Violetter #7

-previously-

Malam musim dingin yang dihiasi butiran salju mulai turun di pusat kota Seoul. Setiap orang yang berjalan di kanan-kiri Jiyoo sedang terburu-buru, menghindari dingin dan salju yang menyambut mereka. Beberapa malah sedang mengusap-usap kedua tangan, berusaha menghangatkan diri.

Tapi Jiyoo sama sekali tidak berniat mempercepat langkahnya. Ia membiarkan rasa dingin itu membekukan setiap sendi tubuhnya. Biasanya Jiyoo sudah menggigil di suasana seperti ini, tapi ia bahkan tidak bisa menunjukkan kedinginannya. Ia tahu bibirnya nyaris biru dan buku-buku jarinya memutih. Tapi Jiyoo mengabaikannya.

Bagi Jiyoo, ia hanya perlu sedikit membekukan seluruh tubuh dan perasaannya. Jiyoo sangat berusaha agar luka itu tidak terasa lagi. Jiyoo hanya ingin lukanya itu membeku, ia ingin luka itu mati rasa dan tidak menyiksanya lagi. Tubuhnya memang membeku, tapi luka itu masih terasa. Seolah berubah menjadi sayatan baru, luka itu mengeluarkan darah segar yang merembes dan memenuhi hatinya..

—-

Eunhyuk sibuk mengetuk-ngetukkan jarinya saat Sukira baru dimulai selama 30 menit. Matanya tampak tak tenang. Ia berusaha mengenyampingkan segala pikiran tentang Choi Jiyoo, tapi otaknya menolak menuruti keinginan itu.

Tanpa sadar, ia sempat beberapa kali menggumamkan nama gadis itu. Leeteuk yang duduk di sampingnya memilih tidak peduli. Ia tidak mau rasa kesal yang sama memenuhi rongga dadanya.

“Hyung..,” panggil Eunhyuk sesaat setelah jeda. Yang dipanggil hanya menoleh singkat, tak menunjukkan minat lebih. Eunhyuk berkata, “Apa.. kau benar-benar menyukainya?”

Walaupun Leeteuk sudah bertekad tidak akan mencampuri urusan Yoo-nya dan Eunhyuk, ia tahu ia tidak akan bisa merelakan gadis itu saat ini. Leeteuk mengangguk singkat. “Mungkin.”

“Kalau.. kalau aku minta hyung menyerah, apa-“

“Tidak,” potong Leeteuk. “Aku tidak akan mengganggumu, tapi aku juga tidak akan menyerah untuk urusan Yoo. Terakhir kali aku membiarkannya tersenyum untukmu hanya pada malam itu.”

“Hyung, kurasa kau tidak perlu membahas masalah itu..,” Eunhyuk menahan sesak dalam dadanya. “Itu terlalu menyakitkan.. untukku.”

“Untuknya bahkan sangat mengerikan, Hyuk,” tegas Leeteuk. Kemudian ia mencondongkan tubuh ke meja. “Aku sedang tidak ingin membahas ini.”

Eunhyuk diam beberapa saat. Otaknya terus mengulang ucapan Leeteuk. Benar. Memang mengerikan untuk Jiyoo, tapi ia juga merasakan hal yang sama. Setidaknya itu bisa membuatnya bergidik dan mendadak kesal pada ahjussi menyeramkan yang menyerang Jiyoo.

Diam-diam Eunhyuk bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah manager. “Hyung, aku harus ke toilet. Sepertinya perutku sedang bermasalah.”

“Jangan lama-lama, Hyuk. Kau sedang di tengah siaran kan,” ujar sang manager, mewanti-wanti.

Seolah tak mendengar, Eunhyuk langsung meninggalkan ruang siaran dan menghilang di ujung pintu. Leeteuk mengerutkan kening bingung, merasakan ada sesuatu yang aneh pada Eunhyuk. Tapi ia mengabaikan pikiran itu.

—-

Eunhyuk meraih jaketnya yang tergantung di ruang tunggu, memakainya perlahan lalu berjalan mengendap keluar radio. Sebelum itu, ia sudah mengambil kunci mobil yang selalu tergeletak di meja ruang tunggu. Jantungnya berdebar cepat, seolah ia baru saja melakukan pekerjaan kriminal.

“Fiuhh..,” buru-buru Eunhyuk menghela napas panjang. Saat ini ia bisa memuji dirinya sendiri karena sudah berhasil kabur dari Sukira, mengelabui managernya, dan meninggalkan semua pekerjaan malam ini pada Leeteuk.

Tapi Eunhyuk tidak punya waktu untuk itu. Dengan segera, ia menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan tempat kerjanya. Mobil hitam itu menembus jalanan bersalju di depannya.

—-

Kaki Jiyoo sudah mati rasa saat ia memutuskan duduk di taman dekat jembatan. Tatapan matanya kosong. Ia memang memandang sekeliling tapi tak ada objek apapun yang terfokus disana. Jiyoo merasa tubuhnya remuk. Lebih dari itu, otaknya sudah menolak memikirkan apapun lagi.

Ia hanya mendesah berat dan menikmati kepulan napasnya yang memutih dari mulutnya. Cuacanya dingin. Sangat sempurna. Dingin, bersalju, dan beku. Jiyoo merasa harus mengasihani dirinya sendiri tapi lagi-lagi otaknya tidak mau berkompromi. Dalam kondisi normal, otak kecilnya itu akan menyuruh kaki Jiyoo melangkah lagi dan segera pulang ke rumah untuk menikmati tebalnya selimut kesayangannya.

“Bisakah aku menghilang dari sini?” gumamnya.

Jiyoo selalu merasa kesalahan terbesarnya adalah membiarkan perasaan bernama cinta itu tumbuh untuk lelaki bernama Lee Hyukjae. Dan kali ini ia meyakini hal itu lebih dari sebelumnya. Menyedihkan. Ia selalu bermimpi lelaki itu benar-benar belahan jiwanya. Tapi sekarang belahan jiwa itu hanya mengasihani dirinya.

Sayangnya, sekeras apapun Jiyoo mencoba, organ tubuhnya yang bernama jantung itu tidak pernah bekerja normal setiap lelaki itu ada di dekatnya. Hal itu membuatnya sadar bahwa perasaan untuk Eunhyuk tidak pernah hilang. Menghilang? Berkurang pun tidak!

