The Chastain’s [Serena #2]

-previously-

Ia merengkuh wajah Marcus cepat, membingkainya dalam kedua tangan pucatnya. Serena menempelkan bibir Marcus dengan bibirnya. Aroma itu langsung mengusik Serena, mengganggu kenyamanannya mencium lelaki itu.

Serena berhasil mengabaikan wangi itu. Ia melepaskan wajah Marcus lalu menatapnya. “Maaf..”

Mata Marcus mengerjap beberapa kali, berjaga-jaga seandainya ini hanya mimpi. Gadis favoritnya selama dua tahun baru saja menciumnya, tepat di bibir.

—-

“Apa kau baru saja..,” Marcus terbata sambil menyentuh bibirnya yang hangat.

Wajah Serena berpaling, menghindari tatapan langsung dengan mata teduh Marcus. “Hanya melakukan percobaan kecil. Atau ada gadis yang akan marah padamu?”

“Tidak, tidak. Tidak ada,” ujar Marcus cepat. Jantungnya masih belum bisa berdetak normal saat ini. Ia sangat ingin meraba dadanya sendiri, memeriksa apa jantungnya masih ada di tempatnya atau justru sudah mencelos keluar.

Serena menyandarkan punggung ke kursi kayu. “Maaf. Kau pasti sangat terkejut. Ak-“

Tiba-tiba rahangnya menegang. Ia terpaksa harus menghentikan ucapannya sebelum selesai. Serena mendongak ke langit. Vincent sudah selesai dengan kegiatan berburunya. Dengan mata yang menyipit, Serena bersikap sewaspada mungkin, tak ingin membuat Vincent melihatnya dan Marcus saat ini.

“Kau harus pergi..?” tanya Marcus, nyaris terdengar seperti pernyataan.

“Kau bisa membaca pikiranku ya?” Serena mencoba mencairkan suasana. Tapi kemudian ia menunduk. “Sepertinya aku harus pergi. Sudah terlalu larut dan aku.. mengantuk.”

Diam-diam ia menyilangkan jarinya di balik punggung. Kebohongan tadi sangat memalukan bagi vampire berumur nyaris seabad sepertinya. Mana ada vampire yang menggunakan alasan itu untuk melarikan diri? Serena memaki dalam hati, bodoh.

Marcus menarik napas berat. Wajahnya tampak tak rela. “Memang sudah sangat malam. Pulanglah.”

Serena bangkit dan berjalan memunggungi Marcus sebelum akhirnya ia berbalik di hitungan kelima. Matanya menatap lelaki itu lama, seolah menghapal setiap lekuk wajah dan guratan senyuman teduhnya. Walaupun tidak punya seonggok daging bernama hati, Serena merasa dadanya nyeri saat meninggalkan Marcus.

—-

-the next day-

@Chastain’s

“Gadis itu bergolongan darah A, dan aku suka itu,” ucap Vincent, mengabaikan wajah jijik Serena yang duduk di samping Angela. “Aku heran kenapa semalam kau memilih diam di tepi sungai. Sedikit kegiatan berburu bisa menyegarkanmu.” Vincent menatap Serena dengan alis terangkat sebelah.

Serena mengerjap lalu menormalkan sikap. “Kupikir kau sudah tahu aku tidak suka cara berburu seperti itu.”

“Dia tidak suka ‘membunuh’,” sahut Angela santai, menyindir Vincent.

Vincent mendengus. “Aku tidak membunuh, hanya mengakhiri penderitaan di dunia manusia mereka yang membosankan ini. Bukankah itu lebih baik daripada menghisap darah seseorang seperti seekor lintah?”

Angela mendengus kasar saat Vincent menyindirnya. Ia nyaris menggeram pada lelaki itu seandainya Serena tidak meliriknya tajam.

“Berhenti sampai disini!” lerai Serena cepat. “Aku tidak ada waktu mendengar perdebatan kalian hari ini. Vincent, kurasa sekarang waktumu pulang. Benar kan?”

Angela tersenyum menyeringai. “Benar, benar. Waktumu pulang. Tuan muda pasti sedang dicari para pelayannya.”

“Kukira tidak sopan untuk membicarakan orang lain di belakangnya, nona Angela Chastain,” sesosok lelaki berpostur ideal dengan kemeja hitam muncul setelah berhasil masuk dari jendela besar di ruang tengah Chastain.

Wajah Angela membeku sesaat, kemudian ia tersenyum ramah. “Aiden Lee.. mau menjemput sepupu kesayanganmu?”

“Dia tuan mudaku,” ralat vampire lelaki bernama Aiden itu. Rahangnya menegang. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi terlihat kaku dan menderita.

“Kita pulang,” ucap Vincent. Ia bangkit dan mencium tangan Serena lembut sebelum meloncat lewat jendela yang menjadi pintu masuk Aiden.

Aiden menundukkan kepala singkat ke arah ketiga Chastain dan segera mengikuti Vincent, sang sepupu sekaligus calon pemimpin koloni Lee. Hal itulah yang baru saja jadi bahan simpati Angela. Vincent dan Aiden itu sama-sama calon pemimpin dalam koloni, Vincent lebih beruntung karena ayahnya adalah pemenang duel berabad-abad lalu, duel memperebutkan posisi vampire terhormat.

“Kasihan anak itu,” ucap Andrew pelan. “Seharusnya dia-lah sang pemimpin. Aiden bahkan lebih bijaksana daripada Vincent.”

Angela berdecak. “Wah, wah, wah. Sekarang kau melihat Aiden sebagai pasangan ideal untuk siapa lagi?”

“Untukmu, kurasa,” Andrew mengangkat bahu ringan. Melihat adiknya merengut, ia tergelak. “Tentu saja bukan untuk siapa-siapa. Kau mau Nadine membunuhku?”

“Benar.. Nadine..,” ucap Angela dan Serena bersamaan. Kemudian mereka terkekeh mengingat nama itu. “Nadine Lee.”

—-

@school

Nadine Lee berjalan cepat dan segera mendekat ke arah kedua gadis Chastain. “Aku mendengar pembicaraan kalian tadi pagi.”

