onnie ga tau banyak soal dia. ><
      Lagian justru itu kenapa dia dipilih jadi pemeran utama, soalnya bakal beda dari cowok2 laen.😄

  21. Astaga… Bnr2 brasa lg nntn film…
    Ahhh, butuh sequel (ʃ‾̩̩̩‾̩̩̩~‾̩̩̩‾̩̩̩ƪ)
    Terlalu bagusss, tp udah mw ending. T_T

  22. Amelia Lee sama Vincent Lee aja!!!!! Wkwkwk ngotot. Perang? Ahelah Vincent mau perang apa sama Marcus? Lo jelas-jelas vamipre terkuat masa iya mau perang sama mahluk terlemah/? Macam Marcus *ditabok Kyu* Kagak adil weeeeeeh…

  23. Oh? Vincent memulai nya dgn menyakiti keluarga marcus, org yg marcus cintai dan sayangi.
    Vincent jahaaaaat jg pembuat onar!
    Kasian marcus dan serena. Hub mereka tdk semulus hub spencer dan angela.
    FF mu makin keren!
    Marcus dan serena tampak seperti org yg jatuh cinta. Feelnya dpt bgt!
    Lanjut ya.. Gumawo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s