Jiyoo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Terlalu kuat sampai ia tidak merasakan tangannya lagi. Tangannya sudah sepucat mayat, buku-buku jarinya memutih. Jiyoo sudah setengah membeku saat ini.

“Kau sangat suka musim dingin ya?” suara itu membuat Jiyoo mendongak. Matanya terbelalak saat menemukan Eunhyuk berdiri di depannya. Lelaki itu tersenyum sambil memegang sebuah payung di tangan, mencoba melindungi Jiyoo dari butiran salju yang terus turun.

“K-kau..”

“Iyaa.. ini aku. Apa kau tidak pernah melihatku kedinginan? Atau aku memang setampan itu bagimu?” ujar Eunhyuk, menggunakan nada bercanda menyenangkan.

Jiyoo menatapnya datar. Ia tak menjawab dan langsung bangkit dari kursinya. Dengan cepat Eunhyuk menahan lengannya, membuat Jiyoo menepisnya kasar. “Lepaskan aku!”

“Kau ini bodoh ya? Hari ini dingin sekali dan kau hanya berkeliaran di jalan seperti ini? Sebenarnya apa yang kau pikirkan?” omel Eunhyuk. Sesaat tadi ia sempat meringis begitu menemukan gadis yang dicarinya sedang duduk di tengah hujan salju.

“Apa urusanmu? Pergilah~” sergah Jiyoo.

“Kenapa aku harus menurutimu?”

Jiyoo mendecak. “Karena aku yang menyuruh begitu! Dan karena kau sudah menggangguku malam ini.” Melihat Eunhyuk yang tak bereaksi, Jiyoo memalingkan kepalanya. “Kalau kau tidak mau meninggalkanku, akulah yang aka-“

“Jangan..,” sekali lagi Eunhyuk menahan pergelangan tangan gadis itu. Ia bisa merasakan permukaan kulit Jiyoo sudah benar-benar membeku. Diam-diam ia ingin tahu berapa lama gadis itu berada di tengah hujan salju.

“Anggap saja aku memohon padamu..,” ucap Jiyoo. “Jangan pedulikan aku lagi. Jangan dekati aku lagi, dan.. jangan kasihani aku seperti ini.”

Eunhyuk membeku dalam posisinya. Matanya terpaku pada gadis yang berjalan memunggunginya. Eunhyuk sadar ia sudah tidak menggenggam tangan Jiyoo, tapi ia masih terus menggenggam udara dingin di tangannya.

—-

Jiyoo menyusuri jembatan yang berhiaskan lampu warna-warni di sekitarnya. Napasnya masih belum teratur. Ia masih bisa merasakan hangatnya tangan lelaki itu di pergelangan tangannya sendiri. Hangatnya membekas, dan membara untuknya.

Ia tidak bisa menutupi keterkejutannya saat Eunhyuk tiba-tiba muncul di depannya. Bukan hal yang ia inginkan untuk malam yang menyedihkan seperti sekarang. Jiyoo tidak bisa melihat lelaki itu saat ini. Belum bisa, tepatnya.

Langkahnya terhenti di tengah jembatan. Jiyoo memandangi permukaan sungai yang berpantulan lampu-lampu indah. Ia mengeratkan pegangannya pada tepi jembatan.

Pikiran nakal mengusiknya sesaat. “Seperti apa rasanya tenggelam disana? Pasti dingin.. bahkan aku tidak akan sempat merasakan apapun karena tubuhku akan segera beku di dalam sana.”

Jiyoo memang sempat menimbang-nimbang untuk terjun ke sungai di cuaca sedingin ini. Tapi akal sehatnya masih berjalan normal, jadi ia terpaksa mengurungkan niatnya. Ia hanya sibuk mengamati air yang tenang itu. Tenang, sesuatu yang selalu jadi doanya belakangan ini.

Tanpa sadar, kaki Jiyoo naik ke salah satu celah tepi jembatan, membuatnya lebih tinggi satu tingkat. Jiyoo merasa ada sesuatu yang mengundangnya berenang di sungai gelap itu. “Tidak masalah.. tidak akan lama sampai aku mati beku..”

“Jangan pernah memikirkan hal bodoh itu!” teriak Eunhyuk dari ujung jembatan. Ia setengah berlari untuk menarik tangan Jiyoo. “Kau ini benar-benar bodoh atau apa, ha? Sampai kapan otakmu ini bisa bekerja normal? Ah.. kurasa otakmu sudah membeku! Sekarang kau ikut aku, kau ha-“

“Apa yang kau lakukan?” bisik Jiyoo datar. Sesaat kemudian ia mendongak, berusaha menatap Eunhyuk lekat-lekat. “Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan? Berhentilah menyiksaku!”

Eunhyuk dibuat beku sekali lagi. “Aku..? Menyiksamu?”

“Kau pikir apa? Apa menurutmu aku bisa tahan dengan rasa kasihan dan bersalahmu padaku?” Jiyoo mulai berteriak sarkatis.

“Aku tidak-“

“Benar. Kau tidak, kau memang tidak pernah memikirkan perasaanku! Kau benar, kau hanya perlu bersikap manis padaku untuk menghapus rasa bersalahmu. Kau hanya perlu terus-menerus membuatku tampak seperti orang bodoh,” sergah Jiyoo. Suaranya mulai bergetar, menahan air mata.

“Peristiwa malam itu..,” bisik Eunhyuk lirih.

“Malam itu.. Kenyataannya aku masih baik-baik saja, jadi kau tidak perlu merasa bersalah dan mengasihaniku,” tuding Jiyoo kasar.

“Kau.. aku tidak pernah merasa harus mengasihanimu. Semua yang kutulis itu-“

Jiyoo memotong dengan sikap sinis. “Semua yang kau tulis itu adalah caramu menunjukan rasa bersalah. Tidak perlu kau jelaskan, aku tahu itu.”

“Jangan pernah mengambil kesimpulan dari hal yang belum kau tahu,” ucap Eunhyuk. Sejujurnya ia bisa saja menerima semua kemarahan gadis itu, tapi ia sangat benci saat Jiyoo bilang ia hanya mengasihaninya.