“Berhentilah menguping.” Serena mendengus ringan.

“Hei, kemampuanku yang melakukannya. Kalian pikir aku suka mendengarkan kalian? Telingaku ini terlalu sensitif. Bukankah sama saja dengan radar-mu?” ujar Nadine, menyindir Serena.

Serena memutar bola mata dan tergelak renyah. Ada satu hal yang kadang ia lupakan soal vampire. Ya, vampire memang punya kekuatan super. Tidak semua vampire punya, dan bahkan kemampuan itu nyaris tidak ada gunanya.

“Kau bisa mendengar jarak jauh,” mata Angela menyipit ke arah Nadine. Lalu ia menatap Serena. “Kau punya radar kecil di kepalamu. Tapi kenapa aku tidak punya apa-apa?”

“Kau lupa ya kalau radarku ini tidak ada gunanya?” ujar Serena. Hanya radar kecil yang bisa melacak beberapa orang terdekatmu, seperti caranya menyadari keberadaan Vincent beberapa saat sebelum lelaki itu belum benar-benar bergerak ke arahnya. Nyaris seperti ramalan untuk gerakan kecil.

Angela mencibir. “Setidaknya aku tidak perlu repot-repot menghindari seseorang yang tidak ingin kutemui.”

“Kalau untuk itu, radar ini sangat berguna,” Serena tertawa. Hanya sebentar sampai ia merasakan sesuatu dalam kepalanya. “Marcus..”

“Ng? Apa katamu?” Nadine bertanya dengan alis yang terangkat.

Serena mengabaikan pertanyaan itu dan berbalik meninggalkan Angela dan Nadine. “Aku ada urusan. Pergi saja duluan!”

“Kau mau ke-“ ucapan Angela terpotong saat Serena sudah menghilang di belokan koridor panjang. “Dasar Chastain..”

Alis Nadine mengernyit. “Kau juga Chastain, nona muda.”

“Aku tidak seaneh dia,” kilah Angela. “Aku adalah Chastain yang paling normal dan menyenangkan.”

“Aku tahu, aku tahu,” Nadine mengangguk-angguk santai. Tapi kemudian ia teringat sesuatu. “Eh, siapa itu Marcus?”

—-

Serena melambatkan langkah dan menyusuri lantai koridor yang tampak lebih panjang dari biasanya. Ia berusaha bersikap ‘semanusia’ mungkin dengan pura-pura terengah atau sekedar mengusap keringat ‘imitasi’ di keningnya.

Matanya mengawasi sekeliling. Berharap tadi bukan alarm yang benar dari kepalanya. Entah bagaimana, ia bisa merasakan keberadaan Marcus. Dan yang jadi pertanyaannya adalah: sejak kapan aura Marcus masuk dalam daftar radar kecilnya?

Serena melongok ke sebuah ruangan yang luas dan sepi. Alisnya mengernyit heran. “Untuk apa aku kesini?”

“Bukan untuk menemuiku kan?” suara bening yang menenangkan itu membuat Serena berbalik. Marcus sudah berdiri di belakangnya dan tersenyum. “Hai..”

“Ya, eh, hai,” Serena berubah dari vampire serba sempurna menjadi vampire gagap dengan wajah bodoh. “Kau disini?”

Marcus mengerutkan kening. “Tentu saja aku disini. Aku di depanmu kan sekarang?”

“Maksudku, apa sejak tadi kau disini?” tanya Serena, sekedar memastikan radarnya belum rusak. Begitu Marcus mengangguk, ia tersenyum lebar.

“Kenapa? Apa kau sebahagia ini bisa bertemu denganku?” Marcus membanggakan diri yakin.

“Terlalu sering memuji diri sendiri,” Serena memutar bola mata. “Apa kau memang selalu percaya diri seperti ini?”

Marcus memiringkan kepala lalu memasang wajah serius. “Tergantung. Tapi biasanya tanpa bersikap rendah hati pun, orang-orang akan tetap memujiku.”

Serena hanya mengiyakan dengan tak acuh. “Terserah kau.” Kemudian ia melihat gulungan kertas di tangan Marcus. “Itu apa?”

“Not balok untuk kumainkan,” jawab Marcus sambil menyodorkan kertas itu pada Serena.

“Kau bisa bermain instrument musik?”

“Semua yang bisa membaca not balok bisa bermain musik, Serena,” Marcus menjawab sekenanya. Kemudian ia kembali serius. “Aku bisa sedikit piano.”

Serena menatap Marcus dengan antusias. “Mainkan sebuah lagu untukku!”

“Aku tidak bermain tanpa dibayar, nona,” Marcus mengangkat bahu santai.

“Dasar pelit!” ujar Serena sambil mendengus. Tapi kemudian radar kecilnya merasakan sesuatu. Sesuatu yang menyebalkan karena memaksanya harus meninggalkan Marcus sekali lagi. “Hei, aku harus pergi.”

“Kau marah karena aku tidak mau bermain piano?”

“Tentu saja. Sampai nanti!” Serena berjalan cepat dan berlalu dari hadapan Marcus. Vincent sedang mencarinya dan ia harus menemuinya lebih dulu. Serena tidak mau melibatkan Marcus dalam dunia mitosnya.

Marcus menggeleng-geleng tak percaya lalu bergumam. “Kalau marah kenapa masih mengucapkan ‘sampai nanti’?”

—-

@night

Dua orang gadis bertubuh mungil berjalan di tengah jalanan kecil yang sepi. Wangi darah mereka tercium oleh Vincent dan Aiden yang sedang menunggu para tetua koloni. Mereka berpandangan sejenak.

“Tidak. Kau sudah berburu di sekitar sini kemarin,” larang Aiden.

Vincent memandang sepupunya itu jengah. “Aku tidak butuh aturan dalam berburu.”

“Tapi para penjaga punya aturan dalam hal itu,” Aiden mengingatkan. “Kau tidak bisa melupakan hal itu. Dan kau memang tidak melupakannya kan?”