“Sayangnya kesimpulan yang kuambil itu benar dan aku tidak perlu kalimat pendukung lain dari-“

Eunhyuk membuang payung di tangannya. Ia menarik gadis itu cepat, nyaris membuat Jiyoo limbung. Eunhyuk membingkai wajah Jiyoo dalam telapaknya yang besar.  Matanya terpejam dan ia mulai merasakan dinginnya bibir gadis itu.

Jiyoo masih membuka mata saat Eunhyuk tiba-tiba menciumnya di tengah salju yang masih turun. Tapi kemudian ia bisa membiarkan matanya tertutup. Baginya, dunia tempatnya berpijak saat ini seolah berhenti. Butiran salju itu seperti tertahan di udara, suara ramai dari toko-toko sekitar sudah tak terdengar, dan dingin yang tadi membekukan tulang mulai sama sekali tak terasa. Semuanya berhenti, seperti tombol pause yang ada pada remote DVD player.

—-

Leeteuk masih memerhatikan managernya yang berjalan bolak-balik dengan gelisah. Sejak dua puluh menit yang lalu, manager mereka itu terus mengomel soal hilangnya –atau bisa dikatakan kaburnya- Eunhyuk dari Sukira.

“Sebenarnya pergi kemana Lee Hyukjae itu?! Aish.. Jinjja!!” sekali lagi manager itu menanyakan hal yang sama.

Seandainya tahu, Leeteuk pasti sudah memberitahu kemana Eunhyuk. Tapi sayangnya ia sendiri tidak tahu pergi kemana anak itu. Mencari Jiyoo, jelas. Tapi pertanyaannya adalah: kemana?

Leeteuk tahu Eunhyuk akan melakukan hal nekat seperti ini. Berani-beraninya kabur dari tempat kerja seperti itu. Padahal seandainya ia bilang padanya pun, Leeteuk pasti akan membantu menjelaskan pada manager.

Ditatapnya layar ponsel yang ada di genggamannya. Tidak ada tanda-tanda Eunhyuk akan meminta bantuannya untuk mencari Jiyoo.

Ia menepuk pundak managernya. “Hyung, aku akan siaran sendiri.”

“Andwae! Aku sudah menelepon Donghae supaya datang kesini,” ujar sang manager sambil menyelipkan ponsel tipis ke sakunya.

Leeteuk mengangkat bahu. Ia tidak peduli siapa yang akan menggantikan Eunhyuk malam ini. Diam-diam ia berharap Eunhyuk cepat kembali. Ia berharap Eunhyuk akan menyerah mencari Jiyoo lalu memutuskan kembali ke Sukira. Leeteuk menarik napas panjang, merasa harapannya itu mustahil. Lee Hyukjae bukan orang yang mudah menyerah.

“Lee Hyukjae benar-benar menyusahkan..,” gerutu manager mereka.

—-

Eunhyuk melepaskan ciumannya perlahan tapi kedua tangannya masih menempel di wajah Jiyoo. Tatapannya terarah lurus ke depan, hanya terarah pada kedua mata gadis itu. Salju masih saja turun dan mulai membekukan syaraf tapi Eunhyuk tidak merasakan dingin yang seharusnya menyiksa. Dengan menatap jauh ke dalam mata Jiyoo, ia bisa dengan mudah mengabaikan rasa dingin itu.

“A-apa yang kau lakukan?” hal itulah yang pertama kali Jiyoo tanyakan pada lelaki di depannya.

Senyuman tipis terlihat di wajah Eunhyuk. “Ng.. aku juga tidak tahu. Tapi bukankah bagus? Ciuman tadi bisa membuatmu mengerti kan sekarang?”

“Kau gila!” sergah Jiyoo. Ia melepaskan diri dari Eunhyuk dan berbalik memunggunginya.

“Apa kau belum mengerti? Aku menyukaimu!” Eunhyuk berteriak dan membuat Jiyoo menghentikan langkahnya. “Aku menyukaimu sejak surat ungu terus datang untukku. Aku menyukaimu sejak aku mengenal J. Memangnya ada alasan apa lagi?”

Jiyoo membeku di tempatnya. Ia tidak bisa berbalik. Jiyoo tahu ia pasti akan menangis di depan lelaki itu, dan ia tidak mau membuat dirinya tampak bodoh. “Kasihan..? Rasa bersalah..? Semua itu adalah alasan paling logis yang bisa kukatakan.”

“Aku masih bisa membedakan rasa kasihan, bersalah, dan cinta, Yoo,” tegas Eunhyuk.

“Cinta? Jangan bercanda denganku!” Jiyoo berusaha keras menahan diri agar tak membalikan tubuhnya ke arah Eunhyuk.

“Aku benar-benar tidak tahu lagi bagaimana menunjukannya padamu, Choi Jiyoo-ssi,” bisik Eunhyuk, lirih.

Jiyoo menelan ludahnya susah payah. “Kau tidak perlu menunjukan apapun. Semuanya akan lebih mudah kalau kau menjauh dariku.”

“Begitu? Kau juga lebih suka bersama Teuk hyung daripada mendengar pengakuanku,” Eunhyuk mendengar nada putus asa dalam suaranya sendiri. “Pasti kau sudah sangat menyukainya..”

“Terserah apa katamu,” ujar Jiyoo.

Jiyoo merasa ada besi seribu ton yang menggelayuti kakinya. Langkahnya terasa berat dan menyakitkan saat ini. Dengan menahan koyakan belati di dadanya, Jiyoo bisa berjalan ke depan. Meninggalkan Eunhyuk di belakangnya. Sebenarnya ia tidak mau membiarkan kesalahpahaman soal Leeteuk itu muncul, tapi selama hal itu bisa membuat Eunhyuk menjauhinya, it’ll be good..

—-

@dorm

Eunhyuk membuka pintu dormnya dengan malas dan menutupnya agak kasar. Ia tidak peduli saat ini sudah dini hari atau justru hampir pagi. Semuanya terasa kosong untuknya. Langkahnya terseok saat masuk ke kamar dan duduk di ranjang sejenak.

Kepalanya luar biasa sakit. Salju dan musim dingin benar-benar membekukan otaknya. Tidak, bukan itu penyebab utamanya. Choi Jiyoo-lah yang selalu berhasil membuatnya sakit kepala.

“Terlalu menyakitkan kalau aku harus melihatmu bersama leaderku sendiri..,” gumamnya.

Eunhyuk berusaha keras untuk tidak memikirkan hal itu tapi nyatanya otaknya selalu memutar ulang setiap ucapan Jiyoo dan menayangkan kembali gambar Jiyoo bersama Leeteuk. Sesuatu yang terlalu jelas untuk tidak dipikirkan.

“Hyuk-ah~~~” Donghae membuka pintu kamar Eunhyuk tiba-tiba. Ia melongok ke dalam. “Darimana?”

“Menjadi rusa natal,” ucap Eunhyuk tak acuh. “Mau apa?”

Donghae melebarkan pintu dan berjalan masuk ke kamar. “Kenapa sinis sekali? Seharusnya kau berterimakasih padaku.”

“Karena..?”

“Karena aku sudah menggantikanmu Sukira malam ini, saat kau menghilang entah kemana,” jawab Donghae santai. “Kau pergi kemana? Kenapa pulang pagi begini?”

Eunhyuk tidak menunjukan keinginan untuk menjawab. Ia malah mulai berbaring di ranjangnya. “Aku lelah. Biarkan aku tidur.”

“Ng? Ya.. terserah kau saja,” Donghae mengangkat bahu dan meninggalkan Eunhyuk sendirian.

—-

Leeteuk masih terjaga saat Donghae kembali ke dorm 12 dan masuk ke kamar. Melihat Donghae yang baru datang, Leeteuk mendongak sesaat. “Dia datang?”

“Mm. Tapi dia tidak mau cerita apa-apa padaku,” ujar Donghae. Ia mengambil gelas dan mulai menuangkan air ke dalamnya. “Hyung..”

“Ng?”

Donghae menenggak air mineral dalam gelasnya. “Kau dan Hyukjae.. ada apa?”

“Tidak ada. Kami baik-baik saja,” Leeteuk tidak menatap Donghae yang menyipitkan mata ke arahnya. Tidak suka dipandangi begitu, Leeteuk bangkit. “Tidak ada apa-apa, Hae. Sudahlah..”

“Hyung, aku tidak bodoh. Member lain juga tidak buta,” Donghae bersandar di meja dapur. “Sikap kalian itu aneh. Aku tidak tahu ada masalah apa, tapi kuharap ini bukan soal gadis.”

Leeteuk tercekat. Tapi tidak mungkin ia membenarkan tuduhan Donghae. Donghae sepenuhnya benar. Masalah ini hanya antara ia, Eunhyuk, dan Jiyoo. Leeteuk tidak mau, dan tidak bisa melibatkan membernya dalam masalah rumit ini.

Kepala Leeteuk mengangguk singkat. “Kami bisa menyelesaikannya..”

“Baguslah kalau begitu,” Donghae meletakkan gelasnya pelan lalu meninggalkan Leeteuk. “Beruntung sekali gadis itu, sampai bisa membuat kalian seperti ini.”

“Ini bukan masalah gad-“

Donghae terkekeh. “Sudah kubilang aku tidak bodoh, hyung. Kalau salah satu dari kalian memang tidak bisa mengalah, berarti gadis itu pasti gadis yang istimewa.”

Bibir Leeteuk terkatup rapat. Dalam hati ia mengakuinya. Jiyoo memang gadis istimewa. Terlalu istimewa untuk tidak diperjuangkan. Tapi memperjuangkannya bisa menyakiti banyak orang. Terutama dirinya sendiri.

—-

Jiyoo menyendok sereal di mangkoknya dengan malas. Tapi ia tidak langsung memakannya, beberapa kali Jiyoo justru hanya memainkan sarapan di depannya. Matanya menerawang. Pelan-pelan ingatannya tentang semalam kembali terlihat. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas berat.

Ia tahu membawa nama Leeteuk dalam masalah ini sama sekali bukan tindakan bijaksana. Tapi Jiyoo sendiri tidak tahu kenapa ia tidak menyangkal semua itu semalam. Ia justru membiarkan Eunhyuk berpikir kalau ia menyukai Leeteuk.

“Bodoh..,” Jiyoo bergumam pelan. Kemudian ia menyentakan sendoknya dengan kasar. Jiyoo menyandarkan punggungnya ke kursi, berusaha meregangkan sendinya yang kaku.

Jiyoo menyentuh keningnya sendiri. Badannya memang agak demam pagi ini. Efek bermain-main dengan salju tanpa syal dan mantel tebal, pikirnya. Kepalanya pening tapi ia tidak punya keinginan untuk berbaring di ranjang.

Pekerjaan di kafe menunggu, jadi ia segera meraih tas slempang putih yang tergeletak di sofa ungunya. Jiyoo menyeret kakinya dengan susah payah. Langkahnya terseok saat baru saja meninggalkan rumah.

Alisnya mengernyit begitu melihat Leeteuk sedang bersandar di samping mobil silvernya. Jiyoo buru-buru melangkah ke arah Leeteuk. “Oppa?”

“Pagi..,” senyuman teduh Leeteuk menyambut gadis itu dengan cepat. Jiyoo menjawab dengan sunggingan kecil di sudut bibirnya. “Tidurmu nyenyak?”

“Ng.. lumayan,” sahut Jiyoo. Matanya memandangi Leeteuk tanpa berkedip. “Oppa.. sedang apa disini?”

“Menjemputmu. Kau mau berangkat kerja kan?”

Jiyoo mengangkat bahu. “Begitulah. Tapi kurasa ada alasan lain.”

“Kau memang pembaca pikiran yang hebat,” jawab Leeteuk sambil terkekeh. Lalu ia berubah serius. “Ada yang mau kukatakan.”

“Soal?”

Leeteuk terlihat menarik napas berat, membuat Jiyoo semakin mengerutkan kening. “Aku yang memberitahu Eunhyuk soal dirimu.” Cepat-cepat ia menambahkan, “Maaf untuk itu. Aku.. tidak tahu kalau dia akan mengganggumu-“

“Oppa juga tahu soal surat ungu yang dibuat Eunhyuk?” mata Jiyoo terbelalak lebar.