“Memang. Tapi memangnya kau tidak lapar?” tanya Vincent, berusaha menarik minat sang sepupu. “Apa tenggorokanmu tidak tebakar saat mencium aroma mereka? Mereka berdua, kita juga berdua. Lalu apa yang kau tunggu?”

Aiden menatap lurus ke arah dua gadis itu. Matanya menyipit dan ia mulai mengeluarkan desisan pelan dari sela bibirnya.

Mereka melompat dengan lincah tanpa suara dan mendarat di aspal dengan suara berdebum kecil. Aiden mendahului tuannya, ia melesat cepat untuk membuntuti si korban. Bibir Vincent tertarik ke belakang, membentuk seringaian lebar.

“Kurasa bukan hal yang baik untuk berkeliaran selarut ini, nona-nona,” Vincent tahu-tahu sudah bersandar di pintu kaca sebuah restoran yang sudah tutup. Senyumnya seperti biasa, terkembang sempurna dan seolah menghipnotis.

Salah satu dari gadis itu mengarahkan pandangan memuja pada Vincent. “Kurasa kami memang butuh pengawal.” Tangannya terulur ke depan. “Luna Kim.”

“Luna! Kurasa dia punya niat buruk. Ayo pergi!” bisik gadis lainnya. Ia segera menarik tangan Luna saat Aiden menghalangi jalannya. “Minggir! Kami harus pergi dari sini!”

Aiden tak merubah ekspresi wajahnya yang datar. “Kurasa sekarang bukan waktu yang tepat.” Kemudian bibirnya membentuk senyuman ramah.

Gadis yang baru saja menolak kehadiran para Lee, dengan segera merubah isi kepalanya. Ia menatap Aiden dengan penuh harap. “Dan kurasa kau-lah yang harus memberitahuku kapan waktu yang tepat.”

Tanpa butuh waktu lama, kedua gadis itu digiring menuju jalan kecil yang temaram. Vincent sibuk menebak-nebak –dengan indera penciumannya- gadis mana yang memiliki rasa yang lebih enak. Sementara Aiden berkutat sendiri dengan dahaganya yang membakar.

“Hei,” suara selembut beledu milik Vincent membuat kedua gadis itu menoleh. “Apa kalian percaya pada mitos?”

Gadis bernama Luna itu tampak berpikir. Gadis lainnya menjawab. “Mitos seperti apa misalnya?”

“Vampire.” Aiden mengucapkan kata itu dengan tenang. Sedetik berikutnya, ia sudah menarik gadis itu ke sudut jalan yang buntu, membuat sang gadis terpojok ke tembok.

“Hei! Hei!” seru Luna panik. Tapi kepanikannya tidak bertahan lama karena Vincent sudah membungkam mulutnya dengan ciuman lembut.

—-

Marcus menggerutu saat bos restoran tempatnya bekerja malah menyuruhnya mengantar makanan ke tempat yang agak jauh, saat malam musim dingin pula. Ia sendiri tidak habis pikir bagaimana bisa pelayan restoran merangkap sebagai petugas delivery makanan. Dengan iming-iming tambahan uang lembur, akhirnya ia berangkat juga.

“Ng.. Hondae blok 7A itu ada di..,” kertas di tangannya sudah berkerut tak karuan sementara Marcus terus mengembuskan napas putih.

Setelah makanan selesai diantar, ia bertekad kembali ke restoran. Bagaimana pun juga, Marcus harus menagih uang lemburnya dan langsung pulang ke rumah. Tidak peduli semarah apa bos-nya nanti, ia ingin segera pulang dan menghangatkan tubuhnya dalam selimut tebal. Bagi Marcus, menyuruhnya keluar di malam musim dingin seperti ini adalah kejahatan tingkat berat.

Marcus baru saja melangkah menuju motornya saat ia melihat beberapa bayangan di gang kecil. Kepalanya menggeleng beberapa kali, prihatin melihat tingkah anak muda yang memang agak keterlaluan. Bagaimana bisa mereka pacaran di tempat seperti itu?

Tapi langkahnya terhenti saat samar-samar ia mendengar suara aneh dari jalan gelap itu. Marcus berjinjit untuk mengintip. Matanya terbelalak lebar dengan pemandangan mengerikan itu. Ia membekap mulutnya sendiri, menghalangi teriakannya yang mendesak keluar.

Seorang lelaki dengan santainya menggigit leher gadis berambut sebahu. Marcus tahu lelaki itu menggigitnya karena lampu temaram disana tidak cukup gelap untuk menutupi cairan kental berwarna merah. Darah gadis itu berceceran di jalanan, bahkan pakaian sang gadis sudah kotor sementara mulut si lelaki berlumuran darah segar.

Marcus berjengit jijik begitu mengalihkan pandangannya ke lelaki yang satunya. Ia mengerutkan kening, baru sadar ada dua lelaki disana.

Lelaki kedua ini lebih mengerikan. Ia mencabik tubuh gadis yang masih ada di mulutnya. Ada sesuatu yang berkilat dan entah bagaimana Marcus yakin kalau kilauan itu berasal dari taring tajam sang lelaki. Marcus memegangi tengkuknya sendiri, merinding dengan kengerian di depan matanya.

—-

Aiden baru saja menyelesaikan ‘makan malam’nya saat ia melirik Vincent yang masih sibuk mengoyak leher korbannya. Ia mengusap darah yang mengotori wajah pualamnya. “Kau belum puas?”

“Aku sedang kesal,” jawab Vincent di tengah-tengah suara berdecit yang berasal dari otot gadis yang robek itu. “Kesal karena Serena Chastain selalu menolakku.”

Alis Aiden terangkat sebelah. “Kurasa dia tidak punya alasan untuk menolakmu terus-menerus. Hanya masalah waktu, kau tahu?”

Vincent melemparkan tubuh korbannya ke belakang, membuat suara berdebum yang agak nyaring. “Kurasa begitu.” Ia melompat melewati tembok kawat yang tinggi dengan anggun. “Ayo pergi. Kau tidak mau Nadine marah kan?”