“Maaf..,”

Otak Jiyoo harus bekerja super-lambat untuk sekedar menerjemahkan semua permintaan maaf Leeteuk. Agak lama sampai akhirnya ia bisa membuka mulut. “Kenapa oppa harus minta maaf? Jangan minta maaf, oppa tidak salah. Kenapa oppa harus selalu mengucapkan kata itu padahal bukan oppa yang bersalah? Bodoh.”

Leeteuk mengerjapkan mata beberapa kali. Ia sama sekali tidak menyangka gadis di depannya itu akan langsung mengomel seperti itu. “Kau tidak marah?”

“Sedikit,” ucap Jiyoo sambil mendekatkan telunjuk dan jempol di tangan kanannya. Kemudian ia tersenyum. “Ini hanya masalah kecil. Aku baik-baik saja.”

“Lalu pergi kemana kau kemarin?” pertanyaan itu menohok telinga Jiyoo. Walaupun ia tahu pertanyaan itu akan datang untuknya, tapi ia belum menyiapkan jawaban yang benar.

Jiyoo memegang tengkuknya yang hangat. “Hanya sedang labil, kurasa. Tapi aku baik-baik saja, sungguh!”

“Aku tahu kau akan baik-baik saja,” ujar Leeteuk. “Mau kuantar ke kafe?”

—-

Eunhyuk menghentikan mobilnya agak jauh di belakang mobil Leeteuk yang terparkir di depan rumah Jiyoo. Ia memukul setirnya kuat-kuat. “Aku terlambat!” umpatnya.

Rencananya pagi ini sudah sangat matang. Ia harus menemui Jiyoo lebih awal dari siapapun, menjelaskan semuanya sekali lagi, dan mengatakan perasaannya yang sungguh-sungguh itu sekali lagi. Eunhyuk ingin dan harus memperjuangkan gadis itu. Semuanya itu sudah terencana dalam kepalanya tapi harus berantakan begitu melihat Leeteuk yang lebih dulu sampai disana.

“Ahh.. mau kemana mereka?” Eunhyuk menyipitkan mata saat melihat Jiyoo dan Leeteuk masuk ke dalam mobil.

Tahu pertanyaannya tidak akan terjawab sendiri, Eunhyuk langsung memacu mobilnya. Ia menjaga jarak dengan mobil silver mengkilap itu. Sebenarnya dulu ia merasa sangat konyol saat harus menjadi stalker untuk leadernya sendiri. Tapi ia rasa hal itu bukanlah hal konyol saat leadernya itu membawa gadis yang ia sukai.

—-

“Kau sudah sarapan?” tanya Leeteuk sambil tetap fokus pada jalanan di depannya. Jiyoo mengangguk, berbohong.

“Sepertinya ada hal lain yang ingin oppa bicarakan denganku,” Jiyoo terus menoleh ke arah Leeteuk. Saat lampu merah, baru lelaki itu balas menatapnya. “Apa yang ingin oppa katakan? Yang sebenarnya..”

Leeteuk tersenyum lebar. “Kau memang pintar membaca pikiranku. Tapi aku juga bisa membaca pikiranmu. Kau juga menyembunyikan sesuatu dariku kan?”

“Mm. Ada. Tapi aku ingin tahu milik oppa lebih dulu,” ucap Jiyoo tenang.

“Ayo suit,” Leeteuk melepas kacamata hitam yang sejak tadi ia kenakan. “Kertas, gunting, batu!”

Jiyoo memutar bola mata tapi tidak punya pilihan lain. Mau tak mau ia mengikuti permainan Leeteuk. Ia mengerucutkan bibirnya kesal saat harus kalah dan benar-benar harus memulai ceritanya. Bagaimanapun, Jiyoo belum merangkai kata-kata yang benar untuk diceritakan pada Leeteuk.

Leeteuk kembali berkonsentrasi pada jalanan saat lampu hijau menyala. Tak butuh waktu lama sampai ia tiba di samping kafe tempat Jiyoo bekerja. Ia memarkir mobil dan mengunci semua pintu.

“Oppa! Aku harus bekerja!” rengek Jiyoo.

“Kau bisa keluar kalau kau sudah menceritakan hal rahasia itu padaku,” Leeteuk mengangkat bahu santai. “Baiklaaaah, mulai!”

Jiyoo menggigit bibir lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya berat. “Kemarin aku bertemu dengan Eunhyuk.”

“Bukan bertemu, dia memang sengaja mencarimu,” gumam Leeteuk. Buru-buru ia memotong. “Lanjutkan..”

“Dia bilang dia menyukaiku, bahkan dia menyebut kata cinta, tapi aku tidak percaya itu,” jelas Jiyoo. Ia kembali menggigit bibir begitu sampai di bagian tersulit –setidaknya menurutnya sendiri- “Dia.. menciumku.”

Leeteuk tahu ekspresi wajahnya masih datar walaupun tangannya sudah mengepal kuat. “Oh? Begitu?”

“Bukan itu intinya.. hanya..,” Jiyoo memegang erat tali tasnya. “Dia sudah mengira kalau aku menyukai oppa, dan aku tidak.. menyangkalnya.” Leeteuk baru akan tersenyum senang sebelum Jiyoo menambahkan, “Aku hanya belum menyangkalnya tapi kurasa itu bisa membuatnya menjauhiku. Oppa, aku minta maaf sudah menggunakan namamu untuk hal sekonyol ini.. Mianhaeyo..”

“Kenapa harus minta maaf?” tanya Leeteuk pada akhirnya.

“Ng? Tentu saja aku harus. Bukankah itu bisa merugikan oppa? Bagaimana kalau Eunhyuk tiba-tiba marah pada oppa?” jelas Jiyoo. “Belum lagi kalau gadis yang oppa sukai itu tahu soal masalah rumit ini. Dia pasti kecewa kalau dia tahu.”

“Aku tidak akan marah. Tidak, walaupun kau bilang kau benar-benar menyukaiku, Yoo,” ujar Leeteuk.

Jiyoo mengerjapkan mata berulang kali, bingung.

—-

Eunhyuk hanya bisa menunggu di seberang jalan. Matanya terasa panas saat melihat Jiyoo dan Leeteuk berada cukup lama di dalam mobil. Ia tidak suka melihatnya, dan ia lebih tidak suka begitu menyadari gadis itu memang sudah menjadi milik Leeteuk.

“Bagaimana kalau Jiyoo memang..,” ucapnya ragu. Tapi ia buru-buru menggelengkan kepala. “Tidak mungkin! Lee Hyukjae bodoh! Mana mungkin Jiyoo menyukai Teuk hyung? Tapi..”

Otaknya menolak memikirkan semua hal itu tapi hatinya malah terus merongrongnya untuk tetap melihat fakta bahwa selama ini Leeteuk-lah yang ada di dekat Jiyoo. Selalu begitu. Eunhyuk merasa Jiyoo-nya sudah tidak lagi menganggap Lee Hyukjae istimewa.

“Ah! Aku pasti sudah gila!” umpatnya, lebih pada dirinya sendiri.

Eunhyuk baru saja akan keluar dari mobil saat matanya menangkap sesuatu. Sesuatu yang membuatnya nyaris terkena serangan jantung.

—-

“Aku menyukaimu..,” ucap Leeteuk pelan. Terdengar lembut di telinganya sendiri tapi terdengar aneh di telinga Jiyoo.

“Oppa..?” Jiyoo benar-benar tidak mencemaskan dirinya yang sedang melongo di depan Leeteuk. Otaknya sudah cukup rusak gara-gara salju dan Eunhyuk semalam, dan ia rasa tidak perlu ada alasan lain untuk membuat otaknya rusak permanen.

Leeteuk menoleh ke samping, mengamati Jiyoo dan setiap lekukan wajahnya. Sedetik berikutnya, Leeteuk sudah meraih wajah oval gadis itu, memenjarakannya dalam tangannya yang kuat. Semuanya terasa lembut bagi Leeteuk saat bibirnya menyentuh bibir Jiyoo.

Ciuman itu berlangsung singkat. Leeteuk masih bisa melihat wajah Jiyoo yang terkejut. Ia mengusap bibirnya pelan. “Maaf..”

“A-aku..,” Jiyoo benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Otaknya sudah lumpuh karena demam dan sekarang ditambah ini. Ia rasa otaknya akan meledak! Semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini berhasil membuat otaknya cacat. “Kurasa aku harus segera pergi..”

“Yoo..,” panggil Leeteuk.

“Maaf, oppa. Aku benar-benar harus per-“ Jiyoo menghentikan ucapannya sendiri begitu melihat seorang lelaki yang berdiri di depan mobil Leeteuk. Ia membelalak lebar. “Eunhyuk..?”

Leeteuk mengikuti arah pandangan Jiyoo. Tapi ia bisa lebih pintar menyembunyikan rasa terkejutnya. Leeteuk memang terkejut melihat Eunhyuk yang ternyata mengikutinya sejak dari rumah Jiyoo, atau mungkin sejak dari dorm? Tapi ia tidak peduli. Ia memang tidak berniat mengalah.

“Begitukah? Kalian memang sudah bersama? Sejak kapan?” Eunhyuk mencecar mereka dengan pertanyaan begitu Leeteuk dan Jiyoo keluar dari mobil.

Jiyoo tidak bisa menjawab, setidaknya untuk saat ini. Tubuhnya membeku dan tenggorokannya tercekat. Ia memang ingin membuat lelaki itu menjauhinya tapi Jiyoo tidak tahu kalau hal itu harus seperti ini. Tatapan Eunhyuk terasa mengoyak nuraninya. Ia tidak tahan saat Eunhyuk menatapnya seperti itu. Terlalu menyakitkan.

“Bukankah sudah kubilang kalau aku menyukainya, Hyuk-ah?” ujar Leeteuk pada akhirnya.

Eunhyuk mengalihkan tatapannya pada Leeteuk, membuat Jiyoo bisa kembali bernapas saat terbebas dari tatapan menyedihkan itu. Leeteuk menggenggam tangan gadis itu dengan cepat. Pemandangan itu seolah menyiksanya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat.

-TBC-

====================

Berhubung hari sabtu, jadi mutusin buat ngelarin Violetter #7 malem ini. Maklumi kalo ada yang typo de el el yaa~ *bow*

Poster biasanya ganti 2 part sekali, tapi sekarang lagi males bikin. Mood emang lagi jelek. Masalah muncul dari banyak pihak. Entah itu masalah sekolah, masalah Super Junior yang emang bikin 3 hari ini banjir air mata, plus masalah keluarga yang entah sejak kapan mulai tumbuh gede. Ga mau banyak komentar di part ini. Mood-ku emang lagi rusak banget. Lagi down..

Eniweii~ I’m still finishing this for youuuu..😀

Enjoy yak.. Thanks a lot~ *hug*🙂

PS: berhubung ada yang uda bosen ama Violetter, next part uda ending kok.

 

 

 

71 thoughts on “Violetter #7

  1. Dongsaeng!!!!!!!!!!!!!!! Kisseu? Qm maruk ato apa? Hyuk iya, Teukie juga! Ckckckc… *cerita panjang yg dikomentarin malah kissingnya*. Hahaha….

  2. Lagi2 sedih. . .😦
    Aku tambh sedih jg jdix. . .
    Teuki oppa, drimu nekat sekali!

    Hua. .
    Emang taun ini taun trberat suju oppadeul keax. . .😦

  3. TTT~TTT eonn… stiap kali bca ff ny eonni, pasti q selalu nangis.. huwee~
    rasa sakit ny bnran kerasa eonn… terutama sakitny eunhyuk… >.<
    eniwei… ttp daebak eonn.. hahahaha~
    nti ad afterstory-ny gx eonn?? ditunggu lohh…
    next part ny jgn lama" y eonn.. hohohoho~
    p.s.: kisseu ny banyaaaaak~ *blushing*

    • Omo~ nangis? Maaf yaaa.. Ga ada maksud kok, suer dah. ><
      Tapi emang onnie suka tulisan kaya gitu. Yang sakit atinya tu berasa.😄

      After story? Ga ada kayanya. Uda pas 8 part, samaan ama Unyuk.😄
      Aigooo~ kamu masih kecil, nak. Jangan demen baca kisseu2 disiini. XDD
      Makasihh uda baca yaa~😀