Bibir Aiden membentuk senyuman kecil. “Kurasa dia sudah tahu apa yang kulakukan pada gadis itu.” Telunjuknya mengarah pada gadis kaku dan kehabisan darah di sudut jalan.

“Tidak ada yang menyuruhmu menciumnya. Setidaknya itu tidak berlaku untuk vampire yang sudah berpasangan sepertimu,” ucap Vincent setengah terkekeh.

Aiden mengangkat bahu. “Tidak nyaman kalau kau tidak menghirup wanginya lebih kuat.”

“Nadine akan mengamuk malam ini,” Vincent memutar bola mata lalu meninggalkan Aiden di belakangnya. Langkah kakinya ringan saat melompati atap-atap tinggi. Angin musim dingin menerpa wajahnya yang memang sudah beku. Vincent terlalu sering haus belakangan ini. Banyak hal yang membuatnya begitu, dan 90% diantaranya karena gadis vampire bernama Serena Chastain.

—-

-the next morning-

Marcus berjalan gontai menyusuri koridor sekolah. Sesekali ia memijat pelipisnya yang terasa pening dan seolah akan meledak. Kejadian semalam sudah berhasil membuat akal sehatnya rusak. Ia yakin semalam ia tidak bermimpi tapi ia juga tahu kejadian semalam adalah hal yang mustahil.

“Aku benci sastraaaa~~~” suara itu membuat Marcus reflek berbalik badan dan menemukan Angela Chastain sedang bergelayut manja di lengan Spencer.

Lelaki di sampingnya, yang dipanggil Spencer, hanya tersenyum kecil melihat gadisnya merajuk. “Seharusnya kau lebih pandai sastra kan? Bukankah itu salah satu jamanmu?”

“Kau mengungkit soal usia? Lagi? Ya Tuhaaaan..,” omel Angela sambil memutar bola mata.

Spencer mengusap pipi gadis itu lembut. Seharusnya menjadi pemandangan yang hangat, tapi entah kenapa bagi Marcus, hal itu sedikit terasa janggal. Seolah Angela dan Spencer sama sekali tidak sepadan. Angela terlalu sempurna dan istimewa, terkesan ‘abadi’. Sementara Spencer Lee.. ia nyaris seperti keramik rapuh saat berada di samping Angela Chastain.

“Oh, Marcus?” Spencer mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Marcus Jo. “Kenapa melihat kami begitu?”

Marcus butuh beberapa detik untuk mengalihkan pandangannya dari Angela-Spencer. Lalu kepalanya menggeleng. “Hanya.. entahlah. Hanya sedang berpikir.”

“Kau terlalu banyak berpikir,” ucap Spencer. Ia menarik gadisnya ke depan. “Ini Angela, kau sudah mengenalnya?”

“Aku belum,” jawab Angela cepat. Wajahnya berseri bagai pualam yang bersinar. Ia mengulurkan tangan cepat. “Angela.. Angela Chastain, atau Angela Choi. Tapi kau tetap bisa memanggilku Angela.”

“Marcus Jo..,” Marcus tidak menjabat tangan Angela lama karena Spencer bersikap agak protektif pada gadisnya.

Tapi perasaan aneh kembali menggelitik pikirannya. Ada sedikit rasa dingin yang membekukan syaraf saat ia menyentuh tangan Angela. Marcus memilih mengabaikannya, memaksa kepalanya kembali pada pikiran-pikiran yang lebih normal. Ia yakin ia sudah terlalu banyak terpengaruh dengan kejadian tak lazim semalam.

“Aku masih ada kelas matematika bersama Marcus, kau mau kuantar ke tempat Serena?” pertanyaan Spencer ini membuat Marcus menoleh. Bukan karena namanya disebut-sebut, tapi lebih karena ada nama Serena disitu.

Angela tampak berpikir sebelum ia tersenyum samar. “Ng.. aku bisa kesana sendiri. Aku bukan anak kecil kan?”

“Sama sekali bukan, kurasa,” ucapan Spencer membuat Angela merengut. Tapi Marcus yang tidak mengerti apa-apa, memilih diam.

“Kita bertemu di kafetaria seperti biasa. Sampai nanti,” Angela berjinjit untuk mencium pipi kanan Spencer. Ia menatap Marcus sekilas, “Senang berkenalan denganmu, Marcus Jo.” Lalu segera menghilang ditelan kerumunan siswa lain.

Spencer menyentuh pipinya. “Dia memang penuh kejutan..”

“Sepertinya dia tipe gadis seperti itu,” kepala Marcus mengangguk-angguk setuju. Tapi kemudian ia menemukan sesuatu di balik jaket Spencer. “Hei, tanganmu itu.. kenapa?”

“Apa?” Spencer melirik pergelangan tangannya yang sedikit tersingkap. Ada sayatan yang sudah kering terlihat disana. Ia buru-buru menutup kembali lengan jaketnya. “Hanya luka kecil..”

Marcus tidak mengalihkan pandangannya dari bekas luka itu. “Kapan kau mendapatkannya? Sepertinya ada banyak luka seperti itu di tangan-“

“Hei, kita akan terlambat. Ayo,” Spencer berjalan lebih dulu, meninggalkan Marcus yang masih penasaran di belakangnya.

“Sepertinya itu bukan luka biasa,” gumam Marcus. Dan ia ingin tahu dari mana Spencer mendapatkan luka itu.

—-

Angela terus bertopang dagu memerhatikan Serena yang sejak tadi tersenyum aneh. Sejak jam pelajaran Biologi, ia tidak bisa menghitung berapa kali kakak perempuannya itu tersenyum seperti itu. Bukan hal yang buruk, memang. Tapi melihat Serena Chastain bertingkah bodoh seperti ini mengingatkannya pada seseorang yang dulu.

“Kau tidak sedang jatuh cinta kan?” tanya Angela tiba-tiba. Ia mengingat tingkahnya sendiri saat jatuh cinta pada seorang Spencer Lee.

Serena mendongak cepat dan buru-buru menyanggah. “Tidak! Kenapa? Kau curiga padaku?”

“Curiga untuk apaaa? Lagipula kalau kau memang sedang jatuh cinta kurasa itu hal yang bagus, walaupun aku sama sekali tidak sudi punya kakak ipar seperti Vincent-“

“Hei!” potong Serena. “Siapa yang bilang aku jatuh cinta pada Vincent Lee?”

Angela mengangkat bahu ringan. “Bukankah kandidat tetapmu hanya dia?” Tapi kemudian ia tersenyum lebar. “Jangan bilang kau menemukan lelaki lain?” Melihat Serena yang hanya diam, Angela memekik. “Benar kan? Kau menyukai orang lain? Ahh~ ini hal yang bagus! Kenapa tidak bilang apa-apa?”

“Kau selalu mengambil kesimpulan sendiri, Angela,” dengus Serena. Tapi ia bersyukur adiknya itu menebak dengan sangat jitu.

“Heii, kadang-kadang tebakanku ini tidak salah,” Angela tersenyum bangga.

Serena mengedipkan mata. “Memang tidak.”

“Ceritakaaaan!! Kalau tidak, aku akan menghantuimu sepanjang eksistensimu di dunia ini, Serena Chastain,” ancam Angela, membuat Serena tergelak.

Tawa Serena tidak bertahan lama karena saat itu juga ada yang mengganggu pikirannya. Bagaimana caranya ia bilang pada saudara-saudaranya kalau lelaki itu dari golongan yang sama dengan Spencer, sama-sama makhluk rapuh bernama manusia?

“Lain kali saja..,” desah Serena, mendadak lemas dengan pemikirannya sendiri. Sebenarnya bukan Chastain yang paling ia khawatirkan. Justru Vincent Lee-lah yang menjadi pusat pikirannya saat ini. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana jika Marcus bertemu dengan Vincent? Sang manusia rapuh akan bertemu dengan vampire dari salah satu koloni terkuat di dunianya. Semua hal itu tiba-tiba saja bisa membuat Serena mual.

Tapi pikiran lain menyelinap di kepalanya. Memangnya ada hubungan apa ia dengan Marcus Jo? Bukankah hanya Serena yang menganggap lelaki itu istimewa? Bagaimana kalau Marcus sama sekali tidak merasakan hal yang sama? Pikirannya yang satu ini mendadak membuat Serena merasa bodoh..

—-

-the next day-

Marcus berjalan pelan mendekati gadis yang bersandar di batang pohon oak. Ia berdeham. “Kurasa ini masih tempatku.”

“Marcus..,” panggil Serena tanpa menoleh.

“Aku tidak tahu kau sudah menghapal suaraku,” Marcus memilih ikut bersandar di samping Serena.

Serena tersenyum kaku. Bukan hanya suara Marcus yang ia dengar tapi karena memang radar kecilnya menyadari kehadiran Marcus. Dan untuk pertama kalinya Serena merasa  kemampuan itu sangat menyenangkan.

Serena mengerutkan kening. “Kupikir kau ada kelas Matematika..”

“Memang. Tapi aku sedang punya masalah dengan Profesor Park,” ucap Marcus. “Sepanjang penjelasannya kemarin, aku sama sekali tidak mendengarkan. Dia marah dan mengusirku di dua kesempatan kelasnya.” Marcus menjelaskan tanpa diminta.

“Begitu? Kau pasti senang bisa membolos,” Serena tersenyum merendahkan.

“Sepertinya kau benar. Aku harus sering membolos,” ujar Marcus ringan.

Serena memutar bola mata. “Kau memang saaaangat menyebalkan.” Tapi kemudian rasa penasarannya menggelitik. “Lagipula apa yang kau pikirkan sepanjang pelajaran matematika?”

Rahang Marcus menegang. Punggungnya berubah tegak. Ia sibuk berpikir apa ia harus bercerita tentang kejadian paling mengerikan yang dilihatnya pada Serena? Marcus tidak bisa membuat gadis di sampingnya itu ikut merasakan ketakutannya.

“Hanya.. sedikit mitos kuno,” ucap Marcus pada akhirnya.

Serena mengerutkan kening. “Mitos? Contohnya..?” Kali ini, seandainya Serena punya jantung, ia yakin organ paling manusia itu sudah berdegup tak beraturan.

“Vampire..” Dan ucapan Marcus nyaris membuat Serena lupa pura-pura bernapas.

-TBC-

====================

Part 2 dataaang~ dengan segala keterlambatannya. Maafkan author yang –sok- sibuk ini yaa~ *deep bow*

Untunglaahh, dengan iman yang tebal dan keyakinan membaja, part 2 ini bisa diselesaikan tanpa harus membocorkan cerita pada si SERENA alias INYE/CIZH. Susah juga ya kalo tokoh FF-nya tu temen sebangku kita. *sigh*

Eh, eh, poster baru di atas juga bikinan si Cizh tuhh~ Keren kan?😀

Eniweeiii, kali ini ada scene horror, tapi kenapa author ngerasanya itu malah jadi thriller yak? Yahh~ maaf kalo mengecewakan.. *bow again*

Nadine Lee uda  muncul sesuai permintaan, tapi cukup cameo aja yaa. Cast ceweknya uda pada oke sihh~ *plakk*

PS: Doakan saja semoga The Chastain’s dan Violetter bisa dilanjut di tengah2 kesibukan yang menggunung. *ceilaaah~*

Thanks for reading.🙂

Comments are really needed. Ga komen berarti ga pingin FF ini lanjut.😦

76 thoughts on “The Chastain’s [Serena #2]

  1. si Shela bener-bener dah…
    bkin esmosi naik ke ubun2…
    apa-apaan itu si donge????
    *asah piso, ngambek*

    ttapi ceritanya makin bkin penasaraaaaaaaaaaaaaaaaan…
    aduuuuh gak ngebayangin abang Sungmin isep2 darah orang, wkwkwkwkwk…
    ayo serena williams #plakk perjuangkan cintamu pada abang Kyu, wkwkwkwk

    aaahhh suka banget cerita vampir
    *mabok*
    tapi mau ngambek ama hae…

    • Huahahaha~ bukan salahku kalo si aiden tetep genit walopun uda jadi vampir, onn.😄
      Aiden Lee kan emang suka maen api, uda.. kunciin aja di kamar mandi. Jangan dikeluarin. Wkwkwk~