  4. Hahaha~ bad mood waktu Daesang ,ya ?
    Iya nih .. (kkalo ga salah .. ak ga nonton)

    Part selanjutnya kutunggu .. kedatangan mu kutunggu *plakk (dangdut mode : ON)

  5. Sama sekali gak bosenn….>.<
    sumpah!!
    Mian,baru baca…
    Semalem ada kondangn..hehe
    dalam 1 part,jiyoo ciuman 2 kali dg org yg berbeda?jiyoo daebak!!
    Tuki oppa,relakan jiyoo buat unyuk y…
    Oppa cari cwe yg seumurn aja,dara eonni jomblo tuh…*ganyambung*
    part slanjutny cpet publish y onn..🙂

    • Sapa yang kondangan? Si kibum nikah lagi?? *cari mati*
      Jiyoo lagi demen cipokan. Kekeke~😄

      Dara? Uwaaa~~~ lucu! ><
      Sama2 imut.😄

      Amin, amin. Doain aye, neng~
      Makasihh uda bacaaaa..😀

  6. wew , makin rumit . Teuki jangan suka jiyoo lagi , jiyoo itu punya unyuk . keke
    huah , udah mau part akhir aja . ditunggu lah .

    ps: setiap masalah pasti ada pemecahannya shel , keep fighting🙂

  7. *cekek teukpa*
    oppa bener2 bkin aku terkena serangan tekanan darah tinggi mendadak..
    Yaikks..oppa benar2 menyebalkan..
    *dicekek istri2na teuk*

    ai ai ai..hyuk r0mantis bgt dijembatan..bcanya ampe deg deg ser..
    #apaan sih

    bru nyadar sekarang..
    Di tiap ff..eunhyuk pasti dibkin tergila2 sm jiyoo..tp jiyoonya slalu brusaha mghindar pura2 kagak demen sm hyuk..pdhal jiyoo malu2 tp mau..hahaha..
    Dan bru nyadar juga..
    Hal ini jg trjadi pd ff ff nya nisya onnie yg slalu bkin ‘d0nghae ngejar2 haejin’..hahhay..
    Kalian berdua satu tipe..suka malu2 kucing..
    *ditendang ke pluto sm shela n nisya onn*

    tapi..
    Ff shela sm nisya onn keren2 semua..selalu bkin aku sukaaaaa bcanya..

    Next part ending ya?
    Yahh..pdahal seru bgt..
    Tp gak papalah,,ditunggu project brunya..
    Sekali skali sempilin aku sm heechul kek shel..
    #hallah plakkk

    shel : komenmu kepanjangan..udah sana hus..hus..hus..
    Me : (_ _”) maap lg2 menggaje..

    • Hahaha~~
      Onnie tau aja kalo unyuk romantis.
      Tapi sebenernya adegan kisseu di jembatan plus di tengah salju itu bayanganku yang tak terwujud.
      *gimana mau terwujud kalo disini ga ada salju? LOL*

      Salaaaahh.. Nenot!
      Di MWL, jiyoo yang suka unyuk.
      Di PiL jugaa, jiyoo ngefans ama unyuk.
      Kalo di Amore, emang unyuk duluan yang suka, tapi akhirnya jiyoo jatoh cintrong balik.
      Makanya di Violetter justru aku bikin yang beda.
      Unyuk yang ngejar2 Jiyoo.
      Jadii, ga samaaaa~~ :3

      Ho’oh, uda mau ending..
      Uda pada capek kan nungguin apdetanku yang lamanya naudzubilah?
      Hehe~

      Sekali2? Bolehh~ makanya ikutan next project, kali aja menang. (?)
      Makasihh uda komen *panjang2* kaya gini yaa, onn~
      Johaaa~!!😀

  8. Siapa blg ada yg bosen baca violetter? Aku gak~ hehe. Gak pernah bosen author.🙂 bagus ceritanya, tiap part pasti ada yg bkin nangis. Btw, kalo ada masalah, jgn selalu dpendam. Pasti ada jalan keluarnya. Fighting!🙂

    • Hahaha.. aku kan tau diri. Pasti suka pada bosen nungguin apdetanku yang kelamaan.😄
      Bikin nangis? Ada gitu yaa? Maap dehh~ ><

      Iyaa.. ga selalu di pendam kok. Kan kadang2 aku curhatnya lewat tulisan.🙂
      Fightinga! Makasihh yaa~😀

  9. ak ngga prnh bosen sma violetter.!! nyaaaangg~ rameee bngeeett.!! klw udh tamat, nti shel bkin afterstory-nya, trus bkin lg after after story-nya, bkin lg after after afteeeeeeerr story-nya, trus bkin lg … *dibekep*
    pkox shella hwaiting bwt next part.!!
    gogogoo~ >,<)//

  10. kya aku gak bosen kuk nam dongsaeng baca ff mu ceritanya bagus banget dan nyentuh aku jadi beneran ngrasa nyuk tu bisa kayak gitu….

    tetap nulis jgan patah semangat

    adegan di jembatan bikin meleleh = kakiku jadi lemes semua ceritamu aku suka…hwaiting!!!!

  11. ye..aku gak salah shel..nen0t..(?)
    ayo kita n0stalgia..
    Di wml..
    Emg jiyoonya yg suka duluan..tp ujung2nya hyuk yg ngejar2 kan wktu jiyoo menghilang dan dibwa sm manager kim? Hyuk ngamuk2 waktu umin meluk jiyoo..right??

    Di PiL
    eunhyuk nangis2 depan pintu apartemen jiyoo wktu jiyoo gk mw buka pintu bwt dy..
    Eunhyuk slalu mengikuti wktu jiyoo sarapn..
    Dan eunhyuk jealous stengah mampus waktu jiyoo dket sm tuki..
    Eunhyuk jg ngamuk2 krn slah pham wktu nemuin tulisan ‘sarang hae. Choi jiyoo’
    Apa namanya kalo unyuk gk suka jiyoo??

    *gila ya aku berani2nya ngedebat empunya cerita..hahaha..
    *peace shell,jgn cincang saya..

  12. I’m coming *gandeng tangan kyu*
    Shela, emang bosan sih, bosan banget NUNGGU UPDATE-ANNYA..
    Lamanyaa,, naudzubillah .. Hahaha
    Tapi ga bosan buat baca, cuma nunggunya itu yg lama..