      Aku juga ga ngebayangin umin jadi vampir kejem. Muka imut2 gitu. -.-‘
      Tapi kan emang umin uda terjun ke dunia akting, jadi wajib bisa semua peran. *ga nyambung*
      Serena Chastaaaaaaiiin~~ Apaan pula itu Serena Williams? Ngubah2 nama orang seenaknya nihh~

      Ngambek aja, ngambek ama Hae.. XDD

      • *cekek*
        shelaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…
        *nangis guling2* couplemu ini lagi tipes, kenapa kau membuat couplemu nangis guling2… hiks hiks *cekek aiden*

        Hae minta dijambaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!

        eh shel, request dong, pengen liat adegan si Angela ngisep darahnya Spencer, wakakakaka… pasti menggairahkan tuh #plakk

        Serena Williams emang kmu gak tau?
        terkenal begitu itu orang… wkwkwkwkwk

      • Lha, lha, lha, kan Aiden aja yg ga bisa melepaskan imej genitnya. Makanya aku sbg author tetep kebawa. *plakk*
        Hehehe~ sabar, sabar, kalo marah2 tar tipesnya makin parah lho onn~ *ngawur*
        Jambak aja Hae~~~~ Jauhkan dia dari spencer-ku!!😄

        Ngek~ ini ceritanya Serena-Marcus, Angela-Spencer mah cuma pemeran pendamping.
        Tar kalo sempet aku bikinin adegan khusus buat mereka. Kekeke~~ *ketawa setan*

        Tauu.. tapi jangan gosipin orang disini. Yang ada Serena Chastain doaaaang, onnie-ku sayaaang~

      • kesel sama hae!!
        *nyari minho*
        wkwkwkwkwkw…
        Hae bener-bener minta dijambak banget…

        oiya, Shel… kalo ntar si Serena kue beras #plakk itu akhirnya jadi ama kyu, trus jadi kayak angela ngisep2, ceritain juga ya… wkwkwkwkwk *banyak maunya*

        *bejek hae*

      • Huahahaha~~ scene ngisep2 darah yak?
        Tak taulaahh~ bikin scene pembunuhan aja uda eneg setengah mampus, disuruh bikin isep2an darah. -.-

        Nyuk, nyuk, nonton yuk~
        hyuk: nonton apaan, yeobo?
        Ituuu.. nonton hae oppa dijadiin pepes ikan mas
        hyuk: nyoook~~~

        *drama singkat JiHyuk. XDD*

      • Huahahahaha~~~ *ngakak guling2 bareng unyuk*
        Pesen pepes donge satuuu..😄

        Ehh, jangan selingkuh dong~ Tar kalo ada EunHae moment yg merajalela lagi gimaaaanaaa?
        Aku yang menderitaaa… ><

  2. Ehm, baguuuuus!!!! Hoah, Kyu oppa… HOT!!!! Hae kok gatel bgt! Pake nyium korbannya segala! Huh!
    Aku seharusnya diberi penghargaan loh dongsaeng karena selalu jd tukang komentar pertama. Hahahaha…
    OMO, violetter kapan lanjut?

    • Bukan gatel, emang nalurinya hae kaya gitu dari sononya, onn~ *digetok Nisya onn*
      Ucapan terima kasihh yang sedalam2nya yaa~ *bow*
      Tapi sekarang ga lagi first, ada Nisya onn nohh.😄

      Violetter.. mudah2an secepetnya. Gantian terbitnya ama The Chastain’s.🙂
      Doakaaaan sajaa~ ><
      Makasihh uda baca.😀

  3. Huaa…knp luna cm numpang lewat doang??dibikin mati pula..tragis..
    Serena-kyu,ayo berjuang bersama2…*?*
    angela jahat bgt ah,masa pacar sndiri d isep2 c..*gaje*
    ayo lanjott..
    Violetterx jg jgn lupa..xD

    • Hehehe.. tapi kan pas bagian bunuh2annya aku ga nyebutin nama Lunaa~
      Aku sengaja pake nama Luna buat adegan kisseu ama vincent lee. Aku kan shipper mereka. XDD

      Ngek~ gajee.. Serena-kyu, ayo berjuang?
      What is the maksuud??
      Isepannya kan tanda cintaaa~ *emut2 Spencer*

      Okee.. doakan akuu~ -.-v

  4. “Hanya melakukan percobaan kecil. Atau ada gadis yang akan marah padamu?”
    “Tidak, tidak. Tidak ada,” ujar Marcus cepat.”

    EHEM~ ADA~! *angkat tangan-batuk pake toa*
    awas ya bang kalo ampe jadi vampir, ntar kea umin ama hae lagi korbannya dikissu dulu *asah golok*

    WKWKWK~ xD
    I love this~~ lanjut cantik..
    smga tidak mengganggu sekolahmu ^^

    • Hahahaha~~ ngakak baca komennya, mbak Eviiil.😄
      Entah kenapa banyak bini yg kesel gara2 lakinya disulap jadi genit. Tinggal bininya umin yg ga protes. *sujud syukur*

      Jadi marcus dilarang jadi vampir nihh?

      Makasihh, mbaaaak~😀
      Insya Allah, ga ganggu. Selama ga ngotot nulisnya dan masih bisa ngatur waktu.🙂
      Makasih uda baca yaa~ *bow*

      • Eheeem~~ sebagai teman curhatnya umin saya merasa umm cemburu juga xD
        siapa bilang bininya umin ga cemburu –> Kyu xD

        boleh jadi vampir, ga ada larangan..
        cuma tipa mau isep darah, cuma boleh isep darah saia sama umin aja xD
        selebihnya makan sayur~
        vampir baru, vegetarian wkwk xD

      • Hahaha~~ jadi sebenarnya status anda ini apa? Istri kyuhyun ato temen curhat umiin? ato malah tukang kebun mereka? *plakk
        Kagaaa.. kyu ga cemburu. Dia kan suka jaim ama umin. XDD

        Jyahh.. ga ada vampir vegetariann.. Msa iya vampir maem rumput?😄

  5. eeenyuuun,
    aq pnya bakat rupanya!!
    snengnyaaa..
    eh, eh..
    ad vampir baru..
    aiden tue cakep g nyun?? :p
    oiya, request donk,
    buat serena ma marcus ngedate😀
    *genit*

    • Susah tuhh bikin bakat yg aneh kaya gitu, Cizh~ (?)
      Akuu ga punya baaaakaaaat apa-apa. *author rendah hati*

      Aiden? Itu si Donghae, yg dulu kamu bilang manis.
      Tapi ati2 aja, bininya lagi ngamuk gara2 Aiden genit ama korbannya. Hahaha~~😄

      Ngedate? Ada yang minta scene isep2an darah, ini minta scene ngedate.
      Tar aku bilangin abaaaang lohh~ :3

  6. hahaha..
    aq pnya radar..
    kayak radio aja..

    addo…itu yg mna yaa?? setauQ wajahnya sama semua nyuuun.
    hehe..

    aq cma pngen liat gmn reaksinya marcus jalan ma vampire imuet..
    jaaaah,
    abang ga bkal marah. Just fiction😀

    • Huahahaha~ kamu ya yang bilang kaya radio.😄
      Sebenernya pingin bikin bakat yg lebih ‘wah’ lagii, tapi akunya malah bingung sendiri. ><

      Aihh.. PIKUNers!! Yahh~ besok aja lahh aku ksih liat yg mana Aiden. -.-

      Vampire imut? Ada gitu vampire imut?? Spesies langka ituuu, Cizhh~ XDD

  7. Udah bacaaaa!!!!

    yuhuii serena kena karma gr2 sering ngetawain angela, akhrnya dy malah jth cintrong ma manusia juga..bahkan ntar lama dy lbh parah dr couple angela-spencer..!! hahahaha

    kasian bener dh ama nasib spencer disini >.< mana disebut keramik rapuh pula T_T huhuhu..kunyuk kalo drahnya abiz gw rela kok donorin darah buat dy😦 mdh2 next part..part angela-spencer d perbnyk yah^^ tp bukan brarti aq gk suka couple serena-marcus lho.. i love this couple so much <3333 suka dengan gengsinya serena yg stinggi langit itu ^^

    • Hahaha~ si serena suka anti-manusia sihh. Akhirnya malah dapet jdoh (?) manusia juga.😄
      Kasian ama spencer ya? Iya, soalnya dia masih manusia. Trus emang dia rela2 aja ngasih darahnya buat Angela, walopun bukan berarti jadi korban sukarela. Hehe..
      Next part banyakin Spencer-Angela?
      Maunya juga gitu. *plakk*

      Tapi berhubung ini masih Bab-nya Serena, jadi fokus ke dia dulu.🙂
      Insya Allah mau bikin cerita Angela ama Andrew Chastain-nya sekalian. Biar adil.😄
      Serena seneng tuh dapet fans baru. XDD

      Makasihh uda baca yaa~😀

  8. Hahaha,, I’m coming😉
    Paling mengerikan waktu cewek di robek, *iuuuuw*
    Eh, marcus ntar mati ga? Ga tau deh, kenapa ff yg ada kyunya pasti penyakitan lah, kecelakaan lah, pokoknya akhirnya mati…
    Sedih sama nasib abangkyu😦
    Lanjut2,, kalau ga cepat2, gue kasih bata aja dah *bata kaskus* , hehee

    • Yang ituu juga yang paling bikin aku mual. Kenapa aku bisa nulis kaya gituu coba? -.-
      Walopun aku suka gemes ama kyu, tapi ga sampe ati buat ngebunuh dia.😄

      Makasihh uda baca~😀

  9. hahahahahhhahaha ternyata si aiden jd vampire juga hahahahaha…
    kasian amat ya si kunyuk, di badannya byk luka, pasti dah ga mulus lagi tuh kulit hahahahahahha…

    kyu dijadiin vampire aja, mukanya cocok koq kekekekkek ^^

  10. aku benci sastraaaa…#plakkk
    wkwkwkwk…

    Seru seru seru,,ni anak bkin pnasaran aja dah..buruan lanjutin…
    *tawan hyuk di gudang ikan asin.

    Aku slalu excited bgt sma ff brbau bau vampir..hahhay..

    Heuheu..aku tlat bgt bcanya..bru ketemu..
    Cpetan lnjutin ya shell..anak baek kesayangan unyuk..
    Hehe..

    • Hahaha~ aku emang ga suka sastra onn.😄
      Jyahh.. unyuk ditawan!! *nyulik ichul ama heebum (?)*

      Onnie excited, aku yang bingung. Ini genre fantasy pertama-ku.
      Makanya baaaaanyak banget deskripsi yang ga memuaskan. -.-

      Ga telat kok, ini baru di post semalem.🙂
      Makasihh uda baca yaa~😀

  11. makin rame….ada aiden juga,,,,,
    ternyata oh ternyata c serena jatuh cintrong jg ma marcus…..
    tp ga nyangka umin yg imut2 gt jd vampir ganas….
    lanjutannya cepet ya shel..*ga sabaran*

  12. hyaa onnie motong ffnya pas lagi seru-serunya! Ih sungmin ganggu! *bakar sungmin* *dibakar balik sm fansnya* wkwk violetter nya ditunggu yaa!