    Aku iri di sini, kamu dicium tuki ma monyet..
    Kyu sekarang lagi sibuk namatin dota,, jadi ga bisa mesra2an.. Hufh😦
    Lanjutannya jangan lama2 ya🙂

    Masalah jangan dipendam,, ceritain ke org yg bisa dipercaya n yg berkepala dingin.. Okok?

  13. daebak….
    yoo dpat kissue dari teuki en hyukkie hohohoho, slamat ya🙂

    feeling blue??? same with me but you always string and don’t forget to keep praying, God always stay beside u

  14. daebak….
    yoo dpat kissue dari teuki en hyukkie hohohoho, slamat ya🙂
    cukuplah shel bikin kunyuk nelangsa, ga tega gw bacanya. palagi sambil baca sambbil bayangin muka unyuk, sedihnya….

    feeling blue??? same with me but you have to be strong and don’t forget to keep praying, God always stay beside u. ok dear…🙂

    • Hahaha~ lagi demen cipok2 orang, onn.😄
      Kenapa ga tega? Muka unyuk terlalu sengsara yak? *ditalak unyuk*
      Makasihh uda baca yaa, onn.😀

      Feeling blue and gray, i guess.😦
      Ok, thanks onn~🙂

  15. saya…ka..ge..t…
    *seret teuk pulang* heh- siapa yg nyuruh cium Yoo hm, ? dia punya unyuk tau~~ -_______-
    aduh, jiyoo enak banget ya part ini *emut*
    kasian tapi unyuknya *bawa pulang hyuk-ditelen shela*

    arr complicated! aku suka :3 *kedip2*
    yap yap~!
    keep workin’ keep smiling both of you, jiyoo-ya ama neng x)

    kalo saya sih blg jgn buru2 :3
    kan neng sibuk ama skulah, fokus aja..santai ciin~ xD
    kalo saya mah siap menunggu bareng kyu dan jino~ xD
    *inget obrolan di fb lol

    • Hahaha~ saya juga kaget kenapa tuki tiba2 genit gitu.😄
      Emaaaaang.. ini obsesiku, dicium dua cowok dalam satu part. Kekeke~
      Kasian unyuk? kasian unyuk? Mbaaak, yang sering menderita itu akuuu, dia seenaknya aja deket2 cewek laen, ngedance seksi, pamer abs, AHH~ pokoknya aku lebih menderita. Ini cuma pembalasan keciiil. XDD

      Aku juga sukaa ama yg ribet2. *author ga tau diri*
      Thanks, mbak~ U either.. Smileeee~🙂

      Lagi suntuk pasti ujung2nya nulis kok. Jadi gapapa, ga diburu2 amat.
      santaaaaii~~😄
      Andwaeee.. jangan bawa2 Jinoooo. Tar aku mabok jino lagiii. XDD
      Makasihh uda baca, mbak~~😀

  16. kyaaa kunyuk gw makin romantis makin nekat pula nyium anak orang di jembatan pula…
    ah ini jg teuki pake nyipok2 jiyoo juga [hammer] beruntung bgt si jiyoo *envy* hahahaha

    lanjut shel..haduhh sapa yg blg ni ff mule bosenin si? gw gk pernah bosen lho bcnya..semangat terus shel nulisnya..

    • Hahaha~ unyuk bukan romantis, emang dasarnya suka genit. -.-
      Tapi ciuman di jembatan itu khayalan terpendamku.😄

      Banyaaaak.. pasti bosen lahh. Lha authornya aja ga hobi ngetik. ><
      Iyaa~ makasihh banyaaaak, banyaaak, banyaak yaa~😀

  17. huwa~ shel maaf baru komen sekarang..
    kemaren pake hape susah comemntnya (>//////<) *curhat*
    klo masalah keluarga sama masalah sekolah.. semoga semuanya bisa diselesain dengan baik ya🙂
    tetep semangat ya, shela <333

  18. shelaaaa maaf bru bisa komen,,,,kmrn baca dr hp…..
    bru bisa komen skrg deh….heu
    yahhhhh next part udah ending yuaaa????aq ga bosen lohhhh…
    aduh c teuki jd genit gt yuaa….*seret iteuk jauh2 dr jiyoo*
    c unyuk mkin romantiz aja neh….
    shela ttp semangat yuaaa,,,semua masalah pzt ada jalan keluarnya koq….walaupun aq ga tw masalahnya apa…heu…semoga cpt selesai ja dh semua masalahnya,,,

    • iyaa~ gapapa kok.🙂
      si tuki mah emang suka banget genit ama jiyoo. Kekeke~ *ninggiin mutu, ditendang tuki*

      iya, tetep semangat~😀
      Amin, amin. Makasihh banyak yaa..🙂
      Makasihh juga uda baca.😀

  19. omoooo~~ jiyoo yg di cium napa saia yang dug dug seeeurr >,< *sadar ah sadar!!* *peluk kyu* *eeeeeeeehh??* xDD
    hueeeeee kasian ama kunyuk😥 om teuk mah ga cocok ama berondong atuh… fufufuf
    *ngintip ke part 8* *buka memory* *halah*

  20. enaknya dapet ciuman dari 2 namja..
    #plakk, *abaikan..

    teuki tega, selingkuh dari aku..
    katanya cuma hanya ada aku di hatimu..
    aaaaaaaa.. *lebay..

    makin tegang nih ceritanya..

  21. aigo.. nyesek beneran nih saya. jiyoo… dicium eunhyuk dan leeteuk oppa. OMG

    tp bukan itu yg bikin nyesek.. melainkan eunhyuk oppa ngeliat lgsg cewek yg disukainya dicium cowok lain apalagi cowo itu leadernya sendiri. ya ampun ga kebayang rasa sakitnya..

    semoga jiyoo cpt sadar kalo eunhyuk bkn‘y kasian tapi cinta beneran.. suerrrrr terkewerrrrrrr kewerrrrrrr dehhh

  22. Can’t read…can’t read anymore…
    Kalo jadi Yoo sih, ngerasa tersanjung sekaligus dilema loh disukain sama dua namja istimewa dengan keberadaan mereka masing-masing ckckck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s