  13. kyaaaa! uda lama rini ga maen ke blog nya shela onnie ternyata ff nya uda banyaaaak! mana baru2 pula TT.TT *baca satu2*
    tapi yg paling aku suka ff chastain ini onn, sama violetter ituuu. lanjutin ya onn!! kudu lho, ntar janji rini bakal sering maen ke sini.😄

    btw, onnie masih inget aku ga? ini rini dongsaengmu di fb. jangan2 ga inget yah? TT.TT *pundungg*

  14. seperti bysa… DAEBAAK!!
    tpi eonn.. kok ada robek”annya segalaa?? —..—
    adegan kisseu-nya bnykin ya eonn… *otak yadong mode: on*
    part 3 ya eoonnn.. ditunggu loohh..
    ngmong”, angela choi ny “agresif” bgt yak?? maen kisseu” ajaa.. hahahahahaha #plak!!
    tpi unyuk ttp seneng seh… hahah~ pasangan unik.. *tetep nge-fans*
    HWAITING EOONN…

    • MAKASIIIHH~~😀
      Itu bagian robek2annya itu soalnya banyak yang bilang FF ini kurang horor, makanya sengaja ditambahin adega gituan. Padahal pas nulisnya uda panas-dingin. ><
      Ciyeee.. suka kisseu2an yak? Sama~!! *plakk*

      Hehehe.. angela emang genit, tapi cuma ama spencer doang. Kekeke~~😄
      Hwaiting~! Gomaptaaa…😀

  15. wahhhhhhh makin seru………
    spertinya makin setu ja……..
    wah seandainya q punya antena kecil kya serena wah pasti seru……
    hehehehehehehe…………
    lanjoooooootannya jgn lma” (ngancem shela pke piso….)
    heheheheheh vish ach…..

  16. Wah!
    ada lanjutannya!
    Maaf unnie~ q belom bisa baca sekarang~
    sibuk sibuuk~ *mampir doang nii,, hhe*
    Will be back soon~ ^^

  17. Marcus udah merinding ngeliat vampire lagi beraksi, gimana entar kalo dia tau Serena itu Vampire…
    Dia rela ga yah kayak Unyuk yang sering di emut sama Angela??? LoL

    Merinding ngebayangin Unyuk, udah kurus-kecil banyak luka gigitannya lagi…
    But I like it hehee

    • Ho’oh, pasti pucet lahh pas marcus liat adegan ‘aneh’ itu. *kata pemeran serena*
      Kalo kyu.. kayanya dia ga bakalan serela itu dehh~ Dia kan peritungan.. *dijitak kyu*

      Bukan gigitan kok, sayatan doank. Kaya sayatan silet gitu loh.🙂
      Makasihh uda baca~😀

  18. haa kirain si kyuhyun alias marcus diusir karena lemah dalam pelajaran matematika disini *shocked* taunya diusir gara-gara dia ngelamun si vampire yang diliat semalem ya? hahaha mas kyu ternyata bisa ngelamun juga xDD /plaaaak
    ngeliat karakternya sungmin alias vincent yang rada nyebelin disini jadi inget peran dia yang di ‘Goong T’ deh huahahaha *ketawa tiba2*
    ceritanya makin seruu.. serenanya udah naksir marcus hohoho
    part selanjutnya ditunggu~

    • Belon pernah kan ngeliat kyu ngelamun? Bayangin dulu dehh~ aku juga ga bisa ngebayanginnya. *plakk*
      Huahahahaha~!! Bener juga yak.. Umin disini kaya di Goong-T pas Idol world! XDD

      Makasihh uda bacaa~😀
      Doain aja buat next-nyaaa. *bow*

  19. kalo q liat ada vampire pas malem2 gitu mungkin q udah pingsan kali ya? hiiiii
    semoga aja marcus g takut ama vampire,klo takut ntar g enak dong
    tapi serena nya juga kasian klo gara2 dia vampire dia jadi ngejauhin marcus😦
    q doain next nya cepet publish dah😀

  20. serena jatuh cinta sama marcus, tp ngga bkn ngga tp tkut mengakuinya soalnya prbedaan yg smsd jauh….
    aku jd ngeri sendiri sama umin knp jd beringas dia kan oppa favorite…
    dan knp si ikaan mokpo itu sangat genit,,,
    main kisseu aja…
    aku kan mw..*dijitak kyu*
    bgs chingu ataw aku panggil dongsaeng ya?
    spertinya saya lebih tua…*mngaku tua*bow*

  21. Aigoo,,, kNp karakternya uMin ky gtU,, emmm.. aku kurNg sUka,, krna umin trllu cute, hehehe🙂
    Uwowww.. pEnasaran ma reaksi kyu kLu dia tw sErena sorng vampire..!
    hehehe.. hyuk jd orNg alim g bnyk tiNgkah,, :p
    Next Chap !

  22. suka sama karakter hae, yang adem ayem,, hhaha..
    *ngga ada yang nanya..
    kalo minppa sadis euy..
    pasti luka unyuk gegara gigitan jiyoo kan..’?!

  23. Astaga! Keren banget!
    Suka banget sm bahasa yg digunakan. Ga bertele2. Dan dialog antar karakternya kdng2 bikin senyam senyum gaje…
    A can spent all my day reading this (´⌣`ʃƪ)♡

  24. Uuh.. Serena dan marcus membuat rasa penasaranku bertamba berkali-kali lipat hahaha…
    Spencer lee mmg tangannya kenapa? Memangnya angela itu gigitnya ditangan? Bukan dileher? Eum…mungkin biar gk ketahuan.
    FF nya makin seeeeru. Keren bgt keren bgt keren bgt!
    Lanjut ya…
    Gumawo

  25. Sheee~ aku kembali untuk memberikan komentar *ga ada yang nanya*
    Aku sedih deh baca penggambaran Poo disini yang seolah-olah pucat dan banyak luka karna perlakuan Yoo.
    Itu yang jadi Aiden Lee dan Vincent Lee siapa sih? Sempet bingung karna setau aku nama Inggris Donghae itu Aiden Lee, tapi kayaknya dia jadi Vincent Lee disini & kalo dilihat dari poster juga gitu *cuma penasaran* *poor Poo*

  26. Sheee~ aku kembali untuk memberikan komentar *ga ada yang nanya*
    Aku sedih deh baca penggambaran Poo disini yang seolah-olah pucat dan banyak luka karna perlakuan Yoo *poor Poo*
    Itu yang jadi Aiden Lee dan Vincent Lee siapa sih? Sempet bingung karna setau aku nama Inggris Donghae itu Aiden Lee, tapi kayaknya dia jadi Vincent Lee disini & kalo dilihat dari poster juga gitu *cuma penasaran*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s